Senin, 09 Februari 2026

GEREJA RUNTUH DARI DALAM? 

Gereja sering mengukur keberhasilan pelayanan dari hal-hal yang tampak: khotbah yang berapi-api, majelis nya buanyak, majelisnya sibuk, persembahan besar, acara-acara perayaan dan jamuan kasih yang sering, progam kerja keren di atas kertas, perkunjungan buanyak , banyak kegiatan ke sana nan kemari, jemaat yang ramai, liturgi yang tertata, dan pemimpin rohani yang disegani. Namun Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa yang kelihatan belum tentu mencerminkan yang benar.

Salah satu kisah yang paling jujur—dan paling jarang dikhotbahkan—adalah kisah tentang anak-anak Nabi Samuel. Samuel adalah nabi besar, hakim yang adil, hamba Tuhan yang mendengar suara Allah sejak kecil. Tetapi Alkitab tidak menutup-nutupi fakta pahit ini: anak-anaknya gagal secara moral dan rohani, warisannya berantakan, tak ada teladan yang dianut, karya peribadatan/bergereja hanya topeng kemunafikan, anti kritik tak mendengar suara umat, dlsb.
Dan kegagalan itu bukan sekadar urusan keluarga. Ia menjadi krisis nasional dan titik balik sejarah Israel.

Fakta Alkitab yang Tidak Nyaman
Alkitab mencatat dengan lugas:
“Nama anaknya yang sulung ialah Yoël dan nama anaknya yang kedua ialah Abia… Tetapi anak-anaknya tidak hidup seperti ayahnya, melainkan mengejar laba, menerima suap dan membelokkan keadilan.” (1 Samuel 8:2–3).

Tidak ada bahasa yang dilunakkan. Tidak ada pembelaan. Tidak ada upaya menjaga citra rohani.

Anak-anak nabi menyalahgunakan jabatan rohani. Mereka berada di struktur pelayanan, tetapi kehilangan takut akan Tuhan. Mereka memakai posisi, bukan melayani dengan integritas.

Dan inilah yang harus dicatat dengan jujur: kerusakan mereka menjadi alasan Israel menolak kepemimpinan Allah dan meminta raja seperti bangsa lain (1 Samuel 8:5).

Kegagalan rohani di dalam kepemimpinan melahirkan krisis iman kolektif.
Pelajaran Pahit bagi Gereja Masa Kini
Kisah ini menampar gereja modern dengan keras.

Kesalehan Tidak Otomatis Turun-Temurun
Anak nabi tidak otomatis menjadi hamba Tuhan yang benar. Jabatan ayah tidak menjamin karakter anak. Gereja sering terjebak dalam romantisme “darah rohani”, padahal Tuhan menuntut pertobatan dan ketaatan personal.

Jabatan Rohani Bisa Menjadi Sarana Kejatuhan
Yoël dan Abia tidak menolak jabatan—mereka menyalahgunakannya. Ini cermin gereja masa kini: mimbar, struktur, dan gelar rohani dapat menjadi alat pembenaran dosa jika hati tidak lagi tunduk pada Allah.

Israel tidak sekadar kecewa; mereka kehilangan kepercayaan. Ketika pemimpin rohani hidup menyimpang, jemaat terdorong mencari “raja lain”—entah kekuasaan, sistem, atau figur manusia.

Gereja yang Terlalu Lunak pada Dosa Internal, 
Ironisnya, gereja sering:
keras kepada dunia,
tajam kepada jemaat kecil,
tetapi lunak kepada dosa para pelayan.
Kisah anak-anak Samuel menunjukkan bahwa kerusakan di dalam rumah Tuhan lebih berbahaya daripada ancaman dari luar. Bukan Filistin yang merusak Israel saat itu, tetapi pemimpin yang kehilangan integritas.

Kisah ini bukan untuk menghakimi keluarga Samuel. Alkitab tidak menulisnya untuk mempermalukan nabi, melainkan untuk memperingatkan gereja sepanjang zaman.
Bahwa: pelayanan tanpa karakter adalah kehancuran, posisi tanpa takut Tuhan adalah bahaya dan nama besar tidak pernah menggantikan kebenaran hidup.

Gereja masa kini harus berani bertanya dengan jujur:
Apakah kita sedang memelihara struktur, tetapi kehilangan roh kebenaran?
Apakah kita sibuk menjaga nama baik, tetapi membiarkan pembelokan keadilan?
Apakah kita melahirkan pelayan, atau hanya mewariskan jabatan?

Tuhan tidak mencari anak nabi. Tuhan mencari hamba yang setia.

Dan sejarah Israel mengingatkan kita: satu generasi yang gagal menjaga integritas dapat menyeret seluruh umat menjauh dari pemerintahan Allah.


GEREJA RUNTUH DARI DALAM?  Gereja sering mengukur keberhasilan pelayanan dari hal-hal yang tampak: khotbah yang berapi-api, majelis nya buan...