Tampilkan postingan dengan label Sastra dan Sejarah atau Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra dan Sejarah atau Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam  Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

PENGANTAR
Membanding dua karya sastra memang kerjaannya study biblika Sastra, sejarah dan arkeologi, karena kalau kemaren saya menulis perbandingan antara Kitab Ayub dan perumpamaan lalang dan gandum, sekarang saya membandingkan Kitab Ayub dan kitab Yesaya. Kita melihat konsep-konsep yg dibentuk dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Alkitab itu terhubung oleh konsep utama yg diperkaya oleh konsep-konsep kecil dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Walaupun saya selalu mengatakan sebuah kitab atau bagian Injil dan surat-surat memiliki kisah teologis dari masing-masing penulisnya yang tidak bisa dicampur adukan, tetapi tetap ada konsep universal atau konsep umum yg menghubungkan sebagai benang merah dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Saya pernah menulis bahwa Alkitab dapat menafsir dirinya sendiri, ya karena ada benang merahnya, sehingga saya harus mengatakan tidak relevan mencomot satu ayat dan menafsirkan nya serta menganggap itulah konsep seluruh Alkitab. Tafsir awam teologipun sangat disarankan jangan mencomot satu ayat saja, harus ada penguatan dan pilar pendukung dari ayat Alkitab yg lain. Oleh karena itu kenapa kita dilatih dalam bacaan sabda leksionari. Kitab Ayub termasuk dalam sastra hikmat (wisdom literature) Ibrani, bersama Amsal dan Pengkhotbah. Bahasa Ibrani yang digunakan dalam Ayub sangat puitis, dengan struktur paralelisme dan metafora yang kompleks. Menurut John E. Hartley dalam The Book of Job (NICOT, 1988), gaya bahasanya menunjukkan kedalaman refleksi teologis tentang penderitaan dan keadilan Allah. Sementara Kitab Yesaya 44:6–8 merupakan bagian dari Deutero-Yesaya (Yesaya 40–55), ditulis dalam konteks pembuangan Babel. Bahasa Ibrani di sini menekankan monoteisme absolut dengan frasa:  

“Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” (Yesaya 44:6, TB)  

Ungkapan ini menegaskan kedaulatan dan kemahakuasaan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa. Providentia Dei.
PEMAHAMAN
Kitab Ayub mencerminkan tradisi Timur Dekat Kuno di mana penderitaan sering dikaitkan dengan dosa, Kesalahan dan hukuman. Namun, narasi Ayub menantang pandangan retributif itu. Allah tidak menghukum Ayub karena dosa, melainkan mengizinkan penderitaan sebagai sarana pemurnian iman (lih. Ayub 23:10).  
Dalam konteks Yesaya 44, bangsa Israel sedang mengalami krisis identitas di pembuangan. Allah menegaskan diri-Nya sebagai satu-satunya Penebus dan Pencipta, menolak dewa-dewa Babel. Ini menunjukkan kedaulatan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa, bukan hanya atas individu. Dalam Ayub 38–41, Allah menampakkan diri dan menunjukkan kebesaran ciptaan-Nya, menegaskan bahwa hikmat dan kuasa-Nya melampaui pemahaman manusia.  Dalam Yesaya 44:6–8, Allah menyatakan diri sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir”, menegaskan otoritas-Nya atas waktu dan keberadaan.  Ayub mempertanyakan keadilan Allah, tetapi akhirnya menyadari bahwa keadilan ilahi tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia.Gustavo Gutiérrez dalam On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (1987) menafsirkan bahwa penderitaan Ayub membuka ruang bagi iman yang murni, bukan iman yang bersyarat.  Penderitaan sebagai Pemurnian Iman: Ayub 23:10 menegaskan: “Apabila Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Penderitaan menjadi alat pendidikan rohani, C.S. Lewi dalam The Problem of Pain (1940) menyebut penderitaan sebagai “megaphone of God”  sarana Allah berbicara kepada manusia yang keras hati.  
Dalam konteks modern, penderitaan sering dipahami sebagai absurditas. Namun, kitab Ayub dan Yesaya mengajarkan bahwa Allah tetap berdaulat dan adil, bahkan ketika manusia tidak memahami jalan-Nya.  
Kedaulatan Allah memberi penghiburan bahwa hidup manusia tidak berada di luar kendali-Nya. Penderitaan, bila dihayati dalam iman, menjadi sarana pendewasaan rohani dan pemurnian karakter. Kedaulatan Allah mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia. Dalam setiap ujian, Allah sedang membentuk iman yang murni dan karakter yang teguh. Seperti Ayub, umat percaya dipanggil untuk tetap setia, sebab Allah yang berdaulat juga adalah Allah yang adil dan penuh kasih.

Referensi Akademik dan Teologis
- Hartley, John E. The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988).  
- Gutiérrez, Gustavo. On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (Orbis Books, 1987).  
- Brueggemann, Walter. Isaiah 40–66 (Westminster John Knox, 1998).  
- Childs, Brevard S. Isaiah (OTL, Westminster Press, 2001).  
- Lewis, C.S. The Problem of Pain (HarperOne, 1940).  

(16072026)(TUS)




Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30

Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30

PENGANTAR
Bab 42 : 7 membuktikan bahwa teman-teman Ayub dihukum karena memberikan konsep yg keliru tentang Allah.  Bukan karena menyalahkan Ayub. Ayub 42:7 (TB) Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Dan, cermati yang dihukum Allah adalah elifas  dan 2 sahabatnya, padahal yg tercatat ada 4 teman Ayub, artinya cuma 3 yang dihukum Allah, kenapa? Siapa teman Ayub yg tidak dihukum?  Dicermati tiap ayatnya, tidak akan saya jelaskan agar kita semua belajar. Jadi tidak bisa kalau dibawa dalam konsep kalau menyalahkan/mengkritisi temannya terus malah dimarahi dan dihukum Allah, Tuhan Yesus mengkritik, tukang kritik, bearti dimarahi Allah dong kalau gitu🤭😁😆😂🤣. Melihat Kitab Ayub disandingkan dg Matius 13, memang itu yg seringkali dilakukan dalam study biblika Sastra, Sejarah, dan Arkeologi. Study ini memang sering melakukan perbandingan dari 2 karya sastra dalam Alkitab, untuk mendapatkan konsep-konsep yg ada didalam Alkitab. Kitab Ayub adalah sastra Ibrani yg mengangkat konsep Allah dalam prosa prolog dan prosa epilognya, di bagian tengah adalah puisi untuk menjembati dan menggambarkan hubungan dari dua konsep Allah tsb lewat dialog. Di Kitab Ayub, bagian yang prosa cuma di awal (prolog) dan akhir (epilog). Tengahnya puisi.

Bagian Prosa:
1. Ayub 1:1 – 2:13  
   Prolog. Cerita tentang Ayub, keluarga, kekayaannya, dan ujian dari Allah lewat Iblis. Bahasanya naratif biasa. Konsep Allah yg dibawa adalah Allah Maha Kuasa tanpa batas.
2. Ayub 42:7 – 42:17  
   Epilog. Allah menegur teman-teman Ayub, memulihkan keadaan Ayub, anak-anak baru, dan umur Ayub yang panjang. Balik lagi ke gaya cerita. Konsep Allah yang di bawa adalah Allah adalah adil seadil-adilnya. 

Bagian Puisi: 
Ayub 3:1 – 42:6  
Ini inti kitabnya. Isinya dialog panjang antara Ayub dengan 3 temannya: Elifas, Bildad, Zofar, + Elihu, lalu jawaban Allah dari badai. Bahasanya puitis, paralelisme, metafora, tanya-jawab berat tentang penderitaan. Jembatannya adalah bahwa Allah yg tak terbatas bahkan bisa bertindak semena-mena pada manusia, tidak bisa melawan naturNya yg lain yaitu bahwa Allah adalah Maha Adil, sehingga penderita an adalah bukti kemahakuasaan Allah dan bukti keadilan Allah, penderitaan adalah pemurnian iman dalam misteri  Allah tsb.

Jadi polanya: Prosa → Puisi → Prosa

Kenapa dibikin gitu? Bagian prosa membingkai ceritanya biar kita tahu "apa yang terjadi", sedangkan bagian puisi menggali "mengapa dan bagaimana rasanya" saat menderita. Dalam Alkitab baik dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes mengandung konsep-konsep tentang Allah dari bangsa Israel Kuno sampai Yudaisme bahkan sampai gereja masa Rasul sampai saat ini. Sastra Ibrani kuno yg berbentuk prosa dan puisi di PL, di PB utamanya Injil berubah menjadi pengajaran metafora atau perumpamaan oleh Yesus. Salah satu contoh konsep Allah yg ada di Alkitab diungkap secara sastra Ibrani kuno berbentuk prosa dan puisi ternyata memiliki kaitan atau lebih tepat kemiripan pemikiran atau nalar dengan konsep Allah dalam perumpamaan lalang gandum oleh Yesus di Injil. Dalam Kitab Ayub ada 2 bentuk sastra yang jelas beda: bagian pembuka/penutup pakai prosa, bagian tengah pakai puisi/dialog. Bahasa Ibrani
- Prosa= פרוזה proza atau disebut juga סיפור sipur = "kisah/narasi". Bagian ini fungsinya sebagai misgeret sipurit מסגרת סיפורית = "kerangka cerita" atau pusat konsep polemiknya. Itu ada pada kitab Ayub 1:1–2:13 dan 42:7–17
- Puisi = שירה shira, Bagian tengah Ayub 3:1–42:6 disebut הדיאלוג השירי ha'diyalog ha'shiri = "dialog puitis". Kitab Ayub termasuk ספרי אמ Sifrei Emet  = "Kitab Kebenaran", bersama Mazmur & Amsal. Ketiganya ditulis dengan tanda baca puitis khusus dan ditulis dalam format bait. Ciri Ibrani: dalam prosa Alkitab biasanya narasi objektif. Dalam puisi Ibrani biasanya berupa percakapan langsung, penuh perasaan, bahasa kiasan & paralelisme. Kalau kita lihat, dalam  Bahasa Yunani (Septuaginta/LXX)
- Prosa = πεζὸς λόγος pezos logos = "ucapan biasa/tidak berirama"
- Puisi = ποίησις poiēsis = "penciptaan karya sastra/puisi". Menariknya, saat diterjemahkan ke Yunani, dalam script asli kitab suci, sebagian besar Kitab Ayub dirender dalam bentuk prosa, meskipun aslinya dalam sastra Ibrani bagian tengahnya puisi. Para sarjana Yunani kuno juga melihat struktur Ayub seperti drama: ada prologue, dialogue, dan epilogue. Bagian Ayat Bentuk Ibrani Sebutan Yunani
Prolog + Epilog 1:1–2:13 & 42:7–17 Prosa / proza, pezos logos
Dialog inti 3:1–42:6 Puisi / shira, poiēsis
Alasan pakai puisi di tengah: bahasa Ibrani puitis dipakai untuk hal yang "tidak bisa" dilakukan prosa, seperti mengekspresikan perasaan, perdebatan teologi, dan citra kiasan yang kuat.
PEMAHAMAN
Dalam Kitab Ayub, struktur naratifnya berbentuk puisi hikmat (ḥokmah) yang menampilkan dialog antara Ayub, sahabat-sahabatnya, dan Allah, ini diapit oleh prosa di awal atau prolog (bab 1:1-2:13) dan prosa di akhir atau epilog (42:7-42:17), puisi di tengah (3:1-42:6) merupakan jembatan nalar dari dua prosa prolog dan prolog epilog yg mengangkat dua konsep Allah, prosa prolog mengangkat konsep Allah yg maha kuasa, shg bertindak semena-mena pun itu haknya, lihat malaikat dan iblis bertindak pun harus se izin Allah, sedangkan prosa epilog mengangkat konsep Allah itu Allah yg sangat adil, kedua konsep Allah ini dijembatani oleh puisi yang mempertegas kedua konsep tsb dg mengkaitkan bahwa penderitaan itu cara Allah memurnikan iman, cara Allah mendidik umatnya. Dalam sastra Ibrani kuno prosa biasanya mengandung konsep polemiknya, sedangkan puisi mengandung konsep memahami polemik tsb, yah .... bisa disebut jembatan nalarnya. Bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan, seperti kata mishpat (keadilan) dan tsedeq (kebenaran). Dalam konteks ini, Allah digambarkan sebagai hakim tertinggi yang memegang kendali penuh atas ciptaan-Nya (Ayub 1:6–12). Sementara itu, dalam perumpamaan lalang dan gandum (Matius 13:24–30), Yesus menggunakan metafora agraris yang sangat dikenal dalam budaya Yahudi. Pemilik ladang (ho despotes tou agrou) menggambarkan figur otoritatif yang memiliki kuasa penuh atas ladangnya, sama seperti Allah dalam Kitab Ayub yang berdaulat atas dunia dan kehidupan manusia.  Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menunjukkan bahwa teks-teks hikmat seperti Ayub sering kali berfungsi untuk menegaskan keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan untuk menjelaskan penderitaan secara moralistik. Hal ini sejalan dengan perumpamaan Yesus yang menekankan bahwa pemisahan antara lalang dan gandum adalah hak prerogatif pemilik ladang, bukan pekerja.
Dalam Ayub 1:6, disebutkan adanya “anak-anak Allah” (bene ha’elohim) yang datang menghadap Tuhan, menggambarkan sidang ilahi (divine council)—sebuah konsep umum dalam sastra Timur Dekat kuno, di mana Allah sebagai Raja semesta memimpin dewan surgawi. Dalam konteks ini, Iblis berperan sebagai “penuduh” (ha-satan), bukan entitas yang setara dengan Allah, melainkan bagian dari struktur ilahi yang diizinkan untuk menguji manusia.  Iblis tunduk pada kehendak Allah. Keterkaitan dengan perumpamaan lalang dan gandum muncul dalam peran “penabur lalang” yang melambangkan kejahatan yang diizinkan tumbuh sementara di tengah dunia yang diciptakan Allah, iblis dalam kasus Ayub. Seperti dalam Ayub, Allah tidak langsung melenyapkan kejahatan, tetapi menundukkannya dalam rencana yang lebih besar untuk memurnikan iman manusia. Penelitian oleh Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) mendukung pandangan bahwa konsep sidang ilahi dalam Ayub menunjukkan struktur otoritas surgawi yang paralel dengan penggambaran pemilik ladang dan para pekerjanya dalam perumpamaan Yesus. Kedua teks menegaskan kedaulatan Allah dan ketidakterbatasan hikmat-Nya. Dalam Ayub, penderitaan bukan hukuman, melainkan sarana pendidikan rohani. Dalam perumpamaan lalang dan gandum, penundaan penghakiman menunjukkan kesabaran dan kebijaksanaan Allah agar tidak ada yang binasa sebelum waktunya, pendidikan juga. Keduanya mengajarkan bahwa keadilan Allah tidak selalu tampak segera, ini pendidikan, untuk bersekehendak dg Allah, bukan kehendakku tetapi kehendak Allah lah yg jadi, pengakuan akan kemahakuasaan Allah, tetapi akan dinyatakan pada waktu yang ditetapkan-Nya. Dalam konteks kekinian, hal ini mengajarkan umat percaya untuk tetap setia dan sabar dalam penderitaan, karena Allah bekerja di balik segala sesuatu untuk kebaikan (Roma 8:28). 

Roma 8:28 (TB):
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." 

Ayat ini menegaskan prinsip teologis bahwa Allah berdaulat dan aktif mengatur segala peristiwa—termasuk penderitaan—untuk tujuan kebaikan rohani. Dalam Kitab Ayub, penderitaan Ayub bukan akibat dosa, melainkan bagian dari rencana ilahi untuk memurnikan iman (Ayub 1:6–12; 42:5–6). Sedangkan dalam Matius 13:24–30, perumpamaan tentang lalang dan gandum menggambarkan bahwa Allah mengizinkan kejahatan dan penderitaan sementara waktu, karena Ia memiliki rencana akhir yang sempurna untuk memisahkan dan memulihkan.  Keterkaitan ketiga teks ini terletak pada tema providensia Dei dan kedaulatan Allah bahwa segala sesuatu, baik penderitaan maupun kejahatan, berada dalam kendali Allah dan diarahkan menuju kebaikan akhir bagi umat-Nya. Secara sastra, Roma 8:28 menggunakan struktur sintaksis Yunani yang menekankan partisipasi aktif Allah (synergei ho theos “Allah turut bekerja bersama”). Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pasif, melainkan terlibat langsung dalam proses kehidupan manusia, suka duka, sehat sakit, sedih senang, kaya miskin, dlsb.  Dalam Kitab Ayub, bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan (mishpat, tsedeq), menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang adil dan berdaulat. Sedangkan dalam Matius 13, Yesus memakai gaya naratif agraris khas budaya Yahudi, dengan simbol “pemilik ladang” sebagai representasi Allah yang berkuasa penuh atas ciptaan-Nya.  Penelitian oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menegaskan bahwa sastra hikmat seperti Ayub menyoroti keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan sekadar menjelaskan penderitaan moral. Ini sejalan dengan Roma 8:28 yang menekankan keterlibatan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam budaya Yahudi kuno, penderitaan sering dipahami sebagai konsekuensi moral. Namun, baik Ayub maupun Roma 8:28 menantang pandangan ini dengan menegaskan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pendidikan rohani. Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) menjelaskan bahwa konsep “sidang ilahi” dalam Ayub 1:6 menunjukkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu melalui struktur surgawi, tetapi tetap memegang otoritas tertinggi. Hal ini paralel dengan pemilik ladang dalam Matius 13 yang menunda penghakiman demi keselamatan gandum—sebuah tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan dan kesabaran Allah. Ketiga teks ini mengajarkan bahwa:

- Allah berdaulat atas penderitaan dan kejahatan.  
- Penderitaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kebaikan yang lebih besar.  
- Hikmat Allah melampaui pemahaman manusia.  

Dalam konteks masa kini, Roma 8:28 menjadi dasar penghiburan bagi orang percaya yang mengalami penderitaan, sebagaimana Ayub tetap setia di tengah ujian, dan sebagaimana pemilik ladang dalam Matius 13 menunda penghakiman demi keselamatan.  Penelitian oleh N.T. Wright (Paul and the Faithfulness of God, 2013) menegaskan bahwa Roma 8:28 adalah puncak teologi Paulus tentang rekonsiliasi kosmis—bahwa Allah sedang menata ulang ciptaan menuju pemulihan akhir, sebagaimana ladang dalam perumpamaan Yesus akan dipisahkan dan dimurnikan pada waktu panen.
 Allah bekerja dalam segala hal, bahkan penderitaan, untuk kebaikan umat-Nya.  Kesabaran dan iman diperlukan untuk melihat rencana Allah yang lebih besar.  Keadilan Allah tidak selalu tampak segera, tetapi pasti dinyatakan pada waktunya.  Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan hukuman. Keterkaitan Roma 8:28, Kitab Ayub, dan Matius 13:24–30 terletak pada satu benang merah teologis: kedaulatan dan hikmat Allah yang bekerja melalui penderitaan untuk menghasilkan kebaikan dan kemuliaan-Nya. Baik Ayub yang diuji, ladang yang menunggu panen, maupun orang percaya yang menderita, semuanya berada dalam tangan Allah yang berdaulat dan penuh kasih.

Pesannya jelas di Alkitab:
- Allah berdaulat penuh atas ciptaan dan sejarah manusia.  
- Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan sekadar hukuman.  
- Keadilan Allah bersifat progresif dan akan dinyatakan pada waktu yang tepat.  
- Manusia dipanggil untuk mempercayai hikmat Allah, bukan menilai berdasarkan pandangan terbatas.  

Dengan demikian, baik kisah Ayub maupun perumpamaan lalang dan gandum menegaskan satu pesan utama: Allah adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu, dan penderitaan yang diizinkan-Nya memiliki tujuan ilahi untuk mendidik dan memurnikan iman manusia. Menarik ada konsep sidang ilahi atau divine council di Ayub yg menyokong konsep bahwa Allah adalah Sang Maha, bahkan mau semena-mena thp manusia pun itu hak Allah, bahkan iblispun dalam bertindak harus se izin Allah, sastra dalam prosa prolog kitab Ayub, yg ingin menunjukan bahwa semua ada dalam kehendakNya, iblis dipakai oleh sastra ini untuk menunjukan kewenangan Allah yang tanpa batas. Kalau di kitab Ayub ada Allah, iblis dan malaikat (anak-anak Allah) gambaran sidang ilahi, dalam Matius 13 perumpamaan lalang dan gandum itupun ada gambaran sidang ilahi, pemilik ladang, penabur lalang/iblis, dan hamba/pekerja dari pemilik ladang (malaikat). Dari awal kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes konsep sidang ilahi itu ada. Oleh karena itu muncul kritisi bahwa kata KITA, jamak bagi sebutan Allah, yaitu Eli, eloy kata tunggal yg disebut menjadi elohim kata jamak bagi sebutan Allah, itu tidak bisa menjadi dasar paham Tritunggal seperti pada kejadian 1:26, karena itu menyebut sidang ilahi, bagaimana kita menanggapi hal ini? (Kita bahas pada judul yang lain), pada prosa epilog, di kitab Ayub, konsep Allah adil itu ditunjukan dengan pengembalian posisi dan kondisi Ayub bahkan lebih, Ayub pulih dalam konsep lalang gandum, keadilan Allah ditunjukan dengan memanen gandum dan membakar lalang. Ada yg harus diperhatikan, harta Ayub dikembalikan 2 kali lipat, tapi untuk anak-anak Ayub itu tidak dibuat 2 x lipat, tapi sama dengan sebelumnya, menarik. Dalam budaya Yahudi, anak adalah lambang hal waris, yg bagi budaya Israel kuno itu sangat penting daripada harta. Hak Waris itu tetap tidak hilang, dan hak waris itu tidak bisa berlipat tapi tetap. Sastra dalam prosa epilog di kitab Ayub ini ingin menggambarkan apapun yg terjadi hak sebagai umat pilihan, hak sebagai umat yg sudah dipilih Allah tidak akan pernah hilang apapun kondisinya.
(16072026)(TUS)

Sabtu, 27 Juni 2026

Sudut Pandang kenapa dalam kisah Alkitab sering digambarkan Allah memihak anak bungsu

Sudut Pandang kenapa dalam kisah Alkitab sering digambarkan Allah memihak anak bungsu

PENGANTAR 
Dalam analisis bahasa sastra tradisi, perhatian Allah kepada anak bungsu dapat dibaca sebagai simbol yang kaya makna dan berlapis. Dalam tradisi sastra keagamaan dan budaya Timur, bahasa tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga mengandung nilai simbolik dan spiritual yang menyingkap cara pandang masyarakat terhadap kekuasaan, kasih, dan keadilan ilahi.  

1. Simbol pembalikan nilai 
   Dalam banyak kisah Alkitab, anak bungsu digambarkan sebagai sosok yang lemah, tidak diunggulkan, atau terpinggirkan. Namun, justru di situlah bahasa sastra tradisi menampilkan pola “pembalikan nilai” — Allah meninggikan yang rendah. Ini sejalan dengan gaya bahasa paralelisme Ibrani yang sering menegaskan kontras: yang kecil menjadi besar, yang hina dimuliakan.  

2. Bahasa kasih karunia 
   Dalam struktur naratif, pilihan Allah terhadap anak bungsu bukan sekadar tindakan sosial, tetapi pernyataan kasih karunia. Bahasa yang digunakan dalam kisah-kisah seperti Yakub dan Esau, Daud dan saudara-saudaranya, sarat dengan diksi yang menonjolkan kelembutan, pemeliharaan, dan pemilihan yang tidak terduga. Ini mencerminkan gaya bahasa sastra tradisi yang menekankan bahwa kasih Allah melampaui logika manusia.  

3. Motif “yang kecil menjadi besar”  Dalam tradisi lisan Nusantara pun, motif ini sering muncul: tokoh muda, lemah, atau bungsu justru menjadi pahlawan. Bahasa yang digunakan biasanya penuh metafora alam — seperti “tunas kecil yang tumbuh menjadi pohon besar” — menggambarkan pertumbuhan rohani dan pemulihan martabat.  

4. Bahasa simbolik tentang hati dan kesetiaan
Dalam konteks teologis, anak bungsu melambangkan hati yang lembut dan terbuka terhadap bimbingan. Bahasa sastra tradisi menempatkan “hati” sebagai pusat moralitas. Maka, perhatian Allah kepada anak bungsu dapat dibaca sebagai perhatian kepada hati yang berserah, bukan kepada status lahiriah.  

5. Kesatuan antara teologi dan estetika  
Bahasa sastra tradisi tidak memisahkan keindahan dari kebenaran. Kisah anak bungsu menjadi puisi hidup tentang kasih yang membalikkan tatanan duniawi. Dalam keindahan naratif itu, Allah digambarkan bukan sebagai hakim yang kaku, tetapi sebagai Bapa yang penuh kasih dan kebijaksanaan.  
PEMAHAMAN
Secara sastra dan teologis, perhatian Allah kepada anak bungsu adalah metafora kasih karunia bahwa yang kecil, lemah, dan tersisih justru menjadi saluran kemuliaan-Nya. Ini adalah bahasa tradisi yang menegaskan bahwa kekuatan sejati lahir dari kerendahan hati dan ketaatan. Ini pula kenapa Allah memilih Israel bukan bangsa lain? Karena Israel terhitung bangsa kecil dan lemah dibandingkan bangsa lainnya pada zaman itu, Israel dibandingkan dg bangsa-bangsa lain yg ada di Kanaan juga terhitung lemah. Pertanyaan ini menarik karena menyentuh pola teologis dan simbolik yang muncul dalam narasi Alkitab. Dalam Perjanjian Lama (PL), Allah sering menunjukkan perhatian khusus kepada anak bungsu atau yang “tidak diunggulkan” secara sosial. Apalagi konsep patriarki yang mengutamakan anak sulung lelaki, demikian halnya Israel dalam zamannya adalah bangsa bungsu, dalam artian kecil dan lemah dibanding bangsa-bangsa sekitarnya. Contohnya:  Kain dan Habel: Allah berkenan kepada persembahan Habel, si bungsu (Kejadian 4:4).  Ishak dan Ismael: Allah memilih Ishak, bukan Ismael, meskipun Ismael anak sulung (Kejadian 17:19).  Yakub dan Esau: Yakub, si bungsu, menerima berkat dan hak kesulungan (Kejadian 25:23).  Daud : Anak bungsu dari Isai, tetapi dipilih menjadi raja (1 Samuel 16:11–13).  Secara akademik, pola ini menunjukkan bahwa Allah dalam PL menentang sistem patriarkal yang menilai manusia berdasarkan urutan kelahiran atau status sosial. Allah menegaskan kedaulatan-Nya, Providentia Dei, dalam memilih siapa pun yang dikehendaki-Nya, bukan berdasarkan tradisi manusia. Ini menyoroti tema anugerah dan pembalikan nilai duniawi bahwa yang kecil, lemah, atau terpinggirkan dapat dipakai Allah untuk tujuan besar.
Sementara itu, dalam Perjanjian Baru (PB), Yesus disebut sebagai “Anak Sulung” (Roma 8:29; Kolose 1:15,18). Namun, istilah ini bukan menunjuk pada urutan kelahiran biologis, melainkan pada kedudukan kehormatan dan otoritas. Sebagai “Anak Sulung”, Yesus adalah pewaris segala sesuatu dan menjadi yang pertama bangkit dari antara orang mati.  Jadi, secara teologis, perhatian Allah kepada anak bungsu di PL dan kedudukan Yesus sebagai Anak Sulung di PB bukanlah kontradiksi, beda konteks teks nya tapi terkait, melainkan dua sisi dari satu pesan besar:  

- Di PL, Allah menunjukkan kasih karunia-Nya kepada yang lemah dan tidak layak.  
- Di PB, Yesus sebagai Anak Sulung menjadi representasi sempurna dari kasih karunia itu, yang menebus dan mengangkat semua “yang kecil” menjadi anak-anak Allah.  Allah tidak menilai manusia berdasarkan posisi atau urutan, tetapi berdasarkan hati yang mau bertobat dan kesetiaan serta ketaatan. Setiap orang, baik “bungsu” maupun “sulung”, berharga di mata-Nya bila hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kasih. Allah memakai yang kecil, terbatas, dan rapuh untuk menghadirkan dampak besar bagi bangsa-bangsa. Secara teologis, tema ini berakar pada kasih karunia, kesetiaan perjanjian, dan kuasa Kristus.

Jumat, 15 Mei 2026

Sudut Pandang Mengurai Komunitas Sadrach

Sudut Pandang Mengurai Komunitas Sadrach 

PENGANTAR 
Ada pertanyaan yg sering diunggah Sadrach itu di Pesantren atau Peguron ? 

PEMAHAMAN 
Ada dua pesantren yang dikaitkan dengan Sadrach muda yang bernama asli Radin, yakni Tebuireng Jombang dan Gontor Ponorogo. 
Sesuatu hil yang mustahal, sebab Tebuireng berdiri tahun 1899, saat usia Sadrach sudah mencapai 64 tahun. Apalagi Gontor yang berdiri ketika Sadrach sudah wassalam. 
Meski demikian ada petunjuk menarik dalam disertasi pendeta Soetarman Partonadi tentang ciri "pesantren" tempat Sadrach mondok. 
"Unsur Terpenting di pesantren bukan pembentukan intelektual melainkan pembentukan spiritual. Di sini, murid dibekali dan dipersiapkan untuk terjun ke masyarakat dan kehidupan sesungguhnya. Para santri tinggal di komplek yang sama seperti para kiai dan keluarga mereka. Bekerja di sawah, memelihara ternak dan bekerja paruh waktu pada keluarga tetangga adalah bagian dari latihan. Dengan cara ini, santri mengalami betapa kerasnya kehidupan di bawah disiplin ketat, yang memaksa mereka mengembangkan inisiatif dan kreativitas pribadi. " (hal. 64).
Nama Sadrach muda yakni Radin menunjukkan ia berasal dari desa. Deri desa itu belum tentu miskin, tutur Adriaanse. 
Jadi ketika ada masa Radin mengemis, itu bukan karena kemiskinan tapi tuntutan kurikulum pesantrennya. 

"Sudah menjadi tradisi murid-murid sekolah Al-Qur'an dan pesantren untuk mengemis sebagai bagian dari kurikulum. 

Hal ini biasanya dilakukan pada hari Kamis, seperti yang ditunjukkan kata Jawa  ngemis (mengemis) yang berasal dari Kemis (Kamis). 
Mengemis disini merupakan cara pengumpulan dana untuk kegiatan keagamaan dan pekerjaan sosial. Ini dianggap sebagai pemberian derma, bagian dari kewajiban Islam. " (hal. 60-61)

Ciri kedua ini mengingatkan saya waktu kecil pulang sekolah, pada mobil zebra tua yang dilengkapi TOA, jalan pelan di depan pasar  sambil menjelaska fadhillah sedekah, dan yang mengiringi anak-anak berpeci dan bersarung, menyodorkan kotak amal ke para pedagang. Demikian, kira-kira rombongan "pesantrennya" Sadrach kalau berdiri di masa sekarang. 
Nah sekarang tinggal dicocokkan saja, meski secara kronologi waktu tidak mungkin, apakah Tebuireng dan Gontor punya dua ciri di atas ? 
Sebenarnya, ada clue yang lebih valid dibanding memaksakan diri tempat Sadrach belajar itu pesantren. 
Sebelum mengurai riwayat hidup Sadrach, pendeta Partonadi menjelaskan tentang pendidikan mistik Jawa dalam sekolah mistik yang disebut peguron. 
Selain itu, ketika Sadrach bertemu dengan seorang misionaris gereja resmi Belanda, Jellesma di Jombang, status Radin masih merupakan murid peguron. 
Radin murtad juga ketika bertemu kembali dengan pengajar peguronnya yang telah masuk Kristen, yakni pak Kurmen alias Sis Kanoman saat tinggal di Semarang. 
Dan dua ciri "pesantren" tempat Sadrach mondok itu lebih dekat dengan peguron daripada pesantren. 
Nah, tentang apa itu peguron, kemisan akan ada bahasan sendiri.Keris Sakti Sadrach

Setelah saya bilang pesantrene Sadrach itu ora cetho, kebanyakan respon yang kontra justru berfokus bahwa gelar kiai itu bukan hanya untuk ulama Islam. 

Ya memang bener, kalau di Jawa Timur sebutannya juga bukan Kiai tapi mbah Yai. Kalau di Jawa Tengah, kebopun bisa disebut Kiai. Nggak ada masalah tentang hal itu. 

Yang penting, kalau nggak pernah nyantri ya jangan dibilang lulusan pesantren. Itu poin pentingnya. 

Ketika saya telusur kembali buku paling populer tentang Sadrach yakni karya C Guillot, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa, salah paham itu kemungkinan berasal dari buku yang oleh Guillot disebut sebagai "buku pesantren. "

Dari banyak buku di rumah Sadrach yang ada di Karangjoso, ada satu buku catatan yang ditulis dengan menggunakan baha sa Arab dan Jawa Pegon (huruf arab untuk menuliskan bahasa Jawa). 

Dari banyak buku peninggalan Sadrach, hanya buku itu, satu-satunya, yang membahas agama Islam. Dan karena dari keluarga Sadrach hanya dia yang pernah di pesantren, maka itu dianggap sebagai catatan yang dibuat Sadrach. Dan Guillot sendiri mengakui, ia tidak punya bukti bahwa buku tersebut memang milik Sadrach. 

Apa isi buku itu, sebutan-sebutan Allah (kemungkinan Asmaul Husna), pelbagai "rasa" (ngelmu roso ?), malaikat (nama - nama malaikat), silsilah raja-raja Islam di Jawa, transkripsi mistik dari Nabi Muhammad (setiap huruf mengandung makna) fan juga dialog antara Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang tentang alam kubur. (hal. 106-107).

Selain itu, guru yang dikaguni Sadrach adalah pak Kurmen alias Sis Kanoman. Ketika Sadrah selesai mengembara di Jombang dan Ponorogo kemudian menetap di Semarang ia ketemu lagi dengan pak Kurmen yang sudah masuk Kristen. Dan Sadrach ikut juga masuk Kristen. 

Kata kunci ada di julukan Sis Kanoman. Karena kalau dalam tingkatan ilmu Jawa, yang pernah saya simak dari Dr. Fahruddin Faiz, ada lima tingkatan. 

Ilmu Kanoman, itu ilmu paling dasar, dilanjut ilmu kanuragan, terus ilmu kadonyan, ilmu kasepuhan dan berpuncak di ilmu kasampurnan. 

Nah, menyimak sepak terjang Sadrach, sepertinya setelah belajar ke Sis Kanoman, ia mengembara di Jombang dan di Ponorogo untuk belajar level ilmu kanuragan. 

Dan sepertinya, ia hanya sampai level ilmh kanuragan, sebab nanti dalam prakteknya, ia banyak menunundukkan para "kyai" selain dengan debat juga dengan adu kesaktian. 

Selain itu, di usia tuanya, ia dilarang melayani umat oleh gereja Belanda, salah satunya karena hobi kleniknya. Sadrach ini menjual keris yang sudah diisi alias keris sakti ke para pengikutnya. 
Sadrach Pecah Kongsi

Sebenarnya, perjumpaan pertama Radin (Sadrach muda) dengan kekristenan sudah terjadi saat ia merantau dan meguru di Jombang dan bertemu Jellesma. 

Jelle Eeljest Jellesma bukan orang Kristen sembarangan, ia adalah misionaris Nederlandsch Zendeling Gnoothschaap (NZG). Jellesma juga orang yang mengkristenkan Tunggul Wulung, yang akhirnya jadi misionaris pribumi sebelum Sadrach. 

Namun, pertemuan itu belum membuat Sadrach muda tertarik untuk pindah agama. 

Usai meguru di Jombang dan Ponorogo, Sadrach tinggal di kampung Kauman. Karena tinggal di kampung santri, ia menambahkan nama Abbas di belakang kata Radin. 

Di Semarang ini pula, ia ketemu lagi dengan pak Kurmen, alias Sis Kanoman yang pernah mendidiknya saat di peguron. Hanya saja, pak Kurmen waktu itu sudah memeluk Kristen karena kalah adu ngelmu dengan Tunggul Wulung. 

Singkat cerita, masuk Kristennya guru yang dihormati menjadikan Radin penasaran. Ia kemudian mengikuti pak Kurmen menemui Ibrahim Tunggul Wulung. 

Kekristenan bercorak Jawa yang dikembangkan Tunggul Wulung membuat Sadrach tertarik. Dan setelah adu ngelmu dan debat, Sadrach memutuskan untuk masuk Kristen. 

Tunggul Wulung, pak Kurmen dan Sadrach menjadi trio penginjil yang melayani masyarakat Bondho Jepara. 

Hanya saja, kongsi itu akhirnya bubar, karena Tunggul Wulung tergoda untuk poligami, menikah untuk kedua kali. Sadrach yang pendalaman alkitabnya cukup baik tentu tidak cocok. 

Dan mungkin kekecewaan Sadrach menjadi lebih dalam, ketika pak Kurmen akhirnya jatuh, menjadi pemadat. Sebutan untuk pecandu narkoba, kalau dulu biasanya penghisap opium. 

Dalam suasana kekecewaan mendalam itulah Sadrach mengaku mendapat wangsit untuk meninggalkan Bondho dan nantinya akan mengantarkannya ke Purworejo, tempat dimana ia mengembangkan kristen kejawennya secara lebih luas. Wiridan Kristen ala Coolen

Kristen adalah agama komunitas dimana gereja adalah organized religion dalam pengertian sebenarnya. Sedangkan di Jawa, agama lebih bercorak pribadi, karenanya penginjilan resmi yang mulai dijalankan sejak Raffles mengirim penginjil dari London Missionary Society, tidak mempan.

Hasil berbeda ketika dilakukan pendekatan ala Kristen kejawen oleh Coenraad Laurens Coolens. Dengan pendekatan kebudayaan, Coolen mampu menembus benteng pertahanan Islam orang Jawa. 

Coolen, adalah blasteran Rusia - Jawa. Bapaknya, imigran Rusia yang menjadi prajurit bayaran VOC, ibunya perempuan bangsawan Jawa. Dari bapaknya Coolen mewarisi nilai-nilai Kristen Barat, dari ibunya mewarisi ruh mistik kebudayaan Jawa. 

Menurut Coolen, jadi Kristen itu tidak perlu meninggalkan kejawaan. Tetap bersunat, tidak perlu dibaptis dan tidak usah berangkat ke gereja. Selain itu, Coolen memanfaatkan wayang untuk mengisahkan pesan-pesan alkitab.

Karena tidak ke gereja, kebaktian dilaksanakan di rumah Coolen yang berpendapa besar. Sebelum kebaktian dimulai, para pengikut Coolen melakukan wirid tembang syahadat.

Sun angandel Allah Sawiji, La ilaha ilallah
Yesus Kristus ya Rohullah Kang Nglangkungi Kwasanipun
La ilaha ilallah, Yesus Kristus ya Rohullah

Aku percaya bahwa Allah adalah Esa, La ilha ilallah
Yesus Kristus adalah Roh Allah yang punya kuasa atas segala sesuatu
Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Yesus Kristus adalah Roh Allah

Tembang sahadat dilafadzkan berjama'ah disertai tepuk tangan dan goyangan kepala ke kiri dan ke kanan sebagaimana lazimnya orang yang sedang mujhadahan berdzikir. Lirik dilantunkan berulang-ulang selama satu hampir satu jam. 

Kristen kejawen al Coolen ini akhirnya terendus. Pada 1851, NZG: Nederlandsch Zendeling Genootschap, kemudian bekerja menginjili orang Jawa mengutus Pdt. J.E. Jellesma (1816–1858).

Beberapa tahun sebelum itu, Coolen memang sudah mulai meredup, karena ia dituduh hidup dalam perzinahan. Perlu dicatat, Coolen meninggalkan istrinya yang tidak mau diajak hidup di perkebunan, dan setelah itu ia menikah secara Islam dengan Sadijah.

Hakim akhirnya memutuskan untuk memberi status “pengawasan” karena “melanggar ketertiban umum” kepada Coolen. Namun pada bulan Oktober 1844, ia dilepaskan dari hukuman dan dibolehkan kembali ke Ngoro. Karena pemerintah menganggap Coolen dalam ‘keadaan mental yang tak sehat’.

Jadi sebenarnya, dari padepokan Coolenlah Kristren ala kejawen ini dilahirkan. Ibrahim Tunggul Wulung ataupun Sadrach itu sekedar melanjutkan. Dari padepokan Coolen tercatat nama-nama penginjil dari pribumi, seperti Singotruno, Paulus Tosari, Matius Niep dan yang paling berpengaruh adalah murid tidak langsung generasi ketiga yakni Sadrach.
Masjid tapi Kristen ala Sadrach

Ketika Kiai Sadrach masih hidup, namanya bukan Gereja Kristen Jawa, Tapi Masjid Kristen. 

Pada bangunan ibadah bercorak masjid Jawa inilah, Sadrach mengangkat diri jadi Kiai. Ia merasa sudah layak jadi Kiai karena muridnya sudah banyak. 

Jadi, Sadrach ini murni Kiai Kristen, bukan Kiai pesantren yang murtad. 

Selain, menamai gerejanya dengan masjid Kristen, menurut Lidya Herwanto, ada pernyataan Sadrach yang kontroversial tentang masjid tersebut. 

Menurut Sadrach, dengan adanya masjid Kristen tersebut, orang Jawa tak perlu lagi berangkat Haji ke Mekkah, cukup ke Karanjgoso saja. 

Dalam hal ini, sepertinya Sadrach menjadi korban politik bahasa kaum misionaris dimana dalam menerjemahkan istilah Bible, mereka memakai istilah yang dekat dengan istilah Islam.

Dalam sebuah artikelnya, ustadz Menachem Ali mengutip surat yang dikirim M.H.C. Klinkert di tahun 1861, kepada sebuah penerbit di Belanda : 

“Dalam pruf cetak dengan aksara Romawi, saya memakai ejaan Jesoes Kristoes, sedangkan dalam pruf cetak dengan aksara Arab, saya menggunakan Isa el-Meseh. 

Saya sengaja berbuat demikian, karena edisi dengan aksara Romawi terutama diperuntukkan bagi orangorang Kristen keturunan Eropa, dan biasa dipakai dalam gereja, sedangkan yang menggunakan aksara Arab terutama ditujukan kepada orang-orang Muslim yang berpendidikan.

Menurut saya, saya harus memberikan kepada masing-masing apa yang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, yang paling mudah dipahami olehnya, dan yang paling tidak menyinggung perasaannya.” 

Jadi pada masa itu, gereja diterjemahkan jadi masjid Kristen, Kanisah jadi Masjid Yahudi. 

Jadi termasuk tetap dipakainya kata Allah untuk menerjemahkan kata God itu adalah sisa politik bahasa misionaris kolonial tersebut.

Rujukan :
C. Guillot, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa

Lidya Herwanto, Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach, Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka.
Rujukan :
Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa, C Guillot
Yesus dan Dewi Sri, Phillip van Akereen
Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia, Pdt. Jans Aritonang
Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya.


(15052026)(TUS)

Sudut Pandang Sejarah Hitam; Upaya Roma Membakar Alkitab Ibrani Yang Diterjemahkan Sarjana Teologi Demi Doktrin Supersesionisme

Sudut Pandang Sejarah Hitam; Upaya Roma Membakar Alkitab Ibrani Yang Diterjemahkan Sarjana Teologi Demi Doktrin Supersesionisme

PENGANTAR
Salah satu sebab  kenapa alkitab protestan tidak memuat kitab deuterokanonika, sedangkan alkitab khatolik Roma memuatnya, selain memang dua lembaga besar tidak bersepakat memakai bersama, tentunya dengan argumentasi masing-masing lembaga, dilain hal .... Oleh karena  kronologi sejarah bagaimana khatolik Roma memutuskan bahwa Alkitab berbahasa latin yg menerjemahkan septuaginta Alkitab berbahasa Yunani menjadi rujukan utama, tetapi para reformator lebih memilih Alkitab berbahasa Ibrani menjadi rujukan utama (zaman pada saat semangat anti khatolik lagi booming nya).
PEMAHAMAN
 Ulasan ini adalah sebuah babak sejarah yang sangat heroik sekaligus berdarah. Perjuangan para sarjana Hebrais pada masa Reformasi bukan sekadar debat akademik di ruang perpustakaan, melainkan pertaruhan nyawa untuk meruntuhkan tembok Supersesionisme (Teologi Penggantian) yang telah mengunci Alkitab dalam bahasa Latin selama lebih dari seribu tahun.

1. Hebraica Veritas: Semboyan Perlawanan Terhadap Roma

Pada abad ke-16, Gereja Katolik Roma menganggap bahasa Ibrani sebagai bahasa yang "berbahaya" dan "setan" karena dianggap dapat merusak iman Kristen dengan pengaruh Yudaisme. Namun, para sarjana Reformasi justru melihat sebaliknya. Mereka mengusung prinsip Hebraica Veritas atau "Kebenaran Ibrani."
Bagi mereka, Vulgata Latin adalah saluran yang sudah tersumbat oleh interpretasi birokrasi agama yang bertujuan memindahkan identitas Israel ke Roma. Untuk menemukan suara Tuhan yang murni, mereka merasa harus kembali ke naskah asli yang dijaga oleh kaum Yahudi. Tindakan ini dianggap sebagai pengkhianatan besar oleh Inkuisisi, karena secara implisit mengakui bahwa orang Yahudi telah menjaga kebenaran lebih baik daripada Gereja Roma.

2. Johannes Reuchlin: Sang Pembela Literatur Yahudi.

Salah satu tokoh paling krusial adalah Johannes Reuchlin. Sebelum Luther memaku tesisnya, Reuchlin sudah berjuang di medan perang intelektual. Saat itu, muncul gerakan untuk membakar semua buku Yahudi (Talmud dan naskah lainnya) di seluruh Kekaisaran Romawi Suci atas perintah kaum Dominikan yang didukung kepausan.
Reuchlin berdiri sendirian melawan arus. Ia berargumen bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa komunikasi langsung antara Allah dan manusia. Ia mempertaruhkan karier dan keselamatannya untuk melindungi naskah-naskah Yahudi. Perjuangannya inilah yang membuka jalan bagi kaum Protestan untuk memiliki akses ke teks asli, sekaligus menghancurkan klaim bahwa hanya Roma yang berhak menafsirkan firman Tuhan.

3. William Tyndale: Nyawa untuk Akurasi Teks.

Di Inggris, William Tyndale menjadi martir terbesar dalam upaya pengembalian identitas teks ini. Tyndale sadar bahwa tanpa kembali ke teks Ibrani, bangsa Inggris akan terus "dijajah" oleh teologi penggantian yang dipaksakan melalui bahasa Latin.
Tyndale adalah sarjana pertama yang menerjemahkan Alkitab ke bahasa Inggris langsung dari naskah Ibrani untuk Perjanjian Lama. Roma sangat murka karena Tyndale menjadikan teks Ibrani milik Yahudi sebagai basis otoritasnya, bukan Vulgata. Akibatnya, Tyndale diburu, dikhianati, dicekik, dan akhirnya dibakar di tiang sula. Sebelum wafat, ia berhasil menanamkan benih keyakinan bahwa: "Kebenaran ada pada naskah aslinya, bukan pada stempel Gereja Roma."

Dampak Teologis: Membongkar Tipu Muslihat Supersesionisme

Para sarjana Hebrais ini berhasil membongkar cara Roma melestarikan Supersesionisme. Ketika Roma menggunakan ayat-ayat nabi untuk menghujat bangsa Yahudi, para sarjana ini menunjukkan bahwa dalam teks Ibrani asli, ayat-ayat tersebut sering kali merupakan teguran kasih Tuhan kepada umat-Nya yang tetap memiliki janji pemulihan fisik.
Dengan memopulerkan bahasa Ibrani, mereka menciptakan "benteng pertahanan" terhadap upaya penghapusan identitas Yahudi dari Alkitab. 
Mereka membuktikan bahwa Kekristenan yang benar tidak perlu mencuri identitas Israel; sebaliknya, Kekristenan harus menjadi saksi atas kesetiaan Tuhan kepada Israel, sebagai pangkal penyertaan Tuhan pada Israel baru (gereja dan umat pengikut Kristus sepanjang zaman, apapun denominasinya, bahkan umat manusia segala bangsa, keselamatan itu universal)

Dari Teks ke Peta Dunia: Hubungan Pemulihan Teks dan Bangsa Israel

Pemulihan teks Ibrani bukan sekadar masalah linguistik, melainkan pemicu gerakan pemulihan bangsa Israel di panggung geopolitik modern melalui tiga pilar utama:

A. Pergeseran Paradigma: Dari Alegori ke Literalisme

Selama masa dominasi Roma, janji tentang kembalinya bangsa Israel ke Zion ditafsirkan secara kiasan (alegoris) sebagai "masuknya jiwa ke surga", pdhl bukan Israel sekarang atau Israel modern beda dengan Israel Alkitab. Namun, saat Tyndale dan pengikutnya kembali ke naskah Ibrani, mereka menemukan bahwa bahasa para nabi sangat literal. Jika Tuhan menjanjikan "tanah" dan "bangsa", maka yang dimaksud adalah tanah dan bangsa yang nyata. Kesadaran inilah yang melahirkan embrio Zionisme Kristen jauh sebelum gerakan Zionis Yahudi modern dimulai.

B. Pengaruh Alkitab Tyndale dan King James (KJV)

Karya Tyndale menjadi fondasi bagi King James Bible yang sangat populer di Inggris. Karena membaca teks yang setia pada sumber Ibrani, bangsa Inggris mulai akrab dengan geografi Israel. Mereka tidak lagi melihat wilayah tersebut sebagai "Palestina" yang abstrak milik Roma, melainkan sebagai Eretz Israel milik keturunan Abraham. Inilah akar teologis yang nantinya memicu lahirnya Deklarasi Balfour (1917).

C. Meruntuhkan Warisan Nama "Hadrianus"

Kaisar Hadrianus dahulu menghapus nama Yudea dan menggantinya dengan "Palestina" untuk memutus ingatan sejarah—praktik yang dilestarikan Roma selama berabad-abad. Namun, sarjana Hebrais menolak penghapusan ini. Dalam terjemahan mereka, istilah "Tanah Perjanjian" dan "Israel" dihidupkan kembali, secara perlahan meruntuhkan legitimasi nama kolonial "Palestina" dalam kesadaran umat Protestan, dengan makna baru, dalam terang PB.

Penutup: Segel Sejarah di Qumran

Perjuangan para sarjana ini terbayar lunas ketika Naskah Laut Mati (Qumran) ditemukan pada tahun 1947, hampir bersamaan dengan kelahiran kembali negara Israel pada tahun 1948.
Naskah-naskah kuno tersebut membuktikan bahwa intuisi para sarjana Reformasi adalah benar: naskah asli Ibrani adalah jangkar kebenaran yang tidak bisa digeser oleh doktrin buatan manusia. Penemuan Qumran menjadi "stempel pengesahan" ilahi bahwa masa Supersesionisme telah berakhir dan masa restorasi telah tiba.
Kebenaran yang Tidak Bisa Dibakar
Meskipun Roma mencoba membakar buku-buku Yahudi dan para penerjemahnya, Hebraica Veritas tetap bertahan. Tanpa perlawanan para ahli bahasa Ibrani ini, dunia mungkin masih menganggap Israel sebagai "fosil hidup" tanpa masa depan, PL ada tapi akan beda maknanya. Namun hari ini, kita melihat bagaimana "sertifikat tanah" spiritual yang tersimpan di Qumran telah menjelma menjadi kenyataan fisik di tanah Israel.

(PERHATIAN; Jangan percaya isi tulisan sebelum membuka sumber2 intisari tulisan diatas;
Bagi yang mau silakan cari sumbernya dibawah ini, mungkin kita bisa mendiskusikannya)

1. Dokumen Resmi Kepausan (Papal Bulls) Mengenai Sensor Teks

Dokumen-dokumen ini membuktikan bahwa Roma secara resmi memerintahkan penyitaan dan pembakaran naskah yang dianggap merusak otoritas Vulgata.

● Bulla Epistola in Caritate (1239), Paus Gregorius IX: Perintah resmi untuk menyita naskah-naskah Yahudi di seluruh Prancis, Inggris, dan Spanyol. Ini adalah bukti bahwa kebijakan pembakaran bukan "oknum", tapi instruksi dari tahta suci.

● Bulla Cum sicut nuper (1554), Paus Yulius III: Perintah untuk membakar Talmud dan literatur Yahudi lainnya. Dokumen ini krusial untuk membuktikan bahwa Roma memisahkan "teks" dari "penafsirnya" untuk melemahkan identitas Yahudi.

● Index Librorum Prohibitorum (Indeks Buku Terlarang): Versi Konsili Trente (1564) secara spesifik melarang penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa rakyat (vernakular) tanpa izin tertulis dari inkuisitor, yang secara efektif mengunci Hebraica Veritas dari masyarakat umum.

2. Sumber Primer Kasus Johannes Reuchlin

Bukti tentang perlawanan Reuchlin didukung oleh dokumen yang menunjukkan betapa kerasnya institusi Katolik mencoba membungkamnya.

● Catatan Sidang Augenspiegel (1511): Ini adalah karya pembelaan Reuchlin yang secara resmi dikutuk oleh Fakultas Teologi Universitas Paris (Sorbonne) pada tahun 1514 sebagai teks yang mendukung Yahudi secara berbahaya.

● Surat-surat Epistolae Obscurorum Virorum (Surat-surat Orang-orang Gelap): Kumpulan surat satir dari para pendukung Reuchlin yang menelanjangi kebodohan para biarawan Dominikan yang ingin membakar literatur Ibrani karena ketakutan mereka pada teks asli.

3. Sumber Primer Kasus William Tyndale

Kasus Tyndale adalah bukti paling berdarah tentang bagaimana Roma membenci akurasi teks Ibrani yang dibawa ke bahasa rakyat.

● The Constitutions of Oxford (1408): Hukum gereja yang tetap berlaku pada zaman Tyndale, yang menyatakan bahwa menerjemahkan Alkitab tanpa izin uskup adalah kejahatan bidaah yang diancam hukuman bakar.

● Surat Sir Thomas More kepada Erasmus (dan karyanya Dialogue Concerning Heresies): More, sebagai representasi otoritas Katolik Inggris, secara spesifik menyerang terjemahan Tyndale bukan karena kualitas bahasanya, melainkan karena Tyndale mengganti terminologi gerejawi dengan kata-kata yang lebih dekat ke makna asli (seperti mengganti "Priest" dengan "Senior" atau "Elder" sesuai kata Ibrani Zaqen).

4. Naskah Perbandingan (Textual Evidence)
Tentang "Pencurian Identitas" melalui terjemahan:

● Vulgata Clementina vs. Teks Masoret (Qumran): Bandingkan terjemahan Amos 9:11-12. Dalam Vulgata, janji restorasi fisik Israel "dibuang" dan diganti dengan narasi universal manusia mencari Tuhan (berdasarkan variasi Septuaginta). Qumran mengonfirmasi bahwa teks asli Ibrani berbicara tentang kedaulatan fisik Israel atas Edom. Ini adalah bukti primer manipulasi teks demi doktrin Supersesionisme.

5. Dokumen Penemuan Qumran (Saksi Mahkota)

1QIsa-a (The Great Isaiah Scroll): Naskah lengkap Yesaya dari abad ke-2 SM yang ditemukan di Qumran. Ini adalah bukti fisik paling kredibel bahwa teks Ibrani tetap stabil selama 2.000 tahun, meruntuhkan klaim Roma bahwa teks Yahudi telah "rusak" atau "diubah" sehingga perlu diganti oleh Vulgata.

(15052026)(TUS)

Sudut Pandang "Siapa Menang, Dialah yang Menulis Sejarah"

Sudut Pandang "Siapa Menang, Dialah yang Menulis Sejarah"

PENGANTAR
Sejarah Kekristenan tidak lahir dari kemenangan, tetapi dari kehancuran dan darah.
Ketika Yerusalem dimusnahkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M, Bait Allah diratakan, kota suci dijadikan simbol kekuasaan, dan komunitas iman tercerai-berai. Bersamaan dengan itu, para pengikut Yesus kehilangan pusat, perlindungan, dan suara.
PEMAHAMAN 
Para rasul Yesus hidup sebagai buronan.
Mereka menyebar ke berbagai wilayah, ditangkap, diadili, dan banyak yang dibunuh sebagai martir. Kekristenan bertumbuh bukan di bawah bayang-bayang istana, tetapi di bawah ancaman salib dan pedang.
Puncaknya terjadi ketika Rasul Petrus dan Paulus dibunuh di Roma. Dua figur utama lenyap. Secara logika politik, seharusnya gerakan ini mati. Tetapi justru sebaliknya—iman Kristen semakin menyebar, semakin terorganisir, dan semakin sulit dipadamkan.

Di sinilah Asia Kecil (Anatolia sekarang Turki) memainkan peran penting.

Para pemimpin Kristen awal—uskup dan penatua—tidak memiliki tentara, tetapi mereka memiliki keberanian intelektual. Mereka menyurati otoritas Roma, menyatakan dengan tegas bahwa orang Kristen bukan kelompok berbahaya, bukan pemberontak, dan bukan ancaman bagi ketertiban umum.

Surat-surat ini tidak menjatuhkan Roma.
Namun ia menggerogoti stigma, mengubah persepsi, dan memaksa kekaisaran menghadapi satu kenyataan pahit: Kekristenan tidak bisa dimusnahkan dengan kekerasan.

Ketika akhirnya Roma menerima Kristen pada abad ke-4, sejarah pun berubah arah. Iman yang lahir dari penganiayaan kini masuk ke struktur kekuasaan. Ajaran distandardisasi, narasi disusun, dan versi resmi mulai dibakukan.

Di titik inilah kita perlu jujur membaca sejarah.

Bukan semua yang “resmi” adalah yang paling awal.
Bukan semua yang “mayoritas” lahir dari pilihan bebas.
Dan bukan semua kebenaran tercatat di arsip pemenang.

Karena sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menang.
Yang kalah sering hanya meninggalkan jejak—darah para martir, surat-surat pembelaan, dan iman yang bertahan tanpa perlindungan negara.

Sejarah mungkin milik pemenang.
Tetapi iman Kristen justru lahir, hidup, dan bertahan
karena mereka yang tidak pernah menang—namun tidak pernah menyerah.


Jumat, 24 April 2026

Sudut Pandang Bintang Timur

Sudut Pandang Bintang Timur

PENGANTAR
Siapakah yang dimaksud di Alkitab dengan sebutan "Bintang Timur"? Kira-kira apakah ini pertanda baik, atau buruk bagi penerima pesan?  apa yang sebenarnya hendak dikatakan soal "Bintang Timur"! bagaimana dengan penjelasan ini? Kiranya makin membawa kita untuk lebih dalam dan benar dalam memahami Alkitab, serta tiap kata yang tertera di dalamnya. Bintang Timur, Yesus atau Lucifer
Mari terus baca, menyelidiki dan renungi Alkitab, menjadi umat yang cerdas dengan membaca, Yesus saja selalu mengatakan tiap mengkritisi kaum pemuka agama "tidakkah kamu baca .....?" (Matius 12:3, Markus 2:25, Lukas 6:3, Matius 19:4, Matius 21:16, Matius 21:42, Markus 12:10, Markus 22:31, Markus 12:26)



Senin, 16 Maret 2026

SUDUT PANDANG KORELASI MARIA DAN 'SAUDARA-SAUDARI YESUS

Keterangan Gambar :
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Yesus bersama kedua Maria, Yusuf, dan saudara-saudarinya (sumber: National Geographic)

SUDUT PANDANG KORELASI MARIA DAN 
'SAUDARA-SAUDARI YESUS'

"Apakah ada, anak dari Yusuf dan Maria?"

Demikianlah pertanyaan seorang rekan diskusi pada saya. Beliau adalah seorang non-Kristen yang gemar membaca dan belajar, serta sangat toleran.

"Nah ini menarik. Perihal Maria dan yang disebut 'saudara-saudara Yesus' ada tiga pandangan berbeda dari tiga aliran gereja berbeda." 

Demikian jawab saya.

Memang, pertanyaan rekan saya ini juga menjadi pertanyaan luas para peneliti Alkitab dan juga umat Kristen.

Ada empat orang dalam Injil yang disebut sebagai saudara Yesus yaitu Yakobus, Yusuf (Yoses), Simon dan Yudas (Matius 13:55; Markus 6:3). Yesus dan saudara-saudara dikenal oleh orabg-orang Nazareth sebab dalam catatan Injil disebutkan bagwa orang-orang sekota dengan Yesus menyatakan keheranan mereka, karena saudara dari keempat bersaudara tadi mempunyai kebijaksanaan dan kuasa (Markus 6:2, 3). Disisi lain, ada juga narasi yang memuat perbandingan saudara-saudara-Nya dan ibu-Nya oleh kelahiran jasmaniah, dengan murid-murid-Nya, yaitu pengikut Yesus secara luas yang karena ketaatan mereka kepada kehendak BapaNya diperlakukan sebagai 'saudara-saudara-Nya' dan 'ibu-Nya' secara rohani (Matius 12:46-50). 

Narasi Alkitab kemudian membuahkan tiga pandangan tentang hubungan keempat saudara ini dengan Yesus dan status Maria, yang dikemukakan melalui penjelasan sebagai berikut:

.
.

1. ANAK-ANAK KANDUNG MARIA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Pandangan pertama menyatakan bahwa 'saudara-saudara' itu adalah anak Yusuf dan Maria, adik-adik kandung Yesus. Artinya Maria melahirkan anak-anak setelah Yesus. Pandangan ini didukung oleh pemakaian kata 'sulung' dalam Luka 2:7, dan kesimpulan Matius 1:25, yaitu bahwa sesudah kelahiran Yesus, perkawinan antara Yusuf dan Maria adalah perkawinan biasa yang melibatkan aktifitas biologis. 

Tafsiran ini meyakini bahwa pengertian alamiah untuk Markus 6:3 yang korelatif dengan Matius 13:55 adalah Yakobus, Yoses, Simon, dan Yudas adalah anak-anak Maria dan Yusuf, yang lebih muda dari Yesus, dan juga bahwa yang disebut sebagai "saudara" ini menunjukkan memori masa kecil yang normal tentang Yesus (bandingkan dengan Lukas 2:40,52), artinya, ayat ini menunjukkan Maria punya anak-anak lain.
 
Tafsiran berdasarkan analisa tekstual ini meyakini bahwa narasi dimana Yesus disebut sebagai saudara Yakobus dan lain-lain merupakan sebuah sebutan yang harus dipahami secara harfiah, dengan keyakinan bahwa tidak ada alasan alkitabiah apa pun untuk tidak menganggap keempat saudara laki-laki dan saudara-saudara-Nya yang perempuan sebagai anak-anak Yusuf dan Maria, yang lahir beberapa waktu sesudah Yesus.

Pada abad 4, pandangan ini dibela Helvidius, tapi kemudian dianggap sesat berdasarkan doktrin mainstream gereja saat itu, apalagi dengan gencarnya gerakan pertapaan yang mengatakan bahwa Maria selalu perawan. Namun, sejak reformasi Gereja oleh Luther dan terutama sekali dengan kemunculan Calvinisme pandangan inilah yang paling umum dianut oleh umat Gereja Protestan walau tidak menjadi doktrin resmi Gereja-gereja Protestan.

.

2. ANAK-ANAK TIRI MARIA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Pandangan kedua menyatakan bahwa 'saudara-saudara' itu adalah anak-anak Yusuf dari istrinya sebelum Maria. Jadi, Maria hanya memiliki anak-anak tiri tanpa anak kandung kecuali Yesus, artinya Maria tetap perawan. 

Golongan yang meyakini tafsiran ini menafsirkan  kata 'saudara' dengan arti yang lebih luas dari pengertian 'saudara kandung'. Ini menyebabkan (atau juga disebabkan) keyakinan dari golongan yang percaya terhadap keperawanan Maria yang kekal bahwa Yakobus (Galatia 1:19) dan saudara Yesus yang lain adalah anak-anak Yusuf dari perkawinan sebelumnya (yang setelah cerita kelahiran, tidak muncul lagi dalam Injil-injil, mungkin karena usianya sudah renta). 

Gereja Ortodoks menafsirkan narasi Matius 1:25 dan Lukas 1:34 sebagai komitmen Maria berkaul  untuk tidak menikah seumur hidupnya. Kalangan Ortodoks juga meyakini catatan dari Injil Yohanes tidak menyatakan bahwa Maria memiliki anak-anak lain setelah Yesus. Sebab di bawah salib, menurut kesaksian Yohanes, Tuhan menyerahkan ibuNya dalam perawatan Yohanes dan begitu pula ibuNya diminta Yesus untuk menjadikan Yohanes sebagai anaknya juga. (Yohanes 19:26-27). Dengan begitu Yohanes sudah mengatakan bahwa ia memiliki dua garis keturunan, baik dari bapa ibunya, Zebedeus, dan juga sebagai "anak angkat" dari ibu Maria sesuai yang diminta Tuhan sendiri kepadanya. Jadi saudara Yesus jika ingin diartikan historis, adalah Yohanes Rasul juga. Begitu pula, terhadap saudara-saudara Yesus dari pihak Yusuf, secara tradisi, disebut bahwa Rasul-rasul Yakobus dan Yudas (penulis-penulis surat) adalah anak-anak Yusuf dari pernikahan sebelumnya, karena ibu mereka telah meninggal duluan.

Penganut pandangan ini biasanya, walau tidak semuanya, beranggapan bahwa saudara-saudara Yesus menentang Dia selama hidup-Nya di dunia ini karena mereka iri atas kualitas jasa dan popularitas Yesus.

Pandangan ini, yang diajarkan pertama kalinya pada abad 3, dan ditegaskan oleh bapa Epifanius dari Salamis, yang merupakan seorang petobat Yahudi dan menjadi uskup di Siprus nantinya (abad ke-4), dan menjadi dogma bagi Gereja Orthodoks Timur.

.

3. SEPUPU-SEPUPU YESUS
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Pandangan ketiga menyatakan bahwa 'saudara-saudara' itu adalah anak-anak dari saudara kandung Yusuf dan/atau Maria. Jadi, 'saudara-saudara' itu adalah sepupu Yesus. Artinya, baik Maria dan Yusuf sama-sama tidak memiliki anak. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa: 

(a) Tafsiran Yohanes 19:25 yang tepat ialah, bahwa yang berdiri di dekat kayu salib bukan empat melainkan tiga wanita, yaitu Maria ibu Yesus, saudari-Nya yg disebut 'Maria istri Klopas' dan Maria dari Magdala; 
(a) Maria yang kedua dalam Yohanes 19:25 tersebut adalah sama dengan Maria yang diceritakan dalam Markus 15:40 sebagai 'ibu Yakobus Muda dan Yoses'; 
(c) 'Yakobus Muda' yang dimaksud adalah rasul yang dalam Markus 3:18 disebut sebagai 'anak Alfeus'; 
(d) Maria yang kedua dalam Yohanes 19:25 adalah istri Alfeus.

Tafsiran ini meyakini bahwa yang disebut sebagai 'saudara-saudara Yesus' adalah kemenakan-kemenakannya Yusuf atau Maria, alias sepupu-sepupu Yesus, yang mana penyebutan 'saudara' bagi sepupu memiliki pembanding 1Raja-raja 20:32 tatkala.raja Ahab menyebut raja Benhadad sebagai "saudaraku" padahal mereka bukan saudara kandung atau saudara tiri bahkan bukan saudara sebangsa. Pandangan ini dikemukakan Jerome untuk membela doktrin bahwa Maria senantiasa perawan hingga akhir hayatnya, dan, sampai sekarang pandangan ini merupakan doktrin resmi Gereja Katolik.

.

Demikianlah beragam tafsiran tentang korelasi Maria ibu Yesus dengan yang disebut sebagai 'saudara-saudara Yesus'. Saya tidak menunjuk pandangan mana yang paling benar, sebab tujuan saya menulis materi ini adalah untuk membagikan informasi tentang ragam perspektif antar gereja terkait Maria dan saudara-saudara Yesus.

Kiranya bermanfaat.

___________________
oleh Devy Ransun

Saduran:
°°°°°°°°°°°
Paragraf kedua dan kelima dari poin kedua (tentanh Gereja Ortodoks) disadur dari narasi oleh Christian Sidenden  melalui forum tertutup (komunikasi pribadi) yang bersumber dari: https://udayton.edu/imri/mary/m/mount-athos-and-mary.php

Referensi:
°°°°°°°°°°°°°
1. "Alkitab Yerusalem" (catatan kaki) untuk ayat-ayat yang dicantumkan

2. Charles R. Swindoll, "Living Insight on Galatians, Ephesian", Tyndale House Publishers, 2015.

3. "Ensiklopedia Alkitab", perikop: saudara-saudara Yesus

4. Jonar Situmorang, "Kamus Alkitab dan Teologi", Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2016.

5. Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI), "Jesus of Nazareth", Image (Hak Cipta: Libraria Editrice Vaticana), New York, 2012.

6. "Utley" (tafsiran Alkitab) untuk ayat-ayat yang dicantumkan

7. "Wyclif" (tafsiran Alkitab) untuk ayat-ayat yang dicantumkan


Sabtu, 10 Januari 2026

SUDUT PANDANG PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO ADALAH BENTUK INKULTURISASI

Keterangan Gambar:
Tablet paku tentang akun pembayaran esru (persepuluhan) dari arsip Ebabbar (sumber: en.wikipedia/tithe)

SUDUT PANDANG PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO ADALAH BENTUK INKULTURISASI 
==================================

PENGANTAR
Pada artikel saya kali ini, saya tidak membahas tentang persepuluhan dari satu perspektif, alias perspektif Alkitabiah, melainkan juga berdasarkan perspektif sejarah kuno, apa yang saya geluti tentang sastra, sejarah, dan arkeologi alkitab.
SIAPA YANG BERHAK ATAS PERSEPULUHAN?
Persembahan Persepuluhan berakar dari Taurat, dan asal muasal sejarahnya adalah dari praktik Esretu, pajak persepuluhan di Ugarit (Kanaan) dan Babilonia (Mesopotamia). Abraham yang datang dari Ur di Mesopotamia lalu menetap di Kanaan tentunya mengetahui praktik ini sehingga tidak mengherankan jika dia berinisiatif memberikan sepersepuluh dari pampasannya pada Melkisedek. 
Acuan utama Kekristenan tentang Persepuluhan adalah Taurat, sehingga seharusnya pada praktiknya Persepuluhan tidak mutlak harus dibawa ke gereja dan tidak mutlak juga semuanya adalah hak para pendeta/gembala jemaat. Persepuluhan diatur untuk diberikan pada para pendeta/gembala namun juga adalah hak para pekarya gereja non-pendeta, orang-orang asing yang kesulitan, anak-anak yatim, dan para janda yang membutuhkan, jemaat sekeng di gereja.

Dalam Taurat, hakikat Persepuluhan adalah Persembahan Kudus sehingga merupakan milik Tuhan sepenuhnya (Imamat 27:30), dan penyalurannya adalah untuk orang Lewi (semua pekarya gereja, pendeta dan non-pendeta), orang asing, anak-anak Yatim, dan para janda. Aturan ini sangat jelas tertulis dalam Ulangan 26:12. Sehingga, jika ingin memberikan Persepuluhan maka boleh dibawa ke gereja, tapi selain membawakannya di gereja, juga bisa langsung memberikannya pada kelompok-kelompok yang sudah disebutkan diatas atau gereja mengatur persembahan tsb (sudah banyak sistim Manajemen gereja dan sistim kepemimpinan dan pengelolaan Gereja modern)

Imamat 27:30 mencantumkan tentang kekudusan Persembahan Persepuluhan, sedangkan Ulangan 26:12 mencantumkan bagaimana Persembahan Persepuluhan itu disalurkan. Sayangnya, saat ini sebagian besar hanya mengingatkan isi Imamat 27:30 dan tidak menjelaskan detail yang tertulis dalam Ulangan 26:12. Perkara persepuluhan, adalah perkara pilihannya sebuah manajemen gereja, tetapi sebaiknya argumentasi cukup kuat untuk umat, karena dalam PB, Yesus mendobrak pemahaman taurat PL termasuk dalam kasus persepuluhan.


PEMAHAMAN
Bagi pemerhati sastra, sejarah dan arkeologi Alkitab, saya yakin ada yang bertanya-tanya,

"Apakah ada catatan atau keterangan historis terkait kira-kira Abraham mendapat ide dari mana untuk membawa sepersepuluh tersebut kepada Melkisedek?" 

"Bukankah tidak ada catatan tentang perintah Ilahi pada Abraham saat itu?" 

"Apakah memang di jaman itu betul-betul sudah menjadi tradisi memberikan sepersepuluh dari pendapatan?"

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban historis. 

Kebiasaan memberi persepuluhan dengan tidak dimulai oleh Taurat Musa dan bukan kebiasaan khas para leluhur Israel, karena, persepuluhan dilakukan juga oleh bangsa-bangsa kuno lainnya.

Ada kekeliruan khotbah dan pemahaman tentang persepuluhan. Kata yang benar adalah "Persepuluhan" yang artinya "sepuluh persen dari pendapatan" adalah milik Tuhan. Kata ini entah mengapa menjadi populer sebagai "Perpuluhan" yang berarti "berpuluh-puluh", sehingga ada beberapa pendeta yang membenarkan konsep bahwa jemaat membawa 20% bahkan 90 sekian persen dari hasil pendapatannya, bahkan ada yang mengatakan kalau 100% bisa kenapa harus dibatasi 10%? Ada yang menekankan ini PERINTAH TUHAN pada umatnya,  Ini keliru dan akan terus keliru jika khotbah tentang persepuluhan selalu menitik beratkan jumlah bukannya cara dan peruntukannya. Selain itu, banyak yang mengira bahwa dalam Alkitab persepuluhan hanya dipungut dan diberikan kepada rumah Tuhan dan untuk para imam (terumah) dan orang Lewi (persepuluhan pertama), juga untuk janda serta kaum fakir miskin, ini tidak sepenuhnya benar sebab persepuluhan juga dipungut dan diberikan kepada raja (1Samuel 8:15,17). Narasi dalam kitab Samuel jika dipadukan dengan pemberian persepuluhan oleh Abraham maka bisa dilihat bahwa persepuluhan sejak awal bukan bersifat kerohanian saja tapi juga sekuler yang berdasarkan pada kekuasaan teritorial, lebih tepat kalau dikatakan sebagai sistim pajak kuno.

Menariknya, ada naskah kuno diluar Alkitab tentang persepuluhan. Ada penemuan arkeologinya,  tepatnya melalui dokumen-dokumen pada tablet cuneiform (tulisan paku).

Praktik persepuluhan mirip dengan praktik Esretu – "ešretū", yaitu pajak sepersepuluh Ugarit dan Babilonia. Ugarit adalah sebuah kota Fenesia pada pantai Siria utara, saat ini namanya Ras Syamra. 

Di bawah ini tercantum beberapa contoh spesifik dari persepuluhan Mesopotamia, saya ambil dari The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4 "E" hal. 369 yang diambil dari salah-satu tablet cuneiform.

[Mengacu pada pajak sepuluh persen yang dikenakan pada pakaian oleh penguasa setempat:] 

"Istana telah mengambil delapan pakaian sebagai persepuluhan Anda (pada 85 pakaian)"

"... sebelas pakaian sebagai persepuluhan (pada 112 pakaian)"..

" ... (dewa matahari) Shamash menuntut persepuluhan..."

"empat mina perak, persepuluhan [para dewa] Bel, Nabu, dan Nergal..."

"... dia telah membayar, selain persepuluhan untuk Ninurta, pajak gardiner"

"... persepuluhan kepala akuntan, dia telah menyerahkannya kepada [dewa matahari] Shamash"

"... mengapa kamu tidak membayar persepuluhan kepada Nyonya Uruk?"

... (seorang pria) berutang jelai dan kurma sebagai keseimbangan persepuluhan dari   tahun tiga dan empat "

"... persepuluhan raja di jelai kota..."

"... berkenaan dengan tua-tua kota yang (raja) telah dipanggil untuk (membayar) persepuluhan ..."

"... kolektor persepuluhan negara Sumundar..."

"... (Ebabbar resmi di Sippar) yang bertanggung jawab atas persepuluhan


Sebagai catatan, yang dimaksudkan dengan Nyonya Uruk adalah Innana, dewi cinta Mesopotamia kuno. Oleh orang Akkadia, Babilonia, dan Assiria dikenal dengan nama Ishtar.

Dimasa Abraham, persepuluhan adalah suatu kebiasaan Ugarit (sekitar Kanaan) dan Proto-Babel (Mesopotamia), oleh karena itu, Abraham yang berasal dari Mesopotamia, dan Melkisedek yang adalah imam di Salem yang ada di Kanaan dan dekat dari Ugarit, tentu familiar dengan persepuluhan yang saat itu peruntukannya kepada raja dan pihak kuil. Teks 1 Samuel mengacu pada kebiasan ini. Dikemudian hari, oleh Musa, pemungutan dan peruntukan persepuluhan diatur lebih rapih.

Jika merujuk kepada tindakan Abraham (Kejadian 14:17-20) dan ramalan Samuel tentang persepuluhan (1 Samuel 8:15,17), terlihat ada perbedaan motivasi. Abraham memberi dengan dorongan hati tetapi dalam 1 Samuel 8:15,17 rakyat  diramalkan akan dipaksa untuk memberikan persepuluhan pada raja. Abraham jelas memberikan dengan kerelaan hati padahal dia tidak diwajibkan secara adat dan teritorial (karena dia bukan orang Salem), sedangkan, untuk kasus 1 Samuel ini merupakan kewajiban rakyat pada raja yang mengacu pada adat istiadat dijaman itu (beda dengan persepuluham Musa yang motivasi dan peruntukannya adalah kerohanian). 

Tindakan spontan Abraham dan perkataan Samuel tentang pemberian persepuluhan pada raja mungkin sulit dipahami, tetapi, penemuan-penemuan arkeologi dan manuskrip kuno tentang kebiasaan pemberian persepuluhan kuno di Kanaan dan Mesopotamia telah membantu memecahkan pertanyaan-pertanyaan dalam Alkitab terkait sejarah persepuluhan. Ini seperti sejarah sunat, yang mana tradisi ini dikenal Abraham dari Mesir. 

Seperti yang sering saya katakan, Tuhan mampu dan berhak menggunakan kebiasaan tradisional untuk memuliakan namaNya, inkulturisasi adalah hal yang lumrah dalam perjalanan hidup manusia terlebih dalam sejarah agama-agama di dunia.

Penolakan persepuluhan sebagai kewajiban mutlak di gereja Kristen dapat didasarkan pada analisis teologi Perjanjian Baru yang menekankan pemberian sukarela daripada hukum ritual Perjanjian Lama. Praktik ini bukan dosa karena tidak ada perintah eksplisit dalam ajaran rasul yang mengikat orang percaya di bawah kasih karunia Kristus. Pendekatan kritis ini membebaskan jemaat dari legalisme sambil mendorong penatalayanan total hidup. Konteks Perjanjian Lama
Persepuluhan diatur beragam dalam Taurat, seperti hasil bumi untuk Lewi (Bil. 18), dimakan komunal (Ul. 14:22-27), atau untuk yatim piatu setiap tiga tahun (Ul. 14:28-29), menunjukkan fungsi sosial-teokratis bukan pajak tetap 10% uang modern. Kritik nabi seperti Amos 4:4 menyoroti legalisme yang kehilangan makna sosial, sementara Maleakhi 3:10 adalah panggilan kesetiaan Israel pra-Kristus, bukan formula "beri untuk terima" bagi orang percaya. Diamnya Perjanjian Baru
Perjanjian Baru hanya sebut persepuluhan tiga kali: Yesus kritik Farisi yang obsesi ritual tapi abaikan keadilan (Mat. 23:23), Farisi sombong (Luk. 18:12), dan Ibrani 7 bandingkan Melkisedek dengan Kristus tanpa perintah baru. Paulus ajarkan pemberian mingguan sukarela (1 Kor. 16:2), murah hati (2 Kor. 9:7), bukan 10% tetap; rasul di Kis. 15:28-29 bebaskan non-Yahudi dari hukum Musa termasuk persepuluhan. Bukan Dosa, Tapi Disiplin Sukarela
Tidak memberi persepuluhan bukan dosa karena orang percaya dibebaskan dari hukum (Kol. 2:16-23; Gal. 5:1), dengan fokus 100% hidup sebagai persembahan (Rm. 12:1). Sejarah gereja awal tanpa persepuluhan wajib hingga abad ke-6 Katolik perkenalkan sebagai dukungan klerus, ditolak Reformator seperti Luther. Memberi sukarela hindari "pencurian Tuhan" interpretasi salah Maleakhi untuk PB. Implikasi Praktis Gereja
Gereja tolak persepuluhan wajib dorong pemberian kasih untuk kebutuhan saudara (2 Kor. 8-9), transparansi, dan hindari eksploitasi. Praktik ini tetap boleh sebagai disiplin rohani pribadi, tapi legalisme rusak stewardship (pengelola) total dan semangat kasih Kristus.
___________________
Oleh (11012026)(TUS)

Referensi:
1. Andrew E. Hill & John H. Walton, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi ketiga.

2. A. Leo Oppenheim (editor in charge), "The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4", The Oriental Institute, Chicago, 2004

3. R. F. Bhanu Victorahadi Pr., "Buku Ajar Eksegese: Perjanjian Lama Nabi-Nabi", UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2022.

4. David F. Hinson, "Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab", BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

5. Ensiklopedia Alkitab

6. Gleason L. Archer, "Encyclopedia of Bible Difficulties", Zondervan Publishing House, Michigan,  1982.

7. Josephus, "Antiquities of the Jews".

8. Robert H. Gundry, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi kelima.

9. Susan Wise Bauer, "Sejarah Dunia Kuno", Elex Media Komputindo, 2007.

10. William Stanford LaSor, David Allan Hubbard, Frederick Wm. Bush; "Old Testament Survey", Wm. B. Eerdmans Publishing, Cambridge, 1996.

11. Walter C. Kaiser Jr., Peter H. Davids, F.F. Bruce, Manfred T. Brauch, "Hard Saying of the Bible", InterVarsity Press, Illinois,  1996.

12. W. J. Martin, "Stylistic Criteria and the Analysis of the Pentateuch", 1955.

Jumat, 02 Januari 2026

SUDUT PANDANG RAJA NEBUKADNESAR

SUDUT PANDANG RAJA  NEBUKADNESAR

Nebukadnezar adalah raja Babel yang berdiri di puncak kejayaan dunia. Kekuasaan militernya tak tertandingi, kota-kotanya megah, dan namanya ditakuti bangsa-bangsa. 

Di matanya sendiri, ia bukan sekadar raja—ia merasa sebagai pusat sejarah.
Namun justru di tengah kejayaan itulah bahaya terbesar tersembunyi: kesombongan yang tidak lagi mengenal batas.

Tuhan tidak membiarkan Nebukadnezar berjalan tanpa peringatan. Melalui mimpi-mimpi yang mengguncang jiwanya, Tuhan berbicara.
Patung raksasa dengan kepala emas—yang jelas menunjuk pada dirinya—namun juga menubuatkan bahwa kemuliaan itu tidak kekal.

Daniel dipakai Tuhan untuk menafsirkan mimpi itu. Pesannya jelas: kekuasaan Nebukadnezar adalah pemberian Tuhan, bukan hasil kebesarannya sendiri. 
Tetapi kebenaran yang didengar tidak selalu menjadi kebenaran yang ditaati.

Waktu berlalu. Nebukadnezar tidak merendahkan diri—ia justru meninggikan dirinya. Ia membangun patung emas dan memerintahkan semua orang menyembahnya. 
Api tungku dinyalakan bagi siapa pun yang menolak.

Namun Tuhan kembali menunjukkan bahwa kuasa manusia punya batas. Di tengah api yang menyala, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak terbakar. Bahkan seorang keempat tampak berjalan bersama mereka—seperti Anak Allah.

Nebukadnezar tercengang.
Ia mengakui kebesaran Tuhan, tetapi pengakuan di bibir belum tentu berarti perubahan di hati.

Peringatan terakhir datang melalui mimpi lain: pohon besar yang ditebang, menyisakan tunggul. Daniel menangis saat menafsirkannya—karena mimpi itu tentang Nebukadnezar sendiri.

Ia akan direndahkan. Akalnya akan diambil. Ia akan hidup seperti binatang, sampai ia mengakui bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia.

Namun Nebukadnezar menunda pertobatan.

Suatu hari, di atas istana Babel, ia berkata dengan bangga: “Bukankah ini Babel yang besar, yang dengan kekuatan tanganku dan untuk kemuliaan namaku kubangun?”

Kalimat itu belum selesai bergema, ketika suara dari langit menjatuhkannya. Dalam sekejap, raja menjadi makhluk yang terbuang. 

Ia makan rumput seperti lembu, tubuhnya basah oleh embun, dan pikirannya gelap.
Kesombongan yang bertahun-tahun dipelihara runtuh dalam satu momen.

Namun kisah Nebukadnezar tidak berhenti pada kehancuran.
Ketika waktunya genap, akalnya kembali. Hal pertama yang ia lakukan bukan membangun ulang istana, tetapi mengangkat matanya ke langit. Untuk pertama kalinya, ia memuliakan Tuhan, bukan dirinya sendiri.

Kekuasaan dipulihkan—tetapi kali ini dengan hati yang diubah.
Nebukadnezar mengajarkan bahwa Tuhan bukan hanya menjatuhkan yang congkak, tetapi juga memulihkan yang merendahkan diri. 
Hukuman-Nya bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyadarkan.

Berbeda dengan banyak raja lain, Nebukadnezar akhirnya belajar: kebesaran sejati bukanlah ketika semua tunduk kepada kita, tetapi ketika kita tunduk kepada Tuhan.

■ Kisahnya mengingatkan kita bahwa kesuksesan tanpa kerendahan hati adalah awal kehancuran. Tuhan bisa memakai siapa saja—bahkan raja kafir—untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Namun Ia juga berdaulat untuk meruntuhkan siapa pun yang lupa bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya.

Daniel 4:37
“Sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, karena segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adil, dan Ia sanggup merendahkan orang yang hidup dalam keangkuhan.”

Tuhan Yesus memberkati 🙏
(03012026)(TUS)

Sabtu, 18 Oktober 2025

SUDUT PANDANG Kejadian 32:22 – 31 PERTARUNGAN DI YABOK

SUDUT PANDANG Kejadian 32:22 – 31
 PERTARUNGAN DI YABOK

PENGANTAR
Yabok melambangkan kematian terhadap diri sendiri dimana kita berhenti berusaha mengandalkan kekuatan diri kita, tidak menyerah dalam titik kelelahan dengan bergantung pada kemurahan berkat Allah. Allah ingin membawa kita ke sebuah tempat dimana kita akan mati terhadap diri sendiri dan mati terhadap cara lama kita yang mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kisah Yakub bergumul dengan malaikat di tepi Sungai Yabok menggambarkan pergulatan spiritual dan transformasi hidup Yakub. Yakub berjuang mencari berkat dan pengampunan, simbol pertobatan dan penyerahan diri kepada Allah.  Pergulatan ini juga menandai perubahan identitas Yakub menjadi Israel, yang berarti "berjuang dengan Allah, " kisah ini mengaitkan dengan pengalaman mistik dan spiritualitas dalam konteks budaya Jawa (kisah Dewa Ruci, "Bergulat di Tepian", Daniel K Listyabudi), pergumulan Yakub adalah gambaran universal tentang perjuangan iman manusia dan panggilan untuk berdamai dengan Tuhan.  Peristiwa pergumulan Yakub dengan "Malaikat" dan ini merupakan "teofani" Allah.Yang dicatat di dalam Alkitab kita ini adalah bukan kisah sebenarnya, ini karya sastra Israel, maka menarik bila tafsir didekati dengan metode analisa kritis naratif. Namun kejadiannya mengandung nilai "rohani". Dalam teologia, hal ini dikenal dengan istilah 'tipologi', yaitu: Pergulatan Yakub dengan Allah ini menggambarkan peristiwa "Pentakosta". Yakub memilih untuk tinggal seorang diri di seberang sungai Yabok. Puncak masalah terjadi di sini, וַיִּוָּתֵר יַעֲקֹב - VAYIVATER YA'AQOV, harfiah "dan ia ditinggalkan - Yakub". Anak, istri, selir, harta benda, semua sudah diseberangkan. Kemudian Yakub sendiri saja? Kemudian ada seorang laki-laki -- entah dari mana datangnya -- bergulat dengan Yakub hingga pagi hari "Seorang laki-laki". אִישׁ - 'ISH, ia adalah pemimpin bala tentara TUHAN atau (bahkan "teofani" dari Allah sendiri). "Bergulat" (Ibrani: וַיֵּאָבֵק - VAYE'AVEQ). Di Timur Dekat persoalan-persoalan hukum kadang-kadang diputuskan dengan suatu percobaan atau ujian. Salah satu caranya ialah bertanding dengan pergulatan. Cerita ini mengungkapkan sifat asasi dari peri kerajaan Allah sebagai pergulatan oleh para pedosa bagi pembenaran. Dalam pergumulan Yakub ini jalan pergulatan sejajar dengan pergumulan rohani, ini merupakan kesejajaran karya sastra dengan petulis Injil Lukas 18:1-8, tentang keadilan dan pantang menyerah serta ketidak henti juang. "Ia tidak dapat mengalahkannya", ( לֹא יָכֹל - LO' YAKHOL), harfiah: ia tidak dapat. Musuh yang ilahi itu adalah juga TUHAN yang menyelamatkan dengan pemilihan, yang menguatkan Yakub dengan kasih karunia untuk terus bergulat dengan Dia, supaya ia tidak dikalahkan dan dikutuk. Demikianlah dengan bertahan dalam permohonan yang didasarkan iman Yakub muncul dari pergumulan itu dengan suatu berkat. "dan Ia memukul" (Ibrani: וַיִּגַּע - VAYIGA). Pembenaran itu didapatkan dengan melalui penderitaan. Karena paha dipandang sebagai tumpuan sumber pembiakan kekuatan, maka pemukulan paha Yakub itu adalah tanda akan terpukulnya keturunan Yakub yang akan dipukul oleh Allah dan oleh penderitaan-Nya serta kemenangan-Nya membenarkan Yakub dan semua orang pilihan allah. Keinginan malaikat untuk pergi sebelum fajar menyingsing mengungkapkan kepentingan Allah yang menjaga agar Yakub jangan binasa karena melihat wajah Allah yang tidak diamati karena kegelapan. Dengan mengingat hal ini, Yakub menyebut tempat itu פָּנִים - PENIEL, artinya: "wajah Allah". Laki-laki yang bergulat dengan Yakub, yang kemudian dipanggil dengan istilah "engkau telah bergumul melawan 'Allah' dan manusia" jelas sekali ia "tidak kalah" karena ia mampu memukul sendi paha Yakub. Namun Yakub dipandang sebagai seorang yang menang, sebab ia tidak menyerah sampai "Orang itu" memberikan berkat kepada-nya. Di sini Yakub sadar bahwa ia sedang berurusan dengan "manusia supranatural" (yang adalah Allah yang sedang ber-"teofani") dan menemuinya secara khusus di dalam kesesakannya membayangkan dirinya akan bertemu abangnya yang pernah marah kepadanya, Esau. Orang sering menganggap bahwa jika seseorang menang, maka yang lain kalah padahal dalam kisah pergumulan Yakub itu tidak dikatakan Allah itu kalah. Jika Yakub lebih "hebat" niscaya pahanya tidak bakal terpelecok. Allah jelas tidak dapat dikalahkan oleh manusia, namun Yakub "mampu" bertahan, Yakub tidak henti juang, Yakub tak menyerah dalam per bergulat semalam-malaman dengan "manusia" ilahi itu, unknown. Pergulatan Yakub ini melambangkan suatu pergumulan hidup umat, dari orang-orang percaya. Yakubtahu bahwa harapan satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya hanyalah Allah dan janji setia-Nya yang akan mendampingi dan menjadikan keturunannya sebanyak pasir di laut, yang tak terhitung banyaknya. Oleh karena itu, Yakub terus-menerus memohon dan bergulat dengan Allah sampai fajar menyingsing (Kejadian 32:24). Dia terus berjuang dan tidak mengijinkan Malaikat Allah untuk pergi sebelum dia memberkatinya. Yakub mengatakan "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." (Kejadian 32:26)

PEMAHAMAN
Pergumulan Yakub adalah lambang perubahan hidup lama ke hidup baru, lambang perjuangan iman manusia untuk bedamai dengan Allah, demikian halnya individu, begitu pula sebuah keluarga. ISH kata kuno yg merujuk pada makhluk itu, dalam sastra Israel udah biasa sisok tak dikenali merujuk Allah atau mahkluk surgawi, ISH ini kronologi bahasanya akan menjadi EL, ELOY, ELOHIM, ELI, dlsb yg merujuk ke ALLAH, dalam bentuk jamak bukan tunggal. Dari malam sampai pagi, itu merujuk kehidupan manusia, sepanjang hidup. Artinya, kalau pergumulan itu dari malam sampai pagi, secara sastra Israel atau analisa naratif, itu melambangkan Allah yang setia ikut serta dalam pergumulan sepanjang hidup umatnya, baik itu sebagai individu, keluarga maupun bangsa. Ketika individu, keluarga, maupun bangsa boleh dikata UMAT tidak menyerah atau tidak berhenti berjuang gumul sepanjang hidupnya, Allah ada di sana setia, ikut bergumulmjuang. Lihat Yakub, mo menghindari tantangan dan masalah hidupnya, dengan mengirimkan dulu keluarganya maju, tapi tidak bisa, tantangan dan masalah hidup bisa hadir dimana saja dan kapan saja, tokh ..... pikirnya udah ngrancang demikian rupa tau nya ada unknown kan, tetap saja tantangan hidup dan masalah hidup bisa muncul dimana saja dalam kehidupan,mkaoanounnwaktunya. Maka yang bisa dilakukan adalah sebuah respon atas keadaan di depan mata, respon yang bermartabat adalah bergumul tak menyerah, tak henti juang yakin Immanuel Allah beserta kita, ALLAH ikut bergumul, Allah ikut merapuh bersama individu, keluarga, umatNya. Menarik, pergumulan itu mendatangkan luka paha bagi Yakub, tidak ada pergumulan hidup yang tidak mendatangkan luka batin, baik itu individu, keluarga, maupun umat. Menarik lagi, analisa naratif atau sastra menunjukan, bahwa makhluk unknown itu yang menyerah, yang menghentikan pertarungan, setelah Yakub terpelecok pahanya. Dalam sastra Israel, selalu ketika umat ada pada titik lemah atau titik lelahnya, Allah turun tangan, Allah tak lepas tangan, Allah tidak bisa mengingkari jati diriNya setia atas umat, amati dalam PL. Ketika, Yakub sudah terpelecok pahanya, tetapi TIDAK MENYERAH dan TIDAK HENTI JUANG, Allah bertindak menolong, dilambangkan dengan perubahan dari malam ke pagi, dilambangkan lagi dengan unknown meminta pergumulan dihentikan, kemudian unknown menyanggupi permintaan Yakub untuk memberikan berkat. Dalam pemahaman, ajaran iman kedatangan Yesus kembali, dimaknai pergumulan hidup itu tiada henti sampai mati nya kita (fajar menyingsing), berkat ..... anugerah itu full sempurna didapat setelah kematian, itulah Paulus mengibaratkan hidup ini sebuah pertandingan, tidak menyerah dan tidak berhenti berjuang bisa dilakukan kalau kita melatih diri, dengan melatih diri maka di saat kita berada di titik terlemah dan terlelah kita, kita tidak akan menyerah dan tak henti juang, itu kenapa teologi tubuh memaknai tubuh Yesus yg robek tak sempurna di terima surga, karena tubuh itu lambang ketidak menyerahan dan ketidak henti juangan Yesus atas kerapuhan, kelemahan, dan ketidak sempurnaan manusia. Keluarga kita pun itu manusia rapuh, lemah, dan tak sempurna, mungkin kita lelah menghadapi kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, tetapi teladan Kristus kita tidak boleh berhenti juang dan tidak boleh menyerah pada kerapuhan, kelemahan, dan ketidak sempurnaan keluarga kita. Dalam sebuah kasus perceraian saya selalu bilang, "yang terpenting di kepalamu tidak pernah ada ide BERCERAI, karena itu artinya kamu berhenti berjuang dan menyerah, artinya kamu keluar dari teladan Kristus, walaupun hasil akhirnya kamu bercerai, tapi kamu bisa tegak berdiri di hadapan Tuhanmu, menatap wajah Tuhanmu, ini aku ... Tuhan, dengan segala luka hasil ketidak menyerahan mu dan ketidak henti juangmu, mempertahankan pernikahanmu". Tidak henti juang dan tidak menyerah dalam kehidupan keluarga harus dijelaskan bukan masalah uang atau materi tapi masalah kehadiran dan komunikasi. Keinginan kita, daya juang kita, di titik terendah atau terlelah untuk tidak menyerah pada kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, dan itu tidak bisa sekali jadi, harus dilatih sedikit demi sedikit sepanjang waktu seperti apa yg dikatakan Paulus I Korintus 9:24-27.
( 18102025) (TUS)

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...