Sabtu, 10 Oktober 2026

Sudut Pandang Matius 23:1-14

Sudut Pandang Matius 23:1-14

PENGANTAR
Mari melihat kemungkinan tafsir yg lain. Ada bbrp pakar tafsir dan ahli kitab suci yang menafsir perumpamaan dalam Matius tsb adalah metafora melawan penindasan dari umat atau jemaat Matius 22:1-14,  atas kesewenangan Yudaisme. Busana atau outfit atau pakaian yg fipakai pimpinan agama yg sering dibanggakan Yudaisme menjadi lambang bahwa umat atau jemaat Matius menentang penindasan atas mereka dan kesewenangan atas mereka, perlawanan atas korupsi, kolusi, dan nepotisme yg dipraktekkan baik para pemimpin agama maupun pejabat pemerintahan. Kirain masuk sirkel Kerajaan Surga tuh urusan iman, ternyata tergantung outfit-nya. Kok bisa, ya? Kita bahas ya, ini kanal Bible Hype and Vibe, buruan save biar enggak hilang. Manusia tuh terdiri dari tiga bagian, ya: jiwa, tubuh, dan outfit. Outfit itu batas antara diri kita dan dunia sekeliling kita. Ini juga soal belonging dan distinction, soal identitas, status sosial, dan juga harkat manusia. Misalnya, dalam Alkitab Kristen dalam Kejadian 3 ayat 21, Allah memulihkan harkat manusia dari rasa malu dengan pakaian kemegahan, kethoneth bahasa Ibraninya, kata yang sama digunakan untuk jubah indah Yusuf.

Persis juga ketika seorang ayah memulihkan harkat anak bungsunya dalam perumpamaan anak hilang di Injil Lukas. Outfit juga ternyata simbol perlawanan ketidakadilan. Seperti bacaan kita, Matius 22 ayat 1-14. Ringkasnya, ada raja ngundang orang ke pesta nikah anaknya, tapi pada enggak mau datang. Terus si raja ngamuk, ngirim pasukan dan kotanya dibakar. Terus dia narik orang-orang random dari jalanan, dipaksa jadi tamunya. Pas ada satu orang enggak mau pakai enggak pakai dress code pesta, rajanya marah lagi. Orang itu diikat dan dibuang ke tempat gelap. Kayak dungeon gitulah ya, D&D.

Kalau raja itu gambaran Tuhan, kok red flag banget, ya? Gimana tuh ajaran kasihilah musuhmu, atau dalam surat Yakobus 2 tuh kan dibilang jangan memandang orang dari outfit-nya? Nah, ini plot twist-nya. Perumpamaan enggak hanya berisi ajaran moral, tapi juga kritik sosial. Jadi salah satu tafsiran perikop ini tuh raja bukan gambaran Tuhan, tapi justru penguasa dunia yang toxic.

Kalau benar begitu, maka mereka yang menolak datang justru demo menolak rezim. Mereka yang datang, orang-orang random dan miskin dipaksa itu, ya karena hasil paksaan apalagi in this economy ya. Rocky Gerung saja kan nyerah, apalagi orang biasa, ya kalau dipaksa ya sudahlah datanglah. Nah jadi pas satu cowok diinterogasi kok kamu nggak pakai baju pesta, orang itu diam, ya diamnya serupa dengan Yesus yang juga diam pas diinterogasi Imam Kayafas. Ini diam perlawanan.

Outfit sebagai tanda menolak tunduk. Makanya kalimat penutup banyak yang dipanggil tapi sedikit yang dipilih. Banyak yang kletoi tapi sedikit yang ekletoi. Ini paranomasia ya, permainan kata. Banyak yang dipanggil tunduk sama sistem yang menindas, tapi sedikit yang berani resistan dan menjalankan nilai-nilai kerajaan surga sejati. Merinding enggak? Kita di mana nih? Spill dong komennya.

Kamis, 08 Oktober 2026

Sudut Pandang Yesaya 25:1-9, Filipi 4:1-9, dan Matius 22:1-14

Sudut Pandang Yesaya 25:1-9, Filipi 4:1-9, dan Matius 22:1-14

PENGANTAR 
Minggu 11 Oktober 2026, Seperti yg sudah saya sampaikan di tulisan sudut pandang sebelumnya, bahwa terjadi silang RCL di bacaan sabda GKJ, tapi itu sebetulnya karena GKJ yg menggunakan RCL Complementary typological atau tematis masih konsisten, tetapi bahan keluarga 2026 yg dibuat LPPS sinode GKJ dan GKI sw Jateng menggunakan RCL semi continous shg terjadi silang RCL dan ketidak konsistensi, seharusnya ada pembicaraan di level LPPS sebelum bahan jadi dibuat. Baik ..... Oleh karenanya saya akan menulis Sudut Pandang dg konsisten menggunakan RCL Complementary typological atau tematis karena sejak awal tahun A, tulisan saya menggunakan RCL tsb dan digunakan GKJ juga, tetapi temanya, saya tetap memakai tema bulan keluarga untuk bulan Oktober 2026 ini. Mari, kita melihat bahwa Yesaya 25:2-9, adalah nubuat Yesaya akan adanya pemulihan bagi Israel dg masuknya Israel dalam perjamuan Tuhan, tentunya setelah di bab sebelumnya Yesaya meneriakkan pertobatan, Israel harus bertobat. Filipi 4:1-9, Rasul Paulus meneriakkan untuk mengutamakan rekonsiliasi dalam menghadapi pertikaian, serta tuntutan etis pengikut Kristus untuk mengutamakan berbuat kebajikan agar Tuhan dimuliakan, keliatannya ini perkara sitegang euodia dan sintikhe. Matius 22:1-14, memperlihatkan sebuah metaphora yg kuat dg pesan konsekuensi. Masuk ke dalam pesta undangan Raja harus memilih konsekuensi untuk ikut aturan penyelenggara berpakaian pesta, bisa dipahami dalam konteks teks nya dan pengenaan kini, bahwa ikut Kristus maka konsekuensi nya adalah meneladan Kristus dan sekehendak dengan Allah. Maka, dalam memahami hidup berkeluarga, keluarga yang diundang dan masuk dalam perjamuan Tuhan, keluarga yang dipulihkan, adalah keluarga yang melakukan pertobatan, menjalani proses satu menyesal dan minta maaf, proses dua adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama serta berproses juang tidak membuat kesalahan baru, itulah pertobatan. Sehingga keluarga yang masuk ke dalam pemulihan, meja perjamuan Tuhan adalah keluarga yang taat penuh dengan pengampunan dan pertobatan. Jadi, keluarga itu tidak akan memberikan tawaran dunia akan pemghakiman dan penolakan. Paulus pada jemaat di Filipi memperlihatkan bahwa keluarga harus mengutamakan rekonsiliasi dalam menghadapi konflik di dalam keluarga, bukan memperhalakan kebencian dan perceraian seperti tawaran dunia, dan keluarga harus dipenuhi perbuatan kebajikan bukan perbuatan munafik dan jahat. Matius menunjukan bahwa keluarga -keluarga yang mengikuti Kristus harus mengerti bahwa keluarga-keluarga ini harus menanggung konsekuensi dari menerima undangan pesta Raja, yaitu berpakaian pesta, bearti mengikuti aturan pesta, mengikuti aturan pesta sama halnya dengan meneladan Kristus dan bersekehendak dengan Allah. Ini dapat dimaknai, keluarga harus mengusahakan kasih dalam keluarga, kesetiaan, ketaatan, pengampunan, dan pertobatan seperti yg diteladankan Kristus dan diajarkan kitab suci, Yohanes pembaptis dan Yesus, serta diserukan kembali oleh Paulus, untuk tidak jadi serupa dengan dunia, untuk tidak memberikan dunia, tawaran dunia adalah ketidak setiaan, pengkhianatan, ketidak jujuran, perselingkuhan, perceraian, kekerasan psikis, seksual dan ekonomi, keluarga pengikut Kristus harus melawan berhala-berhala tsb
PEMAHAMAN
 1. Yesaya 25:1–9, Allah menyediakan perjamuan keselamatan

Dalam bahasa Ibrani, “perjamuan” pada ayat 6 memakai istilah yang menunjuk pada jamuan meriah dan berlimpah. Gunung Sion menjadi ruang simbolis tempat Allah menyatakan keselamatan bagi “segala bangsa”. Gambaran tentang selubung yang menudungi bangsa-bangsa dan maut yang ditelan (Yesaya 25:7–8) memakai bahasa puitis tentang pembalikan keadaan: Allah menghapus aib, tangisan, dan kuasa maut.
Konteksnya adalah pengharapan umat di tengah ancaman kehancuran dan kesombongan bangsa-bangsa. Keselamatan bukan hasil kekuatan manusia, melainkan tindakan Allah. Ayat 9 menegaskan respons umat: “Sesungguhnya, inilah Allah kita… Ia menyelamatkan kita.”
 Gereja dipanggil menjadi komunitas pengharapan yang menghadirkan makanan, penerimaan, penghiburan, dan pemulihan bukan hanya berbicara tentang keselamatan.

2. Filipi 4:1–9  Kesetiaan, rekonsiliasi, dan disiplin batin

Paulus menyebut jemaat sebagai “sukacita dan mahkota”-nya (Filipi 4:1). Kata Yunani stฤ“kete berarti “berdirilah teguh”, sedangkan epieikฤ“s (ayat 5) menunjuk pada kelemahlembutan atau sikap tidak memaksakan hak.
Nasihat kepada Euodia dan Sintikhe (ayat 2–3) menunjukkan bahwa konflik internal dapat terjadi dalam komunitas pelayanan. Paulus tidak mempermalukan mereka, tetapi mengarahkan mereka kepada “sehati sepikir dalam Tuhan”. Sukacita, doa, ucapan syukur, dan pikiran yang benar (ayat 4–8) membentuk spiritualitas yang tahan terhadap kecemasan.
Keluarga Kristen perlu menjadi ruang rekonsiliasi, pengendalian kata-kata, doa, dan latihan memikirkan hal-hal yang benar—bukan ruang penghakiman atau dominasi.

3. Matius 22:1–14  Undangan Kerajaan dan pakaian pesta

Dalam budaya kuno, jamuan kawin berkaitan dengan kehormatan, relasi sosial, dan loyalitas kepada tuan rumah. Undangan yang ditolak (Matius 22:3–6) menggambarkan penolakan terhadap otoritas dan anugerah Allah. Undangan kemudian diperluas kepada orang-orang di persimpangan jalan (ayat 9–10), menekankan keluasan panggilan Kerajaan.
Pakaian pesta (ayat 11–13) menunjukkan bahwa menerima undangan tidak boleh dipisahkan dari respons hidup yang layak. Perumpamaan ini tidak boleh dipakai untuk membenarkan kebencian terhadap kelompok tertentu; fokusnya ialah tanggapan manusia terhadap undangan Allah. Ayat kunci: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Matius 22:14). Pemilihan harus dipahami bersama panggilan untuk hidup dalam pertobatan dan kesetiaan.

Ketiga bacaan bergerak dari perjamuan keselamatan (Yesaya 25:6–9), kepada pembentukan komunitas yang berdamai (Filipi 4:2–9), dan berpuncak pada undangan Kerajaan yang menuntut respons nyata (Matius 22:1–14). Pokok pikiran nya “Diundang ke perjamuan Allah, dibentuk menjadi keluarga yang setia.” Dalam kerangka ekklesia domestica, keluarga menjadi agen kasih Allah melalui doa, rekonsiliasi, keramahtamahan, dan kepedulian. Berhala dalam rumah tangga dapat berupa uang, status, kontrol, kenyamanan, gawai, atau ambisi yang menggantikan Allah. Menolak berhala berarti menata kembali rumah agar kesetiaan kepada Kristus menjadi pusat keputusan, relasi, dan penggunaan sumber daya.
(10102026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 22:1-14 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—ฝ๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ”

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด  Matius 22:1-14 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—ฝ๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ”

PENGANTAR
Ketika kita berumur 50, lalu kita membuat tulisan tentang hidup kita di masa remaja dan sekolah. Tentulah ada perbedaan reaksi dan perasaan antara kita di masa kini dan kita di masa lalu. Perbedaan ini bukan berarti kita memanipulasi kisah kehidupan kita di masa lampau. Lewat pengalaman dari perjalanan hidup kita memberi makna terhadap kejadian pada diri kita di masa remaja. Misal, kita dihukum dikeluarkan dari kelas oleh guru. Perasaan kita saat itu takut dan malu bercampur aduk. Bagi kita itu adalah tragedi. Namun, sekarang “tragedi” itu kita alihrupakan menjadi humor yang membuat kita tertawa ketika kita bersua dengan teman lama atau bahkan guru yang menghukum kita.
Demikian juga kira-kira pada penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan Injil Matius, sebagai contoh, terjadi sekitar 40 tahun sesudah peristiwa penyaliban Yesus. Sudah ada jemaat Kristen yang dapat kita sebut Jemaat Matius. Jemaat ini sudah cukup mapan. Seperti halnya jemaat mapan di zaman modern, jemaat ini banyak persoalan internal. Hal ini ditambah lagi penghancuran Bait Allah oleh tentara Roma yang berakibat jemaat Kristen diusir dari rumah-rumah ibadat (sinagog) Yahudi karena dianggap sebagai sumber malapetaka. Pengarang Injil Matius hendak memberikan pastoral kepada jemaatnya dengan menulis Injil yang merupakan refleksi imannya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kurun 40 tahun sesudah penyaliban Yesus dijadikan refleksi dan dimasukkan ke dalam cerita Injil untuk diberi makna baru.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu kedua puluh setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 22:1-14 yang didahului dengan Yesaya 25:1-9, Mazmur 23, dan Filipi 4:1-9.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ. Ini merupakan perumpamaan ketiga Yesus dalam rangka menjawab gugatan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mengenai otoritas mengajar Yesus di Bait Allah. Dua perumpamaan sebelumnya sudah diulas dalam Sudut  ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ sebelum ini.

Perumpamaan di atas sejajar dengan perumpamaan di Injil Lukas 14:15-24. Meskipun sejajar, tentu saja ada perbedaan narasi dan penekanan karena memang kedua penulis Injil mengusung teologi yang berbeda. Di Injil Lukas perumpamaan itu tentang perjamuan umum, sedang di Injil Matius tentang perjamuan kawin. Perbedaan besarnya adalah Matius menempatkan perumpamaan itu sesudah Yesus tiba di Yerusalem, sedang di Injil Lukas Yesus belum berada di Yerusalem.

Pengulasan perumpamaan dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 22:1-7 Penolakan undangan
▶️ Matius 22:8-10 Pengalihan undangan
▶️ Matius 22:11-13 Undangan yang pongah
▶️ Matius 22:14 Penutup

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป (Mat. 22:1-7)

Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka (ay. 1), “๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 2) ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. (ay. 3) ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ: ๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ-๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ; ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. (ay.. 4) ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข; ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข (ay. 5), ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข (ay. 6). ๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข (ay. 7).” (TB II 2023)

Perbedaaan perumpamaan di Injil Matius dan Injil Lukas:
▶️ Di Injil Matius perumpamaan ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, sedang di Injil Lukas ditujukan kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.
▶️ Tempat di Bait Allah dalam Injil Matius, sedang dalam Injil Lukas Yesus di rumah pemimpin orang Farisi yang menjamu-Nya.
▶️ Penyelenggara perjamuan kawin adalah raja di Injil Matius, sedang di Injil Lukas penyelenggaranya hanya “seseorang” dan bukan perjamuan kawin.
▶️ Penolak undangan di Injil Lukas menolak dengan baik-baik, sedang di Injil Matius penolak undangan ada yang menolak dengan baik-baik, ada yang menyiksa hamba utusan sang raja, bahkan ada yang dengan beringas membunuh hamba-hamba raja itu.
▶️ Di Injil Lukas pengundang murka, sedang di Injil Matius si pengundang bukan saja murka, tetapi juga membinasakan para pembunuh hamba-hambanya dan membakar kota mereka.

Undangan dan penolakan pertama dalam perumpamaan di atas hanya satu ayat (lih. ay. 3). Undangan dan penolakan kedua ditulis lebih lengkap dengan tiga ayat (lih. ay. 4-6). Tampaknya Matius hendak mengontraskan antara urusan pribadi para undangan dan tindakan kekerasan mereka terhadap hamba-hamba utusan raja. Kebiasaan di sana undangan disampaikan dua kali. Undangan kedua adalah penjemputan sebelum acara perjamuan dimulai. Dalam perumpamaan itu reaksi undangan kedua sudah melampaui kebiasaan di sana. Mereka bukan saja menolak, tetapi juga menyiksa dan membunuh hamba-hamba utusan raja.

Injil Matius ditulis sesudah masa penghancuran Bait Allah dan Kota Yerusalem oleh Jenderal Titus dari Roma pada 70 ZB. Matius hendak menyampaikan bahwa penghancuran Yerusalem itu adalah penghukuman dari Allah karena orang-orang Yahudi yang diwakili oleh imam-imam kepala dan tua-tua yang menolak kehadiran Yesus dan para pewarta kristiani (ay. 7).

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป (Mat. 22:8-10)

“๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. (ay. 8) ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. (ay. 9) ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. (ay. 10)” (TB II 2023)

Kalau kita membaca secara saksama, ada yang janggal menjelang bagian kedua ini. Tidak ada jeda hari antara bagian pertama dan kedua. Untuk mengerahkan pasukan dan membakar kota tentunya membutuhkan waktu lama. Namun, seperti yang pernah saya sampaikan bacalah perumpamaan sebagai perumpamaan.

Di Injil Lukas penyelenggara pesta mengundang orang-orang miskin, cacat, dan buta. Begitulah penekanan Lukas yang sangat memerhatikan orang-orang pinggiran (marginal). 

Matius berbicara tentang ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Penulis Injil Matius banting stir. Sesudah orang-orang Yahudi menolak Injil, maka pewartaan Injil dialihkan kepada bangsa-bangsa lain. Frase ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … (๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ) di ayat 9 sama dengan ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … di Matius 28:19 sebagai penutup Injil Matius.

๐—จ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต (Mat. 22:11-13)

“๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ-๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข. (ay. 11) ๐˜๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜’๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข? ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. (ay. 12) ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜จ๐˜ช. (ay. 13)” (TB II 2023)

Injil Matius ditulis untuk Jemaat Matius yang merupakan gereja yang sudah cukup mapan dan berliturgi rapi. Jemaat di sini bukan semata-mata himpunan individu yang mengakui Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, tetapi juga jemaat atau gereja yang memiliki semacam dewan pemimpin atas nama dan dengan wibawa Tuhan. Tidak semua pemimpin dan pengikut Yesus terandalkan. Ada di antara mereka yang dikiaskan oleh Matius sebagai serigala berbulu domba (lih. Mat. 7:15). Ada juga kelompok yang mati-matian memertahankan tradisi Farisi dan tidak mau meninggalkan masa lampau.

Bagian ketiga perumpamaan di atas menggambarkan situasi Jemaat Matius. Undangan yang tidak mengenakan pakaian pesta itu mewakili kelompok di Jemaat Matius yang sudah merasa bagian dari Kerajaan Allah. Mereka yakin pasti selamat karena “orang dalam”. Padahal untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah mereka harus meninggalkan pola hidup dan pola laku yang lama. Jika tidak, nasib mereka sama dengan orang-orang yang menolak undangan perjamuan kawin itu. Tidak ada yang dapat dimegahkan menjadi “orang dalam”. Jangan pongah!

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ (Mat. 22:14)

“๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ.” (TB II 2023)

Mengontraskan yang kecil dengan yang besar (atau sebaliknya) merupakan ciri ungkapan Yahudi. Ayat di atas hendak mengontraskan banyak dengan sedikit. Tidak ada angka tertentu di sana. Kita tidak dapat membuat kesimpulan ada 100 orang yang dipanggil, tetapi hanya 10 yang dipilih. 

Perumpamaan di atas tampaknya hendak mengubah premis Injil untuk orang-orang Yahudi menjadi Injil untuk segala bangsa. Allah menawarkan keselamatan kepada semua orang, tanpa kecuali, tetapi Ia memilih mereka yang menerima undangan-Nya secara tepat dengan meninggalkan pola hidup dan pola laku lama.

 (15102023)(TUS)

Selasa, 06 Oktober 2026

KETIKA PERJAMUAN KUDUS DIUBAH MENJADI DOKTRIN YANG TIDAK DIAJARKAN ALKITAB

Saudara-saudara, persoalannya bukan apakah orang Kristen harus menghormati Perjamuan Kudus. Tentu saja harus.

Persoalannya adalah: apa sebenarnya yang Yesus ajarkan ketika Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, lalu berkata, “Inilah tubuh-Ku”?

Apakah Yesus sedang mengajarkan bahwa roti tersebut secara hakikat berubah menjadi tubuh fisik-Nya?

Ataukah Ia sedang memberikan sebuah tanda perjanjian yang menunjuk kepada pengorbanan-Nya di kayu salib?

Di sinilah kita perlu kembali kepada Alkitab, bukan kepada spekulasi filsafat abad pertengahan.

Yesus tetap berada di hadapan para murid ketika Ia mengucapkan perkataan itu. Ia memegang roti dengan tangan-Nya sendiri. Karena itu, sangat wajar apabila perkataan “Inilah tubuh-Ku” dipahami dalam bahasa tanda dan perwakilan, sebagaimana Yesus juga berkata:

«“Akulah pintu.”
“Akulah pokok anggur.”
“Kamu adalah garam dunia.”»

Tidak ada seorang pun yang memahami perkataan tersebut secara biologis.

Yesus bukan pintu kayu.
Yesus bukan tanaman anggur.
Dan “garam dunia” bukan berarti manusia berubah menjadi kristal garam.

Bahasa Alkitab berkali-kali menggunakan tanda, simbol, dan perumpamaan untuk menyampaikan kebenaran rohani.

Lalu mengapa ketika sampai pada roti Perjamuan Kudus, tiba-tiba bahasa tersebut harus dipaksa menjadi perubahan hakikat yang tidak dapat dilihat, disentuh, dicium, ataupun dibuktikan secara fisik?

Di sinilah persoalannya dimulai.

Konsep transubstansiasi kemudian dirumuskan dengan menggunakan kategori filsafat seperti substansi dan aksiden. Roti dikatakan tidak lagi menjadi roti dalam hakikatnya, sementara rasa, bentuk, warna, dan sifat fisiknya tetap seperti roti.

Dengan kata lain:

yang terlihat tetap roti,
yang terasa tetap roti,
yang berbau tetap roti,
yang secara fisik tetap menunjukkan sifat roti,
tetapi secara metafisik dikatakan telah berubah menjadi tubuh Kristus.

Pertanyaannya sederhana:

Di manakah Alkitab mengajarkan mekanisme teologis seperti itu?

Jangan sampai sebuah ajaran yang tidak dijelaskan secara eksplisit oleh para rasul justru diperlakukan seolah-olah merupakan inti iman yang wajib diterima tanpa pertanyaan.

Yesus berkata:

«“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
— Lukas 22:19»

Paulus pun ketika mengajarkan Perjamuan Kudus kepada jemaat Korintus menekankan bahwa roti dan cawan tersebut dilakukan untuk “mengingat” Kristus dan memberitakan kematian-Nya sampai Ia datang (1 Korintus 11:23–26).

Fokusnya adalah Kristus yang telah mati dan bangkit.

Bukan mencari Kristus secara fisik di dalam sebuah benda.

Dan ada satu hal yang jauh lebih penting.

Salib Kristus adalah pengorbanan yang sempurna dan satu kali untuk selama-lamanya.

Ibrani 10:10–14 menjelaskan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selama-lamanya. Ia tidak perlu mengulang pengorbanan-Nya setiap kali umat berkumpul.

Kristus tidak perlu disalibkan kembali.

Kristus tidak perlu dikorbankan kembali.

Kristus sudah berkata:

«“Sudah selesai.”
— Yohanes 19:30»

Karena itu, iman Kristen tidak berdiri di atas kebutuhan untuk menemukan tubuh Kristus secara material di dalam roti, melainkan berdiri di atas Kristus yang telah mati, bangkit, naik ke surga, dan akan datang kembali.

Lalu bagaimana dengan Yohanes 6 yang berbicara tentang makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya?

Apakah Yesus sedang mengajarkan manusia untuk memakan tubuh-Nya secara biologis?

Menariknya, Yesus sendiri memberikan penjelasan:

«“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
— Yohanes 6:63»

Jadi jangan mengambil satu ayat, lalu mengabaikan penjelasan Yesus sendiri.

Perkataan Kristus harus dibaca dalam keseluruhan kesaksian Kitab Suci.

Yang kita makan dalam iman bukanlah tubuh manusia seperti makanan biologis. Kita menerima Kristus dengan iman. Kita bersekutu dengan Dia. Kita mengingat karya salib-Nya. Kita memberitakan kematian dan kebangkitan-Nya.

Itulah makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperdebatkan perubahan “zat” yang tidak dapat diamati.

Dan di sinilah kritik terhadap berbagai unsur keagamaan yang berkembang kemudian perlu disampaikan dengan jujur.

Ketika sebuah tanda akhirnya diperlakukan seperti objek yang harus disembah, kita harus berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah kita masih menyembah Kristus yang hidup, atau mulai memusatkan perhatian kepada benda yang dianggap membawa kehadiran-Nya secara material?

Yesus tidak pernah berkata kepada murid-murid:

“Simpan roti ini dalam wadah emas, arak keliling kota, kemudian berlututlah menyembahnya.”

Perintah-Nya sederhana:

“Ambillah, makanlah.”

Perjamuan Kudus diberikan untuk mengarahkan hati kepada Kristus, bukan untuk mengalihkan penyembahan kepada benda.

Karena itu, bagi iman Protestan yang berpegang pada Sola Scriptura, pertanyaannya bukan:

“Apakah tradisi gereja mengatakan demikian?”

Pertanyaannya adalah:

“Di mana Alkitab mengajarkan demikian?”

Kalau sebuah doktrin membutuhkan penjelasan filsafat yang sangat panjang agar terlihat masuk akal, sementara teks Alkitab sendiri tidak pernah menjelaskan mekanisme tersebut, maka doktrin itu layak diuji kembali.

Jangan takut menguji tradisi.

Jangan takut bertanya.

Jangan takut membuka kembali Alkitab.

Sebab iman Kristen bukan dibangun di atas mitos, legenda, ataupun “sihir teologis”, melainkan pada fakta bahwa Yesus Kristus sungguh mati di kayu salib, sungguh bangkit dari kematian, dan sungguh menjadi satu-satunya jalan keselamatan.

Perjamuan Kudus seharusnya membawa kita kembali kepada salib.

Bukan membuat kita sibuk menyembah benda.

Kristus adalah pusat iman.
Kristus adalah korban yang sempurna.
Kristus adalah Tuhan yang hidup.
Dan hanya Dia yang layak menerima penyembahan.

Sola Scriptura.
Sola Gratia.
Sola Fide.
Solus Christus.
Soli Deo Gloria.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Sudut Pandang Matius 21:33-46

Sudut Pandang Matius 21:33-46

PENGANTAR
Drama sengketa lahan tuh gak hanya di jaman now. Sengketa lahan paling epik malah di jaman Yesus. Mau tau? Buruan safe biar gak ilang, ini Sabsing, Sabda Singkat, serial Sudut Pandang. 
PEMAHAMAN 
Bayangin, ada bos besar nitipin lahan kebun anggur ke penggarap buat dikelola. Tapi pas ditagih bagi hasilnya, si penggarap malah main kasar. Bawa-bawa preman dan mau ngerampas tanahnya. Ini perumpamaan Yesus tercatat di Matius 21 ayat 33 sampai 46 Yesus memulai dengan kata dengarkanlah SHEMA dalam bahasa Ibrani ini beresonansi dengan SHEMA YISRAEL sahadat orang Yahudi diulangan 6 ayat 4 tapi juga standar formula RIP atau gugatan hukum para nabi perjanjian lama kepada bangsa Israel untuk menunjukkan kesalahan mereka. Yesus memojokkan para pemimpin agama Yahudi dengan peringatan keras, sebanding dg konsep SHEMA, perumpamanya auto connect Ke nyanyian Kebun Anggur, Yesaya 5 ayat 7, Bos besar itu ya Tuhan sendiri, Kebun Anggur ya Israel Penggarap - penggarapnya ya pemimpin agama masa itu, kalau lingkup gereja ya ..... pemimpin gereja, bisa majelis, uskupan, Kardilanan, bahkan Paus, atau mungkin lembaga sinode. Sebetulnya waktu panen hasil apa sih yang Tuhan tagih? Bukan gedung gereja megah, bukan KKR membahana, bukan sound sistem megah, bukan peribadatan yg wooowww keren, bukan kelegaan setelah beribadat, bukan karya gereja apalagi karya panitia atau komisi, bukan kekayaan gereja, bukan club' circle, komunitas, gang dalam gereja. Tapi MISPHAT, keadilan, dan TSEDAQAH, kebenaran, Ramai ... Bos .... ternyata yg diagungkan gereja bukan itu yang diminta Tuhan menurut kesaksian Alkitab, ......  ya MISPHAT itu yaitu keadilan retributif, TSEDAQAH yaitu keadilan distributif. Dalam sastra ini  malah ada PAROMASIA, permainan kata, di nantinya MISPHAT tetapi hanya ada MISPHAH kelaliman atau pertumpahan darah ya, di nantinya TSEDAQAH tetapi hanya ada TSEAQAH, keonaran atau jeritan minta tolong. Yang ditagih itu bagaimana para pemimpin, baik pemimpin agama, boleh dikata pemimpin gereja, dg kata lain ULAMA, menciptakan keadilan dan kebenaran di tengah umat, tidak ada tebang pilih, tidak ada kesenjangan diantara umat, demikian halnya para pemimpin pemerintah atau pejabat atau boleh dikata UMARA/UMAROH. Dalam konteks ini, Yesus sedang menelanjangi para imam orang saduki dan farisi yang kena sindrom ke pemilikan orang yang cuma dititipi merawat umat ... eh .... malah belagu ngangkangin propertinya bahkan sampai menolak anak sang pemilik lahan ..... ini pengingat  ..... ya pertama karya bukan milik pribadi, tapi milik bersama, persekutuan ..... shg tidak pantas pemimpin gereja malah mencipta gang, club', circle, komunitas di gereja ..... karena konsepnya keadilan, tidak ada tebang pilih, semua setara sama, tidak ada yg disingkirkan serta dianggap tak sama, bukan untuk memperkaya diri sendiri, pengingat juga ...... Kita ini cuman penggarap ..... bukan pemilik, kita ini cuman pengelola, semua yg ada di dunia ini cuman titipan Allah, kita cuman diberi tanggung jawab mengelola, pengelola sesuai kehendak pemiliknya, Tuhan,  jabatan, kekayaan, karya bergereja, sebesar apapun hanyalah titipan, ajarkan itu pada keluarga kita di bulan keluarga, SEMUA YANG ADA DIDUNIA INI CUMAN TITIPAN, KITA CUMAN DIBERI TANGGUNG JAWAB SEBAGAI PENGELOLA, MENGELOLA SESUAI KEHENDAK PEMILIK, DAN MEMBAWA HASIL BAGI PEMILIK, JADI JANGAN MELEKAT PADA HAL - HAL DUNIAWI, KITA HANYA PENGELOLA, SEPERTI APA YG DITERIAKAN OLEH YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS SERTA DIULANG PAULUS, JANGAN JADI SERUPA DENGAN DUNIA, BAHARUILAH BUDI, KARENA DUNIA BUKAN MILIK TAPI TANGGUNG JAWAB PENGELOLAAN. Kalau buah karya bergereja bukannya keadilan dan kebenaran mishpat dan tsedaqa malah memiskinkan jemaat, tebang pilih umat, menyingkirkan umat, MISPHAH dan TSEAQA, gak berdampak bagi sesama apalagi saudara SE iman,  ya sertifikatnya dicabut pemilik tanah, JANGAN TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT, SEBELUM PEMILIK TANAH BENAR-BENAR DATANG. Peristiwa Perjamuan Kudus Sedunia mengingatkan kita, waktu untuk bertobat, kita sudah dipersekutukan dg Allah, dianggap keluarga Allah, buah yg dihasilkan harusnya keadilan (MISPHAT) dan kebenaran (TSEDAQAH), dalam proses juang kelemahan dan kerapuhan kita, kita bersyukur setiap melewati Perjamuan Kudus, kita ingat masih ada kesempatan bertobat, berubahlah oleh pembaharuan budi kita, berproses juanglah untuk berubah seturut kehendak pemilik tanah, Tuhan. Salah satu bentuk keadilan MISPHAH yg harus kita tegakan di tengah meja makan Tuhan adalah menerima anak-anak dalam meja perjamuan Kudus sebagai sebuah keluarga lengkap.
(04102026)(TUS)
Kenapa dalam efesus 6:1-20,  ada perikop taat dan kasih kok terus dilanjutkan perikop perlengkapan rohani, apa konteks teknya latar belakangnya dan analisis kritis akademik teologi nya?

Kedua perikop itu bukan dua topik yang terpisah, melainkan satu penutup argumentasi Efesus: **hidup Kristen yang diatur oleh Injil dalam rumah tangga dan masyarakat (6:1–9) harus dipahami sebagai bagian dari konflik kosmik melawan kekuatan-kekuatan jahat (6:10–20)**. Jadi, “taat dan kasih” lalu dilanjutkan “perlengkapan rohani” karena Paulus memindahkan fokus dari etika relasional ke sumber daya teologis yang memungkinkan etika itu bertahan.[1][2]

## Struktur Efesus 4–6

Efesus memiliki pola klasik: pasal 1–3 adalah *indicative* (identitas dan tindakan Allah dalam Kristus), sedangkan pasal 4–6 adalah *imperative* (hidup yang sesuai dengan panggilan itu). Bagian 4:1–6:20 berulang kali memakai kata “berjalanlah” (*peripateite*), lalu berpuncak pada perintah “berdirilah” (*stฤ“nai*) dalam 6:10–20.[2][3]

Dengan demikian, Efesus 6:1–9 adalah kelanjutan dari “kode rumah tangga” (*Haustafel*) yang dimulai pada 5:21–33: istri–suami, anak–orang tua, dan budak–tuan. Efesus 6:10–20 bukan pergantian tema yang mendadak, melainkan penjelasan mengapa hidup keluarga dan gereja yang saleh tetap berada di bawah tekanan rohani.[4][5]

## Latar belakang 6:1–9

Bagian “taat dan kasih” memakai bentuk etika rumah tangga yang dikenal luas di dunia Yunani-Romawi dan Yudaisme Helenistik, biasanya disebut *oikonomia* atau pengelolaan rumah. Bentuk ini lazim mengatur tiga pasangan relasi: suami–istri, orang tua–anak, dan tuan–budak.[5][6]

Namun Paulus tidak sekadar mengulang etika sosial Romawi. Ia meletakkan seluruh kode itu di bawah frasa “tunduklah seorang kepada yang lain dalam takut akan Kristus” (5:21) dan menutupnya dengan “tidak ada pilih bulu di sisi-Nya” (6:9). Artinya, pihak yang secara sosial berkuasa—suami, ayah, tuan—juga menerima perintah moral: mengasihi, tidak membangkitkan amarah, dan tidak mengancam.[5][7]

Secara retoris, ini dapat dibaca sebagai etika yang memperbaiki struktur rumah tangga dari dalam: anak dan budak tetap diperintah dalam konteks sosial zaman itu, tetapi mereka juga dialamatkan secara langsung sebagai subjek moral di hadapan Tuhan; sementara orang tua dan tuan dibatasi oleh tanggung jawab kristiani. Karena itu, 6:1–9 bukan sekadar “perintah taat,” melainkan pembentukan rumah tangga sebagai ruang kesaksian Injil.[8][9]

## Jembatan menuju 6:10–20

Kata penghubung pentingnya adalah **“Akhirnya”** (Yunani: *tou loipou*) dalam 6:10. Frasa ini tidak harus berarti “topik baru yang tidak ada hubungannya,” melainkan menandai penutup dan puncak seluruh nasihat etis surat.[2][3]

Ada juga benang merah teologis: sejak Efesus 1:21–22; 2:2; 3:10; dan 6:12, surat ini menampilkan realitas “penguasa dan kuasa” kosmik. Kehidupan keluarga Kristen tidak berlangsung di ruang netral; ia berlangsung di tengah realitas spiritual yang menentang rencana Allah. Maka setelah membentuk kehidupan internal gereja dan rumah, Paulus menunjukkan sumber kekuatan untuk tetap teguh.[1][10]

## Latar belakang 6:10–20

Gambar “perlengkapan senjata Allah” bukan imajinasi militer yang berdiri sendiri. Penelitian eksegetis umumnya menemukan latar utamanya dalam **Yesaya**, khususnya Yesaya 11:4–5; 49:2; 52:7; dan 59:17, di mana TUHAN atau Mesias-Nya digambarkan sebagai pejuang ilahi yang memakai kebenaran, keadilan, dan keselamatan.[10][11][12]

Dalam Yesaya 59, Allah sendiri “memakai keadilan sebagai baju zirah dan helm keselamatan di atas kepala-Nya.” Efesus kemudian memindahkan gambaran itu kepada jemaat: orang percaya mengenakan bukan sekadar senjata manusiawi, melainkan **senjata Allah**—artinya, karakter dan tindakan penyelamatan Allah yang kini menjadi milik mereka di dalam Kristus.[11][12]

Gambar prajurit Romawi mungkin memperkuat daya komunikasi metafora, terutama karena penulis menyebut dirinya “utusan dalam belenggu” (6:20). Namun dasar teologis utamanya lebih kuat pada motif “peperang ilahi” Alkitab Ibrani daripada sekadar pengamatan terhadap tentara Romawi.[10][12]

## Analisis teologis

| Unsur | Fungsi dalam argumen Efesus |
|---|---|
| Taat anak dan kasih orang tua | Menunjukkan bahwa ketaatan Kristen berakar pada “dalam Tuhan” (6:1), bukan pada otoritas absolut manusia. [1] |
| Budak dan tuan | Menata relasi sosial timpang dengan standar kesetaraan eskatologis di hadapan Tuhan (6:8–9). [7][5] |
| “Berdirilah” | Menegaskan bahwa tugas orang percaya bukan menaklukkan dunia dengan kekerasan, melainkan bertahan dalam iman dan kesaksian. [2][10] |
| Perlengkapan Allah | Menyatakan bahwa kemenangan rohani bersumber dari karakter dan tindakan Allah, bukan teknik rohani manusia. [10][11] |
| Doa dan keberanian Injil | Menunjukkan bahwa “perang” Efesus 6 berpusat pada kesaksian Injil, bukan agresi terhadap manusia. [13][10] |

Secara teologis, ada tiga penekanan utama:

- **Kristologis:** senjata itu pada dasarnya milik Allah dan Mesias; orang percaya mengenakannya karena telah dipersatukan dengan Kristus.[11][12]
- **Ekklesial:** lawan yang disebut bukan “musuh manusia,” melainkan kuasa-kuasa kosmik; karena itu perlawanan bersifat komunal, doa, dan kesaksian gereja.[10][13]
- **Etis:** perlengkapan itu sebagian besar adalah virtus—kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman Allah. Artinya, peperangan rohani tidak dilepaskan dari kehidupan moral sehari-hari.[13][14]

## Kritik akademik

Pembacaan populer kadang memisahkan 6:1–9 dan 6:10–20: yang pertama dianggap etika keluarga, yang kedua dianggap “perang rohani” individual. Pembacaan itu melemahkan alur surat. Secara akademik, lebih tepat membacanya sebagai satu kesatuan: **rumah tangga Kristen adalah medan pertama kesetiaan kepada Kristus, dan perlengkapan rohani adalah cara jemaat bertahan dalam kesetiaan itu.**[2][15]

Kritik sosio-historis juga penting. Kode rumah tangga Efesus memakai bentuk budaya Romawi yang hierarkis, tetapi menempatkannya di bawah “penyerahan diri bersama” dan kasih Kristus. Beberapa sarjana menilai ini sebagai penyesuaian pastoral-apologetik agar gereja tampak tertib di masyarakat; yang lain menekankan bahwa teks justru membatasi kekuasaan pihak yang dominan. Keduanya menunjukkan bahwa teks harus dibaca secara historis, bukan langsung dijadikan legitimasi otoritarianisme modern.[5][7][9]

Demikian pula, “perang rohani” tidak boleh dipahami sebagai permusuhan terhadap manusia, kelompok sosial, atau tradisi keagamaan lain. Teks secara eksplisit menyatakan bahwa perjuangan adalah “melawan penguasa-penguasa kegelapan,” bukan melawan “darah dan daging” (6:12); tujuan praktisnya adalah berdiri teguh, mempertahankan Injil, dan berdoa dengan tekun.[13][14]

## Kesimpulan eksegetis

Efesus 6:1–20 disusun sebagai penutup yang koheren: **ketaatan dan kasih dalam relasi rumah tangga adalah bentuk hidup yang terbentuk oleh Injil; perlengkapan rohani adalah realitas kosmik dan doa yang memungkinkan hidup itu tetap teguh.** Perpindahan dari “taat dan kasih” ke “perlengkapan rohani” bukan putusnya argumen, melainkan pendalaman argumen: etika Kristen adalah partisipasi dalam kemenangan Allah yang sudah dicapai di dalam Kristus.[1][2][10]

Kutipan:
[1] Efesus 6 - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Efesus_6
[2] Efesus 6 https://griibandung.org/reformed-theology/efesus/efesus-6/
[3] WEEK 18 "Menjadi Kuat Mengenakan Injil" - Gibeon Church https://gibeon.church/sermon-series/facing-the-world-with-gospel-confidence/sermons/menjadi-kuat-mengenakan-injil/recap
[4] The case of The household codes in ephesians 5:21–6:9 in ... https://brill.com/downloadpdf/display/book/9789004255302/B9789004255302_015.pdf
[5] New Testament household code - Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/New_Testament_household_code
[6] [PDF] The Background of New Testament Household Codes https://journals.spu.ac.ke/index.php/amjr/article/download/298/236/248
[7] Mutual Submission Frames the Household Codes - CBE International https://www.cbeinternational.org/resource/mutual-submission-frames-household-codes/
[8] Household Order and the Discipleship of the People of God https://digitalshowcase.oru.edu/cotmdissertations/3/
[9] [PDF] Does Paul's Household Code Contain a Social Apologetic https://theologyintheraw.com/wp-content/uploads/2026/01/Does-Pauls-Household-Code-Contain-a-Social-Apologetic.pdf
[10] SPIRITUAL WARFARE AND THE CHURCH'S MISSION ... https://www.tyndalebulletin.org/article/29411-spiritual-warfare-and-the-church-s-mission-according-to-ephesians-6-10-17.pdf
[11] Ephesians and Evangelical Activism: The Covenantal, Corporate ... https://bpb-us-e2.wpmucdn.com/sites.gcu.edu/dist/2/88/files/2024/05/JBTS-5.1-Article-7-e5749580730522da.pdf
[12] Ephesians 6 - Part I https://www.samstorms.org/all-articles/post/ephesians-6---part-i
[13] Efesus 6 (PEDIA) - Tampilan Pasal - Alkitab SABDA https://www.alkitab.sabda.org/bible.php?book=Efesus&chapter=6&tab=pedia
[14] Efesus 6 (PEDIA) - Tampilan Pasal https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=49&chapter=6&tab=pedia
[15] Journal of Biblical and Theological Studies - CDN https://bpb-us-e2.wpmucdn.com/sites.gcu.edu/dist/2/88/files/2024/05/JBTS-3.2-Article-3-327ed82bb65f2361.pdf
[16] [PDF] bahasa komunikasi teologis surat efesus (tafsir sosio-retorik surat ... https://repository.ukdw.ac.id/7765/1/50190068_bab1_bab5_daftarpustaka.pdf
[17] Pemahaman Aktivis GBI Kapten Tendean Tentang Perlengkapan Rohani Orang Percaya Berdasarkan Teks Efesus 6:10-18 http://sttbi.ac.id/journal/index.php/diegesis/article/download/83/58
[18] Efesus 6 (TB) - Tampilan Pasal - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Ef&chapter=6
[19] Analisis Teologis tentang Pertahanan Rohani dan Kekuatan Doa dalam Efesus 6:14-20 https://e-journal.sttsgi.ac.id/index.php/jmc/article/download/58/54
[20] Efesus 6 (TB) - Tampilan Pasal https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=49&chapter=6
[21] (PDF) Analisis Teologis Tentang Pertahanan Rohani dan Kekuatan ... https://pdfs.semanticscholar.org/725c/83cddd3679fb92048a4c11fac0df84c07f82.pdf
[22] Intercultural criticism of spiritual warfare (Ephesians 6:10–20) https://hts.org.za/index.php/hts/article/download/6905/21611
[23] Attributes of God in Ephesians: Meaning and relevance https://hts.org.za/index.php/hts/article/download/6649/18556
[24] Fully Protected https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8183253/
[25] [PDF] An Exegetical Survey of Ephesians 5:21รข•fi6:9 and Other New Testam https://digitalshowcase.oru.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1002&context=cotmdissertations
[26] The naked truth or prophecy as folly? A performative interpretation of Isaiah 20 https://hts.org.za/index.php/hts/article/download/7612/22267
[27] Rereading Isaiah's Vision (Isa 6) through the Lens of Generational Imprinted Trauma and Resilience http://www.scielo.org.za/pdf/ote/v36n1/15.pdf
[28] What to Read on the Armor of God (Eph. 6:10–20) https://reformedforum.org/armor-of-god-eph-610-20/
[29] The Case of the Household Codes in Ephesians 5:21–6:9 ... https://www.academia.edu/104155961/Traveling_Ethics_The_Case_of_the_Household_Codes_in_Ephesians_5_21_6_9_in_Cross_Cultural_Perspective
[30] An Examination of Ephesians 6 https://www.scribd.com/document/734825163/An-Examination-of-Ephesians-6
[31] Paul: A Misogynist? https://scispace.com/pdf/paul-a-misogynist-2jx5ojg270.pdf

Apa latar belakang militer Romawi di Efesus 6 10 20

Latar belakang militer Romawi dalam Efesus 6:10–20 adalah **perlengkapan prajurit infanteri berat Romawi (legionary)** pada abad pertama. Paulus memakai gambaran itu sebagai metafora yang akrab bagi pembaca di Asia Kecil, tetapi mengisinya dengan teologi dari Perjanjian Lama: orang percaya mengenakan “perlengkapan Allah,” bukan sekadar meniru tentara Romawi.[1][2][3]

## Konteks sosial militer

Pada abad pertama M, tentara Romawi merupakan kehadiran yang sangat tampak di provinsi-provinsi, termasuk Asia Kecil sekitar Efesus. Militer menjadi simbol kekuasaan, ketertiban, disiplin, dan *Pax Romana*; karena itu gambaran prajurit mudah dipahami oleh jemaat sebagai citra kekuatan dan kesiapan.[3][4]

Paulus kemungkinan menulis Efesus dalam penjara atau tahanan rumah yang terkait dengan Roma (bandingkan Ef 3:1; 4:1; 6:20). Dalam situasi itu, kontak dengan prajurit Romawi sangat mungkin, dan penggambaran “utusan dalam belenggu” pada 6:20 memperkuat kesan bahwa citra militer itu bukan spekulasi jauh, melainkan bagian dari dunia pengalaman penulis.[4][5]

## Perlengkapan dalam Efesus 6

Istilah Yunani *panoplia* (6:11, 13) berarti “perlengkapan lengkap” seorang prajurit. Efesus menyebutnya secara berurutan, kira-kira mengikuti urutan seorang tentara bersiap bertempur.[2][6]

| Efesus | Istilah Yunani | Padanan militer Romawi | Makna teologis |
|---|---|---|---|
| 6:14 | *alฤ“theia* | Sabuk (*cingulum*), yang menopang pakaian dan perlengkapan | Kebenaran sebagai dasar integritas dan kesiapan. [7][8] |
| 6:14 | *thลrax* | Zirah dada (*lorica*) untuk melindungi organ vital | Keadilan sebagai pelindung hidup moral. [9][10] |
| 6:15 | *hetoimasia* | Sandal militer (*caligae*) dengan sol berpaku | Kesiapan membawa “Injil damai.” [7][11] |
| 6:16 | *thyreos* | Perisai besar (*scutum*), dapat memadamkan panah api | Iman sebagai pertahanan terhadap serangan si jahat. [1][7] |
| 6:17 | *perikephalaia* | Helm (*galea*) besi atau perunggu | Keselamatan sebagai pelindung pikiran dan identitas. [9][7] |
| 6:17 | *machaira* | Pedang pendek (*gladius*) untuk pertempuran jarak dekat | “Pedang Rohani,” yaitu firman Allah. [7][11] |

Perisai Romawi yang dimaksud biasanya berbentuk persegi panjang, terbuat dari kayu dan dilapisi bahan kulit/kanvas; perisai besar itu dapat menahan panah api dan, dalam formasi, dapat disatukan dengan perisai prajurit lain. Pedang yang disebut *machaira* bukan pedang panjang, melainkan pedang pendek infanteri yang efektif untuk tusukan jarak dekat.[1][7]

## Mengapa Paulus memilihnya?

Gambar militer memberi tiga fungsi retoris:

- **Visual dan konkret:** jemaat dapat membayangkan urutan memakai perlengkapan: sabuk, zirah, sepatu, perisai, helm, lalu pedang.[2][6]
- **Menekankan kesiapan total:** perintah “kenakanlah seluruh perlengkapan” menolak pemahaman bahwa hanya satu aspek kehidupan rohani yang penting; kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman, dan doa harus utuh.[2][12]
- **Membalik simbol kekuasaan Romawi:** tentara Romawi melambangkan kekuatan kekaisaran; tetapi Efesus menyatakan bahwa kekuatan sejati jemaat bukan kekerasan imperium, melainkan Allah dan Injil.[1][3]

## Batas pentingnya

Latar militer Romawi adalah **wahana metafora**, bukan inti teologinya. Sarjana umumnya menekankan bahwa sumber teologis utama Efesus 6 adalah motif “pejuang ilahi” dalam Yesaya, terutama Yesaya 11:4–5; 49:2; 52:7; dan 59:17, di mana Allah sendiri memakai kebenaran, keadilan, dan keselamatan sebagai perlengkapan.[2]

Karena itu, jangan menyimpulkan bahwa Efesus mengajak orang percaya berperang secara fisik atau politik. Teks justru menyatakan lawan bukan “darah dan daging,” melainkan kuasa-kuasa rohani (6:12); senjata utama jemaat adalah kebenaran, iman, firman Allah, dan doa.[1][12]

## Kesimpulan

Latar belakang militer Romawi di Efesus 6:10–20 adalah perlengkapan legioner Romawi yang dikenal pembaca abad pertama: sabuk, zirah, sandal militer, perisai besar, helm, dan pedang pendek. Paulus mengambil citra itu untuk menggambarkan kesiapan total jemaat, tetapi mengubah maknanya secara teologis: yang dipakai bukan senjata Roma, melainkan “seluruh perlengkapan Allah” untuk berdiri teguh dan mempertahankan Injil.[1][2][7]

Kutipan:
[1] Intercultural criticism of spiritual warfare (Ephesians 6:10-20) https://www.scielo.org.za/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0259-94222022000300007
[2] Andyews University Seminary Studies, Vol. 43, No. 1,91-100. https://digitalcommons.andrews.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2909&context=auss
[3] Illuminating this Present Darkness: Paul's Armor of God Across Church History https://www.academia.edu/11121672/Illuminating_this_Present_Darkness_Pauls_Armor_of_God_Across_Church_History
[4] The Armour of God: A Scholarly Breakdown of Ephesians 6 https://bible.eu/articles/armour-of-god/
[5] Suit Up: Discover the Meaning and Power Behind the Whole Armor of God https://discover.hubpages.com/religion-philosophy/meaning-behind-the-whole-armor-of-god
[6] biblehub.com › commentaries › ephesiansEphesians 6:14 Commentaries: Stand firm therefore, HAVING ... https://biblehub.com/commentaries/ephesians/6-14.htm
[7] The Armor of God and Roman Military Equipment - Biblexika https://www.biblexika.com/ancient-context/armor-of-god-parallels
[8] “Put On the Complete Suit of Armor From God” https://wol.jw.org/en/wol/d/r1/lp-e/2004684
[9] The Battle against Evil https://cranfordville.com/Cranfordville/Eph6_10-20SSLess.pdf
[10] The Armor of God, Made Literal: How Body Protection Evolved ... https://bible-history.com/news/the-armor-of-god-made-literal-how-body-protection-evolved-from-scripture-to-the-modern-vest
[11] Armor of God: The 7 Pieces Explained (Ephesians 6:10-18) https://knowgodbetterbible.com/armor-of-god
[12] [PDF] 1 Taking up Armour: The challenges of early Christian exegesis of ... https://ora.ox.ac.uk/objects/uuid:164f35ee-1d54-48c4-9d9a-cb587f2e7de7/files/m0052fad86be667e770c7dc847a8c6afa
[13] Appearance of protective clothing over the centuries https://scindeks-clanci.ceon.rs/data/pdf/0040-2389/2020/0040-23892004038R.pdf
[14] Evolution of chest defense in the Roman era https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11082460/
[15] ETV Classics | The Roman Army | Saints and Legions (1973) https://www.pbs.org/video/the-roman-army-saints-and-legions-1973-82pial/
[16] EXEGETICAL PAPER ON EPHESIANS 6:10-20 https://servantsofgrace.org/exegetical-paper-on-ephesians-610-20/
[17] Allusions to Military Affairs of Use of the Panoply or Defensive Armour https://biblehub.com/topical/ttt/t/the_roman_empire--allusions_to_military_affairs_of_use_of_the_panoply_or_defensive_armour.htm

## Analisis Efesus 6:1–20

### 1. Konteks langsung teks

Efesus 6:1–20 merupakan bagian dari nasihat etis dalam Efesus 4–6. Setelah menjelaskan identitas umat percaya dan karya Kristus dalam pasal 1–3, penulis beralih pada cara hidup yang sesuai dengan panggilan tersebut.

Alurnya dapat dilihat demikian:

- **Efesus 5:21–33**: relasi suami dan istri.
- **Efesus 6:1–4**: relasi anak dan orang tua.
- **Efesus 6:5–9**: relasi hamba dan tuan.
- **Efesus 6:10–20**: kehidupan umat percaya dalam menghadapi kuasa-kuasa rohani.

Jadi, perlengkapan rohani bukan topik yang berdiri terpisah, melainkan kelanjutan dari pembahasan mengenai kehidupan umat Allah dalam relasi sehari-hari.

### 2. Mengapa ketaatan dan kasih disambungkan dengan perlengkapan rohani?

Hubungannya bersifat teologis dan etis. Penulis tidak memisahkan “pertempuran rohani” dari karakter dan perilaku sehari-hari.

- **Efesus 6:1–3** menekankan ketaatan anak kepada orang tua “di dalam Tuhan”.
- **Efesus 6:4** memperingatkan orang tua agar tidak membangkitkan amarah anak.
- **Efesus 6:5–9** menuntut ketulusan, keadilan, dan kesadaran bahwa baik hamba maupun tuan berada di bawah Tuhan.
- **Efesus 6:10–11** kemudian memanggil jemaat untuk kuat di dalam Tuhan dan mengenakan perlengkapan senjata Allah.

Artinya, konflik rohani tampak juga dalam godaan untuk hidup dalam egoisme, kekerasan, ketidakadilan, kepahitan, dan penyalahgunaan kuasa. Sebaliknya, ketaatan yang benar, kasih, keadilan, dan pengendalian diri merupakan wujud nyata seseorang yang “berdiri” dalam kekuatan Allah.

### 3. Makna “perlengkapan senjata Allah”

**Efesus 6:12** menjadi ayat kunci: pergumulan umat percaya bukan terutama melawan manusia, melainkan melawan kuasa-kuasa kegelapan. Karena itu, perlengkapan rohani menunjuk pada seluruh kehidupan yang dibentuk oleh kebenaran Allah:

- **Efesus 6:14**: ikat pinggang kebenaran dan baju zirah keadilan.
- **Efesus 6:15**: kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera.
- **Efesus 6:16**: perisai iman.
- **Efesus 6:17**: ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.
- **Efesus 6:18**: doa yang tekun bagi semua orang kudus.
- **Efesus 6:19–20**: keberanian memberitakan Injil.

Perlengkapan tersebut sebagian besar bersifat defensif dan berorientasi pada ketekunan, kebenaran, iman, doa, serta kesaksian. Fokusnya bukan agresi terhadap manusia, melainkan keteguhan dalam hidup yang setia kepada Allah.

### 4. Latar belakang penulisan

Surat Efesus secara tradisional dikaitkan dengan Paulus; **Efesus 1:1** menyebut Paulus sebagai pengirim surat. Surat ini ditujukan kepada komunitas-komunitas Kristen di lingkungan Asia Kecil dan membahas kesatuan umat Allah, karya Kristus, serta kehidupan baru dalam jemaat.

Secara akademik, terdapat perdebatan mengenai apakah surat ini ditulis langsung oleh Paulus atau oleh murid dalam tradisi Paulus. Perdebatan tersebut didasarkan pada gaya bahasa, struktur, dan kosakata. Namun, baik pembacaan tradisional maupun pendekatan kritis sama-sama melihat bahwa surat ini berfungsi membentuk identitas dan perilaku jemaat yang hidup di tengah masyarakat Romawi.

Bagian **Efesus 6:1–20** menutup nasihat etis surat dengan menghubungkan rumah tangga, kehidupan jemaat, konflik moral, dan realitas kuasa rohani. Dengan demikian, “berdiri” dalam perlengkapan Allah berarti hidup konsisten dalam kebenaran, kasih, keadilan, iman, doa, dan kesaksian Injil.


Dalam Alkitab, **kuasa kegelapan** merujuk pada kuasa dosa dan kejahatan yang menentang Allah, menyesatkan manusia, serta membawa manusia menjauh dari kehendak-Nya. Kegelapan juga menggambarkan keadaan hidup tanpa kebenaran dan tanpa persekutuan dengan Allah.

**Highlight ayat:**

- **Lukas 22:53** — Yesus menyebut saat penangkapan-Nya sebagai “saat kamu berkuasa, dan saat kegelapan itu.”
- **Efesus 6:12** — Pergumulan orang percaya bukan hanya melawan manusia, melainkan melawan pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa kegelapan.
- **Kolose 1:13** — Allah telah melepaskan orang percaya dari kuasa kegelapan dan memindahkannya ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.
- **Yohanes 8:12** — Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia; orang yang mengikut Dia tidak akan berjalan dalam kegelapan.

Jadi, kuasa kegelapan bukanlah kuasa yang setara dengan Allah. Melalui Yesus Kristus, orang percaya menerima pembebasan, terang, dan pengharapan. Karena itu, hendaknya kita hidup dalam iman, kebenaran, doa, dan ketaatan kepada firman Tuhan.

**Efesus 6:12** menegaskan bahwa pergumulan orang percaya bukan terutama melawan manusia, melainkan melawan kuasa-kuasa jahat yang bekerja dalam dunia rohani. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tidak membalas kejahatan dengan kebencian atau kekerasan, tetapi berdiri teguh dalam kekuatan Tuhan.

**Highlight Efesus 6:12:**
- “Bukanlah melawan darah dan daging” — manusia bukan musuh utama.
- “Pemerintah-pemerintah” dan “penguasa-penguasa” — menunjuk pada kuasa rohani yang menentang kehendak Allah.
- Ayat ini mengingatkan pentingnya hidup dalam iman, kebenaran, doa, dan ketergantungan kepada Tuhan, sebagaimana dilanjutkan dalam **Efesus 6:13–18**.

Pesan penghiburannya: kita tidak menghadapi pergumulan sendirian. Tuhan menyediakan perlengkapan rohani agar kita tetap teguh dan tidak dikuasai oleh kejahatan.
Dalam **Efesus 6:12**, frasa “roh-roh jahat di udara” berasal dari bahasa Yunani:

- **pneumatika** — hal-hal atau kuasa-kuasa rohani  
- **tฤ“s ponฤ“rias** — kejahatan atau keburukan  
- **en tois epouraniois** — di alam surgawi atau wilayah-wilayah surgawi  

Secara harfiah, frasa itu dapat dipahami sebagai **“kuasa-kuasa rohani yang jahat di wilayah-wilayah surgawi.”**

### Makna dalam konteks

Kata **“udara”** dalam Terjemahan Baru menerjemahkan istilah Yunani **epouraniois**, yang tidak harus berarti udara secara fisik atau atmosfer. Dalam surat Efesus, istilah ini juga berkaitan dengan ranah rohani:

- **Efesus 1:3** — berkat rohani berada “di dalam sorga”.
- **Efesus 2:6** — orang percaya ditempatkan “di sorga” bersama Kristus.
- **Efesus 3:10** — hikmat Allah diberitahukan kepada “pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga”.

Karena itu, **Efesus 6:12** menggambarkan adanya realitas kuasa rohani yang jahat dan menentang maksud Allah. Namun, ayat ini tidak memberikan rincian mengenai nama, tingkatan, atau bentuk fisik roh-roh tersebut. Rincian yang pasti hanya bahwa mereka termasuk pihak yang menjadi lawan dalam pergumulan rohani.

### Perbedaan dengan “penguasa kerajaan angkasa”

Dalam **Efesus 2:2**, istilah “penguasa kerajaan angkasa” berasal dari kata Yunani **aฤ“r**, yang lebih dekat dengan arti udara atau wilayah atmosfer. Istilah itu berbeda dari **epouraniois** dalam Efesus 6:12. Karena itu, keduanya tidak boleh langsung disamakan tanpa dasar teks.

**Highlight Efesus 6:12:** Pergumulan umat percaya bukan terutama melawan manusia, melainkan melawan kuasa-kuasa rohani yang jahat. Respons yang ditetapkan dalam **Efesus 6:13–18** adalah berdiri teguh dengan kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman Allah, dan doa—bukan kebencian atau kekerasan terhadap manusia.
 **“Membuat tawar hati”** dalam Alkitab menggambarkan keadaan ketika seseorang menjadi **patah semangat, kehilangan keberanian, tidak sabar, atau enggan melanjutkan perjuangan**.

Dalam **Bilangan 21:4**, bangsa Israel disebut “tawar hati” karena perjalanan yang sulit. Ungkapan Ibrani yang digunakan berkaitan dengan arti harfiah **“jiwa menjadi pendek”** atau **“napas menjadi sesak”**, sehingga menunjuk pada perasaan tertekan, lelah, dan kehilangan semangat.

**Highlight Bilangan 21:4 (TB):**  
“...lalu tawarlah hati bangsa itu karena jalan itu.”

Ungkapan serupa juga terdapat dalam **Ulangan 1:28**, ketika bangsa Israel mendengar laporan tentang penduduk Kanaan. Dalam konteks ini, “tawar hati” berarti **hati menjadi takut dan keberanian mencair**, sehingga mereka tidak berani maju.

Jadi, dari sudut bahasa asli Alkitab, **membuat tawar hati** berarti membuat seseorang **kehilangan semangat, keberanian, dan pengharapan karena tekanan, kesulitan, atau berita yang menakutkan**. Alkitab mengingatkan agar kita tidak membiarkan kesulitan memadamkan iman kepada Tuhan.



Jumat, 02 Oktober 2026

Sudut Pandang Mengapa pada RCL terdapat dua opsi Bacaan 1 dan mengapa ada “beberapa macam” RCL?

Sudut Pandang Mengapa pada RCL terdapat dua opsi Bacaan 1 dan mengapa ada “beberapa macam” RCL?

PENGANTAR 
Gak konsisten ini pemakaian RCL yg digunakan GKJ. Repot .... dah, nggak ngerti atau apa? khotbah jangkep GKJ  tgl 27 September 2026, Bacaan 1, Minggu XVII, sesudah Pentakosta, Tahun A di bulan kategese liturgi, menggunakan Yehezkiel 18: 1-4, 25-32, itu menggunakan RCL track 2, yg disebut RCL komplementer/tematik (complementary/typological), padahal bacaan 1, Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A,  pada 04 Oktober 2026, di Minggu Perjamuan Kudus Sedunia dan Pembukaan Bulan Keluarga 2026, menggunakan track yang berbeda, yaitu RCL track 1, Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20, yang disebut semi sinambung atau semi continuous. Ini penggunaan track 1 dan 2 secara bersilangan, padahal seharusnya konsisten track 1 ya track 1 kalau track 2 ya track 2. Jadi, ini tidak konsisten, bersilangan antara track 1 dan track 2, pdhl penggunaan RCL harusnya sesuai dan konsisten satu track bukan persilangan, karena itu sudah ditata sistem bacaan sabdanya. Dalam praktik liturgi gerejawi, leksionari berfungsi sebagai pedoman pembacaan Sabda Allah yang disusun secara sistematis sepanjang tahun liturgi. Revised Common Lectionary (RCL) merupakan salah satu leksionari ekumenis yang paling luas dipakai, terutama oleh gereja‑gereja Protestan mainline atau arus utama dan beberapa gereja Katolik dalam bentuk adaptasi. RCL dirancang dengan dua tujuan pastoral yang sekaligus menjelaskan mengapa pada hari tertentu seperti Minggu 04 Oktober 2026 (Tahun A), besok, terdapat dua opsi untuk Bacaan 1 (Yesaya 5:1–7 atau Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20). RCL menyediakan dua “track” atau alur bacaan Perjanjian Lama selama Musim Sesudah Pentakosta (Ordinary Time): (1) track semi‑sinambung (semi‑continuous), yang membaca narasi besar PL secara berurutan (mis. dari Keluaran, Bilangan, Ulangan, dan seterusnya), dan (2) track komplementer/tematik, yang memilih bacaan PL agar selaras secara tematik atau tipologis dengan Injil hari itu. Pada 4 Oktober 2026 (Tahun A), Injilnya adalah Matius 21:33–46 (perumpamaan penggarap kebun anggur); karena itu track komplementer memilih Yesaya 5:1–7 (nyanyian kebun anggur), sedangkan track semi‑sinambung tetap melanjutkan alur Keluaran sehingga menampilkan Keluaran 20 (Sepuluh Perintah). Dengan demikian, adanya “dua bacaan 1” bukanlah kekeliruan, melainkan dua jalur resmi yang sengaja disediakan agar gereja dapat memilih pola yang paling sesuai dengan tujuan pastoral dan liturgisnya, pertanyaan “mengapa RCL ada beberapa macam?” menyentuh realitas bahwa dalam praktik gerejawi terdapat berbagai edisi dan adaptasi RCL (mis. RCL standar, RCL dengan versi Injili tertentu, atau adaptasi sinodal seperti yang dipakai GKJ/GPIB/Katolik, dlsb). Hal ini terjadi karena RCL disusun oleh Consultation on Common Texts yang mewakili banyak denominasi; untuk menampung beragam tradisi, penekanan teologis, dan kebutuhan liturgis, panitia kadang menambahkan opsi/alternatif pada hari tertentu atau menerbitkan versi yang sedikit berbeda. Selain itu, pada musim liturgi khusus (mis. Paskah), bacaan I biasa dari Perjanjian Lama diganti dengan Kisah Para Rasul, sehingga pola “dua track” tidak selalu berlaku dan menambah variasi tampilan bacaan. Dengan memahami latar belakang ini, kita dapat melihat bahwa variasi dalam RCL justru mencerminkan kekayaan tujuan pastoralnya: di satu sisi memberi jemaat paparan sistematis atas narasi Perjanjian Lama, di sisi lain menjaga kesatuan tema antara Perjanjian Lama, Mazmur, dan Injil agar khotbah dan ibadah lebih koheren. Karena itu, dalam penggunaan RCL, yang paling penting adalah memilih satu track secara konsisten selama musim sesudah Pentakosta, sehingga jemaat mendapat manfaat penuh dari pola yang dipilih.
PEMAHAMAN
Pada Minggu 04 Oktober 2026 (Minggu XIX/Minggu Biasa ke-27 sesudah Pentakosta, Tahun A), RCL memang menampilkan dua opsi untuk Bacaan 1 (Yesaya 5:1–7 atau Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20) karena pada Musim Sesudah Pentakosta (Ordinary Time) RCL menyediakan dua “track”/alur bacaan Perjanjian Lama yang boleh dipilih gereja. Mengapa ada dua bacaan 1 (Yesaya vs. Keluaran)? Karena RCL merancang dua strategi berbeda untuk bacaan Perjanjian Lama selama Minggu Biasa sesudah Pentakosta:

1. Track semi‑sinambung (semi-continuous) 
   - Bacaan PL dipilih secara berurutan dari satu kitab selama beberapa minggu, sehingga jemaat “membaca” narasi besar PL (mis. dari Keluaran, lalu ke Bilangan, dsb.).
   - Pada 4 Oktober 2026 (Tahun A), track ini menghasilkan Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20 (Sepuluh Perintah) sebagai Bacaan 1.

2. Track komplementer / tematik (complementary/typological)
   - Bacaan PL dipilih agar berelasi tematik/tipologis dengan Injil hari itu, sehingga PL “mengantarkan” atau “berbicara kepada” tema Injil.
   - Pada hari yang sama, Injil Tahun A adalah Matius 21:33–46 (perumpamaan penggarap kebun anggur). Karena itu track komplementer memilih Yesaya 5:1–7 (nyanyian kebun anggur) yang secara tematik sangat cocok.

Jadi, bukan kesalahan, melainkan dua jalur resmi yang disediakan RCL; gereja biasanya memilih salah satu jalur dan KONSISTEN mengikutinya sepanjang musim sesudah Pentakosta.

 Mengapa RCL memiliki “beberapa macam” bacaan/opsi?

Ada beberapa alasan teologis-ekumenis dan liturgis:

- Kebutuhan ekumenis: RCL disusun oleh Consultation on Common Texts yang mewakili banyak denominasi. Untuk menampung berbagai tradisi dan penekanan teologis, panitia kadang menambahkan opsi/alternatif pada hari tertentu.
- Dua tujuan pastoral berbeda:  
  - Track semi‑sinambung memberi paparan luas atas narasi PL (pendidikan Alkitab sistematis).
  - Track komplementer memberi kesatuan tema antara PL–Mazmur–Injil (koherensi khotbah/ibadah).
- Musim liturgi khusus: Pada Paskah, misalnya, bacaan I biasa dari PL diganti dengan Kisah Para Rasul; pada masa raya (Advent, Natal, Prapaskah, dll.) bacaan dipilih khusus sesuai tema musim, sehingga pola “dua track” tidak selalu berlaku.

Mana yang sebaiknya dipakai?

- Jika gereja Anda mengikuti track semi‑sinambung, gunakan Keluaran 20 (dan minggu-minggu berikutnya lanjutkan alur PL yang sama).
- Jika mengikuti track komplementer, gunakan Yesaya 5 agar selaras dengan Injil Matius 21 tentang kebun anggur.
- Yang penting: PILIH SALAH SATU TRACK DAN KONSISTEN selama musim sesudah Pentakosta, supaya jemaat mendapat manfaat dari pola yang dipilih.

Baik, ini contoh dua track/track bacaan Perjanjian Lama (Bacaan 1) RCL untuk Tahun A pada Musim Sesudah Pentakosta (Ordinary Time), disajikan per minggu dalam bentuk daftar. Saya ambil dari sumber resmi RCL (Vanderbilt) dan sumber leksionari yang menjelaskan dua jalur ini.

Track 1: Semi‑sinambung (Semi‑continuous) — “Membaca narasi besar PL”

Pada track ini, Bacaan 1 berjalan berurutan dalam satu kitab selama beberapa minggu, sehingga jemaat mengikuti alur cerita/ajaran PL secara sistematis. Untuk Tahun A sesudah Pentakosta, alurnya terutama dari Keluaran → Bilangan → Ulangan → Yosua → Hakim‑hakim → 1 Samuel, dst. Berikut urutannya (tanggal 2026 disesuaikan dengan Proper/ minggu biasa yang bersesuaian):

- Minggu sesudah Pentakosta 1 (Proper 3, 14 Juni 2026) – Keluaran 19:2–8  
- Proper 4 (21 Juni 2026) – Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20  
- Proper 5 (28 Juni 2026) – Keluaran 22:21–27  
- Proper 6 (5 Juli 2026) – Keluaran 23:1–9  
- Proper 7 (12 Juli 2026) – Keluaran 24:12–18  
- Proper 8 (19 Juli 2026) – Keluaran 25:1–9  
- Proper 9 (26 Juli 2026) – Keluaran 32:1–14  
- Proper 10 (2 Agustus 2026) – Keluaran 33:12–23  
- Proper 11 (9 Agustus 2026) – Keluaran 34:29–35  
- Proper 12 (16 Agustus 2026) – Imamat 19:1–2, 15–18  
- Proper 13 (23 Agustus 2026) – Bilangan 11:4–6, 10–16, 24–29  
- Proper 14 (30 Agustus 2026) – Bilangan 12:1–16  
- Proper 15 (6 September 2026) – Bilangan 13:1–2, 25–14:1, 26–29, 34–35  
- Proper 16 (13 September 2026) – Bilangan 16:1–35  
- Proper 17 (20 September 2026) – Bilangan 20:1–13  

- Proper 18 (27 September 2026) – Bilangan 21:4–9  
- Proper 19 / Proper 20 (4 Oktober 2026) – Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20 (pada beberapa penyajian RCL, minggu ini tetap dibaca Keluaran 20 sebagai bagian dari alur semi‑sinambung; inilah sebabnya Anda melihat Keluaran muncul lagi di sini dalam track ini).

- Proper 21 (11 Oktober 2026) – Keluaran 17:1–7  
- Proper 22 (18 Oktober 2026) – Keluaran 20:1–4, 7–9, 12–20 (ulang, tergantung edisi; beberapa leksionari menggantinya dengan bacaan dari Ulangan atau kitab berikutnya agar tetap sinambung)  
- Proper 23 (25 Oktober 2026) – Ulangan 6:1–9  
- Proper 24 (1 November 2026) – Ulangan 10:12–22  
- Proper 25 (8 November 2026) – Ulangan 34:1–12  
- Proper 26 (15 November 2026) – Yosua 1:1–9  
- Proper 27 (22 November 2026) – Yosua 3:7–17  
- Proper 28 (29 November 2026) – Yosua 4:1–7  
- Proper 29 (6 Desember 2026) – Hakim‑hakim 2:6–19  
- Proper 30 (13 Desember 2026) – 1 Samuel 1:1–20  
- Proper 31 (20 Desember 2026) – 1 Samuel 2:1–10  

Catatan: Tanggal Proper dapat bergeser sedikit tergantung tahun liturgi dan penentuan “Minggu sesudah Pentakosta” di gereja tertentu; prinsipnya adalah urutan kitab yang menjadi ciri track ini.

Track 2: Komplementer/Tipologis — “Bacaan PL yang selaras dengan Injil”

Pada track ini, Bacaan 1 dipilih agar tema / tipologinya cocok dengan Injil hari itu. Karena Injil Tahun A sesudah Pentakosta terutama dari Matius, maka PL sering diambil dari kitab‑kitab yang secara tematik “berbicara” kepada perumpamaan atau peristiwa dalam Matius. Berikut urutannya (dengan fokus pada minggu‑minggu sekitar 4 Oktober 2026 dan sekitarnya):

- Proper 3 (14 Juni 2026) – Hosea 6:1–6 (tema pertobatan, selaras dengan Matius 9)  
- Proper 4 (21 Juni 2026) – Yesaya 66:18–24 (penghimpunan segala bangsa, selaras dengan Matius 8)  
- Proper 5 (28 Juni 2026) – Yeremia 28:5–9 (nabi palsu vs benar, selaras dengan Matius 10)  
- Proper 6 (5 Juli 2026) – Yeremia 23:1–6 (gembala yang baik, selaras dengan Matius 11)  
- Proper 7 (12 Juli 2026) – Yehezkiel 34:1–10 (gembala yang jahat, selaras dengan Matius 11–12)  
- Proper 8 (19 Juli 2026) – Zakharia 9:9–12 (raja rendah hati, selaras dengan Matius 11)  
- Proper 9 (26 Juli 2026) – Yoel 2:28–32 (Roh dicurahkan, selaras dengan Matius 13)  
- Proper 10 (2 Agustus 2026) – Yesaya 55:1–5 (undangan rahmat, selaras dengan Matius 14)  
- Proper 11 (9 Agustus 2026) – Yesaya 56:1, 6–8 (rumah doa bagi segala bangsa, selaras dengan Matius 15)  
- Proper 12 (16 Agustus 2026) – Yesaya 56:1, 6–8 (lanjutan tema inklusivitas, selaras dengan Matius 15)  
- Proper 13 (23 Agustus 2026) – Yeremia 1:4–10 (panggilan nabi, selaras dengan Matius 16)  
- Proper 14 (30 Agustus 2026) – Yeremia 15:15–21 (penderitaan nabi, selaras dengan Matius 16)  
- Proper 15 (6 September 2026) – Yeremia 18:1–11 (tukang periuk, selaras dengan Matius 18)  
- Proper 16 (13 September 2026) – Yeremia 20:7–13 (pengaduan nabi, selaras dengan Matius 18)  
- Proper 17 (20 September 2026) – Yeremia 31:31–34 (perjanjian baru, selaras dengan Matius 21)  

- Proper 18 (27 September 2026) – Yehezkiel 18:1–4, 25–32 (tanggung jawab pribadi, selaras dengan Matius 21)  
- Proper 19 / Proper 20 (4 Oktober 2026) – Yesaya 5:1–7 (nyanyian kebun anggur; sangat selaras dengan Matius 21:33–46 tentang penggarap kebun anggur).

- Proper 21 (11 Oktober 2026) – Yehezkiel 33:1–9 (tugas penjaga, selaras dengan Matius 22)  
- Proper 22 (18 Oktober 2026) – Maleakhi 1:1–5 (kasih Allah kepada Israel, selaras dengan Matius 22)  
- Proper 23 (25 Oktober 2026) – Maleakhi 2:1–9 (tugas imam, selaras dengan Matius 23)  
- Proper 24 (1 November 2026) – Mikha 3:5–12 (nabi upahan, selaras dengan Matius 23)  
- Proper 25 (8 November 2026) – Zefanya 3:14–20 (sukacita Yerusalem, selaras dengan Matius 24)  
- Proper 26 (15 November 2026) – Hagai 1:1–11 (membangun rumah Tuhan, selaras dengan Matius 24)  
- Proper 27 (22 November 2026) – Zakharia 9:9–12 (raja masuk Yerusalem, selaras dengan Matius 21/25)  
- Proper 28 (29 November 2026) – Daniel 7:1–8, 13–14 (Anak Manusia, selaras dengan Matius 25)  
- Proper 29 (6 Desember 2026) – Daniel 12:1–3 (kebangkitan, selaras dengan Matius 25)  
- Proper 30 (13 Desember 2026) – Yesaya 40:1–11 (penghiburan, selaras dengan Matius 26)  
- Proper 31 (20 Desember 2026) – Yesaya 52:7–10 (kabar baik, selaras dengan Matius 26)

Urutan di atas adalah pola tematik; pada beberapa minggu bisa ada variasi kecil tergantung edisi RCL yang dipakai gereja Anda.

Cara memakai kedua track ini dalam praktik

- Pilih satu track (semi‑sinambung atau komplementer) untuk seluruh musim sesudah Pentakosta, agar jemaat tidak bingung dan mendapat manfaat dari pola yang konsisten.
- Jika tujuan Anda adalah pengajaran narasi PL secara sistematis, pilih track 1 (semi‑sinambung).  
- Jika tujuan Anda adalah menyatukan tema khotbah PL–Injil (terutama penting untuk khotbah ekspositori yang kuat secara tipologis), pilih track 2 (komplementer).
(02102026)(TUS)




Kamis, 01 Oktober 2026

Sudut Pandang Cerdik Seperti Ular, Tulus seperti Merpati

Sudut Pandang Cerdik Seperti Ular, Tulus seperti Merpati 

PENGANTAR
Menarik menggumuli metafora karya sastra dalam Alkitab tentang cerdik seperti ular tulus seperti merpati, kalau melihat konteks teksnya serta pengenaan kekinian kontekstual dalam hidup bergereja. Matius 10:16 — “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Kata “cerdik” berasal dari Yunani phronimos, yang berarti bijaksana, berhikmat, atau mampu menilai keadaan dengan tepat. Ini bukan terutama kecerdikan untuk menipu, melainkan kemampuan bertindak secara bijaksana. Kata “tulus” menerjemahkan akeraios, yang secara harfiah berkaitan dengan sesuatu yang murni, tidak bercampur, atau tidak berbahaya. Jadi, ketulusan di sini menunjuk pada integritas dan tidak adanya tipu daya. Kata “ular” adalah ophis, sedangkan “merpati” adalah peristera. Kedua gambaran ini membentuk keseimbangan: kewaspadaan tanpa kelicikan dan kemurnian tanpa kenaifan. Ayat ini menggunakan perbandingan dan paradoks. Para murid digambarkan sebagai “domba” di tengah “serigala” (Matius 10:16), sehingga mereka berada dalam posisi rentan. Namun, kerentanan itu tidak berarti mereka harus bertindak tanpa pertimbangan. “Ular” melambangkan kecermatan, sedangkan “merpati” melambangkan kemurnian atau ketulusan. Yesus tidak memerintahkan murid untuk memilih salah satu, melainkan memelihara keduanya secara bersamaan. Matius 10:17–20 menjelaskan bahwa para murid akan menghadapi penganiayaan, pemeriksaan, dan penolakan. Karena itu, nasihat “cerdik” berkaitan dengan kemampuan menghadapi situasi berbahaya secara bijaksana. Nasihat “tulus” mencegah kecerdikan itu berubah menjadi manipulasi atau pengkhianatan. Prinsip ini juga tampak dalam tindakan Yesus yang kadang menghindari bahaya sebelum waktunya (Yohanes 7:30; 8:59), tetapi tetap bersaksi dengan benar (Yohanes 18:37). Dalam Kejadian 3:1, ular disebut “yang paling cerdik” (‘arum) di antara binatang. Namun, konteks Kejadian menunjukkan kecerdikan yang digunakan untuk menipu dan membawa manusia kepada ketidaktaatan. Karena itu, Matius 10:16 tidak dapat dianggap sebagai pembenaran terhadap tipu daya ular dalam Kejadian 3. Yesus mengambil unsur kewaspadaan dari gambaran ular, tetapi menggabungkannya dengan ketulusan merpati. Dengan demikian, kecerdikan harus dipisahkan dari penipuan dan diarahkan kepada kesetiaan kepada Allah. Dalam kehidupan sekarang, ayat ini mendorong orang percaya untuk:

- menilai informasi dengan kritis;
- tidak mudah dimanfaatkan atau diprovokasi;
- berbicara benar tanpa kekerasan dan manipulasi;
- menjaga integritas ketika menghadapi tekanan;
- memakai hikmat untuk melindungi diri dan sesama.

Inti teologisnya: orang percaya dipanggil untuk memiliki kecerdasan moral tanpa kelicikan dan ketulusan tanpa kenaifan.
PEMAHAMAN 
Alkitab menunjukkan bahwa kritik terhadap pemuka agama, pejabat, dan orang kaya terutama diarahkan pada penyalahgunaan kedudukan, kemunafikan, penindasan, sikap memihak, serta tindakan yang menyesatkan umat, membuat kesenjangan diantara umat dengan menciptakan gang, club', circle, komunitas, dlsb bukan semata-mata karena jabatan atau kekayaan mereka, apalagi kalau mereka pejabat gerejawi. Amos 5:11–15, 21–24 mengecam pemimpin dan orang kaya yang menindas orang miskin serta menjalankan ibadah tanpa keadilan. Yesaya 10:1–3 menegur pembuat hukum yang menetapkan keputusan tidak adil dan merampas hak orang lemah.
Mikha 3:1–12 mengecam pemimpin, imam, dan nabi yang mencari keuntungan, tetapi tetap mengaku melayani Tuhan. Yehezkiel 34:2–4 menegur gembala Israel yang menggembalakan diri sendiri dan tidak memperhatikan umat yang lemah. Gambaran jaring, jerat, dan perangkap dipakai untuk menggambarkan pengaruh yang menyesatkan atau menjadi batu sandungan, misalnya dalam Hosea 5:1 dan Yesaya 8:14. Matius 23:1–12, 23–28 memperingatkan ahli Taurat dan orang Farisi yang mencari kehormatan, membebani umat, dan tampak saleh di luar tetapi tidak benar di dalam. Yakobus 2:1–9 mengecam perlakuan istimewa kepada orang kaya dalam pertemuan jemaat dan penghinaan terhadap orang miskin. 1 Korintus 11:17–22, 33–34 menunjukkan bahwa perjamuan jemaat telah menimbulkan kesenjangan: sebagian makan berlebihan, sementara yang lain kekurangan. 1 Korintus 1:10–13 menegur kelompok-kelompok yang berkata, “Aku dari golongan Paulus” atau “Aku dari golongan Apolos.” Ini menunjukkan bahwa pengelompokan di sekitar tokoh dapat memecah jemaat. Roma 16:17–18 memperingatkan tentang orang yang menimbulkan perpecahan dan menipu hati orang sederhana. Matius 18:6–7 memperingatkan keras siapa pun yang menyesatkan orang percaya. Teladan Alkitab menuntut pemimpin untuk melayani, berlaku adil, dan menjaga umat dari kesesatan. Jemaat juga dipanggil untuk tidak membangun “kelompok eksklusif” yang melahirkan kesenjangan atau kesetiaan kepada manusia di atas Kristus. Koreksi harus dilakukan berdasarkan kebenaran, dengan kerendahan hati dan tujuan pemulihan (Galatia 6:1). Kaitan “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” dengan kritik kenabian dan keteladanan pemimpin
 Matius 10:16 menjadi prinsip utama: murid-murid diutus seperti domba ke tengah serigala. Karena itu, mereka harus memiliki dua sikap sekaligus: kecerdikan untuk mengenali bahaya dan ketulusan untuk tidak membalas dengan tipu daya.
Cerdik dalam kritik kenabian. Kecerdikan berarti mampu membaca keadaan, mengenali penyalahgunaan kuasa, serta memilih cara dan waktu yang tepat untuk menyampaikan kebenaran. Para nabi tidak asal menyerang, melainkan menyampaikan kritik yang berakar pada firman dan ketidakadilan yang nyata. Amos 5:11–15, 21–24 mengecam penindasan terhadap orang miskin dan ibadah yang tidak disertai keadilan. Yesaya 10:1–3 menegur pembuat hukum yang merampas hak orang lemah. Yehezkiel 34:2–4 mengecam gembala yang memakai kedudukan untuk kepentingan diri sendiri. Mikha 3:11 menegur pemimpin, imam, dan nabi yang melayani karena keuntungan. Kritik semacam itu menunjukkan kecerdikan rohani: melihat akar masalah, bukan sekadar menyerang pribadi. Ketulusan berarti kritik tidak didorong oleh kebencian, iri hati, ambisi, atau keinginan membalas. Tujuannya ialah pertobatan, keadilan, dan pemulihan umat. Yesus mengecam kemunafikan pemimpin agama dalam Matius 23:1–12, 23–28, tetapi teguran-Nya berfokus pada perilaku yang membebani umat, mencari kehormatan, dan mengabaikan keadilan. Dalam jemaat mula-mula, Yakobus 2:1–9 menegur sikap memihak orang kaya, sedangkan 1 Korintus 11:17–22 menyoroti kesenjangan dalam perjamuan jemaat. Kecerdikan juga diperlukan untuk mengenali kelompok eksklusif yang mengikat umat pada tokoh tertentu. 1 Korintus 1:10–13 menegur jemaat yang terpecah menurut nama pemimpin, dan Roma 16:17–18 memperingatkan orang yang menimbulkan perpecahan serta menipu hati orang sederhana. Namun, ketulusan mencegah kritik berubah menjadi pembentukan “kelompok lawan” yang baru. Matius 10:16 mengajarkan bahwa pemimpin dan umat perlu:

- cerdik mengenali manipulasi dan ketidakadilan;
- tulus dalam motivasi dan perkataan;
- berani menegur berdasarkan firman;
- tidak menggunakan tipu daya, fitnah, atau kekerasan;
- mengarahkan umat kepada Kristus, bukan kepada “circle” atau kultus pribadi.

Kecerdikan tanpa ketulusan menjadi kelicikan; ketulusan tanpa kecerdikan dapat berubah menjadi kenaifan. Keduanya harus berjalan bersama dalam pelayanan yang benar.
(02102026)(TUS)

Rabu, 30 September 2026

Sudut Pandang Bagian 2,๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—š๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿฎ๐Ÿฑ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ, ๐—ž๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜‚๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐—”๐—ฑ๐—ผ๐—ฝ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ป, ๐™€๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ?

Sudut Pandang Bagian 2,๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—š๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿฎ๐Ÿฑ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ,  ๐—ž๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜‚๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐—”๐—ฑ๐—ผ๐—ฝ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ป, ๐™€๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ?

Cukup banyak orang Kristen memahami 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus Kristus. Mereka menolak segala kemungkinan adopsi perayaan pagan. Mereka menelan bulat-bulat khotbah ๐™ฅ๐™จ๐™š๐™ช๐™™๐™ค-๐™๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ค๐™ง๐™ž๐™˜๐™–๐™ก ๐™ง๐™š๐™–๐™จ๐™ค๐™ฃ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—น๐—บ๐—ถ๐—ฎ๐—ต untuk memuaskan diri sendiri.

Bagaimana dengan saya? Posisi saya sangat jelas bahwa saya menerima 25 Desember sebagai hari raya liturgis. Kalaupun 25 Desember adalah adopsi perayaan pagan, ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข kenapa? Terganggu imanmu? 

Bagi saya adopsi ini merupakan tindakan genius Gereja dalam menafsir dan memaknai ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด secara baru. Kristuslah ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. Saya pun terbantu dalam menghayati nyanyian dalam NKB 72: ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด, ‘๐˜’๐˜ข๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™Ž๐™ช๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™–๐™๐™ข๐™–๐™ฉ, ‘๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด’๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜”๐˜ถ!

Dalam sejarah kekristenan simbol yang sudah ada tidak selalu dibuang ketika masuk ke dalam cakrawala iman Kristen. Simbol itu bisa diberi ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ, dan ๐—ณ๐˜‚๐—ป๐—ด๐˜€๐—ถ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚. Dalam bahasa yang lebih sederhana Kristen sering melakukan ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด.

1️⃣ ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป

Injil Yohanes mengalihrupa makna salib secara radikal. Dalam tradisi sinoptik salib terutama berada dalam medan kehinaan, penderitaan, penolakan, dan paradoks mesianis. Yohanes membawa simbol itu ke arah yang lain: แฝ‘ฯˆฯŒฯ‰ (๐˜ฉ๐˜บ๐˜ฑ๐˜ดลล), ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, sekaligus menunjuk pada salib dan pemuliaan. Jadi, tiang salib menjadi tempat ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป Anak. Hubungan dengan ular tembaga dalam Yohanes 3:14-15 juga menunjukkan bagaimana simbol dari tradisi Israel lama ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚. 

Tanpa alihrupa radikal oleh petulis Injil Yohanes mungkin Gereja tidak memeringati Jumat Agung dalam kalender gerejawi, atau setidaknya pemaknaan salib sebagai kemuliaan akan berkembang dengan wajah yang berbeda

2️⃣ ๐—”๐—ถ๐—ฟ: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜‚๐—ป๐˜€๐˜‚๐—ฟ ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฝ๐˜๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ป

Air jelas bukan penemuan Kristen. Dalam dunia Yahudi sudah ada beraneka praktik pembasuhan ritual. Dalam tradisi Grika-Romawi pun air mempunyai banyak gawai religius dan simbolis.
Kekristenan mengambil ๐—ฎ๐—ถ๐—ฟ, tetapi memberikan medan makna yang baru. Dalam baptisan air tidak sekadar berarti bersih atau suci. Ia menjadi tanda kematian dan kehidupan baru bersama Kristus. Paulus bahkan menasabahkan masuk ke dalam air dengan kematian dan keluar dari air dengan kehidupan baru (Rm. 6:3-4). Jadi, unsur alam yang universal diberi ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€.

3️⃣ ๐—ฅ๐—ผ๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ฟ: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ-๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐˜๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€

Ini lebih radikal lagi. Roti dan anggur sudah merupakan bagian biasa dari kehidupan masyarakat Mediterania. Yesus tidak menciptakan benda baru untuk menjadi simbol. Ia mengambil ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ, lalu menasabahkannya dengan diri-Nya sendiri: ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ dan ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ.

Gereja kemudian mengembangkan praktik Ekaristi dari tindakan itu. Dalam sejarah liturgi roti dan anggur memeroleh lapisan makna yang sangat rumit: perjamuan, syukur, anamnesis, persekutuan, pengurbanan Kristus, dlsb.

Yang menarik: Kristen tidak merasa harus mencari makanan yang “murni Kristen”. Justru benda sehari-hari itu ๐—ฑ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ถ ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด.

4️⃣ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜ฟ๐™ž๐™š๐™จ ๐˜ฟ๐™ค๐™ข๐™ž๐™ฃ๐™ž

Hari Minggu sudah merupakan hari yang memiliki makna dalam dunia Romawi. Ada pula asosiasi dengan ๐™™๐™ž๐™š๐™จ ๐™Ž๐™ค๐™ก๐™ž๐™จ, ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ. Namun, Gereja kemudian memuatinya dengan makna kristologis yang sangat kuat: ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€.

Wawasannya bergeser. Matahari bukan lagi perujukan finalnya. Kebangkitan Kristus menjadi pusat maknanya.

5️⃣ ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ

Gereja mula-mula memang membahasakan matahari untuk berbicara tentang Kristus. Kristus disebut ๐™Ž๐™ค๐™ก ๐™ž๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™ฉ๐™ž๐™–๐™š, ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป, dengan gema Maleakhi 4:2. Yohanes sendiri memakai metafora terang secara sangat kuat: ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ... dan ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข.

Jadi, apabila kemudian bahasa tentang matahari muncul dalam seni, liturgi, himne, atau penanggalan Kristen, itu tidak otomatis berarti orang Kristen sedang “menyembah matahari dengan nama Yesus”. Justru dapat terjadi proses sebaliknya: ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ ๐—ฟ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ด๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ.

6️⃣ ๐—š๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ฎ: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€

Pemerian (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) gembala juga bukan ciptaan Kristen. Raja-raja Timur Dekat kuno sudah lama memakai metafora gembala untuk memerikan penguasa. Kristen mengambil simbol itu dan memusatkannya pada Kristus: ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ.

Dalam Yohanes 10 simbol gembala mengalami alihrupa besar. Gembala bukan sekadar penguasa yang memimpin kawanan. Kristus adalah gembala yang ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ-๐—ฑ๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ.

Jadi, simbol politik dan sosial tentang raja sebagai gembala mendapat kristologisasi.

7️⃣ ๐—œ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐™ž๐™˜๐™๐™ฉ๐™๐™ฎ๐™จ

Ikan tentu bukan benda Kristen. Namun, Gereja awal menjadikan ikan sebagai simbol yang sangat kaya melalui akronim Grika: แผธฮงฮ˜ฮฅฮฃ ➡️ แผธฮทฯƒฮฟแฟฆฯ‚ ฮงฯฮนฯƒฯ„แฝธฯ‚ ฮ˜ฮตฮฟแฟฆ ฮฅแผฑแฝธฯ‚ ฮฃฯ‰ฯ„ฮฎฯ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต, ๐˜š๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฅ, ๐˜š๐˜ข๐˜ท๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ.

Yang menarik di sini bukan apakah ikan sudah mempunyai perujukan religius sebelum Kristen. Yang menarik adalah kemampuan komunitas Kristen memberi sebuah objek biasa makna identitas baru. Ikan menjadi tanda pengenalan komunitas.

8️⃣ ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ (๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ): ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜ ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐˜€๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป

Ini sebenarnya kelanjutan dari contoh Injil Yohanes, tetapi sejarah simbol salib kemudian bergerak lebih jauh lagi. Pada awalnya salib adalah alat eksekusi Romawi yang memalukan. Secara sosial hampir tidak masuk akal menjadikan alat hukuman mati sebagai logo agama.

Justru itulah yang dilakukan Kristen. Salib kemudian muncul sebagai tanda:
▶️ Kristus, 
▶️ keselamatan, 
▶️ kemenangan atas maut, 
▶️ identitas komunitas, 
▶️ bahkan kemuliaan. 

Alihrupanya luar biasa. Simbol yang tadinya mengatakan ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™™๐™ž๐™ ๐™–๐™ก๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ akhirnya mengatakan ๐™†๐™ง๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ.

9️⃣ ๐— ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐—ฑ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ

Mahkota secara umum adalah simbol kerajaan, kemenangan, dan kehormatan. Dalam kisah sengsara simbol tersebut diputarbalikkan menjadi mahkota duri. Namun, dalam tradisi Kristen kemudian terjadi pembalikan kedua: mahkota duri tidak lagi hanya menjadi alat penghinaan. Ia menjadi simbol penderitaan Kristus dan ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜บ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข.

Jadi, satu simbol mengalami beberapa kali pergeseran makna: ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ ➡️ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ➡️ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€ ➡️ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐—ป

๐Ÿ”Ÿ ๐™‹๐™๐™ค๐™š๐™ฃ๐™ž๐™ญ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป

Dalam dunia kuno ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜น sudah mempunyai cerapan dengan kematian dan kelahiran kembali. Kekristenan kemudian menggunakan citra ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜น dalam seni Kristen awal sebagai salah satu simbol kebangkitan.

Sekali lagi ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, “Karena ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜น sudah ada sebelum Kristen, maka Kristen sedang menyembah ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜น.” Logikanya justru bisa dibalik: simbol yang sudah dikenal masyarakat ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป.

Dari contoh-contoh di atas kita dapat melihat bahwa kekristenan tidak selalu bekerja dengan cara menghapus simbol lama lalu menggantinya dengan simbol baru. Acap ia bekerja dengan cara mengambil simbol yang sudah dikenal, lalu mengubah dan mengalihrupa wawasan maknanya.

Dalam pengertian itu kalaupun Natal 25 Desember adalah adopsi perayaan pagan lalu diberi makna baru, ia bukanlah kasus yang paling radikal. ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—น.

(01102026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 23:1-14

Sudut Pandang Matius 23:1-14 PENGANTAR Mari melihat kemungkinan tafsir yg lain. Ada bbrp pakar tafsir dan ahli kitab suci yang menafsir peru...