Kita mengenal kata shalom karena sering dipakai sebagai salam rohani, ucapan berkat, bahkan slogan spiritual, padahal di Israel zaman sekarang kata shalom gak beda dengan bilang HALO, shg jadi terlihat lucu ketika orang mengucap kata shalom di mimbar trus dengan bahasa tubuh yang sok rohani buanget. Kalau tidak percaya, cobalah nonton film-film zaman sekarang produksi Israel, maka akan banyak kata shalom ketika adegan orang bertemu orang dan dalam translate subtitle bahasa infonesia di film tsb akan diterjemahkan sebagai kata sapaan HALO. Jadi lucu, ketika orang mengucapkan kata shalom tanpa mengerti maksud sebenarnya dari kata itu, lebih baik gunakan kata sapaan bahasa indonesia atau Jawa saja, lebih baik. Orang mengucapkannya di mimbar, di grup WhatsApp gereja, pemimpin pujian mengawali ibadah atau di awal dan akhir khotbah: “Shalom.” Kata itu terdengar indah, hangat, dan damai. Namun ada satu masalah: dalam praktiknya, shalom sering direduksi hanya menjadi perasaan tenang, suasana tanpa konflik, atau kesopanan rohani bahkan sok rohani, di antara orang percaya. Padahal dalam Alkitab, makna shalom jauh lebih dalam dan lebih radikal daripada sekadar “damai”. Di Alkitab, kata shalom beringingan dengan konsekuensi atau tindakan yang harus dilakukan bukan sekedar kata sapaan. Jadi, bila mengucap kata shalom dg maksud arti yang di alkitab bukan kata sapaan biasa dalam ranah bahasa, kalau tidak ada konsekuensi dari kata tersebut seperti yg dimaksud di alkitab, maka itu hanya gaya-gaya an saja, sok rohani, gunakanlah sapaan dalam bahasa indonesia atau Jawa lebih baik, apalagi kalau tidak tahu artinya. Terlebih kalau kata shalom digunakan hanya karena tidak percaya diri disebabkan tetangga sebelah memiliki kata sapaan dalam bahasa arab assalamualaikum (yg sebetulnya dalam kronologi berasal dari bahasa Aram dan Ibrani, bahasa bangsa Israel)
PEMAHAMAN
Secara akar kata, shalom berbicara tentang keutuhan, kelengkapan, dan keadaan yang dipulihkan sesuai dengan maksud Allah. Itu bukan hanya kondisi batin yang tenang, tetapi ko konsuensi keadaan saat kata shalom digunakan (dalam Alkitab ) di mana relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan kebenaran dan keadilan dipulihkan. Karena itu, shalom sejati seperti yang dimaksud dalam alkitab, selalu berkaitan dengan kebenaran, keadilan dan pertobatan, bukan sekadar kata sapaan, kenyamanan atau sok rohani.
Masalahnya, Alkitab juga berbicara tentang sesuatu yang bisa disebut shalom palsu.
SHALOM YANG PALSU : DAMAI TANPA PERTOBATAN
Nabi Yeremia menyingkap fenomena ini dengan sangat tajam:
“Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai! Damai! padahal tidak ada damai.”
(Yeremia 6:14)
Kata “damai” di ayat ini adalah kata yang sama yang sering diterjemahkan sebagai shalom. Namun yang dikritik Tuhan melalui nabi Yeremia adalah shalom yang diucapkan tanpa menghadapi kenyataan dosa, tanpa konsekuensi keadaan beriring kata shalom diucapkan.
Frasa “mengobati luka dengan memandangnya ringan” secara akar kata menggambarkan perawatan luka yang dangkal, seperti menutup luka besar hanya dengan plester tipis. Masalahnya tidak diselesaikan, hanya ditutupi, sok rohani dan bertopeng.
Itulah shalom palsu:
- Damai tanpa pertobatan
- Harmoni tanpa kebenaran
- Kesatuan yang dibangun dengan menghindari masalah
- Bertopeng rohani
Dalam konteks Israel waktu itu, para pemimpin rohani ingin menjaga stabilitas sosial dan religius. Mereka memilih mengatakan “semuanya baik-baik saja” walaupun bangsa itu sebenarnya sedang berjalan menuju kehancuran rohani.
Fenomena yang sama tidak asing di gereja masa kini.
SHALOM PALSU DI KEKRISTENAN MODERN
Kadang gereja lebih menyukai ketenangan organisasi, antikritik dan menulikan diri, daripada kebenaran rohani. Konflik tidak dibahas, kritikan tak dengar jalan terus, menulikan diri seakan tak ada kritik, dosa tidak ditegur, masalah tak dihadapi dan diselesaikan, penyimpangan tidak dihadapi. Semuanya dibungkus dengan bahasa rohani: “kita jaga damai”, “jangan menghakimi”, atau “yang penting kasih”.
Akibatnya lahirlah komunitas yang terlihat damai, tetapi sebenarnya hanya damai di permukaan.
Yesus sendiri menyinggung hal ini secara tidak langsung ketika berkata:
“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
(Matius 10:34)
Yesus tentu bukan menolak damai. Ia justru disebut Raja Damai (Yesaya 9:6). Namun yang Ia tolak adalah damai yang dibangun dengan mengorbankan kebenaran, damai yang tidak mengandung risiko, damai yang aman karena bertopeng. Yang diinginkan serta dikritisi Yesus bukan damai yang cari aman, sehingga hanya topeng. Dalam damai yang benar harus ada keadilan.
Ketika kebenaran hadir, konflik sering kali muncul terlebih dahulu. Pedang yang dimaksud Yesus menunjuk pada pemisahan antara kebenaran dan kepalsuan, bahkan di dalam relasi yang paling dekat.
SHALOM YANG SEJATI: DAMAI YANG LAHIR DARI KEBENARAN
Mazmur memberikan gambaran yang sangat indah tentang shalom sejati:
“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.”
(Mazmur 85:11)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalom tidak berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama keadilan, kesetiaan, dan kebenaran. Dalam bahasa akar katanya, keadilan menunjuk pada keadaan yang lurus dan benar menurut standar Allah, teladan Kristus dan hikmat pengajaranNya. Jadi shalom bukan sekadar ketenangan atau suasana tanpa konflik, melainkan keadaan hidup yang kembali selaras dengan kehendak Allah, seteladan Kristus dan sejalan hikmat pengajaranNya. Jadi, jangan ucapkan shalom kalau kita sendiri semua masih dalam berproses untuk melewati keteladanan Kristus dan menghormati pengajaranNya. Mengucap shalom konsekuensinya sudah finish semuanya dalam meneladan Kristus dan menghormati pengajaranNya, itu hal yg mustahil, hilang yg mustahil, karena selama bumi masih dipijak dan nafas masih ditarik oleh hidung kita, kita hanya berproses.
Artinya, shalom sejati hanya bisa muncul ketika sesuatu yang rusak dipulihkan. Ketika relasi dengan Allah dipulihkan, ketika ketidakadilan diluruskan, dan ketika dosa tidak lagi disembunyikan, ketika keteladanan dan hikmat pengajaran Kristus ditegakkan.
Di dalam Perjanjian Lama, konsep damai ini dikenal sebagai shalom. Namun ketika kita masuk ke dalam Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menerjemahkan konsep yang sama adalah eirene, yang namanya Irene tunjuk jari. Kata ini bukan sekadar berarti ketenangan batin, tetapi menunjuk pada keadaan damai yang utuh karena hubungan dengan Allah dipulihkan. Dengan kata lain, eirene di Perjanjian Baru membawa seluruh kedalaman makna shalom dari Perjanjian Lama.
Menariknya, Perjanjian Baru tidak hanya berbicara tentang damai sebagai konsep, tetapi menunjuk kepada Pribadi yang menjadi sumber damai itu sendiri. Nabi Yesaya sudah menubuatkan hal ini jauh sebelumnya:
“Seorang anak telah lahir untuk kita… dan Ia akan disebut Raja Damai.”
(Yesaya 9:5)
Nubuatan ini digenapi dalam Yesus Kristus. Ia bukan sekadar pembawa damai, melainkan perwujudan dari shalom itu sendiri.
Itulah sebabnya salib Kristus menjadi pusat dari shalom sejati.
Paulus menulis:
“Ia (Yesus) adalah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan merobohkan tembok pemisah.”
(Efesus 2:14)
Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan Yesus memberikan damai saja, tetapi bahwa Ia adalah damai itu sendiri, bearti mengucap shalom sama dengan menganggap diri Kristus, pongah kan?. Padahal, Dalam diri Kristus, permusuhan antara manusia dengan Allah diselesaikan, dan tembok pemisah antara manusia dengan sesamanya diruntuhkan, tidak mungkin dilakukan manusia.
Damai yang dibawa Kristus tidak terjadi dengan cara menutup mata terhadap dosa. Sebaliknya, dosa diadili di kayu salib, lalu manusia diperdamaikan dengan Allah. Salib menunjukkan bahwa shalom bukan hasil kompromi dengan dosa, tetapi hasil dari keadilan Allah yang dipenuhi sekaligus kasih Allah yang dinyatakan, dan jalan ninjanya pertobatan.
Dengan kata lain:
shalom sejati lahir dari kebenaran yang ditegakkan, bukan dari masalah yang disembunyikan.
MENCARI SHALOM ATAU SEKADAR MENJAGA KETENANGAN?
Pertanyaan yang jujur bagi gereja dan bagi setiap orang percaya adalah ini: Apakah kita sungguh mencari shalom dari Allah, atau sebenarnya hanya berusaha menjaga ketenangan rohani?
Karena keduanya sering terlihat sama di permukaan.
Shalom palsu membuat semua orang merasa nyaman, tetapi luka tetap ada. Konflik disapu di bawah karpet, dosa tidak pernah benar-benar dihadapi, dan kebenaran sering dilunakkan demi menjaga suasana tetap tenang. Antikritik dan menulikan diri.
Sebaliknya, shalom sejati kadang terasa tidak nyaman pada awalnya, karena ia menuntut kejujuran, pertobatan, dan pemulihan serta kemampuan juga kenginginan mendengar. Namun justru melalui proses itulah Allah memulihkan yang rusak dan menyembuhkan yang terluka.
Yesus tidak datang untuk menciptakan komunitas yang sekadar sopan dan religius tapi bertopeng. Ia datang untuk menciptakan manusia baru yang dipulihkan sepenuhnya.
Dan di situlah shalom yang sejati lahir —
bukan dari menutup luka,
melainkan dari keberanian menghadapi kebenaran di hadapan Allah.