PENGANTAR
Pada dasarnya, awal menulis, saya menulis novel, cerita pendek, dan naskah teaterikal, walau tidak diterbitkan, yah ..... sebagian kecil atas permintaan diterbitkan di bbrp redaksi, karena hanya untuk kebutuhan pribadi sebetulnya, hanya ada bbrp pembaca yg suka kemudian minta untuk menerbitkan, padahal yg paling saya suka adalah menulis cersil alias cerita silat, itu saya buanget, sekarang pingin menulis cerita pendek saja, semi kritikal, karena iseng, semoga dapat dinikmati.
Selamat menikmati, semoga berkenan :
๐บ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐.
๐บ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐.
๐ณ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐.
๐ผ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐, “๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ธ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐?”
๐ผ๐๐๐๐๐๐๐๐:
“๐ฑ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ธ๐๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐?”
Di Kantor Iblis Pusat, diadakan rapat tahunan. Agendanya istimewa: evaluasi kinerja cabang dan pemberian penghargaan kepada iblis-iblis berprestasi dari seluruh dunia.
Satu per satu perwakilan negara maju ke podium. Ada yang sukses menebarkan kebencian, ada yang berhasil memecah belah masyarakat, dan ada pula yang membuat manusia saling membenci atas nama kebenaran.
Namun, ketika tiba giliran Indonesia, seluruh ruangan mendadak hening. Sang Direktur Utama Iblis berdiri, merapikan jas hitamnya, lalu bertepuk tangan.
“Saudara-saudara, mari kita berikan penghormatan tertinggi kepada kolega kita dari Indonesia!”
Tepuk tangan menggema. Bahkan beberapa iblis senior sampai berdiri.
“Saudaraku,” ujar sang Direktur, “engkau telah menyelesaikan misi yang nyaris mustahil. Engkau kami tugaskan untuk menggoda bangsa yang konon paling religius, paling rajin beribadah, paling fasih mengutip kitab suci, dan paling gemar memasang ayat-ayat suci di dinding rumah maupun bio media sosialnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar.
“Dan lihatlah hasilnya! Engkau bukan sekadar berhasil. Engkau melampaui semua target kinerja!”
Iblis perwakilan Indonesia membungkuk rendah. Bukan karena rendah hati, melainkan karena sedang menahan tawa.
“Silakan ceritakan rahasiamu,” perintah sang Direktur.
๐ญ。 ๐ฃ๐ฟ๐ฒ๐๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ท๐๐ธ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ฟ๐ผ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ป๐ฐ๐ฎ๐ป๐ฎ
“Baik, Yang Mulia,” jawab sang iblis. “Awalnya saya juga pesimistis. Bagaimana mungkin menggoda bangsa yang begitu religius? Ternyata saya salah strategi. Saya kira harus mengajak mereka meninggalkan agama. Rupanya tidak perlu.”
Seluruh ruangan menyimak.
“Saya cukup membantu mereka memisahkan agama dari pekerjaan, jabatan, dan urusan uang.”
Ia melanjutkan dengan bangga.
“Lihatlah urusan kebencanaan. Ketika masyarakat membutuhkan perlindungan, ketika ancaman bencana masih nyata, dan ketika kebakaran hutan serta lahan membutuhkan penanganan serius, justru muncul dugaan penyalahgunaan dana siap pakai kebencanaan yang menyeret pejabat BNPB.”
“Yang membuat saya terharu,” lanjutnya, “adalah kontrasnya. Di satu sisi, anggaran negara harus menampung program-program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Di sisi lain, kebutuhan penanggulangan bencana menuntut perhatian yang tak kalah mendesak.”
Ia mengusap air mata buayanya.
“Luar biasa! Rakyat boleh berhadapan dengan bencana, tetapi godaan untuk menyalahgunakan kekuasaan tetap punya jadwal tersendiri.”
Seorang iblis muda mengangkat tangan. “Bukankah mereka takut masuk neraka?”
Sang iblis Indonesia tertawa.
“Anakku, engkau masih terlalu hijau. Saya tidak perlu meyakinkan mereka bahwa neraka itu tidak ada. Saya cukup membuat mereka yakin bahwa mereka tidak akan pernah masuk ke sana.”
Ruangan meledak oleh tawa.
“Caranya sederhana. Buat mereka merasa bahwa jabatan adalah hak, anggaran adalah peluang, dan uang publik adalah rezeki yang kebetulan belum berpindah ke rekening pribadi.”
Sang Direktur mengangguk kagum.
“Ini bukan lagi korupsi biasa. Ini spiritualitas yang sudah berhasil dipisahkan dari integritas!”
"Nah ..... menarik, prestasi gemilangku, tanpa perlu kerja keras, ada para pemuka atau pimpinan sebuah tempat ibadah, dengan sangat percaya diri menunda pengiriman dana bantuan yang sudah terkumpul ...... Wk ..... Wk ..... Wk ...... dan mereka tak pernah merasa bersalah, dan menganggap itu kasus lumrah serta wajar, padahal itu termasuk kategori korupsi, bahkan ...... (sambil berbisik memelankan suaranya si iblis) .... lucunya, di buku agamanya, penjelasan bahwa itu korupsi ada, ..... Xi ..... Xi ..... Xi.
๐ฎ。 ๐ฃ๐ฟ๐ฒ๐๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ: ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฅ๐๐บ๐ฎ๐ต ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ธ๐๐๐ฎ๐ป
Iblis Indonesia melanjutkan presentasinya.
“Prestasi kedua lebih mengesankan. Saya berhasil menyusup ke tempat-tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi manusia yang terluka.”
“Bayangkan, Yang Mulia. Orang datang kepada pemuka agama untuk mencari penghiburan, bimbingan, dan perlindungan. Mereka datang membawa luka, rahasia, dan kepercayaan. Seharusnya mereka pulang dengan harapan. Namun, ketika sebagian pemuka agama justru menyalahgunakan posisi dan kepercayaan itu untuk melakukan kekerasan seksual, tempat perlindungan berubah menjadi tempat ketakutan.”
Suasana ruangan berubah serius. Bahkan iblis yang biasanya tertawa paling keras tampak terdiam.
“Dan rahasianya?” tanya Direktur.
“Penyalahgunaan kuasa,” jawabnya. “Saya tidak perlu menghancurkan rumah ibadah. Saya hanya perlu membuat orang-orang tertentu merasa bahwa kedudukan rohani memberi mereka kekebalan moral.”
Ia tersenyum tipis.
“Buat korban merasa bersalah. Buat mereka takut berbicara. Bungkus penyalahgunaan kuasa dengan bahasa pengampunan, ketaatan, dan nama baik lembaga. Lalu, ketika kebenaran mulai terungkap, sibukkan semua orang dengan pertanyaan tentang reputasi institusi, bukan keselamatan korban.”
“Dengan begitu, yang dilindungi bukan lagi manusia yang terluka, melainkan citra organisasi. Sungguh efisien!”
Sang Direktur bertepuk tangan perlahan.
“Luar biasa. Engkau memahami bahwa cara terbaik merusak agama bukanlah menyerang ajarannya, melainkan membuat orang yang mengajarkannya mengkhianati nilai-nilai yang mereka khotbahkan.”
"Tetapi prestasi gemilang adalah membuat para pemuka agama menciptakan circle, komunitas, gap, club, gang, grup di tengah umat, dan menciptakan kesenjangan, serta para pemuka agama itu menganggap itu hal yang lumrah juga wajar bahkan biasa"
๐ฏ。 ๐ฃ๐ฟ๐ฒ๐๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐๐ถ๐ด๐ฎ: ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ธ๐๐บ ๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐ถ๐ป๐ฎ๐ป ๐ฆ๐๐น๐ฎ๐ฝ
“Sekarang, prestasi favorit saya,” kata sang iblis Indonesia, semakin bersemangat.
“Saya menemukan kelompok manusia yang sangat berbakat. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya menjadi teladan dalam menaati hukum. Sebagian memiliki jabatan, sebagian memiliki kekuasaan, dan sebagian lagi memiliki pengaruh besar dalam menentukan aturan.”
Ia menjentikkan jari.
“Ketika rakyat biasa melanggar aturan, hukum harus ditegakkan. Ketika penguasa berhadapan dengan aturan yang menghalangi kepentingannya, tiba-tiba muncul tafsir baru, celah prosedural, alasan administratif, dan penjelasan panjang yang membutuhkan tiga pengacara serta dua konferensi pers untuk memahaminya.”
Tawa kembali pecah.
“Di tangan mereka, hukum bukan lagi kompas untuk mencari keadilan. Hukum menjadi plastisin. Bisa dibentuk, dilipat, diregangkan, bahkan dipelintir sesuai kebutuhan.”
Ia menambahkan dengan nada serius:
“Yang paling saya sukai adalah ketika mereka tetap berbicara tentang supremasi hukum. Sebab tidak ada yang lebih menyenangkan bagi saya daripada menyaksikan seseorang memuji keadilan di podium, lalu mencari jalan keluar ketika keadilan mengetuk pintu rumahnya sendiri.”
Sang Direktur berdiri.
“Saudara-saudara, catat ini baik-baik! Iblis Indonesia telah menemukan formula yang sangat menjanjikan: jangan hapus hukum, cukup buat hukum kehilangan keberaniannya ketika berhadapan dengan kekuasaan.”
๐ฐ。 ๐ฅ๐ฎ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ ๐จ๐๐ฎ๐บ๐ฎ: ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ป๐๐ต ๐ก๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ป๐๐ต ๐๐ด๐ฎ๐บ๐ฎ
Setelah tepuk tangan mereda, Direktur Iblis Pusat mengajukan satu pertanyaan terakhir.
“Saudaraku dari Indonesia, bagaimana mungkin engkau berhasil di negeri yang masyarakatnya begitu rajin beribadah? Masjid penuh. Gereja ramai. Rumah ibadah berdiri di mana-mana. Doa dipanjatkan setiap hari. Bukankah semua itu seharusnya menyulitkan pekerjaanmu?”
Iblis Indonesia tersenyum. Kali ini senyumnya tidak lebar, tetapi justru lebih menyeramkan.
“Yang Mulia, selama ini kita terlalu fokus membuat manusia berhenti berdoa. Padahal, strategi yang jauh lebih efektif adalah membiarkan mereka terus berdoa, asalkan mereka berhenti mendengarkan suara hati nuraninya.”
Ia berjalan perlahan di depan podium.
“Biarkan mereka rajin beribadah, tetapi tidak jujur ketika bekerja. Biarkan mereka fasih berbicara tentang kasih, tetapi tega memperdaya orang yang mempercayainya. Biarkan mereka mengutip kitab suci, tetapi mengabaikan orang yang kelaparan, korban yang terluka, dan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.”
Ia berhenti sejenak.
“Biarkan mereka berdebat tentang siapa yang paling benar dalam urusan agama, sembari melupakan bahwa kejujuran, keadilan, dan belas kasih seharusnya menjadi buah dari iman mereka.”
Seluruh ruangan terdiam.
“Saya tidak perlu membuat mereka membenci Tuhan. Saya cukup membuat mereka merasa bahwa Tuhan pasti memihak mereka, apa pun yang mereka lakukan.”
Ia menutup presentasinya:
“Dan ketika nurani mulai berbisik, saya bantu mereka menyebutnya sebagai gangguan. Ketika rasa bersalah muncul, saya bantu mereka mencari pembenaran. Ketika orang lain mengingatkan, saya bantu mereka menganggap kritik sebagai serangan.”
Ia tersenyum puas.
“Begitulah, Yang Mulia. Saya tidak mematikan agama. Saya hanya berusaha memisahkan agama dari perilaku. Saya tidak perlu menghancurkan mimbar. Saya hanya perlu membuat kata-kata dari mimbar kehilangan maknanya ketika pemiliknya turun ke dunia nyata.”
Pada sessi tanya jawab , seorang iblis senior mengangkat tangan.
“Apakah ada risiko bahwa manusia Indonesia akhirnya menyadari semua ini?”
Iblis Indonesia mengangguk.
“Tentu saja. Masih ada orang-orang jujur. Masih ada pejabat yang menolak korupsi. Masih ada pemuka agama yang melindungi umat, bukan memangsa mereka. Masih ada hakim, jurnalis, aktivis, dan warga biasa yang berani membela kebenaran meskipun harus membayar mahal.”
Ia menarik napas.
“Mereka itulah masalah terbesar kami. Sebab satu orang yang tetap jujur dapat membongkar kebohongan yang dibangun puluhan orang. Satu korban yang berani bersuara dapat memecahkan kebisuan bertahun-tahun. Dan satu orang yang berani menolak penyalahgunaan kekuasaan dapat mengingatkan banyak orang bahwa nurani mereka belum mati.”
Senyumnya menghilang.
“Selama masih ada orang yang berani berkata tidak pada ketidakadilan, pekerjaan kami belum selesai.”
(jenuh melihat kebodohan, 15102026)(TUS)