Senin, 16 Februari 2026

"Mengapa Agama Abad ke-7 Mencoba Mengajari Sejarah Abad ke-1 Tentang Yesus?"

Loya Latoya

Seorang teman Muslim mengirimkan gambar ini kepada saya. Setelah saya pelajari, narasi yang mencoba memisahkan Yesus dari doktrin Paulus demi mencari "Yesus Sejarah" yang murni manusiawi sebenarnya hanyalah upaya usang untuk mereduksi keilahian Kristus. Argumen ini mencoba membenturkan lapisan tradisi awal dengan teologi Paulus, seolah-olah Paulus adalah "pencipta" agama baru. Namun, jika kita membedah sumber primer dan bukti arkeologis, klaim ini justru runtuh di hadapan fakta sejarah yang jauh lebih tua.

Berikut adalah bantahan mendalam terhadap narasi tersebut:

1. Kesatuan Naskah: Manuskrip Tertua Tidak Terfragmentasi.

Klaim bahwa ada "Yesus pra-Paulus" yang murni manusiawi sering kali bersandar pada hipotesis Sumber Q yang tidak pernah ditemukan fisiknya. Sebaliknya, manuskrip tertua yang kita miliki justru menunjukkan kesatuan iman.

P46 (Papirus Chester Beatty II): Berasal dari sekitar tahun 200 M, manuskrip ini berisi surat-surat Paulus yang sudah diterima secara universal oleh gereja mula-mula sebagai satu kesatuan dengan ajaran para rasul di Yerusalem.

Papirus P52: Fragmen tertua Injil Yohanes (sekitar 125 M) menegaskan keilahian Yesus sebagai "Logos" yang ada sebelum dunia diciptakan. Ini membuktikan bahwa keilahian Yesus bukanlah produk sampingan evolusi teologi Paulus, melainkan keyakinan inti sejak saksi mata masih hidup.

2. Penggenapan Nubuat Perjanjian Lama.

Gambar tersebut mengklaim Yesus hanya "Nabi Eskatologis". Namun, naskah kuno Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang berasal dari abad ke-2 SM menunjukkan bahwa ekspektasi Yahudi tentang Mesias jauh lebih besar daripada sekadar nabi.

Yesaya 9:5: Menubuatkan Mesias sebagai "Allah yang Perkasa". Ini adalah sumber primer kuno yang mendahului Paulus selama ratusan tahun.

Daniel 7:13-14: Menyebut "Anak Manusia" yang datang dengan awan-awan langit dan diberikan kekuasaan kekal. Yesus menggunakan gelar ini justru untuk mengklaim keilahian-Nya sendiri di hadapan Mahkamah Agama, sebuah klaim yang membuat-Nya dihukum mati karena dianggap menghujat Allah.

3. Arkeologi: Bukti Ibadah Kepada Yesus Sebagai Allah
Argumen bahwa Yesus baru dianggap Tuhan pada era Paulus dipatahkan oleh temuan artefak kuno.

● Inskripsi Megiddo: Ditemukan di sebuah gereja rumah dari abad ke-3, inskripsi ini berbunyi: "Akeptous yang mencintai Allah telah mempersembahkan meja ini untuk Tuhan Yesus Kristus sebagai kenangan." * 

● Grafiti Alexamenos: Artefak dari abad ke-2 yang mengejek seorang Kristen bernama Alexamenos karena menyembah Tuhannya yang disalib. Ini membuktikan bahwa sejak awal, umat Kristen menyembah Yesus sebagai Tuhan (Deus), bukan sekadar nabi manusiawi.

4. Surat Paulus Adalah Dokumen Tertulis Tertua
Ironisnya, narasi dalam gambar tersebut mencoba membuang Paulus, padahal surat-surat Paulus (ditulis mulai tahun 50-an M) secara kronologis lebih tua daripada naskah Injil mana pun.

Filipi 2:6-11: Ini adalah madah (himne) kuno yang dikutip Paulus, yang menurut para ahli berasal dari komunitas Kristen Yerusalem hanya beberapa tahun setelah penyaliban. Himne ini menyatakan Yesus "dalam rupa Allah". Artinya, pemahaman Yesus sebagai Allah sudah ada sebelum Paulus mulai menulis, bukan diciptakan olehnya.

5. Kritik Terhadap Perspektif yang Muncul Terlambat
Sangatlah aneh ketika sebuah perspektif yang lahir dari agama yang baru muncul pada abad ke-7 Masehi (600 tahun setelah peristiwa tersebut) mencoba mendikte sejarah abad ke-1.

Mencoba merekonstruksi "Yesus yang asli" dengan mengabaikan dokumen saksi mata abad pertama dan lebih memilih narasi yang muncul ratusan tahun kemudian adalah kegagalan metodologi sejarah.

Iman Kristen tidak dibangun di atas opini yang muncul kemudian, melainkan di atas darah para rasul dan manuskrip yang konsisten menyatakan: Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Kesimpulan: Memisahkan Yesus dari doktrin keilahian yang diberitakan Paulus adalah upaya sia-sia untuk menjinakkan Kristus. Sumber primer, manuskrip, dan artefak kuno semuanya bersuara sama: Yesus Kristus tidak pernah hanya seorang nabi; Ia adalah Tuhan yang bertahta sebelum segala abad.

#YesusAdalahTuhan #KebenaranAlkitab #ApologetikaKristen #ManuskripAlkitab #KebenaranSejarah

Minggu, 15 Februari 2026

SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS MINGGU SENGSARA

SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS MINGGU SENGSARA

PENGANTAR 

Kesaksian Markus 14:1-15:47 (penulis meringkas bacaan menjadi Markus 15:1-15) adalah pengisahan penderitaan, kematian Yesus sampai akhirnya Ia dimakamkan. Sengaja kisah penderitaan, kematian Yesus dan pemakaman telah dibaca pada Minggu Prapaskah VI (Minggu Palma) dan yang juga disebut dengan “Minggu Sengsara” agar umat memahami bahwa kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem berkaitan dengan karya penebusan melalui penderitaan dan kematian-Nya.

PEMAHAMAN 

 Umat ​​pada pengisahan Minggu Palma yang memperkenalkan-sorak memuji Yesus adalah umat yang juga kelak akan berteriak dan menuntut akan kematian-Nya. Demikian pada Minggu Prapaskah VI memiliki dua dimensi kembar yang paradoks, yaitu puji-pujian yang menyambut Yesus dan teriakan kemarahan yang menuntut kematian Yesus. Kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem seperti seorang pahlawan yang menang, tapi tak lama lagi Ia akan diperlakukan seperti seorang penjahat. Kesaksian Yesaya 50:4-9 juga menggemakan penderitaan seorang hamba Tuhan. Di Yesaya 50:6 mempersaksikan: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak bersembunyi mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Kesaksian ini paralel dengan Yesaya 53:3, yaitu hamba Tuhan yang dihina dan Dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Namun di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya, hamba Tuhan tersebut memiliki lidah seorang murid, sehingga ia mampu memberi semangat yang baru kepada sesamanya yang letih lesu. Di tengah-tengah penderitanya Sang Hamba Tuhan tersebut tidak berkeluh-kesah, menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya ia memberikan semangat dan kekuatan rohani kepada orang-orang yang putus asa. Jadi arti lidah seorang murid menunjuk pada lidah yang dilatih dengan baik. Kemampuan mengendalikan lidah yang peka hanya dapat terjadi jikalau hamba Tuhan tersebut selalu membuka telinga. Ia mengutamakan kesediaan mendengarkan dengan baik sebagai seorang hamba Tuhan, sehingga mampu berbicara dengan bijaksana untuk meneguhkan dan menyatakan karya keselamatan Allah. Mulai Mazmur 50:7-9, pemazmur menegaskan bahwa Allah berpihak padanya. Sebab di tengah-tengah penderitaan dan cela yang dialaminya, ia tetap setia. Sang Hamba Tuhan tersebut tidak memberontak atau dibebaskan dari Allah. Pada akhirnya Allah akan menolong dia, sehingga dia tidak mendapat noda. Para musuhnya tidak sanggup menundukkan dia. Konteks Mazmur 31 didasari pada pengalaman pribadi yang dialami oleh pemazmur. Ia dicela dan dipermalukan oleh para musuhnya (Mzm. 31:12). Para musuhnya bersekongkol dengan menyebarkan dusta (Mzm. 31:19). Lebih dari itu pemazmur dikejar-kejar oleh para musuhnya (Mzm. 31:16) sehingga ia terjebak dalam jaring yang dipasang mereka (Mzm. 31:5). Di tengah-tengah komunitasnya, pemazmur ditinggalkan (Mzm. 31:12-13), sehingga ia menderita sakit (Mzm. 31:10-11), dipermalukan sebagai orang yang dianggap terbuang dari hadapan Allah (bdk. Mzm. 31:17-18). Dalam kondisi demikian pemazmur menganggap dirinya terbuang dari hadapan Allah. Tampaknya curahan hati pemazmur tidak dimaksudkan untuk diungkapkan sebagai keluh-kesah pribadinya saja, namun diungkapkan agar menjadi cermin bagi umat percaya yang menderita. Karena itu dalam Mazmur 31 kita dapat melihat secara sengaja pemazmur menghilangkan unsur-unsur yang bersifat pribadi agar setiap orang yang membaca dan mendengarkan curahan hati tersebut menggambarkan pengalaman hidup umat percaya yang ditindas dan dipermalukan oleh para musuh. Umat ​​percaya yang telah kehilangan harapan dan hidup dalam kesedihan yang begitu berat justru dituntun oleh pengalaman pemazmur yang melihat kehadiran Allah. Di hadapan para musuh yang menindasnya, pemazmur tidak meminta belas kasihan dari mereka. Sebaliknya pemazmur hanya mengharap belas-kasihan dari Allah (Mzm. 31:10). Iman pemazmur justru bertumbuh dengan kokoh, sehingga ia dapat menyikapi masalah yang dihadapinya dengan sikap beriman kepada Allah. Mulai Mazmur 31:15 sikap iman pemazmur menggeser semua kesedihan, kepahitan dan rasa putus-asanya, yaitu: “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata: Engkaulah Allahku!” Dalam konteks ini kita menjumpai dua aspek penting dalam kehidupan iman pemazmur, yaitu: 1). Pernyataan iman bahwa hanya kepada Allah saja ia percaya, 2). Pengakuan iman bahwa Yahweh adalah Allahnya. Sikap iman pemazmur tersebut justru relevan untuk direnungkan secara lebih mendalam. Iman pemazmur ditemukan justru ketika ia berada di tengah-tengah penderitaan dan situasi kritis yang seharusnya menghancurkan dirinya sendiri. Namun di tengah-tengah situasi “ketiadaan” tersebut Allah justru hadir dan mengaruniakan kekuatan untuk menopang kehidupan pemazmur, sehingga pemazmur berkata: “Masa kehidupan ada di tangan-Mu, mengecewakanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu memancarkan atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!” (Mzm. 31:16-17). Dalam konteks ini pemazmur tidak menggunakan kekuatan dan upaya manusiawinya untuk membalas dendam kepada musuh, namun ia serahkan sepenuhnya kepada Allah. Dalam tulisannya yang berjudul Reconstructing Honor in Roman Philippi – Carmen Christi as Cursus Pudorum , Joseph H. Hellerman menginterpretasikan Surat Filipi 2:7 sebagai cursus pudorum . Maksud dari cursus pudorum adalah: Yesus menyampaikan diri-Nya meskipun Ia setara dengan Allah. Dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, Kristus memilih untuk menjadi seorang doulos (hamba). Lebih dari itu Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk mengalami kematian di atas kayu salib. Dalam spiritualitas cursus pudorum dalam kehidupan Yesus, kita dapat melihat pola spiritualitas yang tidak bergerak ke “atas” (menuntut kemuliaan yang lebih tinggi), namun sebaliknya Yesus memilih untuk bergerak ke “bawah.” Karena itu Yesus sengaja masuk kota Yerusalem dengan menunggangi seekor elang tanpa dikawal oleh para prajurit atau kekuatan politik. Apabila penduduk Yerusalem mengelu-elukan Yesus, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, mendesaklah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” adalah ungkapan yang spontan sebagai harapan mereka. Dengan pola ini rasul Paulus menunjukkan sikap yang berbeda antara Kristus dan pemerintah Romawi. Sikap pemerintah Romawi yang menjajah selalu lebih cenderung memeroleh kehormatan dan kemuliaan dengan meningkatkan kedudukan dan status seseorang ( cursus honorum ). Kecenderungan kita sebagai umat lebih suka mencari kehormatan di balik pelayanan dan kesalehan. Karena itu kita tidak segan menggunakan nama Allah atau Kristus, namun sesungguhnya kita haus akan pujian dan kehormatan. Kristus sebaliknya. Ia turun dari kedudukan dan statusnya sampai ke titik terendah bahkan sampai pada status yang paling hina dengan mati di kayu salib, dengan tujuan berkurban memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia ( cursus pudorum ) (Hellerman 2005, 130). Kesediaan Kristus mengosongkan diri adalah agar Ia dapat memberikan hidup-Nya sehingga umat memperoleh hidup yang berlimpah. Prinsip teologis ini dikemukakan oleh Injil Yohanes tentang tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus, yaitu: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala menceritakan” (Yoh. 10:10b).

(16022026)(TUS)

SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS ATAS MINGGU PALMARUM

SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS ATAS MINGGU PALMARUM


PENGANTAR

Yesus dan murid-murid-Nya masuk ke kota Yerusalem setelah perjalanan dari Yerikho (Markus 10:46). Tindakan Yesus masuk ke kota Yerusalem akan membawa Dia kepada penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib. 

PEMAHAMAN 

Kisah Yesus yang naik ke kota Yerusalem juga dipersaksikan oleh Mazmur 118. Dalam hal ini Mazmur 118 sengaja dipilih oleh The Revised Common of Lectionary sebagai bacaan leksionaris untuk memahami makna Yesus masuk ke kota Yerusalem. Di Mazmur 118:19 mempersaksikan: “Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN.” Menurut Frank H. Ballard dalam The Interpreter's Bible Volume 4 , makna “pintu kebenaran” menunjuk ke pintu Bait Allah di Yerusalem. Umat ​​sebagai orang-orang yang benar di hadapan Allah diundang masuk melalui gerbang rumah Allah. Undangan tersebut bertujuan agar umat bersedia mendedikasikan hidupnya pada kebenaran (Mzm. 118:20) karena mereka telah menerima keselamatan dari Allah. Keselamatan tersebut justru terjadi pada umat yang dianggap semula tidak layak masuk ke pintu gerbang rumah Allah, namun kini mereka diperkenankan untuk bersembunyi. Dalam hal ini Frank H. Ballard menafsirkan bahwa “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan” sebenarnya ditujukan kepada bangsa-bangsa di luar umat Israel. Dahulu mereka anggap tidak berguna, namun kemudian Allah berkenan menjadikan mereka sebagai “batu penjuru.” Itu sebabnya respon di Mazmur 118:24 pemazmur menyatakan kegembiraan bersama umatnya, yaitu: “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita memperkenalkan-sorak dan mewujudkannya!” Rupanya sikap gembira umat tersebut dilandasi oleh pengharapan bahwa mereka selalu membutuhkan keselamatan dari Allah, sehingga umat menyatakan: “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!” (Mzm. 118:25). Dengan demikian seruan umat “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan!” menggemakan gagasan hosanna yang diucapkan oleh penduduk Yerusalem saat Yesus masuk melalui pintu gerbang kota Yerusalem. Di dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus mengajak dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada saat kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor elang muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Injil Markus mempersaksikan kuasa Yesus yang mampu meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan, bahkan juga reaksi orang yang akan menanyakan alasan para murid untuk melepaskan hal tersebut. Dengan demikian kemampuan Yesus memprediksi masa depan tersebut berkaitan pula dengan prediksi-Nya tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Di Markus 8:31, Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit setelah tiga hari” (bdk. Markus 9:31; 10:33-34; 14:62). Dengan demikian keputusan Yesus pergi ke Yerusalem didasari pada kesadaran ilahi-Nya bahwa Dia melaksanakan kehendak dan keselamatan rencana Allah. Kesadaran ilahi Yesus Merujuk pada kekuasaan Allah yang maha tahu ( maha tahu ) apa yang akan terjadi, sehingga peristiwa kematian yang dialami Yesus merupakan wujud dari rencana keselamatan Allah. Allah telah mempersiapkan karya keselamatan dalam penebusan Kristus, sehingga penderitaan dan kematian Yesus merupakan karya pendamaian yang akan memulihkan dan mengampuni umat yang percaya kepada-Nya. Umat ​​Israel di Yerusalem dikisahkan menyambut Yesus dengan meriah dan sikap hormat. Kesaksian Markus 11:8 yaitu: “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ocehan-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang” menunjukkan pemahaman umat Israel di Yerusalem yang begitu hormat dengan menganggap Yesus seperti seorang pahlawan yang menang perang. Penduduk Yerusalem bersedia baju yang mereka pakai diinjak oleh habitat yang ditunggangi Yesus. Di kitab Makabe 13:51 mempersaksikan bagaimana sikap penduduk Yerusalem menyambut Simon saudara Yudas Makabe setelah ia berhasil mengalahkan musuh yang menguasai puri Yerusalem. Yerusalem Penduduk menyambut Simon sebagai seorang pahlawan, yaitu: “Pada tanggal dua puluh tiga bulan kedua tahun Seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan daun palem, diiringi dengan kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah dan gita. Sebab musuh besar Israel sudah digempur.” Namun sikap masyarakat Yerusalem memandang diri Yesus melebihi seorang pahlawan yang menang perang, karena mereka menyebut diri Yesus sebagai Mesias Allah, yaitu Sang Mesias yang menghadirkan Kerajaan Allah di atas bumi. Di Markus 11:9-10 mempersaksikan sikap umat Israel di Yerusalem, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, mendoronglah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” Makna kata hosanna adalah: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah selamatkan kami.” Penduduk Israel memohon agar Yesus Sang Mesias Allah berkenan menyelamatkan mereka sekarang dari penjajahan bangsa Romawi. Ketika mereka telah terbebas dari penjajahan politik, maka mereka berharap agar Kerajaan Allah yang jaya seperti Kerajaan Daud menguasai seluruh kehidupan umat. Dengan demikian, penduduk Yerusalem memiliki harapan dan keyakinan yang begitu besar bahwa Yesus Sang Mesias memiliki kemampuan untuk mengalahkan penguasa penjajahan bangsa Romawi, dan membangun kerajaan Mesias. Harapan yang begitu besar dapat membutakan mata hati seseorang. Demikian pula yang terjadi pada penduduk Yerusalem dalam memahami makna ke-Mesias-an Yesus. Karena harapan penduduk Yerusalem masih didasari oleh pemahaman Mesias politis. Pengharapan politik penduduk Yerusalem semakin bertambah besar setelah mereka menyaksikan bagaimana Yesus berkuasa membuat berbagai macam mukjizat dengan kekuatan ilahi. Pengharapan politis tersebut ternyata membutakan iman mereka untuk melihat makna dan tujuan yang sesungguhnya dari perbuatan-perbuatan mukjizat yang dilakukan Yesus yaitu untuk menyatakan kedudukan dan kuasa-Nya sebagai Anak Allah yang bertekad Allah menjadi penyelamat. Yerusalem Penduduk belum sepenuhnya memahami makna ke-Mesias-an Yesus bertujuan untuk membebaskan mereka dari penjajahan dan kuasa dosa. Oleh karena itu penduduk Yerusalem menjadi sangat kecewa saat Yesus tidak memberikan perlawanan saat ditangkap. Saat dianiaya Yesus tidak menampilkan kuasa-Nya yang menakjubkan di hadapan Pontius Pilatus. Sikap yang menyanjung-nyanjung Yesus segera berubah menjadi kemarahan dan kebencian. Dari teriakan pujian “Hosana” berubah menjadi teriakan “salibkanlah Dia.” Sebagai penyelamat, Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (bdk. Markus 2:10). Kuasa dan praktik penjajahan hanyalah salah satu perwujudan dari kuasa dosa. Karena itulah Yesus datang ke dunia untuk menghancurkan kuasa dosa yang membelenggu umat manusia (Markus 10:45). Sebagai bagian umat Israel, Yesus memahami kota Yerusalem sebagai kota Allah karena di sanalah Bait Allah berada. Tindakan Yesus masuk ke kota Yerusalem merupakan pernyataan Yesus untuk mendedikasikan hidup-Nya kepada kebenaran. Lebih dari itu Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka melaksanakan kehendak dan rencana Allah untuk menyatakan karya keselamatan Allah. Umat ​​Israel berziarah ke kota Yerusalem dalam rangka mengucap syukur atas keselamatan yang dikaruniakan Allah. Sebaliknya Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka mewujudkan karya keselamatan Allah, yaitu perdamaian melalui penderitaan dan kematian-Nya. Penduduk kota Yerusalem menyambut kedatangan Yesus dengan perayaan yang meriah dan penuh hormat. Seruan mereka, hosanna yang artinya: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah selamatkan kami” menunjuk pada harapan penduduk Yerusalem untuk mendapatkan keselamatan yang bebas dari penjajahan Romawi. Karena itu mereka kecewa dan marah karena harapan mereka tidak terwujud, sebab Yesus datang untuk membebaskan mereka dari kuasa dosa. Karena itu mereka yang semula berteria menyambut Yesus dengan “Hosana” berubah menjadi “Salibkanlah Dia!” Dalam konteks ini umat pada masa kini perlu menjadi sadar mempengaruhi pemikiran dan harapan yang ideologis, sehingga mereka mampu memahami karya keselamatan yang lebih utuh dan menyeluruh. 


Sudut Pandang Parodoksal Minggu Palmarum dan Mingggu Sengsara

Sudut Pandang Parodoksal Minggu Palmarum dan Mingggu Sengsara

PENGANTAR
Ada satu tulisa yang harus saya selipkan untuk menegakan pemahaman Minggu Palmarum yang bergesekan dengan Minggu sengsara. Minggu Palma , yang juga dikenal sebagai Minggu Sengsara, terjadi pada hari Minggu sebelum Paskah. Hari ini menandai dimulainya Pekan Suci dan menggambarkan masuknya Yesus dengan penuh kemenangan ke Yerusalem sebelum akhirnya mengalami sengsara dan wafat pada Jumat Agung.Minggu Palma atau Minggu Palmarum adalah hari Minggu sebelum Paskah dalam kalender liturgi Kristen. Ini adalah hari peringatan masuknya Yesus Kristus ke Yerusalem pada saat-saat menjelang penyaliban-Nya. Ia memasuki Yerusalem di atas seekor keledai dan disambut oleh rakyat yang menjalankan karpet dan daun-daun palem di depan-Nya. Peristiwa ini dikenal sebagai Kedatangan Raja Damai dalam tradisi Kristen. Istilah "Palma" atau "Palmarum" berasal dari kata Latin "palma" yang berarti daun palem, yang melambangkan sambutan orang-orang Yerusalem saat Yesus memasuki kota tersebut, ketika mereka menyebar daun palem di jalannya. Minggu Palma merupakan awal dari Pekan Suci, yang mencakup peringatan-peringatan dari peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus Kristus, termasuk Perjamuan Terakhir, pengkhianatan dan penangkapan-Nya, pengadilan, penyaliban, dan kematian-Nya di kayu salib. Minggu Palma menjadi awal dari perayaan penuh makna ini, dan banyak gereja mengadakan prosesi dan upacara untuk mengenang kedatangan Yesus Kristus ke Yerusalem. Pada Minggu Palma, umat Kristen biasanya mengadakan perayaan dengan membawa daun palem dan membuat rumbai-rumbai kecil dari dedaunan untuk memperingati kedatangan Yesus ke Yerusalem. Di beberapa gereja, acara perayaan Minggu Palma diawali dengan ibadah di luar gereja yang melibatkan penggunaan daun palem, lalu dilanjutkan dengan prosesi masuk ke dalam gereja. Minggu Palma juga menjadi permulaan dari Minggu Suci, yang berlangsung selama seminggu menjelang Paskah dan mencakup peringatan-peringatan penting dalam kisah penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus. Kedatangan Yesus Kristus ke Yerusalem di hari Minggu sebelum Paskah ini adalah suatu peristiwa penting dalam sejarah kekristenan. Peristiwa ini dianggap sebagai penggenapan nubuat-nubuat dalam Alkitab bahwa Mesias akan datang ke Yerusalem dan memulai tugasnya sebagai juru selamat manusia. Ketika Yesus datang ke Yerusalem, rakyat Yerusalem menyambut-Nya dengan penuh sukacita, karena mereka menganggap Yesus sebagai Mesias yang telah mereka nantikan. Pada hari itu, banyak orang mengikuti Yesus dalam prosesi ke Yerusalem dan meletakkan karpet dan daun palem di depan-Nya, sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan bahwa Yesus adalah Raja Damai yang dijanjikan dalam Alkitab. Kedatangan Yesus ke Yerusalem di hari Minggu sebelum Paskah ini menjadi awal dari Pekan Suci, yaitu minggu-minggu yang memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus, seperti Perjamuan Terakhir, pengkhianatan dan penangkapan-Nya, pengadilan, penyaliban, dan kematianNya di kayu salib. Dalam tradisi Kristen, Minggu Palma diperingati dengan berbagai upacara dan kegiatan, seperti misa khusus yang diadakan pada pagi hari di gereja-gereja, prosesi dengan menenteng pohon palem dan karpet, dan pembacaan kisah-kisah Alkitab yang berkaitan dengan kedatangan Yesus ke Yerusalem. Pohon palem dan karpet yang dipakai dalam prosesi di hari Minggu Palma juga memiliki makna yang penting dalam tradisi Kristen. Pohon palem dianggap sebagai simbol kemenangan dan kejayaan, sementara karpet melambangkan kerendahan hati dan ketaatan. Kedua simbol ini menggambarkan kepribadian Yesus Kristus sebagai seorang Raja yang datang dengan rendah hati dan membawa kemenangan dan keselamatan bagi umat manusia. Secara umum, Minggu Palma dianggap sebagai hari yang penting dalam kalender liturgi Kristen, karena peringatan ini menandai awal dari Pekan Suci dan menjadi momen penting dalam mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus. Hari ini juga menjadi ajang bagi umat Kristen untuk memperkuat iman dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengorbanan Yesus Kristus bagi keselamatan manusia. Perayaan Minggu Palma sudah ada sejak abad ke4, namun, ada beberapa perubahan dalam perayaan hari raya Katolik Roma. Sebelum perubahan pada liturgi Katolik pada abad ke-20, umat Katolik menerima palma di satu gereja dan akan berprosesi ke gereja lain untuk diberkati. Mereka kemudian akan berprosesi kembali ke gereja asal di mana kisah Sengsara Kristus akan dilantunkan. Sengsara mengacu pada siksaan dan cobaan yang Yesus alami menjelang, dan termasuk, kematiannya. Kini, oleh karena kesepakatan di Lima, maka gereja Reformasi pun sebagian besar merayakan liturgis simbolis Minggu Palmarum.

PEMAKNAAN
Dalam perayaan Minggu Prapaskah VI mengandung dua dimensi yang paradoksal, yaitu Minggu Palma dan Minggu Sengsara. Pengkhotbah mimbar dapat menguraikan secara singkat perbedaan dan penekanan pada perayaan Minggu Palma dengan Minggu Sengsara. Dengan penjelasan tersebut pengkhotbah menginspirasi umat untuk memahami karakter Minggu Prapaskah VI yang mengandung aspek kegembiraan dan dukacita, sanjungan dan caci-maki, sikap simpati dan antipasti. Karakter Minggu Prapaskah VI yang paradoksal tersebut dapat dipakai oleh pengkhotbah untuk menginspirasi umat agar mengembangkan spiritualitas yang lebih integratif sehingga tidak hidup dalam ketinggian. Pengkhotbah dapat mengutip pandangan Roger Van Harn dalam The Lectionary Commentary yang menyatakan bahwa pada Minggu Prapaskah VI pada hakikatnya didasari pada pertanyaan teologis, yaitu: “Siapakah Yesus itu?” Jawab atas pertanyaan ini: Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah. Sebab bila Yesus tidak sepenuhnya manusia, bagaimana Ia mampu menyelamatkan manusia. Di pihak lain bila Yesus tidak sepenuhnya Allah, bagaimana Ia mampu membuktikan kita di hadapan Allah. Melalui Minggu Prapaskah VI, pengkhotbah dapat memperdalam hakikat Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia melalui perayaan Minggu Palma dan Minggu Sengsara. Jadi melalui perayaan Minggu Palma, hakikat Kristus yang sungguh manusia sebagaimana nyata kesaksian Mazmur 31, dan juga hakikat Kristus yang sungguh Allah sebagaimana kesaksian Markus 11:1-11 dan Flp. 2:5-11. Pengkhotbah dapat menguraikan makna teologis dari Filipi 2:5-11. Rasul Paulus mempersaksikan diri Kristus yang setara dengan Allah namun berkenan menjadi manusia ( cursus pudorum ). Tentunya aplikasi tafsiran Filipi 2:5-11 tidak dapat diterapkan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kita bukanlah seperti Kristus yang memiliki satu hakikat dengan Allah yang bersedia mengosongkan diri-Nya menjadi manusia. Kita adalah ciptaan belaka. Namun kepada umat, pengkhotbah dapat mengembangkan perlunya spiritualitas yang tidak mencari kehormatan diri sendiri ( cursus honorum ). setara dengan Yesus masuk ke kota Yerusalem pada prinsipnya bukan untuk melihat pemandangan duniawi. Yesus tidak masuk ke kota Yerusalem dengan simbol-simbol kekuasaan, sebaliknya dengan kerendahan hati. Dalam perayaan Minggu Palma dan Minggu Sengsara yang tampak pada diri Yesus adalah sikap-Nya yang Ia berdiam diri. Pada Minggu Palma, Yesus berdiam diri di tengah-tengah Berbagai penduduk Yerusalem yang menyanjung dan memuji-muji diri-Nya. Demikian pula Yesus berdiam diri selama diadili, didera, dan disalibkan. Bahkan saat Yesus disalibkan, Allah juga berdiam diri dan tidak menyelamatkan Dia. Pengkhotbah dapat menjelaskan makna keberdiaman diri Yesus dan Allah di tengah-tengah puji-pujian dan caci-maki dunia. Menjelaskan bahwa keberdiaman diri Yesus bukanlah suatu bentuk keberdiaman yang pasif dan tanpa makna. Sebaliknya keberdiaman diri Yesus dalam Minggu Palma dan Minggu Sengsara merupakan suatu keberdiaman diri yang mampu merangkum situasi yang paradoksal. Yesus dengan penuh kesadaran dan visi yang jelas mengambil keputusan melakukan kehendak Allah, yaitu berkurban demi keselamatan manusia. Setelah itu pengkhotbah dapat memotivasi umat untuk mengabdi kepada Tuhan dengan mengutamakan tindakan nyata daripada banyak bicara. Sebab yang utama adalah sikap hening namun sarat dengan pengabdian yang tulus kepada Tuhan. Melalui keteladanan Yesus, umat dimotivasi untuk hidup dalam keheningan seperti Yesus sehingga tidak terpengaruh oleh puji-pujian dan caci-maki orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya umat yang setia dan rendah hati berjalan menuju tanah terjanji melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan mereka. Minggu Prapaskah VI memiliki makna ganda, yaitu Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara. Dalam pengisahan di Minggu Palmarum, penduduk Yerusalem mengelu-elukan Yesus dengan nyanyian “Hosana.” Namun di Minggu Sengsara, umat yang semula menyanjung Yesus berubah menjadi kumpulan orang yang melampiaskan kemarahan dan kebencian, sehingga Yesus disalibkan (harus dilihat dulu dasar Injil yg mana dipakainya menafsir). Dengan demikian di Minggu Prapaskah VI mengandung dua makna yang paradoksal . Realitas yang paradoks adalah makna kedua yang mengandung kebenaran, namun juga memiliki sifat yang kontradiktif. Walter Brueggemann dalam Texts for Preaching Year B menyarankan agar pengkhotbah memilih salah satu dari dua dimensi Minggu Prapaskah VI, yaitu Minggu Palma ataukah Minggu Sengsara. Namun perlu diingat bahwa pemilihan tema liturgi Minggu Sengsara bukan bertujuan pemberitaan firman mengulas kisah Jumat Agung. Makna Minggu Sengsara merupakan liturgi yang mempersiapkan umat untuk menghayati makna perayaan Triduum (trihari suci), yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah. Dalam hal ini pengkhotbah dapat mengulas lebih mendalam penafsiran Yesaya 50:4-9 dan Mazmur 31:10-17. Walaupun pengkhotbah akan memilih salah satu dimensi dari Minggu Prapaskah VI yaitu Minggu Palma ataukah Minggu Sengsara, namun penekanan pada salah satu dimensi tersebut tetap perlu ditekankan karakter paradoksalnya. Misalnya tekanan pada Minggu Palma, pengkhotbah tidak boleh lalai bahwa penduduk kelak Yerusalem akan menolak dengan berteriak untuk menyalibkan Yesus ( tergantung Injil mana yg dipakai menafsir). Demikian pula bila pengkhotbah tekanan Minggu Sengsara, ulasan teologis tentang masuknya Yesus ke kota Yerusalem dengan disambut dengan daun-daun palem harus diberi tempat yang proporsional. Dengan memperhatikan dua dimensi secara seimbang, maka perayaan Minggu Prapaskah VI akan dialami oleh umat sebagai perayaan kegembiraan namun juga dukacita, puji-pujian dan sikap hormat namun juga pengabdian. Dua dimensi yang kontradiktif dalam perayaan Minggu Prapaskah VI mengingatkan umat agar mengembangkan pemahaman iman yang lebih utuh dan luas, sehingga tidak terjebak pada pemahaman ideologi yang sempit dan fanatik. Umat dipanggil memahami diri Kristus secara utuh dan menyeluruh, sehingga mampu menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bagaimana umat mengembangkan hidup dalam integritas imannya di tengah-tengah sanjungan dan caci-maki sesama di sekitar.

(16022026)(TUS)

SUDUT PANDANG MINGGU PALMARUM

SUDUT PANDANG  MINGGU PALMARUM

PENGANTAR
Setelah kemarin menulis tentang Tri hari suci, mulai beranjak ada 2 tulisan untuk Minggu Palma dan Minggu Sengsara sebelum penulisan diakhiri dg Rabu Abu, seperti yg saya katakan,  penulisan dimulai dari belakang bergerak depan. Kebiasaan orang Yahudi menyambut raja adalah dengan mengelu-elukan memakai daun palem. Demikian pula yang terjadi saat Tuhan Yesus disambut oleh orang Israel. Mereka  memperlakukan Yesus sebagai Raja Israel, karena mereka melihat Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Yesus penuh kuasa dan Dialah yang diharapkan membebaskan umat Israel dari penjajahan Romawi waktu itu sebagaimana dinantikan oleh mereka, yakni raja yang secara lahiriah berkuasa dengan kekuatan luar biasa. Sedangkan kata Hosanna berasal dari kata Ibrani : Hosyi’ah Na. Ungkapan itu terdiri dari 2 kata Yasha (menyelamatkan) dan Na (doa/permohonan). Dalam konteks ini bermakna Aku berdoa dan selamatkan aku saat ini Tuhan. Dalam makna utuh ungkapan Hosana Raja Damai bisa diartikan bahwa orang Israel memohon Yesus membawa keselamatan besar yang menyelamatkan mereka dari penindasan Romawi sang penjajah saat itu. Mereka yakin akan kuasa dan wibawa Yesus, sehingga mereka mengelu-elukan-Nya layaknya raja pembebas dengan melambai-lambaikan daun Palem. Dalam situasi dan pengharapan besar inilah suasana penyambutan Yesus terjadi Menariknya saat memasuki Yerusalem , Yesus tidak menggunakan kuda atau kereta kencana yang ditarik kuda, namun hanya menunggang keledai tanpa kereta. Keledai sebenarnya dipakai juga oleh pemimpin saat itu bahkan raja, namun digunakan dalam keadaan damai. Kehadiran Yesus adalah kehadiran yang membawa damai dan bukan seperti raja yang menaklukkan wilayah pada umumnya. Mari bersama-sama menghayati Minggu Palmarum ini sebagai kesempatan untuk mencintai lebih sungguh Tuhan Yesus yang merebut kembali kita dari keberdosaan ini. Sambutlah masa raya ini dengan ungkapan daun Palem yang adalah cinta sejati kita. Setiap lambaian itu sebuah komitmen untuk tetap setia dan menempatkan Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Karena Dialah sumber semangat, pengharapan, dan juga keselamatan kita yang tak akan tergantikan oleh apapun. Dialah Raja untuk hidup.


ILUSTRASI
Saat seorang artis terkenal datang mengunjungi suatu tempat, banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai penataan jalan oleh polisi lalu lintas, pengamanan dari siapa saja yang boleh bertemu, bahkan sekedar melihat dan apa saja yang diperlukan untuk kegiatan ini. Biasanya saat pawai datang, banyak sekali orang yang berduyun-duyun datang untuk melihat artis kesayangannya ini, bila perlu naik pohon atau tangga supaya dia bisa melihat dengan jelas, dan pasti banyak kamera handphone yang mengabadikannya. Sorakan, teriakan, atau bahkan pujian sudah pasti membahana di jalan di mana artis tersebut melintas. Kegembiraan dan sukacita akan terasa bahkan setelah rombongan itu pergi meninggalkan mereka. Daun palma atau ranting zaitun sendiri kaya akan makna dalam budaya Timur Tengah, Yunani dan Romawi, serta dalam Kekristenan. Sebagai lambang damai, ranting zaitun biasanya dipakai untuk menampilkan dewi Eirene (Yun.) atau dewi Pax (Rom.), yaitu dewi Damai. Ranting zaitun biasanya dibawa oleh utusan kekaisaran romawi untuk mewartakan damai. Dalam budaya Yunani, Romawi, dan Timur Tengah, daun palma dan ranting zaitun adalah lambang kemenangan dan damai. Seorang pemenang – termasuk pemenang lomba Olimpiade- mendapatkan mahkota dari ranting zaitun. Dalam Kekristenan, misalnya dalam Why. 7:9, daun palma adalah daun yang dibawa oleh orang-orang yang telah melewati dan mengalahkan segala cobaan dan kesulitan hidup, serta tampil sebagai pemenang. Dalam Kekristenan, ranting zaitun dan daun palma biasanya ditampilkan bersama dengan burung merpati. Burung merpati melambangkan Roh Kudus. Kadangkala burung merpati ditampilkan sedang membawa dengan paruhnya ranting zaitun atau daun palma. Inilah lambang Roh Kudus yang membawa damai


PEMAKNAAN
Yesus sendiri adalah “Raja Damai” dan “damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya” (Yes. 9:5-6). Yesus yang adalah Raja Damai ditunjukkan pula dengan keledai yang ditunggangiNya. Za. 9:9-10 memaklumkan bahwa Mesias akan datang dengan menunggang keledai beban yang muda. Keledai adalah lambang damai. Seorang raja yang menunggang keledai berarti seorang raja yang memaklumkan damai. Seperti para murid Yesus dan orang banyak berarak memasuki Yerusalem dengan penuh damai dan sukacita, kita pula mau berarak sambil berseru: “Hosanna!”, yang artinya “Selamatkanlah kami, ya Tuhan!”. Kita berseru memohon semoga Sang Raja Damai menyelamatkan kita dari dengki dan iri, curiga dan dendam. Kita mohon semoga damai dan sukacita merajai hati kita, masyarakat kita, dunia kita.Kehadiran Tuhan Yesus disambut dengan luar biasa oleh orang Israel dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, seperti kedatangan artis terkenal yang diharapkan bisa memuaskan dahaga kerinduan dan harapan para pengikutnya. Mungkin kalau kita berada di antara kerumunan orang Israel juga akan menyambut-Nya demikian. Jika artis papan atas yang datang, tentu harapannya kita bisa berfoto selfie dan menikmati sajian entertain yang menghibur kita sepanjang kehadirannya. Dengan Tuhan Yesus semua orang Israel menyambut laksana raja, karena memiliki harapan yang luar biasa, yakni sang pembebas dari tirani penjajahan Romawi yang menindas mereka. Harapan ini ditumpahkan dalam bentuk sambutan melambaikan daun Palem, juga hamparan baju serta ranting di sepanjang jalan Tuhan Yesus melintas. Harapan orang Israel sangat tinggi kepada Tuhan Yesus, yakni membebaskan mereka dari kungkungan penjajahan Romawi. Menjadi bebas dan merdeka dipimpin oleh Tuhan Yesus sebagai raja. Ya raja seperti yang ada dalam pemerintahan dunia. Itu karena mereka melihat kuasa Tuhan Yesus yang sudah mereka kenal sebagai orang yang penuh kuasa, menghidupkan Lazarus (Yoh. 11:14 dan 11:43), Dia disebut anak Daud (Mat. 21:9), Sang Mesias yang diyakini orang Israel sebagai Sang Pembebas yang telah lama dinantikan. Ungkapan Hosanna yang berarti Tuhan selamatkan aku ya Tuhan , serta pengakuan Yesus adalah anak Daud memperlihatkan keyakinan penuh umat Israel akan kuasa Yesus sebagai Mesias Sang Pembebas yang akan mengalahkan penindas Romawi kala itu. Tidak heran jika orang Israel mengelu-elukan Yesus dengan penghargaan tertinggi seperti menyambut raja. Lambaian daun palem ini seperti sebuah penahbisan Yesus sebagai raja sebagaimana dipahami orang Yahudi yang berhadapan langsung dengan penguasa penjajah saat itu. Pasti semua orang bersuka jika benar seperti itu, namun Tuhan Yesus tidak hadir sebagaimana dibayangkan, karena Tuhan Yesus bukan datang sebagai Raja seperti halnya kaisar Romawi. Tidak heran kalau akhirnya orang Israel kecewa. Kekecewaan itu terjadi saat kehadiran Tuhan Yesus tidak seperti yang diharapkan bisa kita ketahui pada peristiwa selanjutnya. (Lihat Mat. 27:22-25, Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!” Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!” Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”). Orang Israel tidak hanya menuntut agar Yesus disalibkan, mereka bahkan bersedia menanggung resiko atau dosa sampai anak-anak mereka. Rasa hormat, cinta bahkan berharap luar biasa pada Tuhan Yesus di waktu Minggu Palmarum bisa berubah sebaliknya tidak sampai hitungan bulan. Sebuah ironi bahwa hari Palmarum ini yang sebenarnya juga bisa terjadi pada diri kita pula. Kita mengingkari Tuhan, karena kecewa dan Tuhan tidak seperti yang kita harapkan dalam hidup ini. Hari ini kita merayakan Minggu Palmarum, mengenang arak-arakan Tuhan Yesus menuju Yerusalem dengan sorak sorai. Sudahkah kita menyambut Tuhan Yesus masuk di dalam hati kita dengan seluruh cinta dan pengharapan kita? Tentu kita tidak akan bersikap seperti halnya orang Israel yang dengan mudah berubah hati dan berbalik mengingkari kesetiaan dan cinta itu. Bagi orang percaya dan pengikut Tuhan Yesus, kesetiaan itu sampai akhir, tidak dipengaruhi oleh apapun bahkan oleh keindahan dunia yang ditawarkannya. Kasih Tuhan Yesus, pengharapan yang dibawa-Nya adalah kekal untuk mereka yang setia. Dalam doa itulah kita berkata Hosanna, Tuhan Yesus hadirlah membawaku dalam keselamatan-Mu. Bawalah aku dalam kedamaian sejati itu untuk menghadirkannya di dunia di tempat di mana aku berada. Kehadiran Tuhan Yesus disambut dengan luar biasa oleh orang Israel dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, seperti kedatangan artis terkenal yang diharapkan bisa memuaskan dahaga kerinduan dan harapan para pengikutnya. Mungkin kalau kita berada di antara kerumunan orang Israel juga akan menyambut-Nya demikian. Jika artis papan atas yang datang, tentu harapannya kita bisa berfoto selfie dan menikmati sajian entertain yang menghibur kita sepanjang kehadirannya. Dengan Tuhan Yesus semua orang Israel menyambut laksana raja, karena memiliki harapan yang luar biasa, yakni sang pembebas dari tirani penjajahan Romawi yang menindas mereka. Harapan ini ditumpahkan dalam bentuk sambutan melambaikan daun Palem, juga hamparan baju serta ranting di sepanjang jalan Tuhan Yesus melintas. Harapan orang Israel sangat tinggi kepada Tuhan Yesus, yakni membebaskan mereka dari kungkungan penjajahan Romawi. Menjadi bebas dan merdeka dipimpin oleh Tuhan Yesus sebagai raja. Ya raja seperti yang ada dalam pemerintahan dunia. Itu karena mereka melihat kuasa Tuhan Yesus yang sudah mereka kenal sebagai orang yang penuh kuasa, menghidupkan Lazarus (Yoh. 11:14 dan 11:43), Dia disebut anak Daud (Mat. 21:9), Sang Mesias yang diyakini orang Israel sebagai Sang Pembebas yang telah lama dinantikan. Ungkapan Hosanna yang berarti Tuhan selamatkan aku ya Tuhan , serta pengakuan Yesus adalah anak Daud memperlihatkan keyakinan penuh umat Israel akan kuasa Yesus sebagai Mesias Sang Pembebas yang akan mengalahkan penindas Romawi kala itu. Tidak heran jika orang Israel mengelu-elukan Yesus dengan penghargaan tertinggi seperti menyambut raja. Lambaian daun palem ini seperti sebuah penahbisan Yesus sebagai raja sebagaimana dipahami orang Yahudi yang berhadapan langsung dengan penguasa penjajah saat itu. Pasti semua orang bersuka jika benar seperti itu, namun Tuhan Yesus tidak hadir sebagaimana dibayangkan, karena Tuhan Yesus bukan datang sebagai Raja seperti halnya kaisar Romawi. Tidak heran kalau akhirnya orang Israel kecewa. Kekecewaan itu terjadi saat kehadiran Tuhan Yesus tidak seperti yang diharapkan bisa kita ketahui pada peristiwa. Orang Israel tidak hanya menuntut agar Yesus disalibkan, mereka bahkan bersedia menanggung resiko atau dosa sampai anak-anak mereka. Rasa hormat, cinta bahkan berharap luar biasa pada Tuhan Yesus di waktu Minggu Palmarum bisa berubah sebaliknya tidak sampai hitungan bulan. Sebuah ironi bahwa hari Palmarum ini yang sebenarnya juga bisa terjadi pada diri kita pula. Kita mengingkari Tuhan, karena kecewa dan Tuhan tidak seperti yang kita harapkan dalam hidup ini. Hari ini kita merayakan Minggu Palmarum, mengenang arak-arakan Tuhan Yesus menuju Yerusalem dengan sorak sorai. Sudahkah kita menyambut Tuhan Yesus masuk di dalam hati kita dengan seluruh cinta dan pengharapan kita? Tentu kita tidak akan bersikap seperti halnya orang Israel yang dengan mudah berubah hati dan berbalik mengingkari kesetiaan dan cinta itu. Bagi orang percaya dan pengikut Tuhan Yesus, kesetiaan itu sampai akhir, tidak dipengaruhi oleh apapun bahkan oleh keindahan dunia yang ditawarkannya. Kasih Tuhan Yesus, pengharapan yang dibawa-Nya adalah kekal untuk mereka yang setia. Dalam doa itulah kita berkata Hosanna, Tuhan Yesus hadirlah membawaku dalam keselamatan-Mu. Bawalah aku dalam kedamaian sejati itu untuk menghadirkannya di dunia di tempat di mana aku berada. Palmarum bukan tentang euforia karena kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan harapkan. Palmarum adalah ujian iman kita semua, tetapkah aku setia kepada Tuhan Yesus penebusku di saat apapun yang terjadi di hidup ini? Tuhan memerlukan keledai yang sederhana, bahkan tidak terlihat ke mana setelah tujuan sudah dicapai. Mari kita belajar untuk siap dilupakan, namun tetap setia saat Tuhan memerlukannya. Talenta dan karunia yang diberikan kepada kita berupa kepandaian, harta, juga kesempatan setiap saat diperlukan-Nya. Mari kita tanpa takut dan enggan memberikannya dengan sukacita di hari mengenang-Nya. Bukan teriakan membahana yang diperlukan, namun jalan sederhana nan tetap ketika mengikut, setia sampai kapanpun Tuhan mengajak kita pulang kelak. Palmarum adalah sisi lain jalan salib dan ujian kita adalah setia dan mempertahankannya saat berada dalam dua keadaan itu, suka dan duka sampai kesudahan hidup ini. Dan inilah perjuangan iman yang sebenarnya. Mari bersama-sama menghayati Minggu Palmarum ini sebagai kesempatan untuk mencintai lebih sungguh Tuhan Yesus yang merebut kembali kita dari keberdosaan ini. Sambutlah masa raya ini dengan ungkapan daun Palem yang adalah cinta sejati kita. Setiap lambaian itu sebuah komitmen untuk tetap setia dan menempatkan Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Karena Dialah sumber semangat, pengharapan, dan juga keselamatan kita yang tak akan tergantikan oleh apapun. Dialah Raja untuk hidup bahkan mati kita.

(25032025)(TUS)

SUDUT PANDANG Minggu Palmarum Minggu Sengsara ala Injil Lukas

SUDUT PANDANG Minggu Palmarum Minggu Sengsara ala Injil Lukas 

PENGANTAR 
 Ada dua peristiwa yang beririsan dalam  masa raya Prapaskah Pskah, yaitu 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘚𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯). Secara tradisi ibadah Gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat. 


PEMAHAMAN
Dalam khotbah Minggu Palem kita sering mendengar pengkhotbah mimbar berkata bahwa mereka yang mengelu-elukan Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem akan berubah seketika dan meneriakkan “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢!”. Ini keliru!Ini tentang kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 ada di keempat kitab Injil, tetapi setiap kisah itu diungkapkan dengan cara berbeda-beda menurut teologi yang diusung oleh masing-masing petulis Injil. Perbedaan yang mencolok dalam Injil Lukas adalah Yesus seolah-olah tidak masuk ke Yerusalem, melainkan langsung ke Bait Suci. Sejak semula Bait Suci menjadi pumpun Lukas; berawal dari Bait Suci (Luk. 1:11) dan berakhir di sana (Luk. 24:53).
Secara umum Lukas mengikuti Markus: 
(1) Yesus mengutus dua murid-Nya untuk mencari seekor anak keledai, 
(2) Yesus dielu-elukan oleh murid-murid-Nya, dan 
(3) Yesus menyucikan Bait Allah. 
Namun, Lukas tidak mengutip teks dari kitab Zakharia (repotnya, seringkali saat bacaan Injil ada di Injil LUKAS liturgi dibuat tetap mengangkat kitab zakharia, padahal teologi yg diusung beda, tapi memang banyak yg tidak mengerti) dan tidak bercerita tentang ranting-ranting yang disebarkan di jalan. Lukas juga menghilangkan episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢 dan menggantinya dengan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah sebelum 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘑𝘰𝘶𝘳𝘯𝘦𝘺 𝘕𝘢𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦).
Lukas 19:28-40 merupakan awal babak terakhir cerita Injil 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. Sesudah perjalanan panjang dari Lukas 9:51, Yesus akhirnya tiba di kota tujuan. Kota Yerusalem menjadi tempat terakhir sebelum Yesus diangkat ke surga. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 (Luk. 9:51).
 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 (ay. 28). Apakah semuanya itu? Dengan merujuk teks maka yang dimaksud adalah 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘯𝘢 dalam Lukas 19:11-27. Penginjil Lukas diduga memberi 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘧𝘴𝘪𝘳 sebagai 𝘱𝘳𝘢𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 untuk memahami cerita dalam perikop Lukas 19:28-40 yang diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. 

Prapaham itu:
(1) Kerajaan Allah belum akan datang secara penuh (𝘶𝘭𝘵𝘪𝘮;  ay. 11), walaupun Yesus sudah disebut sebagai 𝘳𝘢𝘫𝘢 oleh para murid-Nya.
(2) Yesus memang sudah disebut sebagai raja ketika Ia memasuki Yerusalem (ay. 38). Namun, penobatan yang sesungguhnya baru akan terjadi sesudah Ia menjalani penderitaan-Nya, yaitu ketika Ia diangkat ke surga (ay. 12).
(3) Para murid yang menyebut Yesus sebagai raja (ay. 38) adalah mereka yang bersikap sebagai hamba yang melaksanakan tugasnya dalam menggunakan modal dagang (uang mina) yang diberikan tuannya, yaitu hamba kesatu dan hamba kedua.
(4) Orang Farisi yang menolak Yesus sebagai raja (Luk. 39) adalah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘴𝘪 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘫𝘢 (Luk. 19:14) dan juga hamba yang tidak melaksanakan tugasnya, yaitu hamba ketiga.

Sering kita mendengar pengkhotbah berkata bahwa mereka yang mengelu-elukan Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem akan berubah seketika dan meneriakkan “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢!”. Ini keliru! Pengkhotbah harus berpumpun pada teks Injil Lukas, bukan membuat Kitab Injil baru.

Dalam kisah ini orang-orang yang menyambut Yesus adalah 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘶𝘬𝘫𝘪𝘻𝘢𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 (Luk. 19:37). Mereka berbeda dari orang-orang yang berteriak “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢! 𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢!” (Luk. 23:21). Orang-orang yang berteriak begitu adalah 𝘪𝘮𝘢𝘮-𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯-𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 (Luk. 23:13).

Dalam perikop Lukas 19:28-40 penginjil Lukas tampaknya hendak menekankan topik Yesus sebagai raja. Tafsiran ini didukung oleh dua hal. Kesatu, perumpamaan tentang uang mina di perikop sebelumnya (Luk. 19:12). Kedua, petulis Injil Lukas menambahkan kata 𝘳𝘢𝘫𝘢 pada kutipan Mazmur 118:26 pada ayat 38. 
 
Pertanyaan selanjutnya: 𝘙𝘢𝘫𝘢 seperti apakah yang dibayangkan oleh pengarang Injil Lukas?

Kesatu, Lukas tidak menolak pendapat bahwa Yesus adalah raja keturunan Daud (Luk. 1:27, 32-33; 2:4). Akan tetapi Yesus bukan sekadar raja bagi orang Yahudi. Yesus adalah anak Adam dan anak Allah (Luk. 3:38). Itu berarti Yesus adalah raja atas semua umat manusia (Luk. 22:29-30). Yesus dimuliakan Allah sebagai Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36; Kisah Para Rasul sering disebut Injil Lukas jilid ke-2 karena ditulis oleh pengarang yang sama.). 
 
Pengakuan Yesus sebagai raja harus datang dari hati atau dari iman. Yesus menerima pengakuan yang datang dari murid-murid-Nya (ay. 38-40). Akan tetapi Yesus menolak tuduhan dirinya sebagai raja atau raja orang Yahudi ketika hal itu ditempatkan dalam konteks politik berhadapan dengan kaisar (Luk. 23:2-3). Yesus juga menolak sebutannya sebagai 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 ketika hal itu diungkapkan sebagai ejekan (Luk. 23:37). 

Kedua, Injil Lukas yang ditulis pada masa pergumulan jemaat akibat penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 tetap mengingatkan pembacanya bahwa Sang Raja dari Kerajaan Allah itu akan datang kembali dan akan meminta pertanggungjawaban atas uang mina yang telah diberikan-Nya (Luk. 19:12-27). Apa itu parousia?

𝘗𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 bersinonim dengan 𝘱a𝘳𝘦𝘪𝘮𝘪 yang secara literal berarti hadir. 𝘗𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 merujuk kunjungan penguasa atau petinggi negara yang disambut meriah. Dalam hal teologi Kristen 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 merujuk kedatangan Yesus kembali. Masalahnya, umat atau jemaat pada waktu itu sudah dipengaruhi oleh ajaran atau Surat-surat Paulus (ditulis pada masa 40 – 60 ZB sebelum ada Injil Lukas) yang mengatakan bahwa 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 segera terjadi pada saat mereka masih hidup. Faktanya 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 belum terjadi sampai Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus dari Roma pada 70 ZB.

Lukas harus menanggapi pergumulan jemaat sehubungan dengan penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 tersebut. Lukas menyampaikan bahwa masa penundaan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 adalah 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵: 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗲𝗺𝗮𝘀 untuk bertobat dan hidup sesuai ajaran Kristus sampai Sang Raja itu datang kembali.

(13042025)(TUS)

Sabtu, 14 Februari 2026

Sudut Pandang 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖

Sudut Pandang 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖

PENGANTAR
Penolakan Gereja tertentu atas penerapan bacaan ekumenis atau leksionari (𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 - RCL) pada umumnya menunjuk semangat Reformasi Gereja atas kesetaraan bacaan. Jika dilihat alasan penolakan itu lebih dalam lagi sebenarnya bukan karena alasan historis, melainkan ideologis. 

PEMAHAMAN
Apabila kita melongok tekanan bapak-bapak reformasi terhadap kesetaraan bacaan, itu berakar pada polemik melawan hierarki sakramental pada abad pertengahan, bukan (terutama) tentang struktur bacaan. Kesetaraan bacaan bukanlah pendakuan metafisika murni, melainkan lahir dalam pergulatan historis. Buktinya Martin Luther sebal pada kehadiran Surat Yakobus. Buktinya lagi penginjilan orang mati dalam Surat Petrus selalu menjadi teks yang canggung dalam tradisi Protestan, karena bersinggungan dengan wilayah doktrin Katolik tentang 𝘥𝘦𝘴𝘤𝘦𝘯𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘥 𝘪𝘯𝘧𝘦𝘳𝘰𝘴, padahal ada dalam frase 𝘚𝘺𝘢𝘩𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘪. Di sini Reformasi tidak selalu panggah secara hermeneutis dan dibiarkan samar.

RCL justru lahir dari gerakan ekumenis abad ke-20 yang banyak dipengaruhi studi liturgi Gereja Protestan Reformir dan Katolik. Reformasi liturgi Katolik yang diinspirasi oleh Protestan Reformir pada akhir abad ke-19, sejak Konsili Vatikan II makin diperkaya dengan kajian-kajian dari Gereja Protestan Reformir. Ironisnya sebagian Gereja Protestan Reformir kembali ke ibadah klerus yang 𝘬𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩-𝘴𝘦𝘯𝘵𝘳𝘪𝘴, dan sebetulnya tak sejalan dengan apa yang diusung Bapa-Bapa Reformasi.

Tanpa leksionari, tanpa siklus tahun liturgi, jemaat tidak dibentuk oleh keseluruhan narasi keselamatan, melainkan oleh selera pengkhotbah mimbar, baiknya di GKJ ada khotbah jangkep, di GKI dan lainnya ada semacam itu. Dulu imam berdoa dengan bahasa Latin, yang umat tidak memahaminya. Sekarang pengkhotbah mimbar memilih teks, yang umat tak pernah dan tak boleh memertanyakan. Itu sudah pergumulan kami! Itu ilham dari Roh Kudus! Bentuknya berbeda, tetapi strukturnya mirip: kendali ada pada pengkhotbah mimbar. Ini adalah ibadah klerus terselubung.

Leksionari menampilkan proses Gereja hendak dibentuk. Strukturnya sbb.:
▶️ Taurat atau Kitab Nabi-nabi
▶️ Mazmur Tanggapan
▶️ Epistel atau Surat Rasuli
▶️ Injil

Di sini jemaat tidak memilih cerita keselamatan, melainkan cerita keselamatanlah yang membentuk jemaat, itulah gunanya BACAAN SABDA. Apabila struktur itu hilang, maka risiko yang timbul Gereja dibentuk oleh selera, bukan oleh kanon. Bukan 𝘚𝘰𝘭𝘢 𝘚𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘢, melainkan 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖.

Apakah leksionari merupakan kebutuhan teologis mutlak? Tentu tidak. Tidak ada dalam Alkitab perintah bahwa dalam ibadah harus menerapkan tiga bacaan. Gereja perdana pun tidak berpola kaku. Jadi? Struktur tiga bacaan mencerminkan sebuah teologi:
▶️ Kesatuan Kanon. Allah berbicara melalui bangsa Israel (PL), doa umat (Mazmur), Gereja yang rasuli (Epistel), dan Kristus (Injil). Berpusat pada Allah yang disebut Bapa oleh Kristus.
▶️ Berpusat pada Injil tanpa menyingkirkan PL sekaligus Gereja yang rasuli tetap bersuara. Teologi kanonik yang konkret. Pusat ke Kristus.
▶️Surat-surat adalah penampakan Roh Kudus dalam karya gereja. Siklus leksionari seturut tahun liturgi memastikan umat mendengar hampir seluruh drama keselamatan dalam tiga tahun. Tanpa itu itu umat akan hidup dalam 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖.

Bukankah dengan melihat Struktur bacaan sabda, atau struktur 3 bacaan, sebetulnya kita melihat kerangka pemahaman Tritunggal ala GKJ yang tercantum dalam pokok-pokok ajaran. Struktur tiga bacaan adalah kebutuhan pedagogis-eklesial sebagai sarana pembentukan iman. Ironisnya di sini Gereja Katolik justru melaksanakan semboyan Protestan Reformir 𝘚𝘰𝘭𝘢 𝘚𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘶𝘳𝘢, sedang Protestan Reformir malah menuju ibadah klerus yang 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖.

Apakah Gereja Protestan Reformir yang panggah dengan leksionari otomatis lebih sehat secara teologis? Saya tidak berkata akan lebih sehat, tetapi bukan tanpa dampak. Dengan penerapan leksionari:
▶️ Kanon lebih utuh terdengar. Narasi keselamatan menjadi serbacakup (𝘤𝘰𝘮𝘱𝘳𝘦𝘩𝘦𝘯𝘴𝘪𝘷𝘦).
▶️ Irama tahun gerejawi membentuk spiritualitas. Masa Adven melatih pengharapan; Pra-Paska melatih pertobatan; Paska melatih sukacita eskatologis. Ini proses keberlanjutan.
▶️ Mencegah 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖. Leksionari adalah pagar, bukan mesin otomatis kesehatan gereja. Ia membatasi kemungkinan penyimpangan tertentu.

Namun, meskipun sudah menerapkan leksionari, kesehatan teologis Gereja sangat bergantung pada hermeneutika / tafsir Alkitab yang jujur, gairah belajar pengkhotbah mimbar, dan kesadaran eklesial. Leksionari hendak membentuk kesadaran ini dengan menjembatani Gereja lokal dan Global.

(16022026)(TUS)

Jumat, 13 Februari 2026

Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran

 Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran

PENGANTAR
Keluaran 24: 12-18 Bacaan 1 Minggu ini 15022026 adalah tentang arah rujukan perubahan hidup bangsa Israel itu  10 perintah Allah. 10 Perintah Allah menjadi patokan pengajaran dan arah hidup bangsa Israel, bangsa Israel harus mendengar Allah lewat kepatuhan serta ketaatan akan 10 perintah Allah. Bacaan 2, 15022026, II Petrus 1: 16-21, adalah kesaksian Petrus akan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, transfigurasi atau alih rupa Yesus, merujuk pada karya Roh Kudus, semua apa yang diteladankan dan hikmat pengajaran Yesus itu adalah karya Roh Kudus, mendengarkan Yesus itu karya Roh Kudus, perhatian ayat 21 : 2 Petrus 1:21 (TB)  sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Bacaan Injil, Matius 17: 1-9, Minggu 15022026, menjelaskan perkara transfigurasi atau alih rupa Yesus, itu menunjukan bahwa Yesus itulah yang harus didengarkan umat, teladan dan hikmat pengajaran Yesus lah yg harus jadi rujukan umat dalam perubahan hidupnya,  Israel tolok ukurnya 10 perintah Allah yg dibawa Musa, pengajaran nabi Elia, Nabi Elia mendapat tempat khusus bagi Israel, 2 Raja-raja 2:9, 15 (TB)  Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu."  
Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah, Nabi Elisa demikian dihormati karena dianggap bangsa Israel dipenuhi Roh Nabi Elia, tetapi sekarang umat yg dijadikan tolok ukurnya adalah teladan dan hikmat pengajaran Yesus, maka dengarkanlah Dia, mendengarkan Yesus, meneladan dan menghikmati pengajaran Yesus, itu menunjukan karya Roh Kudus. Meneladan dan menghikmati pengajaran Kristus itu amanat agungnya cuman dua, hukum kasih,
1. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Matius 22:37)
2. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39)
Hukum kasih ini merupakan inti dari ajaran Yesus, penggenapan Kristus atas hukum taurat, 10 perintah, dan merupakan prinsip dasar bagi kehidupan umatNya. Keinginan serta semangat melakukan hukum kasih sebagai amanat agung kehidupan adalah dorongan Roh Kudus dan itu mendengarkan Yesus, seperti kesaksian Petrus dan kisah transfigurasi. Hukum Kasih itu spectrum dan cakupannya luas walaupan hanya 2 hal pokok, karena itu menyangkut kebenaran, keadilan,hukum, kesetiaan, dlsb. Melihat karya Roh di sini, membuat kita melihat bahwa karya Roh bukan perkara supranatural saja, bukan perkara mukjizat, bahkan aksi supernatural tetapi meneladan dan menghikmati ajaran Yesus untuk dipraktekan dalam keseharian hidup sebagai respon kita atas anugerah keselamatan. Trus kalau begitu bagaimana konsep menyembah dalam Roh dan Kebenaran?


PEMAHAMAN
Ayat Alkitab yang berbicara tentang menyembah dalam Roh dan kebenaran adalah Yohanes 4:24, di mana Yesus berkata:

"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Dulu, saya waktu remaja pemuda pernah berpikir bahwa "menyembah dalam Roh dan kebenaran" berarti menyembah dengan bahasa roh, penuh dengan kesan supernatural, dan penuh mukjizat spektakuler. Semakin ekspresif, semakin rohani, begitu kira-kira. Namun saat ini, ketika saya membaca Yohanes 4 dengan lebih teliti, saya sadar: Yesus sama sekali tidak sedang membahas kisah supernatural, supranatural , dlsb seperti pengkhotbah motivasi mimbar. Konteksnya adalah, la sedang berbicârâ dengan seorang perempuan Samaria, dan percakapan mereka berakar pada konflik politis panjang antara orang Yahudi dan orang Samaria. Orang Yahudi, meyakini bahwa Yerusalem adalah satu-satunya tempat ibadah yang sah, karena di sanalah Bait Allah berdiri.  Perbedaan ini bukan sekadar soal lokasi, tetapi menyentuh identitas, dan klaim kebenaran serta politis perseteruan. Karena itulah perempuan Samaria itü bertanya: "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetâpi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat oranğ menyembah.” (Yohanes 4:20), Di tengah perdebatan itulah Yesus menggeser fokus secara radikal. "Tetapi saatnya akan datang dqn sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yoh. 4:23). Artinya:
bukan lagi soal di mana kita menyembah, melainkan siapa yang kita sembah dan bagaimana hati kita diarahkan kepada-Nya. Ibadah sejati bukan terutama perkara soal lokasi, bentuk, gaya, atau suasana, bahkan nuansa melainkan respons hati yang dihidupkan oleh Roh Kudus dan dituntun oleh kebenaran dan keadilan Allah. Pemahaman ini bukan gagasan baru. Gereja sepanjang sejarah membaca ayat ini dengan cara yang sama.

Bapa Gereja St. Agustinus dari Hippo menulis: "Mereka yang ményembah dalam Roh dan kebenaran adalah mereka yang disucikan oleh Roh Kudus dan dipimpin oleh Kebenaran, yaitu Kristus sendiri."
(Tractates on the Gospel of John, 1527)

Bapa Gereja låin, St. Yohanes Krisostomus, menegaskan bahwa Yesus mengalihkan manusia dari penyembahan yang terikat
tempat menuju penyembahan ygng dilakukan dengan jiwa yang murni."
(Homilies on the Gospel of John, Homily 33)

John Calvin menjelaskan:
"Karena Allah adalah Roh, la menuntut penyembahan yang rohani; bukan yang hanya terdiri dari bentuk-bentuk lahiriåh, tetapi yang berasal dari hati dan diilhami oleh Roh Kudus." (Commentary on John 4:23-24)

Dalam konteks yang lebih kontemporer, Teolog John Piper merangkumnya dengan sederhana: 
"Menyembah dalam Roh berarti hati dan pikiran kita digerakkan oleh Roh Kudus; menyembah dalam kebenaran berarti ibadah kita dibentuk dan dipenuhi oleh kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Kristus."
(Desiring God, Chapter 3)

Karena itu, menyembah dålam Roh bukan pertama-tama soal pengalaman rohani yang meluap-luap, mukjizat spektakuler, supernatural ,supranatural, dlsb melainkan ibadah yang lahir dari hati yang telah diperbarui yang diwujudkan dalan tindakan keseharian hidup sebagai respon bermartabat atas anugerah keselamatan. Dan menyembah dalam kebenaran bukan soal gaya musik, bentuk liturgi, atau suasana emosional, altar call, kebaktian kebangunan rohani, dlsb. melainkan ibadah yang berakar pada firman dan berpusat pada' Kristus, yaitu Dia yang adalah Kebenaran itu sendiri (Yoh. 14:6). Ibadah yang penuh pengenangan akan karya Kristus yang dirayakan (selebrasi), kemudian dilanjutkan Dengan ibadah perwujudan kenangan karya Kristus itu dalam tindakan dan sikap hidup keseharian sebagai sebuah aksi hidup mewujudkan Kristus nyata dalam  kehidupan. Pengalaman rohani itu penting, ekspresi ibadah juga berharga, percaya mukjizat itu ada, sangat dimungkinkan aksi supernatural ataupun supranatural itu ada, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, tetapi janganlah menjadi fokus sampai kehilangan akal sehat, akal sehatlah itu karya Roh Kudus untuk menggapai ukuran tangan Allah.
Namun semuanya perlu diuji oleh firman dan dituntun kepada Kristus. Karena pada akhirnya, Bapa mencari penyembah-penyembah yang menyembah-Nya bukan hanya dengan bibir dan perasaan, tetapi dengan hati yang dihidupkan Roh Kudus diwujudkan dalam tindakan keseharian. 

(14022026)(TUS)










Kamis, 12 Februari 2026

Sudut Pandang Rabu Abu

Sudut Pandang Rabu Abu

PENGANTAR
Dalam liturgi dikenal ungkapan atau istilah 𝘔𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢. Hari raya umat Kristen bermula dari dan berpusat pada Misteri Paska. Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Pertanyaannya, mengapa ada kata 𝗺𝗶𝘀𝘁𝗲𝗿𝗶? Misteri Paska adalah serapan dari ungkapan Latin 𝘔𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮, kita akan mendiskusikan kata 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮 selalu saling berpautan. Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, dlsb adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. Realitas keselamatan yang tak kelihatan itulah yang dimaksud dalam kata misteri dalam Misteri Paska. 
𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 menurut 𝗥𝗲𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶
Martin 𝗟𝘂𝘁𝗵𝗲𝗿:
Sakramen adalah janji Allah yang kelihatan, tetapi janji itu diterima oleh iman. Sakramen tanpa iman tidaklah bermaslahat. Sakramen memberi anugerah, sedang iman adalah tangan yang menerima.

Jean 𝗖𝗮𝗹𝘃𝗶𝗻: 
Sakramen adalah tanda dan meterai anugerah. Roh Kudus bekerja melalui sakramen, tetapi partisipasi efektifnya terjadi dalam iman. Sakramen bukan simbol kosong, tetapi juga bukan otomatis bekerja tanpa iman.

Huldrych 𝗭𝘄𝗶𝗻𝗴𝗹𝗶:
Sakramen adalah tanda peringatan dan pengakuan iman. Iman mendahului, sakramen meneguhkan iman.

Luther dan Calvin mirip, tetapi Zwingli berkebalikan.

Bagaimana pandangan Gereja protestan reformir yang adalah keturunan Gereja Reformasi? Pertanyaan tepatnya adalah bagaimana pandangan saya sebagai warga Gereja Protestan Reformir? Sebagai warga Gereja Protestan Reformasi saya menganut semboyan tradisi Gereja Protestan Reformasi, 𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. Sakramen meneguhkan iman sekaligus anugerah tanpa pertumbuhan iman adalah sia-sia. Ada perbedaan tipis masa Pra-Paska dan masa SEBELUM hari Paska. Masa Pra-Paska berakhir pada Kamis Putih. Jumlah hari SEBELUM hari Paska adalah 40 hari tanpa menghitung Minggu. Minggu ini (15/2) disebut 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗳𝗶𝗴𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶 sebagai penutup Minggu-Minggu Epifani. Selanjutnya akan disebut Minggu-Minggu dalam Pra-Paska. Masa Pra-Paska Tahun A akan dimula pada Rabu, 18 Februari 2026. Rabu itu disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂.
Ada tradisi berpuasa dan berpantang selama 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Tradisi berpuasa dan berpantang ini dikanonkan oleh Gereja Khatolik Roma. Sejalan dengan semangat ekumenis tradisi ini juga diterima oleh Gereja Protestan Reformir. Namun, dalam praktik di Indonesia terjadi 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗽𝗿𝗮𝗵 pada puasa dan pantang. Kewajiban berpantang dilakukan oleh warga berusia 14 tahun ke atas (Kanon 1983), sedang kewajiban berpuasa dilakukan oleh warga dewasa sampai usia awal 60-an (Kanon 1252). Di Indonesia usia dipandang sudah dewasa pada umur 18 tahun. Dalam pada itu hari-hari yang diterapkan untuk kewajiban berpuasa dan berpantang selama masa SEBELUM hari Paska:
𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮: hanya pada Rabu Abu dan Jumat Agung.
𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴: hanya pada Rabu Abu dan setiap Jumat selama masa SEBELUM hari Paska.
Di luar hari-hari itu adalah keputusan pribadi dan 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢. Jangan seperti yang sering memfitnah Yesus memberi perintah “Jadilah garam dan terang dunia.” Yesus tidak pernah memberi perintah itu. Yang Yesus katakan, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩... “.
Saya tidak akan pernah membantah bahwa berpuasa itu wajib hukumnya. Anda menjalani berpuasa karena alasan kewajiban adalah sah-sah saja dan tidak keliru.
Anda berhenti di persimpangan lampu lalin yang sedang menyala merah adalah benar, karena sudah peraturannya lampu merah tanda berhenti. Namun jika dilihat dari skala keputusan etis menurut Lawrence Kohlberg, keputusan anda berhenti karena perintah/kewajiban masih pada tataran prakonvensional atau primitif. Tindakan etis anda untuk berhenti akan meningkat apabila anda berhenti karena memertimbangkan keselamatan bersama. Jika anda melanggar, anda bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Jadi keputusan anda berhenti di lampu merah secara etis atau moral sudah meningkat.
Demikian halnya anda berpuasa karena semata-mata kewajiban secara etis masuk dalam tataran prakonvensional. Tidak salah, tetapi secara etis masih primitif.
Bapa Gereja Koptik Mesir Antonius dari Pispir atau yang juga dikenal dengan Anthony The Great (hidup sekitar abad 3 – 4) terkenal dengan ajaran berpuasanya. Ia mengenalkan berpuasa setiap Rabu dan Jumat selain berpuasa menurut kalender atau tahun liturgi gereja.
Ia melakukan ritual berpuasa Rabu dan Jumat bukanlah tanpa alasan. Suatu hari Antonius didatangi pengemis yang sudah tak makan beberapa hari meminta makanan dan uang. Antonius hanya memiliki makanan. Ia kemudian memutuskan tidak makan siang agar jatah makan siangnya bisa dimakan oleh pengemis. Selanjutnya Antonius secara rutin berpuasa pada Rabu dan Jumat dengan maksud agar jatah makan siangnya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia berpuasa agar orang bisa makan.
Dari teladan (Santo) Antonius ini kita bisa meningkatkan keputusan etis berpuasa tidak sekadar menjalani kewajiban. Kita berpuasa agar orang lain bisa makan. Berikan jatah makan siang kita kepada orang yang membutuhkan makan, bukan untuk dipindahkan dan menambah porsi buka puasa. Dengan begitu tindakan etis kita untuk berpuasa menjadi meningkat. Bukan sekadar menjalani kewajiban.
Pada Rabu ini umat Kristen memula 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Hari kesatu Pra-Paska disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂. Rabu Abu 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘄𝗮𝗹 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 karena belum Paska. Kristus belum bangkit. Apa itu Rabu Abu?


PEMAHAMAN 
Hari raya liturgi dimula dari dan berpusat pada misteri Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Pada mulanya tidak ada penyusunan sistematis dan terencana. Gereja dengan spontan menanggapi atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja kemudian merapikan ketidakteraturan itu. Mereka membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga bermakna, bertema, dan bercerita sehingga mengajar umat. Dasar penyusunan tahun liturgi ialah pemahaman soal waktu yang dipahami sebagai momen Allah berkarya. Gereja merayakan kehadiran Allah di dalam waktu dalam ibadah. Waktu gereja merujuk kesaksian Alkitab yang dibaur dengan kalender masyarakat 𝘪𝘯 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴.
Pada awal kekristenan masa Pra-Paska dimula pada Minggu 𝘤𝘢𝘱𝘶𝘵 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢. Namun jumlah hari tidak genap 40 hari seperti masa puasa Yesus. Pada abad VI masa Pra-Paska ditambah empat hari sehingga jatuh pada Rabu, yang kemudian disebut Rabu Abu, dan jumlah hari menjadi 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Jadi, kalau Gereja menulis Minggu I , Minggu II, dst. sampai Minggu VI Pra-Paska itu merujuk hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺), bukan pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). 
Masa Pra-Paska dimula dari Rabu Abu dan berakhir pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵. Istilah Pra-Paska adalah khas Indonesia. Bahasa Inggris menggunakan 𝘭𝘦𝘯𝘵 atau 𝘭𝘦𝘯𝘵𝘦𝘯, yang berasal dari 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘵𝘦𝘯 (Anglo-Saxon) atau 𝘭𝘦𝘯𝘻 (Jerman). Kata itu bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) erat dengan 𝘭𝘢𝘯𝘨 atau 𝘭𝘰𝘯𝘨 karena siang menjadi lebih panjang menjelang musim semi. Orang Italia menyebut Pra-Paska dengan 𝘲𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢, sedang Spanyol menyebut 𝘤𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘮𝘢, yang berakar dari kata Latin 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢 (empat puluh).
Disebut dengan Rabu Abu di sini Gereja hendak mengajar umat mengenai pertobatan, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah. Dalam tradisi Israel Kuno abu menyimbolkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat. Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan diberikan dengan formula 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 (Kej. 3:19) atau 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘭 𝘳𝘦𝘵𝘶𝘳𝘯. Beberapa Gereja menghayati masa Pra-Paska dengan berpuasa; Ada yang penuh 40 hari, ada yang memilih pada hari-hari tertentu. Agustinus dari Hippo berpuasa dengan pertimbangan etis sangat tinggi. Ia melakukannya bertujuan untuk memberikan jatah makan siangnya kepada orang kelaparan.
Meskipun demikian adalah keliru jika masa Pra-Paska dicerap sebagai masa-masa sengsara Yesus, bahkan ada Gereja yang menyebut Minggu-Minggu sengsara. Memang ada yang disebut dengan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) yang beririsan dengan Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮) pada Minggu VI Pra-Paska, tetapi secara keseluruhan adalah keliru mencerap Pra-Paska sebagai masa-masa sengsara Yesus. Pra-Paska merupakan kesukaan dan pengharapan. Dalam masa Pra-Paska Gereja menyediakan waktu secara khusus untuk menghayati karya Yesus dan peristiwa salib Kristus.
Pada Rabu Abu kita diingatkan bahwa keadaan manusia adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘯𝘦𝘴𝘴. Kematian merupakan identitas manusia saban hari, sekaligus bersama dengan kehidupan yang juga saban hari kita nikmati. Kematian bukan soal setelah raga ini mengembuskan nafas terakhir. 
Banyak penjaja agama entah lewat rumah ibadah, entah lewat media televisi atau daring meneriakkan kematian-pasca-kematian agar ditakuti. Padahal kehidupan itu menyapa kita dalam kenyataan bahwa kita adalah abu kini dan di sini, setiap saat. Ini bukan soal hidup nyaman kelak di surga, yang jika ditolak berakibat hidup pedih dan penuh kesakitan di neraka. 
Neraka itu adalah kemanusiaan kita, sekaligus karena Kristus sudah memasukinya dan membuatnya menjadi perayaan hidup, tanpa lupa pada kenyataan bahwa kita adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 bukan soal takut pada hukuman, namun pada ingatan arkais bahwa kita boleh hidup.

 (05032025)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶

PENGANTAR
Menariknya, study biblika pada sub sejarah, sastra, dan arkeologi, kami sepakat salah satu bentuk sejarah dan arkeologi bahkan sastra kuno yang dapat dinikmati perjalananya serta bukti-bukti warisannya adalah tradisi liturgi, karena itu kenapa sejarah, sastra, dan arkeologi biblika menggelutinya dan menggumulkannya. Sebentar lagi kita memasuki masa prapaskah-paskah, saya tertarik mengulik dari bagian akhir menuju ke depan jadi saya balik. Tulisan dari Minggu palem, Trihari suci, paskah trus baru Rabu abu, untuk kembali kita mengenang Kristus secara liturgi disamping, tulisan-tulisan  perkara prapaskah-paskah di sana. Tulisan ini sebetulnya upload ulang dari tulisan-tulisan lama yg disesuaikan wakunya serta perkembangan sudut pandang.
Menurut kalender gerejawi 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘚𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) adalah pembuka 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬, yang diindonesiakan menjadi 𝙋𝙚𝙠𝙖𝙣 𝙎𝙪𝙘𝙞. Hari-hari di dalam Pekan Suci disebut hari-hari suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan 𝙏𝙧𝙞𝙙𝙪𝙪𝙢 𝙎𝙖𝙘𝙧𝙪𝙢, yang diindonesiakan menjadi 𝙏𝙧𝙞𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙎𝙪𝙘𝙞. Tiga hari suci khusus itu adalah 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩-𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨-𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪. Penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.

Sering pula 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴. 

Trihari Suci hendak menyampaikan narasi 𝘀𝗮𝘁𝘂-𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗶𝗴𝗮-𝗮𝗸𝘀𝗶 yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar 𝘀𝗲𝗻𝗴𝘀𝗮𝗿𝗮, 𝗸𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻, dan 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.

Sabtu malam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 Sabtu Sunyi lagi. Ibadah Sabtu Malam disebut 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). 

Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶. Dengan kata lain secara 𝙩𝙞𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙚 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮.

🛑 Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi
🛑 Minggu Paska
🛑 Minggu kedua Paska
🛑 Dst.
🛑 Hari Pentakosta

[𝘗𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 1582 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘎𝘳𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘬𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘯𝘢𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 1884. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭.]


PEMAHAMAN 

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺)

𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫a𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.

Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 

𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).

Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.

Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.

𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 (𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘍𝘳𝘪𝘥𝘢𝘺)

Pengindonesiaan 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama.

Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “

Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?

Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan petulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” Pengakuan Iman (Syahadat) Rasuli mengikuti pandangan Injil sinoptik sehingga penyaliban Yesus dikelompokkan ke dalam bagian penderitaan Yesus.

Petulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh petulis Injil Yohanes, “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪!” Yesus lalu menundukkan kepala-Nya dan 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali. Ada gatra eskatologis. Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.

Dengan demikian melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗺𝗮𝘂𝗽𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀.

Dalam Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 (𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺)

Seperti pengindonesiaannya dari 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺 menjadi 𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪 sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Mengapa?

Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung.

Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.

Barangkali orang Kristen akan ada yang bertanya, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.” 

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu upaya Gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. 

(17042025)(TUS)

"Mengapa Agama Abad ke-7 Mencoba Mengajari Sejarah Abad ke-1 Tentang Yesus?" Loya Latoya Seorang teman Muslim mengirimkan gambar i...