Sudut Pandang Lukas 24:13-35, Pedadogi Jalan EMAUS
Beragama harus berakal sehat
Teologi
Selasa, 21 April 2026
Sudut Pandang Lukas 24:13-35, Pedadogi Jalan EMAUS
Senin, 20 April 2026
SUDUT PANDANG OBROLAN (IMAJINER) YESUS DAN SEORANG HAKIM
Suasana malam itu cukup tenang. Aroma sate usus yang dibakar, jahe gepuk hangat, dan asap arang dari gerobak angkringan menyelimuti sudut jalan.
Di atas bangku kayu panjang, seorang pria dengan kemeja rapi dan dasi yang sudah dilonggarkan, seorang Hakim,.duduk merenung di depan segelas kopi joss (kopi yang dicelup arang panas).
Di sebelahnya, duduk seorang Pria sederhana berjubah kain kasar namun bersih, wajah-Nya teduh, sedang memegang segelas susu jahe. Namanya Yesus.
Hakim: (Menghela napas panjang, menatap bara di dalam kopi) "Berat, Mas. Rasanya punggung saya mau patah setiap kali harus mengetuk palu itu."
Yesus: (Tersenyum kecil, menyeruput jahenya) "Aku tahu. Meja hijau itu memang bukan tempat untuk mereka yang ingin tidur nyenyak, bukan?"
Hakim: (Menoleh kaget) "Kok tahu? Ah, mungkin wajah saya memang penuh beban. Mas, jujur saja... kadang saya bingung. Hukum di buku bilang A, tapi hati nurani saya bilang B. Belum lagi tekanan dari sana-sini. Adil itu... ternyata jauh lebih mahal dari harga nasi kucing ini."
Yesus: "Adil itu bukan sekadar angka atau pasal, Sahabat-Ku. Kamu tahu, dulu ada cerita tentang seseorang juga pernah berdiri di hadapan seorang hakim. Namanya Pilatus. Dia tahu apa yang benar, tapi dia lebih memilih mencuci tangan karena takut pada suara orang banyak."
Hakim: (Terdiam, menaruh gelasnya) "Pilatus... ya, kami sering menjadikan dia contoh buruk di sekolah hukum. Tapi sekarang saya paham posisi dia. Sulit untuk jujur saat kursi jabatanmu dipertaruhkan. Mas, bagaimana cara tetap adil tanpa menjadi 'jahat'?"
Yesus: "Keadilan tanpa kasih itu bisa jadi kejam. Tapi kasih tanpa keadilan itu lemah. Rahasianya ada pada kejujuranmu pada diri sendiri saat tidak ada orang yang melihat. Kamu bukan menghakimi kertas atau berkas; kamu sedang menyentuh hidup manusia."
Hakim: "Tapi manusia itu pembohong, Mas. Di ruang sidang, semua orang pakai topeng. Saya harus percaya pada siapa?"
Yesus: "Carilah kebenaran, bukan sekadar pembenaran. Kebenaran itu seperti cahaya; dia tidak butuh suara keras untuk membuktikan keberadaannya. Dan ingatlah, setiap kali kamu mengetuk palu untuk membela yang lemah, kamu sedang meminjamkan suaramu kepada mereka yang tidak punya suara."
Hakim: (Tersenyum getir) "Mas bicara seolah-olah Mas ini Hakim yang sesungguhnya."
Yesus: (Menepuk bahu sang hakim dengan lembut) "Aku hanya orang yang sering mampir ke tempat-tempat di mana orang merasa tidak sanggup lagi membawa bebannya sendiri. Malam ini, biar Aku yang memegang bebanmu sebentar. Habiskan kopimu, besok kamu punya tugas besar lagi."
Hakim: "Terima kasih, Mas. Rasanya... hati saya sedikit lebih ringan. Omong-omong, siapa nama Mas?"
Yesus: (Berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar minumannya) "Panggil saja Aku 'Sang Jalan'. Karena di setiap persimpangan keputusanmu, Aku biasanya sedang menunggu di sana."
Pria itu berjalan menjauh ke dalam kegelapan malam, meninggalkan sang Hakim yang masih menatap asap kopi joss-nya, menyadari bahwa hatinya tidak lagi sedingin ruang sidang.
Sudut ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด Yohanes 10:1-10, [๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ ๐๐ฉ ๐ฃ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ, ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐], ๐ผ๐ ๐ช๐ก๐๐ ๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช
Sudut ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด Yohanes 10:1-10 [๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ ๐๐ฉ ๐ฃ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ, ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐], ๐ผ๐ ๐ช๐ก๐๐ ๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช
PENGANTAR
Minggu 26 April 2026, Dari gatra cerita Injil Yohanes tidak semenarik Injil sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas). Secara sastrawi perbedaan antara Injil Yohanes dan Injil sinoptik dapat dilihat dari penggunaan bahasa dan gaya penulisan yang berbeda. Injil Yohanes ditulis dengan bahasa yang lebih rumit, kiasan, dan simbolis sehingga lebih sukar dipahami dibandingkan dengan Injil sinoptik yang menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan naratif yang lebih mudah diikuti.
Injil Yohanes berisi renungan-renungan yang dibuat narasi dengan menggunakan dialog dan diskusi panjang antara Yesus dan lawan bicara-Nya (murid-murid-Nya dan pihak-pihak lain) serta peristiwa-peristiwa yang disusun secara tematik. Penyusunan secara tematik inilah membuat kronologi di Injil Yohanes sangat berbeda dari Injil sinoptik.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu keempat masa raya Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 10:1-10 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 2:42-47, Mazmur 23, dan 1Petrus 2:19-25.
Konteks terdekat bacaan Injil Minggu ini adalah Yohanes 7:1 – 10:21 dalam rangka Hari Raya Pondok Daun (๐๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ฐ๐ต). ๐๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ฐ๐ต merupakan perayaan pengucapan syukur bagi umat Yahudi atas hasilpanen yang dirayakan selama tujuh hari pada bulan purnama di antara bulan September dan Oktober. Pada masa perayaan ini umat Yahudi berziarah ke Bait Allah di Yerusalem sambil membawa persembahan. Pesta ini dimaknai sebagai festival panen utama bangsa Yahudi (Kel. 23:16; Ul. 16:13-17), festival utama Bait Allah (Bil. 29:12-40), dan sebagai pengenangan pengembaraan bangsa Israel di gurun ketika keluar dari Mesir (Im. 23:33-44). Pada mulanya Yesus tidak mau pergi ke Yerusalem karena waktunya belum tiba, tetapi akhirnya Yesus menyusul saudara-saudara-Nya ke Yerusalem (Yoh. 7:1-9). Kedatangan Yesus di Yerusalem menciptakan kebigungan; ada yang percaya Ia adalah Mesias, tetapi lebih banyak yang menolak-Nya.
Dalam Hari Raya Pondok Daun itu pada malam hari Bait Allah dan sekitarnya diterangi oleh cahaya obor atau suluh. Empat kaki dian diletakkan di pusat lapangan Bait Allah yang menjadi simbol terang Yerusalem, terang umat Yahudi. Di sini Yesus memandang bukan obor itu yang menerangi, melainkan, “๐๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ถ๐ฏ๐ช๐ข. ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐๐ฌ๐ถ, ๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ … ” (Yoh. 8:12).
Sudah barangtentu pengajaran dan pelayanan Yesus di Yerusalem dalam suasana ๐๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ฐ๐ต ini memancing kegusaran para pemimpin/pemuka agama Yahudi dan banyak orang Yahudi. Bacaan Injil Minggu ini, Yohanes 10:1-10, dalam suasana ini. Yohanes 10:1-10 sendiri adalah bagian dari perikop Yohanes 10:1-21 yang oleh LAI diberi judul ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ. Namun, perikop ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ini sebenarnya mencakup dua topik:
▶️ Pintu (ay. 1-10, bacaan Injil Minggu ini)
▶️ Gembala yang baik (ay. 11-21)
Bacaan dibuka dengan perkataan Yesus, “๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ: ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ, ๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ฌ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ, ๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข. ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ-๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ, ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช ๐ฅ๐ช๐ข, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช, ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ." (ay. 1-5).
Persis sebelum ayat di atas Yesus mengecam orang-orang Farisi sebagai orang buta (lih. Yoh. 9:41). Perkataan Yesus (ay. 1-5) ditujukan kepada orang-orang Farisi, tetapi mereka tidak mengerti, karena Yesus mengatakan dengan bahasa kiasan (ay. 6). Secara sastra, Penulis Injil Yohanes memang tidak pernah menggunakan perumpamaan (๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฃ๐ฐ๐ญ) seperti dalam Injil sinoptik, melainkan ๐ฑ๐ข๐ณ๐ฐ๐ช๐ฎ๐ช๐ข atau peribahasa. Peribahasa dengan kiasan ibarat teka-teki atau kata-kata terselubung sehingga orang-orang yang tidak memiliki nasabah kepercayaan dengan Yesus akan sulit mengerti.
Pengajaran Yesus selalu memancing kemarahan para pemuka agama Yahudi karena, selain radikal, ucapan Yesus juga ๐ฏ๐จ๐ฆ-gas. Ayat 1 Yesus menyamakan orang-orang Farisi adalah pencuri dan perampok yang masuk ke kandang domba lewat tempat lain, bukan lewat pintu.
Kandang domba adalah kawasan tertutup sehingga akses masuk hanya lewat pintu yang diawasi oleh penjaga. Kata Yesus, orang yang masuk melewati pintu adalah gembala (ay. 2). Penjaga membukakan pintu bagi gembala dan domba-domba mengenal suara gembala (ay.3).
Pengarang Injil Yohanes berasal dari Komunitas Yohanes yang berada di tengah-tengah konflik dengan kelompok-kelompok lain, terutama kelompok orang Yahudi. Di tengah-tengah suasana konflik itu kelompok penulis Injil Yohanes memiliki misi ganda. Mereka harus menakrifkan dan menegaskan jatidiri mereka sendiri, sekaligus menakrifkan dan menegaskan jatidiri lawan/musuh mereka. Dari latar belakang ini dapat diduga yang dimaksud dengan pencuri dan perampok dalam ayat 1 – 5 adalah para pemuka agama Yahudi, seperti orang-orang Farisi, yang berusaha memisahkan orang-orang percaya dari Yesus (lih. pasal 9). Dalam konteks Komunitas Yohanes pencuri dan perampok adalah guru-guru palsu yang memecah-belah jemaat Kristen (lih. 2Yoh. 7-9). Ayat 5 merupakan pastoral bagi jemaat Kristen agar tidak mudah diombang-ambing oleh pengajar-pengajar asing. Percayalah kepada gembala atau guru-guru yang sudah mengenal dan dikenal mereka. Oleh karena ucapan Yesus dalam ayat 1-5 tidak dimengerti oleh lawan-Nya, maka Yesus berkata lagi, "๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ: ๐ผ๐ ๐ช๐ก๐๐ ๐ฅ๐๐ฃ๐ฉ๐ช ๐๐๐๐ ๐๐ค๐ข๐๐-๐๐ค๐ข๐๐ ๐๐ฉ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ฌ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข. ๐ผ๐ ๐ช๐ก๐๐ ๐ฅ๐๐ฃ๐ฉ๐ช. ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ช ๐๐ฌ๐ถ, ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ต. ๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ-๐ญ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ.” (ay. 7-10).
Frase ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐๐ฌ๐ถ (ay. 8 ) bukan merujuk orang-orang atau nabi-nabi zaman Perjanjian Lama (PL). Frase ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐๐ฌ๐ถ merujuk keterangan waktu pada malam hari, saat pencuri dan perampok datang, sebelum gembala datang pada pagi hari.
Dalam ayat 1-5 Yesus memertentangkan antara gembala dan pencuri/perampok, tetapi dalam ayat itu Yesus tidak menunjuk diri-Nya adalah Gembala. Memang dalam ayat 11 di pasal yang sama ini Yesus menyatakan diri-Nya adalah ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ, tetapi topik ayat 1-10 bukanlah tentang ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa gembala di sana adalah pengajar-pengajar atau guru-guru yang sudah mengenal dan dikenal umat. Gembala-gembala itu masuk lewat pintu. Nah, dalam ayat 7 Yesus menekankan, “๐๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ช๐ต๐ถ.”
Gembala-gembala yang mengenal dan dikenal oleh domba-domba saja ternyata tidak cukup. Gembala-gembala itu harus lewat pintu. Para guru atau pengajar iman Kristen tidak cukup berbekal terkenal, tetapi ia mutlak melewati Kristus sebagai pintu masuk-keluar bagi para gembala dan domba-domba untuk digembalakan menuju keselamatan dan hidup. Melewati Pintu berarti percaya kepada Kristus seperti Komunitas Yohanes percaya kepada Kristus, melewati pintu bearti meneladan Kristus, melewati pintu bearti menghikmati ajaran Kristus. Orang yang masuk tidak melalui pintu adalah penyesat untuk keuntungan diri sendiri dan membinasakan umat.
Di sini pendeta atau pengkhotbah harus cermat dalam melihat dua topik dalam satu perikop. Bacaan Injil Minggu ini, Yohanes 10:1-10, topiknya adalah ๐ฝ๐ถ๐ป๐๐, ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป gembala yang baik. Di sinilah kerumitan Injil Yohanes, yang jika tidak cermat dalam melihat topik, maka akan mengaburkan pesan teologis penulis Injil.
(20042026)(TUS)
Minggu, 19 April 2026
Sudut Pandang ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฅ๐ฎ๐๐๐น
Sudut Pandang ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฅ๐ฎ๐๐๐น
Kemarin kita membahas Politik Injil Yohanes. Sekarang giliran Lukas. [Untuk memudahkan teknis penulisan nama pengarang Injil Lukas dan Kisah Para Rasul saya sebut Lukas saja.]
Hanya saja beda ring, beda jurus. Kalau Yohanes ribut dengan mantan, Lukas ributnya dengan kantor imigrasi. Tepatnya: Kekaisaran Roma.
1️⃣ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐น๐ถ๐ ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐๐ค๐๐๐ก๐ช๐จ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ข๐ช๐ก๐๐
Lukas 1:3 jelas ๐ฌ๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ด๐ต๐ฆ ๐๐ฉ๐ฆ๐ฐ๐ฑ๐ฉ๐ช๐ญ๐ฆ itu gelar gubernur. Jadi Lukas-Kisah ini merupakan nota pembelaan kepada pejabat Roma.
๐๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ mau lapor ke gubernur, " ๐๐ถ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ถ๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ช๐ฃ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ข๐ฅ๐ช๐ด."? Ya langsung ditolak visa-nya, bro. Semua yang bau-bau "Roma jahat" dibikin halus atau lembut.
Contoh: Penyaliban versi Markus itu brutal. Yesus disesah memakai ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ (cambuk ada logam dan tulang). Disabet sekali kulit sobek.
Versi Lukas? Pilatus cuma bilang ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฑ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ข, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐. Artinya bisa ๐ฅ๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ช. Dari ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฌ๐ด๐ข ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ข๐ณ๐ข menjadi ๐ฅ๐ช๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐ถ๐ฎ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ณ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ tingkat dewa.
2️⃣ ๐ฃ๐ถ๐น๐ฎ๐๐๐ ๐ฑ๐ถ๐ฐ๐๐ฐ๐ถ ๐จ๐๐ข๐ฅ๐ ๐ ๐๐ฃ๐๐ก๐ค๐ฃ๐
Dalam Injil Lukas Pilatus tiga kali bilang “๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข-๐๐บ๐ข " (Luk. 23:4; 23:14; 23:22). Sudah begitu dilempar ke Herodes dulu. Ditawarkan tukar dengan Barabas. ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฆ ๐ค๐ข๐ฑ๐ฆ๐ฌ.
Bandingkan dengan Markus: Pilatus bertanya sekali, langsung menyerah.
Kenapa Lukas sampai ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข-๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ Pilatus? Dia mau bilang, “๐๐ข๐ฌ ๐๐ถ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ถ๐ณ ๐๐ฐ๐ฎ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ช๐ข, ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฎ๐ข, ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ง๐ช๐ต๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ ๐ข๐ฉ๐ถ๐ฅ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐๐ฐ๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ, ๐๐ช๐ญ๐ข๐ต๐ถ๐ด ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข ๐ต๐ฐ๐ต๐ข๐ญ, ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐๐ฐ๐ฎ๐ข ๐ข๐ซ๐ข ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ. ๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฎ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ถ๐ด๐ช๐ฌ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ.”
Lukas ibarat sedang mengurus SKCK untuk Kekristenan.
3️⃣ ๐ฃ๐ฒ๐๐ฟ๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฎ๐๐น๐๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ถ ๐น๐๐ป๐ฎ๐ธ
Paulus asli apabila menulis surat meledak-ledak. "๐๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ!" (Gal. 1:8). "๐๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ" (1Kor. 4:10). Urat lehernya keluar wkwkwk
Paulus di Kisah? Pidato di Aeropagus ia mengutip penyair Grika. Sidang rapi. Sekali-kalinya teriak cuma: "๐๐ฌ๐ถ ๐ธ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ข๐ณ๐ข ๐๐ฐ๐ฎ๐ข!" (Kis. 16:37). Di surat-suratnya? ๐๐จ๐จ๐ข๐ฌ pernah pamer KTP Roma.
Petrus juga sama. Di Kisah 10 dia toleran banget. Membaptis Kornelius perwira Roma. Di Galatia 2:11 Paulus menyemprot Petrus munafik, karena ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ mau makan dengan orang non-Yahudi kalau ada tim Yakobus.
Lho kok beda? Ya beda ๐ซ๐ฐ๐ฃ ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ค. Lukas butuh wibawa Petrus dan Paulus sehingga terwakilkan untuk presentasi makalah kepada Roma. Yang keras-keras tidak gayut dengan kebutuhan lobi. Dilewati.
4️⃣ ๐จ๐ท๐๐ป๐ด ๐ฏ๐๐บ๐ถ = ๐ฅ๐ผ๐บ๐ฎ. ๐๐๐จ๐จ๐๐ค๐ฃ ๐ผ๐๐๐ค๐ข๐ฅ๐ก๐๐จ๐๐๐
Kisah 1:8 Yesus bilang: "๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฌ๐ด๐ช ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ถ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ฎ๐ช". Kisah 28 sebagai penutup: Paulus tinggal di Roma, dan mengajar dengan terus terang. TAMAT.
Pembaca modern protes: " ๐๐ฉ๐ฐ, Roma bukan ujung bumi!"
Iya, buat kita. Buat abad 1 Roma adalah pusat dunia sekaligus ujung dunia. Semua jalan ke Roma. Kalo Injil ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ di Roma, berarti target tercapai. Lukas lapor ke Teofilus: KPI kelar, bos, 2 dari 4 ramalan Yesus ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ. Dua lagi menunggu Allah.
Lihat struktur Kisah Para Rasul:
▶️ Awal = Kerajaan Allah (Kis. 1:3)
▶️ Tengah = Karya rasul
▶️ Akhir = Kerajaan Allah (Kis. 28:20 dan Paulus tiba di Roma)
Lukas buka-tutup menggunakan ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ซ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ. Kerajaan Allah yang dijanjikan di awal Kisah 1:3 ternyata ๐ญ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ-nya di kontrakan Paulus di Roma (Kis. 28:30). Bukan di istana Herodes. ๐๐ญ๐ฐ๐ต ๐ต๐ธ๐ช๐ด๐ต. Pesannya: Kerajaan Allah bukan untuk menggulingkan Kaisar. Buktinya ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ-nya di Roma dan Paulus damai-damai saja.
5️⃣ ๐๐ถ๐น๐ถ๐ฝ๐ถ ๐ฎ: ๐พ๐ค๐ช๐ฃ๐ฉ๐๐ง-๐พ๐ก๐๐๐ข ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ถ
Dalam bagian ini saya tidak sedang membahas kristologi Paulus, tetapi hendak membandingkan manuver politik Paulus asli dengan Lukas saat berhadapan dengan Roma. Untuk itu mari lihat Filipi 2.
Filipi 2:9-11: "๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ข ... ๐ด๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ฌ ๐ญ๐ถ๐ต๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข... ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ญ๐ช๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ: ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
Ini bukan sekadar pengakuan iman di Gereja, sis. Pada abad 1 ๐ฌ๐บ๐ณ๐ช๐ฐ๐ด adalah gelar resmi Kaisar Roma. Setiap warga wajib teriak "๐๐ข๐ช๐ด๐ข๐ณ ๐๐บ๐ณ๐ช๐ฐ๐ด!" sebagai sumpah setia.
Paulus nonjok balik: "๐๐บ๐ณ๐ช๐ฐ๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ: ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ถ๐ด. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ถ๐ด, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐ฐ."
Kalau Lukas bilang ke Roma: "๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ, ๐๐ข๐ฌ", Paulus bilang: "๐๐ข๐ฑ๐ช ๐๐ฐ๐ด ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ช๐ด๐ข๐ณ."
Dua-duanya kerja buat Injil yang sama. Lukas melobi lewat meja perundingan, Paulus menggebrak lewat mimbar. Strategi beda, Tuhan sama. Roh Kudus pakai dua-duanya biar Injil selamat dari tuduhan makar, sekaligus tidak mau berkompromi soal siapa Penguasa sejati.
6️⃣ ๐ก๐ฎ๐บ๐ฎ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ถ๐๐ ๐๐ง๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ ๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ฑ ๐ฎ
Naskah kitab-kitab Injil abad 1 polos, tidak ada nama. Baru tahun 180-an Irenaeus bilang, "๐๐ฏ๐ช ๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ด ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ถ๐ญ๐ถ๐ด.".
Kasihan Lukas si tabib, namanya dicatut untuk ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต. Padahal teologinya beda ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต dengan Paulus asli.
Mohon maklumi saja. Pada zaman itu belum ada ISBN. Bukan berarti bohong ya. Pada masa itu menulis anonim itu wajar. Nama dikasih belakangan buat katalog perpustakaan gereja. Biar dipercaya, tempel nama orang dekat rasul. ๐๐ข๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ๐จ Gereja awal.
๐๐ฎ๐ฑ๐ถ, ๐ฝ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ถ๐๐ ๐ฏ๐ฒ๐ด๐ถ๐ป๐ถ:
Lukas ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ bohong. Lukas sedang berdiplomasi. Tugasnya bikin Kekristenan kelihatan bukan ancaman negara. Itu sebabnya:
▶️ Pilatus dibikin baik.
▶️ Paulus dibuat santun.
▶️ Berakhir di Roma = ๐ฎ๐ช๐ด๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ข๐ค๐ค๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ญ๐ช๐ด๐ฉ๐ฆ๐ฅ.
▶️ Malaikat ๐ข๐ซ๐ข ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ต di Kisah 1:11: "๐๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฏ๐จ?" Artinya: Kenaikan bukan tontonan. Kerja!
Beda dengan Komunitas Yohanes yang butuh identitas setelah diusir dari sinagoge. Lukas butuh klarifikasi karena dituduh makar. Beda pembaca, narasi disesuaikan. Isinya sama: Yesus Tuhan. Bungkusnya dikemas berbeda.
Sama seperti orang melamar kerja. CV untuk perusahaan asing menonjolkan capaian. CV untuk BUMN isinya "berintegritas". Orangnya sama. ๐๐ช๐ต๐ค๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ-nya beda.
Lukas di sini hendak mengajarkan bahwa Injil itu sakral, tetapi tidak anti-strategi. Polos itu baik, tapi kalau mau ๐ฏ๐จ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ฑ Kaisar ya jangan ๐ฑ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ข-๐ฑ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฐ. Lukas lalu menyusun nota pembelaan serapi-rapinya kepada Teofilus. Paulus berteriak Yesus ๐๐บ๐ณ๐ช๐ฐ๐ด sekencang-kencangnya di Filipi.
Caranya beda. ๐๐บ๐ณ๐ช๐ฐ๐ด-nya sama. Urusan mana yang dipakai, bergantung pada pendengarnya: gubernur atau pasar.
Yang penting: jangan sampai Injil ditolak ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข๐ฌ gara-gara kita ๐ฎ๐ข๐ญ๐ฆ๐ด ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ.
Sabtu, 18 April 2026
Sudut Pandang Diskusi soal Outsourcing
Sudut Pandang Diskusi soal Outsourcing
PENGANTAR
Semakin lama gereja juga belajar dari perusahaan, atau organisasi umum. Sehingga muncul istilah Pendeta outsourcing. Biasanya hal itu terjadi karena gereja tidak lagi memiliki pendeta aktif sehingga membutuhkan konsulen seorang pendeta. Atau karena pertimbangan lain: ada gereja yang lebih memilih gaya perusahaan dengan istilah Pendeta MOU (berjabatan pendeta namun dengan fasilitas terbatas). Beberapa denominasi gereja bahkan ada yang memberlakukan, pendeta ibarat pemain sepakbola, dimana antar gereja bisa melakukan transfer pendeta dimana tinggal kesepakatan harga pengganti dari gereja yg menghendaki pendeta tsb. Menurut bbrp gereja, itu lebih fair / adil, drpd jilumpitan atau main belakang atau petak umpet dengan gereja atau umat yang dilayaninya dan tidak menimbulkan sitegang antar gereja apalagi sesinode. Bbrp kejadian sudah terjadi di bbrp sinode Gereja.
PEMAHAMAN
Pendeta outsourcing adalah istilah yang digunakan untuk menyebut praktik di mana sebuah gereja atau organisasi Kristen menyewa jasa pendeta atau tenaga pelayanan (dalam tempo tertentu) dari luar organisasi tersebut, bukan merekrutnya sebagai karyawan tetap atau anggota staf internal secara langsung.
Konsep ini diambil dari dunia bisnis outsourcing (alih daya), yaitu menyerahkan tugas atau layanan tertentu kepada pihak ketiga yang ahli di bidangnya, dengan perjanjian kontrak dan pembayaran yang jelas.
Beberapa hal penting dlm topik ini:
- Hubungan kerja: Pendeta tersebut terikat kontrak dengan perusahaan penyedia jasa atau lembaga pelayanan, bukan langsung dengan gereja yang mempekerjakannya. Gereja membayar biaya jasa kepada penyedia layanan, yang kemudian mengelola gaji, administrasi, dan hak-hak pendeta tersebut. Bukan hubungan kemitraan equal. Bukan seperti hubungan simbiosis mutualisme seperti suami-istri. Tidak ada ikatan batin dan relasi yang dalam.
- Tugas yang dilakukan: Bisa berupa khotbah mingguan, pembinaan jemaat, konseling, pengurusan sakramen, atau pelayanan khusus lainnya sesuai kebutuhan gereja. Tugas tidak terkait dengan tingkat keintiman hubungan dengan semua warga gereja.
- Durasi: Bisa untuk jangka waktu tertentu (misalnya 6 bulan, 1 tahun) atau proyek khusus, sampai gereja menemukan pendeta tetap atau kebutuhan terpenuhi. Di GKJ durasi hubungan pendeta dan jemaat berlangsung seumur hidup.
Alasan gereja menggunakan pendeta outsourcing
1. Keterbatasan tenaga: Gereja kecil atau yang sedang dalam masa transisi sulit mencari pendeta tetap yang sesuai.
2. Keahlian khusus: Membutuhkan pendeta dengan keahlian tertentu (misalnya dalam pembinaan pemuda, konseling, atau manajemen gereja) yang tidak dimiliki oleh staf internal.
3. Efisiensi biaya: Lebih hemat daripada mempekerjakan karyawan tetap dengan tunjangan lengkap.
4. Fleksibilitas: Mudah menyesuaikan kebutuhan pelayanan tanpa terikat struktur organisasi yang rumit.
Hal yang perlu diperhatikan
- Meskipun bekerja di gereja, status pendeta outsourcing secara administratif berbeda dengan pendeta tetap.
- Penting adanya kesepakatan yang jelas mengenai tugas, wewenang, dan batasan pelayanan agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan jemaat maupun staf lain.
- Praktik ini masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan, ada yang mendukung sebagai solusi praktis, ada juga yang berpendapat bahwa pelayanan rohani sebaiknya dilakukan oleh orang yang terintegrasi penuh dengan tubuh Kristus di tempat tersebut.
(20042026)(TUS)
Jumat, 17 April 2026
Sudut Pandang Lukas 24:13-35, Plot Twist, siapa orang pertama yang diajak dinner
Sudut Pandang Lukas 24:13-35, Plot Twist, siapa orang pertama yang diajak dinner
Kalau udah soal perjakanan ke emaus, Lukas 24:13-35, saya selalu sulit move on (bukan juga karena saya ada di kelompok Lukas ... Wk .... Wk). Adakah yang bertanya, di bbrp tulisan saya tentang perjalanan Emaus, saya memadankannya dengan peristiwa Adam dan hawa di taman Eden, sekarang kita lihat plot twist nya. Teologia feminis memberikan kejutan.
PEMAHAMAN
Coba tebak pas Yesus bangkit dari kematian. Siapa orang pertama yang diajak diner? Petrus, Johannes, Thomas? Ada yang bilang Petrus, Yohanes, Yakobus circle nya Yesus, tapi ternyata bukan yang diajak dinner atau makan bareng ama Yesus pertama setelah bangkit. Makan bersama sebagai kebiasaan bukan selalu merujuk Perjamuan Kudus atau Ekaristi. Ini plot twist-nya, Yang diajak diner pertama kali ternyata pasutri, bukan circle nya. Pasutri yang lagi healing sambil overthinking di jalan. Kenapa begitu? Ini konten sudut pandang buruan safe biar gak ilang. Bacaan minggu ini Lukas 24 : 13-35 Kisah terkenal, Tentang dua murid Yesus, Yang overthinking tentang kematian Yesus. Dalam perjalanan ke Emmaus, Datanglah orang ketiga Stranger, orang asing, Nimbrung. Tapi kayak Assassin's Creed (pernah nonton film nya? tentang pembunuh bayaran yg tak terdeteksi bahkan ketika ada di dekat kita) Gak terdeteksi kalau orang ketiga itu, Yesus. Lalu mereka bertiga asik gibah, Berita trending waktu itu, mungkin vital di medsos kalau sekarang. Ngobrol terus sampai hampir sampai Emmaus. Keduanya ngajak Yesus, Stay di rumah mereka. Pas makan bareng, Yesus berdoa, dan melakukan kebiasaanNya saat makan bersama dg para murid. Eh salah satu dari mereka melotot, Bentar .... bentar, Ini kan guru kita? Kenangan kebiasaan/teladan gurunya, Kristus (liturgi adalah ibadah selebrasi mengenang Kristus) .... muncul. Ya ... ampyun. Lalu Yesus menghilang. Berabad-abad, Kalau dengar cerita ini. Bayangan kita itu dua murid itu dua bapak-bapak, Satu namanya Kleopas Satu lagi Bro Anonim, seakan mengajak pembaca itu kita. Tapi, Ada kemungkinan lain, Kalau temannya Kleopas itu adalah Istrinya sendiri Maria namanya, Maria itu bisa di cek di Yohannes 19 : 25. Setidaknya taksiran ini, Menurut beberapa pakar Antirite, Richard Baucam, Ben Witherington. Di sini nih, ya buku-buku mereka, argumentasi mereka dituliskan, pertama Alasannya ya mereka itu diajak ke rumah Kleopas ke dalam keluarga, Bukan kos-kosan cowok, ngajak tinggal, anggap saja mampir dalam tradisi Yahudi tidak mungkin kalau itu bukan di rumah Kleopas. Kedua, penulis Injil Lukas suka dengan pasang-pasang, karena audiens pembaca bukan Yahudi dan kemungkinan berlatar belakang Yunani. Dalam ya episode di Injil Lukas, pelayanan maupun lainnya ya, ada si Simeon dan Hana. Ada Maria dan Elizabeth. Untuk menunjukkan pentingnya pelayanan bersama, Dan pentingnya injil, Untuk semua orang laki-laki maupun perempuan. Ketiga, Yang bisa jadi ini adalah Pemulihan pusatnya relasi antar manusia. Dan keempat, ini penggambaran ulang Tuhan di Taman Eden, Ketika itu sepasang manusia Laki-laki dan perempuan suami istri, Makan buah pengetahuan Baik dan jahat dan sadar Ketelanjangan mereka, tapi mereka tidak melakukan pertobatan shg hilang dari kepemilikan Allah (keluar dari taman Eden), Dalam episode Emmaus, Kedua pasangan (suami istri) ini makan dan melihat Yesus, pertobatan muncul dg simbolisasi berbalik arah yang tadinya menjauh dari Yerusalem, sebagai pusat masalah dan tantangan hidup mereka, suami istri menjadi mendekat ke Yerusalem, dengan hati berkobar dan semangat juang tinggi karena firman Allah, berani menghadapi pusat masalah dan tantangan hidup mereka. Jadi, kebangkitan Yesus, Hadir di tengah keluarga, pria bahkan wanita diberi ruang menikmati kebangkitan Kristus, penulis Injil Lukas kental dg mengangkat harkat martabat wanita, kesetaraan, karena audiens pembacanya bukan yahudi. When Yesus goes to Emmaus, Couple goes to full house. Keluarga itu ring satu nya Yesus, keluarga itu circle Nya Yesus. Dalam, menghayati kebangkitan Yesus, Back to the family.
(18042026)(TUS)
Sudut Pandang ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐
Sudut Pandang ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐
PENGANTAR
Judul di atas tidak salah tulis. Politik, bukan teologi. Kitab Injil Yohanes ditulis oleh seorang panutan di dalam Komunitas Yohanes. Saya pada posisi petulis Injil Yohanes bukan Rasul Yohanes. Kitab Injil Yohanes terbentuk tidak sekali jadi. Secara garis besar Injil Yohanes yang “asli” tidak ada pasal 15-17 dan 21. Keempat pasal itu ditambahkan kemudian sesudah petulis aslinya mati. Tentu masih ada tempelan lain bersifat minor, seperti Yohanes 4:2.
Komunitas Yohanes merupakan kelompok mistik yang anti-bait, anti-sinagoge, karena diusir oleh orang-orang Yahudi. Bukan hanya diusir, mereka dikucilkan dan dicap bidat, karena pro-Yesus ๐ฅ๐ฐ๐ข๐ฏ๐จ. Pengusiran Komunitas Yohanes dari Bait Allah dan sinagoge dicurigai diprovokasi oleh jemaat Petrus/Yakobus yang mayoritas di Yerusalem (bdk. Yoh 9:22). Petrus dikenal sangat yudaik. Paulus saja mengecam Petrus sebagai orang munafik. [Argumen pembelaan Petrus berbasis Kisah Para Rasul tidak gayut dengan kerangka historis tulisan ini. Itu sebabnya Petrus dalam Injil Yohanes bukan murid pertama dan utama. Murid pertama Yesus adalah Andreas. Murid yang dikasihi Yesus adalah sosok misterius, yang kemudian didaku oleh petulis berikutnya sebagai petulis asli Injil Yohanes. Tak hanya itu petulis pertama Injil Yohanes juga mematikan karakter Yohanes Pembaptis (YP). YP tidak membaptis Yesus, tidak menyiapkan “infrastruktur” bagi Yesus seperti dalam Injil sinoptik. YP saksi ๐ฅ๐ฐ๐ข๐ฏ๐จ. Dalam pada itu umat Kristen perdana mayoritas di Yerusalem adalah binaan Petrus dan Yakobus. Petrus adalah bos, batu karang yang teguh, pemegang kunci surga. “๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ด? ๐๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ ๐ง๐ข๐ท๐ฐ๐ณ๐ช๐ต? ๐๐จ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ!” begitu kira-kira ejek jemaat Petrus. Petulis pertama Injil Yohanes diduga adalah guru spiritual Komunitas Yohanes yang sangat terpelajar. Ia tampaknya mengandaikan dirinya sebagai murid ideal Kristus dan menempatkan diri sebagai murid yang dikasihi Yesus. Murid yang dikasihi Yesus ini diperikan selalu lebih unggul daripada Petrus. Komunitas Yohanes dikampanyekan lebih unggul ketimbang Tim Petrus.
Petulis Yohanes sengaja bikin kompetisi:
▶️ Yohanes 13:23-24: Murid dikasihi rebahan di sebelah Yesus, Petrus harus ๐ฏ๐ช๐ต๐ช๐ฑ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
▶️ Yohanes 18:15-16: Murid lain kenal Imam Besar, Petrus ditolak satpam.
▶️ Yohanes 20:4: Murid dikasihi lari lebih kencang ke kubur.
▶️ Yohanes 20:8: Murid dikasihi lihat langsung percaya, Petrus ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฏ๐จ.
Jadi, tanpa pasal 15, 16, 17, dan 21 Injil Yohanes sebenarnya hanya untuk kalangan sendiri, kelompok mistik yang dikenal dengan Komunitas Yohanes. Begitu guru spiritual mereka mati, para pengikutnya kehilangan pemimpin. Limbung. Mereka harus banting stir, harus berdamai dengan warga jemaat Petrus yang jauh lebih banyak. Masuklah tiga pasal sekaligus (psl. 15-17) di tengah tubuh Injil Yohanes. Jejaknya dapat dibaca pada akhir Yohanes 14:31 “๐๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช.” Ayat ini seharusnya langsung bersambung ke Yohanes 18:1 ๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ-๐ฎ๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ-๐๐บ๐ข ...
Tujuan penyisipan tiga pasal itu untuk menyambungkan mistik Komunitas Yohanes ke etika Gereja Am atau universal.
▶️ Pasal 15 “๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต-๐๐ถ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ-๐๐ถ"
Pesan politik: Kami ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ anti-hukum, cuma anti-sinagoge.
▶️ Pasal 16 "๐๐ฐ๐ฉ ๐๐ถ๐ฅ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ด๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข"
Pesan politik: Kami punya Roh Kudus juga, bukan cuma Petrus.
▶️ Pasal 17 “๐๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ต๐ถ"
Pesan politik: Bro, kita damai ya? Jangan usir kami terus.
Dengan penambahan pasal 15-17 Komunitas Yohanes hendak mengatakan kepada Tim Petrus, "๐๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฎ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ, ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐จ๐ข๐บ๐ข."
Pasal 21 adalah tempelan paling jelas. Dalam Yohanes 20:30-31 sudah ditutup dengan sempurna: ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ... ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ฃ ๐ช๐ฏ๐ช ...
Yohanes 21:1 ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ญ๐ข๐จ๐ช ... ๐๐ฉ๐ฐ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ada lagi?
Pasal 21 berisi:
▶️ Petrus disuruh "๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข-๐๐ถ" 3x (ay. 15-17)
Pesan politik: "๐๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฉ, ๐๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ด ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฐ๐ด, ๐บ๐ข."
▶️ Murid dikasihi vs. Petrus dibandingkan (ay. 20-23)
Pesan politik: "๐๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ช ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ญ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐บ๐ข๐ฉ๐ช๐ฅ."
▶️ ๐๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ๐ด๐ช๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ (ay. 24)
Pesan politik: "๐๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ช ‘๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ฐ๐ฌ๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ด ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ณ 1."
Jadi ๐จ๐ช๐ต๐ถ ceritanya. Komunitas Yohanes yang awalnya paling ๐ฏ๐จe๐บe๐ญ, anti-๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ข๐ฎ, ujung-ujugnya ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ juga dengan Tim Petrus. ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ญ๐ฌ๐ญ: ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ฏ, ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฎ๐ข๐ช. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฎ๐ข๐ช, ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ด๐ข๐ญ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ. Sekian kuliah politik Injil Yohanes hari ini. Kalau ada yang tersinggung, berarti membaca sampai habis.
PEMAHAMAN
Di pengantar, kita sudah berkuliah Politik Gereja 101. Isinya Komunitas Yohanes yang ๐ฏ๐จe๐บe๐ญ, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ dengan Tim Petrus, lalu menambah pasal 15, 16, 17, dan pamungkasnya pasal 21 agar akur.
Wajar kalau ada yang berkomentar, "๐๐ฉ๐ฐ, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ณ๐ต๐ช ๐๐ฏ๐ซ๐ช๐ญ ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ญ๐ฐ๐ฃ๐ช-๐ญ๐ฐ๐ฃ๐ช? ๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฐ๐ฏ?"
Pertanyaan bagus. Pertanyaan itu juga yang bikin banyak orang cabut dari gereja.
Masalahnya begini:
Kita acap mengira Allah cuma ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ lewat mimbar Minggu, menggunakan bahasa teologi, disahkan oleh sinode. Titik. Kalau ada ribut-ribut dalam rapat majelis jemaat, itu urusan manusia. Kalau ada revisi tata gereja, itu politik. Kalau ada kubu-kubuan di grup WA, itu dosa. Padahal Komunitas Yohanes mengajarkan kebalikannya.
Allah ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ alergi konflik. Malah sering Dia bekerja justru pas lagi rusuh.
Coba lihat polanya:
▶️ Komunitas Yohanes dikucilkan sinagoge. Lahirlah Injil Yohanes yang isinya Yesus sebagai ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ. Pewahyuan lahir dari penolakan.
▶️ Guru mereka mati, jemaat limbung. Ditambahlah pasal 15-17 soal kasih dan kesatuan. Etika lahir dari krisis kepemimpinan.
▶️ Harus damai dengan Gereja lain sesama anggota tubuh Kristus. Muncul pasal 21 yang mengakui Petrus gembala. Rekonsiliasi menjadi bagian dari kanon.
Artinya apa? Meja perundingan bisa menjadi meja perjamuan. Ruang rapat bisa menjadi ruang pewahyuan. Syaratnya satu: yang dicari itu Kristus, bukan menang argumen.
Nah ini yang mau saya sampaikan untuk kita yang hidup 2000 tahun kemudian: Allah ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ bisa dan ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ boleh dikurung dogma.
Dogma itu penting. Kayak rambu lalu lintas. Biar kita tidak ๐ฏ๐ข๐ฃ๐ณ๐ข๐ฌ-๐ฏ๐ข๐ฃ๐ณ๐ข๐ฌ. Namun, kalau Allah mau ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ orang lewat jalan tikus, Dia tidak akan nunggu lampu hijau dari sinode dulu.
Allah bisa berfirman lewat khotbah yang rapi. Bisa juga lewat keputusan sinode yang alotnya minta ampun. Bisa juga lewat orang yang dicap liberal dan ๐ฏ๐จe๐บe๐ญ๐ข๐ฏ.
Pertanyaannya bukan "๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ?”, tetapi “๐๐ถ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ?"
Jadi, kalau hari ini anda melihat gereja ribut soal rokok boleh atau tidak, musik liturgi, pendeta mengangkat kroninya menjadi pendeta dengan melanggar tata gereja, jangan buru-buru angkat kaki sambil bilang, "๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข๐ธ๐ช ". Sangat bolehjadi Allah sedang menulis "pasal 21 baru” lewat keributan itu. Mungkin 50 tahun lagi cucu kita membaca sejarah gereja 2026 dan berujar, "๐๐ฉ, ๐๐ฐ๐ฉ ๐๐ถ๐ฅ๐ถ๐ด ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฉ๐ข?"
Tugas kita bukan menjadi satpam dogma yang galak. Tugas kita menjadi murid yang dikasihi: rebahan dekat Yesus, mendengarkan Dia, terus bertanya, "๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ-๐๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฆ ๐ช๐ฏ๐ช?"
Bagaimana menurut anda? Pernah lihat sejarah Gereja berbelok arah justru lewat keributan yang awalnya dikira musibah?
(19042026)(TUS)
๐๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ณ๐ช๐ต๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ง๐ฆr .... Wk .... Wk
Sudut Pandang beberapa tradisi di sekeliling paskah
Sudut Pandang beberapa tradisi di sekeliling paskah
PENGANTAR
Yah ..... nama tradisi dalam perkembangan suatu agama atau institusi agama, jangan nanya tentang dasar argumentasi. Agama maupun institusi agama berkembang melewati zaman dan membaur dengan kehidupan di sekitarnya, termasuk tradisi budaya di sekelilingnya, disana akan ada saja tradisi budaya disekelilinginya yang dimaknai baru oleh agama atau institusi agamanya, dimanapun itu terjadi, jadi ini bukan perkara benar atau salah. Kalau ada yang beranggapan itu mitos, yah ..... gak salah juga. Tokh ..... Natal atau tgl Natal itu juga serapan budaya tradisi juga, makanya tgl nya tetap karena dasarnya kalender gregorian atau Masehi yang ada dalam perjalanan budaya tradisi Romawi Yunani, sedangkan paskah menyerap budaya tradisi Yahudi, karena dasarnya penanggalan Yahudi yang bergeser ke penanggalan Julian.
PEMAHAMAN
Asal usul tradisi telur paskah, versi gereja orthodoks, Maria Magdalena menghadap Kaisar Tiberius di Roma sambil memegang telur putih dan berseru, "Kristus telah bangkit!". Kaisar menjawab bahwa Kristus bangkit sama mustahilnya dengan telur itu berubah menjadi merah dan seketika itu juga telur tersebut berubah warna. Warna Merah: Melambangkan darah Kristus yang tercurah di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Cangkang Telur: Diibaratkan sebagai makam Yesus yang tertutup rapat. Saat telur dipecahkan, itu melambangkan terbukanya makam dan kebangkitan Kristus dari kematian.
Kamis, 16 April 2026
Sudut Pandang Lukas 24:13-35, perkara liturgi
PENGANTAR
Dalam buku HAGGADAH PESAKH, itu bukunya orang yahudi tentang paskah yahudi, ada tradisi Yahudi itu tiap makan bersama atau jamuan makan bareng (dan ini tidak identik dengan perjamuan Kudus), kata yang diucapkan saat memecah dan membagi roti adalah INILAH ROTI SENGSARA YANG DIMAKAN NENEK MOYANGMU WAKTU ITU DI TANAH MESIR, kemudian diberkati, dan dimakan barengan, tetapi kebiasaan Yesus beda ketika makan bersama dengan para muridnya (dan ini tidak identik dengan Perjamuan Kudus), bbrp bagian mencatat dan bbrp teolog menulis dalam bukunya, Yesus akan mengatakan INILAH TUBUHKU ..... (Matius 26:26-28, Markus 14: 22 - 24, Lukas 22:19-20, 1 Korintus 11: 23-25), shg kenapa kleopas dan temannya mengenali Yesus saat makan bersama? Itulah dugaan sebabnya, kemudian itu menjadi dasar gereja modern dalam liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Kitab-kitab Injil menceritakan penampakan Yesus sesudah kebangkitan. Dari sejumlah cerita di sana kisah penampakan Yesus-Paska menyertai dua orang murid dalam ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ ๐๐บ๐ฎ๐๐ adalah yang paling ๐ฌ๐ฆ๐ณe๐ฏ secara sastrawi, teologis, dan pedagogis (lih. Luk. 24:13-33). Kisah ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ ๐๐บ๐ฎ๐๐ menjadi bacaan ekumenis untuk Minggu III Paska, 19 Maret 2026. Sangat disayangkan jika cerita yang sarat muatan pedagogis ini tidak tersampaikan “dagingnya” kepada umat pendengar. Mengapa bagian cerita ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ ๐๐บ๐ฎ๐๐ ini diharkat sangat tinggi mutunya secara sastrawi, teologis, dan pedagogis? Karena salah satunya, ada makna liturgi yg dipahami menjadi warisan dari gereja kuno sampai gereja modern saat ini.
PEMAHAMAN
MEMAKNAI LITURGI LIMA/LEKSIONARI DALAM PERJALANAN KE EMAUS
Kehidupan Gereja senantiasa ada dalam sebuah perarakan
pergumulan. Pergumulan Gereja berkenaan dengan keesaan (keesaan gereja), peribadatan, pengajaran
dan beberapa hal lainnya. Gereja Katholik Roma,
Gereja Othodok dan Gereja-Gereja Reformasi sering
kali bergumul berkenaan dengan keesaan di antara
mereka. Liturgi Lima/leksionari, adalah gerakan kebersamaan, sebuah istilah yang menunjuk pada liturgi yang dipakai pada Ibadah dalam Sidang Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC) yang
diselenggarakan di Lima, Peru berhasil mempertemukan gereja-gereja mainstream (arus utama) untuk
menghayati panggilan mereka dalam sebuah liturgi
ibadah, secara bersama-sama. Meskipun diakui masih ada beberapa
perbedaan didalamnya, akan tetapi Liturgi Lima
berhasil mempertemukannya.
Sebagai bagian dari Gereja-Gereja Dunia, menurut saya tentunya GKJ
mencoba untuk mengerti, mempelajari, menghayati Liturgi Lima/leksionari tsb sebagai gerakan kebersamaan dalam peribadatan, dg gereja di belahan bumi manapun. Kalau ditanya kenapa memakai liturgi leksionari, maka jawabannya adalah itu gerakan kebersamaan (ekuminis) gereja dunia, bagaimana gereja yg satu, keesaan gereja (seperti tercatat dalam Alkitab) tidak dipahami sebagai satu gereja, tetapi banyak gereja, banyak denominasi, dengan pergumulan, visi, dan misi yang sama. Ke esa an itu diperlihatkan dengan memakai liturgi ritual simbolis yang sama, dan bacaan sabda yang sama untuk digumulkan bersama. Banyak gereja arus utama sudah memasukan ide ini dalam dogmanya atau tata gereja serta tata laksananya.
Liturgi Lima menjadi acuan liturgi, terutama liturgi perjamuan kudus, gereja-gereja ekumenis. Artinya, penetapan Liturgi Lima (adaptasi dan hasil akhir oleh Max Thurian dan Geoffrey Wainwright 1983) merupakan tonggak pembaruan liturgi Protestan Reformasi; kemudian baru diikuti pembaruan liturgi di Katolik Roma dan Katolik
telah terjadi melalui gerakan liturgis dan Konsil
Vatikan II abad ke-20. Sehingga salah besar, kalau kita mengatakan bahwa memakai liturgi leksionari itu gereja Protestan Reformis menjadi ke Katolik, katolikan, lah .... pembaharuannya malah duluan gereja Protestan Reformis melakukannya stlh sidang gereja dunia di Lima, Peru. Tapi sayangnya, karena kurang koordinasi dan informasi, menurut saya maka banyak gereja - gereja protestan reformir di indonesia, karena ini barang baru waktu itu, malah mencari informasi nya ke gereja-gereja katolik. Selama sepuluh hari menjelang hari raya Yesus Naik ke Sorga tahun 1995, di Institut
Ekumenis Bossey-Swis, tiga puluh lima orang yang terdiri dari berbagai gereja di belahan bumi (sinode baptis injili pun ada di sana) berhasil memproklamasikan kesatuan atau kesepolaan
liturgi yang memancar melalui keberbagaian ritus
kontekstual. Ikrar Bossey ini penting, sebab
kecurigaan sementara kalangan tentang liturgi
ekumenis disamakan dengan pembaratan ataupun kekhatolikan, dapat
didamaikan. Keseragaman, termasuk klaim bahwa
iturginya adalah yang paling benar dan asli, tidak
lagi berada di dalam bingkai liturgi ekumenis. Dalam
pertemuan-pertemuan internasional, nyanyian dan
Unsur-unsur liturgi yang bernuansa etnik justru
Mendapat penghargaan tinggi. Guliran diskusi yang disepakati waktu itu adalah perjalanan para murid
Emaus (sebenarnya: menjauhi Yerusalem, kemudian kembali ke Yerusalem) bersama Yesus. Bagian pendahuluan (Lukas 24:13-24) diawalidengan perasaan galau, tak tentu arah. Kemudian firman disampaikan (Lukas 24:25-27), namun masalah tidak
selesai. Mereka tetap tak mengenali-Nya. Baru ke
perjamuan/makan bersama (Lukas24:28-32), mata mereka terbuka
mereka mengenal-Nya - tapi la lenyap. Pengalaman perjumpaan itu menginspirasi mereka berbalik / metanoia / pertobatan (kembali ke Yerusalem) dan menceritakan (sharing/berbagi)
kisah tersebut (Lukas 24:33-35), Ibadah/Liturgi memperjumpakan gereja dengan Kristus melalui gerak gestur ritual simbolis pengenangan akan Kristus juga melalui Firman (bukan khotbah yah), dan terutama perjamuan/makan bersama, menginspirasi gereja menjalani pengurusan di dunia, tidak berputar di tempat, tidak lari dari masalah dunia tetapi menghadapi masalah dunia dg Kristus. Dimaknai dalam pertemuan itu, perjamuan Kudus adalah makan bersama, dimana dalam makan bersama sharing/berbagi adalah hal penting, ada dua bentuk yang dipahami. Kesatu, sharing atau berbagi dalam Perjamuan Kudus, satu alasan makan bersama adalah sharing atau berbagi cerita, cerita tentang peristiwa Kristus, tentang teladanNya dan hikmat pengajaranNya, yang kedua adalah ber kurban, berbagi tak bisa dilakukan tanpa berkurban, inilah persembahan. Hidup, wafat, dan bangkit Kristus adalah pengorbananNya untuk manusia. Maka ada doa collecta sebelum Firman dibacakan (bukan doa epiklesis ya).
MEMAKNAI LITURGI PERJALANAN KE EMAUS
Pulang ke rumah pada sore hari dengan berjalan kaki
sepanjang dua belas kilome ter itu minimal dua setengah jam pasti melelahkan (Jalan kaki). Apalagi jika perjalanan itu ditempuh dengan perasaan tertekan, gundah gulana, pingin menjerit-jerit, gimana tidak guru yg diagungkan mati, ilang lagi mayatnya, blom tuduhan mencuri mayat dari para pejabat, blom harapan mesias politik yg sirna. Ketika, kita dalam keadaan seperti itu, ketika itu kita ada di tempat ibadah melakukan ritual simbolis berupa VOTE atau VOTUM, teriakan bahwa pertolongan kita hanyalah pada Tuhan, penolong kita satu-satu nya adalah Tuhan. Kleopas dan teman anonimnya pun begitu, dan disamperinlah mereka oleh Kristus Tuhan. Kebiasaan zaman itu orang ketemu memberi Salam, itulah VOTUM yang disambut SALAM dalam liturgi/liturgi leksionari. Setibanya di rumah, sangat
bisa dimengerti kalau orang enggan pergi lagi.
Tetapi rasa enggan seperti itu tidak ada pada dini
Kleopas dan kawannya yang ceritanya kita jumpai di kitab
Injil Lukas. Mereka berdua menempuh perjalanan sepanjang jarak
dan sepanjang waktu tersebut di atas, dari Yerusalem ke Emaus. Dan perjalanan itu mereka tempuh bukan dengan
bersemangat, melainkan sebaliknya. Mereka merasa terpukul oleh tidak menentunya berita-berita mengenai nasib tubuh
Yesus. Padahal kematian Yesus itu sendiri sudah cukup menekan perasaan mereka selama tiga hari ini. Kalau menurut peribahasa, mereka adalah seperti orang yang sudah jatuh lalu ditimpa tangga. Agaknya mereka berjalan dengan perlahan, karena kemudian ada seseorang lain yang bisa menyusul dan ber-
gabung dengan mereka.
reka tidak kenali - mereka menumpahkan isi hati mereka. Terhadap Yesus yang bergabung – namun yang mereka tidak mengenali. Liturgi adalah ritual simbolis untuk mengenali Kristus, maka Liturgi adalah pengenangan akan Kristus, akan teladannya, akan hikmat ajaranNya. Liturgi adalah ibadah selebrasi, perayaan akan kenangan Kristus, shg kenapa ada Rabu abu, masa Raya Prapaskah Paskah, Kamis putih, pembasuhan kaki, jalan salib, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Perjamuan Kudus, Masa Raya Advent, Masa Raya Natal, doa sepuluh hari, Minggu Pentakosta, Minggu Trinitas, dlsb itu karena kalender Liturgi, Liturgi / Liturgi leksionari sendiri adalah ritual simbolis pengenangan akan Kristus, kita secara ritual simbolis diajak mengenang Kristus agar dalam ibadah aksi pada kehidupan keseharian, kita membawa wajah Kristus, teladan Kristus, hikmat pengajaran Kristus pada hidup keseharian, itulah liturgi kehidupan. Kemudian Kleopas menceritakan sebab musabab pergumulan mereka pada Yesus, itulah kita mengenal INTROITUS, INTROITUS berisi inti pergumulan dalam peribadatan, maka isinya adalah kata pembuka, sebetulnya kurang tepat kalau diisi ayat Alkitab. Ketika Yesus menegur kebodohan Kleopas dan temannya, adalah fase bagaimana seharusnya kita masuk dalam sesi PENGAKUAN DOSA, kemudian Yesus menjelaskan SEMUA KITAB, makanya kita masuk dalam BACAAN SABDA dengan kelengkapan dari PL, Surat-surat, dan INJIL, mazmur sebagai nyanyian tanggapan. Akhinya mereka tiba juga di Emaus. Yesus bersikap seolah-olah hendak terus berjalan. Sesuai dengan adat yang lazim, mereka mengundangNya untuk makan dan bermalam. Lalu Yesus bermalam. Bahkan mereka bukan hanya mengundang, melainkan "sangat mendesakNya". Mereka berkata, "Tinggallah
bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam.
Ucapan itu telah mengilhami lahirnya lagu Nyanyian Rohani 111: Tinggal sertaku, kawanku kudus, t'lah
hampir malam, jangan jalan t'rus."
Yesus menerima ajakan itu. Mereka duduk makan. Pada saat itu, Kleopas dan kawannya mengenali Yesus. Lalu
Yesus pun hilang dari pandangan mereka.
Apa yang terjadi kemudian ? Injil Lukas mencatat
"Lalu bangunl ah mereka dan terus kembali ke Yerusalem."
Tetapi bukankah mereka lelah ? Tadi dikatakan bahwa mereka baru saja berjalan selama dua setengah jam. Bukan-
kah lebih enak diam di rumah ? Ternyata perjumpaan mereka dengan Yesus telah merubah keadaan. Kelelahan menjadi tidak terasa. Bisa jadi
mereka tadi belum mulai makan, karena pengenalan itu terJadi ketika Yesus baru saja mulai membagi roti.
Tetapi rasa laparpun menjadi tak terasa. Ada kegembiraan
yang langsung merasuk pikiran mereka. Ada semangat yang muncul menjiwai mereka. Perjalanan yang tadi menjemukan
itupun ditempuhnya sekali lagi. Mereka mau membagi kabar gembira kepada kawan-kawannya : "Benar, Yesus sudah bangkit!"
pejumpaan dengan Yesus menjadikan mereka bersemangat lagi untuk menjalani jalan Emaus Yerusalem dan bahkan menjalani jalan hidup. Begitulah se betulnya, kita menjalani setiap Minggu dalam peribadatan kita, setiap ibadah hari Minggu, kita dikobarkan semangat kita untuk meneladan Kristus kembali di hari Senin - Sabtu
(20042026)(TUS)
Rabu, 15 April 2026
SUDUT PANDANG LUKAS 24:13-35 PERJALANAN KE EMAUS
PENGANTAR
Minggu ini, 19042026, bacaanleksionari Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 2:14a,36-41, Bacaan 2 : 1 Petrus 1:17-23, Bacaan Injil : Lukas 24:13-35, bahan yang akan kita gumuli adalah perjalanan ke emaus. Sastra tentang perjalanan ke emaus sarat makna dan banyak sudut pandangnya. Bahan sastra ini menarik, dari sudut bahasa asli, dari sudut plot twist yg dibuat penulis, dlsb. Secara leksionari, Bacaan1, bacaan 2 mempertajam bacaan injilnya, secara leksionari, saya tidak akan melihat mazmur karena mazmur adalah nyanyian tanggapan dalam menyoal liturgi, sebetulnya bukan bahan untuk sudut pandang khotbah leksionari. Salah satu yang menarik dari pemaknaan perjalanannke emaus adalah wajah Allah. Plot twist nya, kita berjalan bersama Kristus tetapi nyata-nyata kita tidak mengenali wajah Kristus, kita menerima khotbah Kristus masih juga tidak kenal wajah Kristus, hati kita berkobar oleh karna Kristus dan ajaranNya tetapi tetap tidak kenal wajah Kristus, setelah Kristus memperagakan kebiasaan yang dilakukan pada saat jamuan makan, pada saat kenangan akan kebiasaan Kristus saat jamuan makan, maka barulah kita mengenali wajah Kristus, bayangkan kita teman Kleopas yang tidak disebutkan namanya. Kesan sastra dari penulis Injil Lukas, memang tak disebutkannya siapa teman Kleopas, seakan ingin menempatkan pembaca pada posisi tsb. Temanya khotbah jangkep GKJ melihat wajah Kristus dalam karya ciptaan. Pengalaman seorang pendeta muda yang diceritakan ke saya, saat itu pendeta muda ini masih calon pendeta, dia sedang menepi dan menyepi di sebuah biara, suster biara/biarawati yang ndampingi dirinya, mengatakan hal yg punya spirit sama seperti yang ada di ilustrasi khotbah jangkep. Intinya, Bahwa sesama yang menyakiti kita sekalipun adalah wajah Kristus. Dengan kerut di dahi, pendeta muda ini belum bisa menerima atau menemukan jembatan nalar akan hal tsb. Masak wajah Kristus akan ada di seorang penjahat, koruptor, penipu, pemerkosa, pelaku ilegal logging, pelaku bullying, pelaku kdrt, dlsb? Menurut pemikirannya, Tapi merasa wajah Kristus yang mana kl kesehariannya menyakiti sesama? Dia berpikir, Mungkin dirinya masih bisa terima kl pernyataannya itu "sesama yang menyakiti kita itu tetap diberkati Kristus." Tapi kl untuk menyatakan wajah Kristus, wajah yang mana ya? Mari kita melihat jembatan nalarnya, Roh Kudus dicurahkan pada setiap manusia tercantum awal pada kisah para rasul, artinya di setiap manusia ada Roh Allah di sana, itu PB sedangkan PL Roh Allah hanya pada orang terpilih, kalau Roh Allah ada di setiap manusia, maka kunci tidak buta pada wajah Allah atau tidak mendengar swara Allah adalah pertobatan, wajah Allah ada dimana saja, Swara Allah selalu mendengung di sanubari manusia sebagai kata nurani. Arti, orang sejahat apapun itu, ada wajah Allah di sana, ada swara Allah di sana, yang berusaha menguasai jiwanya, tetapi manusia punya kehendak bebas untuk tetap memberontak pada Allah, untuk merusak wajah Allah pada kehidupannya. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, tapi kalau Allah bebas tak bisa dibatasi maka manusia sedikitnya punya natur itu, sebagai cerminan, dan kehendak bebas manusia itu dimaksudkan sebagai keinginan memberontak pada Allah. Makanya pada awalnya manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, tapi kehendak bebas, kehendak melawan Allah, dosa Natur itu akan selalu ada, tinggal kita mau melawan sisi gelap kita atau tidak? Dosa Natur itulah yg tidak bisa hilang dari manusia, gambar wajah Allah itu dirusak oleh manusia, yang bisa memulihkan gambar wajah itu yah .... hanya si pemilik wajah yang membuat gambar wajah itu pada manusia. Itulah kenapa dalam tulisan saya yang lain tentang ke emaus, saya mengambil kisah Adam hawa saya sejajarkan dengan perjalananan ke emaus. Makanya, konsep PL ada pada taat dan tidak taat, Kenapa simbol liturgi Leksionari di pertemuan kota lima, diambil dari perjalanan ke emaus? Lukisan terkenal tentang perjalanan ke emaus itu digambarkan kaki kleopas berlawanan arah, Supaya umat ingat kl dalam diri nya, ada Kristus, maka kembali (bertobat) adalah perjalanan.
Pergumulan menjaga wajah Kristus, Itu konsep Roh dan daging juga, perjalanan ke emaus itu karya sastra yg merangkum banyak makna, Jembatan kuncinya berarti rusak atau ndaknya wajah Kristus itu dalam diri setiap kita ya pak? Dengan begitu, konsep perjalanan ke emaus bisa menjawab misal, kenapa aku diperkosa dimana Allah, kalau Allah maha kuasa kenapa tidak mencegah hal ini terjadi padaku? Allah tetap berkarya di saat itu, Swara Roh Allah berdengung di hati sanubari dalam kata nurani si pemerkosa untuk tidak melakukan perkosaan, tetapi si pemerkosa tidak mendengar, berkehendak bebas melawan swara Allah, merusak wajah Allah. Wajah Allah ada di pihak yang tertindas, lewat penolakan, jeritan, tangisan, swara kain robek, dlsb wajah Allah ada pada korban, tetapi si pemerkosa tetap berkehendak bebas untuk merusak wajah Allah itu, bahkan menodai wajah Allah yang ada di dalam dirinya sendiri. Wajah Allah yang ada dalam diri pemerkosa, berupa nuraninya yg berdentang terus agar tindakan pemerkosa an tidak dilakukan (yang tidak didengarkan), wajah Allah pada korban, adalah perlawanan dan penolakan terhadap tindakan pemerkosa an tsb (yang tidak diindahkan pelaku). Jadi, Allah ada di sana, Allah ada dan tidak tinggal diam, tetapi keinginan manusia memberontak pada Allah, kemauan merusak wajah Allah mendominasi. Apakah Allah tahu hal ini sebelum terjadi pemerkosaan, tahu .... jelas tahu, kenapa Allah tidak mencegah? Kenapa harus ada korban? Allah itu memerdekakan manusia, untuk manusia memilih pilihannya sendiri, Allah tidak mau memaksa manusia seperti robot yg tunduk pada pembuatnya. Pilihan manusia, selain dapat merusak wajah Allah dalam dirinya, juga merusak sesamanya, contoh adalah keputusan perang. Itulah kenapa, kita menentang hukuman mati karena disetiap manusia, sejahat apapun dia ada wajah Allah. Hanya wajah yang rusak atau yang utuh ya yang menjadi pertanyaan. Kenapa norma hukum yang sekarang (KUHP baru) itu lebih ditujukan untuk merehabilitasi bukan menjatuhkan hukuman setimpal kejahatan. Wajah Allah itu siap kembali ada dan baik, asal ada pengampunan dan pertobatan itu salah satu inti hikmat pengajaran Kristus. Wajah Allah itu ada dimana saja, bahkan di alam sekitar, makanya seringkali seniman menggambarkan Alam sekitar sebagai wajah Allah. Inti pengampunan adalah memberi kesempatan untuk bertobat, inti hidup baru adalah keinginan kuat untuk berproses dalam pertobatan itu kenapa baptis dianggap simbol dari mati jadi hidup (paskah). Kadang kita seperti kleopas dan temannya, tidak mengenali wajah Allah yg nyata ada didepan kita, contoh kita melihat kebutuhan akan kayu untuk ekonomi kita, tetapi kita tidak melihat kebutuhan pohon, ketika pohon tidak dapat menjalankan fungsinya bagi alam, dan alam menjadi alat pemusnah masal bagi manusia, maka wajah Allah sudah rusak atau kita rusak, karena hasilnya adalah pro kematian bukan pro kehidupan, pro kematian itu berlawanan dengan Allah yang pro kehidupan. Sebenarnya, di mana ada kehidupan, maka di situ ada wajah Allah. Termasuk ada dalam alam sekitar. Berarti kan kl kita merusak alam kita sama aja dengan pelaku pemerkosaan ya? Ada kebutuhan ego, kekuasaan dan nafsu syahwat pemerkosa, tapi tidak memikirkan perasaan dan keterbukaan korban pemerkosaan. Kita selalu bersama Kristus, karena ada dalam nurani kita, tapi kita lupa wajahNya walaupun dekat ke kita. Maka, gerak ritual simbolis dalam liturgi Leksionari adalah pengenangan akan wajah Kristus, upaya untuk selalu mengingatkan kita akan kebiasaan, teladan, dan hikmat pengajaran Kristus atau wajah Kristus (maka kenapa ada Rabu abu, masa raya prapaskah paskah, Advent natal, ada pembasuhan kaki, ada jalan salib, ada Perjamuan Kudus/ekaristi, doa sepuluh hari jelang turunnya Roh Kudus, Pentakosta, dlsb). Liturgi Selebrasi agar nyata dalam liturgi aksi, liturgi kehidupan.
PEMAHAMAN
Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41 – Kristus sebagai Kyrios atas Sejarah & Kosmos, Ini klimaks khotbah Petrus di Pentakosta. Lukas sengaja memotong ay.14b-35 yang berisi kutipan Yoel & Mzm 16, langsung ke kesimpulan kristologis ay.36. Kyrios kai Christos ay.36: Kyrios adalah gelar YHWH dalam LXX. Petrus melakukan klaim teologis tertinggi: Yesus yang disalib = YHWH Pencipta Mzm 110:1. Ini dasar untuk "wajah Kristus di ciptaan" Dia bukan tamu di dunia, Dia Tuannya. Sลthฤte apo tฤs geneas tฤs skolias tautฤs ay.40: "Selamatkanlah dirimu dari angkatan yang bengkok ini". Skolios = bengkok, menyimpang. Dalam konteks ekologi, ini "angkatan" yang hidup melawan taxis ciptaan Allah. Bertobat berarti keluar dari logika eksploitasi. Khotbah Petrus tidak berakhir di pengampunan dosa personal ay.38, tapi di pembentukan koinonia (persekutuan) ay.42-47 yang hidup dengan ekonomi berbagi. Melihat Kristus = mengubah relasi dengan sesama dan harta. Ciptaan adalah "harta bersama" pertama. 1 Petrus 1:17-23 – Ditebus untuk Hidup Kudus di Tengah Ciptaan yang Fana. Surat untuk jemaat diaspora di Asia Kecil, tahun 60-64 M, yang menderita karena iman. Petrus mengingatkan identitas mereka sebagai "pendatang" _paroikos_ ay.17. _En phobล ton tฤs paroikias hymลn chronon anastraphฤte_ ay.17: "selama masa menumpangmu, hiduplah dalam takut". _Paroikia_ = hidup sebagai orang asing. Teologi penciptaan: dunia ini rumah Allah, kita penatalayan, bukan pemilik, kita hanya pengelola. Elytrลthฤte... timiล haimati hลs amnou ay.18-19: "kamu ditebus... dengan darah yang mahal seperti anak domba". Kosakata korban Paskah Yes 53. Penebusan kosmis: Kristus menebus seluruh _ktisis_ yang rusak karena dosa, bukan cuma jiwa. Dia logou zลntos theou ay.23: "oleh firman Allah yang hidup". Logos yang sama di Yoh 1:3 "segala sesuatu dijadikan oleh Dia". Firman yang mencipta = Firman yang melahirbarukan kita. Maka ciptaan & keselamatan satu sumber. Ay.18 "cara hidup yang sia-sia warisan nenek moyang" = pola hidup merusak yang turun-temurun. Pertobatan ekologis adalah bagian dari kekudusan ay.15. Anagennaล ay.23 "dilahirkan kembali" berarti mata baru untuk lihat dunia. Lukas 24:13-35 – Pola Ekaristis/makan bersama untuk Mengenal Kristus dalam yang seperti Biasanya. Ini satu-satunya penampakan kebangkitan yang panjang di Lukas. Struktur liturgis: Liturgi Sabda ay.25-27, Liturgi Ekaristi ay.30, kenapa liturgi lima yg disepakati ekumene di kota lima, mendaarkan pada bacaan injil Lukas ini. FraOphthalmoi autลn ekratounto ay.16 vs diฤnoichthฤsan ay.31: "mata mereka terhalang" vs "terbukalah". Kata kerja pasif ilahi. Kebutaan adalah kondisi default manusia jatuh. Pengenalan adalah anugerah, terjadi saat klasei tou artou "pemecahan roti" frasa teknis Lukas untuk Ekaristi/kebiasaan makan bersama. Oukhi kardia hฤmลn kaiomenฤ ฤn ay.32: "hati berkobar-kobar". Kaiล = membakar, memurnikan logam. Sabda Kristus membakar selaput yang menutupi mata kita untuk lihat Dia di Torah, dan sekarang di ciptaan, puncak pada bacaan sabda, mahkotanya bacaan Injil, shg khotbah itu harus naik dari bacaan 1 berpusat pada bacaan injil. Lihat, Tuhan Yesus membuka semua kitab, makanya itu bacaan sabda menjadi puncak berpusat pada bacaan Injil. Egnลsan auton_ ay.35: "mereka mengenal Dia". Ginลskล = kenal dalam relasi, bukan tahu info. Puncak pengenalan justru saat Dia "lenyap" ay.31. Artinya: setelah Ekaristi, tugas kita mengenal Dia yang "lenyap" di rupa roti, sekarang hadir di rupa dunia. Emaus adalah paradigma sakramental. Allah memakai materi biasa - jalan berdebu, roti jelai - untuk menyatakan diri. Maka hutan, sungai, wajah sesama yang miskin adalah "materi sakramen" lanjutan. Dari ibadah selebrasi ke ibadah aksi dalam kenyataan hidup. Identitas Kristus Dia Kyrios = YHWH Pencipta Dia Amnos yang menebus dengan darah Dia Synodeuลn yang berjalan bersama Kristus bukan cuma Penebus dosa, tapi Tuan atas ciptaan yang jalan bersama kita di dalamnya. Wajah-Nya ada di ciptaan karena Dia yang buat & tebus. Masalah Manusia Hidup dalam genea skolia "angkatan bengkok" Hidup mataia "sia-sia warisan leluhur" Mata krateล "terhalang" Dosa membuat kita bengkok, sia-sia, dan buta. Akibatnya: kita tidak lihat Kristus di pohon, sungai, sesama. Kita salibkan Dia lagi lewat perusakan alam. Solusi Allah Pertobatan + Baptisan + Pengampunan = masuk komunitas baru Dilahirkan kembali oleh Logos yang kekal Mata dibuka saat Sabda + Roti Cara melihat wajah Kristus: 1) Bertobat dari mentalitas eksploitasi, 2) Lahir baru oleh Firman, 3) Latih mata lewat Ibadah berpuncak bacaan Sabda berpusat bacaan ijil & Perjamuan Kudus. Buah Koinonia yang berbagi harta ay.44-45. Philadelphia anypokritos "kasih persaudaraan yang tulus" ay.22. Murid lari bersaksi ke Yerusalem ay.33 Orang yang lihat Kristus di ciptaan otomatis jadi komunitas ekologis: berbagi, mengasihi, bersaksi dengan merawat bumi. Kita Buta: Emaus Masa Kini [Luk 24:16] - Ceritakan kebutaan kita: lihat pohon hanya kayu, lihat laut hanya wisata, lihat orang miskin hanya pengganggu. Ini genea skolia Kis 2:40. Kristus Membuka Mata: Dia Tuan & Tebusan [Kis 2:36 + 1Ptr 1:19] - Karena Dia Kyrios yang ciptakan & Amnos yang tebus, maka setiap jengkal ciptaan punya sidik jari-Nya. _Paroikos_ 1Ptr 1:17: kita numpang di rumah-Nya. Mata Dibuka lewat Sabda & Roti, Tangan Bergerak Merawat [Luk 24:30-35 + Kis 2:42-47] .
(15042026)(TUS)
Selasa, 14 April 2026
Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah fenomena Cut Zahara Fona.
fenomena Cut Zahara Fona.
PENGANTAR
Membaca sebuah buku tentang kisah lama, bagaimana sebuah bangsa bisa menjadi sangat bodoh karena jembatan nalarnya rusak. Menarik untuk menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahkan institusi agama bahwa umat dan pemimpinnya harus cerdas berpengetahuan, jangan membuat umat bodoh dengan memgkurung pengetahuan apalagi demi kepentingan. Buatlah umat itu cerdas. Dasar dari kecerdasan adalah membaca, kronologi kata pandai bukan dari sudut menyeleseikan permasalahan atau menjawab persoalan tetapi dari ide untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk didiskusikan jembatan nalar bagi jawabnya shg tercipta sistimatika nalarnya.
PEMAHAMAN
Kisah ini bukan sekadar catatan tentang penipuan massal pada dekade 1970-an, melainkan sebuah cermin historis yang sangat jujur tentang psikologi manusia, kekuasaan, dan betapa rapuhnya akal sehat ketika dihadapkan pada keputusasaan serta harapan yang berlebihan.
Berdasarkan literatur sejarah dan arsip pemberitaan kredibel masa itu, berikut adalah kisah lengkap hoaks "Janin Mengaji" Cut Zahara Fona, dari awal kemunculannya hingga akhir yang menggantung.
I. Awal Mula Kemunculan dari Serambi Mekkah
Kisah ini berpusat pada seorang perempuan muda bernama Cut Zahara Fona, yang berasal dari kawasan Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh. Pada tahun 1970, usianya sekitar 23 tahun. Secara latar belakang pendidikan, ia tercatat tidak tamat Sekolah Dasar (SD) sebuah fakta yang kelak membuat banyak orang tak menyangka ia mampu merancang skema penipuan tingkat nasional.
Pada bulan Mei 1970, Cut Zahara sebenarnya baru saja melahirkan bayi laki-laki secara normal, membuat perutnya masih terlihat sedikit membesar. Memasuki pertengahan tahun 1970, ia tiba-tiba membuat klaim yang menggemparkan: ia menyatakan sedang mengandung lagi, namun janin di dalam rahimnya memiliki mukjizat, yakni mampu bersuara, menangis, melantunkan azan, hingga mengaji.
Awalnya, kabar ini hanya beredar dari mulut ke mulut di desanya. Kepada warga yang penasaran, ia mempersilakan mereka mendekat dan menempelkan telinga ke perutnya yang dibalut kain batik tebal. Saat itulah, diam-diam ia menyalakan tape recorder (alat pemutar kaset) berukuran mini yang disembunyikan di balik pakaiannya. Pada masa itu, tape recorder mini adalah barang mewah dan sangat tidak lazim dikenal oleh masyarakat pedesaan. Karena ketidaktahuan teknologi, warga yang mendengar suara sayup-sayup itu serta-merta percaya bahwa suara tersebut benar-benar berasal dari dalam rahim. Testimoni demi testimoni pun meledak, menyebar ke seluruh penjuru Aceh.
II. Histeria Massal dan Keuntungan Finansial
Fase ini adalah titik di mana kebohongan Cut Zahara bermetamorfosis menjadi "industri" penipuan. Berita ini segera diendus oleh surat kabar lokal dan nasional, menciptakan narasi "mukjizat" yang membuat jutaan penduduk Indonesia penasaran.
Cut Zahara mulai melakukan "tur keajaiban" ke berbagai kota besar seperti Banda Aceh, Medan, hingga Jakarta. Di setiap kota, kedatangannya disambut bak tokoh suci. Jalanan macet total, dan orang-orang berdesakan terutama mereka yang sakit, cacat, dan miskin yang datang membawa keputusasaan. Banyak yang menangis histeris, sujud syukur, dan mencium tangannya setelah mendengar suara dari balik kain batiknya.
Di balik kedok spiritualitas, aliran uang berupa sedekah, sumbangan sukarela, dan hadiah barang berharga mengalir deras. Ia difasilitasi penginapan gratis dan jamuan mewah oleh tokoh-tokoh lokal. Namun, keuntungan terbesarnya adalah kredibilitas. Ketika tokoh agama dan pejabat daerah menyatakan percaya bahwa "ini adalah kebesaran Tuhan," masyarakat awam pun semakin mantap mematikan daya kritis mereka.
III. Menembus Jantung Kekuasaan
Manuver Cut Zahara mencapai puncaknya ketika ia diundang ke ibu kota. Kedatangannya tidak diperlakukan seperti rakyat biasa, melainkan tamu penting pembawa anugerah.
Batu loncatan terbesarnya adalah validasi dari Menteri Agama saat itu, KH. Mohamad Dachlan, yang memberikan komentar di media yang cenderung mengamini fenomena tersebut. Puncak ironi terjadi ketika tokoh nasional sekelas Adam Malik (Menteri Luar Negeri) mengundang Cut Zahara ke Istana. Di hadapan saksi, Adam Malik bersedia membungkuk, menempelkan telinganya ke perut Cut Zahara, dan mengaku takjub mendengar suara azan.
Skala kehebohan ini bahkan memancing perhatian Presiden Soeharto, lingkaran Cendana, hingga Perdana Menteri Malaysia, Tengku Abdul Rahman. Validasi dari tokoh-tokoh sentral ini menjadi "stempel resmi" yang membuat kebohongan ini mustahil dibantah oleh rakyat biasa.
IV. Akal Sehat yang Terkucilkan
Di tengah histeria ini, ada harga mahal yang harus dibayar oleh kewarasan. Dunia kedokteran tahu bahwa klaim itu tidak masuk akal, namun mayoritas akademisi memilih bungkam karena takut melawan arus massa.
Satu sosok yang berani tampil adalah Dr. Herman Susilo, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dengan nalar medis sederhana, ia menjelaskan bahwa janin hidup di dalam air ketuban dan bernapas melalui plasenta. Jika janin membuka mulut untuk bersuara, air ketuban akan masuk ke paru-paru dan janin itu pasti mati tenggelam.
Nahasnya, penjelasan logis ini dibalas dengan reaksi brutal. Masyarakat menyerang dan mencaci maki Dr. Herman, menuduhnya arogan, menentang kekuasaan Tuhan, bahkan memberinya cap anti-agama. Praktik medis dan nyawanya terancam, memaksanya mengasingkan diri ke daerah Ciganjur. Kehancuran reputasi sosialnya ini menciptakan spiral of silence (lingkaran keheningan) di mana para intelektual lain memilih tutup mulut rapat-rapat.
V. Terbongkarnya Kedok Sang Penipu
Tirai kebohongan akhirnya terkoyak pada Oktober 1970, bermula di Banjarmasin. Brigjen Pol. Abdul Hamid Swasono, Kapolda Kalimantan Selatan, meragukan fenomena ini dengan tegas. Ia memerintahkan aparatnya melakukan investigasi penyamaran.
Beberapa Polisi Wanita (Polwan) berpura-pura menjadi warga yang takjub dan ingin mendengarkan suara janin. Dalam pengamatan jarak dekat, mereka berhasil menemukan sumber suara tersebut: sebuah tape recorder mini yang diselipkan di perut dan ditutupi kain batik. Cut Zahara dengan cekatan menekan tombol play setiap kali ada yang menempelkan telinga.
Temuan telak ini dilanjutkan dengan pemeriksaan medis paksa di RSPAD Jakarta pada 20 Oktober 1970. Hasilnya memalukan bagi para pengikutnya: Cut Zahara Fona sama sekali tidak sedang hamil. Pemerintah akhirnya mengumumkan secara resmi bahwa fenomena tersebut adalah murni penipuan.
VI. Fakta Gelap dan Akhir yang Menggantung
Sejarah sering kali menyisakan fakta terselubung. Di balik hebohnya kasus ini, ada beberapa detail kelam yang terabaikan:
- Waktu Kehamilan yang Mustahil: Cut Zahara melakoni peran ini lebih dari satu tahun, namun ribuan orang mengabaikan logika dasar bahwa usia kehamilan normal hanyalah 9 bulan.
- Legitimasi Terselubung: Ulama besar Buya Hamka sebenarnya ragu, namun pernyataannya yang diplomatis bahwa "apapun bisa terjadi jika Tuhan berkehendak" justru dipelintir oleh massa sebagai bentuk dukungan penuh.
- Nasib Tragis Sang Pembongkar Mitos: Brigjen Swasono, pahlawan akal sehat yang membongkar hoaks ini, justru menemui nasib tragis. Ia dipensiunkan dini dan meninggal di usia 52 tahun, dengan desas-desus kuat bahwa ia diracun karena telah membuat malu elite politik Orde Baru.
Setelah kebohongannya terbongkar, Cut Zahara ditahan. Namun, proses hukumnya berjalan sangat senyap demi menyelamatkan muka para petinggi negara yang telanjur terbuai. Pertanyaan tentang siapa aktor intelektual yang memodali tape recorder mahal tersebut tak pernah terjawab.
Setelah masa hukumannya selesai, Cut Zahara Fona lenyap tanpa jejak. Di saat yang sama, bangsa ini mengalami amnesia kolektif. Jutaan masyarakat, akademisi, dan pejabat yang dulunya histeris dan menangis haru mendadak bungkam total. Rasa malu sosial yang teramat besar membuat semua orang sepakat untuk mengubur peristiwa ini dalam-dalam.
VII. Refleksi Kedewasaan
Kisah Cut Zahara Fona adalah pengingat abadi bahwa kebenaran tidak selalu dimenangkan oleh suara terbanyak. Tragedi sesungguhnya bukan pada kelihaian seorang penipu, melainkan pada bagaimana manusia dengan suka rela menyerahkan kemandirian berpikir mereka. Ketika keputusasaan berpadu dengan fanatisme ketokohan, logika menjadi hal pertama yang dikorbankan.
Alat penipunya mungkin telah berevolusi dari pemutar kaset menjadi algoritma dan deepfake di era modern, namun kerentanan psikologis kita tetap sama. Selama kita malas memverifikasi fakta dan lebih suka menelan narasi yang memanjakan emosi kita, sejarah akan selalu menemukan cara untuk mengulang dirinya sendiri. Mempertahankan akal sehat dan bersikap skeptis yang proporsional adalah satu-satunya jangkar yang kita miliki di tengah derasnya arus informasi.. ๐๐๐
(15042026)(TUS)
Sudut Pandang keliru soal JK
Sudut Pandang keliru soal JK
PENGANTAR
Ketika saya melihat tayangan potongan video dan pembahasan tentang JK di UGM pada suatu TV yg terkenal dg gelitik politik tv nya, saya bertanya apa benar JK sedemikian berani bicara rasis dan salah tafsir makna Alkitab dari sudut pandang kristiani di wahana UGM?. Sebodoh itukah membuka aib sendiri, di tempat terbuka publik tentunya siapa saja bisa merekam perkataannya, tidak mungkin sebodoh itu, jembatan nalarnya gak masuk, atau ada strategy politik tertentu? Di luar memang JK tokoh intelektual dibelakang semuanya, tapi kalau memang begitu, seharusnya secara nalar JK tidak akan membuka dirinya segamblang itu, terkecuali ada strategi tertentu di belakang itu semua, yah .... Politik. Kemudian, saya mulai mencari video lengkapnya, ada seorang teman yg memberikan video lengkapnya, ternyata jauh api dari panggangan. Ungkapan JK secara lengkap di UGM, tidak sama makna bahkan berkebalikan dengan makna potongan video yang beredar di medsos. Padahal, dari potongan video JK yg beredar di medsos sudah banyak pimpinan gereja, pimpinan ormas kristiani yang menghujat JK, dan banyak juga yg berpendapat miring atau negatif pada JK. Bahkan ada ormas kristiani yg melayangkan gugatan pada JK untuk penistaan/penodaan agama. Saya jadi mikir ini kerja TV tersebut menjelekan JK atau skenario menaikan pamor JK yg sudah mulai turun? Tidak Taulah, saya mo membahas sudut pandang lain di kisaran hal tsb. Satu hal lagi tentang negara ini yg menggelitik saya, Sedikit saja tentang Penodaan Agama itu tadi yg saya sebutkan sebelumnya. Sejak awal, saya telah sering menyatakan perlunya pemerintah dan parlemen meninjau ulang seluruh produk hukum yang bertalian dengan penodaan agama atau blasphemy law. Regulasi semacam ini sangat diskriminatif (karena akan selalu bias mayoritas, sebagaimana juga terbukti selama ini). Regulasi semacam ini sangat sumir dan rentan untuk digunakan secara semena-mena, sesuai dengan kepentingan atau pesanan kelompok atau pihak tertentu.
Satu lagi keberatan saya dengan regulasi semacam ini: negara jadi ikut berteologi, lewat pengadilan. Menurut saya, negara mestinya cukuplah mendasarkan segala Keputusan dan kebijakannya berdasar konstitusi dan segala bentuk regulasi yang telah terobjektifasi. Terkait teologi dan urusan dogma agama, biarlah itu menjadi ranah privat, tak perlulah negara ikut mencampurinya lewat pengadilan. Itu sebabnya pada 2010 PGI ikut mendukung Judicial Review atas UU Nomor 1/PNPS/1965, yang kemudian diadopsi menjadi Pasal 156a KUHP. Pasal 156a KUHP lama ini memang telah dihapus kini dengan digantinya KUHP melalui Undang-undang Nomor 1/2023. Dengan rumusan yang terkesan lebih baik, kandungan Blasphemy Law ini direformulasi menjadi pasal 300-3005 KUHP baru. Meski demikian, cukup mengherankan bagi saya, masih saja ada orang yang suka dengan regulasi produk orba ini, meski telah direformulasikan. Ada apa, sih?
Tuhan tidak perlu dibela, kata Gus Dur. Demikian pun kekristenan dan ajarannya, tidak perlu meminjam tangan negara (apparat kepolisian atau pengadilan) untuk melindungi dan membelanya. Kalau ada yang kurang pas, cukuplah dijelaskan bagaimana yang sebenarnya. Kalau ada yang menghinanya? Lah, ini, kan, kesempatan baik untuk menjelaskan seterang-terangnya. Begitu saja, koq, repot.... lagi-lagi kata Gus Dur
PEMAHAMAN
Di kolom komentar saya pada akun saya dan messenger saya, bbrp hari yang lalu ada yang nanya. Pak Titus, saya lihat di medsos ada penyataan satu tokoh bahwa orang Kristen juga berjihad, memerangi orang yang tidak seiman. Perintah ini ada di Matius 10 :34. Bagi saya, pernyataan ini sangat berbahaya. Bagaimana pendapat Bapak? Ya memang, bahaya sekali, jawab saya, dan tetap harus dilihat dulu keseluruhan konteks pembicaraan dan seluruh videonya, sebelum memutuskan pendapat atau menyimpulkan (waktu itu saya belum melihat keseluruhan video, cuman potongan di medsos). Tapi, benar lho, dulu zaman Katolik Roma, dahulu yah, orang Kristen atau protestan juga pernah ada zamannya, itu pernah fanatik begitu, membunuh orang-orang yang tidak seiman, perang salib, ku klux clan, apperheit, dlsb. Bahkan orang yang seiman pun, kalau mereka menyampaikan doktrin yang berbeda, ajaran yang berbeda, yang tidak sesuai dengan ajaran gerejanya, itu dibunuh, pembantaian umat khatolik timur oleh umat khatolik barat, pembantaian murid-murid Luther oleh gereja Katolik Roma, pembantaian murid-murid aramianus, denominasi baptis oleh para murid dan pengikut Calvin bersama aparat kerajaan Belanda, pada zamannya. Ada namanya Inquisisi, yang tukang tangkap dan bunuh mereka yg beda pendapat. Kalau dulu antikritik, mosok ya gereja sekarang mau antikritik juga?Tapi itu dulu, dulu Buanget, padahal filosofinya masih sama KASIH, sekarang gereja sudah sadar bertobat, tidak lagi melakukan itu. Karena itu pandangan yang keliru. Nah, tentang Matius 10 : 34 yang bunyinya begini. "Jangan menyangka bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Pedang di sini maksudnya bukan ngajak perang atau bunuh orang beda iman. Tapi Yesus, mengatakan tentang hal lain, lihat konteksnya. Yesus menyampaikan kepada para murid yang akan meneruskan karyanya menjadi saksinya, bagaimana nasibnya nanti di masa depan. Di akhirnya, ketika mereka mewartakan, akan ada dua sikap berbeda. Menerima dan menolak Kristus. Nah, itulah pedang yang memisahkan orang. Bahkan di dalam keluarga sendiri, antara ayah, anak, istri, dan mungkin menantu, bisa terjadi perpisahan. Kenapa, saya tidak selalu memandang mekarnya gereja sebagai selalu sesuatu yang negatif, ya ..... pemahaman ini, persatuan dalam kebedaan, dan menghargai perbedaan, karena sudah dari asal usulnya kebedaan itu. Kembali ke Matius 10:34, Karena satu menerima, satu menolak. Dan Kristus mengingatkan mereka, kalau itu terjadi, memang itu suatu penderitaan bagi kalian, para murid. Tapi kalian harus siap menerimanya, dan siap memprioritaskan penerimaan akan Kristus. Supaya Kristus pun nanti mengakui kalian di hadapan BapaNya di surga, kurang lebih konteks nya begitu. Jadi, harus dibedakan antara jihad dan martir. Jihad itu dia membunuh orang untuk kehebatan dirinya, kehebatan agamanya.Tapi martir mengorbankan dirinya bagi keselamatan orang lain. Pernyataan ini, jika dibaca dalam konteks sejarah konflik Poso dan Maluku, tidak sepenuhnya keliru. Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada masa itu agama memang tampil dengan wajah yang terdistorsi. Sebagai orang yang pernah langsung menerima berita dinamika konflik tersebut, dari narasumber langsung, karena perwakilan sinode Baptis Injili ada di pusat kerusuhan, saya menyaksikan banyak dokumentasi bagaimana legitimasi religius, doa, kidung rohani, hingga pemberkatan tokoh agama sering
menjadi prasyarat sebelum kombatan/ peserta pertempuran turun ke medan konflik. Kata
"Shalom yang bermakna damai bahkan kerap dipekikkan sebagai penyemangat di komunitas Kristen sebelum menuju ke area
bentrokan, Alkitab diikatkan di tubuh untuk menambah keberanian, menyabitkan dan membabatkan senjata tajam sambil meneriakkan nama TRINITAS. Konflik yang sejatinya berakar pada ketidakadilan sosial
dan politik kemudian dipersepsi sebagai "konflik agama", sehingga kekerasan memperoleh aura moral dan sakral. Saya yakin JK memahami realitas ini sebagai orang yang turut berperan
dalam penyelesaian konflik di Maluku dan Poso. Pernyataan Bapak Jusuf Kalla dalam public lecture di UGM pada 5 Maret 2026 kembali membuka diskusi penting tentang hubungan antara agama dan kekerasan. Dalam kuliah bertema "Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar," ia menyinggung konflik Poso dan
Ambon (red. Maluku) sebagai contoh bagaimana agama dapat menjadi alasan yang mudah digunakan untuk membenarkan kekerasan. Menurutnya, kedua pihak, Muslim dan Kristen, sama-sama menganggap bahwa "mati atau mematikan, itu syahid", sehingga konflik sulit dihentikan.
Sudut ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด Lukas 24:13-35 [๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ ๐๐๐ ๐ฃ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ, ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐], ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ก๐ก๐๐ ๐๐๐ง๐จ๐๐ข๐ ๐ ๐๐ข๐
Sudut ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด Lukas 24:13-35 [๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ ๐๐๐ ๐ฃ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ, ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐], ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ก๐ก๐๐ ๐๐๐ง๐จ๐๐ข๐ ๐ ๐๐ข๐
PENGANTAR
Minggu 19 April 2026, Keempat kitab Injil yang merupakan bagian dari Alkitab, kitab suci umat Kristen, menceritakan penampakan Yesus sesudah kebangkitan. Dari sejumlah cerita di sana kisah penampakan Yesus menyertai dua orang murid dalam perjalanan menuju Emaus di Injil Lukas adalah yang paling kerรจn secara sastrawi dan teologis.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu ketiga dalam masa raya Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 24:13-35 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41, Mazmur 116:1-4, 12-19, dan 1Petrus 1:17-23.
LAI memberi judul perikop (๐ฑ๐ข๐ด๐ด๐ข๐จ๐ฆ) bacaan Injil Minggu ini (Lukas 24:13-35) ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ ๐๐ฎ๐ข๐ถ๐ด. Konteks terdekat bacaan adalah keseluruhan ayat dalam pasal 24 atau pasal terakhir Injil Lukas. Mengapa kisah ini saya sebut paling kerรจn?
▶️ Kisah ini merupakan penghubung atau jembatan antara cerita tentang kubur kosong (Luk. 24:1-12) dan penampakan Yesus kepada para rasul (Luk. 24:36-53).
▶️ Kisah ini merupakan “ringkasan” aneka cerita yang disatukan oleh pengarang Injil Lukas ke dalam “satu cerpen”.
▶️ Dalam kisah ini Lukas mengulang tema teologi yang diusungnya bahwa Mesias harus menderita untuk dapat masuk ke dalam kemuliaan. Teologi kenaikan. Bandingkan dengan Injil Matius yang pengarangnya sejak awal menyatakan bahwa Yesus adalah Raja Mesianik sejak lahir.
Kisah ini dalam suasana teduh di awal musim semi. Bacaan diawali dengan ๐๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข … yang berarti hari kebangkitan Yesus, hari pertama pekan itu yang sama dengan hari Minggu saat ini. Dua orang murid Yesus, tetapi bukan dari 11 rasul, pergi (atau pulang) ke sebuah kampung yang bernama Emaus. Jaraknya lebih kurang 11 km dari Yerusalem. Mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
Dalam perjalanan mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran. Itu berarti mereka bukan sedang bercakap-cakap biasa saja, melainkan berbincang tentang Yesus yang baru dihukum mati lewat salib, dikubur, dan mereka tampaknya mencoba memaknainya. Datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu Ia berjalan bersama-sama dengan mereka. Frase ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช (ฮฑแฝฯแฝธฯ dibaca ๐ข๐ถ๐ต๐ฐ๐ด) ditekankan oleh Lukas. Lukas menggunakan nama pribadi Yesus untuk menegaskan bahwa yang mendekati kedua murid itu adalah Yesus, bukan orang lain. Bandingkan dengan Markus 16:12.
Namun, ada sesuatu yang menghalangi pandangan kedua murid ini sehingga mereka tidak mengenal “Orang itu” Yesus. Apa yang menghalangi mereka? Untuk menjawab ini, mari kita berangkat dari “titik nol”. Sila buka Kejadian 2:25 ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข (Adam dan Hawa) ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ. Kita sudah tahu kisah selanjutnya, mereka akhirnya malu karena telanjang. Mengapa? Ada pemicunya. Demikian juga halnya dengan kedua murid itu. Dalam terang Injil Lukas kedua murid itu tidak mengenal Yesus karena Yesus memang tidak dipahami oleh para pengikut-Nya (lih. Luk. 9:45; 18:34).
Selain itu para penulis Injil, termasuk Lukas, menampilkan paradoks. Tubuh Yesus sebelum mati dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Sama karena ciri fisikal persis seperti sebelumnya. Ada luka di lambung dan di tangan (serta makan-minum bersama dengan murid-murid-Nya). Berbeda karena Yesus-Paska tidak langsung dikenali oleh para murid dan dapat tiba-tiba hadir dan menghilang dari ruangan terkunci.
Yesus membuka percakapan, “๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ฌ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ?”. Bayangkanlah anda sedang mengalami kecelakaan mobil parah, lalu ada orang datang ke TKP dan bertanya, “๐๐ฅ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข?”. Kesal ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ? Tentu. Hal yang sama terjadi pada kedua murid itu. Atas pertanyaan Yesus itu ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐๐ธ๐ฎ ๐บ๐๐ฟ๐ฎ๐บ. Seorang dari mereka bernama Kleopas. Namun, Kleopas di sini jangan dicampuradukkan dengan Klopas dalam Yohanes 19:25.
Mengapa murid satunya tidak disebutkan namanya? Entahlah. Barangkali ini cara Lukas hendak mengajak pembaca kitab Injilnya turut serta di dalam kisah ini dengan memerankan si murid tanpa nama itu?
Kleopas balik bertanya kepada “Orang itu” dengan nada sarkastik, “๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ต๐ถ-๐ด๐ข๐ต๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ญ๐ฆ๐ฎ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช-๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช?” Dengan bahasa masa kini Kleopas hendak mengatakan, “๐๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฐ๐ฆ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ซe?”
Kekesalan Kleopas wajar-wajar saja. Mereka belum lama berjalan dari Yerusalem dan “Orang itu” bergabung dengan mereka tidak lama dari itu. Mereka berasumsi bahwa “Orang itu” juga dari Yerusalem. ๐๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ tidak tahu apa yang terjadi di Yerusalem beberapa hari belakangan ini? Tampaknya Yesus senang sedang ๐ฏ๐จ๐ฆ-๐ฑ๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ mereka. Tanya Yesus lagi, “๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ?”
Akhirnya mereka menjelaskan kepada “Orang itu”. Kata mereka, “๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ป๐ข๐ณ๐ฆ๐ต. ๐๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข๐ฃ๐ช, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐๐ข๐๐ข-๐๐ข๐๐ข ๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ ๐๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ฃ-๐ฅ๐๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ฃ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ช๐ฃ๐ฌ๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ข ๐๐ด๐ณ๐ข๐ฆ๐ญ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช: ๐๐ข๐จ๐ช-๐ฑ๐ข๐จ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ณ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐บ๐ข๐ต-๐๐บ๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ต-๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ด ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ-๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต." (ay. 19-24)
Di sini Lukas mengulangi lagi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kematian Yesus (lih. Luk. 23:13). Lukas sama sekali tidak menyebut Pontius Pilatus. Kedua murid itu masih mencerap bahwa Yesus datang sebagai Mesias politik sehingga mereka mengharap Yesus membebaskan mereka dari penjajah Romawi. Perempuan-perempuan yang dimaksud di atas adalah Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan perempuan lain bersama dengan tiga perempuan itu (lih. Luk. 24:10). Beberapa teman yang dimaksud tampaknya adalah sebelas rasul dan saudara-saudara lain, tetapi yang pergi ke kubur hanya Petrus (lih. Luk. 24:9, 12).
“Orang itu” menanggapi mereka, “๐๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ, ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฃ๐ช. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ด ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ช๐ข๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข?” “Orang itu” lalu menjelaskan kepada mereka tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mula dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. (ay. 25-27)
Ada yang mengatakan pengarang Injil Lukas adalah seorang tabib, tetapi banyak ahli menolak itu. Namun, para ahli bersepakat pengarang Injil Lukas adalah seorang terpelajar dan warga dunia Grika. Kitab Injil Lukas ditujukan kepada Teofilus sehingga sasaran utama kitabnya itu tampaknya untuk orang Kristen berbudaya Grika.
Ujaran ๐๐ข๐ช, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ di atas merupakan ungkapan kekecewaan yang biasa diucapkan oleh para filsuf Grika terhadap pendengar yang tidak mampu menangkap penjelasan mereka. Dari sini kita dapat mengira-ngira di dalam narasi kedua orang itu tidak marah ketika disebut orang bodoh. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ mestilah dipahami dalam pemikiran Yahudi bahwa hati (kiasan dari jantung) adalah pusat kecerdasan dan kehendak manusia (bdk. Luk. 1:17, 51, 66; 2:19; 21:14, 34).
Lukas mengusung teologi kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi, dari penderitaan menuju kemuliaan. Dalam Injil Lukas Yesus berulang-ulang mengatakan bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu seperti dalam Lukas 9:22; 17:25; 24:7.
Dalam ayat 27 dikatakan bahwa “Orang itu” menjelaskan kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi merujuk Dia. Di sini Lukas hendak mengatakan kepada jemaatnya untuk menafsir secara baru kitab-kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama (PL). Bangsa Yahudi tidak mengenal Mesias yang menderita, tetapi umat Kristen menafsir secara baru terutama Yesaya 52-53 dari pengalaman para murid akan Yesus yang disalibkan dan dibangkitkan.
Kedua murid dan “Orang itu” mendekati kampung yang mereka tuju. “Orang itu” seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Namun, mereka sangat mendesak-Nya, “๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ.” (ay. 29).
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di Tanah Palestina mendesak tamu untuk mampir ke rumah mereka. Ini dapat kita baca juga dalam perumpamaan Yesus tentang orang yang mengadakan perjamuan besar dalam Lukas 14:15-24. Ayat 23 “…๐ฑ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ, ๐ด๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ.”
Ayat 29 ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช... sangat fenomenal dan menginspirasi. Banyak biarawan pada malam hari berdoa mengambil kata-kata dua murid dari Emaus itu: ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช, ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ต.
Ayat itu juga menjadi inspirasi nyanyian gerejawi. Saya berikan dua versinya.
๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ข๐ต ๐๐ฐ. 329
Tinggal sertaku; hari t’lah senja.
G’lap makin turun, Tuhan tinggallah!
Lain pertolongan tiada kutemu:
Maha Penolong,tinggal sertaku!
๐๐๐2 ๐๐ฐ. 111
Tinggal sertaku, Kawanku kudus;
T'lah hampir malam, jangan jalan t'rus.
Tiada tolongan, hanya pada-Mu.
Silakan Tuhan, tinggal sertaku.
“Orang itu” akhirnya mau tinggal bersama-sama dengan kedua murid itu untuk bermalam. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. (ay. 30)
Kata duduk di sini sebenarnya terjemahan dari ฮบฮฑฯฮฑฮบฮปฮนฮธแฟฮฝฮฑฮน (baca: ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ญ๐ช๐ต๐ฉe๐ฏ๐ข๐ช) yang berarti sedikit rebahan (๐ณ๐ฆ๐ค๐ญ๐ช๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ). Pada zaman itu hanya meja makan tanpa bangku atau kursi. Orang makan secara ๐ญe๐ดe๐ฉ๐ข๐ฏ atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan.
Pada saat makan “Orang itu” langsung mengambil alih posisi kepala keluarga. Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka seperti yang biasa dilakukan oleh Yesus dalam Lukas 9:16 dan 22:19. Namun, tindakan ini bukanlah mengadakan ekaristi atau perjamuan kudus. Penginjil Lukas hanya hendak menegaskan kebiasaan Yesus sebelum makan.
Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka mengenal Dia, tetapi Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka (ay. 31). Kata mereka seorang kepada yang lain, “๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ-๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ต๐ข๐ฃ ๐๐ถ๐ค๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข?” (ay. 31-32).
๐๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข mengingatkan kita pada Kejadian 3:7 ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข (Adam dan Hawa) ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ. Menurut kaum Gnosis mereka mendapat pencerahan sesudah memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kedua murid itu baru ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฉ, mendapat pencerahan bahwa “Orang itu” adalah Yesus ketika mereka dipicu oleh kebiasaan atau gerakan Yesus sebelum makan. Sehingga jangan heran, liturgi adalah gerak ritual simbolisasi dari pengenangan akan Yesus Kristus, shg kita kenapa harus ada ini dan itu, kenapa harus ada jalan salib, kenapa harus ada pembasuhan kaki, kenapa ada Sabtu sunyi, dlsb.
Bagaimana bisa gerakan Yesus itu mencerahkan mereka? Ada dua teori. Pertama, kebiasaan makan seperti itu sudah lazim di komunitas pengikut Kristus. Kedua, dari sudut pedagogis jika Yesus mengajar lewat kata-kata belum dapat mencerahkan para pendengar-Nya, maka Ia mencoba dengan cara lain seperti dengan gerakan simbolis. Robert Boehlke mencatat ada delapan cara Yesus mengajar: ceramah, bimbingan, menghafalkan, pewujudan, dialog, studi kasus, perjumpaan, dan perbuatan simbolis.
Dalam frase ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ-๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ harus dipahami di sini bahwa bahasa Indonesia menggunakan kata kiasan hati untuk jantung atau ฮบฮฑฯฮดฮฏฮฑ (baca: ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฅ๐ช๐ข). Pada zaman itu hati dipahami sebagai pusat kecerdasan dan kehendak manusia (bdk. Luk. 1:17, 51, 66; 2:19; 21:14, 34).
Hati berkobar-kobar atau ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ฆ๐ข๐ณ๐ต seperti semangat membara untuk melakukan tugas sangat penting. Pemerian (๐ฅ๐ฆ๐ด๐ค๐ณ๐ช๐ฑ๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ) hati berkobar-kobar dapat dilihat hasrat Rocky Balboa mengalahkan Ivan Drago dalam ๐๐ฐ๐ค๐ฌ๐บ ๐๐ yang diiringi lagu apik ๐๐ถ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ข๐ณ๐ต dari ๐๐ถ๐ณ๐ท๐ช๐ท๐ฐ๐ณ.
Mengapa hati kedua murid itu berkobar-kobar ketika di tengah perjalanan? Kalau kita melihat kata ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ (ay. 31) dan ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ (ay. 32) menggunakan kata turunan yang sama ๐ฅ๐ชe๐ฏ๐ฐ๐ช๐ค๐ฉ๐ต๐ฉe๐ด๐ข๐ฏ dan ๐ฅ๐ชe๐ฏ๐ฐ๐ช๐จ๐ฆ๐ฏ yang berarti ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ dan ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. Ketika Yesus membukakan (menerangkan) Kitab Suci di tengah perjalanan, hati mereka berkobar-kobar. Dalam konteks kedua murid ini, ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐๐ฟ๐ฎ๐บ, ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐น๐ถ๐ต ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐ฎ untuk mengabarkan tentang Yesus yang bangkit sesuai dengan Kitab Suci. Namun, saat itu mereka belum menyadari bahwa “Orang itu” adalah Yesus. Mereka baru ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฉ “Orang itu” adalah Yesus ketika mereka dipicu oleh kebiasaan atau gerakan Yesus sebelum makan.
Tidak ๐ฑ๐ข๐ฌe lama kedua orang murid itu bergegas kembali ke Yerusalem. Di sana mereka mendapati kesebelas rasul itu dan orang-orang yang ada bersama dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka percaya pada kebangkitan Yesus karena Ia menampakkan diri kepada Simon (Petrus). Kedua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah perjalanan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu memecah-mecahkan roti. (ay. 33-35)
Kapan Yesus menampakkan diri kepada Petrus? Lukas tidak menceritakan tentang waktu dan tempatnya. Namun, kalau membaca kisah di Injil Lukas ini penampakan Yesus kepada Petrus terjadi di Yerusalem. Penting bagi Lukas untuk menyampaikan penampakan Yesus kepada Petrus. Ini untuk menambah wibawa rasul, yang pada gilirannya Petrus menjadi pemimpin kelompok para rasul (lih. bacaan pendahuluan Kis. 2:14a, 36-41).
(23042023)(TUS)
Langganan:
Komentar (Atom)
Sudut Pandang Lukas 24:13-35, Pedadogi Jalan EMAUS
Sudut Pandang Lukas 24:13-35, Pedadogi Jalan EMAUS Pedagogi adalah ilmu dan seni mengajar atau pendidikan. Ini mencakup teori, metode, dan p...
-
SUDUT PANDANG TENTANG ESENI Di zaman Yesus, ada beberapa golongan atau kelompok politik dan keagamaan Yahudi yang signifikan, an...
-
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Petaha PENGANTAR Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh juru...