Jumat, 13 Februari 2026

Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran

 Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran

PENGANTAR
Keluaran 24: 12-18 Bacaan 1 Minggu ini 15022026 adalah tentang arah rujukan perubahan hidup bangsa Israel itu  10 perintah Allah. 10 Perintah Allah menjadi patokan pengajaran dan arah hidup bangsa Israel, bangsa Israel harus mendengar Allah lewat kepatuhan serta ketaatan akan 10 perintah Allah. Bacaan 2, 15022026, II Petrus 1: 16-21, adalah kesaksian Petrus akan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, transfigurasi atau alih rupa Yesus, merujuk pada karya Roh Kudus, semua apa yang diteladankan dan hikmat pengajaran Yesus itu adalah karya Roh Kudus, mendengarkan Yesus itu karya Roh Kudus, perhatian ayat 21 : 2 Petrus 1:21 (TB)  sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Bacaan Injil, Matius 17: 1-9, Minggu 15022026, menjelaskan perkara transfigurasi atau alih rupa Yesus, itu menunjukan bahwa Yesus itulah yang harus didengarkan umat, teladan dan hikmat pengajaran Yesus lah yg harus jadi rujukan umat dalam perubahan hidupnya,  Israel tolok ukurnya 10 perintah Allah yg dibawa Musa, pengajaran nabi Elia, Nabi Elia mendapat tempat khusus bagi Israel, 2 Raja-raja 2:9, 15 (TB)  Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu."  
Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah, Nabi Elisa demikian dihormati karena dianggap bangsa Israel dipenuhi Roh Nabi Elia, tetapi sekarang umat yg dijadikan tolok ukurnya adalah teladan dan hikmat pengajaran Yesus, maka dengarkanlah Dia, mendengarkan Yesus, meneladan dan menghikmati pengajaran Yesus, itu menunjukan karya Roh Kudus. Meneladan dan menghikmati pengajaran Kristus itu amanat agungnya cuman dua, hukum kasih,
1. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Matius 22:37)
2. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39)
Hukum kasih ini merupakan inti dari ajaran Yesus, penggenapan Kristus atas hukum taurat, 10 perintah, dan merupakan prinsip dasar bagi kehidupan umatNya. Keinginan serta semangat melakukan hukum kasih sebagai amanat agung kehidupan adalah dorongan Roh Kudus dan itu mendengarkan Yesus, seperti kesaksian Petrus dan kisah transfigurasi. Hukum Kasih itu spectrum dan cakupannya luas walaupan hanya 2 hal pokok, karena itu menyangkut kebenaran, keadilan,hukum, kesetiaan, dlsb. Melihat karya Roh di sini, membuat kita melihat bahwa karya Roh bukan perkara supranatural saja, bukan perkara mukjizat, bahkan aksi supernatural tetapi meneladan dan menghikmati ajaran Yesus untuk dipraktekan dalam keseharian hidup sebagai respon kita atas anugerah keselamatan. Trus kalau begitu bagaimana konsep menyembah dalam Roh dan Kebenaran?


PEMAHAMAN
Ayat Alkitab yang berbicara tentang menyembah dalam Roh dan kebenaran adalah Yohanes 4:24, di mana Yesus berkata:

"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Dulu, saya waktu remaja pemuda pernah berpikir bahwa "menyembah dalam Roh dan kebenaran" berarti menyembah dengan bahasa roh, penuh dengan kesan supernatural, dan penuh mukjizat spektakuler. Semakin ekspresif, semakin rohani, begitu kira-kira. Namun saat ini, ketika saya membaca Yohanes 4 dengan lebih teliti, saya sadar: Yesus sama sekali tidak sedang membahas kisah supernatural, supranatural , dlsb seperti pengkhotbah motivasi mimbar. Konteksnya adalah, la sedang berbicârâ dengan seorang perempuan Samaria, dan percakapan mereka berakar pada konflik politis panjang antara orang Yahudi dan orang Samaria. Orang Yahudi, meyakini bahwa Yerusalem adalah satu-satunya tempat ibadah yang sah, karena di sanalah Bait Allah berdiri.  Perbedaan ini bukan sekadar soal lokasi, tetapi menyentuh identitas, dan klaim kebenaran serta politis perseteruan. Karena itulah perempuan Samaria itü bertanya: "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetâpi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat oranğ menyembah.” (Yohanes 4:20), Di tengah perdebatan itulah Yesus menggeser fokus secara radikal. "Tetapi saatnya akan datang dqn sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yoh. 4:23). Artinya:
bukan lagi soal di mana kita menyembah, melainkan siapa yang kita sembah dan bagaimana hati kita diarahkan kepada-Nya. Ibadah sejati bukan terutama perkara soal lokasi, bentuk, gaya, atau suasana, bahkan nuansa melainkan respons hati yang dihidupkan oleh Roh Kudus dan dituntun oleh kebenaran dan keadilan Allah. Pemahaman ini bukan gagasan baru. Gereja sepanjang sejarah membaca ayat ini dengan cara yang sama.

Bapa Gereja St. Agustinus dari Hippo menulis: "Mereka yang ményembah dalam Roh dan kebenaran adalah mereka yang disucikan oleh Roh Kudus dan dipimpin oleh Kebenaran, yaitu Kristus sendiri."
(Tractates on the Gospel of John, 1527)

Bapa Gereja låin, St. Yohanes Krisostomus, menegaskan bahwa Yesus mengalihkan manusia dari penyembahan yang terikat
tempat menuju penyembahan ygng dilakukan dengan jiwa yang murni."
(Homilies on the Gospel of John, Homily 33)

John Calvin menjelaskan:
"Karena Allah adalah Roh, la menuntut penyembahan yang rohani; bukan yang hanya terdiri dari bentuk-bentuk lahiriåh, tetapi yang berasal dari hati dan diilhami oleh Roh Kudus." (Commentary on John 4:23-24)

Dalam konteks yang lebih kontemporer, Teolog John Piper merangkumnya dengan sederhana: 
"Menyembah dalam Roh berarti hati dan pikiran kita digerakkan oleh Roh Kudus; menyembah dalam kebenaran berarti ibadah kita dibentuk dan dipenuhi oleh kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Kristus."
(Desiring God, Chapter 3)

Karena itu, menyembah dålam Roh bukan pertama-tama soal pengalaman rohani yang meluap-luap, mukjizat spektakuler, supernatural ,supranatural, dlsb melainkan ibadah yang lahir dari hati yang telah diperbarui yang diwujudkan dalan tindakan keseharian hidup sebagai respon bermartabat atas anugerah keselamatan. Dan menyembah dalam kebenaran bukan soal gaya musik, bentuk liturgi, atau suasana emosional, altar call, kebaktian kebangunan rohani, dlsb. melainkan ibadah yang berakar pada firman dan berpusat pada' Kristus, yaitu Dia yang adalah Kebenaran itu sendiri (Yoh. 14:6). Ibadah yang penuh pengenangan akan karya Kristus yang dirayakan (selebrasi), kemudian dilanjutkan Dengan ibadah perwujudan kenangan karya Kristus itu dalam tindakan dan sikap hidup keseharian sebagai sebuah aksi hidup mewujudkan Kristus nyata dalam  kehidupan. Pengalaman rohani itu penting, ekspresi ibadah juga berharga, percaya mukjizat itu ada, sangat dimungkinkan aksi supernatural ataupun supranatural itu ada, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, tetapi janganlah menjadi fokus sampai kehilangan akal sehat, akal sehatlah itu karya Roh Kudus untuk menggapai ukuran tangan Allah.
Namun semuanya perlu diuji oleh firman dan dituntun kepada Kristus. Karena pada akhirnya, Bapa mencari penyembah-penyembah yang menyembah-Nya bukan hanya dengan bibir dan perasaan, tetapi dengan hati yang dihidupkan Roh Kudus diwujudkan dalam tindakan keseharian. 

(14022026)(TUS)










Kamis, 12 Februari 2026

Sudut Pandang Rabu Abu

Sudut Pandang Rabu Abu

PENGANTAR
Dalam liturgi dikenal ungkapan atau istilah 𝘔𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢. Hari raya umat Kristen bermula dari dan berpusat pada Misteri Paska.
Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Pertanyaannya, mengapa ada kata 𝗺𝗶𝘀𝘁𝗲𝗿𝗶?
Misteri Paska adalah serapan dari ungkapan Latin 𝘔𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮, kita akan mendiskusikan kata 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮 selalu saling berpautan.
Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, dlsb adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. Realitas keselamatan yang tak kelihatan itulah yang dimaksud dalam kata misteri dalam Misteri Paska. Ada perbedaan tipis masa Pra-Paska dan masa SEBELUM hari Paska. Masa Pra-Paska berakhir pada Kamis Putih. Jumlah hari SEBELUM hari Paska adalah 40 hari tanpa menghitung Minggu. Minggu ini (15/2) disebut 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗳𝗶𝗴𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶 sebagai penutup Minggu-Minggu Epifani. Selanjutnya akan disebut Minggu-Minggu dalam Pra-Paska. Masa Pra-Paska Tahun A akan dimula pada Rabu, 18 Februari 2026. Rabu itu disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂.
Ada tradisi berpuasa dan berpantang selama 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Tradisi berpuasa dan berpantang ini dikanonkan oleh Gereja Khatolik Roma. Sejalan dengan semangat ekumenis tradisi ini juga diterima oleh Gereja Protestan Reformir. Namun, dalam praktik di Indonesia terjadi 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗽𝗿𝗮𝗵 pada puasa dan pantang. Kewajiban berpantang dilakukan oleh warga berusia 14 tahun ke atas (Kanon 1983), sedang kewajiban berpuasa dilakukan oleh warga dewasa sampai usia awal 60-an (Kanon 1252). Di Indonesia usia dipandang sudah dewasa pada umur 18 tahun. Dalam pada itu hari-hari yang diterapkan untuk kewajiban berpuasa dan berpantang selama masa SEBELUM hari Paska:
𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮: hanya pada Rabu Abu dan Jumat Agung.
𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴: hanya pada Rabu Abu dan setiap Jumat selama masa SEBELUM hari Paska.
Di luar hari-hari itu adalah keputusan pribadi dan 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢. Jangan seperti yang sering memfitnah Yesus memberi perintah “Jadilah garam dan terang dunia.” Yesus tidak pernah memberi perintah itu. Yang Yesus katakan, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩... “.
Saya tidak akan pernah membantah bahwa berpuasa itu wajib hukumnya. Anda menjalani berpuasa karena alasan kewajiban adalah sah-sah saja dan tidak keliru.
Anda berhenti di persimpangan lampu lalin yang sedang menyala merah adalah benar, karena sudah peraturannya lampu merah tanda berhenti. Namun jika dilihat dari skala keputusan etis menurut Lawrence Kohlberg, keputusan anda berhenti karena perintah/kewajiban masih pada tataran prakonvensional atau primitif. Tindakan etis anda untuk berhenti akan meningkat apabila anda berhenti karena memertimbangkan keselamatan bersama. Jika anda melanggar, anda bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Jadi keputusan anda berhenti di lampu merah secara etis atau moral sudah meningkat.
Demikian halnya anda berpuasa karena semata-mata kewajiban secara etis masuk dalam tataran prakonvensional. Tidak salah, tetapi secara etis masih primitif.
Bapa Gereja Koptik Mesir Antonius dari Pispir atau yang juga dikenal dengan Anthony The Great (hidup sekitar abad 3 – 4) terkenal dengan ajaran berpuasanya. Ia mengenalkan berpuasa setiap Rabu dan Jumat selain berpuasa menurut kalender atau tahun liturgi gereja.
Ia melakukan ritual berpuasa Rabu dan Jumat bukanlah tanpa alasan. Suatu hari Antonius didatangi pengemis yang sudah tak makan beberapa hari meminta makanan dan uang. Antonius hanya memiliki makanan. Ia kemudian memutuskan tidak makan siang agar jatah makan siangnya bisa dimakan oleh pengemis. Selanjutnya Antonius secara rutin berpuasa pada Rabu dan Jumat dengan maksud agar jatah makan siangnya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia berpuasa agar orang bisa makan.
Dari teladan (Santo) Antonius ini kita bisa meningkatkan keputusan etis berpuasa tidak sekadar menjalani kewajiban. Kita berpuasa agar orang lain bisa makan. Berikan jatah makan siang kita kepada orang yang membutuhkan makan, bukan untuk dipindahkan dan menambah porsi buka puasa. Dengan begitu tindakan etis kita untuk berpuasa menjadi meningkat. Bukan sekadar menjalani kewajiban.
Pada Rabu ini umat Kristen memula 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Hari kesatu Pra-Paska disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂. Rabu Abu 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘄𝗮𝗹 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 karena belum Paska. Kristus belum bangkit. Apa itu Rabu Abu?


PEMAHAMAN 
Hari raya liturgi dimula dari dan berpusat pada misteri Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Pada mulanya tidak ada penyusunan sistematis dan terencana. Gereja dengan spontan menanggapi atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja kemudian merapikan ketidakteraturan itu. Mereka membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga bermakna, bertema, dan bercerita sehingga mengajar umat. Dasar penyusunan tahun liturgi ialah pemahaman soal waktu yang dipahami sebagai momen Allah berkarya. Gereja merayakan kehadiran Allah di dalam waktu dalam ibadah. Waktu gereja merujuk kesaksian Alkitab yang dibaur dengan kalender masyarakat 𝘪𝘯 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴.
Pada awal kekristenan masa Pra-Paska dimula pada Minggu 𝘤𝘢𝘱𝘶𝘵 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢. Namun jumlah hari tidak genap 40 hari seperti masa puasa Yesus. Pada abad VI masa Pra-Paska ditambah empat hari sehingga jatuh pada Rabu, yang kemudian disebut Rabu Abu, dan jumlah hari menjadi 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Jadi, kalau Gereja menulis Minggu I , Minggu II, dst. sampai Minggu VI Pra-Paska itu merujuk hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺), bukan pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). 
Masa Pra-Paska dimula dari Rabu Abu dan berakhir pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵. Istilah Pra-Paska adalah khas Indonesia. Bahasa Inggris menggunakan 𝘭𝘦𝘯𝘵 atau 𝘭𝘦𝘯𝘵𝘦𝘯, yang berasal dari 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘵𝘦𝘯 (Anglo-Saxon) atau 𝘭𝘦𝘯𝘻 (Jerman). Kata itu bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) erat dengan 𝘭𝘢𝘯𝘨 atau 𝘭𝘰𝘯𝘨 karena siang menjadi lebih panjang menjelang musim semi. Orang Italia menyebut Pra-Paska dengan 𝘲𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢, sedang Spanyol menyebut 𝘤𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘮𝘢, yang berakar dari kata Latin 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢 (empat puluh).
Disebut dengan Rabu Abu di sini Gereja hendak mengajar umat mengenai pertobatan, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah. Dalam tradisi Israel Kuno abu menyimbolkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat. Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan diberikan dengan formula 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 (Kej. 3:19) atau 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘭 𝘳𝘦𝘵𝘶𝘳𝘯. Beberapa Gereja menghayati masa Pra-Paska dengan berpuasa; Ada yang penuh 40 hari, ada yang memilih pada hari-hari tertentu. Agustinus dari Hippo berpuasa dengan pertimbangan etis sangat tinggi. Ia melakukannya bertujuan untuk memberikan jatah makan siangnya kepada orang kelaparan.
Meskipun demikian adalah keliru jika masa Pra-Paska dicerap sebagai masa-masa sengsara Yesus, bahkan ada Gereja yang menyebut Minggu-Minggu sengsara. Memang ada yang disebut dengan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) yang beririsan dengan Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮) pada Minggu VI Pra-Paska, tetapi secara keseluruhan adalah keliru mencerap Pra-Paska sebagai masa-masa sengsara Yesus. Pra-Paska merupakan kesukaan dan pengharapan. Dalam masa Pra-Paska Gereja menyediakan waktu secara khusus untuk menghayati karya Yesus dan peristiwa salib Kristus.
Pada Rabu Abu kita diingatkan bahwa keadaan manusia adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘯𝘦𝘴𝘴. Kematian merupakan identitas manusia saban hari, sekaligus bersama dengan kehidupan yang juga saban hari kita nikmati. Kematian bukan soal setelah raga ini mengembuskan nafas terakhir. 
Banyak penjaja agama entah lewat rumah ibadah, entah lewat media televisi atau daring meneriakkan kematian-pasca-kematian agar ditakuti. Padahal kehidupan itu menyapa kita dalam kenyataan bahwa kita adalah abu kini dan di sini, setiap saat. Ini bukan soal hidup nyaman kelak di surga, yang jika ditolak berakibat hidup pedih dan penuh kesakitan di neraka. 
Neraka itu adalah kemanusiaan kita, sekaligus karena Kristus sudah memasukinya dan membuatnya menjadi perayaan hidup, tanpa lupa pada kenyataan bahwa kita adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 bukan soal takut pada hukuman, namun pada ingatan arkais bahwa kita boleh hidup.

 (05032025)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶

PENGANTAR
Menariknya, study biblika pada sub sejarah, sastra, dan arkeologi, kami sepakat salah satu bentuk sejarah dan arkeologi bahkan sastra kuno yang dapat dinikmati perjalananya serta bukti-bukti warisannya adalah tradisi liturgi, karena itu kenapa sejarah, sastra, dan arkeologi biblika menggelutinya dan menggumulkannya. Sebentar lagi kita memasuki masa prapaskah-paskah, saya tertarik mengulik dari bagian akhir menuju ke depan jadi saya balik. Tulisan dari Minggu palem, Trihari suci, paskah trus baru Rabu abu, untuk kembali kita mengenang Kristus secara liturgi disamping, tulisan-tulisan  perkara prapaskah-paskah di sana. Tulisan ini sebetulnya upload ulang dari tulisan-tulisan lama yg disesuaikan wakunya serta perkembangan sudut pandang.
Menurut kalender gerejawi 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘚𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢 (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) adalah pembuka 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬, yang diindonesiakan menjadi 𝙋𝙚𝙠𝙖𝙣 𝙎𝙪𝙘𝙞. Hari-hari di dalam Pekan Suci disebut hari-hari suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan 𝙏𝙧𝙞𝙙𝙪𝙪𝙢 𝙎𝙖𝙘𝙧𝙪𝙢, yang diindonesiakan menjadi 𝙏𝙧𝙞𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙎𝙪𝙘𝙞. Tiga hari suci khusus itu adalah 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩-𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨-𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪. Penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.

Sering pula 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴. 

Trihari Suci hendak menyampaikan narasi 𝘀𝗮𝘁𝘂-𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗶𝗴𝗮-𝗮𝗸𝘀𝗶 yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar 𝘀𝗲𝗻𝗴𝘀𝗮𝗿𝗮, 𝗸𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻, dan 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.

Sabtu malam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 Sabtu Sunyi lagi. Ibadah Sabtu Malam disebut 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). 

Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶. Dengan kata lain secara 𝙩𝙞𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙚 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮.

🛑 Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi
🛑 Minggu Paska
🛑 Minggu kedua Paska
🛑 Dst.
🛑 Hari Pentakosta

[𝘗𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 1582 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘎𝘳𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘬𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘯𝘢𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 1884. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭.]


PEMAHAMAN 

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺)

𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫a𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.

Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 

𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).

Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.

Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.

𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 (𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘍𝘳𝘪𝘥𝘢𝘺)

Pengindonesiaan 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama.

Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “

Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?

Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan petulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” Pengakuan Iman (Syahadat) Rasuli mengikuti pandangan Injil sinoptik sehingga penyaliban Yesus dikelompokkan ke dalam bagian penderitaan Yesus.

Petulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh petulis Injil Yohanes, “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪!” Yesus lalu menundukkan kepala-Nya dan 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali. Ada gatra eskatologis. Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.

Dengan demikian melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗺𝗮𝘂𝗽𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀.

Dalam Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 (𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺)

Seperti pengindonesiaannya dari 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺 menjadi 𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪 sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Mengapa?

Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung.

Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.

Barangkali orang Kristen akan ada yang bertanya, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.” 

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu upaya Gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. 

(17042025)(TUS)

Senin, 09 Februari 2026

GEREJA RUNTUH DARI DALAM? 

Gereja sering mengukur keberhasilan pelayanan dari hal-hal yang tampak: khotbah yang berapi-api, majelis nya buanyak, majelisnya sibuk, persembahan besar, acara-acara perayaan dan jamuan kasih yang sering, progam kerja keren di atas kertas, perkunjungan buanyak , banyak kegiatan ke sana nan kemari, jemaat yang ramai, liturgi yang tertata, dan pemimpin rohani yang disegani. Namun Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa yang kelihatan belum tentu mencerminkan yang benar.

Salah satu kisah yang paling jujur—dan paling jarang dikhotbahkan—adalah kisah tentang anak-anak Nabi Samuel. Samuel adalah nabi besar, hakim yang adil, hamba Tuhan yang mendengar suara Allah sejak kecil. Tetapi Alkitab tidak menutup-nutupi fakta pahit ini: anak-anaknya gagal secara moral dan rohani, warisannya berantakan, tak ada teladan yang dianut, karya peribadatan/bergereja hanya topeng kemunafikan, anti kritik tak mendengar suara umat, dlsb.
Dan kegagalan itu bukan sekadar urusan keluarga. Ia menjadi krisis nasional dan titik balik sejarah Israel.

Fakta Alkitab yang Tidak Nyaman
Alkitab mencatat dengan lugas:
“Nama anaknya yang sulung ialah Yoël dan nama anaknya yang kedua ialah Abia… Tetapi anak-anaknya tidak hidup seperti ayahnya, melainkan mengejar laba, menerima suap dan membelokkan keadilan.” (1 Samuel 8:2–3).

Tidak ada bahasa yang dilunakkan. Tidak ada pembelaan. Tidak ada upaya menjaga citra rohani.

Anak-anak nabi menyalahgunakan jabatan rohani. Mereka berada di struktur pelayanan, tetapi kehilangan takut akan Tuhan. Mereka memakai posisi, bukan melayani dengan integritas.

Dan inilah yang harus dicatat dengan jujur: kerusakan mereka menjadi alasan Israel menolak kepemimpinan Allah dan meminta raja seperti bangsa lain (1 Samuel 8:5).

Kegagalan rohani di dalam kepemimpinan melahirkan krisis iman kolektif.
Pelajaran Pahit bagi Gereja Masa Kini
Kisah ini menampar gereja modern dengan keras.

Kesalehan Tidak Otomatis Turun-Temurun
Anak nabi tidak otomatis menjadi hamba Tuhan yang benar. Jabatan ayah tidak menjamin karakter anak. Gereja sering terjebak dalam romantisme “darah rohani”, padahal Tuhan menuntut pertobatan dan ketaatan personal.

Jabatan Rohani Bisa Menjadi Sarana Kejatuhan
Yoël dan Abia tidak menolak jabatan—mereka menyalahgunakannya. Ini cermin gereja masa kini: mimbar, struktur, dan gelar rohani dapat menjadi alat pembenaran dosa jika hati tidak lagi tunduk pada Allah.

Israel tidak sekadar kecewa; mereka kehilangan kepercayaan. Ketika pemimpin rohani hidup menyimpang, jemaat terdorong mencari “raja lain”—entah kekuasaan, sistem, atau figur manusia.

Gereja yang Terlalu Lunak pada Dosa Internal, 
Ironisnya, gereja sering:
keras kepada dunia,
tajam kepada jemaat kecil,
tetapi lunak kepada dosa para pelayan.
Kisah anak-anak Samuel menunjukkan bahwa kerusakan di dalam rumah Tuhan lebih berbahaya daripada ancaman dari luar. Bukan Filistin yang merusak Israel saat itu, tetapi pemimpin yang kehilangan integritas.

Kisah ini bukan untuk menghakimi keluarga Samuel. Alkitab tidak menulisnya untuk mempermalukan nabi, melainkan untuk memperingatkan gereja sepanjang zaman.
Bahwa: pelayanan tanpa karakter adalah kehancuran, posisi tanpa takut Tuhan adalah bahaya dan nama besar tidak pernah menggantikan kebenaran hidup.

Gereja masa kini harus berani bertanya dengan jujur:
Apakah kita sedang memelihara struktur, tetapi kehilangan roh kebenaran?
Apakah kita sibuk menjaga nama baik, tetapi membiarkan pembelokan keadilan?
Apakah kita melahirkan pelayan, atau hanya mewariskan jabatan?

Tuhan tidak mencari anak nabi. Tuhan mencari hamba yang setia.

Dan sejarah Israel mengingatkan kita: satu generasi yang gagal menjaga integritas dapat menyeret seluruh umat menjauh dari pemerintahan Allah.


Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 17:1-9, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗳𝗶𝗴𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗮!

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 17:1-9, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗳𝗶𝗴𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗮!

PENGANTAR
Minggu 15 February 2026, Transfigurasi dalam arti literal adalah alihmuka. Dalam makna hari raya liturgi Minggu Transfigurasi merupakan peralihan dari pelayanan Yesus yang mengajar dan melakukan penyembuhan di Galilea menuju pelayanan dan pengorbanan Yesus ke Yerusalem. Istilah transfigurasi merujuk momen Yesus beralihmuka yang disaksikan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes atau yang di Alkitab LAI disebut dengan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mat. 17:1-9, Mrk. 9:2-13, dan Luk. 9:28-36). Yang dimaksud dengan beralihmuka adalah wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang (Mat. 17:2).

Minggu Transfigurasi dapat juga disebut “hari kenaikan kelas” bagi Yesus, dari pelayanan tingkat pertama naik ke pelayanan tingkat kedua yang lebih dahsyat. Ahli Perjanjian Baru menyebutnya masa pengajaran dan masa pengorbanan Yesus. Minggu Transfigurasi menandai penerusan peningkatan karya-karya Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia makin dibenci oleh lawan-lawan-Nya. Semua karya-Nya dinafikan bahkan diputarbalikkan oleh ahli-ahli dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi sampai pada akhirnya Yesus didakwa menista agama dan dijatuhi hukuman mati.


PEMAHAMAN
Minggu Transfigurasi dirayakan sebagai penutup Minggu-Minggu Epifani dan sebelum Rabu Abu. Bacaan ekumenis untuk Minggu Transfigurasi Tahun A diambil dari Injil Matius 17:1-9 yang didahului dengan Keluaran 24:12-18, Mazmur 2, dan 2Petrus 1:16-21.

Dalam bacaan Injil Minggu ini dikisahkan oleh pengarang Injil Matius, yang bersumber dari Injil Markus 9:2-13, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik gunung (ay. 1). Yesus beralihmuka (bertransfigurasi) bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang (ay. 2), dan tampaklah Musa serta Elia sedang berbicara dengan Yesus (ayat 3). 

Latar tempat untuk episode Transfigurasi Yesus ini adalah gunung atau puncak gunung (Mat. 17:1).
• Dulu Musa berjumpa dengan Allah di atas gunung (Kel. 24:12-18).
• Dulu Elia berjumpa dengan Allah di atas gunung (1Raj. 19:8-18).
• Kini Yesus berjumpa dengan Musa, Elia, dan Allah di atas gunung.
• Sama seperti Musa, Yesus juga memberikan “Taurat baru” di gunung (Mat. 5-7).
• Sama seperti Elia, Yesus juga membangkitkan seorang anak yang mati (Mat. 9:25).

Yesus melanjutkan karya Musa dan Elia, tetapi Yesus melampaui kemuliaan kedua tokoh Israel itu. Bahkan kedua tokoh besar itu kini menyaksikan Yesus dimuliakan Allah di hadapan mereka. Misteri Transfigurasi Yesus itu bernasabah (relate) dengan misteri Kebangkitan seperti yang dikatakan Yesus di ayat 9: Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪."

Transfigurasi Yesus juga berpautan dengan pemberitahuan atau deklarasi kedua bahwa Yesus adalah Anak Allah. Matius 17:5:  Tiba-tiba sementara ia (Petrus) berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, "𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢." Frase 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 tampaknya merujuk Mazmur 2:7 yang merupakan Mazmur penahbisan raja Israel.  

Ucapan itu adalah 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯), deklarasi tentang siapa diri Yesus, yakni Anak Allah yang dikasihi dan diperkenan Allah, Raja Israel yang baru, dan sekaligus perintah “𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢!” ditujukan kepada para murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Reaksi para murid adalah tersungkur dan sangat ketakutan (ay. 6). Itu adalah deklarasi kedua. Deklarasi pertama saat pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (lih. Mat. 3:17). 

Mengapa saat ada deklarasi itu para murid sampai tersungkur dan ketakutan?

Dalam ayat sebelumnya (ay. 4) Petrus hendak mendirikan tiga kemah; satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia. Lalu turunlah awan terang menaungi mereka dan terdengar suara Allah sehingga ketiga murid tersungkur dan ketakutan seperti yang ditulis di atas.

Dalam khotbah ada pengkhotbah menafsir ucapan Petrus itu sebagai keinginan Petrus untuk tinggal di gunung itu lebih lama lagi. Pengkhotbah kemudian menyampaikan bahwa orang Kristen tidak boleh hanya 𝘴𝘦𝘭𝘧𝘪𝘴𝘩 berdoa dan menjalin hubungan vertikal dengan Allah sehingga mengabaikan hubungan horisontal dan tugas-tugasnya di dunia. Allah tidak ingin orang Kristen melalaikan tugas-tugas mereka di dunia.

Pesan pengkhotbah itu sebenarnya bagus, namun tafsir itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan melihat konteks perikop dan keseluruhan Injil.

Dalam ucapan Petrus itu tidak ada kalimat eksplisit bahwa ia tidak ingin turun dari gunung. Orang Jawa bilang, “𝘛𝘩𝘦 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘥𝘪𝘥𝘯’𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘭 𝘴𝘰.” Petrus secara eksplisit mengusulkan hendak mendirikan kemah atau σκηνάς (baca: 𝘴𝘬e𝘯𝘢𝘴). Kemah di sini merujuk 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 atau 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘤𝘪 di zaman Musa (Kel. 26:1-37; 33:7-9; 40:1-38). Kitab Keluaran Septuaginta menggunakan kata 𝘴𝘬e𝘯𝘢𝘴 untuk kemah.

Di 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘤𝘪 itu Allah hadir dan tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Di 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 itu Allah dapat dijumpai oleh Musa. 

Namun Yesus tidak menanggapi gagasan Petrus dan malah Allah turun tangan. “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘰𝘦, 𝘗𝘦𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘎𝘶𝘦.” Begitu kira-kira kata Allah, “𝘎𝘶𝘦 𝘫𝘶𝘨𝘢𝘬 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘌𝘭𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.” Musa dan Elia sudah hilang dari pandangan sehingga usulan Petrus sudah basi. Allah tak membutuhkan 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘤𝘪 untuk berkata kepada Petrus. Menjadi murid Yesus berarti mendengarkan Yesus, Musa baru, Raja Israel yg baru, Mesias rajani. Jadi, pendirian kemah di gunung itu tidak jadi bukan karena Allah tidak mau Petrus dkk. melalaikan tugas-tugas mereka di dunia.

Melihat ketiga murid-Nya tersungkur dan ketakutan, Yesus menghampiri mereka, “𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!”

Kisah Transfigurasi Yesus diakhiri dengan pesan Yesus kepada para murid untuk merahasiakan pelihatan atau ὅραμα (baca: 𝘩𝘰𝘳𝘢𝘮𝘢) atau 𝘷𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯 itu sampai Yesus dibangkitkan Allah dari antara orang mati (Mat. 17:9). Mengapa harus dirahasiakan dulu? 

Kemuliaan Yesus, Sang Mesias, hanya layak diberitakan apabila kemuliaan itu tidak dilepaskan dari penderitaan-Nya sampai mati di kayu salib karena dibunuh oleh para pemimpin Yahudi yang tidak menerima diri-Nya sebagai Mesias, Raja Israel yang baru, Anak Allah yang dikasihi Allah.

Perayaan Minggu Transfigurasi merupakan momen menyiapkan umat untuk lebih 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗮 guna menghadapi tantangan lebih berat dan lebih besar lagi.

(09022026)(TUS)


Minggu, 08 Februari 2026

SUDUT PANDANG HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

SUDUT PANDANG HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN 

PENGANTAR
Markus 8:1-10. Perikop ini sering tenggelam dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5.000 orang yang terdapat dalam Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17, dan Yohanes 6:1-13. Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10 dan keempat perikop tersebut. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis. Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang (Mrk. 8:1-10) terjadi di luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang Grika perantauan.  Para murid Yesus sebelumnya sudah menyaksikan bagaimana Ia memberi makan 5.000 orang. Suasana yang mirip terjadi juga di Dekapolis, tetapi para murid tetap saja tidak peka. Mereka berpikir Yesus tidak akan memberi makan, karena orang-orang itu bukan orang Yahudi. Ternyata mereka keliru! Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkan-Nya. Jelas sekali di sini Yesus melayani tanpa pamrih. Tidak ada cerita tentang pertobatan atau mereka menjadi pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang (ay. 9). Dari teladan pelayanan Yesus semestinya gereja melayani melewati batas golongan sendiri dan tanpa strategi untuk menjadikan mereka anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup. Pelayanan serbacakup mestilah menyentuh orang yang tidak seagama seperti yang telah Yesus lakukan. Gereja mesti membuat Kristen lebih membumi, lebih mengikuti akal sehat. Gereja mesti lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih manusiawi, lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. Beragama bukanlah untuk urusan vertikal saja, yang menekankan gatra ritual dan kemurnian ajaran. Keluhuran ajaran agama mestilah dipraktikkan secara nyata untuk mengembangkan wawasan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kemiskinan, keadilan sosial, demokrasi, ancaman terorisme dan korupsi, dlsb.

PEMAHAMAN
Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ada di keempat Injil. Namun, tidak banyak orang yang cermat, termasuk pengkhotbah, bahwa kisah ini sebenarnya berbeda. Contoh, Injil Yohanes menyebut lima roti dan dua ikan dari seorang anak, sedang ketiga Injil sinoptis menyebut lima roti dan dua ikan itu milik para murid. Itu baru dari isi cerita. Konteks dan pesan kisah itu berbeda karena para penulisnya berbeda dan mengusung teologi yang berbeda pula.
LAI memberi judul perikop bacaan Injil Matius 14:13-21 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Pengarang Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru. Dapat diduga kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dilatari oleh pengalaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa di padang gurun sesudah keluar dari Mesir menuju Kanaan dalam kitab Keluaran 16. Kedua cerita itu hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel dikenyangkan oleh “roti yang diturunkan Allah dari langit”. Kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang laki-laki juga dilatari oleh penggandaan roti jelai oleh Nabi Elisa (lih. 2Raj. 4:1-7, 42-44). Namun, bukan berarti pengarang kitab Injil mencontek kisah di Perjanjian Lama (PL), tetapi pengarang Injil hendak menafsir kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 bahwa Yesus lebih besar daripada Musa. Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ seorang diri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Mendengar hal itu orang banyak yang mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat. 14:13-14, TB II 2023)
Berita apa yang didengar oleh Yesus? Berita pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes. Yesus menyingkir. Hal ini sama dengan Matius 4:12 ketika Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara, Yesus menyingkir. Pada teks bacaan disebut Yesus pergi seorang diri ke tempat terpencil. Dapat diduga berita pembunuhan Yohanes Pembaptis tersebut berbobot historis. Versi Injil Markus Yesus tidak menyingkir, melainkan Ia mengajak murid-murid-Nya beristirahat di tempat sunyi sesudah mereka kelelahan menjalan misi dari Yesus (Mrk. 6:30-31). Versi Injil Lukas Yesus mengajak murid-murid-Nya menyendiri di Kota Betsaida, bukan tempat sunyi (Luk. 9:10). Versi Injil Yohanes Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Kepergian Yesus tidak ada hubungannya dengan kematian Yohanes Pembaptis karena pasal yang mendahuluinya tidak bercerita tentang Yohanes Pembaptis (Lih. Yohanes 5 – 6:1). Sesudah Matius menceritakan Yesus pergi ke tempat terpencil, kemudian ayat-ayat selanjutnya muncul dialog Yesus dengan murid-murid-Nya, tetapi tidak dijelaskan alat transportasi yang digunakan oleh mereka. Apakah mereka menyusul dengan perahu atau lewat jalan darat? Tidak jelas. Yang pasti adalah orang banyak menyusul Yesus berjalan kaki atau lewat jalan darat. Frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata 𝘢𝘳𝘳e𝘴𝘵𝘰𝘶𝘴, yang berarti literal tak berdaya. 
Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal seperti dalam Injil Markus 6:34 dan tidak berbicara tentang Kerajaan seperti disebut dalam Injil Lukas 9:11. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual. Menjelang malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘚𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘴𝘢-𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.” Yesus berkata kepada mereka, “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!” Jawab mereka, “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯.” Yesus berkata, “𝘉𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” (Mat. 14:15-18, TB II 2023). Keterangan waktu menjelang malam hendak menyatakan bahwa betapa sempit waktu bagi khalayak untuk mencari makan. Bahkan ucapan murid pada frase 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 yang diterjemahkan dari 𝘩a𝘳𝘢 a𝘥e 𝘱𝘢𝘳o𝘭𝘵𝘩𝘦𝘯 berarti literal waktu sudah habis. Matius tampaknya hendak menciptakan ketegangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka memojokkan Yesus dengan alasan waktu sudah habis sehingga mereka mengharapkan Yesus segera memberi perintah kepada khalayak untuk mencari makanan. Rupanya tanggapan Yesus di luar dugaan para murid. Orang banyak tidak perlu pergi, bahkan Yesus memberi perintah kepada para murid, “𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!” Mendengar perintah itu para murid berusaha 𝘯𝘨𝘦𝘭e𝘴, “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯.” Perintah Yesus itu berlaku sepanjang masa. Gereja tidak boleh menutup mata kepada orang kelaparan, orang tak berdaya. Gereja harus memberi mereka makan tanpa syarat. Tidak ada alasan bagi Gereja tidak memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan.  Mendengar jawaban para murid yang ngelès itu Yesus berkata, “𝘉𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” Gereja melayani dari yang ada, bukan mengada-ada, persembahan kantong sudah cukup dan cakup untuk dikelola tidak perlu yang lain karena kebutuhan hakiki gereja adalah peduli sesama dan memuliakan Tuhan, cukuplah dan cakuplah asal dikelola dengan hati-hati. Apalagi mengada-adakan alasan-alasan untuk bermewah-mewah dg gedung, pesta ulang tahun, sidang-sidang yg hanya banyak habis di konsumsi, dlsb. Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat. 14:19-21, TB II 2023). 𝘔𝘦𝘯𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 diterjemahkan dari 𝘢𝘯𝘢𝘣𝘭𝘦𝘱𝘴𝘢𝘴 𝘦𝘪𝘴 𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯; 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯 dapat berarti surga. Kosmologi pada zaman itu surga terletak di atas bumi datar yang berbentuk seperti tampah. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 diterjemahkan dari 𝘦𝘶𝘭𝘰𝘨e𝘴𝘦𝘯, yang berarti literal memberkati (roti). Teks ini janggal, karena kebiasaan orang Yahudi adalah memberkati (atau mengucap doa berkat kepada) Allah, bukan barang (roti). Kitab Injil adalah produk Gereja, bukan kitab Injil membuat Gereja. Gereja sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan teks kitab Injil ini sangat bolehjadi sudah berwarna kristiani, karena Gereja atau umat Kristen meyakini roti ekaristi adalah roti kudus. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘤𝘢𝘩-𝘮𝘦𝘤𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 tentu maksudnya membelah-belah roti. Dalam keluarga Yahudi prosesi pemecahan roti dilakukan oleh kepala keluarga sebagai isyarat memula makan. Tidak ada penjelasan Yesus juga membelah-belah ikan karena lazimnya makan bersama diawali dengan pemecahan roti. Sesudah pemecahan roti Yesus memberikan roti-roti itu kepada murid-murid-Nya, kemudian mereka memberikannya kepada orang banyak. Di sini murid-murid akhirnya memberi makan orang banyak seperti perintah Yesus dan sekaligus menjadi perantara. Demikianlah sepatutnya Gereja yang sudah diberi berkat oleh Allah, maka memberikan berkat kepada orang banyak di luar Gereja. Khalayak makan sampai kenyang. Frase 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨 diterjemahkan dari kata 𝘦𝘤𝘩𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘵𝘩o𝘴𝘢𝘯. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯.” Kata 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 di sini diterjemahkan dari kata 𝘤𝘩𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘵𝘩o𝘴𝘰𝘯𝘵𝘢𝘪, yang berakar kata yang sama dengan 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨. Tampaknya Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga menyenyangkan secara ragawi. Haruslah ada kesetimbangan. Jangan sampai umat 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘬. Khalayak bukan saja makan sampai kenyang, roti pun masih berlebih sampai dua belas bakul penuh. Sepatutnya seperti itulah selalu ada makanan di Gereja. Namun, jika para pejabat gerejawi tidak peduli, tidak pernah mau mendengar, mereka justru membiarkan umat mencari makan di tempat yang tidak tepat. Jumlah lima ribu orang yang makan, belum termasuk perempuan dan anak-anak, juga tertulis di Markus 6:44. Dapat dimengerti pada waktu itu di masyarakat Yahudi hanya laki-laki dewasa yang dihitung atau dipentingkan. Orang Yahudi menyukai keluarga besar. Dapat dibayangkan jumlah total orang yang makan. Bukan tak mungkin jumlah totalnya mencapai 30 ribu orang. Dari lima roti dan dua ikan, yang sejumlah itu hanya dapat dimakan oleh dua orang dewasa, dapat memberi makan ribuan orang. Perbuatan kecil berdampak luar biasa. Demikian halnya Gereja tak perlu ragu-ragu untuk berbuat kebajikan, meskipun hanya perbuatan kecil. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. Pejabat gerejawi yang malas belajar, tidak mau mendengar, tidak akan pernah mengenyangkan umat. Jangan salahkan umat, apabila mereka mencari makan di tempat lain.

 (06082023)(TUS)

Sabtu, 07 Februari 2026

SUDUT PANDANG GARAM BUMI/TANAH DAN TERANG DUNIA

SUDUT PANDANG GARAM BUMI/TANAH DAN TERANG DUNIA

PENGANTAR 

Banyak pengkhotbah 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 membaca metafora garam dan terang itu. Oleh karena tafsir lama tidak atau jarang memperhitungkan sudut pandang sastra dan bahasa serta tradisi rabbinik atau tradisi para nabi, demikian halnya catatan pada Talmud dan Midras. Tidak bisa dipungkiri ajaran Yesus sebagai sumber yang dikutip penulis Injil, adalah kritisi kehidupan pada zamannya yang penuh penindasan, penjajahan, dan pejabat serta pemuka agama korup. Sastra Israel kuno atau sastra Ibrani, seringkali menggunakan metafora dan juga perbandingan. Yesuspun sering menggunakan hal ini dalam pengajarannya yang kemudian dikutip dg ideologi teologi masing-masing penulis injil. Sejak, penjala manusia, ucapan bahagia, dan garam bumi serta terang dunia sampai tidak satu iota pun itu berada dalam satu lembar atau gulung perkament atau papirus yang kemudian bbrp abad setelah baru dibuat perikop per perikop. Belum lama ini Kristus memanggil murid-murid-Nya dan memberitahukan bahwa mereka akan menjadi penjala manusia. Di sini penulis Injil Matius lebih lanjut menyampaikan apa yang menjadi rancangan-Nya bagi mereka -- garam bumi/tanah, dan terang dunia, agar mereka benar-benar menjadi seperti yang diharapkan-Nya itu. 

Matius 5:13 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘴𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. (TB II)

LAI menerjemahkan garam dunia dari ἅλας τῆς γῆς (baca: halas tes ges). Kata γῆς (ges) lebih tepat diterjermahkan menjadi bumi, tanah karena dunia dari frase terang dunia diterjemahkan dari κόσμου (baca: kosmou). Istilah atau frase yang lebih tepat adalah garam bumi. Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkan γῆς (ges) sebagai 𝘦𝘢𝘳𝘵𝘩.

Sangat boleh jadi garam bumi ini benda nyata di zaman Matius untuk menggarami tanah seperti secara tersurat dalam Lukas 14:35a 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘶𝘱𝘶𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. Dan memang, ada tradisi pada zaman  itu menggunakan garam kelas dua, untuk membuat subur tanah agar tumbuhan tumbuh, ketika garam bumi/tanah digunakan tetapi tidak membuat tumbuhan tumbuh itu di sebut tawar dalam bahasa Yunani disebut MORANTHE atau TAPPEL dalam bahasa Aram, yang bisa bermakna BODOH. Jadi, saya bingung kenapa ini makna nya garam bumi/tanah itu pupuk, sejak dari dulu orang berkhotbah mengkaitkan dengan garam dapur ..... bingung ah.  Pengarang Injil Matius kemudian menggunakan benda ini menjadi metafora untuk dikenakan kepada Jemaat Matius. Jemaat ideal Matius merupakan gereja dalam konteks dunia: bumi sebagaimana dicerap pada zaman itu. Kamu adalah garam bumi/tanah. Kata-kata ini akan mendorong dan menyokong mereka saat mengalami penderitaan, agar sekalipun diperlakukan hina, ditindas, dan disingkirkan mereka harus tetap menjadi berkat bagi bumi, lebih-lebih ketika sedang di tengah-tengah penderitaan, kalau tidak memiliki harapan semangat untuk berbuah, maka itulah tawar, itulah sebuah kebodohan. Para nabi  atau tradisi para nabi yang tercatat di Talmud dan midras bahkan di PL yang ada sebelum zaman Yesus dan para murid adalah garam bagi tanah / bumi, yang dimaksud tanah/bumi adalah tanah/bumi Kanaan/Israel, tetapi para murid dan Yesus adalah terang dunia bagi seluruh dunia, tidak hanya bagi Israel/kanaan ini kritisi Yesus atau kritik penulis Injil Matius atas kehidupan zaman itu menggunakan sumber-Sumber pengajaran Yesus, kritik terhadap sikap hidup orang yang eksklusif, ditindas, dianiaya, disingkirkan tetap harus membuat lingkunganya bertumbuh dengan optimisme, seperti halnya garam bumi/tanah (zaman sekarang mungkin pupuk)  yang ditebar agar tanah/bumi itu menjadi media baik untuk tumbuhan serta tumbuhan dapat terus hidup, Garam bumi/Tanah, dengan bekerja tanpa suara seperti garam bumi/tanah, maka segenggam garam bumi/tanah itu akan menyebarkan pengaruh manfaatnya ke mana-mana, menjangkau daerah yang luas, dan bekerja tanpa terasa dan tanpa penolakan seperti bekerjanya ragi (13:33), tepat kata Paulus, Paulus yang menanam, Apollos yang menyiram tetapi Tuhan yang menumbuhkan (1 Kor 3:6). Buah pengajaran Injil yang dipertunjukan dengan sikap hidup atau attitude umat, itu seperti garam bumi/tanah, yang menembus, cepat dan sangat kuat (Ibr. 4:12). Ia menjangkau hati (Kis. 2:37). Tetapi tidak cukup hanya bagi Israel atau Kanaan, harus menjadi terang dunia, bagi dunia. Garam bumi/tanah menggambarkan masyarakat atau umat yang tertindas, terjajah, tersingkirkan saat itu, yang seharusnyalah tetap punya pengharapan untuk menumbuhkan atau berbuah kalau tidak berarti tawar atau bodoh, sedangkan terang dunia menggambarkan seharusnyalah masyarakat atau umat yang menjadi pejabat atau pemuka agama itu menerangi dalam artian tidak menindas atau menjajah. Frase 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 diterjemahkan dari φῶς τοῦ κόσμου (baca: phos tou kosmou). Untuk menjelaskan makna terang dunia penulis Injil Matius menganalogikan dengan 𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪. Jemaat atau umat adalah terang dunia sehingga tidak mungkin tersembunyi dari mata dunia. Jika tersembunyi, ia bukan lagi terang dunia. Bukan lagi gereja. Seperti pelita yang menerangi semua orang di dalam rumah, demikian juga gereja menerangi seisi dunia, inklusif. Pelita bukan untuk ditutupi cahayanya, melainkan untuk menerangi, inklusif tidak eksklusif, bukan hanya untuk Israel/Kanaan tapi untuk dunia. Kalau tak menerangi, kalau eksklusif, ia bukan gereja lagi.

PEMAHAMAN

 "Halas" (ἅλας) dalam bahasa Yunani dan "melach" (מֶלַח) dalam bahasa Ibrani, "Tabbel" dalam bahasa Aram, berarti "garam", namun keduanya memiliki asal kata yang berbeda.
- "Melach" (מֶלַח) adalah kata Ibrani yang digunakan dalam Alkitab Ibrani untuk garam.
- "Halas" (ἅλας) adalah kata Yunani yang digunakan dalam Septuaginta (terjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani) untuk menerjemahkan kata "melach" (מֶלַח).
-"Tabbel" adalah kata Aram untuk garam yang dimaknai sebagai pupuk.
Dalam konteks linguistik, "halas" dan "melach" dapat dianggap sebagai kata-kata yang setara (cognate) karena keduanya berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Semitik, yaitu m-l-ch atau h-l-ch, yang berarti "garam" atau "asin".
Jadi, meskipun "halas" dan "melach" memiliki asal kata yang berbeda, keduanya memiliki makna yang sama, yaitu "garam".  "Garam bumi" adalah terjemahan dari bahasa Yunani "ἅλας τῆς γῆς" (halas tēs gēs), yang secara harfiah berarti "garam bumi" atau "garam tanah", pada zamannya itu semacam garam kelas dua yang dipakai sebagai pupuk atau penguat tanah, dikatakan tawar ketika tidak dapat membuat tumbuhan bertumbuh, jadi beda jauh dengan garam dapur, karena garam dapur itu tidak bisa tawar, garam itu diberi air sebanyak apapun, airnya yg tidak berasa asin karena lebih banyak dari garamnya, tapi garamnya tetap asin, karena struktur kimianya tidak berubah. Garam bumi dan terang dunia adalah dua metafora yang digunakan oleh Yesus dalam Matius 5:13-16 untuk menggambarkan peran murid-muridnya juga di dunia.
Garam bumi (Matius 5:13), Garam bumi merujuk pada pengaruh positif dan perubahan yang dibawa oleh murid-murid Yesus dalam masyarakat. Garam bumi / tanah digunakan sebagai bahan penguat tanah yang menyebabkan pertumbuhan , sehingga murid-murid Yesus diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa kesegaran dan kebaikan dalam masyarakat, walaupun dalam kondisi ditindas dan terjajah.
Terang dunia (Matius 5:14-16), Terang dunia merujuk pada kesaksian dan pengaruh murid-murid Yesus yang menerangi dunia, inklusif. Terang adalah simbol kebenaran, keadilan, dan kasih, sehingga murid-murid Yesus diharapkan menjadi sumber terang yang menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang lain.
Kaitan antara garam bumi dan terang dunia adalah bahwa keduanya memiliki peran yang sama, yaitu membawa pengaruh positif dan perubahan dalam masyarakat, baik dalam kondisi tertindas, tersingkirkan dan terjajah maupun dalam kondisi yang baik, misalkan memiliki kekuasaan, jabatan, dan wewenang. Garam bumi menekankan aspek pengaruh yang lebih "tersembunyi" dan "dalam", walau tertindas dan terjajah bahkan tersingkirkan tapi tetap mendatangkan  berkat (boleh dikata Kristologi dari bawah, Kristologi asia, Kristologi bangsa-bangsa terjajah), sedangkan terang dunia menekankan aspek kesaksian yang lebih "terang" dan "terlihat", walau punya kuasa, jabatan, dan wewenang tetapi tidak lupa diri, tidak menindas, tidak menjajah tetapi tetap menjadi berkat bagi yang di bawahnya (boleh dikata Kristologi dari atas, Kristologi eropa, Kristologi nya bangsa-bangsa penjajah). Dalam kata lain, garam bumi adalah tentang bagaimana murid-murid Yesus membawa perubahan dalam masyarakat melalui pengaruh mereka yang positif, walau dalam kondisi terjepit sedangkan terang dunia adalah tentang bagaimana mereka menjadi sumber terang yang menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang lain, dalam kondisi yang lebih baik. Ini kritisi Yesus atas hidup masyarakat zamannya yang tertindas, dan kritisi atas hidup para pejabat dan pemuka agama korup serta penjajah Roma. Kedua metafora ini menekankan pentingnya murid-murid Yesus untuk menjadi agen perubahan yang aktif dan membawa pengaruh positif dalam masyarakat, baik dalam posisi di atas maupun di bawah, serta menjadi sumber terang yang menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang lain.
Kritik Yesus atas situasi politik zamannya sangat relevan dengan konteks garam bumi dan terang dunia. Pada zamannya, Yesus hidup di bawah pemerintahan Romawi yang oppressif dan korup, pemuka agama korup dan menindas serta di tengah-tengah masyarakat Yahudi yang dipimpin oleh pemuka agama yang lebih mementingkan kekuasaan dan status sosial daripada keadilan dan kasih.
Dalam konteks ini, garam bumi dan terang dunia dapat diartikan sebagai kritik Yesus atas situasi politik zamannya:
Garam bumi: Yesus mengkritik masyarakat  ditindas terjajah yang tidak memiliki harapan yang lebih mementingkan nasibnya sendiri tidak peduli orang lain, daripada keadilan dan kasih dalam kebersamaan. Mereka telah menjadi "garam yang tawar", tidak lagi membawa perubahan positif dalam masyarakat. Sebaliknya, Yesus memanggil murid-muridnya untuk menjadi "garam bumi", membawa perubahan positif dan keadilan dalam masyarakat, walau tertindas dan terjajah bahkan tersingkirkan. Terang dunia: Yesus mengkritik kegelapan dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Romawi dan pemuka agama korup. Mereka telah menutupi kebenaran dan keadilan, sehingga masyarakat tidak dapat melihat jalan yang benar, mereka bukan pengayom masyarakat, mereka tidak menerangi. Sebaliknya, Yesus memanggil murid-muridnya untuk menjadi "terang dunia", menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang-orang yang tertindas.
Dalam konteks ini, Yesus tidak hanya berbicara tentang spiritualitas individu, tetapi juga tentang keadilan sosial dan politik. Ia memanggil murid-muridnya untuk menjadi agen perubahan yang membawa keadilan, kasih, dan harapan kepada orang-orang yang tertindas dan terpinggirkan, dan tidak menyalah gunakan kuasa, jabatan, dan wewenang saat ada di atas. Kritik Yesus atas situasi politik zamannya juga relevan dengan situasi politik saat ini. Ia memanggil kita untuk menjadi garam bumi dan terang dunia, membawa perubahan positif dan keadilan dalam masyarakat, serta menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang-orang yang tertindas, tidak menyalah gunakan kekuasaan serta wewenang saat menjabat.  Pada zaman Yesus, rakyat tertindas dan orang tersingkirkan adalah kelompok yang sangat rentan dan tidak memiliki hak-hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Mereka termasuk: Orang miskin: Mereka yang tidak memiliki harta dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Pekerja harian: Mereka yang bekerja sebagai buruh harian dan tidak memiliki jaminan keamanan kerja. Janda dan anak yatim: Mereka yang kehilangan suami atau orang tua dan tidak memiliki sumber penghasilan. Orang sakit dan cacat: Mereka yang menderita penyakit atau cacat fisik dan tidak dapat bekerja. Pajak-pajak yang berlebihan: Mereka yang dipaksa membayar pajak yang tinggi oleh pemerintah Romawi. Orang Samaria: Mereka yang dianggap tidak murni dan tidak layak oleh masyarakat Yahudi.
Yesus sangat peduli dengan kelompok-kelompok ini dan sering kali menentang perlakuan tidak adil terhadap mereka. Ia mengajarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berharga dan layak mendapatkan kasih dan keadilan. Dengan demikian, Yesus menunjukkan bahwa iman tidak hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang keadilan sosial dan kasih kepada orang lain. Ia memanggil kita untuk menjadi agen perubahan yang membawa keadilan dan kasih kepada orang-orang yang tertindas dan tersingkirkan. Jadi, saya juga bingung kalau perkara garam bumi/tanah ini, ada yang mengkaitkan dengan perjanjian garam di PL, di kejadian, bilangan, dan tawarikh. Itulah kenapa kemudian sambungannya adalah tidak satu iota pun, karena tolok ukur dari garam bumi/tanah serta terang dunia itu adalah hukum taurat (10 perintah) yang tidak dikurangi oleh Yesus tapi hanya digenapi dengan pengajaran hukum kasih (2 hukum kasih).
(08022026)(TUS)
BAHAYA KHOTBAH YANG ANTROPOSENTRIS !!!

Khotbah antroposentris adalah khotbah yg menempatkan manusia sebagai pusat, sementara Allah dan karya-Nya menjadi latar belakang atau alat pendukung.

Secara sederhana:
👉 manusia menjadi subjek utama, Allah menjadi sarana.
1. Ciri utama khotbah antroposentris
a. Fokus pada kebutuhan dan perasaan manusia
Pertanyaan utama yang dijawab:
Apa yang saya dapat?
Bagaimana saya sukses?
Bagaimana Tuhan menolong rencana saya?
Bukan:
Siapa Allah?
Apa yang Allah kerjakan dalam Kristus?
Apa kehendak Allah bagi manusia berdosa?

b. Allah dipresentasikan sebagai “penolong agenda manusia”
Allah:
dipakai untuk memulihkan harga diri
dipakai untuk membuka berkat
dipakai untuk menyukseskan mimpi
Doa dan iman menjadi alat, bukan respons penyembahan

c. Dosa direduksi, salib dipinggirkan
Dosa dipahami sebagai kegagalan mencapai potensi,
bukan pemberontakan terhadap Allah kudus.
Salib menjadi simbol harapan atau motivasi, bukan penebusan dan penghakiman atas dosa.

d. Teks Alkitab dijadikan ilustrasi, bukan otoritas
Alkitab:
dipotong untuk mendukung ide motivasi
dipakai sebagai “ayat penguat”
tidak dibaca dalam konteks penebusan

2. Contoh sederhana
Antroposentris:
“Daud mengalahkan Goliat supaya kita berani menghadapi masalah besar dalam hidup.”
Biblika / Kristosentris:
“Allah menyelamatkan umat-Nya melalui Daud, menunjuk kepada Kristus sebagai Raja sejati yg mengalahkan musuh yang tidak mampu kita kalahkan.”

3. Dampak khotbah antroposentris
Jemaat:
termotivasi sesaat, tetapi dangkal secara iman
Iman:
bergantung pada hasil
runtuh saat penderitaan datang
Gereja: ramai, tetapi kehilangan kedalaman teologis

4. Lawan dari khotbah antroposentris
Bukan “khotbah dingin” atau “akademis”,
melainkan khotbah teosentris dan kristosentris:
Allah adalah pusat cerita
Kristus adalah inti pesan
manusia dipanggil untuk bertobat, percaya, dan taat
Roma 11:36
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.”

Khotbah antroposentris:
- memuliakan manusia
- memakai Allah
- menghibur tanpa menyelamatkan.

Sedangkan khotbah Injili:
- memuliakan Allah
- memberitakan Kristus
- mengubahkan manusia.

#christianity #christian #gospel #iman #faith

Kamis, 05 Februari 2026

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

PENGANTAR
Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, termasuk perihal penjala manusia, ucapan bahagia, garam terang, pintu, dlsb . Ucapan bahagia yang dalam bahasa aslinya bisa dimaknai sebagai TERHORMATLAH dan TERHINALAH/TERINJAKLAH serta bisa pula dimaknai TERBERKATILAH dan TERKUTUKLAH dalam banyak terjemahan Alkitab  ditulis BAHAGIA dan CELAKA. Sehingga, latar belakang bahwa penulis Injil menuliskan itu dalam tradisi rabinik atau tradisi para nabi, dimana itu sebetulnya kritikan keras pada penindasan, pemuka agama korup dan penjajahan para pejabat pemerintahan tentunya juga memberikan pengharapan dan sikap hidup pada yang tertindas dan terjajah, sering menjadi kabur, oleh karena dipakai berkhotbah menjadi dasar dari pembelajaran motivasi atau pidato/ presentasi para motivator mimbar, sadarilah ..... ini suara ke nabi an yang didengungkan oleh penulis Injil dalam zaman penindasan dan penjajahan dengan mengutip kisah suara ke nabi an Yesus dari bbrp sumber. Serta tidak bisa dipungkiri, itu merujuk pada tradisi para nabi dan suara ke nabi an pada zamannya. Tolok ukur Yesus dan petulis injil berbeda dengan tolok ukur dunia tentang bahagia.

PEMAHAMAN
Jangan Lupa Bahagia? Akhir-akhir ini yang sering saya dengar dari para motivator mimbar, saya selalu memegang prinsip TIDAK ADA TAFSIR YANG SALAH TERLEBIH BENAR, YANG ADA HANYA TAFSIR YANG DAPAT DIPERTANGGUNG JAWAB KAN ATAU TIDAK. DIPERTANGGUNG JAWAB KAN DENGAN APA? DENGAN ARGUMENTASI YANG NALAR (DAPAT DITERIMA JEMBATAN - JEMBATAN NALARNYA). Menurut saya, apa yang disampaikan para motivator mimbar lemah argumentasi tafsir nya, bukan salah atau keliru. Karena, tidak melihat lebih dalam nuansa zaman latar belakang ucapan bahagia tersebut. Ucapan bahagia, adalah penguatan harapan pada bagian masyarakat yang tertindas, terjajah, tersingkirkan bahkan teraniaya pada zaman itu tetapi juga kritikan keras pada pejabat atau pemuka agama korup yang menindas, menjajah, menyingkirkan bahkan menganiaya masyarakat kecil dan lemah, kaum terpinggirkan. Standard bahagia akan Yesus itu lain, di saat lapar, disaat miskin, di saat menderita itulah orang seharusnya berbahagia, karena apa orang yang bisa mensyukuri penderitaan adalah orang dengan mindset menjadi berkat bagi sesamanya, itulah yang petulis injil kritisi, mindset atau pola pikir dan sikap hidup / attitude bagi orang-orang atau masyarakat saat itu yang hidupnya tertindas, terjajah dan tersingkirkan. Dalam kondisi derita harus tetap bersyukur dan berpengharapan karena Kristus menyelamatkan jiwa setelah kematian, makanya konsep pemikiran esseni dalam tradisi para nabi  (disinyalir kelompok yg diikuti Yohanes Pembaptis dan Yesus) salah satunya adalah penjajah/penindas dunia hanya dapat membunuh tubuh/raga tetapi jiwa milik Tuhan, TERHORMATLAH/TERBERKATILAH ketika jiwamu masih milik Tuhan walau raga hancur, tetapi TERKUTUKLAH/TERHINALAH orang yang menjajah dan menindas di dunia (tawaran dunia), menang senang di dunia tetapi jiwanya bukan milik Tuhan, terkutuklah/Terhinalah jiwa yang bukan Tuhan pemiliknya, pada konsep pemikiran intinya jangan jadi sama dengan dunia, ini tradisi nabi-nabi sejak PL, tercatat pula dalam Talmud dan Midras Yahudi. Saya mencoba menggambarkan kritisi Yesus yg dikutip oleh penulis Injil Matius dengan pengenaan kini pada konteks ucapan bahagia, agar dapat lebih dipahami, sbb :

"Gallup Poll, dan Harvard University menemukan melalui sebuah survei penelitian di ratusan negara bahwa Indonesia, masyarakat Indonesia merupakan yang paling bahagia, negara dengan tingkat 'flourishing' tertinggi di dunia, serta masyarakat yang paling optimistis." Demikian klaim Presiden Prabowo Subianto ketika ia menyampaikan pidato sebagai pembicara di World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss. Terlepas dari betapa pun bisa dipertanyakan— karena merepresentasikan secara keliru hasil survei tersebut—klaim itu mencerminkan kecenderungan banyak orang untuk menjadikan kebahagiaan sebagai summum bonum (tujuan akhir) dalam kehidupannya. Senyampang dengan itu, dalam masyarakat yang sibuk mengejar kebahagiaan, optimisme pun menjelma salah satu kebajikan utama. Kecenderungan tersebut merupa, antara lain, dalam bagaimana penerjemah Indonesia memaknai prolog khotbah Yesus di gunung. Tajuk yang diberikan bagi perikop Matius 5:1-12 dalam TBI dan TB2 tetap dan sama: Ucapan Bahagia. Dan, kata Gerika makarios pun terus dialihbahasakan menjadi "berbahagialah".
Padahal,jamak penerjemah berbahasa Inggris mengalihbahasakannya menjadi blessed, yang berarti "terberkatilah". Senada dengan kata yang digunakan dalam Vulgata, yakni beatus. Itupun bisa dimaknai TERHORMATLAH. Demikian pula, dalam terjemahan bahasa Jawa, kata yang dipilih adalah rahayu, yang berarti "selamatlah", "damailah", atau "tenteramlah". Lebih lanjut, di tengah kecenderungan untuk terobsesi dengan kebahagiaan, kita juga perlu mencermati serta mempertimbangkan pendapat K. C. Hanson. Pakar biblika Perjanjian Baru yang kerap menggunakan pendekatan antropologis tersebut mencatat:
"Penerjemahan makarisma-makarisma menjadi 'berbahagialah' tidaklah tepat, sebab mereka sesungguhnya tidak merujuk kepada emosi manusia . . . Mereka seharusnya diterjemahkan seturut dengan peneguhan atas nilai-nilai: 'betapa terhormatnya' atau 'betapa mulianya' . . . (Karena mereka) hanya dapat dipahami secara memadai dalam kerangka nilai-nilai kehormatan dan rasa malu (honor/shame) dunia Mediterania" (Hanson, 1994: 104).
Nah, ini perkara pengharapan dan sikap hidup dalam penjajahan, penindasan, serta derita, betapa terhormatnya, orang lapar, orang miskin, orang menderita, dlsb ketika tetap memiliki sikap hidup bersyukur, berpengharapan, semangat, pantang menyerah walau lelah, tetap  menjadi berkat bagi sesama, demikian hal nya betapa terkutuknya orang yg menindas, menjajah, menyingkirkan orang, korup dalam kuasa.



Yesus maupun petulis injil ingin mengungkap suatu aura, HIDUP ITU TIDAK SELAMANYA BAIK-BAIK SAJA, KETIKA HIDUP TIDAK BAIK-BAIK SAJA PENGIKUT KRISTUS TETAP TERBERKATI DAN TERHORMAT, KETIKA MASIH PUNYA SEMANGAT DAN HARAPAN SERTA MENJADI BERKAT UNTUK SESAMA, KETIKA HIDUP BAIK-BAIK SAJA JANGAN MENJADI TERKUTUK DAN TERHINA DENGAN MENINDAS, MENJAJAH, DAN MENYINGKIRKAN SESAMA, SEMUANYA ITU DALAM KONDISI BAIK-BAIK SAJA MAUPUN KONDISI TIDAK BAIK-BAIK SAJA, TOLOK UKUR NYA SJARAN DAN TELADAN KRISTUS (oleh karenanya, secara sastra Ibrani, setelah kritisi Yesus memakai metafora dan perbandingan terberkati dan terkutuk, Yesus mempertegas kritisi nya dengan metafora dan perbandingan garam bumi dan terang dunia, kemudian ditutup dg tolok ukur pengikut Kristus, oleh hukum taurat yg tidak diubah se iota  pun, tapi digenapi Yesus dg 2 hukum kasih, itulah amanat agung 2 hukum kasih sebagai penggenapan dan menjadi tolok ukur hidup bagi pengikut Kristus, harus dipahami metafora dan perbandingan sangat umum dipakai dalam sastra Ibrani zaman karna tidak bisa bicara vulgar di masa penjajahan Romawi)
 (11022026)



Selasa, 03 Februari 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 MATIUS 5 :13-20, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗘𝗽𝗶𝗳𝗮𝗻𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗴𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 MATIUS 5 :13-20,  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗘𝗽𝗶𝗳𝗮𝗻𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]
𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗴𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮

PENGANTAR
Minggu, 08 Februari 2026, Kita harus jeli dan perlu mengkaji ulang tafsir lama, kita harus berani melihat sudut pandang baru dan berkembang atas tafsir Alkitab, kita harus jujur dalam melihat Alkitab saat ini ke depan. Termasuk melihat lagi, konteks seperi istilah tentang gembala, tentang pintu, tentang penjala manusia, tentang khotbah di gunung, bahkan tentang garam terang, dlsb. Seringkali melihat pengkhotbah YouTube, berteriak kamu harus menjadi garam dan terang, kamu harus mau diproses menjadi garam dan terang, kamu harus berproses menjadi garam dan terang, dlsb ..... menurut saya ini argumentasinya lemah karena dalam Alkitab tidak pernah dimaksudkan begitu, tetapi yang terlihat dalam Alkitab itu, umat Tuhan ... kita-kita ini adalah garam dan terang, sudah jadi garam dan terang bukan sedang berproses. Harus dipahami dan tak bisa disangkali,  bahwa istilah penjala manusia, ucapan bahagia dan garam serta terang itu berlatar belakang kritisi penulis Injil dg menggunakan keteladanan Kristus untuk mengkritisi penindasan dan ketidak Adilan pada zaman itu, kritisi terhadap pemuka agama yang tidak layak, kritisi terhadap pemuka agama dan pejabat korup, kritisi terhadap pemerintahan yang berlaku saat itu dan kritisi thp penjajahan. Maka, saya selalu mengatakan dosa besar gereja bukan ketidak taatan tetapi KOMPROMI atas tawaran dunia. Karena jelas dasar pengajaran Kristus dan juga Yohanes Pembaptis (kaum esseni) adalah JANGAN JADI SAMA DENGAN DUNIA.
Minggu lalu kita sudah membahas mengapa istilah 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗱𝗶 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 lebih tepat ketimbang Khotbah di Bukit untuk menamai pengajaran Yesus dalam Matius pasal 5 -7. Kita juga sudah mengulas sembilan ucapan bahagia sebagai pembuka Khotbah di Gunung. 


PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu kelima sesudah Epifani. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 5:13-20 yang didahului dengan Yesaya 58:1-9a (9b-12), Mazmur 112:1-9 (10), dan 1Korintus 2:1-12 (13-16).

Bacaan Injil Minggu ini mencakup hampir dua perikop:
• Garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16)
• Yesus dan hukum Taurat (Mat. 5:17-20 yang merupakan bagian perikop Mat. 5:17-48)

Metafora garam dan terang dunia tentunya sudah kita dengar sejak kita masih di Sekolah Minggu. Meskipun demikian masih banyak pengkhotbah 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 membaca metafora garam dan terang itu sebagai perintah atau tuntutan. Dalam khotbahnya umat diperintah atau diharapkan untuk menjadi garam dan terang itu. Padahal teks Injil Matius sama sekali tidak ada perintah menjadi garam dan terang dunia.

𝗚𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗕𝘂𝗺𝗶

Matius 5:13 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘴𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. (TB II)

LAI menerjemahkan garam dunia dari ἅλας τῆς γῆς (baca: halas tes ges). Kata γῆς (ges) lebih tepat diterjermahkan menjadi bumi, tanah karena dunia dari frase terang dunia diterjemahkan dari κόσμου (baca: kosmou). Istilah atau frase yang lebih tepat adalah garam bumi. Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkan γῆς (ges) sebagai 𝘦𝘢𝘳𝘵𝘩.

Sangat boleh jadi garam bumi ini benda nyata di zaman Matius untuk menggarami tanah seperti secara tersurat dalam Lukas 14:35a 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘶𝘱𝘶𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. Pengarang Injil Matius kemudian menggunakan benda ini menjadi metafora untuk dikenakan kepada Jemaat Matius. Jemaat ideal Matius merupakan gereja dalam konteks dunia: bumi sebagaimana dicerap pada zaman itu.

Ucapan 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 bukanlah perintah atau tuntutan. Ketika saya mengucapkan “Kamu cantik” apakah saya sedang menyuruh perempuan untuk menjadi cantik? Ucapan itu adalah pernyataan pengukuhan (𝘢𝘧𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦 𝘥𝘦𝘤𝘭𝘢𝘳𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯). Ia sudah cantik, bukan disuruh menjadi cantik. Kita sudah garam, bukan disuruh menjadi garam.

𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘴𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘫𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Para murid diperintah oleh Yesus untuk mengabarkan Injil ke semua penjuru bumi (Mat. 28:18-20). Untuk itulah Matius mengaitkan metafora tersebut dengan peringatan: jika jemaat atau umat menjadi tawar, ia akan dibuang dan diinjak. Jemaat yang menjadi tawar adalah jemaat yang kehilangan jatidirinya. Ia tidak dapat diasinkan lagi. Ia bukan garam lagi. Ia bukan jemaat Kristus lagi. Jatidiri umat adalah meneladan Kristus, memuridkan dirinya pada diri Yesus, kalau tindakan kita tidak meneladan Kristus dan kita tidak tunduk taat memuridkan diri kita pada sosok Yesus, maka kita tak berguna.

𝗧𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮

Matius 5:14-16 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪. 𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘺𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶. 𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. (TB II)

Frase 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 diterjemahkan dari φῶς τοῦ κόσμου (baca: phos tou kosmou). Untuk menjelaskan makna terang dunia penulis Injil Matius menganalogikan dengan 𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪. Jemaat atau umat adalah terang dunia sehingga tidak mungkin tersembunyi dari mata dunia. Jika tersembunyi, ia bukan lagi terang dunia. Bukan lagi gereja.

Matius juga menjelaskan terang dunia dengan analogi 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘺𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶. Seperti pelita yang menerangi semua orang di dalam rumah, demikian juga gereja menerangi seisi dunia. Pelita bukan untuk ditutupi cahayanya, melainkan untuk menerangi. Kalau tak menerangi, ia bukan gereja lagi. Maka, konsep pemahaman Alkitab itu tak seiring sejalan dengan karya gereja dalam artian ritual legalistik dalam gereja (ngumpet Nang gerejo) tetapi konsep pemahamannya Alkitab adalah hidup di tengah dunia, hidup di tengah masyarakat. Maka, karya bergereja (di dalam gereja) dan ritual legalistik bergereja adalah 1 hari  dalam seminggu untuk menguatkan pemahaman atas karya Kristus, atas teladan Kristus, atas pengenangan akan Kristus, tetapi praksisnya atau perimbangannya adalah tindakan nyata 6 hari untuk memperlihatkan atau mewujudkan kenangan atas karya Kristus itu dalam keseharian, mewujud nyatakan teladan Kristus dalam dunia atau kehidupan nyata, itu liturgi yang berjalan menjadi liturgi kehidupan, dan itu yang dimaksud oleh pokok ajaran GKJ bahwa hidup adalah sebuah perjalanan keselamatan (bukan untuk mendapatkan keselamatan).

Mengapa terang tidak boleh tersembunyi dan tidak boleh ditutupi? Matius memberikan konklusi (kesimpulan atau rangkuman suatu argumentasi)  agar orang melihat perbuatan baik itu lalu memuliakan Allah Bapa di Surga, agar ketika melihat kehidupan umat yang meneladan Kristus maka Kristus dimuliakan. Syarat orang memuliakan Allah Bapa di Surga adalah melihat lebih dahulu perbuatan baik gereja di bumi. Perbuatan baik apa? Tidak jelas dalam perikop ini, namun dalam penutup Injil Matius Yesus memberi perintah “…𝘢𝘫𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶” (Mat. 28:20).

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗧𝗮𝘂𝗿𝗮𝘁 (Mat. 5:17-20, TB II)

5:17 “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢.
5:18 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘶𝘳𝘶𝘧 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪.
5:19 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢.
5:20 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘪 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢.

Dalam akhir musim lalu kita sudah melihat bagaimana Lukas menetapkan standar orang kaya ideal Kristen dalam Kisah Zakheus. Berat. Penginjil Matius juga menetapkan standar gaya hidup jemaatnya yang tak kalah berat, yaitu Matius 5:20 di atas.

Kebenaran atau hidup keagamaan jemaat Matius harus melampaui standar kebenaran ahli Taurat dan orang Farisi. Tuntutan kesalehan yang amat tinggi ini tampaknya bertentangan dengan cerapan tentang Yesus yang pengampun. Minggu lalu kita sudah membahas tentang ucapan bahagia, yang satu di antaranya Matius 5:7 “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯.” (TB II)
 
Meskipun Yesus penuh belas kasih dan pengampun, hal itu tidak meniadakan tuntutan-Nya yang sangat tinggi terhadap umat-Nya. Alih-alih pendosa, setara kesalehan ahli Taurat dan orang Farisi saja dipandang belumlah cukup. Jemaat dituntut untuk menjadi anak Allah paripurna, “𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢”. (Mat. 5:48, TB II).

Berat? Memang, .... berani melangkah? Berani meneladan?.

(03022026)(TUS)


Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran

  Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran PENGANTAR Keluaran 24: 12-18 Bacaan 1 Minggu ini 15022026 adalah tentang arah ...