Rabu, 10 Juni 2026

Sudut Pandang menghakimi makaikat

Sudut Pandang menghakimi makaikat
**1 Korintus 6:3 (TB)**  
“Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.”
Hebaaat ...... tepuk tangan dong, kita akan menghakimi malaikat, hebat tueniiiin
---

### **Analisis Akademik dan Bahasa**
Dalam teks Yunani, frasa *“krinoumen angelous”* (κρινοῦμεν ἀγγέλους) berarti “kita akan menghakimi malaikat-malaikat.” Kata kerja *krinō* (menghakimi) di sini tidak hanya berarti “menjatuhkan hukuman,” tetapi juga “menilai,” “memeriksa,” atau “memutuskan.” Paulus menggunakan bentuk futurum (*krinoumen*), yang menunjukkan tindakan eskatologis — sesuatu yang akan terjadi pada masa depan, dalam konteks penghakiman akhir.

Kata *angelous* (malaikat-malaikat) tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Paulus, sehingga menimbulkan perdebatan akademik: apakah yang dimaksud adalah malaikat yang jatuh (iblis dan pengikutnya) atau seluruh makhluk surgawi. Namun, dalam konteks teologi Paulus, kemungkinan besar yang dimaksud adalah malaikat yang memberontak (lih. 2 Petrus 2:4; Yudas 6), karena penghakiman terhadap mereka merupakan bagian dari kemenangan Kristus dan umat-Nya.

---

### **Konteks Tradisi dan Sosial Jemaat Korintus**
Jemaat Korintus hidup dalam masyarakat Yunani-Romawi yang sangat legalistik, di mana penyelesaian sengketa sering dibawa ke pengadilan sipil. Paulus menegur mereka karena membawa perkara antar saudara seiman ke pengadilan duniawi (1 Korintus 6:1–2). Dengan menyebut bahwa orang percaya akan “menghakimi malaikat,” Paulus menegaskan martabat rohani umat Allah — bahwa mereka, yang akan turut serta dalam pemerintahan Kristus (lih. 2 Timotius 2:12), seharusnya mampu menyelesaikan perkara kecil di antara mereka sendiri.

---

### **Konteks Pastoral**
Secara pastoral, ayat ini menegur jemaat Korintus yang terpecah dan saling menggugat. Paulus mengingatkan mereka akan identitas dan tanggung jawab mereka sebagai umat yang telah ditebus. Jika mereka kelak akan berperan dalam penghakiman surgawi, maka mereka seharusnya hidup dengan hikmat dan keadilan dalam relasi sehari-hari.  
Pesan pastoralnya adalah: jangan merendahkan panggilan surgawi dengan perilaku duniawi. Jemaat dipanggil untuk hidup dalam kasih, keadilan, dan kebijaksanaan yang mencerminkan pemerintahan Kristus.

---

### **Nilai Moral dan Refleksi**
Ayat ini mengajarkan bahwa:
1. Orang percaya memiliki martabat rohani yang tinggi di hadapan Allah.  
2. Setiap keputusan dan tindakan di dunia ini mencerminkan kesiapan kita untuk memerintah bersama Kristus.  
3. Perselisihan antar saudara seiman seharusnya diselesaikan dengan kasih dan hikmat, bukan dengan cara duniawi.  

Dengan demikian, **1 Korintus 6:3** bukan hanya pernyataan teologis tentang masa depan, tetapi juga panggilan etis bagi jemaat untuk hidup sesuai dengan identitas surgawi mereka di dunia.

Selasa, 09 Juni 2026

Pernyataan bahwa "setiap orang yang berjumpa dengan Yesus pasti hidupnya berubah dan tidak akan sama lagi" telah menjadi semacam aksioma atau rumus baku dalam teologi populer dan khotbah-khotbah kontemporer atau perbincangan-perbincangan di medsos dan komunitas kristen. Sepintas, kalimat ini terdengar sangat beriman dan memotivasi.

Namun, jika kita membedahnya secara kritis berdasarkan narasi Alkitab, rumus otomatisasi ini menghadapi tantangan besar. Realitas teks Alkitab menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Yesus TIDAK SELALU menghasilkan "perubahan hidup" yang positif. Perjumpaan dengan Yang Ilahi menuntut respons moral dan kehendak bebas (free will) manusia; Yesus BUKANLAH MANTRA penjamin perubahan otomatis.

Untuk memahami mengapa perubahan tidak terjadi secara mekanis, kita perlu melihat bagaimana Alkitab menggambarkan esensi dari perubahan hidup yang sejati.

• Metanoia (Pertobatan) vs. Perubahan Eksternal
Dalam Perjanjian Baru, perubahan hidup yang dikehendaki oleh Yesus selalu berakar dari kata metanoia, yang secara harfiah berarti "perubahan pikiran" atau "arah pandang yang baru" (dari kata meta = sesudah/berubah, dan noieo = berpikir).

Metanoia bukan sekadar perubahan perilaku moralistis yang tampak dari luar, melainkan transformasi radikal pada pusat eksistensi manusia (hati dan pikiran).

Artinya, seseorang bisa saja "berjumpa" secara fisik atau emosional dengan Yesus, namun jika ia MENOLAK mengalami metanoia, hidupnya tidak akan berubah ke arah yang dikehendaki Allah.

• Epistrophe (Berbalik)
Kata lain yang sering disandingkan adalah epistrophe, yang berarti "berbalik kembali" kepada Allah. Perjumpaan dengan Yesus adalah sebuah undangan (panggilan). Undangan ini membutuhkan tindakan aktif dari manusia untuk epistrophe, berbalik dari jalan yang lama. Tanpa adanya keputusan untuk berbalik, perjumpaan tersebut hanya akan menjadi sebuah peristiwa historis yang lewat begitu saja tanpa dampak transformatif.

Alkitab mencatat dengan sangat jujur bahwa banyak orang mengalami perjumpaan intim dan intens dengan Yesus, namun hidup mereka tidak berubah menjadi lebih baik, atau bahkan berakhir tragis.

- Yudas Iskariot
Yudas adalah bantahan paling telak terhadap rumus otomatisasi perubahan. Dia tidak hanya "berjumpa" dengan Yesus dalam satu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau sesi konseling. Yudas hidup, makan, berjalan, mendengar pengajaran terjujur, dan melihat mukjizat Yesus secara langsung selama tiga tahun.

Secara kedekatan fisik dan intelektual, perjumpaan Yudas sangat maksimal.

Namun, hatinya tetap terikat pada keserakahan (Yohanes 12:6). Perjumpaannya dengan Yesus tidak mengubah karakternya; justru kedekatan itu berakhir pada pengkhianatan yang tragis. Yudas mengalami perubahan, tetapi bukan perubahan menuju kekudusan, melainkan kebinasaan karena penolakan batinnya terhadap hakikat mesianis Yesus.

- Pemuda kaya (Matius 19:16-22)
Seorang penguasa muda yang kaya datang langsung dan berlutut di hadapan Yesus. Ia mengalami perjumpaan pribadi yang sangat dialogis. Yesus bahkan "memandang dia dan menaruh kasih kepadanya" (Markus 10:21). Yesus menawarkan transformasi total: "Jual apa yang kaumiliki... dan ikutlah Aku."

Bagaimana hasil perjumpaan itu? Pemuda itu pergi dengan sedih dan masygul karena hartanya banyak.

Perjumpaan dengan Yesus tidak otomatis mengubah hidupnya menjadi seorang murid yang radikal. Kelekatan pada berhala duniawi (kekayaan) menutup pintu bagi metanoia.

- Penduduk Nazaret dan para pemimpin agama
Yesus mengajar di rumah ibadat di Nazaret, kampung halaman-Nya sendiri (Lukas 4:16-30). Mereka berjumpa, mendengar hikmat-Nya, namun perjumpaan itu justru memicu penolakan, bahkan mereka mencoba melempar-Nya dari tebing. Demikian pula dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat; mereka sering berdebat tatap muka dengan Yesus, melihat kuasa-Nya, tetapi hati mereka justru semakin keras dan merencanakan pembunuhan-Nya.

Dalam tradisi teologi Puritan, gagasan bahwa perubahan hidup terjadi secara otomatis atau mekanis tanpa perjuangan batin ditentang dengan sangat keras. Thomas Watson, dalam karyanya The Doctrine of Repentance, menegaskan bahwa banyak orang terjebak pada apa yang ia sebut sebagai counterfeit repentance (pertobatan tiruan/semu).

Pernyataan bahwa hidup "pasti berubah" hanya karena sebuah momen perjumpaan emosional dengan Yesus sering kali terjebak dalam jebakan mistisisme magis ini, seolah-olah perjumpaan dengan Kristus adalah sebuah transaksi instan, sekali mengalami histeria spiritual atau jamahan sesaat, hidup langsung otomatis kudus tanpa adanya proses mematikan dosa (mortification of sin) dan perjuangan iman yang konsisten.

Watson mengingatkan bahwa esensi dari perjumpaan yang menyelamatkan selalu melahirkan kedukaan yang ilahi atas dosa (godly sorrow). Pertobatan sejati bagi kaum Puritan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan sebuah "bencana rohani" yang menghancurkan kesombongan manusia dan ego kedagingannya untuk kemudian dibangun kembali oleh Roh Kudus. Jika seseorang mengaku telah berjumpa Yesus namun mengabaikan kekudusan hidup, Watson menyebutnya sebagai orang yang memiliki "iman yang mati" yang hanya memoles bagian luar cawan, namun membiarkan dalamnya penuh dengan kebusukan.

Lukas 9:23
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

Selaras dengan pandangan Puritan, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan perubahan otomatis tanpa penderitaan batin. Kata "harus" dalam ayat di atas menggunakan penekanan imperatif yang menuntut kehendak aktif manusia:

• Menyangkal diri (aparneomai): secara radikal berkata "tidak" pada kedaulatan diri sendiri

• Memikul salib setiap hari: proses mematikan dosa (mortification) yang berlangsung seumur hidup, bukan sekadar pelarian emosional sesaat.

Perubahan hidup terjadi bukan karena peristiwa perjumpaannya secara magis, melainkan karena anugerah Allah yang memampukan manusia untuk taat, memikul salib, dan berperang melawan dosanya setiap hari pasca-perjumpaan tersebut.

--------------------

Kalimat "orang yang berjumpa Yesus hidupnya pasti berubah" perlu dikoreksi secara teologis agar tidak menjadi slogan iman yang naif. Perjumpaan dengan Yesus adalah titik awal menawarkan kemungkinan perubahan (potensi transformasi), tetapi bukan jaminan mekanis yang meniadakan tanggung jawab manusia.

Tuhan menghargai kehendak bebas yang Ia ciptakan dalam diri manusia. Perjumpaan dengan Yesus menuntut respons: apakah kita mau menanggalkan manusia lama seperti Paulus di jalan menuju Damsyik, atau justru mengeraskan hati seperti Yudas Iskariot dan pemuda kaya yang memilih pergi menjauh. Pada akhirnya, yang mengubah hidup bukan sekadar fakta bahwa kita pernah "berjumpa" dengan-Nya, melainkan sejauh mana kita bersedia "takluk dan mengikut" Dia setiap hari.

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

PENGANTAR
Kita sering mengaitkan Istilah "premanisme" dengan aksi jalanan: pemalakan, intimidasi fisik, tato, dan kekerasan di lorong-lorong gelap. Namun, jika kita membawa isu ini ke dalam ruang-ruang suci (gereja, sinode, yayasan, dan organisasi Kristen) kita akan menemukan sebuah ironi yang tidak nyaman.
Ada bentuk premanisme yang mengalami domestikasi dan spiritualisasi. Ia tidak memakai jaket kulit, melainkan jubah pelayanan atau jas yang rapi. Ia tidak menggunakan senjata tajam, melainkan ayat-ayat Kitab Suci yang dipelintir.
PEMAHAMAN
Mari kita bedah sisi lain dari "premanisme rohani" (spiritual thuggism) dalam kekristenan yang jarang dibahas secara jujur di mimbar-mimbar kita.

1. Doktrin berkat sebagai upeti, dan upaya keberagaman macam persembahan
Dalam premanisme jalanan, ada konsep "uang jaminan keamanan" atau upeti agar bisnis anda aman. Dalam konteks organisasi dan gereja tertentu, praktik ini sering kali mengalami kristenisasi menjadi manipulasi teologis atas nama persembahan atau taburan benih, kasus tabur tuai. Belum lagi istilah janji iman, berjanji nanti kalau sudah ada uangnya maka akan dipersembahkan untuk gereja, dan kemudian gereja menagih. Belum lagi, pemaksaan keharusan tentang iuran untuk sinode atau yayasan dari gereja-gereja yang lebih kecil, umat didesak dengan pengertian untuk peduli pada yayasan lewat gereja-gereja, gereja yg lebih kecil harus menyokong gereja yang lebih besar karena gereja kecil blom punya pendeta (lah ..... kuwalik malah), kemudian macam dan keragaman persembahan.

Konsep Alkitab adalah persembahan sekecil apapun disyukuri dan dikelola dengan baik, bukan seberapa besar dana masuk tetapi seberapa besar kita bersyukur atas pengakuan kita akan Tuhan yang maha kuasa akan mencukupkan, kuncinya di pengelolaan dan tidak bermewah - mewah, ugahari, kesederhanaan, makanya, konsep di Alkitab itu kita hanya pengelola, diberi kepercayaan mengelola, bukan pemilik, pemiliknya Tuhan atas segala sesuatu. Makanya, ada istilah penata layanan, dlsb. Kalau Alkitab masih relevan bagi kita, maka kita kembalikan dasarnya pada Alkitab.

Umat diintimidasi secara psikologis dan spiritual. Khotbah-khotbah didesain sedemikian rupa untuk menimbulkan rasa bersalah (guilt-trip), jika tidak memberi dalam jumlah tertentu, maka pintu berkat tertutup, atau hidupnya akan kena kutuk. Bahan khotbah disiapkan sedemikian rupa, dg tema agar umat tergerak hatinya. Sisi kritisnya, Tuhan diposisikan tidak lebih dari "bos preman besar" yang hanya akan melindungi dan memberkati jika upetinya lancar. Ini adalah degradasi radikal terhadap anugerah (grace) yang cuma-cuma, mengubah relasi iman menjadi transaksi kekuasaan yang koersif (memaksa).

2. Intimidasi rohani: "Jangan menyentuh/ mengusik orang yang diurapi"
Preman mengandalkan hukum rimba: siapa yang paling kuat dan memegang wilayah, kata-katanya adalah hukum. Di dalam komunitas Kristen, hal ini sering kali muncul dalam bentuk kekuasaan absolut pemimpin yang anti-kritik.
Ayat dari 1 Tawarikh 16:22 ("Jangan menyentuh orang-orang yang Kuurapi") kerap dijadikan tameng kekebalan hukum dan moral. Ketika ada jemaat atau staf yayasan yang mempertanyakan transparansi keuangan, tata kelola organisasi, atau penyimpangan perilaku moral pemimpin, mereka segera dicap "pemberontak", "pahit", atau "sedang dipakai iblis."
Ini adalah premanisme sistemik yang membunuh daya kritis komunitas. Alkitab mencatat nabi-nabi justru bertugas mengkritik raja (pemimpin) yang melenceng. Ketika struktur gereja melarang evaluasi dan akuntabilitas, gereja bukan lagi tubuh Kristus, melainkan KARTEL spiritual yang melindungi kepentingan elite sekte.

3. Ekploitasi dan "perbudakan" berkedok pelayanan
Di banyak yayasan, organisasi, atau gereja besar, terdapat praktik eksploitasi tenaga kerja yang luar biasa kasar, namun dibungkus dengan narasi "pengorbanan untuk Tuhan" atau "tuntutan kedewasaan rohani."
Staf atau aktivis pelayanan dituntut bekerja melebihi kapasitas manusiawi (lembur tanpa kompensasi, upah jauh di bawah standar layak, tanpa jaminan kesehatan), sementara para elit organisasi menikmati fasilitas kelas atas. Jika staf tersebut mengeluh, senjata spiritual segera ditembakkan: "Kamu kurang berserah," atau "Upahmu besar di surga."
Ini adalah pelanggaran keadilan sosial yang sangat ditentang oleh nabi-nabi Perjanjian Lama (bdk. Amos 5). Menggunakan nama Tuhan untuk menjustifikasi pemotongan hak-hak dasar manusia adalah bentuk "pemalakan" energi dan hidup orang lain demi kelangsungan institusi.

4. Perebutan "lahan" dan kanibalisme pelayanan
Di dunia hitam, perang antar-geng terjadi karena perebutan wilayah kekuasaan (territorial dispute). Sadar atau tidak, ini terjadi di antara organisasi dan gereja Kristen. Kompetisi antar-gereja untuk menarik jemaat (terutama yang kaya) sering kali dilakukan dengan cara-cara tidak sehat, meski dibungkus dengan label "penginjilan" atau "kebangkitan/ kebangunan rohani." Ada intimidasi terselubung, penyebaran rumor untuk menjatuhkan reputasi lembaga lain, atau monopoli jaringan pelayanan agar bantuan dana (dari donor) tidak lari ke yayasan sebelah. Ego sektarian ini mengkhianati doa Yesus dalam Yohanes 17 agar umat-Nya "menjadi satu." Ketika gereja bertindak seperti korporasi yang agresif mencaplok pangsa pasar, mereka sedang mengadopsi mentalitas preman yang melihat pelayanan sebagai ladang bisnis dan persaingan kekuasaan.

Premanisme, pada akarnya, adalah tentang pemaksaan kehendak melalui dominasi kekuasaan.

Kekristenan, secara paradoks, lahir dari penolakan total terhadap model kekuasaan seperti itu. Yesus Kristus tidak datang sebagai preman kosmik yang memaksa manusia tunduk dengan kepalan tangan. Dia menyatakan diri-Nya melalui Salib, sebuah simbol pelepasan hak, kerapuhan (vulnerability), dan pelayanan yang mengosongkan diri (kenosis). Dalam Markus 10:42-43, Yesus dengan sangat tegas memperingatkan murid-murid-Nya:
"Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi... Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Ketika gereja,  sinode, yayasan, dan organisasi Kristen mulai menggunakan manipulasi psikologis, pembungkaman suara kritis, eksploitasi manusia, dan keserakahan struktural, mereka sebenarnya sedang mengalami murtad fungsional. Mereka mungkin masih menyebut nama "Yesus", tetapi metode yang mereka gunakan adalah metode dunia hitam.
Gereja perlu bertobat dari godaan menjadi "makelar rohani" yang menggunakan cara-cara premanisme untuk mempertahankan institusi. Sudah saatnya komunitas Kristen berani membongkar kekerasan yang rapi ini, dan kembali pada esensi komunitas yang radikal dalam kasih, transparan dalam kelola, dan setara di kaki salib.

Senin, 08 Juni 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:35 – 10:8 (9-23)[𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘽𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙧𝙖𝙩𝙞𝙨!

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:35 – 10:8 (9-23) [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘽𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙧𝙖𝙩𝙞𝙨!

PENGANTAR 
Minggu 14 Juni 2026, Saat ini kita memasuki Minggu ke-3 setelah Pentakosta. Pencurahan
Roh Kudus kepada orang percaya mengandung perutusan untuk melanjutkan karya pelayanan Tuhan bagi manusia. Melalui bacaan Injil kita diajak untuk meneladan karya Yesus yang didasarkan pada belas kasih. Pewartaan dengan tema “Pewarta Belas Kasih” akan lebih memusatkan perhatian pada bacaan Injil dari leksionari hari ini. Meskipun demikian bacaan pertama (PL) dan bacaan rasuli (surat-surat) dalam leksionari Minggu ini akan dijadikan
sebagai dasar mengapa pewartaan belas kasih harus dilakukan. 
Kitab-kitab Injil bukanlah laporan jurnalistik historis objektif. Para pengarang Injil menulis kisah teologis tentang hidup dan karya Yesus. Kitab-kitab itu ditulis bukan untuk orang-orang Kristen di Indonesia, melainkan untuk kalangan atau jemaat tertentu yang sedang mengalami persoalan dan pergolakan dahsyat. Itulah sebabnya terjadi perbedaan kronologi, geografi, nama tokoh cerita, dan bahkan ucapan Yesus.
Meskipun kitab-kitab Injil bukan laporan jurnalistik historis objektif, dalam kisah teologis itu ada jejak sejarah. Contoh, Matius 22:7 𝘔𝘶𝘳𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩-𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. Dari sini kita dapat menimbang bahwa Injil Matius ditulis sesudah tahun 70 ZB setelah Bait Allah II di Yerusalem diruntuhkan oleh pasukan Romawi. Kota 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 adalah kota orang Yahudi, yakni Yerusalem. Jadi, 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, apalagi kota suci.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu ketiga sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 9:35 – 10:8 yang didahului dengan Kejadian 18:1-15, (21:1-7), Mazmur 116:1-2, 12-19, dan Roma 5:1-8.
Bacaan Injil hari ini terdiri atas tiga perikop yang bersambungan. Perikop Matius 9:35-38 diberi judul 𝘉𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 merupakan bagian akhir pasal 9, perikop Matius 10:1-4 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭 merupakan bagian awal pasal 10, sedang Matius 10:5-8 merupakan bagian awal perikop Matius 10:5-15 yang berjudul 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟯𝟱-𝟯𝟴
Bacaan Injil diawali dengan semacam rangkuman Yesus berkeliling ke semua kota dan desa di Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka; Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan (𝘵𝘰 𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘦̄𝘴 𝘣𝘢𝘴𝘪𝘭𝘦𝘪𝘢𝘴) serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat. 9:35). Rangkuman ini mirip dengan Matius 4:23.
Dalam TB II 1997 dan TB II 2023 di Matius 9:35 ada kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘢𝘶𝘵𝘰̄𝘯) dalam frase 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. Pengarang Injil Matius hendak menyampaikan bahwa sinagog bukan lagi tempat ibadat jemaat Kristen (Jemaat Matius). Ini merupakan jejak sejarah bahwa Injil Matius ditulis sesudah Bait Allah dihancurkan oleh Romawi pada 70 ZB yang membuat kebencian pemimpin Yahudi terhadap umat Kristen memuncak. Umat Kristen dianggap biang-sial bagi umat Yahudi. Mereka kemudian mengusir dan mengucilkan jemaat Matius termasuk melarang umat Kristen menggunakan sinagog. 
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳 dalam frase 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳 diterjemahkan dari kata 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘴𝘬o𝘯. NRSV juga menerjemahkannya sama 𝘵𝘦𝘢𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan 𝘱𝘳𝘦𝘢𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨 (berkhotbah).
Melihat orang banyak itu Yesus tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. (Mat. 9:36) 
TB II 2023 masih menggunakan kata bahasa Indonesia yang salah 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳. Frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah 𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘢 yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Saya saat stres biasanya mengalami gangguan perut. Bagaimana dengan anda?
Frase 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 merupakan pemerian yang diilhami dari teks-teks Perjanjian Lama (PL) seperti kitab Bilangan 27:15-17. Gembala di sini adalah metafor pemimpin politik atau keagamaan. Di luar dunia cerita tampaknya jemaat Matius, meskipun mereka mempunyai gembala, tetapi gembala yang dimetaforkan sebagai serigala berbulu domba (lih. Mat. 7:15).
Yesus kemudian berkata kepada murid-murid-Nya, “𝘛𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯.” (Mat. 9:37-38)
Pemerian tuaian atau panen sangat lazim di PL yang kerap dipautkan dengan penghakiman Allah atau eskatologis (lih. Yes. 27:12 dan YL. 4:13). Di PB (dhi. Injil Matius) nasabah 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 dan penghakiman Allah akan berlanjut ke Matius 13:36-43. Dalam konteks dua ayat di atas (Mat. 9:37-38) tidak merujuk penghakiman Allah. Penafsiran ini didukung frase 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯. Ayat di atas merujuk orang banyak yang siap sedia menanggapi Injil yang diberitakan Yesus. Namun, pekerja-pekerja tuaian sedikit sehingga Yesus menyuruh murid-murid-Nya meminta kepada Allah, Sang Empunya tuaian, mengirim para pekerja tuaian. Untuk apa? Ya, itu tadi untuk mengurusi 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 tersebut. Kerap terjadi di Gereja yang hanya berpumpun pada berdoa untuk mendapatkan kolekte dan persepuluhan, tetapi lalai berdoa meminta para pekerja untuk mengurusi warga jemaat yang lelah dan telantar.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟭-𝟰
Bacaan berlanjut ke pasal 10. Yesus memanggil ke-12 murid-Nya dan memberi mereka kuasa mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Adreas saudaranya, lalu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. (Mat. 10:1-4)
Inilah untuk kali pertama pengarang Injil Matius menyebut ke-12 murid tiga kali berturut-turut (Mat. 10:1, 2, 5). Angka 12 tentulah berpautan dengan 12 suku Israel. Dua belas murid menyimbolkan 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘉𝘢𝘳𝘶. Yesus adalah 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘉𝘢𝘳𝘶. Dalam Injil Matius istilah rasul (𝘢𝘱𝘰𝘴𝘵𝘰𝘭o𝘯) merujuk 12 murid (𝘮𝘢𝘵𝘩e𝘵𝘢𝘴) Yesus.
𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 di sini Matius hendak menyejajarkan misi ke-12 murid sama dengan misi Yesus. Dalam budaya Yahudi orang kerasukan roh jahat menjadi najis sehingga harus dikucilkan dari komunitas. Yesus memberi ke-12 murid kuasa melakukan eksorsisme agar mereka yang najis menjadi tahir. Juga, Yesus memberi mereka kuasa menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan.
Dalam Injil sinoptis Petrus selalu ditempatkan sebagai murid nomor 1. Injil Yohanes berbeda. Petrus adalah murid nomor 3 atau murid gelombang kedua. Murid gelombang pertama adalah Andreas dan tanpa nama. Keduanya adalah (mantan) murid Yohanes Pembaptis. Tampaknya perbedaan ini adalah jejak atau petunjuk bahwa jemaat atau komunitas penulis Injil Yohanes ini dimusuhi dan didera oleh pemimpin-pemimpin Yahudi sehingga menomorduakan Petrus yang teologinya pro-Yahudi di dunia nyata. Yang menarik adalah pasangan terakhir: Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘬𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪 𝘋𝘪𝘢 (Yesus). Zelot adalah gerakan ultra-nasionalis. Merekalah yang mengobarkan pemberontakan terhadap Pemerintah Roma. Iskariot bukan nama diri Yudas. Diduga nama Iskariot di belakang Yudas ditambahkan atau diberikan oleh jemaat Kristen di masa kemudian. Tampaknya Yudas juga anggota Zelot. Iskariot berpautan dengan kata 𝘈𝘳𝘢𝘮𝘦𝘢 yang berarti si palsu atau penipu. Tampaknya Matius menulis 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘬𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪 𝘋𝘪𝘢 sebagai penjelasan nama Iskariot. Ada ahli yang menduga Yudas mengkhianati Yesus karena Ia tidak mau mendukung ideologi Zelot. Perhatikan juga cara Matius menyebut nama-nama murid. Berpasangan dua-dua. Mengapa? Tampaknya Matius suka pada nilai atau angka dua. Ayat-ayat dari Injil Matius di bawah mendukung tafsir ini:

• Anak-anak yang dibunuh Herodes adalah mereka yang berumur 𝗱𝘂𝗮 tahun ke bawah (2:16).
• Murid-murid pertama Yesus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (4:18).
• Nelayan yang dipanggil Yesus untuk menjadi murid-Nya adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara juga (4:21).
• Ajaran Yesus: jika ada yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh 𝗱𝘂𝗮 mil! (5:41)
• Di Gadara bukan hanya satu orang yang dirasuk setan, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang (8:28).
• Di perjalanan-Nya Yesus menyembuhkan mata 𝗱𝘂𝗮 orang buta (9:27).
• Jika ada suatu perkara, jumlah saksi minimum adalah 𝗱𝘂𝗮 oang (18:16).
• Yesus berjanji akan hadir jika ada minimum 𝗱𝘂𝗮 orang berkumpul dalam nama-Nya (18:20).
• Murid-murid Yesus yang meminta tempat khusus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (20:20).
• Ketika keluar dari Yerikho, bukan hanya satu, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang buta yang disembuhkan Yesus (20:34).
• Ada 𝗱𝘂𝗮 murid yang disuruh menemukan 𝗱𝘂𝗮 keledai (21:1).
• Mahkamah Agama bahkan membutuhkan kesaksian palsu yang konsisten minimum dari 𝗱𝘂𝗮 orang saksi (26:60).
• Yesus disalib bersama dengan 𝗱𝘂𝗮 orang penyamun (27:38).

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟱-𝟴
Ke-12 murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭.” (Mat. 10:5-6)

Mengapa dilarang ke Samaria? Bukankah Injil untuk segala bangsa seperti di Matius 28:16-20? 

Pada mulanya umat Kristen (dhi. Jemaat Matius) dari kalangan Yahudi. Matius 10:5 adalah jejak sejarah. Umat Kristen hidup rukun dengan orang Yahudi dan bersama-sama beribadah di sinagog. Pembedanya adalah umat Kristen mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias. Pada tahun 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh kaum Zelot. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. Untuk itulah Injil Matius ditulis. Banting stir! Pengarang Injil Matius membimbing jemaatnya dari kalangan Yahudi bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pembuka dan penutup Injil Matius menyingkap itu. Matius membuka Injil dengan kelahiran Yesus yang ditolak oleh Raja Herodes, tetapi diterima oleh orang-orang Majus, bangsa lain. Injil Matius diakhiri dengan perintah Yesus memberitakan Injil kepada segala bangsa.
Yesus melanjutkan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩: 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘵, 𝘶𝘴𝘪𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯-𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢.” (Mat. 10:7-8)
Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah merupakan pusat misi dan berita yang disampaikan oleh Yesus. Dalam PB Yesus sering menjelaskan pengertian Kerajaan Surga melalui perumpamaan-perumpamaan. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Surga sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah, yang sukar diperikan dengan kata-kata. Bahkan semua perumpamaan masih belum dapat mencakup seluruh pengertian Kerajaan Surga. Contoh, Kerajaan Surga itu 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 40 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 (Mat. 13:33, TB II 2023). Dalam Alkitab LAI versi BIS dikatakan 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢! Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang terklasifikasikan menurut sistem Yudaisme (lih. Kel. 12:19 “…𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘨𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭,...”). Kalau Yesus mengatakan bahwa 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 itu berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Memberitakan Kerajaan Surga berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Gereja dengan sistem pemerintahannya yang dikuasai kaum elitis pendeta, penatua, rama, dslb., tetapi berada di antara kalangan marginal dan najis yang setiap hari merintih atas ketidakadilan penguasa dalam mengadministrasi keadilan sosial. Memberitakan Kerajaan Surga berarti mengusir roh-roh jahat yang merasuki elitis pejabat gerejawi yang sudah 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘭𝘦𝘵 memamerkan klaim kuasa ilahi yang ada pada dirinya. Memberitakan Kerajaan Surga berarti juga membuat elitis pejabat gerejawi peka bahwa umat dan masyarakat tidak membutuhkan gatra rohaniah saja, tetapi juga badaniah seperti makan, minum, kesehatan, keamanan, dlsb.
Di ayat 8 Yesus menekankan, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢.” Apa yang diperoleh dengan gratis? Kuasa menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menahirkan orang-orang yang sakit kulit, dan mengusir setan-setan. Dalam menggunakan kuasa itu para murid dilarang 𝘯𝘢𝘯𝘥𝘶𝘬 atau memasang tarif. Harus gratis juga! Para pejabat negara yang diberi kuasa menyelenggarakan negara harusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan gratis. Para pejabat itu sudah diberi gaji dan fasilitas sehingga tidak ada alasan bagi mereka mengambil yang menjadi hak masyarakat. Para pejabat gereja pun juga begitu. Mereka yang diberi kuasa menyembuhkan, kuasa berkhotbah, tidak layak mengejar honor, kolekte, dan persepuluhan. Yang menyedihkan lagi cukup banyak pejabat gereja, yang digaji oleh jemaat, malas belajar, enggan mengembangkan diri (kecuali mengembangkan badan) sehingga pengajaran mereka tidak bermutu, tidak mencerdaskan jemaat.
(08062026)(TUS)


Sudut Pandang tidak melakukan hal besar, cukup setia pada hal kecil

Sudut Pandang tidak melakukan hal besar, cukup setia pada hal kecil

PENGANTAR
Ada kisah menarik dalam Alkitab, Roma 16:12 (TB). “Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja sangat keras dalam pelayanan Tuhan.”  Ayat ini merupakan bagian dari penutup surat Paulus kepada jemaat di Roma, di mana ia menyebut nama-nama pribadi yang berjasa dalam pelayanan. Secara linguistik, kata “bekerja membanting tulang” (Yunani: kopiō) berarti “berjerih lelah sampai letih”, menunjukkan intensitas pelayanan yang dilakukan dengan kerendahan hati, bukan untuk kemuliaan diri.  Dalam tradisi gereja mula-mula, penyebutan nama perempuan seperti Trifena, Trifosa, dan Persis menunjukkan pengakuan terhadap peran aktif perempuan dalam pelayanan Injil. Namun, Paulus tidak menonjolkan status atau kedudukan mereka, melainkan menekankan kerendahan dan kesetiaan dalam kerja bagi Tuhan.  Roma 16:12 hanya satu kalimat pendek dalam 1 Kitab suci yg tebal, tetapi sarat makna moral. Paulus tidak memuji mereka karena jabatan atau prestasi, bukan pengakuan melainkan karena kerja keras yang tulus. Ini sejalan dengan prinsip “tidak bermegah” sebagaimana ditegaskan dalam 

1 Korintus 1:31 (TB):  
“Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”  

Dengan demikian, ayat ini menampilkan teladan kerendahan hati dalam pelayanan — bekerja keras tanpa mencari pujian manusia, melainkan memuliakan Tuhan.  Kerendahan dalam konteks Roma 16:12 bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari kasih dan kesetiaan kepada Tuhan. Trifena, Trifosa, dan Persis menjadi simbol pelayan yang tidak bermegah, tetapi setia dalam tugas kecil maupun besar. Nilai moral yang dapat diambil: kerja keras yang disertai kerendahan hati adalah bentuk ibadah yang sejati, tanpa pengakuan, apalagi gerakan di ruang elit. Saya selalu mengatakan dampaknya minimal ketika kita bergerak hanya di ruang-ruang elit, seminar, dan akademisi, mau gerakan lintas iman ataupun karya bergereja apapun itu. Kita lihat mau seberapa besar apa gerakan itu tokh ... Nyatanya ruang itu tidak memberikan dampak yg signifikan di negeri ini, hanya wowww keren aja. Saya malah melihat dampak itu secara pribadi ketika kita bergerak dari aras dan arus bawah, ketika umat dilatih sedemikian rupa untuk bermasyarakat dengan baik di tengah kemajemukan dimana umat tinggal bukan di gereja atau seminar, ketika umat terlatih tanpa halangan ego mau ikut gotong royong membersihkan tempat ibadah lain dimana umat tinggal, ketika umat nyadar kita majemuk dan memandang perbedaan bukan sebagai musuh dimana umat tinggal, ketika umat mau bergerak dalam kebersamaan dg umat lain dimana umat tinggal dlsb. Gerakan elit dan akademisi sering bohong karena saya sering melihat para elit ini, akademisi, dan pemuka agama tokh dalam hidup kesehariannya tidak bertetangga dengan baik, tapi teriak wow keren untuk ruang-ruang kosong tsb, tokh para elit ini bahkan akademisi juga pemuka agama tidak bermasyarakat dengan baik, seruannya hanya ada di ruang kosong, mereka habis waktu untuk berteriak dalam ruang kosong sebab sibuk dan tidak bisa bertetangga dg baik, karena tidak dilakukan dalam keseharian dimana dia tinggal. Sehingga gerakan menciptakan ruang kebersamaan dalam kemajemukan itu hanya di aras elite atau atas atau akademisi tidak di aras bawah, shg pada kenyataaannya di negara ini, kemajemukan tetap menjadi masalah, tokh .... ruang kosong yg sejak dulu didengungkan tak memberi dampak yg signifikan di negeri ini. Gimana seorang ustad berteriak adanya ruang kebersamaan dalam kemajemukan ketika hidup kesehariannya di tengah ponpes yg seragam, bukan bertetangga yg beragam, gimana seorang akademisi ataupun pemuka agama yg lain berteriak adanya ruang kebersamaan dalam kemajemukan ketika hidupnya habis untuk mengajar dan mengurusi umatnya bukan bertetangga yang beragam, sehingga gerakan itu seperti hanya panggung saja. Untuk memahami esensi dari karya yang tidak mencari panggung atau upah, kita harus melihat fondasi kristologis dalam Filipi 2:7. Teks asli Yunani menggunakan kata "ekenōsen", dari akar kata "kenosis", yang berarti "mengosongkan diri". Kristus tidak mempertahankan hak-hak keilahian-Nya demi status, melainkan dengan sengaja mengosongkannya. Saya lebih menghargai progam interfaith atau interreligius pada lembaga pendidikan agama, dimana tafsir lintas iman menjadi pondasinya. Melihat tafsir kitab suci lintas iman secara dewasa dan dalam ranah akademisi, di tempat kami teman-teman UMS mengambil S2, S3 dalam bidang tafsir lintas iman, saya lebih menghargai ketika seseorang bermasyarakat dg baik ditengah kemajemukan memanfaatkan obrolan gardu ronda bisa memberikan pemahaman menerima perbedaan agama, suku, ras diantara tetangga yg majemuk tanpa pemaksaan dan dg lembut, hal-hal itu lebih berdampak, tanpa pengakuan dan itu kerja keras untuk kemuliaan Tuhan
PEMAHAMAN
Pengosongan diri ini mewujud dalam tindakan menjadi seorang doulos atau hamba. Sifat dasar dari seorang "doulos" pada abad pertama adalah ketiadaan hak atas pengakuan publik (recognition) atau kompensasi pribadi (reward). Seluruh eksistensinya didedikasikan untuk kehendak tuannya. Ketika konsep ini diturunkan ke dalam tindakan praktis kemanusiaan (seperti merawat yang terluka, memberi makan yang lapar, menjaga kebersihan ruang bersama, dll) tindakan tersebut berakar pada (diakonia). Pelayanan Kristen sejati (diakonia) secara radikal membalikkan logika dunia: ia tidak bergerak ke atas untuk mencari validasi, melainkan bergerak ke bawah demi pemulihan sesama. Dalam Injil Matius 6:1-4, Yesus memberikan kritik tajam yang sangat relevan dengan kecenderungan manusiawi kita yang selalu haus akan pengakuan, penghargaan, atau pengenalan:

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka... Janganlah engkau memegahkan dirimu seperti yang dilakukan orang munafik... supaya mereka dipuji orang."

Pada konteks Yahudi abad pertama, memberi sedekah (tzedakah) sering kali dijadikan AJANG PAMER kesalehan sosial di rumah-rumah ibadah atau di jalan-jalan raya. Yesus menggunakan istilah (hupokrites), yang secara literal merujuk pada aktor teater yang mengenakan topeng. Ketika sebuah tindakan baik (baik itu berupa bantuan material, perawatan medis, pembersihan fisik dll) dikondisikan agar terlihat oleh publik demi membangun citra diri, tindakan tersebut telah bergeser dari altruisme ilahi menjadi komodifikasi kesalehan. Upahnya telah habis dibayar seketika lewat pujian manusia yang fana. Pelayanan yang otentik menuntut kepunahan ego. Ketika seseorang menyapu lantai tempat ibadah yang sepi, membalut luka seorang anak di pelosok, atau membagikan bantuan kepada masyarakat, ujian terbesarnya bukanlah pada APA yang dilakukan, melainkan MENGAPA itu dilakukan. Kita ditantang untuk meruntuhkan hasrat purba manusia yang selalu ingin diakui (the thirst for recognition). Pelayanan sejati tidak membutuhkan lampu sorot atau tepuk tangan penonton; ia justru subur di dalam kesunyian dan ketulusan. Alkitab menekankan bahwa Bapa yang melihat "di tempat yang tersembunyi" akan membalasnya. Ini bukan sekadar janji tentang upah masa depan, melainkan kepuasan batiniah tertinggi karena kehidupan kita telah diselaraskan dengan ritme kasih Allah sendiri.

Pertanyaan untuk refleksi kita bersama: 

Ketika kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama dalam kehidupan sehari-hari, bagian manakah dari diri kita yang sebenarnya sedang kita beri makan: kebutuhan nyata sesama kita, atau justru ego dan rasa haus kita akan pujian?
(09062026)(TUS)

Minggu, 07 Juni 2026

Sudut Pandang Kristen pokoke manut

Sudut Pandang Kristen pokoke manut

PENGANTAR
Menjadi orang Kristen sering kali disalahpahami sebagai panggilan untuk sekadar "percaya buta", "pokok'e manut" atau menundukkan nalar demi iman. Padahal, iman dan kecerdasan bukanlah 2 kutub yang saling menghancurkan, melainkan 2 sayap yang saling menguatkan.
PEMAHAMAN 
Matius 22:37
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap AKAL BUDImu."

Kata yang diterjemahkan sebagai "akal budi" di ayat ini adalah "dianoia".

Kata dianoia terbentuk dari dua suku kata:

Dia : Berarti "melalui", "menembus", atau "secara mendalam".

Noos : Berarti "pikiran", "intelek", atau "cara berpikir".

Secara harfiah, dianoia bukan sekadar kapasitas otak untuk menghafal informasi atau dogma agama. Dianoia adalah kemampuan berpikir kritis, reflektif, menyeluruh, dan tajam. Ini adalah aktivitas mental yang menembus permukaan untuk menemukan kebenaran yang hakiki.

Ketika Yesus menuntut kita mengasihi Allah dengan segenap dianoia, Dia sedang menegaskan bahwa berpikir kritis dan menggunakan kecerdasan adalah bentuk ibadah yang sah dan wajib.

Mengapa kekristenan hari ini sering kali terjebak dalam "anti-intelektualisme"? Sering kali ada ketakutan bahwa jika jemaat berpikir terlalu kritis, mereka akan meragukan Tuhan. Ini adalah kekeliruan teologis yang fatal. Jika Tuhan adalah sang Kebenaran itu sendiri, maka pencarian kebenaran yang jujur lewat akal budi tidak akan pernah menjauhkan kita dari Dia; justru akan membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

Menjadi Kristen yang cerdas (dianoia) mencakup tiga transformasi radikal:

1. Melampaui iman yang naif (skeptisisme yang kudus)

Kristen yang cerdas tidak menelan mentah-mentah setiap khotbah, tren rohani, atau klaim teologis tanpa mengujinya. Seperti jemaat di Berea (Kis 17:11), kecerdasan iman menuntut kita untuk meneliti, mempertanyakan, dan menyelaraskan segala sesuatu dengan kebenaran Firman Allah dan realitas ciptaan-Nya. Iman yang cerdas berani bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, bukan menyembunyikannya di bawah karpet dogmatisme.

2. Menolak dikotomi "Sekuler vs. Sakral"

Banyak orang Kristen terjebak dalam pemikiran bahwa kecerdasan sains, filsafat, politik, dan seni adalah hal duniawi, sementara hal rohani hanyalah doa dan membaca Alkitab. Ini adalah teologi yang cacat. Mengasihi Allah dengan akal budi berarti menyadari bahwa seluruh ruang kebenaran di alam semesta ini adalah milik Allah (All truth is God’s truth). Mengembangkan ilmu pengetahuan, memecahkan masalah sosial, dan berpikir logis adalah bagian dari mandat budaya yang Allah berikan kepada manusia.

3. Kecerdasan yang berakar pada kasih 

Kecerdasan tanpa kasih melahirkan kesombongan intelektual yang merusak (1 Korintus 8:1). Yesus menempatkan dianoia dalam konteks "mengasihi". Artinya, kecerdasan Kristen bukanlah alat untuk pamer argumen atau merendahkan / melecehkan orang lain, melainkan instrumen untuk memuliakan Allah dan menjadi solusi bagi sesama manusia. Cerdas secara Kristen berarti mampu menganalisis penderitaan dunia ini dan merumuskan kasih yang konkret sebagai jawabannya.

Tuhan tidak pernah meminta kita meninggalkan otak kita di luar pintu gereja saat kita masuk untuk menyembah-Nya. Iman Kristen bukanlah iman yang anti-intelek, melainkan iman yang melampaui batasan intelek manusia (faith seeking understanding).

Menjadi umat Kristen yang cerdas berarti menolak menjadi pasif secara mental. Mulai hari ini, mari kita berkomitmen untuk melatih dianoia kita: membaca lebih dalam, berpikir lebih kritis, menguji roh-roh zaman ini, dan menggunakan ketajaman pikiran kita untuk membangun kerajaan Allah di bumi. Mari belajar dengan giat, berpikir dengan tajam, dan mengasihi Tuhan dengan seluruh kapasitas intelektual yang telah Dia percayakan kepada kita.

Pesan dari John Stott : 
"Allah membuat manusia menjadi makhluk yang berpikir. Mengabaikan akal budi kita berarti meremehkan karunia Allah tersebut. Iman yang tanpa pemikiran akan segera merosot menjadi takhayul atau kedangkalan emosional belaka."

Sudut Pandang lesu nya ekonomi dg pemahaman teologi kemakmuran

Sudut Pandang lesu nya ekonomi dg pemahaman teologi kemakmuran

PENGANTAR
Lesunya kondisi ekonomi nasional serta menurunnya daya beli masyarakat ternyata tidak hanya berdampak pada dunia usaha dan rumah tangga, tetapi juga pada gereja. Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar informasi (dari ordal) bahwa sejumlah pemimpin gereja atau pejabat mengakui adanya defisit dalam keuangan gereja yang dimana mereka berada.

Dan itu muncul dari beberapa gereja yang selama ini mengajarkan teologi kemakmuran (Prosperity Gospel) terdengar pengakuan: "Keuangan gereja sedang defisit."

Bagi banyak gereja teologi arus utama/mainstream/ protestan reformir  bahkan khatolik dan orthodoks pernyataan itu mungkin hanya merupakan laporan keuangan yang wajar. Karena mereka bertumpu pada pemahaman Allah yang maha kuasa akan mencukupkan, bukan masalah seberapa besar dana masuk tetapi seberapa kecilpun dana masuk akan disyukuri dan dikelola sebaik mungkin, ketakutan akan seberapa kecil dana masuk hanya mengkerdilkan pemahaman mempercayakan diri pada Allah yang maha kuasa berlandas kitab suci. Sehingga yang terpenting bagi gereja -gereja dg pemahaman teologi seperti ini adalah transparansi keuangan bukan perkara besaran dana masuk. Namun bagi gereja yang membangun sebagian besar narasi pelayanannya di atas janji kelimpahan materi, kata defisit bukan sekadar persoalan angka. Ia menyentuh jantung dari konstruksi teologi yang selama ini diajarkan.
PEMAHAMAN 
Ketika sebuah sistem teologi terus-menerus mengaitkan iman dengan keberhasilan finansial, maka krisis keuangan bukan hanya krisis administrasi, melainkan juga krisis makna. Di titik itulah perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan teologis yang lebih mendasar.

Salah satu ciri teologi kemakmuran adalah kecenderungannya menyederhanakan relasi manusia dengan Allah menjadi sebuah pola sebab-akibat:

Memberi lebih banyak → Beriman lebih besar → Menerima berkat lebih besar.

Masalah muncul ketika realitas tidak berjalan sesuai rumus tersebut. Jika kelimpahan finansial selalu dianggap sebagai bukti iman dan penyertaan Allah, bagaimana menjelaskan kondisi ketika gereja yang mengajarkan prinsip itu justru mengalami defisit?

Situasi ini memperlihatkan bahwa Allah tidak bekerja berdasarkan formula mekanis yang dapat dikendalikan manusia. Berkat Allah tidak dapat direduksi menjadi sistem transaksi rohani, seolah-olah persembahan tertentu otomatis menghasilkan keuntungan finansial tertentu.

Defisit keuangan mengingatkan bahwa Allah bukanlah mesin yang dapat diprogram oleh iman manusia. Ia adalah Tuhan yang berdaulat, yang bertindak menurut kehendak-Nya, bukan menurut kalkulasi manusia.

Teologi kemakmuran sering kali bertahan melalui narasi keberhasilan. Kesaksian-kesaksian tentang peningkatan pendapatan, promosi jabatan, atau kepemilikan aset dijadikan bukti bahwa sistem tersebut bekerja.

Namun ketika gereja menghadapi tekanan finansial, muncul beberapa persoalan serius.

Pertama, ada kecenderungan untuk membebankan tanggung jawab kepada jemaat melalui narasi bahwa mereka belum cukup memberi atau belum cukup beriman. Akibatnya, persembahan tidak lagi dipahami sebagai respons syukur kepada Allah, melainkan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan.

Kedua, banyak gereja yang berorientasi pada kemakmuran tidak memiliki ruang yang memadai bagi teologi penderitaan. Padahal Alkitab penuh dengan kisah orang-orang saleh yang mengalami kesulitan, kehilangan, bahkan kemiskinan tanpa kehilangan kasih Allah.

Ketika keberhasilan finansial dijadikan ukuran utama berkat, maka penderitaan menjadi sulit dipahami. Akibatnya, baik jemaat maupun pemimpin dapat mengalami kebingungan rohani ketika menghadapi kegagalan atau krisis ekonomi.

Tidak semua defisit terjadi karena kurangnya pemasukan. Dalam beberapa kasus, persoalan muncul karena pola pengelolaan yang tidak sehat, gaya hidup institusi yang terlalu mahal, atau prioritas pelayanan yang bergeser.

Gedung yang semakin megah, produksi acara yang semakin besar, teknologi yang semakin mahal, dan budaya pencitraan yang terus meningkat dapat membuat gereja kehilangan fokus terhadap panggilan dasarnya.

Di sinilah kritik para nabi Perjanjian Lama tetap relevan.
"Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." (Amos 5:23-24)

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, "Mengapa kas gereja defisit?" tetapi juga, "Untuk apa sumber daya gereja selama ini digunakan?"

Apakah dana yang dipercayakan jemaat dipakai untuk melayani, memuridkan, dan menolong mereka yang membutuhkan? Ataukah lebih banyak diarahkan untuk mempertahankan citra keberhasilan yang harus selalu terlihat mengesankan?

Ironisnya, defisit justru dapat menjadi MOMEN ANUGERAH.

Krisis sering kali membongkar ilusi yang selama ini tidak terlihat. Ia memaksa gereja untuk kembali mengevaluasi dasar-dasar teologinya.

Momen seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk:

- Kembali kepada Injil yang berpusat pada Kristus, bukan pada kemakmuran materi.
- Memahami bahwa berkat Allah mencakup jauh lebih banyak daripada kekayaan finansial.
- Menghidupi kembali Theologia Crucis (Teologi Salib), yang mengakui bahwa kesetiaan kepada Kristus tidak selalu berjalan bersama kenyamanan dan kelimpahan.
- Membangun budaya transparansi, akuntabilitas, dan pengelolaan keuangan yang sehat.

Kristus sendiri lahir dalam kesederhanaan, hidup tanpa kemewahan, dan memanggil murid-murid-Nya untuk memikul salib. Karena itu, kemakmuran materi tidak pernah menjadi ukuran utama keberhasilan Kerajaan Allah.

Ketika sebuah gereja yang selama ini mengidentikkan iman dengan kelimpahan materi harus mengakui bahwa keuangannya sedang defisit, pengakuan itu menjadi lebih dari sekadar laporan finansial. Ia menjadi cermin yang menguji validitas narasi teologis yang telah lama dibangun.

Mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah bagaimana mengubah defisit menjadi surplus. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah gereja sedang membangun iman jemaat kepada Kristus, atau kepada janji-janji kemakmuran yang tidak pernah dijamin oleh Injil?

Karena kesehatan sebuah gereja tidak diukur dari saldo kasnya, melainkan dari kesetiaannya pada Kristus, integritas pengelolaannya, dan dampaknya dalam menghadirkan kasih, keadilan, serta kebenaran Allah di tengah dunia.

A.W. Tozer menegaskan realitas pahit yang sering terjadi: 

'Kita terlalu kaya, terlalu nyaman... Kita menggantikan kuasa rohani dengan kemakmuran finansial.'
 
Sudah saatnya gereja kembali pada esensinya, bukan pada eksistensi hartanya.

Sabtu, 06 Juni 2026

Sudut Pandang Matius 9:9-13, Sleeping with enemi

Sudut Pandang Matius 9:9-13, Sleeping with enemi 

PENGANTAR
Pernah nonton film sleeping with enemi? Nah ... Itu yg dilakukan Yesus main mata sama kubu sebelah? Sekongkolan dengan musuh? Sleeping with the enemy? Ini Sabda Singkat alias Sabsing , buruan safe supaya nggak hilang. Ternyata Yesus tahu teknik negoisasi Teknik Kooptasi (Co-optation). Memberikan kedudukan, peran, atau pengakuan kepada lawan/musuh sehingga mereka merasa "terlibat" dan tidak lagi melawan. Musuh dimasukkan ke dalam "lingkaran" keputusan atau struktur.
Setelah diberi kedudukan, mereka lebih cenderung mendukung daripada menghancurkan sistem. Saya jelaskan ya.
PEMAHAMAN 
Bacaan minggu ini, Matius 9, Ayat 9-13 tentang rekrutmen murid Yesus. Ini kan cerita biasa aja ya. Kan .... ada beberapa jalur rekrutmen murid ya .... Ada jalur ordal kayak Petrus dan Andreas yang tadinya followers Yohanes Pembaptis, pindah stir and gigi (mobil kale ya), Atau jalur Doa Ibu, Jakobus dan Yohanes, dan jalur lainnya, Tapi yang bikin speechless, gak bisa ngomong, Yesus kok rekrut Matthius alias Lewi, sang pemungut cukai, Telones Mohes, Mereka ini kan musuh. Pemungut cukai itu dianggap antek asing. Ingat ya cerita Zakeus bagian dari piramida industri ekstraktif yang di puncaknya tuh kaum elit oligarki dan kaum romawi, penjajah, pemungut cukai tuh ada di tengah mereka subkontraktor pemerintah romawi buat narik cukai yang menghisap kasta paling bawah nelayan, petani, dan seterusnya, ya lewat pajak ikan, pajak garam belum lagi dari Bait Allah tuh juga ada pajaknya, yah .... numpang kaya lintah itu pajak Bait Allah. Ya ..... jadi sangat menekan,  nah .... Mateus direkrut jalur influencer "follow me" alias ikutlah Aku kata yesus dan dia langsung jadi follower segitu hebatnya panggilan yesus,  tapi bagi yang menganggap diri circle terdekat Yesus, diam-diam mereka heboh. Diam-diam kok heboh ya? Heboh kok diam-diam? Bayangin, nelayan kayak Petrus, Andreas, Yohannes, belum lagi nantinya ada Simon Orang zelot, si nasionalis keras-keras yang anti-rumahwi (eh .... Romawi) banget, mereka semua tiba-tiba harus satu tongkrongan sama Matthieus, si public enemy number one, musuh rakyat nomor satu, yang kerjanya justru memeras mereka.Yesus itu maunya apa sih?Dia juga diprotes sama tokoh agama, orang-orang parisi ... Eh .... Farisi. Malah Yesus mengeluarkan panselanya, alias quotes atau boleh dikata perumpamaan atau peribahasanya sebagai senjata pamungkas. "Bukan orang sehat yang butuh tabib, tapi orang sakit". Yesus juga mengutip Nabi Hosea, Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan. Nah, kata kasih setia, bahasa Ibraninya Khesed. Bukan sekedar kasihan, tapi cinta yang penah, penuh komitmen, dan siap mendobrak struktur.Sakit pun di sini bukan cuma batuk pilek. Ini soal sistem yang bikin si miskin diinjak-injak,mati tercekik, dan si kaya makin serakah, kaya negeri kita tercinta, negeri Konoha, Ini akar dendam kesumat antara yang ditindas dan yang menindas. Khesed adalah kasih setia, cinta yang penuh komitment dan siap mendobrak struktur yang ada di masyarakat, Jadi Yesus menyembuhkan Luka struktural sosial di masyarakat itu lewat Khesed, kasih setia Allah, dan rekonsiliasi / pendamaian, Yesus mendudukan si penindas dan tertindas di satu meja makan, pemuridan bukan masalah belajar teologi, tetapi belajar berproses untuk rekonsiliasi dengan orang yang dianggap musuh dan menjadi mitra Allah menyembuhkan Luka sosial dalam masyarakat. Ternyata Yesus tahu teknik negoisasi Teknik Kooptasi (Co-optation) ..... Wk ..... Wk ..... Wk. . Panggilan Tanpa Kondisi: "Ikutlah Aku" (ayat 9)
Yesus menerapkan prinsip negosiasi kooperatif (koprasi) dengan membangun relasi tanpa persyaratan awal. Yesus memanggil Matius tanpa meminta dia berhenti dulu sebagai pemungut cukai. Ia melihat Matius duduk di rumah cukai dan langsung memanggilnya tanpa kondisi. Ini menunjukkan pendekatan yang inklusif, tidak eksklusif. Makan Bersama: Membangun Trust/kepercayaan (ayat 10-11)
Dalam negosiasi kooperatif, menciptakan ruang bersama sangat penting untuk membangun kepercayaan. Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa di rumah Matius. Ia tidak menjaga jarak seperti orang Farisi, melainkan menjebol batas sosial-religius. Makan bersama menciptakan keterbukaan untuk transformasi dan membangun rapport antara Yesus dan Matius. Belas Kasihan versus Ritual (ayat 12-13)
Yesus menjawab orang Farisi dengan prinsip negosiasi kooperatif yang berfokus pada kebutuhan, bukan penghakiman:
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit"
"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"
Yesus fokus pada kebutuhan orang sakit/berdosa, bukan menghukum masa lalu mereka. Ia mengutamakan belas kasihan daripada ritual persembahan keagamaan. Tujuan kolaborasinya jelas: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Matius langsung berdiri dan mengikut Yesus tanpa ragu. Keterbukaan hati adalah kunci dalam negosiasi kooperatif. Matius meninggalkan masa lalu dan berubah total, menunjukkan bahwa panggilan Yesus efektif karena diterima dengan hati yang terbuka. Negosiasi sebagai Belas Kasihan
Dalam negosiasi kooperatif, yang dicari adalah solusi bersama (bukan kemenangan satu pihak), relasi jangka panjang (bukan transaksi sekali), dan empati serta pemahaman (bukan penghakiman). Yesus dalam Matius 9:9-13 menunjukkan bahwa Ia tidak mengnegosiasikan syarat pertobatan dulu sebelum menerima Matius. Ia makan bersama untuk membangun kepercayaan sebelum menuntut perubahan. Ia prioritaskan belas kasihan daripada ritual keagamaan yang kaku.
"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" — ini adalah prinsip negosiasi yang berpusat pada manusia dan kebutuhan, bukan pada aturan dan penghakiman. Panggilan Yesus kepada Matius menunjukkan bahwa transformasi terjadi melalui relasi, belas kasihan, dan penerimaan, bukan melalui syarat, penghakiman, atau ritual. Ini adalah model negosiasi kooperatif yang sejati: berpusat pada kasih dan pemulihan, bukan pada kekuasaan dan kemenangan. Masalah apapun yang terjadi, tetap ulurkan tangan kita serta berilah salam, tetaplah tersenyum. Kritik tanpa kebencian itu menunjukan kedewasaan, menerima kritik tanpa baperan itu kedewasaan, marilah berdiskusi, dalam duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
(06062026)(TUS)

Sudut Pandang Normalisasi Dosa

Sudut Pandang Normalisasi Dosa

PENGANTAR
Betapa kecewa sebagian umat, ketika ada sebuah sinode, yg berusaha keras menjalin kembali hubungan dg lembaga-lembaga terkait yg dulu sinode ini ikut andil, tetapi kemudian umat melihat Sinode ini diam saja bahkan seakan tidak peduli, tidak melakukan investigasi atau penyelidikan yg menyeluruh dan baik,  gampang mengambil keputusan, saat ada seorang pengajar dari lembaga pendidikan terkait dengan sinode tsb melakukan pelecehan pendidikan, saksi buanyak bahkan teman-teman pengajarnya bersaksi. Tetapi, sinode ini diam saja dan tak peduli bahkan diam cenderung mendorong, dalam artian tidak peduli ketika pengajar ini ditetapkan sebagai pendeta utusan khusus bagi sinode ini. Bahkan, sekarang teriak dalam tema bulan kesaksian dan pelayanan, lembaga Kristen yang berdampak ..... Wk ..... Wk ..... Wk ... Membagongkan. Kehidupan rohani yang sehat sering kali ditandai dengan adanya kepekaan nurani. Namun, bahaya spiritual terbesar bukanlah saat seseorang jatuh ke dalam dosa lalu segera tertangkap atau menanggung akibatnya. Bahaya yang sesungguhnya terjadi ketika pelanggaran moral dilakukan secara konsisten, tidak pernah ketahuan, bahkan lambat laun dibiarkan, didiamkan, ditindak pedulikan dan mengalami normalisasi oleh lingkungan sekitar bahkan sekelas gereja maupun sinode. normalisasi plagiarisme dan kecurangan akademik ..... Kok didiamkan, tidak dipedulikan oleh badan sekelas sinode. Bahkan ada lembaga pendidikan yg tidak terkait dengan sinode ini malah mengambil sikap peduli dan lebih jujur thp masalah pengajar ini.
PEMAHAMAN 
"Gereja (seharusnya) bukanlah tempat di mana kita bisa duduk dalam dosa kita dengan nyaman, tetapi gelisah atas dosa."

Kalimat ini terdengar keras, tapi sesungguhnya sangat dekat dengan inti pemberitaan Alkitab. Gereja memang adalah tempat bagi orang berdosa, bukan tempat orang suci tanpa dosa tapi bukan tempat untuk menormalisasi dosa. Gereja adalah tempat di mana orang berdosa bertemu dengan kasih karunia Allah yang memanggil mereka kepada pertobatan dan pembaruan hidup, sehingga kegelisahan akan dosa didepan mata bahkan dosa yang sadar kita lakukan harus mengarah pada pertobatan.
Masalahnya, sepanjang sejarah gereja, selalu ada kecenderungan untuk mengubah kasih karunia menjadi izin untuk tetap tinggal dalam dosa atau diam tak peduli atas dosa didepan mata bahkan yg dilakukan shg hilang dorongan untuk pertobatan. Pengampunan tanpa pertobatan adalah bohong besar Krn itu Alkitab mengungkap. Kasih Karunia Allah yg maha besar dengan pengampunan dosa manusia akan menjadi murahan bila tidak disambut dengan pertobatan.
Salah satu ayat yang paling relevan adalah (Roma 6:1-2) :
"Apakah kita akan bertekun (epimenō) dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!" 

epimenō artinya: tetap tinggal, terus bertahan, menetap dengan sengaja, melanjutkan sesuatu secara sadar, jadi bukan suci tanpa dosa tetapi sadar akan dosa dan bertobat, bukan tinggal tetap dalam dosa tapi berubah pikiran serta berbalik arah, berusaha tidak tetap dalam dosa dan tidak mengulangi dosa yang sama sambil berproses untuk tidak melakukan dosa baru.
Paulus tidak sedang berbicara tentang orang yang jatuh lalu bertobat. Ia berbicara tentang orang yang memilih untuk tetap tinggal dalam dosa sambil mengandalkan kasih karunia Allah sebagai pembenaran, tidak berubah. Orang yang tidak mau berproses tidak  mengulang dosa yang sama, serta berproses untuk tidak melakukan dosa baru, itulah pertobatan.
Sedangkan kata "dosa" berasal dari: hamartia secara harfiah berarti:
"meleset dari sasaran"
Dosa bukan sekadar pelanggaran aturan. Dosa adalah kegagalan hidup sesuai tujuan Allah. Tidak setujuan dg kehendak Allah, meleset dari tujuan Allah.
Paulus lalu mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat tajam:

"Apakah kita akan terus hidup dalam dosa supaya kasih karunia semakin berlimpah?" (Roma 6:1)

Jawaban yang ia berikan bahkan lebih tegas daripada sekadar kata "tidak".

Paulus memakai ungkapan Yunani: mē genoito

Sebuah ungkapan penolakan yang sangat kuat, yang dapat diterjemahkan:

"Sama sekali tidak!"

"Jangan pernah terpikir demikian!"

"Mustahil!"

Bagi Paulus, hidup nyaman dalam dosa bukanlah pilihan yang dapat dipertimbangkan oleh seorang pengikut Kristus, tidak mau berproses tidak melakukan dosa yang sama dan berusaha tidak melakukan dosa baru. Orang yang telah menerima kasih karunia tidak dipanggil untuk menyesuaikan diri dengan dosa, melainkan untuk mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Karena itu, hidup yang terus-menerus berdamai dengan dosa bukan sekedar masalah perilaku, tetapi sebuah kontradiksi terhadap identitas baru yang telah diberikan Kristus.

KETIKA DOSA (DIAM-DIAM) MENJADI BUDAYA GEREJA

Bahaya terbesar gereja bukanlah dosa yang diketahui lalu ditangisi.
Bahaya terbesar adalah dosa yang sudah MENJADI NORMAL.
Dosa yang tidak lagi membuat hati gelisah.
Dosa yang tidak lagi ditegur.
Dosa yang bahkan mulai dibela. Pada titik itulah gereja kehilangan fungsi profetisnya dan berubah menjadi tempat perlindungan kenyamanan rohani.

Contoh kasus 1:
Pemimpin gereja yang menormalisasi kesombongan

Seorang pemimpin gereja mulai menikmati pujian jemaat dan terlarut.
Awalnya ia bersyukur. Lama-kelamaan kritik dianggap pemberontakan, menjadi anti kritik dan menulikan diri serta membutakan diri, di situlah sebetulnya sikap manusia yg dikritisi Alkitab. Setiap orang yang bertanya dianggap melawan urapan Tuhan. Keputusan-keputusan tidak lagi bisa dievaluasi dan penuh transparansi. Gereja berubah menjadi kerajaan pribadi. Yang dinormalisasi bukan lagi pelayanan, tetapi kultus individu, kultus circle. Padahal Alkitab berkata:

"Allah menentang orang yang congkak (hyperēphanos)." (Yakobus 4:6)

Artinya: meninggikan diri, merasa berada di atas orang lain. Ironisnya, kesombongan sering lebih mudah disembunyikan di balik jubah rohani atau jabatan gerejawi daripada di balik pakaian duniawi.

Contoh kasus yang ke 2:
Pelayan mimbar yang menormalisasi kemunafikan

Seorang worship leader/pejabat gerejawi memimpin jemaat menyanyikan:
"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan."
Tetapi di luar mimbar ia hidup dalam perselingkuhan yang sudah menjadi rahasia umum, di dalam gereja membentuk club' bukan church atau persetujuan.
Karena suaranya bagus, giat dalam karya gereja, jemaat menyukainya, pelayanan gereja akan terganggu jika ia berhenti, teguran tidak diberikan karena sumber daya yg baik dalam karya gereja (lupa bahwa dalam Alkitab, attitude atau sikap hidup di atas segala karya bergereja). Akhirnya dosa dianggap urusan pribadi. Mimbar tetap berjalan.
Lagu tetap dinyanyikan. Tepuk tangan tetap terdengar. Namun hati nurani perlahan dibungkam.

Kata "munafik" dalam Perjanjian Baru adalah: hypokritēs

Artinya: aktor panggung, pemain sandiwara, orang yang memakai topeng. Teguran Yesus paling keras bukan kepada pelacur atau pemungut cukai. Justru kepada orang-orang religius yang mempertahankan topeng kesalehan.

Contoh kasus 3:
Jemaat yang menormalisasi dendam dan gosip

Ada jemaat yang setia hadir setiap minggu. Rajin persekutuan. Rajin memberi persembahan. Namun selama bertahun-tahun menyimpan kebencian terhadap saudara seiman, membentuk circle, mengagungkan club' dibandingkan persekutuan dan chruch. Tidak mau mengampuni.
Senang menyebarkan cerita negatif agar kelompoknya atau circlenya stabil di dalam gereja. Karena dilakukan banyak orang, gosip menjadi budaya. Padahal Alkitab menyebutnya sebagai dosa serius.

Kata Yunani untuk fitnah atau gosip: katalalia

Artinya: berbicara melawan seseorang, merusak reputasi orang lain. Sering kali gereja sangat tegas terhadap dosa seksual, tetapi sangat lunak terhadap dosa lidah, dan dosa lainnya termasuk membentuk komunitas atau club' atau circle di tengah persekutuan. Padahal keduanya sama-sama merusak tubuh Kristus.

Kasus lain yang lebih berbahaya:
Ketika seluruh sistem melindungi dosa

Dalam beberapa gereja, bukan hanya individu yang jatuh. Sistemnya ikut melindungi dosa. Pelecehan disembunyikan demi nama baik gereja. Manipulasi keuangan ditutupi demi menjaga reputasi pelayanan.
Korban diminta diam demi "kesatuan tubuh Kristus."
Pelaku tetap dipertahankan karena dianggap penting. Di sinilah gereja berhenti menjadi terang dunia dan mulai menyerupai dunia.

Nabi Yesaya menegur kondisi serupa: "Celakalah mereka yang menyebut yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat." (Yesaya 5:20)

Normalisasi dosa selalu dimulai ketika standar Allah digantikan oleh kenyamanan manusia.Gereja yang sehat bukanlah gereja yang tidak memiliki orang berdosa. Jika demikian, gereja akan kosong. Gereja yang sehat adalah gereja yang masih memiliki kepekaan terhadap dosa. Gereja yang tidak diam atau tidak peduli atas dosa. Masih ada pertobatan, ada pengakuan, ada disiplin rohani. Masih ada keberanian untuk menegur dalam kasih.Kasih karunia bukanlah sofa empuk untuk beristirahat dalam dosa.
Kasih karunia adalah tangan Allah yang mengangkat orang berdosa keluar dari dosanya. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada dosa yang sudah tidak lagi dianggap dosa. Ketika keserakahan disebut berkat, kesombongan disebut urapan, manipulasi disebut hikmat, dan kemunafikan disebut kelemahan manusiawi, gereja sedang berdamai dengan musuh yang seharusnya diperanginya.

Charles Spurgeon pernah berkata:

"Gereja yang tidak hadir untuk membawa orang berdosa kepada Kristus, melawan kejahatan, dan menghancurkan kesesatan, adalah gereja yang kehilangan alasan keberadaannya."

Kata-kata ini menjadi peringatan yang relevan bagi gereja di setiap zaman. Gereja tidak didirikan untuk menjadi tempat di mana dosa merasa aman dan nyaman, diterima, dan tidak pernah ditantang. Gereja dipanggil untuk memberitakan Injil yang menyelamatkan, menegur dosa dengan kasih, memulihkan mereka yang bertobat, dan membentuk umat yang semakin serupa dengan Kristus. Sebab ketika gereja berhenti melawan dosa, ia sedang berhenti menjadi gereja dalam arti yang sesungguhnya. Dan ketika mimbar lebih memilih menjaga kenyamanan daripada menyuarakan kebenaran, gereja sedang menawarkan sesuatu yang tidak pernah ditawarkan oleh Kristus sendiri. Kristus menerima orang berdosa yang datang kepada-Nya, tetapi Ia tidak pernah membiarkan mereka tetap nyaman tinggal di dalam dosanya.

Bahaya Terbesar: Ketika Dosa Menjadi Normal

Situasi di mana sebuah kesalahan tidak mendatangkan konsekuensi langsung bukanlah sebuah keuntungan, melainkan sebuah tanda bahaya esatologis yang sangat besar.
Untuk memahami mengapa kenyamanan dalam pelanggaran moral begitu berbahaya, kita perlu melihat akar kata teologis dari konsep dosa dan dampaknya terhadap kesadaran manusia.

1. Dosa sebagai pelanggaran batas

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, salah satu kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dosa moral dan tindakan melanggar hukum adalah "parabasis"
Secara harfiah, kata ini berarti "melangkah keluar dari jalur" atau "melanggar batas yang sah".
Ketika seseorang melakukan tindakan moral yang menyimpang (baik itu mencuri milik sesama, memanipulasi kebenaran, atau merusak hak orang lain) ia sedang melintasi garis batas yang telah ditetapkan oleh standar kesucian Ilahi.

2. Bahaya nurani yang menjadi "Kebal"

Mengapa pembiaran dan normalisasi dosa begitu mematikan bagi jiwa? Rasul Paulus menggunakan sebuah istilah medis kuno yang sangat tajam dalam surat 1 Timotius 4:2, yaitu "kauteriazo" . Kata ini merujuk pada proses "kauterisasi", yaitu membakar kulit atau jaringan tubuh dengan besi panas hingga mati rasa dan membentuk jaringan parut.
Ketika suatu pelanggaran moral (baik pencurian maupun dosa lainnya) dilakukan berulang kali tanpa adanya teguran, teguran internal dari nurani lambat laun meredup. Nurani tersebut mengalami "kauteriazo", menjadi tebal, kebal, dan kehilangan sensitivitasnya terhadap kekudusan. Seseorang yang tidak pernah ketahuan saat berbuat salah berada dalam bahaya besar karena mereka kehilangan kesempatan untuk bertobat, sementara batin mereka perlahan-lahan mati rasa tanpa mereka sadari. Kitab Suci berulang kali mengingatkan bahwa ketiadaan hukuman instan bukanlah bukti penyertaan atau pembenaran, melainkan bentuk kesabaran Ilahi yang sedang diuji, atau bahkan awal dari penyerahan diri manusia kepada kehancurannya sendiri.

Mazmur 50:21
"Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sejajar dengan engkau. Aku akan menegor engkau dan membawa perkara ini ke hadapan matamu."

Ayat ini menelanjangi psikologi manusia yang sering kali keliru dalam menilai "diamnya" keadilan. Ketika seseorang melakukan pelanggaran moral dan tidak ada akibat buruk yang langsung menimpanya, ego manusia cenderung berasumsi bahwa tindakan mereka disetujui, atau bahwa standar moral universal tidak semenakutkan itu. Pembiaran ini menciptakan ilusi keamanan yang palsu.

Roma 2:4-5
Paulus menegaskan bahwa kelimpahan kesabaran dan kemurahan-Nya dimaksudkan untuk menuntun manusia kepada pertobatan. Namun, ketika kebaikan dan ruang yang diberikan justru dipakai untuk menormalisasi kesalahan, manusia sebenarnya sedang "menimbun murka atas diri sendiri pada hari murka dan penyataan penghakiman yang adil."

Prinsip moral ini tidak boleh dipersempit hanya pada tindakan kriminal seperti mengambil barang milik orang lain secara fisik. Esensi dari "mencuri" dalam arti spiritual dan moral yang lebih luas adalah "mengambil apa yang bukan menjadi hak kita, atau merampas apa yang seharusnya diberikan kepada orang lain". Beberapa bentuk "pencurian" moral dan sistemik yang sering kali mengalami normalisasi di masyarakat antara lain:
- Pencurian karakter dan reputasi (fitnah/gosip): Menyebarkan narasi palsu atau pembunuhan karakter demi menjatuhkan orang lain. Ketika lingkungan sekitar ikut menikmati gosip tersebut, terjadilah normalisasi dosa lidah.
- Pencurian hak emosional dan psikologis (manipulasi): Menggunakan kuasa atau relasi untuk memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi, sehingga merampas kedamaian dan kesejahteraan mental mereka.
- Pencurian waktu dan integritas (korupsi terselubung): Menerima upah penuh tetapi bekerja dengan setengah hati, atau menggunakan fasilitas bersama untuk kepentingan egoistis tanpa ada yang berani menegur.

Berikut ini beberapa contoh kasus dalam kehidupan modern...

Kasus 1: normalisasi plagiarisme dan kecurangan akademik

Di sebuah institusi pendidikan, seorang siswa atau mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan atau karya orang lain secara ilegal untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa pernah ketahuan. Karena nilainya selalu sempurna dan sistem tidak mendeteksinya, ia mulai menganggap tindakan ini sebagai "strategi yang cerdas."
Lama-kelamaan, teman-teman di sekitarnya melihat hal ini, ikut menirunya, dan lingkungan tersebut menormalisasi kecurangan. Bahaya besarnya bukan sekadar nilai yang palsu, melainkan rusaknya mentalitas, hilangnya kapasitas kerja keras, dan matinya integritas moral sang pelajar yang akan ia bawa hingga ke dunia kerja.

Kasus 2: ketidaksetiaan emosional dalam relasi

Seorang pasangan mulai membangun hubungan rahasia di luar komitmen resminya melalui media sosial. Karena ia sangat rapi menyembunyikannya dan pasangannya tidak pernah menaruh curiga, ia merasa aman-aman saja. Bahkan, ketika ia menceritakan hal itu kepada lingkaran pertemanan dekatnya, mereka justru mendukung dan membiarkannya dengan dalih "mencari kebahagiaan sendiri."
Tanpa disadari, tindakan yang tidak ketahuan dan dinormalisasi ini sedang menghancurkan kapasitasnya untuk mengasihi dengan tulus, merusak ikatan sakral pernikahan, dan menumpuk bom waktu yang siap menghancurkan seluruh hidupnya di masa depan.
Keberuntungan sejati bukanlah ketika kita berhasil menyembunyikan kebusukan dari mata dunia. Keberuntungan sejati adalah ketika kesalahan kita segera disingkapkan, sehingga kita memiliki kesempatan untuk berbalik dan dipulihkan.
Ketika suatu pelanggaran moral berjalan mulus tanpa hambatan dan didukung oleh pembiaran kolektif, saat itulah seseorang sedang berjalan dengan mata tertutup menuju jurang kehancuran spiritual yang paling dalam. Kemurnian hati harus dijaga, bahkan (dan terutama) ketika tidak ada satu pun mata manusia yang melihat.
(06062026)(TUS)

Jumat, 05 Juni 2026

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

PENGANTAR 
Saya selalu mengatakan, lawan dari KASIH itu bukan benci atau dendam, lawan dari KASIH adalah KETIDAK PEDULIAN, menurut apa yang dipaparkan Alkitab dalam kisah teologis penulisnya. Coba kita tengok Kitab Kejadian 3:1-24 
PEMAHAMAN
Menurutmu, dulu Adam kemana? Kenapa dibiarkannya istrinya Hawa ngobrol sama ular?Pertanyaan ini terdengar lucu, tapi makin dipikir, makin dalam.Karena banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa Hawa sendirian waktu digoda ular, seolah Adam lagi pergi entah kemana.Karena banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa Hawa sendirian waktu digoda ular, seolah Adam lagi pergi entah kemana.Padahal kalau dilihat ceritanya di kitab kejadian, ada detail yang sering kelewat.Setelah Hawa mengambil buah itu, tertulis bahwa dia memberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia.

Kejadian 3:6 (TB) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. 

Artinya, kemungkinan besar Adam ada di sana.Dia mendengar percakapannya.Dia tahu ada yang aneh.Dia lihat ular mulai memelintir perkataan Tuhan.Tapi, dia diam, Adam tidak peduli, tahu ada yg salah, ada sesuatu tapi diam, membiarkan, tidak peduli.Dan jujur ya, kadang diam itu lebih mahal akibatnya daripada salah bicara, lebih mahal akibatnya daripada dicap reaktif atau tukang ribut, tau ada yg salah diam saja, di Alkitab dikatakan sama saja dengan melakukan dosa tsb, maka teladan Kristus itu emang ..... tukang rewel, tukang kritik, tukang ribut terhadap kaum farisi. Ular waktu itu juga menarik. Dia nggak datang dengan ancaman, dia datang dengan kharisma dan pengetahuan, ular datang dengan kepandaian dan tebar pesona, alias pencitraan. Dia datang dengan pertanyaan. Benarkah Tuhan berkata begitu? Pelan, halus, nggak terdengar jahat. Sering kita anti dengan yang suka teriak, kasar, suaranya keras pedas atau bengokan kata orang Jawa, tapi Alkitab menyaksikan ular datang dengan halus, sok jaim, sok berkarya, bahkan berpengetahuan lagi. Karena memang banyak kehancuran dalam hidup nggak dimulai dengan sesuatu yang kelihatan menyeramkan. Tapi dari percakapan kecil yang dibiarkan tumbuh.Awalnya cuma dengar, lalu mulai mempertimbangkan, lalu merasa kayaknya nggak ada apa-apa, lalu akhirnya jatuh.Dan Adam ada di sana menyaksikan semuanya bergerak pelan-pelan, tapi Adam diam gak peduli.Mungkin dia bingung, mungkin dia ragu, mungkin dia takut bikin suasana jadi nggak enak.Tapi akhirnya, pasifnya Adam tetap punya konsekuensi. Ketidak pedulian Adam membawa kurban yang lebih besar, kehancuran total.Makanya cerita ini sebenarnya bukan cuma soal buah terlarang.Ini tentang tanggung jawab, tentang keberanian bersuara saat sesuatu mulai mengencing, dan tentang bagaimana kejahatan sering menang bukan karena terlalu kuat, tapi karena orang yang seharusnya bertindak memilih diam, tidak bersuara, tidak peduli.Coba pikir berapa banyak hubungan rusak, kerusakan sebuah persekutuan, kerusakan rumah tangga, hancurnya keluarga karena ada yang tahu masalahnya tetapi memilih diam, tidak bicara, tidak peduli. Sehingga sekarang, saya paham : Dulu aku pernah salah paham.  Saya pikir yang menyiksa manusia di neraka itu iblis. Saya pikir dia yang pegang kendali. Saya pikir dia yang tertawa melihat manusia menderita.Ternyata saya keliru. Alkitab tidak pernah menggambarkan Iblis sebagai penguasa neraka, sebaliknya dia adalah pihak yang akan dihakimi. Dia bukan algucu .... Eh ... Algojo, dia terdakwa. Dan di titik itu, saya mulai sadar sesuatu yang sering saya hindari. Bahwa persoalan terbesar manusia bukan iblis, tapi hubungan saya dengan Tuhan. Seringkali saya terlalu fokus melawan iblis, seolah-olah semua masalah hidup datang darinya. Padahal ada hal yang lebih serius dari itu. Bukan soal siapa yang menyiksa di neraka, tapi kenapa seseorang bisa sampai ke sana.Bukan tentang siapa pelakunya, tapi tentang keputusan hidup saya hari ini.Karena pada akhirnya yang menentukan arah kegagalanku bukan iblis, tapi apakah saya hidup mengenal Tuhan atau hanya tahu tentang Tuhan tanpa pernah sungguh-sungguh berjalan bersamanya. Ini bukan pesan untuk menakut-nakuti, tapi ini pesan untuk menyadarkan bahwa hidup ini bukan sekedar bertahan, tapi sedang menuju sesuatu. Maka, sudut pandang GKJ dalam pokok ajaran nya, terkait dg memahami Tritunggal, tidaklah sesat, karena hidup ini perjalanan keselamatan, bukan mencari selamat tetapi bertanggung jawab atas anugerah keselamatan, perjalanan menuju kembaliNya Kristus  dan hidup kita bersama Kristus kelak, Allah Tritunggal yang tak terbatas ruang dan waktu menyertai umatNya, Immanuel, dari Adam, Israel, sampai sekarang dalam peranNya masing-masing dalam hakikat yang sama. Karna ziarah kehidupan atau perjalanan keselamatan tsb menuju pada kembaliNya Kristus agar kita bisa bersamaNya, maka perjalanan keselamatan atau perjalanan hidup umat harus diisi sikap-sikap etis atas kehidupan yang meneladan Kristus dan menghikmati ajaran Kristus.
(06062026)(TUS)

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

PENGANTAR 
Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel.

Petulis Kejadian 12:1-9 pasti tidak menulis dengan membayangkan: Gereja abad ke-21, khotbah Minggu, kehidupan jemaat Kristen modern. Redaktur tradisi Abram sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Mereka sedang menjawab pertanyaan:
▶️ Siapakah Israel?
▶️ Mengapa Israel memiliki hubungan khusus dengan Tanah Kanaan?
▶️ Mengapa Israel menyebut Abraham sebagai leluhur iman?

Jadi fungsi utamanya bersifat 𝗲𝘁𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 dan 𝙞𝙙𝙚𝙣𝙩𝙞𝙩𝙮-𝙛𝙤𝙧𝙢𝙞𝙣𝙜. Dalam bahasa akademis:
Narasi panggilan Abram merupakan cerita asal-usul (𝘰𝘳𝘪𝘨𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘳𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦) yang mengonstruksi identitas kolektif Israel sebagai umat yang dipanggil, diberkati, dan dijanjikan tanah oleh YHWH.

Di situ belum ada Gereja. Belum ada Kristen. Belum ada konsep khotbah Minggu.
PEMAHAMAN 
Saya sering melihat banyak khotbah atau renungan tentang Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal langsung meloncat:
▶️ Dari Abram meninggalkan Haran langsung ke
▶️ Saudara harus berani keluar dari zona nyaman. 🤣

Padahal jarak historis penulisan teksnya sekitar tiga ribu tahun. Belum lagi fungsi teksnya berbeda.

Bahkan kalau dibaca sebagai mitos identitas bangsa fokusnya bukan pada psikologi Abram. Fokusnya adalah pada Israel. Abram adalah representasi Israel.

Perhatikan polanya:
▶️ dipanggil keluar (12:1), 
▶️ menerima janji tanah (12:7), 
▶️ menerima janji keturunan (12:2), 
▶️ menerima janji berkat bagi bangsa-bangsa (12:3). 

Jadi, sebenarnya tokoh utama narasi itu bukan Abram sebagai individu, tetapi masa depan Israel.

Kejadian 12:1-9 menjadi bacaan tunggal untuk renungan/khotbah di sebuah gereja dan saya membaca konsep penjadwalan ayat utamanya dari gereja tsb. Saya belum membaca produk renungannya dalam 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 7 Juni 2026. Tema yang diangkat adalah 𝙄𝙢𝙖𝙣: 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣.

Namun, patut diduga penafsirannya langsung meloncat dengan memaksa Abram menjadi orang Kristen:

"Abram taat. Mari kita taat."
Lalu selesai.

Tema yang diusung di atas tentu tidak salah. Masalahnya tema itu tidak berangkat dari teks, bahkan tema di atas menggeser pusat teks. Secara historis teks itu bukan ditulis untuk mengajar warga gereja tentang ketaatan individual. Teks itu adalah bagian dari narasi identitas Israel.

Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 juga mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:

Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.

Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄

Seluruh warga jemaat tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."

Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26.

Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?

Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 " (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram.

Akhirnya pagi ini, Saya dapat membaca sebuah konsep renungan/khotbah di sebuah gereja diambil dari Kejadian 12:1-9, 𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝙏𝙚𝙧𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙖𝙠 𝙤𝙥𝙚𝙧𝙖𝙩𝙞𝙛, bahwa Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel. Gereja yang mengambil perikop ini sebagai bacaan tunggal untuk khotbah patut diduga penafsirannya langsung melompat, mengambil bahan khotbah dari Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal. Seperti yang saya duga dalam penafsirannya langsung melompat seperti yang tercermin dalam renungan tsb.
Kalau dibaca secara kritis, renungan itu melakukan lompatan hermeneutik yang sangat besar:
▶️ Langkah 1: Teks Kejadian 12:1-9 berbicara tentang Abram.
▶️ Langkah 2: Abram menjadi model "ketaatan".
▶️ Langkah 3: Ketaatan Abram langsung diterapkan kepada pembaca masa kini.
▶️ Langkah 4: Lalu lahirlah tema

 𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻

Padahal justru di antara Langkah 2 dan Langkah 3 itulah terdapat jurang tafsir yang sangat lebar. Perhatikan kalimat awal: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢...
Pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui bahwa Tuhan sedang memerintahkan sesuatu? Nah, pertanyaan itu sama sekali tidak dibahas. 
Akibatnya pembaca diarahkan kepada asumsi:
▶️ Tuhan punya rencana spesifik untuk hidup saya.
▶️ Saya harus menemukannya.
▶️ Setelah menemukannya saya harus taat.
Masalahnya itu bukan isi Kejadian 12. Dalam Kejadian 12 Abram menerima firman yang sangat spesifik: " 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶 ... (ay. 1) 
Narator mengetahui itu, karena ia sedang menceritakan kisah asal-usul Israel. Pembaca modern tidak berada dalam posisi yang sama dengan Abram. Kita tidak sedang menerima wahyu pendirian bangsa perjanjian.
Renungan tsb, itu akhirnya masuk ke pola khotbah yang sangat umum:
▶️ Tuhan punya rencana.
▶️ Kita harus taat.
▶️ Jangan takut.
▶️ Tuhan akan memberkati.
Secara pastoral terdengar bagus, tetapi penafsirannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Yang menggelikan (atau menggelitik ya?) adalah bagian akhir renungan tsb:
𝘒𝘦𝘵𝘢𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢...
Ini sudah mendekati pola 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗿𝗲𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁.
Padahal dalam Alkitab sendiri nasabahnya tidak sesederhana itu.
▶️ Yeremia taat. Dipenjara.
▶️ Yesus taat. Disalib.
▶️ Paulus taat. Dipukul dan dipenjara.
🤣
Jadi, ketaatan tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih nyaman.
Kalau saya bisa langsung bertemu dengan petulis renungan dan ia mau mendengar, saya akan bertanya: 
▶️ Mengapa Kejadian 12 harus dibaca sebagai "rencana Tuhan bagi hidup pribadi"?

Mengapa bukan:

▶️ Bagaimana Israel memahami identitas dirinya sebagai umat pilihan?

Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 yang dibuat mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:

Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.

Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄
Seluruh warga jemaat  tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."
Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.
Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26. Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?
Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣" (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram. Siang ini ketemu dengan petulisnya dan yang akan khotbah besok, tertawa .... tawa dia, ketika diskusi dilakukan .... Wk ..... Wk .... Wk salah sendiri minta diskusi dan masukan ... Xii ..... Xi ....... Xi, enaknya diskusi lewat vidcall, Salatiga - Jakarta gak perlu pakai uang transportasi .... Ha .... Ha
(06062026)(TUS)



Sudut Pandang menghakimi makaikat

Sudut Pandang menghakimi makaikat **1 Korintus 6:3 (TB)**   “Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi ...