Minggu, 09 Agustus 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Dasar pemikiran penerapan bacaan ekumenis atau leksionari (RCL) ialah agar umat lebih banyak, lebih beraneka mendapat pembacaan Alkitab, sehingga harta kitab suci benar-benar dibukakan bagi umat. Pembacaan Alkitab untuk ibadah tidak ditentukan secara spontan atau itu-itu saja sesuai selera pendeta. Pembacaan menjadi teratur dalam kalender liturgi sehingga selebrasi bercerita tentang karya Allah di dalam Kristus dan membimbing umat mengikuti alur tahun liturgi. Narasi merupakan kekuatan sistem leksionari.

Satu-satunya “masalah” pada leksionari adalah ia tak jarang menyodor bacaan yang sulit untuk dikhotbahkan. Itulah sebabnya cukup banyak pendeta menolak penerapan leksionari, karena mereka malas belajar dan mendengar.

Hari ini adalah Minggu keduabelas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 15:21-28 yang didahului dengan Yesaya 56:1, 6-8, Mazmur 67, dan Roma 11:1-2a, 29-32.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 15:21-28, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. Pengarang Injil Matius mengadopsi kisah itu dari Injil Markus 7:30 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘳𝘰-𝘍𝘦𝘯𝘪𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, lalu memodifikasi kisah itu agar sesuai dengan teologi yang diusung oleh Matius.

Kisah 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 dalam Injil Matius ini termasuk teks yang sulit untuk dikhotbahkan. Apalagi jika pengkhotbah memandang kisah Natal dalam Injil Matius dan Injil Lukas sama saja. Kalau mereka memandang sama saja, maka teks bacaan Injil Minggu ini dapat dipastikan akan dikhotbahkan tidak sesuai dengan teologi Matius. Banyak hal yang akan dilewati. Tidak mengherankan cukup banyak pendeta menghindari menggunakan bacaan ekumenis (RCL) dan memilih bacaan yang disesuaikan ideologi mereka.

Latar belakang penulisan Injil Matius adalah penghancuran Bait Allah II oleh Jenderal Titus dari Roma. Jemaat Matius banyak dari kalangan Yahudi. Umat Kristen kebingungan, karena mereka tidak sepaham dengan orang Yahudi pada pihak satu, tetapi mereka berakar kuat dalam Yudaisme pada pihak lain. Mereka menjadi kelompok asing di lingkungan mereka sendiri. Dalam pada itu banyak orang kafir menerima Kristus. Mereka berbeda dari orang-orang Yahudi dan mereka tidak mau menerima gaya hidup Yudaisme, karena mereka dari budaya Grika. Umat Kristen dari kalangan Yahudi seperti kehilangan jatidiri. Dalam krisis inilah penulis Injil Matius hendak mengatasinya. Banting stir!

Pengarang Injil Matius membimbing Jemaatnya bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pada mulanya Injil diwartakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi ditolak, kemudian Injil diberitakan kepada bangsa lain. Mereka justru menerima. Hal ini dapat dilihat dari pembukaan Injil Matius yang orang-orang Majus datang menyembah Yesus, sedang Raja Herodes malah hendak membunuh bayi Yesus. Sejajar dengan kisah Musa. Matius mengusung teologi bahwa Yesus adalah 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 untuk menggembala 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶.

Dengan latar belakang itu mari kita mengulas bacaan Injil Minggu ini. Bacaan dapat kita bagi dalam lima bagian.

🛑 Matius 15:21 Latar
🛑 Matius 15:22 Permohonan pertama perempuan Kanaan
🛑 Matius 15:23-24 Hasutan murid-murid Yesus
🛑 Matius 15:25-26 Permohonan kedua perempuan Kanaan
🛑 Matius 15:27-28 Tanggapan akhir Yesus kepada perempuan Kanaan

𝗟𝗮𝘁𝗮𝗿 (Mat. 15:21)

Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. (Mat. 15:21, TB II 2023)

Lokasi Yesus sebelum ayat ini di Genesaret (Mat. 14:34). Tempat ini di sebelah barat laut Danau Galilea. Yesus pergi dari Genesaret dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Kata 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳 beberapa kali digunakan dalam Injil Matius (Mat. 2:12-14, 22; 12:16; 14:13). Yesus menyingkir, jika hidup-Nya terancam. Yesus terancam menyusul pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes Antipas (lih. Mat. 14:1-13).

Tirus dan Sidon terletak di pesisir Laut Tengah, sebelah barat Danau Galilea. Barangkali Yesus tidak tepat di kedua kota itu, karena teks hanya menyebut 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘛𝘪𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘥𝘰𝘯. Kedua kota itu didiami oleh orang-orang kafir.

𝗣𝗲𝗿𝗺𝗼𝗵𝗼𝗻𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 (Mat. 15:22)

Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berteriak, “𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥! 𝘈𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢.” (Mat. 15:22, TB II 2023)

Orang-orang Kanaan kerap disebut di Perjanjian Lama (PL), sedang di Perjanjian Baru (PB) hanya di sini. Pada zaman PB tidak ada lagi negeri Kanaan, tetapi orang-orang Fenisia menyebut diri orang-orang Kanaan. Tidak terlalu jelas batas wilayah Kanaan.

“𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥!” bukan sekadar seruan minta dikasihani dan tolong. Ini adalah liturgi. 𝘒𝘺́𝘳𝘪𝘦 𝘦𝘭𝘦́𝘦̄𝘴𝘰𝘯. Seruan ini juga didapati di Mazmur 6:2, 9:13, 31:9, 86:3, dan 123:3 versi Septuaginta. Tampaknya pengarang Injil Matius selalu merujuk PL versi Septuaginta. Kata 𝘒𝘺́𝘳𝘪𝘦 aslinya bermakna 𝘵𝘶𝘢𝘯. Injil Matius ditulis sudah dalam warna kristiani sehingga dicerap 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 merupakan gelar yang diberikan kepada Mesias oleh bangsa Israel sehingga tampak aneh diucapkan oleh orang Kanaan, orang kafir. Untuk itulah kisah ini jangan dibaca sekadar narasi biasa.

Pada zaman itu kuasa gaib mengendalikan hidup orang. Anak perempuan itu dipercaya 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 dapat dipahami dikendalikan oleh kuasa gaib sehingga sangat menderita. Namun, orang modern tidak perlu memaknainya sebagai orang dalam gangguan jiwa. Apa tanggapan Yesus?

𝗛𝗮𝘀𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (Mat. 15:23-24)

Namun, Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “𝘚𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬-𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢.” Jawab Yesus, “𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭.” (Mat. 15:23-24, TB II 2023)

Dalam versi Injil Markus Yesus tidak digambarkan bungkam. Namun, dalam Injil Matius sangat jelas Yesus bungkam atas permintaan perempuan Kanaan itu. Ini petunjuk penting untuk memerkuat latar belakang penulisan Injil Matius seperti yang sudah dijelaskan di atas. Injil pada dasarnya diberitakan hanya kepada orang-orang Israel menurut Injil Matius. Belakangan menjadi Injil untuk segala bangsa, karena umat Israel menolak Injil Yesus.

Penekanan Matius dimula dari permintaan murid-murid Yesus yang bernada hasutan agar Yesus mengabaikan perempuan itu, karena ia bukan orang Israel. Frase 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬-𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬 diterjemahkan dari 𝘬𝘳𝘢𝘻𝘦𝘪, yang berarti literal menjerit. Karuan saja para murid Yesus berang kepada perempuan itu, karena ia membuat ribut dan kisruh.

Tanggapan Yesus atas permintaan murid-murid-Nya menguatkan teologi Matius bahwa Injil hanya dikabarkan kepada umat Israel. Matius menggunakan istilah 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 atau 𝘵𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘢 𝘢𝘱𝘰𝘭𝘰̄𝘭𝘰𝘵𝘢 𝘰𝘪𝘬𝘰𝘶 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦̄𝘭. Ungkapan ini merupakan metafora umat yang tidak tahu arah hidupnya, karena mereka tidak memiliki pemimpin yang memberikan petunjuk atau arahan. Umat tanpa gembala. Dalam Matius 10:5-6 dikatakan misi Yesus hanya untuk umat Israel yang kehilangan arah hidup.

𝗣𝗲𝗿𝗺𝗼𝗵𝗼𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 (Mat. 15:25-26)

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶.” Jawab Yesus, “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨.” (Mat. 15:25-26)

Kata 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩 di sini adalah terjemahan dari 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯𝘦𝘪, kata yang sama digunakan untuk orang-orang Majus menyembah Yesus (lih. Mat. 2:2, 11). Matius membangkitkan ingatan pembaca pada kisah awal Injil Matius: 𝘉𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Perlu diingat pula bahwa Yesus menyingkir ke Tirus dan Sidon karena menghindari ancaman pembunuhan dari Herodes. Dalam versi Injil Markus tidak ada adegan perempuan itu menyembah Yesus. Di sinilah kepiawaian penulis Matius menggoreng cerita untuk menyampaikan teologinya.

Kata Yesus “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘵” diterjemahkan dari 𝘖𝘶𝘬 𝘦𝘴𝘵𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘰𝘯, yang oleh Jerusalem Bible dan NRSV diterjemahkan menjadi “𝘐𝘵 𝘪𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘧𝘢𝘪𝘳”. Bukan soal salah atau benar. Terjemahan LAI “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘵” sudah cukup memadai. Tanggapan Yesus kepada perempuan Kanaan itu menjadi sulit ditafsirkan, jika tidak memahami latar belakang penulisan Injil Matius.

Dalam dunia PL anjing merupakan metafora orang asing seperti yang dikatakan oleh Goliat (1Sam. 17:42), orang dengan status lebih rendah (2Raj. 8:13). Roti merupakan makanan pokok bangsa Israel. Misi Yesus adalah memberi roti (Injil) pertama-tama dan utama kepada umat Israel seperti dikatakan oleh Yesus dalam Matius 10:5-6, bukan untuk bangsa asing. Saat itu misi Yesus belum selesai. Anak-anak belum selesai makan, belum kenyang. Tentu tidak patut melemparkan jatah roti anak-anak kepada anjing. Jadi, memang itu yang hendak disampaikan oleh Matius lewat ucapan Yesus. Tidak perlu merohani-rohanikan atau menghaluskan ucapan Yesus demi apologetik atau pembelaan.

𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 (Mat. 15:27-28)

Kata perempuan itu, “𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “𝘏𝘢𝘪 𝘐𝘣𝘶, 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘪𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪.” Seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat. 15:27-28, TB II 2023)

Perempuan itu tidak saja gigih beradu argumen dengan Yesus, tetapi juga cerdas dalam memanfaatkan 𝘤𝘳𝘰𝘴𝘴 𝘤𝘶𝘭𝘵𝘶𝘳𝘦 secara jenaka. Anjing di kehidupan Grika kuno sudah menjadi hewan domestik atau peliharaan. Dua budaya yang berbeda berjumpa. Yesus berargumen dengan dasar budaya Yahudi, sedang perempuan itu berargumen dengan budaya kafir 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Yesus menerima argumen perempuan Kanaan itu.

Akhir cerita versi Injil Markus berbeda dari Injil Matius. Injil Markus lebih menekankan mukjizat, sedang Injil Matius menekankan percakapan lintas budaya. Perempuan kafir itu mengakui Yesus sebagai Anak Daud, yang merupakan pengakuan iman Yahudi untuk mesias, sekaligus ia menggunakan budaya kafir untuk membuka pintu bagi Injil Yesus. Apabila orang-orang di luar umat Israel mengakui Yesus adalah Anak Daud, Sang Mesias, dan mau menerima Injil Yesus, tidak ada alasan bagi Yesus untuk tidak menerima permintaannya, meskipun Yesus harus “melanggar” misi utama-Nya. Untuk menyelamatkan bangsa-bangsa lain, Yesus segera banting stir.

Ada sedikitnya 1.340 suku bangsa di Indonesia. Ketika semuanya mengakui Pancasila sebagai dasar negara, sepatutnya tidak ada lagi teriakan 𝘬𝘰𝘧𝘢𝘳-𝘬𝘢𝘧𝘪𝘳.

 (20082023)

Sabtu, 08 Agustus 2026

Sudut Pandang Pamer jalan di atas air

Sudut Pandang Pamer jalan di atas air

PENGANTAR 

Okay, this is Sabsing, Sabda Singkat, buruan safe supaya ga ilang. Kita bahas kisah Yesus sok - sok an jalan di atas air? Maksudnya, kalau mau pamer tu, ya minimal, spil saldo M banking miliaran kek, atau pamer jam harga miliaran sambil khotbah kek, kaya Gilbert L atau Philip M, ini malah flexing mukjizat, agak lain emang corenya.

PEMAHAMAN

Kisah Yesus berjalan di atas air dicatat di 3 injil, kata di tiga Injil, tapi saya mau fokus ke Matius. Kisah ini simbolis banget, menggaungkan ayup 9: 8, Tuhan yang berjalan di atas air, dan menundukan laut/danau. Di zaman kuno, laut/danau itu simbol chaos, kekacauan, dan sarangnya monster ngeri, macam Leviatan, RahabTanin di perjanjian Lama, dan Terion dalam Kitap Wahyu. Makanya murid-murid, jantungan, ngira Jesus sebagai fantasma/phantasm, hantu laut. Tapi, sebenernya, Jesus mengulang drama kosmik, dengan menundukan kuasa-kuasa dan kekacauan, Timingnya atau simbol waktunya, oook ... simbolik buanget secara sastra, jam 3 subuh. This is similar to the moment ketika Allah, menenggelamkan pasukan Mesir di Laut teberau, ingat Matius membawa konsep Yesus lebih hebat dari Musa yg diagungkan Yudaisme. Sekarang soal Petrus. Kita pahami dulu, 2 symbolik badai, satu, Storm for correction, badai koreksi secara sastra Ibrani, badai sentilan, menegur, contohnya kisah Yunus, dan kedua dalam sastra Ibrani kuno,  storm for perfection, badai pembentukan dan upgrade iman. Petrus dan murid-murid Yesus menghadapi badai yang kedua, secara sastra Ibrani kuno, sekali lagi, menghadapi badai yang kedua ini. Mereka, murid Yesus, gak Petrus, dibilang, Orang yang kurang percaya, dalam bahasa asli Alkitab, OLIGOPISTOS. Bukan, gak, punya iman, kalau itu bahasa asli Alkitab nya yaitu APISTIA. Seperti begini, kali gak beriman, ya ...... modal percaya dan doa dalam nama Yesus mereka uda berani keluar kerjaan atau ningalin bisnis tanpa BPJS, seperti ini OLIGOPISTOS, menyangkal kalau tubuhnya sakit, dg modal percaya dalam nama Yesus pasti sembuh, begitu gambaran OLIGOPISTOS, begitu sakit di tubuhnya lamaaaaaaaa ....., sakit menahun dan makan waktu gak sembuh-sembuh mulai dech goyang dangdut ..... Eh .... Goyang iman, lihat itu badai sakal itu lama loh ....  makan waktu, sejak Yesus blom Dateng ampai Petrus bisa jalan nyampai Yesus baru dech anslup tenggelam. Lalu lihat, Petrus, juga, sukses, kan? Cosplay Ninja, jalan di atas ombak, air danau/laut, ini .... ni, dia udah laku kan, imannya keren di awal. Masalahnya cuman, satu, Petrus gampang salfok dan overthinking pas liat ombak, apalagi udah jalan makan waktu ngadepin badai sakal. Persis, banget, kaya kita, yang gampang ke distract di sosmed. Baru denger pidato, langsung PTSD. Tapi justru OLIGOPISTOS ini lah ruang pemulian yang sangat besar ....... heel groot, asal berani lempar handuk ...... Keberanian bilang : "Tuhan, tolong aku ....." Ini namanya ...... This is called growth mindset. Bersedia untuk berubah, belajar terus, upgrade diri, upgrade iman. Balik lagi, kenapa Jesus harus flexing jalan di atas air? air danau, katanya, ...... katanya, soalnya, katanya ..... ongkos naik veri turis di danau  Galilea, saat wisata atau umroh ke tanah suci .... Wk .... Wk .... muahal bingit. Antara 25 sampai 400 dolar, inilah industri wisata rohani yang cuman orang - orang mampu nan kaya aja yg bisa, dan flexing orang nan kaya dg wisata di danau Galilea, oleh Injil diinjak Yesus ...... Wk .... Wk .

(08082026)(TUS)


Jumat, 07 Agustus 2026

Sudut Pandang Roma 10:5-15

Sudut Pandang Roma 10:5-15

PENGANTAR 
Minggu 09 Agustus 2026, seorang teman mengirimkan renungan dari sebuah gereja protestan reformir atau gereja arus utama atau mainstream. Kemudian, seperti biasa mengajak berdiskusi sebelum rengungan warta Gereja tsb diupload. Kelihatan cukup jelas bahwa Renungan yang dibuat bergerak ke arah Roma 10:5-15, tetapi tidak menangkap pusat argumentasi Paulus, kata saya. Kemudian, saya memberikan sudut pandang saya.
PEMAHAMAN 
Renungan Warta: Roma 10 dibaca terutama sebagai nasihat kehidupan beriman
Renungan Warta membuka dengan gagasan: hati, perkataan, dan tindakan harus selaras. Lalu Roma 10:9-10 diarahkan kepada kehidupan personal: hati percaya, mulut mengaku, kemudian iman itu diwujudkan dalam kehidupan. Ini sebenarnya bukan salah, tetapi hanya menangkap (salah) satu kemungkinan aplikasi teks. Masalahnya, konteks besar Roma 9–11 nyaris hilang. Renungan memang menyebut konflik Yahudi dan bukan-Yahudi di Roma, tetapi setelah itu pembahasannya segera diarahkan kepada:

▶️iman versus perbuatan, 
▶️keselamatan bukan karena Taurat, 
▶️hati yang percaya, 
▶️mulut yang mengaku, 
▶️kehidupan yang baik sebagai ungkapan syukur. 

Bahkan secara eksplisit dikatakan bahwa Paulus: “bermaksud menengahi dan tidak berpihak pada salah satu kelompok.” Nah, ini problematis! Paulus dalam Roma 9–11 bukan sekadar seorang mediator yang mengatakan, “ayo Yahudi dan non-Yahudi hidup rukun.” Ia sedang mengerjakan argumentasi teologis yang jauh lebih besar tentang Israel, bangsa-bangsa lain, iman, Taurat, Kristus, dan kesetiaan Allah kepada Israel.

Struktur Roma 9–11
Kalau kita membaca secara keseluruhan, 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗰𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗿𝘂𝗺𝘂𝘀 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹, 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗥𝗼𝗺𝗮 𝟵–𝟭𝟭 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮-𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗹𝗮𝗶𝗻. Ini adalah 𝗸𝘂𝗻𝗰𝗶 𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮.

Kalau kunci ini dipasang, ayat 9-10 tidak lagi berdiri sendirian sebagai: percaya → mengaku → diselamatkan, tetapi harus dibaca bersama ayat 11-13: tidak ada perbedaan antara Yahudi dan Yunani. Lalu ayat 14-15 membawa kita kepada misi/pemberitaan Injil.
Jadi, struktur Roma 9–11 mengikuti gerakan teks:

 Israel → Taurat → Kristus → iman → tidak ada perbedaan Yahudi-Yunani → pemberitaan Injil kepada semua.

Renungan dalam Warta yang ditulis bergerak: Taurat → iman → hati → mulut → kehidupan yang baik → menjadi kesaksian. Langsung aplikasi, bukan struktur utama argumentasi Paulus.

Ada satu hal menarik: Renungan Warta justru memakai istilah “mendekat”, tetapi kehilangan maksud Paulus
Renungan mengatakan: “Firman yang adalah kebenaran dan hadir dalam keselamatan bagi orang percaya ada di dekat dirinya...” Lalu pada bagian akhir dikatakan bahwa keselarasan hati dan mulut dapat menjadi langkah “mendekatkan” kabar keselamatan kepada orang lain. 
Ini menarik, karena Paulus justru sedang mengatakan: manusia tidak perlu membuat perjalanan untuk membawa Kristus turun dari surga atau naik ke tempat maut. Allah sudah bertindak.
Jadi aksennya bukan: manusia mendekat kepada Allah, tetapi Allah sudah bertindak di dalam Kristus; firman itu dekat; sekarang Injil diberitakan. Keselamatan bukan sesuatu yang harus diusahakan manusia melalui perjalanan kosmis. Allah sudah melakukannya.

Renungan Warta terlalu cepat membuat oposisi “Taurat vs kasih karunia”
Ini bagian yang perlu digarisbawahi. Renungan mengatakan: “keselamatan yang diperoleh manusia bukanlah karena perbuatannya, melainkan karena tindakan kasih karunia Allah di dalam Kristus.” 
Secara teologis ini bisa dipahami dalam kerangka Paulus. Akan tetapi kalau dipakai untuk menjelaskan Roma 10:5, formulasi tersebut terlalu sederhana.
Paulus tidak sedang berkata PL = keselamatan karena perbuatan. Roma 10:5 mengutip Imamat 18:5. Paulus tidak sedang membuat karikatur:
Yahudi = percaya keselamatan melalui perbuatan
Kristen = percaya keselamatan melalui iman.
Yang sedang dipersoalkan adalah cara memahami kebenaran dan identitas umat Allah dalam terang Kristus. Jadi, kalau Renungan mengatakan: “menjadi percaya kepada Kristus bukan menjadi Yahudi lebih dulu” itu sebenarnya sudah menuju persoalan yang benar, tetapi konteksnya kurang dikembangkan: Paulus sedang berhadapan dengan persoalan batas identitas umat Allah.
Padahal itu justru pusat Roma 9–11.
 Bagian “mulut mengaku” dalam renungan terlalu diprivatisasi. Renungan mengatakan: “mulut yang mengaku adalah wujud pertanggungjawaban publik dari hati yang percaya kepada Kristus.”
Ini bagus. Bahkan ini (salah) satu kalimat terbaik dalam renungan. Tapiiii sesudah itu ia kembali diarahkan ke: cara kita berbicara, memerlakukan sesama, menyatakan kebenaran, dan menghadirkan pengharapan. Itu aplikasi yang bagus, tetapi belum menjelaskan mengapa Paulus memilih kata Kyrios. Harus dicatat “Yesus adalah Kyrios” bukan sekadar pengakuan bahwa saya secara pribadi percaya Yesus. Ada matra: teologis, eklesiologis, dan sangat bolehjadi juga memiliki resonansi politis dalam dunia Romawi, terutama karena Kyrios dalam Septuaginta merupakan istilah yang digunakan untuk menerjemahkan nama ilahi YHWH. Ayat 13 menjadi sangat menarik karena Paulus mengutip Yoel: “Setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” Kemudian “Tuhan” itu diterapkan dalam konteks Roma 10 kepada Yesus. Ini jauh lebih besar daripada sekadar “berani mengakui iman di depan umum.”

Puncak yang paling hilang dari Renungan: ayat 11-13
Menurut saya ini titik kelemahan terbesar Renungan Warta. Ayat 11-13 harus mendapatkan bobot jauh lebih besar. Paulus mengatakan tidak ada perbedaan antara Yahudi dan Yunani.
Lalu: Tuhan yang sama adalah Tuhan dari semua orang.
Lalu: setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.
Jadi kata 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 menjadi sangat penting.
Itulah yang kemudian secara alami membawa kita ke: “Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?” dan akhirnya: “Bagaimana mereka dapat mendengar jika tidak ada yang memberitakan?”
Oleh karena itu ayat 14-15 bukan tambahan kecil tentang pentingnya menjadi pewarta Injil.
Itu adalah konsekuensi logis dari argumentasi Paulus tentang terbukanya keselamatan bagi semua.

Renungan Warta hampir tidak mengembangkan rantai: berseru → percaya → mendengar → memberitakan → diutus.
Padahal bagian ini sangat indah. Paulus membuat rantai logika. 
Bagaimana orang berseru?
Harus percaya.
Bagaimana percaya?
Harus mendengar.
Bagaimana mendengar?
Harus ada yang memberitakan.
Bagaimana memberitakan?
Harus diutus.
Ini disebut oleh banyak ahli sebagai 𝙩𝙝𝙚 𝙢𝙞𝙨𝙨𝙞𝙤𝙣𝙖𝙧𝙮 𝙘𝙝𝙖𝙞𝙣, 𝗿𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗺𝗶𝘀𝗶.
Paulus lalu mengutip Yesaya 52 Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik. Dalam Yesaya itu berbicara tentang kembalinya Israel dari pembuangan. Paulus menafsirkannya sebagai pemberitaan Injil. Lagi-lagi PL ditafsir ulang dalam terang Kristus.

𝗔𝗱𝗮 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗺𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗵𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗥𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗪𝗮𝗿𝘁𝗮

Renungan mengatakan bahwa: “Siapapun yang ketahuan mengakui Kristus sebagai Tuhan, maka dia akan ditangkap hidup-hidup dan dijatuhi hukuman mati.” Kemudian dikatakan bahwa orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi bertikai hebat sehingga Kaisar Claudius mengusir mereka dari Roma. 𝗜𝗻𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵.
Pengusiran pada masa Claudius memang berkaitan dengan komunitas Yahudi di Roma dan biasanya dikaitkan dengan Suetonius serta Kisah Para Rasul 18:2. Tetapi menjadikannya sebagai: “orang Kristen Yahudi vs orang Kristen Yunani bertikai → Claudius mengusir mereka” membutuhkan presisi jauh lebih besar. Apalagi 𝗦𝘂𝗿𝗮𝘁 𝗥𝗼𝗺𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗶𝘁𝘂𝗹𝗶𝘀 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗥𝗼𝗺𝗮. 
Renungan memang kemudian mengatakan Paulus tiba di Roma sebagai tawanan. Itu benar sebagai episode kemudian dalam Kisah Para Rasul, tetapi jangan sampai pembaca mendapat kesan bahwa Surat Roma ditulis Paulus setelah ia datang sebagai tahanan.

Urutannya justru: Paulus menulis Roma → kemudian Paulus pergi ke Yerusalem → ditangkap → akhirnya tiba di Roma sebagai tahanan.

JIKA Surat Roma ditulis Paulus setelah ia datang sebagai tahanan, sangat besar kemungkinan Paulus akan menulis surat kedua untuk merevisi pasal 13 Surat Roma. Wkwkwkwkwk, diakhir diskusi kami tertawa bareng sambil nyeruput kopi.

(08082026)(TUS)

Sudut Pandang Doa adalah perbuatan

Sudut Pandang Doa adalah perbuatan

PENGANTAR 
Itulah kenapa, dikatakan jatuh cinta, sebagaimana jatuh, kita tidak pernah punya kuasa untuk jatuh pada hati yang mana. Allah jatuh cinta pada manusia, dan hak istimewa, warisan istimewa dari Allah adalah kita yang dicintainya dapat berkomunikasi langsung dalam doa, tanpa perantara. Maka, doa adalah hak istimewa, keterhubungan kita, komunikasi kita, ikatan batin kita dari yang dicintai dan mencintai Allah, dalam doa, pendampingan dan pastoral Allah pun berjalan. Saya selalu mengatakan, berdoa bukanlah saja gerakan menutup mata dan melipat tangan, terlebih adalah gerakan membuka mata dan membuka atau mengulurkan tangan. Berdoa dan bekerja, bekerja dan berdoa adalah satu konsep, orang seringkali memahami itu sebagai dua konsep. Budaya Jawa mengenal satu konsep pasrah dalam dua pemahaman, satu adalah pasrah bongkokan, yang artinya berserah penuh, karena sudah tidak ada lagi yang dapat dikerjakan, kedua adalah pasrah budidaya, didalam keberserahan hati tetap terus berusaha. Makanya, saya seringkali bilang doakanlah apa yang kita kerjakan, kerjakanlah apa yang kita doakan. Itu sebuah konsep, bukan konsep yang terbagi-bagi.

Rabu, 05 Agustus 2026

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

PENGANTAR
ABRAKADABRA ...... dan pesulap itu membuat mukjizat sambil mengucapkan mantera, shg tongkat sulapnya berubah menjadi kelinci. Begitulah trik sulap dilakukan untuk memberikan gambaran pada penonton betapa dahsyatnya mantera pesulap yg memenuhi keinginannya. Pernah berdiskusi sampai jauh malam dengan dokter Joseph mantan direktur RS PANTIWILASA Dr.CIPTO. Menurut dokter Joseph, kehebatan bahkan keampuhan hasil tindakan medis itu bukan mukjizat, menurutnya mukjizat itu hasil spektakuler yang tidak bisa dinalar, dan dalam koridor ATAS NAMA atau DALAM NAMA YESUS. Beberapa waktu ini, saya juga melihat dalam bbrp kali PPA, juga beberapa kawan yang menderita sakit metabolisme tubuh karena bertambah usia serta pola makan atau pola hidup yg tidak baik, seringkali menyangkal diri dengan membesarkan hati atau boleh dikata mensugesti diri dg mengatakan DALAM NAMA YESUS, serta menyangkal bahkan anti penyembuhan diri dengan tindakan medis atau pola hidup sehat. Juga, sering dalam denominasi gereja tertentu DALAM NAMA YESUS digunakan untuk pengusiran setan, diperkuat dg film-film genre horor pun sering menggunakan DALAM NAMA YESUS untuk mengusir setan oleh tokoh utama film tsb atau tokoh agama dalam film tsb. Betulkah, berdoa di dalam nama Yesus, sama saja dengan mantera seorang pesulap?
PEMAHAMAN
Ada juga, dalam film bergenre horor dg latar belakang agama tetangga, menggunakan doa dengan ayat-ayat kursi yang ditumpuk jadi ayat meubel, untuk mengusir setan atau menyembuhkan penyakit atau disrbut merukiah. Apakah memahami berdoa dalam nama Yesus, itu seperti mantera-mantera yang ampuh seperti itukah? Lalu bagaimana kita memahami berdoa di dalam nama Yesus? Apa itu mantera? Mantera adalah perkataan atau kalimat
yang dapat mendatangkan daya gaib atau mukjizat.
Hampir tiap agama purba percaya bahwa perkataan atau kalimat tertentu dapat bersifat magis dan mengandung kuasa, entah itu protektif, produktif atau destruktif. Panjangnya dapat berbeda-beda. Ada yang satu perkataan, ada pula
yang puluhan kalimat. Kitab primbon yang banyak digunakan di Jawa hingga kini, memuat ratusan macam mantera. Mantera terutama berperanan dalam doa. Orang percaya
bahwa apabila doa diawali atau diakhiri dengan perkataan atau kalimat tertentu, maka doa itu lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan. Apakah dalam doa Kristen juga ada mantera? Ada orang yang mengira bahwa juga dalam doa Kristen ada kalimat tertentu yang perlu diucapkan pada tiap doa, yang berfungsi sebagai mantera. Kalimat itu adalah, "dalam nama Yesus'". Kalimat itu diambil dari Yohanes 14:13,14. dan
Yohanes 16:23. ".. dan apa juga yang kamu minta dalam
NamaKu,: Aku akan melakukannya .... Jika kamu meminta segala sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya ..... 
segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan
dberikan kepadamu dalam namaKu.'" Di situ dikatakan bahwa Tuhan mengabulkan doa yang disampaikan dalam nama Yesus. Orang mengira bahwa hal
itu berarti bahwa dalam doa perlu ada kalimat "dalam
nama Yesus"", Padahal bukan itu yang dimaksud. Kalau begitu, apa artinya bahwa kita disuruh berdoa dalam nama Yesus? Yesus mengucapkan kalimat itu untuk menyiapkan para murid menghadapi waktu di mana la tidak berada lagi tengah mereka secara fisik. Yesus menyuruh mereka meneruskan pola hidup yang selama ini ditempuh-Nya. Untuk itu Yesus menyuruh mereka berdoa, sebagai kekuatan pendampingan atau pastoral meneruskan hidup pola Yesus atau teladan Kristus. Maka, berdoa dalam Nama
Yesus pertama-tama berarti menyelaraskan hidup kita sesuai dengan hidup Tuhan Yesus dan menempatkan kehendak kita sesuai dengan kehendak Yesus, nyambung dan terkait kenapa Yesus meneladankan doa :

 " ..... jangan kehendak ku, tetapi kehendak Mu lah yang jadi ...."

Setiap kali kita akan berdoa, setiap kali itu pula kita patut bertanya dan berefleksi
apakah seandainya Yesus ada disini, Yesus ada didepan kita saat kita berdoa, apakah Yesus sudah melihat kita berproses juang menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Tuhan Yesus. Seandainya Tuhan Yesus ada di tempat kita .... ela .... andai kali kita telah berdoa, kita pun patut bertanya: seandäinya Yesus ada di tempat kita, apakah la akan berdoa seperti yang sudah kita doakan? apakah Yesus yang akan diucapkan-Nya dalam doa ini, dalam pergumulan ku? Jikalau kita berdoa meminta kekayaan, walaupun doa itu kita ucapkan dalam nama Yesus, doa itu bukanlah dalam nama Yesus, sebab Yesus tidak akan meminta kekayaan. Jikalau kita berdoa supaya kita menang dan lawan kita kalah, walaupun doa itu diucapkan dalam nama Yesus, doa itu bukanlah dalam nama Yesus sebab Yesus tidak akan meminta diriNya menang dan lawan-Nya kalah. Jika kita berdoa memohon supaya kita tidak ketahuan dalam rencana perbuatan jahat, walaupun doa itu diucapkan dalam nama Yesus, doa itu bukanlah dalam nama Yesus, sebab Yesus tidak akan melakukan perbuatan jahat itu. Apakah berdoa minta sembuh dalam nama Yesus?, doa itu bukan dalam nama Yesus, karena respon bermartabat yang ingin dilihat Yesus adalah kita tidak menyangkali kondisi sakit kita, tetapi melihat kenyataan bahwa nyata-nyata kita sakit, kemudian apa respon Bermartabat kita dg kenyataan bahwa kita sakit. Berdoa dalam nama Yesus juga berarti mengakui bahwa sebenarnya kita sendiri tidak berhak menyampaikan doa kita kepada Allah, melainkan bahwa Yesuslah yang memungkinkan dan mendukung permohonan kita itu. Yesus
berkata, "... di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.'" Dalam kaitan itu Surat orang Ibrani 8:6 menyebut Yesus sebagai
pengantara, maksudnya pengantara dalam hubungan (baca:doa) antara manusia dengan Allah. Jadi, berdoa dalam nama Yesus bukan berarti membubuhi kalimat "dalam nama Yesus'" pada doa kita, dengan
mengira bahwa doa kita menjadi berkhasiat and bermukjizat. Kata-kata
"dalam nama Yesus'" tidak mengandung khasiat atau kuasa apa pun, sebab kuasa untuk mengabulkan doa tidak terletak pada pengucapan kata-kata ""dalam nama Yesus": melainkan terletak pada diri Yesus sendiri, dalam pribadi Yesus ..... sekali dalam pribadi Yesus, satu pribadi diantara dua pribadi lainnya yang sehakikat dengan Allah. Tidak ada kalimat atau mantera yang dapat menjadikan doa kita lebih berkhasiat and bermukjizat. Dalam doa kita tidak ada mantera, dan memang tidak perlu ada.
(08082026)(TUS)













Sudut Pandang Matius 14:22-33, 1 Raja-Raja 19:1-18,Roma 10:5-15 , Iman tanpa keberanian, iman yang tak melangkah

Sudut Pandang Matius 14:22-33, 1 Raja-Raja 19:1-18,Roma 10:5-15 , Iman tanpa keberanian, iman yang tak melangkah 

PENGANTAR 
Minggu 09 Agustus 2026. Ketika, Petrus tenggelam bukan saatnya bagi Yesus untuk mengajari Petrus berenang, dan sebagai nelayan Petrus tentunya bisa berenang, yang dilakukan Yesus adalah mengulur kan tangan, ini respon bermartabat karena kenyataan di depan mata Petrus tenggelam walaupun Petrus bisa berenang. Ketiga teks leksionari ini sama-sama bergerak dari krisis menuju pemulihan, tetapi dengan aksen yang berbeda: Matius menekankan ketakutan murid dan keberanian Petrus, 1 Raja-raja menekankan kelelahan Elia dan perjumpaan Allah yang tidak spektakuler, sedangkan Roma 10 menekankan iman yang harus menjadi pemberitaan.
Karena itu, asalkan keberanian dipahami bukan sebagai nekat, melainkan respons taat terhadap Allah di tengah ancaman, tantangan, ketidakpastian, dan ketidakadilan. 
PEMAHAMAN 
Matius 14:22-33
Secara sastra, perikop ini dibangun sebagai narasi teofani: Yesus memerintah murid menyeberang, naik ke gunung untuk berdoa, lalu datang di atas air pada “malam”, yaitu saat paling gelap dan paling rentan, ketiadaan Allah, danau adalah lambang kekacauan bagi tradisi Yahudi. Laut/danau adalah hal yang tidak diketahui, masih misteri bagi tradisi Yahudi, bahkan untuk profesi nelayan. Dalam tradisi budaya Yahudi, laut/danau sering dipahami sebagai ruang chaos atau kekuatan yang mengancam, sehingga tindakan Yesus berjalan di atas air menegaskan otoritas ilahi atas kekacauan. Kata-kata kunci seperti “tenanglah”, “ini Aku”, “jangan takut”, dan seruan Petrus “Tuhan, selamatkanlah aku” menunjukkan dinamika iman yang bergerak dari pengakuan menuju kegentaran dan kembali ditolong. Aneh, Petrus itu nelayan ..... namanya nelayan itu pasti bisa berenang, kenapa kita air menerpa kemampuan berenangnya hilang?
Petrus tidak gagal karena ia kurang informasi atau tidak mampu berenang, tetapi karena ia membiarkan angin dan ombak menjadi pusat perhatian, enggak nyadar bahwa dirinya bisa berenang; situasi kondisi dalam ancaman, tantangan dan masalah bisa menghilangkan keberanian, iman tanpa keberanian membuat Petrus lupa akan kemampuan diri dan tenggelam, shg imsnntidak berhenti pada percaya Tuhan tetapi harus melangkah dalam mempercayakan diri pada Tuhan, mempercayakan diri pada Tuhan membuat kita berani melangkah dan tidak lupa akan anugerah kemampuan diri kita, ini penting untuk  iman yang memerlukan keberanian untuk tetap bergerak walau situasi tidak ramah. 

1 Raja-raja 19:9-18
Perikop Elia sangat kuat secara psikologis dan naratif: setelah kemenangan besar di Karmel, Elia justru masuk ke gua di Horeb dalam kondisi lelah, takut, dan merasa sendirian. 
Secara budaya-teologis, Horeb menggemakan Sinai, sehingga pengalaman Elia bukan sekadar pelarian pribadi, melainkan perjumpaan ulang dengan Allah perjanjian dan panggilan profetik. 
Yang penting, Allah tidak hadir dalam badai besar, gempa, atau api, tetapi dalam “suara angin sepoi-sepoi basa”/bunyi yang halus; ini mengoreksi ekspektasi religius yang hanya mencari Allah di peristiwa spektakuler. Mempercayakan diri pada Allah, membuat Elia sadar Allah bisa hadir dalam hal apapun termasuk pada hal yang bukan spektakuler, menimbulkan pulihnya keberanian Elia untuk menggemakan kembali swara kenabian. Elia belajar bahwa kesetiaan bukan hanya berani melawan Baal, tetapi juga berani mendengar, pulih, dan menerima penugasan baru; iman tanpa ketahanan batin dan keberanian akan mudah berubah menjadi keputusasaan. 

Roma 10:5-15
Roma 10 memakai rantai logika argumentatif Paulus untuk membedakan “kebenaran yang berasal dari hukum” dan “kebenaran yang berdasarkan iman,” lalu menegaskan kedekatan firman: “firman itu dekat kepadamu.” Secara retoris, Paulus menolak spiritualitas yang terlalu jauh dan elit; keselamatan justru menjadi dekat, di mulut dan di hati, lalu harus diwujudkan dalam pengakuan dan pemberitaan. Rantai logika atau jembatan nalar ayat 14-15 sangat penting: orang tidak akan berseru kepada Dia yang tidak mereka percaya; mereka tidak akan percaya kalau tidak mendengar; mereka tidak akan mendengar tanpa pemberita. Jadi iman di sini bersifat misioner dan publik, bukan hanya keyakinan internal; iman mendorong keberanian untuk bersaksi.
 
Sebagai satu gerak teologis dan rantai logika atau jembatan nalar: Allah hadir di tengah krisis, memanggil manusia untuk percaya, dan butuh keberanian lalu mengutus mereka untuk bertindak. Matius menampilkan keberanian yang diuji oleh badai, tak hanya iman,  1 Raja-raja menampilkan keberanian yang dipulihkan oleh kelembutan Allah, cara yg tanpa mukjizat spektakuler, Roma menampilkan keberanian memberitakan Injil, untuk memberitakan kabar baik, tidak hanya iman, iman butuh keberanian untuk memperdengarkan sabda Allah. Karena itu iman adalah dasar, percaya harus melangkah ke mempercayakan diri, tetapi keberanian adalah bentuk nyatanya ketika Allah memanggil kita melangkah, mendengar, menuntut damai, dan memberitakan Injil, iman bukan pelarian dari realitas, melainkan keberanian menghadapi realitas bersama Allah. Allah sering hadir bukan lewat sensasi, tetapi lewat firman yang meneguhkan, kehadiran yang lembut tidak spektakuler, dan panggilan yang menuntut kesetiaan, gereja dipanggil untuk menghubungkan kesalehan dengan keadilan sosial, Roma 10 menegaskan bahwa pewartaan harus berani, karena iman yang tidak disampaikan tidak akan didengar dan tidak akan menjadi kabar keselamatan bagi sesama, teks-teks ini sangat tajam bila diarahkan pada kondisi bangsa yang terluka oleh korupsi dan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Matius 14 menegur gereja agar tidak tenggelam dalam rasa takut kolektif, melainkan tetap berani berseru kepada Tuhan dan berjalan di atas “air” ketidakpastian dengan integritas. 1 Raja-raja 19 mengingatkan bahwa nabi pun bisa lelah, tetapi Allah memulihkan keberanian untuk tugas profetik baru; gereja juga harus dipulihkan supaya berani bersuara bagi yang tertindas. Roma 10 menutup dengan panggilan untuk mengutus pemberita; dalam konteks kebangsaan, itu berarti gereja tidak boleh diam terhadap korupsi, manipulasi, dan kebijakan ngawur, tetapi harus menjadi suara kenabian yang membela kehidupan rakyat.  Rujukan tulisan dari penulis akademik seperti R. T. France, Ulrich Luz, Walter Brueggemann, James L. Mays, Douglas Moo, atau C. E. B. Cranfield. 
(05082026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 14:22-33 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 14:22-33 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻

PENGANTAR 
Minggu 09 Agustus 2026, Ketika, Petrus tenggelam bukan saatnya bagi Yesus untuk mengajari  Petrus berenang, dan sebagai nelayan Petrus tentunya bisa berenang, yang dilakukan Yesus adalah mengulur kan tangan, ini respon bermartabat, karena kenyataan didepan mata Yesus, Petrus tenggelam walaupun bisa berenang. Banyak orang Kristen dewasa memahami kisah di Alkitab sama dengan pemahaman mereka saat masih kanak-kanak. Contoh kisah Natal, Mereka mencerap kisah Natal itu hanya satu versi: Yesus lahir di kandang dan didatangi gembala-gembala dan orang-orang Majus dalam satu latar. Padahal kisah itu pemerkosaan penggabungan dua kisah Natal yang berbeda dari Injil Lukas dan Matius. Kalau mereka cermat membaca Alkitab, menurut Injil Lukas rumah Yusuf di Nasaret dan Yesus lahir di “kandang” (apa pun sebutannya) di Betlehem, sedang menurut Injil Matius rumah Yusuf di Betlehem dan Yesus lahir di rumah. Suasana kelahiran Yesus damai menurut Injil Lukas, sedang menurut Injil Matius penuh teror sehingga Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir. Kisah Natal kedua Injil itu tidak dapat dan tidak boleh digabungkan, karena keduanya mengusung teologi yang berbeda. Penggabungan malah menghilangkan pesan teologinya, bahkan menurunkan harkat kisah itu menjadi dongeng biasa.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesebelas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 14:22-33 yang didahului dengan 1Raja-Raja 19:9-18, Mazmur 85:8-13, dan Roma 10:5-15.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 14:22-33, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳. Bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian ulasan:
🛑 Matius 14:22-23 Yesus di gunung
🛑 Matius 14:24-27 Yesus berjalan di atas air
🛑 Matius 14:28-32 Petrus berjalan di atas air
🛑 Matius 14:33 Pengakuan

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗶 𝗴𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 (Mat. 14:22-23)

Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. (Mat. 14:22, TB II 2023) 

Bacaan Injil Minggu ini merupakan episode berikutnya dari episode bacaan Injil Minggu lalu tentang 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Hal itu ditunjukkan dengan frase pembuka ayat 22 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶.

Kata 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘴𝘢𝘬 diterjemahkan dari o𝘯𝘢𝘯𝘬𝘢𝘴𝘦𝘯, yang berarti literal memaksa (bdk. Luk. 14:23 “ … 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 orang-orang yang ada di situ, …”). Yesus memaksa para murid ke mana? Naik ke perahu untuk pergi lebih dahulu ke seberang. Mungkin maksudnya ke sebelah timur Danau Galilea (bdk. Mat. 8:18). Dalam pada itu Yesus juga membubarkan (𝘢𝘱𝘰𝘭𝘺𝘴o) orang banyak.

Yesus memaksa para murid meninggalkan-Nya dan membubarkan khalayak ditafsir bahwa khalayak begitu antusias untuk segera mengangkat Yesus menjadi raja mereka. Tafsir ini spekulatif karena teks sama sekali tidak meninggalkan jejak untuk menafsir seperti itu. Ayat selanjutnya justru menjelaskan bukan itu alasan Yesus.

Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. (Mat. 14:23, TB II 2023)

Jadi, alasan Yesus memaksa para murid pergi dan membubarkan khalayak adalah hendak menyingkir, menyendiri. Tujuan sejak semula Yesus pergi ke tempat terpencil karena peristiwa pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes (lih. Mat. 14:1-13a).

LAI menerjemahkan 𝘰𝘳𝘰𝘴 menjadi 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 dalam frase 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 sebenarnya mengaburkan atau mengacaukan teologi yang diusung oleh pengarang Injil Matius. Kata 𝘰𝘳𝘰𝘴 seharusnya diterjemahkan menjadi 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Sebagai pembanding NRSV, KJV, NAS, NIV menerjemahkan oros menjadi 𝘮𝘰𝘶𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯. 

Istilah 𝘰𝘳𝘰𝘴 atau gunung amat penting bagi penulis Injil Matius untuk menyampaikan teologinya yang khas. Pendapat ini diperkuat dengan 𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 versi Injil Lukas yang disampaikan oleh Yesus bukan di gunung, melainkan di tempat datar (lih. Luk. 6:17), karena teologi Lukas berbeda dari Matius. Matius mengusung teologinya bahwa Yesus adalah Musa yang baru. Musa menerima firman Allah (10 Perintah Allah) di gunung, sedang Yesus memberi perintah atau pengajaran atau firman di gunung dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (lih. Mat. 5 – 7). Musa berdoa pergi ke gunung, Yesus juga berdoa pergi ke gunung seperti dalam ayat 23 di atas. Gunung merupakan tempat manifestasi Allah, tempat perjumpaan dengan Allah (Kel. 19:20; 1Raj. 19). 

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗶𝗿 (Mat. 14:24-27)

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “𝘐𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Yesus segera berkata kepada mereka, “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩! 𝘐𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!” (Mat. 14:24-27, TB II 2023)

𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘭 diterjemahkan dari 𝘴𝘵𝘢𝘥𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘱𝘰𝘭𝘭𝘰𝘶𝘴 yang berarti literal banyak stadia; 1 stadia setara lebih kurang 185 m. Tampaknya LAI berkesulitan mencari padanan stadia sehingga mengambil satuan mil yang biasa untuk mengukur jarak tempuh di laut. Data geografis masa kini lebar Danau Galilea mencapai 13 km. Saking lebarnya Danau Galilea disebut juga Laut Tiberias.

Ada perbedaan antara Matius dan Markus mengenai perjalanan para murid. Matius menulis 𝙋𝙚𝙧𝙖𝙝𝙪 … 𝘥𝘪𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘭 … , sedang Markus menulis ... 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘺𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘭 … (lih. Mrk. 6:48). Subjek dalam Injil Matius adalah perahu, sedang dalam Injil Markus subjeknya adalah mereka (para murid). Tampaknya Matius memetaforkan Gereja atau jemaat Matius yang sedang gonjang-ganjing karena ditekan oleh lawan dengan perahu yang diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal.

𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 diterjemahkan dari 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘳𝘵e 𝘥𝘦 𝘱𝘩𝘺𝘭𝘢𝘬o 𝘵o𝘴 𝘯𝘺𝘬𝘵𝘰𝘴 yang berarti literal 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. Pada zaman itu ada pembagian empat jam jaga malam. Jam keempat sekitar pukul 3 – 6 pada waktu masa kini. 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 … 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 dalam teks sumber penerjemahan tidak menyebut air, melainkan laut (𝘵𝘩𝘢𝘭𝘢𝘴𝘴𝘢𝘯). Yesus tidak melayang-layang di atas permukaan laut, tetapi memang berjalan. Bangsa Israel memandang laut sebagai kekuatan yang selalu mengancam manusia. Di sini Matius tampaknya hendak menampilkan bahwa Allah saja yang dapat menguasai atau mengalahkannya. Kekuatan itu di bawah kaki Yesus.

Para murid melihat Yesus berjalan di atas air menjadi ketakutan dan mengira itu hantu. Hanya di ayat 26 ini dan Markus 6:49 yang menggunakan kata hantu (𝘗𝘩𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴𝘮𝘢). Yesus menentramkan mereka, “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!”, yang diterjemahkan dari 𝘛𝘩𝘢𝘳𝘴𝘦𝘪𝘵𝘦, kata yang sama diucapkan Yesus kepada orang lumpuh (Mat. 9:2) dan perempuan yang menderita sakit pendarahan (Mat. 9:22). 

Sesudah itu Yesus mengenalkan diri, “𝘐𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶.” Bahasa aslinya adalah 𝘦𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪 yang berarti literal 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢. Rumusan ini mengingatkan kita pada jatidiri Yesus di Injil Yohanes. Sekadar informasi Injil Yohanes ditulis jauh sesudah penulisan Injil Matius. Selain itu rumusan 𝘦𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪 merupakan perkenalan diri Allah kepada Musa dalam kitab Keluaran 3:14 (juga Ul. 32:39) versi Septuaginta. Ini menguatkan bahwa Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru, bahkan lebih besar daripada Musa.

𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗶𝗿 (Mat. 14:28-32)

Petrus berkata kepada-Nya, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳.” Kata Yesus, “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air dan mendatangi Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mula tenggelam, lalu berteriak, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “𝘏𝘢𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨?” Lalu keduanya naik ke perahu dan angin pun reda. (Mat. 14:28-33)

Kisah Petrus berjalan di atas air ini adalah satu dari tiga cerita khas Injil Matius tentang Petrus. Tidak ada di kitab Injil lainnya. Dua cerita khas lainnya adalah 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 (Mat. 16:16-19) dan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Mat. 17:24-27). 

Dalam bacaan ini untuk pertama kali Matius menampilkan Petrus sebagai jurubicara para murid. Sapaan Yesus dengan 𝘦𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪 ditanggapi Petrus dengan 𝘦𝘪 𝘴𝘶 𝘦𝘪, yang berarti literal 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢. Untuk memastikan jatidiri-Nya Petrus meminta Yesus menyuruhnya berjalan di atas air.

Petrus percaya pada perintah Yesus “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” dan ia berjalan di atas air sampai (ke tempat) Yesus (sesuai dengan bahasa aslinya 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘰𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘦𝘱𝘢𝘵o𝘴𝘦𝘯 𝘦𝘱𝘪 𝘩𝘺𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘪 e𝘭𝘵𝘩𝘦𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴 𝘵𝘰𝘯 𝘐e𝘴𝘰𝘶𝘯). Petrus tidak berjalan beberapa langkah seperti yang kerap kita dengar di khotbah, tetapi ia memang berhasil sampai ke tempat Yesus. Merasa tiupan angin kencang, kambuhlah rasa takut Petrus akan kuasa alam maut dan mula tenggelam. Petrus berteriak, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶!” Teriakan ini merupakan model doa yang diambil dari Mazmur 69:2, 14-15.

Yesus segera menolong Petrus. Sesudah itu Yesus mendamprat Petrus, karena ia ternyata kurang mengandalkan Yesus. Dampratan Yesus berulang kali digunakan dalam Injil Matius (lih. Mat. 6:30; 8:26; 16:8; 17:20). Iman ada, namun tidak memadai karena tidak ada keberanian, seperti benih yang jatuh di tanah berbatu. Perbuatan Yesus di sini adalah 𝘴𝘢𝘧𝘦𝘵𝘺 𝘧𝘪𝘳𝘴𝘵, mengutamakan keselamatan orang tak berdaya. Sesudah menolong, baru kemudian Yesus menegur dan naik ke perahu. Angin pun reda. Bandingkan dengan kehidupan masa kini. Orang senang melihat orang susah. Bukan menolong, malah menggunjing, repot lagi menegur tanpa menolong. Senang lihat orang susah, susah lihat orang senang.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 (Mat. 14:33)

Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” (Mat. 14:33, TB II 2023)

Ada perbedaan ayat penutup kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 di Injil Markus. Mari kita bandingkan.

Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti tentang roti itu, dan hati mereka tetap degil. (Mrk. 6:51b-52, TB II 2023)

Dalam Injil Markus mereka (para murid) sangat tercengang, karena pada siang sebelumnya Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan. Hati mereka tetap degil, meskipun mereka juga melihat Yesus berjalan di atas air dan angin sakal reda.

Penginjil Matius membalikkan cerita Markus dengan pengakuan semua murid terhadap Yesus, yang mendahului 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 di Matius 16:16 dan kepala pasukan Romawi di Matius 27:55. Menyembah penerjemahan dari 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯o𝘴𝘢𝘯, kata yang dipilih oleh Matius sebagai ungkapan menghormati Allah. Kata ini digunakan 13 kali oleh Matius (lih. Mat. 2:2; 2:11; 4:10; dll.)

Bacaan Minggu ini mengajar kita bahwa memiliki iman saja tidak cukup. Iman menuntut keberanian. Berani menghadapi tantangan besar, berani belajar, berani menambah pengetahuan, termasuk berani mengubah pemahaman iman kekanak-kanakan menjadi iman dewasa.

(13082023)(TUS)

Selasa, 04 Agustus 2026

Sudut Pandang Alquran dan Alkitab di saat kedukaan

Sudut Pandang Alquran dan Alkitab di saat kedukaan

PENGANTAR 
Terkadang, kita harus membawakan renungan atau khotbah di kedukaan, dimana ada anak atau orang tuanya yang beragama Islam. Ada beberapa ayat kedukaan di Alkitab yg seiring sejalan dg ayat di Alquran yg mungkin bisa digunakan, walaupun tentunya ini bukan keharusan hanya pengetahuan saja, tokh .... kita tetap hanya memakai dasa Alkitab tetapi dengan renungan yang meeupakan penguatan dan penghiburan yg netral bagi keluarga duka itu tentunya sudah cukup sebetulnya.
PEMAHAMAN 
Iya, konsep "kedukaan" di Alquran dan Alkitab banyak yang sejajar. Kisah Ayub/Ayyub memang jadi titik temu paling kuat, karena baik Islam maupun Kristen-Yahudi sama-sama meneladaninya sebagai simbol sabar.

Ini beberapa konsep yang sama + ayatnya:

 "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil" - Pasrah pada ketetapan Allah
Ini inti dari Ayub 1:21

Alkitab - Ayub 1:21
Ibrani:
`וַיֹּאמֶר עָרֹם יָצָאתִי מִבֶּטֶן אִמִּי וְעָרֹם אָשׁוּב שָׁמָּה יְהוָה נָתַן וַיהוָה לָקָח יְהִי שֵׁם יְהוָה מְבֹרָךְ`
Transliterasi: _Va-yomer: 'Arom yatsti mi-beten immi ve-'arom ashuv shamah. Adonai natan va-Adonai lakach; yehi shem Adonai mevorakh'_
Artinya: _"Katanya: 'Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!'"_

Yunani Septuaginta:
`γυμνὸς ἐξῆλθον ἐκ κοιλίας τῆς μητρός μου, γυμνὸς καὶ ἀπελεύσομαι ἐκεῖ· ὁ Κύριος ἔδωκεν, ὁ Κύριος ἀφείλετο· ὡς τῷ Κυρίῳ ἔδοξε, οὕτως ἐγένετο· εἴη τὸ ὄνομα Κυρίου εὐλογημένον.`

Alquran - konsep yang sama
1. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
   Arab: `الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ`
   Al-Baqarah 2:156
   Artinya: _"yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' - Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali"_
   Ini doa yang diajarkan Nabi saat tertimpa musibah termasuk kematian, bertumpu pada kisah nabi ayyub

2. Segala sesuatu milik Allah
   Arab: `لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ`
   Al-Baqarah 2:284
   Maknanya sama: yang memberi dan mengambil adalah Allah. 

3. "Aku lahir telanjang, mati telanjang" - Mengingatkan kefanaan dunia
Alkitab: Ayub 1:21 di atas: _'Arom yatsti... ve-'arom ashuv shamah'_ - "Telanjang aku keluar... telanjang aku kembali"

Alquran - konsep kefanaan
1. Surah Ali Imran 3:185
   Arab: `كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ`
   "Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati"
2. Surah Al-Qasas 28:88
   Arab: `كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ`
   "Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya"

Maknanya: kita datang kosong, kembali kosong. Hanya amal yang dibawa.

3. Mengadukan kesedihan hanya kepada Allah
Ini paralel dengan Ayub yang berteriak kepada Tuhan dalam penderitaannya.

Alquran - Nabi Yaqub AS
Arab: `قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ`
Surah Yusuf 12:86
Artinya: _"Dia berkata: 'Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku'"_
Penjelasannya: Nabi Ayyub tidak mengeluh ke manusia, tapi ke Allah. Itu bentuk ibadah.

Beberapa ayat yang lain :

Pada Alkitab - Mazmur 62:8
Ibrani: `בִּטְחוּ בוֹ בְכָל־עֵת עָם שִׁפְכוּ לְפָנָיו לְבַבְכֶם אֱלֹהִים מַחֲסֶה־לָּנוּ סֶלָה`
"Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah adalah tempat perlindungan kita"

"Jangan takut, jangan bersedih" - Penghiburan malaikat
Alquran - Surah Fussilat 41:30
Arab: `إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ`
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu'"

Alkitab - Yesaya 41:10
Ibrani: `אַל־תִּירָא כִּי עִמָּךְ־אָנִי אַל־תִּשְׁתָּע כִּי־אֲנִי אֱלֹהֶיךָ`
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu"

Pujian setelah kesedihan dihapus
Alquran - Surah Fatir 35:34
Arab: `وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ`
Artinya: "Dan mereka berkata: 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri'"
Tafsirnya: ini ucapan penghuni surga ketika Allah menghapus kesedihan dunia 

Alkitab - Wahyu 21:4
Yunani: `καὶ ἐξαλείψει πᾶν δάκρυον ἐκ τῶν ὀφθαλμῶν αὐτῶν, καὶ ὁ θάνατος οὐκ ἔσται ἔτι`
"Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi"

Sabar seperti Nabi Ayyub
Alquran dan Alkitab sama-sama meneladani Ayub.
Alquran - Surah Sad 38:44 Allah memuji kesabaran Ayyub 

Alkitab - Yakobus 5:11
Yunani: `ἰδοὺ μακαρίζομεν τοὺς ὑπομείναντας· τὴν ὑπομονὴν Ἰὼβ ἠκούσατε`
"Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub"

Konsep Alquran Alkitab

Pasrah: Allah memberi & mengambil Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un - Al-Baqarah 2:156, Ayub 1:21 Adonai natan va-Adonai lakach

Kefanaan manusia Kullu nafsin dzaiqotul maut - Ali Imran 3:185, Ayub 1:21  'arom yatsti... 'arom ashuv

Mengadu ke Allah saja,  Innama asyku batti wa huzni ilallah Yusuf 12:86, Mazmur 62:8  curahkan hatimu di hadapan-Nya

Penghiburan: jangan takut & sedih La takhofu wa la tahzanu - Fussilat 41:30, Yesaya 41:10 - Al tiira ki immakh ani

Kedua kitab mengajarkan: boleh menangis dan sedih - para nabi juga sedih- tapi jangan putus asa. Sedih disalurkan ke Allah, dan di ujungnya ada janji: kesedihan akan dihapus.

(05082026)(TUS)

Minggu, 02 Agustus 2026

𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝗚𝗞𝗜: 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗣𝗲𝗿𝘁𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘼𝙜𝙪𝙨𝙩𝙪𝙨𝙖𝙣?

GKI secara tradisi menajuk 𝗔𝗴𝘂𝘀𝘁𝘂𝘀 sebagai 𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶. Dalam pada itu GKI Kebayoran Baru menentukan tema tahun 2026: 𝘋𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘏𝘢𝘵𝘪. Sepanjang bulan Agustus liturgi secara khusus bercorak (bukan bernuansa!) budaya Nusantara. Apakah ini bentuk kontekstualisasi?

Kontekstualisasi bukanlah arkaisme dan modernisme. Apabila tradisi dibangkitkan lagi, maka itu bukan dalam rangka membuat orang menjadi tradisional, tetapi dalam rangka pengakaran, dalam rangka martabat atau harga diri manusia. Hal yang sama berlaku bagi modernitas. Hal ini bukannya dalam rangka meniru orang Barat atau liberalisasi begitu saja, melainkan dalam rangka martabat atau harga diri manusia.

Satu hal yang tidak dapat kita tolak dan mungkiri (bukan pungkiri!) sebagai kenyataan sejarah ialah Gereja hadir di Indonesia lewat misionaris-misionaris dari Barat. Usaha kontekstualisasi bukan merupakan penolakan masa lalu. Yang mesti kita tolak ialah menjadikan masa lalu itu sebagai ukuran mutlak kebenaran.

Secara sederhana kontekstualisasi dimengerti sebagai usaha menghayati harga diri dan jatidiri sebagai orang Kristen Indonesia yang benar-benar Kristen dan sekaligus benar-benar orang Indonesia.

Dalam memandang budaya pada umumnya pendeta menggunakan rujukan buku “klasik” 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘊𝘶𝘭𝘵𝘶𝘳𝘦. Sangat bolehjadi pendeta itu tidak merujuk langsung buku karangan Richard Niebuhr itu, tetapi mendapat pengajaran dari seniornya yang merujuk buku tersebut.

Secara ringkas Niebuhr mengelompokkan sikap orang Kristen terhadap budaya:
(1) sikap radikal,
(2) sikap akomodatif,
(3) sikap sintetik,
(4) sikap dualistik, dan
(5) sikap transformatif.

Namun, proses pengambilan keputusan oleh orang-orang Kristen dalam menanggapi budaya bukanlah sesederhana yang diperikan oleh Niebuhr. Niebuhr sendiri tidak menjelaskan siapa Kristus. Baginya Kristus sudah final. Dapat saja Kristus dipahami sebagai hasil perjumpaan budaya Yahudi, Grika, dan Latin. Dengan demikian yang diuraikan Niebuhr pada dasarnya adalah budaya berjumpa dengan budaya.

Di atas telah disampaikan bahwa teologi kontekstual pada hakikatnya hendak menolong orang Kristen menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia. Kontekstual berarti juga melibatkan orang Kristen dalam bersalingtindak dengan sosio-budaya. Hal ini bukan dalam rangka asketisme ataupun sinkretisme, melainkan pengakaran. Akan tetapi jika pengakaran ini tidak mengakibatkan pengangkatan jatidiri dan martabat manusia, maka hal itu juga tidak dapat disebut teologi kontekstual.

Misalnya, debus dan kuda lumping. Barangkali kesenian ini menarik perhatian wisatawan asing, tetapi belum tentu bermakna bagi rakyat. Kesenian seperti itu tidak dengan sendirinya mendorong rakyat memerjuangkan hak-haknya. Negara kita sangat kaya akan aneka ragam kebudayaan. Sah-sah saja apabila kita mau membangkitkan kekayaan yang ada pada kita sendiri. Usaha ini bukan dalam rangka menolak masa lalu kita, melainkan menjaga keseimbangan agar warisan Barat tidak terus-menerus merajai kebudayaan kita.

Namun, menjaga keseimbangan juga tidak berarti serta-merta menyulih (𝘴𝘶𝘣𝘴𝘵𝘪𝘵𝘶𝘵𝘦) warisan Barat dengan hasil budaya lokal. Misalnya, demi dianggap lebih afdol, digunakanlah alat musik tradisional seperti gamelan dan dikenakanlah busana adat oleh pendeta beserta para penatalayan. Selama penyulihan ini berhasil mengangkat jatidiri (𝘪𝘯𝘯𝘦𝘳-𝘴𝘦𝘭𝘧) dan martabat orang Kristen Indonesia, maka hal itu patut dihargai. Akan tetapi apabila semua itu hanya dimaksudkan agar kelihatan lebih 𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘯𝘪, sepatutnya jangan diteruskan. Gereja tidak dipanggil untuk menjadi panggung pertunjukan.

Tradisi GKI Kebayoran Baru ini tentu dimaksudkan sebagai bentuk kontekstualisasi yang afirmatif sehingga usaha menghayati harga diri dan jatidiri sebagai orang Kristen Indonesia yang benar-benar Kristen dan sekaligus benar-benar orang Indonesia menjadi sebuah upaya yang terus-menerus.

Sayangnya tema-tema yang diangkat oleh GKI Kebayoran Baru kerap tidak berangkat dari teks Alkitab. Tema justru menduduki teks. Padahal Bulan Seni dan Budaya Gerejawi merupakan kesempatan emas untuk memerjumpakan Kristus (Injil) dengan seni dan budaya Nusantara, bukan seni dan budaya Nusantara yang membungkus Kristus.

Gamelan bukan masalah. Batik bukan masalah. Busana adat pun bukan masalah. Persoalannya sederhana: siapakah yang menjadi tuan di dalam liturgi? Apakah Injil menerangi budaya, ataukah budaya sedang meminjam mimbar Gereja untuk menerangi dirinya sendiri?

Apabila yang terjadi adalah tema mendahului teks, budaya mendahului Injil, dan liturgi berubah menjadi etalase kebudayaan, maka 𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗲𝗸𝘀𝘁𝘂𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶. Ia berubah menjadi 𝗽𝗲𝗿𝘁𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘼𝙜𝙪𝙨𝙩𝙪𝙨𝙖𝙣: meriah, berwarna, menghibur, tetapi kehilangan daya injilinya.

Liturgi tidak pernah dipanggil untuk memamerkan kebudayaan. Liturgi dipanggil untuk menghadirkan Kristus. Dari perjumpaan dengan Kristus itulah kebudayaan dimuliakan, manusia diangkat martabatnya, dan Gereja menemukan jatidirinya sebagai Gereja di Indonesia.

Kalau Injil tidak lagi menjadi pusat, maka yang tersisa hanyalah panggung.


Sabtu, 01 Agustus 2026

Sudut Pandang persembahan 10% tidak dibatalkan PB

Sudut Pandang persembahan 10% tidak dibatalkan PB

PENGANTAR
Tulisan ini atas permintaan peserta seminar yg ingin dokumentasi dari jawaban lisan saya. Pada saat, menjadi pembicara tentang liturgi, dan tentang penyembahan serta tentang persembahan, ada yang mempunyai argumen tentang persepuluhan seperti di bawah ini :

Dalil yang paling mendasar dari anti persepuluhan bahwa dalam Perjanjian Baru (PB) tidak ada perintah baru atau perintah eksplisit tentang persepuluhan.

Ketika kita mengcounter dengan
1 Korintus 9:13, 
bahwa analogi Paulus dlm ayat ini merujuk pada Bilangan 18 dan Ulangan 18, yg termasuk persepuluhan, 
masih saja dianggap tidak cukup eksplisit.

▶️Mari kita belajar melihat Alkitab dari perspektif Alkitab itu sendiri.
Ada prinsip² moral dalam Perjanjian Lama(PL), tidak lagi menjadi perintah baru atau perintah eksplisit dalam PB :

🔸️Menahan upah, 
Imamat 19:13, Ulangan 24:14-15.
🔹️Neraca yang curang,
Imamat 19:35-36.
🔸️Larangan inses,
Imamat 18:6-18.
🔹️Memindah batas tanah,
Ulangan 19:14,
dll,,,!

Prinsip² ini tidak lagi diulang atau ada perintah baru secara eksplisit dalam PB, tetapi tetap aktual penerapannya dalam PB.

✅️PERTANYAANNYA :
Mengapa prinsip² moral di atas☝️ tanpa perintah baru dlm PB masih terus berlaku, tetapi PERSEPULUHAN dlm PB harus menunggu perintah eksplisit baru bisa diterapkan ?

▶️SIAPA YANG MEMBATALKAN...?
Matius 23:23, 
Yesus mengkonfirmasi bahwa persepuluhan dan belas kasihan adalah dua hal yang harus terus dilakukan, 
- yang satu harus dilakukan
- yang lain jangan diabaikan.

✅️Apakah pernyataan Yesus ini pernah dibatalkan ? oleh siapa ?
PEMAHAMAN
Saat itu, jawaban saya : Oke, kita bedah argumen pro-persepuluhan di atas pakai metode eksegesis: bahasa, sastra, budaya, dan konteks teks. 

Intinya: argumen itu lemah karena melakukan 3 kesalahan utama = ekstrapolasi, anakhronisme, dan salah baca genre.

1. KELEMAHAN ARGUMEN "PRINSIP MORAL PL TANPA PERINTAH BARU PB MASIH BERLAKU"

Argumen: "Im 19:13, Ul 19:14 dll tidak diulang di PB tapi masih berlaku. Kenapa persepuluhan tidak?"

Prinsip Moral PL yg disebut Persepuluhan PL, Kategori Hukum, Hukum Moral & Keadilan Sosial Hukum Seremonial + Sipil + Pajak Teokrasi, adalah hukum Israel kuno sampai masa Yudaisme. Dasar PB Dikonfirmasi ulang oleh Yesus & Rasul.
Im 19:13 → Yak 5:4.
Ul 19:14 → Ams 22:28 dikutip dlm prinsip.
Im 18 → 1 Kor 5:1, Ef 5:3 Tidak pernah diperintahkan ulang ke Gereja. Sifat Universal, lintas budaya Khusus Israel Teokrasi, terkait Bait Allah, Lewi, tanah Kanaan

1. Kategori beda. "Jangan curang timbangan" = hukum moral kekal karena bersumber dari karakter Allah yg adil. "Persepuluhan" = hukum pajak untuk menopang sistem Lewi + Bait Allah + hari raya + orang miskin di Israel teokrasi Ul 14:22-29. Itu hukum sipil/seremonial, bukan moral. 
2. PB memang mengulang prinsip moral. 9 dari 10 Hukum Taurat diulang di PB. Tapi persepuluhan tidak. Keheningan PB di sini justru teologis, bukan kelalaian.
3. Fallasi "diam = setuju". Tidak semua yg tidak diulang = otomatis berlaku. Contoh: sunat, korban bakaran, jubah imam, tahun sabat. Itu juga PL tapi PB eksplisit membatalkannya.

Jadi membandingkan "jangan curang" dengan "persepuluhan" itu apple to orange, gak sebanding.

2. KELEMAHAN PENGGUNAAN 1 KORINTUS 9:13-14

Argumen: "Paulus merujuk Bil 18 & Ul 18 = ada persepuluhan"

1 Kor 9:13-14: "Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu... Demikian juga Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu."

Masalahnya:
1. Ini analogi, bukan perintah. Paulus pakai pola "dari imam → dari penginjil". Dia tidak bilang "karena itu kamu wajib 10%". Dia baru saja bilang di ayat 12 & 18 bahwa dia TIDAK memakai haknya. Kalau ini perintah persepuluhan, Paulus melanggar perintahnya sendiri.
2. "Hidup dari Injil" ≠ 10%. Frasa yg dipakai Paulus persis sama dengan Yesus di Luk 10:7 "seorang pekerja patut mendapat upahnya". Itu prinsip upah, bukan tarif pajak. Di PL imam memang hidup dari persembahan, tapi juga dari korban, bagian rampasan, dll. Bukan cuma persepuluhan.
3. Konteks: Paulus sedang membela hak, bukan menetapkan hukum. Dan dia menolak hak itu demi Injil. Kalau maksudnya "wajib 10%", kenapa dia banggakan diri karena tidak mengambilnya?

Jadi 1 Kor 9 merujuk prinsip pemeliharaan pekerja, bukan mekanisme persepuluhan.

3. KELEMAHAN PENGGUNAAN MATIUS 23:23

Argumen: "Yesus bilang persepuluhan 'harus dilakukan' jadi masih berlaku"

Mat 23:23: "Celakalah kamu... yang membayar persepuluhan dari selasih, dill dan jintan, dan yang mengabaikan yang terpenting dalam hukum Taurat... yang satu harus dilakukan, dan yang lain jangan diabaikan."

Masalahnya:
1. Audiens & Waktu. Ini diucapkan Yesus SEBELUM salib, SEBELUM kebangkitan, SEBELUM Pentakosta. Saat itu Bait Allah masih berdiri, sistem Lewi masih jalan, dan Yesus + murid2 masih "di bawah Taurat" Gal 4:4. Yesus mengoreksi orang Farisi karena mereka taat hal kecil tapi abaikan keadilan. Dia tidak sedang menetapkan hukum untuk Gereja.
2. Objek persepuluhan. Yesus sebut "selasih, dill, jintan" = hasil ladang. Ini persepuluhan PL yg berupa hasil tanah, bukan uang/gaji. Kalau mau konsisten, gereja harus minta 10% panen, bukan 10% gaji.
3. Tidak ada perintah pengulangan pasca salib. Kisah Para Rasul sampai Wahyu mencatat perdebatan sengit soal sunat, makanan, hari raya. Tapi NOL perdebatan soal persepuluhan untuk gereja. Kalau ini penting, pasti jadi isu. 
4. Siapa yg membatalkan? Ibrani 7:5, 12. "Sebab, jika imamat berubah, dengan sendirinya hukum Taurat berubah juga". "Perubahan imamat" dari Lewi ke Melkisedek = perubahan sistem. Ibrani 7:8 bahkan bilang "di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup". Penulis Ibrani sengaja pakai past tense untuk sistem Lewi.

Jadi Mat 23:23 adalah konfirmasi Yesus atas Taurat yg masih berlaku saat itu, bukan mandat untuk gereja pasca salib.

4. MODEL PB UNTUK PEMBERIAN: BUKAN 10% PAKSA

PB tidak diam. Dia memberi model baru:

1. Prinsip hati: 2 Kor 9:7 "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan"
2. Prinsip proporsional: 1 Kor 16:2 "hendaklah kamu masing-masing... menyisihkan sesuatu dan menyimpan"
3. Prinsip kecukupan: Kis 2:44-45, 4:32-35. Tidak ada kata "10%". Ada "sesuai kebutuhan".

Persepuluhan PL itu pajak 10% + 10% + 10% = total ∼23%. Dan itu untuk negara teokrasi. Gereja PB adalah komunitas sukarela, bukan negara.

Argumen pro-persepuluhan di atas lemah karena:

1. Salah kategori: Menyamakan hukum moral dengan hukum sipil/seremonial Israel.
2. Anakhronisme: Memakai teks yg diucapkan "di bawah Taurat" untuk memerintah Gereja "di bawah kasih karunia".
3. Eksegesis selektif: Mengutip 1 Kor 9 & Mat 23 tapi mengabaikan Ibrani 7 dan keheningan total PB soal perintah 10% ke gereja.
4. Mengabaikan model PB: PB mengganti sistem pajak wajib dengan pemberian sukarela, rela, dan murah hati.

Jadi pertanyaannya bukan "siapa yg membatalkan persepuluhan?" 
Tapi "di mana PB pernah memerintahkannya untuk gereja?" Jawabannya: tidak ada.

Memberi tetap penting. Tapi dasarnya bukan hukum Taurat 10%, melainkan kasih, sukarela, dan pengelolaan yg bertanggung jawab.

KONTRA ARGUMEN: "KENAPA PERSEPULUHAN TIDAK WAJIB LAGI DI PB"

1. Kesalahan Kategori: Menyamakan Hukum Moral dengan Hukum Teokrasi Israel

Argumenmu menaruh "jangan curang timbangan" satu paket dengan "persepuluhan". Padahal di PL sendiri itu beda ranah.

"Jangan tahan upah", "jangan inses", "jangan pindah batas tanah" itu hukum moral yang bersumber dari kekudusan dan keadilan Allah. Sifatnya universal. Makanya walau PB tidak mengulang kata per kata, prinsipnya ditegaskan lagi. Contoh: Yakobus 5:4 mengutip Im 19:13. 1 Kor 5:1 menegakkan Im 18. Ef 4:28 menegakkan Ul 19:14.

Persepuluhan beda. Itu hukum pajak untuk menopang 1 sistem: Suku Lewi yang tidak dapat warisan tanah Bil 18:20-24, Bait Allah, hari raya, dan orang miskin di dalam negara teokrasi Israel Ul 14:22-29. 

Ada 3 jenis persepuluhan di PL. Bukan cuma 1x 10%. Total bisa 23% per tahun. Dan bentuknya hasil tanah + ternak, bukan uang gaji.

Jadi membandingkan "keadilan" dengan "pajak bait suci" itu lompat kategori. Sama seperti menyamakan "jangan membunuh" dengan "rayakan Paskah". Satu moral, satu seremonial-sipil.

2. Masalah Eksegesis 1 Korintus 9:13-14

"bukankah demikian juga Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu"

Ini bukan perintah persepuluhan. Ini analogi.

Cek konteks teks sastra: Paulus sedang membahas "hak rasul". Dari ayat 3-12 dia bilang dia punya hak untuk hidup dari Injil. Tapi ayat 15-18 dia banggakan diri karena TIDAK memakai hak itu. Kalau ayat 14 = perintah 10%, berarti Paulus sedang melanggar perintah Tuhan.

Kata kuncinya "hidup dari Injil" = prinsip upah pekerja Luk 10:7. Paulus tidak pernah menyebut angka 10%. Dia juga tidak pernah memerintahkan jemaat Korintus untuk menghitung 10% gaji lalu kasih ke dia. 

Yang dia kutip dari Bil 18 dan Ul 18 itu polanya: "pekerja di tempat kudus ditopang oleh tempat kudus". Pola, bukan tarif. Kalau mau konsisten dengan Bil 18, maka pendeta harus dapat bagian dari korban, kulit binatang, dan roti sajian juga. Bukan cuma 10%.

3. Masalah Konteks Matius 23:23

"yang satu harus dilakukan, dan yang lain jangan diabaikan"

Ini ayat favorit pro-persepuluhan. Tapi lihat 3 hal:

Pertama, kapan diucapkan. Ini khotbah Yesus kepada orang Farisi SEBELUM salib. Saat itu Bait Allah masih berdiri, imam Lewi masih melayani, dan Yesus berkata Dia datang "untuk menggenapi hukum Taurat" Mat 5:17. Wajar Dia suruh orang Farisi taat Taurat sampai tuntas. 

Kedua, kepada siapa?. Kepada orang Yahudi di bawah Taurat. Bukan kepada Gereja. Setelah kebangkitan, perintah Yesus ke murid bukan "tagih persepuluhan", tapi "jadikan semua bangsa murid-Ku" dan "hendaklah kamu saling mengasihi".

Ketiga, apa objeknya?. Yesus sebut "selasih, dill, dan jintan". Itu hasil kebun. Persepuluhan PL memang bukan uang. Kalau ayat ini jadi dasar, maka gereja harusnya minta 10% dari kebun dan ternak, bukan slip gaji.

Dan penting: tidak ada satupun surat rasul setelah Pentakosta yang mengulang perintah ini ke gereja. Padahal Kisah Para Rasul 15 membahas sunat. 1 Kor membahas makanan persembahan berhala. Roma 14 membahas hari raya. Isu persepuluhan? Sunyi. Kalau sepenting itu, pasti jadi kontroversi.

Lalu siapa yang "membatalkan"? Ibrani 7:12 menjawab: "Sebab, jika imamat berubah, dengan sendirinya hukum Taurat berubah juga." Sistem Lewi sudah diganti dengan Imamat Melkisedek yaitu Kristus. Ibrani 7:5 dan 7:8 sengaja pakai bentuk lampau untuk persepuluhan Lewi. Penulis Ibrani sedang menjelaskan: era itu sudah selesai.

4. Model PB untuk Pemberian: Mengganti Hukum dengan Kasih

PB tidak anti memberi. PB justru menaikkan standarnya. Tapi dasarnya diganti.

Bukan lagi "10% karena hukum", tapi: 
1. Kerelaan: 2 Kor 9:7 "jangan dengan sedih hati atau karena paksaan"
2. Proporsional: 1 Kor 16:2 "sesuai dengan berkat yang diterimanya"
3. Kemurahan: 2 Kor 8:2-3 jemaat Makedonia memberi "melebihi kemampuan"
4. Kebutuhan: Kis 2:44-45 "menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing"

Standar PB bisa jadi 5%, bisa 20%, bisa 100% seperti janda miskin. Tolok ukurnya hati, bukan kalkulator.

Argumen "tidak ada perintah baru jadi harus tetap berlaku" itu lemah karena:

1. Dia mengabaikan perbedaan genre hukum di PL. Tidak semua hukum PL dipindahkan ke PB.
2. Dia memaksa teks pra-salib Mat 23 untuk memerintah gereja pasca-salib.
3. Dia membaca 1 Kor 9 sebagai perintah tarif, padahal itu analogi prinsip.
4. Dia mengabaikan teologi Ibrani 7 tentang perubahan imamat dan sistem.

Jadi pertanyaan yang benar bukan "siapa membatalkan persepuluhan?" 
Tapi "di mana PB memerintahkannya untuk Gereja?" Jawabannya: tidak ada. Yang ada adalah panggilan memberi dengan sukarela, murah hati, dan teratur untuk pekerjaan Tuhan.

Memberi itu perintah. Besaran 10% itu bukan perintah.





Jumat, 31 Juli 2026

Sudut Pandang 5 Roti 2 Ikan dengan sejarah pada zamannya, Matius 14:13-21

Sudut Pandang 5 Roti 2 Ikan dengan sejarah pada zamannya, Matius 14 : 12 - 21

PENGANTAR

Menarik, kemaren Jumat di PPA kelompok LUKAS, karena ada pertanyaan kritis dari istri PF tamu di kelompok LUKAS. Menarik sekali, pertanyaannya, kritis,  APA SIH HUBUNGANNYA  5 ROTI 2 IKAN DENGAN TEMA BULAN KEBANGSAAAN, APA INI ADA HUBUNGANNYA DENGAN KASUS MBG YANG LAGI RAMAI? Membuat saya terinspirasi menulis kasus di Injil Matius ini dari sudut pandang sastra, sejarah dan arkeologi.

PEMAHAMAN 

Aneh banget, nih. Persoalan MBG, stunting, kog solusiny, ada di 2000 taun lalu, zaman Yesus, ditulis oleh penulis Injil Matius. Mau tau? Buruan safe tulisan ini yah, ini masuk Sabsing, Sabda Singkat, supaya ga ilang. Bacaan Injil, Alkitab minggu ini matius 14 : 13, sampe 21. Kisah legend dan disukai orang kristiani. Mujizat, Spektakuler, Yesus memberi makan 5.000 laki laki, Artinya, 10. 000, 15. 000, kalog termasuk perempuan dan anak-anak. Ini adalah realisasi dari  perumpamaan biji sesawi dari bab atau pasal sebelumnya, modal seadanya impact atau pengaruhnya gila, mukjizat, pecah buanget ini. Di balik kisah ini sebetulnya penulis Injil Matius ingin menunjukan bahwa Yesus mengkritisi atau roasting tipu-tipu kolonial Romawi, yang janji omon omon, especially atau khususnya kaisar Augustus, ya. Yang di bawah kekuasaanya, dia, Kaisar Agustus janjiin Romanesia, ikut Romawi, bakal masuk era emas, aurea aetas, lewat tagline, abundantia dan Annona, Abundantia dan Annona adalah dua Dewi kelimpahan, Dewi panen besar bangsa latin. Kisah ini sengaja di kontraskan, penulis Injil Matius, dengan privat partynya, pesta mewahnya Herodes, yang mengundang para oligarki dan crazy richs, di ayat 6 bab yg sama, Injil Matius, atau versi Markus, yang lebih detil. Kaluk ga penting banget, kenapa di  kontras, kontrasin,  coba cek data arkeologinya atau sejarah, karena data arkeologi dan sejarah bongkar realita pahit (cari di internet buanyak, tapi banyak yg bahasa English ... Wk ...wk). Di jaman Yesus, tinggi sekali stunting, gizi buruk, gangguan lapisan email gigi dan hiperostosis porotik. Akibat kurang zat besi ya, ini semua efek domino kemiskinan akibat kolonialisme lewat kroni kroninya Herodes, memungut Cukai, oligarki, dan oknum pemimpin agama yang korup, termasuk pemimpin agama Yahudi. Mereka tu yang fix antek asing. Waktu followers, Jesus, kelaparan dan murid murignya Yesus suruh cari makan sendiri, Yesus langsung negur, KAMU YANG HARUS KASIH MAKAN. Asal tau, ya, roti dan ikan itu standar gizi minimum. Boro-boro, mikirin beli daging, apalagi susu, yang harganya selangit. Lalu, ada detil, Mereka duduk di rumput. This is the clue, ini tanda musim semi menjelang Paskah. Artinya apa? Paceklik. Stok gandum di lumbung makin tipis. Jadi periode ini, Yesus memulai program MBG sejati merespon kondisi sosial masa itu, ini MESIAS sejati, juru selamat tenan, bukan penjajah Romawi juru selamat itu, bukan penjajah Romawi, Mesias itu. Karena latar belakangnya, umat Matius ditekan Yudaisme, dimana Yudaisme menolak memesiasan Yesus, dg kuasa penjajah Romawi, Yudaisme mengkriminalisasi umat Matius, itu juga kritisi bahwa Musa yang diagungkan Yudaisme, tapi Yesus lebih besar dari Musa. Program MBG yang efisient, tepat sasaran, tanpa korupsi, dan mandiri, Bukon top down, dari penguasa. Malah surplus 12 bakul, tapi berkat gak boleh dibuat foya foya, Harus ada audit dan management asset. Ini semua mengundang kita para muridNya, ambil ambil bagian dan melanjutkannya. KITA HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN, sebuah respon bermartabat dari situasi di depan mata kita.

(01082026)(TUS)


Rabu, 29 Juli 2026

Sudut Pandang Pernikahan Kembali setelah perceraian

Sudut Pandang Pernikahan Kembali setelah perceraian

PENGANTAR
Pernikahan kembali setelah perceraian,  polemik yang belum kelar, perceraian adalah sebuah persimpangan. Banyak pendapat dan argumen, banyak dasar pemikiran nya. Pilih mana yg kira-kira seiring sejalan ajaran kasih dan teladan Kristus, tentukan sendiri, dan gereja masing-masing punya sikap etis. Dengan pembacaan Alkitab, data penelitian, dan latar belakang teologisnya. Secara umum, ada tiga arus besar dalam studi Kristen: menolak perceraian dan pernikahan kembali, mengizinkan perceraian tetapi menolak pernikahan kembali, atau mengizinkan keduanya dalam kondisi tertentu; secara sosiologis, isu ini makin kompleks karena faktor modern seperti kekerasan domestik, ketimpangan ekonomi, ketidaksiapan menikah, dan perubahan norma budaya. Oleh karena itu, dalam dunia tafsir, saya selalu punya pendapat, tak ada tafsir yang salah apalagi benar, yang ada hanya tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan, dipertanggung jawabkan dengan argumentasi dan jembatan nalar, selama itu arahnya memanusiakan manusia, tidak bertolak belakang dengan hukum kasih dan keteladanan Kristus, memiliki benar merah konsep daldm kirab suci dari awal hingga akhir, kita boleh memikirkannya untuk memilih pihak. Saya harus mengatakan Alkitab tidak bisa berdiri sendiri, Alkitab harus berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan pengetahuan yang lain.
PEMAHAMAN 
Literatur sosiologi menunjukkan bahwa perceraian tidak pernah punya satu sebab tunggal; faktor yang sering muncul ialah ketidaksiapan fisik-emosional, ketidakcocokan, perselingkuhan, kekerasan fisik-psikologis, masalah ekonomi, dan perubahan peran gender. Studi lain juga menegaskan bahwa usia menikah terlalu muda, komunikasi yang buruk, kurang keintiman, dan konflik relasional berkontribusi pada perceraian, sementara konteks sosial-budaya menentukan apakah perceraian dianggap aib, pilihan rasional, atau bahkan jalan keluar yang wajar.
Dalam data Indonesia yang diringkas oleh Nurhalisa, angka perceraian meningkat pada 2018–2019, dan faktor pemicunya meliputi ketidaksiapan menikah, ketidakcocokan, perselingkuhan, kekerasan, serta faktor sosial-ekonomi dan budaya. Ini penting secara teologis karena gereja tidak boleh membaca teks Alkitab seolah-olah berada dalam ruang hampa; keputusan pastoral harus menghadapi realitas luka, keselamatan korban, dan keberlanjutan hidup keluarga. Teks yang paling sering diperdebatkan adalah Matius 19:3-9, terutama frasa “kecuali karena percabulan/zina”. Di sisi lain, Markus 10:11-12 dan Lukas 16:18 terdengar lebih absolut: siapa yang menceraikan lalu menikah lagi berbuat zinah. Paulus juga membahas kasus pasangan campuran iman dalam 1 Korintus 7:15, ketika pihak yang tidak beriman memisahkan diri; di sini Paulus mengatakan saudara atau saudari “tidak terikat” dalam keadaan demikian, yang oleh sebagian penafsir dibaca sebagai dasar terjadinya perpisahan yang tidak dibebankan secara moral kepada pihak percaya atau beriman. Latar Perjanjian Lama biasanya dikaitkan dengan Ulangan 24:1-4, yang bukan terutama “perintah untuk bercerai,” melainkan regulasi atas situasi perceraian yang sudah terjadi dalam masyarakat patriarkal untuk membatasi penyalahgunaan dan melindungi perempuan. Jadi, secara historis, hukum Musa sering dipahami sebagai pembatasan atas praktik yang keras, bukan ideal penciptaan.  Secara akademik, Hukum Taurat tidak memberikan “izin perceraian demi hak abstrak untuk bercerai,” tetapi beberapa teksnya dapat dibaca sebagai proteksi korban di dalam masyarakat patriarkal, terutama ketika perceraian sudah terjadi atau ketika ada tindakan suami yang menelantarkan istri. Dua teks kunci untuk argumen ini ialah Ulangan 24:1–4 dan Keluaran 21:10–11, ditambah pembacaan profetis atas Maleakhi 2:13–16 yang mengecam penelantaran dan ketidaksetiaan perjanjian. Ulangan 24:1–4. Teks ini sering dianggap hukum perceraian, tetapi sejumlah sarjana menilai fokus utamanya justru pada larangan menikahi kembali mantan istri yang telah kawin lagi, bukan pada pemberian hak cerai tanpa batas. Keluaran 21:10–11, Dalam konteks perempuan budak/istri, jika suami tidak memberi makanan, pakaian, dan hak perkawinan, perempuan itu harus dibebaskan tanpa pembayaran tebusan; banyak pembaca melihat ini sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap pihak rentan. Maleakhi 2:13–16, Banyak studi mutakhir menafsirkan “menceraikan” di sini sebagai tindakan “menyingkirkan” istri secara tidak sah atau lalim, sehingga teks ini menjadi kritik keras terhadap perceraian yang menindas perempuan. Bacaan klasik yang mengatakan Taurat “membolehkan perceraian” biasanya bertumpu pada Ulangan 24:1–4, tetapi artikel Yonky Karman berargumen bahwa teks itu lebih tepat dipahami sebagai hukum perkawinan kembali yang melarang rujuk setelah perempuan menikah lagi; fungsi sosialnya adalah membatasi kuasa suami dalam budaya patriarkal. Todd Scacewater juga menekankan bahwa tujuan hukum itu adalah menjaga kesetiaan perjanjian Israel kepada YHWH, dengan implikasi etis bagi perlindungan komunitas dan tanah pusaka, bukan sekadar mengatur mekanisme cerai. Dari sudut kritis-historis, ini penting: Taurat sering tidak “mengidealkan perceraian,” melainkan membatasi kerusakan ketika perceraian terjadi. Karena itu, dalam kerangka perlindungan korban, teks-teks Taurat lebih tepat disebut mekanisme pembatasan kekerasan relasional daripada legitimasi perceraian bebas. Ulangan 24:1–4: mengatur surat cerai dan melarang suami pertama mengambil kembali mantan istri yang sudah menikah lagi; ini sering dipahami sebagai pembatasan terhadap tindakan suami yang semena-mena. Keluaran 21:10–11: jika hak-hak istri tidak dipenuhi, ia boleh keluar bebas; ini sering dibaca sebagai perlindungan terhadap penelantaran. Maleakhi 2:14–16: menegaskan bahwa perceraian yang melanggar perjanjian dan mencederai perempuan berada di bawah kecaman ilahi . Kalau pertanyaannya dirumuskan ketat secara akademik, maka jawaban paling hati-hati ialah: Taurat tidak menetapkan perceraian sebagai hak moral ideal, tetapi mengatur situasi perceraian dan relasi pasca-cerai untuk mencegah penyalahgunaan, terutama oleh pihak yang lebih kuat. Dalam bingkai etika perlindungan korban, Keluaran 21:10–11 paling jelas menunjukkan logika pembebasan dari penelantaran, sedangkan Ulangan 24:1–4 membatasi kuasa laki-laki dalam sistem patriarkal. Dengan demikian, “boleh untuk melindungi korban” lebih tepat dipahami sebagai izin legal yang membatasi kekerasan dan ketidakadilan, bukan sebagai normalisasi perceraian. Matius 19:9, memiliki problematik frasa pengecualian. Secara umum, persoalan utamanya bukan hanya apakah frasa “kecuali karena zina/porneia” mengizinkan perceraian, tetapi juga apa arti porneia, bagaimana sintaksis klausa bekerja, dan bagaimana Matius membacakan ulang hukum Musa dalam konteks polemik abad pertama. Matius 19:9 adalah teks yang diperdebatkan karena satu frasa pendek tampak membuka ruang pengecualian, sementara rangkaian argumen Yesus dalam 19:4–6 justru menegaskan prinsip penciptaan, kesatuan, dan larangan menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah, sebetulnya ini ada dalam konteks hubungan Allah dan manusia, atau hubungan Allah dan Israel, kalau jujur teks ini tidak bisa langsung diterapkan dalam fakta pernikahan, apalagi pernikahan modern. Karena itu, problem teks ini bersifat eksegetis, semantik, dan teologis sekaligus. Studi-studi yang kita minta juga menunjukkan bahwa diskusi modern sering bergerak antara dua kutub: frasa itu sebagai izin terbatas untuk cerai, atau sebagai koreksi Yesus terhadap kebiasaan cerai yang disalahgunakan. Salah satu sumber polemik ialah variasi tekstual dan hubungan klausa dalam tradisi manuskrip, meskipun banyak studi akhirnya bekerja dengan teks kritis NA28/edisi kritis modern sebagai dasar. Secara sintaksis, para penafsir berbeda apakah frasa mē epi porneia terutama membatasi tindakan menceraikan, atau justru membatasi tindakan menikah lagi setelah perceraian. Di sini, keberatan klasik terhadap terjemahan “kecuali karena” tetap penting, tetapi banyak sarjana menilai sintaks Yunani tidak cukup kuat untuk meniadakan seluruh fungsi pengecualian itu. Masalah berikutnya adalah makna porneia. Literatur yang kita lihat memperlihatkan bahwa istilah ini lebih luas daripada moicheia; ia dapat menunjuk pada berbagai bentuk penyimpangan seksual, bukan hanya “adultery” dalam arti sempit. Karena itu, sebagian sarjana menerjemahkannya sebagai “sexual immorality,” “marital unfaithfulness,” atau “fornication,” tergantung kerangka tafsir yang dipakai. Artinya, jika seseorang langsung menyamakan porneia dengan perzinahan pasca-nikah, itu sudah sebuah langkah interpretatif, bukan kesimpulan yang otomatis. Studi yang paling penting untuk konteks historis adalah bahwa Matius 19 muncul di tengah perdebatan halakhik Yahudi tentang alasan perceraian, terutama antara aliran Hillel dan Shammai. Dalam konteks itu, pertanyaan orang Farisi “apakah boleh menceraikan istri dengan alasan apa saja?” bukan pertanyaan netral, melainkan jebakan legal-religius. Karena itu, banyak penafsir membaca jawaban Yesus sebagai kritik terhadap praktik perceraian yang longgar dan manipulatif, bukan sekadar pemberian “jalan keluar” baru. Dua garis tafsir besar
Dari literatur yang terhimpun, ada dua garis besar tafsir. Pertama, tafsir inklusif-terbatas: frasa pengecualian benar-benar membuka kemungkinan perceraian dalam kasus porneia, tetapi tetap tidak menjadikan perceraian sebagai solusi ideal. Kedua, tafsir anti-cerai: frasa itu tidak dimaksudkan untuk melegitimasi perceraian, melainkan untuk menegaskan bahwa perceraian bertentangan dengan kehendak ciptaan dan etika pengampunan Yesus. Tulisan Surbakti dan Pardede mewakili garis kedua, sedangkan France, Carson, dan beberapa pembacaan Reformed cenderung menerima porneia sebagai dasar perceraian yang sangat terbatas. Secara akademik, posisi paling kuat biasanya lahir dari pembacaan yang tidak menyederhanakan teks. Anda tidak cukup hanya berkata “Yesus mengizinkan perceraian” atau “Yesus sama sekali tidak mengizinkan perceraian”; Anda harus menjelaskan hubungan antara Matius 19:4–6, 19:8–9, paralel Markus 10:11–12 dan Lukas 16:18, serta latar polemik hukum Yahudi. Secara metodologis, argumen yang paling rapuh adalah argumen yang memaksakan satu definisi tunggal porneia tanpa survei semantik, atau yang mengabaikan bahwa Matius menulis untuk komunitas dengan sensitivitas Yahudi yang kuat. Jadi, problem frasa pengecualian bukan sekadar “boleh atau tidak,” melainkan bagaimana Matius menata ulang hukum, etika, dan retorika kerajaan Allah. Secara kritis, frasa pengecualian dalam Matius 19:9 adalah titik tafsir paling rawan karena porneia tidak otomatis identik dengan perzinahan sempit, dan karena fungsi frasa itu bergantung pada struktur argumentasi seluruh perikop. Dalam debat akademik, kita dapat membela dua posisi besar, tetapi posisi yang paling kuat adalah yang sanggup menjelaskan teks, konteks, dan tradisi tafsir tanpa mengorbankan salah satunya. Alasan yang diterima, Secara akademik dan pastoral, alasan perceraian yang paling sering dianggap serius atau dapat diterima dalam banyak tradisi Kristen adalah:

perzinahan/ketidaksetiaan seksual, penelantaran, kekerasan dalam rumah tangga berat, itupun bukan kekerasan verbal dan dalam beberapa pembacaan, penolakan pasangan yang tidak beriman. Artikel liturgis-teologis Indonesia juga menekankan bahwa banyak pembacaan Matius 19:9 memahami “kecuali karena porneia (percabulan/zinah)” sebagai dasar untuk mengakhiri perkawinan akibat ketidaksetiaan seksual, walau tafsir lain menolaknya. Namun, perlu dibedakan antara “alasan yang membuat perceraian dipertimbangkan secara moral” dan “alasan yang otomatis membenarkan pernikahan kembali.” Banyak penafsir memandang perceraian bisa terjadi dalam keadaan ekstrem demi perlindungan korban, tetapi pernikahan kembali tetap diperdebatkan, terutama bila pasangan pertama masih hidup. Dalam karya sosiologis kontemporer, kekerasan fisik dan psikologis, penelantaran ekonomi, serta kerusakan relasional yang berkepanjangan sering dipandang sebagai indikator bahwa pernikahan telah kehilangan fungsi perlindungan dan kesejahteraan dasarnya. Kalau itu sudah bukan lembaga pernikahan lagi, maka perlu dipikirkan solusinya, kalau di khatolik, kalau itu sudah bukan bearti sakramen pernikahan lagi maka perlu dipikirkan solusinya, tidak bercerai tetapi kerusakan yg makin tinggi dan melebar bahkan membahayakan nyawa dan mental, maka perceraian dapat dipikirkan sebagai solusi, karena manusia mahkluk rapuh tdk sempurna, tetapi ini bukan proses yg dalam waktu singkat, butuh tahap kajian-kajian bertahap pastoral baik sebelum keputusan perceraian maupun sesudahnya. Mengapa bisa diterima

Secara biblis, argumentasi yang menerima perceraian terbatas biasanya bertolak dari dua hal: pertama, adanya pengecualian dalam Matius 19:9; kedua, prinsip perlindungan terhadap korban dalam hukum Taurat dan etika pastoral. Dalam pembacaan ini, perceraian bukan kehendak awal Allah, tetapi respons terhadap kekerasan dosa manusia yang sudah merusak perjanjian pernikahan. Secara historis, banyak penafsir melihat bahwa konteks abad pertama sangat patriarkal: perempuan sangat rentan secara sosial dan ekonomi, sehingga regulasi perceraian dalam Taurat berfungsi menahan kekuasaan laki-laki dan memberi perlindungan legal minimum. Karena itu, pembaca modern perlu berhati-hati agar tidak mengubah teks perlindungan menjadi legitimasi cerai yang sembrono; sebaliknya, teks dipahami sebagai batas etis untuk situasi rusak yang sudah terjadi. Tentang pernikahan kembali
Di sinilah perbedaan tafsir paling tajam muncul. Tradisi yang lebih ketat, didukung oleh pembacaan Markus 10:11-12, Lukas 16:18, dan sebagian tafsir Matius 19:9, menilai pernikahan kembali setelah perceraian sebagai bentuk perzinahan selama pasangan pertama masih hidup. Tradisi yang lebih permisif biasanya mengizinkan pernikahan kembali bila perceraian terjadi karena zinah, penelantaran, atau pemutusan sepihak oleh pasangan yang tidak beriman, dengan alasan bahwa perjanjian perkawinan sudah dipatahkan secara substantif. Secara pastoral masa kini, pendekatan yang paling bertanggung jawab biasanya tidak berhenti pada “boleh/tidak boleh,” tetapi menilai: apakah ada keselamatan korban, pemulihan anak, bukti pertobatan, mediasi yang sungguh-sungguh, dan apakah perceraian terjadi karena dosa yang merusak perjanjian atau karena kondisi paksa yang membahayakan. Dengan kata lain, keputusan tentang pernikahan kembali tidak bisa digeneralisasi; ia harus dibaca dalam kombinasi eksegesis, etika, dan perlindungan martabat manusia. Jika diringkas secara kritis: Alkitab menempatkan pernikahan sebagai perjanjian yang dimaksudkan seumur hidup, tetapi juga mengakui dunia yang sudah jatuh, sehingga hukum dan pengajaran pastoral berhadapan dengan realitas dosa, kekerasan, dan ketidaksetiaan. Karena itu, perceraian paling kuat dipahami sebagai solusi darurat, solusi akhir, bukan norma; sedangkan pernikahan kembali adalah isu turunan yang bergantung pada tradisi tafsir, jenis pelanggaran, dan status moral/relasional dari perpisahan itu. Dalam konteks gereja masa kini, argumen yang paling kuat bukan sekadar “membolehkan” atau “melarang,” melainkan merumuskan kriteria yang setia pada Kitab Suci sekaligus melindungi korban: kekerasan harus dihentikan, penelantaran tidak boleh dibiarkan, dan pemulihan pernikahan hanya layak ditempuh bila ada pertobatan, rekonsiliasi yang realistis, dan keamanan bagi pihak yang rentan.  Jika Anda sedang menulis makalah atau bab tesis, kombinasi paling aman adalah menggabungkan studi teks-kritis, studi semantik porneia, dan konteks halakhik Yahudi abad pertama.
Bbrp tulisan yg dapat dibaca adalah :
- Risa Nurhalisa, “Tinjauan Literatur: Faktor Penyebab dan Upaya Pencegahan Sistematis terhadap Perceraian” .
- “Pernikahan Dini, Perceraian, dan Pernikahan Ulang: Sebuah Telaah dalam Perspektif Sosiologi”.
- “Keutuhan Pernikahan Kristen Dalam Matius 19:6 dan Implikasinya terhadap Perceraian dan Pernikahan Kembali”.
- “Divorce and Remarriage”.
- “Kau Bukan Seperti yang Dulu Lagi: Sebuah Refleksi Teologis-Etis Perceraian".
- “Ulangan 24 (TB)” dan tafsir konteks Ulangan 24:1-4.
- Tafsir Matius 19:9 dan problematika frasa pengecualian.
- C. F. Keil dan F. Delitzsch, The Pentateuch. Klasik komentar yang tetap penting untuk diskusi Deuteronomy 24 dan hukum keluarga.
- Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy. Sangat berguna untuk pembacaan historis dan teologis Ulangan 24.
- Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics. Berguna untuk membahas etika PL secara lebih luas, termasuk keluarga dan keadilan [7].
- Tamara Cohn Eskenazi dan Andrea L. Weiss (eds.), The JPS Torah Commentary. Berguna untuk membaca hukum Taurat dalam konteks sosial dan literer [7].
- Robert Setio dan Daniel K. Listijabudi (eds.), Perceraian di Persimpangan Jalan: Menelisik Perjanjian Lama dan Tradisi. Relevan langsung untuk konteks Indonesia dan pembahasan pastoral-teologis.
- Yonky Karman, “Ulangan 24:1–4: Hukum Perceraian atau Hukum Rujuk?” Verbum Christi 10(2) (2023), 97–111, Argumen bahwa Ulangan 24:1–4 adalah hukum larangan rujuk, bukan izin cerai bebas. 
- Todd Scacewater, “Divorce and Remarriage in Deuteronomy 24:1–4.” JESOT 1(1) (2012), 63–79. Menekankan tujuan hukum untuk melindungi perjanjian dan komunitas. 
- “Re-interpreting Deuteronomy to Empower Women (of South Africa).” Old Testament Essays 34(3) Pembacaan feminis atas Deuteronomium untuk membaca ulang relasi kuasa patriarkal. 
-  “Does God Really Hate Divorce? A Comparative Analysis of Ancient Texts of Mal 2:14–16.” Menafsir Maleakhi sebagai kritik terhadap penelantaran dan pengusiran istri. 
- artikel Surbakti tentang penafsiran Matius 19:9, artikel Pardede tentang problematika teks dan makna Matius 19:9, serta pembahasan etis-teologis Balebu tentang Matius 19:1–9. 
- R. T. France, D. A. Carson, David Instone-Brewer, William Heth, Osborne, dan J. J. de Heer. J
(30072026)(TUS)


Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚 Da...