Sabtu, 06 Juni 2026

Sudut Pandang Matius 9:9-13, Sleeping with enemi

Sudut Pandang Matius 9:9-13, Sleeping with enemi 

PENGANTAR
Pernah nonton film sleeping with enemi? Nah ... Itu yg dilakukan Yesus main mata sama kubu sebelah? Sekongkolan dengan musuh? Sleeping with the enemy? Ini Sabda Singkat alias Sabsing , buruan safe supaya nggak hilang. Ternyata Yesus tahu teknik negoisasi Teknik Kooptasi (Co-optation). Memberikan kedudukan, peran, atau pengakuan kepada lawan/musuh sehingga mereka merasa "terlibat" dan tidak lagi melawan. Musuh dimasukkan ke dalam "lingkaran" keputusan atau struktur.
Setelah diberi kedudukan, mereka lebih cenderung mendukung daripada menghancurkan sistem. Saya jelaskan ya.
PEMAHAMAN 
Bacaan minggu ini, Matius 9, Ayat 9-13 tentang rekrutmen murid Yesus. Ini kan cerita biasa aja ya. Kan .... ada beberapa jalur rekrutmen murid ya .... Ada jalur ordal kayak Petrus dan Andreas yang tadinya followers Yohanes Pembaptis, pindah stir and gigi (mobil kale ya), Atau jalur Doa Ibu, Jakobus dan Yohanes, dan jalur lainnya, Tapi yang bikin speechless, gak bisa ngomong, Yesus kok rekrut Matthius alias Lewi, sang pemungut cukai, Telones Mohes, Mereka ini kan musuh. Pemungut cukai itu dianggap antek asing. Ingat ya cerita Zakeus bagian dari piramida industri ekstraktif yang di puncaknya tuh kaum elit oligarki dan kaum romawi, penjajah, pemungut cukai tuh ada di tengah mereka subkontraktor pemerintah romawi buat narik cukai yang menghisap kasta paling bawah nelayan, petani, dan seterusnya, ya lewat pajak ikan, pajak garam belum lagi dari Bait Allah tuh juga ada pajaknya, yah .... numpang kaya lintah itu pajak Bait Allah. Ya ..... jadi sangat menekan,  nah .... Mateus direkrut jalur influencer "follow me" alias ikutlah Aku kata yesus dan dia langsung jadi follower segitu hebatnya panggilan yesus,  tapi bagi yang menganggap diri circle terdekat Yesus, diam-diam mereka heboh. Diam-diam kok heboh ya? Heboh kok diam-diam? Bayangin, nelayan kayak Petrus, Andreas, Yohannes, belum lagi nantinya ada Simon Orang zelot, si nasionalis keras-keras yang anti-rumahwi (eh .... Romawi) banget, mereka semua tiba-tiba harus satu tongkrongan sama Matthieus, si public enemy number one, musuh rakyat nomor satu, yang kerjanya justru memeras mereka.Yesus itu maunya apa sih?Dia juga diprotes sama tokoh agama, orang-orang parisi ... Eh .... Farisi. Malah Yesus mengeluarkan panselanya, alias quotes atau boleh dikata perumpamaan atau peribahasanya sebagai senjata pamungkas. "Bukan orang sehat yang butuh tabib, tapi orang sakit". Yesus juga mengutip Nabi Hosea, Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan. Nah, kata kasih setia, bahasa Ibraninya Khesed. Bukan sekedar kasihan, tapi cinta yang penah, penuh komitmen, dan siap mendobrak struktur.Sakit pun di sini bukan cuma batuk pilek. Ini soal sistem yang bikin si miskin diinjak-injak,mati tercekik, dan si kaya makin serakah, kaya negeri kita tercinta, negeri Konoha, Ini akar dendam kesumat antara yang ditindas dan yang menindas. Khesed adalah kasih setia, cinta yang penuh komitment dan siap mendobrak struktur yang ada di masyarakat, Jadi Yesus menyembuhkan Luka struktural sosial di masyarakat itu lewat Khesed, kasih setia Allah, dan rekonsiliasi / pendamaian, Yesus mendudukan si penindas dan tertindas di satu meja makan, pemuridan bukan masalah belajar teologi, tetapi belajar berproses untuk rekonsiliasi dengan orang yang dianggap musuh dan menjadi mitra Allah menyembuhkan Luka sosial dalam masyarakat. Ternyata Yesus tahu teknik negoisasi Teknik Kooptasi (Co-optation) ..... Wk ..... Wk ..... Wk. . Panggilan Tanpa Kondisi: "Ikutlah Aku" (ayat 9)
Yesus menerapkan prinsip negosiasi kooperatif (koprasi) dengan membangun relasi tanpa persyaratan awal. Yesus memanggil Matius tanpa meminta dia berhenti dulu sebagai pemungut cukai. Ia melihat Matius duduk di rumah cukai dan langsung memanggilnya tanpa kondisi. Ini menunjukkan pendekatan yang inklusif, tidak eksklusif. Makan Bersama: Membangun Trust/kepercayaan (ayat 10-11)
Dalam negosiasi kooperatif, menciptakan ruang bersama sangat penting untuk membangun kepercayaan. Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa di rumah Matius. Ia tidak menjaga jarak seperti orang Farisi, melainkan menjebol batas sosial-religius. Makan bersama menciptakan keterbukaan untuk transformasi dan membangun rapport antara Yesus dan Matius. Belas Kasihan versus Ritual (ayat 12-13)
Yesus menjawab orang Farisi dengan prinsip negosiasi kooperatif yang berfokus pada kebutuhan, bukan penghakiman:
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit"
"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"
Yesus fokus pada kebutuhan orang sakit/berdosa, bukan menghukum masa lalu mereka. Ia mengutamakan belas kasihan daripada ritual persembahan keagamaan. Tujuan kolaborasinya jelas: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Matius langsung berdiri dan mengikut Yesus tanpa ragu. Keterbukaan hati adalah kunci dalam negosiasi kooperatif. Matius meninggalkan masa lalu dan berubah total, menunjukkan bahwa panggilan Yesus efektif karena diterima dengan hati yang terbuka. Negosiasi sebagai Belas Kasihan
Dalam negosiasi kooperatif, yang dicari adalah solusi bersama (bukan kemenangan satu pihak), relasi jangka panjang (bukan transaksi sekali), dan empati serta pemahaman (bukan penghakiman). Yesus dalam Matius 9:9-13 menunjukkan bahwa Ia tidak mengnegosiasikan syarat pertobatan dulu sebelum menerima Matius. Ia makan bersama untuk membangun kepercayaan sebelum menuntut perubahan. Ia prioritaskan belas kasihan daripada ritual keagamaan yang kaku.
"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" — ini adalah prinsip negosiasi yang berpusat pada manusia dan kebutuhan, bukan pada aturan dan penghakiman. Panggilan Yesus kepada Matius menunjukkan bahwa transformasi terjadi melalui relasi, belas kasihan, dan penerimaan, bukan melalui syarat, penghakiman, atau ritual. Ini adalah model negosiasi kooperatif yang sejati: berpusat pada kasih dan pemulihan, bukan pada kekuasaan dan kemenangan. Masalah apapun yang terjadi, tetap ulurkan tangan kita serta berilah salam, tetaplah tersenyum. Kritik tanpa kebencian itu menunjukan kedewasaan, menerima kritik tanpa baperan itu kedewasaan, marilah berdiskusi, dalam duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
(06062026)(TUS)

Sudut Pandang Normalisasi Dosa

Sudut Pandang Normalisasi Dosa

PENGANTAR
Betapa kecewa sebagian umat, ketika ada sebuah sinode, yg berusaha keras menjalin kembali hubungan dg lembaga-lembaga terkait yg dulu sinode ini ikut andil, tetapi kemudian umat melihat Sinode ini diam saja bahkan seakan tidak peduli, tidak melakukan investigasi atau penyelidikan yg menyeluruh dan baik,  gampang mengambil keputusan, saat ada seorang pengajar dari lembaga pendidikan terkait dengan sinode tsb melakukan pelecehan pendidikan, saksi buanyak bahkan teman-teman pengajarnya bersaksi. Tetapi, sinode ini diam saja dan tak peduli bahkan diam cenderung mendorong, dalam artian tidak peduli ketika pengajar ini ditetapkan sebagai pendeta utusan khusus bagi sinode ini. Bahkan, sekarang teriak dalam tema bulan kesaksian dan pelayanan, lembaga Kristen yang berdampak ..... Wk ..... Wk ..... Wk ... Membagongkan.
PEMAHAMAN 
"Gereja (seharusnya) bukanlah tempat di mana kita bisa duduk dalam dosa kita dengan nyaman, tetapi gelisah atas dosa."

Kalimat ini terdengar keras, tapi sesungguhnya sangat dekat dengan inti pemberitaan Alkitab. Gereja memang adalah tempat bagi orang berdosa, bukan tempat orang suci tanpa dosa tapi bukan tempat untuk menormalisasi dosa. Gereja adalah tempat di mana orang berdosa bertemu dengan kasih karunia Allah yang memanggil mereka kepada pertobatan dan pembaruan hidup, sehingga kegelisahan akan dosa didepan mata bahkan dosa yang sadar kita lakukan harus mengarah pada pertobatan.
Masalahnya, sepanjang sejarah gereja, selalu ada kecenderungan untuk mengubah kasih karunia menjadi izin untuk tetap tinggal dalam dosa atau diam tak peduli atas dosa didepan mata bahkan yg dilakukan shg hilang dorongan untuk pertobatan. Pengampunan tanpa pertobatan adalah bohong besar Krn itu Alkitab mengungkap. Kasih Karunia Allah yg maha besar dengan pengampunan dosa manusia akan menjadi murahan bila tidak disambut dengan pertobatan.
Salah satu ayat yang paling relevan adalah (Roma 6:1-2) :

"Apakah kita akan bertekun (epimenō) dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!" 

epimenō artinya: tetap tinggal, terus bertahan, menetap dengan sengaja, melanjutkan sesuatu secara sadar, jadi bukan suci tanpa dosa tetapi sadar akan dosa dan bertobat, bukan tinggal tetap dalam dosa tapi berubah pikiran serta berbalik arah, berusaha tidak tetap dalam dosa dan tidak mengulangi dosa yang sama sambil berproses untuk tidak melakukan dosa baru.
Paulus tidak sedang berbicara tentang orang yang jatuh lalu bertobat. Ia berbicara tentang orang yang memilih untuk tetap tinggal dalam dosa sambil mengandalkan kasih karunia Allah sebagai pembenaran, tidak berubah. Orang yang tidak mau berproses tidak  mengulang dosa yang sama, serta berproses untuk tidak melakukan dosa baru, itulah pertobatan.
Sedangkan kata "dosa" berasal dari: hamartia secara harfiah berarti:
"meleset dari sasaran"
Dosa bukan sekadar pelanggaran aturan. Dosa adalah kegagalan hidup sesuai tujuan Allah. Tidak setujuan dg kehendak Allah, meleset dari tujuan Allah.
Paulus lalu mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat tajam:

"Apakah kita akan terus hidup dalam dosa supaya kasih karunia semakin berlimpah?" (Roma 6:1)

Jawaban yang ia berikan bahkan lebih tegas daripada sekadar kata "tidak".

Paulus memakai ungkapan Yunani: mē genoito

Sebuah ungkapan penolakan yang sangat kuat, yang dapat diterjemahkan:

"Sama sekali tidak!"

"Jangan pernah terpikir demikian!"

"Mustahil!"

Bagi Paulus, hidup nyaman dalam dosa bukanlah pilihan yang dapat dipertimbangkan oleh seorang pengikut Kristus, tidak mau berproses tidak melakukan dosa yang sama dan berusaha tidak melakukan dosa baru. Orang yang telah menerima kasih karunia tidak dipanggil untuk menyesuaikan diri dengan dosa, melainkan untuk mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Karena itu, hidup yang terus-menerus berdamai dengan dosa bukan sekedar masalah perilaku, tetapi sebuah kontradiksi terhadap identitas baru yang telah diberikan Kristus.

KETIKA DOSA (DIAM-DIAM) MENJADI BUDAYA GEREJA

Bahaya terbesar gereja bukanlah dosa yang diketahui lalu ditangisi.
Bahaya terbesar adalah dosa yang sudah MENJADI NORMAL.
Dosa yang tidak lagi membuat hati gelisah.
Dosa yang tidak lagi ditegur.
Dosa yang bahkan mulai dibela. Pada titik itulah gereja kehilangan fungsi profetisnya dan berubah menjadi tempat perlindungan kenyamanan rohani.

Contoh kasus 1:
Pemimpin gereja yang menormalisasi kesombongan

Seorang pemimpin gereja mulai menikmati pujian jemaat dan terlarut.
Awalnya ia bersyukur. Lama-kelamaan kritik dianggap pemberontakan, menjadi anti kritik dan menulikan diri serta membutakan diri, di situlah sebetulnya sikap manusia yg dikritisi Alkitab. Setiap orang yang bertanya dianggap melawan urapan Tuhan. Keputusan-keputusan tidak lagi bisa dievaluasi dan penuh transparansi. Gereja berubah menjadi kerajaan pribadi. Yang dinormalisasi bukan lagi pelayanan, tetapi kultus individu, kultus circle. Padahal Alkitab berkata:

"Allah menentang orang yang congkak (hyperēphanos)." (Yakobus 4:6)

Artinya: meninggikan diri, merasa berada di atas orang lain. Ironisnya, kesombongan sering lebih mudah disembunyikan di balik jubah rohani atau jabatan gerejawi daripada di balik pakaian duniawi.

Contoh kasus yang ke 2:
Pelayan mimbar yang menormalisasi kemunafikan

Seorang worship leader/pejabat gerejawi memimpin jemaat menyanyikan:
"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan."
Tetapi di luar mimbar ia hidup dalam perselingkuhan yang sudah menjadi rahasia umum, di dalam gereja membentuk club' bukan church atau persetujuan.
Karena suaranya bagus, giat dalam karya gereja, jemaat menyukainya, pelayanan gereja akan terganggu jika ia berhenti, teguran tidak diberikan karena sumber daya yg baik dalam karya gereja (lupa bahwa dalam Alkitab, attitude atau sikap hidup di atas segala karya bergereja). Akhirnya dosa dianggap urusan pribadi. Mimbar tetap berjalan.
Lagu tetap dinyanyikan. Tepuk tangan tetap terdengar. Namun hati nurani perlahan dibungkam.

Kata "munafik" dalam Perjanjian Baru adalah: hypokritēs

Artinya: aktor panggung, pemain sandiwara, orang yang memakai topeng. Teguran Yesus paling keras bukan kepada pelacur atau pemungut cukai. Justru kepada orang-orang religius yang mempertahankan topeng kesalehan.

Contoh kasus 3:
Jemaat yang menormalisasi dendam dan gosip

Ada jemaat yang setia hadir setiap minggu. Rajin persekutuan. Rajin memberi persembahan. Namun selama bertahun-tahun menyimpan kebencian terhadap saudara seiman, membentuk circle, mengagungkan club' dibandingkan persekutuan dan chruch. Tidak mau mengampuni.
Senang menyebarkan cerita negatif agar kelompoknya atau circlenya stabil di dalam gereja. Karena dilakukan banyak orang, gosip menjadi budaya. Padahal Alkitab menyebutnya sebagai dosa serius.

Kata Yunani untuk fitnah atau gosip: katalalia

Artinya: berbicara melawan seseorang, merusak reputasi orang lain. Sering kali gereja sangat tegas terhadap dosa seksual, tetapi sangat lunak terhadap dosa lidah, dan dosa lainnya termasuk membentuk komunitas atau club' atau circle di tengah persekutuan. Padahal keduanya sama-sama merusak tubuh Kristus.

Kasus lain yang lebih berbahaya:
Ketika seluruh sistem melindungi dosa

Dalam beberapa gereja, bukan hanya individu yang jatuh. Sistemnya ikut melindungi dosa. Pelecehan disembunyikan demi nama baik gereja. Manipulasi keuangan ditutupi demi menjaga reputasi pelayanan.
Korban diminta diam demi "kesatuan tubuh Kristus."
Pelaku tetap dipertahankan karena dianggap penting. Di sinilah gereja berhenti menjadi terang dunia dan mulai menyerupai dunia.

Nabi Yesaya menegur kondisi serupa: "Celakalah mereka yang menyebut yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat." (Yesaya 5:20)

Normalisasi dosa selalu dimulai ketika standar Allah digantikan oleh kenyamanan manusia.Gereja yang sehat bukanlah gereja yang tidak memiliki orang berdosa. Jika demikian, gereja akan kosong. Gereja yang sehat adalah gereja yang masih memiliki kepekaan terhadap dosa. Gereja yang tidak diam atau tidak peduli atas dosa. Masih ada pertobatan, ada pengakuan, ada disiplin rohani. Masih ada keberanian untuk menegur dalam kasih.Kasih karunia bukanlah sofa empuk untuk beristirahat dalam dosa.
Kasih karunia adalah tangan Allah yang mengangkat orang berdosa keluar dari dosanya. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada dosa yang sudah tidak lagi dianggap dosa. Ketika keserakahan disebut berkat, kesombongan disebut urapan, manipulasi disebut hikmat, dan kemunafikan disebut kelemahan manusiawi, gereja sedang berdamai dengan musuh yang seharusnya diperanginya.

Charles Spurgeon pernah berkata:

"Gereja yang tidak hadir untuk membawa orang berdosa kepada Kristus, melawan kejahatan, dan menghancurkan kesesatan, adalah gereja yang kehilangan alasan keberadaannya."

Kata-kata ini menjadi peringatan yang relevan bagi gereja di setiap zaman. Gereja tidak didirikan untuk menjadi tempat di mana dosa merasa aman, diterima, dan tidak pernah ditantang. Gereja dipanggil untuk memberitakan Injil yang menyelamatkan, menegur dosa dengan kasih, memulihkan mereka yang bertobat, dan membentuk umat yang semakin serupa dengan Kristus. Sebab ketika gereja berhenti melawan dosa, ia sedang berhenti menjadi gereja dalam arti yang sesungguhnya. Dan ketika mimbar lebih memilih menjaga kenyamanan daripada menyuarakan kebenaran, gereja sedang menawarkan sesuatu yang tidak pernah ditawarkan oleh Kristus sendiri. Kristus menerima orang berdosa yang datang kepada-Nya, tetapi Ia tidak pernah membiarkan mereka tetap nyaman tinggal di dalam dosanya.
(06062026)(TUS)

Jumat, 05 Juni 2026

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

PENGANTAR 
Saya selalu mengatakan, lawan dari KASIH itu bukan benci atau dendam, lawan dari KASIH adalah KETIDAK PEDULIAN, menurut apa yang dipaparkan Alkitab dalam kisah teologis penulisnya. Coba kita tengok Kitab Kejadian 3:1-24 
PEMAHAMAN
Menurutmu, dulu Adam kemana? Kenapa dibiarkannya istrinya Hawa ngobrol sama ular?Pertanyaan ini terdengar lucu, tapi makin dipikir, makin dalam.Karena banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa Hawa sendirian waktu digoda ular, seolah Adam lagi pergi entah kemana.Karena banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa Hawa sendirian waktu digoda ular, seolah Adam lagi pergi entah kemana.Padahal kalau dilihat ceritanya di kitab kejadian, ada detail yang sering kelewat.Setelah Hawa mengambil buah itu, tertulis bahwa dia memberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia.

Kejadian 3:6 (TB) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. 

Artinya, kemungkinan besar Adam ada di sana.Dia mendengar percakapannya.Dia tahu ada yang aneh.Dia lihat ular mulai memelintir perkataan Tuhan.Tapi, dia diam, Adam tidak peduli, tahu ada yg salah, ada sesuatu tapi diam, membiarkan, tidak peduli.Dan jujur ya, kadang diam itu lebih mahal akibatnya daripada salah bicara, lebih mahal akibatnya daripada dicap reaktif atau tukang ribut, tau ada yg salah diam saja, di Alkitab dikatakan sama saja dengan melakukan dosa tsb, maka teladan Kristus itu emang ..... tukang rewel, tukang kritik, tukang ribut terhadap kaum farisi. Ular waktu itu juga menarik. Dia nggak datang dengan ancaman, dia datang dengan kharisma dan pengetahuan, ular datang dengan kepandaian dan tebar pesona, alias pencitraan. Dia datang dengan pertanyaan. Benarkah Tuhan berkata begitu? Pelan, halus, nggak terdengar jahat. Sering kita anti dengan yang suka teriak, kasar, suaranya keras pedas atau bengokan kata orang Jawa, tapi Alkitab menyaksikan ular datang dengan halus, sok jaim, sok berkarya, bahkan berpengetahuan lagi. Karena memang banyak kehancuran dalam hidup nggak dimulai dengan sesuatu yang kelihatan menyeramkan. Tapi dari percakapan kecil yang dibiarkan tumbuh.Awalnya cuma dengar, lalu mulai mempertimbangkan, lalu merasa kayaknya nggak ada apa-apa, lalu akhirnya jatuh.Dan Adam ada di sana menyaksikan semuanya bergerak pelan-pelan, tapi Adam diam gak peduli.Mungkin dia bingung, mungkin dia ragu, mungkin dia takut bikin suasana jadi nggak enak.Tapi akhirnya, pasifnya Adam tetap punya konsekuensi. Ketidak pedulian Adam membawa kurban yang lebih besar, kehancuran total.Makanya cerita ini sebenarnya bukan cuma soal buah terlarang.Ini tentang tanggung jawab, tentang keberanian bersuara saat sesuatu mulai mengencing, dan tentang bagaimana kejahatan sering menang bukan karena terlalu kuat, tapi karena orang yang seharusnya bertindak memilih diam, tidak bersuara, tidak peduli.Coba pikir berapa banyak hubungan rusak, kerusakan sebuah persekutuan, kerusakan rumah tangga, hancurnya keluarga karena ada yang tahu masalahnya tetapi memilih diam, tidak bicara, tidak peduli. Sehingga sekarang, saya paham : Dulu aku pernah salah paham.  Saya pikir yang menyiksa manusia di neraka itu iblis. Saya pikir dia yang pegang kendali. Saya pikir dia yang tertawa melihat manusia menderita.Ternyata saya keliru. Alkitab tidak pernah menggambarkan Iblis sebagai penguasa neraka, sebaliknya dia adalah pihak yang akan dihakimi. Dia bukan algucu .... Eh ... Algojo, dia terdakwa. Dan di titik itu, saya mulai sadar sesuatu yang sering saya hindari. Bahwa persoalan terbesar manusia bukan iblis, tapi hubungan saya dengan Tuhan. Seringkali saya terlalu fokus melawan iblis, seolah-olah semua masalah hidup datang darinya. Padahal ada hal yang lebih serius dari itu. Bukan soal siapa yang menyiksa di neraka, tapi kenapa seseorang bisa sampai ke sana.Bukan tentang siapa pelakunya, tapi tentang keputusan hidup saya hari ini.Karena pada akhirnya yang menentukan arah kegagalanku bukan iblis, tapi apakah saya hidup mengenal Tuhan atau hanya tahu tentang Tuhan tanpa pernah sungguh-sungguh berjalan bersamanya. Ini bukan pesan untuk menakut-nakuti, tapi ini pesan untuk menyadarkan bahwa hidup ini bukan sekedar bertahan, tapi sedang menuju sesuatu. Maka, sudut pandang GKJ dalam pokok ajaran nya, terkait dg memahami Tritunggal, tidaklah sesat, karena hidup ini perjalanan keselamatan, bukan mencari selamat tetapi bertanggung jawab atas anugerah keselamatan, perjalanan menuju kembaliNya Kristus  dan hidup kita bersama Kristus kelak, Allah Tritunggal yang tak terbatas ruang dan waktu menyertai umatNya, Immanuel, dari Adam, Israel, sampai sekarang dalam peranNya masing-masing dalam hakikat yang sama. Karna ziarah kehidupan atau perjalanan keselamatan tsb menuju pada kembaliNya Kristus agar kita bisa bersamaNya, maka perjalanan keselamatan atau perjalanan hidup umat harus diisi sikap-sikap etis atas kehidupan yang meneladan Kristus dan menghikmati ajaran Kristus.
(06062026)(TUS)

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

PENGANTAR 
Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel.

Petulis Kejadian 12:1-9 pasti tidak menulis dengan membayangkan: Gereja abad ke-21, khotbah Minggu, kehidupan jemaat Kristen modern. Redaktur tradisi Abram sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Mereka sedang menjawab pertanyaan:
▶️ Siapakah Israel?
▶️ Mengapa Israel memiliki hubungan khusus dengan Tanah Kanaan?
▶️ Mengapa Israel menyebut Abraham sebagai leluhur iman?

Jadi fungsi utamanya bersifat 𝗲𝘁𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 dan 𝙞𝙙𝙚𝙣𝙩𝙞𝙩𝙮-𝙛𝙤𝙧𝙢𝙞𝙣𝙜. Dalam bahasa akademis:
Narasi panggilan Abram merupakan cerita asal-usul (𝘰𝘳𝘪𝘨𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘳𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦) yang mengonstruksi identitas kolektif Israel sebagai umat yang dipanggil, diberkati, dan dijanjikan tanah oleh YHWH.

Di situ belum ada Gereja. Belum ada Kristen. Belum ada konsep khotbah Minggu.
PEMAHAMAN 
Saya sering melihat banyak khotbah atau renungan tentang Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal langsung meloncat:
▶️ Dari Abram meninggalkan Haran langsung ke
▶️ Saudara harus berani keluar dari zona nyaman. 🤣

Padahal jarak historis penulisan teksnya sekitar tiga ribu tahun. Belum lagi fungsi teksnya berbeda.

Bahkan kalau dibaca sebagai mitos identitas bangsa fokusnya bukan pada psikologi Abram. Fokusnya adalah pada Israel. Abram adalah representasi Israel.

Perhatikan polanya:
▶️ dipanggil keluar (12:1), 
▶️ menerima janji tanah (12:7), 
▶️ menerima janji keturunan (12:2), 
▶️ menerima janji berkat bagi bangsa-bangsa (12:3). 

Jadi, sebenarnya tokoh utama narasi itu bukan Abram sebagai individu, tetapi masa depan Israel.

Kejadian 12:1-9 menjadi bacaan tunggal untuk renungan/khotbah di sebuah gereja dan saya membaca konsep penjadwalan ayat utamanya dari gereja tsb. Saya belum membaca produk renungannya dalam 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 7 Juni 2026. Tema yang diangkat adalah 𝙄𝙢𝙖𝙣: 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣.

Namun, patut diduga penafsirannya langsung meloncat dengan memaksa Abram menjadi orang Kristen:

"Abram taat. Mari kita taat."
Lalu selesai.

Tema yang diusung di atas tentu tidak salah. Masalahnya tema itu tidak berangkat dari teks, bahkan tema di atas menggeser pusat teks. Secara historis teks itu bukan ditulis untuk mengajar warga gereja tentang ketaatan individual. Teks itu adalah bagian dari narasi identitas Israel.

Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 juga mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:

Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.

Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄

Seluruh warga jemaat tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."

Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26.

Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?

Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 " (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram.

Akhirnya pagi ini, Saya dapat membaca sebuah konsep renungan/khotbah di sebuah gereja diambil dari Kejadian 12:1-9, 𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝙏𝙚𝙧𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙖𝙠 𝙤𝙥𝙚𝙧𝙖𝙩𝙞𝙛, bahwa Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel. Gereja yang mengambil perikop ini sebagai bacaan tunggal untuk khotbah patut diduga penafsirannya langsung melompat, mengambil bahan khotbah dari Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal. Seperti yang saya duga dalam penafsirannya langsung melompat seperti yang tercermin dalam renungan tsb.
Kalau dibaca secara kritis, renungan itu melakukan lompatan hermeneutik yang sangat besar:
▶️ Langkah 1: Teks Kejadian 12:1-9 berbicara tentang Abram.
▶️ Langkah 2: Abram menjadi model "ketaatan".
▶️ Langkah 3: Ketaatan Abram langsung diterapkan kepada pembaca masa kini.
▶️ Langkah 4: Lalu lahirlah tema

 𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻

Padahal justru di antara Langkah 2 dan Langkah 3 itulah terdapat jurang tafsir yang sangat lebar. Perhatikan kalimat awal: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢...
Pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui bahwa Tuhan sedang memerintahkan sesuatu? Nah, pertanyaan itu sama sekali tidak dibahas. 
Akibatnya pembaca diarahkan kepada asumsi:
▶️ Tuhan punya rencana spesifik untuk hidup saya.
▶️ Saya harus menemukannya.
▶️ Setelah menemukannya saya harus taat.
Masalahnya itu bukan isi Kejadian 12. Dalam Kejadian 12 Abram menerima firman yang sangat spesifik: " 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶 ... (ay. 1) 
Narator mengetahui itu, karena ia sedang menceritakan kisah asal-usul Israel. Pembaca modern tidak berada dalam posisi yang sama dengan Abram. Kita tidak sedang menerima wahyu pendirian bangsa perjanjian.
Renungan tsb, itu akhirnya masuk ke pola khotbah yang sangat umum:
▶️ Tuhan punya rencana.
▶️ Kita harus taat.
▶️ Jangan takut.
▶️ Tuhan akan memberkati.
Secara pastoral terdengar bagus, tetapi penafsirannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Yang menggelikan (atau menggelitik ya?) adalah bagian akhir renungan tsb:
𝘒𝘦𝘵𝘢𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢...
Ini sudah mendekati pola 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗿𝗲𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁.
Padahal dalam Alkitab sendiri nasabahnya tidak sesederhana itu.
▶️ Yeremia taat. Dipenjara.
▶️ Yesus taat. Disalib.
▶️ Paulus taat. Dipukul dan dipenjara.
🤣
Jadi, ketaatan tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih nyaman.
Kalau saya bisa langsung bertemu dengan petulis renungan dan ia mau mendengar, saya akan bertanya: 
▶️ Mengapa Kejadian 12 harus dibaca sebagai "rencana Tuhan bagi hidup pribadi"?

Mengapa bukan:

▶️ Bagaimana Israel memahami identitas dirinya sebagai umat pilihan?

Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 yang dibuat mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:

Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.

Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄
Seluruh warga jemaat  tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."
Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.
Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26. Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?
Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣" (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram. Siang ini ketemu dengan petulisnya dan yang akan khotbah besok, tertawa .... tawa dia, ketika diskusi dilakukan .... Wk ..... Wk .... Wk salah sendiri minta diskusi dan masukan ... Xii ..... Xi ....... Xi, enaknya diskusi lewat vidcall, Salatiga - Jakarta gak perlu pakai uang transportasi .... Ha .... Ha
(06062026)(TUS)



Sudut Pandang konsekuensi Iman

Sudut Pandang konsekuensi Iman

PENGANTAR
Ketika manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, ada konsekuensi di situ. Allah adalah sebuah entitas bebas, entitas yang tidak batasi bahkan oleh ruang dan waktu. Kalau manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, paling tidak ada bagian manusia ini memiliki kebebasan tsb, apakah kebebasan manusia itu? Itulah kehendak bebas, dalam Alkitab kehendak bebas selalu dipahami sebagai kehendak berlawan dengan kehendak Allah, oleh karena itu manusia bebas untuk memberontak pada Allah atau taat (jadi salah kaprah kalau kehendak bebas dg dasar Alkitab kemudian ada yg mengatakan "kehendak bebas yang bertanggung jawab", lah .... jangan disamakan dengan konsep pemilu ..... Wk ..... Wk ...... Wk ...... Wk, kehendak bebas di Alkitab itu gambaran kehendak berlawanan dengan Allah, lah ..... Kok berlawanan dengan Allah dikatakan bertanggung jawab ..... Wk ..... Wk). Ada sebuah kenyataan pahit yang mengganjal di dalam benak banyak orang, yaitu bahwa tidak semua orang yang mengaku dirinya Kristen adalah orang yang baik. Yang mengaku Kristen adalah bukan orang yg suci tanpa dosa, karena debu .... tetapi manusia yang mau berproses dalam pertobatan. Pengampunan menjadi recehan ketika tidak ada pertobatan. Berubah dalam proses untuk tidak melakukan dan mengulangi kesalahan yang sama serta berjuang dg segala upaya untuk tidak melakukan kesalahan baru.
PEMAHAMAN
Kesenjangan antara pengakuan iman (profesi) dan tindakan nyata (praksis) ini kerap memicu batu sandungan, skeptisime, bahkan trauma religius. 
Kekristenan sering kali dipersempit hanya sebatas label agama belaka. Menjadi Kristen kerap dianggap selesai ketika seseorang dibaptis, rajin ke gereja, atau fasih mengucapkan jargon-jargon rohani, berkarya di gereja. Ini adalah bentuk iman yang mendua.
Dalam kitab Nabi Yesaya yang kemudian dikutip Yesus dalam Matius 15:8, tertulis kritik yang sangat tajam:

"Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."

Ketika kekristenan hanya menjadi identitas sosiologis atau budaya, "menjadi Kristen" tidak lagi berdampak pada transformasi moral. Seseorang bisa sangat ortodoks (benar dalam doktrin) tetapi mengalami kebangkrutan ortopraksis (salah dalam tindakan). Label Kristen tanpa buah Roh hanyalah sebuah topeng religius yang menyembunyikan kebusukan karakter.
Untuk memahami mengapa orang Kristen bisa berbuat jahat, kita perlu kembali pada teologi tentang manusia (antropologi teologis). Martin Luther memperkenalkan konsep Simul Iustus et Peccator, yaitu bahwa manusia yang telah dibenarkan oleh Kristus, pada saat yang sama, masih tetap seorang berdosa. Menjadi Kristen tidak secara otomatis menghapus kebebasan kehendak manusia untuk memilih yang jahat, atau melawan Allah tidak juga membuat seseorang langsung kebal dari keserakahan, egoisme, atau manipulasi. Gereja bukanlah kumpulan "orang-orang suci yang sempurna", melainkan "rumah sakit bagi orang-orang yang terluka dan sakit secara rohani".

Tapi, status sebagai orang berdosa yang diampuni tidak boleh dijadikan sekoci penyelamat atau permakluman untuk terus hidup dalam kejahatan.

Salah satu bentuk kejahatan yang paling merusak adalah ketika agama dijadikan alat untuk memanipulasi orang lain. Seseorang yang "mengaku Kristen" bisa menggunakan ayat-ayat Alkitab, kharisma mimbar, atau status kepemimpinan gerejawi untuk melancarkan penipuan, kekerasan domestik, korupsi, atau penindasan terstruktur.

Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "Anugerah yang Murahan" (Cheap Grace). Yaitu, mengkhotbahkan pengampunan tanpa menuntut pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, dan persekutuan tanpa salib. Ketika anugerah Allah dibuat jadi murah, kekristenan kehilangan taring moralnya, dan ruang gereja menjadi tempat persembunyian yang aman bagi para pelaku kejahatan moral.

Yesus sendiri memberikan parameter yang sangat klop dan sederhana untuk menguji iman seseorang dalam Matius 7:16: 
"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka."

Yesus tidak mengatakan "dari kartu anggotanya", "dari seberapa keras mereka berdoa", atau "dari posisi mereka di struktur gereja". Teologi yang sehat menempatkan etika kasih di atas legalisme formal. Jika seseorang mengaku Kristen namun hidupnya menghasilkan buah penindasan, ketidakadilan, dan kebencian, maka secara teologis eksistensial, pengakuannya sedang mengalami kontradiksi performatif (apa yang dikatakan bertolak belakang dengan apa yang dilakukan).

Menghadapi kenyataan bahwa ada orang Kristen yang tidak baik seharusnya tidak membuat kita kehilangan iman pada Kristus, melainkan membuat kita kehilangan ilusi terhadap "institusi kemanusiaan" yang absolut.

Perenungan ini mengundang kita semua untuk melakukan otokritik (introspeksi ke dalam):

Apakah kita sedang menghidupi iman yang transformatif, atau sekadar menikmati kenyamanan status religius?

Apakah kehadiran kita membawa syalom (damai sejahtera), atau justru menjadi alasan mengapa orang lain enggan mengenal Tuhan?

Pada akhirnya, kekristenan yang sejati tidak diukur dari seberapa suci kita melabeli diri kita, melainkan dari seberapa besar kasih Kristus yang nyata terwujud melalui tangan dan kaki kita bagi sesama, tanpa topeng, tanpa kepalsuan.
(06062026)(TUS)

Kamis, 04 Juni 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 2), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 2), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

PENGANTAR 
Di pengujung kalender gerejawi Tahun A tema yang disajikan adalah eskatologis (penantian kedatangan Yesus kembali) yang didahului dengan sastra apokaliptik (penyingkapan) di Matius 24:1-36. Bacaan terakhir Tahun A adalah tentang penghakiman terakhir pada akhir zaman. Di dalam Injil Matius akhir zaman bukan berarti akhir dunia. Akhir zaman bukan kiamat. Akhir zaman di sini adalah masa si jahat berakhir (bdk. Mat. 24:3 dan 28:20). Dunia tetap bergerak maju ke arah yang sejak mulanya ditetapkan oleh Allah. Bacaan Injil Minggu kedua puluh enam setelah Pentakosta, ini dipakai sebagai pengganti bacaan Injil Minggu ke 2 setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 25:31-46 yang didahului dengan Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 95:1-7a, dan Efesus 1:15-23.Minggu 07 Juni 2026, Saya selalu mengatakan hidup ini tidak ideal, bahkan lebih sering lucu menggemaskan alias wagu (Jawa). Dalam kondisi ketidak idealan tsb kita dituntut sikap etis atas kehidupan yang mendemonstrasikan bahwa Alkitab masih relevan dalam hidup orang beriman lewat proses juang meneladan Kristus dan mewujudkan hikmat pengajaranNya dalam hidup. Sangat membagongkan , sebuah sinode yg berseru ada dalam gerak kebersamaan atau gerak ekuminis menggunakan kalender liturgi dan liturgi leksionari, tetapi saat membuat bahan khotbah malah menggeser bacaan Injil, Matius 25 : 31-46 adalah bacaan Injil untuk Minggu 26 setelah Pentakosta, susunan itu sudah diatur sedemikian rupa, lah ..... Kok malah digeser menjadi bacaan Injil Minggu 2 setelah Pentakosta (Matius 9 :9-13,18-26), kan .... kalau mau usaha dikit kan ya seharusnya solusinya lebih manis, membagongkan kemudian menulis dalam tulisan miring dalam kurung di bahan khotbah sbb : (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bacaan yang 
digunakan adalah Matius 25:31-46/ di luar leksionari). Padahal, Sinode ini memakai bahan Matius 25:31-46 untuk mengusung tema lembaga Kristen yang berdampak sebagai pergumulan dalam bulan kesaksian dan pelayanan, yg dalam sudut pandang saya pribadi tema itu malah lebih tepat memakai Matius 9:9-13,18-26). Maka, perkenankan saya mengulas bacaan Injil Matius 25:31-26, sebagai pembanding thp arah tema bulan kesaksian dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. Teks ini bukanlah perumpamaan, melainkan ilustrasi atau penggambaran apokaliptik tentang penghakiman terakhir. Konteks bacaan adalah Matius 24-25 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯. Dapat dikatakan bacaan Injil Minggu ini merupakan mahkota wejangan Yesus dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯. Mahkota wejangan-Nya pun tidak dinyana: Tindakan belas kasihan berdampak kekal.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam dua bagian.
▶️ Matius 25:31-40 Melakukannya untuk Aku
▶️ Matius 25:41-46 Tidak melakukannya untuk Aku

𝗠𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗸𝘂 (Mat. 25:31-40)

“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢, 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘬𝘩𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. (ay. 31) 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨. (ay. 32) 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨-𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢. (ay. 33) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢: 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶, 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯. (ay. 34) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯; (ay. 35) 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘈𝘬𝘶. (ay. 36) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘋𝘪𝘢: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮? (ay. 37) 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯? (ay. 38) 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶? (ay. 39) 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 40) (TB II 2023)

Sebelum teks ini kita dapat membaca bahwa Yesus sudah bernubuat dalam bahasa apokaliptik mengenai kedatangan Anak Manusia (Mat. 24:29-31). Sekarang kita melihat gambaran pengadilan terakhir yang akan dijalankan oleh Anak Manusia pada saat kedatangan-Nya dan ukuran yang akan digunakan-Nya. 

Siapakah Anak Manusia itu? Kalau kita membaca perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 (Mat. 16:13-20), sebutan itu jelas untuk Yesus. Mengapa disebut itu? Di Injil Matius sebutan Anak Manusia untuk Yesus kali pertama muncul di Matius 8:20. Umat Kristen memahami Anak Manusia di bawah terang kitab Daniel 7:13. Anak Manusia merupakan ungkapan yang ditujukan kepada orang yang datang dengan wibawa dan wewenang ilahi. Di ayat 31 kemuliaan Anak Manusia diperikan sebagai kemuliaan Raja. Takhta kemuliaan dalam sastra apokaliptik lazimnya diduduki oleh Allah (lih. Dan. 7; Why. 4). Namun, di Injil Matius takhta diduduki oleh Anak Manusia. Yesus yang menjadi tokoh pusat.

𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 di ayat 32 bukannya tanpa kesulitan untuk ditafsir. Banyak ahli berpendapat, apabila dihubungkan dengan Matius 28:19, semua bangsa adalah semua orang tanpa kecuali. Semua bangsa dikumpulkan bukan untuk dipilahkan bangsa yang benar dari bangsa yang jahat, melainkan seorang atau individu yang benar dari individu yang jahat. Individu-individu yang benar ditempatkan di sebelah kanan Anak Manusia yang Raja, sedang individu-individu yang jahat di sebelah kiri-Nya. Pemerian ini bercorak Yahudi. Posisi kanan dianggap khusus dan terhormat.

Frase 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 (ay. 34) diterjemahkan dari 𝘬𝘭o𝘳𝘰𝘯𝘰𝘮o𝘴𝘢𝘵𝘦 yang berarti literal 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪𝘭𝘢𝘩. Di kehidupan gereja kita sering mendengar ungkapan bahwa 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Ini salah. Orang percaya adalah ahli waris, bukan pewaris. Pewaris adalah pemberi waris. Pewaris adalah Allah.

Apabila semua bangsa di atas adalah semua orang tanpa kecuali, bagaimana dengan mereka yang tidak pernah mendengar Injil? Jawaban Sang Raja di luar dugaan, tak dinyana: 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 … (lih. ay. 35-36). Sang Raja kemudian meringkas jawabannya: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (lih. ay. 40) Lebih ringkas lagi: berbelas kasihan. Sama sekali tidak ada syarat melakukan banyak “pelayanan” di gereja atau rajin pergi beribadah. Perbuatan kasih rupanya menjadi satu-satunya ukuran dalam 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.

Siapakah 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 di ayat 40 itu? Perlu dipahami bahwa Injil Matius ditulis untuk jemaat Kristen dari kalangan Yahudi. Pengarang Injil Matius tampaknya mencerap bahwa mereka sudah memahami Kitab Suci Yahudi (Perjanijan Lama) yang memberi perintah untuk berbelarasa kepada orang-orang miskin, masyarakat pinggiran, sehingga Matius tidak perlu secara eksplisit menulis tema itu seperti kisah 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 di Matius 19:16-26. Bandingkan dengan Injil Lukas yang menulis secara vulgar mengecam orang-orang kaya yang tidak berbelarasa kepada masyarakat pinggiran. Injil Lukas ditulis untuk jemaat Kristen dari kalangan kafir, yang tidak mengenal Kitab Suci Yahudi. Jadi, frase 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 dapat dikatakan merujuk setiap orang yang memerlukan pertolongan. Ini sejalan dengan teologi Matius yang mengusung Injil untuk segala bangsa. Jika kita bandingkan dengan Rasul Paulus yang berasal dari kaum Farisi, ia mengatakan bahwa orang-orang kafir akan dibenarkan karena mereka melakukan hukum kasih (lih. Rm. 2:12-16; 13:8-10).

Perlu dicatat di sini yang disebut dengan 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 di ayat 37 di atas dan di ayat 46 di bawah adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Allah. Dalam pada itu 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 di Matius 9:9-13 adalah sindiran Yesus kepada orang Farisi yang mengganggap dirinya benar.

𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗸𝘂 (Mat. 25:41-46)

“𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢: 𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬, 𝘦𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. (ay. 41) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮; (ay. 42) 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (ay. 43) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶? (ay. 44) 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (ay. 45) 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (ay. 46) (TB II 2023)

Bagian kedua ini berkebalikan dengan bagian pertama. Seperti cermin. Simetris. Seperti halnya bagian pertama ada enam contoh penderitaan yang disampaikan oleh Sang Raja. Sebagian dari mereka sangat boleh jadi tidak membenci sesamanya. Akan tetapi antonim dari mencintai bukanlah membenci, melainkan tidak peduli. Mereka tidak peduli kepada sesama. Tidak berbelas kasihan kepada orang yang butuh pertolongan sama saja tidak melakukan untuk Sang Raja.

Pemerian hukuman kekal dalam gaya bahasa apokaliptik menjadi refrain dalam Injil Matius (lih. Mat. 8:12; 13:42, 50; 18:8; 22:13; 24:51). Pelaksanaan keputusan dikisahkan dalam urutan terbalik dengan proses penghakiman sehingga cerita apokaliptik berakhir dengan nada positif 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.

Ketika Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, orang-orang yang menderita menjadi keprihatinan-Nya. Berbelarasa kepada mereka dan mengabdi kepada Kristus merupakan satu-kesatuan. Melayani kebutuhan orang-orang paling lemah, masyarakat pinggiran, sama saja melayani Kristus.

(26112023)(TUS)

Rabu, 03 Juni 2026

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

PENGANTAR
Gereja ngomong ekologi modalnya emosi sesaat. Kalau membaca artikel tentang teologi ekologi yang mereka tulis, isinya tidak berbeda dari menengking penyakit. Ujung-ujungnya nyalahin umat, padahal ia nggak tahu apa-apa soal ekologi. Makanya, ketika issue ekologi diangkat oleh lp3s saat paskah, banyak laman pendeta GKJ and GKI sw Jateng yg kisruh protes akan bahan issue itu, banyak juga laman yg berdenging sampai saat ini. Blom move on kali. Menanggapi konflik agraria Papua dalam film Pesta Babi
Kondisi:
Hutan sagu dibabat untuk sawah. Tanah ulayat diambil atas nama “ketahanan pangan”. Yang satu bilang kemajuan, yang lain merasa kehilangan rumah dan identitas. Di tengahnya ada air mata Yasinta Moiwend & Vincen Kwipalo. Kalau kita melirik Alkitab, kita bisa melihat bbrp referensi seperti Mazmur 24:1, “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”
Tanah Papua bukan milik negara, bukan milik korporasi, bukan juga milik suku. Semua tanah adalah milik Tuhan. Kita hanya pengelola. Kalau pengelolaan bikin sesama kehilangan pangan & martabat, kita harus bertanya: ini kehendak Pemilik tanah atau nafsu manusia? Yesaya 5:8, “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan yang menambahkan ladang demi ladang, sehingga tidak ada tempat lagi bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di negeri!” Allah mengecam kerakusan agraria sejak zaman nabi. “Ketahanan pangan” tidak boleh jadi alasan merampas pangan orang lain. Sagu adalah beras bagi orang Marind. Mengganti sagu dengan padi tanpa persetujuan mereka = menyerobot rumah. Amsal 14:31, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” Pembangunan yang menginjak yang lemah bukan memuliakan Tuhan, tapi menghina-Nya. Sebab Pencipta orang Marind, Awyu, Muyu, Yei adalah Allah yang sama. Mikha 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Tiga kata kunci buat pemerintah, korporasi, gereja, & kita: Adil, Setia. Rendah hati. Tidak ada “proyek strategis nasional” yang lebih tinggi dari tiga hal ini.
Film _Pesta Babi_ (2026) karya Dandhy Laksono & Cypri Paju Dale memang banyak bahas program pencetakan sawah di Papua Selatan. Saya mencoba melihat Ini data valid yang diangkat/disinggung di film dari data resmi pemerintah terkait programnya: Data Kementan lengkap: pshttp://p.pertanian.go.id dan juga Liputan http://Konde.co soal film & kronologi proyek 03264239c5eb
MIRE - Merauke Integrated Rice Estate, 2007, Era SBY. Target cetak sawah skala besar. Gagal, MIFEE - Merauke Integrated Food And Energy Estate, 2010
   Era SBY. Target pangan + energi. Gagal, Food Estate Era Jokowi, Program cetak sawah 1,2 juta hektare. Disebut gagal, Proyek Era Prabowo Subianto. Disebut merampas 2,5 juta hektare atau 5x luas Pulau Bali untuk ketahanan pangan & energi. Hutan dibabat jadi ladang tebu untuk gula & bioetanol. Konflik utama di film:

1. Deforestasi besar-besaran hutan sagu → sumber pangan utama masyarakat adat.
2. Tanah ulayat diubah jadi lahan monokultur sawit, tebu, dan sawah untuk biodiesel, bioetanol, & program ketahanan pangan.
3. Tradisi _Pesta Babi_ dipakai sebagai metafora kritik: ritual syukur & persatuan vs eksploitasi tanah adat tanpa persetujuan. 
PEMAHAMAN
Saya hanya pingin mengungkap bahayanya pencetakan sawah di tanah gambut, ini tidak dipikirkan dan membagongkan.
𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵
Kemarin saya menyinggung di laman saya, pencetakan sawah secara ekstensif akan menimbulkan bahaya pelepasan gas metan yang merusak kesehatan ozon. Bagaimana penjelasannya?

Metan (CH4) bersama CO2 dan NO2 masuk ke golongan gas rumahkaca. Namun, gas metan sangat kuat, 28 – 34 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam memerangkap panas (20 – 100 tahun jangka waktu).

Mengapa sawah menghasilkan gas metan?

Sawah selalu tergenang sehingga kondisi menjadi anaerob. Ketika tanah digenangi air, oksigen tidak dapat masuk ke dalam tanah. Akibatnya mikrobia yang hidup di dalam tanah beralih ke metabolisme anaerob.

Mikrobia anaerob menghasilkan metana. Dalam kondisi tanpa oksigen sekelompok mikrobia khusus yang disebut metanogen mengurai bahan organik di tanah seperti: sisa-sisa jerami, akar tanaman yang mati, bahan organik alami tanah. Proses penguraiannya menghasilkan CH₄ (metana) sebagai produk sampingan. Fenomena yang sama seperti gas yang muncul di rawa, karena kondisinya mirip.

Sawah sangat luas sehingga emisi akumulatif besar. Apabila pencetakan sawah dilakukan masif dan ekstensif, maka luas lahan yang tergenang meningkat, jumlah metanogen meningkat, total produksi CH₄ naik dahsyat. Pada skala nasional sawah menjadi satu dari sejumlah sumber gas metan terbesar pada sektor pertanian.

Beberapa hal yang dapat membuat emisi lebih tinggi:
▶️ Jerami dibenamkan (banyak bahan organik untuk diurai)
▶️ Air tergenang tanpa jeda (tanpa fase oksigen, metanogen berkembang terus)
▶️ Pemupukan tertentu (misal urea berlebihan)
▶️ Jenis tanah kaya bahan organik

Pada zaman Orba Indonesia sudah mengalami tragedi pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut di Kalimantan. Projek ini pada akhirnya menjadi bencana. Prof. Tejoyuwono yang kala itu menjadi konsultan utama untuk pemulihan mengatakan bahwa dibutuhkan waktu sedikitnya 100 tahun untuk mengembalikan status lahan sampai nilai marginal, dan itu pun pemulihan lahan gambut hanya memperbaiki yang tersisa, tidak mengembalikan volume yang sudah lenyap.

Mengapa pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut itu menjadi tragedi?

Gambut terbentuk dari bahan organik yang menumpuk ribuan tahun dalam kondisi jenuh air sehingga tidak teroksidasi. Ketika dikeringkan, oksigen masuk ke pori-pori tanah, mikrobia menguraikan bahan organik. Dalam proses ini ia melepaskan CO₂ dalam jumlah besar.

gambut → kering → teroksidasi → habis menjadi CO₂

Indonesia menanggung banyak emisi karbon dunia dari proses ini.

Gambut yang mengering menjadi menyusut, memadat, hilang volumenya. Dampaknya
permukaan tanah turun 2–5 cm per tahun (bahkan lebih pada awalnya), daerah menjadi lebih rendah daripada permukaan air, rawan banjir, dan sulit dikembalikan. Ini berarti gambut “hilang” secara fisikal, bukan hanya kimiawi.

Gambut kering menjadi mudah terbakar, merembet ke bawah (𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘧𝘪𝘳𝘦), dan sulit dipadamkan. Kebakaran gambut mengakibatkan kabut asap lintas negara, kerusakan ekosistem besar, pelepasan CO₂, CO, PM2.5, dan toksin lainnya.

Gambut basah dapat menyimpan air seperti spons, tetapi saat ia dikeringkan pori-porinya rusak. Kapasitas menyimpan air hilang: mudah terbakar, mudah banjir.

Dari tragedi gambut ini sebenarnya Pemerintah punya cermin besar untuk berkaca diri.
(04062026)(TUS)





Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian 1), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 1), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

PENGANTAR
Minggu 07 Juni 2026, Saya selalu mengatakan hidup ini tidak ideal, bahkan lebih sering lucu menggemaskan alias wagu (Jawa). Dalam kondisi ketidak idealan tsb kita dituntut sikap etis atas kehidupan yang mendemonstrasikan bahwa Alkitab masih relevan dalam hidup orang beriman lewat proses juang meneladan Kristus dan mewujudkan hikmat pengajaranNya dalam hidup. Sangat membagongkan , sebuah sinode yg berseru ada dalam gerak kebersamaan atau gerak ekuminis menggunakan kalender liturgi dan liturgi leksionari, tetapi saat membuat bahan khotbah malah menggeser bacaan Injil, Matius 25 : 31-46 adalah bacaan Injil untuk Minggu 26 setelah Pentakosta, susunan itu sudah diatur sedemikian rupa, lah ..... Kok malah digeser menjadi bacaan Injil Minggu 2 setelah Pentakosta  (Matius 9 :9-13,18-26), kan .... kalau mau usaha dikit kan ya seharusnya solusinya lebih manis, membagongkan kemudian menulis dalam tulisan miring dalam kurung di bahan khotbah sbb : (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bacaan yang 
digunakan adalah Matius 25:31-46/ di luar leksionari). Padahal, Sinode ini memakai bahan Matius 25:31-46 untuk mengusung tema lembaga Kristen yang berdampak sebagai pergumulan dalam bulan kesaksian dan pelayanan, yg dalam sudut pandang saya pribadi tema itu malah lebih tepat memakai Matius 9:9-13,18-26). Maka, perkenankan saya mengulas 1 bacaan Injil Matius 9:9-13,18-26, lumayan panjang agar dapat diperbandingkan dg arah tema bulan kesaksian dan pelayanan. Kemudian tulisan berikutnya saya akan mengulas Matius 25:31-26, sebagai pembanding thp arah tema bulan kesaksian dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Kalau kita hendak mengenali satu sosok, misal pesepakbola idola, bintang film idola, tentulah kita tidak akan puas dengan membaca satu buku dari satu pengarang tentang sosok yang kita idolai itu. Kita akan mencari buku lain atau kisah lain dari penulis lain. Demikian halnya pada Yesus. Kita beruntung Alkitab menyediakan empat buku tentang kehidupan dan karya Yesus dari penulis atau pengarang yang berbeda. Injil Matius dipandang oleh banyak ahli Perjanjian Baru sebagai kitab Injil paling teratur. Hal ini juga mengisyaratkan Jemaat Matius merupakan Gereja yang sudah tertata cukup rapi baik organisasi maupun liturgi. Justru sudah tertata cukup rapi itulah Jemaat Matius bergejolak baik karena tekanan eksternal maupun internal, mirip Gereja mapan masa kini. Pengarang Injil Matius menulis Injilnya untuk mengatasi persoalan itu.
Hari ini adalah Minggu kedua sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 9:9-13, 18-26 yang didahului dengan Kejadian 12:1-9, Mazmur 33:1-12, dan Roma 4:13-25.
Bacaan Injil Minggu ini terdiri atas dua perikop: Matius 9:9-13 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 dan Matius 9:18-26 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯. Konteks terdekat bacaan adalah Matius pasal 8 – 9 yang bertema 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 atau dapat juga diberi tema 𝘒𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘬𝘫𝘪𝘻𝘢𝘵. Kedua pasal itu berbentuk narasi. Latar tempat di Kapernaum dengan merujuk Matius 8:5; 9:1.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟵-𝟭𝟯

Setelah Yesus pergi dari situ (tempat Yesus menyembuhkan orang lumpuh), Ia melihat seorang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “𝘐𝘬𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶.” Matius pun berdiri dan mengikut Yesus. (ay. 9). Nama Matius di sini tidak ada hubungannya dengan nama pengarang Injil Matius. Nama Matius itu juga tidak perlu disamakan dengan nama Lewi di Injil Markus (Mrk. 2:14). Mereka adalah sosok menurut penulis Injil masing-masing. Ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya (ay. 10). Dalam bahasa aslinya tidak disebut 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘶𝘴, melainkan 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 (𝘦𝘯 𝘵o 𝘰𝘪𝘬𝘪𝘢). Mungkin penerjemah LAI berprapaham bahwa Yesus tidak memiliki rumah, maka langsung dianggap itu rumah milik Matius. Makan di sini sebenarnya penafsiran dari 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘦𝘪𝘮𝘦𝘯𝘰𝘶 yang berarti literal sedikit rebahan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨). Kita yang biasa naik bus malam disediakan kursi yang dapat direbahkan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘢𝘵). Mengapa 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘦𝘪𝘮𝘦𝘯𝘰𝘶 ditafsir makan? Pada zaman itu hanya meja makan tanpa bangku atau kursi. Orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan.
Dalam ayat 10 tidak disebut secara eksplisit bahwa Matius adalah pemungut cukai. Namun, karena ia berada di tempat pemungutan cukai, maka sangat boleh jadi teman-teman dari kalangan pemungut cukai ada banyak dan mereka bergabung makan bersama dengan Yesus. Pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat oleh orang-orang Farisi karena bekerja untuk Pemerintah Roma. Rabi-rabi Yahudi bahkan menyebut pemungut cukai adalah pencuri. Selain para pemungut cukai disebut juga orang berdosa bergabung ke rumah itu. Jadi, ada dua kelompok orang berdosa. Pertama, orang berdosa secara spesifik yang bekerja sebagai pemungut cukai. Kedua, orang berdosa secara umum. Apakah kelompok kedua ini adalah para pelanggar hukum Taurat? Tampaknya bukan itu. Orang berdosa kelompok kedua ini adalah orang-orang buangan, orang-orang kasta rendah dalam sistem kesucian Yudaisme seperti para penunggang unta, pelaut, gembala, pemilik toko, tukang daging, dlsb.
Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘎𝘶𝘳𝘶𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢?” (ay. 11) Di Palestina perjamuan makan merupakan saat utama terjadinya persekutuan antar-manusia. Pada zaman itu suatu perjamuan makan membolehkan orang lain untuk menonton. Di antara penonton itu ada orang-orang Farisi. Menurut mereka makan bersama dengan para pendosa berarti Yesus melanggar aturan yang ditetapkan oleh kaum Farisi.
Yesus mendengar perkataan orang Farisi itu dan berkata, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘣𝘪𝘣, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪: 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢.” (ay. 12-13). Dengan berkata 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, Yesus hendak mengajak para pendengar-Nya menangkap makna perbuatan-Nya. Firman di ayat itu mengutip kitab Hosea 6:6.

Siapakah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 itu? Tentu saja yang dimaksud adalah orang-orang Farisi yang sudah merasa benar. Kalau sudah benar, untuk apa lagi butuh belas kasihan? 

Dalam pada itu para pemungut cukai dan pendosa dikucilkan dari ibadah dan kurban persembahan. Pada episode sebelumnya dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 Yesus mengatakan, “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣𝙢𝙪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶” (Mat. 23-24). Jadi, yang dimaksud oleh Yesus 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 adalah 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝘂𝗿𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗻𝗼𝗺𝗼𝗿 𝗱𝘂𝗮, sedang nomor satu adalah belas kasihan (𝘮𝘦𝘳𝘤𝘺) dan rekonsiliasi.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟭𝟴-𝟮𝟲

Bacaan melompat dari ayat 13 ke ayat 18 di pasal atau bab yang sama. Latar tempat masih di rumah tempat perjamuan makan Yesus dengan para pendosa. Perikop ini bersumber dari Injil Markus 5:21-43. Pengarang Injil Matius menyingkatnya dari 23 ayat menjadi 9 ayat saja.
Datanglah seorang kepala rumah ibadat menyembah Yesus dan berkata, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘔𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama dengan murid-murid-Nya. (ay. 18-19)
Seorang kepala rumah ibadat (TB 1974 dan TB II 1997) atau kepala sinagog diterjemahkan dari 𝘢𝘳𝘤𝘩o𝘯. NRSV juga sama menerjemahkan 𝘢𝘳𝘤𝘩o𝘯 sebagai 𝘢 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘴𝘺𝘯𝘢𝘨𝘰𝘨𝘶𝘦. Kepala sinagog adalah pejabat penting. Ia menentukan pembaca kitab suci dan pengajar/pengkhotbah untuk ibadah di sinagog. Dalam Injil Markus kepala sinagog itu bernama Yairus, tetapi di perikop ini Matius tidak menyebut namanya.
Dalam kekristenan kepala sinagog itu sejajar dengan koster, yang bertanggung jawab untuk mengurus sakristi, bangunan gereja, dan isinya. Sakristi adalah sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum (pakaian) seperti alba, stola, dan kasula. Sakristi juga dipergunakan untuk menyimpan perabotan gereja lainnya termasuk barang-barang suci dan catatan jemaat. Dalam 𝘊𝘢𝘵𝘩𝘰𝘭𝘪𝘤 𝘌𝘯𝘤𝘺𝘤𝘭𝘰𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 (Vol.13) Paus Gregorius IX mengatakan koster adalah jabatan terhormat. Dalam buku 𝘊æ𝘳𝘦𝘮𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘦 𝘦𝘱𝘪𝘴𝘤𝘰𝘱𝘰𝘳𝘶𝘮  terdapat aturan bahwa koster dalam gereja-gereja katedral dan perguruan tinggi adalah seorang imam. Tugas-tugasnya berpautan dengan sakristi, hosti kudus, bejana baptis, minyak suci, relikui suci, dekorasi gereja untuk setiap perayaan dan masa yang berbeda, persiapan kebutuhan beragam upacara, membunyikan lonceng gereja, memelihara keteraturan dalam gereja, dan mengatur jadwal ibadah. Di Gereja-Gereja Protestan di Indonesia koster turun dahsyat menjadi pesuruh atau 𝘰𝘧𝘧𝘪𝘤𝘦 𝘣𝘰𝘺 Gereja.
Kepala sinagog itu datang menyembah Yesus. Menyembah di sini menerjemahkan 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯𝘦𝘪 yang berarti bertelut (𝘬𝘯𝘦𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘸𝘯). Menyembah di sini bukan bermakna sujud menyembah raja. Orang itu sedang berputus asa dan Yesus adalah pengharapannya terakhir. Itulah sebabnya ia bertelut, memohon dengan sangat kepada Yesus. Ia meyakini dengan penumpangan tangan Yesus di kepala anak perempuannya, ia akan hidup lagi.
Mari kita lihat reaksi Yesus. Ia langsung bangun. Kok bangun? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa pada zaman itu orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan. Di tempat perjamuan itu sebelumnya Yesus berkata bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan tabib. Yesus memegang perkataan-Nya dengan bereaksi langsung bertindak.
Dalam perjalanan ke rumah kepala sinagog itu bukan saja murid-murid Yesus yang mengikuti-Nya, melainkan banyak orang karena ingin melihat yang akan terjadi. Di keramaian itu ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Secara diam-diam perempuan itu hendak menjamah jumbai jubah Yesus dari belakang. Katanya dalam hati, “𝘈𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘫𝘶𝘣𝘢𝘩-𝘕𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩.” (ay. 20-21)
Ada perbedaan tegas antara kepala sinagog dan perempuan itu dalam hal menginginkan mukjizat dari Yesus. Kepala sinagog meminta terus terang sampai ia bertelut, sedang perempuan itu tidak mengucap dan menginginkan mendapat mukjizat secara diam-diam seperti hendak mencuri. Sangat dipahami status perempuan itu sangat rendah menurut sistem kesucian Yudaisme. Perempuan dalam keadaan menstruasi adalah najis (lih. Im. 15:19, 20, 25). Perempuan itu tidak seperti perempuan normal yang mendapat menstruasi hanya pada masa-masa tertentu, tetapi terus-menerus selama 12 tahun. Setiap hari ia najis. Orang yang disentuhnya juga menjadi najis. Perempuan itu malu berbicara dengan Yesus. Tidak ada cara lain kecuali menyentuh jumbai jubah Yesus secara diam-diam.

Apa itu jumbai? Jumbai (𝘧𝘳𝘪𝘯𝘨𝘦) bersinonim dengan gunjai, jurai, rumbai-rumbai, umbai, bunjai, gunci (Tesamoko, hlm. 304). Ada empat jumbai yang harus dipasang di ujung jubah laki-laki Yahudi; Jumbai harus diberi benang ungu kebiru-biruan (lih. Bil. 15:37-41).

Sesudah perempuan itu menyentuh jumbai jubah-Nya, Yesus menoleh dan memandangnya, “𝘛𝘦𝘨𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶. 𝘐𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶.” Sejak saat itu perempuan itu sembuh. (ay. 22)
Pengarang Injil Matius tampaknya hendak menyampaikan dengan terang bahwa Yesus tidak pilih kasih, tidak tebang pilih. Perempuan najis pun diterima oleh Yesus. Di sini Matius hendak mengontraskan antara kepala sinagog yang terhormat dan perempuan najis itu sama-sama diterima oleh Yesus. Gereja pun sepatutnya demikian, tidak hanya memumpunkan pelayanan kepada orang-orang kaya dan pejabat negara.
Yesus melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala sinagog. Ketika Ia tiba di sana dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Yesus, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳.” Mereka menertawai Yesus. Sesudah mereka keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Tersebarlah kabar itu ke seluruh daerah itu. (ay. 23-26)
Disebutkan dalam ayat di atas 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱-𝘱𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. Pada masa itu suasana perkabungan Yahudi harus dilengkapi dengan peniup-peniup seruling dan perempuan peratap. Dalam ayat di atas tidak disebut perempuan peratap karena sangat bolehjadi perempuan peratap adalah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 itu atau di antara 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 itu. Di dalam 𝘔𝘪𝘴𝘺𝘯𝘢 (buku peraturan ahli Taurat) dikatakan bahwa orang miskin juga harus menyewa sekurang-kurangnya dua peniup seruling dan seorang perempuan peratap dalam perkabungan. Kepala sinagog itu bukan orang miskin sehingga tampaknya jumlah peniup seruling dan perempuan peratap yang disewanya cukup banyak dengan merujuk frase 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵 (ay. 23).
Di ayat 18 kepala sinagog mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal, tetapi di ayat 24 Yesus mengatakan bahwa anaknya tidur. Di sini tampaknya Matius hendak menyampaikan kepada jemaatnya bahwa kematian bukanlah menakutkan karena hanya tidur sementara di kubur. Pengarang Injil Matius juga menempatkan kisah ini di pasal 9 untuk menyiapkan ucapan Yesus di Matius 11:5 “…𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨  𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 …”.
Dari bacaan Minggu ini kita dapat membayangkan orang-orang Kristen masa kini, misal dari kalangan Tongis, jika hidup pada masa Yesus sangat bolehjadi mereka masuk di dalam kisah Injil sebagai faksi utama Yahudi, selain Farisi, yang menentang Yesus. Di sini Yesus sangat liberal dan radikal. Yesus sesat! Yesus melanggar hukum Taurat dengan menafsir ulang. Yesus bergaul dengan kalangan orang najis. Keselamatan ditafsir oleh Yesus bukan dengan memelihara ideologi ketidakkeliruan Kitab Suci atau 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦. Belas kasihan dan rekonsiliasi jauh lebih penting ketimbang ibadah, menenggelamkan ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦.

(03062026)(TUS)

SUDUT PANDANG KRITIK TERHADAP DOKTRIN “KEPATUHAN BUTA PADA PEMIMPIN YANG DIURAPI”

SUDUT PANDANG KRITIK TERHADAP DOKTRIN “KEPATUHAN BUTA PADA PEMIMPIN YANG DIURAPI” 
Suatu Studi Eksegetis 2 Korintus 1:21-22 dan Naratif 1 Samuel 26

PENGANTAR 
Doktrin “jangan menjamah orang yang diurapi Tuhan” sering dipakai untuk membungkam kritik terhadap pejabat gerejawi. Tulisan ini menguji klaim tersebut melalui analisis bahasa, konteks, dan tradisi pada 2 Korintus 1:21-22 dan 1 Samuel 26. Hasilnya: kedua teks tidak mendukung kepatuhan buta, melainkan menuntut ketaatan yang kritis, terbatas, dan tunduk pada otoritas Allah.
PEMAHAMAN 
Fenomena “spiritual abuse” kerap berakar pada tafsir literal 1 Sam 26:9 dan perluasan makna “pengurapan” dalam 2 Kor 1:21. Pertanyaannya: Apakah “diurapi” berarti kebal kritik? Tulisan ini memakai metode historis-gramatikal dan kritik naratif untuk menjawabnya.
2 Korintus 1:21-22 
ὁ δὲ βεβαιῶν ἡμᾶς σὺν ὑμῖν εἰς Χριστὸν καὶ χρίσας ἡμᾶς θεός, ὁ καὶ σφραγισάμενος ἡμᾶς καὶ δοὺς τὸν ἀρραβῶνα τοῦ πνεύματος ἐν ταῖς καρδίαις ἡμῶν.

1. χρίσας (chrisas) “yang telah mengurapi” Partisip aorist aktif dari χρίω. Dalam LXX, χρίω dipakai untuk raja 1 Sam 10:1, imam Kel 40:15, dan nabi 1 Raj 19:16. Namun di sini subjeknya θεός, objeknya ἡμᾶς σὺν ὑμῖν “kami bersama kamu”. Pengurapan bersifat korporat, bukan individual-hierarkis. Tidak ada indikasi pemisahan klerus-awam.

2. σφραγισάμενος (sphragisamenos) “yang memeteraikan”
Meterai σφραγίς dalam dunia Yunani-Romawi = tanda kepemilikan, keaslian, dan proteksi. Ef 1:13 paralel: meterai = Roh Kudus. Artinya: Allah yang memiliki umat, bukan pemimpin memiliki umat.

3. ἀρραβῶνα (arrabōna) “jaminan”
Istilah dagang Fenisia yang masuk Yunani. Artinya uang muka. Roh adalah DP dari keselamatan eskatologis 2 Kor 5:5. Jaminan ini dari Allah kepada jemaat, bukan sebaliknya.

Teks ini bicara identitas soteriologis seluruh jemaat. Memakainya untuk menuntut loyalitas absolut ke satu pemimpin = category mistake

1 Samuel 26:9-11*  
וַיֹּאמֶר דָּוִד אֶל־אֲבִישַׁי אַל־תַּשְׁחִיתֵהוּ כִּי מִי שָׁלַח יָדוֹ בִּמְשִׁיחַ יְהוָה וְנִקָּה... חָלִילָה לִּי מֵיְהוָה מִשְּׁלֹחַ יָדִי בִּמְשִׁיחַ יְהוָה

1. בִּמְשִׁיחַ יְהוָה (bimshiach YHWH) “terhadap orang yang diurapi TUHAN” 
 Kata משיח dari משח “mengurapi dengan minyak”. Jabatan, bukan karakter. Saul tetap “diurapi” meski sudah ditolak 1 Sam 15:26.

2. שָׁלַח יָד (shalach yad) “menjamah/mengulurkan tangan”  
Idiom Ibrani untuk tindakan kekerasan fisik yang mematikan. Bdk. Kej 22:12;  Yang dilarang Daud spesifik: pembunuhan. Bukan kritik verbal. Buktinya Daud justru menegur Saul.

Larangan “menjamah” = larangan kudeta berdarah. Tidak ada larangan untuk tidak taat, mengoreksi, kritik atau melarikan diri dari perintah yang salah.

Konteks 2 Korintus 1 
Paulus dituduh tidak konsisten karena batal ke Korintus 1:15-17. Ia membela integritasnya dengan menyebut Allah yang meneguhkan, mengurapi, memeteraikan kami dan kamu. Konteksnya apologetik, bukan otoritarian. Paulus justru sedang diaudit jemaat. Jika “diurapi” berarti anti-kritik, Paulus tidak akan repot-repot klarifikasi.

Naratif 1 Samuel 26
Pasal ini harus dibaca dalam narasi besar 1 Sam 15–31.  

1. Saul sudah ditolak Allah 15:23, 26.  
2. Roh TUHAN undur dari Saul 16:14.  
3. Daud sudah diurapi jadi raja 16:13.  

Jadi ada dua “orang diurapi” bersamaan. Daud menghormati institusi raja, tapi menolak otoritas personal Saul. Ia tidak pulang saat dipanggil, tidak menyerahkan diri, bahkan menubuatkan kematian Saul, Ini model “pembangkangan sipil yang non-kekerasan”.

Tradisi Israel  
Fungsi nabi = mengoreksi raja yang diurapi. 2 Sam 12: Natan → Daud. 1 Raj 18: Elia → Ahab. Yer 38: Yeremia → Zedekia. Tradisi profetik menempatkan dabar YHWH di atas mashiach. Tidak ada konsep “raja kebal kritik”.

Tradisi Perjanjian Baru 
Kis 5:29: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” diucapkan di depan Sanhedrin — institusi yang “diurapi”. Gal 2:11: Paulus menegur Petrus di depan umum. Mat 23: Yesus mengecam keras pemimpin agama. PB menolak kultus individu.

Tradisi Gereja
Ambrosius mengucilkan Kaisar Theodosius karena pembantaian Tesalonika. Luther: “Hati nurani yang ditawan Firman Allah” lebih tinggi dari Paus. Calvin: magistratus inferiores wajib melawan tiran. Reformasi lahir dari penolakan kepatuhan buta.

Penyalahgunaan Teks Koreksi Eksegetis
2 Kor 1:21 = pemimpin punya pengurapan khusus, Umat “kami bersama kamu”: punya pengurapan kolektif, artinya semua orang percaya itu diurapi dan 1 Sam 26:9 = tidak boleh kritik pemimpin, Konteksnya: larangan membunuh, Daud tetap kritik Saul. “Diurapi” = infalibel Saul diurapi tapi ditolak Allah 1 Sam 15:26

Istilah "pimpinan gereja berhati tuan" merujuk pada kritik atau fenomena ketika seorang pemimpin rohani bertindak superior, otoriter, atau memposisikan dirinya sebagai penguasa (tuan) yang harus dilayani, alih-alih menjadi pelayan jemaat.

Secara alkitabiah dan esensi pelayanan, fenomena ini bertolak belakang dengan panggilan dasar seorang hamba Tuhan. 

Dalam iman Kristen, Yesus Kristus memberikan teladan sebagai "Raja yang Berhati Hamba", yaitu pemimpin tertinggi yang rela merendahkan diri untuk melayani manusia. 

Pemimpin gereja, Seharusnya memiliki hati hamba (servant's heart), bersikap bersahaja, tulus, gembala yang melindungi, dan siap melayani jemaat.  

Pemimpin gereja Berlagak Tuan. Hal ini mengalami pergeseran motivasi. Mereka menggunakan otoritas mimbar atau jabatan gerejawi untuk mengontrol orang lain, mencari keuntungan pribadi, atau menuntut penghormatan yang berlebihan.

Ciri-Ciri Pemimpinngereja Berlagak Tuan:

1. Menuntut Dilayani. 
Lebih fokus pada fasilitas, kenyamanan, hak, atau perlakuan istimewa dari jemaat ketimbang fokus memberi pelayanan.

2. Otoriter dan Anti-Kritik. 
Menggunakan dalih "jangan menyentuh orang yang diurapi Tuhan" untuk membentengi diri dari masukan, teguran, atau transparansi. 

3. Memanfaatkan Jemaat. 
Melihat jemaat sebagai aset untuk membesarkan nama pribadi, pengaruh, atau finansial (materialistis). 

4. Pemberian Kasih yang Tebang Pilih.
Cenderung lebih dekat, ramah, dan rajin mengunjungi jemaat yang kaya raya atau elit demi keuntungan tertentu, serta mengabaikan yang kekurangan.

5. Manipulasi Rohani.
Menggunakan ayat-ayat Alkitab secara keliru untuk memaksa jemaat tunduk mutlak kepada keputusan pribadinya.  Menggunakan ayat alkitab untuk menyerang yg dianggap akan menghalangi jalan kepentingannya.

Jika seorang pemimpin gereja mengadopsi mentalitas "tuan", hal ini bisa memicu kekecewaan berat bagi jemaat. Jemaat dapat mengalami trauma rohani, kehilangan kepercayaan pada institusi gereja, hingga menjauh dari Tuhan. 

Oleh karena itu,  gereja selalu menekankan pentingnya menjaga kemurnian hati agar seorang pemimpin gereja tetap menjadi hamba bagi Tuannya yang sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Tiga prinsip alkitabiah:
1. Uji segala sesuatu 1 Tes 5:21; 1 Yoh 4:1. Pengurapan sejati tidak takut diuji.  
2. Hierarki ketaatan: Allah baru manusia Kis 5:29.  
3. Akuntabilitas pemimpin: Yak 3:1, pemimpin dihakimi lebih berat. Kepemimpinan PB bersifat gembala 1 Pet 5:2-3, bukan penguasa.

 Kesimpulan
2 Korintus 1:21-22 berbicara tentang identitas seluruh umat sebagai milik Allah, yang diurapi, tak ada jenjang, setara, semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dalam gereja, bukan lisensi otoritarian/otoriter. 1 Samuel 26 memberi model hormat pada jabatan tanpa tunduk pada perintah yang jahat. Doktrin “kepatuhan buta pada pemimpin yang diurapi” gagal secara linguistik, kontekstual, dan tradisi. Ketaatan Kristen selalu coram Dei, di hadapan Allah sehingga bersifat kritis, etis, dan tidak pernah absolut kepada manusia.

Daftar Pustaka Singkat
1. Barrett, C.K. The Second Epistle to the Corinthians. BNTC. 1973.  
2. Bergen, R.D. 1, 2 Samuel. NAC. 1996.  
3. Fee, G.D. God’s Empowering Presence. 1994.  
4. Fokkelman, J.P. Narrative Art and Poetry in the Books of Samuel Vol II. 1986.
(03062026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 9:9-13, Sleeping with enemi

Sudut Pandang Matius 9:9-13, Sleeping with enemi  PENGANTAR Pernah nonton film sleeping with enemi? Nah ... Itu yg dilakukan Yes...