Selasa, 12 Mei 2026

Sudut Pandang Kisah Rasul 1:1–11, Efesus 1:15–23, dan Lukas 24:44–53,HARI KENAIKAN TUHAN YESUS, TAHUN A, Tubuh yang masuk ke surga

Sudut Pandang Kisah Rasul 1:1–11, Efesus 1:15–23, dan Lukas 24:44–53,HARI  KENAIKAN TUHAN YESUS, TAHUN A, Tubuh yang masuk ke surga 

PENGANTAR 
Kisah Rasul 1:1–11, Efesus 1:15–23, dan Lukas 24:44–53, Kamis 14 Mei 2026,  CARNEM NOSTRAM IN CAELO HABEMUS. Ini adalah tanya jawab 49 dari Katekismus Heidelberg yang sangat mengesankan buat saya. Pertanyaan "apa manfaat Kenaikan Yesus ke surga?" dijawab di bagian kedua dengan klaim: carnem nostra in caelo habemus. Kita memiliki daging kita di surga. Sejak Kenaikan itu, surga tak lagi sama. Materialitas daging memasuki surga selama-lamanya. Bahkan Daging yang tak sempurna, boleh dikata terkutuk.
PEMAHAMAN 
Ketiga teks ini memiliki kesatuan tema: kenaikan Yesus ke surga.  Kisah Rasul 1:1–11 menekankan aspek historis dan teologis: Yesus naik ke surga secara fisik, tubuh yang luka dan terkutuk, disaksikan murid-murid.  Lukas 24:44–53 menampilkan dimensi liturgis dan berkat: Yesus memberkati murid-murid sebelum naik ke surga.  Efesus 1:15–23 menafsirkan kenaikan itu secara teologis: Kristus dimuliakan dan menjadi Kepala atas segala sesuatu bagi jemaat.  Dalam bahasa Yunani, kata analambanō (diangkat) dalam Kisah Rasul 1:9 menunjukkan tindakan pasif—Yesus diangkat oleh kuasa Allah, bukan naik sendiri. Ini menegaskan bahwa tubuh manusia Yesus diterima oleh Allah, bukan ditolak, bahkan tubuh terkutuk itu Allah yang mengangkat. Dalam budaya Yahudi kuno, tubuh dianggap bagian integral dari identitas manusia. Namun, ada pandangan bahwa tubuh yang cacat atau najis tidak layak untuk hadir di hadapan Allah (lih. Imamat 21:17–23).  Yesus menantang paradigma ini: Ia naik ke surga dengan tubuh yang masih memiliki luka salib (Yohanes 20:27). Luka itu bukan tanda kutuk, melainkan tanda kasih dan penebusan. Dengan demikian, surga menerima tubuh yang terluka karena kasih, bukan menolak karena cacat, disabel. Dalam konteks budaya Jawa tradisional, ada kepercayaan bahwa tubuh yang “sempurna” atau “utuh” lebih layak untuk kehidupan setelah mati. Namun, teologi Kristen membalikkan pandangan ini: keselamatan tidak ditentukan oleh keutuhan fisik, melainkan oleh kasih karunia Allah (Efesus 2:8–9). Kenaikan Yesus menunjukkan bahwa tubuh manusia—bahkan yang terluka—dapat dimuliakan.  Bagi korban kekerasan seksual,  pelacur, disabilitas atau mereka yang merasa tubuhnya “tidak layak”,  bahkan kematian yg tragis seperti kecelakaan pesawat terbang dlsb, kisah ini menyatakan: Allah menerima tubuh yang terluka dan menebusnya menjadi mulia.  
Bagi mereka yang kehilangan bagian tubuh karena medis, bagi mereka yg tidak mau menjalani tindakan medis karena merasa kalau tubuhnya oleh karena tindakan medis menjadi tidak utuh shg bakal ditolak surga kalau mati, iman Kristen menegaskan bahwa identitas kekal tidak ditentukan oleh keutuhan jasmani, tetapi oleh kesatuan dengan Kristus yang bangkit. Dalam Heidelberg Catechism (khususnya Q&A 46–49), kenaikan Kristus menegaskan bbrp hal: Kristus adalah pengantara di surga dengan tubuh manusia yang sama seperti di bumi. Tubuh-Nya di surga menjadi jaminan bahwa kita juga akan diterima sepenuhnya oleh Allah.  Roh Kudus yang dikirim dari surga menghubungkan kita dengan Kristus, sehingga tubuh kita yang fana pun akan dimuliakan kelak. Kisah kenaikan Yesus memberi penghiburan besar:  Tidak ada tubuh yang terlalu rusak untuk diterima Allah.  Luka, cacat, disabilitas, tidak lengkap atau aib bukan penghalang bagi kemuliaan.  Dalam Kristus, setiap tubuh manusia—terluka, dipermalukan, atau hancur—dapat menjadi tempat kemuliaan Allah. Yesus naik ke surga dengan tubuh yang terluka, dan surga menerimanya. Ini adalah deklarasi teologis bahwa kasih Allah lebih besar dari luka tubuh manusia. Dalam terang Heidelberg Catechism, tubuh kita—apa pun kondisinya—akan dipulihkan dan dimuliakan bersama Kristus.  
(13052026)(TUS)


PENGANTAR 
Kisah Rasul 1:1–11; Efesus 1:15–23; Lukas 24:44–53, tiga bacaan untuk perayaan Kenaikan Yesus ke Surga, pada Kamis 14052026. Memberitakan nama Tuhan itu bukan Syiar, syiar itu menyebarkan agama, dan harapannya orang menjadi beragama yg disebarkan, memberitakan nama Tuhan, itu bentuk penginjilan, memberitakan nama Tuhan itu mengakui Dia, Allah .... Dia, Tuhan, artinya kalau Kristus meminta kita berjalan di belakangnya dan mengikut Dia, Serta meneladaninya, kita harus memaknai itu sebagai konskwensinhidup kita harus berproses mengarah ke Kristus sehingga orang yg belum mengenal Kristus melihat teladan Kristus lewat hidup kita. Makna pentingnya, mengakui Dia, memberitakan namanya, seluruh aspek hidup kita, mau itu ekonomi, hukum, politik, sosial, dlsb harus mengarah pada keteldanan Kristus. Demikian halnya, gereja ..... gereja harus mengajar umat bahwa semua keputusan gerejawi mau itu keputusan ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum dlsb harus berproses bergumul mengarah ke keteladanan Kristus, pengakuan akan Dia, Yesus Tuhan bedasarkan ajaran Alkitab dan keteladanan Kristus. Kalender liturgi, dibentuk dan disusun sedemikian rupa dalam penataan akan kenangan keteladanan Kristus, hikmat pengajarananya, dengan dasar Alkitab. Sehingga ketika gereja akan menggeser sesuatu pada kalender liturgi, pertanyaan pentingnya, maknanya menjadi apa? Jangan sampai pergeseran itu, malah didasarkan pada makna yg bertolak belakang akan pengakuan Dia, Yesus Tuhan, bertolak belakang dengan teladan dan hikmat pengajaran Kristus. Kalau ada yg beralasan buat saya bukan masalah mau geser sama atau sini, hanya menunjukan ketidak mengertian kenapa KTP nya bertuliskan Kristen, kenapa berangkat ke gereja, kenapa kita hidup, kenapa dasar hidup keberimanan kita Alkitab yg memuat teladan Kristus serta hikmat pengajaranNya. Sehingga menarik, pertanyaan saat PPA Jumat lalu, di kelompok Lukas, apakah Alkitab masih relevant bagi kita? Yang dilontarkan Bapa Eben.

### 1. **Kisah Rasul 1:1–11**
Teks ini ditulis oleh Lukas sekitar akhir abad pertama Masehi, dalam konteks budaya Helenistik-Romawi. Bahasa Yunani yang digunakan menunjukkan gaya historiografi klasik, dengan struktur naratif yang sistematis dan kronologis. Lukas menulis kepada Teofilus, seorang tokoh berpendidikan, untuk menegaskan kesinambungan antara karya Yesus dan karya Roh Kudus melalui para rasul.  

Secara budaya, “kenaikan” (ἀναλαμβάνω – *analambanō*) dipahami bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi simbol pengangkatan kehormatan ilahi. Dalam dunia Yunani-Romawi, raja atau pahlawan yang “naik ke langit” dianggap menerima legitimasi dari para dewa. Lukas menggunakan idiom ini untuk menegaskan keilahian Yesus dan otoritas-Nya atas dunia.  

**Kontekstual kini:**  
Kenaikan Yesus menandai transisi dari kehadiran fisik menuju kehadiran rohani melalui Roh Kudus. Dalam konteks modern, ini mengajak umat percaya untuk menjadi saksi aktif di dunia—melanjutkan karya Kristus dengan memberitakan nama-Nya di tengah masyarakat global yang plural.

---

### 2. **Efesus 1:15–23**
Surat ini ditulis oleh Paulus (atau muridnya) kepada jemaat di Efesus, pusat budaya dan perdagangan di Asia Kecil. Bahasa Yunani yang digunakan penuh dengan istilah teologis dan retorika doa syukur. Paulus menekankan “kuasa kebangkitan” dan “peninggian Kristus di atas segala pemerintah dan penguasa” (ayat 20–21).  

Dalam konteks budaya Romawi, kekuasaan kaisar dianggap mutlak. Namun, Paulus menegaskan bahwa Kristuslah yang sesungguhnya berkuasa atas segala struktur dunia. Secara sastra, ini adalah bentuk subversi teologis terhadap ideologi kekaisaran.  

**Kontekstual kini:**  
Pesan ini relevan bagi dunia modern yang masih dikuasai oleh sistem kekuasaan dan materialisme. Kenaikan Kristus mengingatkan bahwa otoritas sejati bukan berasal dari kekuatan duniawi, melainkan dari Allah yang menegakkan kasih dan kebenaran. Umat dipanggil untuk hidup dalam kuasa kebangkitan itu—menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia yang haus makna.

---

### 3. **Lukas 24:44–53**
Bagian ini merupakan penutup Injil Lukas dan pengantar bagi Kisah Para Rasul. Secara sastra, Lukas menampilkan Yesus sebagai penggenapan nubuat Taurat, Nabi, dan Mazmur. Dalam budaya Yahudi abad pertama, penggenapan nubuat adalah bukti keabsahan seorang Mesias.  

Kata “diangkat ke surga” (ἀνεφέρετο – *anephereto*) menggambarkan tindakan liturgis, seolah Yesus dipersembahkan kepada Allah. Ini memperlihatkan hubungan erat antara ibadah dan misi. Setelah Yesus naik, para murid “pulang ke Yerusalem dengan sukacita besar” (ayat 52), menandakan bahwa kenaikan bukan akhir, melainkan awal dari pengutusan.  

**Kontekstual kini:**  
Kenaikan Yesus memberi dasar bagi misi gereja: memberitakan nama-Nya kepada segala bangsa. Dalam dunia digital dan global saat ini, “memberitakan nama-Nya” berarti menghadirkan kasih, pengampunan, dan harapan Kristus melalui tindakan nyata dan kesaksian hidup.

---

### **Kesimpulan Umum**
Ketiga teks ini membentuk satu kesatuan naratif dan teologis:  
- **Kisah Rasul 1:1–11** menegaskan peralihan misi dari Yesus kepada para murid.  
- **Efesus 1:15–23** menekankan kuasa Kristus yang memerintah atas segala sesuatu.  
- **Lukas 24:44–53** menutup kisah Yesus dengan pengutusan yang penuh sukacita.  

**Nilai moral dan refleksi:**  
Kenaikan Yesus bukan perpisahan, melainkan peneguhan panggilan. Umat percaya dipanggil untuk menjadi saksi kasih dan kebenaran Kristus di dunia. “Namanya kita beritakan” berarti hidup dalam terang kasih, keadilan, dan pengharapan yang bersumber dari Kristus yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙞𝙩?

PENGANTAR 
Andaikata Injil Yohanes tidak ditulis, maka umat Kristen sangat bolehjadi tidak merayakan Jumat Agung. Jika Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Kis.) tidak ditulis, maka gereja mungkin tidak merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus dan Hari Pentakosta. Dalam Alkitab kisah Kenaikan Kristus ada di bagian akhir Injil Lukas dan di bagian awal 𝘒𝘪𝘴. Menurut para ahli Perjanjian Baru (PB) kedua kitab sebenarnya satu kitab yang ditulis oleh orang yang sama. 
PEMAHAMAN 
Bacaan ekumenis hari ini diambil dari Injil Lukas 24:44-53 dengan 𝘒𝘪𝘴. 1:1-11 sebagai bacaan pembuka. Secara kronologi cerita Injil Lukas ditulis lebih dahulu. Cerita dalam bacaan hari ini merupakan rangkaian terakhir dari Kebangkitan Kristus dan penampakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Kata Yesus: " 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘬𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘯𝘢𝘣𝘪-𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘔𝘢𝘻𝘮𝘶𝘳. 𝘈𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯: 𝙈𝙚𝙨𝙞𝙖𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪: 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. 𝙆𝙖𝙢𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞-𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪." (ay. 44-49).

Dalam ayat 50-53 dinarasikan Yesus kemudian membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di sana Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah. Kata 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 (ἀνεφέρετο dibaca 𝘢𝘯𝘦𝘱𝘩𝘦𝘳𝘦𝘵𝘰) di ayat 51 berbentuk pasif. Jadi, Yesus tidak naik sendiri, melainkan diangkat atau dinaikkan oleh Allah.
Satu ciri teologi Injil Lukas adalah 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi. Pada bagian akhir Injil Lukas kentara ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya keluar dari Yerusalem ke Betania lalu terangkat ke surga. Surga di sini dari kata οὐρανόν (baca: 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯) yang juga berarti langit. Dalam dunia cerita Injil Lukas Betania lebih tinggi daripada Yerusalem (Luk. 19:29), sedang Yerusalem lebih tinggi daripada Nazaret (Luk. 2:42). 
Secara umum dalam dunia cerita Injil Lukas tempat atau wilayah pelayanan Yesus sebelum Ia menuju Yerusalem berada di posisi lebih rendah (Luk. 18:31; 19:28). Dari informasi dunia cerita ini dapat diperikan bahwa perjalanan hidup Yesus adalah perjalanan naik atau meninggi; dari Nazaret dan Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya terangkat ke surga.
Apabila kita menengok lebih ke belakang lagi Yesus lahir di palungan dan “hanya” dikunjungi oleh gembala-gembala. Ingat, kunjungan orang-orang Majus hanya ada di dalam cerita Injil Matius, tetapi tidak ada kunjungan gembala-gembala. Dalam Injil Lukas Yesus juga lahir di lingkungan keluarga miskin seperti terlihat jenis persembahan saat Maria ditahirkan di Yerusalem (Luk. 2:22-24). Hal itu makin nyata dari pelayanan Yesus yang berbelarasa kepada orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat yang menganut sistem puritas. Penginjil Lukas tampaknya hendak menyampaikan bahwa orang-orang yang merendahkan diri seperti Yesus akan ditinggikan oleh Allah.
Dalam babak akhir Injil Lukas Yesus hendak menjawab keraguan murid-murid-Nya. Narator menyampaikan kepada pembaca bahwa Yesus memberkati murid-murid-Nya dan kemudian terangkat ke surga. Mereka sekarang percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit dan naik ke kediaman Bapa-Nya. Mereka juga mengerti bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya seperti nubuatan para nabi. Yesus yang memula pelayanan-Nya dari tempat yang paling rendah sampai akhirnya tiba di tempat tertinggi. Terus?

Jangan lupa dalam bacaan Yesus berkata, “𝙆𝙖𝙢𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞-𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞.”. Penginjil Lukas hendak menyampaikan kepada kita, sebagai pembaca masa kini, untuk menjadi saksi dari kisah teologisnya. Kesaksian yang mana? 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗶𝗻𝗶! Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya pelayanan Kristus (dhi. kisah teologis Injil Lukas) dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Orang Kristen bersaksi dengan berperangai laksana Kristus dalam berkarya, berbelarasa terhadap orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat dengan segala alasannya seperti yang dikisahkan dalam Injil Lukas. Sebagai contoh, bagaimana menjadi orang kaya Kristen yang ideal? Di Injil Lukas ada kisah pertobatan Zakheus, yang tadinya memeras orang kemudian bertobat menjadi peduli kepada masyarakat miskin.
Jadi, kalau ada orang Kristen “bersaksi” bahwa ia menjadi kaya, terhindar dari kecelakaan maut, dan sejenisnya tentang kehidupan pribadinya yang didaku diberkati oleh Allah bukanlah bersaksi menurut Injil. Itu adalah cerita tentang dirinya sendiri yang doyong (𝘣𝘪𝘢𝘴𝘦𝘥) sehingga tidak dapat dijadikan ukuran untuk orang lain karena itu memang bukan maksud bersaksi menurut Injil. Dalam pada itu di bagian awal 𝘒𝘪𝘴. istilah 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 muncul dua kali (Kis. 1:3 dan 6) sehingga tampaknya menjadi tema dasar pada awal cerita. Kerajaan Allah dipandang dari matra ke-𝗮𝗸𝗮𝗻-an. Tema Kerajaan Allah didukung dengan rincian lain, yaitu awan yang menyertai Yesus naik ke surga dan yang akan menyertai Yesus turun pada kedatangan-Nya kembali (Kis. 1:9-11). Tema Kerajaan Allah secara tersirat dikuak pada bagian akhir 𝘒𝘪𝘴. bahwa Israel mengharapkan pemulihan Kerajaan Allah secara penuh (Kis. 28:20). 

Dengan begitu berita di dalam 𝘒𝘪𝘴. apabila dibuat pembabakan:
🔷 Awal: Kerajaan Allah.
🔷 Tengah: Karya dan ajaran para rasul.
🔷 Akhir: Kerajaan Allah.

Dalam narasi awal (Kis. 1:1-3) dikatakan bahwa Yesus selama 40 hari berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka (11 murid) tentang Kerajaan Allah. Pembaca yang sudah berprapaham kalender gerejawi jarak Hari Kebangkitan (Paska) ke Hari Kenaikan adalah 40 hari langsung memahami teks itu dengan Yesus-Paska berada di bumi selama 40 hari.  Angka 40 harus dipahami simbolik sebagai waktu tercukupkan. Yesus memersiapkan diri secara tercukupkan dengan menyendiri di gurun selama 40 hari. Umat Israel dididik oleh Allah selama 40 tahun di padang gurun. Demikian juga Yesus menyiapkan murid-murid-Nya dengan waktu tercukupkan sebelum Ia naik ke surga. Sebenarnya Lukas juga hendak mengatakan bahwa 40 hari itu simbolik dengan menulis di 𝘒𝘪𝘴. 13:31 bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri selama beberapa hari. Lukas tidak lagi menyebut 40 hari.

Ada empat pokok pikiran berupa ramalan dalam bacaan 𝘒𝘪𝘴. 1:1-11:
🔷 Para murid yang kemudian disebut rasul-rasul akan dibaptis dengan Roh Kudus.
🔷 Kerajaan Allah akan dipulihkan, tetapi tentang waktunya hanya Allah yang menentukan. 
🔷 Para saksi akan bersaksi di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai 𝘂𝗷𝘂𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗺𝗶.
🔷 Yesus yang diangkat ke surga akan datang dengan cara yang sama.

Keempat ramalan itu saling berpautan. Yang pertama tergenapi pada Hari Pentakosta (Kis. 2:3-4). Yang ketiga tergenapi bersaksi sampai  ke ujung bumi, yaitu Roma. Rasul Paulus bersaksi sampai ke Roma dan narasi 𝘒𝘪𝘴. berakhir. Yang kedua dan keempat akan terjadi apabila Yesus datang kembali.
Pembaca modern tentu saja menolak Roma adalah ujung bumi. Akan tetapi dari sisi dunia cerita penulis 𝘒𝘪𝘴. menyebut 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘮𝘪 di awal kisah mengakhiri ceritanya dengan keberhasilan Rasul Paulus mencapai ujung bumi. Dengan demikian Roma adalah ujung bumi. Apabila kita melihat kerangka cerita 𝘒𝘪𝘴., linimasa pengabaran Injil:
🔷 Berawal dari Yerusalem (Kis.1:1-8:3). 
🔷 Berlanjut ke Galilea dan Samaria (Kis. 8:4-11:18). 
🔷 Berakhir di Roma (Kis. 11:19-28:31), ujung bumi.

Hari Kenaikan Yesus Kristus hendaklah tidak dijadikan seremonial belaka. Dalam 𝘒𝘪𝘴. 1:11 disebutkan sesudah Yesus terangkat ke surga, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian putih menegur para murid, “𝘏𝘢𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵?” Hari Kenaikan Yesus Kristus hendaklah dijadikan pengingat bahwa kita, gereja, untuk segera memula berkarya nyata, bukan 𝘣𝘦𝘯𝘨𝘰𝘯𝘨 saja. 
(17052026)(TUS)

Senin, 11 Mei 2026

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 (2/11)

𝗩𝗼𝘁𝘂𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

Kekeliruan liturgis berikutnya yang sering luput disadari dalam Gereja-gereja Protestan adalah perubahan fungsi 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 ibadah. Tanpa disadari 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 itu lambat laun berubah menjadi kata sambutan acara sosial.

Satu penyebabnya adalah kaburnya pembedaan antara 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮. Dalam banyak praktik ibadah kedua tindakan liturgis ini digabungkan begitu saja sehingga seolah-olah merupakan satu kalimat pembuka ibadah, bahkan acap dipahami sebagai doa pembuka.

Padahal dalam tradisi liturgi gereja 𝙫𝒐𝙩𝒖𝙢 𝗱𝗮𝗻 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙢 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝘂𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮. 𝘝𝘰𝘵𝘶𝘮 adalah pernyataan Gereja bahwa ibadah dimula 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵. Misal, “𝘗𝘦𝘳𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘮𝘪.” 𝘝𝘰𝘵𝘶𝘮 bukan doa dan bukan pula sapaan kepada jemaat. 𝘝𝘰𝘵𝘶𝘮 adalah pengakuan iman Gereja bahwa seluruh ibadah berlangsung di bawah kuasa dan pemeliharaan Allah.

Tanggapan umat atas 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 itu pada lazimnya adalah “𝘈𝘮𝘪𝘯”. Dengan kata itu umat meneguhkan pengakuan iman yang baru saja dinyatakan.

Sesudah 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 barulah diucapkan 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴. Salam ini bukan lagi pengakuan iman kepada Allah, melainkan deklarasi anugerah Allah kepada umat yang berkumpul. Misal, “𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯.”

Dalam salam seperti ini yang berbicara bukan sekadar pribadi pemimpin ibadah, melainkan Gereja yang menyatakan anugerah Allah atas umat yang berkumpul. Tanggapan umat pun berbeda dari tanggapan terhadap 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮. Terhadap 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 jemaat menjawab, “𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢.” Ini bukan basa-basi. Ini pengakuan bahwa anugerah Allah yang dinyatakan kepada umat juga menyertai pelayan yang memimpin ibadah.

Namun, seiring dengan waktu dalam banyak Gereja salam pembuka kerap berubah menjadi semacam sambutan. Pemimpin ibadah menyapa jemaat dengan kalimat-kalimat seperti, “𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬-𝘐𝘣𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪? 𝘚𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢.” Tidak jarang ditambahkan pula komentar ringan tentang cuaca, suasana hari itu, atau kegiatan gereja.

Secara sosial hal itu tentu tidak salah. Namun, secara liturgis fungsi salam pembuka berubah. Ibadah yang seharusnya dimula dengan 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 dan deklarasi anugerah Allah justru dimula dengan percakapan sosial antara pemimpin dan jemaat.

Perubahan ini bahkan sering diperkuat oleh bentuk sapaan yang digunakan dari mimbar. Dewasa ini cukup banyak pendeta menyapa umat dengan panggilan 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬-𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 dan 𝘐𝘣𝘶-𝘪𝘣𝘶. Sapaan ini lazim dalam pertemuan sosial, tetapi dalam konteks liturgi gereja tidak tepat. Dalam liturgi umat tidak hadir sebagai kelompok sosial yang dibedakan oleh usia, kedudukan, atau peran keluarga. Umat hadir sebagai satu tubuh dalam Kristus.

Tradisi Gereja lebih mengenal sapaan yang bersifat eklesial, yakni 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. Sapaan ini menegaskan bahwa seluruh umat berdiri dalam relasi yang sama sebagai saudara dalam Kristus. Meskipun pendeta yang memimpin ibadah berusia jauh lebih muda daripada sebagian warga jemaat, ia harus tetap menyapa umat sebagai 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢, bukan sebagai 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬-𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 dan 𝘐𝘣𝘶-𝘪𝘣𝘶`. Sapaan ini bukan soal kesopanan sosial, melainkan penegasan identitas Gereja sebagai persekutuan umat Allah.

Ketika sapaan Gereja diganti dengan sapaan sosial, ibadah perlahan-lahan dipahami sebagai pertemuan biasa yang dipimpin oleh seorang tuan rumah. Pemimpin ibadah tampil seperti pembawa acara yang menyambut hadirin, bukan sebagai pelayan gereja yang memula ibadah dalam nama Allah.

Padahal dalam logika liturgi yang lebih dahulu menyapa umat bukan manusia, melainkan Allah sendiri melalui Gereja-Nya. Untuk itu 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 selalu berbentuk pernyataan anugerah, bukan percakapan pembuka.

Salam pembuka ibadah sebenarnya sangat sederhana: Gereja menyatakan bahwa umat yang berkumpul berada dalam anugerah dan damai sejahtera Allah. Dengan salam itu ibadah dimula bukan sebagai pertemuan manusia semata, melainkan sebagai persekutuan umat di hadapan Tuhan.

Seperti pada banyak kekeliruan liturgis lainnya persoalan ini tampak kecil dan sering dianggap sepele. Namun justru dalam hal-hal kecil seperti inilah pendidikan liturgi berlangsung. Ketika bentuk-bentuk liturgi dipahami dengan tepat, umat belajar melihat tindakan Gereja di hadapan Allah.

Liturgi tidak membutuhkan sambutan agar terasa hangat. Liturgi justru membutuhkan kejelasan bahwa ibadah dimula dalam anugerah Allah.

Dalam ibadah yang pertama-tama berbicara bukan manusia kepada manusia, melainkan Allah kepada umat-Nya. Tugas Gereja hanyalah menjaga agar suara itu tidak tertutup oleh kata-kata kita sendiri. Liturgi itu tindakan teologis, bukan sekadar urutan acara.

Dalam praktik ibadah di Gereja anda apakah 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 dipahami sebagai dua tindakan liturgis yang berbeda, atau menyatu sebagai doa pembuka ibadah?

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 (3/11)

𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗗𝗮𝗺𝗮𝗶: 𝗗𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗗𝗿𝗮𝗺𝗮 𝗦𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹?

𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 bukan sekadar basa-basi ramah dalam ibadah. Ia adalah tindakan liturgis yang berbeda sama sekali dari salam pembuka ibadah. Ia lahir dari Injil dan pengakuan teologis bahwa damai Allah yang diterima melalui Kristus harus menembus kehidupan jemaat, tercermin dalam nasabah nyata antarwarga jemaat.

Dalam Liturgi Ekaristi 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 muncul setelah 𝘋𝘰𝘢 𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 (𝘌𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤 𝘗𝘳𝘢𝘺𝘦𝘳). Secara historis tindakan ini memang lahir dalam Liturgi Ekaristi sebagai tanda rekonsiliasi jemaat sebelum mereka mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Bayangkan momen itu: jemaat menyadari bahwa dosa mereka diampuni dalam 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘈𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩 sebelum Liturgi Sabda, dan mereka diterima sepenuhnya oleh Allah. 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 kini menjadi jembatan dari kesadaran spiritual menuju salingtindak nyata antarwarga jemaat. Secara teologis ia menegaskan 𝘤𝘰𝘮𝘮𝘶𝘯𝘪𝘰 𝘴𝘢𝘯𝘤𝘵𝘰𝘳𝘶𝘮, persekutuan orang-orang kudus yang dipersatukan dalam Kristus, sekaligus menghidupkan prinsip 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟱:𝟮𝟯-𝟮𝟰: 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝗶𝗹𝗶𝗮𝘀𝗶 dengan sesama mendahului dan menyertai persembahan diri kepada Allah.

[“𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣𝙢𝙪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙖𝙢𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙝𝙪𝙡𝙪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶.” Mat. 5:23-24]

Dalam Gereja-gereja Protestan yang tidak merayakan Ekaristi secara reguler saban Minggu 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 tetap muncul sesudah 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘈𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩. Posisi ini panggah secara teologis: pengakuan dan penerimaan anugerah Allah harus tercermin dalam nasabah nyata antarwarga jemaat. Damai Kristus bukan sekadar konsep abstrak; ia diwujudkan dalam sikap, jabat tangan, dan salingtindak nyata antarwarga jemaat.

Sekarang bayangkan skenario yang sering terjadi: jemaat berdiri, berjabat tangan, tersenyum, menepuk punggung, berbicara ringan, seakan berada di 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘺 sosial. Suasana ini ramai dan ceria, tetapi kehilangan tujuan liturgis. Salam damai 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝘀𝘁𝗮 𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹. Ia adalah momen rekonsiliasi, pengampunan, dan kesatuan. Saat tata gerak fisik menguasai momen, hakikat spiritual hilang laksana musik Ekaristi tanpa nada pokok; ada bunyi, tetapi tak ada harmoni.

𝗞𝗲𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝙎𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘿𝙖𝙢𝙖𝙞

1️⃣ 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶
▶️ Jemaat duduk atau berdiri di tempat masing-masing, menenangkan diri.
▶️ Fokus pada damai Kristus yang sudah diterima melalui 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘈𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩.
▶️ Sadari prinsip Matius 5:23-24: jika ada perselisihan atau ketegangan, pikiran diarahkan untuk rekonsiliasi.
▶️ Ini bukan sekadar “menunggu giliran memberi dan menerima jabat tangan”, tetapi kesiapan hati menerima dan menyalurkan damai Allah.

2️⃣ 𝗠𝗲𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸
▶️ Warga jemaat mula bergerak perlahan-lahan ke arah warga lain di sekitar tempat duduknya.
▶️ Kontak mata adalah penting. Sambil menatap mata orang yang disapa, hadirkan kesadaran bahwa ini ekspresi iman dan pengampunan.
▶️ Tidak berbicara ringan atau bercanda. Gerakan tubuh tetap tenang dan tertib.

3️⃣ 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗮𝗸 𝗳𝗶𝘀𝗶𝗸 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝘀𝗽𝗶𝗿𝗶𝘁𝘂𝗮𝗹
▶️ Jabat tangan, pelukan singkat (jika perlu), atau salam damai lain dilakukan dengan kesadaran penuh makna.
▶️ Setiap gerakan menjadi simbol bahwa damai Kristus mengalir dari hati ke hati.
▶️ 𝗛𝗶𝗻𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗽𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴, anggukan bercanda, atau bahasa tubuh pesta sosial. Tujuannya adalah rekonsiliasi dan persatuan, bukan bersalingtindak sosial biasa.

4️⃣ 𝗞𝗲𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀
▶️ Jemaat menyadari bahwa 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 bukan salingtindak personal semata.
▶️ Perhatikan seluruh warga jemaat di sekitar: damai Kristus yang dialami harus mengalir secara kolektif.
▶️ Setiap kontak fisik dan senyum adalah bagian dari satu tubuh Kristus yang saling terhubung.

5️⃣ 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸
▶️ Setelah salam damai selesai, umat kembali ke posisi masing-masing dengan hati tenang.
▶️ Kesadaran bahwa damai yang baru diterima kini menjadi pengalaman nyata dalam komunitas tetap terbawa saat menuju Perjamuan Kudus atau bagian selanjutnya.

Jika kesemuanya itu dilakukan dengan kesadaran liturgis, 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 menjadi pengalaman alihbentuk atau transformasi: setiap jabat tangan adalah ekspresi damai Kristus, setiap pelukan adalah simbol bahwa anugerah Allah mengalir dalam komunitas. Warga jemaat bukan sekadar bersosialisasi; mereka 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗿𝗶𝗻𝘀𝗶𝗽 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟱:𝟮𝟯-𝟮𝟰 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 yang menegaskan bahwa rekonsiliasi dengan sesama mendahului dan menyertai penyembahan kepada Allah. 

𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 adalah momen ketika iman, pengampunan, dan kasih menyatu dalam gerak dan salingtindak manusiawi yang sungguh-sungguh.


𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 (4/11)

𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗽𝘂𝗸 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

Satu praktik yang makin lazim dalam ibadah gereja masa kini adalah memberi tepuk tangan. Setelah paduan suara bernyanyi, setelah seorang solois tampil, atau setelah khotbah selesai, umat diminta atau tidak diminta untuk bertepuk tangan. Dalam beberapa komunitas Gereja pemimpin ibadah bahkan secara eksplisit mengajak jemaat, “𝘔𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯!”

Praktik di atas sering dibela dengan merujuk Mazmur 47:2 “𝘏𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘱𝘶𝘬-𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩, 𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘢𝘬-𝘴𝘰𝘳𝘢𝘪!”

Sepintas ayat 2 itu tampak memberikan legitimasi alkitabiah untuk pemberian tepuk tangan dalam ibadah. Namun, pembacaan yang lebih teliti menunjukkan bahwa penggunaan ayat ini sering kurang memerhatikan konteks sastra dan liturgi mazmur tersebut.

Mazmur 47 adalah 𝗺𝗮𝘇𝗺𝘂𝗿 𝗽𝗲𝗻𝗼𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 (𝘦𝘯𝘵𝘩𝘳𝘰𝘯𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵 𝘱𝘴𝘢𝘭𝘮) yang merayakan kedaulatan Allah sebagai Raja atas seluruh bumi. Seruan 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘱𝘶𝘬-𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 pada ayat 2 bukanlah instruksi teknis bagi jemaat yang sedang mengikuti ibadah formal, melainkan 𝘀𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗽𝘂𝗶𝘁𝗶𝘀 kepada bangsa-bangsa untuk merayakan kemenangan dan pemerintahan Allah.

Dalam dunia Timur Dekat Kuno tepuk tangan tidak berarti apresiasi terhadap penampil seperti yang kita kenal dalam budaya modern. Ia merupakan ekspresi kegembiraan kolektif, serupa dengan sorak-sorai dalam perayaan kemenangan raja atau pesta rakyat. [Bdk. tepuk tangan Pramuka masa kini.] Dalam bagian lain Alkitab PL tepuk tangan adalah tanda ejekan (Rat. 2:15) dan kemarahan (Yeh. 21:17)

Dengan kata lain Mazmur 47 menggunakan bahasa liturgi yang 𝗽𝘂𝗶𝘁𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹𝗶𝗸, bukan pemerian teknis tentang tata ibadah. Mengutip satu ayat imperatif dari mazmur pujian tidak otomatis berarti setiap konteks ibadah harus mempraktikkannya secara literal.

Alasannya:
▶️ Mazmur bersifat puitis dan metaforis.
▶️ Tidak semua imperatif mazmur bersifat normatif untuk setiap struktur ibadah.
▶️ Liturgi Gereja dibentuk bukan hanya oleh satu ayat, tetapi oleh keseluruhan kesaksian Kitab Suci dan perkembangan tradisi Gereja.

Bandingkan:
▶️ Mazmur juga berbicara tentang mengangkat tangan, menari, meniup sangkakala.
▶️ Namun, Gereja historis menafsirkan ekspresi-ekspresi itu dalam terang ketertiban ibadah (bdk. 1Kor. 14:40).

Menjadikan Mazmur 47:2 sebagai dasar untuk bertepuk tangan setelah sebuah penampilan dalam ibadah sebenarnya merupakan 𝗹𝗼𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗵𝗲𝗿𝗺𝗲𝗻𝗲𝘂𝘁𝗶𝘀 yang jauh. Kalau tepuk tangan muncul sebagai luapan spontan kepada Allah, itu satu hal, tetapi kalau ia menjadi mekanisme evaluasi estetika (misal, melihat penampilan penyanyi yang 𝘤𝘪𝘢𝘮𝘪𝘬), maka pusatnya sudah bergeser. Apalagi perintah berikutnya 𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩. Ini namanya 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗴𝗶𝗹𝗮 mengelu-ngelukan penampil dalam ibadah.

Sebagian komunitas Gereja tampaknya menyadari kritik ini. Lalu mereka mencoba mengubah “formula” yang digunakan. Alih-alih berkata, misalnya, “𝘔𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢,” pemimpin ibadah berkata,

“𝘔𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.”

atau

“𝘉𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.”

Secara verbal arah tepuk tangan itu dialihkan kepada Tuhan. Namun, secara faktual situasinya tetap sama: 𝘁𝗲𝗽𝘂𝗸 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗺𝗽𝗶𝗹. Secara sosiologis semua orang memahami bahwa tepuk tangan tersebut tetap berfungsi sebagai 𝗮𝗽𝗿𝗲𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗺𝗽𝗶𝗹.

Di sinilah muncul sebuah ironi liturgis. Secara teologis dikatakan bahwa tepuk tangan itu untuk Tuhan, tetapi secara praktis ia tetap mengikuti logika 𝗽𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗿𝘁𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻: 𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗺𝗽𝗶𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗼𝗻𝘁𝗼𝗻. Padahal dalam pemahaman liturgi klasik gereja, tidak ada penonton dalam ibadah. Seluruh warga jemaat adalah pelaku liturgi yang bersama-sama menghadap Allah. Baik paduan suara, pemusik, maupun pengkhotbah bukanlah penampil yang mencari apresiasi jemaat, melainkan pelayan yang membantu umat beribadah.

Tradisi liturgi Gereja selama berabad-abad tidak mengenal pemberian tepuk tangan dalam ibadah. Bukan lantaran Gereja anti-sukacita, melainkan karena Gereja berusaha menjaga agar ibadah tidak berubah menjadi pertunjukan religius. Jika sebuah pelayanan musik sungguh memberkati jemaat, tanggapan yang paling tepat bukanlah tepuk tangan, melainkan keheningan yang khusyuk. Dalam keheningan itulah jemaat merenungkan firman yang dinyanyikan, membiarkannya meresap ke dalam hati sebagai doa.

Keheningan yang penuh hormat merupakan tanda bahwa jemaat sedang diarahkan kepada Allah, bukan kepada manusia yang melayani. Jemaat diajar bahwa dalam ibadah musik bukanlah pertunjukan yang menuntut apresiasi, melainkan pelayanan yang menolong umat berjumpa dengan Allah. Dengan demikian fokus ibadah tetap terarah kepada Dia yang disembah, bukan kepada manusia yang melayani. 

Sekarang kita perlu bertanya dengan jujur, 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙥𝙪𝙠 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪? Jika ia muncul saban seseorang atau kelompok selesai tampil, maka sulit untuk menyangkal bahwa tepuk tangan itu pada akhirnya untuk manusia.

Liturgi Gereja sejak dahulu berusaha menjaga satu prinsip sederhana namun mendasar: 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘁𝗮𝗺𝗽𝗶𝗹, 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗶. Ketika pemberian tepuk tangan menjadi bagian rutin dari ibadah, tanpa disadari kita sedang menggeser ruang ibadah dari altar penyembahan menuju panggung apresiasi. Barangkali di situlah letak persoalannya, bukan pada tepuk tangannya, melainkan pada arah perhatian ibadah itu sendiri.

“𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘱𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘦𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” kata Paus Benediktus XVI

Sudut Pandang Yohanes 27:1-11, (Minggu VII Paska, Tahun A), Berkomunikasi dengan Cerita

Sudut  Pandang Yohanes 27:1-11, (Minggu VII Paska, Tahun A), Berkomunikasi dengan Cerita

Dalam menafsir suatu teks terjadilah apa yang disebut dengan lingkaran hermeneutik. Lingkaran di sini harus dibayangkan sebagai spiral atau pegas di dalam bolpen. Berputar melingkar, tetapi tidak bertemu atau tidak berakhir di titik yang sama. Orang membaca teks sudah memiliki prapaham dan kemudian paham atas suatu teks atau cerita. Mengapa disebut lingkaran? Ia pertama-tama (a) paham terhadap bagian cerita digunakan sebagai (b) prapaham terhadap keseluruhan cerita dan (c) prapaham atas keseluruhan cerita ini kemudian menjadi (d) paham atas keseluruhan cerita dan paham ini akan menjadi (e) prapaham terhadap bagian-bagian cerita yang kemudian menjadi (a) paham terhadap bagian-bagian itu. Demikian seterusnya berjalan melingkar seperti spiral menurut perjalanan waktu dan pengalaman pembaca.

Sehubungan dengan lingkaran hermeneutik di atas Hans-Georg Gadamer, raksasa hermeneutik, mengatakan makna cerita dapat berubah-ubah, sedang maksud penulis tetap. Penulis cerita bermaksud dan bertujuan tertentu. Ia membekukan maksud dan tujuannya dengan tulisan. Akan tetapi sesudah cerita selesai ditulis, maka cerita itu menjadi mandiri dan lepas dari penulisnya. Makna cerita menjadi menjadi jamak bergantung pada prapaham pembacanya termasuk prapaham dari dogma atau doktrin gereja. Pada dasarnya membaca adalah menafsir. Misal, seorang yang sejak kecil memahami dunia dan seisinya diciptakan dalam enam hari, maka ia akan menggunakan pahamnya sebagai prapaham untuk membaca Kejadian pasal 1. Dalam pada itu orang yang memahami Kitab Suci bukanlah buku sejarah (apalagi buku sains), maka ia menggunakan pahamnya sebagai prapaham untuk membaca teks yang sama. Kedua orang itu menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika orang terakhir itu makin banyak berpengetahuan tentang teks-teks kuno, maka tafsir atau makna yang didapatkannya makin terbarukan atau berubah. 

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Tanggal hari besar ini ditetapkan jatuh pada Minggu antara Hari Kenaikan Kristus dan Hari Pentakosta. Tema yang diangkat oleh Paus Fransiskus tahun ini adalah cerita. Tampaknya sederhana dan justru itulah Paus mengakat tema itu karena dunia berada dalam pemikiran kontemporer dan pascamodernisme. Para pemikir pascamodernisme menganggap pemikiran modernisme gagal mengantar umat manusia kepada pencerahan. Akalbudi belum sepenuhnya membebaskan manusia dari belenggu, karena melalaikan hati dan jiwa. Hati dan jiwa mewakili pengalaman dan perasaan yang nyata dan menyapa. 

Manusia adalah makhluk pencerita, kata Paus Fransiskus. Sejak kecil kita memiliki rasa lapar akan cerita sebagaimana kita lapar akan makanan. Entah cerita berbentuk dongeng, novel, film, lagu, dan berita; cerita yang memengaruhi kehidupan kita bahkan tanpa kita sadari. Kita kerap memutuskan apa yang benar atau apa yang salah berdasarkan karakter atau tokoh-tokoh dan cerita cerita yang terekam dalam diri kita. Cerita-cerita tersebut membekas dan memengaruhi keyakinan dan perilaku kita. Cerita-cerita itu dapat pula membantu kita memahami dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya. Hidup manusia sendiri adalah cerita yang memberi pesan kepada sesama manusia. Praktik komunikasi bukan saja dilakukan secara lisan dan tulisan, tetapi juga lewat cara dan sikap hidup manusia sebagai cerita.

“Tidak semua cerita itu baik!” tegas Paus. “Jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah“ (lih. Kej. 3:4). Godaan ular ini menyisipkan sebuah simpul yang sulit dilepaskan dalam alur sejarah. “Jika kamu memiliki, kamu akan menjadi, kamu akan mendapatkan…”. Inilah pesan yang terus dibisikkan sampai hari ini oleh orang-orang yang menggunakan storytelling untuk tujuan eksploitasi. Ada begitu banyak cerita yang membius dan meyakinkan kita bahwa untuk berbahagia kita harus terus-menerus mendapatkan, memiliki, dan mengonsumsi. Bahkan kita mungkin tidak menyadari betapa kita kerap menjadi rakus dalam membicarakan hal buruk dan bergosip atau berapa banyak kekerasan dan dusta yang kita konsumsi. Kerap berbagai media komunikasi justru menghasilkan cerita-cerita destruktif dan provokatif yang mengikis dan menghancurkan benang-benang yang rapuh dalam kehidupan bersama ketimbang mengisahkan cerita-cerita konstruktif yang berperan sebagai perekat ikatan sosial dan tatanan budaya. Mengumpulkan aneka informasi yang tak tersaringkan, mengulang-ulang obrolan sepele dan persuasif yang palsu, menyerang dengan ujaran kebencian, sungguh tidak menenun sejarah manusia melainkan menelanjangi martabatnya, tukas Paus.

Bacaan ekumenis Injil Minggu ini diambil dari Yohanes 17:1-11 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 1:6-14. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop bacaan Injil dengan “Doa Yesus untuk murid-murid-Nya” dari ayat 1 sampai 26.

Dalam doa Yesus kita melihat Yesus tidak mendoakan murid-murid-Nya diambil dari dunia. Ia tidak berdoa agar para murid lepas dari kesulitan dan tantangan hidup. Di sini menunjukkan bahwa kekristenan tidak pernah dihayati sebagai suatu kelompok yang menarik diri dari kehidupan dunia. Kekristenan harus ada di tengah dunia untuk menjadi garam yang menggarami dan terang yang menerangi. Kita bukan menarik diri dari dunia dan sekaligus tidak meleburkan diri menjadi sama dengan dunia.

Doa adalah bentuk komunikasi dua arah. Yesus mengajarkan bagaimana berkomunikasi ketika persoalan sangat berat siap menghadang. Kita berharap Allah mendengarkan doa yang kita lambungkan dan berharap Allah menjawab doa permohonan yang kita panjatkan. Gatra persekutuan menjadi penting di dalam doa. Dalam Kisah Para Rasul disampaikan bagaimana gereja perdana bersekutu di dalam doa (Kis. 1:14)

Keterbukaan dan kejujuran menjadi syarat komunikasi yang tanpa hambatan. Kitab Suci adalah media Allah dan kita saling berkomunikasi lewat cerita. Betapa banyak peristiwa, bangsa dan pribadi yang dikisahkan kepada kita. Kita kemudian menceritakan ulang cerita itu lewat hidup kita. Yesus sendiri, kata Paus Fransiskus, berbicara mengenai Allah bukan dengan pidato-pidato abstrak, namun dengan perumpamaan-perumpaan, narasi-narasi singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Di sini hidup menjadi cerita dan kemudian bagi pendengar cerita itu menjadi kehidupan: narasi tersebut memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkannya dan mengubahnya.

Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu, melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak murad atau tidak bernilai. Cerita kita sendiri menjadi bagian dari setiap cerita besar. Injil juga merupakan cerita. Injil mengabarkan tentang Yesus yang informatif sekaligus performatif. Artinya Injil bukan hanya mengabarkan tentang Yesus sebagai informasi untuk diketahui, melainkan sekaligus pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan, mengubah, dan membaharui kehidupan. 

(24052020)(TUS)

Sudut Pandang penolakan ibadah karena perkara Stola dan paramentum

Sudut Pandang penolakan ibadah karena perkara Stola dan paramentum

PENGANTAR
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut. Bbrp waktu lalu muncul berita viral ketika ada pendeta tidak mau memimpin ibadah karena tidak ada Stola, juga ada pendeta yg menolak karena tak ada paramentum atau kain di mimbar, bahkan ada berita viral pendeta yg tidak mau memimpin ibadah karna warna liturgis Stola atau paramentum tidak sesuai. Sering muncul pertanyaan di tengah jemaat maupun di kalangan Pelayan Khusus: “Bolehkah memimpin ibadah memakai stola jika di tempat itu tidak ada kain mimbar (paramentum)?” Bagaimanakah ini sebenarnya?
PEMAHAMAN
Pertanyaan ini sebenarnya penting, sebab menyangkut pemahaman kita tentang tata gereja, simbol liturgi, dan makna pelayanan itu sendiri. Berdasarkan Tata Gereja bbrp gereja protestan serta Peraturan tentang Atribut Gereja, ada beberapa hal yang perlu dipahami bersama.
Pertama, stola adalah atribut jabatan yang melekat pada pribadi pelayan, stola menjadi identitas pelayanan bagi Pendeta, Guru Agama, Penatua, dan Diaken (majelis). Karena itu, ketika seorang pelayan memimpin ibadah resmi, penggunaannya wajib mengikuti warna liturgis yang berlaku sesuai kalender gerejawi.
Sementara itu, kain mimbar atau paramentum memiliki fungsi yang berbeda, dijelaskan bahwa kain mimbar adalah kelengkapan ruang ibadah atau sarana gerejawi. Kehadirannya membantu memperindah ruang ibadah dan mempertegas warna liturgis sesuai kalender gereja.
Lalu bagaimana jika hanya ada stola, tetapi tidak ada kain mimbar?
Jawabannya: tentu boleh dan tetap sah.
Dalam praktik pelayanan, hal ini sangat sering terjadi. Misalnya dalam ibadah kolom atau BIPRA di rumah jemaat. Di rumah biasanya tidak tersedia mimbar gereja lengkap dengan paramentum, namun Pelayan Khusus tetap mengenakan stola saat memimpin ibadah. Demikian juga dalam ibadah pemakaman atau rumah duka atau di lahan pekuburan. Pelayan tetap memakai stola sebagai tanda otoritas pelayanan, meskipun tanpa kain mimbar.
Bahkan dalam ibadah di luar gedung gereja (seperti di aula, alam terbuka, lokasi bencana, ibadah pantai atau ibadah padang atau tempat pelayanan khusus lainnya) stola menjadi penanda utama bahwa ibadah tersebut dilaksanakan secara resmi berdasarkan tata gereja, gereja brsangkutan. Karena itu, ketiadaan kain mimbar akibat faktor lokasi atau keterbatasan fasilitas tidak menggugurkan kewajiban seorang pelayan untuk mengenakan stola. Sebab stola bukan sekadar hiasan liturgis, melainkan lambang simbol “kuk” pelayanan dan tanggung jawab yang dipikul seorang pelayan Tuhan ke mana pun ia diutus. Stola melekat pada jabatan atau fungsi pelayan (personal), sedangkan kain mimbar adalah bagian dari dekorasi ruang ibadah (gedung). Ketiadaan sarana (mimbar atau kain mimbar) di ruang ibadah tidak menggugurkan kewajiban pelayan untuk menggunakan atribut jabatan yang sesuai. Bahkan jika Anda memimpin ibadah di ruang yang memang memiliki kain mimbar tetapi warnanya tidak sesuai (misalnya mimbar berwarna merah sementara seharusnya hijau), lebih baik tetap menggunakan stola yang warnanya benar sesuai kalender liturgi, meskipun akhirnya tidak senada dengan kain mimbarnya. Kesalahan pada inventaris gedung tidak harus diikuti dengan kesalahan pada atribut personal pelayan. Oleh karena miris saja ketika ada yang mempermasalahkan keabsahan ibadah hanya karena tidak ada kain mimbar atau stola. Apalagi ada pendeta yang tidak mau memulai ibadah atau tidak mau pimpin ibadah hanya karena tidak ada kain mimbar atau tidak ada stola.

(11052026)(TUS)

Minggu, 10 Mei 2026

Sudut Pandang 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮


Sudut Pandang 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮

Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih.
Ada yang menjapri saya, "Kamu kok berani ngritik gereja besar HKBP soal evangelium dan epistel?"

Liturgi itu ilmu yang tak populer di lingkungan Protestan modern di Indonesia. Kasarnya, gak laku. Di dunia teologi akademik saja jumlah dosen spesialis liturgi tak lebih daripada jumlah jari satu tangan. Itu pun baru muncul awal 2000-an.

Jadi, kalo debat (atau diskusi) liturgi saya berani saja. Ibaratnya lawan diskusi saya udah ketaker.

Sungguh ironis, reformasi liturgi Gereja Katolik terinspirasi dari Protestan, tetapi ilmu liturgi Protestan jauh ketinggalan. Mengapa?

Komisi Liturgi Katolik didukung sepenuhnya oleh Vatikan dan seluruh umat Katolik.
Komisi Liturgi Protestan dicemooh oleh pendeta dan umatnya sendiri.


Dewasa ini semakin banyak Gereja Protestan memerkenalkan praktik prosesi Alkitab pada awal ibadah. Alkitab diarak masuk dengan iringan nyanyian atau musik, jemaat berdiri, suasana menjadi khidmat, lalu kitab itu diletakkan di altar sebelum 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Bagi sebagian orang pemandangan ini terasa sangat liturgis. Namun, apakah Gereja sungguh memahami makna liturgis dari tindakan tersebut, atau sekadar meniru bentuknya saja?

Dalam tradisi liturgi Gereja kuno prosesi kitab pada awal ibadah bukanlah prosesi “Alkitab secara umum”. Yang diarak secara khusus adalah Injil (𝘦𝘷𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘶𝘮). Prosesi Injil menyimbolkan bahwa Kristus datang kepada umat-Nya melalui pewartaan Injil yang akan didengar oleh jemaat. Dengan kata lain simbol itu merujuk sebuah keyakinan teologis: 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮-𝗡𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘄𝗮𝗿𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻.

Di sinilah sering terjadi kekeliruan ketika praktik ini diadopsi oleh banyak Gereja Protestan. Kesatu,  yang diarak memang Alkitab, tetapi secara teologis yang dicerap haruslah Injil [Semoga LAI mau mencetak kitab Injil ukuran besar lebih banyak lagi]. Gereja berwatak injili (bukan dalam arti aliran Evangelikal), karena ia dipanggil untuk mewartakan Injil. Injil adalah inti dari seluruh Kitab Suci, berita keselamatan tentang Yesus Kristus. Oleh karena itu dalam tradisi liturgi klasik, prosesi Injil merupakan pengakuan bahwa Injil adalah pusat pewartaan Gereja.

Persoalan kedua terletak pada sikap umat. Dalam banyak Gereja yang mengadopsi prosesi ini jemaat diminta berdiri ketika Alkitab diarak masuk. Namun, jemaat jarang diajar apa arti dari sikap berdiri tersebut. Akibatnya berdiri menjadi sekadar gerakan spontan yang dilakukan karena orang lain juga berdiri.

Padahal dalam tradisi Gereja yang lebih tua sikap umat terhadap Injil dibentuk melalui pendidikan liturgis yang jelas. Berdiri adalah tanda kesiapsediaan menerima firman Kristus. Umat memerhatikan arah pergerakan prosesi sebagai ungkapan penghormatan terhadap Injil yang akan diberitakan. Bahkan dalam beberapa tradisi Injil disambut dengan aklamasi khusus sebagai tanda sukacita Gereja atas kabar keselamatan yang akan didengar.

Satu hal lain yang sangat penting dan kerap terlewatkan adalah hubungan antara prosesi Injil dan pembacaan Injil dalam ibadah itu sendiri. Dalam tradisi liturgi klasik Injil yang dibacakan kepada jemaat adalah Injil yang sama yang sebelumnya diarak dan diletakkan di altar. Dengan demikian prosesi Injil tidak berhenti sebagai simbol visual pada awal ibadah. Ia mencapai klimaks ketika Injil itu sendiri dibacakan di tengah jemaat.

Akan tetapi dalam praktik banyak Gereja Protestan hal ini justru tidak terjadi. Pendeta membaca bagian Injil dari Alkitabnya sendiri yang sejak awal sudah diletakkan di mimbar sebelum ibadah dimula. Akibatnya prosesi kitab pada awal ibadah terputus dari tindakan liturgis yang seharusnya menjadi tujuannya, yakni pembacaan Injil kepada jemaat. 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀. Lebih mengenaskan lagi Injil menjadi sekadar pajangan jimat di altar.

Tanpa pembinaan liturgis seperti itu prosesi Injil mudah berubah menjadi sekadar drama religius. Simbolnya ada, gerakannya ada, bahkan suasana sakralnya juga ada, tetapi maknanya tidak sungguh-sungguh dipahami oleh umat.

Di sinilah kita melihat sebuah gejala yang semakin sering muncul dalam kehidupan Gereja Protestan masa kini: 𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗶𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗶𝗸𝘂𝘁 𝗱𝗶-𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁-𝗸𝗮𝗻. Gereja ingin terlihat liturgis, tetapi tidak mau menjalani disiplin teologi liturgi yang melahirkan bentuk-bentuk tersebut. Akibatnya simbol yang semula kaya makna berubah menjadi dekorasi ibadah.

Apabila Gereja Protestan hendak memertahankan praktik prosesi kitab pada awal ibadah, ada dua hal perlu dijernihkan. Kesatu, Gereja harus menyadari bahwa simbol tersebut merujuk Injil sebagai pusat pewartaan Gereja. Kedua, umat perlu dididik mengenai makna sikap mereka ketika menyambut prosesi tersebut sehingga tindakan liturgis itu tidak berhenti pada gerakan seremonial, tetapi menjadi pengakuan iman yang hidup.

Jika tidak, prosesi Injil hanya akan menjadi satu contoh dari sejumlah fenomena yang semakin lazim dalam kehidupan Gereja: 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗶𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸𝗸𝗮𝗻, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶. Ketika liturgi tidak lagi dimengerti, yang tersisa hanyalah ritual yang tampak sakral, tetapi kehilangan kedalaman teologinya.


Sabtu, 09 Mei 2026

Sudut Pandang Gereja dan Dunia

Sudut Pandang Gereja dan Dunia

PENGANTAR
Dalam Injil Yohanes 18, ada ironi besar yang sering luput dibahas. Para imam kepala Yahudi begitu marah kepada Yesus karena Ia dianggap mengganggu sistem mereka. Mereka berbicara tentang Allah, bait suci, hukum Taurat, dan kesalehan, tetapi ketika merasa posisi dan pengaruh mereka terancam, mereka justru bersekutu dengan kekuasaan Romawi untuk menyalibkan Sang Mesias.
Mereka yang seharusnya menjadi saksi Allah malah memakai cara dunia, yaitu politik, tekanan massa, manipulasi opini, permainan kuasa, dan pencitraan religius. Yesus tidak kalah karena dunia membenci-Nya. Justru agama kehilangan wajahnya ketika ia mulai menyerupai dunia. Di situlah kadang kita bertanya, apakah Alkitab masih relevan ada di tengah dunia yang tidak ideal? Masih percayakah kita pada pengajaran Alkitab bila menghadapi kenyataan dunia?
PEMAHAMAN
Inilah tragedi yang terus berulang sepanjang sejarah gereja. Gereja tidak kehilangan kesaksiannya saat ditolak dunia. Yesus sendiri berkata bahwa dunia memang akan membenci mereka yang hidup dalam terang (Yoh 15:18-19). Kekristenan mula-mula justru paling murni ketika dianiaya, miskin, dan tidak memiliki kuasa politik. Darah para martir menjadi kesaksian yang hidup.
Tetapi gereja mulai kehilangan suara kenabiannya ketika ia jatuh cinta pada: kuasa, uang, popularitas, kontrol, dan citra. Ketika gereja lebih sibuk menjaga “brand” daripada kebenaran, lebih takut kehilangan donatur daripada kehilangan kekudusan, lebih ahli membangun panggung daripada memikul salib...saat itulah gereja sedang berjalan menjauh dari Kristus sambil tetap menyebut nama-Nya. Yesus tidak pernah memanipulasi orang untuk mengikut Dia.
Ia tidak menjual mukjizat demi popularitas.
Ia tidak membangun kerajaan dengan intimidasi, tekanan apalagi penindasan.
Ia bahkan menolak ketika orang banyak ingin menjadikan-Nya raja secara politik (Yoh 6:15).
Namun banyak pelayanan modern atau gereja justru memakai strategi dunia:
- mengontrol jemaat dengan rasa takut, antikritik, menulikan dan membutakan diri
- memainkan emosi, membangun circle bukan kesetaraan, shg muncul circle-circle lainnya di gereja, gereja menjadi komunitas
- mengkultuskan pemimpin gereja,
- membangun kemewahan untuk mengesankan rohani, membangun kemewahan  untuk peristiwa atau event gereja sebagai organisasi, bukannya hidup ugahari atau hidup sederhana
- bahkan memakai ayat untuk membungkam kritik.

Gereja seringkali terlihat rohani di luar, tetapi di dalam digerakkan oleh logika dunia: siapa yang paling berpengaruh, paling kaya, paling viral, paling kuat mengendalikan narasi.
Dan itu bukan hal baru. Nabi Yehezkiel pernah mengecam gembala-gembala Israel yang menggembalakan diri sendiri, bukan umat Tuhan (Yeh 34). Mereka memanfaatkan kawanan domba demi keuntungan pribadi. Tuhan menyebut itu sebagai pengkhianatan rohani. Masalah terbesar gereja bukan selalu serangan eksternal.
Sering kali masalah terbesar lahir ketika gereja mulai nyaman memakai METODE BABEL untuk membangun “Kerajaan Allah.”
Kita hidup di zaman ketika pencitraan bisa lebih dihargai daripada pertobatan.
Tampilan rohani bisa lebih penting daripada karakter.
Bahasa “urapan” bisa dipakai untuk menutupi penyalahgunaan kuasa.
Dan gereja bisa tetap ramai, megah, rohani… tetapi kehilangan hadirat Tuhan.
Tetap viral… tetapi kehilangan kebenaran.
Tetap relijius… tetapi berhenti menyerupai Kristus.
Namun panggilan Injil tetap sama. Gereja dipanggil bukan untuk menguasai dunia, tetapi adalah terang di tengah dunia.
Bukan meniru sistem dunia, melainkan menghadirkan karakter Kristus, yaitu : kerendahan hati, kebenaran, pengorbanan, dan kasih yang tidak manipulatif.
Salib selalu bertolak belakang dengan ambisi dunia. Karena di salib, kuasa dinyatakan melalui pengorbanan, bukan dominasi, kasih dinyatakan dengan keadilan bahkan kesetaraan. Karena pada akhirnya, kesaksian gereja tidak diukur dari besarnya gedung, ramainya jemaat, kuatnya pengaruh, atau canggihnya pencitraan. Kesaksian gereja diukur dari seberapa jelas dunia melihat Kristus hidup di dalamnya.

Seperti pernah dikatakan oleh J. I. Packer:

“The task of the church is to make the invisible Kingdom visible through faithful Christian living and witness-bearing.”
“Tugas gereja adalah membuat Kerajaan Allah yang tak kelihatan menjadi terlihat melalui kehidupan Kristen yang setia dan kesaksian yang benar.”

Dan kalau gereja gagal melakukan itu, seindah apa pun panggungnya, langit tidak terkesan. Tuhan tidak pernah mencari gereja yang mengesankan dunia.
Ia mencari gereja yang menyerupai Putera-Nya.
(09052026)(TUS)

Jumat, 08 Mei 2026

Sudut Pandang 𝗟𝗲𝗸𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻𝗴, 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝙒𝙖𝙧𝙩𝙖 𝙅𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀

Sudut Pandang 𝗟𝗲𝗸𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻𝗴, 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝙒𝙖𝙧𝙩𝙖 𝙅𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀

PENGANTAR
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. Seperti apakah gereja masa depan? Mampukah gereja beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan panggilan-Nya? Akankah gereja bergairah menyambut Generasi Baru yang lahir pada era AI? Apakah liturgi Leksionari dapat mewakili generasi baru?apakah kebutuhan keuangan gereja untuk hidup organisasinya akan mengalahkan pemahaman akan pengajaran iman? Kenapa gerakan kebersamaan sepakat penggunaan liturgi Leksionari di Indonesia masih banyak gereja yg menolaknya?menjadi pembicara webinar tentang penggunaan Leksionari di gereja pada FBG bengkel liturgi, bbrp hal membuat saya senyam senyum karena gurauan mereka, sohib, ada yang bilang begini :Kalau saya, mas pernah usulkan, ibadah yang penting kolektenya dan berilah dalam jumlah yang banyak. Jadi ibadah bukan berpusat pada Sakramen, bukan juga pada pemberitaan firman, apalagi berpusat pada liturgi sebagai simbol ritual akan pengkenangan akan Kristus, apalagi bacaan sabda, tetapi pada jumlah uang masuk sebab makin banyak jemaat memberi makin diberkati para pejabat gerejawi nya .......wk .... Wk, 
ada lagi yang bergurau: saya tidak mau memangku jabatan gerejawi, lah ...... kenapa? Tanya saya, jawabnya, karena itu kan panggilan Tuhan mas, aku gak mau mati sekarang mas ...... Wk ..... Wk. 
Di luar itu semua kami berembuk serius tentang alasan - alasan, kenapa gereja tidak mau menggunakan Leksionari, karena itu sebenarnya gerakan kebersamaan, gerakan ekuminis, memang tidak harus digunakan, boleh tidak itu keputusan masing-masing gereja, sekali lagi kalau buat saya adalah argumentasi atau alasan penolakan harus nalar serta berdasar, ini gerakan bersama, gerakan ekuminis dimana memahami gereja yang esa bukan lagi hanya satu gereja, tetapi sangat dimungkinkan banyak gereja tetapi satu misi dan visi terlebih satu pergumulan. Alkitab bahkan Yesus mendengungkan tentang ke esa an gereja tsb. Bagaimana di hari Minggu yang sama dan masa raya, gereja-gereja menggumuli ayat sabda yang sama dg sudut pandang yang berbeda. Bacaan sabda berpusat pada bacaan Injil sebagai puncak atau mahkotanya (bukan khotbah), sebagai kebersamaan gereja-gereja memusatkan diri pada hidup Kristus, teladan Kristus, demikian halnya gereja-gereja bersama-sama mengajar umat berlandaskan bacaan sabda untuk memusatkan kan diri pada hidup Kristus, lewat pengenangan akan hidup Kristus yg secara ritual simbolis ada pada liturgi. Penggunaan kalender gerejawi, merujuk pada kebersamaan gereja-gereja menapak tilas, mengenang hidup Kristus, dalam satu tahun, daur liturgis. Jadi, penataan dalam kalender Leksionari atau kalender liturgi itu terkait dengan pemahaman dan pengajaran iman yang ada di Alkitab, kenangan atas peristiwa kitab suci utamanya peristiwa Kristus, kalau kita menggesernya sebetulnya itu menandakan kita belum paham.
PEMAHAMAN
Saya heran pada beberapa gereja, yang terdata  menolak penggunaan leksionari. Alasannya sangat remeh: 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝙠𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙖𝙣. Dan, perwakilan bbrp gereja menganggap itu alasan yg kuat, maka kami sudah mengamati lewat YouTube, liturgi yg digunakan oleh gereja-gereja tsb. Diskusi menjadi menarik.
Padahal kalau dihitung, leksionari mungkin hanya menambah sekitar lima menit. Itu sudah paling lama. Tidak lucunya pada saat yang sama gereja-gereja tsb bisa sangat longgar terhadap hal-hal lain yang justru benar-benar meng𝘨𝘳𝘰𝘨𝘰𝘵𝘪 waktu. Contohnya pembacaan 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 sudah menjadi 𝗿𝗶𝘁𝘂𝘀 tersendiri. Padahal Warta Jemaat sudah dicetak begitu rinci oleh gereja-gereja tsb baik via WA, print kertas, Web atau situs milik gereja, barkot warta gereja, dlsb. 𝘚𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 khusyuknya 𝗿𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝙒𝙖𝙧𝙩𝙖 𝙅𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩, jauh lebih lebih lama daripada 𝘳𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 liturgi. Ibadah selalu dimula melewati waktu yang ditetapkan secara reguler, bbrp tayangan YouTube saya hitung waktunya dari bbrp gereja-gereja tsb. Misal, ibadah pukul 8. Tidak pernah dimula pukul 8. Selalu lewat. Keterlambatan seperti itu dianggap biasa saja. Tidak ada kegelisahan liturgis. Tidak ada rasa bersalah gerejawi.
Namun, ketika leksionari dibicarakan, tiba-tiba para pejabat gereja-gereja ini, menjadi sangat sensitif terhadap waktu. Pada aras itu persoalannya bukan lagi soal durasi, melainkan soal prioritas rohani. Gereja tanpa sadar sedang mengatakan: pembacaan Kitab Suci boleh dipersingkat, tetapi pengumuman gereja jangan diganggu. Padahal dalam tradisi gereja sepanjang sejarah (apalagi GKI, GKJ, itu Calvinis!) pembacaan Alkitab adalah puncak liturgi (sebetulnya salah kaprah ketika mengatakan liturgi Calvinist puncaknya adalah khotbah/homilitika, karena yg membuat pusat liturgi Calvinist berpusat pada khotbah/homilitika adalah jauh setelah Calvin tidak ada lagi). 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 penting, tetapi ia tetap pelayan liturgi, bukan tuan atas liturgi.
Kadang saya berpikir: jangan-jangan para pejabat gereja-gereja ini  takut bukan karena leksionari terlalu panjang, melainkan karena leksionari memaksa mereka mendengar lebih banyak Alkitab daripada yang nyaman didengar.
Tidaklah begitu keliru “penelitian” saya yang mengatakan: banyak orang kalau sudah menjadi pejabat gereja mengalami gangguan pendengaran. Maunya 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘶, tak sudi mendengar. Ada lagi pengamatan saya saat lihat youtube bbrp gereja arus utama yg membuang saat teduh. Setiap kegiatan mahasiswa di kampus, saya selalu katakan, jangan mengganggu saat teduh teman-teman kita. Itu satu-satunya momen dalam liturgi ketika jemaat berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa dijembatani oleh pelayan firman dan liturgos. Ada lagi saya memperhatikan, di bbrp gereja, menggeser hari raya panen pada kalender liturgi tidak pada hari Pantekosta/Minggu Trinitas sebagai puncak masa raya prapaskah paskah. Seharusnya bila alkitabiah Ya perayaan panen ya pas Pantekosta. Digeser karena ya agar uang masuk gereja diharapkan tinggi karena jatuh pas tgl muda, pas umat gajian, kok kadang pahamnya jadi lucu, seperti kita tidak percaya bahwa Tuhan kita itu maha kuasa untuk mencukupkan kita ...... Jadi liturgi kenangan Kristus/peristiwa kitab suci yg alkitabiah berfungsi untuk mengajar pemahaman iman Umat, digeser tgl nya hanya karena uang masuk gereja diharapkan tinggi, jatuh pas tgl muda, umat sudah gajian, berikutnya adalah kalau begitu gereja tidak mempercayai umat mengerti arti persembahan karena menduga-duga kalau tgl tua/akhir bulan persembahan umat ke gereja akan lebih sedikit dibandingkan kalau tgl muda ..... Wk ...... Wk ...... Wk .... Wk .... Pengajaran Pemahaman keimanan kalah dengan uang masuk gereja, serta pandangan ini memukul sama rata semua umat. Bukankah kita diajar untuk paham uang masuk ke gereja adalah anugerah Tuhan wujud syukur umat atas pemeliharaan Tuhan pada hidup mereka, seberapa besarpun itu bahkan seberapa kecilpun itu, adalah anugerah pada gereja untuk dikelola. Yang diajarkan adalah sikap hati saat mempersembahkan, tetapi dg menggeser tanggal hari raya panen bukan sebagai puncak masa raya prapaskah paskah hanya karena perkara besaran uang masuk ke gereja artinya gereja sudah mengajarkan yang sebaliknya, uang masuk ke gereja harus besar, bukan perkara hati yang mempersembahkan seperti perumpamaan janda miskin.
(08052026)(TUS)

Kamis, 07 Mei 2026

Sudut Pandang Cinta Allah Melahirkan Kelimpahan Syukur, Minggu VI Paska

Sudut Pandang Cinta Allah Melahirkan Kelimpahan Syukur, Minggu VI Paska

PENGANTAR
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 17 : 22 – 31
Mazmur: Mazmur 66 : 8 – 20
Bacaan 2: 1 Petrus 3 : 13 – 22
Bacaan 3: Yohanes 14 : 15 – 21

Kisah Para Rasul 17 : 22 – 31
Atena adalah kota yang maju dari sisi akademis, mungkin kalau pada zaman sekarang dapat dikategorikan sebagai kota pelajar. Dengan kondisi kota yang seperti ini dapat diasumsikan bahwa penduduk kota ini mayoritas adalah orang-orang dari kalangan terpelajar yang mengedepankan akal dan nalar. Kota ini yang menjadi konteks Paulus mengabarkan berita sukacita kepada orang-orang Atena yang merupakan orang berpendidikan dan menggunakan nalar mereka dengan baik. Cara Paulus mengabarkan Injil juga menyesuaikan konteks pendengar yang merupakan orang-orang berpendidikan. Oleh karena itu, ia menyampaikan di ayat 23: ”Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Paulus menyampaikan kalimat ini karena bagi orang-orang berpendidikan segala sesuatu harus memiliki bukti yang dapat diterima secara nalar manusia. Jika mereka menyembah Allah yang tidak mereka kenal maka untuk apa mereka menyembah, sementara Paulus mengenalkan Allah yang dapat dikenal dan dekat dengan manusia. Paulus menyampaikan kepada orang-orang Atena bahwa Allah yang ia kenal bukan Allah yang berharap dilayani seolah-olah Allah tidak mampu atau kekurangan. Allah yang dikenalkan Paulus adalah Allah yang Maha Kuasa yang menjadikan langit, bumi, dan segala isinya. Melalui penyampaiannya ini Paulus berharap orang-orang Atena percaya dan menjadi pengikut Kristus. Cara penyampaian Paulus ini memang sangat memperhatikan konteks pendengarnya yang tergolong orang berpendidikan, maka ia pun menyampaikan bahwa Allah jauh melebihi segala sesuatu yang dapat dipikirkan manusia. Konteks ke-Mahakuasa-an Allah ditonjolkan oleh Paulus karena ia sadar bahwa ia berhadapan dengan orang-orang berpendidikan yang memiliki daya pikir yang baik.

1 Petrus 3 : 13 – 22
Surat Rasul Petrus yang pertama ini merupakan surat yang ditulis untuk menguatkan iman para pengikut Kristus di wilayah Asia Kecil yang mengalami penderitaan karena iman dan keyakinan mereka. Petrus melalui suratnya berusaha menguatkan iman para pengikut Kristus yang dalam situasi menekan mereka. Khususnya dalam pasal 3:13-22, Petrus menekankan bahwa meskipun mereka menderita, selama mereka tetap berada di jalan yang benar maka mereka akan merasakan kebahagiaan (Ay. 14). Pesan ini menekankan agar pengikut Kristus tidak meninggalkan ajaran Kristus meskipun mereka menderita dan hidup dalam tekanan. Terlebih supaya mereka tidak takut dan gentar melakukan apa yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Kristus. Lebih lagi Petrus menjelaskan bahwa Kristus telah mati untuk menebus dosa manusia bahkan untuk orang-orang yang tidak benar supaya mereka dapat kembali kepada Allah (Ay. 18). Hal inilah yang diharapkan dapat menguatkan keyakinan para pengikut Kristus untuk tetap bertahan menghadapi segala cobaan. Petrus memang tidak pernah mengatakan bahwa percaya kepada Yesus akan membuat mereka bebas dari cobaan tetapi di tengah cobaan mereka masih memiliki pengharapan. Maka diharapkan para pengikut Kristus tetap sadar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka meskipun di tengah cobaan dan penderitaan yang sedang mereka hadapi.

Yohanes 14 : 15 – 21
Bacaan kita yang ketiga ini menjelaskan tentang Yesus yang menjanjikan penolong kepada orang-orang yang mengasihi-Nya. Penolong yang dimaksud adalah Roh Kudus yang akan menyertai kehidupan mereka. Yang menarik dalam bacaan kita, Yesus tidak menyebut Roh Kudus melainkan Roh Kebenaran. Pada dasarnya 2 sebutan ini tidak saling bertentangan karena merujuk pada pribadi dan peran dasar yang sama. Yohanes 14:15-21 ini merupakan wujud janji Yesus kepada orang percaya khususnya para murid yang akan Ia tinggalkan. Untuk melanjutkan karya keselamatan yang dimulai oleh Yesus maka mereka memerlukan tuntunan dan petunjuk. Penyebutan Roh Kebenaran (Ay. 17) merujuk pada peran Allah yang akan menuntun mereka melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus yang dalam bahasa Yunaninya disebut “Parakletos” berarti penolong dan pendamping. Dalam konteks ayat 17, maka yang dijanjikan oleh Yesus adalah penolong dan pendamping yang akan menunjukkan hal yang benar sesuai dengan kehendak Allah sehingga manusia tetap menjalani hidup benar sesuai dengan kehendak Allah. Peran ini juga dikuatkan dengan perkataan Yesus di ayat 18, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Peran Roh Kebenaran ini dianalogikan seperti orang tua yang selalu mendampingi dan membimbing anak-anaknya, yang membuat mereka memahami apa yang baik dan buruk. Ungkapan Yesus bahwa tidak akan meninggalkan para murid sebagai yatim piatu menegaskan kembali bahwa melalui Roh Kebenaran, Yesus selalu mendampingi dan menyertai perjalanan pelayanan para murid dan orang percaya yang mengasihi-Nya. Hal ini dilakukan oleh penulis Injil Yohanes agar para pembaca Injil Yohanes tetap kuat dalam melawan ajaran-ajaran sesat yang sedang berkembang saat itu (misalnya Gnostisisme). Janji Yesus yang akan tetap mendampingi kehidupan para murid juga dikuatkan lagi dengan ungkapan Yesus pada ayat 19: “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.” Pernyataan Yesus ini tentunya terkait dengan kenaikan Yesus ke Surga setelah penderitaan dan kematian-Nya. Yesus kembali menegaskan bahwa Ia tetap akan hidup bersama dengan para murid dengan hadirnya Roh Kebenaran ini. Inilah yang ditekankan oleh penulis Injil Yohanes dalam konteks pembacanya yang sedang menghadapi ajaran sesat bahwa Yesus ada bersama mereka dan akan menunjukkan apa yang benar.
PEMAHAMAN 
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan kita saat ini menjelaskan 2 hal penting tentang Allah yang harus dipahami oleh manusia. Pertama, Allah yang dekat dan dapat dikenal dengan baik oleh manusia. Pemahaman ini meluruskan pemahaman tentang tuhan/dewa dalam mitologi yang tidak dapat digambarkan dengan jelas dan baik oleh manusia. Kedua, Allah dapat dikenal karena selalu berada dekat dengan manusia dan melalui ke-Mahakuasa-an-Nya, Allah selalu menuntun manusia ke jalan yang benar. Melalui dua hal ini diharapkan dapat memunculkan rasa syukur dalam hati manusia karena Allah selalu menyertai serta memberkati manusia.

Undhuh-undhuh  adalah salah satu hari raya yang penting dalam perjalanan hidup jemaat. Undhuh-undhuh yang awalnya identik dengan perayaan dan ucapan syukur karena berkat Tuhan atas pertanian dan hasil panen yang baik, telah berkembang bukan hanya dalam lingkup agraris melainkan ungkapan syukur atas berkat Tuhan secara luas. Hal ini terbukti dengan pelaksanaan hari raya undhuh-undhuh di jemaat perkotaan yang sebagian besar atau bahkan mungkin seluruh warganya tidak ada yang berprofesi sebagai petani tetapi tetap melaksanakan hari raya undhuh-undhuh atau hari raya persembahan. Maka undhuh-undhuh bukan lagi ungkapan syukur atas berkat Tuhan yang telah tercurah bagi kaum petani saja tetapi seluruh warga GKJ apapun profesinya diajak bersama bersyukur atas berkat Tuhan dalam kehidupan mereka. Bersyukur memang menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Kristen, karena kita yakin Allah selalu menyertai kehidupan ini dalam berbagai aspek kehidupan. Maka benar rasanya jika undhuh-undhuh tidak semata-mata dikaitkan dengan masyarakan agraris secara sempit tetapi lebih kuas sebagai hari raya persembahan atau ungkapan syukur Umat Tuhan atas berkat dan penyertaan yang sudah mereka rasakan. Semua orang percaya sepakat bahwa mengucap syukur adalah bagian penting dalam kehidupan orang beriman, namun pada praktiknya tidak mudah untuk terus mengucap syukur di tengah tantangan hidup yang terjadi. Maka dari itu, saat ini marilah kita belajar dari Firman Tuhan yang telah kita baca bersama. Tantangan hidup yang dialami orang beriman sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala, seperti yang digambarkan dalam surat 1 Petrus (Bacaan 2). Pengikut Kristus di Asia Kecil waktu itu sedang mengalami penganiyaan yang berat sehingga sangat mempengaruhi iman percaya mereka. Oleh karena itu, Petrus melalui suratnya menegaskan tentang Kristus yang telah menderita lebih dahulu demi menebus dosa manusia. Petrus berharap agar para pengikut Kristus tetap memiliki pengharapan dalam hidup mereka di tengah penderitaan. Cinta Tuhan kepada manusia yang menjadi alasan utama, Yesus rela menderita demi menebus dosa manusia. Cinta Tuhan inilah yang kiranya menjadi pengharapan bagi para pengikut Kristus yang sedang mengalami penderitaan. Paulus juga menjelaskan kepada orang-orang Yunani bahwa Allah bukanlah seperti dewa-dewa yang mereka sembah, yang berharap dicintai umat-Nya (Bacaan 1). Allah yang dikenal Paulus adalah Allah yang Maha Kuasa dan Allah yang melimpahkan cinta kasih-Nya kepada setiap umat manusia. Paulus menggunakan gambaran Allah yang dekat dan dapat dikenal manusia karena Paulus ingin menggambarkan bahwa Allah memiliki cinta yang besar kepada umat-Nya. Poin penting dari pengajaran Paulus adalah Allah yang dekat dan yang Maha Kuasa itu telah melimpahkan kasih karunia kepada manusia. Orang-orang Atena yang notabene adalah orang-orang berpendidikan tinggi dan biasa menggunakan nalar logika diajak untuk menghayati aspek perasaan tentang kedekatan Allah dengan manusia, yang kemudian membuat manusia merasa dicintai oleh Tuhan dengan luar biasa.
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa Allah memiliki cinta kasih yang besar terhadap umat-Nya yang menderita, namun yang menjadi tantangan tersendiri adalah menyadari cinta Tuhan di tengah situasi yang sulit itu tidaklah mudah. Kecenderungan manusia yang sedang mengalami tantangan atau pergumulan adalah mereka merasa bahwa Allah meninggalkan mereka. Masalah atau pergumulan sering kali dikaitkan dengan ketidakhadiran Tuhan atau bahkan kutukan Tuhan. Kecenderungan inilah yang kemudian membuat manusia sulit untuk bersyukur dan merasakan cinta kasih Tuhan ketika menghadapi tantangan atau pergumulan.
Yesus ternyata sudah membaca gejala atau kecenderungan manusia yang seperti ini. Perkataan Yesus yang dituliskan dalam Injil Yohanes 14:15-21 menjadi bukti bahwa Ia ingin menjaga pemahaman para pengikut-Nya ketika menghadapi tantangan saat mengabarkan Injil. Yesus menjanjikan hadirnya Roh Kebenaran yang akan menolong dan mendampingi para murid setelah Ia naik ke surga. Roh Kebenaran inilah yang menjaga pemahaman para murid tetap tegak lurus kepada kehendak Allah. Harapannya para murid tetap menyadari bahwa Yesus senantiasa menyertai mereka ketika mereka menghadapi tantangan. Hal ini diungkapkan secara jelas oleh Yesus di ayat 18, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.” Melalui perkataan ini Ia memposisikan diri-Nya sebagai orang tua yang selalu mendampingi para murid melalui hadirnya Roh Kebenaran, yang membuat mereka merasakan penyertaan dan cinta kasih Tuhan. Dengan demikian para murid dapat selalu mengucap syukur meskipun mengalami berbagai macam tantangan dan masalah. Kecenderungan manusia yang sering lupa akan cinta Tuhan ketika mengalami masalah dijawab oleh Yesus melalui hadirnya Roh Kebenaran yang senantiasa meluruskan pemahaman manusia. Pada masa sekarang ini, manusia juga mengalami berbagai macam tantangan dalam banyak aspek kehidupan. Di tengah berbagai macam tantangan itu, kita diajak mengucap syukur melalui hari raya undhuh-undhuh. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk memaknai undhuh-undhuh secara baik ketika mengalami tantangan, namun jika kita kembali menghayati ketiga bacaan hari ini nampaknya akan menjadi lebih mudah. Kita bersama tahu melalui bacaan hari ini, cinta Allah begitu besar kepada manusia, bahkan Yesus menjanjikan Roh Kebenaran untuk membantu kita memahami cinta-Nya. Maka pada hari raya undhuh-undhuh ini, kita diajak untuk kembali menyadari cinta Tuhan dan terus menyandarkan diri kepada Roh Kebenaran yang akan menuntun kita pada pemahaman yang benar tentang cinta Tuhan kepada manusia. Selamat menghayati hari raya undhuh-undhuh sebagai salah satu jalan mensyukuri cinta Tuhan dan teruslah bersandar pada Roh Kebenaran agar kita tetap bisa bersyukur dalam segala keadaan. Tuhan memberkati kita. Amin. 
(07052026)(TUS)

 










Sudut Pandang Perubahan Kondisi Gereja harus Adaptif tapi tidak kompromi pada dosa, Minggu VI Paska

Sudut Pandang Perubahan Kondisi Gereja harus Adaptif tapi tidak kompromi pada dosa, Minggu VI Paska

PENGANTAR
Minggu Paskah VI tahun A, Minggu 10 Mei 2026.
Bacaan 1: 
Kisah Para Rasul 17:22-31
Bacaan 2:
1 Petrus 3:13-22
Bacaan Injil:
Yohanes 14:15-21

Ketiga bacaan itu saling mengunci dalam satu tema besar: Allah yang hidup dan hadir di tengah dunia yang berubah, dan umat-Nya dipanggil menjawab dengan iman yang tetap, adaptif, dan bersaksi. Dalam kerangka leksionari, Kisah Para Rasul 17 menampilkan inkulturasi misi; 1 Petrus 3 menampilkan keteguhan di tengah tekanan; Yohanes 14 menampilkan kehadiran Roh dan ketaatan kasih. Roh Kudus buat kita jadi kaya bambu, lentur (Kisah Rasul 17:22-31), diterpa angin badai itu pasti (1 Petrus 3:13-22), tapi cuman goyang sana goyang sini, kagak patah, akar tetap tertancap di tanah (Yohanes 14:15-21), bukan kaya pohon beringin yang kaku, pasti kena angin badai, tapi dilawan dengan keras berdiri tegak, akibatnya apa tumbang it's rungkat, roboh beserta akar-akarnya yg tidak lagi menancap di tanah.
PEMAHAMAN 
Kisah Para Rasul 17:22-31. 
Secara literer, pidato Paulus di Areopagus adalah contoh retorika misi yang sangat terampil: ia memulai dari religiositas Athena, mengutip altar “kepada Allah yang tidak dikenal,” lalu bergerak ke penciptaan, pemeliharaan, pertobatan, dan penghakiman. Secara budaya, ini adalah dialog dengan dunia Yunani yang religius tetapi plural, sehingga Paulus tidak langsung menyerang dari luar, melainkan masuk lewat titik temu yang sudah dikenali pendengarnya, gak kaya apologet YouTube yang isinya cuman debat kusir maunya bener sendiri, Apologetika kok nambah musuh, bukannya nambah jiwa yg mau datang ke Kristus. Dari sisi teologi, Allah digambarkan sebagai Pencipta dan Pemelihara, tidak dibatasi kuil atau patung buatan tangan, dan puncaknya adalah kebangkitan Yesus sebagai jaminan penghakiman serta panggilan pertobatan. Kritik teks untuk perikop ini umumnya tidak seproblematis beberapa teks lain, tetapi detail leksikal dan gaya menunjukkan bahwa Lukas sengaja menyusun pidato yang sangat kontekstual, mungkin tidak stenografis kata-per-kata, melainkan komposisi historiografis-teologis yang mencerminkan isi pewartaan Paulus. Ini penting secara akademik: teks ini lebih tepat dibaca sebagai model teologi misi yang kontekstual daripada sekadar transkrip pidato literal. Dengan begitu, “gereja adaptif” di sini bukan gereja yang kehilangan misi, melainkan gereja yang menyesuaikan bahasa, bukan inti iman. Ini bukan kompromi tapi lentur, cerd8 seperti ular, tulus seperti merpati.

1 Petrus 3:13-22
Secara sastra, 1 Petrus 3:13-22 bergerak dari etika penderitaan ke kristologi, lalu ke baptisan dan kemenangan Kristus atas kuasa-kuasa rohani. Nada pastoralnya kuat, umat lagi ditindas menderita: penderitaan orang benar bukan tanda kekalahan, melainkan ruang kesaksian dan partisipasi dalam pola hidup Kristus yang menderita lalu dimuliakan. Ayat-ayat tentang Kristus “mati dalam daging tetapi dihidupkan dalam roh” lalu naik dan “duduk di sebelah kanan Allah” memberi kerangka pengharapan yang sangat pas untuk jemaat yang tertekan. Penderitaan itu lumrahnya hidup tapi harus tetap mengakar kuat pada Kristus.
Dari sudut kritik teks dan penafsiran, bagian yang paling diperdebatkan ialah ayat 19-20 tentang “roh-roh dalam penjara” dan relasi antara air bah, keselamatan Nuh, serta baptisan. Banyak pembacaan akademik melihat bagian ini sebagai rangkaian argumentasi tipologis: air bah bukan terutama soal airnya, melainkan tentang penyelamatan melalui hukuman, dan baptisan dipahami sebagai respons iman dan “permohonan/komitmen hati nurani yang baik kepada Allah,” bukan sekadar ritual eksternal simbolis. Jadi, iman yang “lentur” bukan berarti cair tanpa bentuk dan kompromi pada dosa; justru ia lentur karena mampu bertahan di bawah tekanan tanpa retak dan patah, tetap mengarah pada Kristus yang sudah dimuliakan, tetap mengakar pada Kristus di tengah badai kehidupan.

Yohanes 14:15-21
Perikop Yohanes ini berada dalam pidato perpisahan Yesus, sehingga nuansanya intim, pastoral, dan eskatologis: kasih kepada Yesus diwujudkan dalam ketaatan, dan ketaatan itu tidak ditopang oleh kepergian Yesus, melainkan oleh pemberian Roh Kudus/Parakletos, kekuatan untuk lentur seperti bambu dan tetap mengakar pada Kristus di tengah derita adalah buah Roh Kudus. Secara sastra, kalimat-kalimatnya paralel dan bertumpuk: kasih, perintah, Roh, kehadiran, pengenalan, dan hidup. Secara teologis, ini bukan sekadar moralitas; ini adalah logika relasional, bahwa ketaatan di tengah derita me,buat cerdik dalam melentur lahir dari kasih, dan kasih membuka ruang bagi kehadiran Allah/Roh Kudusdi dalam komunitas .
Kritik teks pada ayat 15 menarik karena ada varian kecil pada bentuk verba “keep”/“you will keep,” tetapi makna keseluruhan tetap jelas: kasih dan ketaatan terjalin erat. Yang lebih penting secara teologis adalah fungsi Parakletos: Roh “lain” yang meneruskan kehadiran dan karya Yesus bagi komunitas yang harus hidup di dunia yang tidak selalu menerima mereka. Jadi gereja yang adaptif menurut Yohanes bukan gereja yang mengikuti dunia, bukan greja yang berkompromi pada dosa melainkan gereja yang tetap tinggal dalam kasih Kristus sambil menghadirkan kesaksian-Nya secara baru melalui Roh, dalam kelenturan iman di tengah derita.

Kaitan tiga bacaan
Ketiganya membentuk satu alur: Paulus menunjukkan cara berbicara kepada dunia dalam kelenturan tsb, Petrus menunjukkan cara bertahan di dalam derita dunia, dan Yohanes menunjukkan cara hidup oleh Roh di dalam dunia yg menjadi penopang kekuatan. Kisah Para Rasul 17 mengajarkan bahwa iman harus bisa diterjemahkan ke dalam bahasa publik, melentur; 1 Petrus 3 mengajarkan bahwa iman harus tetap teguh saat dibebani penderitaan; Yohanes 14 mengajarkan bahwa semua itu hanya mungkin bila gereja hidup dalam kasih kepada Kristus dan dipimpin Roh Kudus. Maka tema “gereja yang adaptif” dapat dibaca sebagai gereja yang mampu berinkulturasi tanpa kehilangan identitas, sedangkan “iman yang lentur akan terus hidup” berarti iman yang mampu melentur tanpa patah karena tetap mengakar pada Kristus, ditopang oleh kebangkitan, pengharapan, dan kehadiran Roh.
Kalau dirumuskan secara teologis, adaptif di sini bukan pragmatis tanpa batas, melainkan misioner, dialogis, dan berakar. Dari Paulus, gereja belajar berbicara dengan hormat kepada budaya lain, adaptif pada situasi kondisi tanpa kompromi atas dosa, tanpa mengurangi klaim Kristus yang bangkit. Dari Petrus, gereja belajar bahwa adaptasi juga berarti kesetiaan iman di tengah tekanan, sehingga kesaksian tidak berhenti pada kata-kata tetapi tampak dalam karakter dan pengharapan. Dari Yohanes, gereja belajar bahwa adaptasi yang benar selalu bersumber dari kasih kepada Yesus dan kehadiran Roh yang membuat gereja tetap hidup walau konteks berubah/lentur pada situasi kondisi tanpa kompromi dosa.
(07052026)(TUS)

Sudut Pandang Kisah Rasul 1:1–11, Efesus 1:15–23, dan Lukas 24:44–53,HARI KENAIKAN TUHAN YESUS, TAHUN A, Tubuh yang masuk ke surga

Sudut Pandang Kisah Rasul 1:1–11, Efesus 1:15–23, dan Lukas 24:44–53,HARI  KENAIKAN TUHAN YESUS, TAHUN A, Tubuh yang masuk ke su...