Beragama harus berakal sehat
Teologi
Senin, 16 Februari 2026
Minggu, 15 Februari 2026
SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS MINGGU SENGSARA
SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS MINGGU SENGSARA
PENGANTAR
Kesaksian Markus 14:1-15:47 (penulis meringkas bacaan menjadi Markus 15:1-15) adalah pengisahan penderitaan, kematian Yesus sampai akhirnya Ia dimakamkan. Sengaja kisah penderitaan, kematian Yesus dan pemakaman telah dibaca pada Minggu Prapaskah VI (Minggu Palma) dan yang juga disebut dengan “Minggu Sengsara” agar umat memahami bahwa kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem berkaitan dengan karya penebusan melalui penderitaan dan kematian-Nya.
PEMAHAMAN
Umat pada pengisahan Minggu Palma yang memperkenalkan-sorak memuji Yesus adalah umat yang juga kelak akan berteriak dan menuntut akan kematian-Nya. Demikian pada Minggu Prapaskah VI memiliki dua dimensi kembar yang paradoks, yaitu puji-pujian yang menyambut Yesus dan teriakan kemarahan yang menuntut kematian Yesus. Kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem seperti seorang pahlawan yang menang, tapi tak lama lagi Ia akan diperlakukan seperti seorang penjahat. Kesaksian Yesaya 50:4-9 juga menggemakan penderitaan seorang hamba Tuhan. Di Yesaya 50:6 mempersaksikan: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak bersembunyi mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Kesaksian ini paralel dengan Yesaya 53:3, yaitu hamba Tuhan yang dihina dan Dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Namun di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya, hamba Tuhan tersebut memiliki lidah seorang murid, sehingga ia mampu memberi semangat yang baru kepada sesamanya yang letih lesu. Di tengah-tengah penderitanya Sang Hamba Tuhan tersebut tidak berkeluh-kesah, menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya ia memberikan semangat dan kekuatan rohani kepada orang-orang yang putus asa. Jadi arti lidah seorang murid menunjuk pada lidah yang dilatih dengan baik. Kemampuan mengendalikan lidah yang peka hanya dapat terjadi jikalau hamba Tuhan tersebut selalu membuka telinga. Ia mengutamakan kesediaan mendengarkan dengan baik sebagai seorang hamba Tuhan, sehingga mampu berbicara dengan bijaksana untuk meneguhkan dan menyatakan karya keselamatan Allah. Mulai Mazmur 50:7-9, pemazmur menegaskan bahwa Allah berpihak padanya. Sebab di tengah-tengah penderitaan dan cela yang dialaminya, ia tetap setia. Sang Hamba Tuhan tersebut tidak memberontak atau dibebaskan dari Allah. Pada akhirnya Allah akan menolong dia, sehingga dia tidak mendapat noda. Para musuhnya tidak sanggup menundukkan dia. Konteks Mazmur 31 didasari pada pengalaman pribadi yang dialami oleh pemazmur. Ia dicela dan dipermalukan oleh para musuhnya (Mzm. 31:12). Para musuhnya bersekongkol dengan menyebarkan dusta (Mzm. 31:19). Lebih dari itu pemazmur dikejar-kejar oleh para musuhnya (Mzm. 31:16) sehingga ia terjebak dalam jaring yang dipasang mereka (Mzm. 31:5). Di tengah-tengah komunitasnya, pemazmur ditinggalkan (Mzm. 31:12-13), sehingga ia menderita sakit (Mzm. 31:10-11), dipermalukan sebagai orang yang dianggap terbuang dari hadapan Allah (bdk. Mzm. 31:17-18). Dalam kondisi demikian pemazmur menganggap dirinya terbuang dari hadapan Allah. Tampaknya curahan hati pemazmur tidak dimaksudkan untuk diungkapkan sebagai keluh-kesah pribadinya saja, namun diungkapkan agar menjadi cermin bagi umat percaya yang menderita. Karena itu dalam Mazmur 31 kita dapat melihat secara sengaja pemazmur menghilangkan unsur-unsur yang bersifat pribadi agar setiap orang yang membaca dan mendengarkan curahan hati tersebut menggambarkan pengalaman hidup umat percaya yang ditindas dan dipermalukan oleh para musuh. Umat percaya yang telah kehilangan harapan dan hidup dalam kesedihan yang begitu berat justru dituntun oleh pengalaman pemazmur yang melihat kehadiran Allah. Di hadapan para musuh yang menindasnya, pemazmur tidak meminta belas kasihan dari mereka. Sebaliknya pemazmur hanya mengharap belas-kasihan dari Allah (Mzm. 31:10). Iman pemazmur justru bertumbuh dengan kokoh, sehingga ia dapat menyikapi masalah yang dihadapinya dengan sikap beriman kepada Allah. Mulai Mazmur 31:15 sikap iman pemazmur menggeser semua kesedihan, kepahitan dan rasa putus-asanya, yaitu: “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata: Engkaulah Allahku!” Dalam konteks ini kita menjumpai dua aspek penting dalam kehidupan iman pemazmur, yaitu: 1). Pernyataan iman bahwa hanya kepada Allah saja ia percaya, 2). Pengakuan iman bahwa Yahweh adalah Allahnya. Sikap iman pemazmur tersebut justru relevan untuk direnungkan secara lebih mendalam. Iman pemazmur ditemukan justru ketika ia berada di tengah-tengah penderitaan dan situasi kritis yang seharusnya menghancurkan dirinya sendiri. Namun di tengah-tengah situasi “ketiadaan” tersebut Allah justru hadir dan mengaruniakan kekuatan untuk menopang kehidupan pemazmur, sehingga pemazmur berkata: “Masa kehidupan ada di tangan-Mu, mengecewakanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu memancarkan atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!” (Mzm. 31:16-17). Dalam konteks ini pemazmur tidak menggunakan kekuatan dan upaya manusiawinya untuk membalas dendam kepada musuh, namun ia serahkan sepenuhnya kepada Allah. Dalam tulisannya yang berjudul Reconstructing Honor in Roman Philippi – Carmen Christi as Cursus Pudorum , Joseph H. Hellerman menginterpretasikan Surat Filipi 2:7 sebagai cursus pudorum . Maksud dari cursus pudorum adalah: Yesus menyampaikan diri-Nya meskipun Ia setara dengan Allah. Dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, Kristus memilih untuk menjadi seorang doulos (hamba). Lebih dari itu Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk mengalami kematian di atas kayu salib. Dalam spiritualitas cursus pudorum dalam kehidupan Yesus, kita dapat melihat pola spiritualitas yang tidak bergerak ke “atas” (menuntut kemuliaan yang lebih tinggi), namun sebaliknya Yesus memilih untuk bergerak ke “bawah.” Karena itu Yesus sengaja masuk kota Yerusalem dengan menunggangi seekor elang tanpa dikawal oleh para prajurit atau kekuatan politik. Apabila penduduk Yerusalem mengelu-elukan Yesus, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, mendesaklah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” adalah ungkapan yang spontan sebagai harapan mereka. Dengan pola ini rasul Paulus menunjukkan sikap yang berbeda antara Kristus dan pemerintah Romawi. Sikap pemerintah Romawi yang menjajah selalu lebih cenderung memeroleh kehormatan dan kemuliaan dengan meningkatkan kedudukan dan status seseorang ( cursus honorum ). Kecenderungan kita sebagai umat lebih suka mencari kehormatan di balik pelayanan dan kesalehan. Karena itu kita tidak segan menggunakan nama Allah atau Kristus, namun sesungguhnya kita haus akan pujian dan kehormatan. Kristus sebaliknya. Ia turun dari kedudukan dan statusnya sampai ke titik terendah bahkan sampai pada status yang paling hina dengan mati di kayu salib, dengan tujuan berkurban memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia ( cursus pudorum ) (Hellerman 2005, 130). Kesediaan Kristus mengosongkan diri adalah agar Ia dapat memberikan hidup-Nya sehingga umat memperoleh hidup yang berlimpah. Prinsip teologis ini dikemukakan oleh Injil Yohanes tentang tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus, yaitu: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala menceritakan” (Yoh. 10:10b).
(16022026)(TUS)
SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS ATAS MINGGU PALMARUM
SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS ATAS MINGGU PALMARUM
PENGANTAR
Yesus dan murid-murid-Nya masuk ke kota Yerusalem setelah perjalanan dari Yerikho (Markus 10:46). Tindakan Yesus masuk ke kota Yerusalem akan membawa Dia kepada penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib.
PEMAHAMAN
Kisah Yesus yang naik ke kota Yerusalem juga dipersaksikan oleh Mazmur 118. Dalam hal ini Mazmur 118 sengaja dipilih oleh The Revised Common of Lectionary sebagai bacaan leksionaris untuk memahami makna Yesus masuk ke kota Yerusalem. Di Mazmur 118:19 mempersaksikan: “Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN.” Menurut Frank H. Ballard dalam The Interpreter's Bible Volume 4 , makna “pintu kebenaran” menunjuk ke pintu Bait Allah di Yerusalem. Umat sebagai orang-orang yang benar di hadapan Allah diundang masuk melalui gerbang rumah Allah. Undangan tersebut bertujuan agar umat bersedia mendedikasikan hidupnya pada kebenaran (Mzm. 118:20) karena mereka telah menerima keselamatan dari Allah. Keselamatan tersebut justru terjadi pada umat yang dianggap semula tidak layak masuk ke pintu gerbang rumah Allah, namun kini mereka diperkenankan untuk bersembunyi. Dalam hal ini Frank H. Ballard menafsirkan bahwa “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan” sebenarnya ditujukan kepada bangsa-bangsa di luar umat Israel. Dahulu mereka anggap tidak berguna, namun kemudian Allah berkenan menjadikan mereka sebagai “batu penjuru.” Itu sebabnya respon di Mazmur 118:24 pemazmur menyatakan kegembiraan bersama umatnya, yaitu: “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita memperkenalkan-sorak dan mewujudkannya!” Rupanya sikap gembira umat tersebut dilandasi oleh pengharapan bahwa mereka selalu membutuhkan keselamatan dari Allah, sehingga umat menyatakan: “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!” (Mzm. 118:25). Dengan demikian seruan umat “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan!” menggemakan gagasan hosanna yang diucapkan oleh penduduk Yerusalem saat Yesus masuk melalui pintu gerbang kota Yerusalem. Di dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus mengajak dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada saat kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor elang muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Injil Markus mempersaksikan kuasa Yesus yang mampu meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan, bahkan juga reaksi orang yang akan menanyakan alasan para murid untuk melepaskan hal tersebut. Dengan demikian kemampuan Yesus memprediksi masa depan tersebut berkaitan pula dengan prediksi-Nya tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Di Markus 8:31, Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit setelah tiga hari” (bdk. Markus 9:31; 10:33-34; 14:62). Dengan demikian keputusan Yesus pergi ke Yerusalem didasari pada kesadaran ilahi-Nya bahwa Dia melaksanakan kehendak dan keselamatan rencana Allah. Kesadaran ilahi Yesus Merujuk pada kekuasaan Allah yang maha tahu ( maha tahu ) apa yang akan terjadi, sehingga peristiwa kematian yang dialami Yesus merupakan wujud dari rencana keselamatan Allah. Allah telah mempersiapkan karya keselamatan dalam penebusan Kristus, sehingga penderitaan dan kematian Yesus merupakan karya pendamaian yang akan memulihkan dan mengampuni umat yang percaya kepada-Nya. Umat Israel di Yerusalem dikisahkan menyambut Yesus dengan meriah dan sikap hormat. Kesaksian Markus 11:8 yaitu: “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ocehan-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang” menunjukkan pemahaman umat Israel di Yerusalem yang begitu hormat dengan menganggap Yesus seperti seorang pahlawan yang menang perang. Penduduk Yerusalem bersedia baju yang mereka pakai diinjak oleh habitat yang ditunggangi Yesus. Di kitab Makabe 13:51 mempersaksikan bagaimana sikap penduduk Yerusalem menyambut Simon saudara Yudas Makabe setelah ia berhasil mengalahkan musuh yang menguasai puri Yerusalem. Yerusalem Penduduk menyambut Simon sebagai seorang pahlawan, yaitu: “Pada tanggal dua puluh tiga bulan kedua tahun Seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan daun palem, diiringi dengan kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah dan gita. Sebab musuh besar Israel sudah digempur.” Namun sikap masyarakat Yerusalem memandang diri Yesus melebihi seorang pahlawan yang menang perang, karena mereka menyebut diri Yesus sebagai Mesias Allah, yaitu Sang Mesias yang menghadirkan Kerajaan Allah di atas bumi. Di Markus 11:9-10 mempersaksikan sikap umat Israel di Yerusalem, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, mendoronglah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” Makna kata hosanna adalah: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah selamatkan kami.” Penduduk Israel memohon agar Yesus Sang Mesias Allah berkenan menyelamatkan mereka sekarang dari penjajahan bangsa Romawi. Ketika mereka telah terbebas dari penjajahan politik, maka mereka berharap agar Kerajaan Allah yang jaya seperti Kerajaan Daud menguasai seluruh kehidupan umat. Dengan demikian, penduduk Yerusalem memiliki harapan dan keyakinan yang begitu besar bahwa Yesus Sang Mesias memiliki kemampuan untuk mengalahkan penguasa penjajahan bangsa Romawi, dan membangun kerajaan Mesias. Harapan yang begitu besar dapat membutakan mata hati seseorang. Demikian pula yang terjadi pada penduduk Yerusalem dalam memahami makna ke-Mesias-an Yesus. Karena harapan penduduk Yerusalem masih didasari oleh pemahaman Mesias politis. Pengharapan politik penduduk Yerusalem semakin bertambah besar setelah mereka menyaksikan bagaimana Yesus berkuasa membuat berbagai macam mukjizat dengan kekuatan ilahi. Pengharapan politis tersebut ternyata membutakan iman mereka untuk melihat makna dan tujuan yang sesungguhnya dari perbuatan-perbuatan mukjizat yang dilakukan Yesus yaitu untuk menyatakan kedudukan dan kuasa-Nya sebagai Anak Allah yang bertekad Allah menjadi penyelamat. Yerusalem Penduduk belum sepenuhnya memahami makna ke-Mesias-an Yesus bertujuan untuk membebaskan mereka dari penjajahan dan kuasa dosa. Oleh karena itu penduduk Yerusalem menjadi sangat kecewa saat Yesus tidak memberikan perlawanan saat ditangkap. Saat dianiaya Yesus tidak menampilkan kuasa-Nya yang menakjubkan di hadapan Pontius Pilatus. Sikap yang menyanjung-nyanjung Yesus segera berubah menjadi kemarahan dan kebencian. Dari teriakan pujian “Hosana” berubah menjadi teriakan “salibkanlah Dia.” Sebagai penyelamat, Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (bdk. Markus 2:10). Kuasa dan praktik penjajahan hanyalah salah satu perwujudan dari kuasa dosa. Karena itulah Yesus datang ke dunia untuk menghancurkan kuasa dosa yang membelenggu umat manusia (Markus 10:45). Sebagai bagian umat Israel, Yesus memahami kota Yerusalem sebagai kota Allah karena di sanalah Bait Allah berada. Tindakan Yesus masuk ke kota Yerusalem merupakan pernyataan Yesus untuk mendedikasikan hidup-Nya kepada kebenaran. Lebih dari itu Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka melaksanakan kehendak dan rencana Allah untuk menyatakan karya keselamatan Allah. Umat Israel berziarah ke kota Yerusalem dalam rangka mengucap syukur atas keselamatan yang dikaruniakan Allah. Sebaliknya Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka mewujudkan karya keselamatan Allah, yaitu perdamaian melalui penderitaan dan kematian-Nya. Penduduk kota Yerusalem menyambut kedatangan Yesus dengan perayaan yang meriah dan penuh hormat. Seruan mereka, hosanna yang artinya: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah selamatkan kami” menunjuk pada harapan penduduk Yerusalem untuk mendapatkan keselamatan yang bebas dari penjajahan Romawi. Karena itu mereka kecewa dan marah karena harapan mereka tidak terwujud, sebab Yesus datang untuk membebaskan mereka dari kuasa dosa. Karena itu mereka yang semula berteria menyambut Yesus dengan “Hosana” berubah menjadi “Salibkanlah Dia!” Dalam konteks ini umat pada masa kini perlu menjadi sadar mempengaruhi pemikiran dan harapan yang ideologis, sehingga mereka mampu memahami karya keselamatan yang lebih utuh dan menyeluruh.
Sudut Pandang Parodoksal Minggu Palmarum dan Mingggu Sengsara
SUDUT PANDANG MINGGU PALMARUM
SUDUT PANDANG Minggu Palmarum Minggu Sengsara ala Injil Lukas
Sabtu, 14 Februari 2026
Sudut Pandang 𝙎𝙤𝙡𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙧𝙖
Jumat, 13 Februari 2026
Sudut Pandang menyembah dalam Roh dan kebenaran
Kamis, 12 Februari 2026
Sudut Pandang Rabu Abu
Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶
"Mengapa Agama Abad ke-7 Mencoba Mengajari Sejarah Abad ke-1 Tentang Yesus?" Loya Latoya Seorang teman Muslim mengirimkan gambar i...
-
SUDUT PANDANG TENTANG ESENI Di zaman Yesus, ada beberapa golongan atau kelompok politik dan keagamaan Yahudi yang signifikan, an...
-
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Petaha PENGANTAR Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh juru...