Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka
PENGANTAR
Untuk lebih memahami Minggu Palma dan Minggu sengsara tentang ketidak teguhkan manusia, suka tidak konsisten dan berbalik arah, coba kita lihat beberapa peristiwa politik negeri ini, dahulu kala untuk bisa lebih paham, Rizal Ramli (RR) diangkat menjadi Menko Kemaritiman oleh Jokowi pada 12 Agustus 2015. RR langsung menggebrak setelah dilantik yang menimbulkan kegaduhan. Ia juga memuja-muji Jokowi. Ia mengatakan bahwa bosnya adalah Jokowi dan ia hanya tunduk kepada Jokowi. Pada 27 Juli 2016 RR dicopot dari kursi menteri. Komentarnya berbalik arah. Apa pun yang dilakukan oleh pemerintah selalu dicelanya sejak hari pemecatannya sampai sekarang. Sudirman Said (SS) dilantik menjadi Menteri ESDM oleh Jokowi pada 27 Oktober 2014. Setelah pelantikan SS mengatakan bahwa ia akan mengembalikan kepercayaan publik pada Kementerian ESDM dengan mengelola kementerian secara profesional dan transparan. Ia memuji Jokowi sebagai pemimpin yang mengedepankan kemaslahatan dan keadilan bagi masyarakat. Dalam masa jabatannya ia membongkar kasus “Papa minta saham”. Pada 27 Juli 2016 SS dicopot dari kursi menteri. Ia langsung berbalik arah. Celaan SS kepada pemerintah secara terang-terangan disampaikannya ketika ia bertarung dalam Pilgub Jawa Tengah 2018. Celaan SS berlanjut pada musim Pilpres 2019, yang ia diangkat menjadi anggota tim penasihat Capres Prabowo Subianto.
Dari gambaran di atas orang begitu mudah berbalik mencela dan melawan pihak yang tidak sesuai dengan keinginan dan seleranya, meski sebelumnya ia memuja-muji.
PEMAHAMAN
Minggu ini 29 Maret 2026, menampung dua peristiwa yang berkesinambungan: Minggu Palma (Liturgy of the Palms) dan Minggu Sengsara (Liturgy of the Passion). Untuk itu bacaan Injil secara ekumenis cukup panjang yang diambil dari Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 sehingga total 139 ayat.
Bacaan diawali kisah penyambutan luar biasa kepada Yesus oleh orang-orang di Yerusalem. Saat itu banyak orang berdatangan ke Yerusalem untuk merayakan Paska Yahudi, suatu peringatan kebebasan nenek moyang mereka atas cengkeraman Mesir. Menurut sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, bisa ada sampai tiga juta orang terhimpun di Yerusalem pada perayaan Paska (Jewish War, 6.420-427; 2.280). Sejumlah pakar meragukan angka yang diajukan oleh Yosefus. Dugaan mereka sekitar 300 ribu sampai 400 ribu orang. Dengan ratusan ribu orang Yahudi berhimpun di Yerusalem sudah membuat pasukan Romawi kelabakan dalam mengatur ketertiban. Mengapa tentara Romawi perlu berjaga? Yosefus melaporkan sedikitnya sudah pernah terjadi dua kerusuhan massal yang besar pada masa perayaan Paska Yahudi: pada 4 SZB (Jewish War 2.10-13; Jewish Antiquities 17.204) dan pada masa Ventidius Cumanus memerintah wilayah Palestina (48-52 ZB) (Jewish War 2.224; Jewish Antiquities 20.106-112).
Yesus datang ke Yerusalem dengan naik keledai betina. Disebut dalam teks ‘orang yang sangat besar jumlahnya’ menyambut kedatangan-Nya dengan menghamparkan pakaian mereka di jalan yang dilalui Yesus. Ada juga yang memotong ranting-ranting dari pohon dan menyebarkan di jalan. Perayaan ini jelas selalu membangkitkan nasionalisme dan patriotisme mereka, suatu perayaan yang berbahaya bagi keamanan, ketertiban, dan stabilitas masyarakat yang harus dijaga dan dipertahankan oleh Roma. Pada masa kini umat membawa setangkai daun palem sebagai simbol penyambutan dalam Minggu Palma ini. Sastra pembalikan di Alkitab mulai dimainkannpenulis injil. Bacaan selanjutnya terjadi pembalikan. Yudas mengkhianati Yesus. Petrus yang dikenal sebagai murid garis keras justru menyangkal Yesus di hadapan para perempuan. Yesus ditangkap dan diadili oleh Walinegeri Pontius Pilatus. Pilatus tak menemukan kesalahan, tetapi ia tak mau membangkitkan kegaduhan. Diajukanlah Barabas. Pilatus mengajukan siapa yang dipilih untuk dibebaskan dalam hari raya Paska: Yesus atau Barabas. Khalayak berteriak: Barabas! Yesus dihukum mati di tiang salib.
Di atas tiang salib di Golgota Yesus dihujat dan diolok-olok oleh orang-orang yang lewat. Yesus dihukum mati dengan tuduhan subversif. Untuk itulah di kepala salib ditulis: Yesus dari Nasaret raja orang Yahudi (INRI - Iēsus Nazarēnus, Rēx Iūdaeōrum). Dalam teks tidak ada murid Yesus. Mereka kocar-kacir ketakutan. Mereka tercatat di dalam teks saat Yesus disalib adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Para murid laki-laki yang sangat berharap Yesus menjadi Raja Yahudi seperti yang mereka saksikan dalam euforia sambutan ribuan orang ternyata tak berdaya dan dihukum mati. Mereka bersembunyi dan takut ditangkap dengan tuduhan subversif seperti yang didakwakan kepada Yesus. Surat rasuli yang mengawali bacaan Injil Matius Minggu ini diambil dari Filipi 2:5-11. Dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa gereja hendaknya dalam hidup bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga di dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (ay. 5-7). Di sini rupanya gereja tidak boleh mengedepankan ego, tidak menyadari bahwa gereja adalah hamba Kerajaan Allah. Gereja merasa diri superior yang tidak mau tunduk dengan kehidupan yg pro Allah, norma kemanusiaan, aturan dan etika masyarakat, serta kepentingan hidup kemanusiaan, seperti sorak sorai para pemimpin gereja yang memberkati Donald Thrump yang menyatakan perang dan ngebom Iran, yang seharusnya gereja menempatkan keselamatan manusia di atas segalanya, malah berbalik melakukan sebaliknya. Gereja yang hakikatnya menjalankan misi Kerajaan Allah malah menjadi gereja penyebar kematian bagi manusia. Gereja harus kontra kematian dan pro kehidupan, gereja harusnya menentang segala tindakan merusak alam menyebabkan alam menjadi pembunuh masal manusia, gereja harusnya mendukung segala tindakan melindungi alam yang membuat alam melindungi manusia. Allah setia pada janji-Nya dan memberikan sesuai dengan waktu-Nya. Kesetiaan Allah kepada kita seharusnya mendorong kita juga setia kepada-Nya. Dalam memenuhi janji-Nya, alam semesta turut terlibat. Kegelapan yang menutupi bumi dan juga gempa adalah contohnya. Catatan ini menunjukkan bahwa karya keselamatan
tidak hanya ditujukan bagi manusia tetapi juga bagi alam semesta. Keterlibatan kita sebagai wujud iman kepada Yesus membuat alam tak lagi berduka.
(24032026)(TUS)