Minggu, 26 Juli 2026

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21 hal kecil yang berdampak

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21 hal kecil yang berdampak

PENGANTAR
Yesaya 55:1–5
Teks ini bagian dari Deutero‑Yesaya (Yes. 40–55), berbentuk undangan puitis dengan repetisi imperatif: “marilah”, “belilah”, “dengarkanlah”. Metafora air, susu, anggur menandakan kelimpahan anugerah (Westermann, Isaiah 40–66). Kata “tanpa uang” menegaskan kasih karunia, bukan transaksi religius. Ditujukan kepada Israel pasca‑pembuangan di Babel. Secara sosial, bangsa itu kecil dan rapuh. Namun dalam ayat 3–5, Allah memperbaharui “perjanjian kekal” dengan merujuk pada janji Daud (bdk. 2Sam 7). Bangsa yang kecil dipanggil menjadi saksi bagi bangsa‑bangsa. Potensi kecil (umat pasca‑pembuangan) menjadi berdampak besar karena firman dan perjanjian Allah. Gereja masa kini dipanggil mengandalkan anugerah, bukan sumber daya materi. Kasih karunia Allah menghidupkan kembali komunitas kecil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Roma 9:1–5
Bagian awal diskursus teologis Paulus tentang Israel (Rom 9–11). Paulus memakai gaya retoris emosional (“aku sangat berdukacita”) untuk menunjukkan solidaritas etnis dan teologis (Dunn, Romans 9–16). Dalam ayat 4–5, disebutkan hak istimewa Israel: pengangkatan anak, kemuliaan, perjanjian, hukum Taurat, ibadah, janji, para bapa leluhur, dan Mesias. Secara historis, Israel kecil secara politis, namun dipakai Allah sebagai saluran keselamatan dunia. Allah bekerja melalui sejarah dan identitas komunitas yang tampak kecil untuk menghadirkan Kristus bagi bangsa-bangsa. Kesetiaan Allah melampaui kegagalan manusia. Dari umat kecil lahir karya keselamatan universal di dalam Kristus.

Matius 14:13–21
Narasi mukjizat dengan struktur: kebutuhan – respons iman – tindakan Yesus – kelimpahan. Kata kunci: “lima roti dan dua ikan” (ayat 17). Dalam tradisi Yahudi, makan bersama bernuansa eskatologis (Keener, Gospel of Matthew). Jumlah lima roti dan dua ikan adalah sangat kecil bagi 5.000 orang. Namun dalam tangan Yesus, potensi kecil menjadi kelimpahan (12 bakul sisa melambangkan kepenuhan Israel). Ketika sumber daya terbatas, iman dan ketaatan membuka jalan bagi karya Allah yang melampaui logika manusia. Yesus menggerakkan potensi kecil menjadi berkat besar melalui tindakan syukur dan pembagian.
PEMAHAMAN 
Yesaya 55:1–5: Janji anugerah bagi bangsa kecil. Roma 9:1–5: Sejarah umat kecil sebagai saluran Mesias.  Matius 14:13–21: Potensi kecil diberkati menjadi kelimpahan nyata.  
Allah memakai yang kecil, terbatas, dan rapuh untuk menghadirkan dampak besar bagi bangsa-bangsa. Secara teologis, tema ini berakar pada kasih karunia, kesetiaan perjanjian, dan kuasa Kristus. Di tengah krisis ekonomi, sosial, dan spiritual, komunitas kecil tidak perlu merasa tidak berarti. Dalam tangan Tuhan, kesetiaan kecil, pelayanan sederhana, dan iman yang tulus dapat berdampak luas bagi bangsa. Untuk refleksi kita pada Yesaya 55:1–5, Apakah kita masih mencari kepuasan di luar anugerah Allah?  Bagaimana komunitas kecil dapat menjadi saksi bagi bangsa? Pada Roma 9:1–5, Apakah kita menghargai sejarah iman sebagai potensi rohani? Bagaimana kesetiaan Allah memberi harapan bagi kegagalan bangsa? Pada Matius 14:13–21, Apa “lima roti dan dua ikan” dalam hidup kita saat ini?  Apakah kita mau menyerahkan potensi kecil itu kepada Kristus? Bagaimana gereja masa kini dapat percaya bahwa dalam tangan Tuhan, potensi kecil sanggup membawa dampak besar bagi bangsa?

Sabtu, 25 Juli 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 14:13-21 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 14:13-21 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ada di keempat Injil. Namun, tidak banyak orang yang cermat, termasuk pengkhotbah, bahwa kisah ini sebenarnya berbeda. Contoh, Injil Yohanes menyebut lima roti dan dua ikan dari seorang anak, sedang ketiga Injil sinoptis menyebut lima roti dan dua ikan itu milik para murid. Itu baru dari isi cerita. Konteks dan pesan kisah itu berbeda karena para penulisnya berbeda dan mengusung teologi yang berbeda pula.

Hari ini adalah Minggu kesepuluh sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 14:13-21 yang didahului dengan Yesaya 55:1-5, Mazmur 145:8-9, 14-21, dan Roma 9:1-5.

LAI memberi judul perikop bacaan Injil Matius 14:13-21 ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Pengarang Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru. Dapat diduga kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dilatari oleh pengalaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa di padang gurun sesudah keluar dari Mesir menuju Kanaan dalam kitab Keluaran 16. Kedua cerita itu hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel dikenyangkan oleh “roti yang diturunkan Allah dari langit”. Kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang laki-laki juga dilatari oleh penggandaan roti jelai oleh Nabi Elisa (lih. 2Raj. 4:1-7, 42-44). Namun, bukan berarti pengarang kitab Injil mencontek kisah di Perjanjian Lama (PL), tetapi pengarang Injil hendak menafsir kisah ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ bahwa Yesus lebih besar daripada Musa.

Bacaan Injil Matius 14:13-21 dapat kita ulas dalam tiga bagian:

๐Ÿ›‘ Matius 14:13-14 Belas kasihan Yesus
๐Ÿ›‘ Matius 14:15-18 Kamu harus memberi mereka makan
๐Ÿ›‘ Matius 14:19-21 Mukjizat lima roti dan dua ikan

๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ž๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 14:13-14)

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ seorang diri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Mendengar hal itu orang banyak yang mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat. 14:13-14, TB II 2023)

Berita apa yang didengar oleh Yesus? Berita pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes. Yesus menyingkir. Hal ini sama dengan Matius 4:12 ketika Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara, Yesus menyingkir. Pada teks bacaan disebut Yesus pergi seorang diri ke tempat terpencil. Dapat diduga berita pembunuhan Yohanes Pembaptis tersebut berbobot historis. 

Versi Injil Markus Yesus tidak menyingkir, melainkan Ia mengajak murid-murid-Nya beristirahat di tempat sunyi sesudah mereka kelelahan menjalan misi dari Yesus (Mrk. 6:30-31). Versi Injil Lukas Yesus mengajak murid-murid-Nya menyendiri di Kota Betsaida, bukan tempat sunyi (Luk. 9:10). Versi Injil Yohanes Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Kepergian Yesus tidak ada hubungannya dengan kematian Yohanes Pembaptis karena pasal yang mendahuluinya tidak bercerita tentang Yohanes Pembaptis (Lih. Yohanes 5 – 6:1).

Sesudah Matius menceritakan Yesus pergi ke tempat terpencil, kemudian ayat-ayat selanjutnya muncul dialog Yesus dengan murid-murid-Nya, tetapi tidak dijelaskan alat transportasi yang digunakan oleh mereka. Apakah mereka menyusul dengan perahu atau lewat jalan darat? Tidak jelas. Yang pasti adalah orang banyak menyusul Yesus berjalan kaki atau lewat jalan darat.

Frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ̄. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata ๐˜ข๐˜ณ๐˜ณ๐˜ฐ̄๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด, yang berarti literal tak berdaya. Coba bandingkan dengan pendeta anda. Saat anda atau anggota keluarga anda atau kerabat anda sakit, anda meminta pendeta anda yang sedang sibuk merayakan hari ulang tahunnya untuk datang mendoakan si sakit. Apakah ia mau langsung bergerak sesuai permintaan anda?

Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal seperti dalam Injil Markus 6:34 dan tidak berbicara tentang Kerajaan seperti disebut dalam Injil Lukas 9:11. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual.

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป (Mat. 14:15-18)

Menjelang malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.” Yesus berkata kepada mereka, “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช, ๐™ ๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!” Jawab mereka, “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Yesus berkata, “๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ.” (Mat. 14:15-18, TB II 2023)

Keterangan waktu menjelang malam hendak menyatakan bahwa betapa sempit waktu bagi khalayak untuk mencari makan. Bahkan ucapan murid pada frase ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ yang diterjemahkan dari ๐˜ฉ๐˜ฐ̄๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฆ̄๐˜ฅ๐˜ฆ̄ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ̄๐˜ญ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ berarti literal waktu sudah habis. Matius tampaknya hendak menciptakan ketegangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka memojokkan Yesus dengan alasan waktu sudah habis sehingga mereka mengharapkan Yesus segera memberi perintah kepada khalayak untuk mencari makanan.

Rupanya tanggapan Yesus di luar dugaan para murid. Orang banyak tidak perlu pergi, bahkan Yesus memberi perintah kepada para murid, “๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!” Mendengar perintah itu para murid berusaha ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ̀๐˜ด, “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Perintah Yesus itu berlaku sepanjang masa. Gereja tidak boleh menutup mata kepada orang kelaparan, orang tak berdaya. Gereja harus memberi mereka makan tanpa syarat. Tidak ada alasan bagi Gereja tidak memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan. 

Mendengar jawaban para murid yang ngelรจs itu Yesus berkata, “๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ.” Gereja melayani dari yang ada, bukan mengada-ada. Apalagi mengada-adakan alasan untuk tidak melayani.

๐— ๐˜‚๐—ธ๐—ท๐—ถ๐˜‡๐—ฎ๐˜ ๐—น๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ฟ๐—ผ๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป (Mat. 14:19-20)

Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat. 14:19-21, TB II 2023)

๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต diterjemahkan dari ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ข๐˜ด ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ; ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ dapat berarti surga. Kosmologi pada zaman itu surga terletak di atas bumi datar yang berbentuk seperti tampah. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ diterjemahkan dari ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ฆ̄๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ, yang berarti literal memberkati (roti). Teks ini janggal, karena kebiasaan orang Yahudi adalah memberkati (atau mengucap doa berkat kepada) Allah, bukan barang (roti). Kitab Injil adalah produk Gereja, bukan kitab Injil membuat Gereja. Gereja sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan teks kitab Injil ini sangat bolehjadi sudah berwarna kristiani, karena Gereja atau umat Kristen meyakini roti ekaristi adalah roti kudus.

๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ tentu maksudnya membelah-belah roti. Dalam keluarga Yahudi prosesi pemecahan roti dilakukan oleh kepala keluarga sebagai isyarat memula makan. Tidak ada penjelasan Yesus juga membelah-belah ikan karena lazimnya makan bersama diawali dengan pemecahan roti. Sesudah pemecahan roti Yesus memberikan roti-roti itu kepada murid-murid-Nya, kemudian mereka memberikannya kepada orang banyak. Di sini murid-murid akhirnya memberi makan orang banyak seperti perintah Yesus dan sekaligus menjadi perantara. Demikianlah sepatutnya Gereja yang sudah diberi berkat oleh Allah, maka memberikan berkat kepada orang banyak di luar Gereja.

Khalayak makan sampai kenyang. Frase ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ diterjemahkan dari kata ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ̄๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus, “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Kata ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ di sini diterjemahkan dari kata ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ̄๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช, yang berakar kata yang sama dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Tampaknya Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga menyenyangkan secara ragawi. Haruslah ada kesetimbangan. Jangan sampai umat ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ.

Khalayak bukan saja makan sampai kenyang, roti pun masih berlebih sampai dua belas bakul penuh. Sepatutnya seperti itulah selalu ada makanan di Gereja. Namun, jika para pejabat gerejawi tidak peduli, tidak pernah mau mendengar, mereka justru membiarkan umat mencari makan di tempat yang tidak tepat.

Jumlah lima ribu orang yang makan, belum termasuk perempuan dan anak-anak, juga tertulis di Markus 6:44. Dapat dimengerti pada waktu itu di masyarakat Yahudi hanya laki-laki dewasa yang dihitung atau dipentingkan. Orang Yahudi menyukai keluarga besar. Dapat dibayangkan jumlah total orang yang makan. Bukan tak mungkin jumlah totalnya mencapai 30 ribu orang. Dari lima roti dan dua ikan, yang sejumlah itu hanya dapat dimakan oleh dua orang dewasa, dapat memberi makan ribuan orang. Perbuatan kecil berdampak luar biasa. Demikian halnya Gereja tak perlu ragu-ragu untuk berbuat kebajikan, meskipun hanya perbuatan kecil.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ̄. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. Pejabat gerejawi yang malas belajar, tidak mau mendengar, tidak akan pernah mengenyangkan umat bahkan antikritik. Jangan salahkan umat, apabila mereka mencari makan di tempat lain.
(06082023)(TUS)

Kamis, 23 Juli 2026

Sudut Pandang Maria Magdalena seorang pelacur

Sudut Pandang Maria Magdalena seorang pelacur

PENGANTAR 
Maria Magdalena bukan pelacur, itu pendapat saya. Seringkali khotbah modern menyebut Maria sebagai pelacur yang bertobat, itu keliru dalam sudut pandang saya. Menurut Alkitab; tidak ada satu ayat pun yang menyebutnya demikian. Kesalahpahaman ini muncul karena penggabungan tradisi atas tiga sosok perempuan berbeda: (1) “perempuan berdosa” tanpa nama di Lukas 7, (2) Maria dari Betania yang mengurapi Yesus di Yohanes 12, dan (3) Maria Magdalena yang disebut setelah kisah pengurapan di Lukas 8:2. Gereja Latin (terutama lewat homili Paus Gregorius Agung, 591 M) menyamakan ketiganya, sehingga citra “pelacur yang bertobat” melekat pada Magdalena selama berabad-abad. Juga, tidak bisa disangkal dalam tradisi kuno Yudaisme, kehidupan bermasyarakat zaman itu sebutan Maria, juga sering disematkan pada profesi pelacur pada zamannya. Nama Maria pada zamannya adalah nama lumrah, selain Maria ibu Yesus, memang Alkitab menyebutkan nama Maria yang lain.
PEMAHAMAN 
Siapa Maria Magdalena dalam Perjanjian Baru?
Dalam Injil-injil kanonik, Maria Magdalena diperkenalkan secara eksplisit hanya sebagai murid perempuan yang telah dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat dan yang mendukung pelayanan Yesus bersama perempuan-perempuan lain.

Lukas 8:1–3:  
“...dan juga beberapa perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat … Mereka ini melayani Yesus dengan kekayaan mereka.”  Tidak ada kata “pelacur”, “zina”, atau “perempuan berdosa” di sini. 

Markus 15:40; 16:1; Matius 27:56; 28:1; Lukas 24:10; Yohanes 19:25; 20:1–18:  
  Maria Magdalena muncul konsisten sebagai saksi penyaliban, penguburan, dan terutama saksi pertama kebangkitan. Dalam Yohanes 20, ia bahkan mendapat perutusan khusus (“Pergilah kepada saudara-saudara-Ku…”) sehingga tradisi Timur menyebutnya “rasul bagi para rasul”. Sekali lagi, tidak ada indikasi profesi seksual. Mengapa banyak tradisi menganggapnya pelacur?
Ada tiga sumber utama kebingungan:

a) Penggabungan dengan “perempuan berdosa” di Lukas 7
- Lukas 7:36–50 menceritakan seorang “perempuan yang terkenal sebagai berdosa” (tanpa nama) yang meminyaki kaki Yesus di rumah Simon orang Farisi.  
- Bab berikutnya (Lukas 8:2) langsung menyebut Maria Magdalena yang “telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”.  
- Karena urutan naratif ini, banyak pembaca (dan kemudian homili), mengasosiasikan “tujuh roh jahat” dengan “tujuh dosa besar” atau dosa seksual, lalu menyimpulkan: “Maria Magdalena = perempuan berdosa di Lukas 7”. Padahal secara tekstual, Lukas tidak menyamakan keduanya. 

b) Penggabungan dengan Maria dari Betania (saudara Marta & Lazarus)
- Yohanes 12:1–8: Maria (saudara Marta dan Lazarus) mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu.  
- Markus 14:3–9 / Matius 26:6–13: Seorang perempuan mengurapi kepala Yesus di Betania (tanpa nama).  

- Karena tema “pengurapan” mirip, tradisi lama (khususnya Gereja Latin) menggabungkan:  

  1) perempuan berdosa (Lukas 7),  
  2) Maria Magdalena ( Lukas 8:2), dan  
  3) Maria dari Betania (Yohanes 12).  
  Hasilnya: satu sosok “Maria Magdalena = pengurap = pelacur bertobat”. 

c) Pengaruh homili Paus Gregorius Agung (591 M)
Dalam sebuah homili terkenal, Gregorius Agung secara tegas menyatukan ketiga perempuan ini dan menegaskan bahwa “tujuh roh jahat” berarti segala jenis dosa, termasuk dosa seksual. Homili ini sangat berpengaruh di Barat selama lebih dari 1.000 tahun, sehingga citra Magdalena sebagai “pelacur yang bertobat” menjadi populer dalam seni, liturgi, dan devosi. 

Catatan pentingnya: “Tujuh roh jahat” ≠ “tujuh dosa besar” dalam bahasa Alkitab. Dalam Perjanjian Baru, “roh jahat” lebih sering merujuk pada penyakit/penindasan roh, bukan katalog dosa moral. [

Bukti alkitabiah bahwa Maria Magdalena bukan pelacur
Berikut dalil tekstual langsung:

1. Tidak ada satu ayat pun di keempat Injil yang menyebut Maria Magdalena sebagai “pelacur”, “peziarah”, “wanita cabul”, atau “perempuan berdosa”.  
   - Jika Lukas ingin mengidentifikasikannya dengan perempuan di Lukas 7, ia bisa menulis “Maria yang disebut Magdalena, yang tadinya dikenal sebagai berdosa…”, tetapi ia tidak melakukan itu. 

2. Lukas 8:2 memberi predikat: “telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”, bukan “telah diampuni dosa-dosanya” (padahal Lukas menggunakan frasa pengampunan dosa di Lukas 7:47–48 untuk perempuan berdosa). Perbedaan terminologi ini menunjukkan dua kasus berbeda. 

3. Konsistensi peran: Dari Lukas 8 sampai Yohanes 20, Maria Magdalena konsisten sebagai murid yang setia, pendukung finansial, dan saksi. Tidak ada narasi “pertobatan dari pelacuran” yang melekat padanya. [1][3]

4. Konteks geografis: Maria berasal dari Magdala (kota di tepi Danau Galilea), bukan dari Betania dekat Yerusalem (lokasi kisah pengurapan di Yohanes 12). Ini juga melemahkan identifikasi otomatis antar-sosok. 

Karena kesamaan motif “pengurapan” dan urutan bab Lukas 7–8, tradisi Latin menyatukan ketiganya; tradisi Timur dan banyak sarjana modern memisahkan mereka. 
Mengapa “tujuh roh jahat” disalahtafsirkan?
- Dalam budaya populer, “tujuh” sering diasosiasikan dengan tujuh dosa pokok. Namun dalam teks Yahudi-Kristen abad I, “tujuh roh jahat” lebih dekat dengan gambaran, penindasan/penyakit roh yang parah (lih. Matius 12:45; Lukas 11:26).  
- Lukas sendiri membedakan bahasa untuk penyembuhan roh jahat (Luk 8:2) dan pengampunan dosa (Luk 7:47–48). Jika Magdalena adalah “perempuan berdosa” Lukas 7, penulis dapat memakai bahasa yang sama—namun ia tidak. Berikut beberapa rujukan referensi yang membahas isu ini secara kritis:

- Ann Graham Brock, Mary Magdalene, the First Apostle: The Struggle for Authority (2003) – menelusuri bagaimana tradisi menggeser otoritas Magdalena dan membangun citra “pendosa bertobat”. 
- Jane Schaberg, The Resurrection of Mary Magdalene (2002) – analisis historis-kritis tentang figur Magdalena dan bagaimana citra pelacur terbentuk. 
- Karen L. King, The Gospel of Mary of Magdala: Jesus and the First Woman Apostle (2003) – membahas Magdalena dalam tradisi non-kanonik, otoritas dalam Gereja awal. 
- Catholic Encyclopedia (edisi lama) dan dokumen Vatikan pasca-1969 mengakui bahwa identifikasi tiga Maria itu tidak lagi dipertahankan secara resmi dalam liturgi Romawi setelah reformasi kalender. 
- Banyak komentar Injil akademis (mis. New Testament Commentary seri-s seri kritis) menekankan pemisahan teks antara Lukas 7 dan 8, serta menolak identifikasi otomatis. 

Jadi, apa yang benar?
Maria Magdalena bukan pelacur menurut Alkitab. Citra “pelacur bertobat” adalah hasil konflasi tradisi (terutama Gereja Latin abad pertengahan) yang menggabungkan:  
  1) perempuan berdosa tanpa nama (Lukas 7),  
  2) Maria dari Betania (Yohanes 12), dan  
  3) Maria Magdalena (Lukas 8:2).  
- Secara alkitabiah, dugaan yang paling aman: Maria Magdalena adalah murid perempuan yang disembuhkan, pendukung pelayanan, dan saksi pertama kebangkitan, bukan pelacur. Ayat-ayat kunci untuk ditelusuri dan diteliti ulang :
- Lukas 8:1–3 (Maria Magdalena diperkenalkan)  
- Lukas 7:36–50 (perempuan berdosa tanpa nama)  
- Yohanes 12:1–8 (Maria dari Betania mengurapi Yesus)  
- Markus 14:3–9 / Matius 26:6–13 (pengurapan di Betania)  
- Yohanes 20:1–18 (Maria Magdalena, saksi pertama kebangkitan)  
- Markus 16:9 (disebut “tujuh roh jahat”, tanpa label pelacur) 

(24072026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:31-33, 44-52 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:31-33, 44-52 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ

PENGANTAR 
Minggu 26 Juli 2026, Dalam liturgi sesudah menyelesaikan pengedaran kantong kolekte disusul dengan doa yang biasanya dipimpin oleh penatua atau diaken, tetapi kadang oleh pendeta. Dalam doa itu terkadang kita mendengar pendoa mengucapkan yang lebih-kurang, “ … ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜”๐˜ถ.”

Dari frase doa itu dapat diduga bahwa cukup banyak pejabat gerejawi mencerap Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) sama dengan Gereja. Gereja tidak sama dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah juga tidak perlu diperluas karena Kerajaan Allah tak tertakrifkan dengan matra luas. Di Alkitab tidak ada perintah ekspansi Kerajaan Allah, melainkan memberitakan Kerajaan Allah.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesembilan sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 13:31-33, 44-52 yang didahului dengan 1Raja-Raja 3:5-12, Mazmur 119:129-136, dan Roma 8:26-39.

Minggu ini kembali bacaan menyajikan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Secara khusus pengarang Injil Matius mengumpulkan tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Allah dalam pasal 13.

✝️ Matius 13:3-9, 18-23: Perumpamaan tentang penabur dan penjelasannya (Minggu, 12 Juli 2026)
✝️ Matius 13:24-30, 36-43: Perumpamaan tentang lalang di antara gandum dan penjelasannya (Minggu, 19 Juli 2026)
✝️ Matius 13:31-32: Perumpamaan tentang biji sesawi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:33: Perumpamaan tentang ragi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:44: Perumpamaan tentang harta terpendam (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:45: Perumpamaan tentang mutiara yang berharga (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:47-50: Perumpamaan tentang jala besar (Minggu, 26 Juli 2026)

Bacaan Injil Minggu ini mencakup lima perumpamaan. Ayat 51-52 hendak menyajikan semacam kesimpulan.

Perumpamaan (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญe๐˜ฏ atau ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ) merupakan metafora, perbandingan. Ketujuh perumpamaan di atas hendak menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) dengan perbandingan. Perbandingannya dengan hal-hal yang ada di alam atau kegiatan sehari-hari. Untuk mengantarkan perumpamaan-perumpamaan itu Yesus seperti bernyanyi ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ: ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข … 

Meskipun demikian semua perumpamaan tersebut masih belum dapat mencakup takrif tentang Kerajaan Allah. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah merupakan sesuatu yang sukar diperikan dengan kata-kata karena ia jauh melampaui pikiran manusia.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ถ๐—ท๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐˜„๐—ถ

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 13:31-32)

LAI menerjemahkan ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆo๐˜ด menjadi sesawi. RSV, KJV, NIV, dan Alkitab berbahasa Inggris lainnya menerjemahkan ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆo๐˜ด menjadi ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ, yang diindonesiakan menjadi moster. Sesawi bukan sawi, tetapi sesawi masuk ke dalam kelompok sayuran seperti dalam frase ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ.

Mengontraskan yang kecil dengan yang besar merupakan ciri peribahasa Yahudi. Apabila Allah menegakkan kuasa-Nya, suasananya seperti biji sesawi yang diambil dan ditaburkan kemudian tumbuh menjadi pohon. Awal karya Yesus yang tampak amat sederhana, tidak menonjol, diumpamakan biji sesawi yang kecil itu. Secara hiperbolik biji sesawi dikontraskan dengan pohon sesawi yang menjadi tempat burung bersarang. Disebut hiperbolik karena tidaklah umum burung-burung bersarang di tanaman sesawi. Dalam Perjanjian Lama (PL) pohon besar merupakan simbol kerajaan penuh kuasa yang akan melindungi negara-negara taklukan (bdk. Yeh. 17:23; 31:6, Dan. 4:20-22). Tampaknya perumpamaan ini hendak mengatakan bahwa pemberitaan Kerajaan Surga jangan disepelekan karena pada saat Kerajaan itu datang secara penuh, orang-orang berdatangan minta perlindungan.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฟ๐—ฎ๐—ด๐—ถ

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ 40 ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 13:33)

Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran, untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang ditatastrukturkan menurut sistem kekudusan atau puritas Yudaisme. Ragi dalam kitab Keluaran 12:19 ditunjuk sebagai penyebab kenajisan yang membuat seorang Israel dicampakkan dari komunitas. Perhatikan ucapan Rasul Paulus dalam Galatia 5:9 yang memuat metafora ragi sebagai penyebab orang menyimpang dari kebenaran dan dalam 1Korintus 5:6-8 sebagai perbuatan dosa. Dalam Markus 8:15 Yesus memeringatkan murid-murid-Nya untuk berwaspada terhadap ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด.

Yesus memang radikal. Dengan berani Yesus memetaforakan Kerajaan Allah dengan ragi. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis para imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Kekudusan Allah di tengah-tengah penajisan oleh kekuasaan kafir (Roma) atas Tanah Yudea ditemukan di antara kalangan najis. Bandingkan dengan ucapan Yesus dalam Lukas 17:21b, “...๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.”

Tindakan Yesus yang membangun dan memasuki persekutuan dengan orang-orang najis dan marginal serta makan bersama-sama dengan mereka membentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter. Pemberitaan Kerajaan Allah merobohkan hierarki sosial-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas Yudaisme. Yesus tidak menghendaki rakyat dipecah-pecah dan diceraiberaikan berdasarkan sistem puritas.  

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ

“๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜–๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.

๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” (Mat. 13:44-45)

Dua perumpamaan itu saya gabungkan pengulasannya karena serupa dan berhubungan dengan cara penyampaian yang berbeda. Yang satu tentang seorang buruh peladang, sedang yang lain tentang seorang pedagang kaya. Pusat perhatian bukan pada harta terpendam dan mutiara, melainkan reaksi kedua orang itu. Meskipun reaksi kedua orang itu mirip, yakni menjual seluruh milik mereka untuk membeli ladang dan mutiara yang indah itu, tetapi kedua orang itu berangkat dengan tujuan yang berbeda. Buruh peladang bekerja tidak bertujuan mencari harta terpendam, sedang pedagang itu memang bertujuan mencari mutiara yang indah. Kedua perumpamaan itu bukan untuk menyatakan bahwa Kerajaan Surga itu sangat tinggi harganya.

Dari konteks keseluruhan pasal 13 kedua perumpamaan itu merujuk gagasan penghakiman. Pengarang Injil Matius hendak menampilkan model umat Kristen yang mau berkorban besar untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Jika kita melongok perumpamaan tentang ragi, itu berarti umat Kristen harus mau berkorban besar untuk peduli kepada masyarakat marginal. Di sini peduli bukan saja mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan, tetapi juga menghadirkan keadilan.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ

“๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. 

๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ: ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜จ๐˜ช.” (Mat. 13:47-50)

Sastra kuno memang kerap mengambil judul dari kata atau frase atau kalimat pertama, meskipun tidak memerikan isi karangan. Perumpamaan tentang jala di atas bukan tentang jala itu sendiri, melainkan hal yang terjadi sesudah para penjala menarik jala ke pantai. Perumpamaan ini mirip dengan perumpamaan lalang di ladang gandum (Minggu, 19 Juli 2026).

Di awal Injil ini Yohanes Pembaptis berkampanye bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah siap memegang kapak untuk memotong setiap pohon dan batang yang tidak berbuah. Yohanes juga mengatakan bahwa Mesias sudah memegang alat penampi untuk menyingkirkan sekam dari gandum dan membakar sekam dalam api yang tak terpadamkan. Yohanes berpikir bahwa Yesus akan langsung menghancurkan orang-orang Farisi dan Saduki (lih. Mat. 3:7-12).

Ternyata Yesus tidak seperti yang dipikirkan dan dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus tidak menciptakan komunitas orang-orang bersih dan suci. Yesus bahkan tidak bersetuju dengan gagasan menyingkirkan langsung ikan tidak baik dari jala. Mula-mula semua ikan berbagai jenis bercampur baur dalam satu jala besar, baru kemudian sesudah ditarik ke pantai ikan-ikan yang baik dikumpulkan, sedang ikan yang tidak baik dibuang. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ di sini dari kata ๐˜ด๐˜ข๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข yang berarti busuk atau rusak.

Menyingkirkan langsung orang jahat dari orang baik dipandang oleh Yesus sebagai tindakan yang salah. Yesus meminta kesabaran dengan hidup berdampingan sampai jala itu sampai di pantai, suatu kiasan tentang akhir zaman. Akhir zaman menurut Matius bukanlah hari kiamat, melainkan saat Kerajaan Allah datang secara penuh, yang orang-orang jahat disingkirkan dari orang-orang benar. Yang disebut dengan orang-orang benar adalah yang melakukan kehendak Allah (bdk. Mat. 6:33).

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ

“๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?” Jawab mereka, “๐˜ ๐˜ข.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 13:51-52)

๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข dan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข di sini adalah murid-murid Yesus. Yesus menutup tujuh perumpamaan dengan perumpamaan. Frase ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ seperti hendak mengantarkan kepada kesimpulan.

Perlu dicermati istilah ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต dalam frase ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. Frase asli dari teks sumber penerjemahan adalah ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉe๐˜ต๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ตe ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข ๐˜ตo๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏo๐˜ฏ, yang berarti ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. Dalam Injil Matius istilah ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต disebut sebanyak 23 kali, tetapi hanya di ayat 52 ini gelar atau sebutan itu dikenakan kepada pengikut Kristus, yang boleh menjadi pengajar agama.

Meskipun pengikut Kristus sudah setara dengan ahli Taurat, tetapi ia harus ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ disebutkan lebih dahulu daripada ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข. Inilah khas Injil Matius. Pengikut Kristus harus mendahulukan pengajaran dari Yesus (๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ) dan sekaligus tidak melupakan akarnya, yakni Kitab Suci Yahudi (๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข).

Dalam tiga hari Minggu berturut-turut (12, 19, dan 26 Juli) bacaan ekumenis mengambil perumpamaan-perumpamaan Yesus dari Matius 13 untuk menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga). Meskipun demikian masih sukar untuk membuat takrif yang memuaskan mengenai Kerajaan Allah. Yang dapat kita jumput adalah ciri-cirinya: damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan. 

Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan hamba misi Kerajaan Allah. Gereja harus menghadirkan ciri-ciri Kerajaan Allah, yakni damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan kepada masyarakat di sekitarnya (partikular) dan dunia (universal) tanpa memandang SARA.
 (30072023)(TUS)

Kamis, 16 Juli 2026

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

PENGANTAR
 Sastra Ibrani merupakan bidang kajian penting dalam studi biblika, karena bentuk sastra ini memengaruhi cara teks ditafsirkan dan dimaknai secara teologis maupun historis.  
PEMAHAMAN
Bahasa Ibrani Alkitab menggunakan istilah mishal (ืžืฉืœ) untuk peribahasa atau perumpamaan atau prosa, dan shir (ืฉื™ืจ) untuk nyanyian atau puisi. Struktur puisi Ibrani ditandai oleh paralelisme (pengulangan makna dalam baris-baris sejajar), bukan oleh rima atau metrum seperti dalam puisi modern.  Contoh: Mazmur dan Amsal banyak menggunakan bentuk ini. Dalam PB, istilah yang digunakan adalah parabolฤ“ (ฯ€ฮฑฯฮฑฮฒฮฟฮปฮฎ), yang berarti “perbandingan” atau “kisah perumpamaan”. Yesus sering menggunakan bentuk ini untuk mengajar kebenaran rohani melalui narasi sederhana (misalnya dalam Injil Matius 13). Prosa PL: Digunakan untuk narasi sejarah dan hukum (misalnya Kejadian, Keluaran). Struktur prosa menekankan kronologi dan tindakan Allah dalam sejarah umat-Nya, konsep-konsep tentang Allah dan polemik nya tertuang pada bentuk Prosa. Puisi PL: Menyampaikan emosi, doa, dan refleksi iman (contohnya Mazmur, Kidung Agung). Ciri khasnya adalah paralelisme sinonim, antitetik, dan sintetis. Biasanya puisi digunakan untuk menjembatani atau menjadi gambaran jawab atas konsep polemik yang ada di prosa. Perumpamaan PB:Berfungsi sebagai alat pedagogis dan teologis. Struktur umumnya terdiri dari:  

  1. Situasi sehari-hari,  
  2. Konflik atau kejutan,  
  3. Poin moral atau teologis.  

Tujuannya bukan sekadar ilustrasi, tetapi untuk menantang pendengar agar merenungkan kebenaran rohani. Dalam tafsir akademik, bentuk sastra menentukan metode hermeneutik:
Puisi Ibrani ditafsirkan dengan memperhatikan paralelisme dan simbolisme. Prosa naratif dianalisis dengan pendekatan historis-kritis dan naratif. Perumpamaan Yesus ditafsirkan dengan pendekatan kontekstual dan teologis, memperhatikan audiens dan maksud pengajaran. Prosa menekankan tindakan Allah dalam sejarah, polemik konsep Allah. Puisi mengekspresikan hubungan pribadi dan emosional dengan Allah, jembatan atau gambaran makna yg menjembatani prosa tentang konsep Allah. Perumpamaan mengungkapkan rahasia Kerajaan Allah melalui bahasa simbolik yang mudah diingat. Hal ini yg diungkap pada Beberapa sumber akademik yang relevan:
- Adele Berlin, The Dynamics of Biblical Parallelism (Eerdmans, 2008).  
- Robert Alter, The Art of Biblical Poetry (Basic Books, 2011).  
- Craig L. Blomberg, Interpreting the Parables (IVP Academic, 2012).  
- Richard A. Burridge, What Are the Gospels? (Eerdmans, 2004).  
- Artikel jurnal:  
  - Journal of Biblical Literature (JBL) – studi tentang struktur puisi Ibrani dan perumpamaan Yesus.  
  - Biblica – penelitian linguistik dan hermeneutik teks Ibrani dan Yunani. Puisi, Prosa dan perumpamaan Alkitab mengajarkan bahwa bahasa indah dapat menjadi sarana wahyu ilahi. Melalui kisah dan simbol, Allah berbicara kepada hati manusia, mengundang kita untuk merenungkan kasih, keadilan, dan kebenaran-Nya. Prosa, puisi, dan perumpamaan dalam Alkitab bukan sekadar bentuk sastra, tetapi sarana komunikasi ilahi yang kaya makna. Pemahaman terhadap bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani) membantu penafsir menggali kedalaman pesan rohani dan teologis yang terkandung di dalamnya.
(23072026)(TUS)

Sudut Pandang perbedaan konsep “pencobaan” dan “ujian” dalam Kitab Ayub dan Surat Yakobus, dilihat dari aspek bahasa, sastra, budaya, dan konteks teologis.

Sudut Pandang perbedaan konsep “pencobaan” dan “ujian” dalam Kitab Ayub dan Surat Yakobus, dilihat dari aspek bahasa, sastra, budaya, dan konteks teologis.  

PENGANTAR
Kitab Ayub 1:12 (TB)  
“Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.’ Maka pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”

Yakobus 1:13 (TB) Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.

Namun, untuk konteks “pencobaan” dalam Yakobus, ayat yang lebih relevan adalah Yakobus 1:2–3, 12–14, karena di sanalah istilah “pencobaan” (peirasmos-kata benda) dibahas secara eksplisit.

Yakobus 1:2–3 (TB)
 “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Dalam Yakobus 1:2-3, masih menggunakan kata Yunani peirasmos sebagai kata benda tetapi konteksnya lain. Dalam bahasa Ibrani kata pencobaan ada 2 yaitu nasah dan masah, nasah digunakan untuk pencobaan dalam artian ujian untuk memurnikan iman, seperti dalam kitab Ayub dan Yakobus 1:2-3, sedangkan masah adalah kata pencobaan dalam artian godaan sehingga manusia melakukan dosa ini yg dipakai dalam Yakobus 1:13, tetapi dalam bahasa Yunani hanya ada satu kata peiramos, shg dalam bahasa Yunani perbedaan dalam arti pencobaan di lihat dari konteks teks nya. Ibrani (Ayub): 
  Kata yang digunakan untuk “mencobai” atau “menguji” adalah ื ָืกָื” (nasah), yang berarti menguji, membuktikan, atau menguji kesetiaan. Dalam konteks Ayub, “ujian” datang dari izin Allah, tetapi pelaksanaannya oleh Iblis. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membuktikan kemurnian iman Ayub. Yunani (Yakobus):  Kata yang digunakan adalah ฯ€ฮตฮนฯฮฑฯƒฮผฯŒฯ‚ (peirasmos), yang memiliki dua makna:  

  (1) ujian untuk membentuk dan memurnikan iman,  
  (2) pencobaan yang menggoda manusia untuk berbuat dosa.  

 Konteks menentukan maknanya.
PEMAHAMAN 
 Dalam Kitab Ayub, nasah berarti ujian iman, sedangkan dalam Yakobus 1:13 berarti godaan dosa, dalam bahasa ibraninya masah, peiramos (kata benda) lebih ke bahasa Ibrani masah. Kitab Ayub ditulis dalam bentuk prosa dan puisi hikmat Ibrani, dengan latar budaya Timur Dekat kuno yang memahami penderitaan sebagai ujian kesetiaan kepada Allah. Dalam budaya itu, penderitaan sering dianggap sebagai sarana pembuktian moral dan spiritual.  Ayub diuji untuk menunjukkan integritasnya di hadapan Allah dan Iblis. Surat Yakobus ditulis dalam konteks komunitas Yahudi-Kristen abad pertama, di mana penderitaan dan tekanan sosial dianggap sebagai kesempatan untuk meneguhkan iman. Yakobus menekankan bahwa Allah tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; karena itu melawan natur Allah yg tidak menghendaki manusia berbuat dosa, pencobaan yang menjatuhkan berasal dari keinginan manusia sendiri (Yak. 1:14), iblis itu keinginan manusia sendiri, dosa natur manusia untuk memberontak pada Allah.
Dapat diperjelas hal tsb dalam referensi sbb :
1. John E. Hartley, *The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988) – membahas “nasah” sebagai ujian ilahi yang menyingkapkan kesetiaan manusia.  
2. Douglas J. Moo, The Letter of James (Pillar New Testament Commentary, Eerdmans, 2000) – menjelaskan “peirasmos” sebagai konsep ganda: ujian iman dan godaan dosa.  
3. David J.A. Clines, Job 1–20 (Word Biblical Commentary, 1989) – menyoroti struktur sastra dan teologi penderitaan dalam konteks budaya Timur Dekat.  
4. Ralph P. Martin, James (Word Biblical Commentary, 1988) – menekankan perbedaan semantik “peirasmos” dalam konteks etika Kristen awal.  Dalam konteks kehidupan modern, “ujian” dapat dipahami sebagai proses pembentukan karakter dan iman melalui kesulitan hidup, sedangkan “pencobaan” adalah dorongan moral atau spiritual yang menjauhkan manusia dari kehendak Allah.  Nilai moral yang dapat diambil: iman yang murni tumbuh melalui ujian, bukan melalui kejatuhan dalam pencobaan. Kata Ibrani: ื ָืกָื” (nasah). Akar dan Bentuk Morfologis:
- Akar kata: ื ־ืก־ื” (nun–samekh–he)  
- Bentuk dasar: nasah (verba, qal)  
- Kategori: verba triliteral (tiga konsonan akar)  
- Pola morfologis: Qal (bentuk dasar aktif), tetapi juga muncul dalam Niphal (pasif/refleksif) dan Piel (intensif) dalam beberapa konteks.  Makna dasar:  
- Menguji, mencoba, membuktikan, menguji kesetiaan atau kemurnian seseorang.  
- Dalam konteks teologis, nasah tidak berarti menggoda untuk berbuat dosa, melainkan menguji untuk membuktikan iman atau ketaatan. Contoh penggunaan:  
- Kejadian 22:1 (TB): “Setelah semuanya itu Allah mencobai (nasah) Abraham.”  
  Di sini, nasah berarti “menguji” iman Abraham, bukan menggoda untuk berbuat dosa.  
- Ulangan 8:2: “...untuk menguji engkau (nasoteka), untuk mengetahui apa yang ada di dalam hatimu.”  
Dalam morfologi Ibrani, nasah sering digunakan dalam konteks relasi perjanjian antara Allah dan manusia. Ujian ini bersifat pedagogis (mendidik)— untuk menyingkapkan kualitas iman, bukan menjatuhkan.  
Kata Yunani: ฯ€ฮตฮนฯฮฑฯƒฮผฯŒฯ‚ (peirasmos). Akar dan Bentuk Morfologis: 
- Akar kata: ฯ€ฮตฮนฯฮฌฯ‰ (peiraล) atau ฯ€ฮตฮนฯฮฌฮถฯ‰ (peirazล)  
- Bentuk dasar: peirasmos (nomina maskulin, deklinasi kedua)  
- Bentuk genitif: ฯ€ฮตฮนฯฮฑฯƒฮผฮฟแฟฆ (peirasmou) 
- Bentuk verba terkait: ฯ€ฮตฮนฯฮฌฮถฯ‰ (mencobai, menguji). Makna dasar: 
- Ujian, percobaan, cobaan, godaan. 
- Dalam konteks positif: ujian yang menguatkan iman.  
- Dalam konteks negatif: godaan yang menjerumuskan ke dalam dosa.  Contoh penggunaan:  
- Yakobus 1:2 (TB): “...apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (peirasmois).” → bermakna ujian iman.  Contoh kata yang sama peiramos tetapi bermakna masah, pencobaan yg merupakan godaan yg mendatangkan dosa
- Yakobus 1:13 (TB): “Apabila seorang dicobai (peirazetai), janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’”  bermakna godaan dosa, masah dalam bahasa ibrani.  

Dalam morfologi Yunani, peirasmos berasal dari akar yang berarti “mencoba” atau “menguji dengan maksud mengetahui kualitas sesuatu.” Namun, dalam konteks etis, maknanya bergeser menjadi “godaan” — tergantung pada subjek dan tujuan tindakan.  
Nasah menekankan proses pembuktian iman melalui ujian yang diizinkan Allah.  
- Peirasmos memiliki dua dimensi semantik : ujian yang membangun (positif) dan godaan yang menjatuhkan (negatif).  
- Secara morfologis, nasah adalah verba aktif yang menandakan tindakan Allah, sedangkan peirasmos adalah nomina yang menandakan kondisi atau situasi ujian.  Perbedaan itu diperjelas lagi dalam referensi sbb :
1. Brown, Driver, Briggs. Hebrew and English Lexicon of the Old Testament (BDB, 1906) – entri ื ָืกָื”.  
2. HALOT (Koehler & Baumgartner, 1994) – definisi nasah sebagai “to test, to prove.”  
3. Bauer, Danker, Arndt, Gingrich. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG, 3rd ed., 2000) – entri peirasmos.  
4. Louw & Nida, Greek-English Lexicon of the New Testament Based on Semantic Domains (1989) – domain 27.46–27.50 tentang testing/temptation.  
Dalam terang Alkitab, ujian (nasah/peirasmos) adalah sarana Allah untuk memurnikan iman, sedangkan pencobaan yang menjatuhkan berasal dari keinginan manusia sendiri, sering disebut sebagai bersumber dari iblis dalam Alkitab. Iman yang teguh tumbuh melalui kesetiaan dan ketaatan dalam menghadapi ujian, bukan dengan menghindarinya.
(23072026)(TUS)

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam  Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

PENGANTAR
Membanding dua karya sastra memang kerjaannya study biblika Sastra, sejarah dan arkeologi, karena kalau kemaren saya menulis perbandingan antara Kitab Ayub dan perumpamaan lalang dan gandum, sekarang saya membandingkan Kitab Ayub dan kitab Yesaya. Kita melihat konsep-konsep yg dibentuk dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Alkitab itu terhubung oleh konsep utama yg diperkaya oleh konsep-konsep kecil dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Walaupun saya selalu mengatakan sebuah kitab atau bagian Injil dan surat-surat memiliki kisah teologis dari masing-masing penulisnya yang tidak bisa dicampur adukan, tetapi tetap ada konsep universal atau konsep umum yg menghubungkan sebagai benang merah dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Saya pernah menulis bahwa Alkitab dapat menafsir dirinya sendiri, ya karena ada benang merahnya, sehingga saya harus mengatakan tidak relevan mencomot satu ayat dan menafsirkan nya serta menganggap itulah konsep seluruh Alkitab. Tafsir awam teologipun sangat disarankan jangan mencomot satu ayat saja, harus ada penguatan dan pilar pendukung dari ayat Alkitab yg lain. Oleh karena itu kenapa kita dilatih dalam bacaan sabda leksionari. Kitab Ayub termasuk dalam sastra hikmat (wisdom literature) Ibrani, bersama Amsal dan Pengkhotbah. Bahasa Ibrani yang digunakan dalam Ayub sangat puitis, dengan struktur paralelisme dan metafora yang kompleks. Menurut John E. Hartley dalam The Book of Job (NICOT, 1988), gaya bahasanya menunjukkan kedalaman refleksi teologis tentang penderitaan dan keadilan Allah. Sementara Kitab Yesaya 44:6–8 merupakan bagian dari Deutero-Yesaya (Yesaya 40–55), ditulis dalam konteks pembuangan Babel. Bahasa Ibrani di sini menekankan monoteisme absolut dengan frasa:  

“Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” (Yesaya 44:6, TB)  

Ungkapan ini menegaskan kedaulatan dan kemahakuasaan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa. Providentia Dei.
PEMAHAMAN
Kitab Ayub mencerminkan tradisi Timur Dekat Kuno di mana penderitaan sering dikaitkan dengan dosa, Kesalahan dan hukuman. Namun, narasi Ayub menantang pandangan retributif itu. Allah tidak menghukum Ayub karena dosa, melainkan mengizinkan penderitaan sebagai sarana pemurnian iman (lih. Ayub 23:10).  
Dalam konteks Yesaya 44, bangsa Israel sedang mengalami krisis identitas di pembuangan. Allah menegaskan diri-Nya sebagai satu-satunya Penebus dan Pencipta, menolak dewa-dewa Babel. Ini menunjukkan kedaulatan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa, bukan hanya atas individu. Dalam Ayub 38–41, Allah menampakkan diri dan menunjukkan kebesaran ciptaan-Nya, menegaskan bahwa hikmat dan kuasa-Nya melampaui pemahaman manusia.  Dalam Yesaya 44:6–8, Allah menyatakan diri sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir”, menegaskan otoritas-Nya atas waktu dan keberadaan.  Ayub mempertanyakan keadilan Allah, tetapi akhirnya menyadari bahwa keadilan ilahi tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia.Gustavo Gutiรฉrrez dalam On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (1987) menafsirkan bahwa penderitaan Ayub membuka ruang bagi iman yang murni, bukan iman yang bersyarat.  Penderitaan sebagai Pemurnian Iman: Ayub 23:10 menegaskan: “Apabila Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Penderitaan menjadi alat pendidikan rohani, C.S. Lewi dalam The Problem of Pain (1940) menyebut penderitaan sebagai “megaphone of God”  sarana Allah berbicara kepada manusia yang keras hati.  
Dalam konteks modern, penderitaan sering dipahami sebagai absurditas. Namun, kitab Ayub dan Yesaya mengajarkan bahwa Allah tetap berdaulat dan adil, bahkan ketika manusia tidak memahami jalan-Nya.  
Kedaulatan Allah memberi penghiburan bahwa hidup manusia tidak berada di luar kendali-Nya. Penderitaan, bila dihayati dalam iman, menjadi sarana pendewasaan rohani dan pemurnian karakter. Kedaulatan Allah mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia. Dalam setiap ujian, Allah sedang membentuk iman yang murni dan karakter yang teguh. Seperti Ayub, umat percaya dipanggil untuk tetap setia, sebab Allah yang berdaulat juga adalah Allah yang adil dan penuh kasih.

Referensi Akademik dan Teologis
- Hartley, John E. The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988).  
- Gutiรฉrrez, Gustavo. On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (Orbis Books, 1987).  
- Brueggemann, Walter. Isaiah 40–66 (Westminster John Knox, 1998).  
- Childs, Brevard S. Isaiah (OTL, Westminster Press, 2001).  
- Lewis, C.S. The Problem of Pain (HarperOne, 1940).  

(16072026)(TUS)




Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30

Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30

PENGANTAR
Bab 42 : 7 membuktikan bahwa teman-teman Ayub dihukum karena memberikan konsep yg keliru tentang Allah.  Bukan karena menyalahkan Ayub. Ayub 42:7 (TB) Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Tรฉman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Dan, cermati yang dihukum Allah adalah elifas  dan 2 sahabatnya, padahal yg tercatat ada 4 teman Ayub, artinya cuma 3 yang dihukum Allah, kenapa? Siapa teman Ayub yg tidak dihukum?  Dicermati tiap ayatnya, tidak akan saya jelaskan agar kita semua belajar. Jadi tidak bisa kalau dibawa dalam konsep kalau menyalahkan/mengkritisi temannya terus malah dimarahi dan dihukum Allah, Tuhan Yesus mengkritik, tukang kritik, bearti dimarahi Allah dong kalau gitu๐Ÿคญ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ. Melihat Kitab Ayub disandingkan dg Matius 13, memang itu yg seringkali dilakukan dalam study biblika Sastra, Sejarah, dan Arkeologi. Study ini memang sering melakukan perbandingan dari 2 karya sastra dalam Alkitab, untuk mendapatkan konsep-konsep yg ada didalam Alkitab. Kitab Ayub adalah sastra Ibrani yg mengangkat konsep Allah dalam prosa prolog dan prosa epilognya, di bagian tengah adalah puisi untuk menjembati dan menggambarkan hubungan dari dua konsep Allah tsb lewat dialog. Di Kitab Ayub, bagian yang prosa cuma di awal (prolog) dan akhir (epilog). Tengahnya puisi.

Bagian Prosa:
1. Ayub 1:1 – 2:13  
   Prolog. Cerita tentang Ayub, keluarga, kekayaannya, dan ujian dari Allah lewat Iblis. Bahasanya naratif biasa. Konsep Allah yg dibawa adalah Allah Maha Kuasa tanpa batas.
2. Ayub 42:7 – 42:17  
   Epilog. Allah menegur teman-teman Ayub, memulihkan keadaan Ayub, anak-anak baru, dan umur Ayub yang panjang. Balik lagi ke gaya cerita. Konsep Allah yang di bawa adalah Allah adalah adil seadil-adilnya. 

Bagian Puisi: 
Ayub 3:1 – 42:6  
Ini inti kitabnya. Isinya dialog panjang antara Ayub dengan 3 temannya: Elifas, Bildad, Zofar, + Elihu, lalu jawaban Allah dari badai. Bahasanya puitis, paralelisme, metafora, tanya-jawab berat tentang penderitaan. Jembatannya adalah bahwa Allah yg tak terbatas bahkan bisa bertindak semena-mena pada manusia, tidak bisa melawan naturNya yg lain yaitu bahwa Allah adalah Maha Adil, sehingga penderita an adalah bukti kemahakuasaan Allah dan bukti keadilan Allah, penderitaan adalah pemurnian iman dalam misteri  Allah tsb.

Jadi polanya: Prosa → Puisi → Prosa

Kenapa dibikin gitu? Bagian prosa membingkai ceritanya biar kita tahu "apa yang terjadi", sedangkan bagian puisi menggali "mengapa dan bagaimana rasanya" saat menderita. Dalam Alkitab baik dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes mengandung konsep-konsep tentang Allah dari bangsa Israel Kuno sampai Yudaisme bahkan sampai gereja masa Rasul sampai saat ini. Sastra Ibrani kuno yg berbentuk prosa dan puisi di PL, di PB utamanya Injil berubah menjadi pengajaran metafora atau perumpamaan oleh Yesus. Salah satu contoh konsep Allah yg ada di Alkitab diungkap secara sastra Ibrani kuno berbentuk prosa dan puisi ternyata memiliki kaitan atau lebih tepat kemiripan pemikiran atau nalar dengan konsep Allah dalam perumpamaan lalang gandum oleh Yesus di Injil. Dalam Kitab Ayub ada 2 bentuk sastra yang jelas beda: bagian pembuka/penutup pakai prosa, bagian tengah pakai puisi/dialog. Bahasa Ibrani
- Prosa= ืคืจื•ื–ื” proza atau disebut juga ืกื™ืคื•ืจ sipur = "kisah/narasi". Bagian ini fungsinya sebagai misgeret sipurit ืžืกื’ืจืช ืกื™ืคื•ืจื™ืช = "kerangka cerita" atau pusat konsep polemiknya. Itu ada pada kitab Ayub 1:1–2:13 dan 42:7–17
- Puisi = ืฉื™ืจื” shira, Bagian tengah Ayub 3:1–42:6 disebut ื”ื“ื™ืืœื•ื’ ื”ืฉื™ืจื™ ha'diyalog ha'shiri = "dialog puitis". Kitab Ayub termasuk ืกืคืจื™ ืืž Sifrei Emet  = "Kitab Kebenaran", bersama Mazmur & Amsal. Ketiganya ditulis dengan tanda baca puitis khusus dan ditulis dalam format bait. Ciri Ibrani: dalam prosa Alkitab biasanya narasi objektif. Dalam puisi Ibrani biasanya berupa percakapan langsung, penuh perasaan, bahasa kiasan & paralelisme. Kalau kita lihat, dalam  Bahasa Yunani (Septuaginta/LXX)
- Prosa = ฯ€ฮตฮถแฝธฯ‚ ฮปฯŒฮณฮฟฯ‚ pezos logos = "ucapan biasa/tidak berirama"
- Puisi = ฯ€ฮฟฮฏฮทฯƒฮนฯ‚ poiฤ“sis = "penciptaan karya sastra/puisi". Menariknya, saat diterjemahkan ke Yunani, dalam script asli kitab suci, sebagian besar Kitab Ayub dirender dalam bentuk prosa, meskipun aslinya dalam sastra Ibrani bagian tengahnya puisi. Para sarjana Yunani kuno juga melihat struktur Ayub seperti drama: ada prologue, dialogue, dan epilogue. Bagian Ayat Bentuk Ibrani Sebutan Yunani
Prolog + Epilog 1:1–2:13 & 42:7–17 Prosa / proza, pezos logos
Dialog inti 3:1–42:6 Puisi / shira, poiฤ“sis
Alasan pakai puisi di tengah: bahasa Ibrani puitis dipakai untuk hal yang "tidak bisa" dilakukan prosa, seperti mengekspresikan perasaan, perdebatan teologi, dan citra kiasan yang kuat.
PEMAHAMAN
Dalam Kitab Ayub, struktur naratifnya berbentuk puisi hikmat (แธฅokmah) yang menampilkan dialog antara Ayub, sahabat-sahabatnya, dan Allah, ini diapit oleh prosa di awal atau prolog (bab 1:1-2:13) dan prosa di akhir atau epilog (42:7-42:17), puisi di tengah (3:1-42:6) merupakan jembatan nalar dari dua prosa prolog dan prolog epilog yg mengangkat dua konsep Allah, prosa prolog mengangkat konsep Allah yg maha kuasa, shg bertindak semena-mena pun itu haknya, lihat malaikat dan iblis bertindak pun harus se izin Allah, sedangkan prosa epilog mengangkat konsep Allah itu Allah yg sangat adil, kedua konsep Allah ini dijembatani oleh puisi yang mempertegas kedua konsep tsb dg mengkaitkan bahwa penderitaan itu cara Allah memurnikan iman, cara Allah mendidik umatnya. Dalam sastra Ibrani kuno prosa biasanya mengandung konsep polemiknya, sedangkan puisi mengandung konsep memahami polemik tsb, yah .... bisa disebut jembatan nalarnya. Bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan, seperti kata mishpat (keadilan) dan tsedeq (kebenaran). Dalam konteks ini, Allah digambarkan sebagai hakim tertinggi yang memegang kendali penuh atas ciptaan-Nya (Ayub 1:6–12). Sementara itu, dalam perumpamaan lalang dan gandum (Matius 13:24–30), Yesus menggunakan metafora agraris yang sangat dikenal dalam budaya Yahudi. Pemilik ladang (ho despotes tou agrou) menggambarkan figur otoritatif yang memiliki kuasa penuh atas ladangnya, sama seperti Allah dalam Kitab Ayub yang berdaulat atas dunia dan kehidupan manusia.  Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menunjukkan bahwa teks-teks hikmat seperti Ayub sering kali berfungsi untuk menegaskan keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan untuk menjelaskan penderitaan secara moralistik. Hal ini sejalan dengan perumpamaan Yesus yang menekankan bahwa pemisahan antara lalang dan gandum adalah hak prerogatif pemilik ladang, bukan pekerja.
Dalam Ayub 1:6, disebutkan adanya “anak-anak Allah” (bene ha’elohim) yang datang menghadap Tuhan, menggambarkan sidang ilahi (divine council)—sebuah konsep umum dalam sastra Timur Dekat kuno, di mana Allah sebagai Raja semesta memimpin dewan surgawi. Dalam konteks ini, Iblis berperan sebagai “penuduh” (ha-satan), bukan entitas yang setara dengan Allah, melainkan bagian dari struktur ilahi yang diizinkan untuk menguji manusia.  Iblis tunduk pada kehendak Allah. Keterkaitan dengan perumpamaan lalang dan gandum muncul dalam peran “penabur lalang” yang melambangkan kejahatan yang diizinkan tumbuh sementara di tengah dunia yang diciptakan Allah, iblis dalam kasus Ayub. Seperti dalam Ayub, Allah tidak langsung melenyapkan kejahatan, tetapi menundukkannya dalam rencana yang lebih besar untuk memurnikan iman manusia. Penelitian oleh Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) mendukung pandangan bahwa konsep sidang ilahi dalam Ayub menunjukkan struktur otoritas surgawi yang paralel dengan penggambaran pemilik ladang dan para pekerjanya dalam perumpamaan Yesus. Kedua teks menegaskan kedaulatan Allah dan ketidakterbatasan hikmat-Nya. Dalam Ayub, penderitaan bukan hukuman, melainkan sarana pendidikan rohani. Dalam perumpamaan lalang dan gandum, penundaan penghakiman menunjukkan kesabaran dan kebijaksanaan Allah agar tidak ada yang binasa sebelum waktunya, pendidikan juga. Keduanya mengajarkan bahwa keadilan Allah tidak selalu tampak segera, ini pendidikan, untuk bersekehendak dg Allah, bukan kehendakku tetapi kehendak Allah lah yg jadi, pengakuan akan kemahakuasaan Allah, tetapi akan dinyatakan pada waktu yang ditetapkan-Nya. Dalam konteks kekinian, hal ini mengajarkan umat percaya untuk tetap setia dan sabar dalam penderitaan, karena Allah bekerja di balik segala sesuatu untuk kebaikan (Roma 8:28). 

Roma 8:28 (TB):
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." 

Ayat ini menegaskan prinsip teologis bahwa Allah berdaulat dan aktif mengatur segala peristiwa—termasuk penderitaan—untuk tujuan kebaikan rohani. Dalam Kitab Ayub, penderitaan Ayub bukan akibat dosa, melainkan bagian dari rencana ilahi untuk memurnikan iman (Ayub 1:6–12; 42:5–6). Sedangkan dalam Matius 13:24–30, perumpamaan tentang lalang dan gandum menggambarkan bahwa Allah mengizinkan kejahatan dan penderitaan sementara waktu, karena Ia memiliki rencana akhir yang sempurna untuk memisahkan dan memulihkan.  Keterkaitan ketiga teks ini terletak pada tema providensia Dei dan kedaulatan Allah bahwa segala sesuatu, baik penderitaan maupun kejahatan, berada dalam kendali Allah dan diarahkan menuju kebaikan akhir bagi umat-Nya. Secara sastra, Roma 8:28 menggunakan struktur sintaksis Yunani yang menekankan partisipasi aktif Allah (synergei ho theos “Allah turut bekerja bersama”). Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pasif, melainkan terlibat langsung dalam proses kehidupan manusia, suka duka, sehat sakit, sedih senang, kaya miskin, dlsb.  Dalam Kitab Ayub, bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan (mishpat, tsedeq), menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang adil dan berdaulat. Sedangkan dalam Matius 13, Yesus memakai gaya naratif agraris khas budaya Yahudi, dengan simbol “pemilik ladang” sebagai representasi Allah yang berkuasa penuh atas ciptaan-Nya.  Penelitian oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menegaskan bahwa sastra hikmat seperti Ayub menyoroti keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan sekadar menjelaskan penderitaan moral. Ini sejalan dengan Roma 8:28 yang menekankan keterlibatan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam budaya Yahudi kuno, penderitaan sering dipahami sebagai konsekuensi moral. Namun, baik Ayub maupun Roma 8:28 menantang pandangan ini dengan menegaskan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pendidikan rohani. Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) menjelaskan bahwa konsep “sidang ilahi” dalam Ayub 1:6 menunjukkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu melalui struktur surgawi, tetapi tetap memegang otoritas tertinggi. Hal ini paralel dengan pemilik ladang dalam Matius 13 yang menunda penghakiman demi keselamatan gandum—sebuah tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan dan kesabaran Allah. Ketiga teks ini mengajarkan bahwa:

- Allah berdaulat atas penderitaan dan kejahatan.  
- Penderitaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kebaikan yang lebih besar.  
- Hikmat Allah melampaui pemahaman manusia.  

Dalam konteks masa kini, Roma 8:28 menjadi dasar penghiburan bagi orang percaya yang mengalami penderitaan, sebagaimana Ayub tetap setia di tengah ujian, dan sebagaimana pemilik ladang dalam Matius 13 menunda penghakiman demi keselamatan.  Penelitian oleh N.T. Wright (Paul and the Faithfulness of God, 2013) menegaskan bahwa Roma 8:28 adalah puncak teologi Paulus tentang rekonsiliasi kosmis—bahwa Allah sedang menata ulang ciptaan menuju pemulihan akhir, sebagaimana ladang dalam perumpamaan Yesus akan dipisahkan dan dimurnikan pada waktu panen.
 Allah bekerja dalam segala hal, bahkan penderitaan, untuk kebaikan umat-Nya.  Kesabaran dan iman diperlukan untuk melihat rencana Allah yang lebih besar.  Keadilan Allah tidak selalu tampak segera, tetapi pasti dinyatakan pada waktunya.  Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan hukuman. Keterkaitan Roma 8:28, Kitab Ayub, dan Matius 13:24–30 terletak pada satu benang merah teologis: kedaulatan dan hikmat Allah yang bekerja melalui penderitaan untuk menghasilkan kebaikan dan kemuliaan-Nya. Baik Ayub yang diuji, ladang yang menunggu panen, maupun orang percaya yang menderita, semuanya berada dalam tangan Allah yang berdaulat dan penuh kasih.

Pesannya jelas di Alkitab:
- Allah berdaulat penuh atas ciptaan dan sejarah manusia.  
- Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan sekadar hukuman.  
- Keadilan Allah bersifat progresif dan akan dinyatakan pada waktu yang tepat.  
- Manusia dipanggil untuk mempercayai hikmat Allah, bukan menilai berdasarkan pandangan terbatas.  

Dengan demikian, baik kisah Ayub maupun perumpamaan lalang dan gandum menegaskan satu pesan utama: Allah adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu, dan penderitaan yang diizinkan-Nya memiliki tujuan ilahi untuk mendidik dan memurnikan iman manusia. Menarik ada konsep sidang ilahi atau divine council di Ayub yg menyokong konsep bahwa Allah adalah Sang Maha, bahkan mau semena-mena thp manusia pun itu hak Allah, bahkan iblispun dalam bertindak harus se izin Allah, sastra dalam prosa prolog kitab Ayub, yg ingin menunjukan bahwa semua ada dalam kehendakNya, iblis dipakai oleh sastra ini untuk menunjukan kewenangan Allah yang tanpa batas. Kalau di kitab Ayub ada Allah, iblis dan malaikat (anak-anak Allah) gambaran sidang ilahi, dalam Matius 13 perumpamaan lalang dan gandum itupun ada gambaran sidang ilahi, pemilik ladang, penabur lalang/iblis, dan hamba/pekerja dari pemilik ladang (malaikat). Dari awal kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes konsep sidang ilahi itu ada. Oleh karena itu muncul kritisi bahwa kata KITA, jamak bagi sebutan Allah, yaitu Eli, eloy kata tunggal yg disebut menjadi elohim kata jamak bagi sebutan Allah, itu tidak bisa menjadi dasar paham Tritunggal seperti pada kejadian 1:26, karena itu menyebut sidang ilahi, bagaimana kita menanggapi hal ini? (Kita bahas pada judul yang lain), pada prosa epilog, di kitab Ayub, konsep Allah adil itu ditunjukan dengan pengembalian posisi dan kondisi Ayub bahkan lebih, Ayub pulih dalam konsep lalang gandum, keadilan Allah ditunjukan dengan memanen gandum dan membakar lalang. Ada yg harus diperhatikan, harta Ayub dikembalikan 2 kali lipat, tapi untuk anak-anak Ayub itu tidak dibuat 2 x lipat, tapi sama dengan sebelumnya, menarik. Dalam budaya Yahudi, anak adalah lambang hal waris, yg bagi budaya Israel kuno itu sangat penting daripada harta. Hak Waris itu tetap tidak hilang, dan hak waris itu tidak bisa berlipat tapi tetap. Sastra dalam prosa epilog di kitab Ayub ini ingin menggambarkan apapun yg terjadi hak sebagai umat pilihan, hak sebagai umat yg sudah dipilih Allah tidak akan pernah hilang apapun kondisinya.
(16072026)(TUS)

Selasa, 14 Juli 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:24-30, 36-43 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ๐—œ๐—œ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ฆ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:24-30, 36-43 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ๐—œ๐—œ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ฆ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น

PENGANTAR
Minggu 19 Juli 2026, tadi pagi via WA, saya disodori teman tema ibadah/renungan di sebuah gereja protestan Reformir yg juga menggunakan RCL sebagai bacaan sabda pada Minggu 19 Juli 2026 adalah ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ dengan bacaan Matius 13:24-30, 36-43. Apa sih integritas itu? Saya pernah mengatakan kepada para anak-buah saya, “๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข,” kata saya, “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™–๐™ž๐™  ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™Ÿ๐™ช๐™Ÿ๐™ช๐™ง ๐™ข๐™š๐™จ๐™ ๐™ž ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™ฅ๐™– ๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฌ๐™–๐™จ๐™–๐™ฃ.” Saya masih tidak mengerti bagaimana tema ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ muncul? Saya tidak anti-tema. Persoalannya adalah tema itu datang dari mana? Tema itu seharusnya datang dari dalam teks atau sesuai dengan teks. Kalau datang dari luar teks, ada kecenderungan Alkitab hanya diperalat untuk mendukung tema tersebut. Kalau saya membaca Matius 13:24-30, 36-43, tema yang menonjol dari dalam teks adalah:
▶️ Kesabaran Allah terhadap dunia yang bercampur antara baik dan jahat.
▶️ Larangan menjadi hakim yang tergesa-gesa.
▶️ Pengharapan akan penghakiman Allah pada akhir zaman.
▶️ Hidup bersama di tengah realitas yang tidak sempurna.
▶️ Kepastian bahwa Allah pada akhirnya akan membedakan gandum dan lalang.

Saya tidak melihat bagaimana ๐˜๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ muncul secara organik dari teks. 

Kalau saya melihat Renungan Minggu pada Warta gereja protestan Reformir tsb, 19 Juli 2026, prosesnya seperti ini: Tema → NKB 204 → aplikasi pastoral → Matius 13

Padahal secara ideal prosesnya seperti ini: Matius 13 → tema → aplikasi pastoral → nyanyian yang sesuai.

Ada lompatan eksegetis cukup besar yang dilakukan oleh petulis renungan.

1. ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ...
Ini masih bisa diterima sebagai refleksi teologis, tetapi Matius tidak mengatakan demikian. Pengarang Matius menulis ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ. (ay. 38). Tidak ada istilah atau ungkapan  ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Itu sudah merupakan penambahan dari prapaham tema.

2. ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.
Ini paling problematis. Dalam perumpamaan: Gandum tetap gandum. Lalang tetap lalang. Tidak ada transformasi ontologis dari gandum menjadi lalang atau sebaliknya.
Kalimat dalam Renungan ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ lebih dekat dengan perumpamaan penabur (Mat. 13:1-23) atau Yohanes 15 tentang pokok anggur, tetapi itu bukan isi perumpamaan lalang.

Bahkan penjelasan perumpamaan dalam Matius sangat tegas:
▶️ Benih baik = anak-anak Kerajaan.
▶️ Lalang = anak-anak si jahat.
▶️ Tidak ada kategori ketiga: "anak Kerajaan yang berubah menjadi anak si jahat."

3. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.
Ini janggal. Secara tekstual Matius tidak sedang berbicara tentang orang yang berpindah jatidiri. Ia berbicara tentang koeksistensi dua kelompok sampai padaakhir zaman. ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ tersebut menggeser fokus.
Saya tertawa membaca kalimat membagongkan: ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Secara homiletis itu terdengar indah, tetapi secara eksegesis Matius mungkin akan berkata, "๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ." Wkwkwkwk.
Di sini sangat terang bahwa teks Matius 13:24-30, 36-43 diperalat. Alkitab tidak lagi menjadi subjek ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ด๐˜‚๐—ฟ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ, melainkan ๐—ผ๐—ฏ๐—ท๐—ฒ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜ ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ.
Kalau tak mau disebut memeralat Alkitab, pertanyaannya menjadi sebegitukah.
Di pertanian padi sawah gangguan terjadi bukan saja dari hama serangga, tikus, dan burung, tetapi juga dari tumbuhan pengganggu yang disebut gulma (๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฅ). Gulma umum pada padi sawah adalah (dengan nama Latin) ๐˜Œ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ข ๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด-๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช. Nama lokalnya ada cukup banyak: gagajahan, jajagoan, padi burung, jawan, parikejawan, suket ngawan. Penampakan rumput liar ๐˜Œ. ๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด-๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช sangat mirip dengan tanaman padi (lih. gambar lampiran). Gulma ini berkemampuan lebih kuat menyerap hara tanah ketimbang padi sehingga dapat menurunkan produktivitas padi sampai 25%. Gulma tidak pernah secara sengaja ditanam di sawah. Ia tumbuh dari akar-akar yang tertinggal di tanah atau dari benih yang terbang dibawa angin dan burung.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu kedelapan sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 13:24-30, 36-43 yang didahului dengan Yesaya 44:6-8, Mazmur 86:11-17, dan Roma 8:12-25.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 13:24-30, 36-43, kembali mengenai perumpamaan. Kali ini perumpamaan tentang lalang di antara gandum. Konteks terdekatnya adalah seluruh pasal 13 yang berisi perumpamaan-perumpamaan yang berujung penolakan terhadap Yesus oleh bangsa sendiri (ay. 53-58).

Bacaan terdiri atas dua perikop:
▶️ Perumpamaan tentang lalang di antara gandum (Mat. 13:24-30). Perumpamaan disampaikan kepada khalayak dengan merujuk ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ di ayat 36a.
▶️ Penjelasan perumpamaan tentang lalang di antara gandum (Mat. 13:36-43). Penjelasan disampaikan oleh Yesus kepada para murid dengan merujuk ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜•๐˜บ๐˜ข di ayat 36b.

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿฏ:๐Ÿฎ๐Ÿฐ-๐Ÿฏ๐Ÿฌ

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka. Kata-Nya, “๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข: ‘๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?’ ๐˜‘๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ: ‘๐˜š๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.’ ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ‘๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?’ ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข: ‘๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ช. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ช: ๐˜’๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ.’” (ay. 24-30)

Seperti yang sudah saya sampaikan pekan lalu membaca perumpamaan hendaklah membacanya sebagai perumpamaan. Tidak perlu mencari-cari alasan atau pembenaran bahwa di Palestina pada zaman dulu orang sering menabur benih lalang ke ladang musuhnya.

Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah memang sulit ditakrifkan. Untuk itulah Yesus mencoba memerikannya lewat perumpamaan-perumpamaan. Itu pun masih menimbulkan teka-teki karena Yesus-historis tidak pernah menjelaskan arti perumpamaan. Penjelasan perumpamaan di teks Alkitab merupakan hasil penafsiran penulis Injil dalam rangka pastoral bagi pembacanya atau jemaat Kristen sebagai sasaran penulisan Injil. 

Perumpamaan disampaikan kepada khalayak dengan merujuk ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ di ayat 36a dalam perikop penjelasan. Mengapa Yesus menyampaikan perumpamaan ini?

Mari kita melongok lagi kiprah Yohanes Pembaptis di Matius 3. Yohanes berkampanye bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah siap memegang kapak untuk memotong setiap pohon dan batang yang tidak berbuah. Yohanes juga mengatakan bahwa Mesias sudah memegang alat penampi untuk menyingkirkan sekam dari gandum dan membakar sekam dalam api yang tak terpadamkan. Yohanes berpikir bahwa Yesus akan langsung menghancurkan orang-orang Farisi dan Saduki (lih. Mat. 3:7-12).

Ternyata Yesus tidak seperti yang dipikirkan dan dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus tidak menciptakan komunitas orang-orang bersih dan suci. Yesus bahkan tidak bersetuju dengan gagasan menyingkirkan “lalang” dari dalam. Meskipun demikian selalu ada orang atau pihak yang sangat bersemangat untuk melakukannya dan sebaliknya ada pihak yang hendak menjauhkan diri dari lingkungan masyarakat jahat. Yesus melihat itu sebagai tindakan yang salah. Yesus meminta kesabaran dengan hidup berdampingan sampai pada waktu menuai tiba, suatu kiasan tentang hari pengadilan Tuhan (bdk. Yoel 3:13).

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿฏ:๐Ÿฏ๐Ÿฒ-๐Ÿฐ๐Ÿฏ

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu masuk ke rumah. Murid-murid-Nya datang dan bertanya kepada-Nya, “๐˜‘๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” Ia menjawab, “๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต. ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด. ๐˜ž๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜จ๐˜ช. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ!” (ay. 36-43)

Ayat pembuka perikop di atas menguatkan bahwa Yesus-historis tidak menjelaskan arti perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan-Nya. Penulis Injil menafsir perumpamaan itu dengan membuat ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ Yesus menjelaskan hanya kepada murid-murid-Nya. Penafsiran penulis Injil bersifat alegoris. Hal ini tampak dalam penjelasan bukan menjelaskan cerita perumpamaan sebagai satu-kesatuan, melainkan tentang masing-masing anasir. Perhatian utama ditujukan pada lalang yang akan dikumpulkan terlebih dahulu dan dibakar, yakni orang yang menyebabkan orang lain menjadi murtad dan orang yang hidup tanpa hukum. Tampaknya di dalam Jemaat Matius ada pihak kuat yang sedang merongrong umat.

Dalam Injil Matius akhir zaman bukan berarti akhir dunia. Akhir zaman di sini adalah masa si jahat berakhir (bdk. Mat. 24:3 dan 28:20). Dunia tetap maju ke arah yang sejak mulanya ditetapkan oleh Allah.

Ada yang menarik pada ayat 41 “…๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข ...” Frase ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข diterjemahkan dari kata ฯƒฮบฮฌฮฝฮดฮฑฮปฮฑ (baca: ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข), yang kemudian kita kenal dengan kata skandal. Jadi, kalau kita mendengar kata skandal yang diikuti keterangannya, sudah pasti cerapan orang bukan pada hal yang baik. Misal, skandal Hambalang.

Kalimat “๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ!” muncul kembali. Kali ini sebagai penutup penjelasan perumpamaan. Ini sebuah ajakan bagi pendengar untuk memerhatikan hal yang dikatakan oleh Yesus, merenungkannya, kemudian menghidupinya agar perumpamaan itu menjadi ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ป๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ถ. Pendengar di sini termasuk para pemimpin gereja, yang banyak dari mereka lebih suka berbicara daripada mendengar.

 (23072023)(TUS)

Sudut Pandang Matius 13:31-33, 44-52 (Minggu VIII sesudah Pentakosta, Tahun A), Kelumit Taman Pendidikan

Sudut Pandang Matius 13:31-33, 44-52 (Minggu VIII sesudah Pentakosta, Tahun A), Kelumit Taman Pendidikan

PENGANTAR
Minggu 19 Juli 2026, selain. sistim bacaan sabda RCL, ada juga sistim bacaan sabda yang lain. Ini adalah sistim bacaan bukan RCL hanya sebagai contoh. Mengapa Ki Hajar Dewantara menamai lembaga sekolah yang dibuatnya dengan Taman Siswa? Beliau adalah pengagum tokoh besar pendidikan Friedrich Frรถbel, Bapak Taman Kanak-Kanak.
PEMAHAMAN 
Bacaan Minggu ini secara ekumenis diambil dari Injil Matius 13:31-33, 44-52 yang didahului dengan Kejadian 29:15-28, Mazmur 105:1-11, 45b, dan Roma  8:26-39.
 Dalam Injil Matius sangat terang bahwa pusat pemberitaan atau pengajaran Yesus adalah Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sukar diperikan dengan kata-kata. Untuk itulah Yesus mengajar mengenai Kerajaan Allah lewat perumpamaan-perumpamaan dan tindakan. Masih di seputar Danau Galilea Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah. Saya tetap membayangkan Yesus mengajar dengan ditemani secangkir kopi panas. Barangkali kalau zaman itu sudah ada rokok, Yesus sangat bolehjadi akan menyulut sebatang rokok. Dua Minggu berturut-turut bacaan kita tentang Kerajaan Allah yang diperumpamakan dengan kisah penabur. 
Pada Minggu ini bacaan Injil (Matius 13:31-33, 44-52) tentang lima perumpamaan Yesus yang kesemuanya untuk memerikan (describe) Kerajaan Surga/Allah. Kendati demikian pemerian (description) Kerajaan Allah lewat perumpamaan-perumpamaan itu masih belum memadai. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan baru (dalam konteks Perjanjian Baru) yang sukar diperikan dengan kata-kata, karena ia jauh melampaui pikiran. Pertama, hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi … yang ditabur di ladang … yang paling kecil dari segala jenis benih … apabila sudah tumbuh menjadi pohon …burung-burung di udara datang bersarang (ay. 31-32). Kedua, hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil dari seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak 40 liter sampai mengembang seluruhnya (ay. 33). Ketiga, hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi…ia pergi menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu (ay. 44). Keempat, hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya ia menjual seluruh miliknya untuk membeli mutiara yang indah itu (ay. 45-46). Kelima, , hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan ke laut … setelah penuh ikan, jala itu diseret ke pantai … ikan yang baik dimasukkan ke tempayan, ikan yang tidak baik dibuang (ay. 47-48). Di lingkungan orang Kristen tertentu Kerajaan Surga/Allah diberi makna sempit pada Gereja. Gereja kemudian menjatidiri sebagai Kerajaan Allah di dunia ini untuk melaksanakan kekuasaan dan wewenang ilahi menghadapi kekuatan dan wewenang sekuler. Padahal dalam tulisan Injil Yesus sama sekali tidak memaknai Kerajaan Surga sebagai lembaga tertentu. Yang mau disampaikan oleh Yesus ialah Kerajaan Surga itu tindakan-tindakan atau pekerjaan-pekerjaan Allah. Ini dapat dilihat dari perumpamaan-perumpamaan di atas. Biji sesawi tumbuh, ragi mengembangkan tepung terigu, menjual-membeli, serta jala ditebarkan dan diseret. Dalam mengakhiri perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Surga Yesus menutupnya dengan perumpamaan juga “Setiap ahli Taurat (maksudnya orang yang membaca Kitab Suci) yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” (ay. 52). Artinya, orang yang pecaya kepada Allah yang diperkenalkan oleh Yesus dan menerima-Nya melakukan tindakan-tindakan yang sudah dilakukan Allah, yang diwujudkan lewat tindakan-tindakan Yesus secara penuh seumpama “mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya”. Seperti kata Pemazmur dalam leksionari Minggu ini yang memegang segala pengajaran-Nya (Mzm. 105:45). Tindakan-tindakan itu ialah menghadirkan keadilan sosial, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Dengan demikian Gereja bukanlah Kerajaan Surga, melainkan hamba misi Kerajaan Surga. Menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Surga itu bukanlah memersiapkan warga jemaat menyongsong hari kiamat, kemudian menakut-nakuti agar banyak orang datang ke gereja itu untuk memberikan uang kolekte dan membeli minyak urapan. Menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Surga itu bukan beramai-ramai promosi kebaktian virtual dalam masa pandemi dengan menayangkan nomor rekening gereja. Dua buku sangat tebal “Sejarah Pemikiran Pendidikan Kristen” karangan Robert R. Boehlke merenteng tokoh-tokoh besar pendidikan dan memerikan secara rinci pemikiran dan praktik pendidikan mereka. Tentu saja Boehlke di awal-awal buku menguntai Yesus sebagai Pendidik dan Pengajar Agung seperti diperikan oleh kelumit bacaan Injil di atas. Satu tokoh besar lainnya dalam pendidikan Kristen yang dieksploitasi oleh Boehlke adalah Friedrich Frรถbel (1782-1852). Frรถbel berhasrat menyiapkan anak-anak untuk bersekolah, tetapi ia menolak wadah yang dibuatnya disebut sekolah. Anak-anak hendaknya bertumbuh lebih bebas seperti tanaman sampai ia berbunga indah. Tentu saja yang ia maksudkan tidak bebas sama sekali, tetapi membiarkan mereka untuk menikmati kehidupan di bawah pengawasan dengan penuh kasih. Pada suatu hari Frรถbel berjalan dengan dua rekannya, Johann Barop dan WilhelmMiddendorf, di suatu lembah yang penuh ditumbuhi bunga-bunga. Mata Frรถbel  berbinar-binar dan berteriak, “Saya sudah menemukannya. Taman Kanak-Kanak! (die Kindergarten)” Suaranya tidak saja terdengar dua rekannya di lembah itu, tetapi berkumandang ke seluruh dunia. Bahkan dalam bahasa Inggris Taman Kanak-Kanak tetap menyerap bahasa aslinya Kindergarten. Pemikiran dan praktik Frรถbel ini juga yang menginspirasi Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa. Apa artinya itu semua? Misi Kerajaan Surga yang perlu dilakukan gereja sejajar dengan apa yang dilakukan oleh para nabi pada masa Perjanjian Lama dan Yesus pada masa Perjanjian Baru untuk menyuarakan kehendak Allah, yaitu keadilan dan damai sejahtera.  Menghadirkan Kerajaan Surga itu setia melayani masyarakat dengan menegakkan keadilan, mengembangkan kebebasan dari penindasan, dan meratakan kesejahteraan sosial, serta memberdayakan masyarakat pinggiran seperti yang dilakukan oleh Yesus. Dalam sejarah pemikiran pendidikan gereja tampak merajai (dominate) arah sistem pendidikan di dunia. Yang mengherankan gereja di Indonesia diam saja ketika sistem pendidikan Indonesia rusak (corrupt). Gereja di Indonesia diam saja ketika para pembuat kebijakan pendidikan nasional berpesta pora anggaran yang besarnya konon 20% dari APBN. Bagi saya pengunduran diri Muhammadyah dan Nahdlatul Ulama dari program dana hibah POP adalah tamparan bagi gereja yang tetap ndomblong dan tidak menggawaikan telinga. Ucapan Yesus dalam Matius 13:13 sangat menohok gereja,  “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.”


(26072020)(TUS)

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21 hal kecil yang berdampak

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21 hal kecil yang berdampak PENGANTAR Yesaya 55:1–5 Teks ini bagian dari Deutero‑Yesay...