Senin, 09 Februari 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 17:1-9, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฎ!

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 17:1-9, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฎ!

PENGANTAR
Minggu 15 February 2026, Transfigurasi dalam arti literal adalah alihmuka. Dalam makna hari raya liturgi Minggu Transfigurasi merupakan peralihan dari pelayanan Yesus yang mengajar dan melakukan penyembuhan di Galilea menuju pelayanan dan pengorbanan Yesus ke Yerusalem. Istilah transfigurasi merujuk momen Yesus beralihmuka yang disaksikan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes atau yang di Alkitab LAI disebut dengan ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ (Mat. 17:1-9, Mrk. 9:2-13, dan Luk. 9:28-36). Yang dimaksud dengan beralihmuka adalah wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang (Mat. 17:2).

Minggu Transfigurasi dapat juga disebut “hari kenaikan kelas” bagi Yesus, dari pelayanan tingkat pertama naik ke pelayanan tingkat kedua yang lebih dahsyat. Ahli Perjanjian Baru menyebutnya masa pengajaran dan masa pengorbanan Yesus. Minggu Transfigurasi menandai penerusan peningkatan karya-karya Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia makin dibenci oleh lawan-lawan-Nya. Semua karya-Nya dinafikan bahkan diputarbalikkan oleh ahli-ahli dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi sampai pada akhirnya Yesus didakwa menista agama dan dijatuhi hukuman mati.


PEMAHAMAN
Minggu Transfigurasi dirayakan sebagai penutup Minggu-Minggu Epifani dan sebelum Rabu Abu. Bacaan ekumenis untuk Minggu Transfigurasi Tahun A diambil dari Injil Matius 17:1-9 yang didahului dengan Keluaran 24:12-18, Mazmur 2, dan 2Petrus 1:16-21.

Dalam bacaan Injil Minggu ini dikisahkan oleh pengarang Injil Matius, yang bersumber dari Injil Markus 9:2-13, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik gunung (ay. 1). Yesus beralihmuka (bertransfigurasi) bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang (ay. 2), dan tampaklah Musa serta Elia sedang berbicara dengan Yesus (ayat 3). 

Latar tempat untuk episode Transfigurasi Yesus ini adalah gunung atau puncak gunung (Mat. 17:1).
• Dulu Musa berjumpa dengan Allah di atas gunung (Kel. 24:12-18).
• Dulu Elia berjumpa dengan Allah di atas gunung (1Raj. 19:8-18).
• Kini Yesus berjumpa dengan Musa, Elia, dan Allah di atas gunung.
• Sama seperti Musa, Yesus juga memberikan “Taurat baru” di gunung (Mat. 5-7).
• Sama seperti Elia, Yesus juga membangkitkan seorang anak yang mati (Mat. 9:25).

Yesus melanjutkan karya Musa dan Elia, tetapi Yesus melampaui kemuliaan kedua tokoh Israel itu. Bahkan kedua tokoh besar itu kini menyaksikan Yesus dimuliakan Allah di hadapan mereka. Misteri Transfigurasi Yesus itu bernasabah (relate) dengan misteri Kebangkitan seperti yang dikatakan Yesus di ayat 9: Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, "๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช."

Transfigurasi Yesus juga berpautan dengan pemberitahuan atau deklarasi kedua bahwa Yesus adalah Anak Allah. Matius 17:5:  Tiba-tiba sementara ia (Petrus) berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, "๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข." Frase ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช tampaknya merujuk Mazmur 2:7 yang merupakan Mazmur penahbisan raja Israel.  

Ucapan itu adalah ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ), deklarasi tentang siapa diri Yesus, yakni Anak Allah yang dikasihi dan diperkenan Allah, Raja Israel yang baru, dan sekaligus perintah “๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข!” ditujukan kepada para murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Reaksi para murid adalah tersungkur dan sangat ketakutan (ay. 6). Itu adalah deklarasi kedua. Deklarasi pertama saat pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (lih. Mat. 3:17). 

Mengapa saat ada deklarasi itu para murid sampai tersungkur dan ketakutan?

Dalam ayat sebelumnya (ay. 4) Petrus hendak mendirikan tiga kemah; satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia. Lalu turunlah awan terang menaungi mereka dan terdengar suara Allah sehingga ketiga murid tersungkur dan ketakutan seperti yang ditulis di atas.

Dalam khotbah ada pengkhotbah menafsir ucapan Petrus itu sebagai keinginan Petrus untuk tinggal di gunung itu lebih lama lagi. Pengkhotbah kemudian menyampaikan bahwa orang Kristen tidak boleh hanya ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ berdoa dan menjalin hubungan vertikal dengan Allah sehingga mengabaikan hubungan horisontal dan tugas-tugasnya di dunia. Allah tidak ingin orang Kristen melalaikan tugas-tugas mereka di dunia.

Pesan pengkhotbah itu sebenarnya bagus, namun tafsir itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan melihat konteks perikop dan keseluruhan Injil.

Dalam ucapan Petrus itu tidak ada kalimat eksplisit bahwa ia tidak ingin turun dari gunung. Orang Jawa bilang, “๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฐ.” Petrus secara eksplisit mengusulkan hendak mendirikan kemah atau ฯƒฮบฮทฮฝฮฌฯ‚ (baca: ๐˜ด๐˜ฌe๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด). Kemah di sini merujuk ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ atau ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ถ๐˜ค๐˜ช di zaman Musa (Kel. 26:1-37; 33:7-9; 40:1-38). Kitab Keluaran Septuaginta menggunakan kata ๐˜ด๐˜ฌe๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด untuk kemah.

Di ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ถ๐˜ค๐˜ช itu Allah hadir dan tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Di ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ itu Allah dapat dijumpai oleh Musa. 

Namun Yesus tidak menanggapi gagasan Petrus dan malah Allah turun tangan. “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฆ, ๐˜—๐˜ฆ๐˜ต, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ฆ.” Begitu kira-kira kata Allah, “๐˜Ž๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Œ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.” Musa dan Elia sudah hilang dari pandangan sehingga usulan Petrus sudah basi. Allah tak membutuhkan ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ถ๐˜ค๐˜ช untuk berkata kepada Petrus. Menjadi murid Yesus berarti mendengarkan Yesus, Musa baru, Raja Israel yg baru, Mesias rajani. Jadi, pendirian kemah di gunung itu tidak jadi bukan karena Allah tidak mau Petrus dkk. melalaikan tugas-tugas mereka di dunia.

Melihat ketiga murid-Nya tersungkur dan ketakutan, Yesus menghampiri mereka, “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต!”

Kisah Transfigurasi Yesus diakhiri dengan pesan Yesus kepada para murid untuk merahasiakan pelihatan atau แฝ…ฯฮฑฮผฮฑ (baca: ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข) atau ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ itu sampai Yesus dibangkitkan Allah dari antara orang mati (Mat. 17:9). Mengapa harus dirahasiakan dulu? 

Kemuliaan Yesus, Sang Mesias, hanya layak diberitakan apabila kemuliaan itu tidak dilepaskan dari penderitaan-Nya sampai mati di kayu salib karena dibunuh oleh para pemimpin Yahudi yang tidak menerima diri-Nya sebagai Mesias, Raja Israel yang baru, Anak Allah yang dikasihi Allah.

Perayaan Minggu Transfigurasi merupakan momen menyiapkan umat untuk lebih ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฎ guna menghadapi tantangan lebih berat dan lebih besar lagi.

(09022026)(TUS)


Minggu, 08 Februari 2026

SUDUT PANDANG HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

SUDUT PANDANG HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN 

PENGANTAR
Markus 8:1-10. Perikop ini sering tenggelam dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5.000 orang yang terdapat dalam Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17, dan Yohanes 6:1-13. Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10 dan keempat perikop tersebut. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis. Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang (Mrk. 8:1-10) terjadi di luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang Grika perantauan.  Para murid Yesus sebelumnya sudah menyaksikan bagaimana Ia memberi makan 5.000 orang. Suasana yang mirip terjadi juga di Dekapolis, tetapi para murid tetap saja tidak peka. Mereka berpikir Yesus tidak akan memberi makan, karena orang-orang itu bukan orang Yahudi. Ternyata mereka keliru! Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkan-Nya. Jelas sekali di sini Yesus melayani tanpa pamrih. Tidak ada cerita tentang pertobatan atau mereka menjadi pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang (ay. 9). Dari teladan pelayanan Yesus semestinya gereja melayani melewati batas golongan sendiri dan tanpa strategi untuk menjadikan mereka anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup. Pelayanan serbacakup mestilah menyentuh orang yang tidak seagama seperti yang telah Yesus lakukan. Gereja mesti membuat Kristen lebih membumi, lebih mengikuti akal sehat. Gereja mesti lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih manusiawi, lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. Beragama bukanlah untuk urusan vertikal saja, yang menekankan gatra ritual dan kemurnian ajaran. Keluhuran ajaran agama mestilah dipraktikkan secara nyata untuk mengembangkan wawasan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kemiskinan, keadilan sosial, demokrasi, ancaman terorisme dan korupsi, dlsb.

PEMAHAMAN
Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ada di keempat Injil. Namun, tidak banyak orang yang cermat, termasuk pengkhotbah, bahwa kisah ini sebenarnya berbeda. Contoh, Injil Yohanes menyebut lima roti dan dua ikan dari seorang anak, sedang ketiga Injil sinoptis menyebut lima roti dan dua ikan itu milik para murid. Itu baru dari isi cerita. Konteks dan pesan kisah itu berbeda karena para penulisnya berbeda dan mengusung teologi yang berbeda pula.
LAI memberi judul perikop bacaan Injil Matius 14:13-21 ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Pengarang Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru. Dapat diduga kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dilatari oleh pengalaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa di padang gurun sesudah keluar dari Mesir menuju Kanaan dalam kitab Keluaran 16. Kedua cerita itu hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel dikenyangkan oleh “roti yang diturunkan Allah dari langit”. Kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang laki-laki juga dilatari oleh penggandaan roti jelai oleh Nabi Elisa (lih. 2Raj. 4:1-7, 42-44). Namun, bukan berarti pengarang kitab Injil mencontek kisah di Perjanjian Lama (PL), tetapi pengarang Injil hendak menafsir kisah ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ bahwa Yesus lebih besar daripada Musa. Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ seorang diri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Mendengar hal itu orang banyak yang mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat. 14:13-14, TB II 2023)
Berita apa yang didengar oleh Yesus? Berita pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes. Yesus menyingkir. Hal ini sama dengan Matius 4:12 ketika Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara, Yesus menyingkir. Pada teks bacaan disebut Yesus pergi seorang diri ke tempat terpencil. Dapat diduga berita pembunuhan Yohanes Pembaptis tersebut berbobot historis. Versi Injil Markus Yesus tidak menyingkir, melainkan Ia mengajak murid-murid-Nya beristirahat di tempat sunyi sesudah mereka kelelahan menjalan misi dari Yesus (Mrk. 6:30-31). Versi Injil Lukas Yesus mengajak murid-murid-Nya menyendiri di Kota Betsaida, bukan tempat sunyi (Luk. 9:10). Versi Injil Yohanes Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Kepergian Yesus tidak ada hubungannya dengan kematian Yohanes Pembaptis karena pasal yang mendahuluinya tidak bercerita tentang Yohanes Pembaptis (Lih. Yohanes 5 – 6:1). Sesudah Matius menceritakan Yesus pergi ke tempat terpencil, kemudian ayat-ayat selanjutnya muncul dialog Yesus dengan murid-murid-Nya, tetapi tidak dijelaskan alat transportasi yang digunakan oleh mereka. Apakah mereka menyusul dengan perahu atau lewat jalan darat? Tidak jelas. Yang pasti adalah orang banyak menyusul Yesus berjalan kaki atau lewat jalan darat. Frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata ๐˜ข๐˜ณ๐˜ณe๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด, yang berarti literal tak berdaya. 
Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal seperti dalam Injil Markus 6:34 dan tidak berbicara tentang Kerajaan seperti disebut dalam Injil Lukas 9:11. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual. Menjelang malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.” Yesus berkata kepada mereka, “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช, ๐™ ๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!” Jawab mereka, “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Yesus berkata, “๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ.” (Mat. 14:15-18, TB II 2023). Keterangan waktu menjelang malam hendak menyatakan bahwa betapa sempit waktu bagi khalayak untuk mencari makan. Bahkan ucapan murid pada frase ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ yang diterjemahkan dari ๐˜ฉa๐˜ณ๐˜ข a๐˜ฅe ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณo๐˜ญ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ berarti literal waktu sudah habis. Matius tampaknya hendak menciptakan ketegangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka memojokkan Yesus dengan alasan waktu sudah habis sehingga mereka mengharapkan Yesus segera memberi perintah kepada khalayak untuk mencari makanan. Rupanya tanggapan Yesus di luar dugaan para murid. Orang banyak tidak perlu pergi, bahkan Yesus memberi perintah kepada para murid, “๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!” Mendengar perintah itu para murid berusaha ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญe๐˜ด, “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Perintah Yesus itu berlaku sepanjang masa. Gereja tidak boleh menutup mata kepada orang kelaparan, orang tak berdaya. Gereja harus memberi mereka makan tanpa syarat. Tidak ada alasan bagi Gereja tidak memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan.  Mendengar jawaban para murid yang ngelรจs itu Yesus berkata, “๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ.” Gereja melayani dari yang ada, bukan mengada-ada, persembahan kantong sudah cukup dan cakup untuk dikelola tidak perlu yang lain karena kebutuhan hakiki gereja adalah peduli sesama dan memuliakan Tuhan, cukuplah dan cakuplah asal dikelola dengan hati-hati. Apalagi mengada-adakan alasan-alasan untuk bermewah-mewah dg gedung, pesta ulang tahun, sidang-sidang yg hanya banyak habis di konsumsi, dlsb. Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat. 14:19-21, TB II 2023). ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต diterjemahkan dari ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ข๐˜ด ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ; ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ dapat berarti surga. Kosmologi pada zaman itu surga terletak di atas bumi datar yang berbentuk seperti tampah. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ diterjemahkan dari ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จe๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ, yang berarti literal memberkati (roti). Teks ini janggal, karena kebiasaan orang Yahudi adalah memberkati (atau mengucap doa berkat kepada) Allah, bukan barang (roti). Kitab Injil adalah produk Gereja, bukan kitab Injil membuat Gereja. Gereja sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan teks kitab Injil ini sangat bolehjadi sudah berwarna kristiani, karena Gereja atau umat Kristen meyakini roti ekaristi adalah roti kudus. ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ tentu maksudnya membelah-belah roti. Dalam keluarga Yahudi prosesi pemecahan roti dilakukan oleh kepala keluarga sebagai isyarat memula makan. Tidak ada penjelasan Yesus juga membelah-belah ikan karena lazimnya makan bersama diawali dengan pemecahan roti. Sesudah pemecahan roti Yesus memberikan roti-roti itu kepada murid-murid-Nya, kemudian mereka memberikannya kepada orang banyak. Di sini murid-murid akhirnya memberi makan orang banyak seperti perintah Yesus dan sekaligus menjadi perantara. Demikianlah sepatutnya Gereja yang sudah diberi berkat oleh Allah, maka memberikan berkat kepada orang banyak di luar Gereja. Khalayak makan sampai kenyang. Frase ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ diterjemahkan dari kata ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉo๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus, “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Kata ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ di sini diterjemahkan dari kata ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉo๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช, yang berakar kata yang sama dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Tampaknya Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga menyenyangkan secara ragawi. Haruslah ada kesetimbangan. Jangan sampai umat ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ. Khalayak bukan saja makan sampai kenyang, roti pun masih berlebih sampai dua belas bakul penuh. Sepatutnya seperti itulah selalu ada makanan di Gereja. Namun, jika para pejabat gerejawi tidak peduli, tidak pernah mau mendengar, mereka justru membiarkan umat mencari makan di tempat yang tidak tepat. Jumlah lima ribu orang yang makan, belum termasuk perempuan dan anak-anak, juga tertulis di Markus 6:44. Dapat dimengerti pada waktu itu di masyarakat Yahudi hanya laki-laki dewasa yang dihitung atau dipentingkan. Orang Yahudi menyukai keluarga besar. Dapat dibayangkan jumlah total orang yang makan. Bukan tak mungkin jumlah totalnya mencapai 30 ribu orang. Dari lima roti dan dua ikan, yang sejumlah itu hanya dapat dimakan oleh dua orang dewasa, dapat memberi makan ribuan orang. Perbuatan kecil berdampak luar biasa. Demikian halnya Gereja tak perlu ragu-ragu untuk berbuat kebajikan, meskipun hanya perbuatan kecil. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. Pejabat gerejawi yang malas belajar, tidak mau mendengar, tidak akan pernah mengenyangkan umat. Jangan salahkan umat, apabila mereka mencari makan di tempat lain.

 (06082023)(TUS)

Sabtu, 07 Februari 2026

SUDUT PANDANG GARAM BUMI/TANAH DAN TERANG DUNIA

SUDUT PANDANG GARAM BUMI/TANAH DAN TERANG DUNIA

PENGANTAR 

Banyak pengkhotbah ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ membaca metafora garam dan terang itu. Oleh karena tafsir lama tidak atau jarang memperhitungkan sudut pandang sastra dan bahasa serta tradisi rabbinik atau tradisi para nabi, demikian halnya catatan pada Talmud dan Midras. Tidak bisa dipungkiri ajaran Yesus sebagai sumber yang dikutip penulis Injil, adalah kritisi kehidupan pada zamannya yang penuh penindasan, penjajahan, dan pejabat serta pemuka agama korup. Sastra Israel kuno atau sastra Ibrani, seringkali menggunakan metafora dan juga perbandingan. Yesuspun sering menggunakan hal ini dalam pengajarannya yang kemudian dikutip dg ideologi teologi masing-masing penulis injil. Sejak, penjala manusia, ucapan bahagia, dan garam bumi serta terang dunia sampai tidak satu iota pun itu berada dalam satu lembar atau gulung perkament atau papirus yang kemudian bbrp abad setelah baru dibuat perikop per perikop. Belum lama ini Kristus memanggil murid-murid-Nya dan memberitahukan bahwa mereka akan menjadi penjala manusia. Di sini penulis Injil Matius lebih lanjut menyampaikan apa yang menjadi rancangan-Nya bagi mereka -- garam bumi/tanah, dan terang dunia, agar mereka benar-benar menjadi seperti yang diharapkan-Nya itu. 

Matius 5:13 ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. (TB II)

LAI menerjemahkan garam dunia dari แผ…ฮปฮฑฯ‚ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮณแฟ†ฯ‚ (baca: halas tes ges). Kata ฮณแฟ†ฯ‚ (ges) lebih tepat diterjermahkan menjadi bumi, tanah karena dunia dari frase terang dunia diterjemahkan dari ฮบฯŒฯƒฮผฮฟฯ… (baca: kosmou). Istilah atau frase yang lebih tepat adalah garam bumi. Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkan ฮณแฟ†ฯ‚ (ges) sebagai ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฉ.

Sangat boleh jadi garam bumi ini benda nyata di zaman Matius untuk menggarami tanah seperti secara tersurat dalam Lukas 14:35a ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. Dan memang, ada tradisi pada zaman  itu menggunakan garam kelas dua, untuk membuat subur tanah agar tumbuhan tumbuh, ketika garam bumi/tanah digunakan tetapi tidak membuat tumbuhan tumbuh itu di sebut tawar dalam bahasa Yunani disebut MORANTHE atau TAPPEL dalam bahasa Aram, yang bisa bermakna BODOH. Jadi, saya bingung kenapa ini makna nya garam bumi/tanah itu pupuk, sejak dari dulu orang berkhotbah mengkaitkan dengan garam dapur ..... bingung ah.  Pengarang Injil Matius kemudian menggunakan benda ini menjadi metafora untuk dikenakan kepada Jemaat Matius. Jemaat ideal Matius merupakan gereja dalam konteks dunia: bumi sebagaimana dicerap pada zaman itu. Kamu adalah garam bumi/tanah. Kata-kata ini akan mendorong dan menyokong mereka saat mengalami penderitaan, agar sekalipun diperlakukan hina, ditindas, dan disingkirkan mereka harus tetap menjadi berkat bagi bumi, lebih-lebih ketika sedang di tengah-tengah penderitaan, kalau tidak memiliki harapan semangat untuk berbuah, maka itulah tawar, itulah sebuah kebodohan. Para nabi  atau tradisi para nabi yang tercatat di Talmud dan midras bahkan di PL yang ada sebelum zaman Yesus dan para murid adalah garam bagi tanah / bumi, yang dimaksud tanah/bumi adalah tanah/bumi Kanaan/Israel, tetapi para murid dan Yesus adalah terang dunia bagi seluruh dunia, tidak hanya bagi Israel/kanaan ini kritisi Yesus atau kritik penulis Injil Matius atas kehidupan zaman itu menggunakan sumber-Sumber pengajaran Yesus, kritik terhadap sikap hidup orang yang eksklusif, ditindas, dianiaya, disingkirkan tetap harus membuat lingkunganya bertumbuh dengan optimisme, seperti halnya garam bumi/tanah (zaman sekarang mungkin pupuk)  yang ditebar agar tanah/bumi itu menjadi media baik untuk tumbuhan serta tumbuhan dapat terus hidup, Garam bumi/Tanah, dengan bekerja tanpa suara seperti garam bumi/tanah, maka segenggam garam bumi/tanah itu akan menyebarkan pengaruh manfaatnya ke mana-mana, menjangkau daerah yang luas, dan bekerja tanpa terasa dan tanpa penolakan seperti bekerjanya ragi (13:33), tepat kata Paulus, Paulus yang menanam, Apollos yang menyiram tetapi Tuhan yang menumbuhkan (1 Kor 3:6). Buah pengajaran Injil yang dipertunjukan dengan sikap hidup atau attitude umat, itu seperti garam bumi/tanah, yang menembus, cepat dan sangat kuat (Ibr. 4:12). Ia menjangkau hati (Kis. 2:37). Tetapi tidak cukup hanya bagi Israel atau Kanaan, harus menjadi terang dunia, bagi dunia. Garam bumi/tanah menggambarkan masyarakat atau umat yang tertindas, terjajah, tersingkirkan saat itu, yang seharusnyalah tetap punya pengharapan untuk menumbuhkan atau berbuah kalau tidak berarti tawar atau bodoh, sedangkan terang dunia menggambarkan seharusnyalah masyarakat atau umat yang menjadi pejabat atau pemuka agama itu menerangi dalam artian tidak menindas atau menjajah. Frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข diterjemahkan dari ฯ†แฟถฯ‚ ฯ„ฮฟแฟฆ ฮบฯŒฯƒฮผฮฟฯ… (baca: phos tou kosmou). Untuk menjelaskan makna terang dunia penulis Injil Matius menganalogikan dengan ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช. Jemaat atau umat adalah terang dunia sehingga tidak mungkin tersembunyi dari mata dunia. Jika tersembunyi, ia bukan lagi terang dunia. Bukan lagi gereja. Seperti pelita yang menerangi semua orang di dalam rumah, demikian juga gereja menerangi seisi dunia, inklusif. Pelita bukan untuk ditutupi cahayanya, melainkan untuk menerangi, inklusif tidak eksklusif, bukan hanya untuk Israel/Kanaan tapi untuk dunia. Kalau tak menerangi, kalau eksklusif, ia bukan gereja lagi.

PEMAHAMAN

 "Halas" (แผ…ฮปฮฑฯ‚) dalam bahasa Yunani dan "melach" (ืžֶืœַื—) dalam bahasa Ibrani, "Tabbel" dalam bahasa Aram, berarti "garam", namun keduanya memiliki asal kata yang berbeda.
- "Melach" (ืžֶืœַื—) adalah kata Ibrani yang digunakan dalam Alkitab Ibrani untuk garam.
- "Halas" (แผ…ฮปฮฑฯ‚) adalah kata Yunani yang digunakan dalam Septuaginta (terjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani) untuk menerjemahkan kata "melach" (ืžֶืœַื—).
-"Tabbel" adalah kata Aram untuk garam yang dimaknai sebagai pupuk.
Dalam konteks linguistik, "halas" dan "melach" dapat dianggap sebagai kata-kata yang setara (cognate) karena keduanya berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Semitik, yaitu m-l-ch atau h-l-ch, yang berarti "garam" atau "asin".
Jadi, meskipun "halas" dan "melach" memiliki asal kata yang berbeda, keduanya memiliki makna yang sama, yaitu "garam".  "Garam bumi" adalah terjemahan dari bahasa Yunani "แผ…ฮปฮฑฯ‚ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮณแฟ†ฯ‚" (halas tฤ“s gฤ“s), yang secara harfiah berarti "garam bumi" atau "garam tanah", pada zamannya itu semacam garam kelas dua yang dipakai sebagai pupuk atau penguat tanah, dikatakan tawar ketika tidak dapat membuat tumbuhan bertumbuh, jadi beda jauh dengan garam dapur, karena garam dapur itu tidak bisa tawar, garam itu diberi air sebanyak apapun, airnya yg tidak berasa asin karena lebih banyak dari garamnya, tapi garamnya tetap asin, karena struktur kimianya tidak berubah. Garam bumi dan terang dunia adalah dua metafora yang digunakan oleh Yesus dalam Matius 5:13-16 untuk menggambarkan peran murid-muridnya juga di dunia.
Garam bumi (Matius 5:13), Garam bumi merujuk pada pengaruh positif dan perubahan yang dibawa oleh murid-murid Yesus dalam masyarakat. Garam bumi / tanah digunakan sebagai bahan penguat tanah yang menyebabkan pertumbuhan , sehingga murid-murid Yesus diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa kesegaran dan kebaikan dalam masyarakat, walaupun dalam kondisi ditindas dan terjajah.
Terang dunia (Matius 5:14-16), Terang dunia merujuk pada kesaksian dan pengaruh murid-murid Yesus yang menerangi dunia, inklusif. Terang adalah simbol kebenaran, keadilan, dan kasih, sehingga murid-murid Yesus diharapkan menjadi sumber terang yang menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang lain.
Kaitan antara garam bumi dan terang dunia adalah bahwa keduanya memiliki peran yang sama, yaitu membawa pengaruh positif dan perubahan dalam masyarakat, baik dalam kondisi tertindas, tersingkirkan dan terjajah maupun dalam kondisi yang baik, misalkan memiliki kekuasaan, jabatan, dan wewenang. Garam bumi menekankan aspek pengaruh yang lebih "tersembunyi" dan "dalam", walau tertindas dan terjajah bahkan tersingkirkan tapi tetap mendatangkan  berkat (boleh dikata Kristologi dari bawah, Kristologi asia, Kristologi bangsa-bangsa terjajah), sedangkan terang dunia menekankan aspek kesaksian yang lebih "terang" dan "terlihat", walau punya kuasa, jabatan, dan wewenang tetapi tidak lupa diri, tidak menindas, tidak menjajah tetapi tetap menjadi berkat bagi yang di bawahnya (boleh dikata Kristologi dari atas, Kristologi eropa, Kristologi nya bangsa-bangsa penjajah). Dalam kata lain, garam bumi adalah tentang bagaimana murid-murid Yesus membawa perubahan dalam masyarakat melalui pengaruh mereka yang positif, walau dalam kondisi terjepit sedangkan terang dunia adalah tentang bagaimana mereka menjadi sumber terang yang menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang lain, dalam kondisi yang lebih baik. Ini kritisi Yesus atas hidup masyarakat zamannya yang tertindas, dan kritisi atas hidup para pejabat dan pemuka agama korup serta penjajah Roma. Kedua metafora ini menekankan pentingnya murid-murid Yesus untuk menjadi agen perubahan yang aktif dan membawa pengaruh positif dalam masyarakat, baik dalam posisi di atas maupun di bawah, serta menjadi sumber terang yang menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang lain.
Kritik Yesus atas situasi politik zamannya sangat relevan dengan konteks garam bumi dan terang dunia. Pada zamannya, Yesus hidup di bawah pemerintahan Romawi yang oppressif dan korup, pemuka agama korup dan menindas serta di tengah-tengah masyarakat Yahudi yang dipimpin oleh pemuka agama yang lebih mementingkan kekuasaan dan status sosial daripada keadilan dan kasih.
Dalam konteks ini, garam bumi dan terang dunia dapat diartikan sebagai kritik Yesus atas situasi politik zamannya:
Garam bumi: Yesus mengkritik masyarakat  ditindas terjajah yang tidak memiliki harapan yang lebih mementingkan nasibnya sendiri tidak peduli orang lain, daripada keadilan dan kasih dalam kebersamaan. Mereka telah menjadi "garam yang tawar", tidak lagi membawa perubahan positif dalam masyarakat. Sebaliknya, Yesus memanggil murid-muridnya untuk menjadi "garam bumi", membawa perubahan positif dan keadilan dalam masyarakat, walau tertindas dan terjajah bahkan tersingkirkan. Terang dunia: Yesus mengkritik kegelapan dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Romawi dan pemuka agama korup. Mereka telah menutupi kebenaran dan keadilan, sehingga masyarakat tidak dapat melihat jalan yang benar, mereka bukan pengayom masyarakat, mereka tidak menerangi. Sebaliknya, Yesus memanggil murid-muridnya untuk menjadi "terang dunia", menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang-orang yang tertindas.
Dalam konteks ini, Yesus tidak hanya berbicara tentang spiritualitas individu, tetapi juga tentang keadilan sosial dan politik. Ia memanggil murid-muridnya untuk menjadi agen perubahan yang membawa keadilan, kasih, dan harapan kepada orang-orang yang tertindas dan terpinggirkan, dan tidak menyalah gunakan kuasa, jabatan, dan wewenang saat ada di atas. Kritik Yesus atas situasi politik zamannya juga relevan dengan situasi politik saat ini. Ia memanggil kita untuk menjadi garam bumi dan terang dunia, membawa perubahan positif dan keadilan dalam masyarakat, serta menerangi kegelapan dan membawa harapan kepada orang-orang yang tertindas, tidak menyalah gunakan kekuasaan serta wewenang saat menjabat.  Pada zaman Yesus, rakyat tertindas dan orang tersingkirkan adalah kelompok yang sangat rentan dan tidak memiliki hak-hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Mereka termasuk: Orang miskin: Mereka yang tidak memiliki harta dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Pekerja harian: Mereka yang bekerja sebagai buruh harian dan tidak memiliki jaminan keamanan kerja. Janda dan anak yatim: Mereka yang kehilangan suami atau orang tua dan tidak memiliki sumber penghasilan. Orang sakit dan cacat: Mereka yang menderita penyakit atau cacat fisik dan tidak dapat bekerja. Pajak-pajak yang berlebihan: Mereka yang dipaksa membayar pajak yang tinggi oleh pemerintah Romawi. Orang Samaria: Mereka yang dianggap tidak murni dan tidak layak oleh masyarakat Yahudi.
Yesus sangat peduli dengan kelompok-kelompok ini dan sering kali menentang perlakuan tidak adil terhadap mereka. Ia mengajarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berharga dan layak mendapatkan kasih dan keadilan. Dengan demikian, Yesus menunjukkan bahwa iman tidak hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang keadilan sosial dan kasih kepada orang lain. Ia memanggil kita untuk menjadi agen perubahan yang membawa keadilan dan kasih kepada orang-orang yang tertindas dan tersingkirkan. Jadi, saya juga bingung kalau perkara garam bumi/tanah ini, ada yang mengkaitkan dengan perjanjian garam di PL, di kejadian, bilangan, dan tawarikh. Itulah kenapa kemudian sambungannya adalah tidak satu iota pun, karena tolok ukur dari garam bumi/tanah serta terang dunia itu adalah hukum taurat (10 perintah) yang tidak dikurangi oleh Yesus tapi hanya digenapi dengan pengajaran hukum kasih (2 hukum kasih).
(08022026)(TUS)
BAHAYA KHOTBAH YANG ANTROPOSENTRIS !!!

Khotbah antroposentris adalah khotbah yg menempatkan manusia sebagai pusat, sementara Allah dan karya-Nya menjadi latar belakang atau alat pendukung.

Secara sederhana:
๐Ÿ‘‰ manusia menjadi subjek utama, Allah menjadi sarana.
1. Ciri utama khotbah antroposentris
a. Fokus pada kebutuhan dan perasaan manusia
Pertanyaan utama yang dijawab:
Apa yang saya dapat?
Bagaimana saya sukses?
Bagaimana Tuhan menolong rencana saya?
Bukan:
Siapa Allah?
Apa yang Allah kerjakan dalam Kristus?
Apa kehendak Allah bagi manusia berdosa?

b. Allah dipresentasikan sebagai “penolong agenda manusia”
Allah:
dipakai untuk memulihkan harga diri
dipakai untuk membuka berkat
dipakai untuk menyukseskan mimpi
Doa dan iman menjadi alat, bukan respons penyembahan

c. Dosa direduksi, salib dipinggirkan
Dosa dipahami sebagai kegagalan mencapai potensi,
bukan pemberontakan terhadap Allah kudus.
Salib menjadi simbol harapan atau motivasi, bukan penebusan dan penghakiman atas dosa.

d. Teks Alkitab dijadikan ilustrasi, bukan otoritas
Alkitab:
dipotong untuk mendukung ide motivasi
dipakai sebagai “ayat penguat”
tidak dibaca dalam konteks penebusan

2. Contoh sederhana
Antroposentris:
“Daud mengalahkan Goliat supaya kita berani menghadapi masalah besar dalam hidup.”
Biblika / Kristosentris:
“Allah menyelamatkan umat-Nya melalui Daud, menunjuk kepada Kristus sebagai Raja sejati yg mengalahkan musuh yang tidak mampu kita kalahkan.”

3. Dampak khotbah antroposentris
Jemaat:
termotivasi sesaat, tetapi dangkal secara iman
Iman:
bergantung pada hasil
runtuh saat penderitaan datang
Gereja: ramai, tetapi kehilangan kedalaman teologis

4. Lawan dari khotbah antroposentris
Bukan “khotbah dingin” atau “akademis”,
melainkan khotbah teosentris dan kristosentris:
Allah adalah pusat cerita
Kristus adalah inti pesan
manusia dipanggil untuk bertobat, percaya, dan taat
Roma 11:36
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.”

Khotbah antroposentris:
- memuliakan manusia
- memakai Allah
- menghibur tanpa menyelamatkan.

Sedangkan khotbah Injili:
- memuliakan Allah
- memberitakan Kristus
- mengubahkan manusia.

#christianity #christian #gospel #iman #faith

Kamis, 05 Februari 2026

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

PENGANTAR
Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, termasuk perihal penjala manusia, ucapan bahagia, garam terang, pintu, dlsb . Ucapan bahagia yang dalam bahasa aslinya bisa dimaknai sebagai TERHORMATLAH dan TERHINALAH/TERINJAKLAH serta bisa pula dimaknai TERBERKATILAH dan TERKUTUKLAH dalam banyak terjemahan Alkitab  ditulis BAHAGIA dan CELAKA. Sehingga, latar belakang bahwa penulis Injil menuliskan itu dalam tradisi rabinik atau tradisi para nabi, dimana itu sebetulnya kritikan keras pada penindasan, pemuka agama korup dan penjajahan para pejabat pemerintahan tentunya juga memberikan pengharapan pada yang tertindas dan terjajah, sering menjadi kabur, oleh karena dipakai berkhotbah menjadi dasar dari pembelajaran motivasi atau pidato/ presentasi para motivator mimbar, sadarilah ..... ini suara ke nabi an yang didengungkan oleh penulis Injil dalam zaman penindasan dan penjajahan dengan mengutip kisah suara ke nabi an Yesus dari bbrp sumber. Serta tidak bisa dipungkiri, itu merujuk pada tradisi para nabi dan suara ke nabi an pada zamannya.

PEMAHAMAN
Jangan Lupa Bahagia? Akhir-akhir ini yang sering saya dengar dari para motivator mimbar, saya selalu memegang prinsip TIDAK ADA TAFSIR YANG SALAH TERLEBIH BENAR, YANG ADA HANYA TAFSIR YANG DAPAT DIPERTANGGUNG JAWAB KAN ATAU TIDAK. DIPERTANGGUNG JAWAB KAN DENGAN APA? DENGAN ARGUMENTASI YANG NALAR (DAPAT DITERIMA JEMBATAN - JEMBATAN NALARNYA). Menurut saya, apa yang disampaikan para motivator mimbar lemah argumentasi tafsir nya, bukan salah atau keliru. Karena, tidak melihat lebih dalam nuansa zaman latar belakang ucapan bahagia tersebut. Ucapan bahagia, adalah penguatan harapan pada bagian masyarakat yang tertindas, terjajah, tersingkirkan bahkan teraniaya pada zaman itu tetapi juga kritikan keras pada pejabat atau pemuka agama korup yang menindas, menjajah, menyingkirkan bahkan menganiaya masyarakat kecil dan lemah, kaum terpinggirkan. Saya mencoba menggambarkan kritisi Yesus yg dikutip oleh penulis Injil Matius dengan pengenaan kini pada konteks ucapan bahagia, sbb :
"Gallup Poll, dan Harvard University menemukan melalui sebuah survei penelitian di ratusan negara bahwa Indonesia, masyarakat Indonesia merupakan yang paling bahagia, negara dengan tingkat 'flourishing' tertinggi di dunia, serta masyarakat yang paling optimistis." Demikian klaim Presiden Prabowo Subianto ketika ia menyampaikan pidato sebagai pembicara di World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss. Terlepas dari betapa pun bisa dipertanyakan— karena merepresentasikan secara keliru hasil survei tersebut—klaim itu mencerminkan kecenderungan banyak orang untuk menjadikan kebahagiaan sebagai summum bonum (tujuan akhir) dalam kehidupannya. Senyampang dengan itu, dalam masyarakat yang sibuk mengejar kebahagiaan, optimisme pun menjelma salah satu kebajikan utama. Kecenderungan tersebut merupa, antara lain, dalam bagaimana penerjemah Indonesia memaknai prolog khotbah Yesus di gunung. Tajuk yang diberikan bagi perikop Matius 5:1-12 dalam TBI dan TB2 tetap dan sama: Ucapan Bahagia. Dan, kata Gerika makarios pun terus dialihbahasakan menjadi "berbahagialah".
Padahal,jamak penerjemah berbahasa Inggris mengalihbahasakannya menjadi blessed, yang berarti "terberkatilah". Senada dengan kata yang digunakan dalam Vulgata, yakni beatus. Itupun bisa dimaknai TERHORMATLAH. Demikian pula, dalam terjemahan bahasa Jawa, kata yang dipilih adalah rahayu, yang berarti "selamatlah", "damailah", atau "tenteramlah".






Selasa, 03 Februari 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด MATIUS 5 :13-20, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ

Sudut  ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด MATIUS 5 :13-20,  [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]
๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ

PENGANTAR
Minggu, 08 Februari 2026, Kita harus jeli dan perlu mengkaji ulang tafsir lama, kita harus berani melihat sudut pandang baru dan berkembang atas tafsir Alkitab, kita harus jujur dalam melihat Alkitab saat ini ke depan. Termasuk melihat lagi, konteks seperi istilah tentang gembala, tentang pintu, tentang penjala manusia, tentang khotbah di gunung, bahkan tentang garam terang, dlsb. Seringkali melihat pengkhotbah YouTube, berteriak kamu harus menjadi garam dan terang, kamu harus mau diproses menjadi garam dan terang, kamu harus berproses menjadi garam dan terang, dlsb ..... menurut saya ini argumentasinya lemah karena dalam Alkitab tidak pernah dimaksudkan begitu, tetapi yang terlihat dalam Alkitab itu, umat Tuhan ... kita-kita ini adalah garam dan terang, sudah jadi garam dan terang bukan sedang berproses. Harus dipahami dan tak bisa disangkali,  bahwa istilah penjala manusia, ucapan bahagia dan garam serta terang itu berlatar belakang kritisi penulis Injil dg menggunakan keteladanan Kristus untuk mengkritisi penindasan dan ketidak Adilan pada zaman itu, kritisi terhadap pemuka agama yang tidak layak, kritisi terhadap pemuka agama dan pejabat korup, kritisi terhadap pemerintahan yang berlaku saat itu dan kritisi thp penjajahan. Maka, saya selalu mengatakan dosa besar gereja bukan ketidak taatan tetapi KOMPROMI atas tawaran dunia. Karena jelas dasar pengajaran Kristus dan juga Yohanes Pembaptis (kaum esseni) adalah JANGAN JADI SAMA DENGAN DUNIA.
Minggu lalu kita sudah membahas mengapa istilah ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด lebih tepat ketimbang Khotbah di Bukit untuk menamai pengajaran Yesus dalam Matius pasal 5 -7. Kita juga sudah mengulas sembilan ucapan bahagia sebagai pembuka Khotbah di Gunung. 


PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu kelima sesudah Epifani. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 5:13-20 yang didahului dengan Yesaya 58:1-9a (9b-12), Mazmur 112:1-9 (10), dan 1Korintus 2:1-12 (13-16).

Bacaan Injil Minggu ini mencakup hampir dua perikop:
• Garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16)
• Yesus dan hukum Taurat (Mat. 5:17-20 yang merupakan bagian perikop Mat. 5:17-48)

Metafora garam dan terang dunia tentunya sudah kita dengar sejak kita masih di Sekolah Minggu. Meskipun demikian masih banyak pengkhotbah ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ membaca metafora garam dan terang itu sebagai perintah atau tuntutan. Dalam khotbahnya umat diperintah atau diharapkan untuk menjadi garam dan terang itu. Padahal teks Injil Matius sama sekali tidak ada perintah menjadi garam dan terang dunia.

๐—š๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐—•๐˜‚๐—บ๐—ถ

Matius 5:13 ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. (TB II)

LAI menerjemahkan garam dunia dari แผ…ฮปฮฑฯ‚ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮณแฟ†ฯ‚ (baca: halas tes ges). Kata ฮณแฟ†ฯ‚ (ges) lebih tepat diterjermahkan menjadi bumi, tanah karena dunia dari frase terang dunia diterjemahkan dari ฮบฯŒฯƒฮผฮฟฯ… (baca: kosmou). Istilah atau frase yang lebih tepat adalah garam bumi. Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkan ฮณแฟ†ฯ‚ (ges) sebagai ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฉ.

Sangat boleh jadi garam bumi ini benda nyata di zaman Matius untuk menggarami tanah seperti secara tersurat dalam Lukas 14:35a ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. Pengarang Injil Matius kemudian menggunakan benda ini menjadi metafora untuk dikenakan kepada Jemaat Matius. Jemaat ideal Matius merupakan gereja dalam konteks dunia: bumi sebagaimana dicerap pada zaman itu.

Ucapan ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข bukanlah perintah atau tuntutan. Ketika saya mengucapkan “Kamu cantik” apakah saya sedang menyuruh perempuan untuk menjadi cantik? Ucapan itu adalah pernyataan pengukuhan (๐˜ข๐˜ง๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ). Ia sudah cantik, bukan disuruh menjadi cantik. Kita sudah garam, bukan disuruh menjadi garam.

๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Para murid diperintah oleh Yesus untuk mengabarkan Injil ke semua penjuru bumi (Mat. 28:18-20). Untuk itulah Matius mengaitkan metafora tersebut dengan peringatan: jika jemaat atau umat menjadi tawar, ia akan dibuang dan diinjak. Jemaat yang menjadi tawar adalah jemaat yang kehilangan jatidirinya. Ia tidak dapat diasinkan lagi. Ia bukan garam lagi. Ia bukan jemaat Kristus lagi. Jatidiri umat adalah meneladan Kristus, memuridkan dirinya pada diri Yesus, kalau tindakan kita tidak meneladan Kristus dan kita tidak tunduk taat memuridkan diri kita pada sosok Yesus, maka kita tak berguna.

๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐——๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ

Matius 5:14-16 ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข. ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. (TB II)

Frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข diterjemahkan dari ฯ†แฟถฯ‚ ฯ„ฮฟแฟฆ ฮบฯŒฯƒฮผฮฟฯ… (baca: phos tou kosmou). Untuk menjelaskan makna terang dunia penulis Injil Matius menganalogikan dengan ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช. Jemaat atau umat adalah terang dunia sehingga tidak mungkin tersembunyi dari mata dunia. Jika tersembunyi, ia bukan lagi terang dunia. Bukan lagi gereja.

Matius juga menjelaskan terang dunia dengan analogi ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. Seperti pelita yang menerangi semua orang di dalam rumah, demikian juga gereja menerangi seisi dunia. Pelita bukan untuk ditutupi cahayanya, melainkan untuk menerangi. Kalau tak menerangi, ia bukan gereja lagi. Maka, konsep pemahaman Alkitab itu tak seiring sejalan dengan karya gereja dalam artian ritual legalistik dalam gereja (ngumpet Nang gerejo) tetapi konsep pemahamannya Alkitab adalah hidup di tengah dunia, hidup di tengah masyarakat. Maka, karya bergereja (di dalam gereja) dan ritual legalistik bergereja adalah 1 hari  dalam seminggu untuk menguatkan pemahaman atas karya Kristus, atas teladan Kristus, atas pengenangan akan Kristus, tetapi praksisnya atau perimbangannya adalah tindakan nyata 6 hari untuk memperlihatkan atau mewujudkan kenangan atas karya Kristus itu dalam keseharian, mewujud nyatakan teladan Kristus dalam dunia atau kehidupan nyata, itu liturgi yang berjalan menjadi liturgi kehidupan, dan itu yang dimaksud oleh pokok ajaran GKJ bahwa hidup adalah sebuah perjalanan keselamatan (bukan untuk mendapatkan keselamatan).

Mengapa terang tidak boleh tersembunyi dan tidak boleh ditutupi? Matius memberikan konklusi (kesimpulan atau rangkuman suatu argumentasi)  agar orang melihat perbuatan baik itu lalu memuliakan Allah Bapa di Surga, agar ketika melihat kehidupan umat yang meneladan Kristus maka Kristus dimuliakan. Syarat orang memuliakan Allah Bapa di Surga adalah melihat lebih dahulu perbuatan baik gereja di bumi. Perbuatan baik apa? Tidak jelas dalam perikop ini, namun dalam penutup Injil Matius Yesus memberi perintah “…๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ” (Mat. 28:20).

๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ง๐—ฎ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜ (Mat. 5:17-20, TB II)

5:17 “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.
5:18 ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ง ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช.
5:19 ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข; ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข.
5:20 ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช-๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข.

Dalam akhir musim lalu kita sudah melihat bagaimana Lukas menetapkan standar orang kaya ideal Kristen dalam Kisah Zakheus. Berat. Penginjil Matius juga menetapkan standar gaya hidup jemaatnya yang tak kalah berat, yaitu Matius 5:20 di atas.

Kebenaran atau hidup keagamaan jemaat Matius harus melampaui standar kebenaran ahli Taurat dan orang Farisi. Tuntutan kesalehan yang amat tinggi ini tampaknya bertentangan dengan cerapan tentang Yesus yang pengampun. Minggu lalu kita sudah membahas tentang ucapan bahagia, yang satu di antaranya Matius 5:7 “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.” (TB II)
 
Meskipun Yesus penuh belas kasih dan pengampun, hal itu tidak meniadakan tuntutan-Nya yang sangat tinggi terhadap umat-Nya. Alih-alih pendosa, setara kesalehan ahli Taurat dan orang Farisi saja dipandang belumlah cukup. Jemaat dituntut untuk menjadi anak Allah paripurna, “๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข”. (Mat. 5:48, TB II).

Berat? Memang, .... berani melangkah? Berani meneladan?.

(03022026)(TUS)


Baal tidak datang sebagai musuh yang menakutkan. Ia datang sebagai jawaban yang "terasa" masuk akal. 

Di tanah Kanaan, hidup bergantung pada hujan, tanah subur, dan musim yang tepat. Baal dikenal sebagai penguasa hujan dan kesuburan—ilah yang menjanjikan panen, ternak berkembang, dan hidup yang aman. 
Bagi manusia yang lelah menunggu dan takut kekurangan, janji itu terdengar menenangkan.

Masalahnya, Baal tidak menuntut pertobatan hati. Ia hanya menuntut "ritual". 
Selama persembahan diberikan dan upacara dijalankan, kehidupan "diyakini" akan baik-baik saja. 
Iman tidak lagi soal kesetiaan, tetapi soal transaksi. 

Tuhan Israel mengajar umat-Nya untuk percaya dan taat, bahkan ketika ladang belum hijau dan menguning. 

Baal mengajarkan hal sebaliknya: percaya jika hasilnya terlihat.
Perlahan, Baal menggeser cara manusia memandang Allah. 

Tuhan yang hidup dianggap terlalu serius, terlalu menuntut ketaatan, terlalu sunyi. 

Baal terasa lebih “dekat”, lebih praktis, dan lebih bisa diatur. 
Namun di balik janji kesuburannya, Baal membentuk hati yang bergantung pada hasil, bukan pada kebenaran. 

Ketika hujan menjadi ukuran iman, maka iman itu sendiri telah kehilangan dasarnya.
Penyembahan kepada Baal akhirnya merusak lebih dari sekadar ibadah. Ia mengaburkan nilai, merendahkan kekudusan, dan mencampur aduk penyembahan dengan hawa nafsu. 

Apa yang dimulai sebagai harapan akan hidup yang baik, berubah menjadi ikatan yang menjerat batin. Baal tidak pernah memberi kepastian sejati—ia hanya membuat manusia terus mengejar, tanpa pernah benar-benar dipuaskan.

Di hadapan Baal, manusia belajar menggantungkan hidup pada sesuatu yang bisa gagal. 

Di hadapan Tuhan yang hidup, manusia diajak percaya bahkan saat langit tertutup. 

Dan di situlah perbedaannya: yang satu menjanjikan hujan, yang lain memegang langit itu sendiri.

Kata Alkitab 
“Ada jalannya yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”
Amsal 14:12

Tuhan Yesus memberkati ๐Ÿ™

Minggu, 01 Februari 2026

MENELISIK KEPERCAYAAN SUMERIA SEBAGAI LELUHUR ABRAHAM.
(Permintaan seorang teman di kolom komentar. cc. Chris Setyanto SH )

Selama berabad-abad, Abraham ditempatkan sebagai figur awal monoteisme: sosok yang konon memutus total masa lalu, meninggalkan dunia berhala, lalu menerima wahyu Tuhan personal yang kelak melahirkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun narasi ini jarang diuji secara jujur. 
Jika Abraham benar-benar ditarik dari konteks sejarah dan wilayah asalnya, pertanyaan mendasar justru muncul: kepercayaan apa yang membentuk kesadaran Abraham sebelum ia disebut sebagai bapak monoteisme ?

Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke wilayah asalnya: Sumeria–Mesopotamia, bukan ke Yerusalem

Sumeria: Wilayah dan Peradaban, Bukan Sekadar Nama Kuno

Sumeria bukan negara, bukan suku tunggal, dan bukan agama wahyu. Ia adalah peradaban tertua manusia yang berkembang sekitar 3500–2300 SM di wilayah yang kini berada di Irak selatan, di antara Sungai Tigris dan Efrat.

Kota-kota besar seperti Ur, Uruk, Eridu, Lagash, dan Nippur menjadi pusat kehidupan ekonomi, hukum, dan spiritual manusia purba. Dari wilayah inilah lahir:
- tulisan pertama (aksara paku),
- hukum tertulis,
- kota terorganisir,
- dan yang paling penting: kosmologi sistemik tentang semesta.

Ketika Alkitab menyebut Abraham berasal dari Ur Kasdim, itu berarti ia lahir dan tumbuh di jantung dunia kosmologis Mesopotamia. Tidak ada ruang hampa spiritual di sana. Tidak ada manusia yang lahir tanpa kerangka pemahaman tentang semesta.

Sistem Kepercayaan Sumeria: Kosmologi, Bukan Agama Moral

Kepercayaan Sumeria tidak mengenal Tuhan personal, iman, atau keselamatan. Yang ada adalah kosmologi: cara memahami keteraturan semesta.

Inti kosmologi Sumeria adalah:

1. Semesta sebagai Makrokosmos

Semesta dipahami sebagai sistem besar yang hidup, tunduk pada hukum-hukum kosmik yang disebut ME (baca meh = keseimbangan semesta). Hukum ini tidak diciptakan oleh dewa; justru para dewa adalah personifikasi dari hukum dan kekuatan alam itu sendiri.

Langit, air, angin, kesuburan, dan kehidupan tidak disembah sebagai pribadi, melainkan dikenali sebagai kekuatan kosmik.

2. Manusia sebagai Mikrokosmos

Manusia adalah bagian kecil dari semesta, bukan pusatnya. Hidup manusia bermakna sejauh ia selaras dengan tatanan kosmik.

Tidak ada konsep umat pilihan. Tidak ada janji surga. Tidak ada neraka. Yang ada adalah keseimbangan atau kehancuran.

Dengan kata lain, manusia tidak diperintah oleh Tuhan personal, tetapi dituntut memahami posisinya dalam semesta.

Abraham: Produk Pergeseran Dunia Kosmologis, Bukan Ruang Wahyu Kosong

Jika Abraham lahir di Ur, maka hampir mustahil ia tidak dibentuk oleh kosmologi Mesopotamia. Ia hidup di dunia di mana:
- ritual agraris adalah bagian hidup,
- kurban adalah praktik kosmik, bukan moral,
- alam dipahami sebagai sistem hidup.

Monoteisme Abraham pada tahap awal bukanlah Tuhan metafisik universal, melainkan dewa suku yang ditinggikan. 
Tuhan dipahami:
- berjalan,
- berbicara langsung,
- bernegosiasi,
- terikat wilayah dan keturunan.

Ini adalah ciri dewa transisional, bukan Tuhan absolut.

Dari Kosmos ke Tuhan Personal: Abraham Memasuki Kanaan

Ketika Abraham memasuki tanah Kanaan, ia memasuki wilayah konflik identitas. Di sinilah perubahan besar terjadi.

Kosmologi mulai ditinggalkan. Tuhan tidak lagi hukum semesta, melainkan:
- sosok personal,
-pemberi perintah,
- penentu moral,
- penjamin identitas suku.

Janji Tuhan tidak lagi bersifat kosmik, tetapi politis dan genealogis: tanah, keturunan, dan berkat eksklusif.

Di sinilah embrio agama Yahudi lahir: bukan sebagai filsafat semesta, tetapi sebagai agama identitas.

Yahudi: Institusionalisasi Tuhan Personal

Agama Yahudi berkembang dengan menegaskan pemisahan:
- Tuhan vs alam
- umat pilihan vs bangsa lain
- hukum ilahi vs hukum kosmik

Kosmologi digantikan oleh hukum (Taurat). Kesadaran digantikan oleh ketaatan.

Narasi lama pun direvisi: masa lalu kosmologis dicap berhala, sementara Tuhan personal diklaim sebagai satu-satunya kebenaran.

Mengapa Ini Penting Dibaca Ulang Hari Ini ?

Di era modern:
- sains berbicara hukum alam,
- ekologi mengajarkan keterhubungan,
- spiritualitas menolak dogma personalistik.

Dengan kata lain; Manusia kembali melihat dirinya sebagai mikrokosmos dalam makrokosmos.

Di titik inilah, ajaran:
๐Ÿ”ต Yesus tentang Kerajaan Tuhan di dalam diri,
๐Ÿ”ตSiti Jenar tentang Manunggaling Kawula Gusti,
justru lebih dekat dengan kesadaran kosmologis Sumeria daripada agama Abrahamik institusional

Penutup: Abraham Bukan Awal, Melainkan Titik Belok

Abraham bukan awal kesadaran spiritual manusia. Ia adalah titik belok sejarah, ketika manusia mulai meninggalkan kosmos dan membangun Tuhan personal.

Kini, ketika agama-agama besar mengalami kelelahan makna, manusia perlahan kembali ke kesadaran lama—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pemahaman matang:
๐Ÿ”ดBahwa semesta bukan milik Tuhan personal, dan manusia bukan pusat ciptaan, melainkan bagian hidup dari tatanan kosmik yang agung.

Menelisik kepercayaan leluhur Abraham bukan berarti menolak iman, tetapi membuka kembali pintu kesadaran yang pernah ditutup oleh dogma.

๐Ÿ˜ฎSemesta bukan ciptaan Tuhan, berarti kamu berasal dari monyet ia..?
Semesta ini ciptaan nenek mu ia ??

๐Ÿ˜†Jangan panik gitu.
Tuhan adalah Energi Semesta dan juga Energi hidup yang ada dalam dirimu.
Bagaimanapun proses terciptanya semesta adalah karena adanya Energi itu.
Tenang saja, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka proses dan teknis terciptanya semesta itu akan terjawab.
Karena ternyata Tuhan yang menciptakan Adam dalam Alkitab adalah Tuhan yang ketinggalan jaman. 

Dari saya anak negeri yang telah memahami kenapa pergolakan agama selalu terjadi di tanah ini.
Horas, Rahayu, Salam Nusantara lainnya.
Manunggaling Kawula Gusti.

Sabtu, 31 Januari 2026

Kejahatan Onan dan Asal Usul Istilah Onani.

Kisah Onan tercatat dalam Kejadian 38. Setelah Er, kakaknya, mati karena kejahatannya di hadapan Tuhan, Onan menerima kewajiban pernikahan levirat: ia harus menghampiri Tamar, janda kakaknya, untuk memberikan keturunan bagi Er. Namun sejak awal Onan tahu, anak yang lahir bukan akan dianggap miliknya, melainkan milik kakaknya. Di sinilah masalah dimulai—bukan pada relasi suami-istri itu sendiri, melainkan pada sikap hati yang penuh perhitungan dan penolakan tanggung jawab.

Alkitab mencatat bahwa Onan sengaja menggagalkan tujuan pernikahan itu. Ia menikmati haknya sebagai suami, tetapi menolak kewajiban yang menyertainya. Ia mengambil kenikmatan, namun menolak konsekuensi; menerima keuntungan, tetapi menghindari tanggung jawab. 

Tindakan ini dilakukan berulang dan dengan sadar. Karena itulah perbuatannya dipandang jahat di mata Tuhan, bukan sekadar karena aspek fisiknya, melainkan karena unsur penipuan, egoisme, dan pembangkangan terhadap ketetapan ilahi serta keadilan bagi Tamar.

Dari kisah inilah kemudian muncul istilah “onani” dalam tradisi dan bahasa umum, yang merujuk pada tindakan seksual yang berpusat pada diri sendiri. Namun penting dipahami, Alkitab tidak sedang membahas praktik medis atau psikologis modern, melainkan menyoroti sikap hati Onan. 

Inti dosanya bukan semata tindakan biologis, tetapi motivasi yang salah: ia menggunakan tubuh orang lain untuk kepentingannya sendiri sambil merampas hak hidup dan masa depan yang seharusnya diberikan kepada Tamar.

Kisah Onan mengajarkan bahwa Tuhan menilai manusia secara utuh—tindakan lahiriah dan niat batin. Dosa sering kali tidak tampil sebagai kejahatan kasar, tetapi sebagai penolakan halus terhadap tanggung jawab, dibungkus dengan kenyamanan pribadi. 

Onan menjadi gambaran manusia yang ingin berkat tanpa komitmen, kenikmatan tanpa ketaatan, dan hak tanpa kewajiban.

Karena itu, kisah ini bukan sekadar asal-usul sebuah istilah, melainkan cermin rohani. Ia mengingatkan bahwa iman sejati menuntut integritas: keselarasan antara apa yang kita terima dan apa yang kita tanggung. Tuhan tidak berkenan pada hidup yang hanya mengambil, tetapi memuliakan mereka yang setia memikul tanggung jawab, sekalipun itu menuntut pengorbanan.

Kata Alkitab
Kejadian 38:9-10 
Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.

Tuhan Yesus memberkati ๐Ÿ™

Senin, 26 Januari 2026

Sudut Pandang Matius 5:1-12 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ

Sudut Pandang Matius 5:1-12 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ

PENGANTAR
Minggu 01 Februari 2026, Penulis Injil Matius lebih suka menggambarkan Yesus sebagai Musa baru, selalu Yesus dipadankan bahkan dilebihkan dari Musa, apabila Musa menerima perintah (10) dari Allah di gunung Sinai, maka Yesus digambarkan memberikan perintah baru di gunung juga sehingga rasanya kurang tepat memberikan judul khotbah di bukit. Nanti, kita lihat dan telaah hal ini. Dalam Sudut ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ beberapa waktu yang lalu, kita dapat melihat bahwa pengarang Injil Matius mengusung teologi Keluaran atau ๐˜Œ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด; Yesus adalah Musa baru. Kelahiran Yesus disejajarkan dengan kelahiran Musa, yang Firaun membunuhi anak-anak Ibrani. Dalam Kitab Keluaran Musa menerima Taurat di gunung. Dalam Injil Matius Yesus bukan menerima, tetapi lebih berkuasa daripada Musa dengan memberikan “Taurat” baru lewat pengajaran-Nya di gunung dalam apa yang disebut dengan ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด (Mat. 5-7). 
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) membuat judul Matius pasal 5 -7 dengan ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต. Judul ini kurang tepat.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ฮฟ̓́ฯฮฟฯ‚ 

Di sini LAI tidak panggah menerjemah แฝ„ฯฮฟฯ‚ (baca: oros). Dalam Matius 5:1 LAI menerjemah แฝ„ฯฮฟฯ‚ dengan ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, sedang dalam Matius 5:14 dengan ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. Judul pasal 5 – 7 diberi nama ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต oleh LAI.

Matius 5:1 ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐™—๐™ช๐™ ๐™ž๐™ฉ … ” Penerjemahan แฝ„ฯฮฟฯ‚ menjadi ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ini menimbulkan persoalan besar karena mengaburkan teologi ๐˜Œ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด Matius karena Matius hendak menyejajarkan Musa menerima Taurat di gunung dengan Yesus memberi “Taurat” di gunung. 

Mari kita bandingkan dengan beberapa Alkitab bahasa Inggris yang menerjemah แฝ„ฯฮฟฯ‚ dengan ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ, bukan ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ.
NRSV:  ๐˜ž๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฅ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ …
NIV: ๐˜•๐˜ฐ๐˜ธ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฅ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ข ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ๐™จ๐™ž๐™™๐™š …
KJV: ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ข ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ …

Jadi, ๐—ท๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐—น ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ untuk Matius pasal 5 -7 adalah ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด atau ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜”๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต.

๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด?

Persis sebelum masuk ke Matius 5:1, teks yang mendahuluinya adalah Matius 4:24-25 (TB II LAI, 1997).
4:24 Lalu tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. 
4:25 Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Pendengar pengajaran Yesus dalam Khotbah di Gunung adalah orang-orang seperti disebut dalam Matius 4:24-25 dengan kalimat kunci ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜‹๐˜ช๐˜ข. Teks ini kemudian disambung dengan Matius 5:1 ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™  ๐™ž๐™ฉ๐™ช … Hal ini  dipertegas dalam penutup ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด dalam Matius 7:28-29:
7:28 Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐—ถ๐˜๐˜‚ mendengar pengajaran-Nya,
7:29 sebab Ia mengajar ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.


PEMAHAMAN
Belum lama berselang ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด ๐˜•๐˜ฆ๐˜ต๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฌ (SDSN) mengumumkan 10 besar negara paling berbahagia (Ref: ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ ๐˜๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต 2022). Negara-negara dari Skandinavia merajai kelompok ini ditambah Israel dan Selandia Baru. Indonesia? Jauh api dari panggang. Ukuran bahagia yang diterapkan oleh SDSN: 
• GDP per kapita, 
• Angka harapan hidup sehat, 
• Dukungan sosial, 
• Kebebasan mengambil keputusan dalam hidup, 
• Kemurah hatian, dan 
• Cerapan terhadap korupsi. 

Bagaimana ukuran bahagia menurut Injil?

Hari ini adalah Minggu keempat sesudah Epifani. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 5:1-12 yang didahului dengan Mika 6:1-8, Mazmur 15, dan 1Korintus 1:18-31.

Perikop bacaan Injil Minggu ini diberi judul ๐˜œ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข oleh LAI, yang merupakan bagian pertama dari ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด dalam Matius pasal 5 -7. LAI yang memberi judul cakupan tiga pasal itu dengan ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต sebenarnya kurang tepat. Judul yang tepat adalah ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด. Para pendengar ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด adalah orang banyak (ribuan?) dengan merujuk Matius 4:24-25 dan 7:28-29.

Ucapan bahagia didahului dengan kata “Berbahagialah …” bukanlah syarat untuk berbahagia, melainkan orang itu sudah dalam keadaan dan situasi berbahagia. Kata awal berbahagialah adalah ucapan berkat. Lawannya adalah kutukan dengan kata awal celakalah (lih. Mat. 23:15-36).

๐Ÿญ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฏ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ. (TB II)

Menurut para ahli ucapan bahagia versi Injil Lukas mendekati aslinya: ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ (Luk. 6:20, TB II). Yang dimaksud oleh Lukas tampaknya orang yang benar-benar miskin secara sosio-ekonomi. Tidak punya apa-apa.

Penulis Injil Matius meluaskan dan merohanikan miskin sebagai keadaan tidak berdaya sehingga bergantung pada Allah saja. Meskipun yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak berdaya, dalam kenyataan orang-orang seperti itu adalah orang-orang miskin secara sosio-ekonomi. Mengapa mereka berbahagia? Kata Yesus, mereka yang punya Kerajaan Surga.

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฐ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ถ๐˜๐—ฎ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ต๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ฟ. (TB II)

Kata dukacita diterjemahkan dari ฯ€ฮตฮฝฮธฮฟแฟฆฮฝฯ„ฮตฯ‚ (baca: penthountes) sehingga lebih berpautan dengan kematian seseorang yang dikasihi atau kehilangan sesuatu yang disayangi. NRSV menerjemahkan ฯ€ฮตฮฝฮธฮฟแฟฆฮฝฯ„ฮตฯ‚ dengan ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ. 

Mengapa orang berdukacita itu berbahagia? Mereka akan dihibur. Dihibur oleh siapa? Oleh Allah. Ciri khas kata kerja pasif di Alkitab tanpa objek pelaku adalah Allah pelakunya. Latar belakang penghiburan ini tampaknya dari Yesaya 61:2.

๐Ÿฏ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฑ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐˜, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—บ๐—ถ. (TB II)

Lemah lembut diterjemahkan dari ฯ€ฯฮฑฮตแฟ–ฯ‚ (baca: praeis), yang juga berarti rendah hati. NRSV menerjemahkan dengan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ. Mengapa berbahagia? Mereka akan memiliki bumi.

Ucapan bahagia ketiga ini tampaknya dari Mazmur 37:10-11:
37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.
37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

Di sini rendah hati dikontrakan dengan fasik. Orang fasik seperti pejabat kristiani tidak layak memiliki lahan, negeri, bumi, apalagi kesejahteraan yang berlimpah-limpah, tapi merusak alam dg tambang tanpa tata kelola. Negara memang harus dikelola oleh orang lemah lembut, rendah hati.

๐Ÿฐ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฒ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐˜‚๐˜€ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป. (TB II)

Dalam TB 1974 LAI menerjermahkan ฮดฮนฮบฮฑฮนฮฟฯƒฯฮฝฮทฮฝ (baca: dikaiosynen) menjadi ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ yang secara lengkap ayatnya berbunyi: ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. LAI merevisinya penerjemahan ฮดฮนฮบฮฑฮนฮฟฯƒฯฮฝฮทฮฝ dalam TB II 1997 menjadi ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

Dalam Lukas 6:21a ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. Penulis Injil Matius menambah dan merohanikan menjadi ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Tampaknya metafora itu bernasabah dengan Matius 6:33: ๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜•๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.

Apa itu Kerajaan Allah? Sulit ditakrifkan, tetapi bisa dilihat ciri-cirinya: mendatangkan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Jadi, orang yang rindu mendatangkan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat adalah orang-orang yang berbahagia karena akan dipuaskan oleh Allah.

๐Ÿฑ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿณ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป. (TB II)

Belas kasihan diterjemahkan dari แผฮปฮตฮฎฮผฮฟฮฝฮตฯ‚ (baca: eleฤ“mones) yang bermakna sikap suka mengampuni, berbelas kasih, berbelarasa atau ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ช๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ, ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ. Di Injil Matius sikap suka mengampuni, berbelas kasih, berbelarasa adalah ajaran penting (Mat. 9:13 dan 12:7). Bahkan dalam Matius 23:23 ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด dalam Hukum Taurat.

๐Ÿฒ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿด ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐˜‚๐—ฐ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต. (TB II)

Ucapan bahagia keenam ini tampaknya diinspirasi dari Mazmur 24:3-6.
24:3 "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
24:4 "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.
24:5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.
24:6 Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Kata suci hatinya di Matius 5:8 sama dengan murni hatinya di Mazmur 24:4 karena dalam Septuaginta ditulis ฮบฮฑฮธฮฑฯฮฟแฝถ ฯ„แฟ‡ ฮบฮฑฯฮดฮฏแพณ (baca: katharoi te kardia) sama seperti di Injil Matius.

Orang yang suci hatinya adalah yang bersih tangannya, tidak menipu, dan tidak bersumpah palsu (Mzm 24:4), bukan seperti para pejabat kristiani busuk, yang merusak alam dengan tambang tanpa tata kelola. Seperti kata Matius 15:19 (TB II): ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ป๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ด๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต. 

Orang yang suci hatinya akan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, yang metafora ini dalam Alkitab BIMK diartikan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

๐Ÿณ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿต ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ถ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜ ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต. (TB II)

Pembawa damai (๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด) atau ฮตแผฐฯฮทฮฝฮฟฯ€ฮฟฮนฮฟฮฏakan (baca: eirenopoioi) disebut anak-anak Allah. Anak-anak Allah merupakan metafora yang memerikan (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ) kedekatan atau keeratan hubungan seperti antara anak dan bapanya.

๐Ÿด. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿญ๐Ÿฌ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ. (TB II)

Tidak semua orang yang dianiaya berbahagia; hanya yang melakukan kehendak Allah yang berbahagia atau diberkati (๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ). Alasan mereka berbahagia sama dengan ucapan bahagia yang pertama. Orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah dan orang yang miskin di hadapan Allah sama-sama pihak yang tak berdaya.

๐Ÿต. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿญ๐Ÿญ-๐Ÿญ๐Ÿฎ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚, ๐—ท๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—”๐—ธ๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฐ๐—ฒ๐—น๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ณ๐—ถ๐˜๐—ป๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ท๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜. ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ต๐—บ๐˜‚ ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ, ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐—ฑ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ป๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ-๐—ป๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚. (TB II)

Kekristenan kerap berat sebelah menekankan teologi anugerah bahwa keselamatan manusia semata-mata anugerah Allah, bukan karena perbuatan baik. Padahal Injil Matius secara terang benderang berbicara mengenai pahala (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ). Perbuatan baik diganjar berkat atau pahala (Mat. 6:1-16; 10:41-42; 19:28-29). Berbuat kebajikan bagi orang-orang tak berdaya sama saja berbuat untuk Yesus (Mat. 25:45). Injil Lukas pun mengajarkan hal yang sama (lih. Luk. 6:22-23).

Sesudah menelaah sembilan ucapan bahagia di atas, apakah gatra-gatra (๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ด) itu sejalan dengan ukuran bahagia SDSN? Sila menilai sendiri.

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: “๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜บ.” Alexander Fleming

(27012026)(TUS)

Sabtu, 24 Januari 2026

Sudut Pandang memuridkan mencintai literasi dari Matius 4 :13-23

Sudut Pandang memuridkan mencintai literasi  dari Matius 4 :18-23

PENGANTAR
Minggu 25 Januari 2026,  sebagian bacaan Injil kita, Matius 4:18-23 (TB)
18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 
19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
20 Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 
21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 
22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. 
23 Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
Terkhusus Minggu ini, kita merayakan Hari Literasi GKJ yang ke-3 dan Hari Ulang Tahun ke-74 Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia. Dalam Sidang Sinode XXIX GKJ, 21-24 November 2023, ditetapkan Hari Literasi GKJ bertepatan dengan Hari Ulang Tahun
Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, YTPKI merupakan salah satu lembaga pelayanan dalam naungan Sinode GKJ yangmelayani di bidang literasi. Hal ini tertuang dalam Akta Sinode
XXIX GKJ, artikel 35. Melalui Hari Literasi GKJ ini, Gereja-gereja dalam lingkup Sinode GKJ pada khususnya diajak untuk menyadari
bahwa pelayanan literatur merupakan pelayanan yang penting, bukan hanya untuk pemeliharaan iman, namun juga dalam pemberitaan atau Pekabaran Injil. Kehidupan Gereja dalam melaksanakan tugas panggilannya juga tidak bisa lepas dari peran literatur pendukung. Literatur bisa menjadi cara atau sarana untuk bersaksi tentang Kristus dan karya kasih-Nya, sehingga melalui literatur banyak orang bisa “tertangkap” dalam terang 
kasih Kristus. Hidupnya dikuatkan, hatinya yang gelap diterangi, harapannya tumbuh kembali. Jadi mari maknai Hari Literasi GKJ saat ini dengan semangat untuk berkarya bersama-sama memenuhi panggilan Tuhan, ikut serta dalam Pemberitaan Injil di tengah dunia ini. Kita saling mendukung, melengkapi, memperhatikan dan peduli. Biarlah melalui seluruh karya yang kita lakukan baik secara pribadi maupun sebagai Gereja, juga termasuk karya 
pelayanan literatur GKJ, khususnya melalui Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, Injil – Kabar Baik itu semakin tersebar. Kehadiran kita di tengah dunia ini mampu memancarkan Kristus, Sang Terang.


PEMAHAMAN
Literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami informasi tertulis. Tapi, literasi bukan hanya tentang itu saja. Literasi juga mencakup kemampuan untuk menganalisis, menafsirkan, dan menggunakan informasi untuk membuat keputusan yang tepat.

Literasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti:

- Literasi dasar (membaca, menulis, berhitung)
- Literasi informasi (mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi)
- Literasi digital (menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproses informasi)
- Literasi kritis (menganalisis dan menafsirkan informasi untuk membuat keputusan yang tepat)

Literasi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dapat membantu kita untuk:

- Membuat keputusan yang tepat
- Mengakses informasi yang akurat
- Berkomunikasi efektif
- Meningkatkan kemampuan belajar dan bekerja

Tuhan Yesus tidak mencari pengikut, sejak mula, kalau pengikut ..... artinya hanya ikut, ikut, ikutan, ikut-ikutan ....... tak ada perubahan status dan tak ada yang perlu diajarkan dari apa yang dipelajari, pengikut hanya tinggal tetap, hanya menjadi duplikat atau copy dari yang diikuti, hanya stay dan tak ada naik kelas, tak ada pertumbuhan karena hanya mengikut, tak ada pengorbanan, tak ada yang perlu ditinggalkan, tak ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan atau diperbaharui menjadi pembelajaran pada kebiasaan yang baru, terlebih  tak ada pertumbuhan. Berbeda dengan murid, Yesus mencari murid, ada hal yang harus dibayar oleh seorang murid, harus meninggalkan kebiasaan buruk, harus berkorban, karena harus belajar terus, harus terus menerus berkembang pengetahuannya, harus bertumbuh, murid hatinya mau diajar dan mau ditegur, sekarang mau jadi pengikut atau mau jadi murid. Ketika Yesus memilih para nelayan, bukan karena Yesus suka orang bodoh, tetapi Yesus menunjukan kuasa dan kebijaksanaan Yesus dalam memuridkan, dan keinginan para nelayan menjadi murid (Yohanes Calvin), tidak bisa tidak, pengetahuan menjadi titik penting dari pertumbuhan iman dan pemuridan, iman tidak akan meninggalkan daya nalar atau akal Budi, Paulus pun berpendapat demikian, bahwa pertumbuhan pengetahuan berimbang atau seiring sejalan dengan pertumbuhan iman. Pembaharuan akal budi adalah konsep yang penting dalam Alkitab, terutama dalam surat Paulus kepada warga Efesus dan Roma. Berikut beberapa ayat Alkitab yang relevan:

- Roma 12:2- "Janganlah kamu sama dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
- Efesus 4:23 - "Hendaklah kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,"
- Kolose 3:10 - "dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya."

Ayat-ayat ini menekankan pentingnya pembaharuan akal budi sebagai bagian dari proses perubahan spiritual yang dialami oleh orang Kristen. Pembaharuan akal budi melibatkan perubahan dalam cara berpikir, merasakan, dan bertindak, sehingga kita dapat lebih memahami dan mengikuti kehendak Allah.

Pembaharuan akal budi juga terkait dengan proses pemulihan citra Allah dalam diri kita, sehingga kita dapat menjadi lebih seperti Yesus dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. orang Jawa pun memiliki filosofi tentang pengetahuan, "ELING MARANG NGELMU SARAK DALIL, SINUNG KANUGRAHANING PANGERAN", Ingatlah akan pengetahuan dan norma kehidupan, maka diberkati kemurahan Tuhan. Pertumbuhan Pengetahuan itu terkait literasi, Selamat Hari Literasi.

(25012026)(TUS)

Jumat, 23 Januari 2026

Sudut Pandang Liturgi

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

PENGANTAR
Perjumpaan dramatik simbolik antara Allah dan umat. Dlm perjumpaan ada rasa yg tak terungkap lewat kata dan simbol,  ada dialog. Dialog ada kata ada simbol, yg pasti saling atau timbal balik dua arah. Ada protokol bakunya ada unsur bakunya. (walaupun bisa diubah tetapi tidak boleh sembarangan). Siapa yg tidak membolehkan ? Nah... ๐Ÿคญ .... tetapi bukan itu pertanyaan bakunya, apakah penyusunan liturgi menggunakan ilmu liturgi. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ? ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ? ๐˜š๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ท๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต. Begitu kira-kira bunyi kalimat promosi dari suatu lembaga yang mendaku menawarkan pembinaan dan pelayanan musik gereja.

Musik gereja itu ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ musik liturgi. Tentu saja musik gereja boleh dimainkan di berbagai tempat, bahkan dilombakan. Musik gereja dapat dipelajari pada sekolah-sekolah musik dan untuk itulah musik gereja dapat dipentaskan di berbagai panggung dan dilombakan. Para pemusik pun, bahkan penyanyinya, tidak harus beragama Kristen. Kalimat-kalimat promosi di atas secara tersirat menyampaikan bahwa lembaga tersebut tidak mengerti musik gereja. Ia tidak mengerti bahwa musik gereja berbeda dari musik liturgi.

Beberapa tahun lalu seorang yang mendaku ahli musik klasik mementaskan orkestra dengan menampilkan nyanyian-nyanyian GKI. Warga Gereja (dari Sinwil Jatim?) bereaksi cepat dengan membuat promosi atas konser itu.

Warga gereja acap cepat terpesona oleh pendapat orang yang mendaku musikus klasik tentang musik gerejawi. Dibilang saat ini musik di GKI tidak agung lagi, tidak menggairahkan lagi, dst.

Saya tidak pernah mengatakan bahwa musik di GKI sudah bagus. Yang hendak saya katakan di sini  apakah yang ditampilkan itu dapat menjadi musik liturgi?

Yang patut diingat adalah liturgi tetap dapat berjalan, tetap dapat dirayakan, meskipun tanpa kehadiran alat musik. Dari sini sangat jelas bahwa pemusik melayani liturgi dan harus tunduk kepada liturgi. Pemusik liturgi tanpa dibekali pengetahuan liturgi hanya akan mementingkan ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ mereka sendiri. Musik tidak boleh menenggelamkan para peraya liturgi bernyanyi.

Alat-alat musik seperti apa yang sesuai dengan liturgi?
๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

Pada mulanya tidak ada musik khusus yang lahir dari rahim Gereja. Tradisi musikal Yahudi mengisi kegiatan berdoa bersama dalam Gereja perdana. Tidak ada musik khusus untuk kegiatan warga Gereja. Kata-kata yang diberi nada lalu menjadi nyanyian vokal sederhana mewarnai peribadatan Gereja. Itulah awal mula kelahiran musik liturgi. Belum digunakan alat musik pengiring. Praktik ini berlangsung sampai sekitar abad ke-8. Sesesudah itu perkembangan musik sungguh luar biasa.

Untuk memudahkan pengulasan musik dibagi ke dalam dua kelompok besar: musik gereja dan musik sekular. Musik gereja sendiri digolongkan ke dalam dua kelompok besar: musik liturgi dan musik bukan-liturgi yang kemudian musik bukan-liturgi ini dihaluskan menjadi musik spiritual. Contoh, lagu-lagu gerejawi yang dipentaskan dalam konser.

Kehadiran musik dalam liturgi memang tak terbantahkan membuat liturgi punya nilai lebih. Namun, perlu dicatat liturgi tetap dapat berjalan, liturgi tetap dapat dirayakan, meskipun tanpa kehadiran musik liturgi. Musik untuk liturgi harus menyatu dengan tindakan liturgis, menopang liturgi agar dapat menyatakan makna utuh dari bagian-bagian liturgi. Rangkaian nada membantu menghidupkan ritual dan teks liturgis. Teks berkarakter aklamatif sepatutnya diberi nada yang membangkitkan ungkapan sukacita. Musik yang memasukkan nada tidak sesuai dengan karakter teks liturgis dan menenggelamkan para peraya liturgi tidak dapat disebut sebagai musik liturgi. Musik mencemari dan merendahkan martabat liturgi. Musik liturgi adalah pelayan liturgi. Musik liturgi merupakan musik ritual yang secara khusus diciptakan untuk melayani perayaan liturgi.

Liturgi itu suci, maka musik untuk liturgi harus suci juga. ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฟ๐—ฎ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—น, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ๐—น. Tujuan musik liturgi sama dengan tujuan liturgi, yaitu memuliakan Allah dan menguduskan umat. Para pemusik berlaku sebagai pelayan liturgi dan tidak patut menjadikan liturgi sebagai ajang aktualisasi diri dengan berpamer bahwa ia mahir bermain alat musik. Pemusik, penyanyi, kelompok paduan suara jangan menjadikan diri sebagai pusat perhatian umat. Mereka tidak boleh menenggelamkan para peraya liturgi bernyanyi.

Jika liturgi dan musik liturgi itu suci, maka para pemusik harus mengerti menghayati dan menghidupinya. Dalam praktik Gereja lebih mementingkan kemampuan teknikal bermusik kepada para pemusik. Bila perlu para pemusik dikirim berkursus agar lebih mahir. Belum pernah saya melihat para pemusik liturgi diberi bekal pengetahuan liturgi dan spiritual. Para pemusik perlu memahami konteks pelayanan perayaan liturgi yang ragawi dan rohani, duniawi dan surgawi, manusiawi dan ilahi. Untuk itu para pemusik harus diberi bekal pengetahuan liturgi. ๐˜™๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต (Belanda: ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ) secara berkala dapat menjadi pilihan untuk pembinaan mental dan spiritual para pemusik.

Dari ulasan di atas kita dapat menalikan bahwa ciri utama musik liturgi adalah ia tidak menenggelamkan peraya liturgi. Apabila kita melihat dan mendengar musik pada ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik, tidak tampak dan tidak terdengar ia adalah musik liturgi. Oleh karena bukan musik liturgi, maka musik itu hadir bukan untuk liturgi. 

Dengan kata lain ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik itu bukan liturgi, bukan suatu kebaktian. Itu hanyalah sekelompok orang yang hendak mendengarkan ceramah agama yang dimeriahkan dengan musik spiritual. Sesudah mendengar ceramah, para pendengar membayar. Ada yang memasukkan ke kantong-kantong penagihan, ada yang langsung mengirim uang lewat QRIS.




PEMAHAMAN
Reformasi liturgi dalam Gereja Katolik terinspirasi dari Gereja Protestan. Pembaruan pertama dan utama liturgi dalam Gereja Katolik adalah partisipasi umat.

Ironisnya Gereja Protestan, baik arus-utama maupun evangelikal dan kharismatik, malah berjalan mundur, membungkam partisipasi umat. Tidak percaya? Perhatikan saja besok dalam kebaktian Minggu. Partisipasi umat lewat nyanyian jemaat dibungkam dan ditenggelamkan oleh ๐˜ด๐˜ฐ-๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด atau ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ค ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ lewat ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด mereka.

๐—›๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด

Dalam liturgi ada satu anasir sangat penting yang merupakan bagian integral, tetapi tidak atau kurang diperhitungkan sebagai suatu unit ritus dalam struktur ibadah. Apa itu? Keheningan atau saat diam.

Hening dalam perayaan liturgi dapat beraneka arti dan makna. Di bawah atmosfer dunia profan yang gaduh dan riuh serta serba tergesa-gesa, kejap, dan dangkal, umat merindu saat hening. Liturgi dapat menyediakannya, meskipun tidak perlu berlama-lama. Liturgi menyediakan momen bagi umat untuk sekadar mereguk kelembutan nafas ilahi.

Di Gereja Protestan pada umumnya ada ritus ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ bagi umat sesudah mendengarkan khotbah  untuk merenung sejenak. ๐˜š๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ disediakan hendaklah bukan untuk basa-basi. Sebagai contoh, sesudah pendeta mengatakan “Amin” ketika menutup khotbahnya, dalam hitungan kurang daripada 5 detik penatua minta umat berdiri untuk mengucapkan ๐˜š๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต ๐˜™๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช.

Berapa lama durasi ideal untuk saat teduh? Idealnya ½ - 1 menit.

๐—•๐˜‚๐—ธ๐˜‚ ๐—ก๐˜†๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ฎ๐—ป

Dulu, sebelum ada FB, forum diskusi mengandalkan milis. Dalam satu kesempatan saya melayangkan keresahan saya melihat banyak Gereja mula meninggalkan buku nyanyian seperti KJ dan menggantinya dengan tayangan projektor di layar. Menurut saya ini merugikan Yamuger. Waktu itu seorang anggota Yamuger berkomentar ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. Waduh, dalam hati saya, ๐˜ต๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฃe๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ternyata Yamuger tidak butuh duit.

Dengan perkembangan multi-media sekarang penayangan di layar dalam kebaktian sudah makin canggih. Bukan saja menyajikan teks nyanyian, tayangan dilengkapi ilustrasi gambar, bahkan animasi. Pendeta pun memanfaatkan teknologi ini untuk ilustrasi khotbahnya.

Secara fungsional upaya modernisasi ini barangkali efektif dan praktis, tetapi berisiko mengganggu kekhidmatan merayakan liturgi. Pandangan umat tertuju pada layar. Sampai sekarang saya belum pernah melihat gedung gereja arus-utama dirancang untuk ruang ibadah sekaligus untuk ruang seminar atau ruang rapat, kecuali di gereja saya sendiri .... Xi  ..... Xi. Penempatan layar sudah pasti dipaksakan posisinya sehingga merusak estetika interior-arkitektural. Selain itu tayangan teks nyanyian tidak disertai notasi dan informasi lain tentang nyanyian seperti tercetak dalam buku nyanyian.

Jadi, bagaimana ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ agar tetap tampak modern tanpa merusak estetika? Buat saja monitor-monitor kecil di setiap punggung kursi seperti di dalam pesawat Garuda. Mahal ๐˜ฃ๐˜ฐ? Kalau mau murah dan khidmat, ya kembalikan lagi umat diminta membawa buku nyanyian. Pandangan ini tentunya akan bertabrakan dengan pandangan modern generasi muda yang semuanya mengambil point' kemudahan.

Ciri utama musik liturgi adalah ia tidak menenggelamkan peraya liturgi. Apabila kita melihat dan mendengar musik pada ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik, tidak tampak dan tidak terdengar ia adalah musik liturgi. Itu bukan musik liturgi. Oleh karena bukan musik liturgi, maka musik itu hadir bukan untuk liturgi. 

Dengan kata lain ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik itu bukan liturgi, bukan suatu kebaktian. Itu hanyalah sekelompok orang yang hendak mendengarkan ceramah agama yang dimeriahkan dengan musik spiritual. Sesudah mendengar ceramah, para pendengar membayar. Ada yang memasukkan ke kantong-kantong penagihan, ada yang langsung mengirim uang lewat QRIS.

๐— ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—”๐—ฑ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฎ-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ

Sudah banyak Gereja Protestan menerapkan tahun liturgi, seperti pembabakan Adven dan Pra-Paska. Namun, cukup banyak pula yang latah. Mereka meniru, ikut-ikutan, agar terlihat Kristen. Padahal mereka tidak mengerti makna teologis dan liturgis Adven dan Pra-Paska.

Saya berikan contoh nyata. Satu Gereja menerapkan masa Adven, tetapi mereka merayakan Natal pada masa Adven. Ada lagi Gereja yang merayakan Kamis Putih, tetapi mereka menghelat Perjamuan Kudus pada Jumat Agung. Itulah contoh nyata Gereja yang latah.

Secara historis penetapan masa Pra-Paska lebih tua daripada Adven. Tujuannya mirip, yakni memersiapkan diri untuk menyambut. Pada masa Pra-Paska umat memersiapkan diri untuk menyambut kematian dan kebangkitan Yesus, pada masa Adven umat memersiapkan diri untuk menyambut Yesus secara historis (kelahiran) sekaligus eskatologis (kedatangan kembali).

Ada kesamaan lain masa Pra-Paska dan Adven yang jarang diketahui orang, yaitu tentang musik liturgi. Selama masa Pra-Paska dan Adven alat musik tidak boleh dimainkan secara instrumentalia dalam liturgi. Musik dimainkan hanya untuk intro dan mengiringi umat bernyanyi.

Sebagai contoh dalam sesi kolekte sering semua bait lagu sudah dinyanyikan, tetapi peredaran kantong kolekte masih berlangsung. Musik instrumentalia kemudian mengisi jeda itu. Di Gereja Kharismatik sering juga terjadi pendeta berdoa dilatari musik instrumentalia. Praktik seperti ini tidak diperkenankan dalam masa Adven dan Pra-Paska. Mengapa begitu?

Dalam tradisi liturgi Gereja musik instrumentalia yang mandiri menyimbolkan kepenuhan sukacita, kemuliaan, dan perayaan. Musik instrumentalia tanpa nyanyian sama dengan suasana pesta eskatologis. Padahal dalam Adven dan Pra-Paska pesta sukacita itu masih “ditunda”.

Kontras liturgis ini memang disengaja dan sangat pedagogis.
๐—•๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

Tempo hari saya pernah menulis takrif liturgi. Saya ulangi saja. Liturgi bukan ritual, melainkan lebih luas daripada itu. Dalam teologi Kristen liturgi ditakrifkan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilakukan oleh Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi mencakup komunikasi dua arah, Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia (๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด) dan sekaligus manusia yang menanggapi pengudusan Allah itu dengan memuliakan-Nya (๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด). Kedua gerakan itu adalah dua anasir yang tidak dapat dipisahkan, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด. Liturgi selalu bermatra ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—น, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ๐—น. Subjek liturgi adalah Kristus dan Gereja. Liturgi merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja.

Pengertian di atas tentu dari titik pandang teologis yang abstrak. Dari titik pandang praktis bagaimana kita dapat melihat liturgi dalam suatu kebaktian atau misa Gereja sebagai suatu bangunan liturgi?

Sekarang kita membayangkan suatu rangkaian ibadah secara lengkap, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kita buat pembabakannya sbb.:

๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ – ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ – ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—˜๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ถ – ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ

Ritus dalam makna liturgis ditakrifkan sebagai tata cara atau pola tindakan simbolik yang terstruktur yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh Gereja. Dalam satu ritus terdapat beberapa bagian. Misal, ritus pembuka ada bagian atau sesi perarakan Injil, votum, dan salam. Jadi, perarakan Injil yang sering diiringi dengan nyanyian jemaat belum disebut liturgi.

Apa perbedaan ritual dan ritus? Ritual merupakan rangkaian beberapa ritus. 

Dalam Liturgi Sabda ada beberapa ritus yang berjalan membentuk satu ritual. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Dalam Liturgi Ekaristi jumlah ritus lebih banyak, yang tentu saja ada ritus persembahan. Persembahan selalu berpautan dengan Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Dalam Liturgi Ekaristi kolekte dapat dimasukkan sebagai bahan lain persembahan. Bahan utama persembahan adalah roti dan anggur, yang kemudian sesudah ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ข ๐˜š๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ dan ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด๐˜ช menjadi (simbol) kurban tubuh dan darah Kristus. Bahan-bahan lainnya adalah minyak, lilin, dan dapat disertakan kolekte. Apabila hanya Liturgi Sabda, maka kolekte menjadi bagian dalam ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ.

Dalam Gereja Protestan tidak setiap Minggu merayakan Liturgi Ekaristi. Dengan demikian pada umumnya kebaktian Minggu dalam Gereja Protestan pembabakannya dibuat sbb.:

๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ – ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ – ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ

Apabila bangunan liturgi seperti itu, maka tidak ada ritus persembahan, karena tidak ada perayaan Ekaristi. ๐˜“๐˜ฉ๐˜ข kolekte? Kolekte bukanlah persembahan sehingga ia adalah bagian atau sesi dalam ritus penutup. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Bacaan-bacaan Alkitab dan nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dalam Liturgi Sabda. Homili, Syahadat, dan Doa memerdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sungguh keliru menempatkan Mazmur dalam ritus pembuka seperti yang terjadi di beberapa Gereja Protestan.

Bacaan-bacaan Alkitab dihidangkan kepada umat sehingga harta Gereja dibuka selebar-lebarnya bagi mereka. Diperlukan penataan bacaan yang bersistem dan berstruktur agar tampak jelas kesatuan Perjanjian Lama-Perjanjian Baru dengan sejarah keselamatan. Untuk itulah kepentingan penerapan bacaan ekumenis RCL (๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ) agar bacaan seturut tahun liturgi dan tidak mengikuti selera dan ideologi pendeta.

Gereja berwatak injili dalam arti selalu mewartakan Injil (injili di sini bukan maksudnya aliran Evangelikal). Pembacaan Injil adalah puncak Liturgi Sabda. Pembacaan Injil merupakan simbol kehadiran Kristus di tengah-tengah umat beriman dan pada gilirannya mereka memberitakan Injil Kristus.

Ritus penutup pada umumnya terdiri atas bagian atau sesi kolekte, pengutusan, dan berkat.







Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 17:1-9, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฎ!

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 17:1-9 , [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฎ! PENGAN...