Beragama harus berakal sehat
Teologi
Kamis, 28 Mei 2026
Sudut Pandang tentang ๐๐ฝ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ
Senin, 25 Mei 2026
Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Pertunjukan Kasih illahi

Kekristenan menyediakan kesatuan yang seimbang. Kesatuan memang tidak identik dengan keseragaman, namun tetap memerlukan kebenaran sebagai pijakan. Kasih memang menempati posisi sentral, tetapi kasih bukan musuh dari kebenaran. Keduanya seyogyanya berjalan beriringan.
PEMAHAMAN
Teks kita hari ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Yesus Kristus kepada Bapa sesaat sebelum Dia ditangkap dan disalibkan (bdk. 18:1-12). Dia tidak hanya memberikan teladan dan ajaran (pasal 13-16). Dia juga menyerahkan para pengikut-Nya ke dalam tangan Bapa. Dia mendoakan kesatuan untuk mereka.
Doa di atas bukan hanya untuk para pengikut awal, tetapi juga orang-orang Kristen generasi berikutnya (ayat 20b). Yesus Kristus mengetahui dari awal bahwa salib bukanlah akhir dari misi keselamatan. Sebaliknya, tatkala Dia ditinggikan dari bumi, Dia akan menarik banyak orang kepada-Nya (12:32). Orang banyak ini membutuhkan perlindungan dan kesatuan, sama seperti para pengikut yang mula-mula.
Kesatuan seperti apa yang dirindukan oleh Tuhan? Untuk apa kesatuan yang seperti itu?
Karakteristik Kesatuan, Jika kita membaca seluruh doa Yesus Kristus di pasal 17 ini, kita akan menemukan dua ide kunci yang sering kita temukan, yaitu perlindungan dan kesatuan. Dalam dunia yang membenci kebenaran (17:14), para pengikut Tuhan sangat membutuhkan pemeliharaan dan penjagaan (17:11, 12, 15). Selain itu, mereka juga membutuhkan kesatuan. Frasa “supaya mereka menjadi satu” muncul berkali-kali (17:11, 21, 22, 23). Di antara dua ide ini – yaitu perlindungan dan kesatuan – yang terakhir terlihat lebih dominan.
Kesatuan tersebut memiliki beberapa karakteristik. Yang pertama dilandaskan pada kebenaran (ayat 20b) . Di ayat bagian ini orang-orang Kristen generasi berikutnya disebut sebagai orang-orang yang menerima pemberitaan ( logos ) para rasul. Kata logos sudah muncul sebelumnya dan Merujuk pada firman Allah sebagai kebenaran: “Firman-Mu adalah kebenaran” ( ho logos ho sos alร“theia estin , ayat 17b). Logos yang sama sudah diberikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya (17:14a). Ada kesinambungan ajaran dari Yesus Kristus kepada para rasul dan akhirnya pada orang Kristen di segala zaman. Dengan kata lain, kesatuan yang benar adalah kesatuan yang pada kebenaran.
Konsep ini diajarkan secara konsisten oleh para rasul. Gereja yang benar dibangun di atas dasar para nabi dan para rasul dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru (Ef. 2:20). Kesatuan yang dirindukan oleh Tuhan mencakup “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah” (Ef. 4:13). Inilah yang disebut dengan kesatuan doktrinal.
Karakteristik kesatuan Kristiani yang kedua adalah berpusat pada Allah (teosentris) . Bukan kebetulan kalau kata sambung “sama seperti” yang menggambarkan hubungan antara Bapa dan Kristus muncul berulang-ulang dalam bagian ini. Ayat 21 “sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau”. Ayat 22b “sama seperti Kita adalah satu”. Ayat 23 “sama seperti Engkau mencintai Aku”. Semua ini mengajarkan bahwa kesatuan Kristiani dimulai dari kesatuan kekal dalam diri Allah Tritunggal.
Poin ini seringkali dengan mudah dilupakan. Kesatuan dipandang semata-mata sebagai pencapaian manusia. Tentang apa yang kita lakukan. Dibatasi pada kegiatan-kegiatan. Jika ini terjadi, kesatuan yang tercipta hanya ada di permukaan belaka. Kesatuan semacam ini pasti tidak akan bertahan lama.
Karakteristik berikutnya adalah melibatkan keintiman . Semua frase “sama seperti” di atas secara jelas menunjukkan ide tentang keintiman. Ada kebersamaan (ayat 21, 23a). Ada kesatuan (ayat 22). Ada kasih (ayat 23b). Keintiman seperti itulah yang Allah inginkan dari komunitas orang percaya. Bukan sekedar kesatuan doktrinal yang abstrak dan kering (berdasarkan ajaran). Bukan pula sekadar kumpulan institusional (berdasarkan denominasi atau merk gereja).
Karakteristik yang melibatkan keintiman ini sayangnya semakin sulit ditemukan di banyak gereja sekarang. Banyak gereja justru berlomba menjadi gereja yang besar. Perkumpulan yang besar dianggap sebagai simbol kebersamaan yang besar.
Hal ini tentu saja tidak benar. Jumlah yang besar tidak akan berarti apa-apa tanpa keintiman yang mendalam. Gereja yang besar mempunyai tugas lebih besar untuk menyatukan seluruh jemaat ke dalam sebuah keintiman yang pribadi.
Yang terakhir, kesatuan yang sejati berpusat pada Kristus (Kristosentris) . Fokus pada poin ini sedikit berbeda dengan sebelumnya (teosentris). Poin ini lebih menyoroti apa yang dilakukan oleh Kristus.
Kesatuan Kristiani tidak mungkin direalisasikan tanpa Kristus. Kita bahkan seharusnya mengatakan bahwa kesatuan ini merupakan karya Kristus. Dia yang berdoa untuk kesatuan ini (17:20). Dia yang menunjukkan kemuliaan (17:22a). Terlepas dari bagaimana kita menafsirkan kemuliaan di sini, tujuannya tetap jelas yaitu “supaya mereka menjadi satu”. Dia juga yang berkenan berdiam di dalam kita untuk menyempurnakan kesatuan kita (17:23 “Aku di dalam mereka….supaya mereka sempurna menjadi satu”).
Kebenaran ini sangat menguatkan. Kita seringkali pesimis dengan pencapaian kesatuan. Ada begitu banyak persoalan yang membuat kesatuan-olah olah sangat sukar untuk diwujudkan. Melalui poin ini kita diingatkan bahwa kesatuan lebih merupakan karya Kristus daripada usaha kita. Setiap doa-Nya pasti dikabulkan oleh Bapa (11:41-42). Dia juga sudah berdiam di dalam diri orang percaya melalui Roh Kebenaran (14:16-17; 20:22).
Tujuan Kesatuan, Kesatuan seringkali dipahami secara internal. Tentang apa yang ada di dalam gereja. Tentang apa yang dilakukan oleh dan di dalam komunitas orang percaya. Hanya tentang sesama orang percaya. Tidak ada tujuan yang bersifat eksternal.
Situasi ini sangat mengerikan. Kesatuan bukan hanya keadaan yang dinikmati oleh orang-orang percaya. Titik akhir kesatuan bukan terletak di gereja, tetapi di dunia. Kesatuan yang benar-benar bersifat misial. Artinya, kesatuan merupakan salah satu bentuk bukti bagi dunia. Frasa “supaya dunia percaya” (ayat 21) dan “supaya dunia tahu” (ayat 23) menunjukkan tujuan ultimat dari kesatuan tersebut. Kehidupan di antara orang percaya seharusnya menjadi sebuah panggung pertunjukan untuk kasih ilahi yang besar yang dinyatakan oleh Allah Tritunggal.
Jika komunitas orang percaya hidup dalam kebenaran dan keintiman yang memancarkan karya penebusan Allah Tritunggal, dunia akan dituntun untuk mengenal Allah yang benar. Dunia akan tahu bahwa mereka adalah benar-benar pengikut Yesus Kristus (13:34-35). Kecuali gereja benar-benar hidup dalam kesatuan, bagaimana mereka bisa memberikan kesaksian yang otentik tentang keselamatan yang dikerjakan oleh Allah Tritunggal? Pertikaian jelas menghancurkan bukti-bukti. Perselisihan pengenalan pengenalan kepada Allah Tritunggal.
Gereja mula-mula berhasil menghidupi kebenaran ini (Kis. 2:42-47). Mereka hidup di dalam kesatuan yang benar. Mereka bertekun dalam mengajar rasul-rasul. Mereka selalu mengingat karya penebusan Kristus (“memecahkan roti”). Kesatuan diwujudkan dalam hal saling bersekutu dan membantu. Tidak mengherankan, banyak orang tertarik dengan gaya hidup mereka, dan melalui hal itu Tuhan membawa mereka pada pertobatan (ayat 47). Kesatuan yang benar merupakan bukti yang sulit terbantahkan.
Bagaimana dengan gereja Anda? Bagaimana pula dengan Anda sebagai gereja? Sudahkah Anda dan gereja Anda menjadi bukti bagi dunia? Sudahkah kesatuan yang ada didasarkan pada kebenaran, berpusat pada Allah, diwarnai dengan keintiman dan berpusat pada Kristus?
(26052026)(TUS)
Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Persatuan dalam perbedaan
Sudut Pandang Matius 28:16-20 konsep Trinitas dari sudut pandang bahasa
Sudut Pandang Matius 28:16-20, satu nama tiga pribadi
Sudut Pandang Matius 28:16–20 (TB), Yohanes 17:20–23 (TB), Allah pemersatu adalah Allah yang tak terbatas
Sudut Pandang Yohanes 16:12-15, Sang Anak
Minggu, 24 Mei 2026
Sudut ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด Matius 28:16-20 [๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ ๐ ๐๐ฒ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ผ๐๐๐ฎ, ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐], Minggu Trinitas, ๐ผ๐๐๐ง๐ก๐๐ ๐ข๐๐ง๐๐ ๐!
Jumat, 22 Mei 2026
Sudut Pandang Kaitan Peristiwa Turunnya Roh Kudus dan hari raya panen
Senin, 18 Mei 2026
Sudut Pandang ๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ผ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ฒ๐ธ๐ป๐ถ๐ธ
JEMAAT SEKARANG KEBANYAKAN TIDAK MAU JADI MURID KRISTUS, MAUNYA JADI CUSTOMER Murid datang untuk dibentuk. Customer datang untuk dilayani se...
-
SUDUT PANDANG TENTANG ESENI Di zaman Yesus, ada beberapa golongan atau kelompok politik dan keagamaan Yahudi yang signifikan, an...
-
Sudut Pandang Otokritik Ajaran Allah Tritunggal GKJ Pengantar memang pemahamaman ontologi harus berkembang, melihat tritunggal...