Minggu, 02 Agustus 2026

๐—•๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ถ ๐—š๐—ž๐—œ: ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜ผ๐™œ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ช๐™จ๐™–๐™ฃ?

GKI secara tradisi menajuk ๐—”๐—ด๐˜‚๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€ sebagai ๐—•๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ถ. Dalam pada itu GKI Kebayoran Baru menentukan tema tahun 2026: ๐˜‹๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช. Sepanjang bulan Agustus liturgi secara khusus bercorak (bukan bernuansa!) budaya Nusantara. Apakah ini bentuk kontekstualisasi?

Kontekstualisasi bukanlah arkaisme dan modernisme. Apabila tradisi dibangkitkan lagi, maka itu bukan dalam rangka membuat orang menjadi tradisional, tetapi dalam rangka pengakaran, dalam rangka martabat atau harga diri manusia. Hal yang sama berlaku bagi modernitas. Hal ini bukannya dalam rangka meniru orang Barat atau liberalisasi begitu saja, melainkan dalam rangka martabat atau harga diri manusia.

Satu hal yang tidak dapat kita tolak dan mungkiri (bukan pungkiri!) sebagai kenyataan sejarah ialah Gereja hadir di Indonesia lewat misionaris-misionaris dari Barat. Usaha kontekstualisasi bukan merupakan penolakan masa lalu. Yang mesti kita tolak ialah menjadikan masa lalu itu sebagai ukuran mutlak kebenaran.

Secara sederhana kontekstualisasi dimengerti sebagai usaha menghayati harga diri dan jatidiri sebagai orang Kristen Indonesia yang benar-benar Kristen dan sekaligus benar-benar orang Indonesia.

Dalam memandang budaya pada umumnya pendeta menggunakan rujukan buku “klasik” ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ถ๐˜ญ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฆ. Sangat bolehjadi pendeta itu tidak merujuk langsung buku karangan Richard Niebuhr itu, tetapi mendapat pengajaran dari seniornya yang merujuk buku tersebut.

Secara ringkas Niebuhr mengelompokkan sikap orang Kristen terhadap budaya:
(1) sikap radikal,
(2) sikap akomodatif,
(3) sikap sintetik,
(4) sikap dualistik, dan
(5) sikap transformatif.

Namun, proses pengambilan keputusan oleh orang-orang Kristen dalam menanggapi budaya bukanlah sesederhana yang diperikan oleh Niebuhr. Niebuhr sendiri tidak menjelaskan siapa Kristus. Baginya Kristus sudah final. Dapat saja Kristus dipahami sebagai hasil perjumpaan budaya Yahudi, Grika, dan Latin. Dengan demikian yang diuraikan Niebuhr pada dasarnya adalah budaya berjumpa dengan budaya.

Di atas telah disampaikan bahwa teologi kontekstual pada hakikatnya hendak menolong orang Kristen menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia. Kontekstual berarti juga melibatkan orang Kristen dalam bersalingtindak dengan sosio-budaya. Hal ini bukan dalam rangka asketisme ataupun sinkretisme, melainkan pengakaran. Akan tetapi jika pengakaran ini tidak mengakibatkan pengangkatan jatidiri dan martabat manusia, maka hal itu juga tidak dapat disebut teologi kontekstual.

Misalnya, debus dan kuda lumping. Barangkali kesenian ini menarik perhatian wisatawan asing, tetapi belum tentu bermakna bagi rakyat. Kesenian seperti itu tidak dengan sendirinya mendorong rakyat memerjuangkan hak-haknya. Negara kita sangat kaya akan aneka ragam kebudayaan. Sah-sah saja apabila kita mau membangkitkan kekayaan yang ada pada kita sendiri. Usaha ini bukan dalam rangka menolak masa lalu kita, melainkan menjaga keseimbangan agar warisan Barat tidak terus-menerus merajai kebudayaan kita.

Namun, menjaga keseimbangan juga tidak berarti serta-merta menyulih (๐˜ด๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ต๐˜ฆ) warisan Barat dengan hasil budaya lokal. Misalnya, demi dianggap lebih afdol, digunakanlah alat musik tradisional seperti gamelan dan dikenakanlah busana adat oleh pendeta beserta para penatalayan. Selama penyulihan ini berhasil mengangkat jatidiri (๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง) dan martabat orang Kristen Indonesia, maka hal itu patut dihargai. Akan tetapi apabila semua itu hanya dimaksudkan agar kelihatan lebih ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช, sepatutnya jangan diteruskan. Gereja tidak dipanggil untuk menjadi panggung pertunjukan.

Tradisi GKI Kebayoran Baru ini tentu dimaksudkan sebagai bentuk kontekstualisasi yang afirmatif sehingga usaha menghayati harga diri dan jatidiri sebagai orang Kristen Indonesia yang benar-benar Kristen dan sekaligus benar-benar orang Indonesia menjadi sebuah upaya yang terus-menerus.

Sayangnya tema-tema yang diangkat oleh GKI Kebayoran Baru kerap tidak berangkat dari teks Alkitab. Tema justru menduduki teks. Padahal Bulan Seni dan Budaya Gerejawi merupakan kesempatan emas untuk memerjumpakan Kristus (Injil) dengan seni dan budaya Nusantara, bukan seni dan budaya Nusantara yang membungkus Kristus.

Gamelan bukan masalah. Batik bukan masalah. Busana adat pun bukan masalah. Persoalannya sederhana: siapakah yang menjadi tuan di dalam liturgi? Apakah Injil menerangi budaya, ataukah budaya sedang meminjam mimbar Gereja untuk menerangi dirinya sendiri?

Apabila yang terjadi adalah tema mendahului teks, budaya mendahului Injil, dan liturgi berubah menjadi etalase kebudayaan, maka ๐—•๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐˜€๐—ถ. Ia berubah menjadi ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜ผ๐™œ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ช๐™จ๐™–๐™ฃ: meriah, berwarna, menghibur, tetapi kehilangan daya injilinya.

Liturgi tidak pernah dipanggil untuk memamerkan kebudayaan. Liturgi dipanggil untuk menghadirkan Kristus. Dari perjumpaan dengan Kristus itulah kebudayaan dimuliakan, manusia diangkat martabatnya, dan Gereja menemukan jatidirinya sebagai Gereja di Indonesia.

Kalau Injil tidak lagi menjadi pusat, maka yang tersisa hanyalah panggung.


Sabtu, 01 Agustus 2026

MASIH UNTUK PARA ANTI PERSEPULUHAN.
Dalil yang paling mendasar dari anti persepuluhan bahwa dalam Perjanjian Baru (PB) tidak ada perintah baru atau perintah eksplisit tentang persepuluhan.

Ketika kita mengcounter dengan
1 Korintus 9:13, 
bahwa analogi Paulus dlm ayat ini merujuk pada Bilangan 18 dan Ulangan 18, 
yg termasuk persepuluhan, 
masih saja dianggap tidak cukup eksplisit.
-------------------------------

▶️Mari kita belajar melihat Alkitab dari perspektif Alkitab itu sendiri.
Ada prinsip² moral dalam Perjanjian Lama(PL), tidak lagi menjadi perintah baru atau perintah eksplisit dalam PB :

๐Ÿ”ธ️Menahan upah, 
Imamat 19:13, Ulangan 24:14-15.
๐Ÿ”น️Neraca yang curang,
Imamat 19:35-36.
๐Ÿ”ธ️Larangan inses,
Imamat 18:6-18.
๐Ÿ”น️Memindah batas tanah,
Ulangan 19:14,
dll,,,!

Prinsip² ini tidak lagi diulang atau ada perintah baru secara eksplisit dalam PB, tetapi tetap aktual penerapannya dalam PB.

✅️PERTANYAAN UNTUK MEREKA...!
Mengapa prinsip² moral di atas☝️ tanpa perintah baru dlm PB masih terus berlaku, tetapi PERSEPULUHAN dlm PB harus menunggu perintah eksplisit baru bisa diterapkan ?
---------

▶️SIAPA YANG MEMBATALKAN...?
Matius 23:23, 
Yesus mengkonfirmasi bahwa persepuluhan dan belas kasihan adalah dua hal yang harus terus dilakukan, 
- yang satu harus dilakukan
- yang lain jangan diabaikan.

✅️Apakah pernyataan Yesus ini pernah dibatalkan ? oleh siapa ?

๐Ÿ’Ÿngopi sambil tunggu jawaban,,,๐Ÿ˜‡๐Ÿ™



Oke, kita bedah argumen pro-persepuluhan di atas pakai metode eksegesis: bahasa, sastra, budaya, dan konteks teks. 

Intinya: argumen itu lemah karena melakukan 3 kesalahan utama = *ekstrapolasi, anakhronisme, dan salah baca genre*.

### *KONTRA ARGUMEN LENGKAP*

#### *1. KELEMAHAN ARGUMEN "PRINSIP MORAL PL TANPA PERINTAH BARU PB MASIH BERLAKU"*

Argumen: "Im 19:13, Ul 19:14 dll tidak diulang di PB tapi masih berlaku. Kenapa persepuluhan tidak?"

*Analisa Kritis:*
 **Prinsip Moral PL yg disebut** **Persepuluhan PL**
**Kategori Hukum** Hukum Moral & Keadilan Sosial Hukum Seremonial + Sipil + Pajak Teokrasi
**Dasar PB** Dikonfirmasi ulang oleh Yesus & Rasul.
Im 19:13 → Yak 5:4.
Ul 19:14 → Ams 22:28 dikutip dlm prinsip.
Im 18 → 1 Kor 5:1, Ef 5:3 Tidak pernah diperintahkan ulang ke Gereja
**Sifat** Universal, lintas budaya Khusus Israel Teokrasi, terkait Bait Allah, Lewi, tanah Kanaan
*Poin kritis:*
1. *Kategori beda*. "Jangan curang timbangan" = hukum moral kekal karena bersumber dari karakter Allah yg adil. "Persepuluhan" = hukum pajak untuk menopang sistem Lewi + Bait Allah + hari raya + orang miskin di Israel teokrasi Ul 14:22-29. Itu hukum sipil/seremonial, bukan moral. 
2. *PB memang mengulang prinsip moral*. 9 dari 10 Hukum Taurat diulang di PB. Tapi persepuluhan tidak. Keheningan PB di sini justru teologis, bukan kelalaian.
3. *Fallasi "diam = setuju"*. Tidak semua yg tidak diulang = otomatis berlaku. Contoh: sunat, korban bakaran, jubah imam, tahun sabat. Itu juga PL tapi PB eksplisit membatalkannya.

Jadi membandingkan "jangan curang" dengan "persepuluhan" itu _apple to orange_.

#### *2. KELEMAHAN PENGGUNAAN 1 KORINTUS 9:13-14*

Argumen: "Paulus merujuk Bil 18 & Ul 18 = ada persepuluhan"

*Analisa Bahasa & Konteks Sastra:*
1 Kor 9:13-14: "Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu... Demikian juga Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu."

*Masalahnya:*
1. *Ini analogi, bukan perintah*. Paulus pakai pola "dari imam → dari penginjil". Dia tidak bilang "karena itu kamu wajib 10%". Dia baru saja bilang di ayat 12 & 18 bahwa dia TIDAK memakai haknya. Kalau ini perintah persepuluhan, Paulus melanggar perintahnya sendiri.
2. *"Hidup dari Injil" ≠ 10%*. Frasa yg dipakai Paulus persis sama dengan Yesus di Luk 10:7 "seorang pekerja patut mendapat upahnya". Itu prinsip upah, bukan tarif pajak. Di PL imam memang hidup dari persembahan, tapi juga dari korban, bagian rampasan, dll. Bukan cuma persepuluhan.
3. *Konteks*: Paulus sedang membela hak, bukan menetapkan hukum. Dan dia menolak hak itu demi Injil. Kalau maksudnya "wajib 10%", kenapa dia banggakan diri karena tidak mengambilnya?

Jadi 1 Kor 9 merujuk _prinsip_ pemeliharaan pekerja, bukan _mekanisme_ persepuluhan.

#### *3. KELEMAHAN PENGGUNAAN MATIUS 23:23*

Argumen: "Yesus bilang persepuluhan 'harus dilakukan' jadi masih berlaku"

*Analisa Bahasa, Budaya & Konteks:*
Mat 23:23: "Celakalah kamu... yang membayar persepuluhan dari selasih, dill dan jintan, dan yang mengabaikan yang terpenting dalam hukum Taurat... yang satu harus dilakukan, dan yang lain jangan diabaikan."

*Masalahnya:*
1. *Audiens & Waktu*. Ini diucapkan Yesus SEBELUM salib, SEBELUM kebangkitan, SEBELUM Pentakosta. Saat itu Bait Allah masih berdiri, sistem Lewi masih jalan, dan Yesus + murid2 masih "di bawah Taurat" Gal 4:4. Yesus mengoreksi orang Farisi karena mereka taat hal kecil tapi abaikan keadilan. Dia tidak sedang menetapkan hukum untuk Gereja.
2. *Objek persepuluhan*. Yesus sebut "selasih, dill, jintan" = hasil ladang. Ini persepuluhan PL yg berupa hasil tanah, bukan uang/gaji. Kalau mau konsisten, gereja harus minta 10% panen, bukan 10% gaji.
3. *Tidak ada perintah pengulangan pasca salib*. Kisah Para Rasul sampai Wahyu mencatat perdebatan sengit soal sunat, makanan, hari raya. Tapi NOL perdebatan soal persepuluhan untuk gereja. Kalau ini penting, pasti jadi isu. 
4. *Siapa yg membatalkan?* Ibrani 7:5, 12. "Sebab, jika imamat berubah, dengan sendirinya hukum Taurat berubah juga". "Perubahan imamat" dari Lewi ke Melkisedek = perubahan sistem. Ibrani 7:8 bahkan bilang "di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup". Penulis Ibrani sengaja pakai past tense untuk sistem Lewi.

Jadi Mat 23:23 adalah konfirmasi Yesus atas Taurat yg masih berlaku saat itu, bukan mandat untuk gereja pasca salib.

#### *4. MODEL PB UNTUK PEMBERIAN: BUKAN 10% PAKSA*

PB tidak diam. Dia memberi model baru:

1. *Prinsip hati*: 2 Kor 9:7 "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan"
2. *Prinsip proporsional*: 1 Kor 16:2 "hendaklah kamu masing-masing... menyisihkan sesuatu dan menyimpan"
3. *Prinsip kecukupan*: Kis 2:44-45, 4:32-35. Tidak ada kata "10%". Ada "sesuai kebutuhan".

Persepuluhan PL itu pajak 10% + 10% + 10% = total ∼23%. Dan itu untuk negara teokrasi. Gereja PB adalah komunitas sukarela, bukan negara.

### *KESIMPULAN AKADEMIK*

Argumen pro-persepuluhan di atas lemah karena:

1. *Salah kategori*: Menyamakan hukum moral dengan hukum sipil/seremonial Israel.
2. *Anakhronisme*: Memakai teks yg diucapkan "di bawah Taurat" untuk memerintah Gereja "di bawah kasih karunia".
3. *Eksegesis selektif*: Mengutip 1 Kor 9 & Mat 23 tapi mengabaikan Ibrani 7 dan keheningan total PB soal perintah 10% ke gereja.
4. *Mengabaikan model PB*: PB mengganti sistem pajak wajib dengan pemberian sukarela, rela, dan murah hati.

Jadi pertanyaannya bukan "siapa yg membatalkan persepuluhan?" 
Tapi "di mana PB pernah memerintahkannya untuk gereja?" Jawabannya: tidak ada.

Memberi tetap penting. Tapi dasarnya bukan hukum Taurat 10%, melainkan kasih, sukarela, dan pengelolaan yg bertanggung jawab.

Mau saya bikinin juga tabel perbandingan "Persepuluhan PL vs Pemberian PB" biar lebih tajam buat debatnya?

Siap. Kita bedah tanpa tabel ya. Fokus ke bahasa, sastra, budaya, dan konteks teks biar kelihatan kenapa argumen itu rapuh.

### *KONTRA ARGUMEN: "KENAPA PERSEPULUHAN TIDAK WAJIB LAGI DI PB"*

#### *1. Kesalahan Kategori: Menyamakan Hukum Moral dengan Hukum Teokrasi Israel*

Argumenmu menaruh "jangan curang timbangan" satu paket dengan "persepuluhan". Padahal di PL sendiri itu beda ranah.

"Jangan tahan upah", "jangan inses", "jangan pindah batas tanah" itu hukum moral yang bersumber dari kekudusan dan keadilan Allah. Sifatnya universal. Makanya walau PB tidak mengulang kata per kata, prinsipnya ditegaskan lagi. Contoh: Yakobus 5:4 mengutip Im 19:13. 1 Kor 5:1 menegakkan Im 18. Ef 4:28 menegakkan Ul 19:14.

Persepuluhan beda. Itu hukum pajak untuk menopang 1 sistem: Suku Lewi yang tidak dapat warisan tanah Bil 18:20-24, Bait Allah, hari raya, dan orang miskin di dalam negara teokrasi Israel Ul 14:22-29. 

Ada 3 jenis persepuluhan di PL. Bukan cuma 1x 10%. Total bisa 23% per tahun. Dan bentuknya hasil tanah + ternak, bukan uang gaji.

Jadi membandingkan "keadilan" dengan "pajak bait suci" itu lompat kategori. Sama seperti menyamakan "jangan membunuh" dengan "rayakan Paskah". Satu moral, satu seremonial-sipil.

#### *2. Masalah Eksegesis 1 Korintus 9:13-14*

"bukankah demikian juga Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu"

Ini bukan perintah persepuluhan. Ini analogi.

Cek konteks sastra: Paulus sedang membahas "hak rasul". Dari ayat 3-12 dia bilang dia punya hak untuk hidup dari Injil. Tapi ayat 15-18 dia banggakan diri karena TIDAK memakai hak itu. Kalau ayat 14 = perintah 10%, berarti Paulus sedang melanggar perintah Tuhan.

Kata kuncinya "hidup dari Injil" = prinsip upah pekerja Luk 10:7. Paulus tidak pernah menyebut angka 10%. Dia juga tidak pernah memerintahkan jemaat Korintus untuk menghitung 10% gaji lalu kasih ke dia. 

Yang dia kutip dari Bil 18 dan Ul 18 itu polanya: "pekerja di tempat kudus ditopang oleh tempat kudus". Pola, bukan tarif. Kalau mau konsisten dengan Bil 18, maka pendeta harus dapat bagian dari korban, kulit binatang, dan roti sajian juga. Bukan cuma 10%.

#### *3. Masalah Konteks Matius 23:23*

"yang satu harus dilakukan, dan yang lain jangan diabaikan"

Ini ayat favorit pro-persepuluhan. Tapi lihat 3 hal:

Pertama, *kapan diucapkan*. Ini khotbah Yesus kepada orang Farisi SEBELUM salib. Saat itu Bait Allah masih berdiri, imam Lewi masih melayani, dan Yesus berkata Dia datang "untuk menggenapi hukum Taurat" Mat 5:17. Wajar Dia suruh orang Farisi taat Taurat sampai tuntas. 

Kedua, *kepada siapa*. Kepada orang Yahudi di bawah Taurat. Bukan kepada Gereja. Setelah kebangkitan, perintah Yesus ke murid bukan "tagih persepuluhan", tapi "jadikan semua bangsa murid-Ku" dan "hendaklah kamu saling mengasihi".

Ketiga, *apa objeknya*. Yesus sebut "selasih, dill, dan jintan". Itu hasil kebun. Persepuluhan PL memang bukan uang. Kalau ayat ini jadi dasar, maka gereja harusnya minta 10% dari kebun dan ternak, bukan slip gaji.

Dan penting: tidak ada satupun surat rasul setelah Pentakosta yang mengulang perintah ini ke gereja. Padahal Kisah Para Rasul 15 membahas sunat. 1 Kor membahas makanan persembahan berhala. Roma 14 membahas hari raya. Isu persepuluhan? Sunyi. Kalau sepenting itu, pasti jadi kontroversi.

Lalu siapa yang "membatalkan"? Ibrani 7:12 menjawab: "Sebab, jika imamat berubah, dengan sendirinya hukum Taurat berubah juga." Sistem Lewi sudah diganti dengan Imamat Melkisedek yaitu Kristus. Ibrani 7:5 dan 7:8 sengaja pakai bentuk lampau untuk persepuluhan Lewi. Penulis Ibrani sedang menjelaskan: era itu sudah selesai.

#### *4. Model PB untuk Pemberian: Mengganti Hukum dengan Kasih*

PB tidak anti memberi. PB justru menaikkan standarnya. Tapi dasarnya diganti.

Bukan lagi "10% karena hukum", tapi: 
1. *Kerelaan*: 2 Kor 9:7 "jangan dengan sedih hati atau karena paksaan"
2. *Proporsional*: 1 Kor 16:2 "sesuai dengan berkat yang diterimanya"
3. *Kemurahan*: 2 Kor 8:2-3 jemaat Makedonia memberi "melebihi kemampuan"
4. *Kebutuhan*: Kis 2:44-45 "menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing"

Standar PB bisa jadi 5%, bisa 20%, bisa 100% seperti janda miskin. Tolok ukurnya hati, bukan kalkulator.

### *KESIMPULAN*

Argumen "tidak ada perintah baru jadi harus tetap berlaku" itu lemah karena:

1. Dia mengabaikan perbedaan genre hukum di PL. Tidak semua hukum PL dipindahkan ke PB.
2. Dia memaksa teks pra-salib Mat 23 untuk memerintah gereja pasca-salib.
3. Dia membaca 1 Kor 9 sebagai perintah tarif, padahal itu analogi prinsip.
4. Dia mengabaikan teologi Ibrani 7 tentang perubahan imamat dan sistem.

Jadi pertanyaan yang benar bukan "siapa membatalkan persepuluhan?" 
Tapi "di mana PB memerintahkannya untuk Gereja?" Jawabannya: tidak ada. Yang ada adalah panggilan memberi dengan sukarela, murah hati, dan teratur untuk pekerjaan Tuhan.

Memberi itu perintah. Besaran 10% itu bukan.

Mau saya bantu susun ini jadi bentuk debat point by point yang lebih singkat buat dipakai langsung?



Jumat, 31 Juli 2026

Sudut Pandang 5 Roti 2 Ikan dengan sejarah pada zamannya, Matius 14:13-21

Sudut Pandang 5 Roti 2 Ikan dengan sejarah pada zamannya, Matius 14 : 12 - 21

PENGANTAR

Menarik, kemaren Jumat di PPA kelompok LUKAS, karena ada pertanyaan kritis dari istri PF tamu di kelompok LUKAS. Menarik sekali, pertanyaannya, kritis,  APA SIH HUBUNGANNYA  5 ROTI 2 IKAN DENGAN TEMA BULAN KEBANGSAAAN, APA INI ADA HUBUNGANNYA DENGAN KASUS MBG YANG LAGI RAMAI? Membuat saya terinspirasi menulis kasus di Injil Matius ini dari sudut pandang sastra, sejarah dan arkeologi.

PEMAHAMAN 

Aneh banget, nih. Persoalan MBG, stunting, kog solusiny, ada di 2000 taun lalu, zaman Yesus, ditulis oleh penulis Injil Matius. Mau tau? Buruan safe tulisan ini yah, ini masuk Sabsing, Sabda Singkat, supaya ga ilang. Bacaan Injil, Alkitab minggu ini matius 14 : 13, sampe 21. Kisah legend dan disukai orang kristiani. Mujizat, Spektakuler, Yesus memberi makan 5.000 laki laki, Artinya, 10. 000, 15. 000, kalog termasuk perempuan dan anak-anak. Ini adalah realisasi dari  perumpamaan biji sesawi dari bab atau pasal sebelumnya, modal seadanya impact atau pengaruhnya gila, mukjizat, pecah buanget ini. Di balik kisah ini sebetulnya penulis Injil Matius ingin menunjukan bahwa Yesus mengkritisi atau roasting tipu-tipu kolonial Romawi, yang janji omon omon, especially atau khususnya kaisar Augustus, ya. Yang di bawah kekuasaanya, dia, Kaisar Agustus janjiin Romanesia, ikut Romawi, bakal masuk era emas, aurea aetas, lewat tagline, abundantia dan Annona, Abundantia dan Annona adalah dua Dewi kelimpahan, Dewi panen besar bangsa latin. Kisah ini sengaja di kontraskan, penulis Injil Matius, dengan privat partynya, pesta mewahnya Herodes, yang mengundang para oligarki dan crazy richs, di ayat 6 bab yg sama, Injil Matius, atau versi Markus, yang lebih detil. Kaluk ga penting banget, kenapa di  kontras, kontrasin,  coba cek data arkeologinya atau sejarah, karena data arkeologi dan sejarah bongkar realita pahit (cari di internet buanyak, tapi banyak yg bahasa English ... Wk ...wk). Di jaman Yesus, tinggi sekali stunting, gizi buruk, gangguan lapisan email gigi dan hiperostosis porotik. Akibat kurang zat besi ya, ini semua efek domino kemiskinan akibat kolonialisme lewat kroni kroninya Herodes, memungut Cukai, oligarki, dan oknum pemimpin agama yang korup, termasuk pemimpin agama Yahudi. Mereka tu yang fix antek asing. Waktu followers, Jesus, kelaparan dan murid murignya Yesus suruh cari makan sendiri, Yesus langsung negur, KAMU YANG HARUS KASIH MAKAN. Asal tau, ya, roti dan ikan itu standar gizi minimum. Boro-boro, mikirin beli daging, apalagi susu, yang harganya selangit. Lalu, ada detil, Mereka duduk di rumput. This is the clue, ini tanda musim semi menjelang Paskah. Artinya apa? Paceklik. Stok gandum di lumbung makin tipis. Jadi periode ini, Yesus memulai program MBG sejati merespon kondisi sosial masa itu, ini MESIAS sejati, juru selamat tenan, bukan penjajah Romawi juru selamat itu, bukan penjajah Romawi, Mesias itu. Karena latar belakangnya, umat Matius ditekan Yudaisme, dimana Yudaisme menolak memesiasan Yesus, dg kuasa penjajah Romawi, Yudaisme mengkriminalisasi umat Matius, itu juga kritisi bahwa Musa yang diagungkan Yudaisme, tapi Yesus lebih besar dari Musa. Program MBG yang efisient, tepat sasaran, tanpa korupsi, dan mandiri, Bukon top down, dari penguasa. Malah surplus 12 bakul, tapi berkat gak boleh dibuat foya foya, Harus ada audit dan management asset. Ini semua mengundang kita para muridNya, ambil ambil bagian dan melanjutkannya. KITA HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN, sebuah respon bermartabat dari situasi di depan mata kita.

(01082026)(TUS)


Rabu, 29 Juli 2026

Sudut Pandang Pernikahan Kembali setelah perceraian

Sudut Pandang Pernikahan Kembali setelah perceraian

PENGANTAR
Pernikahan kembali setelah perceraian,  polemik yang belum kelar, perceraian adalah sebuah persimpangan. Banyak pendapat dan argumen, banyak dasar pemikiran nya. Pilih mana yg kira-kira seiring sejalan ajaran kasih dan teladan Kristus, tentukan sendiri, dan gereja masing-masing punya sikap etis. Dengan pembacaan Alkitab, data penelitian, dan latar belakang teologisnya. Secara umum, ada tiga arus besar dalam studi Kristen: menolak perceraian dan pernikahan kembali, mengizinkan perceraian tetapi menolak pernikahan kembali, atau mengizinkan keduanya dalam kondisi tertentu; secara sosiologis, isu ini makin kompleks karena faktor modern seperti kekerasan domestik, ketimpangan ekonomi, ketidaksiapan menikah, dan perubahan norma budaya. Oleh karena itu, dalam dunia tafsir, saya selalu punya pendapat, tak ada tafsir yang salah apalagi benar, yang ada hanya tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan, dipertanggung jawabkan dengan argumentasi dan jembatan nalar, selama itu arahnya memanusiakan manusia, tidak bertolak belakang dengan hukum kasih dan keteladanan Kristus, memiliki benar merah konsep daldm kirab suci dari awal hingga akhir, kita boleh memikirkannya untuk memilih pihak. Saya harus mengatakan Alkitab tidak bisa berdiri sendiri, Alkitab harus berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan pengetahuan yang lain.
PEMAHAMAN 
Literatur sosiologi menunjukkan bahwa perceraian tidak pernah punya satu sebab tunggal; faktor yang sering muncul ialah ketidaksiapan fisik-emosional, ketidakcocokan, perselingkuhan, kekerasan fisik-psikologis, masalah ekonomi, dan perubahan peran gender. Studi lain juga menegaskan bahwa usia menikah terlalu muda, komunikasi yang buruk, kurang keintiman, dan konflik relasional berkontribusi pada perceraian, sementara konteks sosial-budaya menentukan apakah perceraian dianggap aib, pilihan rasional, atau bahkan jalan keluar yang wajar.
Dalam data Indonesia yang diringkas oleh Nurhalisa, angka perceraian meningkat pada 2018–2019, dan faktor pemicunya meliputi ketidaksiapan menikah, ketidakcocokan, perselingkuhan, kekerasan, serta faktor sosial-ekonomi dan budaya. Ini penting secara teologis karena gereja tidak boleh membaca teks Alkitab seolah-olah berada dalam ruang hampa; keputusan pastoral harus menghadapi realitas luka, keselamatan korban, dan keberlanjutan hidup keluarga. Teks yang paling sering diperdebatkan adalah Matius 19:3-9, terutama frasa “kecuali karena percabulan/zina”. Di sisi lain, Markus 10:11-12 dan Lukas 16:18 terdengar lebih absolut: siapa yang menceraikan lalu menikah lagi berbuat zinah. Paulus juga membahas kasus pasangan campuran iman dalam 1 Korintus 7:15, ketika pihak yang tidak beriman memisahkan diri; di sini Paulus mengatakan saudara atau saudari “tidak terikat” dalam keadaan demikian, yang oleh sebagian penafsir dibaca sebagai dasar terjadinya perpisahan yang tidak dibebankan secara moral kepada pihak percaya atau beriman. Latar Perjanjian Lama biasanya dikaitkan dengan Ulangan 24:1-4, yang bukan terutama “perintah untuk bercerai,” melainkan regulasi atas situasi perceraian yang sudah terjadi dalam masyarakat patriarkal untuk membatasi penyalahgunaan dan melindungi perempuan. Jadi, secara historis, hukum Musa sering dipahami sebagai pembatasan atas praktik yang keras, bukan ideal penciptaan.  Secara akademik, Hukum Taurat tidak memberikan “izin perceraian demi hak abstrak untuk bercerai,” tetapi beberapa teksnya dapat dibaca sebagai proteksi korban di dalam masyarakat patriarkal, terutama ketika perceraian sudah terjadi atau ketika ada tindakan suami yang menelantarkan istri. Dua teks kunci untuk argumen ini ialah Ulangan 24:1–4 dan Keluaran 21:10–11, ditambah pembacaan profetis atas Maleakhi 2:13–16 yang mengecam penelantaran dan ketidaksetiaan perjanjian. Ulangan 24:1–4. Teks ini sering dianggap hukum perceraian, tetapi sejumlah sarjana menilai fokus utamanya justru pada larangan menikahi kembali mantan istri yang telah kawin lagi, bukan pada pemberian hak cerai tanpa batas. Keluaran 21:10–11, Dalam konteks perempuan budak/istri, jika suami tidak memberi makanan, pakaian, dan hak perkawinan, perempuan itu harus dibebaskan tanpa pembayaran tebusan; banyak pembaca melihat ini sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap pihak rentan. Maleakhi 2:13–16, Banyak studi mutakhir menafsirkan “menceraikan” di sini sebagai tindakan “menyingkirkan” istri secara tidak sah atau lalim, sehingga teks ini menjadi kritik keras terhadap perceraian yang menindas perempuan. Bacaan klasik yang mengatakan Taurat “membolehkan perceraian” biasanya bertumpu pada Ulangan 24:1–4, tetapi artikel Yonky Karman berargumen bahwa teks itu lebih tepat dipahami sebagai hukum perkawinan kembali yang melarang rujuk setelah perempuan menikah lagi; fungsi sosialnya adalah membatasi kuasa suami dalam budaya patriarkal. Todd Scacewater juga menekankan bahwa tujuan hukum itu adalah menjaga kesetiaan perjanjian Israel kepada YHWH, dengan implikasi etis bagi perlindungan komunitas dan tanah pusaka, bukan sekadar mengatur mekanisme cerai. Dari sudut kritis-historis, ini penting: Taurat sering tidak “mengidealkan perceraian,” melainkan membatasi kerusakan ketika perceraian terjadi. Karena itu, dalam kerangka perlindungan korban, teks-teks Taurat lebih tepat disebut mekanisme pembatasan kekerasan relasional daripada legitimasi perceraian bebas. Ulangan 24:1–4: mengatur surat cerai dan melarang suami pertama mengambil kembali mantan istri yang sudah menikah lagi; ini sering dipahami sebagai pembatasan terhadap tindakan suami yang semena-mena. Keluaran 21:10–11: jika hak-hak istri tidak dipenuhi, ia boleh keluar bebas; ini sering dibaca sebagai perlindungan terhadap penelantaran. Maleakhi 2:14–16: menegaskan bahwa perceraian yang melanggar perjanjian dan mencederai perempuan berada di bawah kecaman ilahi . Kalau pertanyaannya dirumuskan ketat secara akademik, maka jawaban paling hati-hati ialah: Taurat tidak menetapkan perceraian sebagai hak moral ideal, tetapi mengatur situasi perceraian dan relasi pasca-cerai untuk mencegah penyalahgunaan, terutama oleh pihak yang lebih kuat. Dalam bingkai etika perlindungan korban, Keluaran 21:10–11 paling jelas menunjukkan logika pembebasan dari penelantaran, sedangkan Ulangan 24:1–4 membatasi kuasa laki-laki dalam sistem patriarkal. Dengan demikian, “boleh untuk melindungi korban” lebih tepat dipahami sebagai izin legal yang membatasi kekerasan dan ketidakadilan, bukan sebagai normalisasi perceraian. Matius 19:9, memiliki problematik frasa pengecualian. Secara umum, persoalan utamanya bukan hanya apakah frasa “kecuali karena zina/porneia” mengizinkan perceraian, tetapi juga apa arti porneia, bagaimana sintaksis klausa bekerja, dan bagaimana Matius membacakan ulang hukum Musa dalam konteks polemik abad pertama. Matius 19:9 adalah teks yang diperdebatkan karena satu frasa pendek tampak membuka ruang pengecualian, sementara rangkaian argumen Yesus dalam 19:4–6 justru menegaskan prinsip penciptaan, kesatuan, dan larangan menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah, sebetulnya ini ada dalam konteks hubungan Allah dan manusia, atau hubungan Allah dan Israel, kalau jujur teks ini tidak bisa langsung diterapkan dalam fakta pernikahan, apalagi pernikahan modern. Karena itu, problem teks ini bersifat eksegetis, semantik, dan teologis sekaligus. Studi-studi yang kita minta juga menunjukkan bahwa diskusi modern sering bergerak antara dua kutub: frasa itu sebagai izin terbatas untuk cerai, atau sebagai koreksi Yesus terhadap kebiasaan cerai yang disalahgunakan. Salah satu sumber polemik ialah variasi tekstual dan hubungan klausa dalam tradisi manuskrip, meskipun banyak studi akhirnya bekerja dengan teks kritis NA28/edisi kritis modern sebagai dasar. Secara sintaksis, para penafsir berbeda apakah frasa mฤ“ epi porneia terutama membatasi tindakan menceraikan, atau justru membatasi tindakan menikah lagi setelah perceraian. Di sini, keberatan klasik terhadap terjemahan “kecuali karena” tetap penting, tetapi banyak sarjana menilai sintaks Yunani tidak cukup kuat untuk meniadakan seluruh fungsi pengecualian itu. Masalah berikutnya adalah makna porneia. Literatur yang kita lihat memperlihatkan bahwa istilah ini lebih luas daripada moicheia; ia dapat menunjuk pada berbagai bentuk penyimpangan seksual, bukan hanya “adultery” dalam arti sempit. Karena itu, sebagian sarjana menerjemahkannya sebagai “sexual immorality,” “marital unfaithfulness,” atau “fornication,” tergantung kerangka tafsir yang dipakai. Artinya, jika seseorang langsung menyamakan porneia dengan perzinahan pasca-nikah, itu sudah sebuah langkah interpretatif, bukan kesimpulan yang otomatis. Studi yang paling penting untuk konteks historis adalah bahwa Matius 19 muncul di tengah perdebatan halakhik Yahudi tentang alasan perceraian, terutama antara aliran Hillel dan Shammai. Dalam konteks itu, pertanyaan orang Farisi “apakah boleh menceraikan istri dengan alasan apa saja?” bukan pertanyaan netral, melainkan jebakan legal-religius. Karena itu, banyak penafsir membaca jawaban Yesus sebagai kritik terhadap praktik perceraian yang longgar dan manipulatif, bukan sekadar pemberian “jalan keluar” baru. Dua garis tafsir besar
Dari literatur yang terhimpun, ada dua garis besar tafsir. Pertama, tafsir inklusif-terbatas: frasa pengecualian benar-benar membuka kemungkinan perceraian dalam kasus porneia, tetapi tetap tidak menjadikan perceraian sebagai solusi ideal. Kedua, tafsir anti-cerai: frasa itu tidak dimaksudkan untuk melegitimasi perceraian, melainkan untuk menegaskan bahwa perceraian bertentangan dengan kehendak ciptaan dan etika pengampunan Yesus. Tulisan Surbakti dan Pardede mewakili garis kedua, sedangkan France, Carson, dan beberapa pembacaan Reformed cenderung menerima porneia sebagai dasar perceraian yang sangat terbatas. Secara akademik, posisi paling kuat biasanya lahir dari pembacaan yang tidak menyederhanakan teks. Anda tidak cukup hanya berkata “Yesus mengizinkan perceraian” atau “Yesus sama sekali tidak mengizinkan perceraian”; Anda harus menjelaskan hubungan antara Matius 19:4–6, 19:8–9, paralel Markus 10:11–12 dan Lukas 16:18, serta latar polemik hukum Yahudi. Secara metodologis, argumen yang paling rapuh adalah argumen yang memaksakan satu definisi tunggal porneia tanpa survei semantik, atau yang mengabaikan bahwa Matius menulis untuk komunitas dengan sensitivitas Yahudi yang kuat. Jadi, problem frasa pengecualian bukan sekadar “boleh atau tidak,” melainkan bagaimana Matius menata ulang hukum, etika, dan retorika kerajaan Allah. Secara kritis, frasa pengecualian dalam Matius 19:9 adalah titik tafsir paling rawan karena porneia tidak otomatis identik dengan perzinahan sempit, dan karena fungsi frasa itu bergantung pada struktur argumentasi seluruh perikop. Dalam debat akademik, kita dapat membela dua posisi besar, tetapi posisi yang paling kuat adalah yang sanggup menjelaskan teks, konteks, dan tradisi tafsir tanpa mengorbankan salah satunya. Alasan yang diterima, Secara akademik dan pastoral, alasan perceraian yang paling sering dianggap serius atau dapat diterima dalam banyak tradisi Kristen adalah:

perzinahan/ketidaksetiaan seksual, penelantaran, kekerasan dalam rumah tangga berat, itupun bukan kekerasan verbal dan dalam beberapa pembacaan, penolakan pasangan yang tidak beriman. Artikel liturgis-teologis Indonesia juga menekankan bahwa banyak pembacaan Matius 19:9 memahami “kecuali karena porneia (percabulan/zinah)” sebagai dasar untuk mengakhiri perkawinan akibat ketidaksetiaan seksual, walau tafsir lain menolaknya. Namun, perlu dibedakan antara “alasan yang membuat perceraian dipertimbangkan secara moral” dan “alasan yang otomatis membenarkan pernikahan kembali.” Banyak penafsir memandang perceraian bisa terjadi dalam keadaan ekstrem demi perlindungan korban, tetapi pernikahan kembali tetap diperdebatkan, terutama bila pasangan pertama masih hidup. Dalam karya sosiologis kontemporer, kekerasan fisik dan psikologis, penelantaran ekonomi, serta kerusakan relasional yang berkepanjangan sering dipandang sebagai indikator bahwa pernikahan telah kehilangan fungsi perlindungan dan kesejahteraan dasarnya. Kalau itu sudah bukan lembaga pernikahan lagi, maka perlu dipikirkan solusinya, kalau di khatolik, kalau itu sudah bukan bearti sakramen pernikahan lagi maka perlu dipikirkan solusinya, tidak bercerai tetapi kerusakan yg makin tinggi dan melebar bahkan membahayakan nyawa dan mental, maka perceraian dapat dipikirkan sebagai solusi, karena manusia mahkluk rapuh tdk sempurna, tetapi ini bukan proses yg dalam waktu singkat, butuh tahap kajian-kajian bertahap pastoral baik sebelum keputusan perceraian maupun sesudahnya. Mengapa bisa diterima

Secara biblis, argumentasi yang menerima perceraian terbatas biasanya bertolak dari dua hal: pertama, adanya pengecualian dalam Matius 19:9; kedua, prinsip perlindungan terhadap korban dalam hukum Taurat dan etika pastoral. Dalam pembacaan ini, perceraian bukan kehendak awal Allah, tetapi respons terhadap kekerasan dosa manusia yang sudah merusak perjanjian pernikahan. Secara historis, banyak penafsir melihat bahwa konteks abad pertama sangat patriarkal: perempuan sangat rentan secara sosial dan ekonomi, sehingga regulasi perceraian dalam Taurat berfungsi menahan kekuasaan laki-laki dan memberi perlindungan legal minimum. Karena itu, pembaca modern perlu berhati-hati agar tidak mengubah teks perlindungan menjadi legitimasi cerai yang sembrono; sebaliknya, teks dipahami sebagai batas etis untuk situasi rusak yang sudah terjadi. Tentang pernikahan kembali
Di sinilah perbedaan tafsir paling tajam muncul. Tradisi yang lebih ketat, didukung oleh pembacaan Markus 10:11-12, Lukas 16:18, dan sebagian tafsir Matius 19:9, menilai pernikahan kembali setelah perceraian sebagai bentuk perzinahan selama pasangan pertama masih hidup. Tradisi yang lebih permisif biasanya mengizinkan pernikahan kembali bila perceraian terjadi karena zinah, penelantaran, atau pemutusan sepihak oleh pasangan yang tidak beriman, dengan alasan bahwa perjanjian perkawinan sudah dipatahkan secara substantif. Secara pastoral masa kini, pendekatan yang paling bertanggung jawab biasanya tidak berhenti pada “boleh/tidak boleh,” tetapi menilai: apakah ada keselamatan korban, pemulihan anak, bukti pertobatan, mediasi yang sungguh-sungguh, dan apakah perceraian terjadi karena dosa yang merusak perjanjian atau karena kondisi paksa yang membahayakan. Dengan kata lain, keputusan tentang pernikahan kembali tidak bisa digeneralisasi; ia harus dibaca dalam kombinasi eksegesis, etika, dan perlindungan martabat manusia. Jika diringkas secara kritis: Alkitab menempatkan pernikahan sebagai perjanjian yang dimaksudkan seumur hidup, tetapi juga mengakui dunia yang sudah jatuh, sehingga hukum dan pengajaran pastoral berhadapan dengan realitas dosa, kekerasan, dan ketidaksetiaan. Karena itu, perceraian paling kuat dipahami sebagai solusi darurat, solusi akhir, bukan norma; sedangkan pernikahan kembali adalah isu turunan yang bergantung pada tradisi tafsir, jenis pelanggaran, dan status moral/relasional dari perpisahan itu. Dalam konteks gereja masa kini, argumen yang paling kuat bukan sekadar “membolehkan” atau “melarang,” melainkan merumuskan kriteria yang setia pada Kitab Suci sekaligus melindungi korban: kekerasan harus dihentikan, penelantaran tidak boleh dibiarkan, dan pemulihan pernikahan hanya layak ditempuh bila ada pertobatan, rekonsiliasi yang realistis, dan keamanan bagi pihak yang rentan.  Jika Anda sedang menulis makalah atau bab tesis, kombinasi paling aman adalah menggabungkan studi teks-kritis, studi semantik porneia, dan konteks halakhik Yahudi abad pertama.
Bbrp tulisan yg dapat dibaca adalah :
- Risa Nurhalisa, “Tinjauan Literatur: Faktor Penyebab dan Upaya Pencegahan Sistematis terhadap Perceraian” .
- “Pernikahan Dini, Perceraian, dan Pernikahan Ulang: Sebuah Telaah dalam Perspektif Sosiologi”.
- “Keutuhan Pernikahan Kristen Dalam Matius 19:6 dan Implikasinya terhadap Perceraian dan Pernikahan Kembali”.
- “Divorce and Remarriage”.
- “Kau Bukan Seperti yang Dulu Lagi: Sebuah Refleksi Teologis-Etis Perceraian".
- “Ulangan 24 (TB)” dan tafsir konteks Ulangan 24:1-4.
- Tafsir Matius 19:9 dan problematika frasa pengecualian.
- C. F. Keil dan F. Delitzsch, The Pentateuch. Klasik komentar yang tetap penting untuk diskusi Deuteronomy 24 dan hukum keluarga.
- Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy. Sangat berguna untuk pembacaan historis dan teologis Ulangan 24.
- Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics. Berguna untuk membahas etika PL secara lebih luas, termasuk keluarga dan keadilan [7].
- Tamara Cohn Eskenazi dan Andrea L. Weiss (eds.), The JPS Torah Commentary. Berguna untuk membaca hukum Taurat dalam konteks sosial dan literer [7].
- Robert Setio dan Daniel K. Listijabudi (eds.), Perceraian di Persimpangan Jalan: Menelisik Perjanjian Lama dan Tradisi. Relevan langsung untuk konteks Indonesia dan pembahasan pastoral-teologis.
- Yonky Karman, “Ulangan 24:1–4: Hukum Perceraian atau Hukum Rujuk?” Verbum Christi 10(2) (2023), 97–111, Argumen bahwa Ulangan 24:1–4 adalah hukum larangan rujuk, bukan izin cerai bebas. 
- Todd Scacewater, “Divorce and Remarriage in Deuteronomy 24:1–4.” JESOT 1(1) (2012), 63–79. Menekankan tujuan hukum untuk melindungi perjanjian dan komunitas. 
- “Re-interpreting Deuteronomy to Empower Women (of South Africa).” Old Testament Essays 34(3) Pembacaan feminis atas Deuteronomium untuk membaca ulang relasi kuasa patriarkal. 
-  “Does God Really Hate Divorce? A Comparative Analysis of Ancient Texts of Mal 2:14–16.” Menafsir Maleakhi sebagai kritik terhadap penelantaran dan pengusiran istri. 
- artikel Surbakti tentang penafsiran Matius 19:9, artikel Pardede tentang problematika teks dan makna Matius 19:9, serta pembahasan etis-teologis Balebu tentang Matius 19:1–9. 
- R. T. France, D. A. Carson, David Instone-Brewer, William Heth, Osborne, dan J. J. de Heer. J
(30072026)(TUS)


Minggu, 26 Juli 2026

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21, Respon Bermartabat hal kecil yang berdampak

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21, Respon bermartabat hal kecil yang berdampak

PENGANTAR
Minggu 02 Agustus 2026, Saya sering mengatakan, Memandang setengah kosong setengah isi, berhenti fokus pada yang pergi, itu kenangan berharga, mulailah hargai yang masih Allah beri, saat ini, itu yang didepanmu sekarang. Saya selalu mengatakan respon bermartabat adalah merespon apa yang ada di depan mata kita. Masa lalu itu hanya pembelajaran, masa depan itu hanyalah rancangan bahkan ramalan. Yang bisa kita lakukan adalah kini, yg ada di depan mata kita. Yesus mengajarkan itu, yg didepan mata para murid adalah orang yg butuh makan, dan hanya ada lima roti dua ikan, dan Yesus merespon secara bermartabat, KITA HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN, dg sisa 12 bakul, 12 bakul ini melambangkan kepenuhan, artinya ketika kita melakukan konsep itu, tidak ada lagi kebimbangan, kita akan berubah dari sekedar percaya menjadi mempercayakan diri pada Allah. Contoh sederhananya, kita tidak bisa ngatur orang untuk ngebut dan mengendarai serampangan yg membahayakan orang lain bahkan kita, itu nyata didepan mata, yang bisa kita lakukan merespon secara bermartabat BUKAN MENYANGKAL KENYATAAN ITU,  jangan naif, respon bermartabat adalah kita yang melatih diri untuk berhati-hati dan waspada berkendara, dg begitu kita memulai dari diri sendiri, dan itu menolong kita untuk waspada dan meminimalkan kerusakan karena kita siap setiap saat berkendara. Begitu halnya, kita tidak bisa menyangkal akan ada saja orang yg tidak suka bahkan membenci kita, kita tidak bisa menyangkal ada tantangan dan masalah di depan kita, kita tidak bisa menyangkal kita akan tua, kita akan sakit, kita tak bisa menyangkal ortu kita menua, pasangan kita berubah, anak tumbuh dewasa, bahkan kita, ortu, anak, dan pasangan akan meninggal suatu saat nanti, dlsb,  jangan sangkal kenyataan itu, tetapi responlah secara bermartabat. Ketiga bacaan ini bergerak dari undangan Allah yang murah hati (Yes 55:1-5), menuju beban batin Paulus bagi keselamatan Israel (Rm 9:1-5), dan memuncak dalam tindakan Yesus yang memulihkan, memberi makan, dan mengutus murid-murid-Nya untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah (Mat 14:13-21). Benang merahnya bukan pertama-tama “mukjizat logistik,” melainkan peralihan dari sikap kekurangan, takut, dan menutup diri menuju iman yang percaya lalu mempercayakan diri untuk menjadi sarana berkat bagi banyak orang.

Yesaya 55:1–5
Teks ini bagian dari Deutero‑Yesaya (Yes. 40–55), berbentuk undangan puitis dengan repetisi imperatif: “marilah”, “belilah”, “dengarkanlah”. Metafora air, susu, anggur menandakan kelimpahan anugerah (Westermann, Isaiah 40–66). Kata “tanpa uang” menegaskan kasih karunia, bukan transaksi religius. Ditujukan kepada Israel pasca‑pembuangan di Babel. Secara sosial, bangsa itu kecil dan rapuh. Namun dalam ayat 3–5, Allah memperbaharui “perjanjian kekal” dengan merujuk pada janji Daud (bdk. 2Sam 7). Bangsa yang kecil dipanggil menjadi saksi bagi bangsa‑bangsa. Potensi kecil (umat pasca‑pembuangan) menjadi berdampak besar karena firman dan perjanjian Allah. Gereja masa kini dipanggil mengandalkan anugerah, bukan sumber daya materi. Kasih karunia Allah menghidupkan kembali komunitas kecil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Pada kenyataannya kehidupan penuh kesulitan, tantangan, dan masalah dihadapi Israel pasca pembuangan, itu nyata didepan mata, Yesaya ingin Israel tau itu, kenyataan itu tidak bisa disangkal, tetapi kasih setia dan anugerah Kurnia dari Allah adalah hal nyata di depan mata Israel juga. Bagaimana bangsa Israel harus meresponnya secara bermartabat?

Roma 9:1–5
Bagian awal diskursus teologis Paulus tentang Israel (Rom 9–11). Paulus memakai gaya retoris emosional (“aku sangat berdukacita”) untuk menunjukkan solidaritas etnis dan teologis (Dunn, Romans 9–16). Dalam ayat 4–5, disebutkan hak istimewa Israel: pengangkatan anak, kemuliaan, perjanjian, hukum Taurat, ibadah, janji, para bapa leluhur, dan Mesias. Secara historis, Israel kecil secara politis, namun dipakai Allah sebagai saluran keselamatan dunia. Allah bekerja melalui sejarah dan identitas komunitas yang tampak kecil untuk menghadirkan Kristus bagi bangsa-bangsa. Kesetiaan Allah melampaui kegagalan manusia. Dari umat kecil lahir karya keselamatan universal di dalam Kristus. Kenyataan bahwa hak waris Israel tak akan hilang karena Allah setia, tetapi Paulus juga ngerti bahwa sebuah kenyataan kalau bangsa Israel menolak mesias, ini menjadi pembelajaran bagi umat di Roma, bagaimana merespon secara bermartabat anugerah yg nyata telah mereka terima.

Matius 14:13–21
Narasi mukjizat dengan struktur: kebutuhan – respons iman – tindakan Yesus – kelimpahan. Kata kunci: “lima roti dan dua ikan” (ayat 17). Dalam tradisi Yahudi, makan bersama bernuansa eskatologis (Keener, Gospel of Matthew). Jumlah lima roti dan dua ikan adalah sangat kecil bagi 5.000 orang. Namun dalam tangan Yesus, potensi kecil menjadi kelimpahan (12 bakul sisa melambangkan kepenuhan Israel). Ketika sumber daya terbatas, iman dan ketaatan membuka jalan bagi karya Allah yang melampaui logika manusia. Yesus menggerakkan potensi kecil menjadi berkat besar melalui tindakan syukur dan pembagian.
PEMAHAMAN 
Yesaya 55:1–5: Janji anugerah bagi bangsa kecil. Roma 9:1–5: Sejarah umat kecil sebagai saluran Mesias.  Matius 14:13–21: Potensi kecil diberkati menjadi kelimpahan nyata.  
Allah memakai yang kecil, terbatas, dan rapuh untuk menghadirkan dampak besar bagi bangsa-bangsa. Secara teologis, tema ini berakar pada kasih karunia, kesetiaan perjanjian, dan kuasa Kristus. Di tengah krisis ekonomi, sosial, dan spiritual, komunitas kecil tidak perlu merasa tidak berarti. Dalam tangan Tuhan, kesetiaan kecil, pelayanan sederhana, dan iman yang tulus dapat berdampak luas bagi bangsa. Untuk refleksi kita pada Yesaya 55:1–5, Apakah kita masih mencari kepuasan di luar anugerah Allah?  Bagaimana komunitas kecil dapat menjadi saksi bagi bangsa? Pada Roma 9:1–5, Apakah kita menghargai sejarah iman sebagai potensi rohani? Bagaimana kesetiaan Allah memberi harapan bagi kegagalan bangsa? Pada Matius 14:13–21, Apa “lima roti dan dua ikan” dalam hidup kita saat ini?  Apakah kita mau menyerahkan potensi kecil itu kepada Kristus? Bagaimana gereja masa kini dapat percaya bahwa dalam tangan Tuhan, potensi kecil sanggup membawa dampak besar bagi bangsa? Yesaya 55 memakai bahasa undangan publik: “Hoi, semua orang yang haus,” sebuah gaya seruan profetis yang bersifat liturgis, terbuka, dan sangat konkret air, susu, anggur, roti untuk menegaskan bahwa rahmat Allah tidak dibeli dengan uang prestasi, melainkan diterima sebagai anugerah perjanjian. Dalam konteks sastra, pasal ini berada dalam arus penghiburan pascabencana, ketika umat dipanggil keluar dari mentalitas kelangkaan menuju kelimpahan kasih setia Allah. Jadi, dasar pewartaannya adalah: Allah sendiri yang memulai perjamuan kehidupan, dan manusia dipanggil datang, mendengar, dan hidup. Roma 9:1-5 memperlihatkan nada emosional yang sangat kuat: Paulus berbicara dengan “dukacita yang sangat besar” dan “kesedihan yang tak berkeputusan” karena kerabatnya menurut daging belum menerima Kristus, Israel PL. Secara teologis, bagian ini menampilkan beban misi yang lahir dari kasih, bukan dari kemenangan ideologis; iman sejati selalu membawa penderitaan karena keselamatan sesama belum selesai. Maka arah pewartaannya ialah: pewarta bukan orang yang sekadar tahu doktrin, tetapi orang yang hatinya ikut diguncang oleh nasib umat (Israel). Matius 14:13-21 menempatkan Yesus di ruang sepi, sesudah dukacita Yohanes Pembaptis, lalu belas kasihan-Nya bergerak ketika Ia melihat orang banyak. Kalimat “kamu harus memberi mereka makan” menjadi titik balik naratif: murid-murid mau memindahkan problem ke tempat lain, tetapi Yesus memindahkan tanggung jawab ke dalam panggilan mereka. Di sini “lima roti dan dua ikan” bukan sekadar bahan mukjizat, melainkan tanda bahwa yang kecil, ketika diserahkan, dapat menjadi medium pemeliharaan Allah bagi banyak orang. Arah pewartaannya dapat dirumuskan begini: Allah tidak hanya memanggil manusia untuk datang dan minum, tetapi juga membentuk manusia agar menjadi saluran makan bagi sesama. Jadi, dari Yesaya kita belajar menerima anugerah; dari Roma kita belajar menanggung beban sesama; dari Matius kita belajar bahwa belas kasih Allah harus menjadi tindakan konkret melalui tangan para murid. Ini membuat pewartaan bergerak dari spiritualitas privat ke spiritualitas diakonal dan misioner, “iman kecil akan berdampak” bisa dibaca lebih tajam sebagai transformasi dari “percaya” menjadi “mempercayakan diri.” Dalam kisah roti dan ikan, murid-murid tidak punya cukup sumber daya, tetapi mereka punya sesuatu yang dapat diserahkan; justru penyerahan itulah yang membuka ruang bagi karya Kristus. Maka iman kecil bukan iman yang lemah, melainkan iman yang masih gemetar namun tetap mau menyerahkan apa yang ada di tangan kepada Tuhan dan kepada pelayanan sesama. Dalam budaya sekarang, “kekurangan” sering dipahami sebagai alasan untuk menunda berbagi, menunda pelayanan, atau menunggu kondisi ideal. Kisah ini membalik logika itu: komunitas justru dipanggil berbagi dalam keadaan terbatas, karena kelimpahan Allah sering dinyatakan melalui solidaritas yang dihidupkan bersama. Maka pewartaan kontekstual perlu menyentuh tema ketidakadilan pangan, individualisme, ketakutan akan kekurangan, dan budaya menyimpan untuk diri sendiri. Roma 9 juga relevan untuk konteks gereja yang mudah puas dengan identitas internal tetapi kurang berduka atas dunia yang belum dipulihkan. Paulus menunjukkan bahwa kasih pada umat sendiri tidak boleh berubah menjadi eksklusivisme, melainkan menjadi doa, tangisan, dan kerja misi yang serius. Jadi, pewarta perlu menantang jemaat agar tidak berhenti pada devosi pribadi, tetapi bertanya: siapa yang lapar di sekitar kita, dan siapa yang sedang kita biarkan pulang dengan tangan kosong? Apa sebetulnya lima roti dan dua ikan dalam makna zaman sekarang?  Lima roti dan dua ikan adalah simbol dari apa yang kecil, terbatas, dan tampak tidak memadai, kenyataan yg tidak dapat disangkal apa yg ada didepan mata kita saat ini, tetapi bersedia diserahkan kepada Kristus dan dibagikan bagi sesama. Dalam zaman sekarang, itu bisa berupa waktu, perhatian, tenaga, uang, jejaring, keahlian, empati, atau keberanian moral yang tampaknya kecil tetapi sangat berarti jika dihidupkan bersama. Apakah inti kisah ini tentang mukjizat besar?  Ya, tetapi mukjizatnya tidak boleh direduksi menjadi “keajaiban gandaan.” Inti yang lebih dalam adalah belas kasih Allah yang mengubah ketidakcukupan menjadi kecukupan bersama, dan mengubah murid yang pasif menjadi pelayan yang terlibat. Mengapa Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan”?Karena murid-murid dipanggil bukan hanya melihat kebutuhan, tetapi ikut menanggungnya. Kalimat itu memindahkan pusat cerita dari “apa yang tidak kami punya” menjadi “apa yang mau kami serahkan”. Apa hubungan iman kecil dengan dampaknya? Iman kecil berdampak ketika ia tidak berhenti pada rasa tidak mampu, tetapi bergerak menjadi tindakan penyerahan. Dalam Injil, yang sedikit itu tidak disembunyikan; ia dibawa kepada Yesus, diberkati, dipecah, dan dibagikan, demikian halnya makna liturgi ritual simbolis kita.
(27072026)(TUS)


Sabtu, 25 Juli 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 14:13-21 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 14:13-21 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!

PENGANTAR
Minggu 02 Agustus 2026, Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ada di keempat Injil. Namun, tidak banyak orang yang cermat, bahwa kisah ini sebenarnya berbeda. Contoh, Injil Yohanes menyebut lima roti dan dua ikan dari seorang anak, sedang ketiga Injil sinoptis menyebut lima roti dan dua ikan itu milik para murid. Itu baru dari isi cerita. Konteks dan pesan kisah itu berbeda karena para penulisnya berbeda dan mengusung teologi yang berbeda pula.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesepuluh sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 14:13-21 yang didahului dengan Yesaya 55:1-5, Mazmur 145:8-9, 14-21, dan Roma 9:1-5.

LAI memberi judul perikop bacaan Injil Matius 14:13-21 ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Pengarang Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru. Dapat diduga kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dilatari oleh pengalaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa di padang gurun sesudah keluar dari Mesir menuju Kanaan dalam kitab Keluaran 16. Kedua cerita itu hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel dikenyangkan oleh “roti yang diturunkan Allah dari langit”. Kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang laki-laki juga dilatari oleh penggandaan roti jelai oleh Nabi Elisa (lih. 2Raj. 4:1-7, 42-44). Namun, bukan berarti pengarang kitab Injil mencontek kisah di Perjanjian Lama (PL), tetapi pengarang Injil hendak menafsir kisah ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ bahwa Yesus lebih besar daripada Musa.

Bacaan Injil Matius 14:13-21 dapat kita ulas dalam tiga bagian:

๐Ÿ›‘ Matius 14:13-14 Belas kasihan Yesus
๐Ÿ›‘ Matius 14:15-18 Kamu harus memberi mereka makan
๐Ÿ›‘ Matius 14:19-21 Mukjizat lima roti dan dua ikan

๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ž๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 14:13-14)

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ seorang diri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Mendengar hal itu orang banyak yang mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat. 14:13-14, TB II 2023)

Berita apa yang didengar oleh Yesus? Berita pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes. Yesus menyingkir. Hal ini sama dengan Matius 4:12 ketika Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara, Yesus menyingkir. Pada teks bacaan disebut Yesus pergi seorang diri ke tempat terpencil. Dapat diduga berita pembunuhan Yohanes Pembaptis tersebut berbobot historis. 

Versi Injil Markus Yesus tidak menyingkir, melainkan Ia mengajak murid-murid-Nya beristirahat di tempat sunyi sesudah mereka kelelahan menjalan misi dari Yesus (Mrk. 6:30-31). Versi Injil Lukas Yesus mengajak murid-murid-Nya menyendiri di Kota Betsaida, bukan tempat sunyi (Luk. 9:10). Versi Injil Yohanes Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Kepergian Yesus tidak ada hubungannya dengan kematian Yohanes Pembaptis karena pasal yang mendahuluinya tidak bercerita tentang Yohanes Pembaptis (Lih. Yohanes 5 – 6:1).

Sesudah Matius menceritakan Yesus pergi ke tempat terpencil, kemudian ayat-ayat selanjutnya muncul dialog Yesus dengan murid-murid-Nya, tetapi tidak dijelaskan alat transportasi yang digunakan oleh mereka. Apakah mereka menyusul dengan perahu atau lewat jalan darat? Tidak jelas. Yang pasti adalah orang banyak menyusul Yesus berjalan kaki atau lewat jalan darat.

Frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata ๐˜ข๐˜ณ๐˜ณo๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด, yang berarti literal tak berdaya. Coba bandingkan dengan zaman sekarang.

Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal seperti dalam Injil Markus 6:34 dan tidak berbicara tentang Kerajaan seperti disebut dalam Injil Lukas 9:11. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual.

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป (Mat. 14:15-18)

Menjelang malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.” Yesus berkata kepada mereka, “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช, ๐™ ๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!” Jawab mereka, “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Yesus berkata, “๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ.” (Mat. 14:15-18, TB II 2023)

Keterangan waktu menjelang malam hendak menyatakan bahwa betapa sempit waktu bagi khalayak untuk mencari makan. Bahkan ucapan murid pada frase ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ yang diterjemahkan dari ๐˜ฉe๐˜ณ๐˜ข o๐˜ฅo ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณo๐˜ญ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ berarti literal waktu sudah habis. Matius tampaknya hendak menciptakan ketegangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka memojokkan Yesus dengan alasan waktu sudah habis sehingga mereka mengharapkan Yesus segera memberi perintah kepada khalayak untuk mencari makanan.

Rupanya tanggapan Yesus di luar dugaan para murid. Orang banyak tidak perlu pergi, bahkan Yesus memberi perintah kepada para murid, “๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ž ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ!” Mendengar perintah itu para murid berusaha ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญe๐˜ด, “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Perintah Yesus itu berlaku sepanjang masa. Gereja tidak boleh menutup mata kepada orang kelaparan, orang tak berdaya, gereja tidak boleh menyingkirkan orang tertentu diantara umat. Gereja harus memberi mereka makan tanpa syarat, gereja harus menerima siapapun tanpa syarat. Tidak ada alasan bagi Gereja tidak memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan. 

Mendengar jawaban para murid yang ngelรจs itu Yesus berkata, “๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ.” Gereja melayani dari yang ada, bukan mengada-ada, gereja melayani dari kesederhanaan bukan kemewahan. Apalagi mengada-adakan alasan untuk tidak melayani.

๐— ๐˜‚๐—ธ๐—ท๐—ถ๐˜‡๐—ฎ๐˜ ๐—น๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ฟ๐—ผ๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป (Mat. 14:19-20)

Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat. 14:19-21, TB II 2023)

๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต diterjemahkan dari ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ข๐˜ด ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ; ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ dapat berarti surga. Kosmologi pada zaman itu surga terletak di atas bumi datar yang berbentuk seperti tampah. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ diterjemahkan dari ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จo๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ, yang berarti literal memberkati (roti). Teks ini janggal, karena kebiasaan orang Yahudi adalah memberkati (atau mengucap doa berkat kepada) Allah, bukan barang (roti). Kitab Injil adalah produk Gereja, bukan kitab Injil membuat Gereja. Gereja sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan teks kitab Injil ini sangat bolehjadi sudah berwarna kristiani, karena Gereja atau umat Kristen meyakini roti ekaristi adalah roti kudus.

๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ tentu maksudnya membelah-belah roti. Dalam keluarga Yahudi prosesi pemecahan roti dilakukan oleh kepala keluarga sebagai isyarat memula makan. Tidak ada penjelasan Yesus juga membelah-belah ikan karena lazimnya makan bersama diawali dengan pemecahan roti. Sesudah pemecahan roti Yesus memberikan roti-roti itu kepada murid-murid-Nya, kemudian mereka memberikannya kepada orang banyak. Di sini murid-murid akhirnya memberi makan orang banyak seperti perintah Yesus dan sekaligus menjadi perantara. Demikianlah sepatutnya Gereja yang sudah diberi berkat oleh Allah, maka memberikan berkat kepada orang banyak di luar Gereja.

Khalayak makan sampai kenyang. Frase ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ diterjemahkan dari kata ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉo๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus, “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Kata ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ di sini diterjemahkan dari kata ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉo๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช, yang berakar kata yang sama dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Tampaknya Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga menyenyangkan secara ragawi. Haruslah ada kesetimbangan. Jangan sampai umat ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ.

Khalayak bukan saja makan sampai kenyang, roti pun masih berlebih sampai dua belas bakul penuh. Sepatutnya seperti itulah selalu ada makanan di Gereja. Namun, jika para pejabat gerejawi tidak peduli, tidak pernah mau mendengar, mereka justru membiarkan umat mencari makan di tempat yang tidak tepat.

Jumlah lima ribu orang yang makan, belum termasuk perempuan dan anak-anak, juga tertulis di Markus 6:44. Dapat dimengerti pada waktu itu di masyarakat Yahudi hanya laki-laki dewasa yang dihitung atau dipentingkan. Orang Yahudi menyukai keluarga besar. Dapat dibayangkan jumlah total orang yang makan. Bukan tak mungkin jumlah totalnya mencapai 30 ribu orang. Dari lima roti dan dua ikan, yang sejumlah itu hanya dapat dimakan oleh dua orang dewasa, dapat memberi makan ribuan orang. Perbuatan kecil berdampak luar biasa. Demikian halnya Gereja tak perlu ragu-ragu untuk berbuat kebajikan, meskipun hanya perbuatan kecil.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. Pejabat gerejawi yang malas belajar, tidak mau mendengar, tidak akan pernah mengenyangkan umat bahkan antikritik. Jangan salahkan umat, apabila mereka mencari makan di tempat lain.
(06082023)(TUS)

Kamis, 23 Juli 2026

Sudut Pandang Maria Magdalena seorang pelacur

Sudut Pandang Maria Magdalena seorang pelacur

PENGANTAR 
Maria Magdalena bukan pelacur, itu pendapat saya. Seringkali khotbah modern menyebut Maria sebagai pelacur yang bertobat, itu keliru dalam sudut pandang saya. Menurut Alkitab; tidak ada satu ayat pun yang menyebutnya demikian. Kesalahpahaman ini muncul karena penggabungan tradisi atas tiga sosok perempuan berbeda: (1) “perempuan berdosa” tanpa nama di Lukas 7, (2) Maria dari Betania yang mengurapi Yesus di Yohanes 12, dan (3) Maria Magdalena yang disebut setelah kisah pengurapan di Lukas 8:2. Gereja Latin (terutama lewat homili Paus Gregorius Agung, 591 M) menyamakan ketiganya, sehingga citra “pelacur yang bertobat” melekat pada Magdalena selama berabad-abad. Juga, tidak bisa disangkal dalam tradisi kuno Yudaisme, kehidupan bermasyarakat zaman itu sebutan Maria, juga sering disematkan pada profesi pelacur pada zamannya. Nama Maria pada zamannya adalah nama lumrah, selain Maria ibu Yesus, memang Alkitab menyebutkan nama Maria yang lain.
PEMAHAMAN 
Siapa Maria Magdalena dalam Perjanjian Baru?
Dalam Injil-injil kanonik, Maria Magdalena diperkenalkan secara eksplisit hanya sebagai murid perempuan yang telah dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat dan yang mendukung pelayanan Yesus bersama perempuan-perempuan lain.

Lukas 8:1–3:  
“...dan juga beberapa perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat … Mereka ini melayani Yesus dengan kekayaan mereka.”  Tidak ada kata “pelacur”, “zina”, atau “perempuan berdosa” di sini. 

Markus 15:40; 16:1; Matius 27:56; 28:1; Lukas 24:10; Yohanes 19:25; 20:1–18:  
  Maria Magdalena muncul konsisten sebagai saksi penyaliban, penguburan, dan terutama saksi pertama kebangkitan. Dalam Yohanes 20, ia bahkan mendapat perutusan khusus (“Pergilah kepada saudara-saudara-Ku…”) sehingga tradisi Timur menyebutnya “rasul bagi para rasul”. Sekali lagi, tidak ada indikasi profesi seksual. Mengapa banyak tradisi menganggapnya pelacur?
Ada tiga sumber utama kebingungan:

a) Penggabungan dengan “perempuan berdosa” di Lukas 7
- Lukas 7:36–50 menceritakan seorang “perempuan yang terkenal sebagai berdosa” (tanpa nama) yang meminyaki kaki Yesus di rumah Simon orang Farisi.  
- Bab berikutnya (Lukas 8:2) langsung menyebut Maria Magdalena yang “telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”.  
- Karena urutan naratif ini, banyak pembaca (dan kemudian homili), mengasosiasikan “tujuh roh jahat” dengan “tujuh dosa besar” atau dosa seksual, lalu menyimpulkan: “Maria Magdalena = perempuan berdosa di Lukas 7”. Padahal secara tekstual, Lukas tidak menyamakan keduanya. 

b) Penggabungan dengan Maria dari Betania (saudara Marta & Lazarus)
- Yohanes 12:1–8: Maria (saudara Marta dan Lazarus) mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu.  
- Markus 14:3–9 / Matius 26:6–13: Seorang perempuan mengurapi kepala Yesus di Betania (tanpa nama).  

- Karena tema “pengurapan” mirip, tradisi lama (khususnya Gereja Latin) menggabungkan:  

  1) perempuan berdosa (Lukas 7),  
  2) Maria Magdalena ( Lukas 8:2), dan  
  3) Maria dari Betania (Yohanes 12).  
  Hasilnya: satu sosok “Maria Magdalena = pengurap = pelacur bertobat”. 

c) Pengaruh homili Paus Gregorius Agung (591 M)
Dalam sebuah homili terkenal, Gregorius Agung secara tegas menyatukan ketiga perempuan ini dan menegaskan bahwa “tujuh roh jahat” berarti segala jenis dosa, termasuk dosa seksual. Homili ini sangat berpengaruh di Barat selama lebih dari 1.000 tahun, sehingga citra Magdalena sebagai “pelacur yang bertobat” menjadi populer dalam seni, liturgi, dan devosi. 

Catatan pentingnya: “Tujuh roh jahat” ≠ “tujuh dosa besar” dalam bahasa Alkitab. Dalam Perjanjian Baru, “roh jahat” lebih sering merujuk pada penyakit/penindasan roh, bukan katalog dosa moral. [

Bukti alkitabiah bahwa Maria Magdalena bukan pelacur
Berikut dalil tekstual langsung:

1. Tidak ada satu ayat pun di keempat Injil yang menyebut Maria Magdalena sebagai “pelacur”, “peziarah”, “wanita cabul”, atau “perempuan berdosa”.  
   - Jika Lukas ingin mengidentifikasikannya dengan perempuan di Lukas 7, ia bisa menulis “Maria yang disebut Magdalena, yang tadinya dikenal sebagai berdosa…”, tetapi ia tidak melakukan itu. 

2. Lukas 8:2 memberi predikat: “telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”, bukan “telah diampuni dosa-dosanya” (padahal Lukas menggunakan frasa pengampunan dosa di Lukas 7:47–48 untuk perempuan berdosa). Perbedaan terminologi ini menunjukkan dua kasus berbeda. 

3. Konsistensi peran: Dari Lukas 8 sampai Yohanes 20, Maria Magdalena konsisten sebagai murid yang setia, pendukung finansial, dan saksi. Tidak ada narasi “pertobatan dari pelacuran” yang melekat padanya. [1][3]

4. Konteks geografis: Maria berasal dari Magdala (kota di tepi Danau Galilea), bukan dari Betania dekat Yerusalem (lokasi kisah pengurapan di Yohanes 12). Ini juga melemahkan identifikasi otomatis antar-sosok. 

Karena kesamaan motif “pengurapan” dan urutan bab Lukas 7–8, tradisi Latin menyatukan ketiganya; tradisi Timur dan banyak sarjana modern memisahkan mereka. 
Mengapa “tujuh roh jahat” disalahtafsirkan?
- Dalam budaya populer, “tujuh” sering diasosiasikan dengan tujuh dosa pokok. Namun dalam teks Yahudi-Kristen abad I, “tujuh roh jahat” lebih dekat dengan gambaran, penindasan/penyakit roh yang parah (lih. Matius 12:45; Lukas 11:26).  
- Lukas sendiri membedakan bahasa untuk penyembuhan roh jahat (Luk 8:2) dan pengampunan dosa (Luk 7:47–48). Jika Magdalena adalah “perempuan berdosa” Lukas 7, penulis dapat memakai bahasa yang sama—namun ia tidak. Berikut beberapa rujukan referensi yang membahas isu ini secara kritis:

- Ann Graham Brock, Mary Magdalene, the First Apostle: The Struggle for Authority (2003) – menelusuri bagaimana tradisi menggeser otoritas Magdalena dan membangun citra “pendosa bertobat”. 
- Jane Schaberg, The Resurrection of Mary Magdalene (2002) – analisis historis-kritis tentang figur Magdalena dan bagaimana citra pelacur terbentuk. 
- Karen L. King, The Gospel of Mary of Magdala: Jesus and the First Woman Apostle (2003) – membahas Magdalena dalam tradisi non-kanonik, otoritas dalam Gereja awal. 
- Catholic Encyclopedia (edisi lama) dan dokumen Vatikan pasca-1969 mengakui bahwa identifikasi tiga Maria itu tidak lagi dipertahankan secara resmi dalam liturgi Romawi setelah reformasi kalender. 
- Banyak komentar Injil akademis (mis. New Testament Commentary seri-s seri kritis) menekankan pemisahan teks antara Lukas 7 dan 8, serta menolak identifikasi otomatis. 

Jadi, apa yang benar?
Maria Magdalena bukan pelacur menurut Alkitab. Citra “pelacur bertobat” adalah hasil konflasi tradisi (terutama Gereja Latin abad pertengahan) yang menggabungkan:  
  1) perempuan berdosa tanpa nama (Lukas 7),  
  2) Maria dari Betania (Yohanes 12), dan  
  3) Maria Magdalena (Lukas 8:2).  
- Secara alkitabiah, dugaan yang paling aman: Maria Magdalena adalah murid perempuan yang disembuhkan, pendukung pelayanan, dan saksi pertama kebangkitan, bukan pelacur. Ayat-ayat kunci untuk ditelusuri dan diteliti ulang :
- Lukas 8:1–3 (Maria Magdalena diperkenalkan)  
- Lukas 7:36–50 (perempuan berdosa tanpa nama)  
- Yohanes 12:1–8 (Maria dari Betania mengurapi Yesus)  
- Markus 14:3–9 / Matius 26:6–13 (pengurapan di Betania)  
- Yohanes 20:1–18 (Maria Magdalena, saksi pertama kebangkitan)  
- Markus 16:9 (disebut “tujuh roh jahat”, tanpa label pelacur) 

(24072026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:31-33, 44-52 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:31-33, 44-52 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ

PENGANTAR 
Minggu 26 Juli 2026, Dalam liturgi sesudah menyelesaikan pengedaran kantong kolekte disusul dengan doa yang biasanya dipimpin oleh penatua atau diaken, tetapi kadang oleh pendeta. Dalam doa itu terkadang kita mendengar pendoa mengucapkan yang lebih-kurang, “ … ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜”๐˜ถ.”

Dari frase doa itu dapat diduga bahwa cukup banyak pejabat gerejawi mencerap Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) sama dengan Gereja. Gereja tidak sama dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah juga tidak perlu diperluas karena Kerajaan Allah tak tertakrifkan dengan matra luas. Di Alkitab tidak ada perintah ekspansi Kerajaan Allah, melainkan memberitakan Kerajaan Allah.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesembilan sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 13:31-33, 44-52 yang didahului dengan 1Raja-Raja 3:5-12, Mazmur 119:129-136, dan Roma 8:26-39.

Minggu ini kembali bacaan menyajikan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Secara khusus pengarang Injil Matius mengumpulkan tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Allah dalam pasal 13.

✝️ Matius 13:3-9, 18-23: Perumpamaan tentang penabur dan penjelasannya (Minggu, 12 Juli 2026)
✝️ Matius 13:24-30, 36-43: Perumpamaan tentang lalang di antara gandum dan penjelasannya (Minggu, 19 Juli 2026)
✝️ Matius 13:31-32: Perumpamaan tentang biji sesawi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:33: Perumpamaan tentang ragi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:44: Perumpamaan tentang harta terpendam (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:45: Perumpamaan tentang mutiara yang berharga (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:47-50: Perumpamaan tentang jala besar (Minggu, 26 Juli 2026)

Bacaan Injil Minggu ini mencakup lima perumpamaan. Ayat 51-52 hendak menyajikan semacam kesimpulan.

Perumpamaan (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญe๐˜ฏ atau ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ) merupakan metafora, perbandingan. Ketujuh perumpamaan di atas hendak menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) dengan perbandingan. Perbandingannya dengan hal-hal yang ada di alam atau kegiatan sehari-hari. Untuk mengantarkan perumpamaan-perumpamaan itu Yesus seperti bernyanyi ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ: ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข … 

Meskipun demikian semua perumpamaan tersebut masih belum dapat mencakup takrif tentang Kerajaan Allah. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah merupakan sesuatu yang sukar diperikan dengan kata-kata karena ia jauh melampaui pikiran manusia.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ถ๐—ท๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐˜„๐—ถ

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 13:31-32)

LAI menerjemahkan ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆo๐˜ด menjadi sesawi. RSV, KJV, NIV, dan Alkitab berbahasa Inggris lainnya menerjemahkan ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆo๐˜ด menjadi ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ, yang diindonesiakan menjadi moster. Sesawi bukan sawi, tetapi sesawi masuk ke dalam kelompok sayuran seperti dalam frase ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ.

Mengontraskan yang kecil dengan yang besar merupakan ciri peribahasa Yahudi. Apabila Allah menegakkan kuasa-Nya, suasananya seperti biji sesawi yang diambil dan ditaburkan kemudian tumbuh menjadi pohon. Awal karya Yesus yang tampak amat sederhana, tidak menonjol, diumpamakan biji sesawi yang kecil itu. Secara hiperbolik biji sesawi dikontraskan dengan pohon sesawi yang menjadi tempat burung bersarang. Disebut hiperbolik karena tidaklah umum burung-burung bersarang di tanaman sesawi. Dalam Perjanjian Lama (PL) pohon besar merupakan simbol kerajaan penuh kuasa yang akan melindungi negara-negara taklukan (bdk. Yeh. 17:23; 31:6, Dan. 4:20-22). Tampaknya perumpamaan ini hendak mengatakan bahwa pemberitaan Kerajaan Surga jangan disepelekan karena pada saat Kerajaan itu datang secara penuh, orang-orang berdatangan minta perlindungan.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฟ๐—ฎ๐—ด๐—ถ

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ 40 ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 13:33)

Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran, untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang ditatastrukturkan menurut sistem kekudusan atau puritas Yudaisme. Ragi dalam kitab Keluaran 12:19 ditunjuk sebagai penyebab kenajisan yang membuat seorang Israel dicampakkan dari komunitas. Perhatikan ucapan Rasul Paulus dalam Galatia 5:9 yang memuat metafora ragi sebagai penyebab orang menyimpang dari kebenaran dan dalam 1Korintus 5:6-8 sebagai perbuatan dosa. Dalam Markus 8:15 Yesus memeringatkan murid-murid-Nya untuk berwaspada terhadap ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด.

Yesus memang radikal. Dengan berani Yesus memetaforakan Kerajaan Allah dengan ragi. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis para imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Kekudusan Allah di tengah-tengah penajisan oleh kekuasaan kafir (Roma) atas Tanah Yudea ditemukan di antara kalangan najis. Bandingkan dengan ucapan Yesus dalam Lukas 17:21b, “...๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.”

Tindakan Yesus yang membangun dan memasuki persekutuan dengan orang-orang najis dan marginal serta makan bersama-sama dengan mereka membentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter. Pemberitaan Kerajaan Allah merobohkan hierarki sosial-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas Yudaisme. Yesus tidak menghendaki rakyat dipecah-pecah dan diceraiberaikan berdasarkan sistem puritas.  

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ

“๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜–๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.

๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” (Mat. 13:44-45)

Dua perumpamaan itu saya gabungkan pengulasannya karena serupa dan berhubungan dengan cara penyampaian yang berbeda. Yang satu tentang seorang buruh peladang, sedang yang lain tentang seorang pedagang kaya. Pusat perhatian bukan pada harta terpendam dan mutiara, melainkan reaksi kedua orang itu. Meskipun reaksi kedua orang itu mirip, yakni menjual seluruh milik mereka untuk membeli ladang dan mutiara yang indah itu, tetapi kedua orang itu berangkat dengan tujuan yang berbeda. Buruh peladang bekerja tidak bertujuan mencari harta terpendam, sedang pedagang itu memang bertujuan mencari mutiara yang indah. Kedua perumpamaan itu bukan untuk menyatakan bahwa Kerajaan Surga itu sangat tinggi harganya.

Dari konteks keseluruhan pasal 13 kedua perumpamaan itu merujuk gagasan penghakiman. Pengarang Injil Matius hendak menampilkan model umat Kristen yang mau berkorban besar untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Jika kita melongok perumpamaan tentang ragi, itu berarti umat Kristen harus mau berkorban besar untuk peduli kepada masyarakat marginal. Di sini peduli bukan saja mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan, tetapi juga menghadirkan keadilan.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ

“๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. 

๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ: ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜จ๐˜ช.” (Mat. 13:47-50)

Sastra kuno memang kerap mengambil judul dari kata atau frase atau kalimat pertama, meskipun tidak memerikan isi karangan. Perumpamaan tentang jala di atas bukan tentang jala itu sendiri, melainkan hal yang terjadi sesudah para penjala menarik jala ke pantai. Perumpamaan ini mirip dengan perumpamaan lalang di ladang gandum (Minggu, 19 Juli 2026).

Di awal Injil ini Yohanes Pembaptis berkampanye bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah siap memegang kapak untuk memotong setiap pohon dan batang yang tidak berbuah. Yohanes juga mengatakan bahwa Mesias sudah memegang alat penampi untuk menyingkirkan sekam dari gandum dan membakar sekam dalam api yang tak terpadamkan. Yohanes berpikir bahwa Yesus akan langsung menghancurkan orang-orang Farisi dan Saduki (lih. Mat. 3:7-12).

Ternyata Yesus tidak seperti yang dipikirkan dan dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus tidak menciptakan komunitas orang-orang bersih dan suci. Yesus bahkan tidak bersetuju dengan gagasan menyingkirkan langsung ikan tidak baik dari jala. Mula-mula semua ikan berbagai jenis bercampur baur dalam satu jala besar, baru kemudian sesudah ditarik ke pantai ikan-ikan yang baik dikumpulkan, sedang ikan yang tidak baik dibuang. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ di sini dari kata ๐˜ด๐˜ข๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข yang berarti busuk atau rusak.

Menyingkirkan langsung orang jahat dari orang baik dipandang oleh Yesus sebagai tindakan yang salah. Yesus meminta kesabaran dengan hidup berdampingan sampai jala itu sampai di pantai, suatu kiasan tentang akhir zaman. Akhir zaman menurut Matius bukanlah hari kiamat, melainkan saat Kerajaan Allah datang secara penuh, yang orang-orang jahat disingkirkan dari orang-orang benar. Yang disebut dengan orang-orang benar adalah yang melakukan kehendak Allah (bdk. Mat. 6:33).

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ

“๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?” Jawab mereka, “๐˜ ๐˜ข.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 13:51-52)

๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข dan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข di sini adalah murid-murid Yesus. Yesus menutup tujuh perumpamaan dengan perumpamaan. Frase ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ seperti hendak mengantarkan kepada kesimpulan.

Perlu dicermati istilah ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต dalam frase ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. Frase asli dari teks sumber penerjemahan adalah ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉe๐˜ต๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ตe ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข ๐˜ตo๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏo๐˜ฏ, yang berarti ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. Dalam Injil Matius istilah ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต disebut sebanyak 23 kali, tetapi hanya di ayat 52 ini gelar atau sebutan itu dikenakan kepada pengikut Kristus, yang boleh menjadi pengajar agama.

Meskipun pengikut Kristus sudah setara dengan ahli Taurat, tetapi ia harus ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ disebutkan lebih dahulu daripada ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข. Inilah khas Injil Matius. Pengikut Kristus harus mendahulukan pengajaran dari Yesus (๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ) dan sekaligus tidak melupakan akarnya, yakni Kitab Suci Yahudi (๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข).

Dalam tiga hari Minggu berturut-turut (12, 19, dan 26 Juli) bacaan ekumenis mengambil perumpamaan-perumpamaan Yesus dari Matius 13 untuk menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga). Meskipun demikian masih sukar untuk membuat takrif yang memuaskan mengenai Kerajaan Allah. Yang dapat kita jumput adalah ciri-cirinya: damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan. 

Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan hamba misi Kerajaan Allah. Gereja harus menghadirkan ciri-ciri Kerajaan Allah, yakni damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan kepada masyarakat di sekitarnya (partikular) dan dunia (universal) tanpa memandang SARA.
 (30072023)(TUS)

Kamis, 16 Juli 2026

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

PENGANTAR
 Sastra Ibrani merupakan bidang kajian penting dalam studi biblika, karena bentuk sastra ini memengaruhi cara teks ditafsirkan dan dimaknai secara teologis maupun historis.  
PEMAHAMAN
Bahasa Ibrani Alkitab menggunakan istilah mishal (ืžืฉืœ) untuk peribahasa atau perumpamaan atau prosa, dan shir (ืฉื™ืจ) untuk nyanyian atau puisi. Struktur puisi Ibrani ditandai oleh paralelisme (pengulangan makna dalam baris-baris sejajar), bukan oleh rima atau metrum seperti dalam puisi modern.  Contoh: Mazmur dan Amsal banyak menggunakan bentuk ini. Dalam PB, istilah yang digunakan adalah parabolฤ“ (ฯ€ฮฑฯฮฑฮฒฮฟฮปฮฎ), yang berarti “perbandingan” atau “kisah perumpamaan”. Yesus sering menggunakan bentuk ini untuk mengajar kebenaran rohani melalui narasi sederhana (misalnya dalam Injil Matius 13). Prosa PL: Digunakan untuk narasi sejarah dan hukum (misalnya Kejadian, Keluaran). Struktur prosa menekankan kronologi dan tindakan Allah dalam sejarah umat-Nya, konsep-konsep tentang Allah dan polemik nya tertuang pada bentuk Prosa. Puisi PL: Menyampaikan emosi, doa, dan refleksi iman (contohnya Mazmur, Kidung Agung). Ciri khasnya adalah paralelisme sinonim, antitetik, dan sintetis. Biasanya puisi digunakan untuk menjembatani atau menjadi gambaran jawab atas konsep polemik yang ada di prosa. Perumpamaan PB:Berfungsi sebagai alat pedagogis dan teologis. Struktur umumnya terdiri dari:  

  1. Situasi sehari-hari,  
  2. Konflik atau kejutan,  
  3. Poin moral atau teologis.  

Tujuannya bukan sekadar ilustrasi, tetapi untuk menantang pendengar agar merenungkan kebenaran rohani. Dalam tafsir akademik, bentuk sastra menentukan metode hermeneutik:
Puisi Ibrani ditafsirkan dengan memperhatikan paralelisme dan simbolisme. Prosa naratif dianalisis dengan pendekatan historis-kritis dan naratif. Perumpamaan Yesus ditafsirkan dengan pendekatan kontekstual dan teologis, memperhatikan audiens dan maksud pengajaran. Prosa menekankan tindakan Allah dalam sejarah, polemik konsep Allah. Puisi mengekspresikan hubungan pribadi dan emosional dengan Allah, jembatan atau gambaran makna yg menjembatani prosa tentang konsep Allah. Perumpamaan mengungkapkan rahasia Kerajaan Allah melalui bahasa simbolik yang mudah diingat. Hal ini yg diungkap pada Beberapa sumber akademik yang relevan:
- Adele Berlin, The Dynamics of Biblical Parallelism (Eerdmans, 2008).  
- Robert Alter, The Art of Biblical Poetry (Basic Books, 2011).  
- Craig L. Blomberg, Interpreting the Parables (IVP Academic, 2012).  
- Richard A. Burridge, What Are the Gospels? (Eerdmans, 2004).  
- Artikel jurnal:  
  - Journal of Biblical Literature (JBL) – studi tentang struktur puisi Ibrani dan perumpamaan Yesus.  
  - Biblica – penelitian linguistik dan hermeneutik teks Ibrani dan Yunani. Puisi, Prosa dan perumpamaan Alkitab mengajarkan bahwa bahasa indah dapat menjadi sarana wahyu ilahi. Melalui kisah dan simbol, Allah berbicara kepada hati manusia, mengundang kita untuk merenungkan kasih, keadilan, dan kebenaran-Nya. Prosa, puisi, dan perumpamaan dalam Alkitab bukan sekadar bentuk sastra, tetapi sarana komunikasi ilahi yang kaya makna. Pemahaman terhadap bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani) membantu penafsir menggali kedalaman pesan rohani dan teologis yang terkandung di dalamnya.
(23072026)(TUS)

๐—•๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ถ ๐—š๐—ž๐—œ: ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜ผ๐™œ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ช๐™จ๐™–๐™ฃ? GKI se...