Kamis, 27 Agustus 2026

Sudut Pandang apa benar Yohanes iri pada Yesus?

Sudut Pandang apa benar Yohanes  iri pada Yesus?

Tempo hari saya membedah khotbah ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ tentang kisah transfigurasi versi Injil Lukas. Tentu saja para penggemarnya menuduh saya iri dan sengaja menyerang pribadi Mantofa. Padahal sangat terang saya mengulas apa yang diucapkan dalam rangka khotbahnya oleh Mantofa di YouTube. Menggosip kehidupan pribadinya justru menjatuhkan martabat saya.

Sekarang saya membedah khotbah ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐——๐—ฒ๐—ฏ๐—ฏ๐˜† ๐—•๐—ฎ๐˜€๐—ท๐—ถ๐—ฟ. Sumber :

 https://www.youtube.com/watch?v=bM0d0rBvBq8 

Khotbah Debby diambil dari Matius 11:2-11 dan diberi tema: ๐—–๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ฎ๐—ป.

๐Ÿญ. ๐—ง๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ "๐—ž๐—ฒ๐—ฐ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ" ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ "๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ"

Saya membaca teks Matius mencerap kekecewaan Yohanes terhadap Mesias yang tidak sesuai dengan harapannya.

Debby memberi tema: "Cara menang dari iri dan kekecewaan" Lalu ia segera membangun psikologi Yohanes: "ada rasa iri hati melihat pekerjaan Tuhan bagi orang lain tapi kenapa saya tidak"

Di sini sudah ada masalah hermeneutis yang cukup besar. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€ ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ. Tidak ada kata "iri", "cemburu", atau bahkan keterangan bahwa Yohanes merasa orang lain ditolong sementara dirinya tidak. Itu semua adalah pengisian psikologi tokoh oleh Debby.

Memang sangat mungkin Yohanes kecewa atau bingung. Kita dapat menduga dari ketegangan antara pemberitaan Yohanes dalam Matius 3:10-12 dengan karya Yesus dalam Matius 8-9.

Debby justru memasukkan pengalaman psikologis modern: "orang lain bisa ditolong ... tetapi kenapa saya tidak?"

Jadi, Debby melihat Yohanes akhirnya menjadi semacam contoh kasus orang yang iri melihat orang lain diberkati. Padahal justru pertanyaan Yohanes sangat spesifik: "๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ?"

Itu bukan kalimat, "Mengapa mereka ditolong tetapi saya tidak?"

๐Ÿฎ. ๐——๐—ฒ๐—ฏ๐—ฏ๐˜† ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜€๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป

Mari kita merekonstruksi teks Matius. Yohanes sebelumnya memberitakan Mesias sebagai orang yang akan: menebang pohon yang tidak berbuah, membersihkan tempat pengirikan, mengumpulkan gandum, membakar sekam dengan api yang tidak terpadamkan. Kemudian Yohanes masuk penjara.

Dalam pada itu Yesus malah: menyembuhkan, memulihkan, membangkitkan, memberitakan kabar baik kepada orang miskin.

Jadi, kita dapat menali hasil rekonstruksi teks di atas: Apa yang dilakukan Yesus tampaknya tidak memenuhi pengharapan Yohanes. Ini argumentasi tekstual. Ada ekspektasi Yohanes dan kemudian ada realitas karya Yesus yang tampaknya berbeda.

Debby tidak mengembangkan ketegangan itu. Debby justru mengatakan: "Dia sudah melihat bahwa memang itu Yesus sang Mesias..." Lalu: "karena kekecewaan ya dan dia iri melihat bagaimana pekerjaan Yesus di luar sana sementara dia tidak mengalami pertolongan itu..."

Nah, ini lebih problematis, sebab  pertanyaan Yohanes justru adalah: "๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?"

Dengan kata lain Matius sengaja membiarkan pertanyaan itu berada di dalam cerita. Debby malah menyelesaikan persoalannya terlebih dahulu: Yohanes sudah tahu Yesus Mesias → Yohanes kecewa + iri → Yohanes meragukan Tuhan.

Padahal teks tidak memberikan rangkaian psikologis sesederhana itu.

๐Ÿฏ. ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ด๐˜‚๐—ฟ ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ฒ๐—ฏ๐—ฏ๐˜†

Dalam khotbah Debby di sini Yohanes praktis dijadikan contoh orang yang: kecewa → ragu → berpotensi menolak Tuhan.

Debby mengatakan: "iri hati kekecewaan bisa membuat orang akhirnya menolak dan meragukan Tuhan" kemudian "orang yang kecewa sudah pasti nanti akan menolak"

Padahal apabila kita lanjut membaca Matius 11:7-11, terjadi sesuatu yang agak mengganggu konstruksi Debby tersebut. Yesus justru membela Yohanes di depan orang banyak. Setelah murid-murid Yohanes pergi, Yesus berkata: "๐˜œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜จ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ?" Kemudian Yesus memuji Yohanes sebagai nabi, bahkan mengatakan: "๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜‹๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด."

Ini penting sekali.

Kalau maksud utama teks adalah (seperti yang dibangun oleh Debby): "Jangan seperti Yohanes. Kalau kecewa kepada Tuhan, jangan sampai menjadi tidak percaya." maka aneh bahwa segera setelah itu Yesus malah memberikan pembelaan dan pujian yang sangat tinggi kepada Yohanes.

Padahal kalau kita membaca Matius dengan cermat dapat kita cerap bahwa Yesus tidak mau menjatuhkan Yohanes. Kata orang Jawa, Yesus menang tanpa ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌรฉ. Ini justru bagian yang hilang dari khotbah Debby.

๐Ÿฐ. ๐—”๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐Ÿฒ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐˜€ "๐—ธ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ → ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ธ ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป"

Debby sangat bergantung pada Matius 11:6: "๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ."

Lalu dibuat formula oleh Debby: "Kalau engkau kecewa pada akhirnya engkau akan menolak Tuhan." 
sehingga akhirnya: "kekecewaan itu akan membuat kita pada akhirnya menolak Tuhan"

Ini contoh yang jitu tentang bagaimana sebuah ayat digeser fungsi naratifnya menjadi prinsip umum.

Padahal dalam konteks Matius 11 perkataan Yesus itu sangat mungkin berpautan dengan tanggapan terhadap diri dan karya Yesus yang tidak sesuai dengan harapan orang.

Jadi bukan sekadar:
kecewa = dosa
kecewa = pasti menolak Tuhan.

Justru ada paradoks: Yesus tidak memenuhi gambaran Mesias seperti yang diharapkan Yohanes, tetapi Yohanes harus belajar mengenali karya Mesias dalam bentuk yang berbeda. Apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan.

๐Ÿฑ. "๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜" ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐˜

Bacaan adalah Injil Matius pasal 11. Genre Injil Matius adalah cerita sehingga ada 10 pasal yang mendahului cerita pasal 11. Jadi, ucapan Yesus merujuk cerita pada pasal-pasal sebelumnya.

Mari kita simak teks Injilnya.
๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ  → pengajaran Yesus, khususnya Matius 5-7
๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต  → karya Yesus dalam Matius 8-9.

Secara rinci ini senarainya:
• Orang buta melihat. Di mana? Matius 9:29 (bdk. Yes. 29:18; 35:5).
• Orang lumpuh berjalan. Di mana? Matius 8:13; 9:6 (bdk. Yes. 35:6).
• Orang kusta menjadi tahir atau sembuh. Di mana? Matius 8:1-4 (bdk. Yes. 53:4).
• Orang tuli mendengar. Di mana? Tidak ada di Injil Matius. (bdk. Yes. 29:18; 35:5).
• Orang mati dibangkitkan. Di mana? Matius 9:25 (bdk. Yes. 26:19).
• Kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Di mana? Matius 5:3 (bdk. Yes. 61:1)

๐˜–๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ-๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ mengapa cerita orang tuli mendengar di atas tidak ada di dalam Injil Matius seperti cerita-cerita yang lain? Apakah pengarang Injil Matius lupa menulis? Tampaknya Matius tidak lupa, bahkan ia “menghapus” cerita yang ada di Markus 7:31-37 dan ucapan di Markus 9:25. Mengapa? ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต.

Tapiiii Debby hanya mengatakan: "cerita aja apa yang kamu dengar yang kamu lihat" Lalu daftar mukjizat tersebut digunakan sebagai bukti bahwa Yesus adalah Mesias.

Itu tentu tidak salah secara umum, tetapi kedalaman nasabah Matius dengan Yesaya tidak disentuh sama sekali. Padahal justru di situlah kekuatan teks.

Yesus tidak menjawab: "Ya, Aku Mesias." Ia menjawab dengan menunjuk karya yang sedang terjadi, karya yang memiliki gema kuat dari nubuat Yesaya. Dengan demikian Yohanes diminta menafsirkan karya Yesus, bukan sekadar menerima jawaban verbal "Aku Mesias."

๐Ÿฒ. "๐—ข๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐˜‚๐—น๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ"

Mari kita telisik teks Matius bahwa "orang tuli mendengar" tidak mempunyai kisah paralel dalam Injil Matius. Matius tidak memasukkan kisah Markus 7:31-37. Mengapa? Saya sendiri tidak tahu. ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ.

Namun, Debby tidak masuk ke wilayah ini sama sekali. Akibatnya bagian yang seharusnya menjadi pusat kristologis teks: "Siapakah Yesus dan bagaimana karya-Nya memenuhi harapan mesianik?" 
berubah menjadi:  "Bagaimana supaya kita tidak kecewa kepada Tuhan?"

๐Ÿณ. ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ "๐—ป๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฃ๐—Ÿ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—•" ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต

Debby beberapa kali mengatakan Yohanes adalah: "nabi perantara antara Perjanjian Lama dan perjanjian baru"

Secara homiletis orang mungkin memahami maksudnya: Yohanes berada pada titik transisi sejarah keselamatan, tetapi secara kanonik, kalimat itu perlu hati-hati untuk berargumen. Yohanes Pembaptis adalah tokoh dalam Injil, bukan "orang PL" yang berdiri di luar PB. Lebih tepat melihat Yohanes sebagai tokoh yang berada pada ambang penggenapan: ia adalah nabi yang memersiapkan kedatangan Yesus, sekaligus tokoh yang tampil dalam narasi Perjanjian Baru.

Justru Matius 11:11:  ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข membuka persoalan teologis, tetapi tidak dibahas oleh Debby. Padahal ini ayat yang sangat menarik untuk dikhotbahkan.

๐Ÿด. ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด ๐——๐—ฒ๐—ฏ๐—ฏ๐˜†

Setelah ayat 6 Yohanes perlahan berubah menjadi pintu masuk untuk khotbah Debby tentang pengalaman pribadi orang Kristen. Masuklah: orang yang dipenjara, orang yang kecewa, orang yang tidak disembuhkan, sakit gigi, sakit hati, suami yang pelit, dokter, operasi Rp5 juta, pengampunan, pejabat yang divonis mati, perselingkuhan, pertobatan, istrinya pulih, pendeta di Nigeria yang tidak sembuh. Cerita-cerita itu panjang sekali, menghabiskan sekitar lima menit. Lalu kisah pejabat dan perselingkuhan berlangsung sampai sekitar tujuh menit. [Simak saja khotbah-khotbah Debby Basjir, apa pun teks bacaannya, topik perselingkuhan tak ketinggalan dimasukkan wkwkwkwk]

Artinya secara proporsional Matius 11:2-11 akhirnya menjadi semacam pemicu untuk membicarakan kekecewaan. Ini bukan lagi eksposisi teks dalam pengertian ketat. Lebih tepat disebut khotbah tematis yang merudapaksa Matius 11 sebagai titik keberangkatan.

๐Ÿต. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€

Contoh paling jelas adalah kisah sakit gigi. Logikanya kira-kira: kekecewaan dan kepahitan → stres/masalah psikis → sakit fisik → mengampuni → sakit gigi sembuh.

Debby bahkan mengatakan: "waktu engkau membuang kekecewaan di hatimu Tuhan bisa mengubah segala-galanya"

Masalahnya bukan bahwa pengampunan tidak baik. Tentu saja pengampunan baik. Masalahnya adalah kesaksian individual dijadikan pola sebab-akibat yang seolah berlaku umum.

Padahal beberapa menit sebelumnya sendiri Debby sudah mengatakan sesuatu yang jauh lebih sehat: "tidak semua harus disembuhkan" dan: "Tuhan aku sembuh atau tidak sembuh ... aku percaya."

Nah, ini sebenarnya sangat dekat dengan persoalan Yohanes. Yesus tidak datang membebaskan Yohanes dari penjara. Bahkan Debby sendiri mengakui: "akhirnya Yohanes kepalanya dipenggal dan Tuhan enggak tolong." Tapiii kemudian kisah sakit gigi menghasilkan kesan: lepaskan kekecewaan → Tuhan menyembuhkan.

Ini membuat dua pesan dalam khotbahnya bertentangan satu sama lain.

๐Ÿญ๐Ÿฌ. ๐—ž๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐˜๐—ฎ ๐—ก๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ

Sebenarnya Debby sudah memberi ilustrasi cukup bagus tentang kisah pendeta di Nigeria: mendoakan orang sakit, orang lain sembuh, dirinya sakit, berdoa, berpuasa, tidak sembuh, kecewa kepada Tuhan, akhirnya meninggalkan Tuhan.

Kemudian Debby memberi kesimpulan: "Tuhan aku sembuh atau tidak sembuh ... aku percaya."

Nah, ini sebenarnya bisa menjadi inti khotbah yang sangat kuat, tetapi untuk sampai ke sana Debby tidak perlu menjadikan Yohanes orang yang "iri". Justru Yohanes sendiri adalah contoh yang sangat kuat: orang yang setia kepada Tuhan, melakukan tugasnya, dipenjara, tidak dibebaskan, lalu bertanya apakah Yesus benar-benar Mesias.

Tanggapan Yesus bukan: "Yohanes, jangan kecewa!" tetapi secara substansial: lihatlah karya-Ku; lihatlah apa yang sedang Allah kerjakan. Kemudian Yesus tetap menghormati Yohanes.

Ini jauh lebih kaya.

๐Ÿญ๐Ÿญ. ๐—”๐—ฑ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด “๐—ธ๐—ผ๐—ฐ๐—ฎ๐—ธ” ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด: ๐——๐—ฒ๐—ฏ๐—ฏ๐˜† ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€ "๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฐ๐—ฎ๐—ฝ"

Debby mengatakan: "Ini pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu terucap dari seorang Yohanes..."

Nah, ini menarik sekali kalau dibandingkan dengan teks Matius. Secara naratif justru pertanyaan itulah yang membuat Matius 11:2-11 menarik. Kalau Yohanes sudah tahu persis Yesus Mesias dan tidak ada persoalan apa pun, maka pertanyaan "Engkaukah yang akan datang itu?" menjadi tidak terlalu penting. Akan tetapi Matius memasukkan pertanyaan itu.

Jadi, daripada menganggap pertanyaan Yohanes sebagai pertanyaan yang "seharusnya tidak perlu muncul", lebih menarik untuk bertanya: Mengapa Matius sengaja memertahankan pertanyaan seorang Yohanes yang pernah begitu yakin terhadap Yesus?

Di sinilah tema kekecewaan karena Mesias ternyata tidak bekerja seperti yang diharapkan menjadi sangat kuat.

Khotbah Debby bukan terutama eksposisi Matius 11:2-11. Ia adalah khotbah pastoral-tematis mengenai bahaya kekecewaan kepada Tuhan dengan Yohanes Pembaptis sebagai contoh pembuka. Masalah utamanya bukan bahwa aplikasinya jelek. Justru beberapa aplikasinya cukup kuat, terutama: iman kepada Tuhan tidak boleh bergantung pada apakah kita disembuhkan atau tidak.

Masalahnya adalah aplikasi tersebut dibangun dengan mereduksi Yohanes menjadi orang yang iri dan kecewa, padahal teks Matius menggambarkan Yohanes secara jauh lebih kompleks.

Yang paling ironis justru ini: Debby ingin mengajarkan agar kita tidak kecewa kepada Tuhan, tetapi Matius tampaknya justru berani memerlihatkan bahwa seorang Yohanes Pembaptis pun dapat bertanya kepada Yesus ketika realitas tidak sesuai dengan harapannya. Yesus juga tidak membuang Yohanes karena pertanyaan itu.

Yesus menjawab pertanyaannya, lalu membela Yohanes. Itu jauh lebih indah daripada sekadar: "Jangan kecewa, nanti kamu menolak Tuhan."

Nasihat orang bijak "Apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan" malah bisa menjadi pintu masuk khotbah yang lebih setia kepada teks. Yohanes menginginkan Mesias yang datang dengan kapak, penampi, dan api. Yang ia lihat justru Mesias yang menyembuhkan, memulihkan, memberitakan kabar baik, dan bahkan tidak datang membebaskannya dari penjara.

Di situlah problem teologis Matius 11 sesungguhnya. Bukan sekadar bagaimana supaya orang Kristen tidak kecewa, tetapi ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ tentang bagaimana seharusnya Ia bekerja.

Rabu, 26 Agustus 2026

Sudut Pandang ๐™†๐™๐™ค๐™ฉ๐™—๐™–๐™๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ˆ๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™ ๐™–๐™ฉ๐™ž ๐™†๐™–๐™ข๐™ž

PENGANTAR 
Saban saya membedah khotbah pendeta Teologia Sukses, apalagi Pendeta yang ngaku pernah ke surga, Pendeta yang ngaku pernah ke neraka, dlsb yang merudapaksa prapahamnya masuk ke dalam teks, para pendukungnya berujar: “๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช.” Benarkah? 
PEMAHAMAN
Apabila ditelisik lebih dalam sebenarnya khotbah-khotbah itu adalah ceramah motivasional yang disampaikan secara piawai oleh pengkhotbah lalu dibalut ayat-ayat Alkitab. Lalu mengapa tanggapan para pendengar, “๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช”?
Satu dari beberapa jawabannya sangat bolehjadi terletak pada kenyataan yang tidak menyenangkan: banyak orang Kristen bertubuh dewasa, tetapi cara berimannya tetap kekanak-kanakan (๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ). Mereka bukan tidak mau makan. Mereka hanya terbiasa diberi permen. Permen memang manis. Rasanya menyenangkan. Membuat orang ingin mengambil lagi dan lagi. Namun, tidak seorang pun yang waras menganggap permen sebagai makanan pokok. Tubuh yang hanya diberi permen mungkin merasa senang sesaat, tetapi tidak bertumbuh dengan baik. Yang dibutuhkan tubuh bukan sekadar sesuatu yang enak di lidah, melainkan makanan yang sungguh-sungguh memberi gizi.
Begitu pula iman. Khotbah yang terus-menerus berkata, “๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ!”, “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ!”, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ!”, “๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ!”, memang dapat membuat pendengar pulang dengan perasaan lebih baik. Akan tetapi merasa lebih baik ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ผ๐˜๐—ผ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป. Terlebih merasa lebih baik, bukan bearti masalah dan tantangan yang dihadapinya selesei. Hati yang terharu bukan selalu hati yang diterangi. Tepuk tangan bukan ukuran kedalaman. Perasaan “diberkati” bukan bukti bahwa teks Alkitab telah diberitakan dengan benar. Rasul Paulus pernah menghadapi persoalan semacam itu. Kepada jemaat Korintus ia menulis bahwa ia belum dapat berbicara kepada mereka sebagai manusia rohani, melainkan sebagai manusia duniawi, sebagai bayi dalam Kristus. Oleh karena itu mereka diberinya makanan bayi, bukan makanan keras. Yang menyedihkan, masalahnya bukan sekadar bahwa mereka pernah menjadi bayi. Menjadi bayi memang bagian dari proses kehidupan. Masalahnya adalah ketika seseorang seharusnya sudah bertumbuh, tetapi tetap menuntut makanan bayi.
Surat Ibrani bahkan lebih tajam. Para pembacanya sudah seharusnya menjadi pengajar, tetapi ternyata masih membutuhkan orang lain mengajarkan kepada mereka dasar-dasar pertama. Mereka kembali membutuhkan makanan bayi ketika seharusnya sudah sanggup menerima makanan keras. Jadi, persoalannya bukan pada makanan bayi itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ต ๐—ฑ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐˜†๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚ ๐˜‚๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ฝ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—ถ๐˜๐˜‚.
Makanan keras berbeda. Ia harus dikunyah. Kadang rasanya tidak semanis permen. Justru makanan itulah yang membuat orang bertumbuh. Petulis Ibrani berkata bahwa makanan keras adalah untuk orang dewasa, “๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต” (Ibr. 5:14). Kedewasaan iman bukan kemampuan untuk semakin banyak berkata, “Amin!” kepada apa yang menyenangkan kita. Kedewasaan adalah kemampuan untuk membedakan antara khotbah yang sungguh lahir dari pergumulan dengan teks dan ceramah motivasional yang kebetulan dibalut ayat-ayat Alkitab.
Di situlah barangkali kita menemukan pasar besar bagi khotbah-khotbah yang sebenarnya hanya ceramah motivasional berbalut ayat-ayat Alkitab. Pendengar yang terus-menerus diberi permen akan menganggap permen sebagai makanan pokok. Bahkan ketika kemudian dihidangkan makanan bergizi, mereka dapat merasa kecewa: “๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข.” Padahal mungkin justru untuk kali pertamanya mereka sedang diajak ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, bukan sekadar mengisap gula.
Untuk itu ujaran “๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช” tidak boleh langsung diterima sebagai pembelaan terhadap mutu khotbah. Pertanyaannya: ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—บ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป? Apakah iman yang semakin mampu membaca Alkitab dengan dewasa, bergumul dengan teks yang tidak selalu menyenangkan, menerima koreksi, bahkan membiarkan firman meruntuhkan keyakinan-keyakinan yang selama ini dianggap benar? Ataukah iman yang hanya semakin bergantung pada pengkhotbah yang pandai membuat pendengarnya merasa nyaman?
Permen memang membuat mulut manis, tetapi permen bukanlah makanan pokok bagi orang dewasa.
Gereja yang terus-menerus menghasilkan permen rohani, jangan heran apabila dipenuhi orang-orang yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi cara berimannya tetap kekanak-kanakan. Hanya menyukai yang manis, menolak yang keras, dan menganggap setiap makanan yang tidak sesuai seleranya sebagai “tidak memberkati.”


Senin, 24 Agustus 2026

Pernahkah anda memilih jam ibadah karena siapa yang berkhotbah? 
Mungkin anda tidak sendirian dan bolehjadi persoalannya bukan pada jemaat.
==

๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ (11/11)

๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

Satu lagi kekelirupahaman liturgis paling mencolok dalam Gereja Protestan adalah anggapan bahwa klimaks ibadah adalah khotbah. Akibatnya seluruh liturgi sering diperlakukan hanya sebagai pengantar menuju khotbah. Nyanyian, doa, pengakuan dosa, pembacaan Alkitab, bahkan Perjamuan Kudus, semuanya seolah-olah berada di bawah bayang-bayang satu bagian: khotbah. Cara berpikir ini perlahan-lahan membentuk budaya gereja yang cukup aneh.

Ada Gereja yang memiliki beberapa kebaktian Minggu dengan pendeta yang berbeda-beda. Lalu muncul fenomena yang sangat umum: warga jemaat memilih jam ibadah berdasarkan pendeta yang berkhotbah. Ada yang berkata, “๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ.”

Sering warga jemaat yang dipersalahkan karena dianggap “pilih-pilih pendeta”. Akan tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Fenomena ini justru memerlihatkan kesalahan cara Gereja memandang liturgi. Jika ibadah dipahami sebagai keseluruhan tindakan Gereja di hadapan Allah, maka perbedaan pendeta seharusnya tidak menjadi faktor penentu utama bagi warga jemaat untuk datang beribadah, karena yang dirayakan jemaat bukan khotbah seorang pendeta, melainkan ibadah Gereja itu sendiri.

Namun, di sisi lain para pendeta juga tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan pastoral. Warga jemaat datang dengan pergumulan nyata, dengan kebutuhan rohani yang juga bersifat pribadi. Mereka tidak datang sebagai massa tanpa wajah. Setiap orang membawa cerita hidupnya sendiri-sendiri.

Orang yang hidup berkecukupan pun tetap membutuhkan penggembalaan. Tidak jarang muncul keluhan yang diam-diam terpendam, “๐˜”๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ?” Apabila khotbah tidak pernah menyentuh pengalaman konkret jemaat, wajar saja jika mereka merasa tidak sedang diajak masuk ke dalam firman yang hidup. 

Warga seperti di atas biasanya menjadi makanan empuk pendeta-pendeta dari Gereja yang menerapkan ideologi kemakmuran, “๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.” Terjadilah perpindahan warga kaya dari Gereja arus-utama ke Gereja berideologi kemakmuran. Warga itu merasa Gereja yang lama tidak memberikan ๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ๐˜ง๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต pribadi.

Di sinilah tugas pengkhotbah menuntut kesungguhan yang besar. Khotbah bukanlah pemindahan bahan katekisasi ke mimbar. Ia bukan sekadar mengulang pengetahuan teologis yang sudah dikenal jemaat. Khotbah adalah pemberitaan firman yang menghadirkan kebaruan Injil di tengah kehidupan nyata umat. Pendeta harus mampu menyeimbangkan antara praksis etis dan ๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ๐˜ง๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต pribadi.

Dalam kitab-kitab Injil ada banyak teks keseimbangan itu. Orang Kristen boleh kaya asalkan tetap peduli kepada orang-orang marginal (Lukas). Orang Kristen boleh menjadi pejabat tinggi asalkan melayani sesama (Markus dan Matius). Melayani di sini tentulah dipahami melayani seperti Yesus melayani, yakni berwawasan bagi kesejahteraan orang lain atau berpihak kepada kelompok lemah. Di sini ada keseimbangan. Ada ๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ๐˜ง๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต pribadi dan ada praksis etis. Kaya boleh, tamak jangan.

Namun, dalam situasi seperti itu kerap muncul kesalahpahaman baru, khususnya sejak penerapan ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ (RCL). Ada yang beranggapan bahwa karena khotbah biasanya berfokus pada Injil, maka pembacaan kitab Perjanjian Lama (PL) hanya menjadi pelengkap liturgi, cukup dibacakan tetapi tidak perlu dikhotbahkan.

Pandangan atau tuduhan ini tidak tepat, bahkan dapat menyesatkan arah pemahaman liturgi.

RCL justru disusun agar Gereja mendengar firman secara utuh, bukan sepotong-sepotong. PL, Mazmur, Surat-surat, dan Injil ditempatkan berdampingan bukan untuk saling menyaingi, tetapi untuk saling menerangi. Ini bukan kumpulan bacaan lepas, melainkan satu kesaksian iman yang bergerak menuju kepenuhannya di dalam Kristus.

Di sisi lain Gereja memang adalah tubuh Kristus. Oleh karena itu tidak mengherankan jika porsi khotbah dalam praktik sering memberi penekanan lebih pada Injil, sebab di dalamnya Gereja mendengar langsung ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช, perkataan dan tindakan Kristus sendiri. Di sinilah pusat iman itu berdenyut. Namun penekanan bukan berarti pengabaian.

Justru karena Injil adalah pusat, maka bacaan-bacaan lain tidak boleh dipisahkan darinya. PL tidak kehilangan maknanya, melainkan menemukan kedalaman maknanya ketika dibaca dalam terang Kristus.

Sebagai contoh, jika dalam suatu ibadah hanya dibacakan satu teks PL secara tunggal, misal Yesaya 9:2–7, maka secara biblis teks itu berbicara dalam konteks historis Israel. Ia belum dengan sendirinya adalah berita tentang Yesus. Akan tetapi ketika teks itu dibaca beriringan dengan Lukas 2:1–14, Gereja tidak sekadar “menempelkan” Yesus ke dalam nubuat, melainkan menyaksikan bagaimana janji itu digenapi dalam peristiwa kelahiran Kristus.

Di sinilah letak seni dan tanggung jawab khotbah: bukan memilih satu teks lalu menelan yang lain, tetapi merajut seluruh bacaan menjadi satu pewartaan Injil yang utuh. Jika ini gagal dilakukan, maka yang terjadi bukanlah kekayaan firman, melainkan reduksi firman.

Di sinilah kalimat yang perlu kita ingat bersama: PL tidak dibacakan untuk dilompati, tetapi untuk dipenuhi. Injil tidak dikhotbahkan untuk berdiri sendiri, tetapi sebagai kepenuhan dari seluruh kesaksian Kitab Suci.

Khotbah yang baik bukan membuat bacaan lain menjadi tidak penting, melainkan justru membuat seluruh liturgi Sabda “berbicara”. Ketika itu terjadi, jemaat tidak hanya mendengar satu teks yang dijelaskan, tetapi mengalami Sabda yang bersuara dari keseluruhan Kitab Suci yang dibacakan di tengah Gereja.

Khotbah juga tidak harus lucu, tetapi ia harus hidup. Ia perlu mengambil contoh dari kenyataan yang dikenal jemaat: dari rumah tangga mereka, pekerjaan mereka, kegelisahan mereka, bahkan dari perubahan sosial yang mereka alami setiap hari.

Tugas ini menuntut kerendahhatian dan kesediaan untuk terus belajar. Seorang pendeta tidak hanya dipanggil untuk berbicara, tetapi juga ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ. Ia mendengar firman, ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐˜, dan membaca tanda-tanda zaman.

Untuk itu koreksi terhadap pemahaman liturgi tidak hanya disasarkan kepada jemaat. Para pendetalah yang pertama dan utama perlu terus mengoreksi diri. Liturgi memang tidak berpusat pada khotbah, tetapi khotbah tetap merupakan tanggung jawab yang besar. Ia menuntut kerja keras, ketekunan belajar, dan kepekaan pastoral yang terus diasah.

Ibadah bukan milik seorang pengkhotbah. Ibadah adalah tindakan seluruh Gereja. Ketika khotbah menelan seluruh liturgi, yang hilang bukan hanya keseimbangan ibadah. Yang hilang adalah kesadaran bahwa Gereja beribadah kepada Allah. 

Ketika itu terjadi, warga jemaat tidak lagi datang untuk beribadah. Mereka datang untuk mendengar siapa yang berbicara hari itu. Pada titik itulah Gereja tanpa sadar telah mengubah ibadah menjadi panggung ceramah.

Apabila itu terjadi, warga jemaat memang akan memilih-milih pengkhotbah. Namun, yang lebih memprihatinkan adalah Gereja sendiri telah lupa bahwa pusat ibadah bukan mimbar, melainkan Allah yang disembah oleh umat-Nya.

Pendeta boleh berkhotbah, tetapi Gereja tidak pernah berkumpul untuk mendengarkan pendeta. Gereja berkumpul untuk beribadah kepada Allah.

Ketika khotbah menelan seluruh liturgi, ibadah lambat laun berubah menjadi pertemuan ceramah yang diselingi nyanyian. Firman Tuhan memang diberitakan dalam khotbah, tetapi liturgi mengingatkan bahwa firman itu tidak hanya didengar, melainkan dijawab, dirayakan, dan dijalani bersama oleh seluruh warga jemaat.


Minggu, 23 Agustus 2026

Sudut Pandang Khotbah Cerdas

Sudut Pandang Khotbah Cerdas

PENGANTAR 
Banyak orang gandrung kepada ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ. Kata mereka, Mantofa pengkhotbah yang bagus dan cerdas.
Saya tidak kenal Mantofa. Saya penasaran seberapa cerdas ia dalam berkhotbah, lalu saya ambil secara acak khotbahnya yang teksnya dari Injil. 

Sumber video https://www.youtube.com/watch?v=gUB1_68o_No 

PEMAHAMAN 
Dari sini kita bisa melihat bagaimana Lukas 9:28-36 dirudapaksa oleh Mantofa menjadi khotbah tentang doa.

1️⃣ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ: ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ

Kalau membaca teks Injil Lukas, pertanyaan pertama bukan: “Apa yang bisa kita katakan tentang doa dari ayat ini?”, tetapi “Apa yang sedang hendak dikatakan Lukas melalui kisah transfigurasi ini?”

Struktur Lukas 9 sangat terang: ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐˜€ → ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐—ป → ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ → ๐—ธ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป → ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ → ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ.

Artinya, transfigurasi bukan episode yang berdiri sendiri. Ia berada tepat setelah Yesus memberitahukan penderitaan dan kematian-Nya, lalu berbicara mengenai tuntutan mengikuti-Nya.
Di dalam transfigurasi itu sendiri Lukas memberi penekanan yang sangat spesifik: Musa dan Elia berbicara dengan Yesus ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ.

Mantofa sebenarnya membaca kalimat itu. Bahkan ia mengatakannya sebagai “bukti” bahwa Yesus sedang “di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ tentang kematian-Nya.” Namun, sesudah melihat itu, Mantofa tetap menyimpulkan: “Ini adalah cerita tentang doa bukan tentang Musa dan Elia saja. Bukan hanya Yesus beralih-rupa.” Nah, di sinilah masalah hermeneutisnya.

Bukan berarti doa tidak ada dalam teks. Doa memang ada. Yesus naik ke gunung untuk berdoa, dan transfigurasi terjadi ketika Ia sedang berdoa. Namun, keberadaan doa sebagai latar tidak otomatis menjadikan doa sebagai tema utama perikop. Itu dua hal berbeda.

2️⃣ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ “๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ” ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ”

Perhatikan alur argumentasi Mantofa: “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajahnya berubah...”, lalu Mantofa: “Doa itu ya yang pertama-tama diubahkan oleh doa itu adalah pendoanya.” 

Secara homiletis ini enak. Bahkan bagus sebagai motivasi doa. Tapiii ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ.

▶️ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: Yesus berdoa → doa mengubah Yesus → maka wajah Yesus berubah.
▶️ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ adalah bahwa ketika Yesus sedang berdoa, ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ ๐˜„๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐˜‚-๐—ธ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป.

Di sini petulis Injil Lukas sengaja memilih ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐˜€. Lukas tidak menggunakan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฉล๐˜ต๐˜ฉฤ“, tetapi ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ดล๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ rupa wajah-Nya menjadi lain. Yang hendak diperlihatkan Lukas adalah penampakan Yesus dalam kemuliaan surgawi, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป sebuah teori mengenai efek doa terhadap pendoa.

Lebih penting lagi kalau “doa mengubah pendoa” menjadi pesan utama, maka persoalan teologis segera muncul: ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ?

Mantofa sendiri sadar akan masalah ini: “Yesus tidak berdosa. Beda sama kita. Kita orang berdosa butuh doa... Tapi Yesus itu suci.” 

Namun masalahnya tidak selesai. Justru pertanyaan itu memerlihatkan bahwa tesis “doa pertama-tama mengubah pendoa” ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€. Ia lahir dari kebutuhan khotbah. Tema dirudapaksa masuk ke dalam teks.

3️⃣ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต: “๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ต ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฟ”

Mantofa berkata sejak awal: “Kenapa ada berkat terlewat? Karena murid-murid Yesus pilih tidur daripada berdoa.”  Tesis itu kemudian terus dibangun: mereka tidur → tidak berdoa → tidak menangkap perkara Allah → kemudian melakukan kekonyolan-kekonyolan.

Padahal Lukas hanya mengatakan: “Petrus dan teman-temannya telah tertidur.” Tidak ada kalimat:
mereka memilih tidur daripada berdoa. Tidak ada pula: mereka sebenarnya disuruh berdoa tetapi sengaja memilih tidur. ๐™๐™๐™š ๐™จ๐™ฉ๐™ค๐™ง๐™ฎ ๐™™๐™ž๐™™๐™ฃ’๐™ฉ ๐™ฉ๐™š๐™ก๐™ก ๐™จ๐™ค.

Memang bisa saja orang mengembangkan aplikasi dari tidur para murid, tetapi tidak boleh mengubah kemungkinan aplikasi menjadi makna yang didaku berasal dari teks.

Ada ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ญ yang malah merusak argumentasi Mantofa. Murid-murid itu tertidur ketika Yesus sedang berdoa. Ketika mereka bangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan dan Musa-Elia.

Di sini kita tidak mempunyai dasar tekstual untuk mengatakan: “Mereka melewatkan transfigurasi karena tidak berdoa.” ๐—๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜.

4️⃣ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ณ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ: “๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜” ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ

Apa “berkat” yang terlewat? Mantofa mengatakan mereka melewatkan sesuatu karena tidur, tetapi teks tidak mengatakan mereka kehilangan berkat tertentu. Sekali lagi, ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฐ.

Mereka memang tidak menyaksikan seluruh proses percakapan Musa-Elia dengan Yesus. Akan tetapi Lukas tidak menyebut itu sebagai kerugian spiritual akibat kurang berdoa. Bahkan setelah mereka bangun, mereka melihat: Yesus dalam kemuliaan, Musa, Elia, lalu awan, lalu suara Allah. Sesudah suara itu, Yesus tinggal seorang diri. Itulah adegan yang kemudian menjadi sangat penting.
Jadi, pusat kisah dalam teks bukan: “Jangan sampai kita tertidur ketika Allah sedang memberkati.”, melainkan: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”

5️⃣ ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ: ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐˜ “๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐——๐—ถ๐—ฎ”, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

Suara Allah merupakan klimaks teologis kisah transfigurasi. 
▶️ Allah tidak berkata: “Berdoalah lebih rajin.”
▶️ Allah tidak berkata: “Jangan tidur ketika Aku sedang bekerja.”
▶️ Allah juga tidak menjawab usulan Petrus: “Ide kemahmu bagus.”
▶️ Allah berkata: “๐—œ๐—ป๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—”๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—ž๐˜‚ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ž๐˜‚๐—ฝ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ต, ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐——๐—ถ๐—ฎ!”

Ada tiga implikasi yang sangat kuat: (1) Hanya Yesus yang dipilih. (2) Petrus harus mendengarkan Yesus, bukan Yesus mendengarkan Petrus. (3) Usulan Petrus mengenai kemah tidak relevan. 

Nah, Mantofa sebenarnya menyentuh bagian ini dengan sangat baik: “Enggak ada Tuhan enggak gubris. Dia langsung berkata... ‘Dengarkanlah dia.’” Akan tetapi setelah itu Mantofa kembali ke: “Efeknya berdoa dan efeknya tidak berdoa.” Ada perebutan pusat gravitasi. 
▶️ Teks menaruh pusat gravitasi pada Yesus. 
▶️ Khotbah memindahkannya kepada orang yang berdoa.

6️⃣ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ผ๐—ฎ๐—น ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐˜€

Mantofa mengatakan tentang tanggapan Tuhan terhadap usulan Petrus: “Enggak ada itu dalam suara itu. Terima kasih Petrus untuk tenda pramuka yang kau tawarkan.” Lucu memang.

Kalau kita melongok jauh lebih dalam, masalah Petrus bukan sekadar bahwa ia mempunyai ide “tenda pramuka”. Petrus hendak membuat ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต: satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia. 

Dalam kerangka PL kata ๐˜ด๐˜ฌฤ“๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด mempunyai cerapan dengan Kemah Suci/Kemah Pertemuan. Jadi, Petrus tampaknya hendak memertahankan pengalaman kehadiran ilahi itu dalam suatu ruang sakral, tetapi Allah justru menyela: “Dengarkanlah Dia.” Setelah suara itu: “Yesus tinggal seorang diri.”

Itu jauh lebih tajam daripada sekadar: “Jangan terlalu lama berdoa di gunung.” Pesannya bukan terutama turun gunung untuk mengerjakan tugas horizontal. Pesannya: Jangan menyamakan Yesus dengan Musa dan Elia. Jangan membuat tiga kemah. Dengarkan Yesus. Ini penting sekali.

7️⃣ ๐—ง๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—น๐—ถ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ถ๐—ธ

Mantofa berkata: “Musa mewakili hukum Taurat, Elia mewakili kuasa nabi, kuasa profesi.” Lalu: “Orang yang berdoa akan di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ sama Tuhan. Dua materi ini semakin kaya dalam dirinya.” 

Nah, di sini terjadi pergeseran besar. Musa dan Elia bukan lagi tokoh dalam cerita Lukas yang sedang berbicara dengan Yesus mengenai ๐˜ฆ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ atau perjalanan-Nya ke Yerusalem atau yang dikenal dengan ๐˜‘๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜บ ๐˜•๐˜ข๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ. Mereka berubah menjadi alat ilustrasi untuk khotbah tentang kompetensi orang Kristen:
▶️ Musa → firman/hukum, 
▶️ Elia → kuasa nabi, 
▶️ orang berdoa → memeroleh keduanya. 

Padahal teks Injil Lukas justru memberi kita informasi yang sangat spesifik mengenai ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: “๐˜๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ.”

Jadi, kalau kita bertanya “Mengapa Musa dan Elia muncul?”, jawaban yang paling dekat dengan teks ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป “Supaya kita memeroleh dua materi setelah berdoa.”, melainkan: Mereka berbicara mengenai ๐˜ฆ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ Yesus. Perjalanan itu berpautan langsung dengan Yerusalem, penderitaan, kematian, dan akhirnya kemuliaan.

8️⃣ “๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ-๐™—๐™ง๐™ž๐™š๐™›๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—น๐—ถ๐—ฎ” ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ผ๐—ธ๐˜๐—ฟ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ

Mantofa mengatakan: “Yesus... di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ dulu oleh Musa dan Elia.” Lalu ia membuat analogi: “Sebelum saya naik ke sini tadi, saya juga di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ sama SM-nya...” Ini contoh bagaimana ilustrasi ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€.

Yang problematis adalah ketika kata “di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ” kemudian menjadi dasar untuk mengatakan: “Orang yang berdoa itu sedang di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ oleh malaikat.” Bahkan itu dinyatakannya eksplisit. 
Nah, ini sudah bukan lagi eksegesis Lukas 9. Ini sudah menjadi ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฎ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿต.

Padahal teks sedang menyampaikan rencana Allah dalam PL kepada Yesus yang berpautan dengan ๐˜ฆ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ, perjalanan Yesus menuju Yerusalem yang akan berakhir dengan kematian.

9️⃣ ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ “๐—ถ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ฟ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ถ”: ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜

Sesudah membicarakan Musa dan Elia, Mantofa membawa jemaat kepada pengalaman: mendapat intuisi, tahu seseorang akan menipu, merasakan “ketukan dalam spirit”, menemukan orang yang tepat, memeroleh pengetahuan setelah berdoa. 

Namun, kalau pertanyaannya “Apakah Lukas 9:28-36 mengajarkan bahwa orang yang berdoa akan memeroleh intuisi seperti itu?” jelas jawabannya: ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ถ๐˜๐˜‚.

๐Ÿ”Ÿ ๐—”๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป: ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ถ๐—ป๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฒ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต “๐—ถ๐—ป๐—ณ๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ”

Doa diperikan oleh Mantofa sebagai: koneksi dengan pihak yang memegang kunci kehidupan, 
lalu: masuk ke ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ท๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, lalu: memeroleh pengetahuan setelah berdoa, lalu: di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ  Tuhan/malaikat. 

Doa secara perlahan berubah fungsi: berdoa → mendapatkan informasi → mengambil keputusan dengan benar → mengalami kuasa → dipakai Allah.

Padahal kalau kita mengikuti klimaks Lukas: melihat Yesus → mendengar suara Allah → dengarkan Yesus.

Beda banget!

Doa dalam Lukas 9 bukan terutama saluran untuk memeroleh informasi tentang masa depan.
Kisah itu justru menempatkan para murid sebagai orang yang ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป sebagai orang yang memeroleh pengetahuan khusus supaya mereka dapat mengendalikan hidup dengan lebih baik.

1️⃣1️⃣ “๐——๐—ผ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ” ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿต

Apabila dilihat sebagai nasihat pastoral “Doa mengubah pendoanya” tidak bermasalah. Mantofa memberikan kesaksian bahwa keluarganya melihat perubahan dirinya: dari keras menjadi lebih mudah berbelas kasihan, dan ia memahami bahwa hatinya dimuridkan melalui doa. Itu kesaksian pribadi.

Tapiiii masalah muncul ketika pengalaman tersebut dijadikan makna utama Lukas 9, karena Lukas tidak sedang bertanya “Apa yang terjadi pada orang yang berdoa?” Lukas sedang membawa pembaca kepada pertanyaan: “๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ถ๐—ป๐—ถ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ?” Jawaban Allah: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!”

1️⃣2️⃣ ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ

Mantofa berkali-kali mengingatkan jemaat agar mendengarkan Tuhan, jangan sekadar memelajari teori Alkitab. Ia bahkan berkata bahwa kalau orang hanya menyelidiki firman tetapi tidak datang kepada Tuhan, ia bisa menjadi seperti Farisi. 

Ironisnya ketika Lukas menulis “Dengarkanlah Dia!”, Mantofa tidak membiarkan kalimat itu menjadi pusat tafsir. Mantofa menggunakannya untuk kembali berkata: “Spend time with him.” dan kemudian kembali ke: “efeknya berdoa dan efeknya tidak berdoa.” 

Jadi, ada ironi: Khotbah yang berbicara tentang “Dengarkanlah Dia” justru lebih banyak berbicara tentang apa yang terjadi pada kita ketika kita berdoa.

1️⃣3️⃣ ๐—ง๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฏ๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Secara pastoral memang doa penting, doa membentuk manusia, orang Kristen tidak boleh hanya memiliki pengetahuan Alkitab, relasi dengan Tuhan pentingm, doa bukan pertunjukan, ibadah bukan show, orang perlu datang kepada Tuhan, bukan sekadar datang untuk mendengar khotbah. Bahkan beberapa pengamatannya mengenai konteks cukup bagus. Mantofa secara eksplisit mengatakan bahwa Lukas 9 harus dibaca sebagai satu kesatuan dan bahwa ayat-ayat mempunyai hubungan dengan cerita sebelum dan sesudahnya. 

Masalah yang terjadi pada khotbah Mantofa adalah: pesan pastoral yang baik itu tidak otomatis menjadi makna teks yang sedang dikhotbahkan. ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฏ๐—ธ๐—ฎ๐—ป.

1️⃣4️⃣ ๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐˜‚๐—ฏ๐—ท๐—ฒ๐—ธ ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต?

Dalam teks Lukas 9: ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ adalah ๐˜€๐˜‚๐—ฏ๐—ท๐—ฒ๐—ธ. Musa dan Elia berbicara tentang ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Kemuliaan muncul pada ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Suara Allah berbicara tentang ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Murid diperintahkan: Dengarkan ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€.

Dalam pada itu subjek khotbah Mantofa perlahan bergeser: orang Kristen yang berdoa. Yang menjadi pusat perhatian: bagaimana kita berdoa, apakah kita berdoa, apa yang terjadi kalau kita tidak berdoa, apakah kita mendapatkan intuisi, apakah kita siap menerima “perkara Allah”, apakah kita mendapatkan kuasa, apakah kita mendapatkan pengetahuan, apakah kita dipakai Tuhan. 

๐—ž๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ.

Orang Kristen ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ dan infantil jumlahnya amat sangat besar dan ini adalah pasar. Di sinilah kecerdasan Mantofa tampak dalam memilih pasar. Dengan orasi motivasional yang piawai lalu dibalut ayat-ayat Alkitab, dagangan Mantofa laris manis ditelan Kristen ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ tanpa dikunyah.

 (25082026)(TUS)



Sudut Pandang Injil Matius 16:21-28 yang didahului dengan Yeremia 15:15-21 dan Roma 12:9-21, BUKAN UNTUK AKU LAGI


Sudut Pandang Injil Matius 16:21-28 yang didahului dengan Yeremia 15:15-21 dan Roma 12:9-21, BUKAN UNTUK AKU LAGI

PENGANTAR
Minggu 30 Agustus 2026, Alkisah seekor burung gagak sedang membawa sekerat daging dengan paruhnya, lalu hinggap di dahan pohon tinggi dan besar. Seekor serigala mengintainya dan menginginkan daging itu. Kata serigala kepada gagak, “๐˜ž๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Ž๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ.” Mendengar pujian itu burung gagak membuka mulutnya untuk bersuara guna memamerkan kepada serigala. Daging di mulutnya lepas dan jatuh di depan serigala dan ia langsung melahapnya. Hari ini adalah Minggu keempatbelas sesudah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 16:21-28 yang didahului dengan Yeremia 15:15-21, Mazmur 26:1-8, dan Roma 12:9-21.
PEMAHAMAN
TAFSIR YEREMIA 15:15-21 - "NABI YANG DITOLAK TAPI DIPERTAHANKAN ALLAH"

“Ya TUHAN, Engkau mengetahui; ingatlah aku dan perhatikanlah aku...” (Yer 15:15)

Yeremia ada di era Yehuda menjelang pembuangan Babel 587 SM. Dia dipanggil jadi "nabi ratapan". Pasal 15 ini adalah "Pengaduan Nabi" ke-4 dari 5 pengaduan Yeremia.  Ciri khas: Campuran keluh kesah peneguhan Allah. Ini bentuk sastra lament + oracle of salvation. Ay. 15-16: Pengaduan , Yeremia merasa dihakimi karena membela Allah. “Aku menjadi tertawaan sepanjang hari” ay.10. Ini paralel dengan Yesus di Mat 16:21 yang akan "ditolak tua-tua". Kata dabar "firman-Mu" ay.16 = dalam Ibrani artinya bukan sekadar kata, tapi peristiwa Allah yang menghidupkan. Yeremia "menelan" Firman. Ay. 17-18: Krisis Panggilan, “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan?” Ini teologi Deus absconditus, Allah yang tersembunyi. Banyak penafsir lihat ini sebagai gugatan terhadap teologi retribusi: orang benar harusnya diberkati. Ay. 19-21: Jawaban Allah. Strukturnya kiasan logam: “Jika engkau kembali... engkau akan menjadi seperti mulut-Ku”. Allah tidak janji hilangkan penderitaan, tapi janji kehadiran dan perlindungan. “Aku akan meluputkan engkau dari tangan orang jahat”. Ini bukan janji bebas masalah, tapi janji penyertaan.Tafsir Historis: Yeremia model nabi yang menderita demi umat. Tafsir Kanonik: Yeremia adalah tipe Kristus. Ditolak bangsanya sendiri demi Firman. Tafsir Pembebasan: Allah berpihak pada nabi yang bicara kebenaran kepada kuasa.

TAFSIR ROMA 12:9-21 - "ETIKA KOMUNITAS YANG DISALIBKAN"

“Janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah...”_ (Rm 12:2, konteks)

Paulus menulis ke jemaat Roma 57 M. Jemaat campuran Yahudi + goyim, sedang ditekan. Pasal 12-16 = bagian "paranesis" / etika praktis setelah doktrin pasal 1-11. Gaya bahasa: Deretan imperatif tanpa kata sambung. Ini gaya "kode etik" komunitas. Ay. 9-13: Etika Internal Jemaat 
Kasih tanpa kemunafikan, bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan. Kata proskarterountes "bertekun" ay.12 dipakai untuk doa. Ini etika orang yang sedang menunggu kedatangan Kristus. Ay. 14-16: Etika terhadap Penindas 
“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu”. Ini kutipan langsung dari ajaran Yesus di Khotbah di Bukit Mat 5:44. Paulus sedang menerapkan Mat 16:24.

Ay. 17-21: Etika Publik, Puncaknya ay.21: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
Ini kutipan Ams 25:21-22. Konsep nikao "mengalahkan" bukan dengan kekerasan, tapi dengan kenosis,  penyangkalan diri,  pengosongan diri seperti Kristus Flp 2:7. Tafsir Sosial: Ini "kontra-budaya" Kekaisaran Roma. Kaisar dituntut balas dendam. Jemaat dituntut mengampuni. Tafsir Teologis: Dasar etika ini adalah pasal 6: “Kita telah mati dan bangkit bersama Kristus”. Etika muncul dari identitas baru. Tafsir Feminist: Ay.15 “menangis dengan orang menangis” memulihkan emosi sebagai bagian iman, bukan kelemahan.

TAFSIR MATIUS 16:21-28, BUKAN DIRIKU LAGI

Bacaan Injil hari ini, Matius 16:21-28, merupakan kelanjutan bacaan Injil Minggu lalu Matius 16:13-20 ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด. LAI memberi judul perikop Matius 16:21-28 ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด (๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต-๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜‹๐˜ช๐˜ข). Tanda dalam kurung sengaja saya berikan untuk irama, karena ada ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด (Mat. 17:22) dan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด (Mat. 20:17-20).

Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 16:21 Pemberitahuan pertama Yesus
▶️ Matius 16:22-23 Reaksi Petrus dan teguran Yesus
▶️ Matius 16:24 Syarat menjadi pengikut Yesus
▶️ Matius 16:25-27 Motivasi dari Yesus

๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:21)

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (Mat. 16:21, TB II 2023)

Dari sisi naratif frase ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช (๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ o๐˜ณ๐˜น๐˜ข๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜e๐˜ด๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด) dalam Injil Matius merupakan pembukaan tahap baru untuk kisah besar. Dalam perikop bacaan Minggu ini frase itu merujuk tahap kedua yang lebih menegangkan. Tahap pertama ada di Matius 4:17. Penderitaan dan kematian Yesus bukanlah nasib, melainkan keharusan yang diterima Yesus dari Allah untuk menuju kemuliaan.

Tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat merupakan tiga kelompok yang terwakilkan dalam Mahkamah Agama Yahudi. Tua-tua di sini adalah tokoh-tokoh masyarakat. Injil Matius tidak menyebut orang-orang Farisi, karena tampaknya penulis Injil Matius begitu dendam kepada ketiga kelompok itu sebagai yang paling bertanggungjawab atas kematian Yesus terutama tua-tua dan imam-imam kepala (lih. Mat. 27:20-26).

Pengarang Injil Matius menulis ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข mengoreksi ketidaktelitian pengarang Injil Markus yang menulis ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช yang tak selaras dengan pengakuan iman jemaat perdana (bdk. 1Kor. 15:4). Kesalahan Markus ini juga disumpalkan ke mulut imam-imam kepala (lih. Mat. 27:62-63). Tak usah kaget bahwa Matius mengoreksi. Di awal Injil Matius malah mengoreksi nubuat Nabi Mikha: “๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜Œ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐™๐™–๐™ž ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข” (Mik. 5:1) dikoreksi menjadi “๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ช ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™ก๐™ž-๐™ ๐™–๐™ก๐™ž ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข” (Mat. 2:6).

Apabila kita membaca pemberitahuan pertama, kedua, dan ketiga tentang penderitaan Yesus selalu ada berita kebangkitan. Bukan penderitaan saja, melainkan salib dan kebangkitan, kematian dan kehidupan.

๐—ฅ๐—ฒ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:22-23)

Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia, “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ! ๐˜๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ.” Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “๐˜Œ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด! ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข.” (TB II 2023)

Pemberitahuan tentang penderitaan Yesus itu rupanya tak mau diterima oleh Petrus bahkan ia hendak ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช Gurunya. Yang menarik adalah reaksi Yesus terhadap teguran Petrus. Bacaan Injil Minggu lalu kita melihat Yesus memuji Simon Petrus dan menjulukinya batu karang atau cadas, metafora perintis gereja yang kokoh, rasul nomor 1. Rupanya Petrus tak kuat menerima pujian seperti burung gagak di awal Sudut ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ini. Sekarang Petrus disamakan dengan iblis yang menggoda Yesus dalam episode ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ (Mat. 4:1-11). Nilai Petrus turun dahsyat, dari batu karang menjadi batu sandungan, dari pemegang kunci Kerajaan Surga menjadi iblis.

Ucapan Petrus “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ!” diterjemahkan dari ๐˜๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆo๐˜ด ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ช ๐˜’๐˜บ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ yang berarti literal “๐˜ˆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข, ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ!”. Selanjutnya ucapan Petrus, “๐˜๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ” sangat mirip dengan ucapan iblis yang menggoda Yesus untuk menjatuhkan diri dari atas atap Bait Allah dan malaikat-malaikat Allah akan menatang Yesus agar tidak terantuk batu (Mat. 4:5-6). Itulah sebabnya Yesus menghardik Petrus, “๐˜Œ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด!”

Istilah batu sandungan (๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฌ) diterjemahkan dari ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ (kata benda) yang berarti literal penyesatan. Kata kerjanya adalah ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ป๐˜ฆ๐˜ช yang berarti menyesatkan. Tidaklah keliru apabila kita mendengar kata Indonesia skandal selalu bermuatan negatif atau buruk. Ucapan Petrus itu menyesatkan, karena menghalangi perjalanan Yesus ke Yerusalem.

๐—ฆ๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:24)

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ.” (TB II 2023)

Ayat 24 menyebut syarat menjadi pengikut Yesus adalah menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut-Nya. Syarat ini fundamental atau dasariah.

Apa itu menyangkal diri? Cobalah lihat penjelasan dari khotbah atau tulisan renungan Kristen. Sangat bolehjadi anda menemukan penjelasan ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต tak karuan. Padahal sederhana sekali penjelasannya. Menyangkal diri adalah tidak mengakui perbuatan yang dilakukannya. Dalam hal syarat menjadi pengikut Yesus menyangkal diri (๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏo๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉo) berarti tidak mengakui perbuatan yang dilakukannya, tetapi menyatakan itu adalah perbuatan Yesus. Saya berbuat baik itu bukan saya, melainkan karena Yesus yang melakukannya. Di Sekolah Minggu kita tentunya sudah hafal lirik nyanyian ๐˜๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ. Itu nyanyian penyangkalan diri.

Sesudah menyangkal diri, syarat lebih berat menyusul: memikul salib. Salib siapa? Salib kita sendiri. Sudah tak boleh mengakui perbuatan baik yang kita lakukan, ๐˜ฆ๐˜ฉ ditambah memikul salib. Berat? Memang! Menjadi pengikut Yesus memang berat. Kita dapat saja tidak mendapat promosi jabatan, tidak mendapat bangku sekolah negeri, karena menjadi pengikut Yesus. Bahkan secara ekstrem kita dapat kehilangan nyawa. Di Matius 10:38 sudah dijelaskan bahwa orang yang tidak mau memikul salibnya tidak layak menjadi pengikut Yesus.

Sesudah menyangkal diri dan memikul salib, syarat terberat harus dipenuhi: mengikut Dia. Mengapa terberat? Mengikut Dia berarti berjalan di belakang Yesus. Sudah menyangkal diri dan memikul salib, ๐˜ฆ๐˜ฉ 
tidak boleh berjalan di depan Yesus. Ibarat jatuh tertimpa tangga. Pernahkah anda mengangkat dua ember air atau dua beban bawaan di tangan kanan dan kiri? Saya sering. Saya akan berjalan lebih cepat agar lebih cepat sampai, karena saya ingin beban di tangan saya segera dilepaskan. Mengikut Yesus tidak begitu. Meskipun beban berat, tetap saja kita harus mengikuti kecepatan Yesus berjalan. Tidak boleh lebih cepat.

๐— ๐—ผ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:25-27)

“๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข; ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 25)

๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? (ay 26)
๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜•๐˜บ๐˜ข; ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 27)” (TB II 2023)

Sesudah mengajukan syarat dasariah, Yesus menjelaskan implikasi menjadi pengikut-Nya sekaligus memberi motivasi.

Ayat 25 berisi paradoks: menyelamatkan, kehilangan; kehilangan, mendapatkan. Yesus kerap mengajar dengan jalan terbalik dari anggapan umum. Kata nyawa di atas dari kata ๐˜ฑ๐˜ด๐˜บ๐˜ค๐˜ฉo๐˜ฏ yang berarti literal hidup. ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข tampaknya merujuk orang yang memertahankan aspirasi hidup pribadinya dengan mencari harta, kenikmatan, kemasyhuran, kekuasaan akan mendapat kekecewaan. Sebaliknya, orang yang hidupnya melayani seperti Yesus melayani, bahkan secara ekstrem harus kehilangan segalanya termasuk nyawanya, akan menerima kepenuhan hidup. Di sini Yesus sama sekali tidak melarang kita menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, tetapi untuk menjadi besar kita harus melayani (lih. Mat. 20:26). Melayani berarti menjadi peka dan mengarahkan perhatian kepada mereka yang tak berdaya. Kaya boleh, tetapi jangan serakah.

Injil Matius juga bervisi apokaliptik, penyingkapan. Sebelumnya tidak tersingkap, sekarang disingkap. Injil Matius menyingkap Pengadilan Terakhir. Meskipun syarat menjadi pengikut Yesus amat berat, Ia memberi motivasi dengan menyingkap Pengadilan Terakhir. Yesus akan datang untuk mengadili orang menurut perbuatannya. Di sini Matius menulis perbuatan dalam bentuk tunggal (ฯ€ฯแพถฮพฮนฮฝ dibaca ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜น๐˜ช๐˜ฏ). Perjanjian Lama versi Septuaginta menulis perbuatan-perbuatan (jamak). Misal, Mazmur 62:13 dan Amsal 24:12 ditulis แผ”ฯฮณฮฑ (dibaca ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข). Pengadilan Terakhir dalam Perjanjian Baru tidak menghitung jumlah perbuatan baik versus perbuatan jahat, melainkan satu kesatuan praksis hidup secara serbacakup sebagai pengikut Yesus. Sangat bolehjadi 60 - 90% hidup para pemungut cukai berbuat kejahatan, tetapi mereka diselamatkan oleh Yesus (lih. Mat. 9:9-13).

Ketiga bacaan ini membentuk 1 poros teologis:
Yeremia 15, Roma 12, Matius 16, Nabi Ditolak karena Firman, Jemaat Dianiaya, tapi memberkati Guru Disalib tapi bangkit “Aku menjadi bahan ejekan” “Diberkatilah penganiaya” “Anak Manusia harus menderita”, Allah janji: “Aku menyertai” Paulus ajar: “Kalahkan dengan baik” Yesus syarat: “Pikul salib”. Teologi Salib, Yeremia mengeluh karena jalannya berat. Paulus jawab: kalahkan dengan kebaikan. Yesus selesaikan: Aku sendiri yang menempuh jalan salib dulu. Jadi 3 bacaan ini progresi: Keluhan → Perintah → Teladan. Tanpa Mat 16, Yeremia & Roma hanya jadi moralisme. Yeremia harus "kembali" ay.19 = menyangkal egonya yang mau berhenti jadi nabi.  Roma 12:1 “persembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup” = menyangkal hak atas diri sendiri. Mat 16:24 “menyangkal diri, pikul salib” = puncaknya. Ini bukan penyangkalan diri psikologis, tapi kristologis. "Hidupku bukan aku lagi" Gal 2:20. Yeremia dikuatkan karena Allah hakim. Roma 12:19 “Pembalasan itu hak-Ku”. Mat 16:27 “Anak Manusia akan datang membalas”. Semua menolak balas dendam sekarang karena percaya pengadilan Allah nanti. Matius sengaja menaruh Mat 16:21 setelah Pengakuan Petrus 16:16 untuk menunjukkan: kemuliaan dan salib tidak bisa dipisah. Pembaca modern sering salah paham "pikul salib" = sakit penyakit. Padahal konteksnya kemartiran dan penolakan sosial karena iman, seperti Yeremia dan jemaat Roma. Roma 12:21 adalah perlawanan non-kekerasan terhadap kekuasaan. Sama seperti Yeremia melawan Babel, Yesus melawan sistem Agama + Politik.
Cerita gagak di awal: dia jatuh karena cari pujian.  
Petrus juga hampir jatuh karena mau "menyelamatkan" Yesus dari salib.  Yeremia mau jatuh karena capek. Jemaat Roma mau jatuh karena mau balas dendam. Hidupku bukan aku lagi. Seperti Yeremia: Setia meski ditertawakan, Seperti Roma 12: Mengasihi meski disakiti. Seperti Kristus: Pikul salib karena ada kebangkitan hari tersalib

DAFTAR PUSTAKA AKADEMIS

1.  Brueggemann, W. _A Commentary on Jeremiah: Exile and Homecoming_. Eerdmans, 1998. Bab 15 tentang "The Confessions of Jeremiah".
2.  Carroll, R.P. _Jeremiah_. OTL. Westminster, 1986. Hal 277-281 analisis form kritik Yer 15.
3.  Dunn, J.D.G. _Romans 9-16_. WBC Vol 38B. Word, 1988. Hal 711-735 eksposisi Roma 12.
4.  Luz, Ulrich. _Matthew 8-20_. Hermeneia. Fortress, 2001. Hal 439-460 tafsir Mat 16:21-28.
5.  Hays, R.B. _The Moral Vision of the New Testament_. Harper, 1996. Bab 6 tentang etika Paulus di Roma 12.
6.  Brown, R.E. _The Death of the Messiah_. Doubleday, 1994. Vol 1, hal 120-150 tentang 3x pemberitahuan penderitaan.
(27082026)(TUS)


Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 16:21-28 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐™ƒ๐™ž๐™™๐™ช๐™ฅ๐™ ๐™ช ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ก๐™–๐™œ๐™ž

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด  Matius 16:21-28 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐™ƒ๐™ž๐™™๐™ช๐™ฅ๐™ ๐™ช ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ก๐™–๐™œ๐™ž

PENGANTAR 
Alkisah seekor burung gagak sedang membawa sekerat daging dengan paruhnya, lalu hinggap di dahan pohon tinggi dan besar. Seekor serigala mengintainya dan menginginkan daging itu. Kata serigala kepada gagak, “๐˜ž๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Ž๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ.”
Mendengar pujian itu burung gagak membuka mulutnya untuk bersuara guna memamerkan kepada serigala. Daging di mulutnya lepas dan jatuh di depan serigala dan ia langsung melahapnya.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu keempatbelas sesudah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 16:21-28 yang didahului dengan Yeremia 15:15-21, Mazmur 26:1-8, dan Roma 12:9-21.

Bacaan Injil hari ini, Matius 16:21-28, merupakan kelanjutan bacaan Injil Minggu lalu Matius 16:13-20 ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด. LAI memberi judul perikop Matius 16:21-28 ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด (๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต-๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜‹๐˜ช๐˜ข). Tanda dalam kurung sengaja saya berikan untuk irama, karena ada ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด (Mat. 17:22) dan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด (Mat. 20:17-20).

Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 16:21 Pemberitahuan pertama Yesus
▶️ Matius 16:22-23 Reaksi Petrus dan teguran Yesus
▶️ Matius 16:24 Syarat menjadi pengikut Yesus
▶️ Matius 16:25-27 Motivasi dari Yesus

๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:21)

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (Mat. 16:21, TB II 2023)

Dari sisi naratif frase ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช (๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ A๐˜ณ๐˜น๐˜ข๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜e๐˜ด๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด) dalam Injil Matius merupakan pembukaan tahap baru untuk kisah besar. Dalam perikop bacaan Minggu ini frase itu merujuk tahap kedua yang lebih menegangkan. Tahap pertama ada di Matius 4:17. Penderitaan dan kematian Yesus bukanlah nasib, melainkan keharusan yang diterima Yesus dari Allah untuk menuju kemuliaan.

Tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat merupakan tiga kelompok yang terwakilkan dalam Mahkamah Agama Yahudi. Tua-tua di sini adalah tokoh-tokoh masyarakat. Injil Matius tidak menyebut orang-orang Farisi, karena tampaknya penulis Injil Matius begitu dendam kepada ketiga kelompok itu sebagai yang paling bertanggungjawab atas kematian Yesus terutama tua-tua dan imam-imam kepala (lih. Mat. 27:20-26).

Pengarang Injil Matius menulis ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข mengoreksi ketidaktelitian pengarang Injil Markus yang menulis ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช yang tak selaras dengan pengakuan iman jemaat perdana (bdk. 1Kor. 15:4). Kesalahan Markus ini juga disumpalkan ke mulut imam-imam kepala (lih. Mat. 27:62-63). Tak usah kaget bahwa Matius mengoreksi. Di awal Injil Matius malah mengoreksi nubuat Nabi Mikha: “๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜Œ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐™๐™–๐™ž ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข” (Mik. 5:1) dikoreksi menjadi “๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ช ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™ก๐™ž-๐™ ๐™–๐™ก๐™ž ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข” (Mat. 2:6).

Apabila kita membaca pemberitahuan pertama, kedua, dan ketiga tentang penderitaan Yesus selalu ada berita kebangkitan. Bukan penderitaan saja, melainkan salib dan kebangkitan, kematian dan kehidupan.

๐—ฅ๐—ฒ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:22-23)

Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia, “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ! ๐˜๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ.” Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “๐˜Œ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด! ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข.” (TB II 2023)

Pemberitahuan tentang penderitaan Yesus itu rupanya tak mau diterima oleh Petrus bahkan ia hendak ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช Gurunya. Yang menarik adalah reaksi Yesus terhadap teguran Petrus. Bacaan Injil Minggu lalu kita melihat Yesus memuji Simon Petrus dan menjulukinya batu karang atau cadas, metafora perintis gereja yang kokoh, rasul nomor 1. Rupanya Petrus tak kuat menerima pujian seperti burung gagak di awal Sudut ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ini. Sekarang Petrus disamakan dengan iblis yang menggoda Yesus dalam episode ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ (Mat. 4:1-11). Nilai Petrus turun dahsyat, dari batu karang menjadi batu sandungan, dari pemegang kunci Kerajaan Surga menjadi iblis.

Ucapan Petrus “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ!” diterjemahkan dari ๐˜๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆo๐˜ด ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ช ๐˜’๐˜บ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ yang berarti literal “๐˜ˆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข, ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ!”. Selanjutnya ucapan Petrus, “๐˜๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ” sangat mirip dengan ucapan iblis yang menggoda Yesus untuk menjatuhkan diri dari atas atap Bait Allah dan malaikat-malaikat Allah akan menatang Yesus agar tidak terantuk batu (Mat. 4:5-6). Itulah sebabnya Yesus menghardik Petrus, “๐˜Œ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด!”

Istilah batu sandungan (๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฌ) diterjemahkan dari ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ (kata benda) yang berarti literal penyesatan. Kata kerjanya adalah ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ป๐˜ฆ๐˜ช yang berarti menyesatkan. Tidaklah keliru apabila kita mendengar kata Indonesia skandal selalu bermuatan negatif atau buruk. Ucapan Petrus itu menyesatkan, karena menghalangi perjalanan Yesus ke Yerusalem.

๐—ฆ๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:24)

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ.” (TB II 2023)

Ayat 24 menyebut syarat menjadi pengikut Yesus adalah menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut-Nya. Syarat ini fundamental atau dasariah.

Apa itu menyangkal diri? Cobalah lihat penjelasan dari khotbah atau tulisan renungan Kristen. Sangat bolehjadi anda menemukan penjelasan ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต tak karuan. Padahal sederhana sekali penjelasannya. Menyangkal diri adalah tidak mengakui perbuatan yang dilakukannya. Dalam hal syarat menjadi pengikut Yesus menyangkal diri (๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏo๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe) berarti tidak mengakui perbuatan yang dilakukannya, tetapi menyatakan itu adalah perbuatan Yesus. Saya berbuat baik itu bukan saya, melainkan karena Yesus yang melakukannya. Di Sekolah Minggu kita tentunya sudah hafal lirik nyanyian ๐˜๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ. Itu nyanyian penyangkalan diri.

Sesudah menyangkal diri, syarat lebih berat menyusul: memikul salib. Salib siapa? Salib kita sendiri. Sudah tak boleh mengakui perbuatan baik yang kita lakukan, ๐˜ฆ๐˜ฉ ditambah memikul salib. Berat? Memang! Menjadi pengikut Yesus memang berat. Kita dapat saja tidak mendapat promosi jabatan, tidak mendapat bangku sekolah negeri, karena menjadi pengikut Yesus. Bahkan secara ekstrem kita dapat kehilangan nyawa. Di Matius 10:38 sudah dijelaskan bahwa orang yang tidak mau memikul salibnya tidak layak menjadi pengikut Yesus.

Sesudah menyangkal diri dan memikul salib, syarat terberat harus dipenuhi: mengikut Dia. Mengapa terberat? Mengikut Dia berarti berjalan di belakang Yesus. Sudah menyangkal diri dan memikul salib, ๐˜ฆ๐˜ฉ tidak boleh berjalan di depan Yesus. Ibarat jatuh tertimpa tangga. Pernahkah anda mengangkat dua ember air atau dua beban bawaan di tangan kanan dan kiri? Saya sering. Saya akan berjalan lebih cepat agar lebih cepat sampai, karena saya ingin beban di tangan saya segera dilepaskan. Mengikut Yesus tidak begitu. Meskipun beban berat, tetap saja kita harus mengikuti kecepatan Yesus berjalan. Tidak boleh lebih cepat.

๐— ๐—ผ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (Mat. 16:25-27)

“๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข; ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 25)
๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? (ay 26)
๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜•๐˜บ๐˜ข; ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 27)” (TB II 2023)

Sesudah mengajukan syarat dasariah, Yesus menjelaskan implikasi menjadi pengikut-Nya sekaligus memberi motivasi.

Ayat 25 berisi paradoks: menyelamatkan, kehilangan; kehilangan, mendapatkan. Yesus kerap mengajar dengan jalan terbalik dari anggapan umum. Kata nyawa di atas dari kata ๐˜ฑ๐˜ด๐˜บ๐˜ค๐˜ฉo๐˜ฏ yang berarti literal hidup. ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข tampaknya merujuk orang yang memertahankan aspirasi hidup pribadinya dengan mencari harta, kenikmatan, kemasyhuran, kekuasaan akan mendapat kekecewaan. Sebaliknya, orang yang hidupnya melayani seperti Yesus melayani, bahkan secara ekstrem harus kehilangan segalanya termasuk nyawanya, akan menerima kepenuhan hidup. Di sini Yesus sama sekali tidak melarang kita menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, tetapi untuk menjadi besar kita harus melayani (lih. Mat. 20:26). Melayani berarti menjadi peka dan mengarahkan perhatian kepada mereka yang tak berdaya. Kaya boleh, tetapi jangan serakah.

Injil Matius juga bervisi apokaliptik, penyingkapan. Sebelumnya tidak tersingkap, sekarang disingkap. Injil Matius menyingkap Pengadilan Terakhir. Meskipun syarat menjadi pengikut Yesus amat berat, Ia memberi motivasi dengan menyingkap Pengadilan Terakhir. Yesus akan datang untuk mengadili orang menurut perbuatannya. Di sini Matius menulis perbuatan dalam bentuk tunggal (ฯ€ฯแพถฮพฮนฮฝ dibaca ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜น๐˜ช๐˜ฏ). Perjanjian Lama versi Septuaginta menulis perbuatan-perbuatan (jamak). Misal, Mazmur 62:13 dan Amsal 24:12 ditulis แผ”ฯฮณฮฑ (dibaca ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข). Pengadilan Terakhir dalam Perjanjian Baru tidak menghitung jumlah perbuatan baik versus perbuatan jahat, melainkan satu kesatuan praksis hidup secara serbacakup sebagai pengikut Yesus. Sangat bolehjadi 60 - 90% hidup para pemungut cukai berbuat kejahatan, tetapi mereka diselamatkan oleh Yesus (lih. Mat. 9:9-13).

(03092023)(TUS)

Sabtu, 22 Agustus 2026

Sudut Pandang saya tentang Gereja, ๐—ž๐—ฎ๐—ฑ๐—ผ ๐—จ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ Gereja : ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฅ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐˜€

Sudut Pandang saya tentang GKJ, Gereja Kurang Jelas : ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฅ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐˜€

PENGANTAR
Sering disindir oleh kolega peneliti atau pengajar saya, GKJ = Gereja Kurang Jelas, tapi saya selalu menjawab dg senyum dan antusias, bahwa secara positif, saya mengiyakan bahkan mengimani istilah itu, kenapa? Ini penjelasan saya, minimal ini pemahaman keyakinan saya. Banyak warga Gereja tidak tahu, bahkan mungkin sebagian pendeta juga kadang lupa atau tidak tahu, bahwa GKJ mempunyai satu “ilmu” yang cukup unik. GKJ tidak gampang dijelaskan dengan kalimat: Gereja itu begini. Mengapa?
Kerap jawabannya justru: “๐˜ ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” atau “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” atau bahkan “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.”
Apabila mau dibuat rada iseng, identitas Gereja dapat diringkas ke dalam empat rumus.
PEMAHAMAN
๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚: ๐—•๐—จ๐—ž๐—”๐—ก ๐—œ๐—ก๐—œ, ๐—•๐—จ๐—ž๐—”๐—ก ๐—œ๐—ง๐—จ

♦️ GKJ bukan gereja kharismatik, GKJ juga bukan gereja yang alergi terhadap Roh Kudus.
♦️ GKJ bukan gereja liberal, GKJ juga bukan Gereja yang menganggap pertanyaan dan penalaran sebagai dosa.
♦️ GKJ bukan gereja fundamentalis, GKJ juga bukan Gereja yang menganggap Alkitab hanya sebagai satu buku kuno yang boleh diperlakukan seenak perut.

Jadi, kalau ada yang bertanya: “๐˜Žereja ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ท๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ง?” Jawabannya bisa membuat orang bingung: “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.”

๐—ž๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ: ๐—ฌ๐—” ๐—œ๐—ก๐—œ, ๐—ฌ๐—” ๐—œ๐—ง๐—จ

♦️ GKJ adalah gereja Reformed (YA), Gereja juga gereja yang membuka diri kepada gerakan ekumenis (YA).
♦️ GKJ berpegang pada Alkitab (YA), GKJ juga menggunakan penalaran sebagai usaha memahami iman (YA).
♦️ GKJ bercorak Calvinis (YA), GKJ juga Gereja yang kontekstual (YA).

๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ: ๐—•๐—จ๐—ž๐—”๐—ก ๐—œ๐—ก๐—œ, ๐—ง๐—”๐—ฃ๐—œ ๐—œ๐—ง๐—จ

Nah, di sinilah identitas GKJ mula terasa sangat khas.

♦️ GKJ bukan kharismatik, tetapi Gereja mengakui dan menghayati karya Roh Kudus.
♦️ GKJ bukan liberal, tetapi GKJ menggunakan penalaran sebagai usaha memahami iman.
♦️ GKJ bukan literalis-fundamentalis, tetapi GKJ yang membaca dan menafsir Alkitab secara akademis, kritis, dan kontekstual.

Perhatikan perbedaannya: 
▶️ Yang ditolak bukan Roh Kudusnya. Yang ditolak adalah bentuk kekristenan tertentu yang mendaku dirinya sebagai satu-satunya cara menghayati Roh Kudus.
▶️ Yang ditolak bukan penalarannya. Yang ditolak adalah liberalisme sebagai identitas teologis.
▶️ Yang ditolak bukan Alkitabnya. Yang ditolak adalah literalisme fundamentalisme sebagai cara membaca Alkitab.

Dengan kata lain: GKJ tidak membuang bayi bersama air mandinya. Yang dibuang adalah air mandinya. Bayinya tetap dipelihara dan dirawat. ๐Ÿ˜„

๐—ž๐—ฒ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜: ๐—œ๐—ก๐—œ, ๐—ง๐—”๐—ฃ๐—œ ๐—•๐—จ๐—ž๐—”๐—ก ๐—œ๐—ง๐—จ

Ini barangkali rumus yang sangat sering membuat orang luar GKJ garuk-garuk kepala.

♦️ GKJ adalah Gereja Calvinis (Ini), tetapi GKJ tidak ingin sekadar memertahankan ajaran Calvin tanpa membaharui demi kegayutan zaman (Bukan itu).
♦️ GKJ adalah Gereja kontekstual (Ini), tetapi keterbukaan kontekstual itu tidak berarti semua yang sedang populer otomatis dianggap benar (Bukan itu).
♦️ GKJ adalah Gereja partisipatif (Ini), tetapi partisipasi bukan berarti setiap keputusan teologis ditentukan dengan ๐˜ท๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ: ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ? (Bukan itu).
♦️ GKJ adalah Gereja misioner (Ini), tetapi misi tidak otomatis berarti: “๐˜—๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ.” (Bukan itu)
♦️ GKJ terbuka secara ekumenis (Ini), tetapi ekumenisme bukan berarti semua perbedaan teologis dianggap tidak penting (Bukan itu).

Kalau diringkas:
♦️ Bukan kharismatik, tetapi mengakui karya Roh Kudus.
♦️ Bukan liberal, tetapi menggunakan penalaran.
♦️ Bukan literalis-fundamentalis, tetapi membaca dan menafsir Alkitab secara akademis, kritis, dan kontekstual.
♦️ Calvinis, tetapi tidak menjadi museum Calvinisme.
♦️ Kontekstual, tetapi tetap ekumenis.
♦️ Partisipatif, tetapi bukan sekadar demokrasi gerejawi.
♦️ Misioner, tetapi bukan mesin perekrutan anggota baru.

Di sinilah menariknya identitas GKJ. GKJ tidak berdiri dengan mengatakan: “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜•๐˜ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜š๐˜ˆ๐˜“๐˜ˆ๐˜.” GKJ justru belajar mengatakan: “๐˜๐˜•๐˜ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ-๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ˆ๐˜›๐˜œ-๐˜š๐˜ˆ๐˜›๐˜œ๐˜•๐˜ ๐˜ˆ ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข.”

Sangat bolehjadi itu sebabnya GKJ kadang tampak tidak tegas bagi orang yang terbiasa dengan Gereja yang identitasnya dibangun dari kata ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ. GKJ malah sering berkata: “๐™†๐™–๐™ข๐™ž ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™–, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™ง๐™ฉ๐™ž ๐™ ๐™–๐™ข๐™ž ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ค๐™ก๐™–๐™  ๐™จ๐™š๐™ข๐™ช๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™–๐™™๐™– ๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™–.” Repot memang! Makin kentara ketidak jelasannya ..... Wk ...... Wk, tapi saya mengamininya.

Ini yang acap membuat GKJ susah dijual dalam bentuk slogan. Nah, justru di situlah kedewasaan teologisnya, karena GKJ yang dewasa tidak selalu bertanya: “๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?” Gereja yang dewasa berani bertanya: “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข?”

๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ: ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ; ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ; ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ; ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, minimal bagi saya.

Justru di tengah dunia yang gemar menyederhanakan segala sesuatu menjadi ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ, GKJ dipanggil untuk menunjukkan bahwa ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ๐—ธ. Kadang kala jawabannya memang: “๐˜ ๐˜ข... ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” Kadang: “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ... ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” Lain kadang: “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.” Kadang yang sangat Gereja: “๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข: ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.”

Itulah repotnya menjadi GKJ, tetapi itulah juga indahnya.

Sekali lagi, ๐—šKJ ๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป. ๐—ง๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—šKJ, Gereja Kurang Jelas, minimal bagi saya.

(26082026)(TUS)

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

PENGANTAR
“Kita terlalu sibuk mempersoalkan orang lain hingga kehilangan rasa empati dan keutamaan bela rasa.”

Setelah ibadah di lingkungan STTBI di Cepogo dalam ruang dialog mahasiswa, sejak lama udah tidak menjejakkan kaki di sini sejak saya tidak lagi mengajar hanya menjadi peneliti dan pembicara, ada mahasiswa yang bertanya kepada saya; “pak apakah benar video yang beredar tentang ramalan seorang pemuda di pelabuhan Aimere dengan mengatasnamakan St. Mikhael?” Kebetulan perwakilan sinode Baptis Injili ada di Kupang, sebelah barat pulau Timor, sedangkan sinode pusat ada di Switzerland (Baptistengemeinde Zรผric, Alamat:Steinwiesstrasse 34, 8032 Zรผrich, Swiss, Eglise Rรฉformรฉe Baptiste de Lausanne, Alamat: Chemin d'Entre-Bois 31, CH-1018 Lausanne, Swiss). Saya menjawab; “Soal pernyataan itu benar atau tidak, sebelum atau sesudah gempa kita tidak perlu menghakimi atau mempercayai begitu saja. Karena yang paling penting sekarang adalah bersatu dalam doa dan meringankan beban penderitaan saudara-saudari kita. Gempa sudah terjadi dan berbagai Analisa tidak pernah akan mengembalikan Flores seperti sedia kala sebelum gempa.” Dan ketika dalam perjalanan pulang; kolega dosen yang mengantarkan kami pulang ke Salatiga mengatakan bahwa; “pak, bencana gempa tahun ini rasanya seperti biasa-biasa saja, kurang menggema solidaritas dan bela rasa.”
Saya kemudian menjawab; “betul bro, karena kebanyakan orang lebih sibuk mempersoalkan video pemuda soal ramalan gempa, memprotes kehadiran partai politik yang membantu meringankan penderitaan saudara-saudari kita yang terdampak bencana alam gempa bumi, mempersalahkan pemerintah, mempersalahkan orang lain, mempersalahkan pesta, mempersoalkan kepercayaan orang dan patung Gereja Katolik daripada mengajak berdoa dan membangun solidaritas serta bela rasa.”
PEMAHAMAN 
Kita sibuk mempersoalkan segala sesuatu yang sejatinya tidak ada hubungan dan kaitan dengan bencana alam gempa bumi yang melanda Flores Nusa Bunga 15 Agustus 2026 yang lalu. Kita sibuk mencari penyebab adanya gempa bumi dan mulai menghakimi kepercayaan leluhur dan menjelekkan diri kita sendiri. Kita lupa satu hal bahwa gempa bumi adalah kondisi alam yang datangnya tidak pernah direncanakan bahkan tidak pernah kita ketahui dan perginyapun tidak ada manusia yang bisa menghalanginya.
Jika gempa bumi dikaitkan dengan kepercayaan pada roh leluhur, pesta dan hal lainnya, mengapa Sumba yang masih kuat dengan kepercayaan pada roh leluhur atau wilayah Kalimantan misalnya tidak pernah mengalami bencana alam gempa bumi. Bahwa ada dampak getaran ke wilayah Sumba atau Kalimantan ya tetapi tidak bisa disimpulkan sebagai akibat dari kepercayaan pada roh leluhur atau mentalitas pesta.
Flores Nusa Bunga tidak akan pernah terlepas dari yang namanya gempa bumi karena hampir semua wilayah Flores memiliki gunung berapi dan wilayah kepulauan yang rawan bencana alam gempa bumi. Maka lebih baik STOP melakukan analisa, penghakiman dan protes yang semuanya itu menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak memiliki kepekaan iman yang mewujud dalam solidaritas dan bela rasa bersama saudara-saudari kita yang menjadi korban bencana alam gempa bumi.

Adakah Iman?

Ketika gempa bumi melanda Flores Nusa Bunga, pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya adalah; “Akankah Tuhan Menemukan Iman di tanah Nusa Bunga?” Iman yang dimaksud di sini adalah tentang Keteguhan, Kesabaran, Ketabahan dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan Solidaritas serta Bela Rasa.
Bencana alam gempa bumi yang melanda Flores, seharusnya membuat kita semakin yakin bahwa Allah ada dan menyertai Flores Nusa Bunga. Betul bahwa ada korban baik materi dan korban jiwa. Namun dibalik itu ada satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa; “semakin beriman kepada Allah, maka semakin besar dan banyak tantangan yang dihadapi.” 
Lantas apakah Allah yang menghadirkan bencana gempa bumi tersebut? Jika Allah Maha baik, lantas mengapa Ia menciptakan gempa bumi? Allah tidak pernah menghadirkan bencana gempa bumi untuk kita umat-Nya. Kalau kita menyadari bahwa selama manusia masih berziarah di dunia ini selalu hidup dan berhadapan dengan hal-hal yang baik dan buruk (Mat 13:24-30) maka demikian juga situasi alam selalu berada dalam situasi seperti ini, bahwa ada saatnya di mana ada keharmonisan dan ketidakharmonisan. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia siklus alam semesta yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri.
Bahkan sudah sejak penciptaan Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk tidak hanya memanfaatkan alam semesta beserta isinya tetapi juga menjaga dan merawatnya sebagai Citra Allah (Kej 1:26-28). Allah memang memberikan kuasa kepada manusia namun Allah juga tidak meninggalkan dan membiarkan manusia bekerja dan berusaha sendiri. Maka ketika adanya bencana alam seperti gempa bumi itu bukan karya Allah untuk mempertobatkan manusia. Bahwa dalam Perjanjian Lama, cara Allah untuk mempertobatkan bangsa Mesir dengan tulah-tulah karena tindakan mereka yang menindas dan membelenggu bangsa Israel sebagai bangsa terpilih dan Allah menunjukkan keadilan atas kesombongan Firaun dan menyatakan diri bahwa hanya Allah yang disembah (Kel bab 7-12). Jika Pendeta Mell Atok (maaf saya sebut nama, wong udah ramai di medsos) mengatakan bahwa gempa bumi di Flores adalah cara Allah mempertobatkan umat yang menyembah berhala (patung-patung) lantas gempa dan tsunami yang menimpa Palu pada Oktober 2018 yang lalu di mana ada masjid dan juga Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) ikut mengalami kerusakan; apakah karena umat Islam dan Protestan di Palu juga menyembah berhala? Maka pernyataan Pendeta ini juga sangat tidak benar meski dengan alasan Pertobatan. 
Atau terbakarnya gereja Bethel Tabernakel di Minake-Mamasa-Sulawesi Barat apakah juga karena mereka menyembah berhala sehingga kebakaran terjadi sebagai jalan mempertobatkan mereka, walau secara ilmiah sudah dikatakan penyebab kebakaran adalah diduga arus listrik yang korsleting.
Tidak bisa dipungkiri dan dibantah; masyarakat Flores menyembah Allah yang Esa. Masyarakat Flores adalah masyarakat yang majemuk pula dalam hal agama. Bahwa kemudian adat isitiadat masih dihormati tidak berarti melunturkan iman masyarakat Flores Nusa Bunga kepada Allah yang Esa. Maka ketika Pdt. Mel Atok, dkk menghubungkan gempa bumi dengan pertobatan, sejatinya Pdt. Mel Atok, dkk sedang mengkhianati Sola Scriptura yang mereka agungkan dimana dalamnya tertulis dengan jelas bahwa pertobatan semata-mata karena belas kasih, rahmat dan kebaikan Allah (Rom 2:4; Ef 2:4-5) dan bukan karena bencana gempa bumi. Jika mengatakan gempa bumi adalah cara Allah mempertobatkan masyarakat Flores maka sejatinya Pdt. Mel Atok, dkk sedang mewartakan Allah sebagai Allah yang jahat dan bukan Allah yang Maha Kasih, Maha Rahim dan Maha Baik. Maka ketika ada yang mengaitkan gempa bumi dengan ungkapan iman agama tertentu sebagaimana disampaikan Pdt. Mell Atok, dkk itu adalah sebuah kesalahan informasi bahkan pembohongan dan penyesatan atas kebenaran ajaran Kristus yang digunakan sebagai dalih untuk memperkuat pandangannya. Padahal saya juga yakin seyakin-yakinnya bahwa Pdt. Mel Atok, dkk juga tahu dan sadar bahwa fenomena gempa bumi di wilayah Flores adalah murni akibat aktivitas pergerakan lempeng bumi dan jalur patahan aktif secara geologis. Sejatinya di tengah duka yang dialami oleh saudara-saudari kita di Flores, kehadiran kita entah dalam bahasa maupun tindakan semakin menguatkan dan meneguhkan iman dan harapan saudara-saudari kita sehingga merekapun tetap mengimani bahwa Allah sungguh menyertai mereka. Dalam situasi duka seperti ini, sejatinya solidaritas dan bela rasa kita sebagai perwujudan iman semakin meneguhkan kesabaran dan ketabahan bagi saudara-saudari kita di tanah Flores Nusa Bunga agar mereka tidak kehilangan iman dan harapan.

Stop Mempersalahkan, Stop Menghakimi!!

“Adakah iman di temukan di Nusa Bunga Tanah Flores yang sedang berdukacita?” (bdk. Luk 18:8). Kalau kita masih sibuk mempersalahkan, menghakimi dan membuat analisa-analisa sesat beraroma kesalehan maka sejatinya kita sedang kehilangan dan menghilangkan iman dalam wujud solidaritas dan bela rasa. Maka berhentilah untuk mempersalahkan dan menghakimi! Kalaupun tidak bisa membantu dengan kehadiran dan dana atau material lainnya maka doa menjadi sumbangan terbesar bagi saudara-saudari kita di tanah Flores Nusa Bunga yang sedang berduka untuk menegaskan bahwa dalam situasi duka; iman tetap ada, iman kepada Allah semakin bertumbuh subur. Jika para pendeta kehilangan bahan untuk berkotbah, maka stop juga untuk menjadikan dukacita masyarakat Flores sebagai bahan untuk berkotbah sebagai pembenaran penghakiman yang sesat dan penuh kebohongan terkait gempa bumi di Tanah Flores.

“Jika tak mampu untuk memberi, maka doa menjadi pemberian paling berharga. Jika tak mampu menguatkan dan meneguhkan iman dan harapan mereka, maka berhentilah untuk mempersalahkan dan menghakimi. Jika tak mampu menghibur, maka jangan menambah luka dan duka dengan menggunakan ayat-ayat suci hanya untuk menghakimi dan mempersalahkan yang semakin menunjukkan bahwa Anda tidak memiliki iman!”

(20 Agustus 2026)(TUS), (menulis penuh amarah untuk jawab atas tulisan pendeta Mel Atok, dkk di FBG Teologia Publik Pulau Timor)

Sudut Pandang apa benar Yohanes iri pada Yesus?

Sudut Pandang apa benar Yohanes  iri pada Yesus? Tempo hari saya membedah khotbah ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ tentan...