Tempo hari saya membedah khotbah ๐ฃรจ๐๐๐ฒ๐ฟ ๐ฃ๐ต๐ถ๐น๐ถ๐ฝ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ tentang kisah transfigurasi versi Injil Lukas. Tentu saja para penggemarnya menuduh saya iri dan sengaja menyerang pribadi Mantofa. Padahal sangat terang saya mengulas apa yang diucapkan dalam rangka khotbahnya oleh Mantofa di YouTube. Menggosip kehidupan pribadinya justru menjatuhkan martabat saya.
Sekarang saya membedah khotbah ๐ฃรจ๐๐๐ฒ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฏ๐ ๐๐ฎ๐๐ท๐ถ๐ฟ. Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=bM0d0rBvBq8
Khotbah Debby diambil dari Matius 11:2-11 dan diberi tema: ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ธ๐ฒ๐ฐ๐ฒ๐๐ฎ๐ฎ๐ป.
๐ญ. ๐ง๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐๐ป๐๐ฎ ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ "๐๐ฒ๐ฐ๐ฒ๐๐ฎ" ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ "๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ต๐ฎ๐๐ถ"
Saya membaca teks Matius mencerap kekecewaan Yohanes terhadap Mesias yang tidak sesuai dengan harapannya.
Debby memberi tema: "Cara menang dari iri dan kekecewaan" Lalu ia segera membangun psikologi Yohanes: "ada rasa iri hati melihat pekerjaan Tuhan bagi orang lain tapi kenapa saya tidak"
Di sini sudah ada masalah hermeneutis yang cukup besar. ๐ ๐ฎ๐๐ถ๐๐ ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐ ๐ถ๐ฟ๐ถ. Tidak ada kata "iri", "cemburu", atau bahkan keterangan bahwa Yohanes merasa orang lain ditolong sementara dirinya tidak. Itu semua adalah pengisian psikologi tokoh oleh Debby.
Memang sangat mungkin Yohanes kecewa atau bingung. Kita dapat menduga dari ketegangan antara pemberitaan Yohanes dalam Matius 3:10-12 dengan karya Yesus dalam Matius 8-9.
Debby justru memasukkan pengalaman psikologis modern: "orang lain bisa ditolong ... tetapi kenapa saya tidak?"
Jadi, Debby melihat Yohanes akhirnya menjadi semacam contoh kasus orang yang iri melihat orang lain diberkati. Padahal justru pertanyaan Yohanes sangat spesifik: "๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ?"
Itu bukan kalimat, "Mengapa mereka ditolong tetapi saya tidak?"
๐ฎ. ๐๐ฒ๐ฏ๐ฏ๐ ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐๐๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐น๐ผ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฒ ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐บ๐ฝ๐๐น๐ฎ๐ป
Mari kita merekonstruksi teks Matius. Yohanes sebelumnya memberitakan Mesias sebagai orang yang akan: menebang pohon yang tidak berbuah, membersihkan tempat pengirikan, mengumpulkan gandum, membakar sekam dengan api yang tidak terpadamkan. Kemudian Yohanes masuk penjara.
Dalam pada itu Yesus malah: menyembuhkan, memulihkan, membangkitkan, memberitakan kabar baik kepada orang miskin.
Jadi, kita dapat menali hasil rekonstruksi teks di atas: Apa yang dilakukan Yesus tampaknya tidak memenuhi pengharapan Yohanes. Ini argumentasi tekstual. Ada ekspektasi Yohanes dan kemudian ada realitas karya Yesus yang tampaknya berbeda.
Debby tidak mengembangkan ketegangan itu. Debby justru mengatakan: "Dia sudah melihat bahwa memang itu Yesus sang Mesias..." Lalu: "karena kekecewaan ya dan dia iri melihat bagaimana pekerjaan Yesus di luar sana sementara dia tidak mengalami pertolongan itu..."
Nah, ini lebih problematis, sebab pertanyaan Yohanes justru adalah: "๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ?"
Dengan kata lain Matius sengaja membiarkan pertanyaan itu berada di dalam cerita. Debby malah menyelesaikan persoalannya terlebih dahulu: Yohanes sudah tahu Yesus Mesias → Yohanes kecewa + iri → Yohanes meragukan Tuhan.
Padahal teks tidak memberikan rangkaian psikologis sesederhana itu.
๐ฏ. ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ด๐๐ฟ ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฏ๐ฏ๐
Dalam khotbah Debby di sini Yohanes praktis dijadikan contoh orang yang: kecewa → ragu → berpotensi menolak Tuhan.
Debby mengatakan: "iri hati kekecewaan bisa membuat orang akhirnya menolak dan meragukan Tuhan" kemudian "orang yang kecewa sudah pasti nanti akan menolak"
Padahal apabila kita lanjut membaca Matius 11:7-11, terjadi sesuatu yang agak mengganggu konstruksi Debby tersebut. Yesus justru membela Yohanes di depan orang banyak. Setelah murid-murid Yohanes pergi, Yesus berkata: "๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ? ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐จ๐ฐ๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ?" Kemudian Yesus memuji Yohanes sebagai nabi, bahkan mengatakan: "๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ: ๐๐ช ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ด ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฑ๐ต๐ช๐ด."
Ini penting sekali.
Kalau maksud utama teks adalah (seperti yang dibangun oleh Debby): "Jangan seperti Yohanes. Kalau kecewa kepada Tuhan, jangan sampai menjadi tidak percaya." maka aneh bahwa segera setelah itu Yesus malah memberikan pembelaan dan pujian yang sangat tinggi kepada Yohanes.
Padahal kalau kita membaca Matius dengan cermat dapat kita cerap bahwa Yesus tidak mau menjatuhkan Yohanes. Kata orang Jawa, Yesus menang tanpa ๐ฏ๐จ๐ข๐ด๐ฐ๐ณ๐ข๐ฌรฉ. Ini justru bagian yang hilang dari khotbah Debby.
๐ฐ. ๐๐๐ฎ๐ ๐ฒ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฟ๐๐บ๐๐ "๐ธ๐ฒ๐ฐ๐ฒ๐๐ฎ → ๐บ๐ฒ๐ป๐ผ๐น๐ฎ๐ธ ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป"
Debby sangat bergantung pada Matius 11:6: "๐๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ถ."
Lalu dibuat formula oleh Debby: "Kalau engkau kecewa pada akhirnya engkau akan menolak Tuhan."
sehingga akhirnya: "kekecewaan itu akan membuat kita pada akhirnya menolak Tuhan"
Ini contoh yang jitu tentang bagaimana sebuah ayat digeser fungsi naratifnya menjadi prinsip umum.
Padahal dalam konteks Matius 11 perkataan Yesus itu sangat mungkin berpautan dengan tanggapan terhadap diri dan karya Yesus yang tidak sesuai dengan harapan orang.
Jadi bukan sekadar:
kecewa = dosa
kecewa = pasti menolak Tuhan.
Justru ada paradoks: Yesus tidak memenuhi gambaran Mesias seperti yang diharapkan Yohanes, tetapi Yohanes harus belajar mengenali karya Mesias dalam bentuk yang berbeda. Apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan.
๐ฑ. "๐๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐" ๐ท๐๐ด๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ๐ท๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐
Bacaan adalah Injil Matius pasal 11. Genre Injil Matius adalah cerita sehingga ada 10 pasal yang mendahului cerita pasal 11. Jadi, ucapan Yesus merujuk cerita pada pasal-pasal sebelumnya.
Mari kita simak teks Injilnya.
๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ → pengajaran Yesus, khususnya Matius 5-7
๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต → karya Yesus dalam Matius 8-9.
Secara rinci ini senarainya:
• Orang buta melihat. Di mana? Matius 9:29 (bdk. Yes. 29:18; 35:5).
• Orang lumpuh berjalan. Di mana? Matius 8:13; 9:6 (bdk. Yes. 35:6).
• Orang kusta menjadi tahir atau sembuh. Di mana? Matius 8:1-4 (bdk. Yes. 53:4).
• Orang tuli mendengar. Di mana? Tidak ada di Injil Matius. (bdk. Yes. 29:18; 35:5).
• Orang mati dibangkitkan. Di mana? Matius 9:25 (bdk. Yes. 26:19).
• Kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Di mana? Matius 5:3 (bdk. Yes. 61:1)
๐๐ฎ๐ฐ๐ฏ-๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ mengapa cerita orang tuli mendengar di atas tidak ada di dalam Injil Matius seperti cerita-cerita yang lain? Apakah pengarang Injil Matius lupa menulis? Tampaknya Matius tidak lupa, bahkan ia “menghapus” cerita yang ada di Markus 7:31-37 dan ucapan di Markus 9:25. Mengapa? ๐๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฉ. ๐๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐บ ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ฏ’๐ต ๐ต๐ฆ๐ญ๐ญ ๐ช๐ต.
Tapiiii Debby hanya mengatakan: "cerita aja apa yang kamu dengar yang kamu lihat" Lalu daftar mukjizat tersebut digunakan sebagai bukti bahwa Yesus adalah Mesias.
Itu tentu tidak salah secara umum, tetapi kedalaman nasabah Matius dengan Yesaya tidak disentuh sama sekali. Padahal justru di situlah kekuatan teks.
Yesus tidak menjawab: "Ya, Aku Mesias." Ia menjawab dengan menunjuk karya yang sedang terjadi, karya yang memiliki gema kuat dari nubuat Yesaya. Dengan demikian Yohanes diminta menafsirkan karya Yesus, bukan sekadar menerima jawaban verbal "Aku Mesias."
๐ฒ. "๐ข๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐น๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ"
Mari kita telisik teks Matius bahwa "orang tuli mendengar" tidak mempunyai kisah paralel dalam Injil Matius. Matius tidak memasukkan kisah Markus 7:31-37. Mengapa? Saya sendiri tidak tahu. ๐๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฉ. ๐๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐บ ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ฏ’๐ต ๐ต๐ฆ๐ญ๐ญ.
Namun, Debby tidak masuk ke wilayah ini sama sekali. Akibatnya bagian yang seharusnya menjadi pusat kristologis teks: "Siapakah Yesus dan bagaimana karya-Nya memenuhi harapan mesianik?"
berubah menjadi: "Bagaimana supaya kita tidak kecewa kepada Tuhan?"
๐ณ. ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ "๐ป๐ฎ๐ฏ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฃ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐" ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต
Debby beberapa kali mengatakan Yohanes adalah: "nabi perantara antara Perjanjian Lama dan perjanjian baru"
Secara homiletis orang mungkin memahami maksudnya: Yohanes berada pada titik transisi sejarah keselamatan, tetapi secara kanonik, kalimat itu perlu hati-hati untuk berargumen. Yohanes Pembaptis adalah tokoh dalam Injil, bukan "orang PL" yang berdiri di luar PB. Lebih tepat melihat Yohanes sebagai tokoh yang berada pada ambang penggenapan: ia adalah nabi yang memersiapkan kedatangan Yesus, sekaligus tokoh yang tampil dalam narasi Perjanjian Baru.
Justru Matius 11:11: ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ซ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ณ๐จ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข membuka persoalan teologis, tetapi tidak dibahas oleh Debby. Padahal ini ayat yang sangat menarik untuk dikhotbahkan.
๐ด. ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐ ๐ธ๐ฒ๐บ๐๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฝ๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฏ๐ฏ๐
Setelah ayat 6 Yohanes perlahan berubah menjadi pintu masuk untuk khotbah Debby tentang pengalaman pribadi orang Kristen. Masuklah: orang yang dipenjara, orang yang kecewa, orang yang tidak disembuhkan, sakit gigi, sakit hati, suami yang pelit, dokter, operasi Rp5 juta, pengampunan, pejabat yang divonis mati, perselingkuhan, pertobatan, istrinya pulih, pendeta di Nigeria yang tidak sembuh. Cerita-cerita itu panjang sekali, menghabiskan sekitar lima menit. Lalu kisah pejabat dan perselingkuhan berlangsung sampai sekitar tujuh menit. [Simak saja khotbah-khotbah Debby Basjir, apa pun teks bacaannya, topik perselingkuhan tak ketinggalan dimasukkan wkwkwkwk]
Artinya secara proporsional Matius 11:2-11 akhirnya menjadi semacam pemicu untuk membicarakan kekecewaan. Ini bukan lagi eksposisi teks dalam pengertian ketat. Lebih tepat disebut khotbah tematis yang merudapaksa Matius 11 sebagai titik keberangkatan.
๐ต. ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ธ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐
Contoh paling jelas adalah kisah sakit gigi. Logikanya kira-kira: kekecewaan dan kepahitan → stres/masalah psikis → sakit fisik → mengampuni → sakit gigi sembuh.
Debby bahkan mengatakan: "waktu engkau membuang kekecewaan di hatimu Tuhan bisa mengubah segala-galanya"
Masalahnya bukan bahwa pengampunan tidak baik. Tentu saja pengampunan baik. Masalahnya adalah kesaksian individual dijadikan pola sebab-akibat yang seolah berlaku umum.
Padahal beberapa menit sebelumnya sendiri Debby sudah mengatakan sesuatu yang jauh lebih sehat: "tidak semua harus disembuhkan" dan: "Tuhan aku sembuh atau tidak sembuh ... aku percaya."
Nah, ini sebenarnya sangat dekat dengan persoalan Yohanes. Yesus tidak datang membebaskan Yohanes dari penjara. Bahkan Debby sendiri mengakui: "akhirnya Yohanes kepalanya dipenggal dan Tuhan enggak tolong." Tapiii kemudian kisah sakit gigi menghasilkan kesan: lepaskan kekecewaan → Tuhan menyembuhkan.
Ini membuat dua pesan dalam khotbahnya bertentangan satu sama lain.
๐ญ๐ฌ. ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐๐ฎ ๐ก๐ถ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ฎ
Sebenarnya Debby sudah memberi ilustrasi cukup bagus tentang kisah pendeta di Nigeria: mendoakan orang sakit, orang lain sembuh, dirinya sakit, berdoa, berpuasa, tidak sembuh, kecewa kepada Tuhan, akhirnya meninggalkan Tuhan.
Kemudian Debby memberi kesimpulan: "Tuhan aku sembuh atau tidak sembuh ... aku percaya."
Nah, ini sebenarnya bisa menjadi inti khotbah yang sangat kuat, tetapi untuk sampai ke sana Debby tidak perlu menjadikan Yohanes orang yang "iri". Justru Yohanes sendiri adalah contoh yang sangat kuat: orang yang setia kepada Tuhan, melakukan tugasnya, dipenjara, tidak dibebaskan, lalu bertanya apakah Yesus benar-benar Mesias.
Tanggapan Yesus bukan: "Yohanes, jangan kecewa!" tetapi secara substansial: lihatlah karya-Ku; lihatlah apa yang sedang Allah kerjakan. Kemudian Yesus tetap menghormati Yohanes.
Ini jauh lebih kaya.
๐ญ๐ญ. ๐๐ฑ๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ ๐น๐ฎ๐ด๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด “๐ธ๐ผ๐ฐ๐ฎ๐ธ” ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด: ๐๐ฒ๐ฏ๐ฏ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ฒ๐ "๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฐ๐ฎ๐ฝ"
Debby mengatakan: "Ini pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu terucap dari seorang Yohanes..."
Nah, ini menarik sekali kalau dibandingkan dengan teks Matius. Secara naratif justru pertanyaan itulah yang membuat Matius 11:2-11 menarik. Kalau Yohanes sudah tahu persis Yesus Mesias dan tidak ada persoalan apa pun, maka pertanyaan "Engkaukah yang akan datang itu?" menjadi tidak terlalu penting. Akan tetapi Matius memasukkan pertanyaan itu.
Jadi, daripada menganggap pertanyaan Yohanes sebagai pertanyaan yang "seharusnya tidak perlu muncul", lebih menarik untuk bertanya: Mengapa Matius sengaja memertahankan pertanyaan seorang Yohanes yang pernah begitu yakin terhadap Yesus?
Di sinilah tema kekecewaan karena Mesias ternyata tidak bekerja seperti yang diharapkan menjadi sangat kuat.
Khotbah Debby bukan terutama eksposisi Matius 11:2-11. Ia adalah khotbah pastoral-tematis mengenai bahaya kekecewaan kepada Tuhan dengan Yohanes Pembaptis sebagai contoh pembuka. Masalah utamanya bukan bahwa aplikasinya jelek. Justru beberapa aplikasinya cukup kuat, terutama: iman kepada Tuhan tidak boleh bergantung pada apakah kita disembuhkan atau tidak.
Masalahnya adalah aplikasi tersebut dibangun dengan mereduksi Yohanes menjadi orang yang iri dan kecewa, padahal teks Matius menggambarkan Yohanes secara jauh lebih kompleks.
Yang paling ironis justru ini: Debby ingin mengajarkan agar kita tidak kecewa kepada Tuhan, tetapi Matius tampaknya justru berani memerlihatkan bahwa seorang Yohanes Pembaptis pun dapat bertanya kepada Yesus ketika realitas tidak sesuai dengan harapannya. Yesus juga tidak membuang Yohanes karena pertanyaan itu.
Yesus menjawab pertanyaannya, lalu membela Yohanes. Itu jauh lebih indah daripada sekadar: "Jangan kecewa, nanti kamu menolak Tuhan."
Nasihat orang bijak "Apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan" malah bisa menjadi pintu masuk khotbah yang lebih setia kepada teks. Yohanes menginginkan Mesias yang datang dengan kapak, penampi, dan api. Yang ia lihat justru Mesias yang menyembuhkan, memulihkan, memberitakan kabar baik, dan bahkan tidak datang membebaskannya dari penjara.
Di situlah problem teologis Matius 11 sesungguhnya. Bukan sekadar bagaimana supaya orang Kristen tidak kecewa, tetapi ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ป๐ฎ๐น๐ถ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฟ๐ป๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ธ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ด๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ถ๐๐ฎ tentang bagaimana seharusnya Ia bekerja.