PENGANTAR
Ada masa ketika menjadi setia kepada Tuhan terasa mudah. Kita beribadah, berdoa, melayani, dan mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan ketika keadaan berjalan sesuai dengan harapan. Tetapi bagaimana jika ketaatan kepada Tuhan justru membawa kita kepada tekanan, kehilangan, bahkan ancaman?
Daniel 3 memperhadapkan kita pada tiga orang muda yaitu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka hidup di tengah kerajaan Babel, berada di bawah tekanan kekuasaan, dan diperhadapkan pada sebuah pilihan yang sangat jelas yaitu menyembah patung yang didirikan Nebukadnezar atau tetap setia kepada Allah, dengan konsekuensi dibakar dalam perapian yang menyala-nyala.
Yang menarik bukan hanya bahwa mereka berani menolak perintah raja. Yang lebih dalam adalah alasan penolakan mereka. Mereka tidak berkata, “Kami akan taat karena kami yakin Tuhan pasti menyelamatkan kami.” Mereka berkata bahwa sekalipun Tuhan tidak menyelamatkan mereka, mereka tetap tidak akan menyembah patung itu.
Di sinilah kita menemukan hakikat iman yang sejati yaitu iman tidak menjadikan hasil sebagai dasar kesetiaan kepada Allah. Iman menjadikan Allah sendiri sebagai dasar kesetiaan.
Ada beberapa bagian yang bisa kita lihat bersama berkaitan dengan tema ini, oleh karena itu Mari kita melihatnya satu persatu.
I. IMAN TIDAK MENUKARKAN KETAATAN DENGAN KESELAMATAN DARI MASALAH
Nebukadnezar memanggil Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dan memberikan kesempatan terakhir kepada mereka. Ia berkata bahwa jika mereka tidak menyembah patung itu, mereka akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Bahkan ia menantang mereka dengan pertanyaan, “dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (Daniel 3:15).
Ini bukan sekadar ancaman. Ini adalah usaha untuk mengguncangkan iman mereka.
Nebukadnezar sedang memaksa mereka percaya bahwa kekuasaan manusia lebih besar daripada kekuasaan Allah. Ia ingin mereka melihat perapian sebagai kenyataan yang pasti, sementara Allah seolah-olah menjadi sesuatu yang belum pasti.
Namun jawaban mereka sangat tegas: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.” Mereka tidak bernegosiasi mengenai ketaatan. Mereka tidak mencari jalan tengah. Mereka tidak mencoba menyembah Allah sekaligus memberikan penghormatan kepada patung.
Mereka berkata, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Daniel 3:17–18).
Perhatikan kalimat “tetapi seandainya tidak.”
Di sinilah iman mereka menjadi sangat kuat. Mereka percaya Allah sanggup menyelamatkan. Tetapi mereka tidak menjadikan keselamatan dari perapian sebagai syarat untuk menaati Allah.
Mereka percaya pada kuasa Allah, tetapi mereka tidak menyembah Allah hanya karena kuasa-Nya dapat memberikan apa yang mereka inginkan.
Ini menjadi koreksi bagi iman yang hanya mau taat ketika Tuhan memberikan hasil yang sesuai dengan harapan. Kita mudah berkata, “Saya percaya Tuhan,” selama doa kita dijawab seperti yang kita minta. Tetapi ketika Tuhan tidak memberikan apa yang kita harapkan, iman kita mulai dipertanyakan.
Iman yang sejati berkata bahwa Tuhan tetap Allah meskipun keadaan tidak berubah. Tuhan tetap baik meskipun jalan yang diberikan-Nya tidak mudah. Tuhan tetap layak ditaati meskipun saya tidak memahami keputusan-Nya.
Kita tidak menaati Tuhan supaya Tuhan berutang kepada kita. Kita menaati-Nya karena Dia adalah Tuhan.
II. IMAN BERDIRI DI ATAS SIAPA ALLAH, BUKAN DI ATAS APA YANG KITA DAPATKAN DARI ALLAH
Ada sesuatu yang sangat penting dalam pengakuan ketiga pemuda ini. Mereka berkata bahwa Allah mereka sanggup melepaskan mereka. Artinya, mereka tidak meragukan kemampuan Allah.
Tetapi mereka juga berkata, “seandainya tidak.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa iman mereka tidak dibangun di atas tuntutan bahwa Allah harus bertindak sesuai dengan keinginan mereka.
Ini penting karena manusia sering kali secara tidak sadar menjadikan Allah sebagai alat untuk mencapai keinginannya. Kita berdoa agar Tuhan menyembuhkan, memberkati, membuka jalan, memberikan keberhasilan, melindungi keluarga, dan memenuhi kebutuhan kita. Semua itu boleh kita doakan. Tetapi persoalannya muncul ketika kita mulai berpikir bahwa jika Tuhan tidak melakukan semua itu, maka Tuhan tidak lagi baik atau tidak lagi layak dipercaya.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak berpikir demikian.
Mereka percaya bahwa Allah dapat menyelamatkan mereka. Tetapi jika Allah memilih untuk tidak menyelamatkan mereka dari api, mereka tetap tidak akan menyembah patung.
Dengan kata lain, kesetiaan mereka tidak bergantung pada hasil yang mereka terima.
Inilah iman yang berpusat kepada Allah. Kita tidak berkata, “Saya akan setia jika Tuhan membuat hidup saya berhasil.” Kita berkata, “Saya akan setia karena Tuhan adalah Allah, sekalipun saya harus berjalan melalui penderitaan.”
Kita perlu memahami bahwa iman Kristen bukan jaminan bahwa hidup kita akan selalu bebas dari penderitaan. Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan bahwa setiap orang percaya pasti memperoleh jalan yang mudah. Justru banyak orang percaya dalam sejarah gereja harus membayar harga yang mahal karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Karena itu, ukuran iman bukan selalu seberapa nyaman kehidupan kita, tetapi apakah kita tetap memegang Tuhan ketika kenyamanan itu diambil.
Ada orang yang tetap beribadah ketika hidupnya diberkati, tetapi meninggalkan Tuhan ketika penderitaan datang. Ada yang percaya ketika doanya dijawab, tetapi kecewa ketika Tuhan berkata tidak. Ada yang melayani ketika semuanya berjalan baik, tetapi mundur ketika pelayanan menuntut pengorbanan.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengajarkan sesuatu yang berbeda yaitu Allah bukan berharga hanya ketika Ia memberikan apa yang kita inginkan. Allah berharga karena Dia adalah Allah.
Dan karena itu, ketaatan tidak boleh menjadi transaksi.
III. IMAN TETAP BERDIRI TEGUH KETIKA HARGA KETAATAN MENJADI MAHAL
Setelah mendengar jawaban mereka, Nebukadnezar menjadi sangat marah. Perapian diperintahkan untuk dipanaskan tujuh kali lebih panas daripada biasanya. Mereka kemudian diikat dan dilemparkan ke dalam perapian.
Secara manusiawi, keputusan mereka terlihat tidak masuk akal.
Mereka sebenarnya dapat menyelamatkan diri dengan satu tindakan sederhana yaitu menyembah patung itu.
Tetapi bagi mereka, keselamatan fisik tidak lebih berharga daripada kesetiaan kepada Allah.
Di sinilah kita perlu melihat bahwa iman sejati bukan sekadar keyakinan yang ada di dalam pikiran. Iman menghasilkan ketaatan ketika ketaatan itu memiliki konsekuensi.
Mereka bukan hanya berkata bahwa Allah adalah Tuhan. Mereka mempertaruhkan kehidupan mereka karena mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan.
Namun kita tidak boleh berhenti pada keberanian ketiga pemuda ini seolah-olah mereka adalah pahlawan yang menyelamatkan diri mereka sendiri melalui kekuatan iman. Pusat kisah ini bukan keberanian manusia, melainkan kemuliaan Allah yang menyatakan diri-Nya berdaulat atas keadaan manusia.
Daniel 3 kemudian menunjukkan bahwa Allah benar-benar hadir dan menyelamatkan mereka dari perapian. Tetapi peristiwa itu tidak boleh membuat kita menyimpulkan bahwa setiap orang yang setia kepada Tuhan pasti diselamatkan dari penderitaan secara fisik.
Justru ayat 18 telah memberikan dasar yang lebih kuat yaitu “seandainya tidak.”
Mereka sudah menyerahkan hasil kepada Allah sebelum mengetahui hasilnya.
Itulah bentuk penyerahan yang sejati.
Kita boleh meminta kesembuhan, tetapi kita harus tetap percaya ketika Tuhan tidak memberikan kesembuhan seperti yang kita harapkan. Kita boleh meminta pertolongan, tetapi kita tetap harus percaya ketika pertolongan Tuhan datang melalui jalan yang tidak kita mengerti. Kita boleh meminta agar Tuhan membuka jalan, tetapi kita harus tetap mengakui kedaulatan-Nya ketika jalan itu tidak terbuka.
Sebab iman tidak berkata, “Tuhan harus melakukan apa yang saya inginkan.”
Iman berkata, “Tuhan, kehendak-Mulah yang jadi.”
Pada akhirnya, kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keberanian tiga orang muda. Kita melihat gambaran tentang iman yang tidak menjadikan keselamatan dari penderitaan sebagai syarat untuk tetap setia.
Dan di dalam Injil, kita melihat Kristus yang jauh lebih sempurna. Kristus tidak memilih jalan yang mudah. Ia taat kepada Bapa sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Ia tidak meninggalkan kehendak Bapa ketika penderitaan datang.
Karena itu, orang percaya tidak dipanggil untuk menciptakan keberanian dari dirinya sendiri. Kita dipanggil untuk memandang kepada Kristus, berpegang pada anugerah-Nya, dan berjalan dalam ketaatan kepada-Nya.
Kesetiaan kita bukan dasar keselamatan kita. Kristuslah dasar keselamatan kita. Tetapi orang yang telah diselamatkan oleh Kristus dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan kepada-Nya.
PENUTUP
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berdiri di hadapan perapian dengan satu keyakinan bahwa Allah sanggup menyelamatkan mereka. Tetapi mereka juga siap jika Allah memilih jalan yang berbeda.
Itulah iman yang matang. Bukan iman yang berkata, “Saya akan percaya jika Tuhan memberikan hasil yang saya inginkan,” tetapi iman yang berkata, “Saya tetap percaya karena Tuhan adalah Allah, apa pun hasil yang harus saya terima.”
Mungkin hari ini kita sedang berada di dalam “perapian” kita sendiri. Tekanan, kegagalan, kehilangan, penolakan, atau ketidakpastian mungkin membuat kita bertanya apakah Tuhan masih berkuasa.
Jawaban Daniel 3 adalah tetaplah berdiri.
Jangan menjual ketaatan demi kenyamanan. Jangan menukar kebenaran dengan penerimaan manusia. Jangan meninggalkan Tuhan hanya karena jalan yang diberikan-Nya tidak sesuai dengan harapan kita.
“Iman yang sejati tidak berkata bahwa Tuhan harus menyelamatkanku agar aku tetap percaya; iman berkata sekalipun aku tidak memahami jalan-Nya, aku tetap percaya karena Dia adalah Tuhan.”
Kiranya kita menjadi umat yang tidak hanya percaya ketika Tuhan memberi, tetapi tetap menyembah ketika Tuhan mengambil; tidak hanya setia ketika jalan mudah, tetapi tetap berdiri ketika ketaatan menjadi mahal; tidak menjadikan berkat sebagai dasar iman, tetapi menjadikan Allah sendiri sebagai harta yang terutama.
(29082026)(TUS)