Senin, 25 Mei 2026

Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Pertunjukan Kasih illahi

Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Pertunjukan Kasih illahi

PENGANTAR
Dunia menawarkan dua macam kesatuan. Di satu sisi, kesatuan menjadi keseragaman. Segala sesuatu harus sama. Perbedaan berarti perpindahan dan pertikaian. Di sisi lain, kesatuan tanpa pijakan. Semua perbedaan diabaikan. Tidak ada pedoman. Tidak ada kebenaran.

Kekristenan menyediakan kesatuan yang seimbang. Kesatuan memang tidak identik dengan keseragaman, namun tetap memerlukan kebenaran sebagai pijakan. Kasih memang menempati posisi sentral, tetapi kasih bukan musuh dari kebenaran. Keduanya seyogyanya berjalan beriringan.      

PEMAHAMAN 

Teks kita hari ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Yesus Kristus kepada Bapa sesaat sebelum Dia ditangkap dan disalibkan (bdk. 18:1-12). Dia tidak hanya memberikan teladan dan ajaran (pasal 13-16). Dia juga menyerahkan para pengikut-Nya ke dalam tangan Bapa. Dia mendoakan kesatuan untuk mereka.

Doa di atas bukan hanya untuk para pengikut awal, tetapi juga orang-orang Kristen generasi berikutnya (ayat 20b). Yesus Kristus mengetahui dari awal bahwa salib bukanlah akhir dari misi keselamatan. Sebaliknya, tatkala Dia ditinggikan dari bumi, Dia akan menarik banyak orang kepada-Nya (12:32). Orang banyak ini membutuhkan perlindungan dan kesatuan, sama seperti para pengikut yang mula-mula.

Kesatuan seperti apa yang dirindukan oleh Tuhan? Untuk apa kesatuan yang seperti itu?

 Karakteristik Kesatuan, Jika kita membaca seluruh doa Yesus Kristus di pasal 17 ini, kita akan menemukan dua ide kunci yang sering kita temukan, yaitu perlindungan dan kesatuan. Dalam dunia yang membenci kebenaran (17:14), para pengikut Tuhan sangat membutuhkan pemeliharaan dan penjagaan (17:11, 12, 15). Selain itu, mereka juga membutuhkan kesatuan. Frasa “supaya mereka menjadi satu” muncul berkali-kali (17:11, 21, 22, 23). Di antara dua ide ini – yaitu perlindungan dan kesatuan – yang terakhir terlihat lebih dominan.

Kesatuan tersebut memiliki beberapa karakteristik. Yang pertama dilandaskan pada kebenaran (ayat 20b) . Di ayat bagian ini orang-orang Kristen generasi berikutnya disebut sebagai orang-orang yang menerima pemberitaan ( logos ) para rasul. Kata logos sudah muncul sebelumnya dan Merujuk pada firman Allah sebagai kebenaran: “Firman-Mu adalah kebenaran” ( ho logos ho sos alÄ“theia estin , ayat 17b). Logos yang sama sudah diberikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya (17:14a). Ada kesinambungan ajaran dari Yesus Kristus kepada para rasul dan akhirnya pada orang Kristen di segala zaman. Dengan kata lain, kesatuan yang benar adalah kesatuan yang pada kebenaran.

Konsep ini diajarkan secara konsisten oleh para rasul. Gereja yang benar dibangun di atas dasar para nabi dan para rasul dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru (Ef. 2:20). Kesatuan yang dirindukan oleh Tuhan mencakup “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah” (Ef. 4:13). Inilah yang disebut dengan kesatuan doktrinal.

Karakteristik kesatuan Kristiani yang kedua adalah berpusat pada Allah (teosentris) . Bukan kebetulan kalau kata sambung “sama seperti” yang menggambarkan hubungan antara Bapa dan Kristus muncul berulang-ulang dalam bagian ini. Ayat 21 “sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau”. Ayat 22b “sama seperti Kita adalah satu”. Ayat 23 “sama seperti Engkau mencintai Aku”. Semua ini mengajarkan bahwa kesatuan Kristiani dimulai dari kesatuan kekal dalam diri Allah Tritunggal.

Poin ini seringkali dengan mudah dilupakan. Kesatuan dipandang semata-mata sebagai pencapaian manusia. Tentang apa yang kita lakukan. Dibatasi pada kegiatan-kegiatan. Jika ini terjadi, kesatuan yang tercipta hanya ada di permukaan belaka. Kesatuan semacam ini pasti tidak akan bertahan lama.

Karakteristik berikutnya adalah melibatkan keintiman . Semua frase “sama seperti” di atas secara jelas menunjukkan ide tentang keintiman. Ada kebersamaan (ayat 21, 23a). Ada kesatuan (ayat 22). Ada kasih (ayat 23b). Keintiman seperti itulah yang Allah inginkan dari komunitas orang percaya. Bukan sekedar kesatuan doktrinal yang abstrak dan kering (berdasarkan ajaran). Bukan pula sekadar kumpulan institusional (berdasarkan denominasi atau merk gereja).

Karakteristik yang melibatkan keintiman ini sayangnya semakin sulit ditemukan di banyak gereja sekarang. Banyak gereja justru berlomba menjadi gereja yang besar. Perkumpulan yang besar dianggap sebagai simbol kebersamaan yang besar.

Hal ini tentu saja tidak benar. Jumlah yang besar tidak akan berarti apa-apa tanpa keintiman yang mendalam. Gereja yang besar mempunyai tugas lebih besar untuk menyatukan seluruh jemaat ke dalam sebuah keintiman yang pribadi.

Yang terakhir, kesatuan yang sejati berpusat pada Kristus (Kristosentris) . Fokus pada poin ini sedikit berbeda dengan sebelumnya (teosentris). Poin ini lebih menyoroti apa yang dilakukan oleh Kristus.

Kesatuan Kristiani tidak mungkin direalisasikan tanpa Kristus. Kita bahkan seharusnya mengatakan bahwa kesatuan ini merupakan karya Kristus. Dia yang berdoa untuk kesatuan ini (17:20). Dia yang menunjukkan kemuliaan (17:22a). Terlepas dari bagaimana kita menafsirkan kemuliaan di sini, tujuannya tetap jelas yaitu “supaya mereka menjadi satu”. Dia juga yang berkenan berdiam di dalam kita untuk menyempurnakan kesatuan kita (17:23 “Aku di dalam mereka….supaya mereka sempurna menjadi satu”).

Kebenaran ini sangat menguatkan. Kita seringkali pesimis dengan pencapaian kesatuan. Ada begitu banyak persoalan yang membuat kesatuan-olah olah sangat sukar untuk diwujudkan. Melalui poin ini kita diingatkan bahwa kesatuan lebih merupakan karya Kristus daripada usaha kita. Setiap doa-Nya pasti dikabulkan oleh Bapa (11:41-42). Dia juga sudah berdiam di dalam diri orang percaya melalui Roh Kebenaran (14:16-17; 20:22).

 Tujuan Kesatuan, Kesatuan seringkali dipahami secara internal. Tentang apa yang ada di dalam gereja. Tentang apa yang dilakukan oleh dan di dalam komunitas orang percaya. Hanya tentang sesama orang percaya. Tidak ada tujuan yang bersifat eksternal.

Situasi ini sangat mengerikan. Kesatuan bukan hanya keadaan yang dinikmati oleh orang-orang percaya. Titik akhir kesatuan bukan terletak di gereja, tetapi di dunia. Kesatuan yang benar-benar bersifat misial. Artinya, kesatuan merupakan salah satu bentuk bukti bagi dunia. Frasa “supaya dunia percaya” (ayat 21) dan “supaya dunia tahu” (ayat 23) menunjukkan tujuan ultimat dari kesatuan tersebut. Kehidupan di antara orang percaya seharusnya menjadi sebuah panggung pertunjukan untuk kasih ilahi yang besar yang dinyatakan oleh Allah Tritunggal.

Jika komunitas orang percaya hidup dalam kebenaran dan keintiman yang memancarkan karya penebusan Allah Tritunggal, dunia akan dituntun untuk mengenal Allah yang benar. Dunia akan tahu bahwa mereka adalah benar-benar pengikut Yesus Kristus (13:34-35). Kecuali gereja benar-benar hidup dalam kesatuan, bagaimana mereka bisa memberikan kesaksian yang otentik tentang keselamatan yang dikerjakan oleh Allah Tritunggal? Pertikaian jelas menghancurkan bukti-bukti. Perselisihan pengenalan pengenalan kepada Allah Tritunggal.

Gereja mula-mula berhasil menghidupi kebenaran ini (Kis. 2:42-47). Mereka hidup di dalam kesatuan yang benar. Mereka bertekun dalam mengajar rasul-rasul. Mereka selalu mengingat karya penebusan Kristus (“memecahkan roti”). Kesatuan diwujudkan dalam hal saling bersekutu dan membantu. Tidak mengherankan, banyak orang tertarik dengan gaya hidup mereka, dan melalui hal itu Tuhan membawa mereka pada pertobatan (ayat 47). Kesatuan yang benar merupakan bukti yang sulit terbantahkan.

Bagaimana dengan gereja Anda? Bagaimana pula dengan Anda sebagai gereja? Sudahkah Anda dan gereja Anda menjadi bukti bagi dunia? Sudahkah kesatuan yang ada didasarkan pada kebenaran, berpusat pada Allah, diwarnai dengan keintiman dan berpusat pada Kristus? Soli Deo Gloria.

Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Persatuan dalam perbedaan

Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Persatuan dalam perbedaan 

### **Analisis Kritis Akademik (Bahasa Yunani Koine dan Teologi Trinitas)**

Dalam teks Yunani Koine, kata kunci yang menonjol adalah **ἓν (hen)** yang berarti “satu”. Bentuk netral tunggal ini menunjukkan kesatuan dalam esensi, bukan keseragaman pribadi. Yesus menggunakan istilah ini untuk menggambarkan relasi antara diri-Nya dan Bapa — bukan sekadar kesatuan tujuan, tetapi kesatuan keberadaan (*ontological unity*).  

Frasa **καθὼς σύ, Πάτερ, ἐν ἐμοὶ κἀγὼ ἐν σοί** (“seperti Engkau, Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau”) menegaskan konsep *perichōrēsis* — saling berdiamnya pribadi-pribadi ilahi dalam Trinitas. Dalam konteks linguistik, preposisi **ἐν (en)** di sini tidak hanya menunjukkan lokasi, tetapi juga partisipasi dan persekutuan yang mendalam.  

Yesus kemudian memperluas konsep ini kepada para murid dan semua orang percaya: **ἵνα καὶ αὐτοὶ ἐν ἡμῖν ὦσιν** (“supaya mereka juga di dalam Kita”). Secara teologis, ini menunjukkan bahwa kesatuan umat percaya berakar pada kesatuan ilahi antara Bapa dan Anak. Dalam apologetika, hal ini menjadi dasar untuk menjelaskan bahwa iman Kristen bukan sekadar sistem moral, tetapi partisipasi dalam kehidupan Allah yang Trinitaris.  

---

### **Keterkaitan dengan Konsep Trinitas dan Apologetika**

Trinitas dalam teks ini tidak dijelaskan secara sistematis, tetapi tersirat melalui relasi Bapa dan Anak yang saling berdiam dan saling memuliakan. Kesatuan ini bukan hasil keseragaman, melainkan kasih yang sempurna. Dalam apologetika, hal ini menjawab tuduhan bahwa Trinitas adalah bentuk politeisme: kesatuan Allah bersifat relasional, bukan numerik.  

Kesatuan yang diminta Yesus bagi para murid adalah refleksi dari kesatuan ilahi itu sendiri. Dengan demikian, Allah yang Trinitaris adalah **Allah pemersatu dalam perbedaan** — Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh, tetapi ketiganya satu dalam hakikat dan kasih.  

---

### **Nilai Teologis dan Moral**

Yohanes 17:20–23 mengajarkan bahwa kesatuan sejati hanya mungkin jika berakar dalam kasih Allah yang tidak terbatas. Allah yang Trinitaris menjadi teladan bagi manusia untuk hidup dalam perbedaan tanpa perpecahan. Dalam dunia yang penuh fragmentasi, doa Yesus ini mengundang umat percaya untuk menjadi saksi kasih yang mempersatukan, sebagaimana Allah sendiri adalah kasih yang menyatukan segala sesuatu di dalam diri-Nya.

Sudut Pandang Matius 28:16-20 konsep Trinitas dari sudut pandang bahasa

Sudut Pandang Matius 28:16-20 konsep Trinitas dari sudut pandang bahasa 

PENGANTAR
 Salah satu istilah sentral adalah **θεός (theos)** untuk “Allah”, **κύριος (kyrios)** untuk “Tuhan”, dan **πνεῦμα (pneuma)** untuk “Roh”. Ketiganya muncul dalam konteks yang berbeda namun saling berkaitan, membentuk dasar linguistik bagi pemahaman teologis tentang Trinitas.  

Dalam **Matius 28:19**, frasa “βαπτίζοντες αὐτοὺς εἰς τὸ ὄνομα τοῦ Πατρὸς καὶ τοῦ Υἱοῦ καὶ τοῦ Ἁγίου Πνεύματος” (“membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”) menunjukkan penggunaan tunggal dari kata *ὄνομα* (onoma), bukan jamak. Secara linguistik, hal ini menegaskan kesatuan esensi (*ousia*) dalam tiga pribadi (*hypostaseis*). Bahasa Yunani Koine di sini menegaskan bahwa kesatuan Allah tidak berarti keseragaman, melainkan kesatuan dalam relasi dan keberadaan.  

Dalam konteks **Apologetika**, pemahaman ini menjadi dasar untuk menjawab tuduhan politeisme terhadap iman Kristen. Trinitas bukan tiga Allah, melainkan satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga pribadi yang berbeda namun tidak terpisah. Analisis semantik terhadap kata *μονογενής (monogenēs)* dalam **Yohanes 1:14,18** juga penting. Kata ini tidak sekadar berarti “dilahirkan satu-satunya”, tetapi “unik dalam keberadaan”, menegaskan keilahian Kristus yang sehakikat dengan Bapa.  

Dari perspektif filsafat bahasa, Yunani Koine memungkinkan ekspresi relasional yang kaya. Konsep *περιχώρησις (perichōrēsis)* — saling berdiamnya Bapa, Anak, dan Roh Kudus — menggambarkan dinamika kasih dan kesatuan yang tidak terbatas. Dalam apologetika modern, hal ini menjadi dasar untuk memahami Allah sebagai pemersatu di tengah perbedaan, bukan entitas yang terpecah.  

Dengan demikian, Allah dalam Trinitas adalah Allah yang **tidak terbatas**, yang melampaui kategori logika manusia, namun menyatakan diri dalam relasi kasih yang sempurna. Kesatuan dalam perbedaan ini menjadi model bagi kehidupan manusia yang dipanggil untuk hidup dalam kasih, saling menghargai, dan bersatu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Sudut Pandang Matius 28:16-20, satu nama tiga pribadi

Sudut Pandang Matius 28:16-20, satu nama tiga pribadi 

PENGANTAR 
Perikop ini dikenal sebagai Amanat Agung (saya lebih setuju, amanat agung itu hukum kasih) dan berfungsi sebagai klimaks teologis Injil Matius. Secara struktur, teks ini membentuk pola literer yang simetris: Ayat 16–17: Penampakan Yesus dan respons murid (penyembahan dan keraguan).  Ayat 18–20: Amanat dan janji Yesus (otoritas, misi, penyertaan).  
Gaya bahasanya bersifat deklaratif dan imperatif, menandakan otoritas ilahi. Frasa “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa” (ἐδόθη μοι πᾶσα ἐξουσία) menegaskan posisi Yesus sebagai penguasa kosmis, yang menjadi dasar teologis bagi perintah misioner berikutnya.
PEMAHAMAN 
Bahasa Yunani Koine yang digunakan menampilkan beberapa ciri penting:
“ἐν τῷ ὀνόματι” (en tō onomati) “dalam nama” menggunakan bentuk tunggal, bukan jamak. Ini menegaskan kesatuan hakikat Allah meskipun tiga pribadi disebut: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.  “μαθητεύσατε πάντα τὰ ἔθνη” (mathēteusate panta ta ethnē) “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” menunjukkan universalitas misi, melampaui batas etnis Yahudi, melewati perbedaan.  
“ἐγὼ μεθ’ ὑμῶν εἰμι” (egō meth’ hymōn eimi) “Aku menyertai kamu” memakai bentuk kehadiran terus-menerus (present continuous), menandakan kehadiran ilahi yang abadi.
Bahasa ini memperlihatkan keseimbangan antara otoritas (kuasa) dan relasi (penyertaan), dua aspek yang menjadi dasar pemahaman Trinitas. Dalam tradisi gereja mula-mula, ayat 19 menjadi dasar liturgi baptisan. Formula “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” muncul sebagai pengakuan iman terhadap Allah Tritunggal.  Tradisi ini berkembang dari pengalaman komunitas pasca-Paskah yang menyadari bahwa karya keselamatan Allah tidak dapat dipisahkan antara Bapa (Pencipta), Anak (Penebus), dan Roh Kudus (Pengudus).  Secara apologetis, teks ini menjadi argumen kuat melawan pandangan yang menolak keilahian Kristus atau kepribadian Roh Kudus. Penggunaan satu “nama” untuk tiga pribadi menunjukkan kesatuan esensial Allah, bukan tiga ilah yang terpisah. Dalam konteks apologetika modern, Matius 28:19 menjadi dasar pembelaan iman terhadap tuduhan politeisme.  Monoteisme Trinitaris: Allah tetap satu, tetapi dinyatakan dalam tiga pribadi yang saling berelasi.  Kesatuan dalam misi: Bapa mengutus, Anak melaksanakan, Roh Kudus menyertai — menunjukkan harmoni ilahi yang menjadi model bagi kesatuan gereja.  Relevansi kontemporer:Dalam dunia yang skeptis terhadap otoritas rohani, ayat 18–20 menegaskan bahwa otoritas Yesus bersifat universal dan kekal, bukan terbatas pada konteks sejarah. Konsep Trinitas dalam teks ini bukan sekadar doktrin, tetapi pola hidup rohani:
- Bapa mengasihi dan memanggil,  
- Anak menebus dan mengutus,  
- Roh Kudus menuntun dan menyertai.  
Dalam kehidupan masa kini, pemahaman ini meneguhkan bahwa Allah hadir dalam setiap dimensi kehidupan manusia spiritual, sosial, dan moral serta perbedaan.  Kesatuan Trinitas menjadi teladan bagi kesatuan umat manusia: hidup dalam kasih, saling melayani, dan setia pada misi kebenaran.  Secara sastra dan bahasa, Matius 28:16–20 menampilkan puncak pewahyuan Allah dalam bentuk Trinitas yang dinamis. Secara apologetis, teks ini menegaskan keilahian Kristus dan kesatuan Allah yang bekerja dalam sejarah keselamatan. Dalam konteks kini, pesan ini mengajak umat untuk hidup dalam kesatuan kasih dan misi, mencerminkan Allah yang satu dalam tiga pribadi yang kekal. Yunani Koine (Matius 28:20a): διδάσκοντες αὐτοὺς τηρεῖν πάντα ὅσα ἐνετειλάμην ὑμῖν·  ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. διδάσκοντες (didaskontes), Bentuk: Partisipel presens aktif maskulin jamak nominatif dari διδάσκω (“mengajar”). Fungsi: Menunjukkan tindakan yang berlangsung terus-menerus, bukan satu kali. Dalam konteks ini, pemuridan bukan sekadar memberi informasi, tetapi proses pembentukan karakter dan ketaatan yang berkelanjutan.  Secara sintaksis, partisipel ini menjelaskan cara melaksanakan perintah utama μαθητεύσατε (“jadikanlah murid”), yaitu dengan mengajar αὐτοὺς τηρεῖν (autous tērein), αὐτοὺς = mereka (objek langsung).  τηρεῖν = infinitif presens aktif dari τηρέω (“memelihara”, “menuruti”, “menjaga”). Menunjukkan bahwa tujuan pengajaran bukan hanya pengetahuan, tetapi ketaatan praktis. Dalam konteks pemuridan, ini menekankan dimensi etis dan relasional: murid diajar untuk hidup sesuai ajaran Kristus, bukan sekadar memahami doktrin. πάντα ὅσα ἐνετειλάμην ὑμῖν (panta hosa eneteilamēn hymin)  πάντα ὅσα = segala sesuatu yang” (ungkapan totalitas).  ἐνετειλάμην = aoristus medium dari ἐντέλλομαι (“memerintahkan”).  ὑμῖν = “kepadamu”.  Frasa ini menegaskan otoritas Yesus sebagai sumber ajaran, sumber keteladanan. Bentuk aoristus menunjukkan tindakan yang telah selesai — Yesus telah memberikan seluruh perintah yang menjadi dasar kehidupan murid, yaitu teladanNya dan hikmat pengajaran nya.  Pemuridan sebagai proses hidup: Bentuk *didaskontes* (mengajar terus-menerus) menunjukkan bahwa pemuridan bukan kegiatan sesaat, melainkan perjalanan panjang dalam pembentukan iman dan karakter.  Murid tidak hanya “tahu” ajaran Yesus, tetapi “menuruti” (tērein) dalam kehidupan nyata. Pemuridan berpusat pada ketaatan: Fokusnya bukan pada transfer pengetahuan, melainkan transformasi hidup. Pemuridan sejati terjadi ketika ajaran Yesus dihidupi dalam tindakan kasih, pengampunan, dan pelayanan, sepanjang hidup. Pemuridan bersumber dari otoritas Kristus, Karena Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ay. 18), maka mandat mengajar dan membaptis dilakukan dalam otoritas ilahi, bukan otoritas manusia.nMandat Universal:  
   Frasa ini merupakan bagian dari Amanat Agung mandat global untuk menjadikan semua bangsa murid. Pengajaran menjadi sarana utama untuk memperluas kerajaan Allah melalui transformasi hidup, melalui keteladanan Kristus bukan kristenisasi, menjadi surat terbuka Kristus bagi sesama. Pemuridan terjadi dalam relasi antara guru dan murid, antara Kristus dan pengikut-Nya. Dalam konteks modern, ini berarti gereja dipanggil untuk membangun komunitas yang saling menumbuhkan iman, bukan sekadar lembaga pengajaran. Mandat yang Berkelanjutan: Bentuk presens dalam didaskontes dan tērein menandakan kesinambungan. Amanat ini tidak berhenti pada generasi pertama murid, tetapi terus berlangsung sampai “akhir zaman” (ay. 20b). Kalimat Yunani ini menegaskan bahwa inti pemuridan adalah ketaatan yang lahir dari pengajaran yang hidup. Yesus tidak hanya memerintahkan untuk mengajar, tetapi untuk membentuk murid yang menjaga dan menghidupi firman-Nya.  
Dalam konteks masa kini, mandat ini mengingatkan bahwa iman Kristen bukan sekadar pengetahuan teologis, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih, ketaatan, dan kesetiaan kepada Kristus Sang Guru yang menyertai sampai akhir zaman.
(25052026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 28:16–20 (TB), Yohanes 17:20–23 (TB), Allah pemersatu adalah Allah yang tak terbatas

Sudut Pandang Matius 28:16–20 (TB), Yohanes 17:20–23 (TB), Allah pemersatu adalah Allah yang tak terbatas 

PENGANTAR 
Matius 28:16–20 dikenal sebagai Amanat Agung, ditulis dalam bahasa Yunani Koine dengan gaya naratif yang menutup Injil Matius, saya lebih setuju amanat agung itu adalah hukum kasih. Frasa “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” menunjukkan formula trinitaris awal, menandakan pemahaman Allah yang bekerja dalam kesatuan relasional. Yohanes 17:20–23 merupakan bagian dari Doa Yesus bagi murid-murid-Nya, ditulis dengan gaya doa meditatif khas Yohanes. Kata “ἕν” (*hen*, “satu”) menekankan kesatuan ontologis dan relasional antara Bapa, Anak, dan para percaya.
PEMAHAMAN 
Dalam konteks Matius, Yesus yang bangkit menegaskan otoritas universal-Nya (“segala kuasa di sorga dan di bumi”), menandakan Allah yang tak terbatas dalam ruang dan waktu. Amanat ini memperluas misi dari Israel ke seluruh bangsa, menegaskan Allah sebagai pemersatu umat manusia.  Dalam Yohanes, konteksnya adalah doa Yesus menjelang penyaliban. Fokusnya bukan pada misi keluar, tetapi pada kesatuan batiniah antara Allah dan umat percaya. Kesatuan ini bersumber dari kasih ilahi yang tak terbatas. Allah Pemersatu : Kedua teks menampilkan Allah yang mengikat manusia dalam relasi kasih dan misi. Dalam Matius, kesatuan diwujudkan melalui misi dan baptisan dalam nama Tritunggal; dalam Yohanes, kesatuan diwujudkan dalam persekutuan kasih antara Bapa, Anak, dan umat percaya.  Allah Tak Terbatas : Dalam Matius, kehadiran Yesus “sampai kepada akhir zaman” menandakan kehadiran ilahi yang melampaui waktu. Dalam Yohanes, kesatuan Bapa dan Anak menunjukkan realitas ilahi yang melampaui batas ruang dan eksistensi manusia. Kedua teks memperlihatkan bahwa kesatuan umat Allah bukan sekadar keseragaman, melainkan partisipasi dalam kasih dan kuasa Allah yang tak terbatas. Allah yang mempersatukan adalah Allah yang melampaui batas manusia, namun hadir secara imanen dalam relasi kasih dan misi dunia. Kedua bagian ini mengajarkan bahwa kesatuan sejati hanya dapat terwujud bila manusia hidup dalam kasih dan ketaatan kepada Allah. Allah yang tak terbatas memanggil umat-Nya untuk menjadi saksi kasih yang menyatukan, bukan memecah. Kesetiaan kepada misi dan kasih menjadi wujud nyata dari kehadiran Allah pemersatu di dunia. Dalam konteks kehidupan saat ini, dunia sedang berada dalam masa yang penuh dinamika kemajuan teknologi yang pesat, perubahan sosial yang cepat, dan tantangan moral yang semakin kompleks. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, manusia sering kali merasa kehilangan arah, terpisah dari sesama, bahkan dari dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, refleksi iman terhadap kesatuan Allah menjadi sangat penting.  Allah Pemersatu di Tengah Dunia yang Terpecah, Kita hidup di zaman di mana perbedaan pandangan, ideologi, dan kepentingan sering menimbulkan jarak antar manusia. Namun, Allah yang pemersatu mengingatkan bahwa kasih dan kebenaran-Nya melampaui batas-batas itu. Seperti dalam Yohanes 17:21, Yesus berdoa agar semua orang percaya menjadi satu, sebagaimana Ia dan Bapa adalah satu. Ini berarti kesatuan bukan sekadar keseragaman, melainkan kesatuan dalam kasih, tujuan, dan iman, dalam perbedaan malah.  Dalam kehidupan kini, kesatuan itu dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai, mendengarkan, dan bekerja sama lintas perbedaan. Allah memanggil kita untuk menjadi pembawa damai dan jembatan kasih di tengah dunia yang mudah terpecah oleh ego dan kepentingan pribadi. Matius 28:18–20 menegaskan bahwa Yesus memiliki kuasa di sorga dan di bumi, dan Ia menyertai kita sampai akhir zaman. Dalam konteks modern, ini berarti kehadiran Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, atau teknologi. Di tengah dunia digital, di mana manusia sering mencari makna dalam hal-hal instan, Allah tetap hadir dalam keheningan doa, dalam relasi yang tulus, dan dalam tindakan kasih yang nyata. Kesadaran akan Allah yang tak terbatas menolong kita untuk tidak terjebak dalam batasan duniawi. Ia hadir dalam setiap aspek kehidupan: pekerjaan, keluarga, pelayanan, bahkan dalam pergumulan batin yang terdalam. Refleksi iman di masa kini menuntun kita untuk bertanya:  
- Apakah hidup kita mencerminkan kasih Allah yang menyatukan?  
- Apakah kita menjadi saluran damai di tengah perbedaan?  
- Apakah kita masih percaya bahwa Allah bekerja melampaui batas kemampuan dan logika manusia?  Kesetiaan dalam kasih: tetap mengasihi meski berbeda.  Keterbukaan terhadap karya Allah: menyadari bahwa Allah bekerja dalam cara yang tak terduga.  Kehadiran yang membawa damai: menjadi saksi kasih Allah di dunia yang haus akan pengharapan.  Kesatuan Allah bukan hanya konsep teologis, tetapi realitas yang harus dihidupi. Dalam dunia yang terus berubah, iman kepada Allah yang pemersatu dan tak terbatas meneguhkan kita untuk tetap berjalan dalam kasih, kebenaran, dan pengharapan.  Dengan demikian, setiap langkah hidup kita menjadi bagian dari doa Yesus: “supaya mereka semua menjadi satu”  kesatuan yang lahir dari kasih Allah yang hidup dan bekerja di tengah dunia saat ini. Konsep Trinitas, Allah .... Bapa, Anak, dan Roh Kudus  merupakan inti dari iman Kristen yang menegaskan bahwa Allah adalah satu dalam hakikat, namun hadir dalam tiga pribadi yang berbeda. Dua bagian Alkitab, yaitu Matius 28:16–20 dan Yohanes 17:20–23, memberikan dasar teologis yang kuat untuk memahami kesatuan dan relasi kasih dalam Trinitas, serta relevansinya dalam kehidupan masa kini. Trinitas dalam Matius 28:16–20
Dalam ayat Matius 28:19, Yesus memerintahkan, “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”  
Ungkapan ini menunjukkan kesatuan ilahi yang tidak terpisahkan. Tiga pribadi disebut dalam satu “nama” (bentuk tunggal), menandakan bahwa Allah bekerja secara harmonis dalam karya keselamatan.  

- Bapa mengutus,  
- Anak menebus,  
- Roh Kudus menyertai dan memampukan.  

Dalam konteks kini, Trinitas mengajarkan bahwa kehidupan manusia juga dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih dan kerja sama. Seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling berelasi dalam kasih, demikian pula manusia dipanggil untuk membangun relasi yang saling menghargai dan melayani. Trinitas dalam Yohanes 17:20–23. Yesus berdoa agar para murid “menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.”
Doa ini menggambarkan kesatuan relasional antara Bapa dan Anak, yang menjadi model bagi kesatuan umat percaya. Kesatuan ini bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam kasih dan tujuan.  Dalam konteks modern, doa ini menantang umat untuk hidup dalam kesatuan spiritual dan sosial walau berbeda, di tengah dunia yang sering terpecah oleh perbedaan. Kesatuan yang sejati hanya mungkin bila manusia meneladani kasih Trinitas kasih yang memberi diri, bukan menuntut. Dalam relasi sosial:Trinitas mengajarkan bahwa hidup manusia tidak bisa berdiri sendiri. Seperti Allah hidup dalam persekutuan kasih, manusia pun dipanggil untuk membangun komunitas yang saling menopang. Dalam pelayanan dan pekerjaan: Setiap tindakan kasih, pengampunan, dan pengorbanan mencerminkan karya Trinitas yang hidup di dalam diri orang percaya. Dalam spiritualitas pribadi: Trinitas meneguhkan bahwa Allah hadir dalam setiap dimensi hidup. Bapa yang memelihara, Anak yang menebus, dan Roh Kudus yang menuntun. Konsep Trinitas mengajarkan bahwa kesatuan sejati lahir dari kasih yang memberi diri. Dalam dunia yang penuh perpecahan, umat percaya dipanggil untuk menjadi cerminan kasih Allah yang menyatukan.  Allah yang Trinitaris bukan Allah yang jauh, tetapi Allah yang hadir, bekerja, dan mengasihi dalam setiap aspek kehidupan manusia.  Dengan demikian, Trinitas bukan hanya doktrin, melainkan pola hidup, hidup dalam kasih, kesatuan, dan pelayanan, sebagaimana Allah sendiri hidup dalam kasih yang kekal, persatuan tanpa batas.
(25052026)(TUS)

Sudut Pandang Yohanes 16:12-15, Sang Anak

Sudut Pandang  Yohanes 16:12-15, Sang Anak

PENGANTAR
Filioque

نعمة لكم وسلام من الله ابينا والرب يسوع المسيح

Minggu 31052026, Minggu ini adalah Minggu pertama setelah Pentakosta. Minggu ini juga dikenal sebagai Minggu Trinitas. Mari melihat Yohanes 16:12-15.
PEMAHAMAN 
Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Akan tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari-Ku . Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari-Ku."

Sehubungan Minggu ini diperingati sebagai Minggu Trinitas saya hendak menyampaikan apa yang saya pahami mengenai “Trinitas”. Saya sendiri tidak mau menggunakan istilah “Trinitas” dalam menghayati tauhid Kristen. Yesus juga menyatakan bahwa Allah itu Esa. Jika demikian, bagaimana saya memahami Yesus Kristus dan Roh Kudus seperti dalam bacaan Injil Yohanes di atas.

Allah yang disapa oleh orang Kristen sebagai Bapa diimani memiliki wujud yang disebut dengan Zat Al-wujud yang qadim (kekal). Allah diimani memiliki kehidupan atau memiliki Roh (Ruh Al-Haqq atau Ruhil Qudusi atau Ruach atau Pneuma). Jika tidak maka itu bukan Allah melainkan berhala yang mati. Allah juga memiliki Firman (Al-Kalam atau Logos). Dengan Firman-Nya Allah menciptakan segala sesuatu.

Yesus Kristus diimani Firman yang keluar dari Zat dan nuzul menjadi Manusia (Yoh. 1:14). Kristus diimani sebagai Firman Allah atau dengan metafor Anak Allah. Demikian juga Roh Kebenaran atau Roh Kudus keluar dari Zat. Hanya ada satu sumber: Allah, yang disapa dengan Bapa, Zat Al-wujud.

Persoalan muncul ketika terjadi serangan Arianisme. Gereja kemudian panik dan mengajarkan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Dimula dari Agustinus (354 – 430) sampai akhirnya masuk resmi dalam Syahadat Nicea Konstantinopel pada Konsili Lyon II (1274). Persoalan ini tanpa disadari membawa akibat mencederai tauhid Kristen.

Pada 1981 (dalam perayaan 1.600 tahun Konsili Konstantinopel) Paus Yohanes Paulus II memberi izin menghapus frase “dan Putra” (filioque) dari Syahadat Latin itu, karena dalam Syahadat Grika memang tidak ada “dan Putra” (lih. IMAN KATOLIK, KWI, 1997, h. 319). Meski demikian Syahadat Nicea Konstantinopel yang diucapkan pada hari khusus (misal Hari Paska) di Gereja-gereja Protestan masih menyebut “filioque” ini. 

Dalam hal dogma kalangan Protestan masih sebatas mengagumi terobosan-terobosan yang dilakukan oleh Paus, namun enggan menerima dan melakukannya dalam rangka semangat ekumenis.

Quote of the day:
“A man who carries a cat by the tail learns something he can learn in no other way.” Mark Twain 

يباركك الرب ويحرسك. 
 يضيء الرب بوجهه عليك ويرحمك. 
 يرفع الرب وجهه عليك ويمنحك سلاما.
 (16 Juni 2019)(TUS)

Minggu, 24 Mei 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 28:16-20 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], Minggu Trinitas, 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖!

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 28:16-20 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], Minggu Trinitas, 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖!

PENGANTAR 
Kidung Jemaat no. 2
Suci, suci, suci Tuhan Maha kuasa! 
Dikau kami puji di pagi yang teduh.
Suci, suci, suci, murah, dan perkasa, 
Allah Tritunggal, 𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴 nama-Mu!

Itu bukti otentik nama Allah Tritunggal adalah Agung.

Minggu 31 Mei 2026, Minggu lalu umat Kristen merayakan Pentakosta. Hari raya Pentakosta Yahudi pertama sesudah kematian dan kebangkitan Yesus secara tradisi menjadi hari lahir Gereja. Pentakosta, yang sebelumnya merupakan festival atau pesta syukur panen masyarakat Yahudi, oleh Gereja diberi muatan pencurahan Roh Kudus.
Pada waktu itu umat Kristen masih dari bangsa Yahudi. Perbedaannya mereka percaya bahwa Yesus adalah Kristus atau Mesias. Kristen dan Yahudi masih hidup rukun. Kerukunan mula terusik dan berubah dahsyat ketika bangsa Yahudi memberontak terhadap Pemerintah Roma pada sekitar tahun 66 ZB. Umat Kristen cinta bangsa dan budaya Yahudi, tetapi mereka memegang teguh ajaran Yesus untuk mengamalkan kasih. Mereka tidak mau ikut angkat senjata seperti kaum Zelot.
Pada tahun 70 ZB Jenderal Titus (bukan aku loh ... Wk .... Wk)  menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. 
PEMAHAMAN 
Umat Kristen kebingungan karena mereka tidak sepaham dengan orang Yahudi pada pihak satu, tetapi mereka berakar kuat dalam Yudaisme pada pihak lain. Mereka menjadi kelompok asing di lingkungan mereka sendiri, mereka dianggap sesat oleh Yudaisme, dianggap sempalan atau dianggap sekte oleh Yudaisme (makanya, jangan suka menganggap orang lain sesat, sekte atau bidah,wong kita sendiri dianggap sebagai sesat, sekte atau bidah nya Yudaisme ... Wk .... Wk). Dalam pada itu banyak orang kafir menerima Kristus. Mereka berbeda dari orang-orang Yahudi dan mereka tidak mau menerima gaya hidup Yudaisme karena mereka dari budaya Grika. Umat Kristen dari kalangan Yahudi seperti kehilangan jatidiri. Dalam krisis inilah penulis Injil Matius hendak mengatasinya. Banting stir! Pengarang Injil Matius membimbing Jemaatnya bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pada mulanya Injil diwartakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi ditolak, kemudian Injil diberitakan kepada bangsa lain. Mereka justru menerima. Hal ini dapat dilihat dari pembukaan Injil Matius yang orang-orang Majus datang menyembah Yesus, sedang Raja Herodes malah hendak membunuh Yesus.
Jemaat Matius tampaknya Gereja yang sudah cukup mapan dalam arti mereka sudah terorganisasi cukup rapi dengan liturgi yang teratur. Sebagai contoh Jemaat Matius sudah menggunakan formula baptisan 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 (Mat. 28:19). Bandingkan dengan Jemaat Lukas (Kis. 2:38; 10:48) dan Jemaat bentukan Rasul Paulus di Korintus (1Kor. 6:11) yang masih dibaptis dengan formula 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴.
Jemaat Matius sudah diorganisasi oleh para pemimpin. Para pemimpin itu bertindak dengan wibawa Tuhan. Namun, tidak semua pemimpin itu terandalkan. Di antara mereka ada yang menjadi 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢. Sasaran pembaca Injil Matius adalah warga Jemaat Matius yang sudah cukup tua, berumur 40-an, karena merekalah sumber konflik.

Hari ini adalah Minggu pertama sesudah Pentakosta, Minggu Trinitas tahun A. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 28:16-20 yang didahului dengan Kejadian 1:1-2:4a, Mazmur 8, dan 2Korintus 13:11-13.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥. Konteks terdekat Matius 28:16-20 adalah pasal 26 -28 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯. Keseluruhan pasal itu berbentuk narasi.
Sebelum masuk ke pembahasan bacaan, baiklah kita meninjau sekilas kisah yang mendahului perikop Minggu ini. Dua perempuan, Maria Magdalena dan Maria yang lain, pergi untuk menengok kubur Yesus. Mereka mengalami gempa dahsyat dan melihat malaikat Tuhan menggulingkan batu besar penutup kubur Yesus. Mereka kemudian masuk ke kubur (berbentuk goa), tetapi tidak ada jenazah Yesus. Di dalam kubur malaikat Tuhan berkata kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘐𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢; 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (Mat. 28:5-7).
Dua perempuan itu segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (Mat. 28:8). Tiba-tiba Yesus-Paska menjumpai mereka dan berkata, “𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Kata Yesus kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶.” (Mat. 28:9-10).
Bacaan Injil Minggu ini mengisahkan 11 murid Yesus (tentu tanpa Yudas Iskariot) berangkat ke Galilea atas perintah Yesus lewat dua perempuan di atas untuk menjumpai Yesus. Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu (Mat. 28:16-17). Mengapa ragu-ragu? Ada dua tafsir.

Pertama. Ada tafsir yang menyebut tubuh kebangkitan Yesus sama sekaligus berbeda dari tubuh Yesus sebelum kematian seperti dalam kisah penampakan Yesus di Injil Lukas dan Yohanes. Di sana para murid tidak langsung mengenali Yesus. Bahasa Jawanya 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨. Namun, kalau kita melihat perjumpaan pertama Yesus dengan Maria Magdalena dan Maria yang lain, kedua perempuan ini tidak 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨 kepada Yesus (Mat. 28:9-10). Jadi, murid-murid yang ragu-ragu tampaknya bukan karena 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨.

Kedua. Mari kita telisik perkataan Yesus sebelumnya kepada dua perempuan itu “… 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙆𝙪 …” (ay. 10). Di sana Yesus tidak menyebut 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶, melainkan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. 
Dalam Injil Matius tampaknya perubahan sebutan dari 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶 menjadi 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 adalah bentuk pengampunan. Para murid merasa gagal dan takut mendampingi Yesus dalam masa sengsara-Nya. Untuk membangkitkan percaya diri para murid dan untuk menunjukkan bahwa Yesus-Paska tidak marah atas kegagalan mereka, Yesus-Paska mengubah sebutan lebih akrab dengan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. Tafsir ini didukung dengan perikop sesudahnya. Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menyuap serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus untuk menyebarkan 𝘩𝘰𝘢𝘹 mayat Yesus dicuri oleh murid-murid Yesus (Mat. 28:11-15). Di sini para murid akan menghadapi masalah lebih berat lagi karena mereka akan menjadi tersangka pembuat 𝘩𝘰𝘢𝘹 Yesus bangkit yang mengganggu ketertiban dan ketenteraman Yudea, wilayah jajahan Romawi. Tampaknya Yesus hendak membangkitkan rasa percaya diri para murid. Meskipun Yesus sudah mengubah sebutan kepada murid-murid, tampaknya beberapa murid ragu-ragu dan mengira Yesus masih marah.

Yesus mendekati mereka dan berkata, “𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪.” (ay. 18). Yesus kemudian memberi tiga perintah (ay. 19-20).

Perintah Yesus, “Pergilah,
1. jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan
2. baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan
3. ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Ketiga perintah itu adalah satu-kesatuan, yang kemudian dikenal sebagai 𝘈𝘮𝘢𝘯𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 atau 𝘛𝘩𝘦 𝘎𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘪𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯. Dalam praktik penekanan Amanat Agung hanya pada perintah pertama dan kedua (walaupun bagi saya pribadi, saya merasa amanat agung adalah hukum kasih, merujuk perintah point 3).

Ternyata dalam sejarah misi Gereja purba sampai abad ke-18 ayat ini tidak dijadikan landasan. Teks ini baru dibicarakan secara pejal di Gereja-Gereja berbahasa Jerman pasca-reformasi. Pada abad ke-19 Gereja-Gereja di Inggris baru menyebut dan memahaminya sebagai Amanat Agung (Nah ..... artinya?). Adalah suatu kebetulan pemahaman ini bertumpangsusun (𝘰𝘷𝘦𝘳𝘭𝘢𝘱) dengan kejayaan kolonialisme Barat. Kejayaan dan semangat kolonialisme itu tidak didasari Amanat Agung. Namun, kita tidak dapat mengelak bahwa ada badan misi Kristen yang membonceng para kolonialis itu terutama kolonialis mapan.
Rupanya para pengemban Amanat Agung itu melupakan perintah Kristus yang justru amat sangat penting, yang ironisnya merupakan bagian langsung tak terpisahkan dari teks Amanat Agung itu sendiri: 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙆𝙪𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙪. Apa yang diajarkan? Tentu saja seluruh narasi Injil Matius. Konsekuensi logisnya Amanat Agung menjadi tidak esensial. Amanat Agung yg hanya bertumpu pada poin 1 dan 2, terlebih hanya point 1, itu tidak seiring sejalan dengan benang merah ayat-ayat yg lain. 

Kita ambil contoh Matius pasal 5 – 7 yang disebut oleh LAI sebagai 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵. Ajaran dalam tiga pasal itu tentang dasar hidup para pendengar bermasyarakat. Baku bahagia menurut Yesus berbeda sama sekali menurut pemahaman banyak orang. Yang sungguh menggelikan teks Matius 7:12 kerap disingkirkan atau pura-pura dilupakan oleh orang Kristen 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘐𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪.

Kisah Yesus memberi makan empat ribu orang (Matius 15:32-39) juga kerap ditenggelamkan oleh kisah Yesus memberi makan lima ribu orang (Matius 14:13-21). Kisah di Matius 15 terjadi di daerah bukan basis Yahudi. Yesus memberi makan mereka. Setelah mereka kenyang, Yesus menyuruh mereka pulang. Orang Inggris bilang, “𝘛𝘩𝘢𝘵’𝘴 𝘪𝘵!” Tidak ada kisah pertobatan. Apabila narasi terus berjalan kita akan berjumpa dengan perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 (Matius 25:31-46). Siapakah yang akan selamat menurut Yesus dalam perikop ini? 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻, 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝗿𝗴𝗶𝗻𝗮𝗹, 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝗵𝗶𝗻𝗮 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁!

Dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 Yesus juga menekankan menjadi baik bukanlah inti dalam mengikuti-Nya sebagai murid. Berbuat baik juga dikejar oleh orang-orang yang tak mengenal Allah. Yesus sendiri bersikap positif kepada orang-orang yang berbuat baik, meskipun tak mengenal Allah, akan tetapi menjadi murid Yesus jangan diturunkan derajatnya hanya sekadar menjadi baik. Menjadi murid Kristus yang baik tetapi tidak mengaitkan imannya pada permasalahan struktural, hanya berpumpun pada dosa individual, tetapi abai pada dosa struktural di dalam masyarakat, belumlah menghayati hakikat 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵.

Dari penjelasan ringkas di atas perintah 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 bukan semata-mata lewat tuturan kata, namun lewat gaya hidup. Yesus sudah mencontohkan gaya hidup hamba seperti dalam teks Matius 12:15b-21. Bergaya hidup hamba berarti dengan segala kerendahhatian mengamalkan ajaran Kristus dalam narasi Matius secara serbacakup. Kita adalah murid Yesus. Namun yang sering terjadi murid membuat diri lebih terkenal daripada Gurunya. Ironisnya lagi pengajaran dari mimbar lebih banyak tema doktriner 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩. Secara didaktik ini tidak menopang, melainkan menggemburkan fondasi. Pijakan makin lemah. Umat tetap bodoh dan kekanak-kanakan.
(25052026)(TUS)


Dalam dunia pelayanan atau kepemimpinan rohani, ada batas yang sangat tipis namun fatal antara mengarahkan orang kepada Tuhan dan mengarahkan orang pada figur dirinya sendiri.

Ketika seorang pemimpin rohani atau pengajar agama mulai membangun komunitas di mana semua keputusan, kebenaran, dan ketergantungan berpusat hanya pada karisma pribadinya, saat itulah esensi iman yang sejati mulai bergeser. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mendidik anggotanya untuk merdeka, berpikir kritis, dan memiliki hubungan pribadi yang langsung dengan Tuhan.

Jika pengikutnya hanya bisa "manut" tanpa ruang untuk menguji kebenaran berdasarkan firman Tuhan, maka komunitas tersebut perlahan-lahan berubah menjadi kelompok yang eksklusif, fanatik, dan berbahaya bagi kesehatan mental serta spiritual anggotanya. 

Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil membuat dirinya "semakin kecil" agar figur Tuhan "semakin besar" di mata umatnya.

Ada yang pernah bertanya, lalu bagaimana dengan pernyataan Paulus: "Ikutilah teladanku" dalam terjemahan lain "Jadilah pengikutku?"

Sekilas, pernyataan Rasul Paulus dalam Alkitab (1 Korintus 11:1) terdengar sangat berani dan egois. Namun, jika kita melihat kalimat tersebut secara utuh, maknanya justru berbanding terbalik dengan sikap narsistik seorang pemimpin kelompok sesat.

"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." (1 Korintus 11:1)

Ada dua alasan utama mengapa pernyataan Paulus ini justru menjadi standar utama kepemimpinan yang sehat:

1. Adanya syarat dan batas yang jelas (sama seperti aku...) 

Paulus tidak meminta orang mengikutinya secara membabi buta. Kalimatnya mengandung sebuah syarat: Selama saya meneladani Kristus, ikutilah saya. Jika saya melenceng dari Kristus, jangan ikuti saya. Ini adalah bentuk transparansi dan akuntabilitas, bukan penyerahan diri total tanpa syarat kepada manusia.

2. Fungsi sebagai "penunjuk jalan", bukan "tujuan akhir" 

Bagi Paulus, hidupnya hanyalah sebuah cermin atau alat bantu visual bagi orang-orang yang baru belajar mengenal iman. Ketika dia berkata "ikutilah aku", dia sedang memposisikan diri sebagai mentor yang mempraktikkan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, agar orang lain tahu cara memulainya. Tujuannya tetap satu: membawa orang tersebut kepada Kristus, bukan mengikat mereka pada pribadi Paulus.

Seorang pemimpin yang sehat akan berani berkata seperti Paulus karena hidupnya bisa dipertanggungjawabkan, namun ia tidak akan pernah membiarkan umatnya bergantung sepenuhnya pada dirinya. 

"Sebab jabatan kami bukanlah untuk mengikat hati manusia kepada diri kami sendiri, melainkan untuk mempertunangkan jiwa-jiwa mereka kepada Kristus."
— Thomas Brooks (1608-1680)

Jumat, 22 Mei 2026

Sudut Pandang Kaitan Peristiwa Turunnya Roh Kudus dan hari raya panen

Sudut Pandang Kaitan Peristiwa Turunnya Roh Kudus dan hari raya panen

PENGANTAR 
Penulis Kisah Para Rasul mensejajarkan turunnya Roh Kudus dengan hari raya panen untuk menunjukkan bahwa peristiwa itu bukan kejadian acak, melainkan penggenapan teologis dari ritme besar sejarah keselamatan: panen, buah sulung, dan pembentukan umat perjanjian baru. Maknanya terutama adalah bahwa Roh Kudus memulai panen rohani yakni pengumpulan orang-orang bagi Allah—yang tampak nyata dalam pertobatan tiga ribu orang di Kisah 2. Pentakosta dalam latar Yahudi adalah Shavuot, hari raya “minggu-minggu” yang terkait dengan akhir panen gandum dan persembahan hasil sulung kepada Allah. Jadi ketika Lukas menempatkan pencurahan Roh Kudus pada hari itu, ia memakai kalender liturgis Israel sebagai kerangka makna, bukan sekadar penanda waktu .
PEMAHAMAN 
Simbol panen memberi arti bahwa apa yang terjadi di Kisah 2 adalah awal dari hasil besar karya Allah, seperti hasil sulung yang menjamin panen yang lebih luas. Bahasa “panen” juga selaras dengan misi Gereja: Roh Kudus memperlengkapi para murid untuk bersaksi kepada banyak bangsa, sehingga penginjilan dipahami sebagai karya pengumpulan umat Allah dari segala bahasa dan tempat. Sebagian juga melihat paralel Sinai: pada Shavuot Israel mengingat pemberian Taurat, sedangkan di Kisah 2 Allah memberi Roh Kudus sebagai tanda perjanjian baru yang menulis kehendak-Nya di hati umat. Dengan cara ini, Lukas menegaskan kesinambungan sekaligus pembaruan: umat Allah yang lama dipanggil kembali, tetapi kini dibentuk oleh kuasa Roh, bukan hanya oleh hukum tertulis. Secara teologis, pencocokan ini menegaskan bahwa Pentakosta adalah “awal zaman baru” dalam karya keselamatan, saat Allah mulai mengumpulkan umat-Nya secara eskatologis melalui Injil. Jadi maknanya bukan cuma “Roh Kudus turun saat ada festival panen,” melainkan bahwa pencurahan Roh adalah tanda bahwa panen akhir Allah telah dimulai, yang diinkulturisasi dalam riyaya unduh-unduh, ada kritik yang cukup serius bila hari raya panen Yahudi/Pentakosta dipindahkan dari hari Pentakosta itu sendiri, maknanya menjadi riyaya unduh-unduh/hari raya panen yang berdiri sendiri dan terlepas dari konteks Pentakosta biblis. Kritik utamanya bukan pada tradisi syukur panen itu sendiri, melainkan pada kemungkinan terjadinya reduksi makna: dari peristiwa pneumatologis-eskatologis dalam Kisah 2 menjadi sekadar liturgi syukur agraris tahunan untuk pemasukan gereja. Kalau seperti itu, lebih baik mengadakan 2 x riyaya unduh-unduh dalam setahun dimana yg satu dijatuhkan kisaran bulan September Oktober saat masa raya bulan keluarga, dimana itu tepat sebagai hari raya pondok daun, hari raya panen juga tapi berbeda makna dengan yg Pentakosta, itu bisa dikhususkan untuk pemasukan gereja, tapi tidak ada kesalahan makna. Secara historis, Pentakosta memang berakar pada festival panen Israel, yaitu Shavuot, hari syukur atas hasil sulung dan penutupan panen, dimana diseiring jalankan dengan makna panen jiwa dari peristiwa turunnya Roh Kudus, dan kelahiran gereja. Tetapi dalam Kisah Para Rasul, Lukas menempatkan pencurahan Roh Kudus pada momen itu untuk memberi makna baru: Roh sebagai buah sulung zaman baru, awal panen umat Allah dari segala bangsa. Kalau makna ini dipisahkan dari hari Pentakosta lalu dipindahkan ke hari tersendiri, yang hilang adalah hubungan naratif antara waktu, simbol, dan penggenapan. Ada beberapa keburukan teologis bila riyaya unduh-unduh dipisahkan dari hari Pentakosta: Kristologi dan pneumatologi menjadi kabur.  Pentakosta bukan hanya syukur atas berkat umum, melainkan peneguhan karya Kristus yang mengutus Roh Kudus. Simbol panen dipisahkan dari misi. Dalam Kis 2, “panen” bukan hanya hasil bumi, tetapi pengumpulan manusia melalui pemberitaan Injil, simbol lahir gereja. Tipologi Alkitab melemah. Hubungan Shavuot–Sinai–Roh Kudus menjadi terputus ketika perayaan panen dilepas dari hari Pentakosta, pencurahan Roh Kudus. Liturgi berisiko menjadi folklor, riyaya Unduh-unduh bisa jatuh menjadi ekspresi budaya yang baik, tetapi kehilangan daya korektif dan penginjilan yang inheren dalam Pentakosta, pencurahan Roh Kudus. Riyaya unduh-unduh sebaiknya dipahami sebagai inkulturasi atau ekspresi lokal dari syukur gereja, bukan substitusi makna Pentakosta, artinya, riyaya unduh-unduh boleh merayakan berkat panen, tetapi secara teologis harus tetap ditempatkan kaitannya di bawah horizon Pentakosta: syukur atas karya Allah yang menghidupi, mengutus, dan mengumpulkan umat-Nya, demikian kalau perayaan hari pencurahan Roh Kudus dipisahkan dari hari raya panen, maka maknanya akan kabur. Dengan begitu, tradisi lokal tidak meniadakan teks Alkitab, tetapi justru menjadi penafsiran kontekstual yang setia. Lukas tidak sekadar melaporkan bahwa Roh Kudus turun “kebetulan” pada hari raya Yahudi, tetapi menyusun narasi supaya peristiwa itu terbaca sebagai momen penggenapan yang terikat pada sejarah keselamatan Israel, jadi 2 peristiwa itu terkait ... Lah .... Kok dipisah malah. Dari sudut tipologi Shavuot, hari raya panen dipakai sebagai bayangan yang digenapi dalam panen umat Allah melalui Roh Kudus. Lukas sangat peka terhadap penataan waktu, tempat, dan simbol. Dengan menempatkan Kisah 2 pada hari Pentakosta, ia menghubungkan pengalaman para murid dengan kalender kudus Israel sehingga peristiwa itu tampil sebagai bagian dari rencana Allah, bukan kejadian lepas konteks, keduanya terkait, ini berarti Lukas mengolah tradisi yang ia terima agar menekankan tema besar: Roh Kudus sebagai kuasa yang memulai kesaksian universal gereja. Lukas juga gemar menonjolkan kesinambungan antara Israel dan gereja. Karena itu, Shavuot (hari raya panen Yahudi dalam inkulturisasi  riyaya unduh-unduh) menjadi titik temu yang sangat efektif: Israel mengenal hari syukur panen dan pemberian Taurat, sedangkan Lukas menampilkan Roh Kudus sebagai pemberian ilahi yang membentuk umat baru. Jadi, pilihan hari itu sama dalam 2 peristiwa bukan dekorasi liturgis, melainkan alat teologis untuk menunjukkan bahwa gereja lahir dari sejarah Allah dengan Israel, bukan dari ruang kosong. Secara tipologis, Shavuot (hari raya panen dalam inkulturisasi  riyaya unduh-unduh) adalah “gambaran awal” yang digenapi dalam Pentakosta Kristen. Dalam Perjanjian Lama, Shavuot berkaitan dengan hasil sulung dan panen; dalam Kisah 2, hasil sulung itu berubah menjadi orang-orang yang percaya dan dibaptis, sehingga panen bukan lagi gandum, melainkan manusia/jiwa. Karena itu, tiga ribu orang bertobat dapat dibaca sebagai tanda bahwa panen eskatologis Allah telah dimulai, nah .... kalau begitu lucu tur wagu ketika hari raya panen Yahudi dalam inkulturisasi riyaya unduh-unduh dipisahkan dengan hati pencurahan Roh Kudus. Tipologi ini juga menjelaskan mengapa bahasa-bahasa, angin, dan api sangat penting. Simbol-simbol itu menandai kehadiran Allah yang dulu hadir pada momen-momen besar sejarah Israel, tetapi kini hadir dengan cara baru dalam Roh. Maka Shavuot (hari raya panen Yahudi dalam inkulturisasi riyaya unduh-unduh) bukan sekadar latar waktu; ia adalah jembatan hermeneutis yang memungkinkan pembaca melihat Roh Kudus sebagai penggenapan janji Allah. Kalau Pentakosta digeser dari hari unduh-unduh yang berdiri sendiri, maka tipologi itu melemah. Yang hilang bukan hanya nama hari, tetapi hubungan antara tanda dan penggenapan: panen, buah sulung, Taurat, Roh, dan misi bangsa-bangsa. Secara redaksional, itu berarti umat tidak lagi diajak melihat bagaimana Lukas mengikat Kis 2 pada sejarah Israel, melainkan hanya membaca peristiwa itu sebagai peristiwa gerejawi biasa, pergeseran itu cenderung mendepotensialkan teks. Narasi Lukas kehilangan daya puncaknya ketika dimaknai hanya satu peristiwa bukan kaitan dua peristiwa terutama sebagai perayaan syukur lokal, bukan sebagai peristiwa kelahiran gereja dan dimulainya panen eskatologis Allah. Secara singkat, redaksi Lukas memakai Shavuot untuk menyatakan bahwa Roh Kudus adalah penggenapan dari pola historis Israel, sedangkan tipologi Shavuot (hari raya panen Yahudi dalam inkulturisasi riyaya unduh-unduh) menunjukkan bahwa panen fisik menjadi lambang panen rohani. Maka, pemisahan Pentakosta dari Shavuot (hari raya panen Yahudi dalam inkulturisasi riyaya unduh-unduh berisiko memutus satu jaringan makna yang justru sengaja dibangun oleh penulis Kisah Para Rasul. Dalam kerangka itu, kritik utama bukan pada tradisi syukur panen, melainkan pada penempatan teologisnya: apakah ia tetap berada di bawah Pentakosta, yang saling terkait atau malah menggantikan .

(23052026)(TUS)



Senin, 18 Mei 2026

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗗𝗼𝗮 𝗕𝗲𝗿𝗴𝗲𝘀𝗲𝗿 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝗸

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗗𝗼𝗮 𝗕𝗲𝗿𝗴𝗲𝘀𝗲𝗿 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝗸

PENGANTAR 
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih.
PEMAHAMAN 
1️⃣ 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗮𝘀𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗳𝗮𝘁 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗿𝗶𝗻𝗶𝘁𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻

Dalam tradisi Kristen klasik doa liturgis tidak pernah dipahami sekadar sebagai teknik mencapai ketenangan batin individual. Liturgi adalah tindakan Gereja yang mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah Tritunggal.

Bapa memanggil dan mengumpulkan umat-Nya. Kristus menghadirkan karya penebusan-Nya melalui firman dan sakramen. Roh Kudus menghidupkan, menguduskan, dan memersatukan Gereja.

Oleh karena itu liturgi Kristen sejak awal bersifat trinitarian. Seluruh gerak liturgi mengalir:
▶️ dari Bapa,
▶️ melalui Kristus,
▶️ di dalam Roh Kudus, dan
▶️ kembali kepada Bapa dalam pujian dan syukur.

Pada aras itu pusat liturgi bukan pengalaman psikologis manusia, melainkan tindakan Allah sendiri yang lebih dahulu berkarya atas Gereja-Nya.

Liturgi juga selalu bersifat komunal-eklesial. Subjek liturgi bukan individu yang sedang mencari pengalaman spiritual pribadi, melainkan Kristus bersama tubuh-Nya, yaitu Gereja. Simbol, nyanyian, doa, diam, warna liturgi, bahkan gestur tubuh dalam ibadah diarahkan bukan terutama untuk membantu individu “merasakan sesuatu”, melainkan untuk membawa umat masuk ke dalam misteri karya keselamatan Allah Tritunggal.

Di sini praktik berbagai macam doa atau meditasi perlu dicermati secara hati-hati, apalagi yang 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, melainkan teknik visual-meditatif modern. Ketika dibawa ke ruang spiritualitas Kristen, pertanyaan teologisnya bukan pertama-tama: 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩𝘬𝘢𝘩, melainkan 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘳𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘴𝘦𝘳 𝘥𝘰𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘪𝘷𝘪𝘥𝘶𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘤𝘦𝘯𝘵𝘦𝘳𝘦𝘥.

2️⃣ 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗮𝗱𝗮 𝙙𝙤𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣

Ini penting karena Kristen sebenarnya tidak asing dengan praktik manual kontemplatif:
▶️ menyalin manuskrip Alkitab, 
▶️ melukis ikon, 
▶️ merangkai rosario, 
▶️ menenun kain altar, 
▶️ kaligrafi Kitab Suci, 
▶️ bahkan membuat roti komuni. 

Dalam monastisisme berlaku prinsip 𝘰𝘳𝘢 𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘣𝘰𝘳𝘢. Tubuh dan tangan ikut berdoa. Doa bukan hanya gerakan melipat tangan dan menutup mata tetapi terlebih gerakan membuka tangan/mengulurkan tangan dan membuka mata, orare sets laborare, laborare sets orare, berkarya adalah berdoa, berdoa adalah berkarya, doakanlah apa yang kita kerjakan dan kerjakanlah apa yang kita doakan. Jadi secara prinsip aktivitas artistik yang ritmis dapat menjadi medium kontemplasi Kristen. Manusia berdoa bukan hanya dengan otak, tetapi juga tubuh, indera, ritme, keheningan. 

3️⃣ 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗸𝗿𝗶𝘁𝗶𝘀 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝘁𝗲𝗸𝗻𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂 𝙨𝙚𝙡𝙛-𝙘𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙚𝙙

Kalau Zen meditasi dipahami cara mencapai kedamaian batin, maka pusatnya mudah bergeser dari Allah ke pengalaman psikologis diri. Di sini liturgi Kristen berbeda dari spiritualitas 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘧𝘶𝘭𝘯𝘦𝘴𝘴 modern.

Dalam tradisi Kristen doa bukan pertama-tama teknik menenangkan diri, melainkan relasi dengan Allah yang hidup. Kadang doa Kristen bahkan gelisah, penuh ratapan, penuh pergumulan, tidak damai, marah. Mazmur sendiri penuh kegaduhan eksistensial. Liturgi Kristen tidak mengejar ketenangan sebagai tujuan akhir.

4️⃣ 𝗥𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀𝗻𝘆𝗮

Kalau 𝘉𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘡𝘦n meditasi dibawa terlalu jauh ke ruang Gereja, ada risiko:
▶️ estetika menggantikan pewartaan, 
▶️ teknik menggantikan misteri, 
▶️ pengalaman personal menggantikan tindakan komunal Gereja. 

Akhirnya doa dilunturkan menjadi terapi spiritual pribadi. Padahal liturgi Kristen selalu punya matra: Sabda, Gereja, anamnesis/pengenangan, Kristus, dan pengutusan. 

Pada aras itu 𝘉𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 meditasi mungkin masih dapat dipahami sebagai sarana refleksi atau kontemplasi pribadi apabila ditempatkan secara proporsional dan tidak diberi muatan mistik berlebihan. Namun, Gereja tetap perlu berhati-hati, terutama dalam konteks jemaat Protestan-Calvinis, termasuk GKJ.

Tradisi Calvinis sejak awal membentuk spiritualitas jemaat melalui liturgi yang relatif terstruktur:
▶️ pembacaan firman,
▶️ doa,
▶️ khotbah,
▶️ nyanyian,
▶️ pengakuan dosa, dan
▶️ sakramen.

Spiritualitasnya dibangun melalui irama liturgi yang jelas, berpusat pada Sabda, dan bersifat komunal-eklesial. Oleh karena itu umat Calvinis umumnya tidak dibentuk melalui teknik-teknik meditasi visual atau metode kontemplasi yang berorientasi pada pengalaman batin individual.

Di sini 𝘡𝘦𝘯 meditasi 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗽𝗮𝘀𝘁𝗼𝗿𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶 bagi umat awam Calvinis. Ketika tidak disertai penjelasan teologis yang memadai, umat dapat dengan mudah menggeser pusat doa:
▶️ dari firman kepada teknik,
▶️ dari Kristus kepada pengalaman diri, dan
▶️ dari liturgi Gereja kepada sensasi batin personal.

Akibatnya doa perlahan dipahami bukan lagi sebagai tanggapan iman terhadap pewahyuan Allah, melainkan sebagai metode mencapai ketenangan psikologis. Padahal dalam spiritualitas Calvinis ketenangan bukan tujuan utama ibadah. Pusatnya tetap Allah yang menyapa umat melalui firman dan sakramen. Untuk itu Gereja perlu memiliki kepekaan teologis untuk membedakan mana latihan artistik-kontemplatif yang sekadar membantu konsentrasi dan mana praktik spiritual yang perlahan menggeser gravitasi ibadah Kristen dari Allah kepada pengalaman diri.

(19052026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20:19-23 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗯𝘂𝗸 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴  Yohanes 20:19-23 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗯𝘂𝗸 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀

PENGANTAR
Minggu 24 Mei 2026, Hari Pentakosta adalah mahkota perayaan Paska. Dua hari raya terbesar umat Kristen adalah Paska dan Pentakosta. Hari Raya Pentakosta dihelat 50 hari sesudah Hari Raya Paska. Meskipun keduanya hari raya terbesar, tetapi keduanya kalah jauh meriah daripada Natal. Pertama, memang pemimpin gereja tampaknya tidak berniat mengajarkan hal ini kepada umat. Kedua, Paska dan Pentakosta selalu jatuh pada (hari) Minggu sehingga dianggap biasa-biasa saja, sedang Natal berdekatan dengan libur akhir tahun kalender umum. Tentang hari Pentakosta ada yang perlu dijernihkan. Cukup banyak orang Kristen mencerap bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus disebut Pentakosta. Cerapan ini dapat dipahami sebagai pengaruh prapaham kalender gerejawi sejak remaja. Pentakosta berarti lima puluh. Pada hari ke-50 sesudah kebangkitan Yesus (atau Hari Raya Paska) tercurahlah Roh Kudus kepada orang-orang yang sedang berkumpul di satu tempat di Yerusalem. Padahal kalau kita membaca Kisah Para Rasul 2:1 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙤𝙨𝙩𝙖, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵. 
Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa hari Pentakosta itu sudah ada dan telah dirayakan selama ratusan tahun oleh masyarakat Yahudi sebelum kitab Kisah Para Rasul ditulis. Jadi, bukan karena peristiwa pencurahan Roh Kudus, maka hari itu disebut Pentakosta, melainkan pencurahan Roh Kudus terjadi pada hari Pentakosta, festival atau pesta syukur panen masyarakat Yahudi. Dalam pesta syukur itu orang-orang Yahudi datang berbondong-bondong ke Yerusalem dari segala penjuru.
PEMAHAMAN 
Perayaan Pentakosta Gereja diberi muatan peristiwa pencurahan Roh Kudus di dalam Kisah Para Rasul, namun tetap berakar pada tradisi pesta panen. Itu sebabnya pada hari Pentakosta beberapa gereja di Indonesia dihiasi dengan hasil bumi. Di GKJW Mojowarno, Jawa Timur, dan beberapa Jemaat lainnya perayaan Pentakosta berhasil dialihrupa (𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘰𝘳𝘮𝘦𝘥) menjadi 𝘙𝘪𝘳𝘢𝘺𝘢 𝘜𝘯𝘥𝘶𝘩-𝘜𝘯𝘥𝘶𝘩, termasuk GKJ. 
Selain menjadi mahkota masa raya Paska, Pentakosta disebut juga Minggu Putih dan karena itulah pemimpin ibadah mengenakan pakaian liturgis berwarna putih.Seharusnya, Ibadah dihelat sejak Sabtu dengan ibadah yang khidmat dan meriah mirip Malam Natal. Hanya saja tradisi ibadah Sabtu Malam ini jarang dijumpai di Gereja-Gereja Protestan Reformir atau gereja arus utama (mainstream).

Bacaan ekumenis pada hari Pentakosta diambil dari Injil Yohanes 20:19-23 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 2:1-21, Mazmur 104:24-34, 35b, dan 1Korintus 12:3b-13.

Pada hari Pentakosta ini saya mengulas dua bacaan: Kisah Para Rasul 2:1-21 dan Injil Yohanes 20:19-23. Pada gilirannya kita akan mengetahui perbedaan teologis pada dua kisah teologis pencurahan Roh Kudus dari dua penulis kitab yang berbeda. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (selanjutnya disingkat 𝘒𝘪𝘴.) pada dasarnya satu buku yang kemudian oleh editor dipenggal menjadi dua buku/kitab. Oleh karena itu pesan teologis yang hendak disampaikan oleh penulisnya sama dan berkesinambungan. 𝘒𝘪𝘴. pada dasarnya hendak menegaskan bahwa karya Yesus dilanjutkan oleh para rasul-Nya. Pelayanan Yesus berakhir di Yerusalem dan pelayanan murid-murid-Nya dimula dari Yerusalem (Kis. 1:8). 

🔸 Sama seperti Yesus ketika dibaptis (Luk. 3:22; 4:18) para rasul juga diberi kuasa Roh Kudus untuk melaksanakan misi Allah (Luk. 24:49; Kis. 1:8; 2:1-13). 
🔸 Seperti halnya Yesus disiapkan Allah selama 40 hari di padang gurun (Luk. 4:1-13), demikian juga para rasul Yesus disiapkan Yesus selama 40 hari sebelum Kenaikan-Nya ke Surga (Kis. 1:3). 
🔸 Pekerjaan yang dilakukan Yesus di Injil juga dilakukan para rasul di 𝘒𝘪𝘴.: mengurus orang miskin, menyembuhkan orang sakit dan kerasukan setan, dan membangkitkan orang mati (Kis. 5:16; 6:1; 8:7; 9:40; 19:12; 20:10; 28:8). 
🔸 Sama seperti Yesus (Luk. 4:43; 8:1), para rasul juga memberitakan Injil Kerajaan Allah (Kis. 8:12; 19:8; 20:25; 28:31).

Perikop Kisah Para Rasul 2:1-21 dapat dikelompokkan ke dalam bab 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭. Roh Kudus yang turun pada murid-murid Yesus pada hari Pentakosta diperikan sebagai 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩 api (Kis. 2:3). Bandingkan dengan Roh Kudus yang turun pada Yesus saat pembaptisan diperikan sebagai burung merpati (Luk. 3:22). Pemerian 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩 itu berkaitan dengan kemampuan berbahasa (asing) yang kemudian dimiliki oleh para murid Yesus. Dengan begitu akibat langsung pencurahan Roh Kudus adalah kemampuan berbahasa semua bahasa di dunia (Kis. 2:4; 2:5-11). Sebagai 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 para murid dapat berbahasa asing adalah orang-orang Yahudi dari seluruh dunia dapat mendengar para murid itu berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing (Kis. 2:8). Orang-orang Yahudi dari segala penjuru itu, yang datang dalam rangka perayaan Pentakosta, menjadi 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 dari mukjizat yang terjadi pada diri murid-murid Yesus itu. Di sini tampak Lukas berusaha merinci semua bahasa di dunia sejauh yang diketahuinya “…𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘪𝘵𝘢: 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘢𝘳𝘵𝘪𝘢, 𝘔𝘦𝘥𝘪𝘢, 𝘌𝘭𝘢𝘮, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘔𝘦𝘴𝘰𝘱𝘰𝘵𝘢𝘮𝘪𝘢, 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘥𝘰𝘬𝘪𝘢, 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘴𝘪𝘢, 𝘍𝘳𝘪𝘨𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘮𝘧𝘪𝘭𝘪𝘢, 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩-𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘓𝘪𝘣𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘒𝘪𝘳𝘦𝘯𝘦, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨-𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘰𝘮𝘢, 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘶𝘵 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘳𝘦𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘢𝘣, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." (Kis. 2:8-11).

Pencurahan Roh Kudus itu adalah awal penugasan pemberitaan Injil atau 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Kis. 2:11). Peristiwa yang terjadi pada para murid Yesus di awal 𝘒𝘪𝘴. ini sebenarnya sejajar dengan apa yang terjadi pada Yesus sendiri di awal Injil Lukas. Yesus juga mendapat Roh Kudus ketika Ia dibaptis (Luk. 3:22) dan hal itu menjadi ucapan pertama dalam masa pelayanan-Nya. "𝘙𝘰𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶, 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 ….” (Luk. 4:18). 

🔸 Sesudah mendapat Roh Kudus, Yesus langsung memberitakan Injil di Nazaret (Luk. 4:18-21).
🔸 Sesudah mendapat Roh Kudus, Petrus langsung memberitakan Injil di Yerusalem (Kis. 2:14-40).
🔸 Akibat pemberitaan Injil Petrus itu, jumlah orang percaya bertambah sekitar 3.000 orang (Kis. 2:41).

Sesudah kita mengetahui akibat langsung 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩 api itu turun dan hinggap pada para murid sehingga mereka penuh dengan Roh Kudus dan mula berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Kis. 2:4), lalu siapakah para murid itu? Apakah hanya kelompok 12 murid Yesus (khusus) ataukah semua murid Yesus (umum)? 
Lukas tidak menyebutkan secara khusus kelompok 12 murid Yesus itu, kecuali ketika mereka berdiri sesudah ejekan orang Yahudi (Kis. 2:14). Tokoh cerita yang berkumpul itu adalah 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 atau semua murid Yesus secara umum (Kis. 2:1) dan Roh Kudus 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 (Kis. 2:3). 
Dalam khotbah Petrus di 𝘒𝘪𝘴. 2:17-18 ia merujuk Yoel 2:28-32 yang secara tak langsung mendukung kesimpulan bahwa pencurahan Roh Kudus terjadi pada banyak orang termasuk pada 𝗸𝗮𝘂𝗺 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻. Pada konteksnya rujukan ke Yoel itu merupakan pembelaan Petrus atas ejekan bahwa para murid Yesus itu (termasuk murid-murid perempuan!) “sedang mabuk oleh anggur manis” (Kis. 2:13). Penyebutan 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 secara eksplisit (Kis. 2:18) membuktikan pencurahan Roh Kudus terjadi pada semua murid Yesus secara umum, bukan kelompok 12 murid Yesus (khusus).
Bagaimana peristiwa pencurahan Roh Kudus menurut Injil Yohanes 20:19-23?

Perikop Yohanes 20:19-23 diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢. Adegan dalam perikop ini adalah penampakan kedua sesudah kebangkitan Yesus. Penampakan pertama Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:11-19). Ada perbedaan penampakan pertama Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:11-19) dan penampakan kedua Yesus kepada murid-murid-Nya tanpa Tomas (Yoh. 20:19-23).
Penampakan pertama Yesus belum terangkat ke surga. Hal ini dapat ditelisik dari ucapan Yesus kepada Maria Magdalena yang menyiratkan kenaikan-Nya ke surga pada hari yang sama dengan hari kebangkitan. Kata Yesus, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢  𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶." (Yoh. 20:17, TB II 2023). Pada hari kebangkitan-Nya Yesus memerintahkan Maria Magdalena bukan untuk memberitakan kebangkitan-Nya, melainkan untuk memberitakan kenaikan-Nya.
Sesudah pergi atau naik kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17), Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua alasan:

🔸 Yesus sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22).
🔸 Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini … dan taruhlah ke lambung-Ku” (Yoh. 20:27).

Dalam bacaan Injil Minggu ini (Yoh. 20:19-23) penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya tanpa Tomas. Delapan hari kemudian baru dengan Tomas. 
Dalam pertemuan itu (tanpa Tomas) Yesus mengatakan, “…𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙩𝙪𝙨 𝘬𝘢𝘮𝘶.” Sesudah mengatakan demikian, Yesus mengembusi mereka dan berkata, “𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢, 𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢.” (Yoh. 20:21-23). Ucapan ini ditulis karena tampaknya ada konflik di jemaat Yohanes. Mereka diingatkan untuk mengampuni dan menyucikan orang lain.
Dari dua bacaan 𝘒𝘪𝘴. 2:1-21 dan Yohanes 20:19-23 kita dapat melihat perbedaan sekaligus persamaan dari dua kisah teologis tersebut.

Perbedaan:
🔸 Dalam 𝘒𝘪𝘴. pencurahan Roh Kudus terjadi sesudah Yesus terangkat ke surga dan pencurahan itu tanpa kehadiran Yesus secara fisikal. Dalam Injil Yohanes pencurahan Roh Kudus terjadi sesudah Yesus naik ke surga dan pencurahan Roh Kudus dilakukan oleh Yesus sendiri secara fisikal.
🔸 Dalam 𝘒𝘪𝘴. pencurahan Roh Kudus membuat para murid dapat berbahasa asing dan orang asing pendengar mereka mengerti bahasa yang diucapkan oleh para murid. Dalam Injil Yohanes tidak ada hal itu.
🔸 Dalam 𝘒𝘪𝘴. penerima Roh Kudus mendapat kuasa menjadi saksi. Dalam Injil Yohanes penerima Roh Kudus mendapat kuasa mengampuni.

Persamaan: Pencurahan Roh Kudus adalah awal pengutusan atau penugasan pemberitaan Injil.

Perhatikanlah, tidak ada cerita orang-orang kesurupan sesudah menerima Roh Kudus, apalagi ngompyang bahasa gak jelas.

Hari Pentakosta juga diperingati sebagai hari lahir Gereja. Dirgahayulah Gereja!

(18052026)(TUS)

Jumat, 15 Mei 2026

Sudut Pandang doa 10 hari jelang turunnya Roh Kudus

Sudut Pandang doa 10 hari jelang turunnya Roh Kudus

PENGANTAR
Kesepakatan bersama atau kesepakatan ekuminis, penggunaan kalender liturgi maupun liturgi leksionari adalah gerakan kebersamaan akan pemahaman gereja yang esa. Sehingga, memang berdasarkan apa yang dahulu ditata oleh Bapa-Bapa gereja, dan sekarang dikembangkan oleh teolog-teolog, diantaranya yg tergabung dalam naungan badan doa dunia, termasuk oenggunaan RCL dirancang dan ditata sedemikian rupa kalender liturgi dan liturgi leksonari sarat dengan pemahaman kenangan akan teladan serta kehidupan Kristus dan hikmat pengajaran Kristus, juga merupakan pastoral bagi umat, dimana semuanya merujuk pada Alkitab, dalam bacaan sabda berpuncak pada injil. Ini adalah gerakan untuk melihat Alkitab itu relevan bagi hidup umat. Akan ada saja yang mengatakan bahwa "bagi saya sama saja, mau geser sana, geser sini, mau digimanain, sama saja" itu artinya dia gak paham atau mungkin Alkitab sudah tidak relevan lagi  bagi dirinya, kalau memang Alkitab tidak relevan bagi dirinya dan tidak ada kemauan belajar tentang Alkitab, kenapa juga masih mendaki pengikut Kristus atau Kristen dan bergereja bahkan memangku jabatan gerejawi, menjadi kebingungan nalar terendiri. Untuk doa sepuluh hari jelang turunnya Roh Kudus. Hari-hari tersebut disebut Novena ( novena = 9) Roh Kudus atau Hari-Hari Paskah (antara Paskah dan Pentakosta). Namun, secara spesifik, sepuluh hari antara Kenaikan Tuhan (Ascension) dan Pentakosta disebut Hari-Hari Menunggu Roh Kudus. Konsensinya atau kesepakatan bersama dalam kalender liturgi bertumpu pada penataan Bapa-Bapa gereja yang terdahulu, memperhatikan pergeseran kalender gregorian (berpusat pada perputaran matahari) dan kalender Julian (berpusat pada perputaran bulan), maka kalau tidak tepat 10 hari karena pergeseran tsb, tetap di sebut doa 10 hari menanti turunnya Roh Kudus.
PEMAHAMAN 
Dalam tradisi, sepuluh hari ini juga disebut Novena Pentakosta, yaitu masa doa dan persiapan untuk perayaan Pentakosta. Masalah 10 hari tak genap dalam doa sepuluh hari menunggu turunnya Roh Kudus karena terpotong ibadah hari Minggu gimana? Ketentuannya, Doa Novena Roh Kudus biasanya dilakukan selama 8-9 hari, penghitungan kalender Masehi atau kalender modern, bukan 10 hari, dan dimulai dari hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus ke surga hingga hari Sabtu menjelang Pentakosta, adalah salah besar menghitung 10 hari dari hari kenaikan, atau memulai PD pas hari kenaikan Yesus karena itu tidak alkitabiah, ke naikan Yesus dg perjalanan kembali para murid tidak memungkinkan mereka kumpul berdoa pada hari itu, karena perkara jarak dan penghitungan pergantian hari pada zaman itu bukan jam 00.00 wib, tetapi selesei petang (kisaran pukul 18.00 wib). Jika ada hari Minggu di antaranya, itu tidak dianggap sebagai pengurangan hari, karena hari Minggu adalah hari ibadah yang sah dan tidak mengganggu hitungan hari novena.
Ketentuannya adalah:
- Novena Roh Kudus dilakukan selama 8-9 hari, jarang yg 7 hari, tergantung penempatan hari dalam satu tahun Masehi yg bertumpu pada matahari dan pergeseran dg penghitungan bulan (sejak Paskah) pada zaman penulisan Alkitab.
- Dimulai dari hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus ke surga
- Berakhir pada hari Sabtu menjelang Pentakosta
- Hari Minggu di antaranya tidak dianggap sebagai pengurangan hari. Jadi, tidak perlu khawatir jika ada hari Minggu di antaranya. Yang penting adalah niat dan kesungguhan dalam berdoa. 
Minggu Pentakosta: Hari raya ke-50 setelah Paskah, memperingati turunnya Roh Kudus atas para rasul. Ini menandai lahirnya Gereja dan berakhirnya masa Paskah.
Doa 10 hari menjelang turunnya Roh Kudus (Pentakosta) adalah tradisi gerejawi yang didasarkan pada jeda waktu antara kenaikan Yesus ke surga (hari ke-40 setelah Paskah) dan hari Pentakosta (hari ke-50 setelah Paskah). Selama 10 hari ini, umat Kristen diajak untuk menantikan, berdoa, dan berpuasa memohon pencurahan Roh Kudus, meneladani para murid yang berdoa di kamar atas sebelum Pentakosta. 
Penghitungan 10 Hari Doa 
Awal: Dimulai tepat SETELAH Hari Kenaikan Yesus (Kamis), yang dihitung sebagai Hari Pertama.
Durasi: Berlangsung selama 10 hari berturut-turut.
Akhir: Berakhir pada hari kesepuluh, yaitu hari Sabtu malam atau Minggu pagi (hari Pentakosta).
Contoh: Jika Kenaikan pada Kamis, 14 Mei, maka 10 hari doa berlangsung dari Jumat, 15 Mei hingga Sabtu, 23 Mei (10 hari kurang kalau hari Minggu sebelum Minggu pentakosta tak dihitung antara 8-9 hari), dengan Minggu pagi, 24 Mei sebagai perayaan Pentakosta, itu tepat 10 hari, dg catatan penghitungan hari pertama pergantian hari setelah petang. 
Nama Hari dan Arti (Tema Doa). Secara umum, fokus 10 hari ini adalah kebangunan rohani, pertobatan, dan kesatuan hati. Hari-hari Awal (1-3): Fokus pada pertobatan, kesucian hidup, dan kerinduan akan kehadiran Allah. Hari Tengah (4-7): Fokus pada kesatuan tubuh Kristus (doa bersama/komunal) dan melepaskan pengampunan. Hari Akhir (8-10): Fokus pada pengurapan Roh Kudus, kuasa untuk menjadi saksi, dan kesiapan menerima janji Bapa (Roh Kudus). 
Bagaimana Jika Terpotong Hari Minggu? Tetap Dilanjutkan: Hari Minggu adalah hari Tuhan, yang sangat baik untuk ibadah dan doa. 10 hari doa tidak harus berhenti atau terpotong jika Fleksibilitas: Fokusnya adalah kesinambungan dalam doa selama 10 hari. Jika ada kendala, penekanan utamanya adalah kesungguhan hati dalam menantikan Roh Kudus (10 days of prayer), bukan pada legalisme harinya. 
Inti dari masa ini adalah meneladani para rasul yang "bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama" (Kisah Para Rasul 1:14) setelah kenaikan Yesus hingga turunnya Roh Kudus. melewati hari Minggu.
Integrasi Ibadah: Ibadah minggu pada masa 10 hari ini sering kali disesuaikan temanya untuk mendukung doa penantian Roh Kudus.
(15052026)(TUS)

Sudut Pandang Mengurai Komunitas Sadrach

Sudut Pandang Mengurai Komunitas Sadrach 

PENGANTAR 
Ada pertanyaan yg sering diunggah Sadrach itu di Pesantren atau Peguron ? 

PEMAHAMAN 
Ada dua pesantren yang dikaitkan dengan Sadrach muda yang bernama asli Radin, yakni Tebuireng Jombang dan Gontor Ponorogo. 
Sesuatu hil yang mustahal, sebab Tebuireng berdiri tahun 1899, saat usia Sadrach sudah mencapai 64 tahun. Apalagi Gontor yang berdiri ketika Sadrach sudah wassalam. 
Meski demikian ada petunjuk menarik dalam disertasi pendeta Soetarman Partonadi tentang ciri "pesantren" tempat Sadrach mondok. 
"Unsur Terpenting di pesantren bukan pembentukan intelektual melainkan pembentukan spiritual. Di sini, murid dibekali dan dipersiapkan untuk terjun ke masyarakat dan kehidupan sesungguhnya. Para santri tinggal di komplek yang sama seperti para kiai dan keluarga mereka. Bekerja di sawah, memelihara ternak dan bekerja paruh waktu pada keluarga tetangga adalah bagian dari latihan. Dengan cara ini, santri mengalami betapa kerasnya kehidupan di bawah disiplin ketat, yang memaksa mereka mengembangkan inisiatif dan kreativitas pribadi. " (hal. 64).
Nama Sadrach muda yakni Radin menunjukkan ia berasal dari desa. Deri desa itu belum tentu miskin, tutur Adriaanse. 
Jadi ketika ada masa Radin mengemis, itu bukan karena kemiskinan tapi tuntutan kurikulum pesantrennya. 

"Sudah menjadi tradisi murid-murid sekolah Al-Qur'an dan pesantren untuk mengemis sebagai bagian dari kurikulum. 

Hal ini biasanya dilakukan pada hari Kamis, seperti yang ditunjukkan kata Jawa  ngemis (mengemis) yang berasal dari Kemis (Kamis). 
Mengemis disini merupakan cara pengumpulan dana untuk kegiatan keagamaan dan pekerjaan sosial. Ini dianggap sebagai pemberian derma, bagian dari kewajiban Islam. " (hal. 60-61)

Ciri kedua ini mengingatkan saya waktu kecil pulang sekolah, pada mobil zebra tua yang dilengkapi TOA, jalan pelan di depan pasar  sambil menjelaska fadhillah sedekah, dan yang mengiringi anak-anak berpeci dan bersarung, menyodorkan kotak amal ke para pedagang. Demikian, kira-kira rombongan "pesantrennya" Sadrach kalau berdiri di masa sekarang. 
Nah sekarang tinggal dicocokkan saja, meski secara kronologi waktu tidak mungkin, apakah Tebuireng dan Gontor punya dua ciri di atas ? 
Sebenarnya, ada clue yang lebih valid dibanding memaksakan diri tempat Sadrach belajar itu pesantren. 
Sebelum mengurai riwayat hidup Sadrach, pendeta Partonadi menjelaskan tentang pendidikan mistik Jawa dalam sekolah mistik yang disebut peguron. 
Selain itu, ketika Sadrach bertemu dengan seorang misionaris gereja resmi Belanda, Jellesma di Jombang, status Radin masih merupakan murid peguron. 
Radin murtad juga ketika bertemu kembali dengan pengajar peguronnya yang telah masuk Kristen, yakni pak Kurmen alias Sis Kanoman saat tinggal di Semarang. 
Dan dua ciri "pesantren" tempat Sadrach mondok itu lebih dekat dengan peguron daripada pesantren. 
Nah, tentang apa itu peguron, kemisan akan ada bahasan sendiri.Keris Sakti Sadrach

Setelah saya bilang pesantrene Sadrach itu ora cetho, kebanyakan respon yang kontra justru berfokus bahwa gelar kiai itu bukan hanya untuk ulama Islam. 

Ya memang bener, kalau di Jawa Timur sebutannya juga bukan Kiai tapi mbah Yai. Kalau di Jawa Tengah, kebopun bisa disebut Kiai. Nggak ada masalah tentang hal itu. 

Yang penting, kalau nggak pernah nyantri ya jangan dibilang lulusan pesantren. Itu poin pentingnya. 

Ketika saya telusur kembali buku paling populer tentang Sadrach yakni karya C Guillot, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa, salah paham itu kemungkinan berasal dari buku yang oleh Guillot disebut sebagai "buku pesantren. "

Dari banyak buku di rumah Sadrach yang ada di Karangjoso, ada satu buku catatan yang ditulis dengan menggunakan baha sa Arab dan Jawa Pegon (huruf arab untuk menuliskan bahasa Jawa). 

Dari banyak buku peninggalan Sadrach, hanya buku itu, satu-satunya, yang membahas agama Islam. Dan karena dari keluarga Sadrach hanya dia yang pernah di pesantren, maka itu dianggap sebagai catatan yang dibuat Sadrach. Dan Guillot sendiri mengakui, ia tidak punya bukti bahwa buku tersebut memang milik Sadrach. 

Apa isi buku itu, sebutan-sebutan Allah (kemungkinan Asmaul Husna), pelbagai "rasa" (ngelmu roso ?), malaikat (nama - nama malaikat), silsilah raja-raja Islam di Jawa, transkripsi mistik dari Nabi Muhammad (setiap huruf mengandung makna) fan juga dialog antara Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang tentang alam kubur. (hal. 106-107).

Selain itu, guru yang dikaguni Sadrach adalah pak Kurmen alias Sis Kanoman. Ketika Sadrah selesai mengembara di Jombang dan Ponorogo kemudian menetap di Semarang ia ketemu lagi dengan pak Kurmen yang sudah masuk Kristen. Dan Sadrach ikut juga masuk Kristen. 

Kata kunci ada di julukan Sis Kanoman. Karena kalau dalam tingkatan ilmu Jawa, yang pernah saya simak dari Dr. Fahruddin Faiz, ada lima tingkatan. 

Ilmu Kanoman, itu ilmu paling dasar, dilanjut ilmu kanuragan, terus ilmu kadonyan, ilmu kasepuhan dan berpuncak di ilmu kasampurnan. 

Nah, menyimak sepak terjang Sadrach, sepertinya setelah belajar ke Sis Kanoman, ia mengembara di Jombang dan di Ponorogo untuk belajar level ilmu kanuragan. 

Dan sepertinya, ia hanya sampai level ilmh kanuragan, sebab nanti dalam prakteknya, ia banyak menunundukkan para "kyai" selain dengan debat juga dengan adu kesaktian. 

Selain itu, di usia tuanya, ia dilarang melayani umat oleh gereja Belanda, salah satunya karena hobi kleniknya. Sadrach ini menjual keris yang sudah diisi alias keris sakti ke para pengikutnya. 
Sadrach Pecah Kongsi

Sebenarnya, perjumpaan pertama Radin (Sadrach muda) dengan kekristenan sudah terjadi saat ia merantau dan meguru di Jombang dan bertemu Jellesma. 

Jelle Eeljest Jellesma bukan orang Kristen sembarangan, ia adalah misionaris Nederlandsch Zendeling Gnoothschaap (NZG). Jellesma juga orang yang mengkristenkan Tunggul Wulung, yang akhirnya jadi misionaris pribumi sebelum Sadrach. 

Namun, pertemuan itu belum membuat Sadrach muda tertarik untuk pindah agama. 

Usai meguru di Jombang dan Ponorogo, Sadrach tinggal di kampung Kauman. Karena tinggal di kampung santri, ia menambahkan nama Abbas di belakang kata Radin. 

Di Semarang ini pula, ia ketemu lagi dengan pak Kurmen, alias Sis Kanoman yang pernah mendidiknya saat di peguron. Hanya saja, pak Kurmen waktu itu sudah memeluk Kristen karena kalah adu ngelmu dengan Tunggul Wulung. 

Singkat cerita, masuk Kristennya guru yang dihormati menjadikan Radin penasaran. Ia kemudian mengikuti pak Kurmen menemui Ibrahim Tunggul Wulung. 

Kekristenan bercorak Jawa yang dikembangkan Tunggul Wulung membuat Sadrach tertarik. Dan setelah adu ngelmu dan debat, Sadrach memutuskan untuk masuk Kristen. 

Tunggul Wulung, pak Kurmen dan Sadrach menjadi trio penginjil yang melayani masyarakat Bondho Jepara. 

Hanya saja, kongsi itu akhirnya bubar, karena Tunggul Wulung tergoda untuk poligami, menikah untuk kedua kali. Sadrach yang pendalaman alkitabnya cukup baik tentu tidak cocok. 

Dan mungkin kekecewaan Sadrach menjadi lebih dalam, ketika pak Kurmen akhirnya jatuh, menjadi pemadat. Sebutan untuk pecandu narkoba, kalau dulu biasanya penghisap opium. 

Dalam suasana kekecewaan mendalam itulah Sadrach mengaku mendapat wangsit untuk meninggalkan Bondho dan nantinya akan mengantarkannya ke Purworejo, tempat dimana ia mengembangkan kristen kejawennya secara lebih luas. Wiridan Kristen ala Coolen

Kristen adalah agama komunitas dimana gereja adalah organized religion dalam pengertian sebenarnya. Sedangkan di Jawa, agama lebih bercorak pribadi, karenanya penginjilan resmi yang mulai dijalankan sejak Raffles mengirim penginjil dari London Missionary Society, tidak mempan.

Hasil berbeda ketika dilakukan pendekatan ala Kristen kejawen oleh Coenraad Laurens Coolens. Dengan pendekatan kebudayaan, Coolen mampu menembus benteng pertahanan Islam orang Jawa. 

Coolen, adalah blasteran Rusia - Jawa. Bapaknya, imigran Rusia yang menjadi prajurit bayaran VOC, ibunya perempuan bangsawan Jawa. Dari bapaknya Coolen mewarisi nilai-nilai Kristen Barat, dari ibunya mewarisi ruh mistik kebudayaan Jawa. 

Menurut Coolen, jadi Kristen itu tidak perlu meninggalkan kejawaan. Tetap bersunat, tidak perlu dibaptis dan tidak usah berangkat ke gereja. Selain itu, Coolen memanfaatkan wayang untuk mengisahkan pesan-pesan alkitab.

Karena tidak ke gereja, kebaktian dilaksanakan di rumah Coolen yang berpendapa besar. Sebelum kebaktian dimulai, para pengikut Coolen melakukan wirid tembang syahadat.

Sun angandel Allah Sawiji, La ilaha ilallah
Yesus Kristus ya Rohullah Kang Nglangkungi Kwasanipun
La ilaha ilallah, Yesus Kristus ya Rohullah

Aku percaya bahwa Allah adalah Esa, La ilha ilallah
Yesus Kristus adalah Roh Allah yang punya kuasa atas segala sesuatu
Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Yesus Kristus adalah Roh Allah

Tembang sahadat dilafadzkan berjama'ah disertai tepuk tangan dan goyangan kepala ke kiri dan ke kanan sebagaimana lazimnya orang yang sedang mujhadahan berdzikir. Lirik dilantunkan berulang-ulang selama satu hampir satu jam. 

Kristen kejawen al Coolen ini akhirnya terendus. Pada 1851, NZG: Nederlandsch Zendeling Genootschap, kemudian bekerja menginjili orang Jawa mengutus Pdt. J.E. Jellesma (1816–1858).

Beberapa tahun sebelum itu, Coolen memang sudah mulai meredup, karena ia dituduh hidup dalam perzinahan. Perlu dicatat, Coolen meninggalkan istrinya yang tidak mau diajak hidup di perkebunan, dan setelah itu ia menikah secara Islam dengan Sadijah.

Hakim akhirnya memutuskan untuk memberi status “pengawasan” karena “melanggar ketertiban umum” kepada Coolen. Namun pada bulan Oktober 1844, ia dilepaskan dari hukuman dan dibolehkan kembali ke Ngoro. Karena pemerintah menganggap Coolen dalam ‘keadaan mental yang tak sehat’.

Jadi sebenarnya, dari padepokan Coolenlah Kristren ala kejawen ini dilahirkan. Ibrahim Tunggul Wulung ataupun Sadrach itu sekedar melanjutkan. Dari padepokan Coolen tercatat nama-nama penginjil dari pribumi, seperti Singotruno, Paulus Tosari, Matius Niep dan yang paling berpengaruh adalah murid tidak langsung generasi ketiga yakni Sadrach.
Masjid tapi Kristen ala Sadrach

Ketika Kiai Sadrach masih hidup, namanya bukan Gereja Kristen Jawa, Tapi Masjid Kristen. 

Pada bangunan ibadah bercorak masjid Jawa inilah, Sadrach mengangkat diri jadi Kiai. Ia merasa sudah layak jadi Kiai karena muridnya sudah banyak. 

Jadi, Sadrach ini murni Kiai Kristen, bukan Kiai pesantren yang murtad. 

Selain, menamai gerejanya dengan masjid Kristen, menurut Lidya Herwanto, ada pernyataan Sadrach yang kontroversial tentang masjid tersebut. 

Menurut Sadrach, dengan adanya masjid Kristen tersebut, orang Jawa tak perlu lagi berangkat Haji ke Mekkah, cukup ke Karanjgoso saja. 

Dalam hal ini, sepertinya Sadrach menjadi korban politik bahasa kaum misionaris dimana dalam menerjemahkan istilah Bible, mereka memakai istilah yang dekat dengan istilah Islam.

Dalam sebuah artikelnya, ustadz Menachem Ali mengutip surat yang dikirim M.H.C. Klinkert di tahun 1861, kepada sebuah penerbit di Belanda : 

“Dalam pruf cetak dengan aksara Romawi, saya memakai ejaan Jesoes Kristoes, sedangkan dalam pruf cetak dengan aksara Arab, saya menggunakan Isa el-Meseh. 

Saya sengaja berbuat demikian, karena edisi dengan aksara Romawi terutama diperuntukkan bagi orangorang Kristen keturunan Eropa, dan biasa dipakai dalam gereja, sedangkan yang menggunakan aksara Arab terutama ditujukan kepada orang-orang Muslim yang berpendidikan.

Menurut saya, saya harus memberikan kepada masing-masing apa yang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, yang paling mudah dipahami olehnya, dan yang paling tidak menyinggung perasaannya.” 

Jadi pada masa itu, gereja diterjemahkan jadi masjid Kristen, Kanisah jadi Masjid Yahudi. 

Jadi termasuk tetap dipakainya kata Allah untuk menerjemahkan kata God itu adalah sisa politik bahasa misionaris kolonial tersebut.

Rujukan :
C. Guillot, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa

Lidya Herwanto, Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach, Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka.
Rujukan :
Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa, C Guillot
Yesus dan Dewi Sri, Phillip van Akereen
Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia, Pdt. Jans Aritonang
Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya.


(15052026)(TUS)

Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Pertunjukan Kasih illahi

Sudut Pandang Yohanes 17:20-23, Pertunjukan Kasih illahi PENGANTAR Dunia menawarkan dua macam kesatuan. Di satu sisi, kesatuan menjadi keser...