๐ก๐ฎ๐๐ฎ๐น, ๐ฆ๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐ฑ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ธ๐๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฑ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ
Jangan bertanya kepada saya kapan Yesus lahir. Dalam tulisan di atas sudah sangat jelas bahwa saya menerima 25 Desember sebagai hari raya liturgis. Saya tidak ambil pusing apakah perayaan liturgis itu mengadopsi dari perayaan pagan. Kalau betul mengadopsi, emangnya kenapa? Imanmu terganggu?
Kata kunci ๐๐๐ง๐จ๐ฅ๐๐๐ฆ.
2018 awal, saya diberi kesempatan sama mas Bambang Noorsena (selanjutnya saya sebut mas BN) untuk mengkritisi, tulisannya tentang 25 Desember, tanggal lahir Yesus, kemudian itu diupload di FBG Bengkel Liturgi dan FBG Orthodoks Suryani. Mas BN pernah bersama mengajar di STTBI di Cepogo, Boyolali .... Walaupun hanya sebagai dosen tamu berkala. Pernah hampir menjadi supervisor saya, tetapi tidak dimungkinkan karena S2 dan S3 mas BN itu di bidang hukum bukan Teologia. Tulisan ini saya angkat lagi, karena akan masuk ke Natal 2026 dan bbrp teman di FBG Bengkel Liturgi memintanya lagi.
PEMAHAMAN
Bacaan: Lukas 1:26-38
๐ญ. ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ฎ๐ป: ๐๐ฒ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐น๐ท๐
BN sedang membongkar sebuah kekeliruan populer. Ia mengecam gambaran Natal yang telah dibentuk oleh imajinasi Eropa: salju, pohon Natal dengan kapas sebagai salju, dan gembala yang dibayangkan berada di tengah bentanglahan musim dingin Eropa.
Dalam hal ini kritik BN masuk akal. Betlehem bukan Eropa. Gambaran visual Natal yang kita warisi dari kebudayaan Eropa memang tidak boleh begitu saja diprojeksikan ke Timur Tengah abad kesatu, kata BN. Saya menerima argumen ini.
๐ฎ. ๐๐๐จ๐๐ฃ๐๐ ๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ฑ ๐ธ๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ
BN kemudian membawa pendengar kepada sejarah gembala, ๐๐ช๐ด๐ฉ๐ฏ๐ข๐ฉ, ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ, domba untuk kurban Bait Allah, dan akhirnya kepada kesimpulan yang jauh lebih luas mengenai kemungkinan waktu kelahiran Yesus. Di sinilah saya melihat pola yang berbeda: BN memula dengan kritik yang sah terhadap imajinasi budaya, tetapi kemudian menggunakan rangkaian data sejarah dan rekonstruksi untuk menghasilkan kepastian.
Dengan kata lain persoalannya bukan pada upaya BN mengoreksi gambaran Natal yang “kebarat-baratan”. Persoalannya adalah ketika koreksi terhadap gambaran budaya tersebut kemudian diberi bobot seolah-olah menjadi pembuktian historis. Di sinilah saya melihat apa yang saya sebut sebagai ๐ฅ๐จ๐๐ช๐๐ค-๐๐๐จ๐ฉ๐ค๐ง๐๐๐๐ก ๐ง๐๐๐จ๐ค๐ฃ๐๐ฃ๐ dengan kemasan ilmiah. Bukan lantaran data yang digunakan semuanya keliru. Justru banyak datanya menarik dan layak dipelajari. Persoalannya adalah cara data, rekonstruksi, dan kesimpulan dipertautkan sehingga batas di antara ketiganya menjadi kabur.
Sebagai contoh: BN mengutip ๐๐ช๐ด๐ฉ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐๐ฉ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ 7:4 tentang wilayah dari Yerusalem sampai ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ. Memang teks itu menyebut binatang yang ditemukan di antara Yerusalem dan ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ diperlakukan sebagai hewan kurban: jantan sebagai kurban bakaran dan betina sebagai kurban keselamatan.
Padahal ๐๐ช๐ด๐ฉ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐๐ฉ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ 7:4 ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป: "Ada kelompok gembala khusus di ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ yang menggembalakan domba kurban Bait Allah." Yang dikatakan adalah aturan mengenai ๐ต๐ฒ๐๐ฎ๐ป atau ๐ฏ๐ถ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด yang ditemukan di wilayah tertentu dan bagaimana status kurbannya diperlakukan.
Secara literal ๐๐ช๐ด๐ฉ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐๐ฉ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ 7:4 mengatakan: “Binatang (๐๐๐๐๐ข๐๐, bukan domba) yang ditemukan dari Yerusalem sampai ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ, dan dengan jarak yang sama ke segala arah: yang jantan adalah kurban bakaran; yang betina adalah kurban keselamatan. Rabi Yehuda berkata: yang layak untuk kurban Paska adalah kurban Paska, [jika ditemukan] tiga puluh hari sebelum hari raya.” [Lih. https://www.mishnah.org/learn/shekalim/7/4/ ]
Sangat terang teks di atas tidak memberikan informasi tentang keberadaan kelompok gembala khusus di ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ, tidak mengatakan bahwa mereka menggembalakan domba kurban Bait Allah, dan tidak sedang memberikan catatan historis mengenai pekerjaan para gembala di wilayah tersebut. Teks itu sedang membahas persoalan hukum mengenai binatang yang ditemukan dan asumsi hukum mengenai status kurbannya.
๐ฏ. ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐๐ผ๐ฑ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฐ๐๐ธ๐๐ฝ ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐
Saya justru tertarik dengan kalimat BN: "sumber 100 tahun kemudian lebih penting daripada sumber 500 tahun kemudian."
Secara intuitif benar bahwa sumber yang lebih dekat dengan suatu peristiwa dpat bernilai keterbuktian lebih besar, tetapi dalam historiografi rumusnya tidak sesederhana itu. Sumber abad ke-2 tidak otomatis lebih dapat dipercaya daripada sumber abad ke-5. Yang harus ditanyakan: siapa petulisnya, kapan ditulis, berdasarkan sumber apa, apakah petulis mempunyai akses kepada tradisi sebelumnya, apa tujuan teks, bagaimana turun-alihnya, apakah teks tersebut sedang membuat aturan normatif atau sedang memberikan laporan historis? Jadi, ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐น ๐๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ผ๐๐ผ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ ๐ธ๐๐ฎ๐น๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ.
Analogi BN: "Kalau kakek Gajah Mada memberi wangsit kepada saya..." juga agak menggelikan sebagai metodologi sejarah. Itu bukan perbandingan yang setara dengan sumber kuno yang dapat dianalisis secara tekstual. Ia sedang membuat ๐ง๐ข๐ญ๐ด๐ฆ ๐ฅ๐ช๐ค๐ฉ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ฎ๐บ: sumber sejarah yang dapat diverifikasi vs. wangsit.
๐ฐ. ๐ฆ๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฒ๐ฟ
Menurut saya ๐ถ๐ป๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ธ๐ฒ๐น๐ถ๐ฟ๐๐ฎ๐ป ๐ต๐ถ๐๐๐ผ๐ฟ๐ถ๐ผ๐ด๐ฟ๐ฎ๐ณ๐ถ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ธ. BN mengatakan: "kitab Injil itu sumber primer karena ditulis oleh murid-muridnya Yesus, mengalami peristiwanya."
Lukas 1:1-4 mengatakan bahwa petulis Injil menerima informasi dari mereka yang sejak semula menjadi saksi mata dan pelayan firman. Artinya, petulis Lukas justru membedakan dirinya dari para saksi mata. Dengan kata lain ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ธ๐๐ถ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฒ๐ฟ. Di sini Lukas menafsir informasi yang didapatkannya, lalu membangun kisah teologinya. Jadi, Injil Lukas malah ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฒ๐ธ๐๐ฝ๐น๐ถ๐๐ถ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ป๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ก.
Tradisi Gereja kemudian menghubungkan Lukas dengan rekan Paulus, tetapi bahkan tradisi itu tidak membuat Lukas menjadi saksi mata pelayanan Yesus. Kalau BN sedang berkhotbah berdasarkan Lukas 1:26-38, lalu ia menjelaskan teori sumber dengan mengatakan: "Injil adalah sumber primer karena ditulis murid-murid Yesus yang mengalami peristiwa" terlalu simplistik dan secara khusus ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐น ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต๐ป๐๐ฎ. Ironis, bukan?
๐ฑ. ๐ฟ๐๐๐๐จ๐๐๐ก๐๐ ๐ญ๐ด๐ต ๐ญ๐
[Cat.: Dalam hal sejarah gereja saya mengikuti tradisi pakar-pakar sejarah gereja menggunakan ๐ก๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข (ZB) alih-alih ๐๐ข๐ด๐ฆ๐ฉ๐ช (M).]
Ini bagian yang menurut saya paling perlu diberi tanda merah. BN mengatakan ia menemukan Didascalia Apostolorum di Wadi El Natrun, lalu menyatakan: "Didascalia ... ditulis tahun 189 Masehi." Ia kemudian menggunakannya untuk mengatakan bahwa Natal 25 Desember sudah ditetapkan jauh sebelum Aurelius.
Ada masalah kronologis di sini. Didascalia Apostolorum pada umumnya ditempatkan oleh para ahli pada ๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ฑ ๐ธ๐ฒ-๐ฏ, bukan 189 ZB. Ada perbedaan mengenai tanggal persisnya, tetapi konsensus umumnya sekitar paruh pertama abad ke-3, sementara ada juga penanggalan lebih kemudian.
Jadi, apabila BN mengatakan: "ditulis tahun 189" itu bukan penanggalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Persoalan kedua adalah bahwa menemukan manuskrip tua tidak sama dengan menemukan teks yang ditulis pada zaman manuskrip itu dibuat. Dalam kritik teks kita harus membedakan tiga hal: ๐ธ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐ฎ๐๐น๐ถ ๐ฑ๐ถ๐๐๐๐๐ป, ๐ธ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐ถ๐๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐ป๐๐๐ธ๐ฟ๐ถ๐ฝ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐๐ฎ๐. Sebuah manuskrip dapat berasal dari abad tertentu, tetapi teks yang dikandungnya bisa jauh lebih tua. Manuskrip yang kita temukan hanyalah saksi tertulis yang masih bertahan, bukan otomatis tanggal lahir teks tersebut.
BN justru menggunakan narasi penemuan manuskrip sebagai semacam kartu truf: saya menemukan sumber kuno di sebuah biara, maka sumber itu seolah-olah otomatis menjadi bukti yang mengalahkan ensiklopedia Barat. Retorikanya memang kuat, tetapi sejarah tidak bekerja dengan prinsip Timur benar, Barat salah. Yang harus diuji adalah usia sumber, asal-usul teks, turun-alih, konteks, dan isi sumber itu sendiri.
๐ฒ. ๐๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ถ๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐จ๐๐๐ก๐๐?
Ada tradisi teks yang memautkan perayaan kelahiran Kristus dengan tanggal tertentu, tetapi masalahnya adalah identifikasi kalendernya.
Dalam tradisi ๐๐บ๐ณ๐ช๐ข๐ค/๐๐ช๐ฅ๐ข๐ด๐ค๐ข๐ญ๐ช๐ข yang dibicarakan dalam literatur ada pula pembicaraan tentang Epifani pada 6 Januari. Penanggalan dan lapisan redaksional teks tersebut kompleks. Tidak bisa begitu saja: "๐๐ช๐ฅ๐ข๐ด๐ค๐ข๐ญ๐ช๐ข abad 2 ➡️ Natal 25 Desember ➡️ selesai, terbukti."
Harus dibuktikan dulu: (1) teks yang mana, (2) bahasa asli yang mana, (3) manuskrip mana, (4) lapisan redaksi mana, (5) istilah kalender mana, (5) bagaimana konversinya ke kalender Julian, dan (6) apakah teks itu benar-benar berbicara tentang ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐น ๐ธ๐ฒ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ต๐ถ๐๐๐ผ๐ฟ๐ถ๐ ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ atau ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐น ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ๐? Itu enam langkah yang dilewati BN dalam hitungan beberapa menit.
๐ณ. ๐ง๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ค๐ก ๐๐ฃ๐ซ๐๐๐ฉ๐ช๐จ
BN benar ketika mengatakan bahwa narasi populer: "Natal = ๐๐ข๐ต๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข๐ญ๐ช๐ข " adalah keliru. ๐๐ข๐ต๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข๐ญ๐ช๐ข bukan perayaan 25 Desember; ๐๐ข๐ต๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข๐ญ๐ช๐ข berlangsung 17–23 Desember. Juga benar bahwa keterpautan Natal dengan ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด jauh lebih rumit daripada meme: "Gereja mengambil ulang hari raya dewa matahari."
Namun, BN kemudian mengatakan Aurelius baru menetapkan perayaan matahari sekitar 247 ZB dan tanggalnya bukan 25 Desember, lalu menyimpulkan narasi Natal adalah adopsi ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด "1000% salah". Nah, ini juga berlebihan.
Ada bukti kuat bahwa kultus ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด mendapat status penting sebagai kultus kekaisaran pada masa Aurelian, 274 M, dan 25 Desember kemudian memang tercatat sebagai ๐๐ข๐ต๐ข๐ญ๐ช๐ด ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ช dalam ๐๐ฉ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ฑ๐ฉ๐บ ๐ฐ๐ง 354.
Yang memang tidak boleh dilakukan adalah menyederhanakannya menjadi: Aurelius menciptakan 25 Desember khusus untuk ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด, lalu gereja mencuri tanggal itu untuk Natal. Hubungan kausal tersebut tidak terbukti secara sederhana. Bahkan penelitian modern menilai hubungan antara kedua perayaan itu masih diperdebatkan.
Jadi posisi akademis yang lebih sehat: Ada hubungan kronologis dan simbolis yang mungkin, tetapi bukti bahwa Natal sengaja diciptakan sebagai penyulih ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด belum konklusif. Itu jauh lebih kuat daripada mengatakan "1000% salah."
๐ด. ๐๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ๐ป "๐ก๐ฎ๐๐ฎ๐น ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ป” ๐๐ฎ๐ธ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฒ๐น๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฅ๐จ๐๐ช๐๐ค-๐๐๐จ๐ฉ๐ค๐ง๐ฎ
Menurut saya BN sebenarnya tidak perlu berjuang sekeras itu. Ia cukup mengatakan: “Kita tidak memiliki bukti bahwa orang Kristen menetapkan 25 Desember hanya karena ingin mengambil alih perayaan pagan.” Itu sudah sah.
Penelitian sejarah modern pun belum memberi kepastian tinggi bahwa: Natal = kristenisasi ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด. Akan tetapi bukan berarti 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus.
Apabila dibuat pertanyaan:
♦️Pertanyaan A: Apakah Natal 25 Desember berasal dari perayaan pagan? Tidak dapat dibuktikan secara sederhana.
♦️Pertanyaan B: Apakah Yesus benar-benar lahir 25 Desember? Juga tidak dapat dibuktikan dari bukti yang tersedia.
BN tampaknya ingin memenangi A, lalu menganggap memenangi B juga. Padahal tidak.
๐ต. ๐๐ฒ๐ธ๐ฒ๐น๐ถ๐ฟ๐๐ฎ๐ป ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐ธ๐ฎ
BN berulang kali menggunakan rumusan: "Anda percaya ensiklopedia orang Barat atau saksi mata Timur Tengah?"
Ini retorika anti-otoritas yang sangat efektif, tetapi bukan argumentasi ilmiah, karena masalah sejarah bukan soal Barat vs Timur, melainkan:
▶️Apa sumbernya?
▶️Berapa tua?
▶️Apa teksnya?
▶️Bagaimana turun-alihnya?
▶️Apa konteksnya?
▶️Bagaimana para ahli menilai bukti itu?
Sebuah sumber dari Timur Tengah tidak otomatis lebih benar karena berasal dari Timur Tengah. Sama seperti sumber Barat tidak otomatis keliru karena berasal dari Barat.
Kalau begitu metodologinya berubah dari: ๐ฉ๐ช๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ค๐ณ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ช๐ด๐ฎ menjadi ๐จ๐ฆ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ฑ๐ฉ๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ฆ๐ด๐ด๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ข๐ญ๐ช๐ด๐ฎ.
๐ญ๐ฌ. ๐ง๐ฒ๐ธ๐ป๐ถ๐ธ ๐ฟ๐ฒ๐๐ผ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ก
BN melakukan pola yang sangat khas:
▶️ Langkah 1: Berikan fakta yang benar. Contoh: Betlehem bukan Eropa. Benar.
▶️ Langkah 2: Sajikan angka. Contoh: 15°C, 8°C. Angka membuat pernyataan terdengar ilmiah.
▶️ Langkah 3: Tampilkan istilah teknis. Contoh: ๐๐ช๐ด๐ฉ๐ฏ๐ข๐ฉ, ๐๐ฉ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ, ๐๐ช๐จ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฅ๐ฆ๐ณ, ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ด๐ค๐ข๐ญ๐ช๐ข ๐๐ฑ๐ฐ๐ด๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ณ๐ถ๐ฎ. Pendengar awam langsung memeroleh kesan: "Wah, ini riset."
▶️ Langkah 4: Tetapkan tanggal yang sangat presisi. Contoh: 126 ZB, 189 ZB, 247 ZB, 274 ZB
Presisi kronologis menghasilkan aura kepastian.
▶️ Langkah 5: Lompat dari data ke kesimpulan.
Presisi data tidak sama dengan kepastian kesimpulan.
๐ญ๐ญ. ๐๐จ๐๐ช๐๐ค-๐จ๐๐๐๐ฃ๐๐?
Saya sedikit menghaluskan istilahnya. Saya menyebutnya: ๐ฅ๐จ๐๐ช๐๐ค-๐๐๐จ๐ฉ๐ค๐ง๐๐๐๐ก ๐ง๐๐๐จ๐ค๐ฃ๐๐ฃ๐ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ถ๐น๐บ๐ถ๐ฎ๐ต.
Bukan lantaran semua datanya palsu. ๐๐๐๐๐ฟ๐ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ๐ธ๐ป๐๐ฎ. Sebagian data yang dia pakai benar. Yang bermasalah adalah cara fakta-fakta itu dirangkai. BN sering bergerak dari: kemungkinan ➡️ kementakan ➡️ kepastian, tanpa memberi tahu pendengar bahwa ia sedang melakukan lompatan.
Khotbah BN ini memakai ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ญ:๐ฎ๐ฒ-๐ฏ๐ด, tetapi hampir seluruh energi intelektualnya justru diarahkan kepada pertanyaan: "Apakah Yesus lahir 25 Desember?" Padahal Lukas 1:26-38 sama sekali tidak memberikan tanggal kelahiran Yesus. Pasal 1 ini juga tidak mengisahkan kelahiran Yesus, tidak bercerita tentang kawanan gembala. Terjadi semacam ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ท๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐.
๐ฆ๐ฎ๐๐ฎ (๐ ๐๐ฆ) ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฑ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ
Saya ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐บ๐ฏ๐ถ๐น ๐ฝ๐๐๐ถ๐ป๐ด apabila ternyata 25 Desember memang merupakan hasil adopsi, penafsiran-ulang, atau kristenisasi terhadap suatu hari raya yang sebelumnya memiliki makna pagan ๐๐ฐ๐ญ ๐๐ฏ๐ท๐ช๐ค๐ต๐ถ๐ด. ๐ ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐ด๐ป๐๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ?
Bagi saya persoalannya justru terletak pada cara kita memahami hari raya liturgi. Hari raya liturgi ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐น๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ฟ ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐๐ฎ๐ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ต๐ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ: “Pada tanggal inilah peristiwa itu secara historis terjadi.”
Hari raya liturgi adalah ๐ฑ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฎ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ป๐ฎ. Gereja melakukan semacam rekayasa (๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฆ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ) liturgis untuk memastori dan membina umat agar umat dapat semakin menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. OKI saya tidak perlu memertahankan 25 Desember sebagai tanggal historis kelahiran Yesus agar Natal mempunyai makna.
Tanggal itu adalah bagian dari konstruksi liturgis gereja untuk merayakan kelahiran Kristus. Justru karena hari raya liturgi merupakan konstruksi gereja sejarah pembentukannya tidak perlu disembunyikan.
๐๐ค๐ก ๐๐ฃ๐ซ๐๐๐ฉ๐ช๐จ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ก๐ฎ๐๐ฎ๐น
Kalau ternyata Gereja pernah menggunakan simbolisme atau momentum yang sebelumnya mempunyai makna dalam dunia pagan, saya ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐๐ธ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐น ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐. Justru sejarah tersebut dapat memerkaya penghayatan iman. Bukankah gereja sejak dahulu melakukan proses ๐ฟ๐ฒ๐ถ๐ป๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ฟ๐ฒ๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ถ๐บ๐ฏ๐ผ๐น?
Matahari merupakan simbol yang sangat kuat dalam dunia kuno. Gereja tidak harus takut terhadap simbol tersebut. Gereja dapat memberinya makna baru dalam terang Kristus. Ketika umat menyanyikan ๐ณ๐ฆ๐ง๐ณ๐ข๐ช๐ฏ NKB 72:
๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด, ‘๐๐ข๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ช๐ง๐ฎ๐ ๐ง๐๐๐ข๐๐ฉ, ‘๐๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ.
๐๐ฆ๐ณ๐ด๐บ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ด’๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ซ๐ช ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข-๐๐ถ!
saya justru dapat menghayatinya dengan lebih kaya ketika mengetahui sejarah simbolisme matahari dalam kebudayaan kuno.
๐๐ค๐ก ๐๐ฃ๐ซ๐๐๐ฉ๐ช๐จ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ป๐ฐ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐. Yang terjadi justru sebaliknya: Gereja mengakui bahwa simbol yang sebelumnya dipakai untuk berbicara tentang kuasa ilahi dapat dibaca ulang ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐. Yang tadinya ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ kini justru dapat menjadi latar simbolik untuk mengaku: ๐๐๐จ๐ช๐จ๐ก๐๐ ๐๐ช๐ง๐ฎ๐ ๐ง๐๐๐ข๐๐ฉ.
Dengan demikian sejarah liturgi tidak perlu dijadikan sesuatu yang harus ditutup-tutupi demi menyelamatkan iman.
๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ฎ๐ฝ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฟ๐ผ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐
Saya kira di sinilah BN dan saya bergerak ke arah yang berbeda. BN tampaknya memerlakukan tanggal 25 Desember sebagai sesuatu yang harus dibela secara historis. Jika tanggal itu merupakan hasil adopsi dari tradisi pagan, maka seolah-olah ada masalah terhadap keaslian Natal. Saya tidak melihatnya demikian.
Ketika Gereja merayakan Natal pada 25 Desember, Gereja tidak sedang mengatakan: “Kami memiliki bukti historis bahwa Yesus lahir tepat pada tanggal ini.” Gereja sedang berkata: “๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ถ๐ป๐ถ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐.” Itu adalah ๐๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ๐ dan ia tidak kehilangan maknanya hanya karena tanggalnya bukan tanggal historis.
Perbedaan penghampiran (๐ข๐ฑ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ข๐ค๐ฉ) antara BN dan saya terlihat jelas ketika saya membaca Lukas 1:26-38. Saya tidak memula perikop itu dengan pertanyaan: “Bulan apa Yesus lahir?” Saya bertanya:
“๐๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐น๐๐ถ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ถ๐ป๐ถ?”
Lukas menyusun kisah pemberitahuan kelahiran Yohanes dan Yesus secara paralel. Dari sana ia membangun perbedaan dan keunggulan Yesus.
♦️Yohanes akan menjadi besar di hadapan Tuhan.
♦️Yesus akan disebut ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฎ๐ต๐ฎ ๐ง๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ถ. Yesus akan menerima takhta Daud dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.
Pertanyaan utama Lukas bukan tanggal kelahiran. Pertanyaan utamanya adalah: ๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฎ ๐ถ๐๐? ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฝ๐๐๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ผ๐ฝ.
Saya membagi perikop ini ke dalam empat gerakan:
▶️Malaikat menjumpai Maria.
▶️Maria terkejut.
▶️Maria bingung.
▶️Maria hamba Tuhan.
Perjalanan itu membawa pembaca menuju ayat 38: “๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ.” Di sinilah saya menemukan pusat perikop.
Maria tidak mengetahui seluruh konsekuensi dari apa yang akan terjadi. Ia tidak meminta Gabriel memberikan kronologi historis kelahiran Yesus. Ia tidak meminta kepastian tentang tanggal. Maria menerima panggilan Allah dengan segala risikonya. Lukas hendak menjadikan Maria ๐บ๐ผ๐ฑ๐ฒ๐น ๐ต๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป. [๐๐ช๐ฉ. ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ช๐ก๐ช๐ ๐๐๐ข๐ช ๐ ๐ ๐๐๐ก๐๐๐, hlm. 17. Dapatkan bukunya di sini https://www.tokopedia.com/buku-apik-991 ]
๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ถ ๐ก๐ฎ๐๐ฎ๐น ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐ฑ๐ฒ๐บ๐ถ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต
Saya justru khawatir terhadap khotbah yang menghabiskan bagian terbesar energi untuk membuktikan bahwa 25 Desember bukan hasil pengaruh pagan. Setelah semuanya selesai, saya ingin bertanya: Lalu apa yang terjadi terhadap Lukas 1:26-38?
Gereja tidak berkumpul pada Natal untuk mengagumi kecanggihan rekonstruksi sejarah. Gereja berkumpul untuk merayakan Kristus. Lukas membawa kita bukan kepada kalender, melainkan kepada Kristus. Juga bukan kepada perdebatan apakah 25 Desember merupakan tanggal historis, tetapi kepada Maria yang berkata: “๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ.”
Saya bahkan tidak perlu membuktikan bahwa 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus. Saya ๐ฐ๐๐ธ๐๐ฝ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ธ๐๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ท๐๐ท๐๐ฟ: saya tidak mengetahui tanggal historis kelahiran Yesus. Namun, saya tahu apa yang hendak dirayakan Gereja. Saya tahu bagaimana Lukas hendak membawa kita menghayatinya.
Kalau sejarah menunjukkan adanya proses adopsi atau reinterpretasi simbol dan tanggal, saya tidak perlu panik. Saya justru ingin memahami proses itu, karena dengan memahami sejarah hari raya liturgi, umat dapat semakin sadar bahwa Gereja tidak sekadar mewarisi kalender, tetapi ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ผ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐บ๐ฏ๐ผ๐น, ๐๐ฎ๐ธ๐๐, ๐ป๐๐ฎ๐ป๐๐ถ๐ฎ๐ป, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ป๐๐๐ธ ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐๐บ๐ฎ๐.
Ketika saya menyanyikan:
๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด, ‘๐๐ข๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ถ๐ณ๐บ๐ข ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ข๐ต,
‘๐๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ.
saya tidak sedang terganggu oleh kemungkinan sejarah di balik simbol matahari. Saya justru semakin memahami bagaimana Gereja mengambil bahasa budaya manusia dan mengarahkannya kepada ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐. ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ต. ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป.
Pada akhirnya Natal bukan membutuhkan pembuktian bahwa 25 Desember adalah tanggal kelahiran Yesus. Untuk menyiapkan diri menyambut Natal umat bersedia mengatakan bersama Maria: “๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ.”
Sebagai penutup dapat saya katakan bahwa saya pernah menjadi murid Bambang Noorsena. Dalam perjalanan berteologi saya kemudian memilih penghampiran (๐ข๐ฑ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ข๐ค๐ฉ) yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan sejarah terutama sebagai perangkat untuk membela iman atau membuktikan kebenaran suatu keyakinan. Saya lebih memilih membaca teks apa adanya, memerhatikan bagaimana petulis membangun narasinya, apa yang hendak disampaikannya kepada pembaca, dan bagaimana teks itu kemudian membentuk iman umat.
Bedah khotbah BN ini hendaklah tidak dipahami sebagai upaya saya melawan guru saya. Justru sebaliknya BN telah menjadi bagian dari perjalanan saya dalam berteologi. Apa yang pernah saya pelajari dari BN turut membentuk cara saya melihat Alkitab dan sejarah. Dalam perjalanan itu saya kemudian menemukan penghampiran yang berbeda dan memilih untuk berjalan di jalur tersebut.
Bagi saya berbeda penghampiran tidak harus berarti kehilangan rasa hormat kepada orang yang pernah mengajar saya. Justru karena pernah belajar darinya saya dapat melanjutkan perjalanan itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekarang saya ajukan sendiri.
(29092026)