Jumat, 25 September 2026

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

PENGANTAR 
Ini masalah perkembangan pemahaman (tafsir) perangkap, jaring, dan jerat shg tafsir untuk murid - murid yg menangkap/menjaring ikan itu berkembang dalam Injil.
Dalam metafora sastra Ibrani itu perangkap, jaring dan jerat itu dimaksud kan ulama/pemimpin agama dan Umara/Umaroh pemimpin pemerintahan/pejabat/keluarga raja, yang tidak jadi teladan, shg tafsir tentang murid yg menjaring ikan, berkembang, tidak lagi, tidak hanya menjaring jiwa atau 153 jenis ikan harus menjaring jiwa seluruh dunia. Dalam pemahaman zamannya, menjaring ikan, ikan itu pasti akan mati, dibakar, dimakan, shg tafsir berkembang menjaring ikan itu kritisi penulis Injil, untuk pengikut Yesus, untuk berani mengkritisi ulama dan umarah, apalagi posisi umat Matius thp Yudaisme dan sinagoge dan Lukas thp pemerintah Romawi, termasuk kritisi penulis Injil untuk nasib ulama dan umarah yg tidak sejalan dg kehendak Tuhan. Itu memang metafora khas dalam sastra Ibrani, perkara jaring, perangkap, dan jerat. Metafora sastra Ibrani ini digunakan baik di PL dan PB. Jaring, perangkap, dan jerat juga metafora atas hukuman akhir di hari Tuhan pada ulama dan Umaroh yg tidak bisa menjadi teladan bagi umat bahkan menjerumuskan umat, jadi itu kritikan penulis Injil Matius atas ketidak adilan yg diterima jemaat Matius oleh pemuka agama atau para imam dalam hal ini Yudaisme dg pengusiran jemaat Matius dari sinagoge dan klaim sebagai aliran sesat yg patut dirajam, demikian hal mirip dg penulis Injil Lukas atas penguasa Romawi, maka ikan yg terjaring menjadi gambaran akhir hidup ulama dan Umaroh yg tidak bisa menjadi teladan. Ikan yg terjaring pasti mati, baik itu dipisahkan ataupun tidak, pemisahan ikan itu lambang antara pemuka agama dan pejabat pemerintah yg keduanya sama-sama tidak bisa jadi teladan bahkan menyesatkan umat. Jadi, metafora itu memaknai secara keras, satu, kritisi keras thp ulama dan Umaroh yg tidak bisa jadi teladan dan menyesatkan umat, kedua, hukuman keras atas ulama dan Umaroh yg tidak bisa jadi teladan dan menyesatkan umat, sering dikaitkan dg hari Tuhan
PEMAHAMAN 
Highlight utama: Hosea 5:1 dan Amos 3:5

Hosea 5:1, secara eksplisit menyapa para imam, kaum Israel, dan keluarga raja. Metafora Mizpa dan Tabor sebagai “jerat” menunjukkan bahwa para pemimpin yang seharusnya membimbing umat justru menjadi alat penyesatan dan penghakiman serta teladan buruk bagi umat. Karena itu, teks ini mendukung pembacaan bahwa kepemimpinan agama dan politik dapat dikritik ketika tidak memberi teladan serta menjerumuskan umat.

Amos 3:5 memakai gambaran perangkap untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam tindakan Allah terhadap Israel. Namun, ayat ini tidak secara eksplisit menyebut pemimpin agama atau pejabat pemerintahan, tetapi arahnya tetap sama ketika kitab ini dibaca keseluruhan. Hubungan dengan kritik kepemimpinan harus dibangun dari konteks kitab Amos secara keseluruhan, bukan dari ayat ini saja.

Dalam PL, pola metafora jerat, jaring, dan perangkap memiliki beberapa fungsi:

Hosea 7:12 dan Hosea 9:8 menggambarkan umat yang terperangkap serta nabi yang menjadi penjaga tetapi menghadapi permusuhan. Kritiknya terutama berkaitan dengan ketidaksetiaan Israel dan kegagalan fungsi kenabian pada pemimpin agama dan pemimpin politik.

Yeremia 5:26 menyebut orang-orang fasik yang memasang perangkap untuk menangkap manusia. Ini mendukung kritik terhadap pihak yang mengeksploitasi sesamanya, dan aktornya adalah pemimpin agama dan pemimpin politik.

Yeremia 18:22 memakai gambaran perangkap dalam konteks hukuman atas orang-orang yang merencanakan kejahatan terhadap Yeremia.

Yesaya 8:14-15 dan Yesaya 24:17-18 menggambarkan Tuhan sebagai batu sandungan serta datangnya kengerian dan perangkap atas penduduk yang tidak taat, hukuman pada pemimpin agama dan politik yg kehilangan swara kenabian.

Dalam PB, Matius 13:47-50, memakai jaring sebagai gambaran pemisahan dan penghakiman terakhir juga kritik yg sama atas pemimpin agama dan politik pada zamannya. Jaring tidak secara langsung menunjuk kepada pemuka agama atau pejabat Romawi, melainkan kepada cakupan umat manusia (umat, pemimpin agama, pemimpin politik) dan tindakan penghakiman Allah.

Matius 4:18-20 dan  Lukas 5:4-7 menggunakan kegiatan menjala ikan sebagai panggilan serta pelayanan para murid. Teks-teks ini tidak secara eksplisit menyatakan kritik terhadap pemerintah atau pemuka agama. Namun, dalam pembacaan sosial-historis, panggilan tersebut dapat dipahami sebagai pembentukan komunitas alternatif yang mengikuti otoritas Yesus, mengikuti otoritas Yesus artinya mengikuti teladan Yesus artinya berani mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak jadi teladan serta menyesatkan umat.

Lukas 21:34-35, 1 Timotius 3:7, dan 2 Timotius 2:25-26 menekankan kewaspadaan, reputasi pemimpin, pertobatan, dan pembebasan dari jerat Iblis (godaan menjadi pemimpin agama dan politik yg tidak benar, atau cari aman tidak berani mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak benar. Ayat-ayat ini mendukung kritik terhadap kepemimpinan yang menyesatkan, tetapi tidak secara eksplisit menyebut pejabat Romawi, tapi bisa diduga arahnya sesuai zamannya.

Dengan demikian, tafsir bahwa jerat dan jaring menjadi kritik terhadap kepemimpinan PL-PB memiliki dasar tematis, terutama melalui Hosea 5:1, metafora ini sangat keras di zamannya. Namun, penerapannya kepada pemuka agama Yudaisme dan pejabat Romawi pada masa Injil harus dinyatakan sebagai pembacaan kontekstual, konteks teks zamannya, bukan kesimpulan eksplisit dari setiap ayat.

Highlight: Yohanes 21:11

Dalam Yohanes 21:11, para murid menangkap 153 ekor ikan, dan jala itu tidak koyak. Teks ini menekankan fakta mukjizat serta kelimpahan hasil tangkapan, tetapi tidak memberikan penjelasan eksplisit mengenai makna simbolis angka 153.
Beberapa tafsiran historis mengaitkan 153 dengan:

- Jumlah bangsa-bangsa di dunia.
- Perhitungan gematria atau nilai numerik nama tertentu.
- Lambang kelengkapan atau universalitas misi gereja.

Namun, hubungan tersebut tidak dinyatakan secara langsung dalam Injil Yohanes. Karena itu, secara akademik, angka 153 sebaiknya dipahami terlebih dahulu sebagai bagian dari kesaksian konkret tentang mukjizat, bukan sebagai kode pasti mengenai pemimpin agama atau politik. Dalam konteks Yohanes 21:1–14, jala berhubungan dengan panggilan dan pelayanan para murid setelah kebangkitan Yesus, panggilan ini meliputi keberanian untuk mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak menjadi teladan umat dan menyesatkan umat. Jala yang tidak koyak dapat dibaca secara teologis sebagai gambaran kelimpahan misi dan pemeliharaan Kristus, tetapi teks tidak secara eksplisit menyamakannya dengan hukuman terhadap pemimpin agama atau politik, juga dalam konteks teksnya bisa bearti keteguhan dalam menjalankan misi penuh risiko dan tidak cari aman atas kritisi pada pemimpin agama dan politik yg tidak menjadi teladan untuk umat bahkan menyesatkan umat, kalau mau dilihat dalam konteks teks latar belakang penulisannya.Hal ini berbeda dengan beberapa perumpamaan dalam Injil Sinoptik, seperti Matius 13:47–50, yang menggunakan jala sebagai gambaran pemisahan orang benar dan orang jahat pada akhir zaman, pemisahan pemimpin agama dan politik yg pasti mati dihukum di hari Tuhan, seperti ikan yg terjaring. Karena itu, simbol jala tidak boleh otomatis dipindahkan ke konteks Yohanes 21 tanpa memperhatikan konteks naratifnya Matius. Hosea 5:1 memang menyebut para imam, kaum Israel, dan keluarga kerajaan sebagai pihak yang menerima teguran karena menjadi jerat dan sumber penyimpangan umat. Ayat ini mendukung kritik kenabian terhadap pemimpin yang gagal membimbing umat. Amos 3:5 memakai gambaran jerat untuk menjelaskan kepastian akibat dan penghakiman Allah. Namun, ayat ini tidak secara langsung menafsirkan angka 153 atau jala dalam Yohanes 21. Hubungan tematis antara Yohanes 21:11, Hosea 5:1, dan Amos 3:5 masih mungkin dibahas: semuanya dapat menyentuh tema tanggung jawab, kritis i pemimpin agama dan politik, pengumpulan, jerat, dan penghakiman. Namun, secara akademik tidak cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa angka 153 adalah simbol khusus bagi hukuman pemimpin agama dan politik, beda dg kasus di Matius maupun Lukas. Kesimpulan yang lebih kuat dari teks Yohanes adalah bahwa misi para murid berlangsung di bawah arahan Kristus dan menghasilkan kelimpahan, sedangkan kritik terhadap pemimpin yang menyesatkan umat harus didasarkan terutama pada teks-teks kenabian yang memang menyatakannya secara eksplisit. Yohanes 21:11 menyebut jumlah ikan secara spesifik, yaitu 153 ekor, tetapi teks tidak memberikan penjelasan simbolis mengenai angka tersebut. Tidak ada pernyataan dalam perikop itu bahwa 153 melambangkan jumlah bangsa, jenis manusia, atau mandat untuk melakukan kristenisasi ke seluruh bumi, harus dilihat konteks teksnya. Karena itu, menghubungkan angka 153 dengan simbol tertentu merupakan tafsir alegoris atau numerologis, bukan makna yang dinyatakan secara eksplisit oleh teks. Dalam konteks teks zamannya, sebetulnya sama saja dg uraian di atas, karena komunitas Yohanes, atau jemaat Yohanes mengalami tekanan dari pemimpin Yudaisme serta serangan ajaran keimanan dari Yudaisme serta bbrp aliran pecahan atau sekte tertentu atau gnostik, sampai mereka bersembunyi di gua-gua, mereka mengalami ketidak adilan dari yg seharusnya melindungi mereka, serangan thp ajaran iman sangat kuat pada konteks teks, zaman jemaat Yohanes.

Dalam membaca Yohanes 21:1-14, perhatian utama narasi adalah:

- Yesus menyatakan diri kepada murid-murid setelah kebangkitan.
- Para murid mengalami kegagalan menangkap ikan tanpa petunjuk Yesus.
- Hasil tangkapan yang besar menunjukkan keberhasilan yang terjadi melalui ketaatan kepada perkataan Yesus.
- Yesus menyediakan makanan dan memulihkan persekutuan dengan murid-murid-Nya.

Dengan demikian, angka 153 lebih aman dipahami sebagai detail naratif tentang kelimpahan tangkapan, bukan kode teologis mengenai jumlah bangsa atau jiwa yang harus dikristenkan.

Matius 4:18-20 dan Lukas 5:4-7 memang memakai pekerjaan menjala ikan dalam konteks panggilan murid. Namun, tidak semua teks tentang ikan otomatis harus ditafsirkan sebagai “mencari jiwa”. Dalam Lukas 5:10, ungkapan “menjala manusia” menunjukkan perubahan tugas para murid menuju pelayanan kepada manusia, dan juga kritik thp kepemimpinan. Akan tetapi, teks tersebut tidak memakai istilah “jiwa” dan tidak menjelaskan metode pemaksaan agama atau proyek politik keagamaan.

Karena itu, istilah “kristenisasi” perlu digunakan secara hati-hati dalam memahami ayat ini. Istilah tersebut merupakan kategori modern dan tidak boleh begitu saja dimasukkan ke dalam teks abad pertama. Secara tekstual, panggilan murid lebih tepat dipahami sebagai kesaksian, pemuridan, dan partisipasi dalam karya Yesus, dan kritisi situasi zaman tsb atas ketidak adilan dari pemimpin agama dan politik saat itu thp jemaat Yohanes — bukan pembenaran bagi dominasi, pemaksaan, atau perluasan kekuasaan institusional.

Matius 13:47-50 juga tidak menafsirkan ikan sebagai “153 jenis manusia”. Perumpamaan jala menekankan pengumpulan dan pemisahan pada penghakiman akhir, kritisi pimpinan pada zamannya. Pelakunya adalah para malaikat dalam konteks penghakiman Allah, bukan strategi ekspansi manusia.

Jadi, Metafora menjala manusia memiliki dasar dalam Matius 4:19 dan Lukas 5:10. Angka 153 dalam Yohanes 21:11 tidak ditafsirkan oleh teks sebagai simbol seluruh bangsa atau jenis manusia. Hubungan antara 153 ikan dan kristenisasi global merupakan konstruksi tafsir kemudian, bukan kesimpulan eksplisit ayat. Tafsir yang bertanggung jawab harus membedakan antara makna naratif, simbolisme kanonik, dan spekulasi numerologis.

Rantai logika argumentasinya dapat disusun demikian:

Pemimpin memiliki tanggung jawab membimbing umat. Dalam Hosea 5:1, imam, kaum Israel, dan keluarga raja ditegur karena menjadi “jerat” bagi umat. Ayat ini menjadi dasar paling kuat untuk menghubungkan metafora jerat dengan kegagalan kepemimpinan agama dan politik. Kepemimpinan yang menyesatkan menghasilkan keterperangkapan. Dalam Yeremia 5:26, orang fasik memasang perangkap bagi manusia. Hosea 7:12 juga menggambarkan umat yang tertangkap seperti burung. Metafora tersebut menunjukkan tindakan manipulatif, penyesatan, dan eksploitasi terhadap umat. Jerat juga menyatakan konsekuensi atau hukuman Allah juga, selain kritisi pada para pemimpin yg gak bener. Amos 3:5 memakai gambaran perangkap untuk menjelaskan bahwa suatu peristiwa memiliki sebab dan akibat. Ayat ini tidak secara eksplisit menyebut pemimpin agama atau pejabat pemerintah, tapi secara konteks teks arahnya memang ke sana, tetapi dalam konteks kitab Amos, hukuman berkaitan dengan dosa dan ketidakadilan Israel. Karena itu, hubungan dengan hukuman atas pemimpin merupakan kesimpulan kontekstual, bukan arti langsung satu-satunya dari ayat tersebut. Dalam PL, pihak yang menyesatkan akhirnya dapat terkena hukuman yang mereka hasilkan.Yesaya 8:14-15 menggambarkan Tuhan sebagai batu sandungan dan perangkap bagi mereka yang menolak-Nya. Yesaya 24:17-18 menyatakan bahwa penduduk bumi mengalami kengerian, lubang, dan jerat. Yeremia 18:22 menggambarkan malapetaka atas orang-orang yang merancang kejahatan. Dalam PB, jaring terutama berfungsi sebagai gambaran penghakiman.  Matius 13:47-50 menjelaskan jala yang mengumpulkan berbagai jenis ikan, lalu terjadi pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Makna eksplisitnya adalah penghakiman terakhir, bukan secara khusus hukuman bagi pemimpin agama atau pejabat Romawi, tapi secara konteks teks dapat disimpulkan akan kritisi atas kepemimpinan pada zamannya. Panggilan menjala ikan tidak otomatis menjadi kritik para pemimpin agama dan politik. Matius 4:18-20 dan Lukas 5:4-7 terutama berbicara tentang panggilan dan ketaatan para murid. Menghubungkannya dengan kritik terhadap struktur kepemimpinan zaman itu dapat menjadi pembacaan sosial-historis, tetapi bukan kesimpulan eksplisit teks. PB juga memakai “jerat” untuk bahaya moral dan rohani. Lukas 21:34-35, 1 Timotius 3:7, dan 2 Timotius 2:25-26 menekankan kewaspadaan, reputasi, pertobatan, dan pembebasan dari jerat Iblis. Jembatan nalarnya sah jika dirumuskan sebagai pola tematis: pemimpin yang menyesatkan menjadi “jerat” bagi umat, lalu menghadapi konsekuensi dan penghakiman Allah. Namun, tidak semua ayat metafora tentang jaring, jerat, atau perangkap secara langsung menunjuk kepada pemuka agama dan pejabat pemerintah. Karena itu, tafsir tersebut kuat sebagai sintesis teologis-kontekstual, tetapi harus dibedakan dari makna eksplisit setiap ayat.
(01102025)(TUS)

Lectures on Reformed Theology 
"PERIHAL TARI-TARIAN & TAMBORIN DALAM IBADAH

B:
Shalom pak Pdt. Muriwali, saya ingin bertanya pak, dalam perspektif Reformed dan prinsip Regulative Principle of Worship, bagaimana kita menilai penggunaan tari-tarian dan tamborin dalam ibadah hari Minggu? Apakah cukup karena Alkitab menyebut tari dan tamborin sebagai bentuk pujian, atau harus ada perintah/prinsip yang jelas dalam Perjanjian Baru untuk memasukkannya ke dalam ibadah gereja? Lalu, apa batas antara ekspresi pujian yang berpusat pada Allah dan unsur pertunjukan dalam ibadah?

MYM:
Semua yang dikatakan dalam PL tentang memuji Tuhan menggunakan kecapi, rebana, dan tari-tarian sifatnya deskriptif bukan preskriptif. Lagipula ini sangat kontekstual pada zaman itu, yang tentu saja berbeda dengan konteks kita sekarang. Kita sekarang tidak lagi mengenal secara persis, misalnya, model kecapi di zaman PL. Kita hanya melihat perkembangannya yaitu harpsichord, piano, dan gitar, termasuk alat-alat musik berdawai tradisional di berbagai daerah. Jadi apa yang dikatakan secara deskriptif dalam PL, tak bisa dijadikan patokan, norma, dan regulasi musik dan penyembahan dalam ibadah.

Satu-satunya regulasi dan norma untuk ibadah,  musik, dan penyembahan kita adalah 1Korintus 14:40 di mana segala sesuatu dalam ibadah harus sopan dan teratur. Inilah yang preskriptif.

Masalah kita di zaman ini adalah, musik apa yang cocok atau tidak dalam ibadah, sering ditentukan oleh mereka yang pengetahuan musiknya sangat minim, sektarian (misalnya, penggila musik jazz saja, atau rock saja, atau pop saja), atau bahkan tak punya pengetahuan musik sama sekali. Mereka menjadi penentu hanya karena mereka memiliki kuasa dan wewenang dalam gereja. Ini adalah kecelakaan terbesar dalam pengaturan liturgi dan ibadah. Sama seperti sekumpulan orang yang tak memahami ilmu kedokteran, atau hanya punya pengetahuan yang sangat minim, tetapi berdiri menghadapi meja operasi seorang pasien. 

Jika seorang atau sekelompok orang yang sangat memahami musik dari berbagai genre, diberi kewenangan untuk mengatur musik apa yang paling cocok dalam ibadah, yang menyatakan keagungan, keindahan, harmoni, keteraturan, dan prinsip kesopanan, maka pilihannya pasti hymns. Sama seperti untuk acara yang agung bagi bangsa, misalnya upacara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Saat menaikkan bendera pasti lagu hymn Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan musik yang cocok. Tak bisa Indonesia Raya di-dangdut-in, atau dibuat nge-rock atau nge-jazz. Hanya dengan cara menyanyikan Indonesia Raya seperti yang sering kita lakukan itulah cara yang paling layak, paling sopan, dan paling hormat.

Jika suatu saat, Indonesia Raya di-dangdut-in, saya tahu bahwa Indonesia sudah mengalami degradasi intelektual dan moral yang luar biasa.

Kamis, 24 September 2026

𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵?

Dalam kehidupan gerejawi hampir setiap hari kita mendengar ungkapan 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Saking seringnya ungkapan itu didengar, otak akhirnya bekerja secara otomatis: Alkitab = firman Allah. Titik! Persoalannya, ketika sebuah ungkapan teologis terus-menerus diulang tanpa lagi dipikirkan maknanya, metafora dapat berubah menjadi takrif (𝘥𝘦𝘧𝘪𝘯𝘪𝘵𝘪𝘰𝘯), dan takrif itu kemudian diperlakukan sebagai fakta harfiah.

𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 pada dasarnya merupakan ungkapan metaforis. Jika ungkapan tersebut dipahami secara harfiah bahwa Alkitab identik dengan Firman Allah, maka Yohanes 1:1 secara konsekuen dapat dibaca begini:

𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣. 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.

Tentu saja bukan demikian maksud pengarang Injil Yohanes. Dalam Yohanes 1:1 Firman (𝘓𝘰𝘨𝘰𝘴) bukanlah nama lain untuk sebuah buku yang baru muncul berabad-abad kemudian. Firman merujuk  realitas ilahi yang dalam prolog Injil Yohanes kemudian dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Hal yang sama dapat dilihat dalam ungkapan lain, misalnya 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘵𝘶𝘬𝘶. Apakah Allah secara harfiah adalah sebuah gunung batu? Tentu tidak. Ungkapan itu merupakan metafora. Seseorang yang menghadapi badai kehidupan dan mengalami Allah sebagai tempat perlindungan yang teguh dapat mengungkapkan pengalamannya dengan mengatakan bahwa Allah adalah “gunung batu”.

Demikian pula ungkapan 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Ungkapan tersebut merupakan cara iman untuk mengatakan bahwa melalui kesaksian yang terdapat dalam teks-teks Alkitab, manusia dapat mendengar dan mengalami firman Allah. Ketika seseorang membaca sebuah teks Alkitab dan melalui teks itu mengalami teguran, penghiburan, penguatan, atau panggilan untuk bertindak, pengalaman tersebut dapat dipahami sebagai perjumpaan dengan firman Allah. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bahwa setiap tafsiran atau setiap perasaan yang muncul ketika membaca Alkitab otomatis identik dengan maksud Allah. Di sinilah penafsiran menjadi penting.

Alkitab sendiri bukanlah sebuah buku yang ditulis oleh satu orang, pada satu zaman, dengan satu gaya, satu situasi, dan satu tujuan. Alkitab merupakan kumpulan tulisan yang lahir dalam rentang waktu yang panjang, dari komunitas dan para petulis yang berbeda, dalam konteks sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang berbeda pula. Oleh karena itu kita menemukan di dalamnya beraneka suara, perspektif, bahkan perbedaan dan ketegangan teologis.

Para petulis kitab-kitab Alkitab juga tidak sedang menyalin sebuah naskah ilahi yang turun dari langit. Mereka menafsir pengalaman hidup, sejarah, penderitaan, pembebasan, konflik, harapan, dan hubungan mereka dengan Allah, lalu menuangkannya dalam berbagai bentuk sastra: narasi, puisi, hikmat, nubuat, surat, apokaliptik, dan berbagai genre lainnya. Oleh karena itu pula teks Alkitab tidak dapat dilepaskan dari manusia dan konteks historis yang melahirkannya.

Contoh yang sangat jelas dapat kita lihat dalam penulisan kitab-kitab Injil. Mengapa kitab Injil ditulis? Para petulis Injil tidak sedang menyusun biografi Yesus secara netral seperti seorang sejarawan modern. Mereka menulis kepada komunitas-komunitas tertentu yang memiliki pergumulan konkret. Ada jemaat yang sedang menghadapi kegundahan, penderitaan, konflik, dan pertanyaan iman yang serius: Jika Yesus adalah Mesias, mengapa Ia justru mati di kayu salib? Apa arti kematian-Nya? Apakah kematian itu berarti kegagalan? Bagaimana kematian dan kebangkitan Yesus harus dipahami dalam terang iman kepada Allah?

Oleh karena itu masing-masing petulis Injil menyusun dan menafsirkan tradisi tentang Yesus dengan cara yang khas sesuai dengan konteks komunitasnya. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes tidak menghasilkan empat kisah teologis yang identik tentang Yesus. Mereka menghadirkan empat kesaksian teologis yang memiliki penekanan masing-masing. Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus segera diharmonisasikan seolah-olah para petulis telah membuat kesalahan yang perlu diperbaiki. Perbedaan itu justru memerlihatkan bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan teologis: menafsirkan siapa Yesus dan apa arti kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya bagi komunitas yang mereka layani.

Dengan demikian teks Injil bukan sekadar kumpulan informasi tentang apa yang pernah dilakukan dan dikatakan Yesus. Teks Injil merupakan kesaksian iman yang lahir dari perjumpaan antara tradisi tentang Yesus dan pergumulan konkret komunitas-komunitas Kristen perdana. Itulah sebabnya keempat Injil dapat menceritakan Yesus dengan penekanan yang berbeda, tanpa harus dipaksa menjadi satu cerita yang seragam.

Justru karena itulah Alkitab dapat dan perlu dikaji secara ilmiah dan akademis. Meneliti teks secara historis-kritis memerhatikan bahasa, genre, konteks sosial, proses penyuntingan, dan perkembangan tradisi tidak berarti merendahkan Alkitab. Sebaliknya, penelitian semacam itu menunjukkan penghargaan terhadap teks dengan tidak memaksanya berbicara menurut keinginan pembacanya.

Untuk itu mengatakan bahwa 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 tidak perlu membuat kita berhenti berpikir. Sebaliknya, pengakuan iman itu seharusnya mendorong kita membaca Alkitab dengan lebih cermat: membedakan teks dari tafsir, membedakan suara petulis dari suara prapaham pembaca, memerhatikan konteks, dan berani mengakui bahwa Alkitab memang memuat keragaman kesaksian iman.

Alkitab tidak menjadi kurang berharkat ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadapnya. Justru di situlah kedewasaan beriman diuji. Iman yang dewasa tidak takut pada pertanyaan. Dengan demikian persoalannya bukan pertama-tama apakah Alkitab “identik dengan” firman Allah, tetapi bagaimana melalui teks-teks yang lahir dari refleksi pergumulan manusia dengan Allah itu, Gereja terus-menerus mendengar, memahami, dan menghidupinya.

(25092026)

Rabu, 23 September 2026

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 

PENGANTAR
saya ingin menunjukkan seperti apa khotbah yang dibangun dengan baik, saya akan mengambil khotbah atas Yohanes 12:20–25 sebagai contoh. Bukan berarti seluruh tafsir saya tidak dapat diperdebatkan. Namun, dari segi struktur khotbah ini memerlihatkan sesuatu yang penting: 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗮𝗽𝗹𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶, bukan sebaliknya.
PEMAHAMAN 
Pertama-tama pengkhotbah  membaca perikop Yohanes 12:20–25 secara utuh, walaupun kemudian fokus khotbah diarahkan terutama kepada ayat 24 tentang biji gandum. Ini penting, 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 langsung mengambil kalimat 𝘫𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘮 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 lalu menjadikannya slogan moral. Ayat tersebut terlebih dahulu ditempatkan dalam perikopnya.

Sesudah itu masuk ke dalam konteks naratif. Ia menjelaskan ketegangan antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi yang semakin meningkat, terutama setelah pembangkitan Lazarus. Dalam konteks itulah muncul orang-orang Yunani yang ingin bertemu dengan Yesus. Bagi saya di sini terlihat langkah eksegetis yang penting: pertanyaan pertama bukan “Apa yang dapat saya pelajari dari ayat ini?”, melainkan “Mengapa Yohanes menempatkan kedatangan orang-orang Yunani ini tepat sebelum ucapan Yesus tentang biji gandum?”

Saya juga melihat  𝗯𝗲𝗿𝗱𝗶𝘀𝗶𝗽𝗹𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿. Yohanes tidak menjelaskan mengapa orang-orang Yunani itu ingin bertemu dengan Yesus, kemudian menyebut beberapa kemungkinan penafsiran, tetapi tidak menyajikannya sebagai fakta yang dinyatakan oleh teks. Bagi saya ini merupakan kebiasaan eksegetis yang penting: dugaan penafsir jangan dinaikkan statusnya menjadi isi Alkitab.

Selanjutnya saya melihat perhatian diarahkan kepada tanggapan Yesus. Orang-orang Yunani ingin bertemu dengan Yesus, tetapi Yohanes tidak mencatat bahwa Yesus kemudian menemui mereka. Yang muncul justru pernyataan Yesus: “𝘛𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯.” Sesudah itu muncul gambaran biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Dengan demikian pengkhotbah mula membaca hubungan internal di dalam teks: 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯 Yesus tidak dipisahkan dari kematian-Nya.

kemudian masuk ke dalam istilah dan gambaran teologis yang terdapat dalam teks. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 dihubungkan dengan Daniel 7. Ia menunjukkan kontras antara kerajaan yang dibangun melalui pola kekuasaan dan kekerasan dengan kemesiasan Yesus yang justru ditempuh melalui pengorbanan. Dengan demikian rujukan Daniel tidak berdiri sebagai informasi tambahan belaka, tetapi dipakai untuk membantu menjelaskan bagaimana Yohanes memahami kemuliaan Yesus.

Barulah kemudian metafora biji gandum ditafsirkan, tidak berhenti pada penjelasan bahwa biji harus mati supaya menghasilkan buah. Ia menghubungkannya dengan ucapan Yesus tentang kemuliaan dan kemudian dengan kematian-Nya. Dari sini merumuskan dua matra: kehidupan melalui kematian dan kehidupan yang menghasilkan buah bagi banyak orang melalui pengorbanan.

Bagi saya di sinilah letak perbedaan penting antara eksegese dan sekadar mencari ayat untuk mendukung gagasan yang sudah dimiliki oleh seorang pengkhotbah. Aplikasi belum dimula sebelum makna tekstualnya terlebih dahulu dicari.

Setelah memeroleh pemahaman tersebut, barulah khotbah bergerak ke kehidupan jemaat, berbicara tentang materialisme, hedonisme, dan individualisme sebagai kecenderungan kehidupan masyarakat yang dapat membalik pola pengorbanan: bukan mengorbankan diri demi kebaikan orang lain, melainkan mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Di sini saya mula membedakan dengan tegas antara eksegese dan aplikasi. Pembicaraan mengenai materialisme, hedonisme, dan individualisme bukan lagi penjelasan langsung mengenai Yohanes 12:20–25. Itu adalah aplikasi teologis terhadap kehidupan masa kini. Menurut saya hal tersebut sah dilakukan justru karena sebelumnya sudah berusaha memeroleh pesan dari teks.

Aplikasi itu kemudian dipersempit. Mengasihi diri sendiri tidak dianggap salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kepentingan diri membuat seseorang mengabaikan atau bahkan mengorbankan orang lain. Dengan demikian aplikasi masih berusaha memertahankan garis besar pesan yang sebelumnya diperoleh dari teks: biji gandum menghasilkan buah melalui pengorbanan dirinya, bukan dengan mengorbankan yang lain.

Pada bagian akhir  membawa jemaat kembali kepada Yesus sendiri. Biji gandum bukan sekadar metafora untuk mengajarkan agar manusia menjadi orang baik atau suka berkorban. Yesus sendiri menjadi pola utama dari pengorbanan tersebut. Oleh karena itu gambaran biji gandum kemudian dihubungkan dengan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus.

Kalau saya sederhanakan, struktur khotbah ini dapat dibagankan demikian:
𝗧𝗘𝗞𝗦 ➡️ 𝗞𝗢𝗡𝗧𝗘𝗞𝗦 ➡️ 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗔𝗠𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗧𝗘𝗞𝗦𝗧𝗨𝗔𝗟 ➡️ 𝗠𝗔𝗞𝗡𝗔 ➡️ 𝗧𝗘𝗢𝗟𝗢𝗚𝗜 ➡️ 𝗔𝗣𝗟𝗜𝗞𝗔𝗦𝗜 ➡️ 𝗞𝗘𝗠𝗕𝗔𝗟𝗜 𝗞𝗘𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗞𝗥𝗜𝗦𝗧𝗨𝗦.

Dengan pertanyaan yang lebih sederhana: 𝗔𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀? 𝗔𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗲𝗸𝘀𝗻𝘆𝗮? 𝗔𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀𝗻𝘆𝗮? 𝗟𝗮𝗹𝘂 𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗿𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁?

Menurut saya inilah satu ciri penting khotbah yang bertanggung jawab secara eksegetis. Aplikasi tidak menjadi tuan atas teks. Teks tetap menjadi tuan atas aplikasi.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa karena strukturnya baik maka seluruh eksegesenya otomatis benar. Justru sebaliknya. Struktur yang baik memungkinkan pengkhotbah menguji setiap langkah argumentasinya: apakah konteksnya tepat, apakah hubungan antar-teksnya sah, apakah kesimpulannya benar-benar keluar dari teks, dan apakah aplikasinya masih mempunyai hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan teks.

Jadi, bagi saya khotbah yang baik bukanlah khotbah yang tidak boleh dikritik. Khotbah yang baik adalah 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗹𝘂𝘀𝘂𝗿𝗶. Pendengar dapat melihat dari mana pengkhotbah berangkat, bagaimana ia membaca teks, bagaimana ia memeroleh makna, dan bagaimana ia sampai pada aplikasi.

Itulah yang membedakan khotbah yang lahir dari teks dengan khotbah yang hanya menggunakan teks sebagai kendaraan menuju gagasan pengkhotbah sendiri.

Selasa, 22 September 2026

𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗯𝗶

Orang Kristen dituduh makan daging babi oleh Yahudi-Yahudi kawé karena Rasul Paulus “merusak” hukum Taurat. Biasanya orang Kristen lalu sibuk membela Paulus: “Bukan Paulus! Jangan salahkan Paulus!”

Saya malah punya pertanyaan lain: Kalau memang Paulus berperan dalam perubahan sikap orang Kristen terhadap hukum makanan, 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮? 𝗜𝗺𝗮𝗻𝗺𝘂 𝘁𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂?😂

Sekarang mari kita mengandaikan waktu berjalan linear, dari masa Sebelum Zaman Bersama (SZB) atau Sebelum Masehi (SM) lalu masuk ke masa Zaman Bersama (ZB) atau Masehi (M). Kalau kita mengandaikan kitab-kitab PL adalah SZB dan kitab-kitab PB adalah ZB, apakah kitab-kitab PB merupakan kontinuitas atau diskontinuitas PL?

Perjanjian Baru adalah 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗴𝘂𝘀 𝗱𝗶𝘀𝗸𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 dari Perjanjian Lama. 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 karena harus diakui bahwa kekristenan berakar dalam Yudaisme. Yesus, para rasul, dan jemaat mula-mula tidak muncul dari ruang kosong. PB juga merupakan 𝗱𝗶𝘀𝗸𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 PL, karena PB 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗟 dalam terang Kristus.

Nah, soal daging babi menjadi menarik kalau dilihat dari sini. Persoalannya bukan sesederhana: 𝘗𝘢𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘣𝘪,  karena ada satu persoalan yang sering luput: 𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮.

Sebelum Paulus menjadi pengikut Kristus dan kemudian tampil sebagai penginjil, sudah ada komunitas pengikut Yesus. Paulus sendiri mengakui bahwa ia menerima dan meneruskan tradisi yang sudah ada sebelumnya (bdk. 1Kor. 15:3-5). Jadi, agak aneh kalau seluruh perubahan sikap terhadap Taurat kemudian dibebankan begitu saja kepada Paulus, seolah-olah ia datang dengan sebuah agama baru lalu membuang Taurat. 

Yang terjadi jauh lebih rumit. Tradisi yang diwarisi dari Israel tetap menjadi akar kekristenan, tetapi dalam komunitas pengikut Kristus tradisi itu mengalami 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴. Paulus memang memainkan peranan penting dalam proses tersebut, terutama ketika Injil berhadapan dengan orang-orang bukan-Yahudi. Namun, ia melakukannya di tengah komunitas dan tradisi yang sudah lebih dahulu ada. Jangan lupa pula sampai Paulus mati belum ada kitab-kitab Injil kanonik seperti Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes.

Oleh karena itu pertanyaan yang lebih menarik bukan: “Siapa yang pertama mengizinkan orang Kristen makan babi?” melainkan: “Bagaimana dan mengapa komunitas Kristen mula-mula menafsir ulang Taurat?”

Kalau ternyata Paulus berperanan penting dalam proses itu, 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮? 🤣Bukankah sejak awal kita memang sedang berbicara tentang sebuah iman yang 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗴𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁?

Babi, ternyata, membawa kita kembali ke hermeneutika. 🐷

Minggu, 20 September 2026

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

PENGANTAR
Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memiliki otoritas yang ditandai kebenaran, kerendahan hati, pelayanan, dan ketaatan, bukan sekadar jabatan atau pengetahuan. Gambaran Ketaatan adalah Pertobatan itu sendiri untuk menyambut Pengampunan.
PEMAHAMAN 
Yehezkiel 18:1–4, 25–32  Pertobatan sebagai tanggung jawab pribadi

Secara sastra, bagian ini menolak pepatah bahwa anak menanggung kesalahan ayahnya. Kata Ibrani nephesh (“jiwa/pribadi”) menegaskan tanggung jawab setiap manusia di hadapan Allah. Dalam konteks pembuangan, Israel cenderung menyalahkan generasi sebelumnya; namun Allah menyatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas jalannya sendiri. Kata kunci teologisnya adalah shuv, yaitu “berbalik” atau “bertobat” (Yehezkiel 18:30–32). Pertobatan bukan sekadar penyesalan emosional, melainkan perubahan arah hidup. Allah tidak berkenan pada kematian orang fasik, melainkan menghendaki ia berbalik dan hidup, umat dipanggil berhenti mencari kambing hitam dan memeriksa ketaatan pribadi. Pertobatan tetap mungkin karena Allah membuka jalan kembali.

Filipi 2:1–13 — Ketaatan yang lahir dari kerendahan hati

Bagian ini merupakan nasihat pastoral kepada jemaat agar hidup sehati dan tidak mencari kepentingan diri (Filipi 2:1–4). Puncaknya ialah himne Kristologis Filipi 2:6–11. Kristus mengambil rupa seorang hamba (morphē doulou) dan merendahkan diri dengan menjadi taat sampai mati. Kata ekenōsen (“mengosongkan diri”) tidak berarti Kristus kehilangan keilahian-Nya, melainkan Ia menyatakan kerendahan hati melalui pengambilan posisi hamba. Ketaatan Kristus kemudian diikuti oleh peninggian Allah atas-Nya. Dalam Filipi 2:12–13, “kerjakan keselamatanmu” memakai bentuk jamak dan menunjuk pada kehidupan jemaat bersama, bukan usaha manusia memperoleh keselamatan tanpa anugerah. Allah sendiri yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan umat-Nya. Mengerjakan keselamatan adalah tanggapan bertanggung jawab atas anugerah keselamatan, pertobatan adalah bentuk mengerjakan keselamatan tsb itulah taat, pertobatan harus tampak dalam relasi, kerendahan hati, pelayanan, dan ketaatan kepada Allah.

Matius 21:23–32 — Otoritas yang diuji melalui ketaatan

Pertanyaan para imam kepala dan tua-tua mengenai otoritas (exousia) Yesus bukan pencarian kebenaran yang tulus, melainkan usaha menghindari konsekuensi jawaban. Yesus menghubungkannya dengan baptisan Yohanes: berasal dari surga atau dari manusia (Matius 21:24–27). Perumpamaan dua anak memperlihatkan perbedaan antara perkataan dan tindakan. Anak pertama awalnya menolak, tetapi kemudian berubah pikiran, kata Yunani metamelomai dan pergi bekerja. Anak kedua berkata “ya”, tetapi tidak melakukannya (Matius 21:28–31). Para pemungut cukai dan perempuan sundal mendahului para pemimpin agama karena mereka percaya kepada Yohanes dan bertobat, sedangkan para pemimpin melihatnya tetapi tidak bertobat (Matius 21:32).

Yehezkiel menegaskan tanggung jawab untuk berbalik; Filipi menunjukkan bentuk ketaatan melalui kerendahan hati Kristus; Matius memperingatkan bahwa pengetahuan agama dan pengakuan lisan tidak cukup tanpa tindakan. Kritik terhadap pemimpin agama dalam teks ini harus menjadi pemeriksaan diri gereja, bukan tuduhan sembarangan kepada individu tertentu. Pemimpin yang memahami kehendak Allah tetapi terus mempertanyakan otoritas yang benar demi mempertahankan posisi sedang mengalami bahaya rohani: mengetahui kebenaran tanpa menaatinya.
(21092026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 20 : 1-16

Sudut Pandang Matius 20 : 1-16

PENGANTAR
Ini gimana sih konsepnya? Kerja capek-capek 1 jam, gajinya sama kayak kerja 12 jam. Ini bos udah gila kali ya. Oke, ini kanal Sudut Pandang, Sabda Singkat -Sabsing, buruan save supaya nggak hilang.
PEMAHAMAN 
 Bacaan kita Matius 20, ayat 1-16. Bayangin ya, kamu nguli kerja dari jam 6 pagi, eh temen kamu yang baru datang jam 4 sore, jam 5 udah tenggo. Pas gajian, nominal kalian... sama. Emosi gak tuh ya? Rasanya pengen resign sambil banting meja. Jadi gini, kita bedah dulu konteks ekonomi zaman Yesus. UMR pekerja kebun anggur 1 dinar per hari, dirupiahkan sekitar 150 ribu. Uang segini di zaman itu cukup kasih makan anak istri selama 2 hari. Aman ya? Tapi gimana nasib pekerja yang baru direkrut jam 5 sore? Di rekrut jam 5 sore itu berarti dia mungkin bukan pekerja pilihan, mungkin sudah umur, mungkin gak punya pengalaman, mungkin udah ngelamar sana sini tapi gak ada yang terima. In this ekonomi gitu loh, zamannya tapi senada dg zaman sekarang. Kalau bosnya pake matematika kaku, upah 1 dinar itu harusnya dibagi proporsional. Karena dia cuma kerja sebentar, dia cuma bisa bawa pulang ya sekitar 15 ribu. Dengan duit segitu pekerja ini dan keluarganya bakalan berat melewati 1 malam, jangankan 2 hari.
Nah disinilah letak jeniusnya teks ini, penulis Injil Matius, Ingat gak di pasal sebelumnya Matius 19 Yesus ngerosting orang kaya, Katanya lebih gampang unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk kerajaan Allah Susah banget Nah perikob Matius 20 ini semacam cheat code, resep rahasia buat mereka yang kaya Bagaimana bisa masuk kerajaan Allah? Ya bersikaplah adil fair bagi mereka yang punya gak punya privilege (hak istimewa/hak waris) dan kemampuan dan berbelas kasih bagi mereka yang posisinya lemah, menyetarakan diri dengan mereka, berbela rasa, berbagi rasa, dan turut merasa dengan mereka, jangan eh ....... malah buat club', circle, komunitas, gang, dlsb yg membuat malah ada kesenjangan kaya dan miskin, temenku dan no temanku, gangku dan no gangku, circleku dan no circleku, dlsb. Bagi pekerja awal, ini adalah keadilan retributif, bahasa asli yg digunakan MISPHAT dalam bahasa Ibrani, algoritma kontraktual. Bagi pekerja belakangan, sang Tuhan menegakkan keadilan distributif, bahasa asli yang digunakan, SHEDAKAH, algoritma kasih karunia. Bekerja ya tergantung perjanjian kerjanya tokh? Begitulah sang Tuhan yang adalah Tuhan sendiri, ia fair kepada yang  privilege (punya hak istimewa, punya hak waris) tapi penuh belas kasihan, Bagi mereka yang membutuhkan bahkan tanpa privilege. Lalu bagaimana dengan kita? Masihkah kita tak berbelas kasih, membatasi bahkan membuat sekat antar sesama? 
(21092026)(TUS)

Sabtu, 19 September 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

PENGANTAR
Dalam kehidupan sehari-hari adalah lazim pegawai swasta berganti majikan atau perusahaan. Mereka pindah sesudah kesepakatan kerja tercapai. Kerap terjadi pegawai baru suatu perusahaan mendapat gaji lebih besar daripada pegawai lama sehingga membuat mereka iri hati. Tak jarang pegawai lama memusuhi pegawai baru. Padahal perusahaan sama sekali tidak mengurangi hak pegawai. Semua dibayar sesuai dengan perjanjian kerja masing-masing.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu ketujuhbelas setelah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 20:1-16 yang didahului dengan Yunus 3:10-4:11, Mazmur 145:1-8, dan Filipi 1:21-30.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 20:1-16, diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳. Sebelum memula membaca, perhatikan perikop sebelumnya, yaitu Matius 19:27-30 𝘜𝘱𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Di sana Petrus bertanya kepada Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩?” Yesus menjawab Petrus dan jawaban Yesus (dalam perikop itu) diakhiri dengan, “𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.” Perumpamaan dalam bacaan Injil Minggu ini merupakan ilustrasi dari Yesus tentang penutup jawaban Yesus di Matius 19:30.

𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 mirip dengan 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 di Lukas 15:11-32. Kedua perumpamaan ini merupakan kritik terhadap kaum Farisi yang mengejek Yesus bergaul dengan para pendosa.

Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 20:1-7 Rekrutmen pekerja
▶️ Matius 20:8-15 Pengupahan
▶️ Matius 20:16 Penutup

𝗥𝗲𝗸𝗿𝘂𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗽𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 (Mat. 20:1-7)

“𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢. (ay. 1) 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢. (ay. 2) 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳. (ay. 3) 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 4) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢. (ay. 5) 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪? (ay. 6) 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘬𝘶. (ay. 7)” (TB II 2023)

Sudah barang tentu ilustrasi di atas bukan tentang kegiatan ekonomi masyarakat. Kebun anggur merupakan bahasa kiasan mengenai umat Allah (bdk. Yes. 5 dan Yer. 2:10). Di sini Yesus hendak memberikan gambaran satu ciri (lagi) mengenai Kerajaan Surga (atau Kerajaan Allah).

Proses rekrutmen di atas rupanya mirip dengan situasi masa kini. Di kota-kota besar, terutama Jakarta, kita kerap melihat kuli sindang, sekelompok pekerja yang lengkap dengan cangkul dan pengkinya menanti di trotoar dan mengharapkan panggilan kerja dari mandor. Tidak jarang kita menyaksikan mereka masih terduduk sampai siang hari. Mereka adalah pekerja harian. Pada zaman Perjanjian Baru upah buruh adalah 1 dinar per hari. 

Pada zaman dulu hari baru dimula sesudah matahari terbenam, tetapi hari dihitung sebaliknya, dimula saat matahari terbit. Yang disebut hari di sini adalah saat terang matahari. Penghitungan panjang hari sangat sederhana, dimula dari jam pertama saat matahari terbit dan berakhir pada jam ke-12 saat matahari terbenam. Pukul 9 di atas dalam bahasa aslinya 𝘵𝘳𝘪𝘵o𝘯 𝘩o𝘳𝘢𝘯 (jam ketiga), pukul 12 dari 𝘩𝘦𝘬𝘵o𝘯 (keenam), pukul 15 atau 3 petang dari 𝘦𝘯𝘢𝘵o𝘯 (kesembilan), dan pukul 17 atau 5 petang dari 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵o𝘯 (kesebelas).

Secara ringkas bagian pertama ini pemilik kebun anggur adalah seorang yang murah hati, yang tidak mau melihat orang 𝘫𝘰𝘣𝘭𝘦𝘴𝘴, tak punya pekerjaan. Ia menyediakan pekerjaan kepada setiap orang yang dilihatnya menganggur.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗽𝗮𝗵𝗮𝗻 (Mat. 20:8-15)

“𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘰𝘳𝘯𝘺𝘢: 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢. (ay. 8) 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳. (ay. 9) 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢. (ay. 10) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵-𝘴𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶, (ay. 11) 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪. (ay. 12) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪? (ay. 13) 𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩; 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 14) 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪? (ay. 15) (TB II 2023)

Frase 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 diterjemahkan dari 𝘰𝘱𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘦 𝘨𝘦𝘯𝘰𝘮𝘦𝘯o𝘴, yang berarti literal malam telah sedang tiba atau terjemahan bebasnya menjelang malam. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 berarti sudah hari baru. Menurut UU Cipta Kerja 𝘦𝘩 kitab Imamat 19:13 dan Ulangan 24:15 para pekerja harian harus dibayar setiap hari sebelum matahari terbenam atau hari baru. 

Selain mengikuti peraturan kitab Taurat untuk waktu pengupahan, pemilik kebun anggur tidak mengurangi hak pekerja. Bahkan ia murah hati membayar pekerja satu dinar, meskipun mereka bekerja tidak sehari penuh. Kemurahhatiannya mendapat protes dari pekerja penuh-hari. Mereka melayangkan protes karena iri hati.

Kata sapaan 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯 (𝘏𝘦𝘵𝘢𝘪𝘳𝘦) di ayat 13 merupakan perbaikan 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 dalam TB 1974 dan TB II 1997. Argumen pemilik kebun anggur yang membayar penuh kepada seluruh pekerja tampaknya tidak dapat disanggah oleh pekerja penuh-hari.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 20:16)

“𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.” (TB II 2023)

Ayat 16 di atas kerap dijadikan pendukung bagi sebagian orang yang baru pindah dari agama bukan-Kristen menjadi Kristen dan para Kristen “lahir-baru”. Apalagi kepindahan mereka dan “pertobatan” orang Kristen “lahir-baru” diiringi dengan narasi heroik. Mereka mendaku bahwa mereka akan menjadi yang pertama mendahului orang-orang Kristen “tradisional” karena keturunan seperti saya. Benarkah?

Injil Matius ditulis sesudah Bait Allah II hancur. Pada mulanya umat Kristen (dhi. Jemaat Matius) dari kalangan Yahudi. Umat Kristen hidup rukun dengan orang Yahudi dan bersama-sama beribadah di sinagog. Pembedanya adalah umat Kristen mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias. Pada 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh kaum Zelot. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. Matius 4:23 adalah jejak sejarah pengucilan itu: Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 … Kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘢𝘶𝘵o𝘯) adalah bukti sudah ada pembedaan antara orang Yahudi (𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢) dan Jemaat Matius. Barangkali, mungkin, pengarang Injil Matius menulis itu penuh emosi? Bandingkan dengan Markus 1:21 dan Lukas 4:16 yang tidak menulis kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.       Perumpamaan di atas adalah kritik terhadap kaum Farisi. Para pengikut Yesus dipandang oleh kaum Farisi sebagai orang-orang buangan, yang diperhitungkan belakangan, kelompok terakhir. Namun, pada saat hari penghakiman (yang diumpamakan waktu penerimaan upah) menjadi yang pertama. Sebaliknya, kaum Farisi yang dipandang oleh masyarakat sebagai yang pertama, elit, karena tampak berperilaku sempurna dan dikagumi oleh banyak orang menjadi yang terakhir pada hari penghakiman. Mengapa demikian? Seperti disebut di ayat 15 mereka tidak berbelarasa kepada saudara-saudara sendiri bahkan memisahkan diri dan mengucilkan para pengikut Yesus. Iri hati menghilangkan belarasa (𝘤𝘰𝘮𝘱𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘵𝘦). Jadi, ayat 16 di atas bukan maksudnya orang yang belakangan pindah ke agama Kristen atau Kristen “lahir-baru” menjadi yang pertama mendahului orang-orang Kristen “tradisional” karena keturunan.
 (24092023)(TUS)

Jumat, 18 September 2026

Sudut Pandang Yunus 3 :10-4:11, Filipi 1 :21-30, dan Matius 20:1-16

Sudut Pandang Yunus 3 :10-4:11, Filipi 1 :21-30, dan Matius 20:1-16

PENGANTAR
Bacaan Pertama —Yunus 3:10–4:11

Secara sastra, bagian ini memakai ironi. Yunus, seorang nabi, justru kecewa ketika Allah mengampuni Niniwe. Kata Ibrani ra‘ah dapat berarti “kejahatan” sekaligus “malapetaka”; dalam konteks ini, manusia bertobat dari kejahatan, sedangkan Allah membatalkan malapetaka. Narasi menyingkap bahwa belas kasihan Allah lebih luas daripada batas nasionalisme, ras, suku, agama, prasangka, dan keinginan manusia untuk menghukum.

Pertanyaan Allah kepada Yunus menjadi puncak pedagogis teks: jika Yunus berbelas kasihan terhadap pohon jarak, bukankah Allah lebih berhak berbelas kasihan terhadap manusia dan bahkan hewan? Teks ini menjadi kritik terhadap pemimpin rohani yang lebih bersemangat mempertahankan kebenaran hukuman daripada merayakan pertobatan.

teks ini mengundang introspeksi: apakah kemarahan kita berasal dari kasih akan kekudusan Allah, atau dari luka ego, prasangka, dan keinginan untuk membenarkan diri?

Bacaan Kedua  Filipi 1:21–30

Paulus menempatkan hidup dan kematian dalam orientasi kepada Kristus. Ungkapan Yunani to zēn Christos menunjukkan bahwa hidup bukan terutama proyek aktualisasi diri, melainkan keberadaan yang berpusat pada Kristus. Sementara itu, politeuesthe berarti “hiduplah sebagai warga negara,” sehingga jemaat dipanggil memperlihatkan kehidupan komunitas yang layak bagi Injil.

Penderitaan tidak dipahami sebagai bukti kegagalan iman, melainkan sebagai bagian dari kesetiaan kepada Kristus. Namun teks ini tidak memuliakan penderitaan secara romantis, seperti surat Yakobus. Penderitaan memperoleh makna ketika dijalani dalam persatuan, keberanian, dan kesaksian.

Paulus menolong jemaat menghadapi kecemasan dan tekanan bukan dengan penyangkalan, melainkan dengan orientasi hidup yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.

Bacaan Injil — Matius 20:1–16

Perumpamaan pekerja di kebun anggur menyingkap kemurahan hati Allah yang tidak tunduk pada logika perbandingan manusia. Dalam konteks Matius 19:30, kisah ini menjelaskan bahwa “yang terdahulu” dan “yang terkemudian” tidak boleh diukur hanya berdasarkan senioritas, lama pelayanan, atau prestasi.

Keluhan pekerja pertama memperlihatkan krisis batin ketika keadilan dipahami sebagai hak untuk menerima lebih banyak daripada orang lain. Pertanyaan pemilik kebun anggur—apakah mata mereka jahat karena ia murah hati—mengungkap persoalan iri hati terhadap anugerah.

Secara teologis, Allah tetap adil, tetapi keadilan-Nya tidak terpisah dari kemurahan.  gereja dipanggil menguji budaya pelayanan yang kompetitif, hierarkis, dan mudah tersinggung ketika orang baru menerima kasih karunia yang sama.
PEMAHAMAN 
Ketiga bacaan menyatakan kasih Allah yang besar dan bebas:

-Yunus 3:10–4:11: Allah menghendaki pertobatan dan kehidupan, bukan kebinasaan.
- Filipi 1:21–30: Kristus menjadi pusat hidup, pelayanan, dan ketekunan dalam penderitaan.
- Matius 20:1–16: Anugerah Allah tidak boleh dipersempit menjadi sistem imbalan manusia.

bertobatlah dari cara berpikir yang membatasi belas kasihan Allah. Gereja dan para pemimpinnya perlu melakukan oto-kritik terhadap iri hati, eksklusivisme, pencarian penghargaan, serta kecenderungan mengukur sesama berdasarkan masa pelayanan dan prestasi, membuat klub, komunitas, circle, gang, dlsb di gereja hanya memperlebar perbedaan kaya miskin yg tidak kondusif di gereja.

Dasar pemikiran ketiga bacaan ialah bahwa umat Allah dipanggil menerima kemurahan Allah sekaligus menjadi komunitas yang murah hati berada dalam kesetaraan. Pertobatan bukan hanya perubahan perilaku pribadi, melainkan perubahan cara memandang manusia lain—dari pesaing menjadi sesama penerima anugerah. Konsep pengampunan dan pertobatan di Alkitab itu jelas, kita pergumulkan dalam bahan bacaan bulan September 2026 ini. Teguran harus disertai keinginan hati untuk mengampuni, berbelas kasih (lihat Allah dalam kasus Yunus), Bagi yang ditegur harus ada keinginan hati untuk otokritik dan intropeksi diri, melihat diri, melakukan pertobatan dg dua sisi dalam satu koin, Metanonia (berbalik pikiran dan hati) dan Epistoke (berbalik arah tindakan), satu ..... Menyesali diri karena tahu salah, dan meminta maaf atau meminta pengampunan, dua ..... berusaha untuk tidak melakukan lagi kesalahan yang sama dan berjuang proses untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan baru (lihat kasus Filipi dan Matius).
(19092026)(TUS)

Rabu, 16 September 2026

Ya, terdapat kaitan tematis antara eksposisi Kitab Amos dan Kitab Hosea, meskipun keduanya merupakan kitab yang berbeda dan tidak menyatakan bahwa salah satunya secara langsung mengutip yang lain.

- **Konteks pelayanan yang berdekatan:** Amos melayani pada zaman Uzia, raja Yehuda, dan Yerobeam II, raja Israel (**Amos 1:1**). Hosea juga melayani pada masa pemerintahan Yerobeam II (**Hosea 1:1**). Hal ini menunjukkan bahwa keduanya berbicara kepada umat Israel dalam periode sejarah yang berdekatan.

- **Kecaman terhadap ibadah yang tidak disertai kehidupan benar:** Amos menegaskan bahwa Tuhan menolak perayaan dan ibadah yang tidak disertai keadilan (**Amos 5:21–24**). Hosea menyatakan bahwa Tuhan menghendaki kasih setia dan pengenalan akan Allah, bukan sekadar korban persembahan (**Hosea 6:6**).

- **Teguran atas ketidaksetiaan umat:** Amos mengecam dosa sosial, penindasan, dan penyimpangan hukum (**Amos 2:6–8; 5:10–12**). Hosea menggambarkan Israel sebagai umat yang tidak setia kepada Tuhan dan mengejar berhala (**Hosea 4:1–2; 8:4–6**).

- **Panggilan untuk kembali kepada Tuhan:** Amos menyerukan, “Carilah Aku, maka kamu akan hidup” (**Amos 5:4–6**). Hosea juga menyerukan pertobatan dan pengenalan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan (**Hosea 6:1–3**).

- **Pesan penghakiman dan pemulihan:** Kedua kitab memperingatkan penghakiman atas dosa, tetapi juga menyatakan harapan pemulihan. Amos menutup dengan janji pemulihan umat Daud (**Amos 9:11–15**), sedangkan Hosea menekankan pemulihan hubungan Tuhan dengan umat-Nya (**Hosea 14:2–9**).

**Kesimpulan:** Dalam eksposisi, Amos dan Hosea dapat dibaca secara berdampingan karena memiliki tema yang saling menguatkan: Tuhan menolak agama yang hanya bersifat lahiriah, menuntut keadilan dan kesetiaan, serta tetap membuka jalan pertobatan dan pemulihan. Perbedaannya, Amos lebih menonjolkan **keadilan sosial**, sedangkan Hosea lebih menonjolkan **ketidaksetiaan umat dan kasih setia Tuhan**.
𝗣𝗿𝗮𝗽𝗮𝗵𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿

Sekolah tinggi teologi, apa pun alirannya, pasti memberikan mata kuliah penafsiran Alkitab. Metode-metode penafsiran yang diajarkan relatif sama. Pertanyaannya, mengapa hasil penafsiran bisa berbeda? Bahkan sesama tamatan STFT Jakarta, sebagai misal, bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda.

Perbedaan itu terjadi, terutama, karena perbedaan prapaham. Meski sudah puluhan tahun menjadi Kristen dan tamat sekolah tinggi teologi, seseorang belum tentu mau mengubah prapahamnya.

Saya berikan contoh menafsir Matius 18:21-22.
▶️Petrus: “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵 𝗸𝗮𝗹𝗶?”
▶️Yesus: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵 𝗽𝘂𝗹𝘂𝗵 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵.”

Saya menafsir: petulis Injil Matius mengubah formula yang terdapat dalam Kejadian 4:24. Dalam Kejadian 4:24 dikatakan: “Jika Kain harus dibalas tujuh kali lipat, maka Lamekh 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵 𝗽𝘂𝗹𝘂𝗵 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗵 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗹𝗶𝗽𝗮𝘁.”

Matius menggunakan angka yang berbeda: bukan tujuh puluh tujuh, melainkan tujuh puluh kali tujuh.

Orang yang tidak mau mengubah prapahamnya dalam membaca Alkitab dan memegang ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘉𝘪𝘣𝘭𝘦 akan membela bahwa petulis Injil Matius tidak mungkin keliru. Ia lalu mencari seribu satu alasan untuk memertahankan bahwa teks tidak mungkin keliru.

Saya? Saya tidak keberatan mengatakan bahwa Matius mengubah formula tersebut. Mengapa takut mengakuinya? Kalau memang berbeda, memangnya kenapa?

Justru di sini menariknya. Matius tampaknya tidak sedang menyoal ketepatan angka. Ia mengambil formula Lamekh tentang pembalasan yang berlipat-lipat, lalu mengalihrupakannya (𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘰𝘳𝘮) menjadi formula tentang pengampunan yang tidak terbatas.
♦️ Dari Lamekh: pembalasan.
♦️ Dari Yesus: pengampunan.

Bukan angka yang menjadi persoalan utama, tetapi arah teologisnya. Di sinilah kita melihat bagaimana Alkitab bekerja. Para petulis Alkitab tidak selalu mengutip teks terdahulu dengan cara yang memenuhi standar akademik modern tentang ketepatan kutipan. Mereka membaca, mengolah, menafsir, dan mengalihrupa tradisi yang mereka terima untuk menyampaikan kesaksian iman mereka.


Selasa, 15 September 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 21 : 23 - 32 (𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔), 𝗦𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘁, Koreksi Diri, Intropeksi Diri

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 21:23-32 (𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜I 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔), 𝗦𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘁, Koreksi Diri, Intropeksi Diri

PENGANTAR
Minggu, 27 September 2026. Tidak zaman dulu, tidak juga zaman sekarang, seringkali kita berlaku bodoh. Kita  terlatih untuk melihat  dan mendengar bahkan menuruti apa yang diucapkan pemimpin gereja atau bahkan pemimpin politik  dan taat, bukan melihat, mendengar dan jeli kritis atas apa yang diucapkan pemimpin gerejanya atau pemimpin politiknya.
Saya pernah menulis “artikel” tentang keselamatan kerja (𝘴𝘢𝘧𝘦𝘵𝘺). Ada yang memertanyakan kualifikasi saya mengenai keselamatan kerja termasuk sertifikasi. Saya menanggapi komentator dengan memintanya untuk menunjukkan kekeliruan saya agar saya benahi apabila memang keliru. Saya menulis dari apa yang saya ketahui dan apa yang saya alami. Komentator itu tidak menunjukkan kekeliruan saya selain memertanyakan kualifikasi saya.
PEMAHAMAN
Bacaan Injil Minggu ini secara ekumenis diambil dari Matius 21:23-32 yang didahului dengan Yehezkiel 18:1-4, 25-32, Mazmur 25:1-9, dan Filipi 2:1-13.

Bacaan Injil Minggu ini mengisahkan Yesus mengajar di Bait Allah. Hadirin yang ada di sana termasuk imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka bertanya kepada Yesus yang jika dibahasakan masa kini,”Kualifikasimu apa koq berani-beraninya ngajar kami?” (ay. 23). Yesus tidak terpancing dan justru balik bertanya,”Dari mana baptisan Yohanes?” (ay. 24-25a). Tentu saja pertanyaan itu membuat imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi menjadi kikuk. Jika dijawab dari Allah, maka konsekuensinya kualifikasi Yesus sah karena Ia juga dibaptis oleh Yohanes; jika dijawab dari manusia, mereka takut kepada banyak orang yang menganggap Yohanes adalah nabi. Langkah amannya mereka menjawab seperti jawaban tersangka korupsi di Indonesia,”Saya tidak tahu.” (ay. 25b-27a).

Atas jawaban itu Yesus bercerita yang menjadi ciri khas Ia mengajar. Ada seorang memiliki dua anak, Yesus mengawali cerita. Ia mendatangi anak sulung dan berkata,”Anakku, berangkat dan bekerjalah ke kebun anggur kita.” Anak sulung menjawab,”Baik, Pak!” Ternyata anak sulung itu tidak pergi ke kebun anggur. Orang itu mendatangi anak kedua,”Tolé, berangkat dan bekerjalah ke kebun anggur kita.” Anak kedua ini langsung menjawab,”Ogah, Pak!” Tidak seberapa lama anak kedua ini menyesali jawabannya dan segera ia beranjak bekerja ke kebun anggur milik keluarganya (ay. 28-30).

Yesus kemudian mengajukan pertanyaan kepada imam-imam kepala dan tua-tua itu,”Siapakah di antara kedua anak itu yang melakukan kehendak ayah mereka?” Mereka menjawab dengan malu-malu,”Yang terakhir.” Dengan telak Yesus mengajar mereka,”Yohanes (Pembaptis) datang menunjukkan jalan kebenaran, kalian melihatnya, tetapi kalian tidak percaya.” kata Yesus,” Para pemungut cukai dan perempuan sundal akhirnya percaya kepadanya. Merekalah yang mendahului kalian masuk ke dalam Kerajaan Surga.” 

Beberapa penafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan anak pertama itu adalah imam-imam kepala dan tua-tua. Mereka sangat mengetahui Kitab Suci dan hukum-hukum agama. Akan tetapi mereka tidak melakukan apa yang sudah diketahui oleh mereka. Anak kedua memerikan kaum marginal dari sistem puritas Yudaik. Mereka adalah para pemungut cukai, para pelacur, para penderita kusta yang harus disingkirkan dari komunitas, dlsb. Mereka tadinya tak tertarik mendengarkan pengajaran Yesus, tetapi kemudian tertarik dan menjalankan pengajaran Yesus. Yesus hendak mengontraskan antara situasi imam-mam kepala dan tua-tua dan kaum marginal. Ciri ajaran Yesus memang radikal.

Lewat perumpamaan tersebut Yesus hendak menyampaikan bahwa bukan orang-orang yang melakukan kewajiban hukum-hukum keagamaan yang diperkenan Allah, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗮𝗵𝗹𝗶 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮, melainkan orang-orang yang dapat melakukan dan mewujudkan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Orang-orang yang diperkenan Allah itu bukan orang yang sempurna, tanpa salah, melainkan orang biasa yang masih melakukan kesalahan, lalu bertobat,  yang dimaujudkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Kalangan pejabat gereja Protestan pada umumnya mencerap khotbah adalah mahkota liturgi, padahal liturgi leksionari bukan begitu. Sebagai pejabat gereja tertahbiskan (𝘰𝘳𝘥𝘢𝘪𝘯𝘦𝘥 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳), yang  berarti sudah bersertifikat, mereka merasa paling berhak menyampaikan khotbah atau homili, Mengatur tata kelola dan tata pelaksanaan harian gereja. Ironisnya tata kelola dan tata pelaksanaan gereja sering hamburadul tidak karuan, tidak ada sistimatika kerja bergereja, khotbah yang dicerap sebagai mahkota liturgi berisi pengajaran yang tak pernah mengarahkan pada koreksi diri dan intropeksi diri. Ini terjadi karena mereka merasa paling berhak dan paling benar sehingga mereka malas belajar, malas membaca, malas study banding ke gereja yang lain. Khotbah hanya memarafrase bacaan dan memaksa mencari pautannya dengan dogma gereja, tata kelola dan tata pelaksana gereja ya dikerjakan seadanya, seenak udelnya sendiri, malah tata gereja dan tata laksana gereja tidak pernah dibaca terlebih dipelajari, sebagai pengelola dan pelaksana gereja kok malah buat komunitas, circle, club', dlsb yg hal itu malah dikritisi oleh Alkitab .... parah. Karena pemimpin gerejanya, hanya menganggap gereja seakan organisasi biasa bukan gereja, pdhl mereka pejabat gereja yg diteguhkan, atau bersertifikat.

Yang menggelikan lagi banyak pemimpin gereja mengisi khotbah mereka dan menulis renungan atau sejenisnya dengan merujuk Kitab Mazmur. Mazmur adalah tehillim. Kitab Mazmur berarti Kumpulan Nyanyian. Menurut C. S. Lewis mazmur merupakan syair dan syair yang dimaksudkan itu untuk dinyanyikan, bukan risalah doktrin, juga bukan untuk khotbah. 

Dalam kehidupan sehari-hari sebuah nyanyian atau lagu bagi seseorang akan mengingatkannya pada suatu tempat, suatu momen, atau seseorang. Sangatlah tidak nyambung para pemimpin gereja menafsir sebuah mazmur kemudian dijadikan khotbah atau tulisan renungan untuk didengar dan dibaca oleh umat. Mereka menikmati atas ketaatan umat untuk mendengar siapa yang berucap, bukan apa yang diucap, umat terlatih untuk melihat apa yang diucapkan pemimpin gereja dan taat, bukan melihat dan jeli kritis atas apa yang diucapkan pemimpin gerejanya. Mereka menikmati tepuk tangan dari para pendegar dan pembaca. Mereka mengalami orgasme mandiri.

Bacaan Injil Minggu ini sangat tepat untuk menjadi otokritik kepada para pejabat gereja, pemimpin gereja, orang-orang bersertifikat. Apakah mereka berani melakukan otokritik? Koreksi diri dan intropeksi diri? Ketaatan adalah ketika kita hidup dalam pertobatan dan pengampunan

(27092020)(TUS)

Senin, 14 September 2026

SUDUT PANDANG EKSPOSISI KRITIS SURAT YAKOBUS DENGAN TAJUK : LIDAH, HARTA, & MEMBEDAKAN HIKMAT, KOMUNITAS DALAM GEREJA, DOA PEMULIHAN

SUDUT PANDANG EKSPOSISI KRITIS SURAT YAKOBUS DENGAN TAJUK :  LIDAH, HARTA, & MEMBEDAKAN HIKMAT,  KOMUNITAS DALAM GEREJA, DOA PEMULIHAN

PENGANTAR
Ibadah sebagai suatu perlawanan sebagai tema bulan kategese liturgi adalah ajakan Yesus dan Yohanes Pembaptis untuk tidak jadi sama dengan dunia, surat Yakobus membuka hal tsb lebih nyata bagi kita. Kalau kita membaca buku terkait surat Yakobus utamanya mengenai latar belakang zamannya dan sejarah : James Richard Bauckham (1999; seri New Testament Guides), Brother of Jesus, Friend of God: Studies in the Letter of James Luke Timothy Johnson (2004), The Letter of James, Douglas J. Moo (2000; seri Pillar New Testament Commentary). James: A Commentary, Joel B. Green (2025; seri New Testament Library), Reading the Epistle of James: A Resource for Students, Eric F. Mason & Darian R. Lockett (2011/edisi terbaru), Life Application Bible Commentary: James. Dari buku-buku tsb, ada baiknya kita memahami latar belakang surat , Yakobus tulis ± 48-50M dari Yerusalem. Penerima: 12 suku di perantauan  diaspora Yahudi-Kristen. Sudut Budaya: kehormatan atau tindakan memalukan dalam bergereja. Gereja rumah-rumah kecil 20-40 orang. Belum ada gedung, masih bertempur dan terusir dari sinagoga. Status sosial ditentukan oleh: silsilah, kekayaan, dan kefasihan bicara di sinagoga, kefasihan berbahasa, itulah kenapa Paulus yg fasih berbahasa banyak menjadi golongan terpandang dan dianggap orang pandai pada zamannya.  Psikologi jemaat,   mereka miskin, tertindas, rindu balas dendam pada Yudaisme. Mudah jadi sarkastik, mudah diatur yang kaya oleh karena kondisi kemiskinan, karena Yudaisme lebih kaya dari umat Yerusalem, seringkali Yudaisme mencari pengikut untuk kembali ke sinagoga (Yudaisme) dengan iming-iming kekayaan dan kenikmatan ikut si kaya, kritisi Yakobus termasuk umat di luar Yerusalem yg tutup mata terhadap kemiskinan umat di Yerusalem, dan kritis terhadap umat miskin  Yerusalem yg mudah tergiur pada kekayaan, ada gula ada semut, disebut surat Yakobus sebagai hikmat duniawi, tanpa memiliki mental baja, mandiri karena iman, yg kemudian surat Yakobus menyebutnya sebagai hikmat dari atas. Itulah surat Yakobus, membedah cara pandang umat thp kemiskinan dan kekayaan. Sukacita dalam penderitaan adalah kritisi surat Yakobus thp umat miskin Yerusalem, yg tidak memandang kemiskinan sebagai ujian untuk menjadi lebih baik dihadapan Allah, malah bersikap ikut arus dan memuja umat kaya, utamanya umat kaya Yudaisme. Surat Yakobus, mengkritisi umat kaya yg buta thp kemiskinan teman sepersekutuannya, yg betul butuh uluran tangan, malah memilih umat miskin untuk menjadi komunitasnya, utamanya untuk ditarik ke Yudaisme, hal tsb nampaknya menjadi konflik dalam umat Yerusalem, membuat kesenjangan serta perpecahan antar umat Yerusalem, terjadi tebang pilih, shg surat Yakobus mengkritisi dosa lidah, dan surat Yakobus diakhiri dg doa pemulihan. Surat Yakobus memakai gaya sastra hikmat Yahudi yang bersifat praktis, padat, dan penuh metafora. Bahasa aslinya, Yunani Koine, memperlihatkan perhatian pada perilaku nyata, bukan sekadar pengakuan iman. Surat ini berbicara kepada komunitas yang mengalami tekanan sosial, kesenjangan ekonomi, konflik internal, dan penyalahgunaan status.
PEMAHAMAN 
PERKARA LIDAH - Yak 3:2-10. Yah .... Yakobus 3:2–10, menggambarkan lidah melalui metafora kekang kuda, kemudi kapal, dan api. Lidah memang kecil, tetapi mampu mengarahkan atau menghancurkan kehidupan bersama. Persoalan utamanya bukan hanya kata-kata kasar, melainkan ketidakkonsistenan rohani: memuji Tuhan tetapi merendahkan manusia yang diciptakan menurut gambar Allah (Yakobus 3:9–10). Secara pastoral, ucapan dapat membangun rasa aman atau menimbulkan luka, gosip, pengelompokan, dan ketidakpercayaan. Karena itu, pewartaan Yakobus mengarahkan jemaat kepada disiplin berbicara: benar, mengendalikan diri, tidak memfitnah, dan tidak memakai bahasa rohani untuk menutupi agresi sosial. Bahasa asli:glossa = lidah, cheilinos = kekang kuda, pedalion = kemudi kapal. Dua metafora kontrol. Lidah kecil mengendalikan arah hidup besar. pur = api. Di tradisi Yahudi, api = Gehenna. Yak 3:6 "lidah adalah api... dinyalakan oleh api neraka". Ini bukan hiperbola. Bagi Yakobus, gosip itu setan, pemecah umat. Struktur kiastik  mulai: tidak tersandung,  sempurna 3:2, binatang bisa dijinakkan tapi lidah tidak 3:7-8, dari mulut yang sama keluar berkat & kutuk 3:10. Kontradiksi liturgis. Lidah zaman Yakobus = status di sinagoga. Lidah zaman now = status di WA group, Instagram story, mimbar, percakapan antar umat, dalam kelompok, dalam bbrp orang umat. Gereja hancur bukan karena bidat, tapi karena gosip jemaat.
, orang yang insecure akan mengangkat diri dengan menjatuhkan orang lain lewat lidah.Tidak ada orang dewasa yang lidahnya liar, tapi lidah harus dikendalikan. Yak 2:1-9, 5:1-6. Kehidupan umat seharusnya tak bersenjang, tapi setara, semua sama, tak ada circle, tak ada komunitas, tak ada club', dlsb. Dosa lidah mengakibatkan tebang pilih:prosopolepsia = melihat muka. 

Yakobus 2:1–9, mengecam perlakuan istimewa kepada orang kaya di pertemuan jemaat. Dalam budaya kehormatan dan rasa malu pada zaman itu, pakaian serta kedudukan sosial menjadi penanda status. Jemaat yang memuliakan orang kaya dan merendahkan orang miskin sedang mengadopsi nilai masyarakat, bukan “hukum utama” kasih (Yakobus 2:8).
Yakobus 5:1–6 juga mengkritik kekayaan yang diperoleh dan dipertahankan melalui penindasan. Kritik ini bukan sekadar terhadap kepemilikan, melainkan terhadap kekayaan yang tidak berbelas kasih dan mengabaikan keadilan. Penerapan kini menuntut gereja memeriksa akses pelayanan, kepemimpinan, bantuan sosial, dan cara menghormati jemaat yang miskin. Praktek sinagoga: orang kaya pakai chrysodaktylios = cincin emas, baju lampra = mengkilap, didudukan di kursi bagus. Orang miskin baju rypara = kotor, suruh berdiri atau duduk di lantai = posisi budak. Ini budaya patron-klien Romawi, Orang kaya = pelindung, seharusnya jadi pelindung umat, membantu umat yg mrmbutuhkan, bukan memecah belah umat dg membuat circle atau komunitas, shg umat miskin tersingkirkan, bisa bela jemaat di pengadilan, konteks zamannya. Jadi wajar secara sosiologis gereja menjilat orang kaya. Yakobus disebut ini zina rohani. Harta: Yak 5:1-6 bukan kutuk orang kaya, tapi kutuk sistem penimbunan, sistim tidak peduli pada yg membutuhkan. Kata thesaurizo = menimbun 5:3. Di Palestina, gandum ditimbun sampai berulat, upah buruh ditahan. Itu kejahatan ekonomi. Bahasa asli:mimik, Yakobus tidak bilang "jangan kaya", tapi "jangan memuliakan kekayaan", cara pandang thp kekayaan seperti pada Injil lukas. Yak 1:9-11 orang miskin bermegah karena tinggi di mata Allah, orang kaya bermegah karena direndahkan "karena bunganya layu". 

Yakobus 2 adalah dasar teologi anti-klub, anti komunitas, anti circle dalam gereja. Walaupun Yakobus tidak memakai istilah modern seperti “club”, "circle", "komunitas", dlsb. Prinsipnya jelas: pengelompokan yang menghasilkan penghinaan dan ketidakadilan bertentangan dengan iman (Yakobus 2:1–4). Komunitas pertemanan tidak salah, tetapi menjadi buruk ketika menguasai ruang gereja, menentukan siapa yang diterima, menyebarkan gosip, atau membuat anggota lain merasa asing, buruk ada ketidak seyaraan, ada kesenjangan umat. Psikologi surat Yakobus, anti menciptakan in group vs out group. Jemaat baru, miskin, tidak gaul, gak masuk circle, gak masuk komunitas, dlsb merasa orphaned di rumah sendiri, merasa asing karena dalam gereja muncul klub, komunitas, circle, dlsb. Gereja berubah dari ekklesia = dipanggil keluar dari dunia, menjadi koleksi klub, koleksi circle, koleksi komunitas, dlsb yang membawa nilai dunia masuk ke gereja, padahal konsepnya jangan jadi sama dengan dunia. Dosa lidah dalam circle, dalam komunitas, dalam klub membuat gosip terstruktur. 

Yakobus 3:13–18 membedakan hikmat melalui karakter dan buahnya. Hikmat dari atas bersifat murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, dan menghasilkan kebenaran (Yakobus 3:17–18). Sebaliknya, iri hati dan ambisi egoistis melahirkan kekacauan. Akar konflik dijelaskan secara langsung dalam Yakobus 4:1–3: keinginan yang berperang dalam diri manusia. Konflik bukan hanya masalah komunikasi, melainkan persoalan hasrat, perebutan pengakuan, kuasa, dan kepuasan diri. Lidah 3:6 jadi sistem. Doa tidak naik, gosip yang naik. "Kalau di gereja masih ada kursi VIP untuk anggota klub, anggota circle, anggota komunitas, dlsb berarti kita belum paham salib. Di salib semua duduk di lantai, setara." Yak 3:13-18. Dua hikmat dibedakan bukan dari kepintaran, tapi dari buahnya.Hikmat duniawi: epigeios, psychike, daimoniodes_ = dari bumi, dari jiwa manusia, dari setan. Cirinya: zelos pikros & eritheia = iri hati yang pahit & mementingkan diri sendiri 3:14,16. Hasilnya: akatastasia = kekacauan, kekacauan pastoral, kesenjangan umat.Hikmat dari atas: 7 ciri: hagne, eirenike, epieikes, eupeithes, meste eleous, karpon agathon, adiakritos = murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, buah baik, tidak memihak 3:17. Ini seperti Mazmur Kebijaksanaan Yahudi. Hikmat tidak dinilai dari khotbah, karya bergereja, koor, nyanyian, alat musik, dlsb yang hebat, tapi dari karakter yang tidak menimbulkan konflik, berani mengkritisi dunia, ibadah adalah perlawanan. Banyak gereja kagum pada pemimpin gereja yang pintar bicara, pintar otaknya, tapi umatnya pecah belah. Yakobus bilang: cek buahnya, bukan retorikanya. Yak 4:1-3, polemos & mache = perang & perkelahian fisik. Hedone = hawa nafsu yang berperang di dalam tubuh. Epithymeo = mengingini sampai membunuh - bukan bunuh fisik, tapi karakter. 

Akar konflik menurut Yakobus bukan perbedaan doktrin, tapi hedone / keinginan yang tidak terpuaskan. Teologi keinginan. Budaya zaman itu: kehormatan harus direbut. Jadi jemaat bertengkar karena rebutan pengaruh, rebutan dilayani, umat kaya cari pengaruh di umat miskin, bencana kemiskinan tak teratasi malah makin parah. Surat Yakobus melihat, 90% konflik gereja bukan soal Alkitab, tapi soal "aku tidak dapat yang aku mau". Mau dihormati, mau didengar, mau jabatan, mau pengikut, mau club', mau circle, mau komunitas, dlsb. Doa pun jadi manipulatif 4:3 "kamu berdoa untuk memuaskan hawa nafsumu". "Gereja tidak pecah karena iblis dari luar. Gereja pecah karena keinginan dari dalam.

" MENGAPA DITUTUP DENGAN DOA PEMULIHAN - Yak 5:13-20, Ini klimaks yang jenius dari surat Yakobus. Setelah 4 pasal menegur keras tentang lidah, harta, klub, konflik, Yakobus tidak tutup dengan "hukum". Dia tutup dengan "mezbah". Struktur Yak 5:13-20:

Sakit? -> Doa pribadi
Sukacita? -> Puji-pujian
Sakit keras? -> Panggil penatua, oles minyak, pengakuan dosa
Sesat? -> Saling memulihkan.

aleipho elaion = oles minyak bukan sakramen akhir, tapi praktek medis + doa zaman itu. Minyak zaitun adalah obat P3K. Yakobus satukan medis dan pastoral. astheneo = lemah, bukan hanya fisik tapi lemah karena dosa & beban konflik. exomologeo = mengaku dosa satu sama lain 5:16. Ini bukan pengakuan ke imam, tapi komunitas yang saling rentan. Mengapa doa di akhir? Karena Yakobus tahu: Lidah tidak bisa dijinakkan manusia 3:8. Klub tidak bisa dibubarkan dengan peraturan. Konflik tidak bisa diselesaikan dengan rapat. Hanya doa yang bisa memulihkan. Dia mulai surat dengan "minta hikmat" 1:5 dan tutup dengan "kuasa doa" 5:16-18. Inklusi sastra.
Gereja yang penuh kritik, gosip, dan klub, circle, komunitas hanya bisa sembuh kalau kembali jadi komunitas doa. Bukan komite. Pemulihan bukan tanggung jawab bersama, tanggung jawab persekutuan /gereja 5:19-20 "kalau ada yang sesat, saudara memulihkan". Lidah yang liar melahirkan klub, circle, komunitas, dlsb yang liar. Mulai dari gosip, berakhir dengan geng. Klub, circle, komunitas, dlsb yang liar melahirkan tebang pilih,  Orang dalam disayang, orang luar dibuang. Tebang pilih melahirkan konflik.  Karena semua mau jadi patron. Konflik hanya bisa disembuhkan oleh doa yang jujur. 

Bukan program kerja baru. Yakobus tidak mau gereja jadi kumpulan orang benar yang menghakimi. Dia mau gereja jadi rumah sakit tempat orang lemah saling mengaku dan saling mendoakan. "Doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya" 5:16b - bukan karena orangnya hebat, tapi karena doa itu satu-satunya cara lidah dipakai untuk memulihkan, bukan membakar. Yakobus 5:13–20, menutup surat dengan doa, pengakuan dosa, kepedulian, dan pemulihan. Ini menunjukkan bahwa komunitas iman bukan ruang bagi orang sempurna, melainkan tempat luka dihadapi bersama. Pemulihan mencakup tubuh, relasi, dan kehidupan rohani.

Arah pewartaannya jelas: gereja harus menjadi komunitas yang mengendalikan lidah, menolak diskriminasi, membedakan hikmat melalui buah kehidupan, serta memulihkan mereka yang tersesat. Dengan demikian, iman menjadi nyata dalam keadilan, belas kasihan, dan kehidupan bersama yang sehat.
(15092026)(TUS)

Baca juga :
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-kebahagiaan-di-tengah.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2026/07/baik-berikut-analisa-akademik-mengenai.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/kesimpulan-singkat-surat-yakobus-tidak.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/lokasi-ayat-yakobus-516-tb-karena-itu.html



















Sudut Pandang 𝗔𝗻𝗮𝗸, 𝗦𝗶𝗱𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻

Sudut Pandang 𝗔𝗻𝗮𝗸, 𝗦𝗶𝗱𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻

𝗔𝗻𝗮𝗸, 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁i, 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗶 𝗗𝘂𝗹𝘂, 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗞𝗲𝗺𝘂𝗱𝗶𝗮𝗻

Kemarin saya sudah menulis mengenai persengketaan apakah anak yang sudah dibaptis, tetapi belum angkat sidi, boleh atau tidak turut dalam Ekaristi. Lihat https://www.facebook.com/share/p/14rWCH3Jh1S/ 

Ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan secara lebih serius dalam pembicaraan mengenai anak dan Ekaristi: 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗶𝗻𝘆𝗮?

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana. Namun, kalau kita memahami liturgi sebagai proses pembentukan iman, jawabannya tidak sesederhana itu.

Dalam seri tulisan saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝘁𝗮 𝗮𝗰𝗮𝗿𝗮. Lihat https://www.facebook.com/share/p/17U41pYert/  𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗴𝗼𝗴𝗶 yang bekerja melalui pengulangan. Ia mengajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi melalui apa yang umat lihat, dengar, katakan, lakukan, dan alami 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴-𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴.

▶️Anak berdiri ketika Injil dibacakan.
▶️Anak mendengar Pengakuan Dosa.
▶️Anak mendengar Berita Anugerah.
▶️Anak mengucapkan doa Bapa Kami.
▶️Anak melihat roti dan anggur dibawa ke meja.
▶️Anak mendengar kata-kata institusi.
▶️Anak melihat jemaat makan dan minum bersama.

Semua itu sebenarnya sudah merupakan proses pendidikan iman. Lalu mengapa ketika sampai pada Ekaristi kita tiba-tiba mengatakan: “Tunggu dulu. Kamu belum memahami.”

Di sinilah saya kira ada persoalan mendasar. Jika pemahaman harus selalu mendahului pengalaman, maka hampir seluruh proses pendidikan iman anak harus dihentikan sampai anak mampu memberikan penjelasan teologis yang memadai.

▶️Anak harus memahami baptisan sebelum dibaptis?
▶️Anak harus memahami kasih karunia sebelum menerima pengampunan?
▶️Anak harus memahami makna doa sebelum ikut berdoa?
▶️Anak harus memahami Kristologi sebelum boleh menyanyikan himne tentang Kristus?

Tentu saja tidak!

Kita justru mengenal iman melalui keterlibatan di dalam kehidupan iman. Mengalami bukan lawan memahami. 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶. Itulah cara kerja pedagogi liturgi.

Seorang anak yang berkali-kali berdiri ketika Injil dibacakan barangkali mula-mula tidak mengerti mengapa ia harus berdiri. Namun, tubuhnya lebih dahulu belajar melakukan apa yang dilakukan komunitas iman. Kelak ia dapat bertanya: “Mengapa kita berdiri ketika Injil dibacakan?”

Pada saat itulah pengalaman liturgis yang telah berlangsung bertahun-tahun menjadi pintu masuk menuju pemahaman. Demikian pula dengan Ekaristi.

Anak boleh jadi belum mampu menjelaskan secara teologis apa arti “tubuh Kristus” (padahal umat bertubuh dewasa yang sudah angkat sidi juga banyak yang belum paham wkwkwkwk). Ia mungkin belum memahami seluruh sejarah doktrin Ekaristi. Ia bahkan mungkin belum mampu membedakan beraneka pemahaman mengenai kehadiran Kristus dalam Perjamuan Tuhan. Akan tetapi apakah itu berarti ia tidak dapat mengalami bahwa Gereja berkumpul di sekeliling meja, menerima makanan yang sama, mengucap syukur kepada Allah, dan mengambil bagian dalam persekutuan tubuh Kristus? Saya kira tidak.

Justru di situlah liturgi bekerja. 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘀𝗲𝗻𝘆𝗮𝗽. Minggu demi Minggu. Tahun demi tahun. Sampai sesuatu yang mula-mula hanya dilakukan perlahan-lahan menjadi sesuatu yang dipahami dan dihayati.

Untuk itu saya melihat persoalan “anak belum memahami Ekaristi” secara agak berbeda. Pertanyaannya bukan hanya: “Apakah anak sudah memahami Ekaristi?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗽𝗮𝗿𝘁𝗶𝘀𝗶𝗽𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶?”

Jika anak selalu dilarang mendekati meja Perjamuan Tuhan sampai ia dianggap sudah memahami meja itu, kita menciptakan sebuah lingkaran yang aneh: Tidak boleh ikut karena belum memahami.
Padahal: Bagaimana ia akan belajar memahami kalau ia tidak pernah diberi kesempatan untuk ikut?

Di sinilah prinsip 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗶 𝗱𝘂𝗹𝘂, 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗱𝗶𝗮𝗻 memeroleh maknanya. Bukan berarti pemahaman tidak penting. Justru sebaliknya. Pemahaman sangat penting. Namun, pemahaman iman tidak selalu lahir lebih dahulu sebelum pengalaman iman. Dalam liturgi keduanya berlangsung dalam hubungan timbal-balik.

𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗶𝗸𝘂𝘁 ➡️𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 ➡️ 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 ➡️ 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 ➡️ 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 ➡️ 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 ➡️𝗔𝗻𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶.

Di sini juga prinsip 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮: 𝗽𝗮𝗿𝘁𝗶𝘀𝗶𝗽𝗮𝘀𝗶 ➡️ 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 ➡️ 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 ➡️ 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 ➡️ 𝗿𝗲𝗳𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶 ➡️ 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗮𝗻 ➡️ 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝘆𝗮𝘁𝗮𝗻.

Anak semakin mampu menghayati apa yang ia rayakan. Itulah sebabnya liturgi tidak dapat dilunturkan menjadi sesuatu yang hanya boleh diikuti oleh orang yang sudah memahami seluruh maknanya. 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗷𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻.

Oleh sebab itu sulit memertahankan sidi semata-mata sebagai “ujian pemahaman” yang menentukan apakah seorang anak sudah layak berada di meja Perjamuan Tuhan. Sidi dapat mempunyai gawai lain: pengakuan iman yang sadar, penerimaan tanggung jawab keanggotaan, atau bentuk pendewasaan tertentu dalam kehidupan gerejawi.

Menjadikan sidi sebagai pagar yang menghalangi anak yang sudah dibaptis dari Ekaristi membutuhkan dasar teologis yang jauh lebih kuat daripada sekadar: “Anak belum mengerti.” Gereja tidak mendidik anak dengan pertama-tama mengeluarkannya dari kehidupan liturgis, lalu memasukkannya kembali setelah ia dianggap cukup mengerti. Gereja mendidik anak 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶.

Anak belajar berdoa dengan berdoa. Anak belajar menyanyi dengan menyanyi. Anak belajar menjadi bagian dari komunitas dengan berada di dalam komunitas. Kalau Ekaristi adalah pusat kehidupan persekutuan Gereja, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 𝗷𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗶𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺𝗻𝘆𝗮?

Mungkin persoalannya bukan bahwa anak terlalu kecil untuk memahami Ekaristi. Mungkin justru kita yang terlalu cepat mengira bahwa pemahaman harus selalu datang sebelum partisipasi. 

Padahal liturgi mempunyai cara mengajar yang berbeda.
♦️Kita melakukan sebelum mampu menjelaskan.
♦️Kita mengalami sebelum mampu merumuskan.
♦️Kita mengulang sebelum mampu mengartikulasikan.

Dari sanalah pemahaman bertumbuh.

Di sini saya kembali kepada pertanyaan dari tulisan sebelumnya: 𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?

Kalau jawabannya adalah Tuhan, maka tugas Gereja bukan pertama-tama menentukan siapa yang cukup mengerti untuk mendekati meja itu. Tugas Gereja adalah 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗶𝘁𝘂, termasuk anak-anak yang telah dibaptis, sambil mengatakan:

“𝗠𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗸𝘂𝘁 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗸𝗮𝗺𝗶. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻.”








Saya membaca kegundahan Boksu Joas Adiprasetya mengenai 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗸𝗲𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗚𝗞𝗜. Kegundahan itu menurut saya sangat beralasan. Dalam Tata Gereja baptisan dinyatakan sebagai pintu masuk ke dalam Gereja. Namun, pada saat yang sama GKI membedakan anggota baptisan dan anggota sidi. Pembedaan itu bukan sekadar istilah administratif. Dalam praktiknya pembedaan tersebut menghasilkan konsekuensi yang sangat nyata: 𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮 𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗸𝗲𝗻𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶.

Di sinilah saya mula bertanya. Jika baptisan adalah pintu masuk ke dalam Gereja, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗹𝗲𝘄𝗮𝘁𝗶 𝗽𝗶𝗻𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗻𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?

Pola yang selama ini dikenal secara umum dalam GKI adalah: 𝗕𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 ➡️ 𝗦𝗶𝗱𝗶 ➡️ 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶.

Saya kira persoalannya bukan terutama pada usia berapa seseorang harus menerima sidi. Persoalannya jauh lebih mendasar: 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶? Padahal sidi bukan sakramen. Oleh karena itu menjadi agak ganjil apabila sesuatu yang 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 justru dijadikan syarat untuk menerima 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻.

Lebih menarik lagi kalau persoalan ini kita lihat dari 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 itu sendiri. Dalam liturgi Ekaristi Protestan, khususnya dalam rangkaian liturgis yang lazim kita kenal, persiapan menuju meja Perjamuan Tuhan justru menempatkan 𝗱𝘂𝗮 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝗼𝗻𝗸𝗿𝗲𝘁.

▶️ Kesatu, 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝘂𝗱𝗮𝗿𝗮. Hal ini dinyatakan dalam 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪.
▶️ Kedua, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮. Hal ini dinyatakan dalam 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪: 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪.

Dengan demikian liturgi Ekaristi sendiri membawa kita kepada persoalan 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝗶𝗹𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗮𝗻. Di sini saya tidak menemukan dalam logika liturgi Ekaristi itu sebuah syarat: “𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗱𝗶?” Tidak ada.

Jadi, muncul sebuah ironi yang sulit diabaikan: 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗷𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗶𝗱𝗶.

Jadi, yang sebenarnya menjadi syarat datang ke meja Tuhan itu apa? 𝗕𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶, 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗱𝗶?

Kalau jawabannya 𝘀𝗶𝗱𝗶, kita perlu menunjukkan dasar teologisnya, karena liturgi Ekaristi sendiri tidak mengajarkannya.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗮𝗸?

Saya mencoba melihat persoalan ini melalui teropong Injil Yohanes. Dalam Yohanes 6 kita menemukan kisah Yesus memberi makan lima ribu orang. Kisah ini memang tampak mirip dengan kisah pemberian makan lima ribu orang dalam Injil Sinoptik. Akan tetapi menurut saya perbedaan teologisnya justru sangat penting.

Dalam Sinoptik pemberian makan kepada orang banyak ditempatkan dalam konteks 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀. Orang banyak itu seperti domba tanpa gembala dan Yesus tergerak oleh belas kasihan (𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩ē). 

Yohanes menyajikan sesuatu yang berbeda. Yesus 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻. Perhatikan cara Yohanes menceritakannya: 

▶️ Yesus mengambil roti, mengucap syukur, lalu 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗴𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 roti itu kepada orang-orang yang duduk. Ia juga membagikan ikan-ikan itu.
▶️ Yesus tidak menyuruh murid-murid membagikan makanan. 
▶️ Yesus sendiri menjadi tuan rumah dan pelaku utama perjamuan itu.

Untuk itu saya berani menyebut peristiwa tersebut sebagai 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 dalam kerangka teologi Injil Yohanes. Tindakan Yesus pada ayat 11 tidak berhenti sebagai tindakan memberi makan. Tindakan itu justru memersiapkan apa yang kemudian dikatakan Yesus: “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” (Yoh. 6:48) dan: “𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢.” (Yoh. 6:50–51)

Yohanes 6:51–58 kemudian membawa refleksi itu semakin jauh. Makan roti tidak lagi hanya berbicara mengenai mengatasi rasa lapar. Tema makan dan minum menjadi bagian dari pewartaan mengenai Yesus sendiri sebagai sumber kehidupan.

Jadi, dalam Injil Yohanes pemberian makan lima ribu orang bukan sekadar kisah mukjizat untuk menunjukkan bahwa Yesus mampu menyediakan makanan. 
▶️ Yesus menyelenggarakan perjamuan. Yesus adalah 𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵. 
▶️ Yesus sendiri membagikan makanan. 
▶️ Makanan itu kemudian ditafsirkan melalui diri-Nya sebagai Roti Kehidupan.

Ada satu detil kecil yang justru menurut saya sangat menarik. Lima roti dan dua ikan itu berasal dari 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗻𝗮𝗸 (Yoh. 6:9). Seorang anak berada di tengah peristiwa yang saya baca sebagai Perjamuan Tuhan. Anak itu tidak ditanya apakah ia sudah menyelesaikan katekisasi. Tidak ditanya apakah ia sudah menerima pengakuan percaya. Tidak ditanya apakah ia sudah angkat sidi. Ia ada di sana. Yesus menerima apa yang dibawa anak itu. 

Bandingkan dengan kisah pemberian makan dalam Injil Sinoptik. Di sana lima roti dan dua ikan berada pada pihak para murid. Dalam Yohanes justru seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan itu. Detil kecil ini jangan dianggap kebetulan. Yohanes sedang membangun narasinya sendiri: anak itu hadir di tengah perjamuan yang diselenggarakan Yesus, dan apa yang ada padanya diterima serta digunakan oleh Yesus untuk memberi makan orang banyak.

Jadi, ketika kita berbicara tentang anak dalam hubungan dengan Perjamuan Tuhan, Injil Yohanes memberikan detil yang tidak diberikan oleh Sinoptik: seorang anak berada di dalam peristiwa makan yang diselenggarakan dan dilakukan oleh Yesus sendiri. Ironisnya, justru dalam Gereja kita anak yang sudah dibaptis harus menunggu mengangkat sidi sebelum diperbolehkan datang ke meja Perjamuan Tuhan.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa Yohanes 6 dapat begitu saja disamakan secara historis dengan praktik Ekaristi Gereja kemudian. Itu akan menjadi penyederhanaan eksegetis. Yang mau saya katakan adalah bahwa 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗿𝗼𝘁𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝘂𝗮𝘁.

Ada hal lain yang tidak kalah penting. Dalam Injil Yohanes pada malam sebelum penyaliban, tidak ada kisah institusi Ekaristi seperti yang kita temukan dalam Injil Sinoptik. Yohanes 13–17 justru membawa kita kepada pembasuhan kaki, perintah baru, wejangan-wejangan Yesus, janji mengenai Roh Kudus, dan doa Yesus. Yohanes tidak menempatkan institusi Ekaristi pada malam terakhir. Tema roti dan makan justru memeroleh tempat yang sangat penting dalam Yohanes 6.

Oleh karena itu kalau kita hendak berbicara tentang 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀, saya kira Yohanes 6 tidak boleh begitu saja dilangkahi.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗱𝗶?

Di sini perbandingan dengan tradisi Katolik juga menjadi menarik. Dalam tradisi Katolik dikenal tiga sakramen inisiasi: 𝗕𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀, 𝗞𝗿𝗶𝘀𝗺𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶. Secara ideal ketiganya merupakan satu kesatuan inisiasi. Namun, dalam praktik sejarah dan pastoral urutannya tidak selalu linear.

Ada orang yang dibaptis ketika masih bayi, kemudian menerima Ekaristi, dan baru menerima Krisma bertahun-tahun kemudian. Bahkan bukan hal yang aneh kita menemukan banyak orang yang sudah berusia lanjut tetapi belum menerima Krisma.

Akan tetapi orang-orang tersebut tidak kemudian dinyatakan: “Kamu belum menjadi anggota Gereja Katolik sepenuhnya.” Yang dikatakan adalah bahwa 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶, bukan bahwa keanggotaannya belum penuh.

Ini pembedaan yang sangat penting: 𝗜𝗻𝗶𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵.

Kembali pada kegundahan Boksu Joas mengenai keanggotaan GKI, jangan-jangan persoalan kita (GKI) bukan bagaimana membuat anak lebih cepat angkat sidi supaya lebih cepat boleh menerima Ekaristi. Jangan-jangan persoalannya justru adalah 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻.

Kalau baptisan sudah memasukkan seseorang ke dalam Gereja, kalau sidi bukan sakramen, kalau liturgi Ekaristi sendiri tidak mengajukan syarat sidi, dan kalau Injil Yohanes memberikan kepada kita gambaran tentang Yesus yang menyelenggarakan perjamuan dengan seorang anak berada di dalam komunitas yang menerima makanan dari tangan-Nya, maka kita mempunyai alasan yang cukup kuat untuk mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?

Saya kira pertanyaan ini tidak boleh dijawab hanya dengan: “Memang tradisi GKI begitu.” Tradisi gereja harus selalu bersedia diperiksa kembali oleh 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯, 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻, 𝗲𝗸𝗹𝗲𝘀𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶.

Pada akhirnya persoalannya bukan sekadar: “Kapan anak harus angkat sidi?” Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah: “𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?”

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menentukan siapa yang belum boleh makan, sampai lupa bertanya: 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗶𝘁𝘂?

Kalau kita percaya bahwa yang membuka meja adalah Tuhan sendiri, saya kira kita perlu sangat berhati-hati ketika Gereja membuat pagar yang tidak dibuat oleh-Nya.

(15092026)(TUS)
Baca juga :
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/pemahaman-sinengker-dalam-bahasa-jawa.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/07/sudut-pandang-perjamuan-kudus-anak.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/07/sudut-pandang-perjamuan-kudus-anak.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-bahan-pendadaranpersiapan.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-persiapan-pendadaran-anak.html

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB PENGANTAR   Ini masalah perkembangan pemaha...