Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30
PENGANTAR
Bab 42 : 7 membuktikan bahwa teman-teman Ayub dihukum karena memberikan konsep yg keliru tentang Allah. Bukan karena menyalahkan Ayub. Ayub 42:7 (TB) Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Tรฉman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Dan, cermati yang dihukum Allah adalah elifas dan 2 sahabatnya, padahal yg tercatat ada 4 teman Ayub, artinya cuma 3 yang dihukum Allah, kenapa? Siapa teman Ayub yg tidak dihukum? Dicermati tiap ayatnya, tidak akan saya jelaskan agar kita semua belajar. Jadi tidak bisa kalau dibawa dalam konsep kalau menyalahkan/mengkritisi temannya terus malah dimarahi dan dihukum Allah, Tuhan Yesus mengkritik, tukang kritik, bearti dimarahi Allah dong kalau gitu๐คญ๐๐๐๐คฃ. Melihat Kitab Ayub disandingkan dg Matius 13, memang itu yg seringkali dilakukan dalam study biblika Sastra, Sejarah, dan Arkeologi. Study ini memang sering melakukan perbandingan dari 2 karya sastra dalam Alkitab, untuk mendapatkan konsep-konsep yg ada didalam Alkitab. Kitab Ayub adalah sastra Ibrani yg mengangkat konsep Allah dalam prosa prolog dan prosa epilognya, di bagian tengah adalah puisi untuk menjembati dan menggambarkan hubungan dari dua konsep Allah tsb lewat dialog. Di Kitab Ayub, bagian yang prosa cuma di awal (prolog) dan akhir (epilog). Tengahnya puisi.
Bagian Prosa:
1. Ayub 1:1 – 2:13
Prolog. Cerita tentang Ayub, keluarga, kekayaannya, dan ujian dari Allah lewat Iblis. Bahasanya naratif biasa. Konsep Allah yg dibawa adalah Allah Maha Kuasa tanpa batas.
2. Ayub 42:7 – 42:17
Epilog. Allah menegur teman-teman Ayub, memulihkan keadaan Ayub, anak-anak baru, dan umur Ayub yang panjang. Balik lagi ke gaya cerita. Konsep Allah yang di bawa adalah Allah adalah adil seadil-adilnya.
Bagian Puisi:
Ayub 3:1 – 42:6
Ini inti kitabnya. Isinya dialog panjang antara Ayub dengan 3 temannya: Elifas, Bildad, Zofar, + Elihu, lalu jawaban Allah dari badai. Bahasanya puitis, paralelisme, metafora, tanya-jawab berat tentang penderitaan. Jembatannya adalah bahwa Allah yg tak terbatas bahkan bisa bertindak semena-mena pada manusia, tidak bisa melawan naturNya yg lain yaitu bahwa Allah adalah Maha Adil, sehingga penderita an adalah bukti kemahakuasaan Allah dan bukti keadilan Allah, penderitaan adalah pemurnian iman dalam misteri Allah tsb.
Jadi polanya: Prosa → Puisi → Prosa
Kenapa dibikin gitu? Bagian prosa membingkai ceritanya biar kita tahu "apa yang terjadi", sedangkan bagian puisi menggali "mengapa dan bagaimana rasanya" saat menderita. Dalam Alkitab baik dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes mengandung konsep-konsep tentang Allah dari bangsa Israel Kuno sampai Yudaisme bahkan sampai gereja masa Rasul sampai saat ini. Sastra Ibrani kuno yg berbentuk prosa dan puisi di PL, di PB utamanya Injil berubah menjadi pengajaran metafora atau perumpamaan oleh Yesus. Salah satu contoh konsep Allah yg ada di Alkitab diungkap secara sastra Ibrani kuno berbentuk prosa dan puisi ternyata memiliki kaitan atau lebih tepat kemiripan pemikiran atau nalar dengan konsep Allah dalam perumpamaan lalang gandum oleh Yesus di Injil. Dalam Kitab Ayub ada 2 bentuk sastra yang jelas beda: bagian pembuka/penutup pakai prosa, bagian tengah pakai puisi/dialog. Bahasa Ibrani
- Prosa= ืคืจืืื proza atau disebut juga ืกืืคืืจ sipur = "kisah/narasi". Bagian ini fungsinya sebagai misgeret sipurit ืืกืืจืช ืกืืคืืจืืช = "kerangka cerita" atau pusat konsep polemiknya. Itu ada pada kitab Ayub 1:1–2:13 dan 42:7–17
- Puisi = ืฉืืจื shira, Bagian tengah Ayub 3:1–42:6 disebut ืืืืืืื ืืฉืืจื ha'diyalog ha'shiri = "dialog puitis". Kitab Ayub termasuk ืกืคืจื ืื Sifrei Emet = "Kitab Kebenaran", bersama Mazmur & Amsal. Ketiganya ditulis dengan tanda baca puitis khusus dan ditulis dalam format bait. Ciri Ibrani: dalam prosa Alkitab biasanya narasi objektif. Dalam puisi Ibrani biasanya berupa percakapan langsung, penuh perasaan, bahasa kiasan & paralelisme. Kalau kita lihat, dalam Bahasa Yunani (Septuaginta/LXX)
- Prosa = ฯฮตฮถแฝธฯ ฮปฯฮณฮฟฯ pezos logos = "ucapan biasa/tidak berirama"
- Puisi = ฯฮฟฮฏฮทฯฮนฯ poiฤsis = "penciptaan karya sastra/puisi". Menariknya, saat diterjemahkan ke Yunani, dalam script asli kitab suci, sebagian besar Kitab Ayub dirender dalam bentuk prosa, meskipun aslinya dalam sastra Ibrani bagian tengahnya puisi. Para sarjana Yunani kuno juga melihat struktur Ayub seperti drama: ada prologue, dialogue, dan epilogue. Bagian Ayat Bentuk Ibrani Sebutan Yunani
Prolog + Epilog 1:1–2:13 & 42:7–17 Prosa / proza, pezos logos
Dialog inti 3:1–42:6 Puisi / shira, poiฤsis
Alasan pakai puisi di tengah: bahasa Ibrani puitis dipakai untuk hal yang "tidak bisa" dilakukan prosa, seperti mengekspresikan perasaan, perdebatan teologi, dan citra kiasan yang kuat.
Dalam Kitab Ayub, struktur naratifnya berbentuk puisi hikmat (แธฅokmah) yang menampilkan dialog antara Ayub, sahabat-sahabatnya, dan Allah, ini diapit oleh prosa di awal atau prolog (bab 1:1-2:13) dan prosa di akhir atau epilog (42:7-42:17), puisi di tengah (3:1-42:6) merupakan jembatan nalar dari dua prosa prolog dan prolog epilog yg mengangkat dua konsep Allah, prosa prolog mengangkat konsep Allah yg maha kuasa, shg bertindak semena-mena pun itu haknya, lihat malaikat dan iblis bertindak pun harus se izin Allah, sedangkan prosa epilog mengangkat konsep Allah itu Allah yg sangat adil, kedua konsep Allah ini dijembatani oleh puisi yang mempertegas kedua konsep tsb dg mengkaitkan bahwa penderitaan itu cara Allah memurnikan iman, cara Allah mendidik umatnya. Dalam sastra Ibrani kuno prosa biasanya mengandung konsep polemiknya, sedangkan puisi mengandung konsep memahami polemik tsb, yah .... bisa disebut jembatan nalarnya. Bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan, seperti kata mishpat (keadilan) dan tsedeq (kebenaran). Dalam konteks ini, Allah digambarkan sebagai hakim tertinggi yang memegang kendali penuh atas ciptaan-Nya (Ayub 1:6–12). Sementara itu, dalam perumpamaan lalang dan gandum (Matius 13:24–30), Yesus menggunakan metafora agraris yang sangat dikenal dalam budaya Yahudi. Pemilik ladang (ho despotes tou agrou) menggambarkan figur otoritatif yang memiliki kuasa penuh atas ladangnya, sama seperti Allah dalam Kitab Ayub yang berdaulat atas dunia dan kehidupan manusia. Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menunjukkan bahwa teks-teks hikmat seperti Ayub sering kali berfungsi untuk menegaskan keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan untuk menjelaskan penderitaan secara moralistik. Hal ini sejalan dengan perumpamaan Yesus yang menekankan bahwa pemisahan antara lalang dan gandum adalah hak prerogatif pemilik ladang, bukan pekerja.
Dalam Ayub 1:6, disebutkan adanya “anak-anak Allah” (bene ha’elohim) yang datang menghadap Tuhan, menggambarkan sidang ilahi (divine council)—sebuah konsep umum dalam sastra Timur Dekat kuno, di mana Allah sebagai Raja semesta memimpin dewan surgawi. Dalam konteks ini, Iblis berperan sebagai “penuduh” (ha-satan), bukan entitas yang setara dengan Allah, melainkan bagian dari struktur ilahi yang diizinkan untuk menguji manusia. Iblis tunduk pada kehendak Allah. Keterkaitan dengan perumpamaan lalang dan gandum muncul dalam peran “penabur lalang” yang melambangkan kejahatan yang diizinkan tumbuh sementara di tengah dunia yang diciptakan Allah, iblis dalam kasus Ayub. Seperti dalam Ayub, Allah tidak langsung melenyapkan kejahatan, tetapi menundukkannya dalam rencana yang lebih besar untuk memurnikan iman manusia. Penelitian oleh Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) mendukung pandangan bahwa konsep sidang ilahi dalam Ayub menunjukkan struktur otoritas surgawi yang paralel dengan penggambaran pemilik ladang dan para pekerjanya dalam perumpamaan Yesus. Kedua teks menegaskan kedaulatan Allah dan ketidakterbatasan hikmat-Nya. Dalam Ayub, penderitaan bukan hukuman, melainkan sarana pendidikan rohani. Dalam perumpamaan lalang dan gandum, penundaan penghakiman menunjukkan kesabaran dan kebijaksanaan Allah agar tidak ada yang binasa sebelum waktunya, pendidikan juga. Keduanya mengajarkan bahwa keadilan Allah tidak selalu tampak segera, ini pendidikan, untuk bersekehendak dg Allah, bukan kehendakku tetapi kehendak Allah lah yg jadi, pengakuan akan kemahakuasaan Allah, tetapi akan dinyatakan pada waktu yang ditetapkan-Nya. Dalam konteks kekinian, hal ini mengajarkan umat percaya untuk tetap setia dan sabar dalam penderitaan, karena Allah bekerja di balik segala sesuatu untuk kebaikan (Roma 8:28).
Roma 8:28 (TB):
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Ayat ini menegaskan prinsip teologis bahwa Allah berdaulat dan aktif mengatur segala peristiwa—termasuk penderitaan—untuk tujuan kebaikan rohani. Dalam Kitab Ayub, penderitaan Ayub bukan akibat dosa, melainkan bagian dari rencana ilahi untuk memurnikan iman (Ayub 1:6–12; 42:5–6). Sedangkan dalam Matius 13:24–30, perumpamaan tentang lalang dan gandum menggambarkan bahwa Allah mengizinkan kejahatan dan penderitaan sementara waktu, karena Ia memiliki rencana akhir yang sempurna untuk memisahkan dan memulihkan. Keterkaitan ketiga teks ini terletak pada tema providensia Dei dan kedaulatan Allah bahwa segala sesuatu, baik penderitaan maupun kejahatan, berada dalam kendali Allah dan diarahkan menuju kebaikan akhir bagi umat-Nya. Secara sastra, Roma 8:28 menggunakan struktur sintaksis Yunani yang menekankan partisipasi aktif Allah (synergei ho theos “Allah turut bekerja bersama”). Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pasif, melainkan terlibat langsung dalam proses kehidupan manusia, suka duka, sehat sakit, sedih senang, kaya miskin, dlsb. Dalam Kitab Ayub, bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan (mishpat, tsedeq), menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang adil dan berdaulat. Sedangkan dalam Matius 13, Yesus memakai gaya naratif agraris khas budaya Yahudi, dengan simbol “pemilik ladang” sebagai representasi Allah yang berkuasa penuh atas ciptaan-Nya. Penelitian oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menegaskan bahwa sastra hikmat seperti Ayub menyoroti keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan sekadar menjelaskan penderitaan moral. Ini sejalan dengan Roma 8:28 yang menekankan keterlibatan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam budaya Yahudi kuno, penderitaan sering dipahami sebagai konsekuensi moral. Namun, baik Ayub maupun Roma 8:28 menantang pandangan ini dengan menegaskan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pendidikan rohani. Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) menjelaskan bahwa konsep “sidang ilahi” dalam Ayub 1:6 menunjukkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu melalui struktur surgawi, tetapi tetap memegang otoritas tertinggi. Hal ini paralel dengan pemilik ladang dalam Matius 13 yang menunda penghakiman demi keselamatan gandum—sebuah tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan dan kesabaran Allah. Ketiga teks ini mengajarkan bahwa:
- Allah berdaulat atas penderitaan dan kejahatan.
- Penderitaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kebaikan yang lebih besar.
- Hikmat Allah melampaui pemahaman manusia.
Dalam konteks masa kini, Roma 8:28 menjadi dasar penghiburan bagi orang percaya yang mengalami penderitaan, sebagaimana Ayub tetap setia di tengah ujian, dan sebagaimana pemilik ladang dalam Matius 13 menunda penghakiman demi keselamatan. Penelitian oleh N.T. Wright (Paul and the Faithfulness of God, 2013) menegaskan bahwa Roma 8:28 adalah puncak teologi Paulus tentang rekonsiliasi kosmis—bahwa Allah sedang menata ulang ciptaan menuju pemulihan akhir, sebagaimana ladang dalam perumpamaan Yesus akan dipisahkan dan dimurnikan pada waktu panen.
Allah bekerja dalam segala hal, bahkan penderitaan, untuk kebaikan umat-Nya. Kesabaran dan iman diperlukan untuk melihat rencana Allah yang lebih besar. Keadilan Allah tidak selalu tampak segera, tetapi pasti dinyatakan pada waktunya. Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan hukuman. Keterkaitan Roma 8:28, Kitab Ayub, dan Matius 13:24–30 terletak pada satu benang merah teologis: kedaulatan dan hikmat Allah yang bekerja melalui penderitaan untuk menghasilkan kebaikan dan kemuliaan-Nya. Baik Ayub yang diuji, ladang yang menunggu panen, maupun orang percaya yang menderita, semuanya berada dalam tangan Allah yang berdaulat dan penuh kasih.
Pesannya jelas di Alkitab:
- Allah berdaulat penuh atas ciptaan dan sejarah manusia.
- Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan sekadar hukuman.
- Keadilan Allah bersifat progresif dan akan dinyatakan pada waktu yang tepat.
- Manusia dipanggil untuk mempercayai hikmat Allah, bukan menilai berdasarkan pandangan terbatas.
Dengan demikian, baik kisah Ayub maupun perumpamaan lalang dan gandum menegaskan satu pesan utama: Allah adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu, dan penderitaan yang diizinkan-Nya memiliki tujuan ilahi untuk mendidik dan memurnikan iman manusia. Menarik ada konsep sidang ilahi atau divine council di Ayub yg menyokong konsep bahwa Allah adalah Sang Maha, bahkan mau semena-mena thp manusia pun itu hak Allah, bahkan iblispun dalam bertindak harus se izin Allah, sastra dalam prosa prolog kitab Ayub, yg ingin menunjukan bahwa semua ada dalam kehendakNya, iblis dipakai oleh sastra ini untuk menunjukan kewenangan Allah yang tanpa batas. Kalau di kitab Ayub ada Allah, iblis dan malaikat (anak-anak Allah) gambaran sidang ilahi, dalam Matius 13 perumpamaan lalang dan gandum itupun ada gambaran sidang ilahi, pemilik ladang, penabur lalang/iblis, dan hamba/pekerja dari pemilik ladang (malaikat). Dari awal kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes konsep sidang ilahi itu ada. Oleh karena itu muncul kritisi bahwa kata KITA, jamak bagi sebutan Allah, yaitu Eli, eloy kata tunggal yg disebut menjadi elohim kata jamak bagi sebutan Allah, itu tidak bisa menjadi dasar paham Tritunggal seperti pada kejadian 1:26, karena itu menyebut sidang ilahi, bagaimana kita menanggapi hal ini? (Kita bahas pada judul yang lain), pada prosa epilog, di kitab Ayub, konsep Allah adil itu ditunjukan dengan pengembalian posisi dan kondisi Ayub bahkan lebih, Ayub pulih dalam konsep lalang gandum, keadilan Allah ditunjukan dengan memanen gandum dan membakar lalang. Ada yg harus diperhatikan, harta Ayub dikembalikan 2 kali lipat, tapi untuk anak-anak Ayub itu tidak dibuat 2 x lipat, tapi sama dengan sebelumnya, menarik. Dalam budaya Yahudi, anak adalah lambang hal waris, yg bagi budaya Israel kuno itu sangat penting daripada harta. Hak Waris itu tetap tidak hilang, dan hak waris itu tidak bisa berlipat tapi tetap. Sastra dalam prosa epilog di kitab Ayub ini ingin menggambarkan apapun yg terjadi hak sebagai umat pilihan, hak sebagai umat yg sudah dipilih Allah tidak akan pernah hilang apapun kondisinya.
(16072026)(TUS)