Selasa, 16 Juni 2026

Sudut Pandang ๐™’๐™ค๐™ง๐™จ๐™๐™ž๐™ฅ ๐™‡๐™š๐™–๐™™๐™š๐™ง ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต

Sudut Pandang ๐™’๐™ค๐™ง๐™จ๐™๐™ž๐™ฅ ๐™‡๐™š๐™–๐™™๐™š๐™ง ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต

PENGANTAR 
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri ๐˜’๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. 
PEMAHAMAN
Istilah ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ tidak lahir dari rahim tradisi liturgi klasik Gereja. Ia muncul dari kultur kebangunan rohani modern yang menempatkan musik sebagai pusat pengalaman ibadah. Dalam konteks itu seseorang tampil di depan, memimpin nyanyian, mengatur dinamika suasana, bahkan mengarahkan ekspresi emosional penonton ๐˜ฆ๐˜ฉ umat.

Secara teologis, siapakah sebenarnya yang memimpin ibadah?

Jika kita kembali kepada pemahaman klasik tentang liturgi, pemimpin utama liturgi bukanlah pendeta, bukan pemusik, bukan pula penyanyi. Pemimpin liturgi adalah Kristus sendiri sebagai ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. Gereja mengambil bagian dalam liturgi Kristus. Jadi, liturgi adalah tindakan Kristus sekaligus tindakan Gereja. Di sinilah terjadi ketegangan.

Istilah ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ secara tersirat memindahkan pusat kepemimpinan dari Kristus kepada figur manusia yang berdiri di depan dengan mikrofon.

๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€

Dalam tradisi Gereja istilah yang dikenal adalah pelayan liturgi: lektor, pemazmur, dirigen, organis, presbiter. Semua merujuk fungsi pelayanan, bukan kepemimpinan spiritual atas ibadah.

Kata ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ mengandung makna pengarah utama. Dalam konteks budaya kontemporer ia kerap dipahami sebagai figur kharismatik yang mampu membangkitkan suasana. Padahal dalam liturgi suasana bukan diciptakan oleh manusia. Suasana lahir dari struktur ritual dan karya Roh Kudus.

Ketika istilah ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ dipakai tanpa kritik, lambat laun teologi liturgi bergeser dari partisipasi komunal menjadi pengalaman yang dipandu oleh figur tertentu.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜: ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฎ๐˜๐—บ๐—ผ๐˜€๐—ณ๐—ฒ๐—ฟ

Dalam banyak praktik ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ tidak sekadar memberi aba-aba lagu. Ia berbicara di sela-sela nyanyian, memberi motivasi, membangun intensitas emosional, bahkan menentukan kapan umat harus mengangkat tangan atau menutup mata.

Di titik ini ibadah bergerak dari struktur liturgis menuju pengelolaan atmosfer. Atmosfer bukanlah inti liturgi. Liturgi dibangun oleh Sabda, doa, pengakuan iman, dan sakramen. Musik menopang bagian-bagian itu. Jika figur ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ menjadi pusat perhatian dan penggerak utama, maka struktur liturgi menjadi sekunder, bahkan pelengkap penderita. Yang utama adalah pengalaman emosional yang dipandu.

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฒ๐—ธ๐—น๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€

Liturgi adalah tindakan Kristus sekaligus tindakan Gereja. Semua yang hadir adalah subjek. Tidak ada kelas atau status penonton. Acuan ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ cenderung menciptakan dikotomi: yang memimpin dan yang dipimpin, yang aktif dan yang mengikuti, yang di panggung dan yang di kursi.

Secara simbolik suasana itu mendekati konser musik. Ketika umat lebih banyak mengikuti arahan figur di depan daripada mengikuti struktur liturgi, maka pusat kesadaran berpindah dari tindakan komunal menuju interaksi vertikal antara ๐—ฝ๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—น ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ป. Eklesiologi pun berubah secara halus.

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฟ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€

Dalam teologi klasik Kristus adalah satu-satunya ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข dan ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. Liturgi merupakan partisipasi dalam karya-Nya. 

Jika seorang manusia diberi peran simbolik sebagai “pemimpin penyembahan”, maka perlu sangat hati-hati agar peran itu tidak secara simbolik menggantikan posisi Kristus sebagai pemimpin liturgi. 
Ini bukan soal niat pribadi. Ini tentang simbol. ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป.

๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€

Tidak sedikit ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ adalah orang-orang yang tulus dan religius. Namun, sistem yang menempatkan mereka sebagai pusat atmosfer ibadah sering mendorong performativitas. Keberhasilan diukur dari tanggapan penonton: seberapa emosional, seberapa ekspresif, seberapa “hanyut”.

Padahal dalam liturgi keberhasilan tidak diukur dari intensitas emosi, melainkan dari kesetiaan pada misteri yang dirayakan. Liturgi dapat berjalan dengan sederhana, bahkan tanpa musik megah.

Apabila ibadah terasa gagal tanpa figur kharismatik tertentu, maka itu tanda bahwa struktur liturginya rapuh.

๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐™ฌ๐™ค๐™ง๐™จ๐™๐™ž๐™ฅ ๐™ก๐™š๐™–๐™™๐™š๐™ง ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฝ๐˜‚๐˜€?

Pertanyaannya bukan sekadar soal istilah. Jika yang dimaksud adalah pemimpin nyanyian umat, maka istilah yang lebih tepat adalah dirigen, pemazmur, atau pelayan musik. Jika yang dimaksud adalah pengatur suasana rohani, maka kita perlu bertanya, sejak kapan suasana rohani bergantung pada manusia?

Liturgi bukan digerakkan oleh kemampuan seseorang membangun atmosfer. Liturgi digerakkan oleh Sabda dan Roh.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ

Musik liturgi adalah pelayan. Pemusik adalah pelayan. Semua pelayan tunduk pada liturgi. Akhirnya liturgi tunduk kepada Kristus.

Jika seorang ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ memahami dirinya sebagai pelayan yang menolong umat bernyanyi dan berpartisipasi, ia berada pada tempat yang benar. Namun, jika ia menjadi pusat gravitasi ibadah, menenggelamkan nyanyian jemaat, maka secara simbolik liturgi sudah bergeser. 

Pergeseran simbolik selalu menghasilkan pergeseran iman.
(16062026)(TUS)

Sudut Pandang Yeremia 29:4-7, Melihat dan Merespon Kenyataan

Sudut Pandang Yeremia 29:4-7, Melihat dan Merespon Kenyataan 

PENGANTAR
Yeremia 29:4-7 (TB)  
4. Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:  
5. Dirikanlah rumah untuk kamu diami; dan buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;  
6. Ambillah isteri dan peranakanlah anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anak-anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anak-anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan; supaya kamu bertambah banyak di sana dan jangan berkurang!  
7. Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.  
PEMAHAMAN
Secara teks dan bahasa, Yeremia 29:4–7 ditulis dalam bentuk surat kenabian kepada orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel. Kata kerja imperatif seperti “dirikanlah”, “buatlah”, “usahakanlah” menunjukkan perintah aktif untuk membangun kehidupan baru di tengah keterasingan. Secara linguistik, teks ini menolak sikap pasif atau nostalgia terhadap masa lalu Yerusalem, dan justru menekankan tanggung jawab sosial dan spiritual di tempat pembuangan.
Secara budaya dan sastra, konteksnya adalah trauma kolektif bangsa yang kehilangan tanah, bait Allah, dan identitas nasional. Namun, Yeremia menafsirkan pembuangan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai fase pembentukan rohani. Dalam budaya Timur Dekat kuno, pembuangan biasanya dianggap kutukan, tetapi Yeremia mengubah paradigma itu menjadi kesempatan untuk bertumbuh dan beradaptasi tanpa kehilangan iman kepada Allah. Dari sisi kejiwaan bangsa terjajah, teks ini mencerminkan proses penyembuhan psikologis: dari keputusasaan menuju penerimaan dan produktivitas. Yeremia menanamkan harapan realistis—bukan dengan melawan secara fisik, tetapi dengan membangun kehidupan yang bermakna di tengah keterbatasan. Ini adalah bentuk resiliensi spiritual. Bila dikaitkan dengan sinode gereja yang memiliki lembaga-lembaga sosial, pendidikan, dan pelayanan, pesan Yeremia 29:4–7 menjadi panggilan untuk berperan aktif dalam membangun kesejahteraan masyarakat di mana gereja berada. Gereja tidak boleh terisolasi dari konteks sosialnya, melainkan menjadi agen damai dan kesejahteraan publik.  “Usahakanlah kesejahteraan kota” (ayat 7) dapat dimaknai sebagai mandat teologis bagi gereja untuk berkontribusi dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keadilan sosial. Gereja yang hidup di tengah dunia yang “terbuang” — baik secara moral, sosial, atau spiritual — dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah melalui tindakan nyata. Yeremia 29:4–7 mengajarkan bahwa iman sejati tidak hanya bertahan dalam kenyamanan, tetapi juga berbuah dalam penderitaan. Tuhan memanggil umat-Nya untuk tetap produktif, berdoa bagi kesejahteraan lingkungan, dan menjadi berkat di mana pun mereka berada. Dalam konteks modern, ini berarti gereja dan lembaga-lembaganya harus menjadi sumber harapan, pembaruan, dan kesejahteraan bagi masyarakat luas. Pergumulan kita adalah Dalam Yeremia 29:4-7, dikisahkan bahwa Yeremia meminta Israel merespon secara bermartabat kondisi nyata atau kenyataan di depan mata bahwa mereka kalah menjadi bangsa terbuang terjajah dg berperan aktif atas tempat di mana mereka dibuang, dibandingkan nabi palsu yg menjual iming-iming bukan harapan: Apa kaitan pemahaman kondisi Israel di Yeremia 29:4-7 dengan lembaga-lembaga terkait sinode. Namanya, terjajah kalah perang pasti ada luka batin dan trauma bagi bangsa Israel, relevankah? Wajarkah? Meminta bangsa Israel berperan aktif di dalam bangsa yg menjajahnya?
(16062026)(TUS)

Sudut Pandang Cerdas Rohani

Sudut Pandang Cerdas Rohani
PENGANTAR
Sering orang mengatakan yang ditakuti bukan masyarakat yang memberontak, tetapi masyarakat yang menjadi cerdas, karena masyarakat yang cerdas itu tidak bisa dibodohi lagi, demikian halnya gereja. Gereja memiliki sejarah kelam tentang pembodohan umat sebelum masa reformasi Martin Luther dan setelahnya, bagaimana umat tidak dicerdaskan shg dibodohi dan hanya disetir oleh pemimpin gereja pada masa itu. Pangkal nya, adalah umat tidak dibiasakan membaca, bahkan tidak diperkenankan membaca apalagi menafsir kitab suci, malah dilarang mempertanyakan kitab suci juga keimanan. Padahal, iman yg meragukan sesuatu adalah iman yang bertumbuh. Pangkal kecerdasan adalah bertanya kritis bukan menyelesaikan masalah. Ini adalah hanya sebuah contoh :
Ada quotes di denominasi kharismatik pentacostal yg diucapkan seorang pendeta terkenal, sekarang banyak dikutip IG,  FB, dan YOUTUBE. Quote begini : 
"Saat Tuhan memberkatimu, cukup taruh di tanganmu, jangan di dalam hatimu."
PEMAHAMAN 
Mari belajar menjadi orang kristen yang memiliki kecerdasan rohani. Mari kita uji dengan lensa 1 Tesalonika 5:21
"Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik."

"ujilah" (dokimazete)

Kata ini berasal dari akar dokimazล, yang berarti:
menguji, memeriksa, menilai keaslian sesuatu, membuktikan apakah sesuatu layak diterima

Kata ini sering dipakai dalam dunia kuno untuk menguji logam mulia. Emas atau perak dibakar dan diperiksa untuk mengetahui apakah asli atau palsu.

"segala sesuatu" (panta) berarti: semua hal, segala sesuatu, setiap klaim

Dalam konteks surat ini, Paulus baru saja berbicara mengenai:
- nubuat (ayat 20)
- pekerjaan Roh Kudus
- pengajaran di dalam jemaat

Karena itu "segala sesuatu" tidak terutama berbicara tentang semua aspek kehidupan secara umum, melainkan khususnya:
- setiap pengajaran
- setiap nubuat
- setiap klaim rohani
yang muncul di tengah jemaat.

Makna ayat ini adalah, orang Kristen dipanggil untuk memiliki kemampuan membedakan (discernment), yaitu menguji setiap pengajaran dan klaim rohani dengan Firman Tuhan. Setelah terbukti benar dan sesuai kehendak Allah, kebenaran itu harus dipegang erat dan dipertahankan.

Mari kita uji kutipan ini : "Saat Tuhan memberkatimu, cukup taruh di tanganmu, jangan di dalam hatimu."

Secara retoris, quotes ini terdengar menarik karena menekankan tindakan nyata ("di tanganmu") dibanding perasaan atau keyakinan batin ("di hatimu"). Namun jika diuji secara logika biblika, pernyataan ini perlu diberi nuansa yang lebih seimbang.

1. Alkitab tidak mempertentangkan hati dan tangan

Dalam Alkitab, hati adalah sumber tindakan.

"Karena dari hati timbul segala pikiran..." (Matius 15:19)

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23)

Secara logika, tangan tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang benar jika hati lebih dahulu rusak. Tangan hanyalah alat; hati adalah penggeraknya.

Jika berkat Tuhan "cukup ditaruh di tangan" tanpa lebih dulu mengubah hati, maka berkat itu bisa dipakai untuk kesombongan, keserakahan, atau penyalahgunaan.

2. Tetapi Alkitab juga menolak iman yang hanya tinggal di hati

Di sisi lain, Yakobus mengingatkan bahwa iman yang sejati harus terlihat dalam tindakan.

"Iman tanpa perbuatan adalah mati." (Yakobus 2:26)

Dalam pengertian ini, ada kebenaran parsial dalam quotes tersebut. Berkat Tuhan tidak boleh hanya menjadi perasaan syukur di hati, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: memberi, melayani, bekerja, dan memberkati sesama.

3. Berkat Tuhan justru harus ada di hati dan di tangan

Pola Alkitab adalah:
Hati yang diubahkan → menghasilkan tangan yang bekerja.

Ulangan 8:18 menyatakan bahwa Tuhan memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan. Kemampuan itu bekerja melalui tangan, tetapi motivasi dan sikapnya tetap harus dijaga di dalam hati.

Karena itu, secara biblika lebih tepat mengatakan:

"Saat Tuhan memberkatimu, ucapkan syukur dan miliki kerendahan hati di hatimu, lalu gunakan tanganmu untuk menjadi berkat bagi orang lain."

Jika quotes itu dimaksudkan sebagai kritik terhadap orang yang hanya menyimpan berkat sebagai perasaan tanpa tindakan, maka pesannya dapat diterima.

Namun bila dipahami secara harfiah sebagai "berkat cukup di tangan, jangan di hati", maka itu tidak selaras dengan teologi Alkitab. Berkat Tuhan tidak boleh hanya berada di tangan, tetapi juga harus mengubah hati. Sebab Alkitab tidak memisahkan keduanya:

hati yang benar menghasilkan tangan yang benar, dan tangan yang benar membuktikan hati yang benar.

Jangan percaya sesuatu hanya karena populer atau disampaikan tokoh terkenal, bahkan pimpinan gereja. Ujilah semuanya dengan Firman Tuhan, lalu pegang teguh apa yang benar dan baik.
(16062026)(TUS)

Senin, 15 Juni 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 10:24-39, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ถ

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 10:24-39,  [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ถ

PENGANTAR 
Minggu 21 Juni 2026, Apabila kita membaca kisah Natal di Injil Lukas, suasana yang kita dapati adalah kesederhanaan, teduh, dan damai. Suasana itu berbeda di Injil Matius. Kisah Natal di Injil Matius dalam suasana teror. Kalau kita meneruskan membaca Injil Matius, maka kita akan menemukan ayat bahwa Yesus datang tidak membawa damai, melainkan pedang.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu keempat sesudah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 10:24-39 yang didahului dengan Kejadian 21:8-21, Mazmur 86:1-10, 16-17, dan Roma 6:1b-11.

Injil Matius ditulis pada masa sesudah Bait Allah II diruntuhkan oleh pasukan Romawi pada 70 ZB. Secara cerita penulisannya dalam bentuk narasi dan wejangan. Ada lima bagian wejangan dalam Injil Matius.

▶️ Wejangan I tentang kebenaran sejati dalam ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต (Mat. 5-7)
▶️ Wejangan II tentang pengutusan para rasul dan tantangannya (Mat. 10)
▶️ Wejangan III tentang perumpamaan-perumpamaan (Mat. 13:1-52)
▶️ Wejangan IV tentang hidup berjemaat (Mat. 18)
▶️ Wejangan V tentang akhir zaman (Mat. 24-25)

Bacaan Injil hari ini, Matius 10:24-39, dimasukkan ke dalam bagian Wejangan II. Ada dua bacaan atau perikop penting sebelum masuk ke Wejangan II:

▶️ Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak (Mat. 9:35-38)
▶️ Yesus memanggil ke-12 rasul (Mat. 10:1-4)

Wejangan II dapat dibagi lagi ke dalam lima seksi:
▶️ Seksi 1: Pengutusan ke-12 rasul (Mat. 10:5-16)
▶️ Seksi 2: Menghadapi penganiaya (Mat. 10:17-25)
▶️ Seksi 3: Janganlah takut (Mat. 10:26-31)
▶️ Seksi 4: Mengakui atau menyangkal Yesus (Mat. 32-39)
▶️ Seksi 5: Upah bagi yang menyambut utusan Yesus (Mat. 40-42)

Itu berarti bacaan Injil Minggu ini masuk ke seksi 2 bagian akhir, seksi 3, dan seksi 4. Dalam seksi 2 pengarang Injil Matius merujuk Markus 13:9-13, tetapi melepaskan teks dari konteksnya. Dalam Injil Markus (juga Luk. 21:12-19) konteksnya adalah eskatologis atau tentang akhir zaman, sedang dalam Injil Matius konteksnya pengutusan para rasul. Mengapa? Tidak ada bukti para murid mengalami kekerasan selama Yesus masih hidup. Baru kemudian sesudah kematian Yesus, para murid mengalami penganiayaan dahsyat. Pengarang Injil Matius memasukkan anasir penganiayaan ke dalam wejangan pengutusan para rasul (seksi 2) untuk menyampaikan bahwa saat Injil Matius ditulis terjadi penganiayaan dahsyat terhadap jemaat Kristen. Dengan kata lain mengikuti Yesus dan melakukan misi-Nya tidak akan pernah membebaskan para murid dari derita dan aniaya. Pengubahan konteks Markus oleh Matius dilatarbelakangi oleh situasi Jemaat Matius yang harus berhadapan dengan lawan kuat, yaitu jemaat Yahudi di sinagog. Matius menyebut sinagog sebagai ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ฐ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข untuk membedakan jemaat Yahudi dan Kristen (lih. Mat. 4:23; 9:35; 10:17; 12:9; 13:54). Ancaman aniaya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam keluarga. Para murid Yesus akan dibenci karena nama-Nya, tetapi kesetiaan kepada-Nya akan menyelamatkan mereka. Yang mereka akan alami sudah dialami oleh Yesus. Itulah sebabnya Yesus berkata, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (Mat. 10:24). Jadi, kalau ada pendeta ๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ป๐˜บ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ yang tak punya belarasa kepada masyarakat miskin berarti ia melebihi Yesus dan bukan murid lagi. Dalam bacaan Injil Minggu ini, secara khusus seksi 3 (Mat. 10:26-31), Yesus mengatakan ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต sebanyak tiga kali di ayat 26, 28, dan 31. Jangan takut terhadap siapa? Pada teks disebut ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. Siapakah mereka? Dalam Matius 10:17-18 mereka adalah orang-orang yang menyerahkan murid Yesus kepada Majelis Agama, orang-orang yang mencambuk murid Yesus di rumah ibadat mereka, penguasa-penguasa, dan raja-raja. Mereka di sini secara umum adalah orang-orang yang menolak dan menentang Yesus.

๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ (๐Ÿญ)
Matius 10:26-27 “๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ.”

Di Lukas 12:2 ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ … ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช merujuk orang-orang Farisi. Di Injil Matius subjeknya adalah hal yang dikatakan Yesus dalam bentuk perumpamaan dalam lingkaran kecil para murid (lih. Mrk. 4:22) diberitakan ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ. Di Palestina kuno pengumuman kepada masyarakat lazim dilakukan dari atas atau atap rumah yang rata.

๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ (๐Ÿฎ)
Matius 10:28 “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข.”

Tentu kita sering mendengar kampanye kaum evangelikal ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข-๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข. Kampanye ini tak alkitabiah. Teologi Kristen berkesinambungan dengan teologi Yahudi bahwa tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan, satu entitas, tidak dibedakan. Ayat 28 di atas hendak mengontraskan antara manusia yang membunuh dan Allah yang membinasakan; Manusia tidak dapat membunuh hidup itu sendiri. Ayat 28 juga adalah pernyataan kedua menyangkut keberanian murid Yesus menjadi martir atau mati syahid untuk tetap mengakui-Nya. Risiko penyangkalan adalah binasa tubuh sekaligus jiwa. Umat Kristen menanti kebangkitan tubuh dan jiwa sama seperti Yesus (Mat. 28:6, 9. Bdk. 1Kor. 15:35-44).

๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ (๐Ÿฏ)
Matius 10:29-31 “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ? ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜–๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต! ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ต.”

Burung pipit dimakan oleh masyarakat miskin karena harganya termurah. Ungkapan hiperbola ๐˜™๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข adalah pepatah lama yang merujuk kitab 1Samuel 14:45 dan 2Samuel 14:11b ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜›๐˜œ๐˜๐˜ˆ๐˜• ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช. Hal kecil saja tidak ditinggalkan Allah, apalagi hal besar. Ungkapan khas Yahudi ini – membandingkan hal kecil dengan hal besar – digunakan untuk pastoral kepada jemaat Kristen (dhi. Jemaat Matius) untuk tidak ragu-ragu apabila harus menjadi martir. Bagi pegiat lingkungan hidup ayat ini juga dapat menjadi penguat bahwa Allah saja memelihara makhluk hidup yang lemah, demikian juga sepatutnya manusia.

Seksi 4 (Mat. 32-39) bertema ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด. Pengulasan seksi 4 ini saya bagi dua bagian: Matius 10:32-33 dan Matius 10:34-39.

Matius 10:32-33 ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข.

Kata ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ merujuk Hari Penghakiman, yang seluruh umat manusia akan diadili oleh Allah. Menariknya di sini Yesus bukan sebagai hakim, melainkan semacam pembela atau perantara (memang sulit mencari kata yang tepat). “Rekomendasi” atau “verifikasi” dari Yesus menentukan nasib seseorang. Dalam konteks Injil Matius ini adalah kesejajaran dengan pengadilan di dunia. Dalam pengadilan di Mahkamah Agama para murid akan dilihat, apakah mereka akan mengakui atau menyangkal Yesus? Hal ini bukan melulu soal pengadilan formal. Dalam makna lebih luas berlaku juga pada berbagai kesempatan para pengikut memberitakan atau menyembunyikan Injil Yesus kepada lingkungannya. Ada contoh di Injil Matius ketika Petrus menyangkali Yesus sampai tiga kali di halaman Imam Besar (lih. Mat. 26:70-72). Memberitakan Injil Yesus bukan saja lewat perbuatan, tetapi juga berani berbicara ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด di hadapan para penganiaya. Dalam bagian kedua (Mat. 10:34-39) seksi 4 ada ayat yang tidak populer di kalangan Kristen, bahkan sering dipalingkan, dan ayat ini acap digunakan oleh orang lain untuk mendiskreditkan Kristen. Matius 10:34-36 “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช; ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” Kita perlu memahami hal yang disampaikan Yesus, bukan untuk memalingkan hal yang disampaikan-Nya. Untuk mencoba memahaminya mari kita membaca ayat-ayat sebelumnya, karena pengarang Injil Matius menulisnya satu kesatuan wejangan. Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan mengenai penganiayaan yang akan terjadi terhadap para pengikut Yesus. Dalam pada itu ayat 38 yang masih dalam perikop bacaan kita ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜’๐˜ถ. Jadi, apa yang dimaksudkan Yesus datang tidak membawa damai? Tentu saja kedatangan Yesus mengusik dan meruntuhkan kemapanan dan struktur sosial. Pertama-tama yang terusik adalah di dalam lingkungan keluarga orang-orang Yahudi. Mengusik keluarga Yahudi berarti mengusik Yudaisme. Para imam Yahudi yang merupakan pemimpin umat tentu saja tersinggung dan merasa terancam. Mengusik tatanan sosial sama saja artinya menista agama dan ancamannya adalah hukuman mati. Untuk itu juga Yesus mengingatkan para pengikut-Nya untuk siap memikul salib (ayat 38). Ada konsekuensi berat mengikut Yesus, dari dimusuhi, difitnah, sampai penganiayaan yang berakibat kematian (bdk. dengan ๐˜œ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข di Mat. 5:1-12). Yesus sudah memberikan contoh menerima risiko dan mati di kayu salib. Jadi, memang benar Yesus datang tidak membawa damai. Bukanlah isapan jempol bahwa orang Kristen amat sangat sulit menjadi Presiden RI, kalau tak mau dikatakan mustahil, meskipun konstitusi memungkinkan hal itu. Bacaan Injil Minggu ini menyampaikan itulah harga yang harus dibayar menjadi pengikut Kristus. Janganlah takut untuk mengakui Yesus. Janganlah menjual Yesus hanya untuk mendapat jabatan.
(16062026)(TUS)

Sudut Pandang ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ? ๐—”๐—น๐—ฎ๐˜ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฆ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐—ธ๐˜๐˜‚๐—ฟ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

Sudut Pandang ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ? ๐—”๐—น๐—ฎ๐˜ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฆ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐—ธ๐˜๐˜‚๐—ฟ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

PENGANTAR 
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri ๐˜’๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. 
PEMAHAMAN 
Alat musik apa yang cocok untuk musik liturgi? Semua alat musik boleh dipakai asal untuk Tuhan. Jawaban seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan, meski sudah menjual nama Tuhan.
Liturgi bukan ruang kosong yang sembarangan diisi. Liturgi merupakan tindakan Gereja yang terstruktur. Ia memiliki irama teologis: pengumpulan, pengakuan, Sabda, Ekaristi, tanggapan, pengutusan. Setiap anasir berbobot simbolik.
Alat musik yang masuk ke dalam liturgi tentulah tidak boleh netral. Ia harus masuk ke dalam struktur liturgi dan tunduk kepadanya.
Jika suatu alat musik secara karakter bunyi cenderung memecah perhatian, menciptakan sensasi, atau menarik pusat gravitasi ruang kepada pemainnya, maka ia sedang mengganggu struktur simbolik liturgi. Maka, masalah bukan pada jenis alat musiknya tetapi itu mengganggu struktur Liturgi tidak? tunduk pada struktur Liturgi tidak? Liturgi tidak membutuhkan sensasi. Ia membutuhkan keutuhan.

๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ 63 memberikan kiat pemilihan alat musik: Alat-alat musik yang menurut pendapat umum dan ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ง๐˜ข๐˜ค๐˜ต๐˜ฐ hanya cocok untuk musik sekular haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat. 

Contoh, gitar listrik yang meraung-raung secara umum dan ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ง๐˜ข๐˜ค๐˜ต๐˜ฐ digunakan dalam musik rock sehingga harus dilarang. Dalam pada itu gamelan, angklung, Kolintang, dlsb memang lahir dalam konteks spiritual sehingga sangat layak dipertimbangkan menjadi musik liturgi. Di sini pelarangan bukan pada jenis alat itu sendiri, melainkan pada karakter bunyinya yang secara kultural diasosiasikan dengan ekspresi agresif, demonstratif, dan performatif. Gitar listrik yang meraung-raung, dengan distorsi yang menekan dan volume yang mendominasi, secara akustik dan simbolik cenderung memusatkan perhatian pada energi dan pemainnya. Dalam konteks liturgi karakter seperti ini mudah menggeser fokus dari tindakan Gereja kepada kesan sonik yang kuat. Yang terjadi bukan lagi penegasan makna, melainkan ledakan atmosfer.
Liturgi membutuhkan kejernihan tanda. Jika bunyi suatu alat secara melekat membawa beban asosiasi yang bertentangan dengan suasana doa, pertobatan, atau permenungan, maka kebijaksanaan liturgis menuntut penahanan diri. Tidak semua yang apik secara musikal tepat secara simbolik. Oleh karena itu liturgi tidak pernah berdiri di atas selera musikal. Ia berada di atas makna teologis. Gereja tidak sedang menyusun konser, tetapi merayakan Misteri. Di dalamnya setiap anasir, termasuk bunyi, harus membantu umat memahami apa yang sedang terjadi. Musik bukan dekorasi suasana, melainkan bagian dari bahasa simbolik yang berbicara tentang Allah dan karya-Nya.

Jadi, pertanyaan bukan lagi alat musik apa yang cocok, apakah alat ini modern atau tradisional, melainkan ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข?
(16062026)(TUS)


Penyangkalan diri (self-denial) sering kali menjadi komoditas kesalehan yang tampak memikat di mimbar, namun rawan terjebak dalam jebakan narsisme rohani. Kehidupan spiritual yang sejati menuntut pemisahan yang tegas antara penyembahan diri yang terselubung (performa religius) dan penundukan diri yang otentik demi melakukan kehendak ilahi. Ketika fokus sebuah tindakan bergeser dari esensi kasih kepada kemegahan tindakan itu sendiri, nilai rohaninya seketika rontok.

Untuk memahami kontras ini, kita perlu membedakan dua konsep fundamental dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru:

Penyangkalan Diri (Aparneomai): kata ini digunakan Yesus dalam Matius 16:24. Akar kata aponeomai berarti "menolak untuk mengakui berhubungan dengan" atau "melepaskan hak sepenuhnya". Ini bukan sekadar memotong kenyamanan lahiriah, melainkan sebuah tindakan radikal di mana ego seseorang diturunkan dari takhta kehidupan agar Kristus yang bertakhta.

Kasih (Agape): kasih yang dimaksud di sini bukanlah kasih yang berbasis emosi (phileo) atau ketertarikan, melainkan kasih yang bersumber dari keputusan kehendak yang murni untuk memberi diri demi kebaikan orang lain tanpa mengharapkan keuntungan kembali. Agape tidak mencari panggung; ia mengosongkan diri.

Jika aparneomai dipisahkan dari agape, yang tersisa hanyalah legalisme teatrikal, sebuah sandiwara rohani demi validasi publik.

Rasul Paulus memberikan alarm yang sangat keras mengenai bahaya pelayanan yang terlihat spektakuler secara lahiriah namun kosong secara substansi di dalam 1 Korintus 13:3:

"Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku."

Teks ini menegaskan bahwa kuantitas pengorbanan (bahkan yang ekstrem sekalipun, seperti menyerahkan tubuh) sama sekali tidak bernilai di mata Tuhan jika penggerak utamanya (driving force) bukan kasih, melainkan pencarian signifikasi diri atau pengakuan moral.

Mari kita bedah fenomena atau anomali seorang hamba Tuhan yang menggunakan dirinya sendiri sebagai contoh di mimbar, menyatakan bahwa ia melayani tanpa imbalan demi meneladani Yesus.

1. Paradoks "kerendahan hati yang dipamerkan"
Ketika seorang pelayan Tuhan secara publik mengafirmasi bahwa dirinya sudah berkorban dalam pelayanan untuk menunjukkan bahwa ia meneladani Kristus, terjadi sebuah kontradiksi internal yang halus. Kristus meneladani pengosongan diri (kenosis) secara absolut dalam Filipi 2:7. Ketika kenosis itu diceritakan sendiri oleh sang pelayan sebagai bukti kesalehannya, tindakan tersebut berisiko berubah menjadi alat legitimasi moral untuk membangun reputasi sebagai hamba Tuhan yang suci.

2. Bahaya motivasi tersembunyi narsistik dalam homiletika
Meskipun tujuannya mungkin untuk memberikan ilustrasi konkret, menggunakan diri sendiri sebagai standar pelayanan tanpa pamrih rawan mengaburkan obyek utama khotbah. Jemaat seharusnya dibawa untuk mengagumi Kristus, namun secara psikologis-rohani justru digiring untuk mengagumi sang pengkhotbah. Di sini, pengorbanan (baik materi, waktu dll) ditukar secara tidak sadar dengan imbalan ego berupa pujian, rasa hormat, dan label hamba Tuhan yang tulus.

3. Kasih yang tersembunyi vs. tindakan yang dipertontonkan
Keindahan dari sebuah pelayanan tidak terletak pada label tulus/ gratis atau tanpa imbalan yang disandangnya, melainkan pada keheningan agape yang bekerja di baliknya. Sesuatu yang indah di hadapan Tuhan sering kali adalah apa yang dilakukan tanpa perlu diketahui oleh tangan kiri ketika tangan kanan memberi seperti pesan dalam Matius 6:3.

Pelayanan dengan pengorbanan adalah hal yang mulia, namun ia hanya menjadi sejati jika motivasi terdalamnya murni didorong oleh kasih kepada Tuhan dan sesama, bukan diolah menjadi narasi mimbar yang mempertegas eksistensi kehebatan diri.

Minggu, 14 Juni 2026

Sudut Pandang ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐™Ž๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ง?

Sudut Pandang ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐™Ž๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ง?

PENGANTAR
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri ๐˜’๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. Satu ironi di banyak Gereja Protestan (Reformasi) hari ini adalah semakin sering kita mendengar istilah prokantor, tetapi yang tampak justru ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ. Padahal keduanya berbeda secara mendasar.
Demikian halnya nyanyian, Tidak semua nyanyian jemaat adalah pujian. Setiap nyanyian memiliki karakter, pesan, dan makna yang berbeda. Ada nyanyian yang bersifat lain: penyesalan, pengakuan percaya, penyerahan diri, pengucapan syukur, pengakuan dosa,  permohonan ampun, dsb.
 
Contoh: Kidung Jemaat 170. Apakah ini pujian?
 
Jadi by definition apa yang disebut dengan pemandu pujian adalah keliru. Ada juga Gereja yang keinggris-inggrisan memakai song leader. Memangnya Gereja itu grup band ada lead vocal?
PEMAHAMAN
Prokantor dan kantoria berakar dari kata Latin ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ (menyanyi). Fungsi mereka bukan menggantikan nyanyian jemaat, melainkan memberdayakan umat agar dapat bernyanyi dengan baik dan benar.

Oleh karena itu dalam tradisi liturgi klasik suara prokantor dan kantoria tidak boleh merajai. Mereka hadir untuk menopang nyanyian jemaat, bukan menjadi pusat perhatian jemaat. Martin Luther bahkan menyarankan agar kelompok penyanyi ditempatkan di tengah-tengah umat. Simbolismenya jelas: mereka adalah bagian dari jemaat yang bernyanyi, bukan penampil di atas panggung.

Masalahnya dalam banyak Gereja Protestan sekarang, termasuk gereja-gereja yang mengaku Reformasi, fungsi ini lambat laun bergeser.

▶️ Mikrofon sangat dekat dengan mulut prokantor.
▶️ Pengeras suara memperbesar suara mereka.
▶️ Instrumen musik mengiringi mereka.

Akibatnya yang terdengar memenuhi ruangan bukan nyanyian jemaat, melainkan nyanyian prokantor. Pada aras itu sebuah pertanyaan perlu diajukan: 

▶️ Jika suara jemaat tenggelam oleh suara prokantor, apakah mereka masih berfungsi sebagai prokantor?
▶️ Ataukah sebenarnya mereka telah berubah menjadi ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ seperti dalam ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ dalam Gereja evangelikal-kharismatik?

Gereja Reformasi lahir dari perjuangan yang berbeda dari Gereja evangelikal-kharismatik. Reformasi tidak berjuang untuk menciptakan penyanyi gereja. Reformasi berjuang agar seluruh umat Allah bernyanyi.

Ukuran keberhasilan musik gereja bukanlah pada kemerduan suara prokantor, kehebatan teknik vokal prokantor, atau kekuatan sistem suara. Ukuran keberhasilannya jauh lebih sederhana: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ถ?

Dalam ibadah Gereja Protestan subjek yang bernyanyi bukan prokantor. Subjek yang bernyanyi adalah jemaat.

Ketika suara jemaat menghilang, yang hilang bukan sekadar tradisi musik gereja. Yang hilang adalah identitas Reformasi itu sendiri.

(14062026)(TUS)

Sabtu, 13 Juni 2026

Banyak dari kita begitu hebat saat berbicara tentang kasih. Ruang ibadah penuh dengan lagu-lagu indah dan khotbah yang menyentuh hati tentang kasih. Namun, ada satu pertanyaan jujur yang sering dilontarkan masyarakat luas kepada kita: "Kalian sibuk bicara kasih, tapi mana buktinya di kehidupan nyata?"

Jika agama hanya berhenti di bibir manis dan diskusi teologi yang rumit, iman kita sebenarnya sedang mengalami kelumpuhan moral. Masyarakat tidak butuh definisi kasih; mereka butuh merasakan dampak nyata dari kasih itu.

Dalam teks asli Perjanjian Baru (Bahasa Yunani), kata "kasih" yang paling sering dituntut dari orang beriman adalah "Agape".

- Agape bukanlah sekadar perasaan hangat, suka, atau emosi sesaat (seperti kata "Philia" untuk sahabat atau "Eros" untuk pasangan). Agape adalah kasih yang berbasis keputusan kehendak untuk bertindak demi kebaikan orang lain, tanpa memikirkan keuntungan diri sendiri.

1 Yohanes 3:18)
"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."

Secara teologis, Yohanes sedang menegaskan tentang Ortopraksi (tindakan yang benar), bukan cuma Ortodoksi (teori yang benar). Iman tanpa perbuatan nyata pada dasarnya adalah iman yang mati (Yakobus 2:17). Tuhan Yesus sendiri tidak menyelamatkan manusia lewat puisi atau pidato dari surga, melainkan dengan "turun ke bumi" (Inkarnasi) dan mengorbankan diri-Nya secara fisik.

Mempraktikkan kasih agape tidak harus menunggu kita menjadi kaya raya atau menjadi pemimpin besar. Kasih itu ada pada keputusan-keputusan kecil di jalanan dan di rumah setiap hari:

- Di jalan raya: Menahan diri untuk tidak memaki atau membunyikan klakson dengan marah saat ada angkot atau pengendara motor yang memotong jalan sembarangan. Mengalah dan memberi ruang adalah bentuk konkret dari kasih yang sabar.

- Di lingkungan rumah:  Mau ikut kerja bakti membersihkan selokan RT, tanpa pandang bulu apakah tetangga kita satu iman atau tidak. Tidak menyalakan musik keras-keras yang mengganggu tetangga yang sedang istirahat atau sakit.

- Terhadap kaum lemah: Berhenti tawar-menawar secara sadis saat membeli dagangan dari pedagang kecil atau lansia yang berjualan di pinggir jalan. Membayar lebih atau menyisihkan kembalian adalah tindakan memanusiakan sesama.

- Di tempat kerja: Tidak ikut-ikutan menyebarkan gosip (toxic) yang menjatuhkan rekan kerja, dan bersedia membantu mendengarkan keluh kesah teman kantor yang sedang stres, meskipun pekerjaan kita sendiri sedang menumpuk.

Ukuran seberapa berimannya kita, tidak pernah diukur dari seberapa tebal Alkitab yang kita bawa, atau seberapa sering kita membuat status rohani di media sosial. Ukurannya sangat sederhana: Apakah kehadiran kita membuat orang di sekitar kita (terutama yang miskin, lelah, dan terpinggirkan) merasa lebih ringan menjalani hidup? Berhentilah sekadar berteori tentang surga, mari mulai menghadirkan ketenangan dan bantuan nyata bagi sesama yang sedang mengalami "neraka" kecil dalam persoalan hidup mereka sehari-hari.

"Berbuat baiklah kepada semua orang selama kamu memiliki kesempatan. Jangan biarkan hatimu membeku dalam kesalehan yang egois. Kasih yang sejati selalu mencari cara untuk meringankan beban orang lain."
—Richard Baxter (1615-1691)

Jumat, 12 Juni 2026

Sudut Pandang Kasus Hillsong

PENGANTAR
Menarik membaca berita gereja tentang scandal Hillsong di Australia, memang kita harus jeli, cerdik mengamati tapi hati harus tulus ikhlas, bener katakan bener lah, salah katakan salah siapapun itu, jangan mendewakan selama itu manusia, apapun status maupun jawaban.
PEMAHAMAN
Sebelum skandal Hillsong mendominasi pemberitaan, pemimpin gereja baptis injili / Baptist Reformed (eungalion) Mackenzie Morgan sudah lebih dulu membunyikan peringatan. Pada tahun 2021, ia menjadi viral setelah memperingatkan gereja-gereja tentang apa yang ia sebut sebagai “ajaran palsu” dan “lirik yang sesat” dalam lagu-lagu dari Hillsong, Elevation, dan Bethel. “Saya tidak bisa lagi berdiam diri,” tulisnya, sambil mendorong orang-orang Kristen untuk berhenti memilih lagu penyembahan hanya karena lagu itu populer, menyentuh emosi, atau sudah akrab di telinga.
Kekhawatiran Morgan lebih besar daripada sekadar satu lagu atau satu kelompok musik. Ia berpendapat bahwa penyembahan bersifat teologis, bukan netral. Karena itu, gereja perlu bertanya: dari mana lirik-lirik tersebut berasal, apa yang diajarkannya tentang Allah, dan apakah royalti lisensi yang dibayarkan turut mendukung secara finansial pelayanan-pelayanan yang menurutnya menyebarkan injil palsu. Tantangannya sangat jelas: “Mungkin sudah waktunya kita kembali melihat Kitab Suci (apakah Alkitab masih relevan) untuk memahami apa yang benar-benar Allah kehendaki dalam penyembahan.”
Beberapa tahun kemudian, Hillsong menghadapi berbagai skandal kepemimpinan, penutupan gereja, film dokumenter, serta tuduhan penyalahgunaan rohani dan keuangan, korupsi dan scandal lainnya dan dijerat hukum. Sementara itu, Morgan terus mengajak orang-orang Kristen untuk memiliki kepekaan dan kemampuan membedakan ajaran melalui podcast-nya yang berjudul “Godly Whistleblower”. Pesannya tetap sederhana, tetapi tidak nyaman untuk didengar: penyembahan seharusnya tidak diukur berdasarkan popularitas, emosi, atau kemegahan panggung, melainkan berdasarkan Kitab Suci.
Hillsong adalah gereja mega (mega-church) dan denominasi Kristen beraliran Pentakosta Karismatik yang didirikan di Sydney, Australia, pada tahun 1983 oleh Brian dan Bobbie Houston. Gereja ini berkembang menjadi pelayanan global berskala internasional, namun juga menghadapi beberapa kontroversi kepemimpinan dalam beberapa tahun terakhir. Gereja ini lebih dikenal luas melalui divisi musiknya, Hillsong Music, yang memelopori lahirnya lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer populer di seluruh dunia.

Kamis, 11 Juni 2026

SUDUT PANDANG BANYAK PENDETA INGIN MENJADI KETUA SINODE, BUKAN KARENA PANGGILAN PELAYANAN?
PENGANTAR 
Ini adalah kenyataan pahit yang tidak semua orang berani membicarakannya.
PEMAHAMAN 
Tidak sedikit pendeta mengejar jabatan rohani bukan karena beban pelayanan, melainkan karena fasilitas, kehormatan, pengaruh, dan keuntungan yang ada di balik jabatan itu.
Jabatan ketua sinode yang seharusnya menjadi tempat mengabdi dan melayani, perlahan berubah menjadi posisi yang diperebutkan seperti kursi kekuasaan.

Ada yang rela membangun kelompok. Ada yang sibuk mencari dukungan politik gerejawi. Ada yang lebih aktif mengatur strategi kemenangan daripada berdoa mencari kehendak Tuhan.
Mengapa?

Karena jabatan sering dianggap membawa fasilitas. Membawa kehormatan. Membawa akses. Membawa pengaruh. Bahkan membuka jalan kepada kenyamanan hidup. Inilah yang sangat menyedihkan: pelayanan bercampur dengan ambisi pribadi. Padahal semakin tinggi jabatan rohani, seharusnya semakin besar tanggung jawab untuk merendahkan diri dan melayani umat Tuhan dengan takut akan Tuhan.

Tetapi yang terjadi hari ini, ada pendeta yang lebih ingin dihormati daripada melayani, lebih ingin berkuasa daripada menggembalakan, dan lebih ingin menikmati posisi daripada memikul salib pelayanan. Yesus berkata: “Barangsiapa ingin menjadi terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Matius 20:26.

Kerajaan Tuhan tidak dibangun dengan ambisi jabatan, tetapi dengan kerendahan hati dan pengorbanan. Ketika jabatan rohani dijadikan alat mencari keuntungan pribadi, pelayanan kehilangan kemurniannya. Mimbar menjadi arena politik. Persaudaraan berubah menjadi persaingan. Dan panggilan Tuhan perlahan tertutup oleh keinginan manusia.

Namun di tengah keadaan seperti ini, Tuhan tetap memelihara hamba-hamba-Nya yang setia. Masih ada pendeta yang melayani dengan tulus, hidup sederhana, takut akan Tuhan, dan menggembalakan jemaat dengan hati yang murni — bukan demi fasilitas atau kehormatan manusia.

Karena itu gereja harus kembali sadar: jabatan rohani bukan tempat mencari fasilitas, melainkan tempat mempertanggungjawabkan jiwa-jiwa di hadapan Tuhan.


Sudut Pandang Terjebak Angka

Sudut Pandang Terjebak Angka
PENGANTAR
Gereja seringkali terjebak pada angka. Kita merasa sukses jika bangku ibadah penuh dan suasana ibadah meriah, event gereja banyak yg datang, banyak tamu, diliput media dlsb .... Wow keren, no kesederhanaan. Namun, ada bahaya laten yang tidak kita sadari: kita mahir mencetak "penonton" atau konsumen agama, tetapi gagal melahirkan pencetak murid, gagal pemuridan.
PEMAHAMAN
Menjadi orang Kristen yang sekadar datang duduk diam itu mudah. Tetapi, dipanggil menjadi pencetak murid berarti siap mengajar, mendampingi, dan menularkan iman kita kepada orang lain agar mereka pun bisa melakukan hal yang sama, meneladan Kristus itu gak gampang, pahit malah, menghikmati pengajaran Kristus bukan perkara mudah, selalu berisiko. Tapi itulah yg ditunjukan Alkitab, jalan terjal, jalan yg gak gampang, jalan yg gak enak, tapi begitulah ... kalau kita masih menganggap Alkitab relevan bagi kita, siap dibenci dan siap ditinggalkan teman, tapi tidak ditinggalkan Tuhan.
Jika iman kita berhenti di diri kita sendiri, ada yang salah dengan kekristenan kita.
Namun ada hal yang juga berbahaya, yaitu "Pendeta-Sentris", "gereja sentris", dlsb. Kritik paling tajam dari perenungan ini mengarah pada struktur gereja kita. Banyak dari kita mengira gereja yang sehat adalah gereja yang pemimpin gerejanya sangat sibuk mengurusi segala hal, mulai dari khotbah, konseling, kunjungan, hingga urusan administratif. Secara teologis, ini adalah ilusi yang berbahaya. Mengapa?

- Mengerdilkan jemaat
Ketika semua hal bertumpu pada pemimpin gereja, jemaat menjadi pasif, manja, dan tidak pernah dewasa secara rohani.

- Topeng spiritualitas
Kesibukan pemimpin gereja yang luar biasa itu terlihat sangat suci di permukaan. Padahal, itu adalah ketergantungan yang tidak sehat. Pemimpin gereja menjadi "pahlawan tunggal," sementara jemaat hanya menjadi penonton yang ketergantungan.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa pelayanan atau karya bergereja hanya milik mereka yang bergelar teologi atau yang berdiri di mimbar, atau yg menjadi pemimpin gereja. Efesus 4:11-12 dengan jelas menyatakan bahwa tugas pemimpin jemaat adalah melengkapi orang-orang kudus (jemaat) untuk melakukan pekerjaan pelayanan atau karya bergereja. Tugas pemimpin gereja bukan melakukan segalanya, melainkan melatih jemaat agar mandiri dan mampu menggembalakan sesamanya. Pemuridan yang sejati tidak mengikat orang kepada figur  pemimpin gereja, melainkan mengikat orang kepada Kristus. Gereja harus bertobat dari kenyamanan semu ini. Suksesnya sebuah gereja tidak diukur dari seberapa besar jumlah jemaat yang bergantung pada pemimpin gerejanya, melainkan dari seberapa banyak jemaat yang sudah matang rohaninya dan bergerak menjadi pencetak murid di tengah keluarga, tempat kerja, masyarakat dan komunitas mereka, bukan kristenisasi tetapi teladan Kristus.

Sudut Pandang Sola Scriptura

Sudut Pandang Sola Scriptura
PENGANTAR
Dalam perdebatan tentang Sola Scriptura, sering kali kita mendengar argumen seperti ini:

"Kalau Sola Scriptura benar, bagaimana Anda tahu kitab-kitab dalam Alkitab itu benar? Bukankah Gereja yang menetapkan kanon? Bukankah itu berarti Gereja lebih tinggi dari pada Kitab Suci?"
PEMAHAMAN 
Sekilas argumen ini terdengar kuat. Namun sebenarnya ada kekeliruan mendasar yang sering tidak disadari. Gereja memang mengakui kanon Kitab Suci. Tetapi mengakui bukan berarti menciptakan. Seorang ahli perhiasan tidak menciptakan berlian ketika ia menyatakan bahwa sebuah batu adalah berlian asli. Ia hanya mengenali apa yang memang sudah ada. Demikian pula, konsili-konsili gereja tidak menciptakan otoritas Kitab Suci. Mereka mengakui kitab-kitab yang sejak semula telah diterima sebagai tulisan apostolik dan Firman Allah.
Surat-surat Paulus telah dibacakan di gereja-gereja jauh sebelum Konsili Hippo atau Kartago. Injil-injil telah beredar dan digunakan sebagai otoritas oleh jemaat mula-mula. Bahkan Petrus sendiri menyebut tulisan Paulus sebagai "Kitab Suci" (2 Petrus 3:16), berabad-abad sebelum bapa-bapa gereja menetapkan daftar kanon secara formal. Karena itu, mengatakan bahwa Gereja menciptakan otoritas Alkitab sama seperti mengatakan bahwa seorang hakim menciptakan hukum hanya karena ia mengesahkannya.
Lalu ada yang menunjuk kepada Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Mereka berkata, "Lihat, Gereja yang memutuskan persoalan doktrin, bukan Kitab Suci."

Benarkah demikian?

Jika kita membaca teksnya dengan teliti, Yakobus tidak menutup perdebatan dengan berkata, "Petrus sudah berbicara, jadi persoalan selesai." Sebaliknya, ia berkata:
"Hal itu sesuai dengan perkataan para nabi seperti yang ada tertulis..."
Kemudian ia mengutip Nabi Amos. Kesaksian Petrus tidak mengesahkan Kitab Suci. Justru Kitab Suci yang mengesahkan kesaksian Petrus. Inilah prinsip yang sejak awal dipegang oleh kaum Protestan: semua pengalaman rohani, semua tradisi, semua keputusan gereja harus diuji oleh Firman Allah. Bahkan ketika Paulus berhadapan dengan Petrus dalam Galatia 2, Petrus tidak kebal terhadap koreksi. Paulus menegurnya secara terbuka karena tindakannya tidak sejalan dengan kebenaran Injil. Jika Petrus dapat salah, mengapa kita harus percaya bahwa setiap "penerus Petrus" tidak mungkin salah? Demikian halnya seluruh murid Yesus baik dulu dan sekarang. Jika gereja-gereja dalam Wahyu 2 dan 3 dapat ditegur langsung oleh Kristus karena penyimpangan mereka, mengapa kita menganggap bahwa institusi gereja pada masa berikutnya tidak mungkin menyimpang? Kharismatik Pentakosta mengajarkan bahwa yang diurapi tidak dapat salah, betulkah? Selama itu manusia pasti tak ada kesempurnaan. Roma Katolik mengajarkan bahwa Magisterium tidak dapat salah karena dipimpin Roh Kudus.
Pertanyaannya... Bagaimana kita tahu Magisterium dipimpin Roh Kudus? Mereka akan menjawab: Karena Gereja mengajarkannya. Lalu bagaimana kita tahu Gereja benar ketika mengajarkan hal itu? Mereka akan menjawab lagi: Karena Magisterium mengatakannya. Di sinilah muncul masalah sirkularitas: Gereja membenarkan dirinya sendiri dengan otoritasnya sendiri. Sebaliknya, Sola Scriptura menegaskan bahwa harus ada standar yang lebih tinggi dari pada gereja, manusia yang diurapi, dlsb yaitu Firman Allah yang tertulis. Bukan karena kami meremehkan gereja, atau menolak orang yg diurapi. Justru karena kami menghormati gereja, dan menghormati orang yg diurapi.
Kami percaya gereja adalah tiang penopang kebenaran. Tetapi tiang tidak menciptakan bangunan yang ditopangnya. Gereja bertugas memelihara, memberitakan, dan mempertahankan kebenaran, bukan menjadi sumber kebenaran itu sendiri. Sebab pada akhirnya hanya ada satu otoritas yang benar : yaitu Firman Allah, Alkitab, menjadi pusat tumpuan pembelajaran tentang kehendak Allah, dan itupun tergantung pada tafsirnya. Gereja harus tunduk kepadanya, orang yg diurapi harus tunduk kepadanya.
Paus harus tunduk kepadanya.
Konsili harus tunduk kepadanya. Tradisi harus tunduk kepadanya. Dan kita semua harus tunduk kepadanya. Karena ketika Gereja dan Kitab Suci ditempatkan berhadapan, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah: "Apa kata gereja?" Melainkan, "Apa yang telah Allah firmankan?" "Apa yang ada dalam kitab suci?" Itulah inti Sola Scriptura.


Rabu, 10 Juni 2026

Sudut Pandang menghakimi makaikat

Sudut Pandang menghakimi makaikat
**1 Korintus 6:3 (TB)**  
“Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.”
Hebaaat ...... tepuk tangan dong, kita akan menghakimi malaikat, hebat tueniiiin
---

### **Analisis Akademik dan Bahasa**
Dalam teks Yunani, frasa *“krinoumen angelous”* (ฮบฯฮนฮฝฮฟแฟฆฮผฮตฮฝ แผ€ฮณฮณฮญฮปฮฟฯ…ฯ‚) berarti “kita akan menghakimi malaikat-malaikat.” Kata kerja *krinล* (menghakimi) di sini tidak hanya berarti “menjatuhkan hukuman,” tetapi juga “menilai,” “memeriksa,” atau “memutuskan.” Paulus menggunakan bentuk futurum (*krinoumen*), yang menunjukkan tindakan eskatologis — sesuatu yang akan terjadi pada masa depan, dalam konteks penghakiman akhir.

Kata *angelous* (malaikat-malaikat) tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Paulus, sehingga menimbulkan perdebatan akademik: apakah yang dimaksud adalah malaikat yang jatuh (iblis dan pengikutnya) atau seluruh makhluk surgawi. Namun, dalam konteks teologi Paulus, kemungkinan besar yang dimaksud adalah malaikat yang memberontak (lih. 2 Petrus 2:4; Yudas 6), karena penghakiman terhadap mereka merupakan bagian dari kemenangan Kristus dan umat-Nya.

---

### **Konteks Tradisi dan Sosial Jemaat Korintus**
Jemaat Korintus hidup dalam masyarakat Yunani-Romawi yang sangat legalistik, di mana penyelesaian sengketa sering dibawa ke pengadilan sipil. Paulus menegur mereka karena membawa perkara antar saudara seiman ke pengadilan duniawi (1 Korintus 6:1–2). Dengan menyebut bahwa orang percaya akan “menghakimi malaikat,” Paulus menegaskan martabat rohani umat Allah — bahwa mereka, yang akan turut serta dalam pemerintahan Kristus (lih. 2 Timotius 2:12), seharusnya mampu menyelesaikan perkara kecil di antara mereka sendiri.

---

### **Konteks Pastoral**
Secara pastoral, ayat ini menegur jemaat Korintus yang terpecah dan saling menggugat. Paulus mengingatkan mereka akan identitas dan tanggung jawab mereka sebagai umat yang telah ditebus. Jika mereka kelak akan berperan dalam penghakiman surgawi, maka mereka seharusnya hidup dengan hikmat dan keadilan dalam relasi sehari-hari.  
Pesan pastoralnya adalah: jangan merendahkan panggilan surgawi dengan perilaku duniawi. Jemaat dipanggil untuk hidup dalam kasih, keadilan, dan kebijaksanaan yang mencerminkan pemerintahan Kristus.

---

### **Nilai Moral dan Refleksi**
Ayat ini mengajarkan bahwa:
1. Orang percaya memiliki martabat rohani yang tinggi di hadapan Allah.  
2. Setiap keputusan dan tindakan di dunia ini mencerminkan kesiapan kita untuk memerintah bersama Kristus.  
3. Perselisihan antar saudara seiman seharusnya diselesaikan dengan kasih dan hikmat, bukan dengan cara duniawi.  

Dengan demikian, **1 Korintus 6:3** bukan hanya pernyataan teologis tentang masa depan, tetapi juga panggilan etis bagi jemaat untuk hidup sesuai dengan identitas surgawi mereka di dunia.

Selasa, 09 Juni 2026

Pernyataan bahwa "setiap orang yang berjumpa dengan Yesus pasti hidupnya berubah dan tidak akan sama lagi" telah menjadi semacam aksioma atau rumus baku dalam teologi populer dan khotbah-khotbah kontemporer atau perbincangan-perbincangan di medsos dan komunitas kristen. Sepintas, kalimat ini terdengar sangat beriman dan memotivasi.

Namun, jika kita membedahnya secara kritis berdasarkan narasi Alkitab, rumus otomatisasi ini menghadapi tantangan besar. Realitas teks Alkitab menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Yesus TIDAK SELALU menghasilkan "perubahan hidup" yang positif. Perjumpaan dengan Yang Ilahi menuntut respons moral dan kehendak bebas (free will) manusia; Yesus BUKANLAH MANTRA penjamin perubahan otomatis.

Untuk memahami mengapa perubahan tidak terjadi secara mekanis, kita perlu melihat bagaimana Alkitab menggambarkan esensi dari perubahan hidup yang sejati.

• Metanoia (Pertobatan) vs. Perubahan Eksternal
Dalam Perjanjian Baru, perubahan hidup yang dikehendaki oleh Yesus selalu berakar dari kata metanoia, yang secara harfiah berarti "perubahan pikiran" atau "arah pandang yang baru" (dari kata meta = sesudah/berubah, dan noieo = berpikir).

Metanoia bukan sekadar perubahan perilaku moralistis yang tampak dari luar, melainkan transformasi radikal pada pusat eksistensi manusia (hati dan pikiran).

Artinya, seseorang bisa saja "berjumpa" secara fisik atau emosional dengan Yesus, namun jika ia MENOLAK mengalami metanoia, hidupnya tidak akan berubah ke arah yang dikehendaki Allah.

• Epistrophe (Berbalik)
Kata lain yang sering disandingkan adalah epistrophe, yang berarti "berbalik kembali" kepada Allah. Perjumpaan dengan Yesus adalah sebuah undangan (panggilan). Undangan ini membutuhkan tindakan aktif dari manusia untuk epistrophe, berbalik dari jalan yang lama. Tanpa adanya keputusan untuk berbalik, perjumpaan tersebut hanya akan menjadi sebuah peristiwa historis yang lewat begitu saja tanpa dampak transformatif.

Alkitab mencatat dengan sangat jujur bahwa banyak orang mengalami perjumpaan intim dan intens dengan Yesus, namun hidup mereka tidak berubah menjadi lebih baik, atau bahkan berakhir tragis.

- Yudas Iskariot
Yudas adalah bantahan paling telak terhadap rumus otomatisasi perubahan. Dia tidak hanya "berjumpa" dengan Yesus dalam satu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau sesi konseling. Yudas hidup, makan, berjalan, mendengar pengajaran terjujur, dan melihat mukjizat Yesus secara langsung selama tiga tahun.

Secara kedekatan fisik dan intelektual, perjumpaan Yudas sangat maksimal.

Namun, hatinya tetap terikat pada keserakahan (Yohanes 12:6). Perjumpaannya dengan Yesus tidak mengubah karakternya; justru kedekatan itu berakhir pada pengkhianatan yang tragis. Yudas mengalami perubahan, tetapi bukan perubahan menuju kekudusan, melainkan kebinasaan karena penolakan batinnya terhadap hakikat mesianis Yesus.

- Pemuda kaya (Matius 19:16-22)
Seorang penguasa muda yang kaya datang langsung dan berlutut di hadapan Yesus. Ia mengalami perjumpaan pribadi yang sangat dialogis. Yesus bahkan "memandang dia dan menaruh kasih kepadanya" (Markus 10:21). Yesus menawarkan transformasi total: "Jual apa yang kaumiliki... dan ikutlah Aku."

Bagaimana hasil perjumpaan itu? Pemuda itu pergi dengan sedih dan masygul karena hartanya banyak.

Perjumpaan dengan Yesus tidak otomatis mengubah hidupnya menjadi seorang murid yang radikal. Kelekatan pada berhala duniawi (kekayaan) menutup pintu bagi metanoia.

- Penduduk Nazaret dan para pemimpin agama
Yesus mengajar di rumah ibadat di Nazaret, kampung halaman-Nya sendiri (Lukas 4:16-30). Mereka berjumpa, mendengar hikmat-Nya, namun perjumpaan itu justru memicu penolakan, bahkan mereka mencoba melempar-Nya dari tebing. Demikian pula dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat; mereka sering berdebat tatap muka dengan Yesus, melihat kuasa-Nya, tetapi hati mereka justru semakin keras dan merencanakan pembunuhan-Nya.

Dalam tradisi teologi Puritan, gagasan bahwa perubahan hidup terjadi secara otomatis atau mekanis tanpa perjuangan batin ditentang dengan sangat keras. Thomas Watson, dalam karyanya The Doctrine of Repentance, menegaskan bahwa banyak orang terjebak pada apa yang ia sebut sebagai counterfeit repentance (pertobatan tiruan/semu).

Pernyataan bahwa hidup "pasti berubah" hanya karena sebuah momen perjumpaan emosional dengan Yesus sering kali terjebak dalam jebakan mistisisme magis ini, seolah-olah perjumpaan dengan Kristus adalah sebuah transaksi instan, sekali mengalami histeria spiritual atau jamahan sesaat, hidup langsung otomatis kudus tanpa adanya proses mematikan dosa (mortification of sin) dan perjuangan iman yang konsisten.

Watson mengingatkan bahwa esensi dari perjumpaan yang menyelamatkan selalu melahirkan kedukaan yang ilahi atas dosa (godly sorrow). Pertobatan sejati bagi kaum Puritan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan sebuah "bencana rohani" yang menghancurkan kesombongan manusia dan ego kedagingannya untuk kemudian dibangun kembali oleh Roh Kudus. Jika seseorang mengaku telah berjumpa Yesus namun mengabaikan kekudusan hidup, Watson menyebutnya sebagai orang yang memiliki "iman yang mati" yang hanya memoles bagian luar cawan, namun membiarkan dalamnya penuh dengan kebusukan.

Lukas 9:23
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

Selaras dengan pandangan Puritan, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan perubahan otomatis tanpa penderitaan batin. Kata "harus" dalam ayat di atas menggunakan penekanan imperatif yang menuntut kehendak aktif manusia:

• Menyangkal diri (aparneomai): secara radikal berkata "tidak" pada kedaulatan diri sendiri

• Memikul salib setiap hari: proses mematikan dosa (mortification) yang berlangsung seumur hidup, bukan sekadar pelarian emosional sesaat.

Perubahan hidup terjadi bukan karena peristiwa perjumpaannya secara magis, melainkan karena anugerah Allah yang memampukan manusia untuk taat, memikul salib, dan berperang melawan dosanya setiap hari pasca-perjumpaan tersebut.

--------------------

Kalimat "orang yang berjumpa Yesus hidupnya pasti berubah" perlu dikoreksi secara teologis agar tidak menjadi slogan iman yang naif. Perjumpaan dengan Yesus adalah titik awal menawarkan kemungkinan perubahan (potensi transformasi), tetapi bukan jaminan mekanis yang meniadakan tanggung jawab manusia.

Tuhan menghargai kehendak bebas yang Ia ciptakan dalam diri manusia. Perjumpaan dengan Yesus menuntut respons: apakah kita mau menanggalkan manusia lama seperti Paulus di jalan menuju Damsyik, atau justru mengeraskan hati seperti Yudas Iskariot dan pemuda kaya yang memilih pergi menjauh. Pada akhirnya, yang mengubah hidup bukan sekadar fakta bahwa kita pernah "berjumpa" dengan-Nya, melainkan sejauh mana kita bersedia "takluk dan mengikut" Dia setiap hari.

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

PENGANTAR
Kita sering mengaitkan Istilah "premanisme" dengan aksi jalanan: pemalakan, intimidasi fisik, tato, dan kekerasan di lorong-lorong gelap. Namun, jika kita membawa isu ini ke dalam ruang-ruang suci (gereja, sinode, yayasan, dan organisasi Kristen) kita akan menemukan sebuah ironi yang tidak nyaman.
Ada bentuk premanisme yang mengalami domestikasi dan spiritualisasi. Ia tidak memakai jaket kulit, melainkan jubah pelayanan atau jas yang rapi. Ia tidak menggunakan senjata tajam, melainkan ayat-ayat Kitab Suci yang dipelintir.
PEMAHAMAN
Mari kita bedah sisi lain dari "premanisme rohani" (spiritual thuggism) dalam kekristenan yang jarang dibahas secara jujur di mimbar-mimbar kita.

1. Doktrin berkat sebagai upeti, dan upaya keberagaman macam persembahan
Dalam premanisme jalanan, ada konsep "uang jaminan keamanan" atau upeti agar bisnis anda aman. Dalam konteks organisasi dan gereja tertentu, praktik ini sering kali mengalami kristenisasi menjadi manipulasi teologis atas nama persembahan atau taburan benih, kasus tabur tuai. Belum lagi istilah janji iman, berjanji nanti kalau sudah ada uangnya maka akan dipersembahkan untuk gereja, dan kemudian gereja menagih. Belum lagi, pemaksaan keharusan tentang iuran untuk sinode atau yayasan dari gereja-gereja yang lebih kecil, umat didesak dengan pengertian untuk peduli pada yayasan lewat gereja-gereja, gereja yg lebih kecil harus menyokong gereja yang lebih besar karena gereja kecil blom punya pendeta (lah ..... kuwalik malah), kemudian macam dan keragaman persembahan.

Konsep Alkitab adalah persembahan sekecil apapun disyukuri dan dikelola dengan baik, bukan seberapa besar dana masuk tetapi seberapa besar kita bersyukur atas pengakuan kita akan Tuhan yang maha kuasa akan mencukupkan, kuncinya di pengelolaan dan tidak bermewah - mewah, ugahari, kesederhanaan, makanya, konsep di Alkitab itu kita hanya pengelola, diberi kepercayaan mengelola, bukan pemilik, pemiliknya Tuhan atas segala sesuatu. Makanya, ada istilah penata layanan, dlsb. Kalau Alkitab masih relevan bagi kita, maka kita kembalikan dasarnya pada Alkitab.

Umat diintimidasi secara psikologis dan spiritual. Khotbah-khotbah didesain sedemikian rupa untuk menimbulkan rasa bersalah (guilt-trip), jika tidak memberi dalam jumlah tertentu, maka pintu berkat tertutup, atau hidupnya akan kena kutuk. Bahan khotbah disiapkan sedemikian rupa, dg tema agar umat tergerak hatinya. Sisi kritisnya, Tuhan diposisikan tidak lebih dari "bos preman besar" yang hanya akan melindungi dan memberkati jika upetinya lancar. Ini adalah degradasi radikal terhadap anugerah (grace) yang cuma-cuma, mengubah relasi iman menjadi transaksi kekuasaan yang koersif (memaksa).

2. Intimidasi rohani: "Jangan menyentuh/ mengusik orang yang diurapi"
Preman mengandalkan hukum rimba: siapa yang paling kuat dan memegang wilayah, kata-katanya adalah hukum. Di dalam komunitas Kristen, hal ini sering kali muncul dalam bentuk kekuasaan absolut pemimpin yang anti-kritik.
Ayat dari 1 Tawarikh 16:22 ("Jangan menyentuh orang-orang yang Kuurapi") kerap dijadikan tameng kekebalan hukum dan moral. Ketika ada jemaat atau staf yayasan yang mempertanyakan transparansi keuangan, tata kelola organisasi, atau penyimpangan perilaku moral pemimpin, mereka segera dicap "pemberontak", "pahit", atau "sedang dipakai iblis."
Ini adalah premanisme sistemik yang membunuh daya kritis komunitas. Alkitab mencatat nabi-nabi justru bertugas mengkritik raja (pemimpin) yang melenceng. Ketika struktur gereja melarang evaluasi dan akuntabilitas, gereja bukan lagi tubuh Kristus, melainkan KARTEL spiritual yang melindungi kepentingan elite sekte.

3. Ekploitasi dan "perbudakan" berkedok pelayanan
Di banyak yayasan, organisasi, atau gereja besar, terdapat praktik eksploitasi tenaga kerja yang luar biasa kasar, namun dibungkus dengan narasi "pengorbanan untuk Tuhan" atau "tuntutan kedewasaan rohani."
Staf atau aktivis pelayanan dituntut bekerja melebihi kapasitas manusiawi (lembur tanpa kompensasi, upah jauh di bawah standar layak, tanpa jaminan kesehatan), sementara para elit organisasi menikmati fasilitas kelas atas. Jika staf tersebut mengeluh, senjata spiritual segera ditembakkan: "Kamu kurang berserah," atau "Upahmu besar di surga."
Ini adalah pelanggaran keadilan sosial yang sangat ditentang oleh nabi-nabi Perjanjian Lama (bdk. Amos 5). Menggunakan nama Tuhan untuk menjustifikasi pemotongan hak-hak dasar manusia adalah bentuk "pemalakan" energi dan hidup orang lain demi kelangsungan institusi.

4. Perebutan "lahan" dan kanibalisme pelayanan
Di dunia hitam, perang antar-geng terjadi karena perebutan wilayah kekuasaan (territorial dispute). Sadar atau tidak, ini terjadi di antara organisasi dan gereja Kristen. Kompetisi antar-gereja untuk menarik jemaat (terutama yang kaya) sering kali dilakukan dengan cara-cara tidak sehat, meski dibungkus dengan label "penginjilan" atau "kebangkitan/ kebangunan rohani." Ada intimidasi terselubung, penyebaran rumor untuk menjatuhkan reputasi lembaga lain, atau monopoli jaringan pelayanan agar bantuan dana (dari donor) tidak lari ke yayasan sebelah. Ego sektarian ini mengkhianati doa Yesus dalam Yohanes 17 agar umat-Nya "menjadi satu." Ketika gereja bertindak seperti korporasi yang agresif mencaplok pangsa pasar, mereka sedang mengadopsi mentalitas preman yang melihat pelayanan sebagai ladang bisnis dan persaingan kekuasaan.

Premanisme, pada akarnya, adalah tentang pemaksaan kehendak melalui dominasi kekuasaan.

Kekristenan, secara paradoks, lahir dari penolakan total terhadap model kekuasaan seperti itu. Yesus Kristus tidak datang sebagai preman kosmik yang memaksa manusia tunduk dengan kepalan tangan. Dia menyatakan diri-Nya melalui Salib, sebuah simbol pelepasan hak, kerapuhan (vulnerability), dan pelayanan yang mengosongkan diri (kenosis). Dalam Markus 10:42-43, Yesus dengan sangat tegas memperingatkan murid-murid-Nya:
"Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi... Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Ketika gereja,  sinode, yayasan, dan organisasi Kristen mulai menggunakan manipulasi psikologis, pembungkaman suara kritis, eksploitasi manusia, dan keserakahan struktural, mereka sebenarnya sedang mengalami murtad fungsional. Mereka mungkin masih menyebut nama "Yesus", tetapi metode yang mereka gunakan adalah metode dunia hitam.
Gereja perlu bertobat dari godaan menjadi "makelar rohani" yang menggunakan cara-cara premanisme untuk mempertahankan institusi. Sudah saatnya komunitas Kristen berani membongkar kekerasan yang rapi ini, dan kembali pada esensi komunitas yang radikal dalam kasih, transparan dalam kelola, dan setara di kaki salib.

Senin, 08 Juni 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 9:35 – 10:8 (9-23)[๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—œ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐˜ฝ๐™š๐™ง๐™ž๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™ง๐™–๐™ฉ๐™ž๐™จ!

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 9:35 – 10:8 (9-23) [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—œ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐˜ฝ๐™š๐™ง๐™ž๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™ง๐™–๐™ฉ๐™ž๐™จ!

PENGANTAR 
Minggu 14 Juni 2026, Saat ini kita memasuki Minggu ke-3 setelah Pentakosta. Pencurahan
Roh Kudus kepada orang percaya mengandung perutusan untuk melanjutkan karya pelayanan Tuhan bagi manusia. Melalui bacaan Injil kita diajak untuk meneladan karya Yesus yang didasarkan pada belas kasih. Pewartaan dengan tema “Pewarta Belas Kasih” akan lebih memusatkan perhatian pada bacaan Injil dari leksionari hari ini. Meskipun demikian bacaan pertama (PL) dan bacaan rasuli (surat-surat) dalam leksionari Minggu ini akan dijadikan
sebagai dasar mengapa pewartaan belas kasih harus dilakukan. 
Kitab-kitab Injil bukanlah laporan jurnalistik historis objektif. Para pengarang Injil menulis kisah teologis tentang hidup dan karya Yesus. Kitab-kitab itu ditulis bukan untuk orang-orang Kristen di Indonesia, melainkan untuk kalangan atau jemaat tertentu yang sedang mengalami persoalan dan pergolakan dahsyat. Itulah sebabnya terjadi perbedaan kronologi, geografi, nama tokoh cerita, dan bahkan ucapan Yesus.
Meskipun kitab-kitab Injil bukan laporan jurnalistik historis objektif, dalam kisah teologis itu ada jejak sejarah. Contoh, Matius 22:7 ๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. Dari sini kita dapat menimbang bahwa Injil Matius ditulis sesudah tahun 70 ZB setelah Bait Allah II di Yerusalem diruntuhkan oleh pasukan Romawi. Kota ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข adalah kota orang Yahudi, yakni Yerusalem. Jadi, ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป, apalagi kota suci.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu ketiga sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 9:35 – 10:8 yang didahului dengan Kejadian 18:1-15, (21:1-7), Mazmur 116:1-2, 12-19, dan Roma 5:1-8.
Bacaan Injil hari ini terdiri atas tiga perikop yang bersambungan. Perikop Matius 9:35-38 diberi judul ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ merupakan bagian akhir pasal 9, perikop Matius 10:1-4 ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ merupakan bagian awal pasal 10, sedang Matius 10:5-8 merupakan bagian awal perikop Matius 10:5-15 yang berjudul ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ.

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿต:๐Ÿฏ๐Ÿฑ-๐Ÿฏ๐Ÿด
Bacaan Injil diawali dengan semacam rangkuman Yesus berkeliling ke semua kota dan desa di Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka; Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan (๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ̄๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข๐˜ด) serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat. 9:35). Rangkuman ini mirip dengan Matius 4:23.
Dalam TB II 1997 dan TB II 2023 di Matius 9:35 ada kata ganti empunya ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข (๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฐ̄๐˜ฏ) dalam frase ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. Pengarang Injil Matius hendak menyampaikan bahwa sinagog bukan lagi tempat ibadat jemaat Kristen (Jemaat Matius). Ini merupakan jejak sejarah bahwa Injil Matius ditulis sesudah Bait Allah dihancurkan oleh Romawi pada 70 ZB yang membuat kebencian pemimpin Yahudi terhadap umat Kristen memuncak. Umat Kristen dianggap biang-sial bagi umat Yahudi. Mereka kemudian mengusir dan mengucilkan jemaat Matius termasuk melarang umat Kristen menggunakan sinagog. 
๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ dalam frase ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ diterjemahkan dari kata ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌo๐˜ฏ. NRSV juga menerjemahkannya sama ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ข๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, bukan ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ (berkhotbah).
Melihat orang banyak itu Yesus tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. (Mat. 9:36) 
TB II 2023 masih menggunakan kata bahasa Indonesia yang salah ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ. Frase ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe. Akar katanya adalah ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Saya saat stres biasanya mengalami gangguan perut. Bagaimana dengan anda?
Frase ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข merupakan pemerian yang diilhami dari teks-teks Perjanjian Lama (PL) seperti kitab Bilangan 27:15-17. Gembala di sini adalah metafor pemimpin politik atau keagamaan. Di luar dunia cerita tampaknya jemaat Matius, meskipun mereka mempunyai gembala, tetapi gembala yang dimetaforkan sebagai serigala berbulu domba (lih. Mat. 7:15).
Yesus kemudian berkata kepada murid-murid-Nya, “๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ.” (Mat. 9:37-38)
Pemerian tuaian atau panen sangat lazim di PL yang kerap dipautkan dengan penghakiman Allah atau eskatologis (lih. Yes. 27:12 dan YL. 4:13). Di PB (dhi. Injil Matius) nasabah ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ dan penghakiman Allah akan berlanjut ke Matius 13:36-43. Dalam konteks dua ayat di atas (Mat. 9:37-38) tidak merujuk penghakiman Allah. Penafsiran ini didukung frase ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ. Ayat di atas merujuk orang banyak yang siap sedia menanggapi Injil yang diberitakan Yesus. Namun, pekerja-pekerja tuaian sedikit sehingga Yesus menyuruh murid-murid-Nya meminta kepada Allah, Sang Empunya tuaian, mengirim para pekerja tuaian. Untuk apa? Ya, itu tadi untuk mengurusi ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข tersebut. Kerap terjadi di Gereja yang hanya berpumpun pada berdoa untuk mendapatkan kolekte dan persepuluhan, tetapi lalai berdoa meminta para pekerja untuk mengurusi warga jemaat yang lelah dan telantar.

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿฌ:๐Ÿญ-๐Ÿฐ
Bacaan berlanjut ke pasal 10. Yesus memanggil ke-12 murid-Nya dan memberi mereka kuasa mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Adreas saudaranya, lalu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. (Mat. 10:1-4)
Inilah untuk kali pertama pengarang Injil Matius menyebut ke-12 murid tiga kali berturut-turut (Mat. 10:1, 2, 5). Angka 12 tentulah berpautan dengan 12 suku Israel. Dua belas murid menyimbolkan ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ. Yesus adalah ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ. Dalam Injil Matius istilah rasul (๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญo๐˜ฏ) merujuk 12 murid (๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉe๐˜ต๐˜ข๐˜ด) Yesus.
๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข di sini Matius hendak menyejajarkan misi ke-12 murid sama dengan misi Yesus. Dalam budaya Yahudi orang kerasukan roh jahat menjadi najis sehingga harus dikucilkan dari komunitas. Yesus memberi ke-12 murid kuasa melakukan eksorsisme agar mereka yang najis menjadi tahir. Juga, Yesus memberi mereka kuasa menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan.
Dalam Injil sinoptis Petrus selalu ditempatkan sebagai murid nomor 1. Injil Yohanes berbeda. Petrus adalah murid nomor 3 atau murid gelombang kedua. Murid gelombang pertama adalah Andreas dan tanpa nama. Keduanya adalah (mantan) murid Yohanes Pembaptis. Tampaknya perbedaan ini adalah jejak atau petunjuk bahwa jemaat atau komunitas penulis Injil Yohanes ini dimusuhi dan didera oleh pemimpin-pemimpin Yahudi sehingga menomorduakan Petrus yang teologinya pro-Yahudi di dunia nyata. Yang menarik adalah pasangan terakhir: Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜‹๐˜ช๐˜ข (Yesus). Zelot adalah gerakan ultra-nasionalis. Merekalah yang mengobarkan pemberontakan terhadap Pemerintah Roma. Iskariot bukan nama diri Yudas. Diduga nama Iskariot di belakang Yudas ditambahkan atau diberikan oleh jemaat Kristen di masa kemudian. Tampaknya Yudas juga anggota Zelot. Iskariot berpautan dengan kata ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ข yang berarti si palsu atau penipu. Tampaknya Matius menulis ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜‹๐˜ช๐˜ข sebagai penjelasan nama Iskariot. Ada ahli yang menduga Yudas mengkhianati Yesus karena Ia tidak mau mendukung ideologi Zelot. Perhatikan juga cara Matius menyebut nama-nama murid. Berpasangan dua-dua. Mengapa? Tampaknya Matius suka pada nilai atau angka dua. Ayat-ayat dari Injil Matius di bawah mendukung tafsir ini:

• Anak-anak yang dibunuh Herodes adalah mereka yang berumur ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ tahun ke bawah (2:16).
• Murid-murid pertama Yesus adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang bersaudara (4:18).
• Nelayan yang dipanggil Yesus untuk menjadi murid-Nya adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang bersaudara juga (4:21).
• Ajaran Yesus: jika ada yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ mil! (5:41)
• Di Gadara bukan hanya satu orang yang dirasuk setan, melainkan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang (8:28).
• Di perjalanan-Nya Yesus menyembuhkan mata ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang buta (9:27).
• Jika ada suatu perkara, jumlah saksi minimum adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ oang (18:16).
• Yesus berjanji akan hadir jika ada minimum ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang berkumpul dalam nama-Nya (18:20).
• Murid-murid Yesus yang meminta tempat khusus adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang bersaudara (20:20).
• Ketika keluar dari Yerikho, bukan hanya satu, melainkan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang buta yang disembuhkan Yesus (20:34).
• Ada ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ murid yang disuruh menemukan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ keledai (21:1).
• Mahkamah Agama bahkan membutuhkan kesaksian palsu yang konsisten minimum dari ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang saksi (26:60).
• Yesus disalib bersama dengan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang penyamun (27:38).

๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿฌ:๐Ÿฑ-๐Ÿด
Ke-12 murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ.” (Mat. 10:5-6)

Mengapa dilarang ke Samaria? Bukankah Injil untuk segala bangsa seperti di Matius 28:16-20? 

Pada mulanya umat Kristen (dhi. Jemaat Matius) dari kalangan Yahudi. Matius 10:5 adalah jejak sejarah. Umat Kristen hidup rukun dengan orang Yahudi dan bersama-sama beribadah di sinagog. Pembedanya adalah umat Kristen mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias. Pada tahun 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh kaum Zelot. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. Untuk itulah Injil Matius ditulis. Banting stir! Pengarang Injil Matius membimbing jemaatnya dari kalangan Yahudi bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pembuka dan penutup Injil Matius menyingkap itu. Matius membuka Injil dengan kelahiran Yesus yang ditolak oleh Raja Herodes, tetapi diterima oleh orang-orang Majus, bangsa lain. Injil Matius diakhiri dengan perintah Yesus memberitakan Injil kepada segala bangsa.
Yesus melanjutkan, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ: ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข.” (Mat. 10:7-8)
Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah merupakan pusat misi dan berita yang disampaikan oleh Yesus. Dalam PB Yesus sering menjelaskan pengertian Kerajaan Surga melalui perumpamaan-perumpamaan. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Surga sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah, yang sukar diperikan dengan kata-kata. Bahkan semua perumpamaan masih belum dapat mencakup seluruh pengertian Kerajaan Surga. Contoh, Kerajaan Surga itu ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ 40 ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข (Mat. 13:33, TB II 2023). Dalam Alkitab LAI versi BIS dikatakan ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข! Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang terklasifikasikan menurut sistem Yudaisme (lih. Kel. 12:19 “…๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ,...”). Kalau Yesus mengatakan bahwa ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช itu berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Memberitakan Kerajaan Surga berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Gereja dengan sistem pemerintahannya yang dikuasai kaum elitis pendeta, penatua, rama, dslb., tetapi berada di antara kalangan marginal dan najis yang setiap hari merintih atas ketidakadilan penguasa dalam mengadministrasi keadilan sosial. Memberitakan Kerajaan Surga berarti mengusir roh-roh jahat yang merasuki elitis pejabat gerejawi yang sudah ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต memamerkan klaim kuasa ilahi yang ada pada dirinya. Memberitakan Kerajaan Surga berarti juga membuat elitis pejabat gerejawi peka bahwa umat dan masyarakat tidak membutuhkan gatra rohaniah saja, tetapi juga badaniah seperti makan, minum, kesehatan, keamanan, dlsb.
Di ayat 8 Yesus menekankan, “๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข.” Apa yang diperoleh dengan gratis? Kuasa menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menahirkan orang-orang yang sakit kulit, dan mengusir setan-setan. Dalam menggunakan kuasa itu para murid dilarang ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ atau memasang tarif. Harus gratis juga! Para pejabat negara yang diberi kuasa menyelenggarakan negara harusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan gratis. Para pejabat itu sudah diberi gaji dan fasilitas sehingga tidak ada alasan bagi mereka mengambil yang menjadi hak masyarakat. Para pejabat gereja pun juga begitu. Mereka yang diberi kuasa menyembuhkan, kuasa berkhotbah, tidak layak mengejar honor, kolekte, dan persepuluhan. Yang menyedihkan lagi cukup banyak pejabat gereja, yang digaji oleh jemaat, malas belajar, enggan mengembangkan diri (kecuali mengembangkan badan) sehingga pengajaran mereka tidak bermutu, tidak mencerdaskan jemaat.
(08062026)(TUS)


Sudut Pandang tidak melakukan hal besar, cukup setia pada hal kecil

Sudut Pandang tidak melakukan hal besar, cukup setia pada hal kecil

PENGANTAR
Ada kisah menarik dalam Alkitab, Roma 16:12 (TB). “Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja sangat keras dalam pelayanan Tuhan.”  Ayat ini merupakan bagian dari penutup surat Paulus kepada jemaat di Roma, di mana ia menyebut nama-nama pribadi yang berjasa dalam pelayanan. Secara linguistik, kata “bekerja membanting tulang” (Yunani: kopiล) berarti “berjerih lelah sampai letih”, menunjukkan intensitas pelayanan yang dilakukan dengan kerendahan hati, bukan untuk kemuliaan diri.  Dalam tradisi gereja mula-mula, penyebutan nama perempuan seperti Trifena, Trifosa, dan Persis menunjukkan pengakuan terhadap peran aktif perempuan dalam pelayanan Injil. Namun, Paulus tidak menonjolkan status atau kedudukan mereka, melainkan menekankan kerendahan dan kesetiaan dalam kerja bagi Tuhan.  Roma 16:12 hanya satu kalimat pendek dalam 1 Kitab suci yg tebal, tetapi sarat makna moral. Paulus tidak memuji mereka karena jabatan atau prestasi, bukan pengakuan melainkan karena kerja keras yang tulus. Ini sejalan dengan prinsip “tidak bermegah” sebagaimana ditegaskan dalam 

1 Korintus 1:31 (TB):  
“Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”  

Dengan demikian, ayat ini menampilkan teladan kerendahan hati dalam pelayanan — bekerja keras tanpa mencari pujian manusia, melainkan memuliakan Tuhan.  Kerendahan dalam konteks Roma 16:12 bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari kasih dan kesetiaan kepada Tuhan. Trifena, Trifosa, dan Persis menjadi simbol pelayan yang tidak bermegah, tetapi setia dalam tugas kecil maupun besar. Nilai moral yang dapat diambil: kerja keras yang disertai kerendahan hati adalah bentuk ibadah yang sejati, tanpa pengakuan, apalagi gerakan di ruang elit. Saya selalu mengatakan dampaknya minimal ketika kita bergerak hanya di ruang-ruang elit, seminar, dan akademisi, mau gerakan lintas iman ataupun karya bergereja apapun itu. Kita lihat mau seberapa besar apa gerakan itu tokh ... Nyatanya ruang itu tidak memberikan dampak yg signifikan di negeri ini, hanya wowww keren aja. Saya malah melihat dampak itu secara pribadi ketika kita bergerak dari aras dan arus bawah, ketika umat dilatih sedemikian rupa untuk bermasyarakat dengan baik di tengah kemajemukan dimana umat tinggal bukan di gereja atau seminar, ketika umat terlatih tanpa halangan ego mau ikut gotong royong membersihkan tempat ibadah lain dimana umat tinggal, ketika umat nyadar kita majemuk dan memandang perbedaan bukan sebagai musuh dimana umat tinggal, ketika umat mau bergerak dalam kebersamaan dg umat lain dimana umat tinggal dlsb. Gerakan elit dan akademisi sering bohong karena saya sering melihat para elit ini, akademisi, dan pemuka agama tokh dalam hidup kesehariannya tidak bertetangga dengan baik, tapi teriak wow keren untuk ruang-ruang kosong tsb, tokh para elit ini bahkan akademisi juga pemuka agama tidak bermasyarakat dengan baik, seruannya hanya ada di ruang kosong, mereka habis waktu untuk berteriak dalam ruang kosong sebab sibuk dan tidak bisa bertetangga dg baik, karena tidak dilakukan dalam keseharian dimana dia tinggal. Sehingga gerakan menciptakan ruang kebersamaan dalam kemajemukan itu hanya di aras elite atau atas atau akademisi tidak di aras bawah, shg pada kenyataaannya di negara ini, kemajemukan tetap menjadi masalah, tokh .... ruang kosong yg sejak dulu didengungkan tak memberi dampak yg signifikan di negeri ini. Gimana seorang ustad berteriak adanya ruang kebersamaan dalam kemajemukan ketika hidup kesehariannya di tengah ponpes yg seragam, bukan bertetangga yg beragam, gimana seorang akademisi ataupun pemuka agama yg lain berteriak adanya ruang kebersamaan dalam kemajemukan ketika hidupnya habis untuk mengajar dan mengurusi umatnya bukan bertetangga yang beragam, sehingga gerakan itu seperti hanya panggung saja. Untuk memahami esensi dari karya yang tidak mencari panggung atau upah, kita harus melihat fondasi kristologis dalam Filipi 2:7. Teks asli Yunani menggunakan kata "ekenลsen", dari akar kata "kenosis", yang berarti "mengosongkan diri". Kristus tidak mempertahankan hak-hak keilahian-Nya demi status, melainkan dengan sengaja mengosongkannya. Saya lebih menghargai progam interfaith atau interreligius pada lembaga pendidikan agama, dimana tafsir lintas iman menjadi pondasinya. Melihat tafsir kitab suci lintas iman secara dewasa dan dalam ranah akademisi, di tempat kami teman-teman UMS mengambil S2, S3 dalam bidang tafsir lintas iman, saya lebih menghargai ketika seseorang bermasyarakat dg baik ditengah kemajemukan memanfaatkan obrolan gardu ronda bisa memberikan pemahaman menerima perbedaan agama, suku, ras diantara tetangga yg majemuk tanpa pemaksaan dan dg lembut, hal-hal itu lebih berdampak, tanpa pengakuan dan itu kerja keras untuk kemuliaan Tuhan
PEMAHAMAN
Pengosongan diri ini mewujud dalam tindakan menjadi seorang doulos atau hamba. Sifat dasar dari seorang "doulos" pada abad pertama adalah ketiadaan hak atas pengakuan publik (recognition) atau kompensasi pribadi (reward). Seluruh eksistensinya didedikasikan untuk kehendak tuannya. Ketika konsep ini diturunkan ke dalam tindakan praktis kemanusiaan (seperti merawat yang terluka, memberi makan yang lapar, menjaga kebersihan ruang bersama, dll) tindakan tersebut berakar pada (diakonia). Pelayanan Kristen sejati (diakonia) secara radikal membalikkan logika dunia: ia tidak bergerak ke atas untuk mencari validasi, melainkan bergerak ke bawah demi pemulihan sesama. Dalam Injil Matius 6:1-4, Yesus memberikan kritik tajam yang sangat relevan dengan kecenderungan manusiawi kita yang selalu haus akan pengakuan, penghargaan, atau pengenalan:

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka... Janganlah engkau memegahkan dirimu seperti yang dilakukan orang munafik... supaya mereka dipuji orang."

Pada konteks Yahudi abad pertama, memberi sedekah (tzedakah) sering kali dijadikan AJANG PAMER kesalehan sosial di rumah-rumah ibadah atau di jalan-jalan raya. Yesus menggunakan istilah (hupokrites), yang secara literal merujuk pada aktor teater yang mengenakan topeng. Ketika sebuah tindakan baik (baik itu berupa bantuan material, perawatan medis, pembersihan fisik dll) dikondisikan agar terlihat oleh publik demi membangun citra diri, tindakan tersebut telah bergeser dari altruisme ilahi menjadi komodifikasi kesalehan. Upahnya telah habis dibayar seketika lewat pujian manusia yang fana. Pelayanan yang otentik menuntut kepunahan ego. Ketika seseorang menyapu lantai tempat ibadah yang sepi, membalut luka seorang anak di pelosok, atau membagikan bantuan kepada masyarakat, ujian terbesarnya bukanlah pada APA yang dilakukan, melainkan MENGAPA itu dilakukan. Kita ditantang untuk meruntuhkan hasrat purba manusia yang selalu ingin diakui (the thirst for recognition). Pelayanan sejati tidak membutuhkan lampu sorot atau tepuk tangan penonton; ia justru subur di dalam kesunyian dan ketulusan. Alkitab menekankan bahwa Bapa yang melihat "di tempat yang tersembunyi" akan membalasnya. Ini bukan sekadar janji tentang upah masa depan, melainkan kepuasan batiniah tertinggi karena kehidupan kita telah diselaraskan dengan ritme kasih Allah sendiri.

Pertanyaan untuk refleksi kita bersama: 

Ketika kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama dalam kehidupan sehari-hari, bagian manakah dari diri kita yang sebenarnya sedang kita beri makan: kebutuhan nyata sesama kita, atau justru ego dan rasa haus kita akan pujian?
(09062026)(TUS)

Sudut Pandang ๐™’๐™ค๐™ง๐™จ๐™๐™ž๐™ฅ ๐™‡๐™š๐™–๐™™๐™š๐™ง ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต

Sudut Pandang ๐™’๐™ค๐™ง๐™จ๐™๐™ž๐™ฅ ๐™‡๐™š๐™–๐™™๐™š๐™ง ๐˜€๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต PENGANTAR  Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada b...