Banyak orang gandrung kepada ๐ฃรจ๐๐๐ฒ๐ฟ ๐ฃ๐ต๐ถ๐น๐ถ๐ฝ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ. Kata mereka, Mantofa pengkhotbah yang bagus dan cerdas.
Saya tidak tahu Mantofa. Saya penasaran seberapa cerdas ia dalam berkhotbah, lalu saya ambil secara acak khotbahnya yang teksnya dari Injil. Sumber video https://www.youtube.com/watch?v=gUB1_68o_No
Dari sini kita bisa melihat bagaimana Lukas 9:28-36 dirudapaksa oleh Mantofa menjadi khotbah tentang doa.
1️⃣ ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฝ๐ฎ๐น๐ถ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ: ๐๐ฒ๐ธ๐๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ณ๐ถ๐ด๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ, ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ผ๐ฎ
Kalau membaca teks Injil Lukas, pertanyaan pertama bukan: “Apa yang bisa kita katakan tentang doa dari ayat ini?”, tetapi “Apa yang sedang hendak dikatakan Lukas melalui kisah transfigurasi ini?”
Struktur Lukas 9 sangat terang: ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐๐ฟ๐๐ → ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ต๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ฎ๐ป → ๐๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ธ๐๐ ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ → ๐ธ๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป → ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ณ๐ถ๐ด๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ → ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ต๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ.
Artinya, transfigurasi bukan episode yang berdiri sendiri. Ia berada tepat setelah Yesus memberitahukan penderitaan dan kematian-Nya, lalu berbicara mengenai tuntutan mengikuti-Nya.
Di dalam transfigurasi itu sendiri Lukas memberi penekanan yang sangat spesifik: Musa dan Elia berbicara dengan Yesus ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ท๐๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ถ๐ฎ๐ป-๐ก๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐ด๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ถ-๐ก๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ฌ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฎ๐น๐ฒ๐บ.
Mantofa sebenarnya membaca kalimat itu. Bahkan ia mengatakannya sebagai “bukti” bahwa Yesus sedang “di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ tentang kematian-Nya.” Namun, sesudah melihat itu, Mantofa tetap menyimpulkan: “Ini adalah cerita tentang doa bukan tentang Musa dan Elia saja. Bukan hanya Yesus beralih-rupa.” Nah, di sinilah masalah hermeneutisnya.
Bukan berarti doa tidak ada dalam teks. Doa memang ada. Yesus naik ke gunung untuk berdoa, dan transfigurasi terjadi ketika Ia sedang berdoa. Namun, keberadaan doa sebagai latar tidak otomatis menjadikan doa sebagai tema utama perikop. Itu dua hal berbeda.
2️⃣ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ผ๐บ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ “๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ผ๐ฎ” ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ “๐ฑ๐ผ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ณ๐ถ๐ด๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ”
Perhatikan alur argumentasi Mantofa: “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajahnya berubah...”, lalu Mantofa: “Doa itu ya yang pertama-tama diubahkan oleh doa itu adalah pendoanya.”
Secara homiletis ini enak. Bahkan bagus sebagai motivasi doa. Tapiii ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ฒ๐ธ๐๐ฒ๐ด๐ฒ๐๐ถ๐ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฒ๐๐ฎ๐ฟ.
▶️ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป: Yesus berdoa → doa mengubah Yesus → maka wajah Yesus berubah.
▶️ ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ธ๐ฎ๐ adalah bahwa ketika Yesus sedang berdoa, ๐ฟ๐๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ท๐ฎ๐ต-๐ก๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐น๐ฎ๐ถ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ป-๐ก๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฝ๐๐๐ถ๐ต ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ถ๐น๐ฎ๐-๐ธ๐ถ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป.
Di sini petulis Injil Lukas sengaja memilih ๐ฟ๐๐บ๐๐๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ธ๐๐. Lukas tidak menggunakan ๐ฎ๐ฆ๐ต๐ข๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ฑ๐ฉล๐ต๐ฉฤ, tetapi ๐ต๐ฐ ๐ฆ๐ช๐ฅ๐ฐ๐ด ๐ต๐ฐ๐ถ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ดล๐ฑ๐ฐ๐ถ ๐ข๐ถ๐ต๐ฐ๐ถ rupa wajah-Nya menjadi lain. Yang hendak diperlihatkan Lukas adalah penampakan Yesus dalam kemuliaan surgawi, ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป sebuah teori mengenai efek doa terhadap pendoa.
Lebih penting lagi kalau “doa mengubah pendoa” menjadi pesan utama, maka persoalan teologis segera muncul: ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ผ๐๐ฎ ๐ถ๐๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ?
Mantofa sendiri sadar akan masalah ini: “Yesus tidak berdosa. Beda sama kita. Kita orang berdosa butuh doa... Tapi Yesus itu suci.”
Namun masalahnya tidak selesai. Justru pertanyaan itu memerlihatkan bahwa tesis “doa pertama-tama mengubah pendoa” ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐๐๐๐ต๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐. Ia lahir dari kebutuhan khotbah. Tema dirudapaksa masuk ke dalam teks.
3️⃣ ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต: “๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐บ๐๐ฟ๐ถ๐ฑ ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ต ๐๐ถ๐ฑ๐๐ฟ”
Mantofa berkata sejak awal: “Kenapa ada berkat terlewat? Karena murid-murid Yesus pilih tidur daripada berdoa.” Tesis itu kemudian terus dibangun: mereka tidur → tidak berdoa → tidak menangkap perkara Allah → kemudian melakukan kekonyolan-kekonyolan.
Padahal Lukas hanya mengatakan: “Petrus dan teman-temannya telah tertidur.” Tidak ada kalimat:
mereka memilih tidur daripada berdoa. Tidak ada pula: mereka sebenarnya disuruh berdoa tetapi sengaja memilih tidur. ๐๐๐ ๐จ๐ฉ๐ค๐ง๐ฎ ๐๐๐๐ฃ’๐ฉ ๐ฉ๐๐ก๐ก ๐จ๐ค.
Memang bisa saja orang mengembangkan aplikasi dari tidur para murid, tetapi tidak boleh mengubah kemungkinan aplikasi menjadi makna yang didaku berasal dari teks.
Ada ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข๐ช๐ญ yang malah merusak argumentasi Mantofa. Murid-murid itu tertidur ketika Yesus sedang berdoa. Ketika mereka bangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan dan Musa-Elia.
Di sini kita tidak mempunyai dasar tekstual untuk mengatakan: “Mereka melewatkan transfigurasi karena tidak berdoa.” ๐๐๐๐๐ฟ๐ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐.
4️⃣ ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ณ๐ฎ๐๐ฎ๐น ๐น๐ฎ๐ด๐ถ: “๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐” ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ฐ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ
Apa “berkat” yang terlewat? Mantofa mengatakan mereka melewatkan sesuatu karena tidur, tetapi teks tidak mengatakan mereka kehilangan berkat tertentu. Sekali lagi, ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐บ ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ฏ’๐ต ๐ต๐ฆ๐ญ๐ญ ๐ด๐ฐ.
Mereka memang tidak menyaksikan seluruh proses percakapan Musa-Elia dengan Yesus. Akan tetapi Lukas tidak menyebut itu sebagai kerugian spiritual akibat kurang berdoa. Bahkan setelah mereka bangun, mereka melihat: Yesus dalam kemuliaan, Musa, Elia, lalu awan, lalu suara Allah. Sesudah suara itu, Yesus tinggal seorang diri. Itulah adegan yang kemudian menjadi sangat penting.
Jadi, pusat kisah dalam teks bukan: “Jangan sampai kita tertidur ketika Allah sedang memberkati.”, melainkan: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”
5️⃣ ๐๐ฟ๐ผ๐ป๐ถ๐๐ป๐๐ฎ: ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐บ๐ฎ๐ “๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฎ”, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐น๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต
Suara Allah merupakan klimaks teologis kisah transfigurasi.
▶️ Allah tidak berkata: “Berdoalah lebih rajin.”
▶️ Allah tidak berkata: “Jangan tidur ketika Aku sedang bekerja.”
▶️ Allah juga tidak menjawab usulan Petrus: “Ide kemahmu bagus.”
▶️ Allah berkata: “๐๐ป๐ถ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ป๐ฎ๐ธ-๐๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ฝ๐ถ๐น๐ถ๐ต, ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฎ!”
Ada tiga implikasi yang sangat kuat: (1) Hanya Yesus yang dipilih. (2) Petrus harus mendengarkan Yesus, bukan Yesus mendengarkan Petrus. (3) Usulan Petrus mengenai kemah tidak relevan.
Nah, Mantofa sebenarnya menyentuh bagian ini dengan sangat baik: “Enggak ada Tuhan enggak gubris. Dia langsung berkata... ‘Dengarkanlah dia.’” Akan tetapi setelah itu Mantofa kembali ke: “Efeknya berdoa dan efeknya tidak berdoa.” Ada perebutan pusat gravitasi.
▶️ Teks menaruh pusat gravitasi pada Yesus.
▶️ Khotbah memindahkannya kepada orang yang berdoa.
6️⃣ ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ผ๐ฎ๐น ๐ฃ๐ฒ๐๐ฟ๐๐
Mantofa mengatakan tentang tanggapan Tuhan terhadap usulan Petrus: “Enggak ada itu dalam suara itu. Terima kasih Petrus untuk tenda pramuka yang kau tawarkan.” Lucu memang.
Kalau kita melongok jauh lebih dalam, masalah Petrus bukan sekadar bahwa ia mempunyai ide “tenda pramuka”. Petrus hendak membuat ๐๐ถ๐ด๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ต: satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia.
Dalam kerangka PL kata ๐ด๐ฌฤ๐ฏ๐ข๐ด mempunyai cerapan dengan Kemah Suci/Kemah Pertemuan. Jadi, Petrus tampaknya hendak memertahankan pengalaman kehadiran ilahi itu dalam suatu ruang sakral, tetapi Allah justru menyela: “Dengarkanlah Dia.” Setelah suara itu: “Yesus tinggal seorang diri.”
Itu jauh lebih tajam daripada sekadar: “Jangan terlalu lama berdoa di gunung.” Pesannya bukan terutama turun gunung untuk mengerjakan tugas horizontal. Pesannya: Jangan menyamakan Yesus dengan Musa dan Elia. Jangan membuat tiga kemah. Dengarkan Yesus. Ini penting sekali.
7️⃣ ๐ง๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐น๐ถ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ฑ๐๐ธ๐๐ถ ๐๐ถ๐บ๐ฏ๐ผ๐น๐ถ๐ธ
Mantofa berkata: “Musa mewakili hukum Taurat, Elia mewakili kuasa nabi, kuasa profesi.” Lalu: “Orang yang berdoa akan di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ sama Tuhan. Dua materi ini semakin kaya dalam dirinya.”
Nah, di sini terjadi pergeseran besar. Musa dan Elia bukan lagi tokoh dalam cerita Lukas yang sedang berbicara dengan Yesus mengenai ๐ฆ๐น๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฏ atau perjalanan-Nya ke Yerusalem atau yang dikenal dengan ๐๐ฐ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ฆ๐บ ๐๐ข๐ณ๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ท๐ฆ. Mereka berubah menjadi alat ilustrasi untuk khotbah tentang kompetensi orang Kristen:
▶️ Musa → firman/hukum,
▶️ Elia → kuasa nabi,
▶️ orang berdoa → memeroleh keduanya.
Padahal teks Injil Lukas justru memberi kita informasi yang sangat spesifik mengenai ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป: “๐๐๐ท๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป-๐ก๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐ด๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ถ-๐ก๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ฌ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฎ๐น๐ฒ๐บ.”
Jadi, kalau kita bertanya “Mengapa Musa dan Elia muncul?”, jawaban yang paling dekat dengan teks ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป “Supaya kita memeroleh dua materi setelah berdoa.”, melainkan: Mereka berbicara mengenai ๐ฆ๐น๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฏ Yesus. Perjalanan itu berpautan langsung dengan Yerusalem, penderitaan, kematian, dan akhirnya kemuliaan.
8️⃣ “๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐ฑ๐ถ-๐๐ง๐๐๐๐๐ฃ๐ ๐ ๐๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐น๐ถ๐ฎ” ๐ท๐๐ด๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ผ๐ธ๐๐ฟ๐ถ๐ป ๐ฑ๐ผ๐ฎ
Mantofa mengatakan: “Yesus... di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ dulu oleh Musa dan Elia.” Lalu ia membuat analogi: “Sebelum saya naik ke sini tadi, saya juga di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ sama SM-nya...” Ini contoh bagaimana ilustrasi ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฏ๐๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ธ๐.
Yang problematis adalah ketika kata “di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ” kemudian menjadi dasar untuk mengatakan: “Orang yang berdoa itu sedang di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ oleh malaikat.” Bahkan itu dinyatakannya eksplisit.
Nah, ini sudah bukan lagi eksegesis Lukas 9. Ini sudah menjadi ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ต.
Padahal teks sedang menyampaikan rencana Allah dalam PL kepada Yesus yang berpautan dengan ๐ฆ๐น๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฏ, perjalanan Yesus menuju Yerusalem yang akan berakhir dengan kematian.
9️⃣ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ณ๐ถ๐ด๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ “๐ถ๐ป๐๐๐ถ๐๐ถ ๐ฟ๐ผ๐ต๐ฎ๐ป๐ถ”: ๐น๐ผ๐ป๐ฐ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ ๐ท๐ฎ๐๐ต ๐ฎ๐บ๐ฎ๐
Sesudah membicarakan Musa dan Elia, Mantofa membawa jemaat kepada pengalaman: mendapat intuisi, tahu seseorang akan menipu, merasakan “ketukan dalam spirit”, menemukan orang yang tepat, memeroleh pengetahuan setelah berdoa.
Namun, kalau pertanyaannya “Apakah Lukas 9:28-36 mengajarkan bahwa orang yang berdoa akan memeroleh intuisi seperti itu?” jelas jawabannya: ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐ธ๐๐๐๐ฎ๐น ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ถ๐๐.
๐ ๐๐ฑ๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐น๐ฎ๐ถ๐ป: ๐ฑ๐ผ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ถ๐ป๐๐๐ฟ๐๐บ๐ฒ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ผ๐น๐ฒ๐ต “๐ถ๐ป๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐ถ๐น๐ฎ๐ต๐ถ”
Doa diperikan oleh Mantofa sebagai: koneksi dengan pihak yang memegang kunci kehidupan,
lalu: masuk ke ๐ฅ๐ช๐ท๐ช๐ฏ๐ฆ ๐ต๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ, lalu: memeroleh pengetahuan setelah berdoa, lalu: di-๐ฃ๐ณ๐ช๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐จ Tuhan/malaikat.
Doa secara perlahan berubah fungsi: berdoa → mendapatkan informasi → mengambil keputusan dengan benar → mengalami kuasa → dipakai Allah.
Padahal kalau kita mengikuti klimaks Lukas: melihat Yesus → mendengar suara Allah → dengarkan Yesus.
Beda banget!
Doa dalam Lukas 9 bukan terutama saluran untuk memeroleh informasi tentang masa depan.
Kisah itu justru menempatkan para murid sebagai orang yang ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ฒ๐๐๐, ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป sebagai orang yang memeroleh pengetahuan khusus supaya mereka dapat mengendalikan hidup dengan lebih baik.
1️⃣1️⃣ “๐๐ผ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ผ๐ฎ” ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ต
Apabila dilihat sebagai nasihat pastoral “Doa mengubah pendoanya” tidak bermasalah. Mantofa memberikan kesaksian bahwa keluarganya melihat perubahan dirinya: dari keras menjadi lebih mudah berbelas kasihan, dan ia memahami bahwa hatinya dimuridkan melalui doa. Itu kesaksian pribadi.
Tapiiii masalah muncul ketika pengalaman tersebut dijadikan makna utama Lukas 9, karena Lukas tidak sedang bertanya “Apa yang terjadi pada orang yang berdoa?” Lukas sedang membawa pembaca kepada pertanyaan: “๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐ถ๐ป๐ถ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป-๐ก๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐ฌ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฎ๐น๐ฒ๐บ?” Jawaban Allah: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!”
1️⃣2️⃣ ๐๐ฟ๐ผ๐ป๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ
Mantofa berkali-kali mengingatkan jemaat agar mendengarkan Tuhan, jangan sekadar memelajari teori Alkitab. Ia bahkan berkata bahwa kalau orang hanya menyelidiki firman tetapi tidak datang kepada Tuhan, ia bisa menjadi seperti Farisi.
Ironisnya ketika Lukas menulis “Dengarkanlah Dia!”, Mantofa tidak membiarkan kalimat itu menjadi pusat tafsir. Mantofa menggunakannya untuk kembali berkata: “Spend time with him.” dan kemudian kembali ke: “efeknya berdoa dan efeknya tidak berdoa.”
Jadi, ada ironi: Khotbah yang berbicara tentang “Dengarkanlah Dia” justru lebih banyak berbicara tentang apa yang terjadi pada kita ketika kita berdoa.
1️⃣3️⃣ ๐ง๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐๐ป๐ด๐ท๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ธ๐ฎ๐ป
Secara pastoral memang doa penting, doa membentuk manusia, orang Kristen tidak boleh hanya memiliki pengetahuan Alkitab, relasi dengan Tuhan pentingm, doa bukan pertunjukan, ibadah bukan show, orang perlu datang kepada Tuhan, bukan sekadar datang untuk mendengar khotbah. Bahkan beberapa pengamatannya mengenai konteks cukup bagus. Mantofa secara eksplisit mengatakan bahwa Lukas 9 harus dibaca sebagai satu kesatuan dan bahwa ayat-ayat mempunyai hubungan dengan cerita sebelum dan sesudahnya.
Masalah yang terjadi pada khotbah Mantofa adalah: pesan pastoral yang baik itu tidak otomatis menjadi makna teks yang sedang dikhotbahkan. ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ ๐น๐ฎ๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐๐ป๐ด๐ท๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ธ๐ฎ๐ป.
1️⃣4️⃣ ๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐๐ฏ๐ท๐ฒ๐ธ ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต?
Dalam teks Lukas 9: ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ adalah ๐๐๐ฏ๐ท๐ฒ๐ธ. Musa dan Elia berbicara tentang ๐ฌ๐ฒ๐๐๐. Kemuliaan muncul pada ๐ฌ๐ฒ๐๐๐. Suara Allah berbicara tentang ๐ฌ๐ฒ๐๐๐. Murid diperintahkan: Dengarkan ๐ฌ๐ฒ๐๐๐.
Dalam pada itu subjek khotbah Mantofa perlahan bergeser: orang Kristen yang berdoa. Yang menjadi pusat perhatian: bagaimana kita berdoa, apakah kita berdoa, apa yang terjadi kalau kita tidak berdoa, apakah kita mendapatkan intuisi, apakah kita siap menerima “perkara Allah”, apakah kita mendapatkan kuasa, apakah kita mendapatkan pengetahuan, apakah kita dipakai Tuhan.
๐๐ฒ๐ธ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ต๐ถ๐น๐ถ๐ฝ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ.
Orang Kristen ๐ค๐ฉ๐ช๐ญ๐ฅ๐ช๐ด๐ฉ dan infantil jumlahnya amat sangat besar dan ini adalah pasar. Di sinilah kecerdasan Mantofa tampak dalam memilih pasar. Dengan orasi motivasional yang piawai lalu dibalut ayat-ayat Alkitab, dagangan Mantofa laris manis ditelan Kristen ๐ค๐ฉ๐ช๐ญ๐ฅ๐ช๐ด๐ฉ tanpa dikunyah.
(25082026)