Selasa, 29 September 2026

๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—š๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿฎ๐Ÿฑ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ

Jangan bertanya kepada saya kapan Yesus lahir. Dalam tulisan di atas sudah sangat jelas bahwa saya menerima 25 Desember sebagai hari raya liturgis. Saya tidak ambil pusing apakah perayaan liturgis itu mengadopsi dari perayaan pagan. Kalau betul mengadopsi, emangnya kenapa? Imanmu terganggu?

Kata kunci ๐—Ÿ๐—œ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—š๐—œ๐—ฆ.

2018 awal, saya diberi kesempatan sama mas Bambang Noorsena (selanjutnya saya sebut mas BN) untuk mengkritisi, tulisannya tentang 25 Desember, tanggal lahir Yesus, kemudian itu diupload di FBG Bengkel Liturgi dan FBG Orthodoks Suryani. Mas BN pernah bersama mengajar di STTBI di Cepogo, Boyolali .... Walaupun hanya sebagai dosen tamu berkala. Pernah hampir menjadi supervisor saya, tetapi tidak dimungkinkan karena S2 dan S3 mas BN itu di bidang hukum bukan Teologia. Tulisan ini saya angkat lagi,  karena akan masuk ke Natal 2026 dan bbrp teman di FBG Bengkel Liturgi memintanya lagi.
PEMAHAMAN 
Bacaan: Lukas 1:26-38

๐Ÿญ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป: ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ท๐˜‚

BN sedang membongkar sebuah kekeliruan populer. Ia mengecam gambaran Natal yang telah dibentuk oleh imajinasi Eropa: salju, pohon Natal dengan kapas sebagai salju, dan gembala yang dibayangkan berada di tengah bentanglahan musim dingin Eropa.

Dalam hal ini kritik BN masuk akal. Betlehem bukan Eropa. Gambaran visual Natal yang kita warisi dari kebudayaan Eropa memang tidak boleh begitu saja diprojeksikan ke Timur Tengah abad kesatu, kata BN. Saya menerima argumen ini.

๐Ÿฎ. ๐™ˆ๐™ž๐™จ๐™๐™ฃ๐™–๐™ ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ

BN kemudian membawa pendengar kepada sejarah gembala, ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ, domba untuk kurban Bait Allah, dan akhirnya kepada kesimpulan yang jauh lebih luas mengenai kemungkinan waktu kelahiran Yesus. Di sinilah saya melihat pola yang berbeda: BN memula dengan kritik yang sah terhadap imajinasi budaya, tetapi kemudian menggunakan rangkaian data sejarah dan rekonstruksi untuk menghasilkan kepastian.

Dengan kata lain persoalannya bukan pada upaya BN mengoreksi gambaran Natal yang “kebarat-baratan”. Persoalannya adalah ketika koreksi terhadap gambaran budaya tersebut kemudian diberi bobot seolah-olah menjadi pembuktian historis. Di sinilah saya melihat apa yang saya sebut sebagai ๐™ฅ๐™จ๐™š๐™ช๐™™๐™ค-๐™๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ค๐™ง๐™ž๐™˜๐™–๐™ก ๐™ง๐™š๐™–๐™จ๐™ค๐™ฃ๐™ž๐™ฃ๐™œ dengan kemasan ilmiah. Bukan lantaran data yang digunakan semuanya keliru. Justru banyak datanya menarik dan layak dipelajari. Persoalannya adalah cara data, rekonstruksi, dan kesimpulan dipertautkan sehingga batas di antara ketiganya menjadi kabur.

Sebagai contoh: BN mengutip ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ 7:4 tentang wilayah dari Yerusalem sampai ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ. Memang teks itu menyebut binatang yang ditemukan di antara Yerusalem dan ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ diperlakukan sebagai hewan kurban: jantan sebagai kurban bakaran dan betina sebagai kurban keselamatan. 

Padahal ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ 7:4 ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: "Ada kelompok gembala khusus di ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ yang menggembalakan domba kurban Bait Allah." Yang dikatakan adalah aturan mengenai ๐—ต๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ป atau ๐—ฏ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด yang ditemukan di wilayah tertentu dan bagaimana status kurbannya diperlakukan.

Secara literal ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ 7:4 mengatakan: “Binatang (๐™—๐™š๐™๐™š๐™ข๐™–๐™, bukan domba) yang ditemukan dari Yerusalem sampai ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ, dan dengan jarak yang sama ke segala arah: yang jantan adalah kurban bakaran; yang betina adalah kurban keselamatan. Rabi Yehuda berkata: yang layak untuk kurban Paska adalah kurban Paska, [jika ditemukan] tiga puluh hari sebelum hari raya.” [Lih. https://www.mishnah.org/learn/shekalim/7/4/  ]

Sangat terang teks di atas tidak memberikan informasi tentang keberadaan kelompok gembala khusus di ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ, tidak mengatakan bahwa mereka menggembalakan domba kurban Bait Allah, dan tidak sedang memberikan catatan historis mengenai pekerjaan para gembala di wilayah tersebut. Teks itu sedang membahas persoalan hukum mengenai binatang yang ditemukan dan asumsi hukum mengenai status kurbannya.

๐Ÿฏ. ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐˜๐—ผ๐—ฑ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฐ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜‚๐˜€

Saya justru tertarik dengan kalimat BN: "sumber 100 tahun kemudian lebih penting daripada sumber 500 tahun kemudian."

Secara intuitif benar bahwa sumber yang lebih dekat dengan suatu peristiwa dpat bernilai keterbuktian lebih besar, tetapi dalam historiografi rumusnya tidak sesederhana itu. Sumber abad ke-2 tidak otomatis lebih dapat dipercaya daripada sumber abad ke-5. Yang harus ditanyakan: siapa petulisnya, kapan ditulis, berdasarkan sumber apa, apakah petulis mempunyai akses kepada tradisi sebelumnya, apa tujuan teks, bagaimana turun-alihnya, apakah teks tersebut sedang membuat aturan normatif atau sedang memberikan laporan historis? Jadi, ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ผ๐˜๐—ผ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ.

Analogi BN: "Kalau kakek Gajah Mada memberi wangsit kepada saya..." juga agak menggelikan sebagai metodologi sejarah. Itu bukan perbandingan yang setara dengan sumber kuno yang dapat dianalisis secara tekstual. Ia sedang membuat ๐˜ง๐˜ข๐˜ญ๐˜ด๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜บ: sumber sejarah yang dapat diverifikasi vs. wangsit.

๐Ÿฐ. ๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ

Menurut saya ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—ฟ๐—ถ๐—ผ๐—ด๐—ฟ๐—ฎ๐—ณ๐—ถ๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ. BN mengatakan: "kitab Injil itu sumber primer karena ditulis oleh murid-muridnya Yesus, mengalami peristiwanya."

Lukas 1:1-4 mengatakan bahwa petulis Injil menerima informasi dari mereka yang sejak semula menjadi saksi mata dan pelayan firman. Artinya, petulis Lukas justru membedakan dirinya dari para saksi mata. Dengan kata lain ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ. Di sini Lukas menafsir informasi yang didapatkannya, lalu membangun kisah teologinya. Jadi, Injil Lukas malah ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐˜ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ก.

Tradisi Gereja kemudian menghubungkan Lukas dengan rekan Paulus, tetapi bahkan tradisi itu tidak membuat Lukas menjadi saksi mata pelayanan Yesus. Kalau BN sedang berkhotbah berdasarkan Lukas 1:26-38, lalu ia menjelaskan teori sumber dengan mengatakan: "Injil adalah sumber primer karena ditulis murid-murid Yesus yang mengalami peristiwa" terlalu simplistik dan secara khusus ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ. Ironis, bukan?

๐Ÿฑ. ๐˜ฟ๐™ž๐™™๐™–๐™จ๐™˜๐™–๐™ก๐™ž๐™– ๐Ÿญ๐Ÿด๐Ÿต ๐—ญ๐—•

[Cat.: Dalam hal sejarah gereja saya mengikuti tradisi pakar-pakar sejarah gereja menggunakan ๐˜ก๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข (ZB) alih-alih ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช (M).]

Ini bagian yang menurut saya paling perlu diberi tanda merah. BN mengatakan ia menemukan Didascalia Apostolorum di Wadi El Natrun, lalu menyatakan: "Didascalia ... ditulis tahun 189 Masehi." Ia kemudian menggunakannya untuk mengatakan bahwa Natal 25 Desember sudah ditetapkan jauh sebelum Aurelius.

Ada masalah kronologis di sini. Didascalia Apostolorum pada umumnya ditempatkan oleh para ahli pada ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ ๐—ธ๐—ฒ-๐Ÿฏ, bukan 189 ZB. Ada perbedaan mengenai tanggal persisnya, tetapi konsensus umumnya sekitar paruh pertama abad ke-3, sementara ada juga penanggalan lebih kemudian. 
Jadi, apabila BN mengatakan: "ditulis tahun 189" itu bukan penanggalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Persoalan kedua adalah bahwa menemukan manuskrip tua tidak sama dengan menemukan teks yang ditulis pada zaman manuskrip itu dibuat. Dalam kritik teks kita harus membedakan tiga hal: ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—ฎ๐˜€๐—น๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐˜€๐˜‚๐—ป, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜. Sebuah manuskrip dapat berasal dari abad tertentu, tetapi teks yang dikandungnya bisa jauh lebih tua. Manuskrip yang kita temukan hanyalah saksi tertulis yang masih bertahan, bukan otomatis tanggal lahir teks tersebut.

BN justru menggunakan narasi penemuan manuskrip sebagai semacam kartu truf: saya menemukan sumber kuno di sebuah biara, maka sumber itu seolah-olah otomatis menjadi bukti yang mengalahkan ensiklopedia Barat. Retorikanya memang kuat, tetapi sejarah tidak bekerja dengan prinsip Timur benar, Barat salah. Yang harus diuji adalah usia sumber, asal-usul teks, turun-alih, konteks, dan isi sumber itu sendiri.

๐Ÿฒ. ๐—•๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ถ๐˜€๐˜‚ ๐˜ฟ๐™ž๐™™๐™–๐™จ๐™˜๐™–๐™ก๐™ž๐™–?

Ada tradisi teks yang memautkan perayaan kelahiran Kristus dengan tanggal tertentu, tetapi masalahnya adalah identifikasi kalendernya.

Dalam tradisi ๐˜š๐˜บ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ค/๐˜‹๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข yang dibicarakan dalam literatur ada pula pembicaraan tentang Epifani pada 6 Januari. Penanggalan dan lapisan redaksional teks tersebut kompleks. Tidak bisa begitu saja: "๐˜‹๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข abad 2 ➡️ Natal 25 Desember ➡️ selesai, terbukti." 

Harus dibuktikan dulu: (1) teks yang mana, (2) bahasa asli yang mana, (3) manuskrip mana, (4) lapisan redaksi mana, (5) istilah kalender mana, (5) bagaimana konversinya ke kalender Julian, dan (6) apakah teks itu benar-benar berbicara tentang ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ถ๐˜€๐˜๐—ผ๐—ฟ๐—ถ๐˜€ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ atau ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€? Itu enam langkah yang dilewati BN dalam hitungan beberapa menit.

๐Ÿณ. ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐™Ž๐™ค๐™ก ๐™„๐™ฃ๐™ซ๐™ž๐™˜๐™ฉ๐™ช๐™จ

BN benar ketika mengatakan bahwa narasi populer: "Natal = ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข " adalah keliru. ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข bukan perayaan 25 Desember; ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข berlangsung 17–23 Desember. Juga benar bahwa keterpautan Natal dengan ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด jauh lebih rumit daripada meme: "Gereja mengambil ulang hari raya dewa matahari."

Namun, BN kemudian mengatakan Aurelius baru menetapkan perayaan matahari sekitar 247 ZB dan tanggalnya bukan 25 Desember, lalu menyimpulkan narasi Natal adalah adopsi ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด "1000% salah". Nah, ini juga berlebihan.

Ada bukti kuat bahwa kultus ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด mendapat status penting sebagai kultus kekaisaran pada masa Aurelian, 274 M, dan 25 Desember kemudian memang tercatat sebagai ๐˜•๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ช dalam ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง 354. 

Yang memang tidak boleh dilakukan adalah menyederhanakannya menjadi: Aurelius menciptakan 25 Desember khusus untuk ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด, lalu gereja mencuri tanggal itu untuk Natal. Hubungan kausal tersebut tidak terbukti secara sederhana. Bahkan penelitian modern menilai hubungan antara kedua perayaan itu masih diperdebatkan. 

Jadi posisi akademis yang lebih sehat: Ada hubungan kronologis dan simbolis yang mungkin, tetapi bukti bahwa Natal sengaja diciptakan sebagai penyulih ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด belum konklusif. Itu jauh lebih kuat daripada mengatakan "1000% salah."

๐Ÿด. ๐—•๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป "๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ป” ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐™ฅ๐™จ๐™š๐™ช๐™™๐™ค-๐™๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ค๐™ง๐™ฎ

Menurut saya BN sebenarnya tidak perlu berjuang sekeras itu. Ia cukup mengatakan: “Kita tidak memiliki bukti bahwa orang Kristen menetapkan 25 Desember hanya karena ingin mengambil alih perayaan pagan.” Itu sudah sah.

Penelitian sejarah modern pun belum memberi kepastian tinggi bahwa: Natal = kristenisasi ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. Akan tetapi bukan berarti 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus.

Apabila dibuat pertanyaan:
♦️Pertanyaan A: Apakah Natal 25 Desember berasal dari perayaan pagan? Tidak dapat dibuktikan secara sederhana.
♦️Pertanyaan B: Apakah Yesus benar-benar lahir 25 Desember? Juga tidak dapat dibuktikan dari bukti yang tersedia.

BN tampaknya ingin memenangi A, lalu menganggap memenangi B juga. Padahal tidak.

๐Ÿต. ๐—ž๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐—ธ๐—ฎ

BN berulang kali menggunakan rumusan: "Anda percaya ensiklopedia orang Barat atau saksi mata Timur Tengah?"

Ini retorika anti-otoritas yang sangat efektif, tetapi bukan argumentasi ilmiah, karena masalah sejarah bukan soal Barat vs Timur, melainkan:
▶️Apa sumbernya? 
▶️Berapa tua? 
▶️Apa teksnya? 
▶️Bagaimana turun-alihnya? 
▶️Apa konteksnya? 
▶️Bagaimana para ahli menilai bukti itu?

Sebuah sumber dari Timur Tengah tidak otomatis lebih benar karena berasal dari Timur Tengah. Sama seperti sumber Barat tidak otomatis keliru karena berasal dari Barat.

Kalau begitu metodologinya berubah dari: ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ญ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ menjadi ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ.

๐Ÿญ๐Ÿฌ. ๐—ง๐—ฒ๐—ธ๐—ป๐—ถ๐—ธ ๐—ฟ๐—ฒ๐˜๐—ผ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—•๐—ก

BN melakukan pola yang sangat khas:
▶️ Langkah 1: Berikan fakta yang benar. Contoh: Betlehem bukan Eropa. Benar.
▶️ Langkah 2: Sajikan angka. Contoh: 15°C, 8°C. Angka membuat pernyataan terdengar ilmiah.
▶️ Langkah 3: Tampilkan istilah teknis. Contoh: ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜š๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ, ๐˜”๐˜ช๐˜จ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ ๐˜Œ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜‹๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ. Pendengar awam langsung memeroleh kesan: "Wah, ini riset."
▶️ Langkah 4: Tetapkan tanggal yang sangat presisi. Contoh: 126 ZB, 189 ZB, 247 ZB, 274 ZB
Presisi kronologis menghasilkan aura kepastian.
▶️ Langkah 5:  Lompat dari data ke kesimpulan.

Presisi data tidak sama dengan kepastian kesimpulan.

๐Ÿญ๐Ÿญ. ๐™‹๐™จ๐™š๐™ช๐™™๐™ค-๐™จ๐™˜๐™ž๐™š๐™ฃ๐™˜๐™š?

Saya sedikit menghaluskan istilahnya. Saya menyebutnya: ๐™ฅ๐™จ๐™š๐™ช๐™™๐™ค-๐™๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ค๐™ง๐™ž๐™˜๐™–๐™ก ๐™ง๐™š๐™–๐™จ๐™ค๐™ฃ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—น๐—บ๐—ถ๐—ฎ๐—ต.

Bukan lantaran semua datanya palsu. ๐—๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ. Sebagian data yang dia pakai benar. Yang bermasalah adalah cara fakta-fakta itu dirangkai. BN sering bergerak dari: kemungkinan ➡️ kementakan ➡️ kepastian, tanpa memberi tahu pendengar bahwa ia sedang melakukan lompatan.

Khotbah BN ini memakai ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ:๐Ÿฎ๐Ÿฒ-๐Ÿฏ๐Ÿด, tetapi hampir seluruh energi intelektualnya justru diarahkan kepada pertanyaan: "Apakah Yesus lahir 25 Desember?" Padahal Lukas 1:26-38 sama sekali tidak memberikan tanggal kelahiran Yesus. Pasal 1 ini juga tidak mengisahkan kelahiran Yesus, tidak bercerita tentang kawanan gembala. Terjadi semacam ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€.

๐—ฆ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ (๐— ๐——๐—ฆ) ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿฎ๐Ÿฑ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ

Saya ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ป๐—ด apabila ternyata 25 Desember memang merupakan hasil adopsi, penafsiran-ulang, atau kristenisasi terhadap suatu hari raya yang sebelumnya memiliki makna pagan ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜๐˜ฏ๐˜ท๐˜ช๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ?

Bagi saya persoalannya justru terletak pada cara kita memahami hari raya liturgi. Hari raya liturgi ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚ ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ: “Pada tanggal inilah peristiwa itu secara historis terjadi.”

Hari raya liturgi adalah ๐—ฑ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ. Gereja melakukan semacam rekayasa (๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ) liturgis untuk memastori dan membina umat agar umat dapat semakin menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. OKI saya tidak perlu memertahankan 25 Desember sebagai tanggal historis kelahiran Yesus agar Natal mempunyai makna.

Tanggal itu adalah bagian dari konstruksi liturgis gereja untuk merayakan kelahiran Kristus. Justru karena hari raya liturgi merupakan konstruksi gereja sejarah pembentukannya tidak perlu disembunyikan. 

๐™Ž๐™ค๐™ก ๐™„๐™ฃ๐™ซ๐™ž๐™˜๐™ฉ๐™ช๐™จ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น

Kalau ternyata Gereja pernah menggunakan simbolisme atau momentum yang sebelumnya mempunyai makna dalam dunia pagan, saya ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€. Justru sejarah tersebut dapat memerkaya penghayatan iman. Bukankah gereja sejak dahulu melakukan proses ๐—ฟ๐—ฒ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น?

Matahari merupakan simbol yang sangat kuat dalam dunia kuno. Gereja tidak harus takut terhadap simbol tersebut. Gereja dapat memberinya makna baru dalam terang Kristus. Ketika umat menyanyikan ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ NKB 72:
๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด, ‘๐˜’๐˜ข๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™Ž๐™ช๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™–๐™๐™ข๐™–๐™ฉ, ‘๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.
๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด’๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜”๐˜ถ!

saya justru dapat menghayatinya dengan lebih kaya ketika mengetahui sejarah simbolisme matahari dalam kebudayaan kuno.

๐™Ž๐™ค๐™ก ๐™„๐™ฃ๐™ซ๐™ž๐™˜๐™ฉ๐™ช๐™จ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€. Yang terjadi justru sebaliknya: Gereja mengakui bahwa simbol yang sebelumnya dipakai untuk berbicara tentang kuasa ilahi dapat dibaca ulang ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€. Yang tadinya ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ kini justru dapat menjadi latar simbolik untuk mengaku: ๐™”๐™š๐™จ๐™ช๐™จ๐™ก๐™–๐™ ๐™Ž๐™ช๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™–๐™๐™ข๐™–๐™ฉ.

Dengan demikian sejarah liturgi tidak perlu dijadikan sesuatu yang harus ditutup-tutupi demi menyelamatkan iman.

๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ฝ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€

Saya kira di sinilah BN dan saya bergerak ke arah yang berbeda. BN tampaknya memerlakukan tanggal 25 Desember sebagai sesuatu yang harus dibela secara historis. Jika tanggal itu merupakan hasil adopsi dari tradisi pagan, maka seolah-olah ada masalah terhadap keaslian Natal. Saya tidak melihatnya demikian.

Ketika Gereja merayakan Natal pada 25 Desember, Gereja tidak sedang mengatakan: “Kami memiliki bukti historis bahwa Yesus lahir tepat pada tanggal ini.” Gereja sedang berkata: “๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€.” Itu adalah ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€ dan ia tidak kehilangan maknanya hanya karena tanggalnya bukan tanggal historis.

Perbedaan penghampiran (๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ค๐˜ฉ) antara BN dan saya terlihat jelas ketika saya membaca Lukas 1:26-38. Saya tidak memula perikop itu dengan pertanyaan: “Bulan apa Yesus lahir?” Saya bertanya:
“๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ถ ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต ๐—ถ๐—ป๐—ถ?”

Lukas menyusun kisah pemberitahuan kelahiran Yohanes dan Yesus secara paralel. Dari sana ia membangun perbedaan dan keunggulan Yesus.
♦️Yohanes akan menjadi besar di hadapan Tuhan.
♦️Yesus akan disebut ๐—”๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ ๐—ง๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ. Yesus akan menerima takhta Daud dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Pertanyaan utama Lukas bukan tanggal kelahiran. Pertanyaan utamanya adalah: ๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—”๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚? ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ผ๐—ฝ.

Saya membagi perikop ini ke dalam empat gerakan:
▶️Malaikat menjumpai Maria.
▶️Maria terkejut.
▶️Maria bingung.
▶️Maria hamba Tuhan.

Perjalanan itu membawa pembaca menuju ayat 38: “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” Di sinilah saya menemukan pusat perikop.

Maria tidak mengetahui seluruh konsekuensi dari apa yang akan terjadi. Ia tidak meminta Gabriel memberikan kronologi historis kelahiran Yesus. Ia tidak meminta kepastian tentang tanggal. Maria menerima panggilan Allah dengan segala risikonya. Lukas hendak menjadikan Maria ๐—บ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ๐—น ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป. [๐˜“๐˜ช๐˜ฉ. ๐™„๐™– ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™™๐™–๐™๐™ช๐™ก๐™ช๐™ž ๐™†๐™–๐™ข๐™ช ๐™ ๐™š ๐™‚๐™–๐™ก๐™ž๐™š๐™–, hlm. 17. Dapatkan bukunya di sini https://www.tokopedia.com/buku-apik-991 ]

๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—ฑ๐—ฒ๐—บ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐˜ ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต

Saya justru khawatir terhadap khotbah yang menghabiskan bagian terbesar energi untuk membuktikan bahwa 25 Desember bukan hasil pengaruh pagan. Setelah semuanya selesai, saya ingin bertanya: Lalu apa yang terjadi terhadap Lukas 1:26-38?

Gereja tidak berkumpul pada Natal untuk mengagumi kecanggihan rekonstruksi sejarah. Gereja berkumpul untuk merayakan Kristus. Lukas membawa kita bukan kepada kalender, melainkan kepada Kristus. Juga bukan kepada perdebatan apakah 25 Desember merupakan tanggal historis, tetapi kepada Maria yang berkata: “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.”

Saya bahkan tidak perlu membuktikan bahwa 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus. Saya ๐—ฐ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ฟ: saya tidak mengetahui tanggal historis kelahiran Yesus. Namun, saya tahu apa yang hendak dirayakan Gereja. Saya tahu bagaimana Lukas hendak membawa kita menghayatinya.

Kalau sejarah menunjukkan adanya proses adopsi atau reinterpretasi simbol dan tanggal, saya tidak perlu panik. Saya justru ingin memahami proses itu, karena dengan memahami sejarah hari raya liturgi, umat dapat semakin sadar bahwa Gereja tidak sekadar mewarisi kalender, tetapi ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น, ๐˜„๐—ฎ๐—ธ๐˜๐˜‚, ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜.

Ketika saya menyanyikan:
๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด, ‘๐˜’๐˜ข๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต,
‘๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.

saya tidak sedang terganggu oleh kemungkinan sejarah di balik simbol matahari. Saya justru semakin memahami bagaimana Gereja mengambil bahasa budaya manusia dan mengarahkannya kepada ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€. ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต. ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป.

Pada akhirnya Natal bukan membutuhkan pembuktian bahwa 25 Desember adalah tanggal kelahiran Yesus. Untuk menyiapkan diri menyambut Natal umat bersedia mengatakan bersama Maria: “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.”

Sebagai penutup dapat saya katakan bahwa saya pernah menjadi murid Bambang Noorsena. Dalam perjalanan berteologi saya kemudian memilih penghampiran (๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ค๐˜ฉ) yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan sejarah terutama sebagai perangkat untuk membela iman atau membuktikan kebenaran suatu keyakinan. Saya lebih memilih membaca teks apa adanya, memerhatikan bagaimana petulis membangun narasinya, apa yang hendak disampaikannya kepada pembaca, dan bagaimana teks itu kemudian membentuk iman umat.

Bedah khotbah BN ini hendaklah tidak dipahami sebagai upaya saya melawan guru saya. Justru sebaliknya BN telah menjadi bagian dari perjalanan saya dalam berteologi. Apa yang pernah saya pelajari dari BN turut membentuk cara saya melihat Alkitab dan sejarah. Dalam perjalanan itu saya kemudian menemukan penghampiran yang berbeda dan memilih untuk berjalan di jalur tersebut.

Bagi saya berbeda penghampiran tidak harus berarti kehilangan rasa hormat kepada orang yang pernah mengajar saya. Justru karena pernah belajar darinya saya dapat melanjutkan perjalanan itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekarang saya ajukan sendiri.

(29092026)

Senin, 28 September 2026

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A 

PENGANTAR 
Minggu 04 Oktober 2026. Ketiga bacaan ini membentuk satu rangkaian teologis yang kuat: Allah adalah pemilik kebun anggur; umat-Nya menerima tanggung jawab untuk mengelolanya; dan ukuran kesetiaan ialah buah keadilan, kebenaran, serta iman kepada Kristus.  Yesaya 5:1–7 menghadirkan nyanyian kasih yang berubah menjadi gugatan; Filipi 3:4b–14 menunjukkan pertobatan eksistensial Paulus dari rasa aman religius menuju pengenalan akan Kristus; sedangkan Matius 21:33–46 membawa seluruh tema itu pada puncaknya dalam penolakan terhadap Anak yang diutus dan pengangkatan-Nya sebagai “batu penjuru”. Dalam kerangka Minggu Perjamuan Kudus Sedunia, bacaan-bacaan ini mengoreksi kecenderungan gereja untuk menganggap kebun anggur, meja perjamuan, jabatan, tradisi, dan keselamatan sebagai milik eksklusif. Semua itu adalah anugerah Allah yang harus menghasilkan buah bagi kehidupan bersama. 
PEMAHAMAN 
Yesaya 5:1–7: Kebun anggur yang gagal berbuah

Yesaya 5:1–7 berbentuk nyanyian tentang kebun anggur atau canto della vigna. Dalam tradisi Israel, gambaran kebun anggur lazim dipakai untuk menunjuk kepada umat Allah. Mazmur 80, misalnya, menggambarkan Israel sebagai pohon anggur yang dibawa keluar dari Mesir dan ditanam oleh Allah. Dengan demikian, kebun anggur bukan sekadar ilustrasi agraris, melainkan simbol relasi perjanjian. Secara sastra, teks ini memiliki gerak dramatik. Pada awalnya pembaca diajak mengagumi kerja pemilik kebun: ia memilih lereng yang subur, mencangkul, membersihkan batu, menanam pokok anggur pilihan, mendirikan menara penjagaan, dan menggali tempat pemerasan anggur. Bahasa Ibrani yang dipakai menekankan kesungguhan dan kecermatan pemilik kebun. Tidak ada alasan untuk kegagalan panen dari pihak pemilik. Namun, hasil yang muncul adalah ื‘ְּืֻืฉִׁื™ื (be’ushim), yakni buah-buah busuk atau anggur liar. Kontrasnya sangat tajam: pemilik mengharapkan ืžִืฉְׁืคָּื˜ (mishpat, keadilan), tetapi yang muncul ืžִืฉְׂืคָּื— (mispach, penumpahan darah atau kekerasan); ia mengharapkan ืฆְื“ָืงָื” (tsedaqah, kebenaran), tetapi yang terdengar adalah ืฆְืขָืงָื” (tse‘aqah, jeritan korban). Permainan bunyi ini menjadi klimaks profetis. Kegagalan kebun anggur bukan kegagalan ritual, melainkan kegagalan sosial dan etis. Pada ayat terakhir, identitas kebun itu dibuka: “kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanaman kegemaran-Nya.” Jadi, umat pilihan tidak diukur terutama dari klaim status, melainkan dari buah keadilan yang dihasilkan. Yesaya mengkritik agama yang menerima pemeliharaan Allah, tetapi menolak tuntutan perjanjian. Allah telah memberikan tanah, perlindungan, hukum, ibadah, dan identitas; umat kemudian mengubah semua pemberian itu menjadi hak istimewa tanpa tanggung jawab. Karena itu, teks ini tidak boleh dipakai untuk menyimpulkan bahwa Allah berubah dari kasih menjadi kejam. Penghakiman justru lahir dari kasih perjanjian yang dikhianati. Penghancuran pagar dan pembiaran kebun menjadi semak belukar melukiskan penarikan perlindungan Allah akibat ketidakadilan yang terus dipelihara. Dalam konteks kini, pertanyaan profetisnya ialah: buah macam apa yang dihasilkan gereja? Gereja dapat tampak subur dalam kegiatan, gedung, program kerja, dan liturgi, tetapi tetap menghasilkan “buah liar” apabila ada diskriminasi, tebang pilih, penyalahgunaan kuasa, eksploitasi lingkungan, korupsi, kekerasan domestik, atau sikap tidak peduli serta penyingkiran kepada kelompok rentan, membuat kesenjangan antar umat dg membentuk komunitas, circle, club', gang, dlsb di dalam gereja.

Filipi 3:4b–14: Dari kebanggaan religius menuju pengenalan akan Kristus

Filipi 3:4b–14 merupakan kesaksian autobiografis Paulus. Ia menyebut berbagai dasar kepercayaan dirinya: keturunan Israel, suku Benyamin, orang Ibrani asli, Farisi, dan seorang yang sangat giat dalam menjalankan hukum. Secara sosial-religius, semua itu adalah modal identitas yang kuat. Akan tetapi, Paulus menggunakan istilah ฮถฮทฮผฮฏฮฑ (zฤ“mia), “kerugian”, dan ฯƒฮบฯฮฒฮฑฮปฮฑ (skybala), istilah keras yang dapat berarti sampah, kotoran, atau sesuatu yang dibuang. Paulus tidak sedang mengatakan bahwa Taurat atau warisan Yahudi pada dirinya jahat. Ia sedang menolak menjadikan keistimewaan religius sebagai dasar pembenaran dan kebanggaan di hadapan Allah. Pusat pengalaman Paulus adalah “mengenal Kristus”. Kata ฮณฮนฮฝฯŽฯƒฮบฯ‰ (ginลskล) bukan hanya mengetahui secara intelektual, melainkan mengenal melalui relasi dan pengalaman. Pengenalan itu mencakup kuasa kebangkitan Kristus sekaligus persekutuan dalam penderitaan-Nya. Dengan demikian, iman kepada Kristus bukan sekadar perpindahan identitas agama, melainkan transformasi seluruh orientasi hidup.Paulus juga berkata bahwa ia belum menganggap dirinya telah memperoleh kesempurnaan. Kata ฮดฮนฯŽฮบฯ‰ (diลkล), “mengejar” atau “berlari mengejar”, mengandung dinamika eskatologis. Paulus telah “ditangkap” oleh Kristus, tetapi ia masih terus mengejar tujuan itu. Iman kristiani adalah hidup yang terus bergerak menuju keserupaan dengan Kristus, bukan rasa puas karena status rohani. Jika Yesaya mengkritik kebun yang tidak menghasilkan buah, Filipi memperlihatkan bentuk lain dari kegagalan religius : kebanggaan atas identitas keagamaan. Seseorang dapat memiliki silsilah, jabatan, pengetahuan, dan disiplin religius, tetapi tetap tidak menghasilkan buah jika semua itu dipakai untuk membenarkan diri dan merendahkan orang lain. Paulus tidak kehilangan identitasnya, tetapi menempatkan identitas itu di bawah Kristus. Ia tidak lagi menjadikan “keuntungan” religius sebagai pusat keselamatan. Di sinilah bacaan Filipi memperdalam Yesaya: persoalan umat bukan hanya tindakan lahiriah, tetapi sumber orientasi batinnya. Bagi gereja masa kini, pertobatan Paulus menantang segala bentuk “modal rohani”: lamanya menjadi anggota gereja, gelar teologi, kedudukan pelayanan, kesalehan liturgis, afiliasi denominasi, bahkan keberhasilan institusional, serta kekayaan. Semua itu bernilai hanya apabila mengantar pada kerendahan hati, solidaritas, dan buah kasih tanpa kesenjangan.

Matius 21:33–46: Anak, kebun anggur, dan batu penjuru

Perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur berada dalam rangkaian konflik Yesus dengan para imam kepala dan tua-tua bangsa di Bait Allah. Sebelumnya mereka mempertanyakan otoritas Yesus; sesudahnya muncul perumpamaan tentang perjamuan kawin. Karena itu, perumpamaan ini bukan cerita moral umum, melainkan kritik profetis terhadap kepemimpinan religius yang menolak otoritas Allah. Dalam struktur Injil Matius, pengajaran ini bergerak menuju sengsara dan kematian Yesus. Latar belakang utama perumpamaan ini adalah Yesaya 5. Namun, Matius mengembangkan gambaran itu. Dalam Yesaya, kebun anggur adalah Israel secara keseluruhan; dalam Matius, fokus bergeser kepada penggarap-penggarap. Masalahnya bukan pemilik kebun, bukan pula kualitas kebun, melainkan para pengelola yang menganggap kebun sebagai milik pribadi. Istilah Yunani ฮณฮตฯ‰ฯฮณฮฟฮฏ (geลrgoi) menunjuk kepada para penggarap atau penyewa kebun. Mereka bukan pemilik, tetapi bertindak seolah-olah memiliki kuasa mutlak. Ketika hamba-hamba datang mengambil bagian hasil bagi pemilik, mereka dipukul, dibunuh, dan dilempari batu. Pengiriman para hamba mengingatkan pada tradisi para nabi yang berulang kali ditolak oleh Israel. Puncak perumpamaan terdapat pada pengutusan anak: แฝ ฯ…แผฑฯŒฯ‚ ฮผฮฟฯ… (ho huios mou), “anakku”. Dalam konteks naratif Matius, anak itu menunjuk kepada Yesus. Ia bukan sekadar nabi terakhir, melainkan Anak yang memiliki hubungan unik dengan pemilik kebun. Para penggarap membunuhnya di luar kebun, suatu detail yang menggemakan kematian Yesus di luar Yerusalem. Pertanyaan Yesus memaksa pendengar mengucapkan sendiri hukuman atas para penggarap. Setelah itu Yesus mengutip Mazmur 118:22–23: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Batu yang ditolak justru dipilih Allah sebagai dasar bangunan baru. Secara teologis, salib bukan kekalahan terakhir, melainkan tindakan Allah yang membalikkan penolakan manusia. Ayat 43 berbicara tentang Kerajaan Allah yang diambil dan diberikan kepada bangsa yang menghasilkan buahnya. Kata แผ”ฮธฮฝฮฟฯ‚ (ethnos) dapat menunjuk kepada bangsa atau umat. Maksudnya bukan penggantian etnis secara otomatis, seolah-olah Israel secara keseluruhan dibuang dan gereja secara otomatis benar. Tekanan utama terletak pada “bangsa yang menghasilkan buah”. Keanggotaan dalam umat Allah dibuktikan oleh ketaatan yang menghasilkan buah, bukan oleh klaim identitas.

Matius menyatukan tiga tema besar:

Pertama, Allah adalah pemilik kebun. Gereja, pelayanan, jabatan, tanah, sumber daya, dan umat bukan milik para pemimpin. Semuanya dipercayakan untuk dikelola.

Kedua, Allah mencari buah. Buah itu bukan semata-mata pertumbuhan jumlah atau keberhasilan organisasi, tetapi keadilan, kebenaran, belas kasih, kesetiaan, dan keberpihakan kepada kehidupan dan yg tersingkirkan.

Ketiga, Kristus adalah batu penjuru. Ia menjadi ukuran bagi seluruh bangunan umat Allah. Setiap struktur gerejawi yang tidak berpusat pada Kristus dan tidak menghasilkan kehidupan pada akhirnya akan mengalami penghakiman.

Perumpamaan ini juga memiliki sisi berbahaya jika dibaca secara anti-Yahudi. Matius tidak memberi dasar untuk kebencian terhadap orang Yahudi. Sasaran kritiknya ialah para pemimpin yang menyalahgunakan kepercayaan Allah dan menolak utusan-Nya. Prinsip penghakiman itu berlaku pula bagi gereja. Gereja tidak menggantikan Israel sebagai pemilik baru yang kebal dari kritik; gereja menjadi umat Allah hanya sejauh ia menghasilkan buah Kerajaan Sorga.

Ketiga bacaan bergerak dari anugerah menuju tanggung jawab, dari tanggung jawab menuju penghakiman, dan dari penghakiman menuju pembaruan dalam Kristus.

Yesaya menekankan bahwa Allah telah menanam dan memelihara kebun dengan penuh kasih, tetapi umat menghasilkan ketidakadilan. Filipi menunjukkan bahwa pertobatan berarti meninggalkan kebanggaan atas prestasi religius dan mengejar pengenalan akan Kristus. Matius kemudian memperlihatkan bahwa penolakan terhadap utusan Allah mencapai puncaknya dalam penolakan terhadap Anak, tetapi Allah membangkitkan Anak itu sebagai batu penjuru.

Dengan demikian, arah pewartaan bukan sekadar: “Jadilah orang baik dan hasilkan buah.” Pewartaan harus lebih dalam:

- Kita hidup dari kasih karunia Pemilik kebun.
- Kita bukan pemilik mutlak, melainkan pengelola.
- Identitas keagamaan tidak menyelamatkan apabila tidak menghasilkan keadilan.
- Pertobatan berarti melepaskan klaim atas keunggulan diri dan memperoleh Kristus sebagai pusat hidup.
- Kristus yang ditolak menjadi dasar komunitas baru yang menghasilkan buah Kerajaan.

Dalam terang Perjamuan Kudus, kebun anggur dan meja Ekaristi bertemu dalam simbol anggur. Anggur adalah hasil kebun yang dipersembahkan, tetapi dalam Ekaristi ia menjadi tanda perjanjian baru dalam darah Kristus. Karena itu, menerima cawan berarti menerima kehidupan Kristus sekaligus bersedia mengambil bagian dalam pola hidup-Nya: memberi diri, mengampuni, melayani, dan memperjuangkan kehidupan. Perjamuan Kudus Sedunia menegaskan bahwa meja Kristus tidak boleh dipersempit menjadi milik satu gereja, bangsa, kelas sosial, atau tradisi. Meja itu mengingatkan bahwa seluruh umat percaya menerima makanan dari satu Tuhan dan dipanggil menjadi satu tubuh. Tema World Communion Sunday 2026 juga menafsirkan perumpamaan kebun anggur sebagai panggilan untuk melepaskan sikap memiliki secara eksklusif dan melihat berkat Allah sebagai pemberian yang harus dibagikan. Namun, perjamuan tidak boleh menjadi simbol persatuan yang terlepas dari keadilan. Paulus menolak kebanggaan religius; Yesaya menuntut keadilan; Matius memperingatkan para pengelola yang merampas kebun. Maka, meja Ekaristi bertanya kepada gereja: apakah persekutuan yang dirayakan di altar juga tampak dalam cara gereja memperlakukan orang miskin, perempuan, anak-anak, kelompok minoritas, para korban kekerasan, pekerja, dan ciptaan? Perjamuan Kudus bukan hadiah bagi gereja yang merasa sudah benar. Ia adalah anugerah yang menghakimi sekaligus menyembuhkan: menghakimi setiap bentuk kepemilikan dan dominasi, tetapi menyembuhkan umat dengan menjadikan Kristus sebagai satu-satunya dasar. Dari meja itu, gereja diutus kembali ke dunia sebagai kebun yang menghasilkan buah—bukan buah kesombongan religius, melainkan keadilan (mishpat), kebenaran (tsedaqah), kasih, dan kehidupan bersama. Pewartaan dapat diarahkan pada t“Diberi kepercayaan untuk menghasilkan buah bagi kehidupan.” Hendaknya tidak berhenti pada kecaman terhadap “penggarap-penggarap” dalam teks, seolah-olah mereka selalu menunjuk kepada orang lain. Gereja perlu mendengar bahwa ia sendiri adalah kebun yang dipelihara Allah dan sekaligus penggarap yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pertanyaan utamanya bukan “Siapa yang salah?” melainkan “Buah apa yang sedang dihasilkan oleh hidup, keluarga, gereja, dan masyarakat kita?” Puncaknya adalah Kristus: Anak yang ditolak, mati, dan dijadikan batu penjuru. Dalam Dia, gereja menerima identitas baru bukan untuk menguasai kebun, melainkan untuk merawatnya, mengelola nya. Dengan demikian, Ekaristi menjadi tindakan pengakuan bahwa semua berasal dari Allah, semua diterima sebagai anugerah, dan semua harus dibagikan demi kehidupan dunia.
(28092026)(TUS)



Sudut Pandang Yesaya 5:1–7, Matius 21:33–46, dan Filipi 3:4b–14

Sudut Pandang Yesaya 5:1–7, Matius 21:33–46, dan Filipi 3:4b–14

PENGANTAR
Yesaya 5:1–7, Matius 21:33–46, dan Filipi 3:4b–14 memperlihatkan suatu alur kesaksian iman yang bergerak dari panggilan Allah, kegagalan manusia, penghakiman, hingga pembaruan hidup dalam Kristus. Ketiga bacaan tersebut menggunakan gambaran dan bahasa yang berbeda, tetapi memiliki perhatian teologis yang saling berkaitan: umat Allah dipanggil untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak-Nya. Yesaya 5:1–7 menghadirkan gambaran Israel sebagai kebun anggur yang telah dirawat dengan penuh perhatian, tetapi tidak menghasilkan buah yang diharapkan. Puncak kritik profetis tampak pada tuntutan Allah terhadap keadilan dan kebenaran. Matius 21:33–46 mengembangkan gambaran kebun anggur itu dalam bentuk perumpamaan tentang para penggarap yang menolak para utusan dan akhirnya membunuh anak pemilik kebun. Dalam konteks Injil, perumpamaan ini menyoroti penolakan terhadap Yesus serta panggilan bagi umat Allah untuk menghasilkan buah Kerajaan. Sementara itu, Filipi 3:4b–14, menempatkan kehidupan beriman dalam relasi dengan Kristus: identitas dan prestasi keagamaan tidak menjadi dasar utama kebanggaan, melainkan pengenalan akan Kristus dan kesediaan untuk mengikuti-Nya. Secara teologis, ketiga teks ini tidak hanya berbicara tentang kegagalan masa lalu, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis bagi kehidupan umat beriman masa kini: apakah komunitas iman sungguh menghasilkan keadilan, kasih, kesetiaan, dan pertobatan? Dalam terang Ekaristi atau Perjamuan Kudus, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting. Perjamuan Kudus bukan sekadar tindakan ritual, melainkan perayaan atas pemberian diri Kristus yang membentuk umat menjadi satu tubuh dan mengutusnya untuk menghadirkan buah Kerajaan Allah dalam kehidupan bersama. Karena itu, membaca ketiga bacaan secara berurutan dengan memperhatikan konteks sastra, sejarah, budaya, dan teologisnya. Pembahasan tersebut kemudian diarahkan pada benang merah pewartaan yang berpuncak pada Matius 21:33–46, serta pada pemahaman bahwa Perjamuan Kudus memanggil umat untuk menerima kasih Kristus dan mewujudkannya melalui kehidupan yang menghasilkan keadilan, kesetiaan, dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Yesaya 5:1–7 — Nyanyian tentang Kebun Anggur

Highlight: Yesaya 5:1–2, 5–7.

Teks ini memakai bentuk nyanyian kasih tentang kebun anggur. Dalam bahasa Ibrani, kebun anggur melambangkan umat yang dipelihara Allah. Pemilik kebun telah memilih lokasi terbaik, mencangkul, menyingkirkan batu, dan menanam pokok anggur pilihan. Namun hasilnya adalah “anggur liar” (be’ushim), gambaran tentang ketidakadilan dan ketidaksetiaan.

Akhir teks memperjelas maknanya: kebun anggur ialah Israel, dan yang dicari Allah adalah keadilan (mishpat) serta kebenaran (tsedaqah), tetapi yang muncul ialah penindasan dan jeritan penderitaan. Kritik profetisnya bukan sekadar moral pribadi, melainkan kegagalan umat mewujudkan panggilan perjanjian dalam kehidupan bersama.

Filipi 3:4b–14  Kebenaran karena Kristus

Highlight: Filipi 3:7–8, 10–14.

Paulus menyebut identitas, latar keagamaan, dan prestasinya sebagai sesuatu yang dahulu dianggap keuntungan. Namun dalam terang Kristus, semuanya menjadi “kerugian”. Istilah Yunani dikaiosynฤ“ menunjuk pada kebenaran yang tidak diperoleh melalui prestasi keagamaan, melainkan melalui iman kepada Kristus.

Paulus tidak menggambarkan iman sebagai pencapaian yang sudah selesai. Ia “mengejar” panggilan Allah, mengenal Kristus, mengalami kuasa kebangkitan, dan turut mengambil bagian dalam penderitaan-Nya. Bahasa “melupakan apa yang telah di belakang” menunjukkan orientasi eskatologis: hidup diarahkan kepada tujuan akhir dalam Kristus.

Matius 21:33–46  Perumpamaan Penggarap Kebun Anggur

Highlight: Matius 21:37–39, 42–43.

Matius memakai kembali gambaran Yesaya, tetapi mengembangkannya menjadi kisah tentang para penggarap yang menolak dan membunuh utusan pemilik kebun. Secara historis-sosial, pengelolaan kebun anggur oleh penyewa berkaitan dengan hubungan pemilik tanah, penggarap, utang, dan konflik kepemilikan pada zaman itu.

Dalam konteks Injil Matius, para hamba terutama menggambarkan para nabi, sedangkan “anak” menunjuk pada Yesus. Puncak konflik tampak dalam pembunuhan anak di luar kebun, yang mengantisipasi penderitaan dan kematian Yesus. Kutipan Mazmur 118:22–23 pada ayat 42 mengubah penolakan menjadi pengangkatan “batu penjuru”. Ayat 43 menegaskan perpindahan tanggung jawab Kerajaan Allah kepada umat yang menghasilkan buahnya.

Perumpamaan ini bukan dasar untuk menolak suatu bangsa secara etnis, melainkan kritik terhadap kepemimpinan religius yang tidak menghasilkan keadilan, kesetiaan, dan buah Kerajaan Allah.

Ketiga bacaan bergerak dari anugerah Allah, kegagalan manusia, penghakiman, dan panggilan untuk menghasilkan buah. Yesaya menegaskan bahwa umat Allah harus menghasilkan keadilan, buah.  Filipi menunjukkan bahwa buah tersebut bukan kebanggaan identitas religius, melainkan kehidupan yang berpusat pada Kristus. Matius memusatkan tema itu pada penolakan terhadap Anak dan pembentukan umat yang menghasilkan buah, Kerajaan Sorga.

Dalam terang Ekaristi atau Perjamuan Kudus, roti dan anggur menyatakan pemberian diri Kristus serta persekutuan umat dalam tubuh-Nya. Perjamuan Kudus tidak boleh dipisahkan dari pertobatan dan kehidupan yang menghasilkan keadilan. Perjamuan Kudus menjadi tanda bahwa umat menerima Kristus sekaligus dipanggil untuk menjadi komunitas yang menghasilkan buah kasih, kebenaran, dan pelayanan.
(28092026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 21:33-46 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ง๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ป๐—ด

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 21:33-46  [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ซ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ง๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ป๐—ด

PENGANTAR 
Di dalam kitab-kitab Injil didapati perumpamaan-perumpamaan yang sejajar. Meskipun tampak mirip, perumpamaan-perumpamaan tersebut berbeda penekanannya, karena memang setiap pengarang Injil mengusung teologi yang berbeda. Kita pun diberi banyak perspektif.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesembilan belas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 21:33-46 yang didahului dengan Yesaya 5:1-7, Mazmur 80:7-15, dan Filipi 3:4b-14.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ. Perumpamaan ini sejajar dengan perumpamaan di Injil Markus 12:12 dan di Injil Lukas 20:9-19. 

Konteks bacaan adalah Yesus sudah memasuki Kota Yerusalem. Dalam Minggu Palem yang lalu kita sudah membaca bahwa kota gempar atas kehadiran Yesus. Ternyata kedatangan Yesus di Yerusalem langsung menimbulkan masalah. Ia langsung mengusir para pedagang di Bait Allah. Yesus tidak mau rumah doa dijadikan sarang penyamun (Mat. 21:12-13). Bisnis penguasa Bait Allah diusik oleh Yesus.

Ketika Yesus mengajar di dalam Bait Allah, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mendatangi-Nya. Mereka menggugat otoritas Yesus. Untuk menjawab mereka di sini Yesus menyampaikan tiga perumpamaan:
▶️ Matius 21:28-32: Perumpamaan tentang dua orang anak (Bacaan Minggu lalu)
▶️ Matius 21:33-43: Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Bacaan Minggu ini)
▶️ Matius 22:1-14: Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Bacaan Minggu depan)

Untuk pengulasan bacaan Minggu ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 21:33-36 Pengutusan hamba-hamba
▶️ Matius 21:37-39 Pengutusan ahli waris
▶️ Matius 21:40-43 Penutup

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐˜๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ-๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ (Mat. 21:33-36)

“๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. (ay. 33) ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 34) ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ. (ay. 35) ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. (ay. 36)” (TB II 2023)

Di Injil Matius kebun anggur kerap dijadikan bahasa kiasan untuk umat Allah (bdk. Yes. 5:1-7; Yer. 12:10). Perumpamaan ini ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

Dalam bagian pertama ini mari kita lihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus.

▶️ Di Injil Markus pemilik kebun mengutus ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข dan sesudahnya mengirim ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. Di Injil Matius tidak menyebut jumlah tertentu, melainkan ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ dan ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข.
▶️ Di Injil Markus kekejaman penggarap-penggarap kebun anggur meningkat. Di Injil Matius sikap para penggarap konsisten, yaitu kejam. Penulis Matius tampaknya memerikan begitulah sikap bangsa Israel yang selalu kejam terhadap utusan Allah: menindas, menyiksa, dan bahkan membunuh.

Persamaannya adalah pengutusan hamba-hamba sebanyak dua kali. Tampaknya pengutusan pertama untuk menggambarkan sikap bangsa Israel terhadap nabi-nabi sebelum masa pembuangan ke Babel. Pengutusan kedua sesudah masa pembuangan ke Babel, yang agama (dhi. Yudaisme) sudah berpusat pada imam-imam, bukan lagi pada raja.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐˜๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ต๐—น๐—ถ ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜€ (Mat. 21:37-39)

“๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข: ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช. (ay. 37) ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ: ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 38) ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. (ay. 39)” (TB II 2023)

Dalam bagian kedua ini kita lihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus.

▶️ Di Injil Markus pengutusan anak pemilik kebun tampaknya akibat eskalasi kekejaman para petani penyewa. Di Injil Matius pengutusan anak, si ahli waris, tampaknya hendak mengontraskan dengan pengutusan dua kelompok hamba.
▶️ Di Injil Markus si ahli waris dibunuh terlebih dahulu, kemudian dibuang ke luar kebun. Di Injil Matius urutannya menyesuaikan kejadian penyaliban Yesus, dibawa ke luar Yerusalem, lalu dibunuh. Si ahli waris dibawa terlebih dahulu ke luar kebun, kemudian dibunuh.

Persamaan perumpamaan itu adalah si ahli waris dibunuh.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ (Mat. 21:40-43)

“๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?” (ay. 40) Kata mereka kepada-Nya, “๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (ay. 41) Kata Yesus kepada mereka, “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜š๐˜ถ๐˜ค๐˜ช: ๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ; ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข? (ay. 42) ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.” (ay. 43) (TB II 2023)

Pertanyaan Yesus di ayat 40 diajukan kepada pendengar, yaitu imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Padahal petani-petani penyewa dalam perumpamaan itu mengiaskan mereka. Di sini mereka justru menyebut diri sebagai orang-orang jahat yang pantas dibinasakan oleh tuan kebun anggur.

Dalam bagian ketiga ini kita melihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus dan Lukas.

▶️ Pertanyaan Yesus di Injil Markus “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ?” tidak ditujukan kepada pendengar. Demikian juga pertanyaan Yesus di Injil Lukas “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข?” juga tidak ditujukan kepada pendengar. Keduanya karena Yesus langsung menjawab pertanyaan-Nya sendiri.
▶️ Perbedaan terbesar perumpamaan itu di ketiga Injil adalah hanya di Injil Matius Yesus mengatakan ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ bahwa Kerajaan Allah diambil dari imam-imam kepala dan tua-tua dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buah Kerajaan itu. Teks ini menguatkan teologi Injil Matius bahwa pada mulanya Injil diberitakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi mereka menolak, dan akhirnya dialihkan kepada bangsa lain.

Ada istilah menarik dalam bagian ketiga ini, yaitu ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ (ay. 42), yang mengutip Mazmur 118:22-23 versi Septuaginta. Batu penjuru diterjemahkan dari ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ̄๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ฐ̄๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ด, yang berarti literal kepala penjuru. Fungsi batu penjuru pada zaman itu adalah penopang utama kolom bangunan besar. Tanpa batu penjuru bangunan rentan roboh. Pada zaman modern batu penjuru adalah ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ (kepala tiang pancang). ๐˜—๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ merupakan rancangan beton untuk mengikat fondasi tiang pancang sebelum didirikan kolom atau pilar di atasnya. ๐˜—๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ini bertujuan agar lokasi kolom benar-benar berada di titik pusat fondasi sehingga tidak menyebabkan eksentrisitas yang dapat menyebabkan beban tambahan pada fondasi.

Dalam ayat itu dikatakan bahwa tukang-tukang membuang bahan terpenting dalam pembangunan Bait Suci. Hal yang sama terjadi pada Yesus. Ia dibuang oleh bangsa sendiri. Padahal Yesus bagian terpenting sebagai ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜›๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ yang menahan seluruh bangunan jemaat agar tidak roboh.

 (08102023)(TUS)

Jumat, 25 September 2026

Sudut Pandang Matius 21 : 28-32

Sudut Pandang Matius 21 : 28-32

PENGANTAR
Pernah nggak sih kamu janji mau mulai olahraga, udah beli sepatu lari mahal, update status "new me" eh ....  besoknya malah rebahan sambil pesan food online. Gimana sih kalau bisa gitu ya? Kita bahas, tapi buruan safe biar nggak hilang, ini Sabsing, Sabda Singkat, bagian dari Sudut Pandang. 
PEMAHAMAN 
Kelakuan wacana doang kayak gini ada penjelasan psikologisnya. Contohnya juga ada yaitu perumpamaan dua orang anak yang dicatat Matius 21, 28 sampai 32. Ceritanya itu ada seorang pengusaha tajir ya, perkebunan sawit. Sorry, ..... Wk .... Wk ... perkebunan anggur. Punya dua anak, disuruh kerja. Anak satunya bilang, siap bos ..... Lip service doang. Ujung-ujungnya gak berangkat, menghilang dan menghealing. Anak satunya lagi pas disuruh malah ngegas. "Gak mau ah, capek". Tapi eh, ujung-ujungnya dia nyesel dan malah kerja beneran. Anak yang bilang, "siap bos" ..... kata bos disini di teks Yunaninya, Kirie, artinya "Tuan atau Tuhan" Ini sindiran telak Yesus di Matius 7 ayat 21 "Bukan yang sering nyebut Tuhan-Tuhan yang masuk kerajaan sorga Tapi yang melakukan kehendak Bapa" Jadi jangan gampang percaya .. ya ... sama orang yang sering bilang "Tuhan" gitu ya. Nah, anak yang bilang "siap bos, laksanakan" ini Kena jebakan Batman, yaitu .... Symbolik self-complation .... Pas dia bilang iya, otaknya ngasih dopamine hit, dia ngerasa sudah jadi anak berbakti, cuman modal kata-kata, otaknya udah ngerasa sukses dan dapat validasi tapi motivasi sesungguhnya buat kerja, panas-panasan di kebun anggur, ... menguap begitu saja, dia cuman punya goal intention, niat .... tanpa tindakan nyata .... doang, gak punya implementation intention, atau rencana "if then" sebaliknya, anak yang bilang gak mau, dia gak ada ke dopamine hit menurut "Rubicon model of action" dari Goldwitzer, anak ini masuk ke fase deliberatif dia mikir, merenung, ngerasa bersalah, lalu bikin keputusan tegas yang gak bisa ditarik lagi, istilah kerennya "menyebrangi sungai Rubicon" ini menuju peristiwa pada zamannya, "kaisar Julius Caesar menyebrangi sungai Rubicon balik lagi", si anak ini gak butuh validasi di awal, dia cuma fokus sama eksekusi nyata, tindakan nyata. So, orang yang kelihatannya berantakan tapi mau berproses dan ambil tindakan nyata, tadinya nggak mau olahraga terus beneran olahraga, lebih berharga daripada si paling suci yang image-nya sempurna tapi zero eksekusi, Zero tindakan nyata. Tuhan lebih suka aksi nyata. "To walk the talk", mengerjakan keselamatannya menjadi pelaku firman daripada lip service. 
(26092026)(TUS)

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

PENGANTAR 
Ini masalah perkembangan pemahaman (tafsir) perangkap, jaring, dan jerat shg tafsir untuk murid - murid yg menangkap/menjaring ikan itu berkembang dalam Injil.
Dalam metafora sastra Ibrani itu perangkap, jaring dan jerat itu dimaksud kan ulama/pemimpin agama dan Umara/Umaroh pemimpin pemerintahan/pejabat/keluarga raja, yang tidak jadi teladan, shg tafsir tentang murid yg menjaring ikan, berkembang, tidak lagi, tidak hanya menjaring jiwa atau 153 jenis ikan harus menjaring jiwa seluruh dunia. Dalam pemahaman zamannya, menjaring ikan, ikan itu pasti akan mati, dibakar, dimakan, shg tafsir berkembang menjaring ikan itu kritisi penulis Injil, untuk pengikut Yesus, untuk berani mengkritisi ulama dan umarah, apalagi posisi umat Matius thp Yudaisme dan sinagoge dan Lukas thp pemerintah Romawi, termasuk kritisi penulis Injil untuk nasib ulama dan umarah yg tidak sejalan dg kehendak Tuhan. Itu memang metafora khas dalam sastra Ibrani, perkara jaring, perangkap, dan jerat. Metafora sastra Ibrani ini digunakan baik di PL dan PB. Jaring, perangkap, dan jerat juga metafora atas hukuman akhir di hari Tuhan pada ulama dan Umaroh yg tidak bisa menjadi teladan bagi umat bahkan menjerumuskan umat, jadi itu kritikan penulis Injil Matius atas ketidak adilan yg diterima jemaat Matius oleh pemuka agama atau para imam dalam hal ini Yudaisme dg pengusiran jemaat Matius dari sinagoge dan klaim sebagai aliran sesat yg patut dirajam, demikian hal mirip dg penulis Injil Lukas atas penguasa Romawi, maka ikan yg terjaring menjadi gambaran akhir hidup ulama dan Umaroh yg tidak bisa menjadi teladan. Ikan yg terjaring pasti mati, baik itu dipisahkan ataupun tidak, pemisahan ikan itu lambang antara pemuka agama dan pejabat pemerintah yg keduanya sama-sama tidak bisa jadi teladan bahkan menyesatkan umat. Jadi, metafora itu memaknai secara keras, satu, kritisi keras thp ulama dan Umaroh yg tidak bisa jadi teladan dan menyesatkan umat, kedua, hukuman keras atas ulama dan Umaroh yg tidak bisa jadi teladan dan menyesatkan umat, sering dikaitkan dg hari Tuhan
PEMAHAMAN 
Highlight utama: Hosea 5:1 dan Amos 3:5

Hosea 5:1, secara eksplisit menyapa para imam, kaum Israel, dan keluarga raja. Metafora Mizpa dan Tabor sebagai “jerat” menunjukkan bahwa para pemimpin yang seharusnya membimbing umat justru menjadi alat penyesatan dan penghakiman serta teladan buruk bagi umat. Karena itu, teks ini mendukung pembacaan bahwa kepemimpinan agama dan politik dapat dikritik ketika tidak memberi teladan serta menjerumuskan umat.

Amos 3:5 memakai gambaran perangkap untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam tindakan Allah terhadap Israel. Namun, ayat ini tidak secara eksplisit menyebut pemimpin agama atau pejabat pemerintahan, tetapi arahnya tetap sama ketika kitab ini dibaca keseluruhan. Hubungan dengan kritik kepemimpinan harus dibangun dari konteks kitab Amos secara keseluruhan, bukan dari ayat ini saja.

Dalam PL, pola metafora jerat, jaring, dan perangkap memiliki beberapa fungsi:

Hosea 7:12 dan Hosea 9:8 menggambarkan umat yang terperangkap serta nabi yang menjadi penjaga tetapi menghadapi permusuhan. Kritiknya terutama berkaitan dengan ketidaksetiaan Israel dan kegagalan fungsi kenabian pada pemimpin agama dan pemimpin politik.

Yeremia 5:26 menyebut orang-orang fasik yang memasang perangkap untuk menangkap manusia. Ini mendukung kritik terhadap pihak yang mengeksploitasi sesamanya, dan aktornya adalah pemimpin agama dan pemimpin politik.

Yeremia 18:22 memakai gambaran perangkap dalam konteks hukuman atas orang-orang yang merencanakan kejahatan terhadap Yeremia.

Yesaya 8:14-15 dan Yesaya 24:17-18 menggambarkan Tuhan sebagai batu sandungan serta datangnya kengerian dan perangkap atas penduduk yang tidak taat, hukuman pada pemimpin agama dan politik yg kehilangan swara kenabian.

Dalam PB, Matius 13:47-50, memakai jaring sebagai gambaran pemisahan dan penghakiman terakhir juga kritik yg sama atas pemimpin agama dan politik pada zamannya. Jaring tidak secara langsung menunjuk kepada pemuka agama atau pejabat Romawi, melainkan kepada cakupan umat manusia (umat, pemimpin agama, pemimpin politik) dan tindakan penghakiman Allah.

Matius 4:18-20 dan  Lukas 5:4-7 menggunakan kegiatan menjala ikan sebagai panggilan serta pelayanan para murid. Teks-teks ini tidak secara eksplisit menyatakan kritik terhadap pemerintah atau pemuka agama. Namun, dalam pembacaan sosial-historis, panggilan tersebut dapat dipahami sebagai pembentukan komunitas alternatif yang mengikuti otoritas Yesus, mengikuti otoritas Yesus artinya mengikuti teladan Yesus artinya berani mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak jadi teladan serta menyesatkan umat.

Lukas 21:34-35, 1 Timotius 3:7, dan 2 Timotius 2:25-26 menekankan kewaspadaan, reputasi pemimpin, pertobatan, dan pembebasan dari jerat Iblis (godaan menjadi pemimpin agama dan politik yg tidak benar, atau cari aman tidak berani mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak benar. Ayat-ayat ini mendukung kritik terhadap kepemimpinan yang menyesatkan, tetapi tidak secara eksplisit menyebut pejabat Romawi, tapi bisa diduga arahnya sesuai zamannya.

Dengan demikian, tafsir bahwa jerat dan jaring menjadi kritik terhadap kepemimpinan PL-PB memiliki dasar tematis, terutama melalui Hosea 5:1, metafora ini sangat keras di zamannya. Namun, penerapannya kepada pemuka agama Yudaisme dan pejabat Romawi pada masa Injil harus dinyatakan sebagai pembacaan kontekstual, konteks teks zamannya, bukan kesimpulan eksplisit dari setiap ayat.

Highlight: Yohanes 21:11

Dalam Yohanes 21:11, para murid menangkap 153 ekor ikan, dan jala itu tidak koyak. Teks ini menekankan fakta mukjizat serta kelimpahan hasil tangkapan, tetapi tidak memberikan penjelasan eksplisit mengenai makna simbolis angka 153.
Beberapa tafsiran historis mengaitkan 153 dengan:

- Jumlah bangsa-bangsa di dunia.
- Perhitungan gematria atau nilai numerik nama tertentu.
- Lambang kelengkapan atau universalitas misi gereja.

Namun, hubungan tersebut tidak dinyatakan secara langsung dalam Injil Yohanes. Karena itu, secara akademik, angka 153 sebaiknya dipahami terlebih dahulu sebagai bagian dari kesaksian konkret tentang mukjizat, bukan sebagai kode pasti mengenai pemimpin agama atau politik. Dalam konteks Yohanes 21:1–14, jala berhubungan dengan panggilan dan pelayanan para murid setelah kebangkitan Yesus, panggilan ini meliputi keberanian untuk mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak menjadi teladan umat dan menyesatkan umat. Jala yang tidak koyak dapat dibaca secara teologis sebagai gambaran kelimpahan misi dan pemeliharaan Kristus, tetapi teks tidak secara eksplisit menyamakannya dengan hukuman terhadap pemimpin agama atau politik, juga dalam konteks teksnya bisa bearti keteguhan dalam menjalankan misi penuh risiko dan tidak cari aman atas kritisi pada pemimpin agama dan politik yg tidak menjadi teladan untuk umat bahkan menyesatkan umat, kalau mau dilihat dalam konteks teks latar belakang penulisannya.Hal ini berbeda dengan beberapa perumpamaan dalam Injil Sinoptik, seperti Matius 13:47–50, yang menggunakan jala sebagai gambaran pemisahan orang benar dan orang jahat pada akhir zaman, pemisahan pemimpin agama dan politik yg pasti mati dihukum di hari Tuhan, seperti ikan yg terjaring. Karena itu, simbol jala tidak boleh otomatis dipindahkan ke konteks Yohanes 21 tanpa memperhatikan konteks naratifnya Matius. Hosea 5:1 memang menyebut para imam, kaum Israel, dan keluarga kerajaan sebagai pihak yang menerima teguran karena menjadi jerat dan sumber penyimpangan umat. Ayat ini mendukung kritik kenabian terhadap pemimpin yang gagal membimbing umat. Amos 3:5 memakai gambaran jerat untuk menjelaskan kepastian akibat dan penghakiman Allah. Namun, ayat ini tidak secara langsung menafsirkan angka 153 atau jala dalam Yohanes 21. Hubungan tematis antara Yohanes 21:11, Hosea 5:1, dan Amos 3:5 masih mungkin dibahas: semuanya dapat menyentuh tema tanggung jawab, kritis i pemimpin agama dan politik, pengumpulan, jerat, dan penghakiman. Namun, secara akademik tidak cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa angka 153 adalah simbol khusus bagi hukuman pemimpin agama dan politik, beda dg kasus di Matius maupun Lukas. Kesimpulan yang lebih kuat dari teks Yohanes adalah bahwa misi para murid berlangsung di bawah arahan Kristus dan menghasilkan kelimpahan, sedangkan kritik terhadap pemimpin yang menyesatkan umat harus didasarkan terutama pada teks-teks kenabian yang memang menyatakannya secara eksplisit. Yohanes 21:11 menyebut jumlah ikan secara spesifik, yaitu 153 ekor, tetapi teks tidak memberikan penjelasan simbolis mengenai angka tersebut. Tidak ada pernyataan dalam perikop itu bahwa 153 melambangkan jumlah bangsa, jenis manusia, atau mandat untuk melakukan kristenisasi ke seluruh bumi, harus dilihat konteks teksnya. Karena itu, menghubungkan angka 153 dengan simbol tertentu merupakan tafsir alegoris atau numerologis, bukan makna yang dinyatakan secara eksplisit oleh teks. Dalam konteks teks zamannya, sebetulnya sama saja dg uraian di atas, karena komunitas Yohanes, atau jemaat Yohanes mengalami tekanan dari pemimpin Yudaisme serta serangan ajaran keimanan dari Yudaisme serta bbrp aliran pecahan atau sekte tertentu atau gnostik, sampai mereka bersembunyi di gua-gua, mereka mengalami ketidak adilan dari yg seharusnya melindungi mereka, serangan thp ajaran iman sangat kuat pada konteks teks, zaman jemaat Yohanes.

Dalam membaca Yohanes 21:1-14, perhatian utama narasi adalah:

- Yesus menyatakan diri kepada murid-murid setelah kebangkitan.
- Para murid mengalami kegagalan menangkap ikan tanpa petunjuk Yesus.
- Hasil tangkapan yang besar menunjukkan keberhasilan yang terjadi melalui ketaatan kepada perkataan Yesus.
- Yesus menyediakan makanan dan memulihkan persekutuan dengan murid-murid-Nya.

Dengan demikian, angka 153 lebih aman dipahami sebagai detail naratif tentang kelimpahan tangkapan, bukan kode teologis mengenai jumlah bangsa atau jiwa yang harus dikristenkan.

Matius 4:18-20 dan Lukas 5:4-7 memang memakai pekerjaan menjala ikan dalam konteks panggilan murid. Namun, tidak semua teks tentang ikan otomatis harus ditafsirkan sebagai “mencari jiwa”. Dalam Lukas 5:10, ungkapan “menjala manusia” menunjukkan perubahan tugas para murid menuju pelayanan kepada manusia, dan juga kritik thp kepemimpinan. Akan tetapi, teks tersebut tidak memakai istilah “jiwa” dan tidak menjelaskan metode pemaksaan agama atau proyek politik keagamaan.

Karena itu, istilah “kristenisasi” perlu digunakan secara hati-hati dalam memahami ayat ini. Istilah tersebut merupakan kategori modern dan tidak boleh begitu saja dimasukkan ke dalam teks abad pertama. Secara tekstual, panggilan murid lebih tepat dipahami sebagai kesaksian, pemuridan, dan partisipasi dalam karya Yesus, dan kritisi situasi zaman tsb atas ketidak adilan dari pemimpin agama dan politik saat itu thp jemaat Yohanes — bukan pembenaran bagi dominasi, pemaksaan, atau perluasan kekuasaan institusional.

Matius 13:47-50 juga tidak menafsirkan ikan sebagai “153 jenis manusia”. Perumpamaan jala menekankan pengumpulan dan pemisahan pada penghakiman akhir, kritisi pimpinan pada zamannya. Pelakunya adalah para malaikat dalam konteks penghakiman Allah, bukan strategi ekspansi manusia.

Jadi, Metafora menjala manusia memiliki dasar dalam Matius 4:19 dan Lukas 5:10. Angka 153 dalam Yohanes 21:11 tidak ditafsirkan oleh teks sebagai simbol seluruh bangsa atau jenis manusia. Hubungan antara 153 ikan dan kristenisasi global merupakan konstruksi tafsir kemudian, bukan kesimpulan eksplisit ayat. Tafsir yang bertanggung jawab harus membedakan antara makna naratif, simbolisme kanonik, dan spekulasi numerologis.

Rantai logika argumentasinya dapat disusun demikian:

Pemimpin memiliki tanggung jawab membimbing umat. Dalam Hosea 5:1, imam, kaum Israel, dan keluarga raja ditegur karena menjadi “jerat” bagi umat. Ayat ini menjadi dasar paling kuat untuk menghubungkan metafora jerat dengan kegagalan kepemimpinan agama dan politik. Kepemimpinan yang menyesatkan menghasilkan keterperangkapan. Dalam Yeremia 5:26, orang fasik memasang perangkap bagi manusia. Hosea 7:12 juga menggambarkan umat yang tertangkap seperti burung. Metafora tersebut menunjukkan tindakan manipulatif, penyesatan, dan eksploitasi terhadap umat. Jerat juga menyatakan konsekuensi atau hukuman Allah juga, selain kritisi pada para pemimpin yg gak bener. Amos 3:5 memakai gambaran perangkap untuk menjelaskan bahwa suatu peristiwa memiliki sebab dan akibat. Ayat ini tidak secara eksplisit menyebut pemimpin agama atau pejabat pemerintah, tapi secara konteks teks arahnya memang ke sana, tetapi dalam konteks kitab Amos, hukuman berkaitan dengan dosa dan ketidakadilan Israel. Karena itu, hubungan dengan hukuman atas pemimpin merupakan kesimpulan kontekstual, bukan arti langsung satu-satunya dari ayat tersebut. Dalam PL, pihak yang menyesatkan akhirnya dapat terkena hukuman yang mereka hasilkan.Yesaya 8:14-15 menggambarkan Tuhan sebagai batu sandungan dan perangkap bagi mereka yang menolak-Nya. Yesaya 24:17-18 menyatakan bahwa penduduk bumi mengalami kengerian, lubang, dan jerat. Yeremia 18:22 menggambarkan malapetaka atas orang-orang yang merancang kejahatan. Dalam PB, jaring terutama berfungsi sebagai gambaran penghakiman.  Matius 13:47-50 menjelaskan jala yang mengumpulkan berbagai jenis ikan, lalu terjadi pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Makna eksplisitnya adalah penghakiman terakhir, bukan secara khusus hukuman bagi pemimpin agama atau pejabat Romawi, tapi secara konteks teks dapat disimpulkan akan kritisi atas kepemimpinan pada zamannya. Panggilan menjala ikan tidak otomatis menjadi kritik para pemimpin agama dan politik. Matius 4:18-20 dan Lukas 5:4-7 terutama berbicara tentang panggilan dan ketaatan para murid. Menghubungkannya dengan kritik terhadap struktur kepemimpinan zaman itu dapat menjadi pembacaan sosial-historis, tetapi bukan kesimpulan eksplisit teks. PB juga memakai “jerat” untuk bahaya moral dan rohani. Lukas 21:34-35, 1 Timotius 3:7, dan 2 Timotius 2:25-26 menekankan kewaspadaan, reputasi, pertobatan, dan pembebasan dari jerat Iblis. Jembatan nalarnya sah jika dirumuskan sebagai pola tematis: pemimpin yang menyesatkan menjadi “jerat” bagi umat, lalu menghadapi konsekuensi dan penghakiman Allah. Namun, tidak semua ayat metafora tentang jaring, jerat, atau perangkap secara langsung menunjuk kepada pemuka agama dan pejabat pemerintah. Karena itu, tafsir tersebut kuat sebagai sintesis teologis-kontekstual, tetapi harus dibedakan dari makna eksplisit setiap ayat.
(01102025)(TUS)

Lectures on Reformed Theology 
"PERIHAL TARI-TARIAN & TAMBORIN DALAM IBADAH

B:
Shalom pak Pdt. Muriwali, saya ingin bertanya pak, dalam perspektif Reformed dan prinsip Regulative Principle of Worship, bagaimana kita menilai penggunaan tari-tarian dan tamborin dalam ibadah hari Minggu? Apakah cukup karena Alkitab menyebut tari dan tamborin sebagai bentuk pujian, atau harus ada perintah/prinsip yang jelas dalam Perjanjian Baru untuk memasukkannya ke dalam ibadah gereja? Lalu, apa batas antara ekspresi pujian yang berpusat pada Allah dan unsur pertunjukan dalam ibadah?

MYM:
Semua yang dikatakan dalam PL tentang memuji Tuhan menggunakan kecapi, rebana, dan tari-tarian sifatnya deskriptif bukan preskriptif. Lagipula ini sangat kontekstual pada zaman itu, yang tentu saja berbeda dengan konteks kita sekarang. Kita sekarang tidak lagi mengenal secara persis, misalnya, model kecapi di zaman PL. Kita hanya melihat perkembangannya yaitu harpsichord, piano, dan gitar, termasuk alat-alat musik berdawai tradisional di berbagai daerah. Jadi apa yang dikatakan secara deskriptif dalam PL, tak bisa dijadikan patokan, norma, dan regulasi musik dan penyembahan dalam ibadah.

Satu-satunya regulasi dan norma untuk ibadah,  musik, dan penyembahan kita adalah 1Korintus 14:40 di mana segala sesuatu dalam ibadah harus sopan dan teratur. Inilah yang preskriptif.

Masalah kita di zaman ini adalah, musik apa yang cocok atau tidak dalam ibadah, sering ditentukan oleh mereka yang pengetahuan musiknya sangat minim, sektarian (misalnya, penggila musik jazz saja, atau rock saja, atau pop saja), atau bahkan tak punya pengetahuan musik sama sekali. Mereka menjadi penentu hanya karena mereka memiliki kuasa dan wewenang dalam gereja. Ini adalah kecelakaan terbesar dalam pengaturan liturgi dan ibadah. Sama seperti sekumpulan orang yang tak memahami ilmu kedokteran, atau hanya punya pengetahuan yang sangat minim, tetapi berdiri menghadapi meja operasi seorang pasien. 

Jika seorang atau sekelompok orang yang sangat memahami musik dari berbagai genre, diberi kewenangan untuk mengatur musik apa yang paling cocok dalam ibadah, yang menyatakan keagungan, keindahan, harmoni, keteraturan, dan prinsip kesopanan, maka pilihannya pasti hymns. Sama seperti untuk acara yang agung bagi bangsa, misalnya upacara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Saat menaikkan bendera pasti lagu hymn Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan musik yang cocok. Tak bisa Indonesia Raya di-dangdut-in, atau dibuat nge-rock atau nge-jazz. Hanya dengan cara menyanyikan Indonesia Raya seperti yang sering kita lakukan itulah cara yang paling layak, paling sopan, dan paling hormat.

Jika suatu saat, Indonesia Raya di-dangdut-in, saya tahu bahwa Indonesia sudah mengalami degradasi intelektual dan moral yang luar biasa.

Kamis, 24 September 2026

๐—”๐—น๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฏ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ณ๐—ถ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต?

Dalam kehidupan gerejawi hampir setiap hari kita mendengar ungkapan ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Saking seringnya ungkapan itu didengar, otak akhirnya bekerja secara otomatis: Alkitab = firman Allah. Titik! Persoalannya, ketika sebuah ungkapan teologis terus-menerus diulang tanpa lagi dipikirkan maknanya, metafora dapat berubah menjadi takrif (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ), dan takrif itu kemudian diperlakukan sebagai fakta harfiah.

๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ pada dasarnya merupakan ungkapan metaforis. Jika ungkapan tersebut dipahami secara harfiah bahwa Alkitab identik dengan Firman Allah, maka Yohanes 1:1 secara konsekuen dapat dibaca begini:

๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ. ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

Tentu saja bukan demikian maksud pengarang Injil Yohanes. Dalam Yohanes 1:1 Firman (๐˜“๐˜ฐ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ด) bukanlah nama lain untuk sebuah buku yang baru muncul berabad-abad kemudian. Firman merujuk  realitas ilahi yang dalam prolog Injil Yohanes kemudian dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Hal yang sama dapat dilihat dalam ungkapan lain, misalnya ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ. Apakah Allah secara harfiah adalah sebuah gunung batu? Tentu tidak. Ungkapan itu merupakan metafora. Seseorang yang menghadapi badai kehidupan dan mengalami Allah sebagai tempat perlindungan yang teguh dapat mengungkapkan pengalamannya dengan mengatakan bahwa Allah adalah “gunung batu”.

Demikian pula ungkapan ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Ungkapan tersebut merupakan cara iman untuk mengatakan bahwa melalui kesaksian yang terdapat dalam teks-teks Alkitab, manusia dapat mendengar dan mengalami firman Allah. Ketika seseorang membaca sebuah teks Alkitab dan melalui teks itu mengalami teguran, penghiburan, penguatan, atau panggilan untuk bertindak, pengalaman tersebut dapat dipahami sebagai perjumpaan dengan firman Allah. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bahwa setiap tafsiran atau setiap perasaan yang muncul ketika membaca Alkitab otomatis identik dengan maksud Allah. Di sinilah penafsiran menjadi penting.

Alkitab sendiri bukanlah sebuah buku yang ditulis oleh satu orang, pada satu zaman, dengan satu gaya, satu situasi, dan satu tujuan. Alkitab merupakan kumpulan tulisan yang lahir dalam rentang waktu yang panjang, dari komunitas dan para petulis yang berbeda, dalam konteks sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang berbeda pula. Oleh karena itu kita menemukan di dalamnya beraneka suara, perspektif, bahkan perbedaan dan ketegangan teologis.

Para petulis kitab-kitab Alkitab juga tidak sedang menyalin sebuah naskah ilahi yang turun dari langit. Mereka menafsir pengalaman hidup, sejarah, penderitaan, pembebasan, konflik, harapan, dan hubungan mereka dengan Allah, lalu menuangkannya dalam berbagai bentuk sastra: narasi, puisi, hikmat, nubuat, surat, apokaliptik, dan berbagai genre lainnya. Oleh karena itu pula teks Alkitab tidak dapat dilepaskan dari manusia dan konteks historis yang melahirkannya.

Contoh yang sangat jelas dapat kita lihat dalam penulisan kitab-kitab Injil. Mengapa kitab Injil ditulis? Para petulis Injil tidak sedang menyusun biografi Yesus secara netral seperti seorang sejarawan modern. Mereka menulis kepada komunitas-komunitas tertentu yang memiliki pergumulan konkret. Ada jemaat yang sedang menghadapi kegundahan, penderitaan, konflik, dan pertanyaan iman yang serius: Jika Yesus adalah Mesias, mengapa Ia justru mati di kayu salib? Apa arti kematian-Nya? Apakah kematian itu berarti kegagalan? Bagaimana kematian dan kebangkitan Yesus harus dipahami dalam terang iman kepada Allah?

Oleh karena itu masing-masing petulis Injil menyusun dan menafsirkan tradisi tentang Yesus dengan cara yang khas sesuai dengan konteks komunitasnya. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes tidak menghasilkan empat kisah teologis yang identik tentang Yesus. Mereka menghadirkan empat kesaksian teologis yang memiliki penekanan masing-masing. Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus segera diharmonisasikan seolah-olah para petulis telah membuat kesalahan yang perlu diperbaiki. Perbedaan itu justru memerlihatkan bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan teologis: menafsirkan siapa Yesus dan apa arti kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya bagi komunitas yang mereka layani.

Dengan demikian teks Injil bukan sekadar kumpulan informasi tentang apa yang pernah dilakukan dan dikatakan Yesus. Teks Injil merupakan kesaksian iman yang lahir dari perjumpaan antara tradisi tentang Yesus dan pergumulan konkret komunitas-komunitas Kristen perdana. Itulah sebabnya keempat Injil dapat menceritakan Yesus dengan penekanan yang berbeda, tanpa harus dipaksa menjadi satu cerita yang seragam.

Justru karena itulah Alkitab dapat dan perlu dikaji secara ilmiah dan akademis. Meneliti teks secara historis-kritis memerhatikan bahasa, genre, konteks sosial, proses penyuntingan, dan perkembangan tradisi tidak berarti merendahkan Alkitab. Sebaliknya, penelitian semacam itu menunjukkan penghargaan terhadap teks dengan tidak memaksanya berbicara menurut keinginan pembacanya.

Untuk itu mengatakan bahwa ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ tidak perlu membuat kita berhenti berpikir. Sebaliknya, pengakuan iman itu seharusnya mendorong kita membaca Alkitab dengan lebih cermat: membedakan teks dari tafsir, membedakan suara petulis dari suara prapaham pembaca, memerhatikan konteks, dan berani mengakui bahwa Alkitab memang memuat keragaman kesaksian iman.

Alkitab tidak menjadi kurang berharkat ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadapnya. Justru di situlah kedewasaan beriman diuji. Iman yang dewasa tidak takut pada pertanyaan. Dengan demikian persoalannya bukan pertama-tama apakah Alkitab “identik dengan” firman Allah, tetapi bagaimana melalui teks-teks yang lahir dari refleksi pergumulan manusia dengan Allah itu, Gereja terus-menerus mendengar, memahami, dan menghidupinya.

(25092026)

Rabu, 23 September 2026

Sudut Pandang ๐—•๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

Sudut Pandang ๐—•๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต 

PENGANTAR
saya ingin menunjukkan seperti apa khotbah yang dibangun dengan baik, saya akan mengambil khotbah atas Yohanes 12:20–25 sebagai contoh. Bukan berarti seluruh tafsir saya tidak dapat diperdebatkan. Namun, dari segi struktur khotbah ini memerlihatkan sesuatu yang penting: ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ ๐—ฎ๐—ฝ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, bukan sebaliknya.
PEMAHAMAN 
Pertama-tama pengkhotbah  membaca perikop Yohanes 12:20–25 secara utuh, walaupun kemudian fokus khotbah diarahkan terutama kepada ayat 24 tentang biji gandum. Ini penting, ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ langsung mengambil kalimat ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ซ๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช lalu menjadikannya slogan moral. Ayat tersebut terlebih dahulu ditempatkan dalam perikopnya.

Sesudah itu masuk ke dalam konteks naratif. Ia menjelaskan ketegangan antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi yang semakin meningkat, terutama setelah pembangkitan Lazarus. Dalam konteks itulah muncul orang-orang Yunani yang ingin bertemu dengan Yesus. Bagi saya di sini terlihat langkah eksegetis yang penting: pertanyaan pertama bukan “Apa yang dapat saya pelajari dari ayat ini?”, melainkan “Mengapa Yohanes menempatkan kedatangan orang-orang Yunani ini tepat sebelum ucapan Yesus tentang biji gandum?”

Saya juga melihat  ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฝ๐—น๐—ถ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‚๐—ด๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ. Yohanes tidak menjelaskan mengapa orang-orang Yunani itu ingin bertemu dengan Yesus, kemudian menyebut beberapa kemungkinan penafsiran, tetapi tidak menyajikannya sebagai fakta yang dinyatakan oleh teks. Bagi saya ini merupakan kebiasaan eksegetis yang penting: dugaan penafsir jangan dinaikkan statusnya menjadi isi Alkitab.

Selanjutnya saya melihat perhatian diarahkan kepada tanggapan Yesus. Orang-orang Yunani ingin bertemu dengan Yesus, tetapi Yohanes tidak mencatat bahwa Yesus kemudian menemui mereka. Yang muncul justru pernyataan Yesus: “๐˜›๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.” Sesudah itu muncul gambaran biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Dengan demikian pengkhotbah mula membaca hubungan internal di dalam teks: ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ Yesus tidak dipisahkan dari kematian-Nya.

kemudian masuk ke dalam istilah dan gambaran teologis yang terdapat dalam teks. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข dihubungkan dengan Daniel 7. Ia menunjukkan kontras antara kerajaan yang dibangun melalui pola kekuasaan dan kekerasan dengan kemesiasan Yesus yang justru ditempuh melalui pengorbanan. Dengan demikian rujukan Daniel tidak berdiri sebagai informasi tambahan belaka, tetapi dipakai untuk membantu menjelaskan bagaimana Yohanes memahami kemuliaan Yesus.

Barulah kemudian metafora biji gandum ditafsirkan, tidak berhenti pada penjelasan bahwa biji harus mati supaya menghasilkan buah. Ia menghubungkannya dengan ucapan Yesus tentang kemuliaan dan kemudian dengan kematian-Nya. Dari sini merumuskan dua matra: kehidupan melalui kematian dan kehidupan yang menghasilkan buah bagi banyak orang melalui pengorbanan.

Bagi saya di sinilah letak perbedaan penting antara eksegese dan sekadar mencari ayat untuk mendukung gagasan yang sudah dimiliki oleh seorang pengkhotbah. Aplikasi belum dimula sebelum makna tekstualnya terlebih dahulu dicari.

Setelah memeroleh pemahaman tersebut, barulah khotbah bergerak ke kehidupan jemaat, berbicara tentang materialisme, hedonisme, dan individualisme sebagai kecenderungan kehidupan masyarakat yang dapat membalik pola pengorbanan: bukan mengorbankan diri demi kebaikan orang lain, melainkan mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Di sini saya mula membedakan dengan tegas antara eksegese dan aplikasi. Pembicaraan mengenai materialisme, hedonisme, dan individualisme bukan lagi penjelasan langsung mengenai Yohanes 12:20–25. Itu adalah aplikasi teologis terhadap kehidupan masa kini. Menurut saya hal tersebut sah dilakukan justru karena sebelumnya sudah berusaha memeroleh pesan dari teks.

Aplikasi itu kemudian dipersempit. Mengasihi diri sendiri tidak dianggap salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kepentingan diri membuat seseorang mengabaikan atau bahkan mengorbankan orang lain. Dengan demikian aplikasi masih berusaha memertahankan garis besar pesan yang sebelumnya diperoleh dari teks: biji gandum menghasilkan buah melalui pengorbanan dirinya, bukan dengan mengorbankan yang lain.

Pada bagian akhir  membawa jemaat kembali kepada Yesus sendiri. Biji gandum bukan sekadar metafora untuk mengajarkan agar manusia menjadi orang baik atau suka berkorban. Yesus sendiri menjadi pola utama dari pengorbanan tersebut. Oleh karena itu gambaran biji gandum kemudian dihubungkan dengan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus.

Kalau saya sederhanakan, struktur khotbah ini dapat dibagankan demikian:
๐—ง๐—˜๐—ž๐—ฆ ➡️ ๐—ž๐—ข๐—ก๐—ง๐—˜๐—ž๐—ฆ ➡️ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—”๐— ๐—”๐—ง๐—”๐—ก ๐—ง๐—˜๐—ž๐—ฆ๐—ง๐—จ๐—”๐—Ÿ ➡️ ๐— ๐—”๐—ž๐—ก๐—” ➡️ ๐—ง๐—˜๐—ข๐—Ÿ๐—ข๐—š๐—œ ➡️ ๐—”๐—ฃ๐—Ÿ๐—œ๐—ž๐—”๐—ฆ๐—œ ➡️ ๐—ž๐—˜๐— ๐—•๐—”๐—Ÿ๐—œ ๐—ž๐—˜๐—ฃ๐—”๐——๐—” ๐—ž๐—ฅ๐—œ๐—ฆ๐—ง๐—จ๐—ฆ.

Dengan pertanyaan yang lebih sederhana: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€? ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ? ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ? ๐—Ÿ๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐˜?

Menurut saya inilah satu ciri penting khotbah yang bertanggung jawab secara eksegetis. Aplikasi tidak menjadi tuan atas teks. Teks tetap menjadi tuan atas aplikasi.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa karena strukturnya baik maka seluruh eksegesenya otomatis benar. Justru sebaliknya. Struktur yang baik memungkinkan pengkhotbah menguji setiap langkah argumentasinya: apakah konteksnya tepat, apakah hubungan antar-teksnya sah, apakah kesimpulannya benar-benar keluar dari teks, dan apakah aplikasinya masih mempunyai hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan teks.

Jadi, bagi saya khotbah yang baik bukanlah khotbah yang tidak boleh dikritik. Khotbah yang baik adalah ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐˜‚๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—น๐˜‚๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐—ถ. Pendengar dapat melihat dari mana pengkhotbah berangkat, bagaimana ia membaca teks, bagaimana ia memeroleh makna, dan bagaimana ia sampai pada aplikasi.

Itulah yang membedakan khotbah yang lahir dari teks dengan khotbah yang hanya menggunakan teks sebagai kendaraan menuju gagasan pengkhotbah sendiri.

Selasa, 22 September 2026

๐—ฃ๐—ฎ๐˜‚๐—น๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ serta Sidak Lapas Ombudsman

Sudut Pandang ๐—ฃ๐—ฎ๐˜‚๐—น๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ serta Sidak Lapas Ombudsman

PENGANTAR 
Ada 2 tuduhan thp orang KRESTENZ yg saya singgung di sini, dan ramai di medsos. Sebelum ngomongin per BABI an, saya mo nyenggol keber AGAMA an terkait peristiwa sidak ombudsman di lapas, dimana diduga ditemukan ruang atau kamar mewah, ada lambang salibnya, kemudian jadi heboh di medsos, juga kekristenan jadi jibiran. Oleh karena menurut saya, kasus per BABI an memiliki pondasi kelirumologi .... Wk .... Wk .... Dengan kasus sidak ombudsman ini, kemudian hari ruang-ruang mewah diaku sebagai rumah dinas karyawan lapas ..... Wk ...... Wk ..... Wk. Baik saya mulai, agama itu berisi kumpulan aturan suci yang memandu para penganutnya untuk hidup suci juga. bila para penganut agama menjalani hidup suci maka -diharapkan- kehidupan pada umumnya akan berjalan dengan baik, tidak ada kekacauan, namun fakta menunjukkan bahwa ajaran suci tidak serta merta berbanding lurus dengan kehidupan para penganutnya, agama tidak - atau bila hendak lebih berpengharapan: belum - berbanding lurus dengan perilaku para penganutnya di indonesia, misalnya, agak mudah menemukan contoh dari hal tersebut. kerna sampek detik ini saya masih beragama kristen - seswai yang tercantum di ktp - maka contohnya dari yang sama agamanya, ketika terjadi pergantian menteri keuangan, salah satu anasir yang disebutkan - entah dengan tujuan apa - adalah agama, menteri yang baru itu beragama kristen. seolah ada pemikiran bahwa bila pejabatnya orang kristen maka dijamin akan lebih baik dari yang bukan kristen ..... walah ..... Wk ...... Wk. agama kristen dianggap sebagai jaminan mutu .... tenane? Ketika ada pejabat Kristen dilantik, saya tuh justru deg-degan setengah mati dan berdoa sungguh-sungguh, supaya mereka nggak menambah panjang list pejabat-pejabat publik Kristen yang bermasalah, baik secara moral, integritas, bahkan hukum. Kebanggaan saudara seiman jadi pejabat publik, bagi saya, lebih tipis daripada selembar kertas tisu, lalu terjadilah sidak dari ombudsman ke lapas di cibinong. entah apa yang mendorong ombudsman melakukan sidak ke sana. kenapa tak ke lapas yang lain? kenapa lapas 2, kenapa bukan lapas 1? entahlah ..... yang pasti ketika sidak dilakukan, ombudsman menemukan ada beberapa ruangan setara apartemen yang diduga menjadi tempat tinggal narapidana tertentu. para petugas lapas dengan sekuat tenaga berupaya untuk menghalangi pejabat ombudsman yang melakukan sidak. Ketika para pejabat ombudsman itu akhirnya berhasil masuk ke ruangan yang diduga sebagai sel mewah, kamera menangkap satu asesoris tak biasa dalam ruangan itu: salib!! ... Xi .... Xi, mengapa tak biasa? sebab salib adalah lambang agama kristen, ia tak pernah hadir tanpa sengaja dan sekadar jadi asesoris iseng. Salib hadir sebagai representasi eksistensial kekristenan, apa salahnya bila di ruangan itu ada salib? tak ada yang salah. salib bisa ditempatkan di mana saja sesuai keinginan dan kebutuhan pemakai, bila hendak diletakkan di dalam toilet pun sah-sah saja. Soalnya adalah ruangan itu diduga menjadi sel untuk mereka yang dianggap istimewa sehingga layak menempati sel yang berbeda dari narapidana yang lain. apa yang membuatnya jadi istimewa? bisa ada banyak hal. tapi yang pasti dan yang paling mudah diduga adalah berkait dengan uang, lapas punya ruang yang sama untuk semua narapidana. bila ada narapidana yang mendapatkan ruang lapas istimewa, maka patut diduga terjadi kecurangan. Entah siapa yang meletakkan salib dalam ruangan itu?. bila petugas lapas, maka patut diduga ruangan itu biasa dipakai untuk ibadah para penghuni lapas yang beragama kristen. Namun, bila ruangan itu biasa dipakai untuk ibadah, mengapa ketika ada petugas ombudsman yang masuk ke dalam ruangan itu ada orang yang melarikan diri ke dalam salah satu kamar dan menguncinya dari dalam? (peristiwa ini dapat dilihat dalam video yang banyak beredar diberbagai media sosial). Bila orang yang lari itu adalah narapidana yang mendapat privilege tinggal di sel mewah, dan ia beragama kristen!! (kecil kemungkinan penghuninya beragama non kristen sebab ada salib), maka makin sahihlah keraguan bahwa agama berbanding lurus dengan perilaku penganutnya. Jadi, hanya karena seseorang beragama kristen tak perlulah itu dibanggakan sebagai jaminan mutu  (disclaimer: tentu saja ada orang beragama kristen yang dipenjara karena ketidakadilan, atau tidak punya kesempatan untuk menikmati sel mewah sebab tak punya uang atau sadar bahwa itu bukan tempatnya!)
PEMAHAMAN 
Orang Kristen dituduh makan daging babi oleh Yahudi-Yahudi kawรฉ karena Rasul Paulus “merusak” hukum Taurat. Biasanya orang Kristen lalu sibuk membela Paulus: “Bukan Paulus! Jangan salahkan Paulus!” Saya malah punya pertanyaan lain: Kalau memang Paulus berperan dalam perubahan sikap orang Kristen terhadap hukum makanan, ๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ? ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—บ๐˜‚ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚?๐Ÿ˜‚ Sekarang mari kita mengandaikan waktu berjalan linear, dari masa Sebelum Zaman Bersama (SZB) atau Sebelum Masehi (SM) lalu masuk ke masa Zaman Bersama (ZB) atau Masehi (M). Kalau kita mengandaikan kitab-kitab PL adalah SZB dan kitab-kitab PB adalah ZB, apakah kitab-kitab PB merupakan kontinuitas atau diskontinuitas PL? Perjanjian Baru adalah ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐˜‚๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐˜‚๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ dari Perjanjian Lama. ๐—ž๐—ผ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐˜‚๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ karena harus diakui bahwa kekristenan berakar dalam Yudaisme. Yesus, para rasul, dan jemaat mula-mula tidak muncul dari ruang kosong. PB juga merupakan ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐˜‚๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ PL, karena PB ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—Ÿ dalam terang Kristus. Nah, soal daging babi menjadi menarik kalau dilihat dari sini. Persoalannya bukan sesederhana: ๐˜—๐˜ข๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด ๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช,  karena ada satu persoalan yang sering luput: ๐—ฃ๐—ฎ๐˜‚๐—น๐˜‚๐˜€ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ. Sebelum Paulus menjadi pengikut Kristus dan kemudian tampil sebagai penginjil, sudah ada komunitas pengikut Yesus. Paulus sendiri mengakui bahwa ia menerima dan meneruskan tradisi yang sudah ada sebelumnya (bdk. 1Kor. 15:3-5). Jadi, agak aneh kalau seluruh perubahan sikap terhadap Taurat kemudian dibebankan begitu saja kepada Paulus, seolah-olah ia datang dengan sebuah agama baru lalu membuang Taurat. Yang terjadi jauh lebih rumit. Tradisi yang diwarisi dari Israel tetap menjadi akar kekristenan, tetapi dalam komunitas pengikut Kristus tradisi itu mengalami ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด. Paulus memang memainkan peranan penting dalam proses tersebut, terutama ketika Injil berhadapan dengan orang-orang bukan-Yahudi. Namun, ia melakukannya di tengah komunitas dan tradisi yang sudah lebih dahulu ada. Jangan lupa pula sampai Paulus mati belum ada kitab-kitab Injil kanonik seperti Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes. Oleh karena itu pertanyaan yang lebih menarik bukan: “Siapa yang pertama mengizinkan orang Kristen makan babi?” melainkan: “Bagaimana dan mengapa komunitas Kristen mula-mula menafsir ulang Taurat?” Kalau ternyata Paulus berperanan penting dalam proses itu, ๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ? ๐ŸคฃBukankah sejak awal kita memang sedang berbicara tentang sebuah iman yang ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—œ๐˜€๐—ฟ๐—ฎ๐—ฒ๐—น ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜? Babi, ternyata, membawa kita kembali ke hermeneutika. ๐Ÿท
(26092026)(TUS)

๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—š๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿฎ๐Ÿฑ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ Jangan bertanya kepada saya kapan Yesus lahir. ...