Selasa, 31 Maret 2026

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).
 
PENGANTAR
Ini hanya keisengan imajinasi penulis, melihat cerita sastra Injil. Sebuah drama imaginasi flash back dari individu yang dikagumi.

PEMAHAMAN
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk Galilea, tapi pemuda itu sudah menyeka peluh di dahinya.
Sementara teman-teman masa kecilnya yang cerdas sedang mengepak perkamen untuk berangkat ke Yerusalem, mengejar posisi bergengsi di Bet Midrash (universitas elite para calon rabi), pemuda ini justru memanggul martil dan beliung. 
Langkahnya mantap menyusuri jalan tanah berdebu sejauh enam kilometer dari desa kecilnya, Nazaret. Tujuannya? Sepphoris.
Di sinilah, di tengah bisingnya denting logam yang beradu dengan batu kapur, misteri 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang dari Alkitab itu terukir.

Bagi anak laki-laki Yahudi abad pertama, pendidikan adalah segalanya. Lulus dari Bet Sefer (sekolah dasar) di usia belia, hanya mereka yang paling jenius yang akan ditarik oleh rabi besar untuk dididik menjadi ahli Taurat. 

Namun Yesus, yang di usia 12 tahun sempat membuat para cendekiawan Bait Allah melongo, secara mengejutkan justru menempuh jalur vokasi. 

Ia pulang ke rumah, melepas jubah akademis yang belum sempat dipakainya, dan mengenakan celemek kulit seorang Tekton.

Jangan bayangkan Tekton di masa itu seperti tukang kayu modern yang duduk manis meraut meja. Di Israel abad pertama, kayu sangat langka. Menjadi Tekton berarti menjadi kuli bangunan kelas berat merangkap arsitek dan pemahat batu.

Di Sepphoris, mega proyek kota metropolitan bergaya Yunani-Romawi ambisius milik Herodes Antipas, Yesus muda menghabiskan belasan tahun hidupnya. 

Di bawah terik matahari, Ia belajar mengukur presisi fondasi, membelah batu karang, dan merakit rangka atap. Sang guru utamanya bukanlah seorang rabi berjubah mewah, melainkan ayah-Nya sendiri: Yosef.

Tahun demi tahun berlalu. Pundak Yesus semakin bidang, otot-ototnya terbentuk oleh kerasnya batu kapur, dan telapak tangan-Nya penuh dengan kapalan. 

Namun, di saat yang sama, punggung pria tua yang selalu bekerja di samping-Nya mulai membungkuk. Napas Yosef semakin berat. Ayunan martilnya tak lagi sekuat dulu.

Hingga pada suatu hari, ketika Yesus berada di usia akhir dua puluhan (27-29 tahun), alat pahat itu akhirnya diletakkan untuk selamanya. 

Di sebuah ranjang sederhana di Nazaret, dengan didampingi Maria dan Yesus yang memegang erat tangannya yang kasar, Yosef menghembuskan napas terakhirnya. Pria yang setia menjaga rahasia surga itu telah purna tugas.

Kini, beban itu sepenuhnya berpindah ke pundak sang pemuda.

Sebagai anak laki-laki tertua (dan satu-satunya), Yesus secara otomatis menjadi kepala keluarga. Ia harus banting tulang menggantikan posisi ayah-Nya di proyek konstruksi demi menafkahi ibunda-Nya yang kini menjadi seorang janda. 

Penduduk Nazaret mungkin hanya memandang-Nya dengan sebelah mata: "Ah, Dia kan cuma kuli bangunan, anak janda Maria itu."

Namun, di balik baju kerjanya yang berdebu, ada sebuah ruang rahasia yang tak tersentuh oleh kelelahan fisik.

Lukas 4:16 mencatat sebuah detail yang menggetarkan: "seperti biasa Ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat". Frasa seperti biasa ini adalah saksi bisu. 

Selama 18 tahun, di tengah kerasnya menjadi tulang punggung keluarga, Yesus tak pernah absen dari Sinagoge. 

Di sanalah, dalam keheningan doa dan gulungan Kitab Yesaya, relasi batin-Nya dengan Sang Bapa terus menyala. Ia tidak butuh ijazah dari Bet Midrash, karena Ia berdialog langsung dengan Sang Pemilik Sabda.

Maka, tak heran jika kelak di Yohanes 7:15, para elite agama Yerusalem dibuat kelabakan saat berdebat dengan-Nya. Mereka saling berbisik heran, "Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan sedemikian, padahal Ia tidak pernah belajar?"

Mereka tidak tahu, bahwa universitas Yesus adalah debu jalanan Sepphoris dan tanggung jawab mengurus keluarga. Perhatikan saja bagaimana Ia kelak berkhotbah. 

Analogi-Nya begitu membumi dan menusuk relung hati.

Ia berbicara tentang orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir, dan orang bijak di atas batu karang (sebuah hukum mutlak arsitektur Tekton). 

Ia tahu betul rasanya memahat kuk (pasangan kayu pembajak) yang harus sangat presisi di leher lembu agar tidak menyakiti hewan itu, persis seperti janji-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." 

Semua perumpamaan brilian-Nya lahir dari keringat, air mata, dan pecahan batu kapur masa muda-Nya.

Namun, universitas jalanan ini tidak hanya menempa kedalaman teologi-Nya, melainkan juga memahat ketahanan fisik-Nya untuk satu misi terakhir yang paling brutal. 

Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana seorang tahanan yang punggungnya sudah dikoyak cambuk Romawi, yang ujungnya dipenuhi kaitan tulang dan timah, masih sanggup bangkit dan memanggul palang salib seberat puluhan kilogram mendaki bukit Golgota? 

Jawabannya ada pada otot-otot lengan dan pundak yang selama 18 tahun terbiasa memanggul balok kayu dan batu kapur melintasi perbukitan Galilea. 

Fisik-Nya tidak akan sekuat itu di sepanjang Jalan Salib, jika Ia tak pernah menahan pedihnya menjadi pekerja kasar di bawah terik matahari Sepphoris.

Lain kali, jika rutinitas pekerjaan harian kita terasa begitu melelahkan, membosankan, atau terasa kurang rohani, ingatlah kisah pemuda dari Nazaret ini. 

Ingatlah rute berdebu sejauh enam kilometer yang Ia tempuh setiap hari demi menafkahi ibu-Nya.

Sebab kadang, hal-hal yang paling ilahi justru sedang Tuhan pahat dalam rutinitas kita yang paling membumi.


Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

PENGANTAR
Dari diskusi di FBG Bengkel Liturgi, ada teman yg berseloroh menggoda, tetapi tetap menjadi jawab dari kami dan pemahaman serta meramaikan khazanah diskusi, masih perkara Minggu Palem, dan selorohnya begini :
Bacaan Injil Minggu Palma di gereja saya diambil dari Matius. Menurut catatan Matius: "Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan." 
Kalau mau reka ulang sesuai Matius maka sebaiknya:
1. Hamparkan pakaian. 
2. Sebarkan ranting di jalan (bukan dilambaikan).

Prosesi memakai daun palem itu menurut Injil Yohanes. Jadi kemarin itu mengkhotbahkan dari Matius, tapi meminjam prosesi menurut Injil Yohanes.
Itu sudah blunder lageee. 
Monggo. Siap menerima bully......sambil tertawa ngakak nih dia ..... sohib satu ini.


PEMAHAMAN
Dari mana tradisi daun palem yang setiap tahun dipegang dalam Minggu?

Jawabannya ada dalam Injil Yohanes. Di sana disebutkan bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyambut Yesus. Satu Injil. Satu detil. Satu praktik yang kemudian menjadi tradisi yang hampir tidak tergoyahkan. Dari satu detil itu lahir perayaan universal.
Dalam kerangka Tahun Liturgi, khususnya yang mengikuti RCL memang ada kemungkinan Injil Yohanes dibacakan pada Minggu Palem, misalnya dalam Tahun B sebagai alternatif dari Injil Markus. Akan tetapi itu tetap alternatif, bukan pola utama. Dalam banyak perayaan tahun lainnya yang dibacakan adalah Injil yang tidak menyebut daun palem sama sekali. 
Namun menariknya praktiknya tidak berubah. Kadang kita membaca Yohanes, tetapi lebih sering tidak. Daun palem tetap selalu ada. Kita melakukan sesuatu yang tidak selalu kita dengar, dan kita jarang menyadarinya.
Tentu saja ini bukan kesalahan. Tradisi gereja memang tidak dibangun dari satu teks saja. Liturgi merupakan hasil dari perjumpaan panjang berbagai kesaksian Injil, yang dirajut menjadi satu praktik bersama. Justru karena itulah diperlukan kesadaran.

Mengapa hanya Yohanes yang menyebut daun palem?

Perbedaan ini bukan kebetulan redaksional yang kecil. Ia mencerminkan cara masing-masing Injil memahami peristiwa itu.
Dalam Injil Sinoptik penekanan utamanya bukan pada jenis daun, tetapi pada tindakan menyambut: orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja yang datang dengan rendah hati. Fokusnya ada pada gestur penyerahan diri, bukan simbol politik tertentu.
Sebaliknya Injil Yohanes menafsirkan maknanya secara lebih simbolik dan teologis. Dengan menyebut “daun palem” Yohanes sedang memerjelas sesuatu yang implisit
bahwa penyambutan Yesus itu sarat harapan mesianik yang politis, harapan akan pembebasan, kemenangan, dan pemulihan Israel.
Pada aras ini maknanya menjadi lebih dalam sekaligus lebih problematis, karena yang mereka sambut belum tentu sama dengan siapa Yesus itu sebenarnya. Daun palem bisa menjadi simbol iman, tetapi juga bisa menjadi simbol harapan yang keliru.
Itu sebabnya Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Minggu Palem dan Minggu Sengsara beririsan. 
(31032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Senin, 30 Maret 2026

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐— ๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐— ๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ

PENGANTAR
Kamis Putih selalu punya suasana yang khas. Gereja ditata lebih rapi. Lilin dinyalakan. Liturgi berjalan dengan penuh kesungguhan. Ada prosesi, ada simbol, ada gerak yang terasa sakral. Semuanya tampak tertata, bahkan indah. Di situlah persoalannya.


PEMAHAMAN
Sering yang tertata hanyalah yang terlihat. Yang bergerak adalah tubuh, bukan hati. Yang sibuk adalah liturgi, bukan batin. Kamis Putih kemudian berubah menjadi perayaan yang rapi, tetapi tidak selalu menyentuh kedalaman. Umat mengikuti setiap bagian dengan tertib, tetapi tidak selalu masuk ke dalam ketegangan yang sedang dihadirkan.
Padahal malam itu bukan malam yang tenang. Dalam tradisi Injil Sinoptik malam itu adalah saat Yesus duduk bersama murid-murid-Nya, mengambil roti, lalu berkata bahwa itu adalah tubuh-Nya. Ia mengambil cawan, lalu berkata bahwa itu adalah darah-Nya. Sebuah tindakan yang kemudian dikenal sebagai Perjamuan Tuhan.
Namun peristiwa itu tidak berdiri sendiri. Di meja yang sama ada pengkhianatan. Ada murid yang akan menyangkal. Ada kegelisahan yang tidak terucapkan. Ada perpisahan yang tidak sepenuhnya dimengerti.
Dalam Injil Yohanes suasananya bahkan lebih sunyi dan lebih mengguncang. Tidak ada kata-kata penetapan roti dan cawan. Yang ada justru tindakan yang tidak terduga. Yesus bangkit dari meja, mengikatkan kain pada pinggang-Nya, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya.
Sebuah tindakan yang meruntuhkan jarak. Yang membalik hierarki. Yang memerlihatkan bahwa yang disebut Tuhan justru mengambil posisi hamba. [Sebutan Tuhan di sini adalah restrospektif]. Di GKJ, sering sulit mempraktekan hanya karena budaya dan tradisi RIKUH PEKEWUH, padahal jauh api dari panggangan dengan hal itu, karena ini simbolik liturgi yang harus dimaknai.
Namun di tengah semua itu kita acap lebih sibuk dengan apa yang tampak. Kita memerhatikan lilin, tetapi tidak masuk ke dalam gelapnya malam itu. Kita mengikuti prosesi, tetapi tidak ikut merasakan kegelisahan yang menyertainya. Kita bernyanyi, tetapi tidak mendengarkan ketegangan yang diam-diam mengalir di baliknya. Liturgi menjadi terang, tetapi batin tetap datar.
Padahal Kamis Putih bukan sekadar peringatan sebuah peristiwa. Ia adalah undangan untuk masuk ke dalam suasana yang tidak nyaman. Suasana ketika kasih dan pengkhianatan berdiri berdekatan. Suasana saat pelayanan atau karya bergereja tidak lagi menjadi simbol, tetapi menjadi tindakan yang merendahkan diri. Di sinilah kita mula melihat sesuatu.
Masalahnya bukan pada liturginya. Bukan pada lilinnya. Bukan pada prosesi atau tata ibadahnya. Semua itu penting. Semua itu membantu. Persoalannya ada pada apakah kita sungguh masuk ke dalam apa yang sedang dirayakan. Sangat mungkin kita menjalani Kamis Putih dengan penuh kesungguhan, tetapi tanpa keterlibatan batin. Kita hadir, tetapi tidak benar-benar ikut. Kita melihat, tetapi tidak benar-benar memahami. Kita bahkan bisa menerima roti dan cawan, tetapi tetap menolak jalan yang sedang ditunjukkannya.
Di situlah ironi itu muncul. Apa yang dirayakan adalah kasih yang merendahkan diri, tetapi yang terjadi adalah kenyamanan yang dipertahankan. Apa yang dihadirkan adalah pelayanan atau karya bergereja, tetapi yang dijalani adalah kebiasaan, rutinitas, biasanya memang begini kok, mental rutinitas dalam bergereja, menolak tidak nyaman, meski ketidak nyamanan itu teladan dan hikmat pengajaran Yesus.
Kamis Putih lalu menjadi terang di luar, tetapi belum tentu terang di dalam. Mungkin yang dibutuhkan bukan liturgi yang lebih megah. Bukan juga simbol yang lebih banyak. Yang dibutuhkan keberanian untuk tinggal sejenak dalam ketegangan itu. Tidak buru-buru selesai. Tidak segera beranjak, karena justru di situlah Kamis Putih mula berbicara.
Sangat mungkin yang disampaikannya bukan tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang selama ini kita hindari. Namun, justru pada aras itu Kamis Putih menjadi cermin yang jujur.
Ia tidak hanya menampilkan siapa Yesus itu, tetapi juga membuka siapa kita sebenarnya. Kita yang datang berpakaian rapi, liturgi yang tertib, nyanyian yang indah, tetapi tidak selalu siap untuk merendahkan diri. Tidak selalu siap untuk melayani dan berkarya. Tidak selalu siap untuk tinggal dalam ketegangan itu. Tidak siap ada dalam ketegangan itu mewujud pada anti kritik, membutakan diri, dan menulikan diri yang digumuli pada bacaan masa prapaskah tentang orang buta, wanita samaria, dlsb.
Kita ingin bagian terang dari malam itu. Kita ingin roti dan cawan. Kita ingin suasana yang hangat dan sakral. Akan tetapi kita tidak selalu ingin bagian yang lain. Bagian ketika harus membasuh kaki. Bagian ketika harus merendahkan diri. Bagian ketika kasih tidak lagi menjadi kata, tetapi menjadi tindakan yang tidak nyaman.
Kamis Putih bukan kekurangan simbol. Ia kekurangan keterlibatan. Bukan karena liturginya tidak lengkap, tetapi karena hati kita tidak ikut masuk ke dalamnya. Mungkin kita menyalakan banyak lilin, tetapi tetap menolak terang yang sesungguhnya. Kita mengikuti seluruh rangkaian ibadah, tetapi tetap menjaga jarak dari apa yang sedang dihadirkan, kita lari dari ketidak nyamanan teladan dan hikmat pengajaran Yesus, kita ingin nyaman.
Ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah bentuk. Liturgi berjalan. Lagu dinyanyikan. Doa dinaikkan. Namun, semuanya berhenti di permukaan. Kamis Putih pun selesai, tanpa pernah benar-benar terjadi.
Barangkali pada aras ini kita perlu bertanya ulang, apakah kita sungguh merayakan, atau hanya menjalankan? Apakah kita ikut masuk ke dalam malam itu, atau hanya menyaksikannya dari jauh?
Kamis Putih tidak membutuhkan penonton. Ia menuntut keterlibatan. Memang tak mudah.
Kita bersedia datang. Kita bersedia mengikuti. Kita bahkan bersedia mengulanginya setiap tahun, tetapi tidak selalu bersedia diubah olehnya, karena perubahan itu dapat berarti dilucuti.

(30032026)(TUS)
Baca juga:
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/seri-dibuat-dalam-dua-bagian.html
KALAU BERTAHAN MEMBUATMU HANCUR ATAU TERBUNUH, ITU BUKAN PANGGILAN TUHAN, ITU BUKAN KESETIAAN

Ada orang yang setiap malam berdoa sambil menangis, bukan karena rindu Tuhan…
tapi karena takut pulang ke rumahnya sendiri.

Tempat yang seharusnya jadi ruang aman,
justru berubah jadi ruang penuh ancaman.
Kata-kata jadi pisau. Tangan jadi alat melukai. Dan hati… pelan-pelan mati.

Lalu kamu diajarkan,
“Bertahanlah. Tuhan benci perceraian.”

Tapi tidak ada yang bilang, Tuhan juga benci air mata yang dipaksa jatuh setiap hari. Tuhan juga benci ketika martabatmu diinjak tanpa ampun.

Yesaya 41:10 berkata,
“Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Bukan: “Bertahanlah dalam kekerasan, Aku sedang mengujimu.”

Tidak.
Tuhan hadir untuk menguatkanmu keluar,
bukan mengikatmu untuk tetap disakiti.

Kadang kita salah mengartikan kesetiaan. Kita pikir diam itu sabar. Kita pikir bertahan itu kudus.

Padahal…
diam dalam kekerasan adalah luka yang dipelihara.
bertahan tanpa batas adalah jiwa yang disiksa.

Tuhan tidak pernah meminta kamu mengorbankan dirimu untuk menutupi dosa orang lain.

Kasih itu memang sabar. Tapi kasih juga tidak membiarkan kejahatan terus terjadi.

Kalau hari ini kamu hidup dalam ketakutan…
kalau setiap langkahmu penuh waspada…
kalau anak-anakmu tumbuh dalam trauma…

Itu bukan rumah.
Itu tempat yang harus kamu berani tinggalkan.

Keluar bukan berarti kamu gagal.
Keluar berarti kamu memilih hidup.
Memilih waras.
Memilih masa depan.

Dan Tuhan tidak akan meninggalkanmu di keputusan itu. Dia berjalan bersamamu…
di setiap langkah menuju pemulihan.

Kalau kamu sedang ada di posisi ini, jangan diam sendiri. Cari pertolongan. Ceritakan pada orang yang bisa dipercaya. Hidupmu terlalu berharga untuk terus disakiti. 

Minggu, 29 Maret 2026

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—”๐—น๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ



Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—”๐—น๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ

PENGANTAR
Sudut Pandang ๐˜’๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ dibuat dalam dua bagian. Bagian kesatu berpumpun pada gatra liturgis. Bagian kedua berpumpun pada gatra reflektif.
Menurut kalender gerejawi Minggu Palem (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan Minggu Sengsara (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) Gereja adalah pembuka ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ, yang diindonesiakan menjadi Pekan Suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜š๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ, yang diindonesiakan menjadi ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ. Tiga hari suci khusus itu adalah Kamis Putih-Jumat Agung-Sabtu Sunyi ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ sehingga penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.


PEMAHAMAN 
Sering pula ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜š๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ disebut dengan ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju Minggu Paska; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, Hari Kebangkitan Kristus. 
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Ketiganya bukan perayaan yang berdiri sendiri; ia adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.
Sabtu Malam selepas matahari terbenam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, bukan Sabtu Sunyi lagi. Tradisi ini diterapkan sampai sekarang. Sebagai contoh Malam Paska tahun ini oleh ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ (RCL) dimasukkan ke tanggal 5 April 2026. Ibadah Malam Paska disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). 
Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. Minggu Paska tidak masuk ke dalam Trihari Suci. Dengan kata lain secara ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ Trihari Suci dan Minggu Paska berbeda masa atau periode.

▶️ Berawal dari Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir pada Sabtu Sunyi
▶️ Malam Paska-Minggu Paska
▶️ Minggu kedua Paska
▶️ Dst.
▶️ Hari Pentakosta

Kamis Putih (๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ) adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Kalau akhir masa Pra-Paska berarti tidak 40 hari ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ? Begini, kita mesti membedakan terlebih dahulu ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข dan ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜—๐˜ณ๐˜ข-๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข. Jumlah 40 hari itu adalah ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข yang dihitung dari Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi tanpa menghitung (hari) Minggu.
Mengapa ๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 
๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34). 
[Dalam Injil Yohanes tidak ditemukan perumusan Hukum Kasih seperti dalam Injil Sinoptik. Yang muncul justru ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ untuk saling mengasihi di dalam komunitas murid. Dalam konteks jemaat yang mengalami penolakan dan penganiayaan kasih tidak lagi tampil sebagai hukum umum, melainkan daya yang memerkokoh persekutuan.]
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Pada aras ini perintah itu bukan lagi ajaran, tetapi tindakan yang membalik seluruh cara pandang.
Kembali lagi ke pertanyaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป. Warna liturgi putih. Namun, putih di sini bukan sekadar warna yang tampak, melainkan simbol yang mengandung makna. Bahkan makna itu tidak segera terlihat pada pandangan pertama.
Pada Kamis Putih secara khusus Gereja mengosongkan peralatan sakramen dari altar (๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ) sesudah ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ. Altar yang sebelumnya penuh kini menjadi kosong. Yang sebelumnya tertata kini telanjang. Dilucuti. Polos! Yang sebelumnya hidup oleh pelayanan kini tiba-tiba berhenti.
Di titik inilah maknanya menjadi lebih dalam. Altar yang tampak polos itu bukan sekadar “kosong”, tetapi sebuah tanda. Bukan kepolosan dalam arti belum tersentuh, melainkan kepolosan sebagai keadaan yang ditinggalkan, dilepaskan, bahkan dirampas. Kepolosan di sini bukan awal, tetapi akibat. Ia menunjuk pada Yesus yang segera ditinggalkan, ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ, dan memasuki jalan penderitaan.
Pengosongan altar adalah simbol Gereja yang tidak lagi berbicara. Gereja berdiam diri. Gereja memasuki keheningan. Tidak ada perayaan sakramen. Tidak ada kelanjutan liturgi yang biasa. Segala sesuatu seakan ditahan termasuk ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐˜€ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด. Mengapa?
Perjamuan Kudus merupakan perayaan iman Gereja untuk mengenang (๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฏe๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ) karya, kematian, kebangkitan, dan penantian kedatangan Kristus kembali. Pada Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, bukan perayaan syukur atau sukacita (๐˜Œ๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต = Ekaristi). Melakukan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung merupakan kekeliruan yang serius baik dari gatra teologis mapun liturgis.
Keheningan itu berlangsung sampai ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ. Baru pada Malam Paska liturgi kembali dilayankan. Dengan demikian putih dalam Kamis Putih tidak hanya berbicara tentang kemurnian, kepolosan, atau sukacita, tetapi juga tentang kekosongan yang harus dilalui. Sebuah terang yang justru hadir melalui pelucutan. Terang yang tidak muncul dari kepenuhan, melainkan dari pengosongan.

(29032026)(TUS)
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01344344737.html

Sabtu, 28 Maret 2026

Sudut Pandang ๐——๐—ฎ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป “๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€”: ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐——๐—ถrenungkan

Sudut Pandang ๐——๐—ฎ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป “๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€”: ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐——๐—ถrenungkan

PENGANTAR
Di FBG Bengkel Liturgi, seiring Minggu palem ada diskusi menarik, selain diskusi tentang permen no 39  tahun 2026. Kita memang terbiasa berdiskusi untuk saling mengkritisi argumen tanpa baper an, atau ke bawa perasaan, tidak sampai debat kusir atau malah saling menjadi tidak suka, itu tidak dewasa, itu anti kritik, tetap perdebatan diatur mengalir tanpa melarikan diri dengan pembatasan waktu (ini makin tidak dewasa), tapi tetap ada agihan waktu, tapi bukan membatasi waktu saat memberikan argumentasi karena itu tidak fair/adil .... sama saja kita menulikan diri dan membutakan mata kalau seperti itu karena tak ada ruang untuk mendengar dan didengar. Kebetulan saya bersama pakdhe Purnama Kristianto serta bbrp temen ada di kubu yg berpendapat kritisi atas tema pertobatan ekologis, gereja harus pro alam, kok cabuti daun palem di minggu palem? sedangkan sohib saya, pakdhe Efron Dipoyono, pakdhe oh ie yuk, pakdhe Rochid dan Mbah Wir Kasut serta bbrp teman ada di kubu yg berpendapat bahwa memakai daun palem bukan bearti tidak cinta alam atau tidak bertobat secara ekologis. Saya merasa perlu meng-upload inti dari argumentasi kubu sebelah, yang berpendapat tidak apa memakai daun palem saat Minggu palem bukan bearti tidak tobat ekologis, agar bisa jadi renungan bagi pembaca, tentunya menambah khazanah pengetahuan pembaca.


PEMAHAMAN
Menjelang Minggu Palem muncul kritik: Gereja berbicara tentang ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€, tetapi justru memotong daun palem untuk perayaan. Sekilas tampak seperti kontradiksi. Namun, jika ditelaah dengan lebih jernih, kritik ini sesungguhnya tidak tepat sasaran, bahkan berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih mendesak.

Kesatu, perlu dibedakan secara tegas antara penggunaan simbolik yang terbatas dan praktik eksploitasi yang merusak. Daun palem yang digunakan dalam liturgi diambil dalam jumlah kecil dari tanaman yang umumnya dibudidayakan, lebih dikenal sebagai tanaman hias atau tanaman pekarangan. Memotong tangkai atau daun tidak sama dengan menebang pohon, apalagi menghancurkan ekosistem. Dalam banyak kasus pemangkasan justru merupakan bagian dari perawatan tanaman itu sendiri. Menyamakannya dengan kerusakan ekologis bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kegagalan membedakan skala persoalan.

Kedua, mengaitkan penggunaan daun palem dalam liturgi dengan krisis lingkungan tanpa membedakan konteks justru mengaburkan masalah. Ironisnya pada saat yang sama ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit, yang juga termasuk keluarga palem, telah lama berkontribusi pada deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan berbagai konflik ekologis. Namun, kritik terhadap persoalan yang jelas berskala struktural ini kerap melemah. Kita menjadi keras terhadap yang remeh-temeh tak murad, tetapi ragu terhadap yang besar.

Ketiga, liturgi bukan sekadar tindakan praktis, melainkan bahasa simbolik iman. Daun palem dalam perayaan Minggu Palem adalah tanda pengakuan akan Kristus yang datang sebagai Raja damai. Menghapus atau mencurigai simbol ini tanpa pembedaan yang memadai justru mereduksi iman menjadi sekadar persoalan teknis remeh-temeh. Padahal ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€ yang sejati tidak berhenti pada penghindaran tindakan-tindakan kecil, melainkan menyentuh cara pandang dan cara hidup secara menyeluruh, terutama dalam menghadapi sistem yang sungguh-sungguh merusak ciptaan.

Oleh karena itu sebelum menilai Gereja tidak panggah, kita perlu terlebih dahulu menempatkan persoalan pada proporsinya. Kepedulian ekologis yang matang tidak cukup hanya peka terhadap apa yang tampak, tetapi juga berani menilai apa yang menentukan. Tanpa pembedaan ini, kritik mudah berubah menjadi sekadar sikap reaktif, nyaring di permukaan, tetapi tumpul pada kedalaman.

Pertobatan ekologis menuntut kejernihan, bukan sekadar kepekaan.

(30032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang-sekali-lagi-tentang.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Apakah Kita Benar-Benar Berjalan di Jalan yang Sama dengan Yesus?

Kata Yunani "akoloutheล" sering diterjemahkan sederhana sebagai “mengikuti.” Namun dalam konteks Injil, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar berjalan di belakang. Secara etimologis, kata ini terdiri dari a- (bersama) dan keleuthos (jalan, rute, cara hidup). 

Jadi akoloutheล bukan hanya soal arah kaki, tetapi kesatuan jalan hidup, berjalan di rute yang sama, menuju tujuan yang sama, dengan pola hidup yang sama. Inilah yang Yesus maksud ketika Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Itu bukan ajakan simbolis, melainkan tuntutan eksistensial.

Dalam tradisi Yahudi abad pertama, konsep “mengikuti” seorang rabi memiliki bobot yang sangat serius. Seorang murid (talmid) tidak hanya belajar ajaran, tetapi meniru seluruh kehidupan gurunya, cara berpikir, cara menafsir Taurat, bahkan cara makan dan berdoa. Ada ungkapan terkenal dalam tradisi rabinik: “Kiranya engkau tertutup debu kaki rabimu,” yang berarti seorang murid berjalan begitu dekat dengan gurunya sampai debu langkah sang rabi menempel padanya. Mengikuti berarti melekat, bukan sekadar mengagumi dari jauh.

Namun di sinilah letak keunikan sekaligus radikalitas Yesus. Dalam budaya Yahudi, biasanya murid memilih rabi yang dianggap layak. Tetapi Yesus justru membalik pola itu: Ia yang memilih murid-murid-Nya. Lebih mengejutkan lagi, Ia memilih orang-orang yang secara sosial dan religius tidak memenuhi standar rabinik, nelayan, pemungut cukai, orang-orang biasa tanpa pendidikan teologis formal. Ini menunjukkan bahwa panggilan akoloutheล bukan tentang kelayakan manusia, tetapi tentang otoritas dan anugerah Allah.

Mengapa Yesus meminta mereka mengikuti Dia? Karena Ia bukan sekadar rabi yang mengajarkan Taurat, Ia adalah jalan itu sendiri. Pernyataan-Nya dalam Yohanes 14:6 menegaskan: “Akulah jalan…” Dalam kerangka ini, akoloutheล bukan hanya mengikuti pengajar, tetapi masuk ke dalam realitas hidup yang Ia hidupi. Mengikuti Yesus berarti meninggalkan jalan lama, identitas lama, ambisi lama, bahkan definisi diri yang lama, dan masuk ke dalam jalan salib.

Di sinilah renungan ini menjadi kritis bagi gereja masa kini. Banyak orang “mengikuti Yesus” secara verbal, tetapi berjalan di jalan yang berbeda secara praktis. Kita ingin berkat-Nya, tetapi tidak mau memikul salib-Nya. Kita mengadopsi bahasa rohani, tetapi tetap hidup dalam pola dunia. Kita menyebut diri murid, tetapi tidak hidup sebagai talmid. Pertanyaannya bukan: “Apakah kita percaya kepada Yesus?” melainkan: “Apakah hidup kita bergerak di jalur yang sama dengan-Nya?”

Yesus tidak pernah menyembunyikan biaya/ harga dari akoloutheล. Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari…” Ini bukan metafora ringan. Dalam konteks budaya Romawi, salib adalah simbol kematian yang memalukan. Jadi mengikuti Yesus berarti kesediaan untuk mati, mati terhadap ego, mati terhadap kenyamanan, mati terhadap keinginan untuk mengontrol hidup sendiri.

Maka, akoloutheล adalah panggilan menuju keserupaan, bukan sekadar kedekatan. Banyak orang dekat dengan aktivitas gereja, tetapi jauh dari jalan Kristus. Banyak yang mengenal ajaran Yesus, tetapi tidak mengenal ritme hidup-Nya, kerendahan hati, ketaatan total kepada Bapa, kasih yang berkorban, dan keberanian menghadapi penolakan.

Mari kita jujur, jika seseorang mengamati hidup kita dari dekat, apakah mereka akan melihat jejak Yesus di sana? Apakah “debu kaki-Nya” melekat dalam cara kita berpikir, berbicara, dan mengambil keputusan?

Mengikuti Yesus bukan sekadar hadir dalam ibadah, tetapi hidup dalam jejak langkah-Nya setiap hari. Akoloutheล bukan sekadar kata, melainkan jalan hidup yang sempit, yang justru membuka pintu kepada kehidupan yang sejati.

Klemens dari Aleksandria menulis: “Firman menjadi nyata ketika kehidupan seorang percaya mencerminkan Sang Guru.”

Jumat, 27 Maret 2026

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ, ๐—œ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ, ๐—œ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ

PENGANTAR 
Banyak pertanyaan dari tulisan Hosana, memang menjelaskan standard ganda atau makna ganda itu sulit, munculah tulisan buntut tulisan kemaren. Saban Minggu Palem umat merayakan dengan suasana yang khas. Ada prosesi, ada daun palem, ada nyanyian yang penuh sukacita. Yesus disambut sebagai Raja. Liturgi terasa meriah, bahkan cenderung penuh kemenangan. Di situlah persoalannya bermula. 


PEMAHAMAN 
Minggu Palem kerap diperlakukan seolah-olah berdiri sendiri. Seolah-olah ini adalah perayaan tentang kemenangan Yesus yang terpisah dari apa yang segera menyusul sesudahnya. Padahal dalam tradisi gereja yang lebih luas Minggu ke-6 Pra-Paska, Minggu Palem, tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu beririsan dengan apa yang disebut sebagai “Sengsara”. Dalam kerangka ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ (RCL) Minggu ini bahkan memiliki nama ganda: ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด (Minggu Palem)/ ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ (Minggu Sengsara). Dua penekanan dalam satu hari. Dua nada dalam satu liturgi. Di satu sisi Gereja mengenang Yesus yang memasuki Yerusalem dengan sorak-sorai. Di sisi lain Gereja juga sudah mula membaca kisah penderitaan-Nya. Bukan hari sesudahnya, tetapi pada hari yang sama. Artinya jelas. Sejak awal Gereja tidak pernah memberi ruang bagi umat untuk berhenti pada suasana kemenangan semata. Sorak-sorai itu sejak awal sudah dibayangi oleh salib. Namun dalam praktik yang sering terjadi justru sebaliknya. Minggu Palem dirayakan sebagai puncak sukacita, lalu kisah sengsara “ditunda” sampai Jumat Agung. Seolah-olah ada jarak emosional yang sengaja dibuat antara masuknya Yesus ke Yerusalem dan penderitaan-Nya. Di sinilah kita mula melihat sesuatu yang lebih dalam. Bukan sekadar soal liturgi, tetapi soal kecenderungan. Gereja, termasuk umat di dalamnya, cenderung lebih nyaman dengan perayaan daripada dengan penderitaan. ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—บ. Lebih mudah melambaikan daun palem daripada berjalan bersama Yesus menuju salib. Minggu Palem memberi ruang untuk ekspresi. Untuk gerak. Untuk suara. Untuk suasana yang hidup. Dalam pada itu kisah sengsara menuntut hal yang lain. Ia menuntut keheningan. Ia menuntut keberanian untuk menghadapi penderitaan. Ia menuntut kesediaan untuk tidak segera beranjak dari ketidaknyamanan. Tidak semua orang siap untuk itu. Tidak mengherankan secara tidak sadar kita memisahkan keduanya. Kita merayakan yang satu, kita menunda yang lain. Kita menikmati sorak-sorai, lalu berharap penderitaan bisa kita hadapi nanti saja. Akibatnya Minggu Palem kehilangan ketegangannya. Ia menjadi perayaan yang nyaman. Tidak lagi mengganggu. Padahal justru di situlah letak kekuatannya. Minggu Palem bukan hanya tentang sambutan, tetapi tentang ironi. Tentang bagaimana sorak-sorai dan jalan menuju salib berdiri sangat dekat. Tentang bagaimana harapan manusia bertemu dengan jalan Allah yang sama sekali berbeda. Di sisi lain ada juga kekeliruan yang tidak kalah umum. Banyak Gereja menyebut seluruh Minggu dalam masa Pra-Paska sebagai “Minggu-Minggu Sengsara”. Seolah-olah sejak awal masa Pra-Paska Gereja sudah sepenuhnya berada dalam suasana penderitaan.
Padahal secara liturgis yang disebut ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข itu merujuk secara khusus Minggu terakhir sebelum Paska, yaitu Minggu ke-6 dalam masa Pra-Paska. Bukan seluruh rangkaian (hari) Minggu sebelumnya, menyebut masa prapaskah sebagai masa sengsara juga kurang tepat. Masa Pra-Paska memang mengandung suasana pertobatan dan perenungan. Meskipun demikian belum semuanya berpumpun pada kisah sengsara. Ada proses. Ada perjalanan. Ada pendalaman iman yang bertahap. Puncaknya baru tiba ketika Gereja memasuki Minggu Sengsara itu sendiri.
Ketika semua Minggu dalam masa Pra-Paska disebut “Minggu Sengsara”, maka yang terjadi justru sebaliknya. Sengsara kehilangan bobotnya. Ia menjadi datar. Tidak lagi memiliki intensitas yang seharusnya memuncak pada Minggu terakhir. Di sini kita melihat pola yang sama. Baik dalam memahami Minggu Palem maupun dalam menyebut Minggu-Minggu Pra-Paska ada kecenderungan untuk meratakan apa yang seharusnya memiliki ketegangan dan puncak. Liturgi menjadi kehilangan dramanya.
Ketika drama itu hilang (jangan meremehkan konsep teaterikal liturgi), iman pun perlahan menjadi tumpul. Tidak lagi mengejutkan. Tidak lagi mengguncang. Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Ia beririsan dengan sengsara. Minggu Sengsara bukan seluruh masa Pra-Paska. Ia adalah puncak dari perjalanan itu. Jika kita memisahkan keduanya, atau meratakan semuanya, kita bukan hanya keliru memahami liturgi. Kita sedang menghindari bagian iman yang paling sulit, tetapi juga yang paling menentukan. Sangat bolehjadi di situlah letak masalahnya. Kita ingin mengikuti Yesus, tetapi tidak selalu ingin mengikuti-Nya sejauh itu.
(28032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang-sekali-lagi-tentang.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html

SUDUT PANDANG REFLEKSI PERANG, Ketika Bumi Ikut Disalibkan

SUDUT PANDANG REFLEKSI PERANG, Ketika Bumi Ikut Disalibkan

PENGANTAR
Persoalan ekologi sebagai dampak dari perang di Timur Tengah maupun perang Rusia–Ukraina tampaknya belum cukup dibahas. Kita sibuk menghitung korban manusia, menghitung kerugian ekonomi, dan menghitung siapa menang siapa kalah, tetapi jarang sekali kita bertanya: berapa banyak tanah yang mati, berapa laut yang tercekik, dan berapa udara yang menjadi racun? Bumi yang tak berdosa ikut tersalibkan. Nah, tulisan ini mencoba menelisiknya, meski mungkin bumi sendiri sudah letih merintih. Dunia pernah jungkir balik ketika pandemi Covid datang seperti tamu tak diundang yang masuk rumah tanpa mengetuk pintu. Banyak orang panik, ekonomi terengah-engah, dan suasana global terasa seperti ayam kampung yang ketahuan mencuri nasi lalu dikejar warga satu RT. Anehnya, di tengah kekacauan itu, tidak semua orang kehabisan akal. Sebagian orang justru menemukan celah, kecil tapi nyata, seperti air hujan yang tetap bisa merembes lewat tembok beton yang katanya sudah diplester rapat oleh tukang paling mahal di kompleks.


PEMAHAMAN
Menurut laporan The Guardian (21 Maret 2026), konflik di Timur Tengah bukan hanya soal misil dan geopolitik, tetapi juga soal emisi karbon dalam skala industrial. Ironisnya, ketika dunia berkhotbah tentang pengurangan emisi, matikan listrik, perang justru menjadi “industri kilat” yang menghasilkan jutaan ton CO₂ dalam waktu singkat. Seolah-olah bumi diberi bonus asap gratis, tanpa perlu konferensi iklim, tanpa perlu kesepakatan Paris. Perang adalah COP (Conference of Polluters) paling efektif yang pernah diciptakan manusia.
'Alam pun Menjerit* 
Walter Leal Filho dalam kajiannya tentang perang Rusia–Ukraina menyebut lingkungan alam sebagai “korban pertama perang.” Alam raya menjerit! Lingkungan alam bukan hanya korban pertama, tetapi juga korban yang paling setia. Ia tetap menderita lama setelah perang selesai dan para pemimpin dunia kembali berjabat tangan di panggung diplomasi. Tanah yang tercemar logam berat tidak bisa ikut menandatangani perjanjian damai. Sungai yang diracuni tidak bisa hadir dalam konferensi rekonstruksi.
Dalam perang modern, peluru tidak hanya menembus tubuh manusia, tetapi juga menembus lapisan tanah, merusak mikroorganisme, dan mengganggu keseimbangan ekosistem yang dibangun selama ribuan tahun. Tank tidak hanya melindas musuh, tetapi juga melindas masa depan biodiversitas. Dan ranjau darat, yang ditanam di hampir 25% wilayah Ukraina, adalah bentuk humor gelap manusia: hadiah kejutan yang tetap membunuh bahkan ketika perang sudah usai. Lebih tragis, ekosistem tidak punya kewarganegaraan. Lumba-lumba di Laut Hitam tidak tahu apakah mereka berada di pihak Ukraina atau Rusia. Tiba-tiba, mereka 'shock berat' saat sonar militer mengacaukan navigasi mereka.  Lalu, laut yang dulu rumah kini menjadi kuburan. Udara di Timur Tengah tidak memilih ideologi, tetapi  dipaksa menghitam, lalu semua makhluk hidup menghirup hasil bakaran konflik manusia.
Namun barangkali ironisnya justru di sini: kita hidup di zaman ketika manusia mengklaim diri sebagai makhluk paling rasional, tetapi manusialah satu-satunya spesies yang mampu menghancurkan rumahnya sendiri secara sistematis. Kita menyebutnya “strategi militer,” padahal dari perspektif bumi, ini tidak lebih dari ecocide, pembunuhan perlahan terhadap sistem kehidupan. Di bagian lain, kita menghancurkan hutan dan menyebutnya 'food estate', padahal dengan berbuat itu kita sedang memotong selang oksigen kita sendiri. Ujung dari immoralitas manusia adalah kebinasaan dirinya sendiri. Tragis! 
Mungkin suatu hari nanti, ketika perang telah usai dan monumen didirikan, manusia akan berkata: “Kami telah belajar dari sejarah.” Tetapi bumi, jika bisa berbicara, mungkin hanya akan menjawab lirih: “Ya, tetapi kalian belajar terlalu lambat, dan aku sudah terlalu rusak untuk menunggu.” Ketika orang dilarang berkumpul, manusia tidak tiba-tiba berubah menjadi patung taman. Mereka mencari cara lain. Lahirlah rapat Zoom, ibadah online, kuliah digital, bahkan acara ulang tahun yang dihadiri lebih banyak layar laptop daripada manusia asli. Manusia memang punya bakat unik: kalau pintu ditutup, dia tidak berhenti. Dia akan cari jendela. Kalau jendela ditutup, dia bongkar genteng. Sejarah menunjukkan hal yang sama. Setiap krisis besar sering kali justru melahirkan inovasi. Kreativitas manusia kadang mengalir deras saat situasi genting. Mirip lahar panas gunung berapi yang tiba-tiba memaksa semua orang berlari sambil berpikir keras: “Habislah… tapi mungkin kita bisa bikin sesuatu dari ini.” Nah, sekarang dunia sedang menghadapi drama baru: krisis energi. Biangnya ada di sebuah tempat kecil bernama Selat Hormuz. Panjangnya cuma sekitar 34 kilometer, tidak jauh-jauh amat  dibanding jarak orang Jakarta yang tiap hari menempuh perjalanan dari rumah ke kantor sambil mikirin bagaimana bayar cicilan pinjol. Tetapi selat kecil ini punya peran besar: sekitar 20 persen energi dunia lewat situ. Bayangkan saja, Selat Hormuz itu seperti kerongkongan seseorang yang sedang makan sosis terlalu besar. Kalau tersangkut lama, wajahnya langsung merah, matanya melotot, dan semua orang di meja makan panik mencari air putih.
Begitu juga dunia. Kalau “kerongkongan energi” ini tersumbat, ekonomi global bisa megap-megap seperti motor tua yang kehabisan bensin di tengah tanjakan.
Masalahnya, minyak bumi bukan sekadar urusan mobil dan motor. Ia adalah darah yang mengalir dalam hampir semua sistem produksi. Tanpa energi, pabrik berhenti. Transportasi macet. Distribusi barang tersendat. Ujungnya PHK lagi. Situasinya mirip tubuh manusia yang tiba-tiba terkena stroke: tangan tidak bergerak, kaki tidak patuh, dan seluruh sistem mendadak kacau.
Namun seperti krisis sebelumnya, momen ini sebenarnya juga menyimpan peluang. Krisis sering kali seperti alarm pagi hari. Memang menyebalkan, tapi kalau tidak berbunyi kita bisa terus tidur dan terlambat ke kantor. Krisis energi ini sedang membangunkan dunia dari tidur panjang ketergantungan pada minyak bumi. Negara-negara yang cerdas mulai berpikir: “Kalau satu kran macet, kita harus punya banyak kran lain.” China, misalnya, sudah bergerak cepat. Mobil-mobil produksi mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bensin. Banyak yang sudah memakai baterai lithium. Jadi, kalau suatu hari pom bensin tutup, mobil mereka tidak langsung berubah jadi pajangan halaman rumah. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan bahan untuk melakukan hal yang sama. Kita punya air yang mengalir dari ribuan sungai, angin yang bertiup dari laut, ombak yang tidak pernah capek menghantam pantai, dan cadangan nikel yang membuat banyak negara melirik seperti tetangga yang mengintip dapur kita saat mencium aroma rendang. Artinya, bahan bakunya ada. Potensi ada. Yang sering kurang hanyalah satu hal sederhana tapi mahal harganya: kemauan pemerintah mendorong kreativitas dan inovasi anak bangsa. Padahal kalau diberi ruang, orang Indonesia itu kreatifnya luar biasa.
Di negara lain orang membuat kendaraan listrik. Di Indonesia, orang bisa membuat gerobak bakso yang sekaligus jadi dapur, restoran, dan kantor cabang keliling. Bayangkan kalau kreativitas seperti itu diarahkan pada inovasi energi. Krisis energi ini seharusnya menjadi pelecut. Bukan untuk panik, tetapi untuk berpikir lebih serius. Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal:
Bangsa yang bertahan bukanlah bangsa yang hidup tanpa krisis. Melainkan bangsa yang ketika dunia tersedak, dia sudah menyiapkan sedotan cadangan. 

(25 Maret 2026)(TUS)
Ada satu masalah serius dalam banyak mimbar hari ini: DOSA DIPERLAKUKAN SEPERTI LUKA RINGAN, padahal Alkitab menggambarkannya sebagai PENYAKIT MEMATIKAN.

Seperti yang pernah disampaikan oleh John Owen, yang sangat serius membahas tentang dosa:

“Dosa itu seperti penyakit yang mematikan; jika tidak dimatikan, ia akan membunuh kita.”

Ketika seorang pengkhotbah menjadi lunak terhadap dosa, biasanya bukan karena ia lebih penuh kasih, melainkan karena ia kehilangan RASA GENTAR TERHADAP KEKUDUSAN ALLAH. Ia berbicara tentang kenyamanan, tetapi menghindari konfrontasi. Ia menawarkan penghiburan, tetapi tanpa pertobatan. Akhirnya, Injil direduksi menjadi sekadar “TERAPI ROHANI”, bukan KABAR KESELAMATAN DARI HUKUMAN YANG NYATA.

Padahal Alkitab tidak pernah bermain-main soal dosa.

Rasul Paulus menulis dengan sangat tajam: “UPAH DOSA IALAH MAUT” (Roma 6:23). Kata “upah” (opsลnia) bukan sekadar konsekuensi alami, ini adalah BAYARAN YANG PANTAS. Dan kata “maut” (thanatos) bukan hanya kematian fisik, tetapi KETERPISAHAN TOTAL DARI ALLAH, sumber hidup itu sendiri.

Jadi dosa bukan sekadar “KESALAHAN KECIL.”
DOSA ADALAH PEMBERONTAKAN TERHADAP PRIBADI YANG KUDUS.
DOSA ADALAH PENOLAKAN TERHADAP OTORITAS ALLAH.
DOSA ADALAH PENGHINAAN TERHADAP KEMULIAAN-NYA.

Dan ya, ALLAH BENAR-BENAR MURKA TERHADAP DOSA.

Bukan murka yang emosional dan tidak terkendali seperti manusia, tetapi MURKA YANG KUDUS, ADIL, DAN KONSISTEN dengan natur-Nya. Jika Allah tidak murka terhadap dosa, maka Ia bukan Allah yang adil. KASIH TANPA KEADILAN HANYALAH SENTIMENTALITAS. Tetapi kasih Allah justru menjadi mulia karena Ia tidak mengabaikan dosa, Ia MENGHAKIMINYA.

Di sinilah salib menjadi pusat segalanya.

Jika Kristus hanya mati untuk mengatasi “DAMPAK” dosa, seperti rasa bersalah, luka batin, atau kehancuran hidup, maka salib hanyalah SOLUSI PSIKOLOGIS. Tetapi Alkitab berkata lebih dalam: Kristus mati sebagai pengganti, MENANGGUNG MURKA ALLAH yang seharusnya jatuh atas kita (Yesaya 53:5; Roma 3:25).

SALIB BUKAN SEKADAR DEMONSTRASI KASIH.
SALIB ADALAH TEMPAT KEADILAN DAN KASIH BERTEMU, DENGAN HARGA YANG SANGAT MAHAL.

Kesaksian dari Charles Spurgeon pernah mengguncang banyak orang pada zamannya. Ia berkata bahwa ia tidak pernah bisa memberitakan Injil dengan benar sampai ia terlebih dahulu melihat betapa dalam dan kotornya dosanya sendiri. Ia menyadari bahwa ketika ia benar-benar mengerti bahwa ia BERSALAH DI HADAPAN ALLAH YANG KUDUS, barulah salib Kristus menjadi SANGAT BERHARGA. Bagi Spurgeon, pemberitaan yang tidak menyingkapkan dosa dengan jelas hanya akan menghasilkan PERTOBATAN YANG DANGKAL.

Karena itu, ketika dosa diperkecil, salib juga otomatis diperkecil.
Dan ketika salib diperkecil, INJIL KEHILANGAN KUASANYA.

Kita mulai berpikir
KALAU DOSA TIDAK TERLALU SERIUS, KENAPA HARUS BERTOBAT DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH.
KALAU ALLAH TIDAK BENAR-BENAR MURKA, KENAPA HARUS ADA PENEBUSAN.

Itu sebabnya, pengkhotbah yang setia bukanlah yang membuat orang merasa nyaman, tetapi yang membuat orang sadar akan kondisi mereka, lalu membawa mereka kepada Kristus sebagai satu-satunya harapan.

Memang, ini tidak populer.
TAPI SEJAK KAPAN KEBENARAN BERGANTUNG PADA POPULARITAS?

DOSA ADALAH ALASAN KITA MATI.
BUKAN HANYA SECARA BIOLOGIS, TETAPI SECARA ROHANI.

Namun kabar baiknya tidak berhenti di sana.

Justru karena DOSA BEGITU SERIUS, maka KASIH ALLAH BEGITU RADIKAL.
Justru karena MURKA ITU NYATA, maka ANUGERAH ITU BEGITU AJAIB.

KRISTUS TIDAK DATANG UNTUK MENAMBAL HIDUP KITA.
IA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN KITA DARI KEBINASAAN.

Jangan kejar kenyamanan (melalui khotbah-khotbah / renungan) yang membuat hati terasa ringan tetapi mengabaikan kebenaran.
Milikilah rasa haus dan lapar akan pemberitaan yang setia menyatakan kebenaran, meskipun itu berat di awal, tetapi menyelamatkan pada akhirnya.

Karena INJIL YANG SEJATI TIDAK MENGELUS DOSA.
IA MENYALIBKANNYA.

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ, ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™–๐™ฃ๐™–: ๐—๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐˜‚๐—ท๐—ถ๐—ฎ๐—ป

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ, ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™–๐™ฃ๐™–: ๐—๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐˜‚๐—ท๐—ถ๐—ฎ๐—ป

PENGANTAR
Memang susah mengajarkan sesuatu yang berstandard ganda, apalagi itu terkait liturgi, untuk menghayati apalagi mengekspresikan sesuatu yg ambigu, susah.  Setiap ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ kita menyanyikan ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™–๐™ฃ๐™– dengan penuh sukacita. Suasana dibuat meriah. Ada arak-arakan, ada daun palem, ada nyanyian yang terdengar seperti pujian kemenangan. Namun, justru di titik ini terjadi pergeseran yang serius, yang sudah begitu lama dianggap wajar. Kata ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข yang kita nyanyikan itu bukanlah kata pujian. Ia adalah doa yang mendesak, bukan deklarasi kemenangan. Dalam Injil Matius 21:9 orang banyak berseru, “๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ!”  Hosana dinyanyikan sebagai pujian, karena kita selalu yakin akan pertolonganNya, tanpa menutup mata akan kesulitan/tantangan/resiko yang sedang dihadapi dalam hidup beriman.


PEMAHAMAN 
Seruan itu bukan sekadar ekspresi religius yang indah. Secara etimologis ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข berasal dari ungkapan Ibrani ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช‘๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข, yang berarti literal “๐™๐™ค๐™ก๐™ค๐™ฃ๐™œ๐™ก๐™–๐™, ๐™จ๐™š๐™ก๐™–๐™ข๐™–๐™ฉ๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ!” Dalam Injil Matius 21:9 seruan itu muncul dalam bentuk ๐˜ฉo๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ตo ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ชo ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ช๐˜ฅ, yang jika diterjemahkan secara bebas berarti, “๐˜ž๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช!” 
Variasi lain ucapan ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข adalah ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™ž๐™–๐™ฃ๐™–. Ini adalah seruan permohonan, atau lebih tepat disebut sebagai jeritan yang mendesak, lahir dari situasi yang tidak beres dan membutuhkan tindakan segera.
Menariknya dalam praktik liturgi Gereja arus-utama (protestan reformir) ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข tidak ditempatkan sebagai pujian seperti ๐˜๐‘Ž๐˜ญ๐‘’๐˜ญ๐‘ข๐˜บ๐‘Ž. Dalam tradisi liturgi Gereja arus-utama, seperti di GKI, GKJ, GPIB, dlsb sebagai misal, ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข justru muncul dalam musim Pra-Paska, masa refleksi, pertobatan, dan penantian. Sesudah pendeta membacakan Kitab Suci, umat menanggapi: ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™ž๐™–๐™ฃ๐™–, ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™ž๐™–๐™ฃ๐™–, ๐™ƒ๐™ค๐™จ๐™ž๐™–๐™ฃ๐™–. Ini menunjukkan bahwa secara liturgis pun ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข lebih dekat dengan permohonan keselamatan daripada pujian kemenangan. Jika ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข adalah pujian, mengapa ia tidak ditempatkan pada musim sukacita seperti Natal dan Paska?
Ketika orang banyak berseru ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข saat Yesus tiba di Yerusalem, mereka tidak sedang memuji dalam pengertian liturgis seperti kata ๐˜๐‘Ž๐˜ญ๐‘’๐˜ญ๐‘ข๐˜บ๐‘Ž. Mereka sedang memohon pertolongan. Mereka sedang berseru agar Allah bertindak. Di sinilah letak ketegangan yang sering hilang dalam praktik liturgi ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ.
Dalam narasi Injil Matius seruan ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข muncul dalam konteks harapan yang sangat konkret. Orang banyak menyebut Yesus sebagai ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ (Mat. 21:9), sebuah gelar mesianik yang sarat muatan historis, politis, dan teologis. Mereka berharap akan keselamatan yang nyata, yang dapat dirasakan, yang dapat mengubah keadaan dan status mereka.
Dalam Matius 21:9 orang banyak tidak hanya berseru ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, tetapi juga mengutip Mazmur 118:26 sebagai bagian dari tradisi liturgis Israel ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. Ini menunjukkan bahwa seruan itu adalah campuran antara permohonan keselamatan dan pujian. Namun, ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข tidak otomatis berubah menjadi pujian. ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข tetap membawa makna dasarnya di dalam rangkaian seruan tersebut. Sebagai analogi sederhana saat orang berdoa mengucap, “๐˜›๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข, ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜‹๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜”๐˜ถ!”
Namun, arah cerita Injil tidak mengikuti harapan itu. Alih-alih menuju kemenangan yang segera terlihat, narasi bergerak menuju konflik, penolakan, dan akhirnya penyaliban. Ini berarti bahwa sejak awal sudah ada ketegangan antara apa yang diminta oleh orang banyak melalui ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข dan bagaimana keselamatan itu diwujudkan dalam jalan Yesus.
Dengan kata lain ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข dalam narasi ini bukan hanya seruan iman, tetapi juga seruan yang ambigu: benar dalam permohonan, tetapi tidak sepenuhnya memahami jalan jawabannya. Ironisnya dalam praktik liturgi ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ justru menghilangkan seluruh ketegangan ini. ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข dinyanyikan sebagai pujian kemenangan, seolah-olah ini adalah momen euforia iman. Padahal dalam alur naratif Injil ini adalah awal dari ketegangan yang akan memuncak pada salib.
Pergeseran makna ini bahkan dapat dilihat dengan jelas dalam lagu-lagu rohani yang kerap dinyanyikan. Misal, dalam sebuah lagu rohani populer berjudul ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ

๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ
๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด
๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข

Dalam lirik lagu itu ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข secara eksplisit dipahami sebagai tindakan memuji dan meninggikan. Bahkan lagu ini dinyanyikan dengan riang gembira, dalam suasana penuh sukacita, yang ironisnya bertolak belakang dengan makna asli ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข sebagai jeritan minta diselamatkan. Dalam narasi Injil Matius 21:9 ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข bukanlah seruan pujian, melainkan permohonan keselamatan. Dengan demikian penggunaan kata yang sama dalam konteks yang berbeda ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran makna yang cukup jauh dari akar biblisnya.
Hal ini tidak berarti bahwa lagu tersebut harus ditolak, tetapi menunjukkan bahwa bahasa iman yang kita pakai dalam nyanyian modern tidak selalu identik dengan makna yang dimaksud dalam teks Alkitab. Justru di sinilah diperlukan kesadaran teologis, agar apa yang kita nyanyikan tidak kehilangan kedalaman makna yang terkandung dalam narasi Kitab Suci. Tanpa disadari kita tidak hanya menyanyikan iman, tetapi juga menafsirnya, dan kadang menyederhanakannya.
Ketika ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข direduksi menjadi pujian, kita tidak lagi merasakan urgensinya. Kita tidak lagi mendengar nada putus asa di dalamnya. Kita tidak lagi menangkap bahwa kata itu lahir dari situasi yang mendesak, dari kebutuhan akan pertolongan yang nyata.
Lebih daripada itu kita juga kehilangan matra kritisnya. Narasi ini menunjukkan bahwa manusia berseru dengan kata yang benar, tetapi tetap salah memahami apa yang mereka harapkan. Mereka memanggil Mesias, tetapi membayangkan Mesias menurut kerangka mereka sendiri, bukan menurut jalan Allah.
Di sini persoalannya bukan sekadar apakah kita menyanyikan ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข atau tidak, tetapi apakah kita masih memahami apa yang kita ucapkan. Dalam terang Injil Matius ๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข bukanlah kata yang ringan. Ia adalah seruan yang lahir dari kebutuhan, dari tekanan, dari harapan yang mendesak. Ia adalah doa yang belum terjawab, bukan perayaan atas jawaban yang sudah selesai.
๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ bukan sekadar hari untuk bersukacita. Ia adalah hari ketika iman tampil dalam bentuk yang paling jujur: sebagai jeritan yang berharap, tetapi belum melihat. Barangkali di situlah kita perlu memula lagi. Dari jeritan, bukan dari euforia.
Hasil bbrp diskusi di kelas sejarah, sastra, dan arkeologi Alkitab, karena liturgi adalah bagian dari warisan arkeologi gereja dan tradisi yg bisa dinikmati hingga sekarang.
Yang penting dari awal sudah ada kesadaran: ini bukan sekadar arak2an meriah, tapi kita sedang mengiringi Yesus yg sedang menuju penderitaan.
Jadi suasananya boleh kok: ada sukacita, ada lambaian daun palem, bahkan terasa hidup
Tapi jangan sampai jadi kayak pesta yang lepas dari makna. Tetap ada rasa khidmat di dalam sukacita itu.
Anggap saja begini: kita ikut bersorak “Hosana!”, tapi di hati kita sadar, jalan yang ditempuh Yesus itu bukan menuju mahkota dunia, tapi salib.
(27032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang-sekali-lagi-tentang.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Sudut Pandang Mari kita jujur dengan realita

Sudut Pandang Mari kita jujur dengan realita

PENGANTAR 
Di luar sana, keadaan tidak sedang baik-baik saja. Kontekstual keadaan kekinian Orang atau umat  bergumul dengan ekonomi yang makin menekan, kemungkinan ekonomi memburuk di hari depan, blom lagi kemungkinan bencana kekeringan, akibat perang yg lama kemungkinan harga bensin/minyak bumi/bahan bakar akan naik gila-gilaan bahkan krisis bahan bakar (tapi hampir tidak menemukan gereja yg mengajak umat irit bahan bakar tapi kalau gereja yang mengajak mematikan listrik dalam masa tertentu ada, bahkan banyak). Ketidakadilan terasa nyata. Konflik sosial muncul di mana-mana. Di belahan dunia lain, perang terus berlangsung—orang kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan. Hidup mereka bukan lagi soal “naik level”, tapi sekadar bertahan hidup hari ini.


PEMAHAMAN
Lalu kita masuk ke dalam gereja.

Lampu bagus. Musik megah. Tema tetap optimis:
“hidupmu pasti naik level,”
“ini musim berkat,”
“tahun kemenangan.”
"ayo ..... makan, ayo perjamuan kasih"

Tidak salah bersyukur. Tidak salah berharap. Tapi kalau gereja setiap minggu nadanya selalu sama, naik, menang, berhasil, tanpa ruang untuk ratapan, pergumulan, dan kejujuran… itu bukan iman yang sehat. Itu lebih mirip pelarian rohani yang dikemas rapi.
Dunia di sekitar kita sedang “berdarah-darah”, "gereja kadang sibuk “ganti lighting panggung”, "ngecat tembok", "ganti pagar", dlsb.
bahkan ada gereja di Indonesia yang terkenal dengan LED terbesar dan lightingnya yang keren!  Bahkan gedung termegah, ada gereja yang memiliki ruang musik orkestra termegah, dlsb.
Seolah-olah pesan yang tidak terucap adalah:
“Ya, dunia memang kacau… tapi jangan bawa itu ke sini, jangan bawa ke gereja. Kita tetap harus happy, di gereja adanya cuman seneng.”
"Dunia boleh resesi, anak Tuhan tetap resepsi." Harus dimengerti, kita bicara gereja, kita bicara persekutuan, bukan membicarakan orang per orang. Kita membicarakan orang-orang yg dikhususkan oleh Tuhan, dalam sebuah persekutuan yang disebut gereja. Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang steril dari penderitaan.
Justru sebaliknya:
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:15).
Perhatikan: bukan pilih salah satu.Bukan cuma sukacita tanpa air mata. Tapi keduanya—karena itu mencerminkan hati Kristus.
Yesus tidak pernah memilih hidup nyaman yang terisolasi dari kenyataan.
Saat Ia melihat orang lapar, hati-Nya langsung merespons.
Saat Ia berjumpa dengan penderitaan, belas kasihan-Nya mengalir tanpa ditahan.
Dan ketika Ia memandang kota yang keras hati, Ia tidak menghakimi dari jauh—Ia justru menangisinya (Lukas 19:41).
Bandingkan dengan kita, sering sebagai sebuah gereja sering tidak peduli lingkungan kita. Kita kadang gak ngerti ada umat kita yg kesulitan dapat makan, dimana umat ini bukan orang yg dikenal bahkan aktif di gereja tetapi anggota gereja. Kita gak jeli melihat umat kita sendiri, kita cuman bangga duduk di kursi pimpinan gereja tapi gak ngerti siapa umat kita, yg penting saban hari Minggu keliatan mentereng.
Masalahnya bukan pada perayaan, dan perkara dana habis untuk makanan atau perjamuan kasih dan progam wooowww keren lainnya tapi pada ketidakseimbangan.Kalau gereja hanya merayakan tanpa pernah meratap,
maka kita kehilangan kepekaan. Kalau kita hanya bicara berkat tanpa pernah bicara penderitaan, maka kita kehilangan kedalaman.
Iman seperti itu akhirnya dangkal, ceria di permukaan, tapi kosong di dalam. Cerdas tapi bodoh. Lebih jauh lagi, ini berbahaya secara teologis. Karena tanpa sadar kita sedang membentuk gambaran Allah yang tidak utuh: Allah yang hanya memberi berkat, tapi tidak hadir dalam penderitaan. Padahal Alkitab menyatakan:
“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati” (Mazmur 34:19).
Artinya, Allah tidak alergi terhadap luka.
Tapi justru sering kali, Ia paling nyata di tengah luka itu.
Jadi kalau gereja menghindari realita dunia yang pahit,kita bukan sedang menjaga iman
kita sedang menjauhkan diri dari tempat di mana Allah sedang bekerja.
Iman Kristen yang sejati bukan iman yang selalu tersenyum, tapi iman yang cukup jujur untuk menangis…
dan cukup teguh untuk tetap berharap di tengah tangisan itu.
(27032026)(TUS)

Rabu, 25 Maret 2026

SUDUT PANDANG MANIPULASI 1 KORINTUS 2:9 OLEH GEREJA MASA KINI, Kecerdasan yang bodoh.

SUDUT PANDANG MANIPULASI 1 KORINTUS 2:9 
OLEH GEREJA MASA KINI, Kecerdasan yang bodoh. 

PENGANTAR
Beberapa gereja dengan denominasi tertentu, saya perhatikan di youtube dan podcast rohani sering memelintir (MANIPULASI = Manipu - lasi ayat alkitab) ayat di bawah ini dalam tafsirnya :
1 Korintus 2:9 (TB)
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” di YouTube atau podcast rohani gereja denominasi tertentu, ini sudah bukan lagi tafsir yang argumentasinya lemah, tetapi tanpa argumentasi dan sarat kepentingan. Saya selalu mengatakan tidak ada tafsir yang salah apalagi benar, yang ada tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan atau tidak? Dipertanggung jawabkan dengan apa? dengan argumentasi yang bernalar. Repot lagi itu kemauan belajar nya minim ditambah antikritik dan menulikan diri tambah membutakan diri, ini ..... Makan nasi 5 ceting plus krupuk, gorengan, dan karak, bahasa elite nya disebut Kecerdasan yang Bodoh atau conscientious stupidity, akal sehat yang cacat, akal sehat ala fundamentalis.


PEMAHAMAN 
Gereja masa kini sedang menghadapi krisis yang lebih berbahaya daripada sekadar dosa moral—yaitu penyimpangan makna firman. Ayat yang seharusnya mengungkapkan kedalaman Allah kini diperdagangkan sebagai janji keuntungan. Mimbar yang dahulu menjadi tempat pewahyuan dan belajar keteladanan Kristus serta hikmat pengajaran Kristus, perlahan berubah menjadi panggung harapan instan. Firman tidak lagi mengguncang hati, tetapi dipoles agar menyenangkan telinga umat.
1 Korintus 2:9 adalah salah satu korban paling nyata. Kalimat yang lahir dari kedalaman wahyu kini dipermainkan menjadi slogan rohani: “Tuhan akan memberi berkat yang tidak pernah kamu bayangkan.” kata pimpinan suatu gereja di YouTube atau podcast.  Kalimat ini terdengar indah, tetapi sesungguhnya sedang menipu arah iman. Jemaat diajar menunggu kejutan materi, bukan mencari kedalaman Allah. Rasul Paulus tidak pernah menulis ayat ini untuk membangkitkan ekspektasi finansial. Ia justru sedang menghancurkan kesombongan manusia yang merasa mampu memahami Allah dengan akal dan pengalaman. Paulus tidak mengangkat ambisi manusia—ia meruntuhkannya. Ia menegaskan bahwa mata, telinga, dan hati manusia memiliki batas. Realitas Allah tidak bisa dijangkau oleh kemampuan manusia mana pun. Namun di tangan gereja modern plus fundamentalis, ayat ini justru dipelintir menjadi bahan bakar ambisi. Firman yang seharusnya menyalibkan keinginan daging kini dipakai untuk menghidupkannya kembali. Ini bukan sekadar kesalahan tafsir—ini adalah pengkhianatan terhadap maksud firman.
Lebih parah lagi, banyak mimbar dengan sengaja berhenti di ayat 9 dan mengabaikan kelanjutannya. Padahal firman dengan jelas berkata bahwa semua itu telah dinyatakan oleh Roh Kudus. Artinya, fokusnya bukan pada sesuatu yang belum terlihat secara materi, tetapi pada sesuatu yang sudah dibukakan secara rohani. Ketika bagian ini dihilangkan, jemaat dibiarkan hidup dalam ekspektasi kosong yang terus ditunda dan tidak pernah digenapi seperti yang dibayangkan. Gereja yang terus mengajarkan pola ini sedang membentuk generasi yang tidak tahan terhadap kebenaran, tetapi haus akan sensasi. Jemaat tidak lagi bertanya, “Apa yang Tuhan nyatakan?” melainkan, “Apa yang akan saya dapat?” Dari sinilah lahir iman yang rapuh—iman yang hanya bertahan selama ada janji berkat, tetapi runtuh saat realita tidak sesuai harapan.
Masalahnya bukan pada ayatnya, tetapi pada hati yang menafsirkan. Selama gereja lebih tertarik menarik massa umat daripada membangun kedewasaan rohani, firman akan terus dipelintir agar cocok dengan selera manusia. Selama berkat dijadikan pusat, maka Kristus akan digeser menjadi alat, bukan tujuan. Saat seperti Inilah, saatnya gereja bertobat. Firman Tuhan tidak membutuhkan tambahan janji manusia agar terlihat menarik. Kebenaran tidak perlu dipoles untuk bisa diterima. Justru ketika firman diberitakan apa adanya, di situlah Roh Kudus bekerja dengan kuasa yang sejati. 1 Korintus 2:9 bukan janji tentang uang, bukan tentang berkat dobel porsi. Ayat ini adalah tamparan bagi kesombongan manusia dan undangan untuk masuk ke dalam realitas rohani dan rahasia keselamatan yang hanya bisa dibuka oleh Roh Allah. Jika ayat ini terus digunakan untuk menjanjikan kekayaan, maka gereja sedang tidak hanya keliru—gereja sedang menyesatkan.
Ketika mimbar menjanjikan uang dengan ayat, itu bukan pewahyuan, bukan pembelajaran akan teladan Kristus, dan bukan menghikmati pengajaran Yesus, itulah bukan pengenangan akan Kristus—maka itu perdagangan.
Akal sehat ala fundamentalis adalah kecerdasan yang bodoh. Pemelintiran ayat alkitab tanpa jembatan argumentasi yang memadai adalah kecerdasan yang bodoh, kecerdasan yang cacat, akal sehat yang tolol. Ini seperti kasus negara kita yg baru saja ramai di medsos pagi tadi, tentang kedaulatan pangan yang digagas budiman sudjatmiko, Kita jadi ingat gagasan Martin Luther King Jr atau MLK. Bila MLK menonton video itu, mungkin ia akan tersenyum getir lalu berkata: “Inilah yang saya maksudkan dengan conscientious stupidity,' yaitu kebodohan yang dipelihara dengan penuh kesadaran. Ia seperti pohon besar yang dipangkas habis agar terkesan bonsai dan terlihat kecil.  Agar lebih jelas makna conscientious stupidity, saya berikan beberapa contoh. Bayangkan seseorang yang tahu kompor di rumahnya bocor, gas tercium ke mana-mana, tapi ia berkata, “Tenang, yang penting kita tetap bisa masak.” Atau seseorang yang melihat atap rumahnya bocor saat hujan, tetapi memilih menutup telinga sambil berkata, “Yang penting kita punya rumah.”  Seseorang yang menerapkan conscientious stupidity tahu bahwa ada masalah besar, tetapi dia dengan sengaja bukan saja memilih mengabaikannya, tetapi juga berupaya meyakinkan yang lain seolah tak ada masalah. 
Food Estate, Dalam program food estate, kebodohan tampil dalam bentuk yang lebih megah. Hutan ditebang, biodiversitas dimusnahkan, plus masyarakat adat di Papua, di Kalimantan, dan di daerah lainnya dipinggirkan. Semua itu dibungkus dalam satu kalimat sakral yang dinarasikan: “kedaulatan pangan.” Seolah-olah oksigen bisa digantikan dengan beras, dan hutan bisa disubstitusi dengan presentasi PowerPoint. Di titik ini, “akal sehat” berubah menjadi semacam mantra: diucapkan berulang-ulang sampai orang lupa bertanya, sehat menurut siapa? Sebab jika akal sehat berarti mengorbankan ekosistem dan masyarakat lokal demi proyek ambisius, maka mungkin yang sedang kita rayakan bukan akal sehat, melainkan akal yang sedang sakit tetapi menolak berobat.
Yang lebih ironis, Budiman Sudjatmiko, yang dulu dikenal sebagai aktivis kritis, kini terdengar seperti ideolog dan juru bicara yang terlalu fasih untuk bertanya. Ia tidak lagi berdiri sebagai pengingat kekuasaan, melainkan sebagai penguatnya. Dalam bahasa sederhana: bukan lagi orang yang menyalakan lampu, tetapi yang membantu meredupkan cahaya agar masalah tidak terlalu terlihat. MLK pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah orang jahat, tetapi orang baik yang memilih diam atau, lebih buruk lagi, memilih untuk tidak melihat. Dalam konteks ini, conscientious stupidity bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi kegagalan moral. Sebab ia melibatkan pilihan. Ya, pilihan untuk menyederhanakan, mengabaikan, dan pada akhirnya membenarkan, ini sering terjadi di gereja yang pimpinan gerejanya antikritik, menulikan diri, dan membutakan diri, tidak mau mendengar umat serta tebang pilih. Jadi, jika dunia memang tidak baik-baik saja, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan “akal sehat,” tetapi karena terlalu banyak orang yang dengan sadar memelihara kebodohan, lalu menamainya kebijaksanaan.
(28032026)(TUS)



Selasa, 24 Maret 2026

Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka

Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka

PENGANTAR
Untuk lebih memahami Minggu Palma dan Minggu sengsara tentang ketidak teguhkan manusia, suka tidak konsisten dan berbalik arah, coba kita lihat beberapa peristiwa politik negeri ini, dahulu kala untuk bisa lebih paham, Rizal Ramli (RR) diangkat menjadi Menko Kemaritiman oleh Jokowi pada 12 Agustus 2015. RR langsung menggebrak setelah dilantik yang menimbulkan kegaduhan. Ia juga memuja-muji Jokowi. Ia mengatakan bahwa bosnya adalah Jokowi dan ia hanya tunduk kepada Jokowi. Pada 27 Juli 2016 RR dicopot dari kursi menteri. Komentarnya berbalik arah. Apa pun yang dilakukan oleh pemerintah selalu dicelanya sejak hari pemecatannya sampai sekarang. Sudirman Said (SS) dilantik menjadi Menteri ESDM oleh Jokowi pada 27 Oktober 2014. Setelah pelantikan SS mengatakan bahwa ia akan mengembalikan kepercayaan publik pada Kementerian ESDM dengan mengelola kementerian secara profesional dan transparan. Ia memuji Jokowi sebagai pemimpin yang mengedepankan kemaslahatan dan keadilan bagi masyarakat. Dalam masa jabatannya ia membongkar kasus “Papa minta saham”. Pada 27 Juli 2016 SS dicopot dari kursi menteri. Ia langsung berbalik arah. Celaan SS kepada pemerintah secara terang-terangan disampaikannya ketika ia bertarung dalam Pilgub Jawa Tengah 2018. Celaan SS berlanjut pada musim Pilpres 2019, yang ia diangkat menjadi anggota tim penasihat Capres Prabowo Subianto.
Dari gambaran di atas orang begitu mudah berbalik mencela dan melawan pihak yang tidak sesuai dengan keinginan dan seleranya, meski sebelumnya ia memuja-muji.

PEMAHAMAN 
Minggu ini 29 Maret 2026, menampung dua peristiwa yang berkesinambungan: Minggu Palma (Liturgy of the Palms) dan Minggu Sengsara (Liturgy of the Passion). Untuk itu bacaan Injil secara ekumenis cukup panjang yang diambil dari Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 sehingga total 139 ayat.
Bacaan diawali kisah penyambutan luar biasa kepada Yesus oleh orang-orang di Yerusalem. Saat itu banyak orang berdatangan ke Yerusalem untuk merayakan Paska Yahudi, suatu peringatan kebebasan nenek moyang mereka atas cengkeraman Mesir. Menurut sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, bisa ada sampai tiga juta orang terhimpun di Yerusalem pada perayaan Paska (Jewish War, 6.420-427; 2.280). Sejumlah pakar meragukan angka yang diajukan oleh Yosefus. Dugaan mereka sekitar 300 ribu sampai 400 ribu orang. Dengan ratusan ribu orang Yahudi berhimpun di Yerusalem sudah membuat pasukan Romawi kelabakan dalam mengatur ketertiban. Mengapa tentara Romawi perlu berjaga? Yosefus melaporkan sedikitnya sudah pernah terjadi dua kerusuhan massal yang besar pada masa perayaan Paska Yahudi: pada  4 SZB (Jewish War 2.10-13; Jewish Antiquities 17.204) dan pada masa Ventidius Cumanus memerintah wilayah Palestina (48-52 ZB) (Jewish War 2.224; Jewish Antiquities 20.106-112).
Yesus datang ke Yerusalem dengan naik keledai betina. Disebut dalam teks ‘orang  yang sangat besar jumlahnya’ menyambut kedatangan-Nya dengan menghamparkan pakaian mereka di jalan yang dilalui Yesus. Ada juga yang memotong ranting-ranting dari pohon dan menyebarkan di jalan.  Perayaan ini jelas selalu membangkitkan nasionalisme dan patriotisme mereka, suatu perayaan yang berbahaya bagi keamanan, ketertiban, dan stabilitas masyarakat yang harus dijaga dan dipertahankan oleh Roma. Pada masa kini umat membawa setangkai daun palem sebagai simbol penyambutan dalam Minggu Palma ini. Sastra pembalikan di Alkitab mulai dimainkannpenulis injil. Bacaan selanjutnya terjadi pembalikan. Yudas mengkhianati Yesus. Petrus yang dikenal sebagai murid garis keras justru menyangkal Yesus di hadapan para perempuan. Yesus ditangkap dan diadili oleh Walinegeri Pontius Pilatus. Pilatus tak menemukan kesalahan, tetapi ia tak mau membangkitkan kegaduhan. Diajukanlah Barabas. Pilatus mengajukan siapa yang dipilih untuk dibebaskan dalam hari raya Paska: Yesus atau Barabas. Khalayak berteriak: Barabas! Yesus dihukum mati di tiang salib.
Di atas tiang salib di Golgota Yesus dihujat dan diolok-olok oleh orang-orang yang lewat. Yesus dihukum mati dengan tuduhan subversif. Untuk itulah di kepala salib ditulis: Yesus dari Nasaret raja orang Yahudi (INRI - Iฤ“sus Nazarฤ“nus, Rฤ“x Iลซdaeลrum). Dalam teks tidak ada murid Yesus. Mereka kocar-kacir ketakutan. Mereka tercatat di dalam teks saat Yesus disalib adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Para murid laki-laki yang sangat berharap Yesus menjadi Raja Yahudi seperti yang mereka saksikan dalam euforia sambutan ribuan orang ternyata tak berdaya dan dihukum mati. Mereka bersembunyi dan takut ditangkap dengan tuduhan subversif seperti yang didakwakan kepada Yesus. Surat rasuli yang mengawali bacaan Injil Matius Minggu ini diambil dari Filipi 2:5-11. Dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa gereja hendaknya dalam hidup bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga di dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (ay. 5-7). Di sini rupanya gereja tidak boleh mengedepankan ego, tidak menyadari bahwa gereja adalah hamba Kerajaan Allah. Gereja merasa diri superior yang tidak mau tunduk dengan kehidupan yg pro Allah, norma kemanusiaan, aturan dan etika masyarakat, serta kepentingan hidup kemanusiaan, seperti sorak sorai para pemimpin gereja yang memberkati Donald Thrump yang menyatakan perang dan ngebom Iran, yang seharusnya gereja menempatkan keselamatan manusia di atas segalanya, malah berbalik melakukan sebaliknya. Gereja yang hakikatnya menjalankan misi Kerajaan Allah malah menjadi gereja penyebar kematian bagi manusia. Gereja harus kontra kematian dan pro kehidupan, gereja harusnya menentang segala tindakan merusak alam menyebabkan alam menjadi pembunuh masal manusia, gereja harusnya mendukung segala tindakan melindungi alam yang membuat alam melindungi manusia. Allah setia pada janji-Nya dan memberikan sesuai dengan waktu-Nya. Kesetiaan Allah kepada kita seharusnya mendorong kita juga setia kepada-Nya. Dalam memenuhi janji-Nya, alam semesta turut terlibat. Kegelapan yang menutupi bumi dan juga gempa adalah contohnya. Catatan ini menunjukkan bahwa karya keselamatan
tidak hanya ditujukan bagi manusia tetapi juga bagi alam semesta. Keterlibatan kita sebagai wujud iman kepada Yesus membuat alam tak lagi berduka. 
(24032026)(TUS)


Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Injil Matius 21:1-11 Minggu Palem dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ/Sengsara, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐—š๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚

Sudut  ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Injil Matius 21:1-11 Minggu Palem dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ/Sengsara, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐—š๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ธ๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚

PENGANTAR 
Minggu 29 Maret 2026, Minggu ini adalah Minggu VI masa Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu Minggu Palem (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan Minggu Sengsara (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ). Secara tradisi ibadah gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat dengan merujuk Yohanes 12:13.


PEMAHAMAN
Bacaan Alkitab secara ekumenis untuk Minggu Palem diambil dari Injil Matius 21:1-11 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29, sedang bacaan untuk Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66, secara RCL tapi di buku masa prapaskah paskah 2026 GKJ GKI sw Jateng mengirisnya menjadi Matus 27:11-54, yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.
Bacaan Injil untuk Minggu Palem (Mat. 21:1-11) diberi judul oleh LAI ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ-๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ. Adegan ini menjadi episode peralihan penting. Perjalanan panjang Yesus dan murid-murid-Nya menuju Yerusalem (lih. Mat. 16:21, 19:1) berakhir di sini kemudian beralih ke puncak konflik dengan para pembenci-Nya di Yerusalem. Paruh pertama cerita mengenai Yesus dan murid-murid-Nya mendekati Yerusalem (ay. 1-7) berlangsung lancar berpindah ke paruh kedua tentang Yesus yang disambut banyak orang di Yerusalem (ay. 8-11).

Konteks terdekat dari Matius 21:1-11 sebagai berikut:
➡️ Permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes; Bukan memerintah melainkan melayani (Mat. 20:20-28).
➡️ Yesus menyembuhkan dua orang buta (20:29-34).
➡️ Yesus dielu-elukan di Yerusalem (21:1-11).
➡️ Yesus menyucikan Bait Allah (21:12-17).
➡️ Yesus mengutuk pohon ara (21:18-22).
➡️ Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (21:23-27).

Dalam enam perikop itu ada tema dasar atau benang merah, yaitu tentang bagaimana Yesus sebagai ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ atau ๐˜™๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ memerintah dan akan memerintah (eskatologis).

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ (Mat. 21:1-7)

Adegan diawali Yesus berada di Betfage, Bukit Zaitun. Letak Kampung Betfage sampai sekarang tidak diketahui. Betfage berarti ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข. Yesus menyuruh dua orang murid-Nya, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.”

Hal itu dikatakan Yesus agar digenapi firman yang disampaikan oleh nabi. Nabi siapa? Nabi Zakharia. Matius memang suka mengutip kitab-kitab Yahudi atau Perjanjian Lama (PL). Hanya di dalam teks Injil Matius disebut dua ekor keledai (induk dan anaknya). Padahal Injil Markus yang lebih tua menyebut satu ekor dan kitab Zakharia 9:9 yang melatarbelakangi ayat itu disebut seekor saja.

๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜š๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ! ๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข. (Zak. 9:9, TB II 2023)

Putri Sion di atas adalah metafor untuk penduduk Yerusalem. Mengapa Matius sengaja mengubah jumlah keledai dari satu menjadi dua? Mengapa Matius tidak mengikuti jumlah keledai dari sumber ceritanya (Markus: satu ekor) dan bahkan tidak mengikuti nubuatan Zakharia 9:9 (satu ekor)? Apakah Matius salah baca Zakharia 9:9?

Ada ahli yang berpendapat bahwa Matius salah baca kitab Zakharia 9:9 karena ia kurang mengenal pola puitis kesejajaran sinonim, yaitu apa yang sudah dikatakan di bagian pertama akan diulangi di bagian kedua dengan kata-kata yang berbeda untuk memerkaya makna yang sudah dikatakan di bagian pertama.

Tampaknya bukan itu. Demi menyampaikan gagasan Matius tidak segan-segan untuk memodifikasi bahan-bahannya, baik bahan dari tradisi lisan maupun bahan dari tradisi tulisan. Untuk memerkuat argumen ini kita dapat melihat pengarang Injil Matius mengubah teks PL Mikha 5:1 dalam Matius 2:6.

๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜Œ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐™๐™–๐™ž ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜’๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ. (Mik. 5:1, TB II 2023)

Bandingkan.

๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ช ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™ก๐™ž-๐™ ๐™–๐™ก๐™ž ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต-๐˜’๐˜ถ ๐˜๐˜ด๐˜ณ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ. (Mat. 2:6, TB II 2023)

Pertanyaan selanjutnya, jika Matius sengaja mengubah satu keledai menjadi dua keledai, apa maksud atau pesannya?

Pertama, hal yang barangkali perlu dipertimbangkan adalah kesukaan Matius pada angka atau nilai ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ. Contoh-contohnya:
➡️ Anak-anak yang dibunuh Herodes adalah mereka yang berumur ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ tahun ke bawah (2:16).
➡️ Murid-murid pertama Yesus adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang bersaudara (4:18).
➡️ Nelayan yang dipanggil Yesus untuk menjadi murid-Nya adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang bersaudara juga (4:21).
➡️ Ajaran Yesus: jika ada yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ mil! (5:41)
➡️ Di Gadara bukan hanya satu orang yang dirasuk setan, melainkan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang (8:28).
➡️Di perjalanan-Nya Yesus menyembuhkan mata ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang buta (9:27).
➡️ Jika ada suatu perkara, jumlah saksi minimum adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang (18:16).
➡️ Yesus berjanji akan hadir jika ada minimum ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang berkumpul dalam nama-Nya (18:20).
➡️ Murid-murid Yesus yang meminta tempat khusus adalah ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang bersaudara (20:20).
➡️ Ketika keluar dari Yerikho, bukan hanya satu, melainkan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang buta yang disembuhkan Yesus (20:34).
➡️ Ada ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ murid yang disuruh menemukan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ keledai (21:1).
➡️ Mahkamah Agama bahkan membutuhkan kesaksian palsu yang konsisten minimum dari ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang saksi (26:60).
➡️ Yesus disalibkan bersama dengan ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ orang penyamun (27:38).

Kedua, alasan Matius yang lebih spesifik justru tampak pada Zakharia 9:9 dan modifikasinya. Sesudah membaca Zakharia 9:9, tampaknya Matius mendapat gagasan tentang ๐˜™๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต, lalu ia memodifikasi keledainya agar lebih sesuai dengan gagasannya mengenai raja mesianik yang lemah lembut. Simbol kelemahlembutan Sang Raja itu bukan hanya keledai (versus kuda), tetapi lebih daripada itu: keledai perempuan (ibu) dan anak keledai jantan yang tidak dipisahkan dari ibunya. Jadi, simbol dua keledai itu tampaknya dianggap lebih bermakna daripada simbol satu keledai saja.

Dua murid itu pergi ke kampung di depannya dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya.

๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ (Mat. 21:8-11)

Perjalanan menuju Yerusalem dimula. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan untuk menghormati Yesus sebagai ๐˜™๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ. Hal serupa dilakukan terhadap Yehu pada hari ia diurapi menjadi raja (2Raj. 9:13).

Ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Hal semacam ini biasa dilakukan pada hari ketujuh pesta Pondok Daun, tetapi juga dalam beberapa kesempatan lain (lih. Mzm. 118:27; 1Mak. 13:51; 2Mak. 10:7). Hanya dalam Injil Yohanes disebut khalayak menyongsong Yesus dengan daun palem (Yoh. 12:13).

Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, "๐˜๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช!" 

Siapakah orang banyak yang berjalan di depan dan di belakang Yesus? Besar kemungkinan mereka adalah para peziarah yang mengikuti rombongan Yesus. Mereka bukan penduduk Yerusalem. Hosana merupakan sorak Ibrani hosyiana yang berarti ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ (Mzm. 118:25). Di masa gereja perdana hosana digunakan sebagai sorak pujian dalam liturgi. ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ adalah gelar mesianik (lih. Mat. 1:1; 9:27; 15:22). Matius menegaskan lagi Yesus adalah Juruselamat yang pernah dijanjikan kepada Raja Daud.

Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata, "๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?" Orang banyak itu menyahut, "๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜•๐˜ข๐˜ป๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜Ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข." (ay. 10-11)

Matius menggunakan kata ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ (๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ̄) yang biasanya untuk topan atau gempa bumi (Mat. 8: 24; 27:51; 28:4). Di sini tampaknya penginjil Matius hendak memerikan (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ) keriuhan kota yang amat sangat menyambut kedatangan Yesus, Raja Mesianik.

Mengapa Matius memunculkan istilah nabi? Padahal sejak awal Injil Matius dikatakan bahwa Yesus adalah raja, anak Daud, anak Abraham. Mengenakan gelar nabi kepada Yesus malah merendahkan-Nya, tetapi Matius perlu memunculkannya dengan keluar dari mulut ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ (๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ช).

Matius memunculkannya di sini tampaknya berpautan dengan penolakan dan pembunuhan terhadap Yesus yang akan segera terjadi di Yerusalem. Ada tertulis "๐˜ ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ, ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช-๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข! ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ.” (Mat. 23:37, TB II 2023). Jadi, Yesus bukan hanya nabi yang ditolak di kota asalnya, Nazaret (Mat. 13:57), melainkan juga nabi yang ditolak di kota yang menjadi tujuan pengutusan-Nya, Yerusalem (23:37).

Apabila kita meneruskan bacaan untuk Minggu Sengsara Injil Matius 26:14-27:66 kita akan menemui lagi perkataan dari ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ (๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ช) yang dihasut oleh imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi (Mat. 27:20-26). Orang banyak itu berteriak “๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ” (Mat.27:23). Ketika Pilatus mengatakan, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช (maksudnya Yesus)”, orang banyak itu tanpa berpikir panjang mengatakan bahwa darah Yesus biarlah ditanggungkan kepada mereka dan keturunan mereka (Mat. 27:25-26). Maksudnya, meskipun membunuh itu kejahatan besar, mereka mau menanggungnya. Gila ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ?

Orang banyak saat ini ibarat kasus zaman dahulu kala, PDIP yang mengusung Jokowi, “๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช!” Jokowi kemudian membuat projek tuan rumah Piala Dunia U20. Presiden FIFA Gianni Infantino pun bersuka atas antusias Jokowi. Belakangan PDIP menolak kehadiran Tim Israel U20. Menolak tim peserta berarti menolak FIFA. FIFA akhirnya membatalkan hak Indonesia menjadi tuan rumah dan segera akan menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Media luar negeri menyoroti alasan keputusan FIFA itu karena Indonesia negara rasis. Risiko kerusakan itu jelas PDIP tidak ambil pusing karena yang penting, “๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‘๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ช!”
Gemparlah seluruh masyarakat sepakbola Indonesia (bergurau yah ..... Xi ... Xi)

(02042023)(TUS)

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).   PENGANTAR Ini hany...