(Dari Hukum Taurat Kepada Penatalayanan Dalam Kristus)
__________
1️⃣ APAKAH PERSEPULUHAN SUDAH MENJADI KEWAJIBAN SEJAK ZAMAN ABRAHAM?
Sering kali dikatakan bahwa orang percaya wajib memberikan 10% karena Abraham dan Yakub sudah melakukannya sebelum Hukum Taurat diberikan.
Mari kita melihat apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab.
๐ Abraham dan Melkisedek ~ Kejadian 14:18-20
Abraham memberikan sepersepuluh dari hasil rampasan perang kepada Melkisedek (Ibrani 7:4).
Peristiwa ini hanya dicatat sebagai tindakan Abraham pada saat itu. Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Abraham memberikan 10% dari seluruh kekayaannya secara rutin setiap bulan atau setiap tahun. Tidak ada pula perintah Allah kepada Abraham yang menetapkan tindakan tersebut sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh semua orang percaya.
Karena itu, tindakan Abraham tidak dapat begitu saja dijadikan dasar bahwa sejak zaman sebelum Taurat Allah telah menetapkan kewajiban universal untuk memberikan 10% dari penghasilan.
๐ Yakub ~ Kejadian 28:20–22
Yakub juga berbicara tentang sepersepuluh. Namun, pernyataannya muncul dalam bentuk nazar atau janji pribadi yang bersifat kondisional: jika Allah menyertai dan melindunginya, maka ia akan memberikan sepersepuluh.
Sekali lagi, teks ini tidak memberikan perintah kepada seluruh umat Allah untuk memberikan 10% secara rutin.
Jadi, sebelum Hukum Taurat, kita tidak menemukan perintah universal bahwa setiap umat Allah wajib memberikan 10%.
__________
2️⃣ LALU, APA FUNGSI PERSEPULUHAN DALAM HUKUM MUSA?
Persepuluhan menjadi bagian yang jelas dari kehidupan Israel ketika Allah memberikan Hukum Taurat melalui Musa.
Namun, persepuluhan dalam Taurat tidak sesederhana konsep modern:
“Setiap orang harus memberikan 10% dari penghasilannya setiap bulan kepada gereja.”
Persepuluhan dalam Israel berkaitan dengan hasil tanah, hasil ternak, kaum Lewi, kehidupan ibadah, perayaan di hadapan TUHAN, dan kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.
๐ Persepuluhan untuk kaum Lewi
Bilangan 18:21-24 menjelaskan bahwa persepuluhan diberikan kepada kaum Lewi karena mereka tidak menerima warisan tanah seperti suku-suku Israel lainnya.
Persepuluhan tersebut berkaitan dengan pelayanan mereka dalam sistem ibadah Israel.
๐ Persepuluhan untuk perayaan di hadapan TUHAN
Ulangan 14:22-27 menjelaskan persepuluhan yang digunakan dalam perayaan di hadapan TUHAN. Hasil tersebut dinikmati oleh keluarga pemberi bersama kaum Lewi dalam konteks ibadah dan perayaan.
๐ Persepuluhan bagi orang yang membutuhkan
Ulangan 14:28-29 menjelaskan bahwa pada tahun-tahun tertentu persepuluhan digunakan untuk membantu orang asing, anak yatim, janda, dan kaum Lewi.
Dengan demikian, sistem persepuluhan dalam Israel juga memiliki fungsi sosial.
Penting untuk dipahami: persepuluhan Taurat bukan sekadar aturan “setor 10% uang setiap bulan”. Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan Israel sebagai umat perjanjian, yang mencakup ibadah, pelayanan kaum Lewi, dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.
__________
3️⃣ BAGAIMANA DENGAN MALEAKHI 3:8-10?
Ayat ini sering digunakan untuk mengatakan:
“Kalau orang Kristen tidak memberikan persepuluhan, berarti ia mencuri milik Allah dan akan terkena kutuk.”
Apakah penerapan seperti itu tepat?
Kita harus melihat konteksnya.
Maleakhi berbicara kepada umat Israel dalam konteks kehidupan mereka di bawah perjanjian dengan Allah. Kitab ini juga memberikan teguran keras kepada para imam karena mereka telah mencemarkan ibadah kepada Allah.
Ketika Maleakhi berbicara tentang “rumah perbendaharaan”, konteksnya berkaitan dengan sistem ibadah Israel dan kebutuhan untuk menopang pelayanan kaum Lewi serta memenuhi tanggung jawab sosial yang telah diatur dalam Taurat.
Karena itu, Maleakhi 3 tidak boleh begitu saja dipindahkan dari konteks Israel di bawah Hukum Taurat lalu dijadikan ancaman finansial kepada jemaat Perjanjian Baru.
Orang percaya di dalam Kristus tidak hidup di bawah kutuk Taurat. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat (Galatia 3:13).
__________
4️⃣ LALU, APA YANG DIAJARKAN YESUS TENTANG PERSEPULUHAN?
Dalam Matius 23:23, Yesus menegur orang Farisi karena mereka sangat teliti memberikan persepuluhan dari hasil tanaman, tetapi mengabaikan perkara yang lebih penting dalam Taurat: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.
Ketika Yesus mengatakan hal tersebut, Hukum Taurat masih berlaku dalam kehidupan Israel. Kematian dan kebangkitan Kristus sebagai puncak karya penebusan belum terjadi.
Karena itu, Yesus tidak sedang memberikan perintah kepada gereja Perjanjian Baru agar setiap orang Kristen wajib memberikan 10%.
Yesus sedang menunjukkan bahwa sekalipun seseorang sangat teliti dalam menjalankan aturan keagamaan, ia tidak boleh mengabaikan perkara yang jauh lebih penting di hadapan Allah.
Dengan kata lain:
Ketaatan kepada Allah tidak boleh direduksi menjadi sebuah angka.
Memberikan 10% tetapi mengabaikan kasih, keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan bukanlah inti kehidupan yang dikehendaki Allah.
Dan setelah kematian serta kebangkitan Kristus, para rasul tidak memberikan perintah kepada gereja agar semua orang percaya wajib memberikan tepat 10%.
__________
5️⃣ LALU, BAGAIMANA GEREJA PERJANJIAN BARU DIAJARKAN UNTUK MEMBERI?
Di sinilah kita melihat perubahan yang penting.
Dalam surat-surat Paulus, kita tidak menemukan perintah kepada jemaat non-Yahudi:
“Kamu harus memberikan 10% dari penghasilanmu.”
Sebaliknya, Perjanjian Baru mengajarkan pemberian yang didasarkan pada kasih karunia, kerelaan, kemampuan, kasih, dan pengorbanan.
๐ Memberi sesuai kemampuan
Dalam 1 Korintus 16:2, Paulus mengajarkan agar pemberian disisihkan secara teratur sesuai dengan apa yang diperoleh.
Artinya, pemberian dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab, bukan sekadar mengikuti angka yang sama untuk semua orang.
๐ Memberi dengan kerelaan
2 Korintus 9:7 berkata:
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan.”
Ini sangat penting.
Pemberian Kristen bukan didasarkan pada ketakutan terhadap kutuk, tekanan manusia, atau paksaan.
Kita memberi karena kasih karunia Allah telah bekerja dalam hidup kita.
๐ Kristus adalah teladan kita
Paulus berkata dalam 2 Korintus 8:9 bahwa Kristus, yang kaya, telah menjadi miskin karena kita.
Dasar pemberian Kristen bukan sekadar angka 10%.
Dasarnya adalah Kristus yang terlebih dahulu memberikan diri-Nya bagi kita.
__________
6️⃣ APAKAH BERARTI ORANG KRISTEN TIDAK WAJIB MEMBERI?
Sama sekali tidak.
Perjanjian Baru tidak menurunkan standar pemberian. Justru, pemberian Kristen beralih dari kewajiban hukum berdasarkan persentase tertentu kepada panggilan kasih karunia yang melimpah.
Kebebasan dari angka persentase yang kaku bukan berarti kebebasan untuk hidup egois.
Orang percaya tetap dipanggil untuk:
✓ menopang pelayanan Injil;
✓ memperhatikan orang miskin;
✓ menolong saudara yang membutuhkan;
✓ berbagi dengan sesama;
✓ dan menggunakan harta sebagai bentuk kasih kepada Allah.
Hal ini terlihat dalam Galatia 6:6-10, 1 Timotius 5:17-18, dan 1 Yohanes 3:17-18.
Jadi, yang berubah bukan panggilan untuk memberi, tetapi dasar dan kerangka pemberiannya.
__________
7️⃣ JADI, APAKAH MEMBERIKAN 10% ITU SALAH?
Tidak.
Memberikan 10% bukan sesuatu yang salah.
Seseorang boleh menjadikan 10% sebagai patokan pribadi untuk mendisiplinkan dirinya dalam memberi. Yang menjadi masalah adalah ketika angka tersebut diubah menjadi:
“Hukum Allah yang wajib bagi setiap orang Kristen.”
Lebih jauh lagi, menjadi keliru ketika dikatakan:
“Kalau tidak memberikan 10%, berarti mencuri milik Allah dan akan terkena kutuk; kalau memberikan 10%, Allah pasti membuka berkat materi.”
Pernyataan seperti itu tidak boleh dibangun dengan mengambil Maleakhi 3 keluar dari konteksnya.
Orang Kristen tidak memberi untuk membeli berkat Allah.
Kita memberi karena terlebih dahulu telah menerima kasih karunia Allah di dalam Kristus.
__________
๐ KESIMPULAN
Persepuluhan sebelum Taurat tidak diberikan sebagai perintah universal kepada semua orang percaya.
Dalam Hukum Musa, persepuluhan menjadi bagian dari sistem kehidupan Israel sebagai umat perjanjian, yang berkaitan dengan kaum Lewi, ibadah, perayaan, dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.
Yesus tidak menjadikan angka 10% sebagai inti kehidupan rohani. Ia menegaskan pentingnya keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.
Dalam Perjanjian Baru, kita tidak menemukan perintah bahwa setiap jemaat harus memberikan tepat 10% dari penghasilannya. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memberi dengan kerelaan, sesuai kemampuan, penuh kasih, dan dengan semangat pengorbanan.
Karena itu:
Persepuluhan bukan alat untuk membeli berkat Allah.
Persepuluhan bukan alasan untuk menakut-nakuti jemaat dengan kutuk.
Dan kebebasan dari kewajiban 10% bukan alasan untuk berhenti memberi.
Perjanjian Baru tidak menurunkan standar pemberian. Yang berubah adalah dasar, kerangka, dan ukurannya.
Dari kewajiban kovenantal dalam sistem Israel, pemberian dalam Kristus bergerak menuju penatalayanan seluruh hidup yang digerakkan oleh kasih karunia, kerelaan, proporsionalitas, pengorbanan, dan kasih kepada sesama.
Pertanyaannya bukan lagi hanya:
“Berapa persen yang wajib saya berikan?”
Melainkan:
“Bagaimana seluruh hidup dan harta saya dapat saya persembahkan bagi Tuhan?”
Itulah penatalayanan Kristen.