Senin, 28 September 2026

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A 

PENGANTAR 
Minggu 04 Oktober 2026. Ketiga bacaan ini membentuk satu rangkaian teologis yang kuat: Allah adalah pemilik kebun anggur; umat-Nya menerima tanggung jawab untuk mengelolanya; dan ukuran kesetiaan ialah buah keadilan, kebenaran, serta iman kepada Kristus.  Yesaya 5:1–7 menghadirkan nyanyian kasih yang berubah menjadi gugatan; Filipi 3:4b–14 menunjukkan pertobatan eksistensial Paulus dari rasa aman religius menuju pengenalan akan Kristus; sedangkan Matius 21:33–46 membawa seluruh tema itu pada puncaknya dalam penolakan terhadap Anak yang diutus dan pengangkatan-Nya sebagai “batu penjuru”. Dalam kerangka Minggu Perjamuan Kudus Sedunia, bacaan-bacaan ini mengoreksi kecenderungan gereja untuk menganggap kebun anggur, meja perjamuan, jabatan, tradisi, dan keselamatan sebagai milik eksklusif. Semua itu adalah anugerah Allah yang harus menghasilkan buah bagi kehidupan bersama. 
PEMAHAMAN 
Yesaya 5:1–7: Kebun anggur yang gagal berbuah

Yesaya 5:1–7 berbentuk nyanyian tentang kebun anggur atau canto della vigna. Dalam tradisi Israel, gambaran kebun anggur lazim dipakai untuk menunjuk kepada umat Allah. Mazmur 80, misalnya, menggambarkan Israel sebagai pohon anggur yang dibawa keluar dari Mesir dan ditanam oleh Allah. Dengan demikian, kebun anggur bukan sekadar ilustrasi agraris, melainkan simbol relasi perjanjian. Secara sastra, teks ini memiliki gerak dramatik. Pada awalnya pembaca diajak mengagumi kerja pemilik kebun: ia memilih lereng yang subur, mencangkul, membersihkan batu, menanam pokok anggur pilihan, mendirikan menara penjagaan, dan menggali tempat pemerasan anggur. Bahasa Ibrani yang dipakai menekankan kesungguhan dan kecermatan pemilik kebun. Tidak ada alasan untuk kegagalan panen dari pihak pemilik. Namun, hasil yang muncul adalah בְּאֻשִׁים (be’ushim), yakni buah-buah busuk atau anggur liar. Kontrasnya sangat tajam: pemilik mengharapkan מִשְׁפָּט (mishpat, keadilan), tetapi yang muncul מִשְׂפָּח (mispach, penumpahan darah atau kekerasan); ia mengharapkan צְדָקָה (tsedaqah, kebenaran), tetapi yang terdengar adalah צְעָקָה (tse‘aqah, jeritan korban). Permainan bunyi ini menjadi klimaks profetis. Kegagalan kebun anggur bukan kegagalan ritual, melainkan kegagalan sosial dan etis. Pada ayat terakhir, identitas kebun itu dibuka: “kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanaman kegemaran-Nya.” Jadi, umat pilihan tidak diukur terutama dari klaim status, melainkan dari buah keadilan yang dihasilkan. Yesaya mengkritik agama yang menerima pemeliharaan Allah, tetapi menolak tuntutan perjanjian. Allah telah memberikan tanah, perlindungan, hukum, ibadah, dan identitas; umat kemudian mengubah semua pemberian itu menjadi hak istimewa tanpa tanggung jawab. Karena itu, teks ini tidak boleh dipakai untuk menyimpulkan bahwa Allah berubah dari kasih menjadi kejam. Penghakiman justru lahir dari kasih perjanjian yang dikhianati. Penghancuran pagar dan pembiaran kebun menjadi semak belukar melukiskan penarikan perlindungan Allah akibat ketidakadilan yang terus dipelihara. Dalam konteks kini, pertanyaan profetisnya ialah: buah macam apa yang dihasilkan gereja? Gereja dapat tampak subur dalam kegiatan, gedung, program kerja, dan liturgi, tetapi tetap menghasilkan “buah liar” apabila ada diskriminasi, tebang pilih, penyalahgunaan kuasa, eksploitasi lingkungan, korupsi, kekerasan domestik, atau sikap tidak peduli serta penyingkiran kepada kelompok rentan, membuat kesenjangan antar umat dg membentuk komunitas, circle, club', gang, dlsb di dalam gereja.

Filipi 3:4b–14: Dari kebanggaan religius menuju pengenalan akan Kristus

Filipi 3:4b–14 merupakan kesaksian autobiografis Paulus. Ia menyebut berbagai dasar kepercayaan dirinya: keturunan Israel, suku Benyamin, orang Ibrani asli, Farisi, dan seorang yang sangat giat dalam menjalankan hukum. Secara sosial-religius, semua itu adalah modal identitas yang kuat. Akan tetapi, Paulus menggunakan istilah ζημία (zēmia), “kerugian”, dan σκύβαλα (skybala), istilah keras yang dapat berarti sampah, kotoran, atau sesuatu yang dibuang. Paulus tidak sedang mengatakan bahwa Taurat atau warisan Yahudi pada dirinya jahat. Ia sedang menolak menjadikan keistimewaan religius sebagai dasar pembenaran dan kebanggaan di hadapan Allah. Pusat pengalaman Paulus adalah “mengenal Kristus”. Kata γινώσκω (ginōskō) bukan hanya mengetahui secara intelektual, melainkan mengenal melalui relasi dan pengalaman. Pengenalan itu mencakup kuasa kebangkitan Kristus sekaligus persekutuan dalam penderitaan-Nya. Dengan demikian, iman kepada Kristus bukan sekadar perpindahan identitas agama, melainkan transformasi seluruh orientasi hidup.Paulus juga berkata bahwa ia belum menganggap dirinya telah memperoleh kesempurnaan. Kata διώκω (diōkō), “mengejar” atau “berlari mengejar”, mengandung dinamika eskatologis. Paulus telah “ditangkap” oleh Kristus, tetapi ia masih terus mengejar tujuan itu. Iman kristiani adalah hidup yang terus bergerak menuju keserupaan dengan Kristus, bukan rasa puas karena status rohani. Jika Yesaya mengkritik kebun yang tidak menghasilkan buah, Filipi memperlihatkan bentuk lain dari kegagalan religius : kebanggaan atas identitas keagamaan. Seseorang dapat memiliki silsilah, jabatan, pengetahuan, dan disiplin religius, tetapi tetap tidak menghasilkan buah jika semua itu dipakai untuk membenarkan diri dan merendahkan orang lain. Paulus tidak kehilangan identitasnya, tetapi menempatkan identitas itu di bawah Kristus. Ia tidak lagi menjadikan “keuntungan” religius sebagai pusat keselamatan. Di sinilah bacaan Filipi memperdalam Yesaya: persoalan umat bukan hanya tindakan lahiriah, tetapi sumber orientasi batinnya. Bagi gereja masa kini, pertobatan Paulus menantang segala bentuk “modal rohani”: lamanya menjadi anggota gereja, gelar teologi, kedudukan pelayanan, kesalehan liturgis, afiliasi denominasi, bahkan keberhasilan institusional, serta kekayaan. Semua itu bernilai hanya apabila mengantar pada kerendahan hati, solidaritas, dan buah kasih tanpa kesenjangan.

Matius 21:33–46: Anak, kebun anggur, dan batu penjuru

Perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur berada dalam rangkaian konflik Yesus dengan para imam kepala dan tua-tua bangsa di Bait Allah. Sebelumnya mereka mempertanyakan otoritas Yesus; sesudahnya muncul perumpamaan tentang perjamuan kawin. Karena itu, perumpamaan ini bukan cerita moral umum, melainkan kritik profetis terhadap kepemimpinan religius yang menolak otoritas Allah. Dalam struktur Injil Matius, pengajaran ini bergerak menuju sengsara dan kematian Yesus. Latar belakang utama perumpamaan ini adalah Yesaya 5. Namun, Matius mengembangkan gambaran itu. Dalam Yesaya, kebun anggur adalah Israel secara keseluruhan; dalam Matius, fokus bergeser kepada penggarap-penggarap. Masalahnya bukan pemilik kebun, bukan pula kualitas kebun, melainkan para pengelola yang menganggap kebun sebagai milik pribadi. Istilah Yunani γεωργοί (geōrgoi) menunjuk kepada para penggarap atau penyewa kebun. Mereka bukan pemilik, tetapi bertindak seolah-olah memiliki kuasa mutlak. Ketika hamba-hamba datang mengambil bagian hasil bagi pemilik, mereka dipukul, dibunuh, dan dilempari batu. Pengiriman para hamba mengingatkan pada tradisi para nabi yang berulang kali ditolak oleh Israel. Puncak perumpamaan terdapat pada pengutusan anak: ὁ υἱός μου (ho huios mou), “anakku”. Dalam konteks naratif Matius, anak itu menunjuk kepada Yesus. Ia bukan sekadar nabi terakhir, melainkan Anak yang memiliki hubungan unik dengan pemilik kebun. Para penggarap membunuhnya di luar kebun, suatu detail yang menggemakan kematian Yesus di luar Yerusalem. Pertanyaan Yesus memaksa pendengar mengucapkan sendiri hukuman atas para penggarap. Setelah itu Yesus mengutip Mazmur 118:22–23: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Batu yang ditolak justru dipilih Allah sebagai dasar bangunan baru. Secara teologis, salib bukan kekalahan terakhir, melainkan tindakan Allah yang membalikkan penolakan manusia. Ayat 43 berbicara tentang Kerajaan Allah yang diambil dan diberikan kepada bangsa yang menghasilkan buahnya. Kata ἔθνος (ethnos) dapat menunjuk kepada bangsa atau umat. Maksudnya bukan penggantian etnis secara otomatis, seolah-olah Israel secara keseluruhan dibuang dan gereja secara otomatis benar. Tekanan utama terletak pada “bangsa yang menghasilkan buah”. Keanggotaan dalam umat Allah dibuktikan oleh ketaatan yang menghasilkan buah, bukan oleh klaim identitas.

Matius menyatukan tiga tema besar:

Pertama, Allah adalah pemilik kebun. Gereja, pelayanan, jabatan, tanah, sumber daya, dan umat bukan milik para pemimpin. Semuanya dipercayakan untuk dikelola.

Kedua, Allah mencari buah. Buah itu bukan semata-mata pertumbuhan jumlah atau keberhasilan organisasi, tetapi keadilan, kebenaran, belas kasih, kesetiaan, dan keberpihakan kepada kehidupan dan yg tersingkirkan.

Ketiga, Kristus adalah batu penjuru. Ia menjadi ukuran bagi seluruh bangunan umat Allah. Setiap struktur gerejawi yang tidak berpusat pada Kristus dan tidak menghasilkan kehidupan pada akhirnya akan mengalami penghakiman.

Perumpamaan ini juga memiliki sisi berbahaya jika dibaca secara anti-Yahudi. Matius tidak memberi dasar untuk kebencian terhadap orang Yahudi. Sasaran kritiknya ialah para pemimpin yang menyalahgunakan kepercayaan Allah dan menolak utusan-Nya. Prinsip penghakiman itu berlaku pula bagi gereja. Gereja tidak menggantikan Israel sebagai pemilik baru yang kebal dari kritik; gereja menjadi umat Allah hanya sejauh ia menghasilkan buah Kerajaan Sorga.

Ketiga bacaan bergerak dari anugerah menuju tanggung jawab, dari tanggung jawab menuju penghakiman, dan dari penghakiman menuju pembaruan dalam Kristus.

Yesaya menekankan bahwa Allah telah menanam dan memelihara kebun dengan penuh kasih, tetapi umat menghasilkan ketidakadilan. Filipi menunjukkan bahwa pertobatan berarti meninggalkan kebanggaan atas prestasi religius dan mengejar pengenalan akan Kristus. Matius kemudian memperlihatkan bahwa penolakan terhadap utusan Allah mencapai puncaknya dalam penolakan terhadap Anak, tetapi Allah membangkitkan Anak itu sebagai batu penjuru.

Dengan demikian, arah pewartaan bukan sekadar: “Jadilah orang baik dan hasilkan buah.” Pewartaan harus lebih dalam:

- Kita hidup dari kasih karunia Pemilik kebun.
- Kita bukan pemilik mutlak, melainkan pengelola.
- Identitas keagamaan tidak menyelamatkan apabila tidak menghasilkan keadilan.
- Pertobatan berarti melepaskan klaim atas keunggulan diri dan memperoleh Kristus sebagai pusat hidup.
- Kristus yang ditolak menjadi dasar komunitas baru yang menghasilkan buah Kerajaan.

Dalam terang Perjamuan Kudus, kebun anggur dan meja Ekaristi bertemu dalam simbol anggur. Anggur adalah hasil kebun yang dipersembahkan, tetapi dalam Ekaristi ia menjadi tanda perjanjian baru dalam darah Kristus. Karena itu, menerima cawan berarti menerima kehidupan Kristus sekaligus bersedia mengambil bagian dalam pola hidup-Nya: memberi diri, mengampuni, melayani, dan memperjuangkan kehidupan. Perjamuan Kudus Sedunia menegaskan bahwa meja Kristus tidak boleh dipersempit menjadi milik satu gereja, bangsa, kelas sosial, atau tradisi. Meja itu mengingatkan bahwa seluruh umat percaya menerima makanan dari satu Tuhan dan dipanggil menjadi satu tubuh. Tema World Communion Sunday 2026 juga menafsirkan perumpamaan kebun anggur sebagai panggilan untuk melepaskan sikap memiliki secara eksklusif dan melihat berkat Allah sebagai pemberian yang harus dibagikan. Namun, perjamuan tidak boleh menjadi simbol persatuan yang terlepas dari keadilan. Paulus menolak kebanggaan religius; Yesaya menuntut keadilan; Matius memperingatkan para pengelola yang merampas kebun. Maka, meja Ekaristi bertanya kepada gereja: apakah persekutuan yang dirayakan di altar juga tampak dalam cara gereja memperlakukan orang miskin, perempuan, anak-anak, kelompok minoritas, para korban kekerasan, pekerja, dan ciptaan? Perjamuan Kudus bukan hadiah bagi gereja yang merasa sudah benar. Ia adalah anugerah yang menghakimi sekaligus menyembuhkan: menghakimi setiap bentuk kepemilikan dan dominasi, tetapi menyembuhkan umat dengan menjadikan Kristus sebagai satu-satunya dasar. Dari meja itu, gereja diutus kembali ke dunia sebagai kebun yang menghasilkan buah—bukan buah kesombongan religius, melainkan keadilan (mishpat), kebenaran (tsedaqah), kasih, dan kehidupan bersama. Pewartaan dapat diarahkan pada t“Diberi kepercayaan untuk menghasilkan buah bagi kehidupan.” Hendaknya tidak berhenti pada kecaman terhadap “penggarap-penggarap” dalam teks, seolah-olah mereka selalu menunjuk kepada orang lain. Gereja perlu mendengar bahwa ia sendiri adalah kebun yang dipelihara Allah dan sekaligus penggarap yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pertanyaan utamanya bukan “Siapa yang salah?” melainkan “Buah apa yang sedang dihasilkan oleh hidup, keluarga, gereja, dan masyarakat kita?” Puncaknya adalah Kristus: Anak yang ditolak, mati, dan dijadikan batu penjuru. Dalam Dia, gereja menerima identitas baru bukan untuk menguasai kebun, melainkan untuk merawatnya, mengelola nya. Dengan demikian, Ekaristi menjadi tindakan pengakuan bahwa semua berasal dari Allah, semua diterima sebagai anugerah, dan semua harus dibagikan demi kehidupan dunia.
(28092026)(TUS)



Sudut Pandang Yesaya 5:1–7, Matius 21:33–46, dan Filipi 3:4b–14

Sudut Pandang Yesaya 5:1–7, Matius 21:33–46, dan Filipi 3:4b–14

PENGANTAR
Yesaya 5:1–7, Matius 21:33–46, dan Filipi 3:4b–14 memperlihatkan suatu alur kesaksian iman yang bergerak dari panggilan Allah, kegagalan manusia, penghakiman, hingga pembaruan hidup dalam Kristus. Ketiga bacaan tersebut menggunakan gambaran dan bahasa yang berbeda, tetapi memiliki perhatian teologis yang saling berkaitan: umat Allah dipanggil untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak-Nya. Yesaya 5:1–7 menghadirkan gambaran Israel sebagai kebun anggur yang telah dirawat dengan penuh perhatian, tetapi tidak menghasilkan buah yang diharapkan. Puncak kritik profetis tampak pada tuntutan Allah terhadap keadilan dan kebenaran. Matius 21:33–46 mengembangkan gambaran kebun anggur itu dalam bentuk perumpamaan tentang para penggarap yang menolak para utusan dan akhirnya membunuh anak pemilik kebun. Dalam konteks Injil, perumpamaan ini menyoroti penolakan terhadap Yesus serta panggilan bagi umat Allah untuk menghasilkan buah Kerajaan. Sementara itu, Filipi 3:4b–14, menempatkan kehidupan beriman dalam relasi dengan Kristus: identitas dan prestasi keagamaan tidak menjadi dasar utama kebanggaan, melainkan pengenalan akan Kristus dan kesediaan untuk mengikuti-Nya. Secara teologis, ketiga teks ini tidak hanya berbicara tentang kegagalan masa lalu, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis bagi kehidupan umat beriman masa kini: apakah komunitas iman sungguh menghasilkan keadilan, kasih, kesetiaan, dan pertobatan? Dalam terang Ekaristi atau Perjamuan Kudus, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting. Perjamuan Kudus bukan sekadar tindakan ritual, melainkan perayaan atas pemberian diri Kristus yang membentuk umat menjadi satu tubuh dan mengutusnya untuk menghadirkan buah Kerajaan Allah dalam kehidupan bersama. Karena itu, membaca ketiga bacaan secara berurutan dengan memperhatikan konteks sastra, sejarah, budaya, dan teologisnya. Pembahasan tersebut kemudian diarahkan pada benang merah pewartaan yang berpuncak pada Matius 21:33–46, serta pada pemahaman bahwa Perjamuan Kudus memanggil umat untuk menerima kasih Kristus dan mewujudkannya melalui kehidupan yang menghasilkan keadilan, kesetiaan, dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Yesaya 5:1–7 — Nyanyian tentang Kebun Anggur

Highlight: Yesaya 5:1–2, 5–7.

Teks ini memakai bentuk nyanyian kasih tentang kebun anggur. Dalam bahasa Ibrani, kebun anggur melambangkan umat yang dipelihara Allah. Pemilik kebun telah memilih lokasi terbaik, mencangkul, menyingkirkan batu, dan menanam pokok anggur pilihan. Namun hasilnya adalah “anggur liar” (be’ushim), gambaran tentang ketidakadilan dan ketidaksetiaan.

Akhir teks memperjelas maknanya: kebun anggur ialah Israel, dan yang dicari Allah adalah keadilan (mishpat) serta kebenaran (tsedaqah), tetapi yang muncul ialah penindasan dan jeritan penderitaan. Kritik profetisnya bukan sekadar moral pribadi, melainkan kegagalan umat mewujudkan panggilan perjanjian dalam kehidupan bersama.

Filipi 3:4b–14  Kebenaran karena Kristus

Highlight: Filipi 3:7–8, 10–14.

Paulus menyebut identitas, latar keagamaan, dan prestasinya sebagai sesuatu yang dahulu dianggap keuntungan. Namun dalam terang Kristus, semuanya menjadi “kerugian”. Istilah Yunani dikaiosynē menunjuk pada kebenaran yang tidak diperoleh melalui prestasi keagamaan, melainkan melalui iman kepada Kristus.

Paulus tidak menggambarkan iman sebagai pencapaian yang sudah selesai. Ia “mengejar” panggilan Allah, mengenal Kristus, mengalami kuasa kebangkitan, dan turut mengambil bagian dalam penderitaan-Nya. Bahasa “melupakan apa yang telah di belakang” menunjukkan orientasi eskatologis: hidup diarahkan kepada tujuan akhir dalam Kristus.

Matius 21:33–46  Perumpamaan Penggarap Kebun Anggur

Highlight: Matius 21:37–39, 42–43.

Matius memakai kembali gambaran Yesaya, tetapi mengembangkannya menjadi kisah tentang para penggarap yang menolak dan membunuh utusan pemilik kebun. Secara historis-sosial, pengelolaan kebun anggur oleh penyewa berkaitan dengan hubungan pemilik tanah, penggarap, utang, dan konflik kepemilikan pada zaman itu.

Dalam konteks Injil Matius, para hamba terutama menggambarkan para nabi, sedangkan “anak” menunjuk pada Yesus. Puncak konflik tampak dalam pembunuhan anak di luar kebun, yang mengantisipasi penderitaan dan kematian Yesus. Kutipan Mazmur 118:22–23 pada ayat 42 mengubah penolakan menjadi pengangkatan “batu penjuru”. Ayat 43 menegaskan perpindahan tanggung jawab Kerajaan Allah kepada umat yang menghasilkan buahnya.

Perumpamaan ini bukan dasar untuk menolak suatu bangsa secara etnis, melainkan kritik terhadap kepemimpinan religius yang tidak menghasilkan keadilan, kesetiaan, dan buah Kerajaan Allah.

Ketiga bacaan bergerak dari anugerah Allah, kegagalan manusia, penghakiman, dan panggilan untuk menghasilkan buah. Yesaya menegaskan bahwa umat Allah harus menghasilkan keadilan, buah.  Filipi menunjukkan bahwa buah tersebut bukan kebanggaan identitas religius, melainkan kehidupan yang berpusat pada Kristus. Matius memusatkan tema itu pada penolakan terhadap Anak dan pembentukan umat yang menghasilkan buah, Kerajaan Sorga.

Dalam terang Ekaristi atau Perjamuan Kudus, roti dan anggur menyatakan pemberian diri Kristus serta persekutuan umat dalam tubuh-Nya. Perjamuan Kudus tidak boleh dipisahkan dari pertobatan dan kehidupan yang menghasilkan keadilan. Perjamuan Kudus menjadi tanda bahwa umat menerima Kristus sekaligus dipanggil untuk menjadi komunitas yang menghasilkan buah kasih, kebenaran, dan pelayanan.
(28092026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 21:33-46 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 𝗧𝗶𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 21:33-46  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 𝗧𝗶𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴

PENGANTAR 
Di dalam kitab-kitab Injil didapati perumpamaan-perumpamaan yang sejajar. Meskipun tampak mirip, perumpamaan-perumpamaan tersebut berbeda penekanannya, karena memang setiap pengarang Injil mengusung teologi yang berbeda. Kita pun diberi banyak perspektif.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesembilan belas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 21:33-46 yang didahului dengan Yesaya 5:1-7, Mazmur 80:7-15, dan Filipi 3:4b-14.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘱-𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳. Perumpamaan ini sejajar dengan perumpamaan di Injil Markus 12:12 dan di Injil Lukas 20:9-19. 

Konteks bacaan adalah Yesus sudah memasuki Kota Yerusalem. Dalam Minggu Palem yang lalu kita sudah membaca bahwa kota gempar atas kehadiran Yesus. Ternyata kedatangan Yesus di Yerusalem langsung menimbulkan masalah. Ia langsung mengusir para pedagang di Bait Allah. Yesus tidak mau rumah doa dijadikan sarang penyamun (Mat. 21:12-13). Bisnis penguasa Bait Allah diusik oleh Yesus.

Ketika Yesus mengajar di dalam Bait Allah, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mendatangi-Nya. Mereka menggugat otoritas Yesus. Untuk menjawab mereka di sini Yesus menyampaikan tiga perumpamaan:
▶️ Matius 21:28-32: Perumpamaan tentang dua orang anak (Bacaan Minggu lalu)
▶️ Matius 21:33-43: Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Bacaan Minggu ini)
▶️ Matius 22:1-14: Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Bacaan Minggu depan)

Untuk pengulasan bacaan Minggu ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 21:33-36 Pengutusan hamba-hamba
▶️ Matius 21:37-39 Pengutusan ahli waris
▶️ Matius 21:40-43 Penutup

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮-𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮 (Mat. 21:33-36)

“𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘈𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘶𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯. (ay. 33) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘱𝘦𝘵𝘪𝘬, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 34) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶. (ay. 35) 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘯-𝘬𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. (ay. 36)” (TB II 2023)

Di Injil Matius kebun anggur kerap dijadikan bahasa kiasan untuk umat Allah (bdk. Yes. 5:1-7; Yer. 12:10). Perumpamaan ini ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

Dalam bagian pertama ini mari kita lihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus.

▶️ Di Injil Markus pemilik kebun mengutus 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 dan sesudahnya mengirim 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. Di Injil Matius tidak menyebut jumlah tertentu, melainkan 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 dan 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢.
▶️ Di Injil Markus kekejaman penggarap-penggarap kebun anggur meningkat. Di Injil Matius sikap para penggarap konsisten, yaitu kejam. Penulis Matius tampaknya memerikan begitulah sikap bangsa Israel yang selalu kejam terhadap utusan Allah: menindas, menyiksa, dan bahkan membunuh.

Persamaannya adalah pengutusan hamba-hamba sebanyak dua kali. Tampaknya pengutusan pertama untuk menggambarkan sikap bangsa Israel terhadap nabi-nabi sebelum masa pembuangan ke Babel. Pengutusan kedua sesudah masa pembuangan ke Babel, yang agama (dhi. Yudaisme) sudah berpusat pada imam-imam, bukan lagi pada raja.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗮𝗵𝗹𝗶 𝘄𝗮𝗿𝗶𝘀 (Mat. 21:37-39)

“𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘈𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯𝘪. (ay. 37) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯: 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 38) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢. (ay. 39)” (TB II 2023)

Dalam bagian kedua ini kita lihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus.

▶️ Di Injil Markus pengutusan anak pemilik kebun tampaknya akibat eskalasi kekejaman para petani penyewa. Di Injil Matius pengutusan anak, si ahli waris, tampaknya hendak mengontraskan dengan pengutusan dua kelompok hamba.
▶️ Di Injil Markus si ahli waris dibunuh terlebih dahulu, kemudian dibuang ke luar kebun. Di Injil Matius urutannya menyesuaikan kejadian penyaliban Yesus, dibawa ke luar Yerusalem, lalu dibunuh. Si ahli waris dibawa terlebih dahulu ke luar kebun, kemudian dibunuh.

Persamaan perumpamaan itu adalah si ahli waris dibunuh.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 21:40-43)

“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶?” (ay. 40) Kata mereka kepada-Nya, “𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢.” (ay. 41) Kata Yesus kepada mereka, “𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘚𝘶𝘤𝘪: 𝘉𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯𝘨-𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘳𝘶; 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘢𝘫𝘢𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢? (ay. 42) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶.” (ay. 43) (TB II 2023)

Pertanyaan Yesus di ayat 40 diajukan kepada pendengar, yaitu imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Padahal petani-petani penyewa dalam perumpamaan itu mengiaskan mereka. Di sini mereka justru menyebut diri sebagai orang-orang jahat yang pantas dibinasakan oleh tuan kebun anggur.

Dalam bagian ketiga ini kita melihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus dan Lukas.

▶️ Pertanyaan Yesus di Injil Markus “𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶?” tidak ditujukan kepada pendengar. Demikian juga pertanyaan Yesus di Injil Lukas “𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢?” juga tidak ditujukan kepada pendengar. Keduanya karena Yesus langsung menjawab pertanyaan-Nya sendiri.
▶️ Perbedaan terbesar perumpamaan itu di ketiga Injil adalah hanya di Injil Matius Yesus mengatakan 𝘣𝘭𝘢𝘬-𝘣𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 bahwa Kerajaan Allah diambil dari imam-imam kepala dan tua-tua dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buah Kerajaan itu. Teks ini menguatkan teologi Injil Matius bahwa pada mulanya Injil diberitakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi mereka menolak, dan akhirnya dialihkan kepada bangsa lain.

Ada istilah menarik dalam bagian ketiga ini, yaitu 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘳𝘶 (ay. 42), yang mengutip Mazmur 118:22-23 versi Septuaginta. Batu penjuru diterjemahkan dari 𝘬𝘦𝘱𝘩𝘢𝘭𝘦̄𝘯 𝘨𝘰̄𝘯𝘪𝘢𝘴, yang berarti literal kepala penjuru. Fungsi batu penjuru pada zaman itu adalah penopang utama kolom bangunan besar. Tanpa batu penjuru bangunan rentan roboh. Pada zaman modern batu penjuru adalah 𝘱𝘪𝘭𝘦 𝘤𝘢𝘱 (kepala tiang pancang). 𝘗𝘪𝘭𝘦 𝘤𝘢𝘱 merupakan rancangan beton untuk mengikat fondasi tiang pancang sebelum didirikan kolom atau pilar di atasnya. 𝘗𝘪𝘭𝘦 𝘤𝘢𝘱 ini bertujuan agar lokasi kolom benar-benar berada di titik pusat fondasi sehingga tidak menyebabkan eksentrisitas yang dapat menyebabkan beban tambahan pada fondasi.

Dalam ayat itu dikatakan bahwa tukang-tukang membuang bahan terpenting dalam pembangunan Bait Suci. Hal yang sama terjadi pada Yesus. Ia dibuang oleh bangsa sendiri. Padahal Yesus bagian terpenting sebagai 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘛𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨 yang menahan seluruh bangunan jemaat agar tidak roboh.

 (08102023)(TUS)

Jumat, 25 September 2026

Sudut Pandang Matius 21 : 28-32

Sudut Pandang Matius 21 : 28-32

PENGANTAR
Pernah nggak sih kamu janji mau mulai olahraga, udah beli sepatu lari mahal, update status "new me" eh ....  besoknya malah rebahan sambil pesan food online. Gimana sih kalau bisa gitu ya? Kita bahas, tapi buruan safe biar nggak hilang, ini Sabsing, Sabda Singkat, bagian dari Sudut Pandang. 
PEMAHAMAN 
Kelakuan wacana doang kayak gini ada penjelasan psikologisnya. Contohnya juga ada yaitu perumpamaan dua orang anak yang dicatat Matius 21, 28 sampai 32. Ceritanya itu ada seorang pengusaha tajir ya, perkebunan sawit. Sorry, ..... Wk .... Wk ... perkebunan anggur. Punya dua anak, disuruh kerja. Anak satunya bilang, siap bos ..... Lip service doang. Ujung-ujungnya gak berangkat, menghilang dan menghealing. Anak satunya lagi pas disuruh malah ngegas. "Gak mau ah, capek". Tapi eh, ujung-ujungnya dia nyesel dan malah kerja beneran. Anak yang bilang, "siap bos" ..... kata bos disini di teks Yunaninya, Kirie, artinya "Tuan atau Tuhan" Ini sindiran telak Yesus di Matius 7 ayat 21 "Bukan yang sering nyebut Tuhan-Tuhan yang masuk kerajaan sorga Tapi yang melakukan kehendak Bapa" Jadi jangan gampang percaya .. ya ... sama orang yang sering bilang "Tuhan" gitu ya. Nah, anak yang bilang "siap bos, laksanakan" ini Kena jebakan Batman, yaitu .... Symbolik self-complation .... Pas dia bilang iya, otaknya ngasih dopamine hit, dia ngerasa sudah jadi anak berbakti, cuman modal kata-kata, otaknya udah ngerasa sukses dan dapat validasi tapi motivasi sesungguhnya buat kerja, panas-panasan di kebun anggur, ... menguap begitu saja, dia cuman punya goal intention, niat .... tanpa tindakan nyata .... doang, gak punya implementation intention, atau rencana "if then" sebaliknya, anak yang bilang gak mau, dia gak ada ke dopamine hit menurut "Rubicon model of action" dari Goldwitzer, anak ini masuk ke fase deliberatif dia mikir, merenung, ngerasa bersalah, lalu bikin keputusan tegas yang gak bisa ditarik lagi, istilah kerennya "menyebrangi sungai Rubicon" ini menuju peristiwa pada zamannya, "kaisar Julius Caesar menyebrangi sungai Rubicon balik lagi", si anak ini gak butuh validasi di awal, dia cuma fokus sama eksekusi nyata, tindakan nyata. So, orang yang kelihatannya berantakan tapi mau berproses dan ambil tindakan nyata, tadinya nggak mau olahraga terus beneran olahraga, lebih berharga daripada si paling suci yang image-nya sempurna tapi zero eksekusi, Zero tindakan nyata. Tuhan lebih suka aksi nyata. "To walk the talk", mengerjakan keselamatannya menjadi pelaku firman daripada lip service. 
(26092026)(TUS)

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

Sudut Pandang metafora atau perumpamaan jerat, perangkap, dan jaring dalam PL dan PB

PENGANTAR 
Ini masalah perkembangan pemahaman (tafsir) perangkap, jaring, dan jerat shg tafsir untuk murid - murid yg menangkap/menjaring ikan itu berkembang dalam Injil.
Dalam metafora sastra Ibrani itu perangkap, jaring dan jerat itu dimaksud kan ulama/pemimpin agama dan Umara/Umaroh pemimpin pemerintahan/pejabat/keluarga raja, yang tidak jadi teladan, shg tafsir tentang murid yg menjaring ikan, berkembang, tidak lagi, tidak hanya menjaring jiwa atau 153 jenis ikan harus menjaring jiwa seluruh dunia. Dalam pemahaman zamannya, menjaring ikan, ikan itu pasti akan mati, dibakar, dimakan, shg tafsir berkembang menjaring ikan itu kritisi penulis Injil, untuk pengikut Yesus, untuk berani mengkritisi ulama dan umarah, apalagi posisi umat Matius thp Yudaisme dan sinagoge dan Lukas thp pemerintah Romawi, termasuk kritisi penulis Injil untuk nasib ulama dan umarah yg tidak sejalan dg kehendak Tuhan. Itu memang metafora khas dalam sastra Ibrani, perkara jaring, perangkap, dan jerat. Metafora sastra Ibrani ini digunakan baik di PL dan PB. Jaring, perangkap, dan jerat juga metafora atas hukuman akhir di hari Tuhan pada ulama dan Umaroh yg tidak bisa menjadi teladan bagi umat bahkan menjerumuskan umat, jadi itu kritikan penulis Injil Matius atas ketidak adilan yg diterima jemaat Matius oleh pemuka agama atau para imam dalam hal ini Yudaisme dg pengusiran jemaat Matius dari sinagoge dan klaim sebagai aliran sesat yg patut dirajam, demikian hal mirip dg penulis Injil Lukas atas penguasa Romawi, maka ikan yg terjaring menjadi gambaran akhir hidup ulama dan Umaroh yg tidak bisa menjadi teladan. Ikan yg terjaring pasti mati, baik itu dipisahkan ataupun tidak, pemisahan ikan itu lambang antara pemuka agama dan pejabat pemerintah yg keduanya sama-sama tidak bisa jadi teladan bahkan menyesatkan umat. Jadi, metafora itu memaknai secara keras, satu, kritisi keras thp ulama dan Umaroh yg tidak bisa jadi teladan dan menyesatkan umat, kedua, hukuman keras atas ulama dan Umaroh yg tidak bisa jadi teladan dan menyesatkan umat, sering dikaitkan dg hari Tuhan
PEMAHAMAN 
Highlight utama: Hosea 5:1 dan Amos 3:5

Hosea 5:1, secara eksplisit menyapa para imam, kaum Israel, dan keluarga raja. Metafora Mizpa dan Tabor sebagai “jerat” menunjukkan bahwa para pemimpin yang seharusnya membimbing umat justru menjadi alat penyesatan dan penghakiman serta teladan buruk bagi umat. Karena itu, teks ini mendukung pembacaan bahwa kepemimpinan agama dan politik dapat dikritik ketika tidak memberi teladan serta menjerumuskan umat.

Amos 3:5 memakai gambaran perangkap untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam tindakan Allah terhadap Israel. Namun, ayat ini tidak secara eksplisit menyebut pemimpin agama atau pejabat pemerintahan, tetapi arahnya tetap sama ketika kitab ini dibaca keseluruhan. Hubungan dengan kritik kepemimpinan harus dibangun dari konteks kitab Amos secara keseluruhan, bukan dari ayat ini saja.

Dalam PL, pola metafora jerat, jaring, dan perangkap memiliki beberapa fungsi:

Hosea 7:12 dan Hosea 9:8 menggambarkan umat yang terperangkap serta nabi yang menjadi penjaga tetapi menghadapi permusuhan. Kritiknya terutama berkaitan dengan ketidaksetiaan Israel dan kegagalan fungsi kenabian pada pemimpin agama dan pemimpin politik.

Yeremia 5:26 menyebut orang-orang fasik yang memasang perangkap untuk menangkap manusia. Ini mendukung kritik terhadap pihak yang mengeksploitasi sesamanya, dan aktornya adalah pemimpin agama dan pemimpin politik.

Yeremia 18:22 memakai gambaran perangkap dalam konteks hukuman atas orang-orang yang merencanakan kejahatan terhadap Yeremia.

Yesaya 8:14-15 dan Yesaya 24:17-18 menggambarkan Tuhan sebagai batu sandungan serta datangnya kengerian dan perangkap atas penduduk yang tidak taat, hukuman pada pemimpin agama dan politik yg kehilangan swara kenabian.

Dalam PB, Matius 13:47-50, memakai jaring sebagai gambaran pemisahan dan penghakiman terakhir juga kritik yg sama atas pemimpin agama dan politik pada zamannya. Jaring tidak secara langsung menunjuk kepada pemuka agama atau pejabat Romawi, melainkan kepada cakupan umat manusia (umat, pemimpin agama, pemimpin politik) dan tindakan penghakiman Allah.

Matius 4:18-20 dan  Lukas 5:4-7 menggunakan kegiatan menjala ikan sebagai panggilan serta pelayanan para murid. Teks-teks ini tidak secara eksplisit menyatakan kritik terhadap pemerintah atau pemuka agama. Namun, dalam pembacaan sosial-historis, panggilan tersebut dapat dipahami sebagai pembentukan komunitas alternatif yang mengikuti otoritas Yesus, mengikuti otoritas Yesus artinya mengikuti teladan Yesus artinya berani mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak jadi teladan serta menyesatkan umat.

Lukas 21:34-35, 1 Timotius 3:7, dan 2 Timotius 2:25-26 menekankan kewaspadaan, reputasi pemimpin, pertobatan, dan pembebasan dari jerat Iblis (godaan menjadi pemimpin agama dan politik yg tidak benar, atau cari aman tidak berani mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak benar. Ayat-ayat ini mendukung kritik terhadap kepemimpinan yang menyesatkan, tetapi tidak secara eksplisit menyebut pejabat Romawi, tapi bisa diduga arahnya sesuai zamannya.

Dengan demikian, tafsir bahwa jerat dan jaring menjadi kritik terhadap kepemimpinan PL-PB memiliki dasar tematis, terutama melalui Hosea 5:1, metafora ini sangat keras di zamannya. Namun, penerapannya kepada pemuka agama Yudaisme dan pejabat Romawi pada masa Injil harus dinyatakan sebagai pembacaan kontekstual, konteks teks zamannya, bukan kesimpulan eksplisit dari setiap ayat.

Highlight: Yohanes 21:11

Dalam Yohanes 21:11, para murid menangkap 153 ekor ikan, dan jala itu tidak koyak. Teks ini menekankan fakta mukjizat serta kelimpahan hasil tangkapan, tetapi tidak memberikan penjelasan eksplisit mengenai makna simbolis angka 153.
Beberapa tafsiran historis mengaitkan 153 dengan:

- Jumlah bangsa-bangsa di dunia.
- Perhitungan gematria atau nilai numerik nama tertentu.
- Lambang kelengkapan atau universalitas misi gereja.

Namun, hubungan tersebut tidak dinyatakan secara langsung dalam Injil Yohanes. Karena itu, secara akademik, angka 153 sebaiknya dipahami terlebih dahulu sebagai bagian dari kesaksian konkret tentang mukjizat, bukan sebagai kode pasti mengenai pemimpin agama atau politik. Dalam konteks Yohanes 21:1–14, jala berhubungan dengan panggilan dan pelayanan para murid setelah kebangkitan Yesus, panggilan ini meliputi keberanian untuk mengkritisi pemimpin agama dan politik yg tidak menjadi teladan umat dan menyesatkan umat. Jala yang tidak koyak dapat dibaca secara teologis sebagai gambaran kelimpahan misi dan pemeliharaan Kristus, tetapi teks tidak secara eksplisit menyamakannya dengan hukuman terhadap pemimpin agama atau politik, juga dalam konteks teksnya bisa bearti keteguhan dalam menjalankan misi penuh risiko dan tidak cari aman atas kritisi pada pemimpin agama dan politik yg tidak menjadi teladan untuk umat bahkan menyesatkan umat, kalau mau dilihat dalam konteks teks latar belakang penulisannya.Hal ini berbeda dengan beberapa perumpamaan dalam Injil Sinoptik, seperti Matius 13:47–50, yang menggunakan jala sebagai gambaran pemisahan orang benar dan orang jahat pada akhir zaman, pemisahan pemimpin agama dan politik yg pasti mati dihukum di hari Tuhan, seperti ikan yg terjaring. Karena itu, simbol jala tidak boleh otomatis dipindahkan ke konteks Yohanes 21 tanpa memperhatikan konteks naratifnya Matius. Hosea 5:1 memang menyebut para imam, kaum Israel, dan keluarga kerajaan sebagai pihak yang menerima teguran karena menjadi jerat dan sumber penyimpangan umat. Ayat ini mendukung kritik kenabian terhadap pemimpin yang gagal membimbing umat. Amos 3:5 memakai gambaran jerat untuk menjelaskan kepastian akibat dan penghakiman Allah. Namun, ayat ini tidak secara langsung menafsirkan angka 153 atau jala dalam Yohanes 21. Hubungan tematis antara Yohanes 21:11, Hosea 5:1, dan Amos 3:5 masih mungkin dibahas: semuanya dapat menyentuh tema tanggung jawab, kritis i pemimpin agama dan politik, pengumpulan, jerat, dan penghakiman. Namun, secara akademik tidak cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa angka 153 adalah simbol khusus bagi hukuman pemimpin agama dan politik, beda dg kasus di Matius maupun Lukas. Kesimpulan yang lebih kuat dari teks Yohanes adalah bahwa misi para murid berlangsung di bawah arahan Kristus dan menghasilkan kelimpahan, sedangkan kritik terhadap pemimpin yang menyesatkan umat harus didasarkan terutama pada teks-teks kenabian yang memang menyatakannya secara eksplisit. Yohanes 21:11 menyebut jumlah ikan secara spesifik, yaitu 153 ekor, tetapi teks tidak memberikan penjelasan simbolis mengenai angka tersebut. Tidak ada pernyataan dalam perikop itu bahwa 153 melambangkan jumlah bangsa, jenis manusia, atau mandat untuk melakukan kristenisasi ke seluruh bumi, harus dilihat konteks teksnya. Karena itu, menghubungkan angka 153 dengan simbol tertentu merupakan tafsir alegoris atau numerologis, bukan makna yang dinyatakan secara eksplisit oleh teks. Dalam konteks teks zamannya, sebetulnya sama saja dg uraian di atas, karena komunitas Yohanes, atau jemaat Yohanes mengalami tekanan dari pemimpin Yudaisme serta serangan ajaran keimanan dari Yudaisme serta bbrp aliran pecahan atau sekte tertentu atau gnostik, sampai mereka bersembunyi di gua-gua, mereka mengalami ketidak adilan dari yg seharusnya melindungi mereka, serangan thp ajaran iman sangat kuat pada konteks teks, zaman jemaat Yohanes.

Dalam membaca Yohanes 21:1-14, perhatian utama narasi adalah:

- Yesus menyatakan diri kepada murid-murid setelah kebangkitan.
- Para murid mengalami kegagalan menangkap ikan tanpa petunjuk Yesus.
- Hasil tangkapan yang besar menunjukkan keberhasilan yang terjadi melalui ketaatan kepada perkataan Yesus.
- Yesus menyediakan makanan dan memulihkan persekutuan dengan murid-murid-Nya.

Dengan demikian, angka 153 lebih aman dipahami sebagai detail naratif tentang kelimpahan tangkapan, bukan kode teologis mengenai jumlah bangsa atau jiwa yang harus dikristenkan.

Matius 4:18-20 dan Lukas 5:4-7 memang memakai pekerjaan menjala ikan dalam konteks panggilan murid. Namun, tidak semua teks tentang ikan otomatis harus ditafsirkan sebagai “mencari jiwa”. Dalam Lukas 5:10, ungkapan “menjala manusia” menunjukkan perubahan tugas para murid menuju pelayanan kepada manusia, dan juga kritik thp kepemimpinan. Akan tetapi, teks tersebut tidak memakai istilah “jiwa” dan tidak menjelaskan metode pemaksaan agama atau proyek politik keagamaan.

Karena itu, istilah “kristenisasi” perlu digunakan secara hati-hati dalam memahami ayat ini. Istilah tersebut merupakan kategori modern dan tidak boleh begitu saja dimasukkan ke dalam teks abad pertama. Secara tekstual, panggilan murid lebih tepat dipahami sebagai kesaksian, pemuridan, dan partisipasi dalam karya Yesus, dan kritisi situasi zaman tsb atas ketidak adilan dari pemimpin agama dan politik saat itu thp jemaat Yohanes — bukan pembenaran bagi dominasi, pemaksaan, atau perluasan kekuasaan institusional.

Matius 13:47-50 juga tidak menafsirkan ikan sebagai “153 jenis manusia”. Perumpamaan jala menekankan pengumpulan dan pemisahan pada penghakiman akhir, kritisi pimpinan pada zamannya. Pelakunya adalah para malaikat dalam konteks penghakiman Allah, bukan strategi ekspansi manusia.

Jadi, Metafora menjala manusia memiliki dasar dalam Matius 4:19 dan Lukas 5:10. Angka 153 dalam Yohanes 21:11 tidak ditafsirkan oleh teks sebagai simbol seluruh bangsa atau jenis manusia. Hubungan antara 153 ikan dan kristenisasi global merupakan konstruksi tafsir kemudian, bukan kesimpulan eksplisit ayat. Tafsir yang bertanggung jawab harus membedakan antara makna naratif, simbolisme kanonik, dan spekulasi numerologis.

Rantai logika argumentasinya dapat disusun demikian:

Pemimpin memiliki tanggung jawab membimbing umat. Dalam Hosea 5:1, imam, kaum Israel, dan keluarga raja ditegur karena menjadi “jerat” bagi umat. Ayat ini menjadi dasar paling kuat untuk menghubungkan metafora jerat dengan kegagalan kepemimpinan agama dan politik. Kepemimpinan yang menyesatkan menghasilkan keterperangkapan. Dalam Yeremia 5:26, orang fasik memasang perangkap bagi manusia. Hosea 7:12 juga menggambarkan umat yang tertangkap seperti burung. Metafora tersebut menunjukkan tindakan manipulatif, penyesatan, dan eksploitasi terhadap umat. Jerat juga menyatakan konsekuensi atau hukuman Allah juga, selain kritisi pada para pemimpin yg gak bener. Amos 3:5 memakai gambaran perangkap untuk menjelaskan bahwa suatu peristiwa memiliki sebab dan akibat. Ayat ini tidak secara eksplisit menyebut pemimpin agama atau pejabat pemerintah, tapi secara konteks teks arahnya memang ke sana, tetapi dalam konteks kitab Amos, hukuman berkaitan dengan dosa dan ketidakadilan Israel. Karena itu, hubungan dengan hukuman atas pemimpin merupakan kesimpulan kontekstual, bukan arti langsung satu-satunya dari ayat tersebut. Dalam PL, pihak yang menyesatkan akhirnya dapat terkena hukuman yang mereka hasilkan.Yesaya 8:14-15 menggambarkan Tuhan sebagai batu sandungan dan perangkap bagi mereka yang menolak-Nya. Yesaya 24:17-18 menyatakan bahwa penduduk bumi mengalami kengerian, lubang, dan jerat. Yeremia 18:22 menggambarkan malapetaka atas orang-orang yang merancang kejahatan. Dalam PB, jaring terutama berfungsi sebagai gambaran penghakiman.  Matius 13:47-50 menjelaskan jala yang mengumpulkan berbagai jenis ikan, lalu terjadi pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Makna eksplisitnya adalah penghakiman terakhir, bukan secara khusus hukuman bagi pemimpin agama atau pejabat Romawi, tapi secara konteks teks dapat disimpulkan akan kritisi atas kepemimpinan pada zamannya. Panggilan menjala ikan tidak otomatis menjadi kritik para pemimpin agama dan politik. Matius 4:18-20 dan Lukas 5:4-7 terutama berbicara tentang panggilan dan ketaatan para murid. Menghubungkannya dengan kritik terhadap struktur kepemimpinan zaman itu dapat menjadi pembacaan sosial-historis, tetapi bukan kesimpulan eksplisit teks. PB juga memakai “jerat” untuk bahaya moral dan rohani. Lukas 21:34-35, 1 Timotius 3:7, dan 2 Timotius 2:25-26 menekankan kewaspadaan, reputasi, pertobatan, dan pembebasan dari jerat Iblis. Jembatan nalarnya sah jika dirumuskan sebagai pola tematis: pemimpin yang menyesatkan menjadi “jerat” bagi umat, lalu menghadapi konsekuensi dan penghakiman Allah. Namun, tidak semua ayat metafora tentang jaring, jerat, atau perangkap secara langsung menunjuk kepada pemuka agama dan pejabat pemerintah. Karena itu, tafsir tersebut kuat sebagai sintesis teologis-kontekstual, tetapi harus dibedakan dari makna eksplisit setiap ayat.
(01102025)(TUS)

Lectures on Reformed Theology 
"PERIHAL TARI-TARIAN & TAMBORIN DALAM IBADAH

B:
Shalom pak Pdt. Muriwali, saya ingin bertanya pak, dalam perspektif Reformed dan prinsip Regulative Principle of Worship, bagaimana kita menilai penggunaan tari-tarian dan tamborin dalam ibadah hari Minggu? Apakah cukup karena Alkitab menyebut tari dan tamborin sebagai bentuk pujian, atau harus ada perintah/prinsip yang jelas dalam Perjanjian Baru untuk memasukkannya ke dalam ibadah gereja? Lalu, apa batas antara ekspresi pujian yang berpusat pada Allah dan unsur pertunjukan dalam ibadah?

MYM:
Semua yang dikatakan dalam PL tentang memuji Tuhan menggunakan kecapi, rebana, dan tari-tarian sifatnya deskriptif bukan preskriptif. Lagipula ini sangat kontekstual pada zaman itu, yang tentu saja berbeda dengan konteks kita sekarang. Kita sekarang tidak lagi mengenal secara persis, misalnya, model kecapi di zaman PL. Kita hanya melihat perkembangannya yaitu harpsichord, piano, dan gitar, termasuk alat-alat musik berdawai tradisional di berbagai daerah. Jadi apa yang dikatakan secara deskriptif dalam PL, tak bisa dijadikan patokan, norma, dan regulasi musik dan penyembahan dalam ibadah.

Satu-satunya regulasi dan norma untuk ibadah,  musik, dan penyembahan kita adalah 1Korintus 14:40 di mana segala sesuatu dalam ibadah harus sopan dan teratur. Inilah yang preskriptif.

Masalah kita di zaman ini adalah, musik apa yang cocok atau tidak dalam ibadah, sering ditentukan oleh mereka yang pengetahuan musiknya sangat minim, sektarian (misalnya, penggila musik jazz saja, atau rock saja, atau pop saja), atau bahkan tak punya pengetahuan musik sama sekali. Mereka menjadi penentu hanya karena mereka memiliki kuasa dan wewenang dalam gereja. Ini adalah kecelakaan terbesar dalam pengaturan liturgi dan ibadah. Sama seperti sekumpulan orang yang tak memahami ilmu kedokteran, atau hanya punya pengetahuan yang sangat minim, tetapi berdiri menghadapi meja operasi seorang pasien. 

Jika seorang atau sekelompok orang yang sangat memahami musik dari berbagai genre, diberi kewenangan untuk mengatur musik apa yang paling cocok dalam ibadah, yang menyatakan keagungan, keindahan, harmoni, keteraturan, dan prinsip kesopanan, maka pilihannya pasti hymns. Sama seperti untuk acara yang agung bagi bangsa, misalnya upacara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Saat menaikkan bendera pasti lagu hymn Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan musik yang cocok. Tak bisa Indonesia Raya di-dangdut-in, atau dibuat nge-rock atau nge-jazz. Hanya dengan cara menyanyikan Indonesia Raya seperti yang sering kita lakukan itulah cara yang paling layak, paling sopan, dan paling hormat.

Jika suatu saat, Indonesia Raya di-dangdut-in, saya tahu bahwa Indonesia sudah mengalami degradasi intelektual dan moral yang luar biasa.

Kamis, 24 September 2026

𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵?

Dalam kehidupan gerejawi hampir setiap hari kita mendengar ungkapan 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Saking seringnya ungkapan itu didengar, otak akhirnya bekerja secara otomatis: Alkitab = firman Allah. Titik! Persoalannya, ketika sebuah ungkapan teologis terus-menerus diulang tanpa lagi dipikirkan maknanya, metafora dapat berubah menjadi takrif (𝘥𝘦𝘧𝘪𝘯𝘪𝘵𝘪𝘰𝘯), dan takrif itu kemudian diperlakukan sebagai fakta harfiah.

𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 pada dasarnya merupakan ungkapan metaforis. Jika ungkapan tersebut dipahami secara harfiah bahwa Alkitab identik dengan Firman Allah, maka Yohanes 1:1 secara konsekuen dapat dibaca begini:

𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣. 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.

Tentu saja bukan demikian maksud pengarang Injil Yohanes. Dalam Yohanes 1:1 Firman (𝘓𝘰𝘨𝘰𝘴) bukanlah nama lain untuk sebuah buku yang baru muncul berabad-abad kemudian. Firman merujuk  realitas ilahi yang dalam prolog Injil Yohanes kemudian dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Hal yang sama dapat dilihat dalam ungkapan lain, misalnya 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘵𝘶𝘬𝘶. Apakah Allah secara harfiah adalah sebuah gunung batu? Tentu tidak. Ungkapan itu merupakan metafora. Seseorang yang menghadapi badai kehidupan dan mengalami Allah sebagai tempat perlindungan yang teguh dapat mengungkapkan pengalamannya dengan mengatakan bahwa Allah adalah “gunung batu”.

Demikian pula ungkapan 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Ungkapan tersebut merupakan cara iman untuk mengatakan bahwa melalui kesaksian yang terdapat dalam teks-teks Alkitab, manusia dapat mendengar dan mengalami firman Allah. Ketika seseorang membaca sebuah teks Alkitab dan melalui teks itu mengalami teguran, penghiburan, penguatan, atau panggilan untuk bertindak, pengalaman tersebut dapat dipahami sebagai perjumpaan dengan firman Allah. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bahwa setiap tafsiran atau setiap perasaan yang muncul ketika membaca Alkitab otomatis identik dengan maksud Allah. Di sinilah penafsiran menjadi penting.

Alkitab sendiri bukanlah sebuah buku yang ditulis oleh satu orang, pada satu zaman, dengan satu gaya, satu situasi, dan satu tujuan. Alkitab merupakan kumpulan tulisan yang lahir dalam rentang waktu yang panjang, dari komunitas dan para petulis yang berbeda, dalam konteks sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang berbeda pula. Oleh karena itu kita menemukan di dalamnya beraneka suara, perspektif, bahkan perbedaan dan ketegangan teologis.

Para petulis kitab-kitab Alkitab juga tidak sedang menyalin sebuah naskah ilahi yang turun dari langit. Mereka menafsir pengalaman hidup, sejarah, penderitaan, pembebasan, konflik, harapan, dan hubungan mereka dengan Allah, lalu menuangkannya dalam berbagai bentuk sastra: narasi, puisi, hikmat, nubuat, surat, apokaliptik, dan berbagai genre lainnya. Oleh karena itu pula teks Alkitab tidak dapat dilepaskan dari manusia dan konteks historis yang melahirkannya.

Contoh yang sangat jelas dapat kita lihat dalam penulisan kitab-kitab Injil. Mengapa kitab Injil ditulis? Para petulis Injil tidak sedang menyusun biografi Yesus secara netral seperti seorang sejarawan modern. Mereka menulis kepada komunitas-komunitas tertentu yang memiliki pergumulan konkret. Ada jemaat yang sedang menghadapi kegundahan, penderitaan, konflik, dan pertanyaan iman yang serius: Jika Yesus adalah Mesias, mengapa Ia justru mati di kayu salib? Apa arti kematian-Nya? Apakah kematian itu berarti kegagalan? Bagaimana kematian dan kebangkitan Yesus harus dipahami dalam terang iman kepada Allah?

Oleh karena itu masing-masing petulis Injil menyusun dan menafsirkan tradisi tentang Yesus dengan cara yang khas sesuai dengan konteks komunitasnya. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes tidak menghasilkan empat kisah teologis yang identik tentang Yesus. Mereka menghadirkan empat kesaksian teologis yang memiliki penekanan masing-masing. Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus segera diharmonisasikan seolah-olah para petulis telah membuat kesalahan yang perlu diperbaiki. Perbedaan itu justru memerlihatkan bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan teologis: menafsirkan siapa Yesus dan apa arti kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya bagi komunitas yang mereka layani.

Dengan demikian teks Injil bukan sekadar kumpulan informasi tentang apa yang pernah dilakukan dan dikatakan Yesus. Teks Injil merupakan kesaksian iman yang lahir dari perjumpaan antara tradisi tentang Yesus dan pergumulan konkret komunitas-komunitas Kristen perdana. Itulah sebabnya keempat Injil dapat menceritakan Yesus dengan penekanan yang berbeda, tanpa harus dipaksa menjadi satu cerita yang seragam.

Justru karena itulah Alkitab dapat dan perlu dikaji secara ilmiah dan akademis. Meneliti teks secara historis-kritis memerhatikan bahasa, genre, konteks sosial, proses penyuntingan, dan perkembangan tradisi tidak berarti merendahkan Alkitab. Sebaliknya, penelitian semacam itu menunjukkan penghargaan terhadap teks dengan tidak memaksanya berbicara menurut keinginan pembacanya.

Untuk itu mengatakan bahwa 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 tidak perlu membuat kita berhenti berpikir. Sebaliknya, pengakuan iman itu seharusnya mendorong kita membaca Alkitab dengan lebih cermat: membedakan teks dari tafsir, membedakan suara petulis dari suara prapaham pembaca, memerhatikan konteks, dan berani mengakui bahwa Alkitab memang memuat keragaman kesaksian iman.

Alkitab tidak menjadi kurang berharkat ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadapnya. Justru di situlah kedewasaan beriman diuji. Iman yang dewasa tidak takut pada pertanyaan. Dengan demikian persoalannya bukan pertama-tama apakah Alkitab “identik dengan” firman Allah, tetapi bagaimana melalui teks-teks yang lahir dari refleksi pergumulan manusia dengan Allah itu, Gereja terus-menerus mendengar, memahami, dan menghidupinya.

(25092026)

Rabu, 23 September 2026

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 

PENGANTAR
saya ingin menunjukkan seperti apa khotbah yang dibangun dengan baik, saya akan mengambil khotbah atas Yohanes 12:20–25 sebagai contoh. Bukan berarti seluruh tafsir saya tidak dapat diperdebatkan. Namun, dari segi struktur khotbah ini memerlihatkan sesuatu yang penting: 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗮𝗽𝗹𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶, bukan sebaliknya.
PEMAHAMAN 
Pertama-tama pengkhotbah  membaca perikop Yohanes 12:20–25 secara utuh, walaupun kemudian fokus khotbah diarahkan terutama kepada ayat 24 tentang biji gandum. Ini penting, 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 langsung mengambil kalimat 𝘫𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘮 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 lalu menjadikannya slogan moral. Ayat tersebut terlebih dahulu ditempatkan dalam perikopnya.

Sesudah itu masuk ke dalam konteks naratif. Ia menjelaskan ketegangan antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi yang semakin meningkat, terutama setelah pembangkitan Lazarus. Dalam konteks itulah muncul orang-orang Yunani yang ingin bertemu dengan Yesus. Bagi saya di sini terlihat langkah eksegetis yang penting: pertanyaan pertama bukan “Apa yang dapat saya pelajari dari ayat ini?”, melainkan “Mengapa Yohanes menempatkan kedatangan orang-orang Yunani ini tepat sebelum ucapan Yesus tentang biji gandum?”

Saya juga melihat  𝗯𝗲𝗿𝗱𝗶𝘀𝗶𝗽𝗹𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿. Yohanes tidak menjelaskan mengapa orang-orang Yunani itu ingin bertemu dengan Yesus, kemudian menyebut beberapa kemungkinan penafsiran, tetapi tidak menyajikannya sebagai fakta yang dinyatakan oleh teks. Bagi saya ini merupakan kebiasaan eksegetis yang penting: dugaan penafsir jangan dinaikkan statusnya menjadi isi Alkitab.

Selanjutnya saya melihat perhatian diarahkan kepada tanggapan Yesus. Orang-orang Yunani ingin bertemu dengan Yesus, tetapi Yohanes tidak mencatat bahwa Yesus kemudian menemui mereka. Yang muncul justru pernyataan Yesus: “𝘛𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯.” Sesudah itu muncul gambaran biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Dengan demikian pengkhotbah mula membaca hubungan internal di dalam teks: 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯 Yesus tidak dipisahkan dari kematian-Nya.

kemudian masuk ke dalam istilah dan gambaran teologis yang terdapat dalam teks. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 dihubungkan dengan Daniel 7. Ia menunjukkan kontras antara kerajaan yang dibangun melalui pola kekuasaan dan kekerasan dengan kemesiasan Yesus yang justru ditempuh melalui pengorbanan. Dengan demikian rujukan Daniel tidak berdiri sebagai informasi tambahan belaka, tetapi dipakai untuk membantu menjelaskan bagaimana Yohanes memahami kemuliaan Yesus.

Barulah kemudian metafora biji gandum ditafsirkan, tidak berhenti pada penjelasan bahwa biji harus mati supaya menghasilkan buah. Ia menghubungkannya dengan ucapan Yesus tentang kemuliaan dan kemudian dengan kematian-Nya. Dari sini merumuskan dua matra: kehidupan melalui kematian dan kehidupan yang menghasilkan buah bagi banyak orang melalui pengorbanan.

Bagi saya di sinilah letak perbedaan penting antara eksegese dan sekadar mencari ayat untuk mendukung gagasan yang sudah dimiliki oleh seorang pengkhotbah. Aplikasi belum dimula sebelum makna tekstualnya terlebih dahulu dicari.

Setelah memeroleh pemahaman tersebut, barulah khotbah bergerak ke kehidupan jemaat, berbicara tentang materialisme, hedonisme, dan individualisme sebagai kecenderungan kehidupan masyarakat yang dapat membalik pola pengorbanan: bukan mengorbankan diri demi kebaikan orang lain, melainkan mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Di sini saya mula membedakan dengan tegas antara eksegese dan aplikasi. Pembicaraan mengenai materialisme, hedonisme, dan individualisme bukan lagi penjelasan langsung mengenai Yohanes 12:20–25. Itu adalah aplikasi teologis terhadap kehidupan masa kini. Menurut saya hal tersebut sah dilakukan justru karena sebelumnya sudah berusaha memeroleh pesan dari teks.

Aplikasi itu kemudian dipersempit. Mengasihi diri sendiri tidak dianggap salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kepentingan diri membuat seseorang mengabaikan atau bahkan mengorbankan orang lain. Dengan demikian aplikasi masih berusaha memertahankan garis besar pesan yang sebelumnya diperoleh dari teks: biji gandum menghasilkan buah melalui pengorbanan dirinya, bukan dengan mengorbankan yang lain.

Pada bagian akhir  membawa jemaat kembali kepada Yesus sendiri. Biji gandum bukan sekadar metafora untuk mengajarkan agar manusia menjadi orang baik atau suka berkorban. Yesus sendiri menjadi pola utama dari pengorbanan tersebut. Oleh karena itu gambaran biji gandum kemudian dihubungkan dengan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus.

Kalau saya sederhanakan, struktur khotbah ini dapat dibagankan demikian:
𝗧𝗘𝗞𝗦 ➡️ 𝗞𝗢𝗡𝗧𝗘𝗞𝗦 ➡️ 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗔𝗠𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗧𝗘𝗞𝗦𝗧𝗨𝗔𝗟 ➡️ 𝗠𝗔𝗞𝗡𝗔 ➡️ 𝗧𝗘𝗢𝗟𝗢𝗚𝗜 ➡️ 𝗔𝗣𝗟𝗜𝗞𝗔𝗦𝗜 ➡️ 𝗞𝗘𝗠𝗕𝗔𝗟𝗜 𝗞𝗘𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗞𝗥𝗜𝗦𝗧𝗨𝗦.

Dengan pertanyaan yang lebih sederhana: 𝗔𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀? 𝗔𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗲𝗸𝘀𝗻𝘆𝗮? 𝗔𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀𝗻𝘆𝗮? 𝗟𝗮𝗹𝘂 𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗿𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁?

Menurut saya inilah satu ciri penting khotbah yang bertanggung jawab secara eksegetis. Aplikasi tidak menjadi tuan atas teks. Teks tetap menjadi tuan atas aplikasi.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa karena strukturnya baik maka seluruh eksegesenya otomatis benar. Justru sebaliknya. Struktur yang baik memungkinkan pengkhotbah menguji setiap langkah argumentasinya: apakah konteksnya tepat, apakah hubungan antar-teksnya sah, apakah kesimpulannya benar-benar keluar dari teks, dan apakah aplikasinya masih mempunyai hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan teks.

Jadi, bagi saya khotbah yang baik bukanlah khotbah yang tidak boleh dikritik. Khotbah yang baik adalah 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗹𝘂𝘀𝘂𝗿𝗶. Pendengar dapat melihat dari mana pengkhotbah berangkat, bagaimana ia membaca teks, bagaimana ia memeroleh makna, dan bagaimana ia sampai pada aplikasi.

Itulah yang membedakan khotbah yang lahir dari teks dengan khotbah yang hanya menggunakan teks sebagai kendaraan menuju gagasan pengkhotbah sendiri.

Selasa, 22 September 2026

𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗯𝗶 serta Sidak Lapas Ombudsman

Sudut Pandang 𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗯𝗶 serta Sidak Lapas Ombudsman

PENGANTAR 
Ada 2 tuduhan thp orang KRESTENZ yg saya singgung di sini, dan ramai di medsos. Sebelum ngomongin per BABI an, saya mo nyenggol keber AGAMA an terkait peristiwa sidak ombudsman di lapas, dimana diduga ditemukan ruang atau kamar mewah, ada lambang salibnya, kemudian jadi heboh di medsos, juga kekristenan jadi jibiran. Oleh karena menurut saya, kasus per BABI an memiliki pondasi kelirumologi .... Wk .... Wk .... Dengan kasus sidak ombudsman ini, kemudian hari ruang-ruang mewah diaku sebagai rumah dinas karyawan lapas ..... Wk ...... Wk ..... Wk. Baik saya mulai, agama itu berisi kumpulan aturan suci yang memandu para penganutnya untuk hidup suci juga. bila para penganut agama menjalani hidup suci maka -diharapkan- kehidupan pada umumnya akan berjalan dengan baik, tidak ada kekacauan, namun fakta menunjukkan bahwa ajaran suci tidak serta merta berbanding lurus dengan kehidupan para penganutnya, agama tidak - atau bila hendak lebih berpengharapan: belum - berbanding lurus dengan perilaku para penganutnya di indonesia, misalnya, agak mudah menemukan contoh dari hal tersebut. kerna sampek detik ini saya masih beragama kristen - seswai yang tercantum di ktp - maka contohnya dari yang sama agamanya, ketika terjadi pergantian menteri keuangan, salah satu anasir yang disebutkan - entah dengan tujuan apa - adalah agama, menteri yang baru itu beragama kristen. seolah ada pemikiran bahwa bila pejabatnya orang kristen maka dijamin akan lebih baik dari yang bukan kristen ..... walah ..... Wk ...... Wk. agama kristen dianggap sebagai jaminan mutu .... tenane? Ketika ada pejabat Kristen dilantik, saya tuh justru deg-degan setengah mati dan berdoa sungguh-sungguh, supaya mereka nggak menambah panjang list pejabat-pejabat publik Kristen yang bermasalah, baik secara moral, integritas, bahkan hukum. Kebanggaan saudara seiman jadi pejabat publik, bagi saya, lebih tipis daripada selembar kertas tisu, lalu terjadilah sidak dari ombudsman ke lapas di cibinong. entah apa yang mendorong ombudsman melakukan sidak ke sana. kenapa tak ke lapas yang lain? kenapa lapas 2, kenapa bukan lapas 1? entahlah ..... yang pasti ketika sidak dilakukan, ombudsman menemukan ada beberapa ruangan setara apartemen yang diduga menjadi tempat tinggal narapidana tertentu. para petugas lapas dengan sekuat tenaga berupaya untuk menghalangi pejabat ombudsman yang melakukan sidak. Ketika para pejabat ombudsman itu akhirnya berhasil masuk ke ruangan yang diduga sebagai sel mewah, kamera menangkap satu asesoris tak biasa dalam ruangan itu: salib!! ... Xi .... Xi, mengapa tak biasa? sebab salib adalah lambang agama kristen, ia tak pernah hadir tanpa sengaja dan sekadar jadi asesoris iseng. Salib hadir sebagai representasi eksistensial kekristenan, apa salahnya bila di ruangan itu ada salib? tak ada yang salah. salib bisa ditempatkan di mana saja sesuai keinginan dan kebutuhan pemakai, bila hendak diletakkan di dalam toilet pun sah-sah saja. Soalnya adalah ruangan itu diduga menjadi sel untuk mereka yang dianggap istimewa sehingga layak menempati sel yang berbeda dari narapidana yang lain. apa yang membuatnya jadi istimewa? bisa ada banyak hal. tapi yang pasti dan yang paling mudah diduga adalah berkait dengan uang, lapas punya ruang yang sama untuk semua narapidana. bila ada narapidana yang mendapatkan ruang lapas istimewa, maka patut diduga terjadi kecurangan. Entah siapa yang meletakkan salib dalam ruangan itu?. bila petugas lapas, maka patut diduga ruangan itu biasa dipakai untuk ibadah para penghuni lapas yang beragama kristen. Namun, bila ruangan itu biasa dipakai untuk ibadah, mengapa ketika ada petugas ombudsman yang masuk ke dalam ruangan itu ada orang yang melarikan diri ke dalam salah satu kamar dan menguncinya dari dalam? (peristiwa ini dapat dilihat dalam video yang banyak beredar diberbagai media sosial). Bila orang yang lari itu adalah narapidana yang mendapat privilege tinggal di sel mewah, dan ia beragama kristen!! (kecil kemungkinan penghuninya beragama non kristen sebab ada salib), maka makin sahihlah keraguan bahwa agama berbanding lurus dengan perilaku penganutnya. Jadi, hanya karena seseorang beragama kristen tak perlulah itu dibanggakan sebagai jaminan mutu  (disclaimer: tentu saja ada orang beragama kristen yang dipenjara karena ketidakadilan, atau tidak punya kesempatan untuk menikmati sel mewah sebab tak punya uang atau sadar bahwa itu bukan tempatnya!)
PEMAHAMAN 
Orang Kristen dituduh makan daging babi oleh Yahudi-Yahudi kawé karena Rasul Paulus “merusak” hukum Taurat. Biasanya orang Kristen lalu sibuk membela Paulus: “Bukan Paulus! Jangan salahkan Paulus!” Saya malah punya pertanyaan lain: Kalau memang Paulus berperan dalam perubahan sikap orang Kristen terhadap hukum makanan, 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮? 𝗜𝗺𝗮𝗻𝗺𝘂 𝘁𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂?😂 Sekarang mari kita mengandaikan waktu berjalan linear, dari masa Sebelum Zaman Bersama (SZB) atau Sebelum Masehi (SM) lalu masuk ke masa Zaman Bersama (ZB) atau Masehi (M). Kalau kita mengandaikan kitab-kitab PL adalah SZB dan kitab-kitab PB adalah ZB, apakah kitab-kitab PB merupakan kontinuitas atau diskontinuitas PL? Perjanjian Baru adalah 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗴𝘂𝘀 𝗱𝗶𝘀𝗸𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 dari Perjanjian Lama. 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 karena harus diakui bahwa kekristenan berakar dalam Yudaisme. Yesus, para rasul, dan jemaat mula-mula tidak muncul dari ruang kosong. PB juga merupakan 𝗱𝗶𝘀𝗸𝗼𝗻𝘁𝗶𝗻𝘂𝗶𝘁𝗮𝘀 PL, karena PB 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗟 dalam terang Kristus. Nah, soal daging babi menjadi menarik kalau dilihat dari sini. Persoalannya bukan sesederhana: 𝘗𝘢𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘣𝘪,  karena ada satu persoalan yang sering luput: 𝗣𝗮𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮. Sebelum Paulus menjadi pengikut Kristus dan kemudian tampil sebagai penginjil, sudah ada komunitas pengikut Yesus. Paulus sendiri mengakui bahwa ia menerima dan meneruskan tradisi yang sudah ada sebelumnya (bdk. 1Kor. 15:3-5). Jadi, agak aneh kalau seluruh perubahan sikap terhadap Taurat kemudian dibebankan begitu saja kepada Paulus, seolah-olah ia datang dengan sebuah agama baru lalu membuang Taurat. Yang terjadi jauh lebih rumit. Tradisi yang diwarisi dari Israel tetap menjadi akar kekristenan, tetapi dalam komunitas pengikut Kristus tradisi itu mengalami 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴. Paulus memang memainkan peranan penting dalam proses tersebut, terutama ketika Injil berhadapan dengan orang-orang bukan-Yahudi. Namun, ia melakukannya di tengah komunitas dan tradisi yang sudah lebih dahulu ada. Jangan lupa pula sampai Paulus mati belum ada kitab-kitab Injil kanonik seperti Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes. Oleh karena itu pertanyaan yang lebih menarik bukan: “Siapa yang pertama mengizinkan orang Kristen makan babi?” melainkan: “Bagaimana dan mengapa komunitas Kristen mula-mula menafsir ulang Taurat?” Kalau ternyata Paulus berperanan penting dalam proses itu, 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮? 🤣Bukankah sejak awal kita memang sedang berbicara tentang sebuah iman yang 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗴𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁? Babi, ternyata, membawa kita kembali ke hermeneutika. 🐷
(26092026)(TUS)

Minggu, 20 September 2026

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

PENGANTAR
Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memiliki otoritas yang ditandai kebenaran, kerendahan hati, pelayanan, dan ketaatan, bukan sekadar jabatan atau pengetahuan. Gambaran Ketaatan adalah Pertobatan itu sendiri untuk menyambut Pengampunan.
PEMAHAMAN 
Yehezkiel 18:1–4, 25–32  Pertobatan sebagai tanggung jawab pribadi

Secara sastra, bagian ini menolak pepatah bahwa anak menanggung kesalahan ayahnya. Kata Ibrani nephesh (“jiwa/pribadi”) menegaskan tanggung jawab setiap manusia di hadapan Allah. Dalam konteks pembuangan, Israel cenderung menyalahkan generasi sebelumnya; namun Allah menyatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas jalannya sendiri. Kata kunci teologisnya adalah shuv, yaitu “berbalik” atau “bertobat” (Yehezkiel 18:30–32). Pertobatan bukan sekadar penyesalan emosional, melainkan perubahan arah hidup. Allah tidak berkenan pada kematian orang fasik, melainkan menghendaki ia berbalik dan hidup, umat dipanggil berhenti mencari kambing hitam dan memeriksa ketaatan pribadi. Pertobatan tetap mungkin karena Allah membuka jalan kembali.

Filipi 2:1–13 — Ketaatan yang lahir dari kerendahan hati

Bagian ini merupakan nasihat pastoral kepada jemaat agar hidup sehati dan tidak mencari kepentingan diri (Filipi 2:1–4). Puncaknya ialah himne Kristologis Filipi 2:6–11. Kristus mengambil rupa seorang hamba (morphē doulou) dan merendahkan diri dengan menjadi taat sampai mati. Kata ekenōsen (“mengosongkan diri”) tidak berarti Kristus kehilangan keilahian-Nya, melainkan Ia menyatakan kerendahan hati melalui pengambilan posisi hamba. Ketaatan Kristus kemudian diikuti oleh peninggian Allah atas-Nya. Dalam Filipi 2:12–13, “kerjakan keselamatanmu” memakai bentuk jamak dan menunjuk pada kehidupan jemaat bersama, bukan usaha manusia memperoleh keselamatan tanpa anugerah. Allah sendiri yang mengerjakan kemauan dan pekerjaan umat-Nya. Mengerjakan keselamatan adalah tanggapan bertanggung jawab atas anugerah keselamatan, pertobatan adalah bentuk mengerjakan keselamatan tsb itulah taat, pertobatan harus tampak dalam relasi, kerendahan hati, pelayanan, dan ketaatan kepada Allah.

Matius 21:23–32 — Otoritas yang diuji melalui ketaatan

Pertanyaan para imam kepala dan tua-tua mengenai otoritas (exousia) Yesus bukan pencarian kebenaran yang tulus, melainkan usaha menghindari konsekuensi jawaban. Yesus menghubungkannya dengan baptisan Yohanes: berasal dari surga atau dari manusia (Matius 21:24–27). Perumpamaan dua anak memperlihatkan perbedaan antara perkataan dan tindakan. Anak pertama awalnya menolak, tetapi kemudian berubah pikiran, kata Yunani metamelomai dan pergi bekerja. Anak kedua berkata “ya”, tetapi tidak melakukannya (Matius 21:28–31). Para pemungut cukai dan perempuan sundal mendahului para pemimpin agama karena mereka percaya kepada Yohanes dan bertobat, sedangkan para pemimpin melihatnya tetapi tidak bertobat (Matius 21:32).

Yehezkiel menegaskan tanggung jawab untuk berbalik; Filipi menunjukkan bentuk ketaatan melalui kerendahan hati Kristus; Matius memperingatkan bahwa pengetahuan agama dan pengakuan lisan tidak cukup tanpa tindakan. Kritik terhadap pemimpin agama dalam teks ini harus menjadi pemeriksaan diri gereja, bukan tuduhan sembarangan kepada individu tertentu. Pemimpin yang memahami kehendak Allah tetapi terus mempertanyakan otoritas yang benar demi mempertahankan posisi sedang mengalami bahaya rohani: mengetahui kebenaran tanpa menaatinya.
(21092026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 20 : 1-16

Sudut Pandang Matius 20 : 1-16

PENGANTAR
Ini gimana sih konsepnya? Kerja capek-capek 1 jam, gajinya sama kayak kerja 12 jam. Ini bos udah gila kali ya. Oke, ini kanal Sudut Pandang, Sabda Singkat -Sabsing, buruan save supaya nggak hilang.
PEMAHAMAN 
 Bacaan kita Matius 20, ayat 1-16. Bayangin ya, kamu nguli kerja dari jam 6 pagi, eh temen kamu yang baru datang jam 4 sore, jam 5 udah tenggo. Pas gajian, nominal kalian... sama. Emosi gak tuh ya? Rasanya pengen resign sambil banting meja. Jadi gini, kita bedah dulu konteks ekonomi zaman Yesus. UMR pekerja kebun anggur 1 dinar per hari, dirupiahkan sekitar 150 ribu. Uang segini di zaman itu cukup kasih makan anak istri selama 2 hari. Aman ya? Tapi gimana nasib pekerja yang baru direkrut jam 5 sore? Di rekrut jam 5 sore itu berarti dia mungkin bukan pekerja pilihan, mungkin sudah umur, mungkin gak punya pengalaman, mungkin udah ngelamar sana sini tapi gak ada yang terima. In this ekonomi gitu loh, zamannya tapi senada dg zaman sekarang. Kalau bosnya pake matematika kaku, upah 1 dinar itu harusnya dibagi proporsional. Karena dia cuma kerja sebentar, dia cuma bisa bawa pulang ya sekitar 15 ribu. Dengan duit segitu pekerja ini dan keluarganya bakalan berat melewati 1 malam, jangankan 2 hari.
Nah disinilah letak jeniusnya teks ini, penulis Injil Matius, Ingat gak di pasal sebelumnya Matius 19 Yesus ngerosting orang kaya, Katanya lebih gampang unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk kerajaan Allah Susah banget Nah perikob Matius 20 ini semacam cheat code, resep rahasia buat mereka yang kaya Bagaimana bisa masuk kerajaan Allah? Ya bersikaplah adil fair bagi mereka yang punya gak punya privilege (hak istimewa/hak waris) dan kemampuan dan berbelas kasih bagi mereka yang posisinya lemah, menyetarakan diri dengan mereka, berbela rasa, berbagi rasa, dan turut merasa dengan mereka, jangan eh ....... malah buat club', circle, komunitas, gang, dlsb yg membuat malah ada kesenjangan kaya dan miskin, temenku dan no temanku, gangku dan no gangku, circleku dan no circleku, dlsb. Bagi pekerja awal, ini adalah keadilan retributif, bahasa asli yg digunakan MISPHAT dalam bahasa Ibrani, algoritma kontraktual. Bagi pekerja belakangan, sang Tuhan menegakkan keadilan distributif, bahasa asli yang digunakan, SHEDAKAH, algoritma kasih karunia. Bekerja ya tergantung perjanjian kerjanya tokh? Begitulah sang Tuhan yang adalah Tuhan sendiri, ia fair kepada yang  privilege (punya hak istimewa, punya hak waris) tapi penuh belas kasihan, Bagi mereka yang membutuhkan bahkan tanpa privilege. Lalu bagaimana dengan kita? Masihkah kita tak berbelas kasih, membatasi bahkan membuat sekat antar sesama? 
(21092026)(TUS)

Sabtu, 19 September 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

PENGANTAR
Dalam kehidupan sehari-hari adalah lazim pegawai swasta berganti majikan atau perusahaan. Mereka pindah sesudah kesepakatan kerja tercapai. Kerap terjadi pegawai baru suatu perusahaan mendapat gaji lebih besar daripada pegawai lama sehingga membuat mereka iri hati. Tak jarang pegawai lama memusuhi pegawai baru. Padahal perusahaan sama sekali tidak mengurangi hak pegawai. Semua dibayar sesuai dengan perjanjian kerja masing-masing.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu ketujuhbelas setelah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 20:1-16 yang didahului dengan Yunus 3:10-4:11, Mazmur 145:1-8, dan Filipi 1:21-30.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 20:1-16, diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳. Sebelum memula membaca, perhatikan perikop sebelumnya, yaitu Matius 19:27-30 𝘜𝘱𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Di sana Petrus bertanya kepada Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩?” Yesus menjawab Petrus dan jawaban Yesus (dalam perikop itu) diakhiri dengan, “𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.” Perumpamaan dalam bacaan Injil Minggu ini merupakan ilustrasi dari Yesus tentang penutup jawaban Yesus di Matius 19:30.

𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 mirip dengan 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 di Lukas 15:11-32. Kedua perumpamaan ini merupakan kritik terhadap kaum Farisi yang mengejek Yesus bergaul dengan para pendosa.

Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 20:1-7 Rekrutmen pekerja
▶️ Matius 20:8-15 Pengupahan
▶️ Matius 20:16 Penutup

𝗥𝗲𝗸𝗿𝘂𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗽𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 (Mat. 20:1-7)

“𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢. (ay. 1) 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢. (ay. 2) 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳. (ay. 3) 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 4) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢. (ay. 5) 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪? (ay. 6) 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘬𝘶. (ay. 7)” (TB II 2023)

Sudah barang tentu ilustrasi di atas bukan tentang kegiatan ekonomi masyarakat. Kebun anggur merupakan bahasa kiasan mengenai umat Allah (bdk. Yes. 5 dan Yer. 2:10). Di sini Yesus hendak memberikan gambaran satu ciri (lagi) mengenai Kerajaan Surga (atau Kerajaan Allah).

Proses rekrutmen di atas rupanya mirip dengan situasi masa kini. Di kota-kota besar, terutama Jakarta, kita kerap melihat kuli sindang, sekelompok pekerja yang lengkap dengan cangkul dan pengkinya menanti di trotoar dan mengharapkan panggilan kerja dari mandor. Tidak jarang kita menyaksikan mereka masih terduduk sampai siang hari. Mereka adalah pekerja harian. Pada zaman Perjanjian Baru upah buruh adalah 1 dinar per hari. 

Pada zaman dulu hari baru dimula sesudah matahari terbenam, tetapi hari dihitung sebaliknya, dimula saat matahari terbit. Yang disebut hari di sini adalah saat terang matahari. Penghitungan panjang hari sangat sederhana, dimula dari jam pertama saat matahari terbit dan berakhir pada jam ke-12 saat matahari terbenam. Pukul 9 di atas dalam bahasa aslinya 𝘵𝘳𝘪𝘵o𝘯 𝘩o𝘳𝘢𝘯 (jam ketiga), pukul 12 dari 𝘩𝘦𝘬𝘵o𝘯 (keenam), pukul 15 atau 3 petang dari 𝘦𝘯𝘢𝘵o𝘯 (kesembilan), dan pukul 17 atau 5 petang dari 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵o𝘯 (kesebelas).

Secara ringkas bagian pertama ini pemilik kebun anggur adalah seorang yang murah hati, yang tidak mau melihat orang 𝘫𝘰𝘣𝘭𝘦𝘴𝘴, tak punya pekerjaan. Ia menyediakan pekerjaan kepada setiap orang yang dilihatnya menganggur.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗽𝗮𝗵𝗮𝗻 (Mat. 20:8-15)

“𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘰𝘳𝘯𝘺𝘢: 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢. (ay. 8) 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳. (ay. 9) 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢. (ay. 10) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵-𝘴𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶, (ay. 11) 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪. (ay. 12) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪? (ay. 13) 𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩; 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 14) 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪? (ay. 15) (TB II 2023)

Frase 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 diterjemahkan dari 𝘰𝘱𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘦 𝘨𝘦𝘯𝘰𝘮𝘦𝘯o𝘴, yang berarti literal malam telah sedang tiba atau terjemahan bebasnya menjelang malam. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 berarti sudah hari baru. Menurut UU Cipta Kerja 𝘦𝘩 kitab Imamat 19:13 dan Ulangan 24:15 para pekerja harian harus dibayar setiap hari sebelum matahari terbenam atau hari baru. 

Selain mengikuti peraturan kitab Taurat untuk waktu pengupahan, pemilik kebun anggur tidak mengurangi hak pekerja. Bahkan ia murah hati membayar pekerja satu dinar, meskipun mereka bekerja tidak sehari penuh. Kemurahhatiannya mendapat protes dari pekerja penuh-hari. Mereka melayangkan protes karena iri hati.

Kata sapaan 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯 (𝘏𝘦𝘵𝘢𝘪𝘳𝘦) di ayat 13 merupakan perbaikan 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 dalam TB 1974 dan TB II 1997. Argumen pemilik kebun anggur yang membayar penuh kepada seluruh pekerja tampaknya tidak dapat disanggah oleh pekerja penuh-hari.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 20:16)

“𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.” (TB II 2023)

Ayat 16 di atas kerap dijadikan pendukung bagi sebagian orang yang baru pindah dari agama bukan-Kristen menjadi Kristen dan para Kristen “lahir-baru”. Apalagi kepindahan mereka dan “pertobatan” orang Kristen “lahir-baru” diiringi dengan narasi heroik. Mereka mendaku bahwa mereka akan menjadi yang pertama mendahului orang-orang Kristen “tradisional” karena keturunan seperti saya. Benarkah?

Injil Matius ditulis sesudah Bait Allah II hancur. Pada mulanya umat Kristen (dhi. Jemaat Matius) dari kalangan Yahudi. Umat Kristen hidup rukun dengan orang Yahudi dan bersama-sama beribadah di sinagog. Pembedanya adalah umat Kristen mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias. Pada 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh kaum Zelot. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. Matius 4:23 adalah jejak sejarah pengucilan itu: Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 … Kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘢𝘶𝘵o𝘯) adalah bukti sudah ada pembedaan antara orang Yahudi (𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢) dan Jemaat Matius. Barangkali, mungkin, pengarang Injil Matius menulis itu penuh emosi? Bandingkan dengan Markus 1:21 dan Lukas 4:16 yang tidak menulis kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.       Perumpamaan di atas adalah kritik terhadap kaum Farisi. Para pengikut Yesus dipandang oleh kaum Farisi sebagai orang-orang buangan, yang diperhitungkan belakangan, kelompok terakhir. Namun, pada saat hari penghakiman (yang diumpamakan waktu penerimaan upah) menjadi yang pertama. Sebaliknya, kaum Farisi yang dipandang oleh masyarakat sebagai yang pertama, elit, karena tampak berperilaku sempurna dan dikagumi oleh banyak orang menjadi yang terakhir pada hari penghakiman. Mengapa demikian? Seperti disebut di ayat 15 mereka tidak berbelarasa kepada saudara-saudara sendiri bahkan memisahkan diri dan mengucilkan para pengikut Yesus. Iri hati menghilangkan belarasa (𝘤𝘰𝘮𝘱𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘵𝘦). Jadi, ayat 16 di atas bukan maksudnya orang yang belakangan pindah ke agama Kristen atau Kristen “lahir-baru” menjadi yang pertama mendahului orang-orang Kristen “tradisional” karena keturunan.
 (24092023)(TUS)

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A  PENGANTAR  Minggu 04 Oktober 2026. Ketiga bacaan ini membentuk satu rangk...