Minggu, 05 April 2026

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ-๐—น๐—ถ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ-๐—น๐—ถ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ

PENGANTAR 
Kisah Paskah yang berbeda-beda dalam Injil, itu bukan sesuatu yang harus diselaraskan, karena setiap Injil, penulisnya mengusung konsep teologinya mading-masing


PEMAHAMAN
๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐˜€ tidak mengisahkan penampakan Yesus-Paska. Injil Markus hanya menyampaikan berita kebangkitan Yesus melalui ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ di dalam kubur Yesus. Warta itu disampaikan kepada Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต! ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜•๐˜ข๐˜ป๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต! ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜—๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด: ๐™„๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™™๐™–๐™๐™ช๐™ก๐™ช๐™ž ๐™ ๐™–๐™ข๐™ช ๐™ ๐™š ๐™‚๐™–๐™ก๐™ž๐™ก๐™š๐™–. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.” (Mrk. 16:6-7, TB II 2023)

Injil Markus berhenti mendadak pada pasal 16 ayat 8a.

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ berkisah lebih lengkap. Hanya saja perempuan yang datang ke kubur Yesus sedikit berbeda, yakni Maria Magdalena dan Maria yang lain. Yesus-Paska menampakkan diri kepada kedua perempuan itu (Mat. 28:9). Yesus menyampaikan pesan kepada mereka agar para murid-Nya (Yesus menyebut dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ) menjumpai-Nya di Galilea. Ini berarti kedua perempuan itu berjumpa dengan Yesus-Paska di Yerusalem dan para murid juga masih di Yerusalem.

Adegan beralih dengan perjumpaan para murid dan Yesus-Paska di Galilea. Di sini Yesus-Paska mengutus para murid-Nya, yang kemudian dikenal dengan Amanat Agung (Mat. 28:16-20). Tidak ada kisah Kenaikan Yesus.

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ menceritakan penampakan Yesus-Paska kepada Kleopas dan murid anonim dalam perjalanan pulang ke Emaus dari Yerusalem. Sesudah kedua murid itu menyadari itu Yesus-Paska, mereka bergegas kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan kabar sukacita itu kepada teman-teman mereka (Luk. 24:13-35).

Sesudah episode di Emaus, adegan berlanjut dan beralih ke Yerusalem masih pada hari yang sama. Yesus-Paska menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Yesus sempat makan ikan bakar untuk menunjukkan bahwa Ia bukan hantu. (Luk. 24:36-49)

Yesus-Paska mengajak mereka ke luar kota sampai dekat Betania (tidak jauh dari Yerusalem) masih pada hari yang sama. Lalu Yesus terangkat ke surga. Para murid kembali ke Yerusalem. (Luk. 24:50-53)

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€ juga menceritakan penampakan Yesus-Paska untuk kali pertama kepada perempuan. Perbedaannya, penampakan Yesus-Paska hanya kepada Maria Magdalena. Ia hendak memegang Yesus-Paska, tetapi dilarang karena Yesus belum pergi ke Allah Bapa. Yesus-Paska berpesan kepadanya untuk menyampaikan kebangkitan-Nya kepada murid-murid-Nya (sama seperti Matius, di sini Yesus menyebut dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ) (Yoh.20:11-18). Posisi mereka di Yerusalem.

Adegan berlanjut dan beralih ke penampakan Yesus-Paska kepada para murid sampai dua kali. Dalam pertemuan kesatu Yesus memberi Roh Kudus. Dalam pertemuan kedua Yesus-Paska menawarkan Tomas untuk memegang bekas luka di tangan dan lambung-Nya. Yesus membolehkan disentuh. Itu berarti Yesus sudah naik ke surga karena Yesus sebelumnya tidak boleh disentuh oleh Maria Magdalena. Kronologi ini juga sesuai dengan yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 16:7, yaitu ๐˜—๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด akan diberikan sesudah Yesus pergi kepada Bapa-Nya.

Injil Yohanes berakhir pada pasal 20 ayat 30-31 yang diberi judul oleh LAI ๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ต.

Tampaknya petulis Injil Yohanes mati. Lalu disambunglah dengan satu pasal tambahan (pasal 21) oleh murid-murid petulis Injil Yohanes. Yesus-Paska menampakkan lagi di Galilea tepatnya di pantai Danau Tiberias. Dalam ayat 24-25 tampak bahwa pasal 21 adalah tambahan dengan perubahan kata ganti orang (pronomina).

Ada perbedaan lokasi penampakan dan kronologi cerita.
▶️ Injil Markus berakhir di Yerusalem.
▶️ Injil Matius berakhir di Galilea.
▶️ Injil Lukas berakhir di Yerusalem.
▶️ Injil Yohanes berakhir di Yerusalem, lalu bersambung ke Galilea.

Kaum Kristen fundamentalis pasti tidak berterima dikatakan kisah itu berbeda. Tidak berbeda. Kisah itu saling melengkapi, kata mereka.

Baiklah, jika saling melengkapi, maka kronologinya sebagai berikut (mengikuti logika fundamentalis):

Kali pertama penampakan di Yerusalem (kepada perempuan), Yesus-Paska naik ke surga (versi Yohanes), turun lagi, lalu menyertai dua murid ke Emaus (versi Lukas), kembali ke Yerusalem untuk menampakkan diri kepada murid-murid-Nya (versi Lukas dan Yohanes), lalu ke Galiea menampakkan lagi kepada para murid (versi Matius dan Yohanes), lalu Yesus-Paska mengajak mereka kembali ke Yerusalem, dan akhirnya Yesus-Paska naik ke surga (versi Lukas).

Bagi saya perbedaan itu adalah anugerah kekayaan iman. Mengapa? Kitab Injil pada mulanya tidak ditulis atau tidak ditujukan untuk orang Kristen Indonesia. Kitab-kitab Injil ditulis untuk menjawab pergumulan jemaat masing-masing petulis Injil: ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช? Setiap jemaat memiliki persoalan dan pergulatan masing-masing. Tidak sama. Dunia cerita dan teologi Injil pun berbeda, karena kitab Injil ditulis untuk menggembala umat masing-masing agar tetap teguh beriman kepada Yesus yang bangkit. Nah, sekarang kita beruntung dapat melihat kekayaan teologi para petulis Injil.

Dari empat akhir kisah saya paling suka cara penutupan Injil Markus. Markus menutup cerita Injil secara mendadak pada ayat 8a. Mengapa Markus menutup Injilnya seperti mengambang?

Markus tampaknya memang sengaja hendak mengguncang pembaca Injilnya. Apabila kita membaca pembuka Injil, Markus memula Injilnya secara mendadak (Mrk. 1:1-3). Demikian pula Markus menutup Injilnya secara mendadak.

Selain itu dan tak kalah pentingnya Markus hendak menyampaikan tidak ada perbedaan antara penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus. Semuanya peristiwa historis menurut petulis Injil Markus. Hal ini terbaca pada ayat 6 yang menekankan identitas Yesus yang disalibkan dan dibangkitkan. Akan tetapi Markus menjelaskan kebangkitan Yesus dengan cara yang tidak biasa untuk memahami sesuatu. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa misterius dalam sejarah. 

Pada aras itu kebangkitan Yesus tidak hadir sebagai kisah yang selesai dan tertutup, melainkan sebagai peristiwa yang melampaui cara biasa manusia memahami. Dalam tradisi Gereja dikenal sebagai ๐— ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ. Apa itu Misteri Paska?

Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Misteri Paska merupakan serapan dari ungkapan Latin ๐˜”๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ, kita akan mendiskusikan kata ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ dan ๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ selalu saling berpautan.

Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. ๐—ฅ๐—ฒ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป itulah yang dimaksud pada kata misteri dalam Misteri Paska.

“Kelalaian” ketiga perempuan itu tidak meneruskan pesan orang muda itu kepada para murid tentu saja menerbitkan pertanyaan pembaca Injil, apakah murid-murid pergi ke Galilea menyusul Yesus yang bangkit? Petulis Injil Markus mengakhiri Injilnya dengan cara terbuka seolah-olah cerita belum selesai, menantang murid-murid Yesus menjawab ajakan Yesus untuk menemui-Nya di Galilea. 

Para pembacalah yang harus menyelesaikan sendiri dengan menanggapi ajakan Yesus yang bangkit untuk menyusul-Nya ke Galilea, menjumpai Yesus yang bangkit di tengah kehidupan mereka di tempat masing-masing. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜‹๐˜ช๐˜ข?

๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!

(Catatan: Yesus-Paska merujuk Yesus yang bangkit.)
(06042026)(TUS)

Sudut Pandang Konspirasi di balik kubur yang kosong

Sudut Pandang Konspirasi di balik kubur yang kosong

PENGANTAR
Matius 28:15
Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini. 

Siapa yang paling percaya kalau Yesus bangkit? Siapa yang ingat perkataan Yesus, bahwa Ia akan bangkit? Lihat Injil Matius menjelaskan:
Matius 27:62-64 (TB) Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama." 

WOOOW ..... Keren, ternyata bukan murid atau sahabat Yesus, bukan lingkaran atau circle terdekat Yesus, circle terdekat Yesus malah tidak ingat bahwa Yesus itu Tuhan yang akan bangkit, tidak percaya Yesus akan bangkit. Hati-hati kita yang menganggap dekat dengan Yesus, apalagi circle Yesus.


PEMAHAMAN
Ayat ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi puncak dari narasi Matius 28:11–15. Para penjaga kubur datang kepada imam-imam kepala dan melaporkan apa yang sungguh-sungguh mereka alami: gempa, kehadiran malaikat, dan kubur yang kosong. Ironisnya, kesaksian pertama tentang kebangkitan justru datang dari pihak  “di luar” lingkaran murid-murid Yesus.
Status para penjaga ini penting untuk dipahami. Dalam Matius 27:65 digunakan istilah koustลdia (dari Latin custodia), yang menunjuk pada satuan penjaga resmi. Ini sangat mungkin merujuk pada tentara Romawi atau pasukan yang berada di bawah otoritas Romawi, mengingat mereka berada dalam sistem hukum yang keras, kegagalan menjaga bisa berujung hukuman mati. Fakta bahwa imam kepala harus menjanjikan perlindungan dari gubernur (Matius 28:14) semakin menegaskan bahwa para penjaga ini berada dalam yurisdiksi Romawi. Artinya, mereka adalah saksi yang kredibel, terlatih, dan sadar risiko—namun justru memilih membungkam kebenaran.
Frasa “menerima uang” berasal dari labontes argyria. Kata labontes (dari lambanล) menunjukkan tindakan aktif—mengambil dengan kesadaran dan persetujuan, bukan sekadar menerima secara pasif. Sementara argyria (perak) menggemakan motif pengkhianatan, seperti yang terlihat pada Yudas. Ada ironi teologis di sini: Yesus “dijual” sebelum kematian-Nya, dan kebenaran tentang kebangkitan-Nya pun “dijual” setelahnya.
Frasa “berbuat seperti yang dipesankan” berasal dari edidachthฤ“san (akar kata didaskล), yang berarti “diajar” atau “diindoktrinasi.” Ini menunjukkan bahwa kebohongan tersebut bukan spontan, melainkan hasil konstruksi yang disengaja. Sementara itu, “cerita ini tersiar” (diephฤ“mฤ“thฤ“ ho logos houtos) mengandung makna penyebaran luas sebuah narasi publik. Kata logos di sini menegaskan bahwa yang dipertarungkan bukan sekadar fakta, tetapi narasi, sebuah “cerita” yang membentuk cara orang memahami realitas.
Ayat ini menyingkapkan bahwa kebohongan sering kali bertahan bukan karena kekuatannya, tetapi karena ditopang oleh kolaborasi: 
- otoritas religius yang menyusun narasi, 
- sistem kekuasaan yang melindungi, dan 
- individu-individu yang bersedia berkompromi. 
Inilah bentuk dosa yang lebih dalam, bukan sekadar tindakan pribadi, tetapi jaringan yang secara aktif menekan kebenaran.
Athanasius dari Alexandria pernah menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah fakta yang begitu kuat sehingga mereka yang menolaknya harus menciptakan penjelasan lain, betapapun rapuhnya. Penolakan terhadap kebenaran tidak pernah netral; ia selalu melahirkan narasi tandingan untuk meredam tuntutan pertobatan. Sebab jika Kristus benar-benar bangkit, maka manusia tidak lagi bisa hidup sebagai penguasa atas dirinya sendiri.
Yang mengganggu dari teks ini adalah kalimat penutupnya: “cerita ini tersiar… sampai sekarang ini.” Kebohongan dapat diwariskan, dilembagakan, bahkan dipercaya lintas generasi. Ia menjadi bagian dari kesadaran kolektif ketika terus diulang tanpa dikritisi.
Maka pertanyaannya tidak lagi sekadar historis, tetapi eksistensial: apakah kita hidup dari kebenaran Injil, atau dari narasi yang kita izinkan membentuk kita? Karena seperti para penjaga itu, setiap orang pada akhirnya diperhadapkan pada pilihan, bersaksi tentang kebenaran, atau menukarnya dengan sesuatu yang tampak menguntungkan, tetapi perlahan mematikan.

Sabtu, 04 April 2026

Puisi Ironi ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป

Puisi ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป

Yesus yang menderita, mati dalam kesendirian, kini bangkit. Ia menampakkan diri kepada mereka yang pernah meninggalkan-Nya. Ironisnya, mereka yang lari saat penderitaan-Nya paling nyata justru menjadi saksi hidup kebangkitan.

Keempat Injil bercerita hal yang berbeda-beda tentang Kebangkitan Yesus. Namun, pesan inti tetap sama: Yesus tidak menolak mereka yang gagal setia. Ia mengulurkan anugerah dan memanggil mereka kembali.

Kebangkitan Yesus menegaskan bahwa kesetiaan tidak diukur dari kesempurnaan, melainkan dari kesempatan untuk kembali berjumpa dengan Kristus. Mereka yang meninggalkan-Nya di Salib kini dipulihkan untuk menjadi saksi-saksi-Nya. 

Ironi terbesar: mereka yang pernah gagal justru dipakai untuk mewartakan kemenangan-Nya.

Minggu Paska bukan sekadar perayaan Kebangkitan Yesus. Paska adalah perayaan anugerah bagi mereka yang pernah gagal, takut, atau meninggalkan-Nya. Yesus mengubah kegagalan menjadi misi, dan kesedihan menjadi sukacita.

๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!

(05042026)(TUS)
Misteri Yudas: Kalau Yudas Tidak Ada, Apakah Yesus Tetap Disalib?

Pernahkah terlintas pertanyaan liar seperti ini di benak kita: "Kalau nubuat tentang sengsara Yesus sudah tertulis sejak zaman para nabi, berarti nubuat itu mutlak dan tidak bisa dihindari, kan? 

Lalu, apakah Yudas Iskariot itu cuma korban skenario Tuhan? Kalau seandainya Yudas menolak berkhianat, apakah nubuatnya batal?"

Ini adalah pertanyaan klasik yang sangat bagus. 

Mari kita kaji pelan-pelan dengan kacamata dogma iman Katolik, agar kita tidak salah paham tentang konsep nubuat dan kehendak bebas.

Pertama-tama, kita harus menyamakan frekuensi tentang bagaimana Allah melihat waktu. Kita manusia terikat pada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. 

Tapi bagi Allah yang kekal, semua dimensi waktu itu hadir seketika (saat ini juga).

Gereja Katolik merumuskan misteri ini dengan sangat jelas dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 600:

"Bagi Allah, semua waktu adalah masa kini yang langsung. Ketika Ia menetapkan rencana abadi-Nya, Ia juga memasukkan ke dalamnya tanggapan bebas setiap orang terhadap rahmat-Nya."

Artinya, Allah sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan (pra-pengetahuan Ilahi), tetapi pengetahuan Allah ini tidak memaksa manusia untuk bertindak. 

Nubuat di dalam Alkitab bukanlah mantra sihir yang merampas kebebasan manusia atau naskah film yang menjadikan manusia sebagai boneka. 

Nubuat adalah wahyu Allah tentang apa yang secara pasti akan terjadi, yang di dalamnya Allah sudah memperhitungkan pilihan bebas manusia itu sendiri.

Yudas berkhianat murni karena pilihan bebasnya sendiri, bukan karena ia di-remote oleh Tuhan demi memenuhi kuota nubuat. 

Yesus bahkan berulang kali memberikan kode dan kesempatan bagi Yudas untuk bertobat, sampai pada detik-detik terakhir ketika Yesus mencuci kakinya dan memanggilnya hai sahabat di Taman Getsemani. 

Sayangnya, Yudas tetap dengan sadar memilih jalan gelap tersebut.

Bagaimana Jika Yudas Tidak Ada?

Lalu, masuk ke inti pertanyaan: Bagaimana jika Yudas tiba-tiba bertobat, atau bahkan tidak pernah lahir? Apakah nubuat keselamatan batal?

Jawabannya tegas: Tidak. 

Rencana keselamatan Allah melalui Salib tetap akan terjadi, bagaimanapun caranya.

Rencana Allah tidak bergantung pada satu orang berdosa. Yesus sudah menjadi target operasi para Imam Kepala dan kaum Farisi jauh sebelum Yudas menawarkan diri. 

Mereka sudah secara institusional berniat membunuh Yesus karena ajaran-ajaran-Nya (silakan cek di Yohanes 11:53). 

Jika Yudas menolak berkhianat, para pemuka agama dan penguasa Romawi akan tetap menemukan cara lain untuk menangkap dan menyalibkan Yesus. 

Yudas sekadar memberikan jalan pintas bagi mereka untuk menangkap Yesus di malam hari tanpa memancing keributan orang banyak.

Di sinilah kita melihat kebesaran misteri keselamatan. Kematian Yesus bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, melainkan inti dari rencana keselamatan Allah yang mutlak terjadi.

Kisah Para Rasul 2:23 mencatat dengan sangat seimbang antara kedaulatan Rencana Allah dan kebebasan manusia:

"Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka."

Tuhan merancangkan keselamatan penebusan dosa (Salib), tetapi kebebasan manusia yang memilih berbuat jahatlah yang mengeksekusinya. 

Allah memakai kejahatan yang dipilih manusia secara bebas itu, untuk mendatangkan kebaikan yang paling agung: Penebusan dosa dunia.

Kesimpulannya, nubuat ilahi pasti terjadi karena Allah adalah Sang Penguasa Sejarah yang rencana-Nya sempurna. 

Namun, cara nubuat itu tergenapi tidak pernah meniadakan kehendak bebas manusia. Rencana keselamatan Tuhan tetap berjalan megah mengalahkan maut, apa pun pilihan bebas manusia di dalamnya.

Berkah Dalem.
Bayu Nerviadi C., C.

#ImanKatolik #MisteriSalib #YudasIskariot #GerejaKatolik

Sudut Pandang (Minggu Paska, Tahun A)

Sudut Pandang (Minggu Paska, Tahun A)
Apakah Yesus bangkit?
Dalam hal istilah saya mengikuti lema Paska yang digunakan oleh masyarakat Liturgi. Paska dari kata Latin Pascha. Pengindonesiaannya mengikuti lafal Portugal Pรกscoasehingga menjadi Paska (Inggris Easter, passover). Paska berbeda dari pasca (Sanskrit, Inggris post) yang diucapkan dengan huruf /c/ seperti kata cocok, cicak.
Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar daripada Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat hari-hari raya lain. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan (resurrection) Kristus. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. Orang Kristen pergi ke kebaktian Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus.
Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? Gereja secara ekumenis menetapkan Hari Raya Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret. Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya.
Pada Jumat Agung kemarin saya menjelaskan kematian Yesus merupakan faktual-historis. Bagaimana dengan kebangkitan Yesus? Apakah ini merupakan faktual-historis? Di sinilah peliknya.
Belum ditemukan sumber-sumber sejarah otentik mengenai kebangkitan Yesus di luar kekristenan. Satu-satunya sumber mengenai kebangkitan adalah dokumen Perjanjian Baru (PB), yang keempat Injil masuk ke dalamnya. Walau PB bukan dokumen sejarah, namun teks-teks itu dapat dikaji (satu di antaranya) melalui kritik naratif. Tentu saja teks dibaca dikaitkan dengan kehidupan sosio-politik yang mengitari teks itu.
Dunia sastra saat itu memahami gagasan bahwa orang baik dan bijaksana yang sudah membawa perubahan besar banyak orang akan dibinasakan oleh musuh-musuhnya. Namun Allah tidak akan tinggal diam. Allah akan membangkitan orang yang tidak berdosa itu. Dengan latar belakang itu dapatlah dipahami berita tentang kebangkitan Yesus dalam keempat Injil itu dimaksudkan untuk menyatakan  bahwa Yesus adalah korban yang dibenarkan oleh Allah, dibela oleh Allah, dan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Allah telah menggagalkan kekejian para pembenci Yesus.
Berita pokok itulah yang hendak  disampaikan atau dideklarasikan oleh para penulis PB. Siapa aktor utama? Allah Sang Aktor. Allah mengalahkan maut dan membenarkan Yesus yang tidak bersalah itu.
Kebangkitan yang dimaksud oleh penulis PB bukanlah menghidupkan jenazah yang sudah mati (resuscitation). Kebangkitan yang resuscitationmerupakan menghidupkan (sementara) orang mati seperti yang biasa dilakukan oleh kedokteran dengan alat-kejut jantung. Dalam Injil bisa dibaca mengenai kisah Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur.
Persoalan timbul ketika terjadi ketidakpanggahan (inconsistency) penulisan mengenai perjumpaan murid-murid atau pengikut dengan Yesus yang dibangkitkan (selanjutnya saya sebut Yesus-Paska). Maksud saya kisah di kitab yang satu berbeda dengan kitab lainnya sehingga ada ketidakpanggahan dan tidak kronologis. Berbeda halnya dengan berita kematian Yesus yang kesemuanya sama yaitu Yesus mati di kayu salib yang memang saat itu merupakan berita umum di luar teks Alkitab.
Para pakar sejarah PB berpendapat terjadinya ketidakpanggahan itu membuktikan tidak adanya konspirasi, tidak ada rekaan, tidak ada kebohongan. PB mengisahkan pengalaman individu-individu yang historis. Suatu pengalaman yang dialami oleh individu-invidu yang merupakan pengalaman sejarah berjumpa dengan Yesus-Paska.
Pada masa itu pengalaman bertemu dengan orang-orang yang sudah mati merupakan hal lazim. Dikisahkan dalam PB Yesus-Paska berjalan ke Emaus menemani dua orang pengikut Yesus. Setibanya di rumah mereka mengajak “orang asing itu” mampir. Ketika akan santap malam mereka baru menyadari bahwa itu Yesus dan kemudian menghilang. Dikisahkan juga para murid berkumpul di ruangan tertutup karena ketakutan diburu oleh para pemuka agama Yahudi yang berkonspirasi dengan tentara Romawi. Tiba-tiba Yesus nongol  hadir di tengah-tengah mereka dan menunjukkan bekas luka paku di tangan Yesus.
Kisah itu mau menyampaikan bahwa Yesus bangkit (resurrection), bukan seperti jenazah yang dihidupkan (resuscitation). Jika Yesus dihidupkan seperti itu, maka sulit untuk menerima Yesus masuk ke dalam ruangan tertutup tanpa melewati pintu atau tiba-tiba menghilang dari pandangan pengikut-pengikut Yesus. Akan tetapi dikisahkan juga Yesus-Paska bersantap bersama dengan murid-murid di tepian Danau Tiberias. Sudah barang tentu ikan bakar yang lezat adalah menu utamanya.
Kepelikan kisah-kisah di atas merupakan paradoks. Sisi satu Yesus bisa muncul dan menghilang seketika, sisi lainnya Yesus menunjukkan tanda fisikal berupa bekas luka tusukan paku salib dan makan-minum bersama dengan para murid. Penulis PB dengan segala keterbatasannya mau menyampaikan secara paradoks bahwa tubuh kebangkitan Yesus adalah rohaniah sekaligus tubuh alamiah.
Teks-teks PB yang memberitakan Yesus yang makan dan minum serta menghilang lagi itu merupakan metafor-metafor yang mau menyampaikan, dan mengundang para pembaca serta pendengarnya untuk mengalami berita bahwa Yesus itu, sekalipun sudah mati disalibkan, dibangkitkan (resurrected), dan terus hadir seutuhnya di antara para murid, yakni mereka yang memercayai Yesus. Yesus itu tetap peduli dan berbelarasa pada mereka.
Kok metafor? Jangan merendahkan metafor! Ajaran-ajaran Yesus  banyak berupa parabel-parabel yang merupakan metafor yang memberdayakan, membebaskan, dan memanusiakan manusia. Alkitab juga penuh dengan metafor. Allah lebih besar daripada Alkitab. Allah bisa berfirman lewat apa saja termasuk metafor-metafor.
Metafor kebangkitan itu bukan dongeng, bukan reka-rekaan, bukan berita bohong, bukan juga fiksi. Metafor merupakan wacana untuk mengungkapkan realitas yang utuh tanpa memisahkan (apalagi memertentangkan!) hal yang subjektif dan objektif.  Dalam metafor selalu ada yang kena dan yang tidak kena. Misal, Allah adalah Gunung Batuku. Secara harfiah Allah bukanlah gunung batu. Jadi gunung batu ini tidak kena pada Allah. Namun bagi orang beriman mengalami berlindung di balik gunung batu mereka merasa sangat aman. Jadi gunung batu ini kena pada orang beriman yang berlindung pada Allah.
Meminjam pendapat sohib saya dan teolog mbeling Adji A. Sutama, yang panggah dengan teknik penafsiran kritik naratif, mengatakan bahwa metafor Yesus Gembala yang baik bukan berarti Yesus tidak ada. Demikian juga halnya metafor kebangkitan Yesus bukan berarti tidak ada kebangkitan. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah yang dilakukan Allah pada diri Yesus, bukan pada diri jemaat di dalam narasi PB. Setelah itu, apakah orang memercayainya atau tidak memercayainya, hal ini merupakan suatu reaksi atau tanggapan iman terhadap peristiwa bersejarah itu.
Metafor kebangkitan merupakan wacana yang disampaikan untuk  mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya (spiritual sekaligus fisikal) Yesus-Paska di dalam dunia ini tanpa batas ruang dan waktu: di dalam rumah ketika kita menyembah Dia lewat ibadah virtual, di ruang isolasi COVID19, di kantor kita, di istana presiden, di kantor kelurahan, di dalam makanan, nasi, batagor, pempek, tempe, tahu, petรฉ, pecel, gudheg, wedhang rondรฉ, dan lain sebagainya yang kita peroleh setiap hari sehingga kita berterimakasih, dan juga di dalam perjuangan orang-orang tertindas yang berseru kepada Yesus.
Meskipun demikian kehadiran Yesus-Paska di tengah-tengah para murid seperti pedang bermata-dua. Tulisan-tulisan dalam PB yang memuat perjumpaan dengan Yesus-Paska menjadi propaganda politik dan kuasa. Perjumpaan dengan Yesus-Paska menambah wibawa dan kuasa para murid. Para murid bertarung siapa yang paling berpengaruh. Paulus yang bukan murid langsung Yesus mendaku berjumpa dengan Yesus-Paska. Ia bertarung dengan Kefas alias Petrus berebut kewibawaan spiritual. Petrus berencana membunuh Paulus (Kis. 9:23-25; 23:12-14), sedang Paulus mengecam Petrus orang munafik (Gal. 2:11-14).
Padahal keempat Injil kanonik tertuliskan orang pertama yang mendapat kabar kebangkitan Yesus adalah perempuan. Bahkan dalam Injil Yohanes Maria Magdalena menyapa Yesus-Paska dengan Rabuni, yang berarti Guru (Yoh. 20:16). Dari gambaran keempat Injil tidaklah berlebihan apabila Maria Magdalena adalah rasulnya para rasul atau rasul di atas segala rasul (the apostle to the apostles). Dalam perjalanannya Maria Magdalena tersingkir oleh dominasi dan arogansi laki-laki. Bahkan Paus Gregorius dalam khotbah Paska pada 581 memojokkan Maria Magdalena sebagai pelacur, pendosa, dengan mengutip Lukas 7:37.
Di Indonesia masa kini seseorang mendaku berjumpa dengan Yesus dan mendaku diberi perintah oleh Yesus untuk mendirikan gereja. Dengan pendakuan itu ia mendapat wibawa spiritual dari Yesus Kristus. Ia kemudian sukses dengan bisnis kesembuhan ilahi. Di gereja-gereja arus-utama para pendeta untuk mendapat wibawa spiritual mendaku sebagai hamba Kristus. Dalam banyak kesempatan ibadah pendeta mendeklarasikan dirinya hamba Kristus. “Sebagai hamba Kristus saya hendak menyampaikan …” dan beberapa varian ucapan lainnya. Kalau bukan pendeta lalu hamba siapa? Hamba pendeta? Dalam pada itu ada gereja yang mendaku dirinya paling reformed, paling alkitabiah, melarang perempuan menjadi pendeta. Ideologi alkitabiahnya justru mengingkari Alkitab yang memberitakan perempuan yang pertama menerima kabar kebangkitan Kristus dan mengabarkannya.
Christos Anesti!

Quote of the day:
“Don’t worry about your math because Jesus died for your sin, cos, and tan.”


Jumat, 03 April 2026

SUDUT PANDANG TANGGAPAN TERHADAP PDT. GILBERT LUMOINDONG, YANG MENGATAKAN YESUS BUKAN ANAK ALLAH.

SUDUT PANDANG TANGGAPAN TERHADAP PDT. GILBERT LUMOINDONG, YANG MENGATAKAN YESUS BUKAN ANAK ALLAH.

PENGANTAR
Di tengah umat kristiani merayakan Paskah, yg mengakui ke Tuhan an Yesus, dan meng AMIN kan status anak Allah yang mrnyeleseikan misi atau tugasnya, dengan mengkosongkan diri, berkenosis, jagad Maya atau medsos dihebohkan pernyataan seorang Pendeta di ibadah paskah gerejanya, lewat akun resmi gerejanya baik di YouTube maupun IG. Pendeta Borjuis satu ini emang suka kontroversi dan blunder, jam tangannya mencapai harga 1 M dan punya mobil yang diproduksi di dunia cuman 8 biji tetapi entah dari mana latar belakang belajar teologinya?Tetapi leadershipnya bagus, jualan pada umat iming-iming nya bagus, ditambah kharisma bahwa mengkuasai bahasa Roh Kudus, sehingga umatnya banyak dan tergolong umat yang mudah dibodohi, mohon maaf, bukan maksud saya menjelekan dan kasar tetapi jadi pembelajaran buat kita agar menempa diri dalam belajar agar tidak mudah dibodohi, jangan benci orang/manusia nya tapi petik pelajaran dari peristiwa shg kita berkembang. Kacau pemahaman teologinya serta argumentasinya lemah, masak harus menentang istilah anak Allah demi membela keillahian Yesus, terus mengatakan Yesus bukan anak Allah nanti setelah mengosongkan diriNya baru Dia jadi anak Allah, sebutan anak Allah itu nanti setelah inkarnasi, lah ....... blunder tokh kalau begini, ini statement orang gak ngerti study biblika, mohon maaf kalau agak keras, kritiknya mengarah karena jembatan nalarnya bubar jalan, berantakan, tidak sistimatikanya. Dan, khotbah ini marak di medsos, di jagad Maya, jutaan orang banyak juga umat yang meng IYA kan, menjawab AMIN, menjawab HALELUYA, parah amat. Banyak umat tidak mau dicerdaskan dan mudah ditipu oleh pemuka agamanya, setelah itu ditipu oleh politikus nya, bubar jalan ... dech. Yang ditakuti itu bukan rakyat/umat memberontak, tetapi yang ditakuti itu rakyat/umat jadi cerdas. Maka, belajar menjadi inti utama, kenapa Yesus ketika menghadapi kritisi Farisi sering memulai dengan kata "tidakkah kamu baca ......" (Matius 12:3&5, Matius 19:4, Matius 22:29-32). Yah .... Ini teladan sekaligus hikmat pengajaran Yesus, mengikut Yesus, dimuridkan Yesus harus mau jatuh bangun belajar. Keinginan belajar tidak boleh terkurung dengan sekolah, orang bisa lewat S1 sampai kemanapun, tapi bukan mahkluk pembelajar, tetap saja nalarnya gak terasah. Salah satu jalan yg ditunjukan Yesus untuk menjadi manusia pembelajar adalah membaca, versi sekarang yah bisa dalam bentuk audio visual (video), banyak cara. Banyak jebolan S1 dan kemanapun, lulusan luar negeri maupun dalam negeri tetapi tidak mau membaca (versi sekarang boleh menonton atau mendengarkan).
PEMAHAMAN
Memahami bagaimana Yesus bisa sekaligus disebut "Allah" dan "Anak Allah" memerlukan pemahaman tentang konsep hakikat (esensi) dan relasi. Allah berbicara tentang hakikat atau substansi ilahi. Ketika kita mengatakan Yesus adalah Allah, kita mengakui bahwa Ia memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Sementara itu, gelar "Anak Allah" merujuk pada relasi kekal di dalam Tritunggal, yaitu relasi antara Pribadi pertama (Bapa) dan Pribadi kedua (Anak). Dengan kata lain, sama seperti seorang manusia memiliki hakikat kemanusiaan dan karena itu disebut "manusia" sekaligus "anak manusia", demikian pula Yesus, karena memiliki hakikat ke-Allahan yang sama dengan Bapa, Ia disebut Allah, dan karena relasi-Nya yang unik dan kekal dengan Bapa, Ia disebut Anak Allah. Pemahaman ini bukanlah spekulasi teologis belaka, melainkan fondasi iman yang telah ditegakkan sejak gereja perdana. Katekismus Heidelberg, dengan jelas membedakan keanakan Kristus dengan keanakan orang percaya. Dalam Jawaban atas Pertanyaan 33, dinyatakan: "Sebab hanya Kristus sajalah yang sungguh-sungguh Anak Allah yang kekal, tetapi kita dianugerahi menjadi anak angkat Allah karena Dia" . Perbedaan ini sangat krusial: Yesus adalah Anak Allah sejati dan kekal (by nature), sementara kita menjadi anak Allah karena anugerah adopsi (by grace). Mengabaikan keanakan kekal Kristus sama saja dengan mengaburkan fondasi karya keselamatan yang Ia kerjakan. Salah satu kesalahan umum adalah menganggap bahwa Yesus baru menjadi "Anak Allah" pada saat inkarnasi, yaitu ketika Ia lahir dari Maria di Betlehem. Namun, Alkitab dengan sangat jelas menunjukkan bahwa status sebagai Anak sudah melekat pada diri-Nya sejak kekekalan. Relasi Bapa dan Anak bukanlah produk sejarah, melainkan realitas kekal di dalam Tritunggal. Pertama, Yesus sendiri dalam doa imamat-Nya menyatakan, "Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada" (Yohanes 17:5). Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki kemuliaan ilahi bersama Bapa sebelum penciptaan. Ia meminta agar kemuliaan itu dipulihkan, yang secara implisit menegaskan identitas-Nya sebagai Anak yang kekal. Kedua, dalam ayat yang sama, Yesus berkata, "sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan" (Yohanes 17:24). Adanya kasih antara Bapa dan Anak sebelum dunia dijadikan adalah bukti tak terbantahkan bahwa relasi kekal ini sudah ada. Paulus juga menegaskan hal yang sama dalam Galatia 4:4, "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat." Logika ayat ini sangat jelas: sang Anak sudah ada sebagai Pribadi sebelum Ia diutus dan sebelum Ia dilahirkan oleh Maria. Ia diutus sebagai Anak, dan melalui kelahiran-Nya, Ia menjadi manusia. Demikian pula, Yohanes menyatakan, "Kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia" (1 Yohanes 4:14). Ia diutus sebagai Anak, bukan diangkat atau ditetapkan menjadi Anak setelah datang ke dunia. Bahkan gelar "Anak Tunggal Bapa" (Yohanes 1:18) yang berada "di pangkuan Bapa" (dalam terjemahan harfiah: di dada atau pelukan Bapa) menggambarkan keintiman dan relasi kasih yang sudah ada dari kekekalan.
Herman Bavinck, seorang teolog Reformed, menegaskan bahwa “Anak Allah bukanlah menjadi Anak pada suatu saat, melainkan Ia adalah Anak dari kekekalan.” Pernyataan yang memisahkan keilahian Yesus dari status keanakan-Nya sebenarnya bukanlah isu baru. Ini adalah gaung dari ajaran sesat kuno yang telah dihadapi dan ditolak oleh gereja mula-mula. Perlawanan paling awal dan paling sengit terhadap gagasan bahwa Bapa sendiri yang menderita di kayu salib (Patripasianisme) datang dari Tertullianus di awal abad ke-3. Dalam karyanya yang terkenal, Adversus Praxeam, Tertullianus dengan tegas menolak ajaran Praxeas yang mengklaim bahwa Allah hanya satu pribadi dan Bapa lah yang lahir dari Maria serta wafat di kayu salib. Tertullianlah yang pertama kali memperkenalkan istilah "Trinitas" (Trinity), bahwa Allah itu satu substansi (una substantia) namun memiliki tiga pribadi (tres personae) yang berbeda, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus . Ia mengejek ajaran Praxeas dengan sindiran terkenalnya: "Ia menyalibkan Bapa" . Di waktu yang sama, Paus Kallistus I (sekitar tahun 220) juga mengeluarkan Sabelius, pengajar utama Modalisme, dari persekutuan gereja .Perlawanan ini kemudian dimenangkan secara resmi melalui konsili-konsili ekumenis. Meskipun Konsili Nicea (325 M) terutama ditujukan untuk melawan Arianisme, konsili ini juga secara tidak langsung membungkam Modalisme dengan menegaskan bahwa Anak "sehakikat" (homoousios) dengan Bapa . Istilah ini membuktikan bahwa Anak bukan sekadar topeng atau mode dari Bapa yang sama, melainkan Pribadi yang nyata dan setara. Puncaknya, Konsili Konstantinopel I (381 M) mempertegas doktrin Tritunggal yang sudah matang: Allah itu esa dalam hakikat, namun tiga dalam pribadi (Bapa, Anak, Roh Kudus), sehingga menolak habis segala bentuk ajaran yang mengaburkan perbedaan pribadi di dalam keallahan, baik itu Arianisme maupun Modalisme. 
Kalau kita mau menjelaskan secara kasar dengan modal ayat-ayat  alkitab pun bisa begini : BENARKAH bahwa Yesus BUKAN Anak Allah? Waspadalah terhadap pengajaran masa kini karena MAKIN BANYAK YANG MENYIMPANG.

1️⃣. YESUS adalah Anak Allah dan itu sudah FINAL, Iblis mengakuinya (Mat. 4:3, 6, Mat. 8:29, Mark. 5:7) dan tersungkur menyembah-Nya (Mark. 4:11), mengapa? Karena sebelum jadi Iblis, dia pernah tinggal di Sorga menyaksikan sendiri Pribadi Yesus. 

2️⃣. Semua murid-Nya MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mat. 14:33) Simon Petrus MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mat. 16:16) Markus MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mark. 1:1) kepala pasukan MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mark. 15:39) Lukas MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Luk. 1:32)  malaikat Allah pun MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Luk. 1:35). Semua murid MELIHAT dengan mata, MERABA dengan tangan dan MENYAKSIKAN SECARA LANGSUNG di depan mata bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka mendengar pengajaran-Nya dan melihat sendiri semua perkara mukjizat yang diperbuat-Nya: MEREKA SAKSI MATA.

3️⃣. Yesus sendiri MENGAKUI bahwa Diri-Nya adalah Anak Allah (Luk. 22:70) Yohanes memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yoh. 1:34) Natanael MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yoh. 1:49) Marta pun MEMPERCAYAI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yoh. 11:27).
 
Jika Yesus sendiri mengakui bahwa Diri-Nya adalah Anak Allah, MUNGKINKAH KITA MENOLAK PENGAKUAN ITU dengan seribu alasan untuk membenarkan diri dalam kesalahan?

4️⃣. Setelah Paulus bertobat, dia MEMBERITAKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kisah. 9:20) dan kepada jemaat di Roma pun, dia MENEGASKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (Rm. 1:4) kepada jemaat di Korintus DIAJARKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (2 Kor. 1:19) kepada jemaat Ibrani DIBERITAKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (Ibr. 4:14).

5️⃣. Yohanes mengajarkan bahwa Yesus MENYATAKAN DIRI sebagai Anak Allah untuk MEMBINASAKAN perbuatan² Iblis (1 Yoh. 3:8), setiap orang percaya YANG MENGAKU bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka Allah tetap berada di dalam hidupnya dan dia di dalam Allah (1 Yoh. 4:15) dan setiap orang yang PERCAYA bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka ia punya kesaksian di dalam dirinya tetapi yang tidak percaya sesungguhnya ia memandang Allah sebagai PENDUSTA, sebab ia tidak mempercayai pernyataan Allah tentang Kristus (1 Yoh. 5:10).

MUNGKINKAH Allah "berdusta" kepada manusia dan tentang Diri-Nya? BETAPA JAHATNYA MANUSIA jika menganggap bahwa Allah berdusta hanya karena kepentingan manusia tidak terpenuhi, seleranya tak terpuaskan dan MALAS BELAJAR? Itu sebabnya nabi Hosea berkata: ๐Ÿ“– Umat-Ku BINASA karena TIDAK MENGENAL Allah; karena engkaulah yang MENOLAK pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu (Hosea 4:6).
SUDAH FINAL bahwa melalui kelahiran Kristus, kematian, kebangkitan, kehidupan dan kenaikan-Nya MEMBUKTIKAN Dia adalah Anak Allah, itulah yang diimani gereja mula² dan diberitakan para rasul. Jika seseorang menolak atau membantahnya, PERTANYAKAN APAKAH DIA UTUSAN TUHAN?
Jika demikian, APA ALASANMU MEMBANTAH bahwa Yesus BUKAN Anak Allah? Apakah ayat tersebut BELUM CUKUP BAGIMU menjadi bukti dan fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah?

๐Ÿ“– ALKITAB adalah suara Allah, pikiran, perasaan dan perkataan Allah yang HARUS DIPERCAYAI sepenuhnya dan pemegang otoritas tertinggi dalam gereja bahkan DASAR PENGAJARAN IMAN bagi orang percaya. Alkitab tidak bisa digantikan dengan BUKU atau KITAB apapun, tidak bisa digantikan dengan suara manusia, jabatan, pengetahuan atau pendidikan apapun karena hidup Kristen HARUS TUNDUK pada otoritas Alkitab. Ini kasar penjelasan terakhir, tetapi jembatan nalarnya masih terlihat dengan baik.
(06042026)(TUS)

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ, ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ, ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€

PENGANTAR
Dalam kalender liturgi Sabtu setelah Jumat Agung dikenal sebagai ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ, pengindonesiaan dari ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ. Hari ini Gereja memelihara keheningan total. Tidak ada liturgi resmi, tidak ada Perjamuan Kudus, bahkan ibadah resmi pun ditiadakan. Mengapa demikian?
Pada Sabtu Sunyi Kristus sebagai Kepala Gereja berada dalam kesendirian di kubur. Ibadah Gereja tak dapat dipisahkan dari kehadiran-Nya. Jika Kepala Gereja sedang “absolut tidak hadir secara lahiriah”, mustahil Gereja merayakan liturgi yang sakral secara utuh. Keheningan Sabtu Sunyi bukan sekadar jeda, tetapi waktu refleksi yang mengakui ketidakhadiran Kristus dan memberi ruang bagi umat merenungkan misteri penderitaan-Nya sebelum sukacita kebangkitan.


PEMAHAMAN
Beberapa komunitas memilih berkumpul pada Sabtu Sunyi, tetapi bukan untuk perayaan liturgi resmi. Kegiatan ini biasanya berupa doa, pembacaan Kitab Suci, atau meditasi pribadi. Dalam tradisi ekumenis pembacaan yang dianjurkan mengikuti pola responsoria: dimula dari Ayub 14:1-14, diikuti Mazmur 31:1-4, 15-16, dilanjutkan 1Petrus 4:1-8, dan diakhiri dengan Yohanes 19:38-42. Urutan ini menuntun umat melalui penderitaan, pengabdian, dan kematian Kristus secara reflektif, bukan selebratif.

Banyak orang mungkin bertanya, “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข? ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.” Jawabannya terletak pada ๐—ฑ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ. 

Hari raya liturgi tidak muncul sekaligus. Pada mulanya umat Kristen menanggapi peristiwa Kristus secara spontan. Seiring waktu Bapak-bapak Gereja sejak abad II mula merapikan, menyusun, dan membangun kisah teologis sehingga umat dapat mengikuti narasi Kristus secara bertahap.
Sabtu Sunyi adalah bagian dari drama liturgis sarat makna. Keheningan bukan sekadar kosong, tetapi sarana agar umat menghayati kisah Kristus secara penuh: dari penderitaan di kayu salib hingga kematian-Nya, dan akhirnya, sukacita kebangkitan pada Minggu Paska. Mengabaikan keheningan ini, atau “mengganjen” Sabtu Sunyi dengan ibadah resmi, sama artinya memotong pengalaman iman dari konteks historis dan teologis yang sudah dipelihara Gereja selama berabad-abad.
Sabtu Sunyi bukanlah hari tanpa makna, tetapi hari untuk merenung, hadir dalam kesunyian Kristus, dan memersiapkan hati untuk Paska. Menghormati keheningan ini adalah bagian dari pemahaman iman yang mendalam, bukan sekadar rutinitas liturgis.
(04042026)(TUS)

Sudut Pandang Yohanes 10:1-10 (Minggu IV Paska, Tahun A)

Sudut Pandang Yohanes 10:1-10 (Minggu IV Paska, Tahun A)

Satu Pintu

Pada 22 April lalu Presiden Joko Widodo berang pada pengurus IDI (Ikatan Dokter Indonesia) tentang kematian seribu orang akibat Covid19. Jokowi berang bukan lantaran data pemerintah pasti benar dan IDI hendak mengoreksi data pemerintah. Jokowi berang karena IDI mengumbar berita kematian seribu orang tanpa data sahih dan tidak lewat satu pintu. Jokowi terbuka atas koreksi data pemerintah asal IDI dapat memberikan bukti-bukti sahih kepada pemerintah dan pemerintah akan menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat lewat satu pintu. 

Apabila kita tarik mundur lagi penerapan satu pintu oleh Jokowi bukanlah barang baru. Ketika Jokowi menjadi Gubernur DKI, ia membenahi administrasi yang morat-marit. Untuk meladeni masyarakat secara prima, Jokowi membuat Pelayanan Tepadu Satu Pintu (PTSP). Dalam penerapannya Jokowi sering berblusukan ke PTSP agar apa yang dimaksud dengan satu pintu bukan sekadar pintunya hanya satu. Satu pintu haruslah ditunjukkan dengan satu kali pencรจt semua persyaratan terlayankan dengan prima. Pelayanan satu pintu haruslah dicitrakan dengan kepuasan masyarakat yang mendapat pelayanan.

Pada tingkat nasional Jokowi melihat keruwetan dalam perizinan usaha. Untuk mengurai keruwetan itu dan memudahkan masyarakat untuk berkegiatan usaha dibuatlah apa yang disebut dengan Online Single Submission. Pengurusan izin usaha satu pintu lewat daring. Masyarakat dimudahkan dalam menerima pelayanan prasyarat untuk melakukan usaha (izin terkait lokasi, lingkungan, dan bangunan), izin usaha, dan izin operasional.

Bacaan Injil secara ekumenis pada Minggu IV Paska diambil dari Yohanes 10:1-10. Adegan perikop ini menyusul adegan sebelumnya mengenai Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir. Yesus mengajar kepada orang-orang di sana dengan ilustrasi kehidupan sehari-hari masyarakat agraris. Diceritakan oleh Yesus bahwa domba-domba berada di kandang yang siap digembalakan ke padang rumput. Gembala akan masuk ke kandang melalui pintu dan menghitung domba-dombanya sebelum mereka digiring keluar. Yang tidak masuk melalui pintu pastilah pencuri. Pencuri masuk dengan memanjat tembok/pagar.

Orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus belum juga mengerti. Yesus menegaskan Dialah pintu itu. Orang-orang yang tidak melalui pintu adalah perampok-perampok. Yesus menjadi pintu agar domba-domba tetap hidup dan makan rumput penuh kelimpahan. “Akulah pintu,” kata Yesus,” barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Yesus kemudian melanjutkan,” Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memilikinya dalam segala kelimpahan.“ 

Sejak pemberlakuan #JagaJarak dalam pandemi Covid19 gereja seperti mati gaya. Dibuatlah ibadah virtual sebagai penyulih ibadah konvensional. Itu tindakan bijak dan saya mendukungnya. Sayangnya (atau sialnya?) watak berebut domba tampaknya belum juga terbaiki. Di mana-mana dapat kita saksikan gereja beriklan ibadah virtual dengan kemasan atau gambar untuk menarik pembeli.

Meskipun demikian cukup banyak gereja yang menggunakan situasi krisis ini untuk berbagi. Dari berbagi cairan antiseptik, bahan-bahan kebutuhan pokok, alat pelindung diri, sampai nasi bungkus kepada masyarakat yang membutuhkan. Sayangnya kegiatan mulia ini masih sebatas charity. Mirip Sinterklas berbagi hadiah kepada anak-anak pada masa Natal. Bagi bantuan, ambil foto atau video, unggah ke media sosial, selesai, kami sudah berbuat.

Apabila kita melihat ajaran Yesus dalam bacaan Injil pada Minggu ini “Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” mengajarkan bahwa pelayanan gereja haruslah serbacakup yang menyentuh sendi-sendi kehidupan. Pelayanan gereja bukanlah sporadis seperti IDI yang menyebarkan informasi tanpa bukti-bukti yang sahih dan tidak dilakukan dengan satu pintu.

Pada 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Pemerintahan Jokowi berhasil menekan angka persentase orang miskin di bawah dua digit untuk pertama kalinya dalam sejarah. Untuk memudahkan perhitungan anggap saja 10% dan jumlah penduduk Indonesia hari ini sebanyak 272 juta orang. Dengan demikian orang miskin masih ada sekitar 27 juta orang. Dalam situasi krisis Covid19 jumlah tersebut dapat dipastikan bertambah.

Yesus datang memang bukan untuk orang miskin saja, tetapi justru ajaran-Nya hendak membuat orang peka dan mengarahkan perhatian mereka kepada orang-orang miskin dan tak berdaya dalam rangka memberdayakan mereka. “Akulah Pintu” bukanlah dogma eksklusif hanya lewat Yesus kamu selamat. “Akulah Pintu” merujuk agar domba-domba sebagai pihak yang tak berdaya tetap hidup dan terlindungi dari pencuri atau perampok.

Dengan metafor “Akulah Pintu” ini Yesus hendak menegur gereja untuk memberikan dan menawarkan pelayanan bagi mereka yang tak berdaya agar dapat tetap hidup sekaligus melindungi mereka dari ancaman para penindas dan perenggut kebebasan. Bukan sekadar bagi-bagi sembako (meski jumlahnya tak sampai sembilan). Itulah pelayanan serbacakup. Seperti kata Jokowi, pelayanan satu pintu itu adalah memberikan pelayanan yang prima bagi masyarakat dan sekaligus melindungi masyarakat dari calo-calo dan para pemburu rente. Seribu Pintu atau Lawang Sewu  tinggallah sejarah.

Quote of the day: 
“It’s okay if you don’t like me. Not everyone has good taste.” Unknown

Wassalam,
MDS 
03052020

Sudut Pandang kenapa tri hari suci menjadi penting dalam liturgi

Sudut Pandang kenapa tri hari suci menjadi penting dalam liturgi

PENGANTAR 
Masih banyak pertanyaan kenapa harus melewati prosesi-prosesi itu di Paskah kini? Kenapa harus ada prosesi pembasuhan kaki, Minggu Palma, jalan salib, Sabtu sunyi, dlsb. Karena, liturgi dibentuk mengadaptasi Alkitab, terlebih liturgi leksionari itu mengadaptasi keteladanan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus, makanya puncak bacaan sabda itu bacaan Injil, makanya diterima sambil berdiri sebagai penghormatan akan Injil. Hidup Yesus yg ada di Alkitab itu diperagakan dalam liturgi sebagai ritual simbolis pengenangan akan keteladanan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus, dimana gerak ritual simbolis pengenangan akan Yesus itu harus menjadi wujud hidup keseharian, maka liturgi selebrasi itu di tempat ibadah, pengenangan akan Yesus (di dalamnya ada pembasuhan kaki, sebetulnya seharusnya ada prosesi jalan salib di Jumat Agung, Sabtu sunyi, Minggu Palma, Rabu abu, dlsb) kemudian makna teologisnya / kenangan itu harus ada dalam hidup keseharian umat, itulah yg disebut liturgi aksi, makanya di liturgi selebrasi selalu diakhiri dengan pengutusan dan berkat, diberkati kemudian pergilah. Menariknya, study biblika pada sub sejarah, sastra, dan arkeologi, kami sepakat salah satu bentuk sejarah dan arkeologi bahkan sastra kuno yang dapat dinikmati perjalananya serta bukti-bukti warisannya adalah tradisi liturgi, karena itu kenapa sejarah, sastra, dan arkeologi biblika menggelutinya dan menggumulkannya. Menurut kalender gerejawi ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) adalah pembuka ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ, yang diindonesiakan menjadi ๐™‹๐™š๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™Ž๐™ช๐™˜๐™ž. Hari-hari di dalam Pekan Suci disebut hari-hari suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan ๐™๐™ง๐™ž๐™™๐™ช๐™ช๐™ข ๐™Ž๐™–๐™˜๐™ง๐™ช๐™ข, yang diindonesiakan menjadi ๐™๐™ง๐™ž๐™๐™–๐™ง๐™ž ๐™Ž๐™ช๐™˜๐™ž. Tiga hari suci khusus itu adalah ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ-๐˜‘๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ต๐˜ถ ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช. Penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci. Sering pula ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜š๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ disebut dengan ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. Trihari Suci hendak menyampaikan narasi ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚-๐—ฑ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ-๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ถ yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜€๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ, ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป, dan ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi. Sabtu malam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป Sabtu Sunyi lagi. Ibadah Sabtu Malam disebut ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ. Dengan kata lain secara ๐™ฉ๐™ž๐™ข๐™š๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™š ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ.

๐Ÿ›‘ Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi
๐Ÿ›‘ Minggu Paska
๐Ÿ›‘ Minggu kedua Paska
๐Ÿ›‘ Dst.
๐Ÿ›‘ Hari Pentakosta

[๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข 1582 ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜Ž๐˜ณ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข 1884. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ญ.]
Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada Misteri Paska. Apa itu Misteri dalam Misteri Paska? Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Misteri Paska merupakan serapan dari ungkapan Latin ๐˜”๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ, kita akan mendiskusikan kata ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ dan ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ selalu saling berpautan.


PEMAHAMAN 
Ini bukan perumpamaan yang setimpal sebetulnya, bahkan jauh dari tepat, tetapi untuk memudahkan memahami perkara Tri hari suci. Triduum Sacruum dalam liturgi berbahasa latin memang dalam kesepakatan KWI dan PGI disepakati transalate bahasa Indonesia adalah tri hari suci, kenapa dianggap suci? mungkin kebingungannya di situ, bukankah lebih suci Paskah karena Yesus bangkit kita selamat, mungkin kita akan berpikir begitu. Karna itu sebetulnya Tri hari suci dianggap pertempuran Yesus mengalahkan maut, sedangkan paskah itu kemenangannya, shg tri hari suci itu kita memaknai proses perjuangan Yesus menyelamatkan manusia, paskah adalah memaknai kemenangan Yesus, jadi Gatra kematian adalah menghormati kenangan akan perjuangan Yesus turun ke alam maut menyelamatkan manusia berdosa, Gatra Kebangkitan adalah menghormati kenangan akan hasil perjuangan Yesus tersebut, tak ada kebangkitan tanpa kematian. Pertempuran itu pertempuran suci, karena diawali niat suci Allah memprakarsai keselamatan manusia, dimana manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Dikatakan suci, karena pelakunya Yesus yang tanpa dosa, taat pada misi penyelamatan manusia turun ke alam maut. Kenapa Sabtu sunyi, karena Yesus turun ke alam maut dalam kesendirian, dalam kesunyian, itulah kenapa dalam sastranya, Yesus mengatakan "Allahku, Allahku, kenapa engkau meninggalkan aku?" Karena Yesus nyadar, kini ia sendirian dalam kesunyiaan harus turun ke alam maut. Jadi, dari Kamis putih, Yesus sudah menyiapkan dirinya dengan melepas ego ke Allah ya, mengkosongkan diri, membasuh semua murid yg Yesus tau nantinya akan meninggalkannya sendirian, nantinya akan menyangkaliNya, nantinya bahkan mengkhianatinya, sampai getsemani, pengadilan, jalan salib, Jumat agung kematianNya, dimakamkan, turun ke dalam kerajaan maut di Sabtu sunyi, sendirian dalam kesunyian bertempur melawan maut, semuanya dilandasi perjuangan dan niat suci dalam pengorbanan (kesucian itu juga dilihat dari proses pengorbanan Nya) untu taat pada satu tujuan menyelamatkan manusia, itu kenangan dalam Gatra kematian. Dilanjut Gatra Kebangkitan, ini udah perayaan kemenangan, tidak akan ada perayaan kemenangan tanpa hikmat perjuangan. Sabtu sunyi itu puncak pertempuran dengan maut, pertempuran dalam kesunyian kesendirian di alam maut. Sehingga kenapa konsep baptis itu, mati dan bangkit, mati hidup lama bangkit dalam hidup baru. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian. Mengutip ngendikanya seorang eyang yang saya hormati dalam diskusi bersama, Penekanannya pada "proses" karena "hasil" itu produk dari proses.

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต (๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜‘๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซa๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa ๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 
๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34).

Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.

๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด (๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Dulu Gereja Protestan merayakan Natal pada masa Adven dengan alasan tradisi. Kini banyak Gereja yang menyadari ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€, tetapi masih banyak Gereja yang tidak mau menyadari.
Dulu Gereja Protestan merayakan Ekaristi pada Jumat Agung dengan alasan tradisi. Kini banyak Gereja yang menyadari ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€, tetapi masih banyak Gereja yang ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ.
Pengindonesiaan ๐˜‘๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. ๐˜“๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama. Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?
Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan petulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ?” Pengakuan Iman (Syahadat) Rasuli mengikuti pandangan Injil sinoptik sehingga penyaliban Yesus dikelompokkan ke dalam bagian penderitaan Yesus. Petulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh petulis Injil Yohanes, “๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ช!” Yesus lalu menundukkan kepala-Nya dan ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป atau ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.
๐—ฃ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ข yang berarti pengucapan syukur. “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali. Ada gatra eskatologis. Kata Rasul Paulus, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ค๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.

Dengan demikian melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—น๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—บ๐—ฎ๐˜‚๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€.

Dalam Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. ๐˜๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini.

๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ (๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ). Seperti pengindonesiaannya dari ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ menjadi ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ต๐˜ถ ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ. Mengapa? Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung. Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.

Barangkali orang Kristen akan ada yang bertanya, “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.” 

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu upaya Gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. 

(17042025)(TUS)








Puisi ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ

Puisi ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ

Dalam Injil Sinoptik yang mengurus penguburan Yesus adalah Yusuf dari Arimatea dan para perempuan dari Galilea. Dalam Injil Yohanes muncul Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.
Berbeda tipis, tetapi pesannya sama: ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—น. Mereka yang paling dekat justru tidak disebut. Yang tampil adalah mereka yang selama ini berada di pinggir. Narasi tidak menjelaskan. Tidak membela. Tidak menghakimi. Hanya menunjukkan satu kenyataan: kesetiaan tidak selalu datang dari lingkaran terdekat. Pada aras itu kematian Yesus memuat ironi yang lebih dalam. Ia tidak hanya mati sebagai yang ditolak, tetapi juga sebagai yang ditinggalkan. Sebuah kesedihan yang berlapis. Bukan hanya penderitaan tubuh, tetapi juga keterasingan relasional. Ini sangat radikal! Yesus menanggung pengalaman yang paling manusiawi: ditinggalkan pada saat terakhir. Sebuah penderitaan yang dipikul bagi orang lain, agar mereka tidak harus mengalaminya dalam bentuk yang sama. Pada akhirnya salib bukan hanya tentang rasa sakit, tetapi tentang kasih yang tetap memberi diri, bahkan ketika tidak lagi disertai. Dalam keheningan itu tampak siapa yang benar-benar tinggal ketika segala sesuatu runtuh.

(pulang dari ibadah Jumat agung 03042026, baru saja melakukan diskusi menarik dengan salah seorang eyang yang saya hormati) (TUS)


Kamis, 02 April 2026

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus

PENGANTAR
Pembasuhan kaki, adalah simbol ritual keberanian untuk melucuti ego, melucuti ke AKU an, baik yang membasuh maupun yang dibasuh kakinya. Perang, pengrusakan alam, ketamakan tambang, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, penindasan, penjajahan, pemerkosaan ,pembedaan, penyingkiran, hukuman mati, dlsb adalah pertunjukan ego manusia di dunia, dan memang itulah yang ditawarkan oleh dunia. Konsep adopsi filososi kaum esseni yang juga dibawa Yohanes Pembaptis dan Yesus adalah jangan jadi sama dengan dunia. Hal itu, di Injil memunculkan gesekan bahkan masalah politik dengan kaum farisi, saduki, zelot, dlsb, risiko untuk tidak jadi sama dengan dunia. Yesus mempertunjukan keradikalanNya dalam pembasuhan kaki, se radikal Yesus kah kita? Negara-negara yang merasa lebih kuat, memerangi negara lainnya atas nama "perdamaian" dan "menegakkan demokrasi". Mereka yang tidak berdaya bagaikan pion dalam pertandingan yang sulit untuk diketahui pemenangnya, karena semua pihak menjadi korban. Dalam hidup sehari-hari kita juga kerap dipertontonkan pada hal yang serupa. Penguasa-penguasa menanfaatkan rakyatnya sebagai sarana untuk berkuasa dan memiliki kekayaan yang lebih banyak. Mereka yang lemah dan tertindas adalah pijakan bagi kekuasaan. Sementara itu di tataran hidup
sehari-hari, kita melihat bahwa demi jabatan, seseorang rela mengorbankan dan menjatuhkan rekan kerjanya, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, penindasan, bullying, penjajahan, pembedaan, penyingkiran, dlsb. Maka di tengah situasi tersebut, patutlah kita bertanya, dimanakah kasih dan kepedulian antar sesama manusia? Bukankah dari dua hal tersebut kita dapat meretas jalan kepada kehidupan bersama yang saling menghargai dan menempatkan kehidupan sebagai dasar percakapan bersama. "Keanehan" sebagai Pesan Teologis Kamis Putih, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, termasuk yang akan mengkhianati-Nya, yang menyangkaliNya, yang meninggalkanNya. Ini menunjukkan:
• Kerendahan hati
• Kasih yang tetap diberikan, bahkan
kepada yang menyakiti Kasih seperti ini sering terasa tidak masuk akal, tapi justru itulah inti
iman Kristen. Arti dan Asal Kata Kamis Putih
(Maundy Thursday)
• Kata "Maundy berasal dari bahasa
Latin mandatum yang berarti "perintah" / "mandat"
• Ini menunjuk pada perintah Yesus:
saling mengasihi (Yohanes 13:34).
• Kamis Putih menekankan bahwa kasih
bukan sekadar perasaan, tetapi perintah untuk dijalani bersama, "perintah dalam kebersamaan", perintah dalam persekutuan, perintah dalam hidup bermasyarakat, perintah dalam hidup berkeluarga, penekanan pada SALING.


PEMAKNAAN
Mengikuti prosesi pembasuhan kaki, sebetulnya ritual simbolis gambar keinginan diri untuk berproses melucuti ego pribadi. Oleh karenanya, pembasuhan kaki sarat makna kerendahan hati dan antidiskriminasi, baik dari yang dibasuh maupun yang membasuh kaki. Mandatnya itu, SALING. Sebetulnya, ketika beberapa umat sampai menangis saat pembasuhan kaki itu adalah wujud sebuah pertanyaan diri, apakah tangisku karena pelucutan egoku? Apakah ritual simbolis kakiku dibasuh atau aku membasuh kakimu adalah wujud gambar keinginan diri untuk berproses dalam kehidupan ini untuk tidak jadi sama dengan dunia yang menawarkan pemujaan ego manusia, tetapi menempa diri dalam kerapuhan diri untuk meneladan Yesus serta menghikmati dan menikmati ajaran Yesus dengan melucutkan ego dalam hidup? Jadi, ritual simbolis membasuh kaki atau dibasuh kaki adalah gambar keinginan diri untuk berproses dalam kehidupan keseharian melucuti ego kita, melucuti ke AKU an kita, proses keinginan diri meneladan Kristus dan menghikmati serta menikmati ajaran Kristus, dalam mandat baru Kristus, SALING mengasihi, SALING melayani. Saling merendahkan diri, saling mengasihi, itulah mandat baru. ๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34). Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Masalahnya, bukan budaya Jawa dan kita belum biasa, masih ada yang rikuh pekewuh, banyak yang masih belum paham dan masih bertanya serta belum berani maju. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Itu kan simbolis ritual, pengenangan kita akan teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus. Teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus memang sempurna, kita gak mungkin mencapainya, tapi lewat ritual simbolis pembasuhan kaki di kamis putih, kita diingatkan, kita mengenang akan keteladanan Kristus dan hikmat pengajaran Kristus, untuk berproses ke arah sana dalam ziarah kehidupan kita walaupun tidak mungkin sempurna. Ini menunjukan bahwa teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus bersumber dari Allah sejati, dimana kita manusia rapuh hanya bisa berproses tanpa bisa sempurna seperti Yesus, karena kesempurnaan itu milik Allah. Tapi kita bersyukur, kita memiliki acuan atau keteladanan yang memanusiakan manusia dimana itu menjadi arah atau patokan hidup kita, istilah di Alkitab adalah batu penjuru, menjadi arah kehidupan. Jadi, dalam pembasuhan kaki, ego yang dibasuh dan ego yang membasuh sama-sama dilucuti, tak ada lagi ego, yang ada saling melayani, saling mengasihi. Ini bukan perumpamaan yang tepat, tetapi untuk memudahkan memahami, gampangnya, bayangkan saja dua orang yang saling membenci, tapi pada satu sisi kehidupan ada saat nya kita tidak bisa mengelak untuk membasuh kaki orang yang kita benci, ada saat nya dalam kehidupan kita harus menolong orang yang memerlukan pertolongan, dan yang memerlukan pertolongan itu adalah orang yang kita benci, dalam Injil itu ada frasa menaruh bara di atas kepala musuhmu, shg tak ada lagi ego seharusnya, serta di pihak yang lain dalam kehidupan ini terkadang kaki kita harus di basuh oleh orang yang kita benci, terkadang kita tidak bisa menghindar kita butuh ditolong oleh orang yang kita benci. Kita belajar, siapapun bisa dipakai Allah untuk menolong kita, bahkan musuh kita, bahkan orang yang kita benci. Lewat pembasuhan kaki, kita belajar untuk melepaskan ego kita, tidak perlu lagi ada kebencian, yang ada hanya mandat baru saling melayani, saling mengasihi. Kita ingin tangan kita selalu di atas, tetapi dalam hidup ini terkadang tangannkita harus di bawah, kerendahan hati untuk melihat peristiwa dunia sebagai sesuatu yang wajar, melucuti ego. Sehingga pertanyaan balik ke kita pribadi, kenapa kita tidak berani melakukan ritual simbolis pembasuhan kaki? Mungkin ego kita masih terlampau besar untuk melihat kenyataan bahwa mandat Kristus adalah saling melayani, saling mengasihi, itu melepaskan ego kita, mungkin kita masih enggan melucuti ego kita. Bayangkan lagi dg jembatan nalar seperti itu, bagaimana kalau perumpamaan tentang dua orang yang saling membenci itu adalah suami istri, orang tua dan anak, majelis dan umat, kita dan tetangga kita yang riwil, kita dan teman kerja kita yang toxic, dlsb. Makanya di berbagai gereja variasi pembasuhan kaki banyak, ada yg jemaat menyediakan diri membasuh kaki majelis, ada pembasuhan antar keluarga, dlsb, tidak selalu antar majelis dan majelis ke umat, pemahaman liturgi ini masih berkembang. Melihat Kemanusiaan Yesus
• Kita sering melihat
Yesus seolah-olah tahu segalanya tanpa pergumulan.
• Padahal, Yesus juga hidup sebagai manusia biasa. Dalam Perjamuan Terakhir: Yesus tahu akan ada pengkhianatan, diriNya akan ditinggalkan dan penyangkalan atas diriNya
• Namun tetap memilih untuk mengasihi dan melayani, Ini menunjukkan bahwa kasih Yesus adalah pilihan yang sadar dan nyata. Coba bayangkan kita yang dibasuh kakinya ternyata kita yang meninggalkan Yesus, kita yang dibasuh kakinya ternyata kita yang menyangkal Yesus, kita yang dibasuh kakinya kita yang mengkhianati Yesus. Tantangan Menghayati Pekan Suci
• Kita sering sulit merasakan perjalanan
Yesus di Pekan Suci (termasuk di Kamis
Putih) karena Kita sudah tahu akhir
ceritanya (kebangkitan). Pengetahuan ini membuat kita kurang merasakan kesedihan Jumat Agung dan kurang memasuki realitas mendalam ketidakpastian saat itu. Sejatinya pada Kamis Putih, kita diajak untuk lebih hadir dan merasakan momen, bukan hanya mengingat cerita. Pertanyaan Penting untuk Kita, Apakah kita benar-benar bisa: Mengalami persekutuan dengan Yesus saat ini? Mendengar kembali perintah untuk saling mengasihi?
Panggilan Bermakna bagi Kita, Kamis Putih bukan hanya untuk diingat atau dikenang, tetapi untuk dijalani kembali dalam hidup kita. Maka pembasuhan yang dilakukan Yesus tidak hanya merujuk kepada keteladanan dalam hidup sehari-hari, melainkan juga menggambarkan misi hidup-Nya secara keseluruhan. Sebenarnya tindakan Yesus ini sungguh "mengherankan". Apakah Yesus tidak takut jika "marwah"-Nya sebagai seorang Guru dan Pemimpin menjadi jatuh? Bukankah disitulah justru letak intisari
pengajaran Yesus. Marwah atau kehormatan dan harga diri seseorang tidak terletak pada kekuasaan, harta, atau jabatan, melainkan pada
kesediaan seseorang untuk mengasihi,
melayani, dan berkorban bagi sesama. Kamis Putih ini mengajarkan kita untuk menantang arus zaman, tidak jadi sama dengan dunia. Jika dunia penuh dengan kekerasan dan pengejaran tiada henti akan hawa nafsu, dan ego maka murid-murid Kristus diajar untuk mewujud nyatakan kasih dalam kehidupan sehari-hari dengan kesediaan untuk berkorban dan melayani sesama. Tindakan itu harus muncul dari rasa syukur yang mendalam atas kasih
karunia-Nya, bukan muncul karena adanya kewajiban, apalagi paksaan atau sekedar ritual. 
Pertanyaan Reflektif, Sudahkah hidup dan keteladanan Kristus serta hikmat nikmat pengajaran Kristusmenjadi tonggak seluruh keberadaan kita?
(03042026)(TUS)













Rabu, 01 April 2026

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

PENGANTAR
Bolehkah kita lelah? Mungkinkah ada jeda saat kita berkarya? Tidur adalah mekanisme tubuh yang menunjukan tubuh kita harus istirahat, tubuh kita lelah, oleh karena itu istirahat atau jeda adalah keniscayaan, kemanusiawian. Mengakui kelelahan adalah pengungkapan bahwa kita masih tergantung pada Allah, ada batas pada manusia yang tidak bisa ditembus tetapi Allah tidak terbatas, mengakui kelelahan adalah bagaimana kita tidak hanya sampai pada percaya pada Allah tetapi mempercayakan diri pada Allah. Para murid kelelahan dalam berkarya dan itu diakui Yesus dengan mengajak beristirahat serta menepi dalam kesunyian, tetapi di saat kelelahan itu ada orang banyak yang butuh makan, para murid tak berdaya, di saat ketak berdayaan para murid oleh karena kelelahan tsb, Yesus, Allah, tetap berdaya, secara sastra ini menunjukan dalam kelelahan dan ketidak berdayaan serta keterbatasan manusia (para murid), yang diakui oleh Yesus tsb, manusia (para murid) seharusnyalah mempercayakan diri pada keberdayaan Yesus, Allah.Markus 6:31 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Dalam Markus 6:31 (TB), frasa "beristirahatlah seketika" diterjemahkan dari teks Yunani Koine, bukan Ibrani, karena Injil Markus ditulis dalam bahasa Yunani. Frasa tersebut berasal dari ฮบฮฑแฝถ แผ€ฮฝฮฑฯ€ฮฑฯฮตฯƒฮธฮต แฝ€ฮปฮฏฮณฮฟฮฝ (kai anapaรบsthe รณlgon), di mana bentuk imperatif anapaรบsthe dari kata anapaรบล (แผ€ฮฝฮฑฯ€ฮฑฯฯ‰) berarti "beristirahatlah" atau "pulihkan diri", dan รณlgon (แฝ€ฮปฮฏฮณฮฟฮฝ) berarti "sedikit", "sebentar", atau "seketika". Anapaรบล menyiratkan penghentian sementara dari pekerjaan atau pergerakan untuk memulihkan kekuatan fisik dan mental, sering digunakan secara refleksif untuk "istirahat diri sendiri" setelah kelelahan, seperti setelah perjalanan panjang atau tugas berat. ร“ligon menekankan durasi singkat, menciptakan nuansa praktis dan mendesak untuk pemulihan cepat, bukan istirahat permanen. Secara sastra, imperatif anapaรบsthe menunjukkan perintah langsung dari Yesus yang penuh kasih, kontras dengan kerumunan yang tak henti (hoi erchรณmenoi kaรฌ hoi hypรกgointes polloรญ, banyak datang-pergi), membangun ketegangan naratif antara pelayanan intens dan kebutuhan manusiawi. Ayat ini juga menghubungkan ke mukjizat memberi makan 5000, di mana istirahat terganggu tapi Yesus tetap peduli, menekankan tema keseimbangan. Konteks Budaya dan Teologi. Dalam budaya Yahudi-Helenistik, istirahat menggemakan Sabat (Keluaran 20:8-11), di mana Tuhan memerintahkan pemulihan dari tenaga kerja melelahkan, mengakui kelelahan sebagai bagian manusiawi pasca-kutuk dosa (Kejadian 3:17-19). Yesus mendukung hal ini dengan menginisiasi istirahat bagi murid-murid yang lelah setelah misi (Markus 6:30), menunjukkan Ia menghargai batas manusiawi dan memerintahkan istirahat sebagai bagian dari kehidupan pelayanan. Apa makna rohani dari ajakan Yesus beristirahat. Ajakan Yesus untuk beristirahat dalam Markus 6:31 memiliki makna rohani mendalam sebagai undangan untuk pemulihan fisik dan spiritual di tengah pelayanan atau karya para murid yang melelahkan. Dalam makna itu, memang dapat dipahami ajakan Yesus untuk beristirahat para muridnya, sebagai jeda spiritual dan fisik. Pemulihan Kekuatan Rohani, Istirahat ini mengajarkan keseimbangan antara pelayanan atau karya dan persekutuan pribadi dengan Tuhan, menggemakan prinsip Sabat di mana manusia memulihkan diri untuk melayani atau berkarya lebih efektif. Yesus menunjukkan bahwa mengakui kelelahan bukan kelemahan, melainkan bagian dari ketergantungan pada kuasa Allah. Dengan mengajak murid ke tempat sunyi, Yesus mengundang waktu doa dan refleksi, di mana istirahat fisik menjadi pintu masuk untuk istirahat rohani sejati seperti dalam Matius 11:28-29. Ini menekankan bahwa pelayanan tanpa istirahat dapat menyebabkan kelelahan rohani, sehingga istirahat memperbarui panggilan ilahi. Secara rohani, ajakan ini menjadi disiplin kerohanian: berhenti sejenak untuk mendengar Tuhan, menghindari kelelahan berlebih, dan mempersiapkan diri bagi mukjizat berikutnya, seperti pemulihan 5000 orang.


PEMAHAMAN 
Dalam melakukan berbagai aktivitas, manusia sering kali mengalami kelelahan. Baik lelah karena pikiran, pekerjaan, pelayanan, maupun berbagai dinamika relasi yang ada di dalam keseharian hidup. Karenanya, kelelahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Kelelahan itu manusiawi. Teologi Kristen dalam perkembangannya tidak mengajak umat untuk lari dari kenyataan itu, melainkan untuk mengakui dan menyadari bahwa kelelahan adalah bagian dari kerapuhan diri. Dalam ilmu medis, orang tidur itu menunjukan tubuh manusia mengalami kelelahan, jadi lelah adalah keniscayaan manusia, lelah melekatkan pada kemanusiaan. Selama manusia masih tidur maka tidak mungkin manusia itu tidak lelah. Demikian halnya gereja, gereja harus mengakui kelelahan umat, itu pastoral bagi umat. Bayangkan saja, ada umat lelah dengan pernikahan, terus datang ke gereja, gereja terus mengatakan "tak lelah", "tidak boleh lelah", "jangan lelah", itu namanya gerejanya tidak melakukan pastoral yang baik, itu gerejanya tidak memanusiakan manusia. Oleh karenanya, kita sampai pada pemahaman bahwa ketika Allah turut merengkuh kerapuhan umat, maka Ia tentu turut merengkuh kelelahan kita, Allah tentunya memanusiakan manusia. Bila demikian, mampukah kita memaknai undangan untuk  meragakan kemurahan hati Allah di tengah kelelahan kita? 
 Markus 6:30-44 menolong kita untuk melihat kembali ajaran Tuhan Yesus yang terus relevan dengan konteks zaman sampai dengan hari ini. Ada tiga bagian yang ingin ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus membuka diri untuk kelelahan para murid. Bagian pertama ini tampak melalui tindakan Tuhan yang meminta para murid untuk menyendiri ke tempat terpencil dan beristirahat sejenak (ay. 30-32). Hal ini disampaikan karena Ia sangat mengerti akan apa yang dilakukan oleh para murid sebelum bertemu dengan-Nya. Membaca bagian ini jelas tidak boleh melupakan kisah bahwa Yesus mengutus kedua belas murid (berdua-dua) untuk menyuarakan berita pertobatan, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Tugas pengutusan yang demikian sungguh melelahkan, bahkan untuk makan pun mereka belum sempat. Karenanya Tuhan Yesus mengajak para murid untuk beristirahat sejenak, menyingkir dari keramaian orang banyak pada waktu itu, dan memulihkan energi. Jadi, Tuhan Yesus membuka diri terhadap kelelahan sebagai bagian dari kehidupan manusia setelah melakukan berbagai hal dan mengerti bahwa mereka yang lelah membutuhkan waktu beristirahat, meski ada dalam kelelahan, Tuhan Yesus mengundang para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama. Bagian kedua ini tampak ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya seperti domba yang tidak memiliki gembala dan yang tidak memiliki makanan (ay. 33-38). Mereka membutuhkan sentuhan belas kasih agar tetap bertahan hidup. Namun, respons para murid sungguh mencerminkan sisi manusiawi dan ketidakmampuan memahami ajaran Yesus. Para murid kebingungan dan merasa tidak mampu untuk memberi makan orang banyak, sehingga ingin menyuruh mereka pergi. Berbeda dari respons para murid, Yesus justru memberi pengajaran dan mengajak para murid untuk menyiapkan makanan bagi mereka semua. Jadi di tengah kelelahan dan waktu istirahat yang belum tercapai, Yesus memberi teladan kepada para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Ini bagian dari ketidakmenyerahan diri. Tuhan Yesus memberi kekuatan kepada para murid yang sudah lelah, tetapi yang tidak menyerah untuk berbelas kasih. Bagian ketiga ini tampak ketika Tuhan Yesus memampukan para murid untuk memeriksa ketersediaan makanan, mengatur orang banyak untuk duduk berkelompok, membagikan makanan, bahkan mengumpulkan kembali makanan yang berlebih (ay. 39-44). Mereka yang tadinya kelelahan, tetap memilih untuk melakukan apa yang diminta Yesus sebagai tanda ketidakmenyerahan diri. Karena itu, dari lima roti dan dua ikan, semua orang dapat makan hingga kenyang dan para murid dimampukan untuk menyatakan belas kasih kepada sesama melalui apa yang dilakukan bersama Tuhan. Jadi, ketika para murid mengakui kelelahan tetapi memilih untuk tetap berbelas kasih, maka Tuhanlah yang memampukan mereka.  Perjalanan Tuhan Yesus dan para murid yang demikianlah menjadi perenungan kita bersama, menjadi penting untuk dibaca dalam sudut pandang bahasa sastra, Markus 6:30-44. Tema penghayatan ini mengarahkan kita pada istilah yang berarti tetap, terus-menerus, atau tidak menyerah, tetap memiliki hati berbelas kasih seperti Allah yang diwujudkan dalam karya nyata kepada sesama di tengah pengajuan bahwa sangat dimungkinkan kita sedang atau akan kelelahan. Oleh karenanya, mari memaknai bahwa tidak menyerah untuk menyatakan belas kasih kepada sesama, meski diri kita sebagai manusia ada dalam kelelahan. Sama seperti para murid yang meski lelah, mereka dimampukan Tuhan untuk tidak menyerah berbelas kasih, maka demikianlah kita sebagai umat di masa kini, dan nampak bahwa pengakuan kelelahan itu bukan kelemahan tetapi membuka akan ketergantungan pada Allah, bukan usaha manusia sendirian.  Jadi sekarang, bagaimana mewujudkan belas kasih dalam karya nyata kita di tengah kehidupan kita bersama? Undangan bagi setiap kita yang sudah lelah adalah tak menyerah menyatakan belas kasih di tengah kehidupan keluarga, di tengah kehidupan persekutuan yang adalah gereja Tuhan, serta di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam perjuangan demikian, Kristus yang akan merengkuh kelelahan manusia senantiasa memampukan kita untuk tetap berbelas kasih kepada sesama. Ia tetap mengerti dan membuka diri bagi kelelahan setiap umat, tetapi yang juga tiada henti untuk memampukan umat memenuhi tugas pengutusannya. Meski lelah, mari tidak menyerah untuk berbelas kasih kepada sesama. Semangat berjuang. Roh Kudus menolong kita. 
(01042024)(TUS)

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ-๐—น๐—ถ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ-๐—น๐—ถ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ PENGANTAR  Kisah Paskah yang berbeda-beda dalam Injil, itu bukan sesuatu yang harus d...