Rabu, 25 Februari 2026

SUDUT PANDANG YOHANES 3:1-17

SUDUT PANDANG YOHANES 3:1-17

PENGANTAR
Minggu 01 Maret 2026, Jargon ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ-๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ (๐˜‰๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฏ-๐˜ˆ๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ) tak lepas dari penafsiran ideologis dari kelompok Kristen tertentu terhadap teks Yohanes 3:1-17. Bahkan untuk menjadi mahasiswa teologi di sekolah teologi tertentu calon wajib mengisi kapan ia lahir-baru secara rinci.

Padahal apabila kita membaca secara teliti teks tersebut, Nikodemus terpeleset homonim dalam dialog dengan Yesus. Gaya petulis Injil Yohanes memang gemar membuat lawan bicara Yesus terpeleset sehingga ada ruang besar bagi Yesus untuk menjelaskan panjang-lebar.


KETIKA SKANDAL PERSELINGKUHAN PENDETA MENGGUNCANG GEREJA

Di suatu komunitas gereja menengah, nama seorang pendeta yang selama ini dipandang sebagai figur teladan mendadak ramai diperbincangkan. Bukan karena khotbahnya yang memukau atau pelayanannya yang berurapan, melainkan kejatuhannya dalam dosa perzinahan, dan terjadi dengan salah satu jemaat yang juga melayani sebagai pemuji.

Pendeta dipanggil untuk menjadi teladan bukan hanya dalam khotbah namun juga dalam integritas pribadi. Pendeta juga tak dapat menolak bahwa secara otomatis ia adalah figur publik yang diamati banyak orang, baik di dalam maupun di luar gereja.

Manakala pendeta jatuh dalam hubungan terlarang, itu merupakan tragedi rohani yang pasti menimbulkan reaksi emosional maupun teologis.

Hasil riset Journal of Religion Health, pemimpin rohani yang terlibat skandal seksual akan mengalami dua kali lipat krisis identitas, guilt, stress & isolasi psikologis daripada pelaku diluar konteks keagamaan.

Pengucilan, hukuman moral yang lebih berat serta ancaman kehancuran karir pelayanan dan citra diri seumur hidup akan memperparah krisis pasca kejatuhan (Stack, W.K., et al. 2019).

Beda dengan pelaku diluar dunia rohani, publik tak akan melihat apalagi memahami alasan 'manusiawi' jika pendeta selingkuh. Publik pasti akan bersikap lebih kejam.

PRO-KONTRA JEMAAT

Dari sisi internal, pasti sebagian besar akan marah & menghakimi sang pendeta. Mereka akan merasa kepercayaan mereka dikhianati. Beban sebagai pemimpin rohani akan menambah bobot penghakiman itu.

Krisis kepercayaan akan terjadi, karena pendeta telah dianggap merusak kepercayaan kolektif, bukan hanya pada beberapa tapi juga keseluruhan gereja.

Bagaimanapun, sudut pandang empatik akan selalu ada dalam jemaat. Pendapat: "Namanya juga manusia, kita semua pasti berdosa," dan "ayo kita rangkul, jangan hakimi," pasti juga akan ada, namun tak sebanyak kubu kontra.

Reaksi komunitas pun pasti akan terbelah tajam, antara keadilan, pengampunan maupun martabat perlindungan manusia.

REAKSI & TINDAKAN ORGANISASI

Lembaga gereja sebetulnya memiliki 2 (dua) tanggung jawab kontradiktif yaitu:

Mendisiplinkan - demi menjaga standar moral hamba Tuhan dalam lingkup organisasinya. Melakukan penangguhan pelayanan (skorsing) serta memberi kesempatan evaluasi & pembinaan.

Memulihkan - pembinaan pastoral kepada pendeta yang melakukan hubungan seksual di luar nikah. Lembaga gereja perlu menyiapkan instrumen konseling yang dapat membawa kepada pertobatan.

Sinode harusnya tidak hanya fokus pada hukuman (skorsing/pecat) namun melihat pendeta/gembala juga adalah 'domba' yang terhilang.

BAGAIMANA DENGAN KELUARGA PENDETA?

Sisi yang paling terlupakan dalam skandal perselingkuhan pendeta adalah keluarga pendeta itu sendiri. Biasanya sinode & gereja hanya sibuk mengurus pelaku & hukuman apa yang akan diberikan.

Pasangan sejatinya adalah korban terdampak pertama. Dipermalukan secara publik, trauma emosional & perasaan gagal mempertahankan keutuhan rumah tangga akan menjadi sebuah momok yang meruntuhkan pertahanan psikologis.

Anak-anak menjadi korban terdampak kedua. Kebingungan, kekecewaan, stigma di sekolah serta trauma sosial psikologis pasti akan dialami.

Gereja harusnya menjadi benteng teraman bagi keluarga pendeta yang terdampak. Ruang yang aman bagi pasangan & anak, perlindungan dari pemberitaan sensasional serta pendampingan selama masa skorsing & pemulihan juga perlu menjadi beban gereja.

Gereja tidak boleh hanya menerima 'enaknya' saja, namun bersedia untuk menghadapi badai apapun yang menghantam, termasuk dari 'cacat' pemimpin gereja itu sendiri.

KONTROVERSI ANTARA HUKUMAN vs KASIH KARUNIA

Biasanya opini jemaat dan publik akan terbelah. Antara pendeta harus dihukum lebih berat & kej4m, atau kasih yang membawa pemulihan & bukan pemecatan atau pengucilan abadi.

Kedua kubu ini bisa benar secara teologis & sosiologis, namun ketegangan ini dapat membuat gereja pecah. Perlunya para tua-tua jemaat & organisasi sinodenya dapat bekerjasama untuk menetralisir dampak di dalam & diluar jemaat.

Perlu diingat & direnungkan, bahwa kejatuhan seorang pendeta dalam dosa seksual menunjukkan kita akan rapuhnya manusia serta berbahayanya idealisasi yang berlebihan terhadap pemimpin rohani. Disisi lain, diperlukan adanya sebuah komunitas Tubuh Kristus yang dapat membebat luka tanpa menghakimi.

KESIMPULAN

Skandal perselingkuhan seorang pendeta adalah tragedi moral, sosial, dan spiritual yang kompleks. Reaksi jemaat, tindakan sinode, dan dampaknya pada keluarga tidak bisa dikesampingkan. 

Yang diperlukan bukan sekadar kritik tajam, tetapi dialog yang jujur, dukungan yang manusiawi, dan sistem gerejawi yang mampu menyeimbangkan keadilan dan kasih.

Ini bukan hanya kisah “kegagalan seorang pemimpin rohani”, namun ini adalah sebuah cermin kolektif tentang bagaimana kita sebagai Tubuh Kristus merespon dosa, kegagalan, luka, dan proses pemulihan.

Sudut Pandang Dosa tak terasa

Sudut Pandang Dosa tak terasa

PENGANTAR
JIKA ADA ORANG MENCURI, BERDUSTA ATAU ฮœฮ•LAKUฮšฮ‘ฮ MANIPULASI LANGSUNG ฮšฮ•ฮคฮ‘ฮ—Uฮ‘ฮ, ITU BERUNTUNG.
ฮคฮ‘ฮกฮ™ ฮกฮ•Rฮ’Uฮ‘ฮคฮ‘ฮฮฮฅฮ‘  TIDAK ฮšฮ•ฮคฮ‘ฮ—Uฮ‘ฮ ฮ‘ฮคฮ‘U Dฮ™ฮ’ฮ™ฮ‘Rฮšฮ‘ฮ ฮ’ฮ‘ฮ—ฮšฮ‘ฮ PERBUATANNYA DIANGGAP NORMAL, ฮœฮ‘ฮšฮ‘ DIPASTIKAN ORANG TERSEBUT ATAU MEREKA YANG SETUJU ADA DALAM BAHAYA BESAR

Narasi dalam kalimat itu bukan sekadar peringatan moral, tetapi cermin rohani bagi gereja dan pribadi kita.

PEMAHAMAN
Alkitab menunjukkan bahwa dosa yang ditegur masih memberi ruang pertobatan. Tetapi dosa yang dibiarkan akan membentuk budaya. Dalam Efesus 4:19, "Perasaan mereka telah menjadi tumpul..." Paulus memakai kata Yunani untuk tumpul yaitu 'apelgekotes' — “kehilangan rasa.” Ini gambaran hati yang mati rasa. Awalnya mungkin hanya kompromi kecil. Lama-lama menjadi kebiasaan. Lalu menjadi karakter.

Contohnya nyata dan dekat dengan kita.

Mencuri bukan hanya mengambil barang orang lain. Itu bisa berbentuk manipulasi laporan keuangan gereja, “memainkan” dana pelayanan, mengambil komisi tersembunyi dalam proyek rohani. Berdusta bukan hanya berbohong terang-terangan, tetapi memberi kesaksian rohani yang dilebih-lebihkan demi pencitraan. Manipulasi bisa muncul dalam pelayanan: memakai mimbar untuk menekan jemaat agar memberi, atau menggunakan ayat Alkitab untuk mengendalikan orang.

Awalnya mungkin ada rasa bersalah. Tapi ketika lingkungan diam, ketika pimpinan menutup mata, ketika jemaat berkata, “Sudahlah, yang penting pelayanan jalan,” di situlah bahaya mulai membesar.

Roma 1:32 berkata bahwa bukan hanya pelaku, tetapi juga mereka yang “setuju” turut bersalah. Kata Yunani 'syneudokeล' (ฯƒฯ…ฮฝฮตฯ…ฮดฮฟฮบฮญฯ‰) berarti memberi persetujuan bersama. Jadi ketika kita tahu ada ketidakjujuran tetapi memilih diam demi kenyamanan, kita sedang ikut membangun sistem dosa itu.

Dalam 1 Timotius 4:2, hati nurani yang terus-menerus diabaikan digambarkan dengan kata 'kautฤ“riazล' — seperti daging yang dibakar besi panas sampai mati rasa. Itu yang berbahaya. Bukan sekadar dosanya, tetapi hilangnya kepekaan.

Contoh lain yang sering dinormalisasi:

- Pemimpin rohani yang bersikap kasar tetapi dibela karena “dia hamba Tuhan yang dipakai.”
- Favoritisme di gereja: yang kaya disambut hangat, yang sederhana diabaikan.
- Gosip rohani yang dibungkus dengan kalimat, “kita perlu doakan dia,” padahal itu penyebaran aib.
- Pelayanan dilakukan bukan untuk Tuhan, tetapi untuk panggung, posisi, dan pengaruh.

Amsal 29:1 memperingatkan tentang hati yang mengeras (qashah — keras, kaku). Ketika teguran dianggap serangan, ketika koreksi dianggap ancaman, itu tanda hati mulai membatu.

Renungan ini bukan untuk menunjuk orang lain. Ini untuk memeriksa diri kita sendiri. Apakah kita masih peka saat Roh Kudus menegur? Apakah kita berani menolak budaya pembiaran, meskipun itu tidak nyaman?

Lebih baik ditegur dan bertobat daripada dipuji dalam kebusukan.

Jika dosa masih terasa mengganggu hati kita, bersyukurlah. Itu tanda hati masih hidup. Bahaya besar bukan saat kita jatuh, tetapi saat kita tidak lagi merasa bahwa kita jatuh.

Sudut Pandang konteks sastra, bahasa dan tradisi Israel pada kejadian 2 :15-17 dan kejadian 3 : 1-7

Sudut Pandang konteks sastra, bahasa dan tradisi Israel pada kejadian 2 :15-17 dan kejadian 3 : 1-7

PENGANTAR
Sebetulnya kita harus berhati-hati memasukan ide ke kinian ke teks Alkitab sebelum melihat konteks teks nya dahulu. Tidak masalah sebetulnya, karena tafsir itu perkara sudut pandang, bisa dari mana saja. Tetapi terkadang bila kita gegabah, kita kehilangan jembatan nalar dan argumentasi nya menjadi lemah. Ketahuilah dahulu konteks nya dari teks tsb, kemudian apa ide kekiniannya, pikirkan jembatan nalar dengan argumentasi yang cukup untuk menjembatani antara konteks teks alkitab dengan ide ke kini annya, inget jangan dipaksakan kalau memang tidak bisa dijembatani. Kita mencoba melihat ide konteks teks Kejadian 2:15-17 dan Kejadian 3:1-7 dengan ide ke kini an ekologi.


PEMAHAMAN
Bicara PL, kita tidak bisa menghindar dari sudut pandang tradisi Israel Kuno juga terkait sastra Ibrani dan bahasa. Kita tidak bisa melepas konteks teks tersebut. Dari Segi Sastra, Kedua bagian ini membentuk satu kesatuan naratif yang kontras: perintah ilahi (Kej. 2:15–17) dan pelanggaran manusia (Kej. 3:1–7). Struktur naratifnya simetris: perintah – godaan – pelanggaran – konsekuensi. Bahasa Ibrani menggunakan kata kerja imperatif dan bentuk perfeksif untuk menegaskan kepastian akibat (“pastilah engkau mati” – mot tamut). Pengulangan kata “makan” (akal) menekankan tema ketaatan dan kebebasan moral. Segi Bahasa, Dalam teks Ibrani, istilah “pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (da‘at tov vara‘) bukan sekadar moralitas, tetapi idiom Semitik yang berarti “kemampuan membedakan dan menentukan sendiri.” Ini menandakan bahwa dosa manusia bukan hanya ketidaktaatan, tetapi keinginan untuk menjadi otonom dari Allah. Kata “mati” (mut) dalam konteks ini bersifat teologis—menunjuk pada kematian relasional dan spiritual, bukan hanya biologis. Segi Budaya dan Tradisi,
Dalam konteks budaya Timur Dekat Kuno, taman adalah simbol kerajaan dan kehadiran ilahi. Tugas “mengusahakan dan memelihara” (Ibrani: ‘abad dan shamar) menggambarkan fungsi imam dalam bait suci—menjaga kekudusan tempat Allah. Ular dalam budaya kuno sering diasosiasikan dengan kebijaksanaan dan kekuatan hidup, tetapi di sini menjadi simbol penipuan dan pemberontakan terhadap tatanan ilahi. Dimensi Teologis dan Tradisi Israel, Tradisi Yahudi awal menafsirkan kisah ini sebagai asal mula dosa dan penderitaan manusia. Dalam tradisi Kristen, teks ini menjadi dasar doktrin “kejatuhan manusia", bahkan sudut pandang kehendak bebas manusia. Namun, dalam konteks sastra Ibrani, fokusnya bukan pada “kejatuhan” semata, melainkan pada rusaknya relasi antara manusia, Allah, dan ciptaan. Nilai Moral dan Refleksi,  Kisah ini mengajarkan pentingnya ketaatan dan kepercayaan kepada Allah. Kebebasan tanpa batas membawa kehancuran, sedangkan ketaatan membawa kehidupan. Manusia dipanggil untuk mengelola ciptaan dengan tanggung jawab, bukan untuk mengambil peran Allah. Kejadian 2:15–17 dan 3:1–7 menggambarkan transisi dari harmoni menuju keterasingan akibat penyalahgunaan kebebasan. Secara sastra, bahasa, dan budaya, teks ini menegaskan bahwa kehidupan sejati hanya ditemukan dalam ketaatan dan relasi yang benar dengan Sang Pencipta. Konteks dalam kisah teks ini juga menunjukan kehendak bebas manusia, sejak awal manusia punya keinginan memberontak pada Allah, manusia diciptakan segambar dan serupa Allah, maka kalau Allah tidak bisa dibatasi, Allah itu bebas, maka manusia pun secara natur memiliki kebebasan tsb, yaitu bebas untuk memberontak pada Allah. Ekologi itu ilmu yg mempelajari biotik dg abiotik, makhluk hidup biotik dengan alam sekitarnya abiotik. Kita fokusnya di salah satu cabang ekologi, yaitu ekologi lingkungan, korelasi antara mahkluk hidup dg lingkungan hidupnya, Itu kan bisa dikaitkan dg konteks bab 2 bahkan bab 3 untuk definisinya. Kaitan mahkluk hidup (manusia) sebagai mahkluk Allah yang seharusnya lah taat pada Allah, taat pada Allah itu bearti mengusahakan secukupnya dan memelihara sepenuhnya agar alam menghidupi manusia yang hidup taat pada Allah, tidak taat pada Allah artinya mengusahakan berlebihan dan tidak memelihara sehingga alam menjadi penghancur atau alat kematian atau alat bunuh diri masal bagi manusia, teks ini juga menunjukan kehendak bebas manusia, sejak awal manusia punya keinginan memberontak pada Allah, mengusahakan berlebihan dan tidak memelihara alam, itu pemberontakan pada Allah. Manusia diciptakan segambar dan serupa Allah, maka kalau Allah tidak bisa dibatasi, Allah itu bebas, maka manusia pun secara natur memiliki kebebasan tsb, yaitu bebas untuk memberontak pada Allah. Sebetulnya, sumber semuanya pengrusakan alam itu adalah KETAKUTAN, ketika kita takut yang muncul prasangka, bukan prapaham. Sehingga eksplorasi alam yg ngawur itu karena orang TAKUT MISKIN. Serakah, Tamak, korupsi, dlsb, itu karena manusia takut miskin. Kejadian 2, itu konteks nya keterikatan manusia pada Allah, wujud keterikatan itu ketaatan manusia pada Allah, ada pembolehan dan ada larangan, ketika manusia melanggar larangan maka tidak taat, konsekuensi ketidak taatan itu adalah pisah hubungan dg Allah, artinya MATI. Kalau manusia tidak taat pada Allah untuk memelihara alam dg baik, disamping mengusahakan secukupnya untuk hidup manusia, maka konsekuensinya mati, mati itu bisa digambarkan pada kerusakan alam yang membunuh manusia sendiri, tema konteks nya dulu secara sudut pandang Israel PL baru masuk ke kenyataan kekinian atau kontekstual. Kita harus lihat konteks nya ayat dulu, baru ide kekinian apa yg akan kita usung, terus membuat jembatan nalarnya, jadi ..... Gak lepas, ada keterhubungan ya. Kejadian 3, itu kan bicara tentang akan ada saja, godaan atau pertimbangan nalar yang akan melawan keinginan taat pada Allah, segala sesuatu yang melawan ketaatan pada Allah itu berseberangan dg Allah, dalam Alkitab di metaforakan sebagai iblis dengan simbol ular, kenapa ular ..... Ular sering dipakai lambang dewa bangsa sekitar Israel pada zamannya shg dianggap berseberangan sbg Allah Israel (tapi ingat Kristus disamakan dg ular tembaga di kitab bilangan, yang dianggap menyembuhkan, juga di pakai di dunia medis sebagai simbol), ular dianggap binatang mematikan, di Padang pasir itu habitat ular disebut ular Derik, itu bisanya lebih hebat dari king cobra, maka banyak khilafah yg mati oleh ular Derik karena perjalanan Padang pasir, ular Derik bisa berkamuflase dg Padang pasir shg tidak terlihat, oleh karena itu menjadi simbol bagi Israel sebagai berseberangan dg Allah Israel karena Allah membawa kehidupan, ular Derik membawa kematian. Kalau, dipandang memelihara alam itu suatu bentuk ke taat an pada Allah karena dg memelihara alam maka kehidupan manusia ikut terjaga, bencana alam yg bisa mengancam ribuan bahkan jutaan jiwa manusia dapat diminimalisir, ini membawa kehidupan seperti hal nya Allah, tetapi kalau alam tidak dijaga maka bisa mengancam hidup manusia, ribuan dan jutaan bahkan jiwa manusia bisa mati. Saat manusia mengikuti godaan (takut miskin, serakah , dlsb) untuk tidak taat pada Allah (tidak menjaga alam) maka kehidupan manusia terancam punah, kematian, itu konsekuensi tidak taat pada Allah, taat hidup tidak taat mati, jaga alam hidup, tidak jaga alam mati. Kalau, dijembatani dg konteksnya dari ide ekologis, kurang lebih nya begitu. Jadi memelihara alam dan mengusahakan secukupnya, menjadi mendasar dan beragumentasi kuat karena terhubung dengan relasi manusia dengan Allah serta lingkungan di mana manusia hidup atau ditempatkan, konsepnya hampir mirip dg Daniel yang ditempatkan di bangsa penjajah tapi taat Allah dan menjadi berkat bagi lingkungannya maka Daniel hidup karena dilindungi Allah, kita hidup dan dilindungi Allah karena menjadi berkat bagi lingkungan kita yaitu alam dimana kita hidup. Konsep sastra nya pada garis besarnya sama, cuman tokoh ceritanya yang ganti. Saya selalu bahkan sering dikatakan sesat, liberalis, bahkan ateis, karena saya mengatakan : "Kalau mau jujur, ini sastra, kisah Adam dan hawa sudah ada sejak sebelum Israel kuno dan itu dapat dibuktikan, tidak ada satu bukti arkeologi pun yg bisa menjadi bukti Adam dan Hawa ada, termasuk Nuh, itu metode ajar secara sastra Ibrani kuno". Makanya, kelompok sepemikiran biblika kami, sering disebut, kelompok Mbah Dukun Sesat .... Wk ..... Wk.
(25022026)(TUS)




Selasa, 24 Februari 2026

Sudut Pandang Kejujuran

 Sudut Pandang Kejujuran

PENGANTAR
Dalam Alkitab, konsep kejujuran berakar pada kata Ibrani “’emet” (ืֱืžֶืช) yang berarti kebenaran, keteguhan, sesuatu yang dapat dipercaya. Menariknya, ’emet tidak hanya berarti “tidak berbohong”, tetapi menunjuk pada karakter yang kokoh dan konsisten. Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani “aletheia” (แผ€ฮปฮฎฮธฮตฮนฮฑ) berarti kebenaran yang tersingkap, yang tidak tersembunyi. Jadi kejujuran secara biblika bukan sekadar berkata benar, tetapi hidup tanpa kepalsuan di hadapan Allah dan manusia.

PEMAHAMAN 
Amsal 11:3 berkata, “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya.” Kata “ketulusan” di sini menunjuk pada integritas—keutuhan diri. Ketika hati berkata A tetapi tindakan berkata B, di situlah integritas retak. Secara psikologis, kebohongan menciptakan disonansi batin; seseorang harus menopang kepalsuannya dengan kepalsuan lain. Itu melelahkan dan perlahan mengeraskan hati. Tidak heran jika Yesus berkata dalam Yohanes 8:32, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kebebasan lahir ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.

Di Indonesia, kita punya teladan nyata dalam diri Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, Kapolri periode 1968–1971. Ia dikenal luas karena integritasnya yang tidak bisa dibeli. Salah satu kisah yang terdokumentasi adalah ketika anaknya pernah terlibat pelanggaran lalu lintas; Hoegeng tidak menggunakan jabatannya untuk membebaskan, melainkan membiarkan proses hukum berjalan. Ia juga menolak berbagai bentuk fasilitas dan intervensi yang berpotensi merusak integritas institusi. Bahkan setelah pensiun, ia hidup sederhana tanpa memanfaatkan kekuasaan masa lalunya untuk memperkaya diri. Dalam konteks kekuasaan yang sering menggoda, Hoegeng menunjukkan bahwa jabatan tidak boleh mengalahkan hati nurani. Kompas moralnya tetap menunjuk ke utara, sekalipun angin tekanan politik bertiup kencang.

Dalam dunia gereja dan teologi Indonesia, kita juga melihat teladan dalam diri  alm Pdt. Eka Darmaputera, alm Pdt Brotosemedi, alm Romo Mangun Wijaya, dlsb. Sebagai teolog dan pendeta, mereka dikenal berani menyuarakan kebenaran, termasuk kritik sosial terhadap ketidakadilan, tanpa kehilangan sikap kasih dan dialog. Ia tidak membangun teologi yang aman dan nyaman, tetapi teologi yang jujur terhadap realitas bangsa. Kejujurannya bukan sekadar intelektual, melainkan moral—berani berdiri pada prinsip meski berisiko. Dalam konteks tekanan politik dan sosial, sikap ini menunjukkan bahwa iman tidak boleh dipisahkan dari integritas.

Alkitab juga memberi kita contoh konkret. Pertama, Yusuf dalam Kejadian 39. Ketika digoda istri Potifar, ia berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Yusuf bukan hanya takut pada konsekuensi sosial, tetapi sadar akan hadirat Allah. Kejujurannya lahir dari kesadaran bahwa hidupnya transparan di hadapan Tuhan. Ia memilih integritas meski harus masuk penjara.

Nabi Samuel dalam 1 Samuel 12:3, Samuel berdiri di hadapan bangsa Israel dan berkata, “Saksikanlah terhadap aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: lembu siapakah yang telah kuambil? keledai siapakah yang telah kuambil? siapa yang telah kuperas? siapa yang telah kutindas?” Dan bangsa itu menjawab bahwa Samuel tidak pernah menipu atau memeras mereka. Itu pernyataan yang berani. Ia berani diperiksa karena hidupnya bersih.

Daniel dalam Daniel 6. Para pejabat mencari-cari kesalahan administratif untuk menjatuhkannya, tetapi tidak ditemukan “kelalaian atau kecurangan” (Daniel 6:5). Ini luar biasa. Daniel hidup di sistem pemerintahan asing dan politis, namun tetap bersih. Integritasnya bukan kebetulan; itu hasil disiplin rohani yang konsisten. Ia tetap berdoa meski ada ancaman hukuman mati. Kejujuran dan kesetiaan berjalan bersama.

Rasul Paulus, dalam Kisah Para Rasul 20:33–34 ia berkata, “Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.” Paulus bahkan bekerja dengan tangannya sendiri supaya tidak menjadi beban dan supaya pelayanannya tidak dicurigai. Ia sadar bahwa Injil bisa dirusak oleh motif tersembunyi. Karena itu ia menjaga transparansi hidupnya. Dalam 2 Korintus 8:21 ia menulis bahwa ia berusaha melakukan apa yang benar “bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.” Itu integritas yang utuh—vertikal dan horizontal.

Natanael (Yohanes 1:47). Ketika Yesus melihatnya, Ia berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.” Kata “kepalsuan” di sini berkaitan dengan tipu daya atau kemunafikan. Artinya, Natanael dikenal sebagai pribadi yang lurus, tidak bermuka dua. Menariknya, kejujuran ini disebut bahkan sebelum ia menjadi murid aktif. Karakter mendahului pelayanan.

Puncak keteladanan adalah Tuhan Yesus sendiri. Dalam Yohanes 14:6 Ia berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Ia bukan hanya mengajarkan kebenaran; Ia adalah kebenaran (aletheia). Tidak ada manipulasi, tidak ada agenda tersembunyi. Bahkan ketika kebenaran itu membawa-Nya ke salib, Ia tidak mundur. Kejujuran-Nya bukan strategi, tetapi natur.

Kejujuran memang mahal. Kadang ia membuat kita kehilangan posisi, peluang, bahkan kenyamanan. Tetapi tanpa kejujuran, kita kehilangan diri sendiri. Integritas bukan dibangun di panggung besar, melainkan di keputusan kecil yang konsisten ketika tidak ada yang melihat.

Charles Spurgeon pernah berkata, “Kejujuran adalah kebijakan terbaik; dan ketika seorang Kristen jujur, ia tidak hanya bijak, tetapi ia juga sedang memuliakan Tuhannya.”

Kejujuran bukan hanya soal sopan santun atau aturan sosial. Kejujuran adalah bagian dari ibadah kita. Saat kita memilih untuk tetap jujur, kita sedang menunjukkan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang benar dan tidak pernah berdusta.

(25022026)(TUS)

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, bagian 5 ๐—”๐—น๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ: ๐—ž๐—ฒ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—จ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐——๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป?

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, bagian 5
๐—”๐—น๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ: ๐—ž๐—ฒ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—จ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐——๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป?

Interior gedung gereja pada dasarnya tidak dirancang sebagai ruang seminar. Arkitektur gereja, bahkan yang paling sederhana sekalipun, dibangun dengan orientasi simbolik: ada pusat, ada arah, ada fokus yang menuntun pandangan. Ruang kudus tidak netral, ia mengarahkan.

Ketika layar multimedia dipasang besar dan dominan di dalam ruang yang tidak dirancang untuk itu, sering yang kali pertama terganggu adalah estetika. Proporsi berubah. Pusat perhatian bergeser. Keselarasan visual rusak.

Persoalannya tidak berhenti pada estetika. Ruang adalah bahasa. Dalam tradisi Gereja altar (atau meja perjamuan) ditempatkan sebagai pusat perhatian visual. Mimbar hadir dalam relasi dengannya. Keduanya membentuk keseimbangan antara Sabda dan Sakramen. Namun, ketika layar menjadi unsur paling mencolok, pusat gravitasi ruang dapat bergeser tanpa disadari. 

Ke mana mata umat diarahkan? Di situlah teologi bekerja. Mari kita buat perbandingannya.

▶️ Jika altar menjadi pusat, maka umat belajar bahwa ibadah berorientasi pada misteri kehadiran Allah.
▶️ Jika mimbar menjadi pusat, maka umat belajar bahwa ibadah berorientasi pada penjelasan.
▶️ Jika layar menjadi pusat, maka umat belajar bahwa ibadah berorientasi pada informasi visual.

Perubahan ini kerap dibela sebagai tuntutan zaman. Yang jarang diketahui oleh pejabat gerejawi, apalagi umat, setiap tuntutan teknis membawa konsekuensi simbolik.

Ruang ibadah tradisional dibangun untuk menciptakan orientasi bersama: umat tidak saling menonton, melainkan bersama-sama menghadap satu arah. Ibadah bukan pertunjukan. Ia adalah pergerakan kolektif menuju Tuhan.

Ketika ruang menyerupai aula presentasi, umat mudah bergeser menjadi peserta seminar atau rapat besar. Ketika umat menjadi peserta, partisipasi berubah menjadi konsumsi. Ini bukan soal romantisme masa lalu. Ini kesadaran bahwa ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ฏ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜ daripada argumentasi.

Sebuah khotbah dapat berbicara tentang kekudusan, tetapi tata ruang dapat berbicara sebaliknya. Umat lebih sering dibentuk oleh apa yang mereka lihat berulang-ulang daripada oleh apa yang mereka dengar sesekali. Apalagi kemampuan umat mencerna khotbah sangat beragam.

Pertanyaan reflektif, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต?
(24022026)(TUS)
Baca juga :
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html
3.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html
4.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-4.html





Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, bagian 4 ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ: ๐—ฃ๐˜‚๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, bagian 4 
๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ: ๐—ฃ๐˜‚๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

Dalam pemahaman liturgi yang utuh ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข tidak berpuncak pada khotbah. Anasir utamanya adalah pembacaan Kitab Suci, yang dalam tradisi Gereja disusun berstruktur:
▶️ Bacaan kesatu,
▶️ Mazmur Tanggapan,
▶️ Bacaan kedua, dan
▶️ pembacaan Injil sebagai puncaknya.

Struktur di atas bukan variasi teknis. Ia menyatakan sesuatu yang mendasar: Allah berbicara terlebih dahulu melalui Kitab Suci. Khotbah tidak menggantikan Sabda. Khotbah memerdalam Sabda. Ia bukan pusat, melainkan pelayanan penjelasan. Jika khotbah dianggap sebagai klimaks, maka secara tidak sadar pusat otoritas berpindah dari Sabda kepada pengkhotbah. Dari Kitab Suci kepada penafsirnya. Di situlah terjadi pergeseran yang halus tetapi serius.

Dalam ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข yang utuh pembacaan Injil diberi kehormatan khusus, karena ia merupakan simbol kehadiran Kristus menyapa umat-Nya. Umat berdiri, kadang dinyanyikan aklamasi, kadang diiringi tanggapan. Itu semua bukan dekorasi. Itu merupakan pembentukan kesadaran bahwa kita sedang mendengarkan kesaksian tentang Kristus sendiri.

Injil menjadi klimaks liturgi bukan berarti Injil “lebih berotoritas”, melainkan karena ia memuat ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช dalam bentuk naratif. Ini ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ถ kristologis.

Setelah Sabda dibacakan, dimaknai, dan diperdalam melalui homili, umat tidak berhenti pada penjelasan. Mereka menanggapi lewat:
▶️ Syahadat, sebagai pengakuan iman bersama, dan
▶️ doa umat, sebagai tindakan konkret yang lahir dari Sabda yang didengar.

Dengan demikian ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข membentuk pola: 
๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป → ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ถ → ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ถ → ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป. 

๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป hanya Mendengar → Mengomentari → Selesai.

Jika struktur itu diabaikan, maka ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข dapat meluntur menjadi satu sesi ceramah. Ketika itu terjadi, umat belajar bahwa iman terutama adalah menerima penafsiran, bukan mengalami perjumpaan dengan Sabda yang hidup. Padahal dalam teologi ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข bukan informasi, melainkan peristiwa. Homili merupakan upaya Gereja membantu umat masuk lebih dalam ke peristiwa itu.

Pertanyaannya bukan ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, melainkan ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ข? Di situlah pembentukan iman terjadi.

(23022026)(TUS)

Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html
5.https://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-5.html


Sudut Pandang tentang Teguran

Sudut Pandang tentang Teguran

PENGANTAR
Ada godaan besar ketika seseorang menegur sesamanya: narsisme moral. Seringkali, teguran diberikan bukan untuk memulihkan orang lain, melainkan untuk meneguhkan superioritas moral diri sendiri. Dalam Perjanjian Baru tindakan menegur atau memperingatkan sering menggunakan dalam bahasa Yunani kata 'noutheteล'.

PEMAHAMAN
1. Noutheteล (Menegur dengan Pikiran Kristus)

Kata noutheteล berasal dari dua kata: nous (pikiran) dan tithฤ“mi (menempatkan). Jadi, menegur secara alkitabiah berarti "menempatkan pikiran yang benar" ke dalam diri seseorang.

Jika kita menegur agar "kita dipandang benar," maka kita sebenarnya sedang melakukan pemujaan diri (idolatry). Kita menempatkan pikiran kita sendiri sebagai standar tertinggi, bukan pikiran Kristus.

Penempatan pikiran ini harus bertujuan agar subjek yang ditegur melihat Kebenaran Objektif, yaitu Kristus, bukan kebenaran subjektif sang penegur.

2. Etika Elenchล (Membuka Tabir)

Dalam Matius 18:15, kata yang digunakan untuk "tegorlah dia" adalah 'elenchล'. Kata ini memiliki makna hukum yang tajam: membawa bukti ke depan cahaya (terang) agar kesalahan terlihat jelas.

Jika terang yang kita gunakan adalah "terang diri kita" (pencapaian moral kita), maka yang terjadi adalah penghakiman yang menghancurkan.

Jika terang yang digunakan adalah "Terang Dunia" Keteladanan dan hikmat pengajaran Kristus pusat nya (Yohanes 8:12), maka kesalahan itu ditelanjangi bukan untuk dipermalukan, melainkan untuk dikuduskan, untuk dipulihkan, jalannya adalah pengampunan dan pertobatan, rangkulan atas kerapuhan manusiawi bukan penghakiman.

Ketika kita menegur hanya supaya kita terlihat benar, kita sebenarnya sedang melakukan kudeta rohani. Kita mencoba merebut takhta Tuhan sebagai satu-satunya Hakim dan satu-satunya Standar Kebenaran. Rasul Paulus menyebut perilaku ini sebagai kenodoxia (Filipi 2:3), yang artinya "Kemuliaan yang Kosong."

Kenapa disebut kosong?

- Kebenaran kita "kosong" karena ia tidak berdiri sendiri; kita hanya merasa benar karena ada orang lain yang lebih salah.

- Kita semua orang berdosa, hanya kita menyukai dosa kita, sedangkan kita tidak menyukai dosa orang lain

- Kita menggunakan kesalahan sesama sebagai latar belakang hitam supaya "kesucian" kita terlihat bersinar. Tanpa kesalahan orang lain, kita tidak punya apa-apa untuk dipamerkan.

Mencari pembenaran diri lewat kesalahan orang lain adalah tanda bahwa kita sedang menyembah diri sendiri. Kita tidak sedang meninggikan Kristus, kita hanya sedang membangun monumen untuk harga diri kita di atas keruntuhan orang lain.

Koreksi tanpa Kristosentrisme (berpusat pada Kristus) hanyalah bentuk lain dari kekerasan verbal atau kesombongan rohani. Mengoreksi agar "Yesus dipandang benar" berarti kita siap untuk tidak dianggap, bukan kita yang dimegahkan atas suatu kritisi tetapi Kristus yang dimegahkan, siap untuk tidak dihargai, siap disingkirkan dunia dan bahkan siap terlihat "salah" di mata dunia, asalkan karakter Kristus tetap tegak.

Pertanyaan reflektif untuk kita:

Apakah saya merasa "puas" setelah menegur seseorang karena saya merasa lebih suci, ataukah saya merasa "gentar" karena menyadari bahwa saya pun hanya debu yang dibenarkan oleh anugerah-Nya?

Kiranya Tuhan Yesus Memberkati kita semua.
(24022026)(TUS)

Sudut Pandang Favorit bergereja

Sudut Pandang Favorit bergereja

PENGANTAR
FAVORITISME dalam Perjanjian Baru diterjemahkan dari ungkapan Yunani “prosลpolฤ“mpsia”. Kata ini gabungan dari prosลpon (wajah/muka) dan lambanล (menerima/mengambil). Secara harfiah artinya “menerima berdasarkan wajah/muka” — menilai orang dari tampilan luar, status, atau posisi juga karena kedekatan atau circle. Di Yakobus 2:1 dipakai frasa “mฤ“ en prosลpolฤ“mpsiais” — jangan memegang iman dengan sikap memandang muka/wajah. Jadi Yakobus tidak sedang menegur etika sosial semata pada zaman itu, tetapi cara beriman yang rusak, iman yang dicampuri nuansa komunitas bukan persekutuan, mental gang bukan persekutuan, mental CLUB bukan CHRUCH. Iman yang sejati tidak bisa berjalan bersama diskriminasi terselubung, pembedaan. Berjalan hanya karena kedekatan, berjalan dg mana saya diuntungkan, makanya saya selalu mengkritisi mau jadi CLUB atau CHRUCH.


PEMAHAMAN
 Ketika kita lebih hangat pada yang “bernilai tinggi” secara sosial, kita sedang menggeser pusat iman dari Kristus kepada kepentingan.
Akar konsep ini sebenarnya sudah ada dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama. Dalam Ulangan 10:17 tertulis bahwa Tuhan “tidak memandang bulu/muka”. Frasa Ibraninya “lo yissa panim” — secara literal “tidak mengangkat wajah/muka”. Dalam budaya kuno, “mengangkat wajah/muka” berarti memberi perlakuan istimewa kepada seseorang karena kedudukannya atau karena kedekatan, zaman sekarang mungkin disebut circle. Jadi ketika Alkitab berkata Allah tidak “mengangkat wajah”, itu berarti Ia tidak memberi keadilan khusus pada orang kuat, atau orang terdekat. Ia adil, lurus, tidak bisa disuap, Ia bersikap sama dengan siapa saja. Ini menampar keras budaya zaman itu yang terbiasa menghormati orang karena simbol kuasa, karena kedekatan, lebih buruk karena kepentingan atau uang.

Di Perjanjian Baru, Roma 2:11 menegaskan, "Sebab Allah tidak memandang bulu/muka.“ (ouk estin prosลpolฤ“mpsia para tล Theล), tidak ada favoritisme pada Allah, tidak ada yg lebih favorit, semua sama, semua setara (hal ini sebetulnya yg didengungkan Karl Marxc, dan komunis, tapi disalah artikan oleh orang sekarang). Kata kerjanya dalam bentuk yang menunjukkan fakta tetap: ini bukan situasional, tapi sifat Allah sendiri, jati diri Allah. Artinya, favoritisme bukan sekadar kelemahan karakter manusia; itu bertentangan langsung dengan natur Allah, artinya bila ada sistim favorit itu tidak meneladan dan menghikmati pengajaran Kristus. Bagi Kristus walaupun Petrus menyangkal dan Yudas mengkhianatinya, serta yang lain ada yg lari maupun tinggal saat penyaliban, mereka ada di meja perjamuan Kudus yg  sama dan semua mereka dibasuh kakinya oleh Yesus, tidak ada favorite, tidak ada pembedaan, yang ada hanya kesetaraan, semua sama. Kalau gereja mau mencerminkan Dia, kita harus berhenti menilai dari “wajah/muka”, entah itu wajah kaya, wajah berkuasa, atau wajah yang bisa menguntungkan karya bergereja, wajah karena kedekatan, tidak tebang pilih, tidak bergerak atas kedekatan. Iman yang dewasa tidak lagi bertanya, “Apa manfaat orang ini bagiku?” "Apa dia dekat dengan aku atau tidak?" melainkan, “Bagaimana aku bisa mengasihi orang ini seperti Tuhan mengasihinya?” Oleh karenanya, kenapa pertanggungan jawab iman kita dihadapan Allah nantinya, yg diajarkan ke kita, itu individual, perseorangan ..... Tidak ada istilah pertanggungan jawab iman di hadapan Allah ditanggung kelompok, atau istilah kapal besar atau kapal kecil, seperti keyakinan lain. Itulah kenapa sebagai manusia, Kristus menghadapi jalan deritanya, jalan salib, sendirian, ditinggalkan sahabat-sahabatnya, dalam kesendirianNya, "Allahku, Allahku kenapa Engkau meninggalkan aku"

Yakobus 2:1-4 (TB)
1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.


(24022026)(TUS)

Senin, 23 Februari 2026

Sudut Pandang Matius 26 :17-25 tentang Yudas, mengagumi atau mengakui Yesus

Sudut Pandang Matius 26 :17-25, tentang Yudas, mengagumi atau mengakui Yesus

Pengantar
Sering kali, kita membaca kisah perjamuan terakhir terlalu cepat, atau mungkin inilah salah satu kasus terjemahan yang makna aslinya menjadi agak terkikis, kita menganggap semua murid memberikan reaksi yang sama ketika Yesus berkata bahwa salah satu dari mereka akan berkhianat. 


Pemahaman
Namun, jika kita memperhatikan teks aslinya di Matius 26:17-25, ada sebuah perbedaan kata yang sangat kontras—sebuah detail kecil yang sebenarnya menyingkap kondisi hati Yudas yang sesungguhnya. 

1. Pengakuan Sebelas Murid (Ayat 22)
Ketika kesebelas murid lainnya merasa sedih, mereka masing-masing bertanya:

"Meti ego eimi, Kyrie?" (Apakah itu aku, Tuhan?)

Dalam bahasa Yunani, Kyrios bukan sekadar sapaan sopan. Kata ini berarti Pemilik, Penguasa, dan Otoritas Tertinggi. Dengan menyebut "Kyrie," mereka mengakui bahwa Yesus adalah pemegang kendali atas hidup mereka. Mereka menyerahkan kedaulatan kepada-Nya.

2. Jawaban Yudas (Ayat 25)
Namun, perhatikan saat giliran Yudas berbicara. Alkitab mencatat ia menggunakan kata yang berbeda:

"Meti ego eimi, Rhabbi?" (Apakah itu aku, Rabi?)

Mengapa Yudas Hanya Menyebut "Rabi"?

Inilah poin yang sangat krusial. Dalam seluruh Injil Matius, tidak pernah sekalipun tercatat Yudas memanggil Yesus dengan sebutan "Tuhan" (Kyrios). Ia selalu menggunakan sebutan "Rabi" (Guru).

Dan di Matius 26:49 (Momen Pengkhianatan) Yudas konsisten menyebut Yesus "Rabi". Ketika Yudas datang ke Taman Getsemani untuk menyerahkan Yesus kepada rombongan yang bersenjata, ia mendekati Yesus dan berkata, "Salam Rabi," lalu mencium Dia.

Rabi adalah gelar kehormatan untuk seorang pengajar yang cerdas, hebat, dan dihormati secara intelektual, tapi tidak disembah, tidak diakui sebagai Tuhan.

Bagi Yudas, Yesus hanyalah seorang tokoh inspiratif, seorang revolusioner, atau sumber ilmu. Ia mengagumi kharisma Yesus, tetapi ia tidak pernah tunduk pada otoritas-Nya sebagai Tuhan.

Yudas menganggap Yesus sebagai sarana untuk mencapai tujuannya (mungkin secara politis atau finansial), bukan sebagai tujuan hidupnya itu sendiri.

----------

Ada perbedaan fatal antara mengagumi Yesus dan mengakui Yesus. Yudas adalah contoh nyata bahwa seseorang bisa sangat dekat dengan kebenaran tanpa pernah dikuasai oleh kebenaran itu, rajin bergereja bahkan berkarya dalam gereja tapi tidak berTuhan.

Kekaguman (Rabi): Bersifat transaksional. Kita mengikuti Yesus karena ajaran-Nya masuk akal, prinsip-Nya mendatangkan sukses, atau kepribadian-Nya inspiratif. Di sini, kita tetap menjadi tuan yang menentukan kapan harus mengikuti atau berhenti.

Iman (Kyrios): Bersifat penyerahan total. Kita mengikuti Yesus karena Ia adalah Pemilik hidup kita. Di sini, Dia adalah Tuan yang menentukan arah hidup kita, bahkan saat perintah-Nya tidak sejalan dengan keinginan kita. Sepanjang hidup kita hanya berproses jatuh bangun kelelahan tapi tidak menyerah, mengakui ada puncak lelah (bukan tidak lelah) tetapi berjuang untuk tidak menyerah dalam meneladan dan menghikmati pengajaran Kristus.

Sebelas murid meletakkan hidup mereka di bawah kaki sang Tuan, sementara Yudas hanya menaruh perhatiannya pada instruksi sang Guru.

Kesimpulannya: Menjadi pengagum Kristus itu mudah, namun menjadi milik Kristus menuntut segalanya. Jangan sampai kita berada di "ruang perjamuan" yang sama, namun memiliki tuan yang berbeda.

(24022026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

PENGANTAR
Pencobaan/Godaan yang Yesus alami bukanlah pencobaan untuk memperoleh sesuatu. Yesus sudah memiliki segala sesuatu. Pencobaan yang Yesus alami adalah godaan untuk memiliki sesuatu SECARA BERLEBIHAN.

— Kuasa bermujizat —> bermujizat bagi diri sendiri
— Status Anak Allah —> validasi sebagai pujaan
— Juruselamat dunia —> penguasa dunia

Jadi godaannya adalah menahan diri untuk hidup ugahari vs. menuruti keserakahan diri. Sebenarnya, itulah juga yang mencobai/menggoda kita dalam kehidupan sehari-hari. Mau hidup ugahari atau hidup cari validasi; mau hidup dengan rasa cukup atau dengan rasa kurang terus.
Itu pula yang menggoda para pemimpin bangsa — apakah mau menggunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri atau mau menggunakannya untuk menyejahterakan rakyat; mau setia menjadi pelayan publik atau mau jadi penguasa rakyat.

PEMAHAMAN

Sudut Pandang Maleakhi 3:10 dan Maleakhi 3:5

Sudut Pandang Maleakhi 3:10 dan Maleakhi 3:5

PENGANTAR
Banyak gereja sangat fasih mengutip Maleakhi 3:10  (TB) "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan". 
untuk mendorong ketaatan persepuluhan (aspek ritual/finansial), namun sering kali skip atau menghindari ayat 5, Maleakhi 3:5 (TB) "Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam". 
yang berbicara tentang keadilan sosial.

PEMAHAMAN 
Mari kita bahas mengenai kontradiksi tersebut.
Kitab Maleakhi ditulis pada masa pasca-pembuangan, ketika bait suci sudah dibangun kembali namun gairah spiritual umat merosot. Masalah utamanya bukan sekadar "kurang dana", melainkan ketidakpercayaan pada keadilan Tuhan.

Umat bertanya, "Di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Sebagai jawaban, Tuhan menyatakan Ia akan datang sebagai "api tukang pemurni". Sebelum Ia membuka tingkap langit (ayat 10), Ia terlebih dahulu bertindak sebagai saksi yang tangkas terhadap ketidakadilan (ayat 5).

Ayat 5 memuat daftar dosa yang sangat spesifik yang diawali dengan sebuah deklarasi otoritas Allah. Mari kita bedah istilah kuncinya:

"Menjadi Saksi yang Tangkas" ('ฤ“แธ mahฤ“r), dalam terj. lain saksi yang memberatkan :
Akar kata saksi ('ฤ“แธ) dalam bahasa Ibrani tidak hanya berarti pengamat, tetapi seseorang yang memberikan kesaksian hukum di pengadilan. Kata "Tangkas" (mahฤ“r) berarti cepat, sigap, dan tanpa penundaan.

Umat saat itu mengira Allah "lambat" atau "buta" terhadap kejahatan (2:17). Namun, Allah menegaskan bahwa Ia adalah saksi mata yang tidak perlu disuap dan tidak bisa dihindari. Ia bertindak sebagai Jaksa sekaligus Hakim yang langsung mengeksekusi keadilan.

Di ayat 5 ada tiga penyimpangan moral pribadi:

- “tukang sihir”  — praktik manipulasi kuasa rohani demi kepentingan diri.
- “pezinah” — pelanggaran kesetiaan perjanjian.
- “orang yang bersumpah dusta” — memperalat nama Tuhan untuk kebohongan.

Lalu disejajarkan dengan penyimpangan sosial:

- “menahan upah buruh” (‘osheq sekhar sakhir) — eksploitasi ekonomi.
- “menindas janda dan anak yatim” — penyalahgunaan kuasa terhadap yang lemah.
- “memutarbalikkan hak orang asing” — diskriminasi dan ketidakadilan struktural.

Kenapa dosa-dosa ini disandingkan? Karena dalam teologi Perjanjian Lama, dosa kepada Allah dan dosa terhadap sesama tidak pernah dipisahkan. Penyimpangan moral pribadi akan selalu melahirkan ketidakadilan sosial. Orang yang berani berzinah terhadap Allah (tidak setia) tidak akan sungkan mengkhianati manusia. Orang yang manipulatif secara rohani cenderung manipulatif secara ekonomi. Hati yang rusak di hadapan Tuhan akan rusak juga dalam sistem sosial.

Perhatikan kalimat penutup ayat 5: “dan mereka tidak takut kepada-Ku.” Akar masalahnya bukan sekadar etika sosial, tapi hilangnya yir’ah, takut akan Tuhan. Ketika takut akan Tuhan hilang, ibadah jadi formalitas dan uang jadi ilah baru.

-------

Kasih kepada Allah (vertikal) tidak bisa dipisahkan dari keadilan kepada sesama (horizontal). Membayar perpuluhan dan persembahan khusus lainnya tanpa mempedulikan keadilan bagi buruh (3:5) adalah kemunafikan yang menjijikkan bagi Tuhan.

Keadilan adalah Ibadah. Bagi Maleakhi, kesalehan ritual yang tidak melahirkan keadilan sosial adalah ritual kosong.

---------------

Apa relevansi bagi Gereja dan Jemaat?

A. Bahaya "Teologi Transaksional"
Jika gereja hanya menekankan ayat 10, gereja berisiko jatuh pada teologi kemakmuran yang transaksional: "Beri uang, maka Tuhan berkati." Ini mengabaikan karakter Tuhan yang lebih mementingkan belas kasihan daripada persembahan.

B. Gereja sebagai "Saksi yang Tangkas"
Gereja seharusnya tidak hanya menjadi tempat "penampung" persembahan, tetapi juga menjadi suara bagi mereka yang tertindas.

Bagi Gereja: Apakah gereja sudah menggaji staf dan karyawannya dengan layak? Ataukah gereja justru menjadi "penindas upah" atas nama pelayanan?

Bagi Jemaat: Apakah ketaatan kita dalam memberi di gereja diikuti dengan perlakuan adil kepada asisten rumah tangga, karyawan di kantor, atau kaum marginal di lingkungan kita?

Integritas perjanjian dengan Tuhan berarti kesatuan antara ibadah dan etika. Persembahan adalah bagian dari ketaatan, tetapi bukan pengganti kebenaran hidup. Gereja yang sehat bukan hanya gereja yang keuangannya kuat, tetapi gereja yang anggotanya hidup dalam takut akan Tuhan, menjauhi dosa, dan memperjuangkan keadilan bagi yang lemah. Tanpa itu, persepuluhan bisa menjadi rutinitas religius yang kosong.

Jadi pertanyaannya bagi jemaat bukan hanya: “Sudahkah saya memberi?” tetapi juga: “Apakah hidup saya adil, jujur, dan mencerminkan takut akan Tuhan?” Ibadah tidak bisa dipisahkan dari keadilan. Tuhan bukan hanya melihat aktivitas di tempat ibadah, tetapi juga kehidupan sehari-hari umat-Nya. Itulah pembacaan Maleakhi 3 yang utuh dan seimbang.

Kata-kata hari ini :
Gereja Ramai, Ibadah Lancar, Karya Gereja Bersemangat, Alkitab tidak dibaca, Pokok Ajaran tidak dikenal, Tata gereja tidak mengerti, Tata Laksana tidak diikuti, maka perbuatan baik dan karya hanya kehampaan.
(23022026)(TUS)

Minggu, 22 Februari 2026

SUDUT PANDANG TRI HARI SUCI GKJ SIDOMUKTI

SUDUT PANDANG TRI HARI SUCI GKJ SIDOMUKTI 

Memaknai Tri Hari Suci (Triduum)

Galatia 6:14
“Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam Salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”

Kidung Jemaat 169 Memandang Salib Rajaku
Memandang Salib Rajaku yang mati bagi dunia
Kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya
Tak boleh aku bermegah selain di dalam salibMu
Kubuang nikmat dunia demi darahMu yang kudus
Berpadu kasih dan sedih mengalir dari lukaMu
Mahkota duri yang pedih menjadi keagunganMu
Melihat darah lukaNya membalut tubuh Tuhanku
Ku mati bagi dunia dan dunia mati bagiku
Andaikan jagad milliku dan kuserahkan padaNya
Tak cukup bagi Tuhanku, diriku yang dimintaNya.

Perhatikan, bagaimana Pdt. Isaac Watts menafsirkan Galatia 6:14 dengan amat mendalam. Makna Salib dan panggilan hidup bagi Dia adalah kesatuan tak terputus. Demikianlah tata ibadah Kamis Putih dibuka dengan antiphonal berdasarkan Galatia 6:14 sebagai tanda dimulainya tri hari suci (triduum) yang menyuarakan dengan megah: Selayaknya kita bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, Juru Selamat kita, kehidupan kita, dan kebangkitan kita, melalui Dia kita dibebaskan dan diselamatkan. 

Tri Hari Suci dalam Sejarah
Tri hari suci adalah rangkaian tiga hari utama sebagai puncak masa raya Paskah yang dimulai dari perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi - Minggu Paskah (Vigili Paskah). Memaknai ketiga hari tersebut tidak bisa dilepaskan dari penghayatan seminggu sebelum Paskah. Hingga akhir abad ke-4, Augustinus menetapkan hari-hari prosesi Paskah selama sepekan yaitu Minggu Palmarum, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah. Reformasi abad ke-16 tidak menghapus seluruh struktur pekan suci. Martin Luther tetap mempertahan-kan perayaan Jumat Agung dan Paskah, bahkan menyusun liturgi revisi. Sementara John Calvin sangat menyederhanakan kalender gerejawi, tetapi tetap mengakui pentingnya peringatan kematian dan kebangkitan Kristus. Istilah triduum sendiri tidak selalu dipakai dalam gereja Protestan klasik. Namun nampak cukup kuat bagaimana Luther mempertahankan struktur Pekan Suci. Banyak gereja Lutheran modern merayakan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah. Sementara dalam tradisi Calvin rangkaian prosesi Paskah lebih umum pada Jumat Agung dan Minggu Paskah (penyederhanaan Kalender Gerejawi). Namun demikian gerakan pembaruan liturgi memengaruhi banyak gereja Protestan. Melalui dialog ekumenis dan pengaruh pembaruan Katolik setelah Sacrosanctum Concilium (1963), banyak gereja Protestan menghidupkan kembali Vigili Paskah, menekankan kesatuan misteri Paskah, dan penggunaan simbol-simbol Paskah (mis: lilin Paskah). Jadi, triduum bukan hanya milik Gereja Katolik namun kekayaan Rohani Gereja yang berasal dari warisan gereja purba. 

Memaknai Tri Hari Suci
Kamis Putih
Ada dua unsur dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir dan pembasuhan kaki didasarkan pada Yohanes 13. Injil Yohanes tidak secara eksplisit mengisahkan perjamuan malam namun mandat penting yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sangat ditonjolkan di sini yaitu membasuh kaki, saling mengasihi tanpa batas. Membasuh kaki merupakan disiplin spiritualitas yang menggambarkan saling melayani dan saling mengampuni. Sejak Kamis Putih tidak ada lagi perayaan perjamuan di dalam liturgi Jumat Agung dan selama Vigili Paskah. Oleh karena tidak dilayankan perjamuan kudus pada hari-hari ini maka umat diundang menghayati sengsara dan pengorbanan Kristus melalui puasa, hari-hari ini merupakan puncak masa puasa (bisa seharian atau 48 jam).  
Jumat Agung
Pada hari ini Gereja ikut serta pada detik-detik sengsara dan wafat Kristus. Jumat Agung bukan hari perkabungan yang dipenuhi kemurungan dan dukacita, melainkan hari kontemplasi penuh cinta akan Kristus yang mengurbankan diri untuk menyelamatkan umat manusia. Oleh karenanya hari ini merupakan pengenangan kesengsaraan melalui pembacaan kisah sengsara dan kematian Kristus. Tidak ada perayaan perjamuan kudus dalam ibadah ini.
Sabtu Sunyi - Paskah
Setelah ibadah Jumat Agung, gereja tetap menjaga keheningan. Umat Tuhan mengenangkan Kristus yang berada di alam maut. Menjelang tengah malam penghayatan Sabtu Sunyi berakhir dan dilanjutkan ibadah Paskah malam. Pada tradisi Gereja protestan lebih memilih Paskah fajar (subuh). Pada kedua tradisi dicirikan hal yang sama yakni pesta cahaya (Kristus Sang Surya Sejati) dan pembaharuan janji baptisan/pelayanan baptis, serta dilanjutkan perjamuan kudus. Inilah perjamuan kudus pertama yang merupakan pesta kemenangan, tidak lagi berpuasa. 

Penegasan:
Liturgi tri hari suci merupakan kesatuan liturgi dalam tiga tahap. Kesatuan liturgi oleh karena sejak Kamis Putih hingga Sabtu Sunyi, ibadah merupakan satu kesatuan sehingga Kamis Putih dimulai tanpa berkat penutup. Jumat Agung juga tidak memiliki berkat penutup seperti biasa. Perayaan misteri Paskah mencapai klimaks dan penutupnya dalam Paskah. Karena itu, secara simbolik dan teologis, ini adalah satu tindakan liturgis yang berkesinambungan. Kesatuan ini penting karena Salib tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan, keheningan Sabtu Suci adalah bagian dari misteri keselamatan. Misteri Paskah adalah satu Gerak antara penderitaan - wafat - keheningan - kebangkitan.
Dalam rangka hal tersebut maka pada tahun 2026, Sakramen Perjamuan Kudus tidak dilayankan pada Kamis Putih dan Jumat Agung, melainkan pada Ibadah Paskah. Umat diundang untuk menghayati tri hari suci secara lengkap. Ingat; ibadah Kamis, Jumat, dan Sabtu merupakan kesatuan tindakan liturgis berkesinambungan. Berkat penutup diterimakan pada ibadah Paskah. Bayangkan Triduum seperti sebuah drama dengan tiga babak: babak pertama (Kamis Putih) mempersiapkan cerita, babak kedua (Jumat Agung) adalah klimaks penderitaan, dan babak ketiga (Vigili Paskah/Minggu Paskah) adalah kemenangan dan kebahagiaan. Jika hanya mengikuti satu babak, kisah itu tidak akan lengkap.



Bahan referensi:
1. Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi, Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, BPK Gunung Mulia, 2001
2. Emanuel Martasudjita, Liturgi, Pengantar Untuk Studi dan Praksis Liturgi, Kanisius, 2011
Rasid Rachman, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi, BPK Gunung Mulia, 2012

(Komisi Pengajaran)

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, bagian 3 ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ผ๐˜€๐—ฎ: ๐—›๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป?

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, bagian 3 ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ผ๐˜€๐—ฎ: ๐—›๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป?

Dalam beberapa Gereja Protestan (kalau tak mau disebut banyak) ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข menghilang. Kalau pun masih ada, bagian ini dipersingkat. Kadang diganti dengan doa umum yang samar atau dilebur begitu saja dalam nyanyian. Alasannya beraneka: terlalu muram, terlalu repetitif, kurang relevan, membuat suasana turun, dlsb.

Pertanyaannya: Apa yang sedang dibentuk? ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข bukan ritual rasa bersalah. Ia merupakan momen kesadaran. Tanpa kesadaran akan dosa, anugerah sekadar slogan. Tanpa ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข pengampunan berubah menjadi basa-basi.

Liturgi menempatkan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข pada bagian awal ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข bukan untuk memermalukan umat, melainkan untuk menempatkan semua orang pada posisi yang sama: tidak ada yang datang sebagai orang benar. Di sini tidak ada hierarki moral. Pendeta dan umat berdiri setara di bawah pengakuan yang sama.

Apabila bagian itu dihapus, maka terjadi pergeseran halus sehingga umat belajar hal yang tidak pernah diucapkan:
▶️ bahwa kita cukup baik untuk langsung mendengarkan firman.
▶️ bahwa kita tidak perlu direndahkan untuk diangkat.
▶️ bahwa anugerah bukan kebutuhan mendesak.

Ada juga bentuk lain yang lebih problematis. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข dipertahankan, tetapi nadanya berubah menjadi performatif, sekadar pertunjukan, sehingga terlalu cepat, tanpa jeda hening, dan tanpa bobot pedagogis. Ia tidak lagi membentuk kesadaran, hanya memenuhi kewajiban selebrasi.

Padahal secara pedagogis ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข sangat penting. Ia melatih kerendahhatian, kejujuran, kesadaran bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia. Tanpa pelatihan itu iman mudah berubah menjadi legalitas tanpa kesadaran dosa sehingga mudah berubah menjadi keangkuhan religius.

Jika ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข hanya performatif, apakah kita benar-benar mengizinkan umat belajar kerendahhatian dan kesadaran akan keterbatasan diri, atau justru membiarkan keangkuhan religius berakar di ruang kudus?

(21022026)(TUS)
Baca juga :
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.  http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html
4.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-4.html
5.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-5.html


Sabtu, 21 Februari 2026

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, Bagian 2 ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ: ๐—ž๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐——๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—น?

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป, Bagian 2
๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ: ๐—ž๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐——๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—น?

Ibadah tidak pernah dimula dari titik nol. Kalau begitu, pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: Ketika ibadah dimula, siapa yang lebih dahulu bertindak?

Banyak kebaktian dibuka dengan kalimat netral dan sosial:
▶️ “Selamat pagi, jemaat yang dikasihi Tuhan.”
▶️ “Marilah kita bersama-sama memula ibadah ini.”

Kalimat-kalimat itu tampak biasa-biasa saja. Namun, ia menyimpan asumsi seolah-olah ibadah adalah pertemuan yang kita inisiasi. Seolah-olah kita yang mengaktifkan ruang kudus. 

Padahal dalam struktur klasik Gereja ibadah dimula dengan panggilan:
▶️ Allah yang lebih dahulu menyapa.
▶️ Allah yang lebih dahulu mengundang.
▶️ Allah yang lebih dahulu bertindak.

Di sanalah letak makna teologis ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข. Ia bukan formalitas, melainkan pemakluman tentang arah relasi.

Jika umat dibiasakan memula, maka mereka belajar bahwa iman adalah inisiatif manusia. Jika umat dibiasakan dipanggil, maka mereka belajar bahwa iman adalah tanggapan. Beda tipis, tetapi dampak teologisnya besar.

๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข pada umumnya memuat:
▶️ Votum,
▶️ Salam anugerah,
▶️ Pengakuan dosa, dan
▶️ Pemberitaan pengampunan dosa.

Struktur di atas bukanlah kebetulan. Ia membentuk pola batin. Jika dibuat bagan alirnya:
๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—น → ๐˜€๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฎ → ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต → (baru kemudian) ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ.

Tanpa struktur itu ibadah dapat berubah menjadi:
Hadir → mendengarkan ceramah → pulang.

Liturgi yang miskin pembukaan teologis akan menghasilkan iman yang miskin kesadaran relasional. Ketika ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข dipersingkat demi efisiensi, yang dipotong bukan sekadar waktu, melainkan proses pembentukan kesadaran bahwa kita berdiri di hadapan Allah, bukan sekadar berada di dalam ruangan gereja.

Yang disebut dengan miskin pembukaan teologis bukan soal durasi dalam ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข. Sebagai contoh ada kebaktian yang begitu banyak menampilkan nyanyian dalam arahan ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ dengan durasi yang amat panjang. ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข yang diperpanjang tanpa struktur akan membentuk iman yang bergantung pada suasana. Ia mengganti hadirat Allah dengan intensitas pengalaman.

Ketika ibadah dimula, apakah umat merasa sedang memula sesuatu untuk Allah atau sedang ditarik masuk ke dalam karya Allah? Jawaban atas pertanyaan itu menentukan jenis iman yang dibentuk setiap Minggu.
(20022026)(TUS)
(Bersambung)
Baca juga :
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
3. https://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html
4.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-4.html
5.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-5.html

SUDUT PANDANG PERBEDAAN MATIUS DAN LUKAS PERKARA COBAAN IBLIS ATAS YESUS

SUDUT PANDANG PERBEDAAN MATIUS DAN LUKAS PERKARA COBAAN IBLIS ATAS YESUS

PENGANTAR
Bacaan Injil secara ekumenis untuk Minggu I Pra-Paska (22/2) diambil dari Matius 4:1-11. LAI memberi judul ๐˜ ๐‘’๐˜ด๐‘ข๐˜ด ๐˜ฅ๐‘–๐˜ค๐‘œ๐˜ฃ๐‘Ž๐˜ช ๐˜ฅ๐‘– ๐‘๐˜ข๐˜ฅ๐‘Ž๐˜ฏ๐‘” ๐‘”๐˜ถ๐‘Ÿ๐˜ถ๐‘›. Penjudulan oleh LAI sebenarnya kurang akurat. Mengapa? Kisah ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ada dalam Injil sinoptik, tetapi kisahnya berbeda.


PEMAHAMAN 
 Perbedaan utama antara Matius 4:1–11 dan Lukas 4:1–13 bukan pada isi tiga pencobaan (sama), tetapi pada urutan, penekanan teologis, dan cara masing‑masing Injil “mengarah­kan” cerita untuk menonjolkan tema khas mereka.
- Matius: 1) batu–roti; 2) bubungan Bait Allah; 3) semua kerajaan dunia (di gunung yang sangat tinggi).
- Lukas: 1) batu–roti; 2) semua kerajaan dunia; 3) bubungan Bait Allah (Jerusalem).
- Banyak penafsir melihat Matius memakai urutan yang “menaik” secara psikologis (dari kebutuhan tubuh, ke religiositas spektakuler, ke puncak godaan kuasa dunia), sedangkan Lukas menyusun secara geografis/topikal: padang gurun → seluruh dunia (visi) → puncak Bait Allah di Yerusalem (kota kunci dalam Injil Lukas–Kisah Para Rasul).
- Matius sangat menyukai motif “gunung” (khotbah di bukit, gunung transfigurasi, gunung amanat agung); karena itu ia menutup dengan pencobaan di “gunung yang sangat tinggi” sebagai antisipasi konflik tentang otoritas Mesias atas segala bangsa.
- Lukas sangat berfokus pada Yerusalem sebagai titik pusat kisah: Injilnya bergerak menuju Yerusalem, Kisah Para Rasul bergerak keluar dari Yerusalem; karena itu ia menutup pencobaan di bubungan Bait Allah untuk mengarahkan perhatian pembaca pada kota itu sebagai panggung besar drama keselamatan.
- Dengan demikian, pada Matius, puncak konflik adalah: apakah Yesus akan mengambil jalan pintas politik‑kerajaan dunia; pada Lukas, puncaknya adalah: apakah Yesus akan menyalahgunakan status Anak Allah dalam konteks pusat ibadah Israel (Yerusalem/Bait Allah).
- Keduanya sama‑sama menekankan bahwa Yesus dipimpin Roh dan dicobai Iblis selama empat puluh hari; Markus hanya menyebutkan secara sangat singkat.
- Beberapa tafsiran mencatat bahwa Matius memakai penanda urutan yang lebih jelas (“kemudian”, “lagi pula”), sehingga dibaca lebih kronologis; sementara Lukas banyak memakai “dan”, sehingga lebih mudah dipahami sebagai susunan tematis, bukan kronologis ketat.[6][9]
- Keduanya mengutip tiga teks Ulangan yang sama (Ul 8:3; 6:16; 6:13), sehingga perbedaan bukan pada teologi firman, melainkan pada cara masing‑masing penginjil memosisikan cerita itu dalam keseluruhan narasi Injil mereka.
- Analisis Matius cenderung menonjolkan Yesus sebagai Israel sejati dan Raja Mesianik yang menolak model kerajaan dunia, konsisten dengan tema “Yesus Anak Daud” dan Amanat Agung kepada segala bangsa.
- Analisis Lukas menyorot Yesus sebagai Anak Allah yang taat di dalam dan terhadap rencana Allah yang berpusat di Yerusalem, yang nanti akan menderita, mati, dan bangkit di sana; perikop ini menjadi pembuka bagi perjalanan naratif menuju kota itu.
- Perbedaan urutan bukan kontradiksi, melainkan pilihan penyuntingan teologis: satu tradisi peristiwa yang sama “diatur ulang” untuk menegaskan fokus masing‑masing Injil (gunung–segala bangsa pada Matius, Yerusalem–sejarah keselamatan pada Lukas).
(21022026)(TUS)

SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS


SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS

PENGANTAR
Khotbah yang penuh kuasa Roh Kudus bukan diukur dari volume suara, teknik retorika, atau berapa banyak yang tersentuh secara emosional, ada yang menggelepar, ada yang menangis. Roh Kudus tidak bekerja sebagai pengatur sensasi. Dalam Injil Yohanes 16:8, Yesus berkata bahwa ketika Roh itu datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Kata “menginsafkan” (แผฮปฮญฮณฯ‡ฯ‰ / elenchล) berarti menegur dengan bukti, membongkar kesalahan sampai orang tidak bisa lagi bersembunyi di balik pembenaran diri. Itu pekerjaan forensik, bukan sentimental. Roh Kudus menembus hati, bukan sekadar menggetarkan perasaan, Roh Kudus membuat orang merenung dan bertobat.


PEMAHAMAN
ROH KUDUS SELALU MEMULIAKAN KRISTUS 
Dalam Injil Yohanes 16:14, Yesus menegaskan: “Ia akan memuliakan Aku.” Jadi tanda utama khotbah yang diurapi Roh bukanlah audiens yang terharu, menangis, menggelepar tetapi Kristus yang ditinggikan, memompa semangat meneladan Kristus dan menghikmati ajaranNya. Roh Kudus tidak pernah mempromosikan pengkhotbah. Ia tidak membangun merek pribadi. Ia menyinari Kristus dan bersinar bagi Kristus.

Karena itu, khotbah yang penuh Roh akan:

- Menyingkapkan dosa dalam terang salib.
- Menunjukkan kebenaran Allah yang sempurna dalam pribadi Kristus.
- Mengingatkan realitas penghakiman dan urgensi pertobatan.

Kalau khotbah hanya membuat orang merasa lebih baik tentang diri mereka, uforia sesaat, tanpa memperhadapkan mereka pada kekudusan Allah, itu mungkin menghibur, tapi bukan karya Roh.

KRISTOSENTRIS, BUKAN ANTROPOSENTRIS
Khotbah yang berpusat pada manusia biasanya berbunyi seperti ini: “Anda bisa… Anda mampu… Anda luar biasa…” Khotbah yang berpusat pada Kristus berkata: “Tanpa Dia, kamu binasa. Di dalam Dia, kamu diperdamaikan.”
Rasul Paulus menegaskan dalam 1 Korintus 2:2 bahwa ia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan. Ini bukan anti-intelektual; ini prioritas teologis. Salib adalah pusat sejarah penebusan. Roh Kudus bekerja melalui pemberitaan Kristus yang disalibkan dan bangkit.
Kalau Kristus hanya disebut sekilas sebagai “penutup doa”, itu bukan khotbah yang penuh Roh—itu TED Talk rohani dengan ayat tempelan.

BUAHNYA : PERTOBATAN DAN KEKUDUSAN
Roh Kudus bukan hanya membuat orang sadar bahwa mereka berdosa, tetapi juga menarik mereka kepada kebenaran Kristus. Itu berarti ada perubahan arah hidup. Dalam Kisah Para Rasul 2, ketika Petrus berkhotbah, orang banyak “terharu” (tertusuk hatinya). Tetapi mereka tidak berhenti pada perasaan. Mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?” Lalu mereka bertobat. MENINGGALKAN HIDUP LAMA, MENJALANI  KONSEKUENSI PRTANGGUNGAN JAWAB HIDUP BARU itu karya Roh Kudus, jatuh bangun berproses meneladan Kristus dan menghikmati ajaran Kristus, itu karya Roh Kudus.
Itulah tanda kuasa Roh:
- Ada pengakuan dosa.
- Ada keputusan meninggalkan dosa.
- Ada langkah nyata dalam ketaatan.
Kalau seseorang menangis, menggelepar, hari Minggu tetapi kembali hidup sama saja hari Senin, mungkin yang tersentuh adalah emosinya, bukan nuraninya.

EMOSI ITU NETRAL, TRANSFORMASI ITU ESENSIAL 
Jangan salah paham—emosi bukan musuh. Allah menciptakan emosi. Bahkan banyak kebangunan rohani dalam sejarah disertai tangisan. Tetapi tangisan bukan bukti otomatis kehadiran Roh Kudus. Banyak pembicara motivasi, bahkan tanpa Kristus, bisa membuat orang menangis.
Pertanyaannya bukan: “Apakah saya tersentuh?”
Pertanyaannya: “Apakah saya bertobat? Apakah saya makin membenci dosa? Apakah saya makin mengasihi Kristus? Apakah saya berproses meninggalkan kehidupan lama? apakah saya berproses meneladan Kristus? apakah saya berproses menghikmati ajaranNya?”
Roh Kudus menghasilkan buah (Gal. 5:22-23), bukan sekadar sensasi. Buah itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari—di rumah, di kantor, di ruang publik.

DOSA, KEBENARAN DAN PENGHAKIMAN
Mari kembali ke Yohanes 16:8-11
Dosa: inti dosa yang disingkapkan Roh adalah ketidakpercayaan kepada Kristus (ay. 9). Jadi persoalannya bukan sekadar perilaku moral yang salah, tetapi sikap hati yang menolak Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Roh Kudus menelanjangi akar ini—bahwa semua pemberontakan bermuara pada tidak mau tunduk kepada Kristus.
Kebenaran: kebenaran dinyatakan dalam pribadi dan karya Kristus yang kembali kepada Bapa (ay. 10). Kenaikan-Nya menegaskan bahwa Ia benar dan dibenarkan oleh Allah. Dengan demikian, standar kebenaran bukan ditentukan zaman, opini publik, atau arus budaya, melainkan oleh siapa Kristus itu.
Penghakiman: penguasa dunia ini telah dihukum (ay. 11). Artinya, kemenangan akhir sudah dipastikan. Sejarah bergerak menuju pengadilan Allah, bukan menuju kekosongan moral. Hidup manusia berlangsung di bawah realitas eskatologis, ada pertanggungjawaban yang tak terhindarkan.
Jadi, ya! Khotbah yang tidak mendorong pertobatan dan kekudusan serta proses meneladan Kristus juga menghikmati ajarannya bahkan menghidupi ajaranNya, memang tidak berguna secara rohani. Itu mungkin menghibur, mungkin viral, mungkin dikagumi. Tapi kalau tidak membuat orang semakin serupa Kristus, itu gagal mencapai tujuan ilahi.
Dan ini juga jadi cermin bagi kita sebagai pendengar. Jangan hanya mencari khotbah yang “enak didengar”. Carilah yang membuat kita tidak nyaman, cari khotbah yang tidak nyaman juga membuat kita introspeksi melihat diri, karena dosa kita disingkapkan—namun sekaligus dihibur oleh anugerah Kristus.
Kuasa Roh Kudus bukan soal suasana.
Itu soal salib.
Dan salib selalu mengubah hidup serta menghidupkan.
(22022026)(TUS)
SEKTE, KULTUS, DAN KESETIAAN PADA KEBENARAN

Topik ini sensitif. Tapi justru karena sensitif, kita tidak boleh kabur. Gereja dipanggil untuk mengasihi dan juga untuk berjaga-jaga. Rasul Paulus menasihati, “Berpeganglah pada kebenaran di dalam kasih” (Ef. 4:15). Kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi. Kebenaran tanpa kasih berubah jadi kekerasan rohani. Injil memanggil kita memegang keduanya sekaligus.

1. Sekte: Realitas Sosiologis, Bukan Otomatis Sesat

Secara historis dan sosiologis, sekte hanyalah cabang dari suatu sistem pemikiran. Dalam gereja ada Baptis, Lutheran, Pentakosta, Reformed, dan seterusnya, berbeda dalam hal sekunder, tetapi tetap mengakui Kristus sebagai Tuhan (Rm. 10:9).

Dalam sejarah gereja mula-mula, kekristenan sendiri pernah disebut “sekte” oleh para penentangnya (Kis. 24:5). Jadi secara istilah, sekte tidak otomatis berarti sesat.

Namun Alkitab juga memperingatkan tentang “ajaran-ajaran sesat yang membinasakan” (2 Ptr. 2:1). Di sini ukurannya bukan keberagaman bentuk, tetapi penyimpangan dari inti Injil (Gal. 1:6–9). Perbedaan gaya ibadah bukan masalah utama. Penggantian Injil, itulah persoalannya.

2. Kultus: Penyimpangan Doktrin dan Struktur Kuasa

Berbeda dari sekte, kultus menyentuh dua hal serius:

- Penyimpangan dari doktrin inti iman.
- Struktur kepemimpinan yang manipulatif dan otoriter.

Alkitab sudah memberi peringatan bahwa akan muncul guru-guru palsu yang “secara diam-diam memasukkan pengajaran-pengajaran sesat” (2 Ptr. 2:1) dan bahkan “memperhamba” orang lain (2 Ptr. 2:19).

Jika sebuah kelompok:
- mengontrol hidup anggota secara total,
- membatasi akses informasi,
- melarang kritik,
- menanamkan ketakutan keluar dari komunitas,

itu bukan sekadar komunitas rohani. Itu sistem kuasa.

Roh Kudus tidak bekerja melalui intimidasi. “Di mana Roh Tuhan berada, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor. 3:17). Injil membebaskan, bukan mengurung.

3. Garis Batas Teologis: Kristologi dan Injil

Garis batas paling jelas adalah doktrin tentang Kristus. Alkitab dengan tegas menyatakan:

Yesus adalah Firman yang adalah Allah (Yoh. 1:1).

Di dalam Dia berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan secara jasmani (Kol. 2:9).

Keselamatan adalah karena kasih karunia oleh iman, bukan hasil usaha manusia (Ef. 2:8–9).

Karena itu, ketika ada kelompok yang menolak keilahian penuh Kristus, menolak Tritunggal, atau mencampur keselamatan dengan usaha manusia sebagai syarat keselamatan, itu bukan sekadar beda tafsir kecil. Itu menyentuh jantung Injil.

Rasul Yohanes bahkan berkata, “Setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:3).

Kita tidak menyerang orangnya. Kita menguji ajarannya (1 Tes. 5:21).

4. Ketika Gereja Sendiri Bermental Kultus

Yesus sendiri memperingatkan bahwa serigala bisa datang dengan pakaian domba (Mat. 7:15). Bahayanya bukan hanya di luar gereja, tetapi bisa muncul dari dalam.

Jika:
- pemimpin anti kritik,
- jemaat takut bertanya,
- keuangan tidak transparan,
- loyalitas pada pemimpin lebih tinggi dari ketaatan pada Kristus,

maka secara fungsi itu sudah menyerupai kultus, meskipun secara nama tetap “gereja”.

Paulus mengingatkan para penatua Efesus bahwa dari antara mereka sendiri bisa muncul orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran untuk menarik murid-murid mengikuti mereka (Kis. 20:29–30). Ambisi rohani yang salah bisa menjadi pintu masuk penyimpangan.

5. Teladan Berea: Iman yang Menguji

Jemaat Berea dipuji karena mereka “setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kis. 17:11).

Perhatikan, bahkan pengajaran Paulus pun diuji.

Iman Kristen bukan iman yang anti-pertanyaan. Ia bukan iman yang takut diperiksa. Yesus berkata, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Jika sesuatu benar, ia tidak takut diuji.

6. Tegas Tanpa Paranoid

Alkitab memanggil kita untuk “berjaga-jaga dan waspada” (1 Ptr. 5:8), tetapi juga untuk “mengusahakan kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Ef. 4:3).

Prinsip sehatnya:
- Uji ajaran berdasarkan Kitab Suci (2 Tim. 3:16).
- Jangan terpesona karisma (1 Sam. 16:7).
- Jangan cepat melabeli hanya karena perbedaan sekunder (Rm. 14:1).
- Perhatikan buahnya (Mat. 7:16).

Iman yang dewasa bukan naif, tetapi juga bukan sinis.

===========

KEBENARAN MEMBEBASKAN, BUKAN MENGIKAT

Yesus tidak membangun sistem ketakutan. Ia memanggil orang kepada diri-Nya dengan undangan kasih (Mat. 11:28–30). Jika sebuah sistem membuat orang semakin terisolasi, semakin takut, dan kehilangan kebebasan nurani yang sehat, itu bukan aroma Injil.

Setia kepada Kristus berarti setia pada Injil yang murni. Bukan pada figur. Bukan pada organisasi. Bukan pada sensasi rohani.

Gereja yang sehat bukan yang paling keras suaranya.
Gereja yang sehat adalah yang paling setia pada kebenaran dan paling aman bagi jiwa.

===========

“Gereja yang kehilangan keberanian untuk menegakkan kebenaran akan segera kehilangan otoritas rohaninya. Dan gereja yang menegakkan kebenaran tanpa kasih akan kehilangan jiwanya. Setialah pada Kristus, karena hanya Dia pusat iman, bukan manusia.” – Pdt. Bigman Sirait

Kiranya kita menjadi gereja yang tidak takut diuji, tidak mudah terseret arus, dan tetap berdiri di atas Kristus, Sang Kepala Gereja (Kol. 1:18).

Sudut Pandang Dialog di Kelas. : "RABU ABU, JANGAN ABU-ABU FERGUSO?"


Sudut Pandang Dialog di Kelas. :  
"RABU ABU, JANGAN ABU-ABU FERGUSO?"

Tokoh:
MDS (Mbah Dukun Sesat)
Raka (remaja kritis, banyak baca medsos).
Mira (remaja reflektif, jujur bertanya).
(Suasana kelas katekisasi sore hari. Beberapa kursi melingkar. Raka angkat tangan lebih dulu.)

Raka:
Mbah … saya mau tanya agak serius nih.
Kenapa sekarang gereja kita ikut-ikutan Rabu Abu?
Di medsos ada yang bilang: “Protestan sudah mulai balik ke Katolik.”
Itu benar nggak sih, Pak?

(Mira ikut angkat tangan, agak ragu.)

Mira:
Iya, Mbah … saya juga bingung.
Dulu katanya Protestan anti ritual.
Sekarang kok malah pakai abu di dahi?
Takutnya ini jadi formalitas kosong.

(MDS tersenyum, menarik kursi sedikit ke depan.)

1. MDS : Meluruskan dari awal

MDS :
Pertanyaan kalian bagus. Dan jujur, banyak orang dewasa pun bertanya hal yang sama.
Jawaban singkatnya begini:
Rabu Abu bukan milik Katolik, dan bukan juga syarat keselamatan.
Sekarang kita pelan-pelan ya.

2. Asal-usul Rabu Abu

MDS :
Tradisi abu lebih tua dari Katolik Roma dan Protestan.
Jauh sebelum gereja terpecah, umat Kristen sudah memakai abu sebagai tanda pertobatan.
Dalam Alkitab:
Ayub bertobat dalam debu dan abu. Orang Niniwe bertobat dengan abu. Abu selalu bicara tentang satu hal:
“Aku ini rapuh, berdosa, dan butuh Tuhan.”
Jadi abu itu seperti bahasa tubuh iman.

Raka:
Jadi bukan ritual baru?

MDS :
Bukan. Ini tradisi gereja purba, bukan tren modern.

3. Ilustrasi: Cermin di Pagi Hari

MDS :
Begini ilustrasinya.
Pagi hari kalian bercermin, kan?

Mira:
Jelas, Pak… kalau nggak, bisa diketawain.

MDS (tersenyum):
Cermin itu tidak membersihkan wajah, tapi menunjukkan bahwa wajah perlu dibersihkan.
Nah, abu itu seperti cermin.
Ia tidak menghapus dosa,
tapi berkata jujur: “Hatiku perlu dibersihkan Tuhan.”

4. Lalu kenapa dulu Protestan tidak melakukannya?

Raka:
Nah ini, Pak. Katanya Reformasi menolak semua ini.

MDS :
Bukan menolak simbolnya, tapi menolak penyalahgunaannya.
Pada abad ke-16, Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther menghadapi gereja yang:
Menjadikan ritual seolah-olah membeli keselamatan Menggantikan pertobatan hati dengan formalitas luar. Maka banyak ritual disingkirkan sementara, supaya Injil berdiri tegak kembali.

Mira:
Jadi sebenarnya bukan karena salah, tapi karena rawan disalahgunakan?

MDS :
Tepat sekali.

5. Kenapa sekarang sebagian gereja Protestan melakukannya?

MDS :
Karena gereja belajar bersikap dewasa. Sekarang kita bisa membedakan:
Ritual sebagai alat atau
Ritual sebagai pengganti iman.
Rabu Abu dipakai bukan sebagai kewajiban, tapi undangan:
Undangan untuk refleksi
Undangan untuk pertobatan
Undangan untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah.

Raka:
Jadi bukan berarti semua gereja Protestan wajib ya?

MDS :
Tidak. Sama sekali tidak wajib.
Dan yang tidak melakukannya tidak kurang rohani.

6. Ilustrasi: Jaket Tim Sekolah

MDS:
Bayangkan jaket tim sekolah.
Kalau kalian pakai jaket OSIS tapi:
malas melayani, sombong, cuek,
jaket itu jadi kosong makna.
Tapi kalau hati kalian sungguh mau melayani, jaket itu jadi pengingat komitmen. Begitu juga abu. Masalahnya bukan di abu, tapi di hati.

7. Menjawab tuduhan “Protestan balik ke Katolik”

Mira:
Kalau ada yang bilang kita meniru Katolik, jawabnya gimana, Pak?

MDS :
Jawab dengan tenang dan rendah hati:
“Tradisi gereja purba milik seluruh tubuh Kristus.
Kami tidak mengambil dogma Katolik,
kami memakai simbol dengan penafsiran Injili.”
Tidak perlu defensif.
Kebenaran tidak butuh teriak-teriak.

8. Pesan penutup Mbah Dukun Sesat

Mbah Dukun Sesat (nada lebih lembut):
Anak-anak, Tuhan tidak pernah terkesan dengan tanda di dahi,
kalau hati kita keras.
Tapi Tuhan sangat berkenan pada hati yang:
mau dikoreksi, mau dikritik, tidak menulikan diri
mau bertobat, sadar akan kerapuhan diri
mau diubah, mau bertobat.
Kalau abu menolong kita mengingat itu—baik.
Kalau tidak—tidak masalah untuk tidak memakainya.
Karena pada akhirnya,
yang Tuhan cari bukan abu di kepala,
tetapi hati yang kembali kepada-Nya.

(Kelas hening sejenak. Raka mengangguk pelan.)

Raka:
Mbah … sekarang saya lebih tenang.
Ternyata bukan soal ikut siapa,
tapi ikut Kristus.

Mira (tersenyum):
Iya… iman itu bukan soal simbol,
tapi simbol bisa menolong iman kalau dipakai dengan benar.

Mbah Dukun Sesat (MDS):
Nah. Itu katekisasi hari ini.
Iman yang dewasa—
kritis, rendah hati, dan berakar pada kasih Kristus.
Soli Deo Gloria.
(21022026)(TUS)

SUDUT PANDANG YOHANES 3:1-17

SUDUT PANDANG YOHANES 3:1-17 PENGANTAR Minggu 01 Maret 2026, Jargon ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ-๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ (๐˜‰๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฏ-๐˜ˆ๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ข...