Kamis, 02 April 2026

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus

PENGANTAR
Pembasuhan kaki, adalah simbol ritual keberanian untuk melucuti ego, melucuti ke AKU an, baik yang membasuh maupun yang dibasuh kakinya. Perang, pengrusakan alam, ketamakan tambang, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, penindasan, penjajahan, pemerkosaan ,pembedaan, penyingkiran, hukuman mati, dlsb adalah pertunjukan ego manusia di dunia, dan memang itulah yang ditawarkan oleh dunia. Konsep adopsi filososi kaum esseni yang juga dibawa Yohanes Pembaptis dan Yesus adalah jangan jadi sama dengan dunia. Hal itu, di Injil memunculkan gesekan bahkan masalah politik dengan kaum farisi, saduki, zelot, dlsb, risiko untuk tidak jadi sama dengan dunia. Yesus mempertunjukan keradikalanNya dalam pembasuhan kaki, se radikal Yesus kah kita? Negara-negara yang merasa lebih kuat, memerangi negara lainnya atas nama "perdamaian" dan "menegakkan demokrasi". Mereka yang tidak berdaya bagaikan pion dalam pertandingan yang sulit untuk diketahui pemenangnya, karena semua pihak menjadi korban. Dalam hidup sehari-hari kita juga kerap dipertontonkan pada hal yang serupa. Penguasa-penguasa menanfaatkan rakyatnya sebagai sarana untuk berkuasa dan memiliki kekayaan yang lebih banyak. Mereka yang lemah dan tertindas adalah pijakan bagi kekuasaan. Sementara itu di tataran hidup
sehari-hari, kita melihat bahwa demi jabatan, seseorang rela mengorbankan dan menjatuhkan rekan kerjanya, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, penindasan, bullying, penjajahan, pembedaan, penyingkiran, dlsb. Maka di tengah situasi tersebut, patutlah kita bertanya, dimanakah kasih dan kepedulian antar sesama manusia? Bukankah dari dua hal tersebut kita dapat meretas jalan kepada kehidupan bersama yang saling menghargai dan menempatkan kehidupan sebagai dasar percakapan bersama. "Keanehan" sebagai Pesan Teologis Kamis Putih, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, termasuk yang akan mengkhianati-Nya, yang menyangkaliNya, yang meninggalkanNya. Ini menunjukkan:
• Kerendahan hati
• Kasih yang tetap diberikan, bahkan
kepada yang menyakiti Kasih seperti ini sering terasa tidak masuk akal, tapi justru itulah inti
iman Kristen. Arti dan Asal Kata Kamis Putih
(Maundy Thursday)
• Kata "Maundy berasal dari bahasa
Latin mandatum yang berarti "perintah" / "mandat"
• Ini menunjuk pada perintah Yesus:
saling mengasihi (Yohanes 13:34).
• Kamis Putih menekankan bahwa kasih
bukan sekadar perasaan, tetapi perintah untuk dijalani bersama, "perintah dalam kebersamaan", perintah dalam persekutuan, perintah dalam hidup bermasyarakat, perintah dalam hidup berkeluarga, penekanan pada SALING.


PEMAKNAAN
Mengikuti prosesi pembasuhan kaki, sebetulnya ritual simbolis gambar keinginan diri untuk berproses melucuti ego pribadi. Oleh karenanya, pembasuhan kaki sarat makna kerendahan hati dan antidiskriminasi, baik dari yang dibasuh maupun yang membasuh kaki. Mandatnya itu, SALING. Sebetulnya, ketika beberapa umat sampai menangis saat pembasuhan kaki itu adalah wujud sebuah pertanyaan diri, apakah tangisku karena pelucutan egoku? Apakah ritual simbolis kakiku dibasuh atau aku membasuh kakimu adalah wujud gambar keinginan diri untuk berproses dalam kehidupan ini untuk tidak jadi sama dengan dunia yang menawarkan pemujaan ego manusia, tetapi menempa diri dalam kerapuhan diri untuk meneladan Yesus serta menghikmati dan menikmati ajaran Yesus dengan melucutkan ego dalam hidup? Jadi, ritual simbolis membasuh kaki atau dibasuh kaki adalah gambar keinginan diri untuk berproses dalam kehidupan keseharian melucuti ego kita, melucuti ke AKU an kita, proses keinginan diri meneladan Kristus dan menghikmati serta menikmati ajaran Kristus, dalam mandat baru Kristus, SALING mengasihi, SALING melayani. Saling merendahkan diri, saling mengasihi, itulah mandat baru. ๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34). Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Masalahnya, bukan budaya Jawa dan kita belum biasa, masih ada yang rikuh pekewuh, banyak yang masih belum paham dan masih bertanya serta belum berani maju. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Itu kan simbolis ritual, pengenangan kita akan teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus. Teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus memang sempurna, kita gak mungkin mencapainya, tapi lewat ritual simbolis pembasuhan kaki di kamis putih, kita diingatkan, kita mengenang akan keteladanan Kristus dan hikmat pengajaran Kristus, untuk berproses ke arah sana dalam ziarah kehidupan kita walaupun tidak mungkin sempurna. Ini menunjukan bahwa teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus bersumber dari Allah sejati, dimana kita manusia rapuh hanya bisa berproses tanpa bisa sempurna seperti Yesus, karena kesempurnaan itu milik Allah. Tapi kita bersyukur, kita memiliki acuan atau keteladanan yang memanusiakan manusia dimana itu menjadi arah atau patokan hidup kita, istilah di Alkitab adalah batu penjuru, menjadi arah kehidupan. Jadi, dalam pembasuhan kaki, ego yang dibasuh dan ego yang membasuh sama-sama dilucuti, tak ada lagi ego, yang ada saling melayani, saling mengasihi. Ini bukan perumpamaan yang tepat, tetapi untuk memudahkan memahami, gampangnya, bayangkan saja dua orang yang saling membenci, tapi pada satu sisi kehidupan ada saat nya kita tidak bisa mengelak untuk membasuh kaki orang yang kita benci, ada saat nya dalam kehidupan kita harus menolong orang yang memerlukan pertolongan, dan yang memerlukan pertolongan itu adalah orang yang kita benci, dalam Injil itu ada frasa menaruh bara di atas kepala musuhmu, shg tak ada lagi ego seharusnya, serta di pihak yang lain dalam kehidupan ini terkadang kaki kita harus di basuh oleh orang yang kita benci, terkadang kita tidak bisa menghindar kita butuh ditolong oleh orang yang kita benci. Kita belajar, siapapun bisa dipakai Allah untuk menolong kita, bahkan musuh kita, bahkan orang yang kita benci. Lewat pembasuhan kaki, kita belajar untuk melepaskan ego kita, tidak perlu lagi ada kebencian, yang ada hanya mandat baru saling melayani, saling mengasihi. Kita ingin tangan kita selalu di atas, tetapi dalam hidup ini terkadang tangannkita harus di bawah, kerendahan hati untuk melihat peristiwa dunia sebagai sesuatu yang wajar, melucuti ego. Sehingga pertanyaan balik ke kita pribadi, kenapa kita tidak berani melakukan ritual simbolis pembasuhan kaki? Mungkin ego kita masih terlampau besar untuk melihat kenyataan bahwa mandat Kristus adalah saling melayani, saling mengasihi, itu melepaskan ego kita, mungkin kita masih enggan melucuti ego kita. Bayangkan lagi dg jembatan nalar seperti itu, bagaimana kalau perumpamaan tentang dua orang yang saling membenci itu adalah suami istri, orang tua dan anak, majelis dan umat, kita dan tetangga kita yang riwil, kita dan teman kerja kita yang toxic, dlsb. Makanya di berbagai gereja variasi pembasuhan kaki banyak, ada yg jemaat menyediakan diri membasuh kaki majelis, ada pembasuhan antar keluarga, dlsb, tidak selalu antar majelis dan majelis ke umat, pemahaman liturgi ini masih berkembang. Melihat Kemanusiaan Yesus
• Kita sering melihat
Yesus seolah-olah tahu segalanya tanpa pergumulan.
• Padahal, Yesus juga hidup sebagai manusia biasa. Dalam Perjamuan Terakhir: Yesus tahu akan ada pengkhianatan, diriNya akan ditinggalkan dan penyangkalan atas diriNya
• Namun tetap memilih untuk mengasihi dan melayani, Ini menunjukkan bahwa kasih Yesus adalah pilihan yang sadar dan nyata. Coba bayangkan kita yang dibasuh kakinya ternyata kita yang meninggalkan Yesus, kita yang dibasuh kakinya ternyata kita yang menyangkal Yesus, kita yang dibasuh kakinya kita yang mengkhianati Yesus. Tantangan Menghayati Pekan Suci
• Kita sering sulit merasakan perjalanan
Yesus di Pekan Suci (termasuk di Kamis
Putih) karena Kita sudah tahu akhir
ceritanya (kebangkitan). Pengetahuan ini membuat kita kurang merasakan kesedihan Jumat Agung dan kurang memasuki realitas mendalam ketidakpastian saat itu. Sejatinya pada Kamis Putih, kita diajak untuk lebih hadir dan merasakan momen, bukan hanya mengingat cerita. Pertanyaan Penting untuk Kita, Apakah kita benar-benar bisa: Mengalami persekutuan dengan Yesus saat ini? Mendengar kembali perintah untuk saling mengasihi?
Panggilan Bermakna bagi Kita, Kamis Putih bukan hanya untuk diingat atau dikenang, tetapi untuk dijalani kembali dalam hidup kita. Maka pembasuhan yang dilakukan Yesus tidak hanya merujuk kepada keteladanan dalam hidup sehari-hari, melainkan juga menggambarkan misi hidup-Nya secara keseluruhan. Sebenarnya tindakan Yesus ini sungguh "mengherankan". Apakah Yesus tidak takut jika "marwah"-Nya sebagai seorang Guru dan Pemimpin menjadi jatuh? Bukankah disitulah justru letak intisari
pengajaran Yesus. Marwah atau kehormatan dan harga diri seseorang tidak terletak pada kekuasaan, harta, atau jabatan, melainkan pada
kesediaan seseorang untuk mengasihi,
melayani, dan berkorban bagi sesama. Kamis Putih ini mengajarkan kita untuk menantang arus zaman, tidak jadi sama dengan dunia. Jika dunia penuh dengan kekerasan dan pengejaran tiada henti akan hawa nafsu, dan ego maka murid-murid Kristus diajar untuk mewujud nyatakan kasih dalam kehidupan sehari-hari dengan kesediaan untuk berkorban dan melayani sesama. Tindakan itu harus muncul dari rasa syukur yang mendalam atas kasih
karunia-Nya, bukan muncul karena adanya kewajiban, apalagi paksaan atau sekedar ritual. 
Pertanyaan Reflektif, Sudahkah hidup dan keteladanan Kristus serta hikmat nikmat pengajaran Kristusmenjadi tonggak seluruh keberadaan kita?
(03042026)(TUS)













Rabu, 01 April 2026

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

PENGANTAR
Bolehkah kita lelah? Mungkinkah ada jeda saat kita berkarya? Tidur adalah mekanisme tubuh yang menunjukan tubuh kita harus istirahat, tubuh kita lelah, oleh karena itu istirahat atau jeda adalah keniscayaan, kemanusiawian. Mengakui kelelahan adalah pengungkapan bahwa kita masih tergantung pada Allah, ada batas pada manusia yang tidak bisa ditembus tetapi Allah tidak terbatas, mengakui kelelahan adalah bagaimana kita tidak hanya sampai pada percaya pada Allah tetapi mempercayakan diri pada Allah. Para murid kelelahan dalam berkarya dan itu diakui Yesus dengan mengajak beristirahat serta menepi dalam kesunyian, tetapi di saat kelelahan itu ada orang banyak yang butuh makan, para murid tak berdaya, di saat ketak berdayaan para murid oleh karena kelelahan tsb, Yesus, Allah, tetap berdaya, secara sastra ini menunjukan dalam kelelahan dan ketidak berdayaan serta keterbatasan manusia (para murid), yang diakui oleh Yesus tsb, manusia (para murid) seharusnyalah mempercayakan diri pada keberdayaan Yesus, Allah.Markus 6:31 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Dalam Markus 6:31 (TB), frasa "beristirahatlah seketika" diterjemahkan dari teks Yunani Koine, bukan Ibrani, karena Injil Markus ditulis dalam bahasa Yunani. Frasa tersebut berasal dari ฮบฮฑแฝถ แผ€ฮฝฮฑฯ€ฮฑฯฮตฯƒฮธฮต แฝ€ฮปฮฏฮณฮฟฮฝ (kai anapaรบsthe รณlgon), di mana bentuk imperatif anapaรบsthe dari kata anapaรบล (แผ€ฮฝฮฑฯ€ฮฑฯฯ‰) berarti "beristirahatlah" atau "pulihkan diri", dan รณlgon (แฝ€ฮปฮฏฮณฮฟฮฝ) berarti "sedikit", "sebentar", atau "seketika". Anapaรบล menyiratkan penghentian sementara dari pekerjaan atau pergerakan untuk memulihkan kekuatan fisik dan mental, sering digunakan secara refleksif untuk "istirahat diri sendiri" setelah kelelahan, seperti setelah perjalanan panjang atau tugas berat. ร“ligon menekankan durasi singkat, menciptakan nuansa praktis dan mendesak untuk pemulihan cepat, bukan istirahat permanen. Secara sastra, imperatif anapaรบsthe menunjukkan perintah langsung dari Yesus yang penuh kasih, kontras dengan kerumunan yang tak henti (hoi erchรณmenoi kaรฌ hoi hypรกgointes polloรญ, banyak datang-pergi), membangun ketegangan naratif antara pelayanan intens dan kebutuhan manusiawi. Ayat ini juga menghubungkan ke mukjizat memberi makan 5000, di mana istirahat terganggu tapi Yesus tetap peduli, menekankan tema keseimbangan. Konteks Budaya dan Teologi. Dalam budaya Yahudi-Helenistik, istirahat menggemakan Sabat (Keluaran 20:8-11), di mana Tuhan memerintahkan pemulihan dari tenaga kerja melelahkan, mengakui kelelahan sebagai bagian manusiawi pasca-kutuk dosa (Kejadian 3:17-19). Yesus mendukung hal ini dengan menginisiasi istirahat bagi murid-murid yang lelah setelah misi (Markus 6:30), menunjukkan Ia menghargai batas manusiawi dan memerintahkan istirahat sebagai bagian dari kehidupan pelayanan. Apa makna rohani dari ajakan Yesus beristirahat. Ajakan Yesus untuk beristirahat dalam Markus 6:31 memiliki makna rohani mendalam sebagai undangan untuk pemulihan fisik dan spiritual di tengah pelayanan atau karya para murid yang melelahkan. Dalam makna itu, memang dapat dipahami ajakan Yesus untuk beristirahat para muridnya, sebagai jeda spiritual dan fisik. Pemulihan Kekuatan Rohani, Istirahat ini mengajarkan keseimbangan antara pelayanan atau karya dan persekutuan pribadi dengan Tuhan, menggemakan prinsip Sabat di mana manusia memulihkan diri untuk melayani atau berkarya lebih efektif. Yesus menunjukkan bahwa mengakui kelelahan bukan kelemahan, melainkan bagian dari ketergantungan pada kuasa Allah. Dengan mengajak murid ke tempat sunyi, Yesus mengundang waktu doa dan refleksi, di mana istirahat fisik menjadi pintu masuk untuk istirahat rohani sejati seperti dalam Matius 11:28-29. Ini menekankan bahwa pelayanan tanpa istirahat dapat menyebabkan kelelahan rohani, sehingga istirahat memperbarui panggilan ilahi. Secara rohani, ajakan ini menjadi disiplin kerohanian: berhenti sejenak untuk mendengar Tuhan, menghindari kelelahan berlebih, dan mempersiapkan diri bagi mukjizat berikutnya, seperti pemulihan 5000 orang.


PEMAHAMAN 
Dalam melakukan berbagai aktivitas, manusia sering kali mengalami kelelahan. Baik lelah karena pikiran, pekerjaan, pelayanan, maupun berbagai dinamika relasi yang ada di dalam keseharian hidup. Karenanya, kelelahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Kelelahan itu manusiawi. Teologi Kristen dalam perkembangannya tidak mengajak umat untuk lari dari kenyataan itu, melainkan untuk mengakui dan menyadari bahwa kelelahan adalah bagian dari kerapuhan diri. Dalam ilmu medis, orang tidur itu menunjukan tubuh manusia mengalami kelelahan, jadi lelah adalah keniscayaan manusia, lelah melekatkan pada kemanusiaan. Selama manusia masih tidur maka tidak mungkin manusia itu tidak lelah. Demikian halnya gereja, gereja harus mengakui kelelahan umat, itu pastoral bagi umat. Bayangkan saja, ada umat lelah dengan pernikahan, terus datang ke gereja, gereja terus mengatakan "tak lelah", "tidak boleh lelah", "jangan lelah", itu namanya gerejanya tidak melakukan pastoral yang baik, itu gerejanya tidak memanusiakan manusia. Oleh karenanya, kita sampai pada pemahaman bahwa ketika Allah turut merengkuh kerapuhan umat, maka Ia tentu turut merengkuh kelelahan kita, Allah tentunya memanusiakan manusia. Bila demikian, mampukah kita memaknai undangan untuk  meragakan kemurahan hati Allah di tengah kelelahan kita? 
 Markus 6:30-44 menolong kita untuk melihat kembali ajaran Tuhan Yesus yang terus relevan dengan konteks zaman sampai dengan hari ini. Ada tiga bagian yang ingin ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus membuka diri untuk kelelahan para murid. Bagian pertama ini tampak melalui tindakan Tuhan yang meminta para murid untuk menyendiri ke tempat terpencil dan beristirahat sejenak (ay. 30-32). Hal ini disampaikan karena Ia sangat mengerti akan apa yang dilakukan oleh para murid sebelum bertemu dengan-Nya. Membaca bagian ini jelas tidak boleh melupakan kisah bahwa Yesus mengutus kedua belas murid (berdua-dua) untuk menyuarakan berita pertobatan, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Tugas pengutusan yang demikian sungguh melelahkan, bahkan untuk makan pun mereka belum sempat. Karenanya Tuhan Yesus mengajak para murid untuk beristirahat sejenak, menyingkir dari keramaian orang banyak pada waktu itu, dan memulihkan energi. Jadi, Tuhan Yesus membuka diri terhadap kelelahan sebagai bagian dari kehidupan manusia setelah melakukan berbagai hal dan mengerti bahwa mereka yang lelah membutuhkan waktu beristirahat, meski ada dalam kelelahan, Tuhan Yesus mengundang para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama. Bagian kedua ini tampak ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya seperti domba yang tidak memiliki gembala dan yang tidak memiliki makanan (ay. 33-38). Mereka membutuhkan sentuhan belas kasih agar tetap bertahan hidup. Namun, respons para murid sungguh mencerminkan sisi manusiawi dan ketidakmampuan memahami ajaran Yesus. Para murid kebingungan dan merasa tidak mampu untuk memberi makan orang banyak, sehingga ingin menyuruh mereka pergi. Berbeda dari respons para murid, Yesus justru memberi pengajaran dan mengajak para murid untuk menyiapkan makanan bagi mereka semua. Jadi di tengah kelelahan dan waktu istirahat yang belum tercapai, Yesus memberi teladan kepada para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Ini bagian dari ketidakmenyerahan diri. Tuhan Yesus memberi kekuatan kepada para murid yang sudah lelah, tetapi yang tidak menyerah untuk berbelas kasih. Bagian ketiga ini tampak ketika Tuhan Yesus memampukan para murid untuk memeriksa ketersediaan makanan, mengatur orang banyak untuk duduk berkelompok, membagikan makanan, bahkan mengumpulkan kembali makanan yang berlebih (ay. 39-44). Mereka yang tadinya kelelahan, tetap memilih untuk melakukan apa yang diminta Yesus sebagai tanda ketidakmenyerahan diri. Karena itu, dari lima roti dan dua ikan, semua orang dapat makan hingga kenyang dan para murid dimampukan untuk menyatakan belas kasih kepada sesama melalui apa yang dilakukan bersama Tuhan. Jadi, ketika para murid mengakui kelelahan tetapi memilih untuk tetap berbelas kasih, maka Tuhanlah yang memampukan mereka.  Perjalanan Tuhan Yesus dan para murid yang demikianlah menjadi perenungan kita bersama, menjadi penting untuk dibaca dalam sudut pandang bahasa sastra, Markus 6:30-44. Tema penghayatan ini mengarahkan kita pada istilah yang berarti tetap, terus-menerus, atau tidak menyerah, tetap memiliki hati berbelas kasih seperti Allah yang diwujudkan dalam karya nyata kepada sesama di tengah pengajuan bahwa sangat dimungkinkan kita sedang atau akan kelelahan. Oleh karenanya, mari memaknai bahwa tidak menyerah untuk menyatakan belas kasih kepada sesama, meski diri kita sebagai manusia ada dalam kelelahan. Sama seperti para murid yang meski lelah, mereka dimampukan Tuhan untuk tidak menyerah berbelas kasih, maka demikianlah kita sebagai umat di masa kini, dan nampak bahwa pengakuan kelelahan itu bukan kelemahan tetapi membuka akan ketergantungan pada Allah, bukan usaha manusia sendirian.  Jadi sekarang, bagaimana mewujudkan belas kasih dalam karya nyata kita di tengah kehidupan kita bersama? Undangan bagi setiap kita yang sudah lelah adalah tak menyerah menyatakan belas kasih di tengah kehidupan keluarga, di tengah kehidupan persekutuan yang adalah gereja Tuhan, serta di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam perjuangan demikian, Kristus yang akan merengkuh kelelahan manusia senantiasa memampukan kita untuk tetap berbelas kasih kepada sesama. Ia tetap mengerti dan membuka diri bagi kelelahan setiap umat, tetapi yang juga tiada henti untuk memampukan umat memenuhi tugas pengutusannya. Meski lelah, mari tidak menyerah untuk berbelas kasih kepada sesama. Semangat berjuang. Roh Kudus menolong kita. 
(01042024)(TUS)

Sudut Pandang Dalam Perjamuan Makan Terakhir

Sudut Pandang Dalam Perjamuan Makan Terakhir 

PENGANTAR
 "Makan” merupakan suatu kebutuhan dasar manusia. Namun lebih dari itu, makan adalah momen berharga untuk merayakan, berbagi cerita,bahkan mengucapkan perpisahan. Sepanjang pelayanan-Nya di tengah manusia, Yesus sering hadir di meja makan. Bersama Marta dan Mariadi Betania,bersama Matius si pemungut cukai. Dan satu momen yang dikenal, ketika Yesus berkumpul di meja makan bersama murid-murid-Nya sebelum Ia disalib. Apa makna meja makan? Yesus memakai sarana meja makan untuk menunjukkan kesetaraan-Nya dengan umat manusia. Di meja makan, semua orang memakan hal yang sama.Semua orang melayani serta dilayani. Meja makan merupakan salah satu bukti bahwa Allah merendahkan dirinya, menganggap kita keluarga dan berjumpa dengan manusia secara langsung. Dalam Yohanes 13, Yesus berada di meja makan bersama murid-murid-Nya. Dia makan bersama orangyang akan mengkhianati-Nya, orang yang akan menyangkal-Nya, orang yang meragukan-Nya. Tidak hanya itu, Yesus juga membasuh kaki mereka.Yesus menunjukkan kerendahan hati-Nya kepada mereka yang menimbulkan luka. Dan inilah juga ajakan kepada kita. Di tengah kehidupan bersama orang lain dengan beragam latar belakang,
dengan mereka yang membutuhkan pertolongan, dengan mereka yang tersingkirkan, dan mereka yang mungkin saja menyakiti kita.
Mengasihi seperti Yesus memang sulit. Namun ingatlah bahwa Yesus juga terus mengasihi kita walau kita meragukan-Nya, melupakan-Nya, dan meninggalkan-Nya. Bisakah kita tetap mengasihi di tengah kerapuhan? dan bisakah kita tetap membasuh di tengah luka yang masih membiru? Manusia rapuh, kembali bertanya, Apa makna meja makan? Yesus memakai
Sarana meja makan untuk menunjukkan kesetaraan-Nya dengan umat manusia, tak ada yang disingkirkan, semua dirangkul, baik yang mengkhianati, yang meninggalkan dan menyangkal diri Yesus. Dimeja makan, semua orang memakan hal yang sama. Semua orang melayani serta dilayani. Meja makan merupakan salah satu bukti bahwa Allah mau merendahkan dirinya, dan berjumpa dengan manusia secara langsung.


PEMAHAMAN
Tiga Pendosa yang Membuat Yesus, Membayar Harganya, bukan sekadar perjamuan makanan, melainkan momen dimana hati manusia terungkap di hadapan sebuah pengorbanan, kita melihat kelicikan Kayafas, kekecewaan Yudas, dan kerapuhan Petrus. Dan di antara ketiga wajah itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam ditujukan kepada kita semua, Topeng siapa yang paling sering kita gunakan? Kayafas Pemimpin
di Bait Allah. Tetapi Kehilangan Hati. Awalnya, Kayafas mungkin sungguh ingin
melayani. Namun perlahan, panggilan itu bergeser menjadi ambisi. Iman tidak lagi
tentang kesetiaan kepada Allah, melainkan alat untuk menjaga kenyamanan pribadi.
Seseorang bisa fasih menguasai hukum Tuhan, namun lupa akan kasih. Sehingga ketika Yesus mengusir para pedagang dari
Bait Allah, Kayafas tidak melihatnya sebagai teguran. la melihatnya sebagai ancaman.
Tanpa kekerasan la menggunakan berbagai
cara untuk menangkap Yesus untuk menjaga martabatnya.
Apakah kamu ketika ditegur Tuhan, justru merasa diperlakukan tidak adil? Yudas Iskariot, Terlihat Saleh Tapi Tidak Menjamin Kesetiaan
Pernahkah kamu kecewa
karena Tuhan tidak bertindak sesuai harapanmu? Itulah yang dialami Yudas. la bukan murid sembarangan. Cerdas, dipercaya menjadi bendahara, namun ia kalah oleh ketamakannya. Yudas ingin Yesus menjadi raja bangsa, tapi Yesus memilih jalan yang berbeda. la tidak berniat membunuh. la mungkin hanya ingin memaksa, berharap Yesus akan menunjukkan kuasa-Nya saat terdesak. Tetapi ketika Tuhan tidak mengikuti skenarionya, Yudas memilih
kecewa. Dan celah itulah yang dimanfaatkan Kayafas.
Bagaimana kamu saat diberikan jalan yang
berbeda? Apakah kamu kecewa? Petrus yang Setia
Namun Meragukan Imannya. Pernahkah kita merasa paling setia, sampai situasi menguji segalanya? Itulah Petrus.
Murid yang paling vokal menjanjikan nyawa bagiYesus, namun buta akan kerapuhan yang ia bawa. Yesus justru menyingkapkan sisi gelap yang belum Petrus sadari: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali"
(Yohanes 13:38). Kita sering bersikap seperti Petrus. Berani menyatakan iman saatsituasi aman, namun memilih diam seribu bahasa saat tekanan datang, seringkali kita diem padahal ada hal salah dan tak benar dihadapan kita. Kritisi Yesus atas Petrus yang antikritik, membutakan diri dan menulikan diri ketika Petrus tidak mau Yesus bicara tentang kematianNya adalah "Enyahlah iblis ..... ". Saat ayam berkokok, Petrus sadar. la menangis dan momen itu menjadi awal pertobatannya.
Adakah jarak antara iman yang kita ucapkan dan iman yang kamu hidupi saat tidak ada yang melihat? Adakah kita tidak melakukan kejahatan di mata Tuhan saat tidak ada manusia melihat? Sebuah Meja Perjamuan Yang, Belum Sempurna. Namun, Yesus justru memberikan respons yang tak terduga. Meski tahu akan dikhianati dan disangkal, serta ditinggalkan Yesus tidak
membatalkan rencana-Nya untuk makan bersama mereka.
la berlutut, mengambil kain, dan membasuh kaki para murid-Nya
termasuk kaki Yudas yang akan mengkhianati-Nya, dan kaki
Petrus yang akan menyangkal-Nya. Meja Perjamuan ini membuktikan bahwa Yesus tidak mencari orang yang sempurna, tapi mereka yang mau dibentuk. Sering kali saat jatuh pada kesalahan yang sama, kita merasa terlalu tidak pantas untuk kembali. Kita memilih "menghilang" karena merasa pintu sudah tertutup rapat. Namun kasih-Nya tidak pernah menuntut kesempurnaan, la selalu lebih jauh menjangkau untuk membawa kita pulang.
Sama seperti la senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang la mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya,
Yohanes 13:1. Dalam setiap ibadah kamis putih, mungkin kita perlu melihat diri manakah kita? Kayafas kah? Yudas kah? Petrus kah?
(02042026)(TUS)

Selasa, 31 Maret 2026

IMAN ADALAH 
ALAT MEMAKSA MUJIZAT? 

Ada ajaran yang terdengar membangkitkan semangat, tetapi diam-diam merusak dasar iman: “Iman yang kuat adalah tidak berhenti percaya sampai mujizat terjadi. Tuhan pasti menjawab”. Kalimat ini disukai banyak orang, karena memberi harapan instan. Tetapi Injil tidak pernah dibangun di atas kepastian hasil—Injil dibangun di atas kedaulatan Tuhan.

Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan iman sebagai alat untuk memaksa kehendak kita terjadi. Di taman Getsemani, Ia berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” (Lukas 22:42). Jika Yesus sendiri menundukkan kehendak-Nya, bagaimana mungkin manusia menjadikan iman sebagai alat untuk menentukan hasil?

Masalah ajaran ini bukan pada kata “percaya”, tetapi pada arah “percaya”. Iman dipindahkan dari percaya kepada Tuhan menjadi percaya pada hasil yang diinginkan. Mujizat dijadikan tujuan, bukan Tuhan. Dan ketika mujizat tidak terjadi, iman pun goyah—bahkan runtuh. 

Alkitab justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Paulus berdoa tiga kali agar “duri dalam daging” diangkat. Namun jawabannya bukan kesembuhan, melainkan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Korintus 12:9). Doanya tidak dijawab seperti yang ia harapkan, tetapi imannya tidak runtuh—justru semakin dalam.

Dalam Ibrani 11 tidak hanya menampilkan mereka yang menerima mujizat, tetapi juga mereka yang disiksa, dipenjarakan, dan mati mengenaskan. Namun keduanya ditempatkan dalam satu daftar yang sama: orang-orang beriman. Ini menampar pemahaman iman yang dangkal. Sebab Alkitab sendiri menegaskan bahwa iman tidak diukur dari hasil yang terlihat. Mereka yang dibebaskan dan mereka yang dibunuh—keduanya sama-sama beriman, karena ukuran iman bukan hasil akhir, melainkan kesetiaan yang tidak tawar terhadap Tuhan.

Jika iman hanya dianggap sah saat mujizat terjadi, maka setengah dari Ibrani pasal 11 harus dibuang. Tetapi Alkitab tidak melakukannya. Justru di sanalah pesan kerasnya: iman sejati tetap setia, bahkan ketika Tuhan tidak bertindak sesuai harapan manusia. Iman bukan alat untuk memaksa Tuhan bertindak, tetapi keberanian untuk tetap tunduk ketika Tuhan memilih jalan yang tidak kita mengerti.

Ketika iman dipersempit menjadi “percaya sampai mujizat terjadi,” maka yang lahir bukan iman—melainkan ilusi rohani. Jemaat diajar mencintai hasil, bukan Tuhan; menghormati jawaban doa, bukan Pribadi yang berdaulat. Akibatnya fatal: saat hasil tidak sesuai harapan, Tuhan dianggap gagal, kasih-Nya diragukan, dan iman runtuh tanpa sisa. Itu bukan iman Alkitabiah—itu iman yang dimanjakan keadaan.

Iman sejati justru berdiri saat mujizat tidak terjadi. Ia tidak menuntut bukti, tidak mengatur Tuhan, dan tidak bergantung pada hasil. Ia tetap setia—karena yang dipegang bukan apa yang Tuhan lakukan, tetapi siapa Tuhan itu.

Yohanes 16:33, Kristus tidak pernah menjanjikan hidup tanpa luka—Ia menjanjikan kemenangan di tengah luka. Maka kemenangan sejati bukan saat masalah lenyap, tetapi saat iman tetap tegak di dalamnya. Jika iman hanya hidup saat keadaan baik, itu bukan kemenangan—itu kenyamanan. Kemenangan yang sejati adalah tetap percaya, tetap setia, dan tetap tunduk kepada Tuhan, bahkan ketika dunia menekan dan jawaban tidak datang.

Iman sejati tidak berkata, “Tuhan pasti lakukan ini bagiku.” Iman sejati berkata, “Tuhan tetap baik, sekalipun yang terjadi tidak seperti yang kuinginkan dan aku tetap percaya. 

Gereja harus berhenti memproduksi iman yang bergantung pada mujizat! 

Gereja yang terus menjual iman berbasis mujizat sedang menyiapkan jemaat yang rapuh—keras saat diberkati, tetapi runtuh saat diuji. Iman sejati tidak lahir dari mimbar yang menyenangkan telinga, melainkan dari kebenaran yang menguatkan jiwa. Tuhan tidak berjanji selalu mengubah keadaan, tetapi Ia tidak pernah gagal menyertai. Jadi pilihannya tegas: membangun iman yang manja dan mudah hancur, atau iman yang tahan api—yang tetap berdiri, bahkan ketika tidak ada mujizat sama sekali.


Sudut Pandang Ikut berdosa (dosa kolektif/omission)

Sudut Pandang Ikut berdosa (dosa kolektif/omission)

PENGANTAR
Dalam Alkitab dosa itu  ada beberapa kategori bila dilihat dari struktur bahasa dan sastra asli dari Alkitab, saya pernah menuliskan di sudut Pandang yang lain tentang hal itu. Kali ini saya menyoroti apa yang diungkap di alkitab tentang keterikutan dosa atau masuk dalam dosa kolektif. Pemahaman populer seringkali membatasi dosa pada tindakan aktif melanggar perintah Allah (dosa komisi), seperti membunuh, mencuri, berzinah, menghancurkan alam  atau korupsi, dlsb. Namun, Alkitab dengan tegas memperluas definisi dosa hingga mencakup kelalaian atau pengabaian terhadap kebaikan atau teguran yang seharusnya dilakukan (dosa omission). Alkitab Menyuarakan, suara kebenaran/kenabian akan teguran  tindakan dosa melindungi orang tsb, maksudnya orang yang menyuarakan kebenaran tsb dari dosa kolektif, demikian pula dapat menyelamatkan si pendosa. Shg pada intinya Alkitab menyuarakan bagaimana kita bersikap atau mempunyai sikap atas dosa, bukan sekedar penolakan atas dosa saja, tetapi juga pembiaran atau pendiaman atas dosa yang terjadi, maka kita ikut dalam dosa kolektif, kental sekali nuansa pemahaman ini dalam PL dan PB, dilatar belakangi pemahaman bagaimana umat Tuhan itu dikhususkan/dipilih (dikuduskan).

PEMAHAMAN 
Rasul Yakobus memberikan pernyataan yang gamblang:

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17)

Yakobus 5:19-20 (TB)
19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

Dalam Injil pun disinggung, bagaimana bersuara atau kritik akan dosa jangan dibawa seperti penghakiman akan dosa, dg latar belakang penulisan akan pekabaran injil dan pertobatan, pertobatan bukanlah pemaksaan tetapi panggilan untuk sadar diri, jadi  tidak boleh dipaksakan, bersuara atau kritik dilakukan tetapi lebih dari itu malah akan membuat dosa baru yaitu kebencian dan luka batin, akan hal tsb :

Matius 18:17 (TB) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Matius 10:14 (TB) Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.

Kecuekan, ketidakpedulian, dan pengabaian terhadap panggilan untuk mengasihi dan berbuat benar adalah dosa yang serius. Para penafsir seperti Matthew Henry dalam Commentary on the Whole Bible menekankan bahwa kelalaian (omission) seringkali merupakan akar dari pelanggaran aktif (commission).
Seseorang mungkin tidak merampok, tidak mencuri, hidup saleh dan bersedekah tetapi ia berdosa jika ia tidak menolong mereka yang kekurangan ketika ia mampu, tetapi ia berdosa ketika membiarkan korupsi terjadi di depan mata, tetapi ia ikut berdosa ketika membiarkan terjadinya tidak transparan laporan keuangan, tetapi ia ikut berdosa ketika tidak bersuara kalau chruch berubah menjadi club, dlsb, itu sudut pandang Alkitab dari segi bahasa dan sastra serta budaya zaman Alkitab, tentunya orang boleh saja menafsir dengan sudut pandang apapun tentang hal dosa ini, tinggal argumentasi yang digunakan kuat lemah atau bernalar tidak, jembatan nalarnya bgmn?. Dosa bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang gagal kita lakukan sebagai makhluk yang diciptakan untuk memuliakan Allah dan mengasihi sesama.
(01042026)(TUS)


Sudut Pandang ๐™‰๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฉ!๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐——๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐——๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ

Sudut Pandang ๐™‰๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฉ!๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐——๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐——๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ

PENGANTAR
Fundamentalisme itu jamak (๐˜ง๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ด). Ada banyak ragamnya. Namun, prinsipnya sama: ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐˜. Mereka memilih ayat-ayat yang sesuai dengan ideologi mereka masing-masing. Jika mendukung, maka teks itu historis. Jika tidak, maka mereka berdalih kiasan atau bahkan sama sekali tak dilirik.

PEMAHAMAN
Saya ambil contoh hari penyaliban Yesus.

Fundamentalis 1: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Rabu sebelum hari Paska Yahudi (14 Nisan). Setelah tiga hari tiga malam Yesus bangkit pada hari Minggu. Rujukan mereka adalah Injil Yohanes.

Fundamentalis 2: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Paska Yahudi (15 Nisan) atau Jumat. Perbedaan latar waktu di Injil sinoptik dan Injil Yohanes diakur-akurkan.

๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—”๐—น๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฏ? 

Menurut Injil sinoptik Yesus disalib pada hari Paska Yahudi atau 15 Nisan  (lih. Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Menurut Injil Yohanes Yesus disalib pada hari persiapan Paska atau sehari sebelum Paska Yahudi atau 14 Nisan (lih. Yoh. 13:1).

Ya harus diakui bahwa ada perbedaan hari penyaliban Yesus di Alkitab. Tidak perlu ditutup-tutupi. Tidak perlu membela dengan ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan diri sendiri. Justru yang terpenting adalah mengakui dan menerima ada perbedaan, lalu mengajukan pertanyaan mengapa berbeda dan ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ?

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€

▶️ Latar waktu episode ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด adalah ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข (Yoh. 13:1), bukan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. Episode ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ dalam Injil Yohanes adalah ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ (Yoh. 6:1-15), yang dilanjutkan penjelasan tentang Ekaristi (Yoh. 6:25-59).
▶️ Ketika Yesus ditangkap, petulis Injil Yohanes membuat latar waktu ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข (Yoh. 18:28).
▶️ Ketika Yesus dihukum mati, petulis Yohanes menyajikan latar waktu ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข (Yoh. 19:14).

Jadi, Yesus mati pada hari penyembelihan domba kurban Paska (sehari sebelum Paska Yahudi). Yesus adalah ๐˜ผ๐™ฃ๐™–๐™  ๐˜ฟ๐™ค๐™ข๐™—๐™– ๐˜ผ๐™ก๐™ก๐™–๐™ yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Petulis Injil Yohanes memertegas teologi ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ itu dengan mengatakan ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ (Yoh. 19:36). Ini sesuai dengan peraturan Paska tulang anak domba kurban tidak boleh dipatahkan (Kel. 12:46). 

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐˜€๐—ถ๐—ป๐—ผ๐—ฝ๐˜๐—ถ๐—ธ

Latar waktu Injil sinoptik: Yesus menghelat perjamuan Paska ketika Ia melakukan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ atau dikenal juga dengan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Teologi yang mereka usung tidak sama dengan teologi Injil Yohanes. Mereka ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ mengusung teologi Yesus ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Injil Markus, sebagai misal, mengusung teologi Yesus adalah ๐˜๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.

Perbedaan teologi itu justru berkat bagi umat Kristen. Ini adalah kekayaan iman dari banyak kisah teologis.

Namun, perbedaan kronologi cerita Injil selalu ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ bagi kaum fundamentalis yang ingin membela ideologi ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ: laporan petulis Injil tidak memiliki kesalahan dalam hal apa pun. Demi membela ideologi itu kerap solusi yang ditawarkan menjadi aneh dan dibuat-buat demi memuaskan diri sendiri. Lewat ilmu gadungan alias ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ mereka melakukan “cocoklogi” yang menggelikan.

Jika kaum fundamentalis terdesak tidak dapat menjelaskan perbedaan latar waktu penyaliban Yesus di kitab-kitab Injil, mereka akan berujar: itu bukan perbedaan, itu saling melengkapi. 

๐˜“๐˜ข๐˜ฉ, kalau saling melengkapi berarti ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐™™๐™ค๐™ฃ๐™œ! Yesus disalib, mati, dan bangkit (kronologi versi Injil Yohanes), lalu ditangkap lagi, disalib lagi, mati lagi, dan bangkit lagi (kronologi versi Injil sinoptik). Menjadi fundamentalis ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต!

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada Misteri Paska. Apa itu Misteri dalam Misteri Paska? Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Misteri Paska merupakan serapan dari ungkapan Latin ๐˜”๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ, kita akan mendiskusikan kata ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ dan ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ selalu saling berpautan.

Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. ๐—ฅ๐—ฒ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป itulah yang dimaksud pada kata misteri dalam Misteri Paska.

Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi Gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak Gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologisnya dan memasukkannya ke dalam kalender kita sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu produk iman Gereja untuk memastori dan membina umat agar kita dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

Andaikata, sekali lagi andaikata, Yesus tidak mati pada hari Jumat tidak sekonyong-konyong membuat Jumat Agung kehilangan kredibiltas. Iman Kristen tidak bergantung pada ketepatan hari kematian Yesus, melainkan pada peristiwa iman kebangkitan Yesus. Kata Rasul Paulus: Jika Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kamu.
(01042026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Yohanes 20 : 1-18 (๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Yohanes 20 : 1-18 (๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ)

๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—น๐˜†๐—ป ๐— ๐—ผ๐—ป๐—ฟ๐—ผ๐—ฒ

Sesudah melewati tiga hari secara berendeng secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi, umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช . ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ข!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menantikan dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharapkan pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst.

Penjelasan tentang Yesus yang bangkit atau Yesus-Paska sila baca di https://www.facebook.com/100030986591668/posts/475928250116724/. 

Bacaan ekumenis Minggu Paska diambil dari Injil Yohanes 20:1-18 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan 1Korintus 15:19-26. Untuk praktis penulisan dalam edisi Paska ini saya menyebut Yesus yang bangkit atau tubuh kebangkitan Yesus sebagai ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ.

Dikisahkan dalam Injil Yohanes 20:1-18 pada Minggu buta Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur Yesus dan ia melihat batu penutup kubur Yesus sudah tidak ada. MM kemudian berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka bahwa jenazah Yesus sudah tidak ada. Simon Petrus dan murid yang lain itu bergegas ke kubur Yesus. Petrus masuk ke kubur Yesus dan hanya melihat kain kafan sudah tergeletak di tanah, sedang kain peluh agak di samping di tempat lain sudah tergulung. Murid yang lain menyusul masuk, melihat, dan percaya. Sesudah itu keduanya pulang.

MM tetap berada di dalam kubur dan menangis. Dua malaikat berpakaian putih menyapa MM, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab MM kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian MM menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada MM, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" MM menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" MM berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepada MM, "Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." MM pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan MM menceritakan hal-hal yang disampaikan oleh Yesus. [Bacaan berakhir di sini]

Siapakah MM? Keempat Injil menyebut nama MM. Pakar PB menduga keras tokoh cerita MM ada di dunia nyata. Bukan sekadar sosok yang ada di dunia nyata, tetapi juga tokoh yang diperhitungkan. Dia bukan sekadar “Maria” pada umumnya, tetapi “Maria Magdalena”  dengan nama belakang merujuk daerah asalnya, Magdala atau Migdal. Ada kekhususan nama MM di keempat Injil. Bandingkan dengan tokoh cerita Zakheus yang khas Injil Lukas. Meskipun disebut oleh keempat Injil, tokoh MM, selain ada persamaan, ada perbedaan pemerian. 

Persamaan. Injil Markus dan Yohanes menampilkan MM pada akhir cerita Injil, menjadi saksi penyaliban Yesus. Injil Matius dan Yohanes menyebut MM memegang/menyentuh Yesus-Paska.

Perbedaan. Injil Lukas menyebut MM perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat, sedang Injil Yohanes MM perempuan baik-baik. Injil Yohanes menyebut MM sendirian ke kubur Yesus, sedang Injil Markus menyebut MM bersama dengan Maria, ibu Yakobus, dan Salome. Injil Matius menyebut Yesus-Paska berjumpa dengan MM dan Maria yang lain, sedang Injil Yohanes menyebut MM sendirian berjumpa dengan Yesus-Paska.

Sekarang kita membahas MM menurut versi Injil Yohanes karena bacaan kita pada Minggu Paska Ini dari Injil Yohanes. Berdasarkan sapaan MM kepada Yesus  dengan “Rabuni” (Guru), MM adalah murid Yesus (Yoh. 20:16). Yesus menyapa dengan “Maria” (Yoh. 20:16). Sebagai Gembala yang Baik, Yesus mengenal semua nama domba-Nya, termasuk domba-Nya yang bernama “Maria” (Yoh. 10:3). Sebagai domba-Nya, Maria juga mengenal suara Gembalanya (Yoh. 10:3-4). Bagi MM Yesus bukan lagi sekadar “Rabuni”, melainkan “Tuhan” (Yoh. 20:18). Apabila iman Kristen diawali oleh kebangkitan Yesus dan kesaksian atas penampakan-Nya, maka MM dapat dianggap sebagai pendiri kekristenan. Setidaknya satu di antaranya.

Penulis Injil penulis Yohanes tampaknya hendak menyampaikan paradoks. Tubuh Yesus sebelum kebangkitan dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Yesus-Paska seakan-akan sama seperti tubuh biasa yang bisa disentuh atau dipegang (Yoh. 20:17), bahkan tubuh yang masih berbekas luka (Yoh. 20:20, 27). Akan tetapi tubuh Yesus-Paska juga tampaknya berbeda dari tubuh biasa sehingga MM tidak langsung mengenali Yesus dan Yesus bisa muncul tiba-tiba di dalam ruangan yang tertutup (Yoh. 20:14,19,26). 

Pengarang Injil Yohanes sepertinya menolak kepemimpinan Petrus di jemaat awal. Sila baca dengan cermat bahwa Injil Yohanes pada mulanya berakhir pada pasal 20 ayat 30-31. Bersama dengan murid “misterius” yang disebut sebagai “murid yg dikasihi Yesus” Petrus memang ikut masuk ke dalam kubur Yesus (Yoh. 20:6). Namun hanya “murid yang dikasihi Yesus” yang disebut “percaya” (Yoh. 20:8). Apa dan bagaimana reaksi Petrus? Tidak ada kisahnya (Yoh. 20:6-7). Saksi pertama dari penampakan Yesus bukan Petrus, melainkan MM. Murid Yesus yang terakhir disebutkan namanya adalah Tomas, bukan Petrus (Yoh. 20:24-29).

Dalam kisah kebangkitan Yesus ini dikatakan bahwa MM memegang terus Yesus-Paska. Ada penafsir yang mengartikannya sebagai sikap egois MM yang memiliki hubungan dekat dengan Yesus sehingga MM sangat kehilangan ketika Yesus mati. Ketika bertemu dengan Yesus-Paska, MM tidak mau melepaskan Yesus lagi. Begitukah?

Saya memilih metode tafsir kritik naratif. Kisah teologis pada dasarnya adalah refleksi iman si penulis terhadap Yesus, tokoh utama kisahnya. Hanya Yesus tokoh cerita yang penting. Tokoh-tokoh lain tidaklah begitu penting sehingga dapat dihadirkan dan dilenyapkan begitu saja dari dunia cerita. Karakter tokoh-tokoh di Injil datar atau ๐˜ง๐˜ญ๐˜ข๐˜ต. Tidak kompleks. Kalau marah ya marah. Kalau malu ya malu. Tidak ada malu-malu kucing.

Kekhasan Injil Yohanes adalah ucapan-ucapan Yesus yang panjang seperti renungan. Pertanyaan atau tanggapan lawan bicara hanya untuk membuka jalan bagi penulis Injil untuk menulis Yesus menyampaikan ucapan-ucapannya. Contoh, perjumpaan Nikodemus dan Yesus dalam Injil Yohanes 3:1-21. Sesudah Nikodemus bertanya pada ayat 9, ia dihilangkan begitu saja. Contoh lainnya perikop “Roti Hidup” (Yoh. 6:25-59). Lawan bicara Yesus hanya berbicara di ayat 25, 28, 30-31, 34, 42, 52, sedang Yesus berbicara panjang-lebar menanggapi lawan bicaranya.

Demikian halnya dengan MM. Dalam teks sebenarnya tidak ada adegan MM memegang Yesus-Paska. MM memegang Yesus-Paska hanyalah imajinasi pembaca karena ada di ucapan Yesus. Cara itu merupakan teknik bercerita agar tokoh utama mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang kenaikan Yesus-Paska, tentang Yesus yang akan pergi kepada Bapa, dan perintah kepada MM untuk disampaikan kepada saudara-saudara Yesus. Kata Yesus kepada MM, "๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด, ๐™จ๐™š๐™—๐™–๐™— ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™—๐™š๐™ก๐™ช๐™ข ๐™ฃ๐™–๐™ž๐™  ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ฅ๐™–, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™œ๐™ž ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ฅ๐™–-๐™†๐™ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ." (Yoh. 20:17, TB2 LAI, 1997).

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: "๐˜ˆ ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ง๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ข ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ฆ๐˜จ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜จ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต๐˜ญ๐˜บ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ." Bernard Meltzer

Wassalam,
MDS (17042022)
๐Ÿ“ธ MM sekadar sampiran.

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 28:1-10 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 28:1-10 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

๐™†๐™–๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™†๐™ช

Sesudah melewati tiga hari berendeng ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ secara khidmat oleh umat Kristen dalam ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด, dan ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช . ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ข!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah ๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น (21 Maret). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 9 April dan Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 16 April, Paska 2024 pada 5 Mei, dst.

Bacaan ekumenis untuk Minggu Paska Tahun A disesuaikan waktu ibadah.
▶️ Ibadah pagi: Yohanes 20:1-18 atau Matius 28:1-10 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kolose 3:1-4.
▶️ Ibadah malam: Lukas 24:13-49 yang didahului dengan Yesaya 25:6-9, Mazmur 114, dan 1Korintus 5:6b-8.

Saya mengambil Injil Matius 28:1-10 sebagai bahan pengulasan. Untuk Yohanes 20:1-18 sudah pernah saya tulis di sini https://www.facebook.com/100030986591668/posts/696019838107563/ 

Dalam membahas dan menafsir kisah di dalam Injil kita harus berpumpun atau berfokus pada Injil yang kita baca. Kita tidak boleh mencampuradukkan kisah Injil yang kita baca dengan ketiga Injil lainnya. Perbedaan kisah Injil satu tidak boleh kita harmoniskan dengan kisah ketiga Injil lainnya. Mengapa? Ini adalah kisah teologis, bukan kisah historis jurnalistis. Setiap pengarang Injil memiliki atau mengusung teologi mereka masing-masing. Mencampuradukkan kisah teologis keempat kitab Injil mengaburkan pesan teologis penulis Injil. Menyebut ayat atau teks Injil lain hanya untuk membandingkan.

[Untuk selanjutnya saya akan menyebut Yesus yang bangkit dengan ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ]

Sebelum memula pembacaan, mari kita balik sekilas apa yang terjadi sesudah Yesus dihukum mati di kayu salib. Saat penyaliban Yesus ada banyak perempuan di sana. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena (MM), Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat. 27:55-56). Langsung sesudah Yesus mati terjadi gempa bumi. Kepala pasukan di sekitar salib bersaksi, “๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.” (Mat. 27:54). Yusuf Arimatea lalu mengubur mayat Yesus sesudah meminta izin Pontius Pilatus, Gubernur Yudea (Mat. 27:57-61). 

Dalam pada itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi ingat perkataan Yesus yang akan bangkit pada hari ketiga. Mereka mencurigai murid-murid Yesus akan mencuri mayat Yesus kemudian membuat ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น Yesus telah bangkit. Untuk itu sehari sesudah Yesus dikubur, mereka menghadap Pilatus dan memintanya mengirim pasukan menjaga kubur Yesus. Pilatus mengirim pasukan dan para serdadu itu menyegel batu besar penutup kubur Yesus.

Bacaan Injil Minggu ini (Mat. 28:1-10) dibuka dengan pergantian hari. Setelah hari Sabat lewat, menjelang fajar menyingsing pada hari pertama pekan itu, pergilah MM dan Maria yang lain menengok kubur Yesus (ay. 1). 

Hari pertama pekan itu sama dengan hari Minggu saat ini. Siapakah Maria yang lain? Kalau kita melihat adegan sebelumnya di Golgota dalam Matius 27:55-56, maka Maria yang lain adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf. 

MM dan Maria yang lain datang untuk menengok kubur Yesus, bukan untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Markus dan Lukas kedatangan perempuan-perempuan ke kubur Yesus untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Matius tidak mungkin itu terjadi karena kisah di Injil Matius menyebut kubur Yesus dijaga dan disegel oleh serdadu Romawi.

Tiba-tiba terjadilah gempa yang hebat sebab ada satu malaikat Tuhan turun dari langit menggulingkan batu penutup kubur. Wujudnya laksana kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Penjaga-penjaga itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati (ay. 2-4).

Di dalam Perjanjian Lama (PL) gempa bumi merupakan satu tanda kehadiran Yahweh (lih. Kel. 19:18; 1Raj. 19:11) dan bumi bergetar di hadapan wajah Yahweh (Mzm. 114:7). Penginjil Matius juga menulis terjadi gempa bumi saat Yesus mati di kayu salib (Mat. 27:51). Matius menggunakan kata ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด untuk gempa bumi yang juga dipakainya dalam kisah topan diredakan (Ma7. 8:24).

Frase ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต ini hendak menyampaikan bahwa kebangkitan Yesus sudah menjadi urusan surgawi. Malaikat tu menggulingkan batu penutup kubur dan duduk di atasnya sebagai tanda kemenangan atas segala usaha manusiawi untuk membungkam Yesus. Para penjaga menjadi seperti orang mati merupakan bahasa ironi Matius. Mereka diberi perintah menjaga orang mati justru menjadi seperti orang mati, sedang Yesus yang mati bangkit.

Hanya di dalam Injil Matius yang menyebut para perempuan mengalami gempa dahsyat dan penggulingan batu kubur. Untuk itulah malaikat itu berkata kepada mereka, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜Ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข; ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜‹๐˜ช๐˜ข.” (ay. 5-7).

Dua perempuan itu segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (ay. 8). Ada perbedaan teks Matius dan Markus. Dalam Injil Markus kedua perempuan itu hanya disebut takut tanpa sukacita yang besar. Hanya rasa takut yang menguasai kedua perempuan itu sehingga tidak mengatakan apa-apa. Dalam versi Injil Matius mereka takut dan sukacita yang besar karena mereka mendapat kepastian dari malaikat. Hal yang mirip terjadi pada orang Majus bersukacita ketika melihat bintang itu (Mat. 2:10).

Tiba-tiba Yesus-Paska menjumpai mereka dan berkata, “๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ!” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™†๐™ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜Ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ.” (ay. 9-10).

Dalam Injil Matius ini kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska dan Yesus-Paska tidak melarang. Namun, dalam Injil Yohanes Yesus-Paska melarang MM memegang Yesus dengan alasan Yesus belum kembali kepada Bapa. Bagaimana menjelaskan perbedaan ini?

Dalam Injil Yohanes ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada MM. MM hendak memegang Yesus, tetapi Yesus-Paska menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus-Paska memerintahkan MM agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Ia pada saat itu (๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ dalam teks Yohanes) akan pergi kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17).
 
Pada babak kedua (Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal: (1) Yesus-Paska sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22) dan (2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (Yoh. 20:27). Bandingkan dengan Yohanes 1:33 “…๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด” dan Yohanes 7:39 “…๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ”. Yesus-Paska juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (20:23).

Dalam Injil Matius tidak membahas apakah Yesus-Paska sudah pergi atau belum kepada Bapa-Nya. Injil Matius tidak berurusan dengan Injil Yohanes. Kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska bukan untuk menahan atau membuktikan Yesus sudah bangkit, melainkan menyatakan sukacita dengan sembah sujud kepada Yesus-Paska. Kedua Injil ditulis dengan latar belakang pergumulan yang berbeda sehingga mengusung teologi yang berbeda pula. 

Perintah Yesus-Paska kepada kedua perempuan itu, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ …” Perintah ini sama dengan perintah Yesus-Paska kepada MM dalam Injil Yohanes. Apakah penggunaan sebutan ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ bermakna sama dalam kedua Injil?

๐˜š๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ dalam Injil Yohanes merujuk Yesus-Paska dan para murid sudah masuk ke dalam keluarga baru, anak-anak Allah (Yoh. 1:12) seperti dikatakan dalam perintah Yesus-Paska kepada MM, “… ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ  … ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ.” (Yoh. 20:17).

Dalam Injil Matius tampaknya perubahan sebutan dari murid-murid menjadi ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ adalah bentuk pengampunan. Para murid merasa gagal dan takut mendampingi Yesus dalam masa sengsara-Nya. Untuk membangkitkan percaya diri para murid dan untuk menunjukkan bahwa Yesus-Paska tidak marah atas kegagalan mereka, Yesus-Paska mengubah sebutan lebih akrab dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ. Tafsir ini didukung dengan dua perikop sesudahnya. 
▶️ Pertama, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menyuap serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus untuk menyebarkan ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น mayat Yesus dicuri oleh murid-murid Yesus (Mat. 28:11-15). Di sini para murid akan menghadapi masalah lebih berat lagi karena mereka akan menjadi tersangka pembuat ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น Yesus bangkit yang mengganggu ketertiban dan ketenteraman Yudea, wilayah jajahan Romawi. 
▶️ Kedua, menjelang episode terakhir Injil Matius beberapa murid Yesus-Paska masih ragu-ragu (Mat. 28:17).

Saya hampir saban hari mengecewakan Yesus. Yesus tak marah, malah menyebut saya saudara-Nya. Untuk itulah dalam setiap Paska saya lebih bersukacita ketimbang Natal.

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: “๐˜๐˜ง ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด, ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ?” Habemus Papulam

Wassalam,
MDS (09042023)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด [๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด [๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ

PENGANTAR
Sesudah melewati Minggu Palem (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan Minggu Sengsara (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) umat Kristen memasuki Pekan Suci (๐˜๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜”๐˜ข๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ atau ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ). Ada tiga hari secara berendeng yang dirayakan secara khidmat oleh umat Kristen, yaitu ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ. Secara populer ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ diindonesiakan sebagai ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ. Sangat dipahami penamaan Trihari Suci agar sejalan dengan penamaan Pekan Suci.
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari “utama“ di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด, dan ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ.


PEMAHAMAN
๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต (๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ diindonesiakan menjadi putih? 
๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34). Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Masalahnya, bukan budaya Jawa dan kita belum biasa, masih ada yang rikuh pekewuh, banyak yang masih belum paham dan masih bertanya serta belum berani maju. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Itu kan simbolis ritual, pengenangan kita akan teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus. Teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus memang sempurna, kita gak mungkin mencapainya, tapi lewat ritual simbolis pembasuhan kaki di kamis putih, kita diingatkan, kita mengenang akan keteladanan Kristus dan hikmat pengajaran Kristus, untuk berproses ke arah sana dalam ziarah kehidupan kita walaupun tidak mungkin sempurna. Ini menunjukan bahwa teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus bersumber dari Allah sejati, dimana kita manusia rapuh hanya bisa berproses tanpa bisa sempurna seperti Yesus, karena kesempurnaan itu milik Allah. Tapi kita bersyukur, kita memiliki acuan atau keteladanan yang memanusiakan manusia dimana itu menjadi arah atau patokan hidup kita, istilah di Alkitab adalah batu penjuru, menjadi arah kehidupan. Jadi, dalam pembasuhan kaki, ego yang dibasuh dan ego yang membasuh sama-sama dilucuti, tak ada lagi ego, yang ada saling melayani, saling mengasihi. Gampangnya, bayangkan saja dua orang yang saling membenci, tapi pada satu sisi kehidupan ada saat nya kita tidak bisa mengelak untuk membasuh kaki orang yang kita benci, ada saat nya dalam kehidupan kita harus menolong orang yang memerlukan pertolongan, dan yang memerlukan pertolongan itu adalah orang yang kita benci, dalam Injil itu ada frasa menaruh bara di atas kepala musuhmu, shg tak ada lagi ego seharusnya serta di pihak yang lain dalam kehidupan ini terkadang kaki kita harus di basuh oleh orang yang kita benci, terkadang kita tidak bisa menghindar kita butuh ditolong oleh orang yang kita benci. Kita belajar, siapapun bisa dipakai Allah untuk menolong kita, bahkan musuh kita, bahkan orang yang kita benci. Lewat pembasuhan kaki, kita belajar untuk melepaskan ego kita, tidak perlu lagi ada kebencian, yang ada hanya mandat baru saling melayani, saling mengasihi. Sehingga pertanyaan balik ke kita pribadi, kenapa kita tidak berani melakukan ritual simbolis pembasuhan kaki? Mungkin ego kita masih terlampau besar untuk melihat kenyataan bahwa mandat Kristus adalah saling melayani, saling mengasihi, itu melepaskan ego kita, mungkin kita masih enggan melucuti ego kita. Bayangkan lagi dg jembatan nalar seperti itu, bagaimana kalau perumpamaan tentang dua orang yang saling membenci itu adalah suami istri, orang tua dan anak, majelis dan umat, kita dan tetangga kita yang riwil, kita dan teman kerja kita yang toxic, dlsb. Makanya di berbagai gereja variasi pembasuhan kaki banyak, ada yg jemaat menyediakan diri membasuh kaki majelis, ada pembasuhan antar keluarga, dlsb, tidak selalu antar majelis dan majelis ke umat, pemahaman liturgi ini masih berkembang. Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan Pemindahan Peralatan Sakramen. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.Yang menjadi dagelan ada gereja ikut-ikutan merayakan Kamis Putih, tetapi pada Jumat Agung melayankan Perjamuan Kudus. Merayakan Kamis Putih, tetapi mereka tidak mengetahui makna dan pesan pastoral Kamis Putih.

๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด (๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Pengindonesiaan Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. Lha kok dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama. Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja merayakan berarti memuliakan, mengagungkan. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib? Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ?” Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “…๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “๐™Ž๐™ช๐™™๐™–๐™ ๐™จ๐™š๐™ก๐™š๐™จ๐™–๐™ž!” Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป atau ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19. ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ข yang berarti pengucapan syukur. “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข). Kata Rasul Paulus, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ค๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (Yesus) ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—œ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit. Umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. ๐˜๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ (๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Seperti pengindonesiaannya dari ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ menjadi Sabtu Sunyi sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. Tidak ada ibadah pada Sabtu Sunyi. Mengapa? Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung. Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42. Sangat boleh-jadi akan tersembul pertanyaan, “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.” Pertanyaan tersebut di atas sangat logis. Berhubung sangat logis, maka konsekuensi logisnya orang itu tidak memerlukan lagi hari-hari raya liturgi dan kebaktian Minggu. Ia bisa kapan saja melakukan kebaktian. Ia bisa kapan saja merayakan Hari Natal (tak perlu 25 Desember), merayakan Jumat Agung (tak perlu Jumat), merayakan Paska (tak perlu Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah ๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น Maret), merayakan Pentakosta (tak perlu menanti 50 hari sesudah Paska), dlsb. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ณ) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

(03042023)(TUS)

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).
 
PENGANTAR
Ini hanya keisengan imajinasi penulis, melihat cerita sastra Injil. Sebuah drama imaginasi flash back dari individu yang dikagumi.

PEMAHAMAN
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk Galilea, tapi pemuda itu sudah menyeka peluh di dahinya.
Sementara teman-teman masa kecilnya yang cerdas sedang mengepak perkamen untuk berangkat ke Yerusalem, mengejar posisi bergengsi di Bet Midrash (universitas elite para calon rabi), pemuda ini justru memanggul martil dan beliung. 
Langkahnya mantap menyusuri jalan tanah berdebu sejauh enam kilometer dari desa kecilnya, Nazaret. Tujuannya? Sepphoris.
Di sinilah, di tengah bisingnya denting logam yang beradu dengan batu kapur, misteri 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang dari Alkitab itu terukir.

Bagi anak laki-laki Yahudi abad pertama, pendidikan adalah segalanya. Lulus dari Bet Sefer (sekolah dasar) di usia belia, hanya mereka yang paling jenius yang akan ditarik oleh rabi besar untuk dididik menjadi ahli Taurat. 

Namun Yesus, yang di usia 12 tahun sempat membuat para cendekiawan Bait Allah melongo, secara mengejutkan justru menempuh jalur vokasi. 

Ia pulang ke rumah, melepas jubah akademis yang belum sempat dipakainya, dan mengenakan celemek kulit seorang Tekton.

Jangan bayangkan Tekton di masa itu seperti tukang kayu modern yang duduk manis meraut meja. Di Israel abad pertama, kayu sangat langka. Menjadi Tekton berarti menjadi kuli bangunan kelas berat merangkap arsitek dan pemahat batu.

Di Sepphoris, mega proyek kota metropolitan bergaya Yunani-Romawi ambisius milik Herodes Antipas, Yesus muda menghabiskan belasan tahun hidupnya. 

Di bawah terik matahari, Ia belajar mengukur presisi fondasi, membelah batu karang, dan merakit rangka atap. Sang guru utamanya bukanlah seorang rabi berjubah mewah, melainkan ayah-Nya sendiri: Yosef.

Tahun demi tahun berlalu. Pundak Yesus semakin bidang, otot-ototnya terbentuk oleh kerasnya batu kapur, dan telapak tangan-Nya penuh dengan kapalan. 

Namun, di saat yang sama, punggung pria tua yang selalu bekerja di samping-Nya mulai membungkuk. Napas Yosef semakin berat. Ayunan martilnya tak lagi sekuat dulu.

Hingga pada suatu hari, ketika Yesus berada di usia akhir dua puluhan (27-29 tahun), alat pahat itu akhirnya diletakkan untuk selamanya. 

Di sebuah ranjang sederhana di Nazaret, dengan didampingi Maria dan Yesus yang memegang erat tangannya yang kasar, Yosef menghembuskan napas terakhirnya. Pria yang setia menjaga rahasia surga itu telah purna tugas.

Kini, beban itu sepenuhnya berpindah ke pundak sang pemuda.

Sebagai anak laki-laki tertua (dan satu-satunya), Yesus secara otomatis menjadi kepala keluarga. Ia harus banting tulang menggantikan posisi ayah-Nya di proyek konstruksi demi menafkahi ibunda-Nya yang kini menjadi seorang janda. 

Penduduk Nazaret mungkin hanya memandang-Nya dengan sebelah mata: "Ah, Dia kan cuma kuli bangunan, anak janda Maria itu."

Namun, di balik baju kerjanya yang berdebu, ada sebuah ruang rahasia yang tak tersentuh oleh kelelahan fisik.

Lukas 4:16 mencatat sebuah detail yang menggetarkan: "seperti biasa Ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat". Frasa seperti biasa ini adalah saksi bisu. 

Selama 18 tahun, di tengah kerasnya menjadi tulang punggung keluarga, Yesus tak pernah absen dari Sinagoge. 

Di sanalah, dalam keheningan doa dan gulungan Kitab Yesaya, relasi batin-Nya dengan Sang Bapa terus menyala. Ia tidak butuh ijazah dari Bet Midrash, karena Ia berdialog langsung dengan Sang Pemilik Sabda.

Maka, tak heran jika kelak di Yohanes 7:15, para elite agama Yerusalem dibuat kelabakan saat berdebat dengan-Nya. Mereka saling berbisik heran, "Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan sedemikian, padahal Ia tidak pernah belajar?"

Mereka tidak tahu, bahwa universitas Yesus adalah debu jalanan Sepphoris dan tanggung jawab mengurus keluarga. Perhatikan saja bagaimana Ia kelak berkhotbah. 

Analogi-Nya begitu membumi dan menusuk relung hati.

Ia berbicara tentang orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir, dan orang bijak di atas batu karang (sebuah hukum mutlak arsitektur Tekton). 

Ia tahu betul rasanya memahat kuk (pasangan kayu pembajak) yang harus sangat presisi di leher lembu agar tidak menyakiti hewan itu, persis seperti janji-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." 

Semua perumpamaan brilian-Nya lahir dari keringat, air mata, dan pecahan batu kapur masa muda-Nya.

Namun, universitas jalanan ini tidak hanya menempa kedalaman teologi-Nya, melainkan juga memahat ketahanan fisik-Nya untuk satu misi terakhir yang paling brutal. 

Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana seorang tahanan yang punggungnya sudah dikoyak cambuk Romawi, yang ujungnya dipenuhi kaitan tulang dan timah, masih sanggup bangkit dan memanggul palang salib seberat puluhan kilogram mendaki bukit Golgota? 

Jawabannya ada pada otot-otot lengan dan pundak yang selama 18 tahun terbiasa memanggul balok kayu dan batu kapur melintasi perbukitan Galilea. 

Fisik-Nya tidak akan sekuat itu di sepanjang Jalan Salib, jika Ia tak pernah menahan pedihnya menjadi pekerja kasar di bawah terik matahari Sepphoris.

Lain kali, jika rutinitas pekerjaan harian kita terasa begitu melelahkan, membosankan, atau terasa kurang rohani, ingatlah kisah pemuda dari Nazaret ini. 

Ingatlah rute berdebu sejauh enam kilometer yang Ia tempuh setiap hari demi menafkahi ibu-Nya.

Sebab kadang, hal-hal yang paling ilahi justru sedang Tuhan pahat dalam rutinitas kita yang paling membumi.


Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

PENGANTAR
Dari diskusi di FBG Bengkel Liturgi, ada teman yg berseloroh menggoda, tetapi tetap menjadi jawab dari kami dan pemahaman serta meramaikan khazanah diskusi, masih perkara Minggu Palem, dan selorohnya begini :
Bacaan Injil Minggu Palma di gereja saya diambil dari Matius. Menurut catatan Matius: "Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan." 
Kalau mau reka ulang sesuai Matius maka sebaiknya:
1. Hamparkan pakaian. 
2. Sebarkan ranting di jalan (bukan dilambaikan).

Prosesi memakai daun palem itu menurut Injil Yohanes. Jadi kemarin itu mengkhotbahkan dari Matius, tapi meminjam prosesi menurut Injil Yohanes.
Itu sudah blunder lageee. 
Monggo. Siap menerima bully......sambil tertawa ngakak nih dia ..... sohib satu ini.


PEMAHAMAN
Dari mana tradisi daun palem yang setiap tahun dipegang dalam Minggu?

Jawabannya ada dalam Injil Yohanes. Di sana disebutkan bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyambut Yesus. Satu Injil. Satu detil. Satu praktik yang kemudian menjadi tradisi yang hampir tidak tergoyahkan. Dari satu detil itu lahir perayaan universal.
Dalam kerangka Tahun Liturgi, khususnya yang mengikuti RCL memang ada kemungkinan Injil Yohanes dibacakan pada Minggu Palem, misalnya dalam Tahun B sebagai alternatif dari Injil Markus. Akan tetapi itu tetap alternatif, bukan pola utama. Dalam banyak perayaan tahun lainnya yang dibacakan adalah Injil yang tidak menyebut daun palem sama sekali. 
Namun menariknya praktiknya tidak berubah. Kadang kita membaca Yohanes, tetapi lebih sering tidak. Daun palem tetap selalu ada. Kita melakukan sesuatu yang tidak selalu kita dengar, dan kita jarang menyadarinya.
Tentu saja ini bukan kesalahan. Tradisi gereja memang tidak dibangun dari satu teks saja. Liturgi merupakan hasil dari perjumpaan panjang berbagai kesaksian Injil, yang dirajut menjadi satu praktik bersama. Justru karena itulah diperlukan kesadaran.

Mengapa hanya Yohanes yang menyebut daun palem?

Perbedaan ini bukan kebetulan redaksional yang kecil. Ia mencerminkan cara masing-masing Injil memahami peristiwa itu.
Dalam Injil Sinoptik penekanan utamanya bukan pada jenis daun, tetapi pada tindakan menyambut: orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja yang datang dengan rendah hati. Fokusnya ada pada gestur penyerahan diri, bukan simbol politik tertentu.
Sebaliknya Injil Yohanes menafsirkan maknanya secara lebih simbolik dan teologis. Dengan menyebut “daun palem” Yohanes sedang memerjelas sesuatu yang implisit
bahwa penyambutan Yesus itu sarat harapan mesianik yang politis, harapan akan pembebasan, kemenangan, dan pemulihan Israel.
Pada aras ini maknanya menjadi lebih dalam sekaligus lebih problematis, karena yang mereka sambut belum tentu sama dengan siapa Yesus itu sebenarnya. Daun palem bisa menjadi simbol iman, tetapi juga bisa menjadi simbol harapan yang keliru.
Itu sebabnya Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Minggu Palem dan Minggu Sengsara beririsan. 
(31032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus PENGANTAR Pembasuhan kaki, adalah simbol...