Senin, 23 Februari 2026

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

PENGANTAR
Pencobaan/Godaan yang Yesus alami bukanlah pencobaan untuk memperoleh sesuatu. Yesus sudah memiliki segala sesuatu. Pencobaan yang Yesus alami adalah godaan untuk memiliki sesuatu SECARA BERLEBIHAN.

— Kuasa bermujizat —> bermujizat bagi diri sendiri
— Status Anak Allah —> validasi sebagai pujaan
— Juruselamat dunia —> penguasa dunia

Jadi godaannya adalah menahan diri untuk hidup ugahari vs. menuruti keserakahan diri. Sebenarnya, itulah juga yang mencobai/menggoda kita dalam kehidupan sehari-hari. Mau hidup ugahari atau hidup cari validasi; mau hidup dengan rasa cukup atau dengan rasa kurang terus.
Itu pula yang menggoda para pemimpin bangsa — apakah mau menggunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri atau mau menggunakannya untuk menyejahterakan rakyat; mau setia menjadi pelayan publik atau mau jadi penguasa rakyat.

Sudut Pandang Maleakhi 3:10 dan Maleakhi 3:5

Sudut Pandang Maleakhi 3:10 dan Maleakhi 3:5

PENGANTAR
Banyak gereja sangat fasih mengutip Maleakhi 3:10  (TB) "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan". 
untuk mendorong ketaatan persepuluhan (aspek ritual/finansial), namun sering kali skip atau menghindari ayat 5, Maleakhi 3:5 (TB) "Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam". 
yang berbicara tentang keadilan sosial.

PEMAHAMAN 
Mari kita bahas mengenai kontradiksi tersebut.
Kitab Maleakhi ditulis pada masa pasca-pembuangan, ketika bait suci sudah dibangun kembali namun gairah spiritual umat merosot. Masalah utamanya bukan sekadar "kurang dana", melainkan ketidakpercayaan pada keadilan Tuhan.

Umat bertanya, "Di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Sebagai jawaban, Tuhan menyatakan Ia akan datang sebagai "api tukang pemurni". Sebelum Ia membuka tingkap langit (ayat 10), Ia terlebih dahulu bertindak sebagai saksi yang tangkas terhadap ketidakadilan (ayat 5).

Ayat 5 memuat daftar dosa yang sangat spesifik yang diawali dengan sebuah deklarasi otoritas Allah. Mari kita bedah istilah kuncinya:

"Menjadi Saksi yang Tangkas" ('ēḏ mahēr), dalam terj. lain saksi yang memberatkan :
Akar kata saksi ('ēḏ) dalam bahasa Ibrani tidak hanya berarti pengamat, tetapi seseorang yang memberikan kesaksian hukum di pengadilan. Kata "Tangkas" (mahēr) berarti cepat, sigap, dan tanpa penundaan.

Umat saat itu mengira Allah "lambat" atau "buta" terhadap kejahatan (2:17). Namun, Allah menegaskan bahwa Ia adalah saksi mata yang tidak perlu disuap dan tidak bisa dihindari. Ia bertindak sebagai Jaksa sekaligus Hakim yang langsung mengeksekusi keadilan.

Di ayat 5 ada tiga penyimpangan moral pribadi:

- “tukang sihir”  — praktik manipulasi kuasa rohani demi kepentingan diri.
- “pezinah” — pelanggaran kesetiaan perjanjian.
- “orang yang bersumpah dusta” — memperalat nama Tuhan untuk kebohongan.

Lalu disejajarkan dengan penyimpangan sosial:

- “menahan upah buruh” (‘osheq sekhar sakhir) — eksploitasi ekonomi.
- “menindas janda dan anak yatim” — penyalahgunaan kuasa terhadap yang lemah.
- “memutarbalikkan hak orang asing” — diskriminasi dan ketidakadilan struktural.

Kenapa dosa-dosa ini disandingkan? Karena dalam teologi Perjanjian Lama, dosa kepada Allah dan dosa terhadap sesama tidak pernah dipisahkan. Penyimpangan moral pribadi akan selalu melahirkan ketidakadilan sosial. Orang yang berani berzinah terhadap Allah (tidak setia) tidak akan sungkan mengkhianati manusia. Orang yang manipulatif secara rohani cenderung manipulatif secara ekonomi. Hati yang rusak di hadapan Tuhan akan rusak juga dalam sistem sosial.

Perhatikan kalimat penutup ayat 5: “dan mereka tidak takut kepada-Ku.” Akar masalahnya bukan sekadar etika sosial, tapi hilangnya yir’ah, takut akan Tuhan. Ketika takut akan Tuhan hilang, ibadah jadi formalitas dan uang jadi ilah baru.

-------

Kasih kepada Allah (vertikal) tidak bisa dipisahkan dari keadilan kepada sesama (horizontal). Membayar perpuluhan dan persembahan khusus lainnya tanpa mempedulikan keadilan bagi buruh (3:5) adalah kemunafikan yang menjijikkan bagi Tuhan.

Keadilan adalah Ibadah. Bagi Maleakhi, kesalehan ritual yang tidak melahirkan keadilan sosial adalah ritual kosong.

---------------

Apa relevansi bagi Gereja dan Jemaat?

A. Bahaya "Teologi Transaksional"
Jika gereja hanya menekankan ayat 10, gereja berisiko jatuh pada teologi kemakmuran yang transaksional: "Beri uang, maka Tuhan berkati." Ini mengabaikan karakter Tuhan yang lebih mementingkan belas kasihan daripada persembahan.

B. Gereja sebagai "Saksi yang Tangkas"
Gereja seharusnya tidak hanya menjadi tempat "penampung" persembahan, tetapi juga menjadi suara bagi mereka yang tertindas.

Bagi Gereja: Apakah gereja sudah menggaji staf dan karyawannya dengan layak? Ataukah gereja justru menjadi "penindas upah" atas nama pelayanan?

Bagi Jemaat: Apakah ketaatan kita dalam memberi di gereja diikuti dengan perlakuan adil kepada asisten rumah tangga, karyawan di kantor, atau kaum marginal di lingkungan kita?

Integritas perjanjian dengan Tuhan berarti kesatuan antara ibadah dan etika. Persembahan adalah bagian dari ketaatan, tetapi bukan pengganti kebenaran hidup. Gereja yang sehat bukan hanya gereja yang keuangannya kuat, tetapi gereja yang anggotanya hidup dalam takut akan Tuhan, menjauhi dosa, dan memperjuangkan keadilan bagi yang lemah. Tanpa itu, persepuluhan bisa menjadi rutinitas religius yang kosong.

Jadi pertanyaannya bagi jemaat bukan hanya: “Sudahkah saya memberi?” tetapi juga: “Apakah hidup saya adil, jujur, dan mencerminkan takut akan Tuhan?” Ibadah tidak bisa dipisahkan dari keadilan. Tuhan bukan hanya melihat aktivitas di tempat ibadah, tetapi juga kehidupan sehari-hari umat-Nya. Itulah pembacaan Maleakhi 3 yang utuh dan seimbang.

Kata-kata hari ini :
Gereja Ramai, Ibadah Lancar, Karya Gereja Bersemangat, Alkitab tidak dibaca, Pokok Ajaran tidak dikenal, Tata gereja tidak mengerti, Tata Laksana tidak diikuti, maka perbuatan baik dan karya hanya kehampaan.
(23022026)(TUS)

Minggu, 22 Februari 2026

SUDUT PANDANG TRI HARI SUCI GKJ SIDOMUKTI

SUDUT PANDANG TRI HARI SUCI GKJ SIDOMUKTI 

Memaknai Tri Hari Suci (Triduum)

Galatia 6:14
“Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam Salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”

Kidung Jemaat 169 Memandang Salib Rajaku
Memandang Salib Rajaku yang mati bagi dunia
Kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya
Tak boleh aku bermegah selain di dalam salibMu
Kubuang nikmat dunia demi darahMu yang kudus
Berpadu kasih dan sedih mengalir dari lukaMu
Mahkota duri yang pedih menjadi keagunganMu
Melihat darah lukaNya membalut tubuh Tuhanku
Ku mati bagi dunia dan dunia mati bagiku
Andaikan jagad milliku dan kuserahkan padaNya
Tak cukup bagi Tuhanku, diriku yang dimintaNya.

Perhatikan, bagaimana Pdt. Isaac Watts menafsirkan Galatia 6:14 dengan amat mendalam. Makna Salib dan panggilan hidup bagi Dia adalah kesatuan tak terputus. Demikianlah tata ibadah Kamis Putih dibuka dengan antiphonal berdasarkan Galatia 6:14 sebagai tanda dimulainya tri hari suci (triduum) yang menyuarakan dengan megah: Selayaknya kita bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, Juru Selamat kita, kehidupan kita, dan kebangkitan kita, melalui Dia kita dibebaskan dan diselamatkan. 

Tri Hari Suci dalam Sejarah
Tri hari suci adalah rangkaian tiga hari utama sebagai puncak masa raya Paskah yang dimulai dari perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi - Minggu Paskah (Vigili Paskah). Memaknai ketiga hari tersebut tidak bisa dilepaskan dari penghayatan seminggu sebelum Paskah. Hingga akhir abad ke-4, Augustinus menetapkan hari-hari prosesi Paskah selama sepekan yaitu Minggu Palmarum, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah. Reformasi abad ke-16 tidak menghapus seluruh struktur pekan suci. Martin Luther tetap mempertahan-kan perayaan Jumat Agung dan Paskah, bahkan menyusun liturgi revisi. Sementara John Calvin sangat menyederhanakan kalender gerejawi, tetapi tetap mengakui pentingnya peringatan kematian dan kebangkitan Kristus. Istilah triduum sendiri tidak selalu dipakai dalam gereja Protestan klasik. Namun nampak cukup kuat bagaimana Luther mempertahankan struktur Pekan Suci. Banyak gereja Lutheran modern merayakan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah. Sementara dalam tradisi Calvin rangkaian prosesi Paskah lebih umum pada Jumat Agung dan Minggu Paskah (penyederhanaan Kalender Gerejawi). Namun demikian gerakan pembaruan liturgi memengaruhi banyak gereja Protestan. Melalui dialog ekumenis dan pengaruh pembaruan Katolik setelah Sacrosanctum Concilium (1963), banyak gereja Protestan menghidupkan kembali Vigili Paskah, menekankan kesatuan misteri Paskah, dan penggunaan simbol-simbol Paskah (mis: lilin Paskah). Jadi, triduum bukan hanya milik Gereja Katolik namun kekayaan Rohani Gereja yang berasal dari warisan gereja purba. 

Memaknai Tri Hari Suci
Kamis Putih
Ada dua unsur dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir dan pembasuhan kaki didasarkan pada Yohanes 13. Injil Yohanes tidak secara eksplisit mengisahkan perjamuan malam namun mandat penting yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sangat ditonjolkan di sini yaitu membasuh kaki, saling mengasihi tanpa batas. Membasuh kaki merupakan disiplin spiritualitas yang menggambarkan saling melayani dan saling mengampuni. Sejak Kamis Putih tidak ada lagi perayaan perjamuan di dalam liturgi Jumat Agung dan selama Vigili Paskah. Oleh karena tidak dilayankan perjamuan kudus pada hari-hari ini maka umat diundang menghayati sengsara dan pengorbanan Kristus melalui puasa, hari-hari ini merupakan puncak masa puasa (bisa seharian atau 48 jam).  
Jumat Agung
Pada hari ini Gereja ikut serta pada detik-detik sengsara dan wafat Kristus. Jumat Agung bukan hari perkabungan yang dipenuhi kemurungan dan dukacita, melainkan hari kontemplasi penuh cinta akan Kristus yang mengurbankan diri untuk menyelamatkan umat manusia. Oleh karenanya hari ini merupakan pengenangan kesengsaraan melalui pembacaan kisah sengsara dan kematian Kristus. Tidak ada perayaan perjamuan kudus dalam ibadah ini.
Sabtu Sunyi - Paskah
Setelah ibadah Jumat Agung, gereja tetap menjaga keheningan. Umat Tuhan mengenangkan Kristus yang berada di alam maut. Menjelang tengah malam penghayatan Sabtu Sunyi berakhir dan dilanjutkan ibadah Paskah malam. Pada tradisi Gereja protestan lebih memilih Paskah fajar (subuh). Pada kedua tradisi dicirikan hal yang sama yakni pesta cahaya (Kristus Sang Surya Sejati) dan pembaharuan janji baptisan/pelayanan baptis, serta dilanjutkan perjamuan kudus. Inilah perjamuan kudus pertama yang merupakan pesta kemenangan, tidak lagi berpuasa. 

Penegasan:
Liturgi tri hari suci merupakan kesatuan liturgi dalam tiga tahap. Kesatuan liturgi oleh karena sejak Kamis Putih hingga Sabtu Sunyi, ibadah merupakan satu kesatuan sehingga Kamis Putih dimulai tanpa berkat penutup. Jumat Agung juga tidak memiliki berkat penutup seperti biasa. Perayaan misteri Paskah mencapai klimaks dan penutupnya dalam Paskah. Karena itu, secara simbolik dan teologis, ini adalah satu tindakan liturgis yang berkesinambungan. Kesatuan ini penting karena Salib tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan, keheningan Sabtu Suci adalah bagian dari misteri keselamatan. Misteri Paskah adalah satu Gerak antara penderitaan - wafat - keheningan - kebangkitan.
Dalam rangka hal tersebut maka pada tahun 2026, Sakramen Perjamuan Kudus tidak dilayankan pada Kamis Putih dan Jumat Agung, melainkan pada Ibadah Paskah. Umat diundang untuk menghayati tri hari suci secara lengkap. Ingat; ibadah Kamis, Jumat, dan Sabtu merupakan kesatuan tindakan liturgis berkesinambungan. Berkat penutup diterimakan pada ibadah Paskah. Bayangkan Triduum seperti sebuah drama dengan tiga babak: babak pertama (Kamis Putih) mempersiapkan cerita, babak kedua (Jumat Agung) adalah klimaks penderitaan, dan babak ketiga (Vigili Paskah/Minggu Paskah) adalah kemenangan dan kebahagiaan. Jika hanya mengikuti satu babak, kisah itu tidak akan lengkap.



Bahan referensi:
1. Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi, Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, BPK Gunung Mulia, 2001
2. Emanuel Martasudjita, Liturgi, Pengantar Untuk Studi dan Praksis Liturgi, Kanisius, 2011
Rasid Rachman, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi, BPK Gunung Mulia, 2012

(Komisi Pengajaran)

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 3

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 3

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗼𝘀𝗮: 𝗛𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝗺𝗮𝗹𝘂𝗸𝗮𝗻?

Dalam beberapa Gereja Protestan (kalau tak mau disebut banyak) 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 menghilang. Kalau pun masih ada, bagian ini dipersingkat. Kadang diganti dengan doa umum yang samar atau dilebur begitu saja dalam nyanyian. Alasannya beraneka: terlalu muram, terlalu repetitif, kurang relevan, membuat suasana turun, dlsb.

Pertanyaannya: Apa yang sedang dibentuk? 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 bukan ritual rasa bersalah. Ia merupakan momen kesadaran. Tanpa kesadaran akan dosa, anugerah sekadar slogan. Tanpa 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 pengampunan berubah menjadi basa-basi.

Liturgi menempatkan 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 pada bagian awal 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 bukan untuk memermalukan umat, melainkan untuk menempatkan semua orang pada posisi yang sama: tidak ada yang datang sebagai orang benar. Di sini tidak ada hierarki moral. Pendeta dan umat berdiri setara di bawah pengakuan yang sama.

Apabila bagian itu dihapus, maka terjadi pergeseran halus sehingga umat belajar hal yang tidak pernah diucapkan:
▶️ bahwa kita cukup baik untuk langsung mendengarkan firman.
▶️ bahwa kita tidak perlu direndahkan untuk diangkat.
▶️ bahwa anugerah bukan kebutuhan mendesak.

Ada juga bentuk lain yang lebih problematis. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 dipertahankan, tetapi nadanya berubah menjadi performatif, sekadar pertunjukan, sehingga terlalu cepat, tanpa jeda hening, dan tanpa bobot pedagogis. Ia tidak lagi membentuk kesadaran, hanya memenuhi kewajiban selebrasi.

Padahal secara pedagogis 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 sangat penting. Ia melatih kerendahhatian, kejujuran, kesadaran bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia. Tanpa pelatihan itu iman mudah berubah menjadi legalitas tanpa kesadaran dosa sehingga mudah berubah menjadi keangkuhan religius.

Jika 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 hanya performatif, apakah kita benar-benar mengizinkan umat belajar kerendahhatian dan kesadaran akan keterbatasan diri, atau justru membiarkan keangkuhan religius berakar di ruang kudus?

(Bersambung)

1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.  http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html


Sabtu, 21 Februari 2026

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, Bagian 2

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, Bagian 2

𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮: 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗻𝗴𝗴𝗶𝗹?

Ibadah tidak pernah dimula dari titik nol. Kalau begitu, pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: Ketika ibadah dimula, siapa yang lebih dahulu bertindak?

Banyak kebaktian dibuka dengan kalimat netral dan sosial:
▶️ “Selamat pagi, jemaat yang dikasihi Tuhan.”
▶️ “Marilah kita bersama-sama memula ibadah ini.”

Kalimat-kalimat itu tampak biasa-biasa saja. Namun, ia menyimpan asumsi seolah-olah ibadah adalah pertemuan yang kita inisiasi. Seolah-olah kita yang mengaktifkan ruang kudus. 

Padahal dalam struktur klasik Gereja ibadah dimula dengan panggilan:
▶️ Allah yang lebih dahulu menyapa.
▶️ Allah yang lebih dahulu mengundang.
▶️ Allah yang lebih dahulu bertindak.

Di sanalah letak makna teologis 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Ia bukan formalitas, melainkan pemakluman tentang arah relasi.

Jika umat dibiasakan memula, maka mereka belajar bahwa iman adalah inisiatif manusia. Jika umat dibiasakan dipanggil, maka mereka belajar bahwa iman adalah tanggapan. Beda tipis, tetapi dampak teologisnya besar.

𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 pada umumnya memuat:
▶️ Votum,
▶️ Salam anugerah,
▶️ Pengakuan dosa, dan
▶️ Pemberitaan pengampunan dosa.

Struktur di atas bukanlah kebetulan. Ia membentuk pola batin. Jika dibuat bagan alirnya:
𝗗𝗶𝗽𝗮𝗻𝗴𝗴𝗶𝗹 → 𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗼𝘀𝗮 → 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗮𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 → (baru kemudian) 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮.

Tanpa struktur itu ibadah dapat berubah menjadi:
Hadir → mendengarkan ceramah → pulang.

Liturgi yang miskin pembukaan teologis akan menghasilkan iman yang miskin kesadaran relasional. Ketika 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 dipersingkat demi efisiensi, yang dipotong bukan sekadar waktu, melainkan proses pembentukan kesadaran bahwa kita berdiri di hadapan Allah, bukan sekadar berada di dalam ruangan gereja.

Yang disebut dengan miskin pembukaan teologis bukan soal durasi dalam 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Sebagai contoh ada kebaktian yang begitu banyak menampilkan nyanyian dalam arahan 𝘸𝘰𝘳𝘴𝘩𝘪𝘱 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳 dengan durasi yang amat panjang. 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 yang diperpanjang tanpa struktur akan membentuk iman yang bergantung pada suasana. Ia mengganti hadirat Allah dengan intensitas pengalaman.

Ketika ibadah dimula, apakah umat merasa sedang memula sesuatu untuk Allah atau sedang ditarik masuk ke dalam karya Allah? Jawaban atas pertanyaan itu menentukan jenis iman yang dibentuk setiap Minggu.

(Bersambung)

1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
3. https://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html

SUDUT PANDANG PERBEDAAN MATIUS DAN LUKAS PERKARA COBAAN IBLIS ATAS YESUS

SUDUT PANDANG PERBEDAAN MATIUS DAN LUKAS PERKARA COBAAN IBLIS ATAS YESUS

PENGANTAR
Bacaan Injil secara ekumenis untuk Minggu I Pra-Paska (22/2) diambil dari Matius 4:1-11. LAI memberi judul 𝘠𝑒𝘴𝑢𝘴 𝘥𝑖𝘤𝑜𝘣𝑎𝘪 𝘥𝑖 𝑝𝘢𝘥𝑎𝘯𝑔 𝑔𝘶𝑟𝘶𝑛. Penjudulan oleh LAI sebenarnya kurang akurat. Mengapa? Kisah 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 ada dalam Injil sinoptik, tetapi kisahnya berbeda.


PEMAHAMAN 
 Perbedaan utama antara Matius 4:1–11 dan Lukas 4:1–13 bukan pada isi tiga pencobaan (sama), tetapi pada urutan, penekanan teologis, dan cara masing‑masing Injil “mengarah­kan” cerita untuk menonjolkan tema khas mereka.
- Matius: 1) batu–roti; 2) bubungan Bait Allah; 3) semua kerajaan dunia (di gunung yang sangat tinggi).
- Lukas: 1) batu–roti; 2) semua kerajaan dunia; 3) bubungan Bait Allah (Jerusalem).
- Banyak penafsir melihat Matius memakai urutan yang “menaik” secara psikologis (dari kebutuhan tubuh, ke religiositas spektakuler, ke puncak godaan kuasa dunia), sedangkan Lukas menyusun secara geografis/topikal: padang gurun → seluruh dunia (visi) → puncak Bait Allah di Yerusalem (kota kunci dalam Injil Lukas–Kisah Para Rasul).
- Matius sangat menyukai motif “gunung” (khotbah di bukit, gunung transfigurasi, gunung amanat agung); karena itu ia menutup dengan pencobaan di “gunung yang sangat tinggi” sebagai antisipasi konflik tentang otoritas Mesias atas segala bangsa.
- Lukas sangat berfokus pada Yerusalem sebagai titik pusat kisah: Injilnya bergerak menuju Yerusalem, Kisah Para Rasul bergerak keluar dari Yerusalem; karena itu ia menutup pencobaan di bubungan Bait Allah untuk mengarahkan perhatian pembaca pada kota itu sebagai panggung besar drama keselamatan.
- Dengan demikian, pada Matius, puncak konflik adalah: apakah Yesus akan mengambil jalan pintas politik‑kerajaan dunia; pada Lukas, puncaknya adalah: apakah Yesus akan menyalahgunakan status Anak Allah dalam konteks pusat ibadah Israel (Yerusalem/Bait Allah).
- Keduanya sama‑sama menekankan bahwa Yesus dipimpin Roh dan dicobai Iblis selama empat puluh hari; Markus hanya menyebutkan secara sangat singkat.
- Beberapa tafsiran mencatat bahwa Matius memakai penanda urutan yang lebih jelas (“kemudian”, “lagi pula”), sehingga dibaca lebih kronologis; sementara Lukas banyak memakai “dan”, sehingga lebih mudah dipahami sebagai susunan tematis, bukan kronologis ketat.[6][9]
- Keduanya mengutip tiga teks Ulangan yang sama (Ul 8:3; 6:16; 6:13), sehingga perbedaan bukan pada teologi firman, melainkan pada cara masing‑masing penginjil memosisikan cerita itu dalam keseluruhan narasi Injil mereka.
- Analisis Matius cenderung menonjolkan Yesus sebagai Israel sejati dan Raja Mesianik yang menolak model kerajaan dunia, konsisten dengan tema “Yesus Anak Daud” dan Amanat Agung kepada segala bangsa.
- Analisis Lukas menyorot Yesus sebagai Anak Allah yang taat di dalam dan terhadap rencana Allah yang berpusat di Yerusalem, yang nanti akan menderita, mati, dan bangkit di sana; perikop ini menjadi pembuka bagi perjalanan naratif menuju kota itu.
- Perbedaan urutan bukan kontradiksi, melainkan pilihan penyuntingan teologis: satu tradisi peristiwa yang sama “diatur ulang” untuk menegaskan fokus masing‑masing Injil (gunung–segala bangsa pada Matius, Yerusalem–sejarah keselamatan pada Lukas).
(21022026)(TUS)

SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS


SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS

PENGANTAR
Khotbah yang penuh kuasa Roh Kudus bukan diukur dari volume suara, teknik retorika, atau berapa banyak yang tersentuh secara emosional, ada yang menggelepar, ada yang menangis. Roh Kudus tidak bekerja sebagai pengatur sensasi. Dalam Injil Yohanes 16:8, Yesus berkata bahwa ketika Roh itu datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Kata “menginsafkan” (ἐλέγχω / elenchō) berarti menegur dengan bukti, membongkar kesalahan sampai orang tidak bisa lagi bersembunyi di balik pembenaran diri. Itu pekerjaan forensik, bukan sentimental. Roh Kudus menembus hati, bukan sekadar menggetarkan perasaan, Roh Kudus membuat orang merenung dan bertobat.


PEMAHAMAN
ROH KUDUS SELALU MEMULIAKAN KRISTUS 
Dalam Injil Yohanes 16:14, Yesus menegaskan: “Ia akan memuliakan Aku.” Jadi tanda utama khotbah yang diurapi Roh bukanlah audiens yang terharu, menangis, menggelepar tetapi Kristus yang ditinggikan, memompa semangat meneladan Kristus dan menghikmati ajaranNya. Roh Kudus tidak pernah mempromosikan pengkhotbah. Ia tidak membangun merek pribadi. Ia menyinari Kristus dan bersinar bagi Kristus.

Karena itu, khotbah yang penuh Roh akan:

- Menyingkapkan dosa dalam terang salib.
- Menunjukkan kebenaran Allah yang sempurna dalam pribadi Kristus.
- Mengingatkan realitas penghakiman dan urgensi pertobatan.

Kalau khotbah hanya membuat orang merasa lebih baik tentang diri mereka, uforia sesaat, tanpa memperhadapkan mereka pada kekudusan Allah, itu mungkin menghibur, tapi bukan karya Roh.

KRISTOSENTRIS, BUKAN ANTROPOSENTRIS
Khotbah yang berpusat pada manusia biasanya berbunyi seperti ini: “Anda bisa… Anda mampu… Anda luar biasa…” Khotbah yang berpusat pada Kristus berkata: “Tanpa Dia, kamu binasa. Di dalam Dia, kamu diperdamaikan.”
Rasul Paulus menegaskan dalam 1 Korintus 2:2 bahwa ia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan. Ini bukan anti-intelektual; ini prioritas teologis. Salib adalah pusat sejarah penebusan. Roh Kudus bekerja melalui pemberitaan Kristus yang disalibkan dan bangkit.
Kalau Kristus hanya disebut sekilas sebagai “penutup doa”, itu bukan khotbah yang penuh Roh—itu TED Talk rohani dengan ayat tempelan.

BUAHNYA : PERTOBATAN DAN KEKUDUSAN
Roh Kudus bukan hanya membuat orang sadar bahwa mereka berdosa, tetapi juga menarik mereka kepada kebenaran Kristus. Itu berarti ada perubahan arah hidup. Dalam Kisah Para Rasul 2, ketika Petrus berkhotbah, orang banyak “terharu” (tertusuk hatinya). Tetapi mereka tidak berhenti pada perasaan. Mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?” Lalu mereka bertobat. MENINGGALKAN HIDUP LAMA, MENJALANI  KONSEKUENSI PRTANGGUNGAN JAWAB HIDUP BARU itu karya Roh Kudus, jatuh bangun berproses meneladan Kristus dan menghikmati ajaran Kristus, itu karya Roh Kudus.
Itulah tanda kuasa Roh:
- Ada pengakuan dosa.
- Ada keputusan meninggalkan dosa.
- Ada langkah nyata dalam ketaatan.
Kalau seseorang menangis, menggelepar, hari Minggu tetapi kembali hidup sama saja hari Senin, mungkin yang tersentuh adalah emosinya, bukan nuraninya.

EMOSI ITU NETRAL, TRANSFORMASI ITU ESENSIAL 
Jangan salah paham—emosi bukan musuh. Allah menciptakan emosi. Bahkan banyak kebangunan rohani dalam sejarah disertai tangisan. Tetapi tangisan bukan bukti otomatis kehadiran Roh Kudus. Banyak pembicara motivasi, bahkan tanpa Kristus, bisa membuat orang menangis.
Pertanyaannya bukan: “Apakah saya tersentuh?”
Pertanyaannya: “Apakah saya bertobat? Apakah saya makin membenci dosa? Apakah saya makin mengasihi Kristus? Apakah saya berproses meninggalkan kehidupan lama? apakah saya berproses meneladan Kristus? apakah saya berproses menghikmati ajaranNya?”
Roh Kudus menghasilkan buah (Gal. 5:22-23), bukan sekadar sensasi. Buah itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari—di rumah, di kantor, di ruang publik.

DOSA, KEBENARAN DAN PENGHAKIMAN
Mari kembali ke Yohanes 16:8-11
Dosa: inti dosa yang disingkapkan Roh adalah ketidakpercayaan kepada Kristus (ay. 9). Jadi persoalannya bukan sekadar perilaku moral yang salah, tetapi sikap hati yang menolak Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Roh Kudus menelanjangi akar ini—bahwa semua pemberontakan bermuara pada tidak mau tunduk kepada Kristus.
Kebenaran: kebenaran dinyatakan dalam pribadi dan karya Kristus yang kembali kepada Bapa (ay. 10). Kenaikan-Nya menegaskan bahwa Ia benar dan dibenarkan oleh Allah. Dengan demikian, standar kebenaran bukan ditentukan zaman, opini publik, atau arus budaya, melainkan oleh siapa Kristus itu.
Penghakiman: penguasa dunia ini telah dihukum (ay. 11). Artinya, kemenangan akhir sudah dipastikan. Sejarah bergerak menuju pengadilan Allah, bukan menuju kekosongan moral. Hidup manusia berlangsung di bawah realitas eskatologis, ada pertanggungjawaban yang tak terhindarkan.
Jadi, ya! Khotbah yang tidak mendorong pertobatan dan kekudusan serta proses meneladan Kristus juga menghikmati ajarannya bahkan menghidupi ajaranNya, memang tidak berguna secara rohani. Itu mungkin menghibur, mungkin viral, mungkin dikagumi. Tapi kalau tidak membuat orang semakin serupa Kristus, itu gagal mencapai tujuan ilahi.
Dan ini juga jadi cermin bagi kita sebagai pendengar. Jangan hanya mencari khotbah yang “enak didengar”. Carilah yang membuat kita tidak nyaman, cari khotbah yang tidak nyaman juga membuat kita introspeksi melihat diri, karena dosa kita disingkapkan—namun sekaligus dihibur oleh anugerah Kristus.
Kuasa Roh Kudus bukan soal suasana.
Itu soal salib.
Dan salib selalu mengubah hidup serta menghidupkan.
(22022026)(TUS)
SEKTE, KULTUS, DAN KESETIAAN PADA KEBENARAN

Topik ini sensitif. Tapi justru karena sensitif, kita tidak boleh kabur. Gereja dipanggil untuk mengasihi dan juga untuk berjaga-jaga. Rasul Paulus menasihati, “Berpeganglah pada kebenaran di dalam kasih” (Ef. 4:15). Kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi. Kebenaran tanpa kasih berubah jadi kekerasan rohani. Injil memanggil kita memegang keduanya sekaligus.

1. Sekte: Realitas Sosiologis, Bukan Otomatis Sesat

Secara historis dan sosiologis, sekte hanyalah cabang dari suatu sistem pemikiran. Dalam gereja ada Baptis, Lutheran, Pentakosta, Reformed, dan seterusnya, berbeda dalam hal sekunder, tetapi tetap mengakui Kristus sebagai Tuhan (Rm. 10:9).

Dalam sejarah gereja mula-mula, kekristenan sendiri pernah disebut “sekte” oleh para penentangnya (Kis. 24:5). Jadi secara istilah, sekte tidak otomatis berarti sesat.

Namun Alkitab juga memperingatkan tentang “ajaran-ajaran sesat yang membinasakan” (2 Ptr. 2:1). Di sini ukurannya bukan keberagaman bentuk, tetapi penyimpangan dari inti Injil (Gal. 1:6–9). Perbedaan gaya ibadah bukan masalah utama. Penggantian Injil, itulah persoalannya.

2. Kultus: Penyimpangan Doktrin dan Struktur Kuasa

Berbeda dari sekte, kultus menyentuh dua hal serius:

- Penyimpangan dari doktrin inti iman.
- Struktur kepemimpinan yang manipulatif dan otoriter.

Alkitab sudah memberi peringatan bahwa akan muncul guru-guru palsu yang “secara diam-diam memasukkan pengajaran-pengajaran sesat” (2 Ptr. 2:1) dan bahkan “memperhamba” orang lain (2 Ptr. 2:19).

Jika sebuah kelompok:
- mengontrol hidup anggota secara total,
- membatasi akses informasi,
- melarang kritik,
- menanamkan ketakutan keluar dari komunitas,

itu bukan sekadar komunitas rohani. Itu sistem kuasa.

Roh Kudus tidak bekerja melalui intimidasi. “Di mana Roh Tuhan berada, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor. 3:17). Injil membebaskan, bukan mengurung.

3. Garis Batas Teologis: Kristologi dan Injil

Garis batas paling jelas adalah doktrin tentang Kristus. Alkitab dengan tegas menyatakan:

Yesus adalah Firman yang adalah Allah (Yoh. 1:1).

Di dalam Dia berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan secara jasmani (Kol. 2:9).

Keselamatan adalah karena kasih karunia oleh iman, bukan hasil usaha manusia (Ef. 2:8–9).

Karena itu, ketika ada kelompok yang menolak keilahian penuh Kristus, menolak Tritunggal, atau mencampur keselamatan dengan usaha manusia sebagai syarat keselamatan, itu bukan sekadar beda tafsir kecil. Itu menyentuh jantung Injil.

Rasul Yohanes bahkan berkata, “Setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:3).

Kita tidak menyerang orangnya. Kita menguji ajarannya (1 Tes. 5:21).

4. Ketika Gereja Sendiri Bermental Kultus

Yesus sendiri memperingatkan bahwa serigala bisa datang dengan pakaian domba (Mat. 7:15). Bahayanya bukan hanya di luar gereja, tetapi bisa muncul dari dalam.

Jika:
- pemimpin anti kritik,
- jemaat takut bertanya,
- keuangan tidak transparan,
- loyalitas pada pemimpin lebih tinggi dari ketaatan pada Kristus,

maka secara fungsi itu sudah menyerupai kultus, meskipun secara nama tetap “gereja”.

Paulus mengingatkan para penatua Efesus bahwa dari antara mereka sendiri bisa muncul orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran untuk menarik murid-murid mengikuti mereka (Kis. 20:29–30). Ambisi rohani yang salah bisa menjadi pintu masuk penyimpangan.

5. Teladan Berea: Iman yang Menguji

Jemaat Berea dipuji karena mereka “setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kis. 17:11).

Perhatikan, bahkan pengajaran Paulus pun diuji.

Iman Kristen bukan iman yang anti-pertanyaan. Ia bukan iman yang takut diperiksa. Yesus berkata, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Jika sesuatu benar, ia tidak takut diuji.

6. Tegas Tanpa Paranoid

Alkitab memanggil kita untuk “berjaga-jaga dan waspada” (1 Ptr. 5:8), tetapi juga untuk “mengusahakan kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (Ef. 4:3).

Prinsip sehatnya:
- Uji ajaran berdasarkan Kitab Suci (2 Tim. 3:16).
- Jangan terpesona karisma (1 Sam. 16:7).
- Jangan cepat melabeli hanya karena perbedaan sekunder (Rm. 14:1).
- Perhatikan buahnya (Mat. 7:16).

Iman yang dewasa bukan naif, tetapi juga bukan sinis.

===========

KEBENARAN MEMBEBASKAN, BUKAN MENGIKAT

Yesus tidak membangun sistem ketakutan. Ia memanggil orang kepada diri-Nya dengan undangan kasih (Mat. 11:28–30). Jika sebuah sistem membuat orang semakin terisolasi, semakin takut, dan kehilangan kebebasan nurani yang sehat, itu bukan aroma Injil.

Setia kepada Kristus berarti setia pada Injil yang murni. Bukan pada figur. Bukan pada organisasi. Bukan pada sensasi rohani.

Gereja yang sehat bukan yang paling keras suaranya.
Gereja yang sehat adalah yang paling setia pada kebenaran dan paling aman bagi jiwa.

===========

“Gereja yang kehilangan keberanian untuk menegakkan kebenaran akan segera kehilangan otoritas rohaninya. Dan gereja yang menegakkan kebenaran tanpa kasih akan kehilangan jiwanya. Setialah pada Kristus, karena hanya Dia pusat iman, bukan manusia.” – Pdt. Bigman Sirait

Kiranya kita menjadi gereja yang tidak takut diuji, tidak mudah terseret arus, dan tetap berdiri di atas Kristus, Sang Kepala Gereja (Kol. 1:18).

Sudut Pandang Dialog di Kelas. : "RABU ABU, JANGAN ABU-ABU FERGUSO?"


Sudut Pandang Dialog di Kelas. :  
"RABU ABU, JANGAN ABU-ABU FERGUSO?"

Tokoh:
MDS (Mbah Dukun Sesat)
Raka (remaja kritis, banyak baca medsos).
Mira (remaja reflektif, jujur bertanya).
(Suasana kelas katekisasi sore hari. Beberapa kursi melingkar. Raka angkat tangan lebih dulu.)

Raka:
Mbah … saya mau tanya agak serius nih.
Kenapa sekarang gereja kita ikut-ikutan Rabu Abu?
Di medsos ada yang bilang: “Protestan sudah mulai balik ke Katolik.”
Itu benar nggak sih, Pak?

(Mira ikut angkat tangan, agak ragu.)

Mira:
Iya, Mbah … saya juga bingung.
Dulu katanya Protestan anti ritual.
Sekarang kok malah pakai abu di dahi?
Takutnya ini jadi formalitas kosong.

(MDS tersenyum, menarik kursi sedikit ke depan.)

1. MDS : Meluruskan dari awal

MDS :
Pertanyaan kalian bagus. Dan jujur, banyak orang dewasa pun bertanya hal yang sama.
Jawaban singkatnya begini:
Rabu Abu bukan milik Katolik, dan bukan juga syarat keselamatan.
Sekarang kita pelan-pelan ya.

2. Asal-usul Rabu Abu

MDS :
Tradisi abu lebih tua dari Katolik Roma dan Protestan.
Jauh sebelum gereja terpecah, umat Kristen sudah memakai abu sebagai tanda pertobatan.
Dalam Alkitab:
Ayub bertobat dalam debu dan abu. Orang Niniwe bertobat dengan abu. Abu selalu bicara tentang satu hal:
“Aku ini rapuh, berdosa, dan butuh Tuhan.”
Jadi abu itu seperti bahasa tubuh iman.

Raka:
Jadi bukan ritual baru?

MDS :
Bukan. Ini tradisi gereja purba, bukan tren modern.

3. Ilustrasi: Cermin di Pagi Hari

MDS :
Begini ilustrasinya.
Pagi hari kalian bercermin, kan?

Mira:
Jelas, Pak… kalau nggak, bisa diketawain.

MDS (tersenyum):
Cermin itu tidak membersihkan wajah, tapi menunjukkan bahwa wajah perlu dibersihkan.
Nah, abu itu seperti cermin.
Ia tidak menghapus dosa,
tapi berkata jujur: “Hatiku perlu dibersihkan Tuhan.”

4. Lalu kenapa dulu Protestan tidak melakukannya?

Raka:
Nah ini, Pak. Katanya Reformasi menolak semua ini.

MDS :
Bukan menolak simbolnya, tapi menolak penyalahgunaannya.
Pada abad ke-16, Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther menghadapi gereja yang:
Menjadikan ritual seolah-olah membeli keselamatan Menggantikan pertobatan hati dengan formalitas luar. Maka banyak ritual disingkirkan sementara, supaya Injil berdiri tegak kembali.

Mira:
Jadi sebenarnya bukan karena salah, tapi karena rawan disalahgunakan?

MDS :
Tepat sekali.

5. Kenapa sekarang sebagian gereja Protestan melakukannya?

MDS :
Karena gereja belajar bersikap dewasa. Sekarang kita bisa membedakan:
Ritual sebagai alat atau
Ritual sebagai pengganti iman.
Rabu Abu dipakai bukan sebagai kewajiban, tapi undangan:
Undangan untuk refleksi
Undangan untuk pertobatan
Undangan untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah.

Raka:
Jadi bukan berarti semua gereja Protestan wajib ya?

MDS :
Tidak. Sama sekali tidak wajib.
Dan yang tidak melakukannya tidak kurang rohani.

6. Ilustrasi: Jaket Tim Sekolah

MDS:
Bayangkan jaket tim sekolah.
Kalau kalian pakai jaket OSIS tapi:
malas melayani, sombong, cuek,
jaket itu jadi kosong makna.
Tapi kalau hati kalian sungguh mau melayani, jaket itu jadi pengingat komitmen. Begitu juga abu. Masalahnya bukan di abu, tapi di hati.

7. Menjawab tuduhan “Protestan balik ke Katolik”

Mira:
Kalau ada yang bilang kita meniru Katolik, jawabnya gimana, Pak?

MDS :
Jawab dengan tenang dan rendah hati:
“Tradisi gereja purba milik seluruh tubuh Kristus.
Kami tidak mengambil dogma Katolik,
kami memakai simbol dengan penafsiran Injili.”
Tidak perlu defensif.
Kebenaran tidak butuh teriak-teriak.

8. Pesan penutup Mbah Dukun Sesat

Mbah Dukun Sesat (nada lebih lembut):
Anak-anak, Tuhan tidak pernah terkesan dengan tanda di dahi,
kalau hati kita keras.
Tapi Tuhan sangat berkenan pada hati yang:
mau dikoreksi, mau dikritik, tidak menulikan diri
mau bertobat, sadar akan kerapuhan diri
mau diubah, mau bertobat.
Kalau abu menolong kita mengingat itu—baik.
Kalau tidak—tidak masalah untuk tidak memakainya.
Karena pada akhirnya,
yang Tuhan cari bukan abu di kepala,
tetapi hati yang kembali kepada-Nya.

(Kelas hening sejenak. Raka mengangguk pelan.)

Raka:
Mbah … sekarang saya lebih tenang.
Ternyata bukan soal ikut siapa,
tapi ikut Kristus.

Mira (tersenyum):
Iya… iman itu bukan soal simbol,
tapi simbol bisa menolong iman kalau dipakai dengan benar.

Mbah Dukun Sesat (MDS):
Nah. Itu katekisasi hari ini.
Iman yang dewasa—
kritis, rendah hati, dan berakar pada kasih Kristus.
Soli Deo Gloria.
(21022026)(TUS)

Jumat, 20 Februari 2026

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, Bagian 1

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻 bagian 1

𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗧𝗮𝘁𝗮 𝗔𝗰𝗮𝗿𝗮

Banyak orang mengira liturgi hanyalah urutan atau 𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘰𝘸𝘯 beribadah: nyanyian pembuka, doa, pembacaan Alkitab, khotbah, persembahan, dan penutup. Urutan dapat digeser, beberapa bagian dapat dihapus. Yang penting ibadah tetap berjalan. Di sinilah masalahnya. Liturgi bukan tata acara!

Liturgi adalah arkitektur kesadaran. Ia bekerja seperti fondasi rumah: tidak selalu terlihat, tetapi menentukan bentuk bangunan di atasnya. Kebaktian yang berulang setiap Minggu membentuk pola batin. Tanpa disadari umat belajar bagaimana berelasi dengan Allah melalui struktur yang mereka jalani.

Jika ibadah selalu dimula dengan manusia yang aktif berbicara, maka umat belajar bahwa Allah menanti inisiatif mereka. Jika kebaktian dimula dengan panggilan dan anugerah, maka umat belajar bahwa Allah lebih dahulu bertindak.

Liturgi tidak netral. Maksudnya, liturgi selalu mengandung teologi. Ia adalah pedagogi yang sabar. Saban Minggu ia mengajar, baik kita sadar maupun tidak. Oleh karena itu perubahan dalam liturgi bukan sekadar soal selera atau kreativitas. Ada konsekuensinya, yakni perubahan dalam pola pembentukan iman.

Menghapus bagian pengakuan dosa, misalnya, bukan hanya memersingkat waktu, ia mengubah kesadaran tentang kebutuhan akan anugerah. Memindahkan pusat perhatian ke layar multimedia bukan hanya modernisasi visual, tetapi terjadi pergeseran gravitasi simbolik.

Liturgi membentuk habitus iman. Habitus inilah yang menentukan apakah iman umat menjadi reflektif atau mekanis, partisipatif atau konsumtif, sadar atau sekadar terbiasa. Apabila liturgi adalah guru yang hadir setiap Minggu, maka pertanyaannya sederhana: 𝘎𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢?

2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html
3. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html


SUDUT PANDANG MATIUS 4:1-11, PERKARA KRITIK ZAMANNYA

SUDUT PANDANG MATIUS 4:1-11, PERKARA KRITIK ZAMANNYA

PENGANTAR
Bacaan Injil secara ekumenis untuk Minggu I Pra-Paska (22/2) diambil dari Matius 4:1-11. LAI memberi judul 𝘠𝑒𝘴𝑢𝘴 𝘥𝑖𝘤𝑜𝘣𝑎𝘪 𝘥𝑖 𝑝𝘢𝘥𝑎𝘯𝑔 𝑔𝘶𝑟𝘶𝑛. Penjudulan oleh LAI sebenarnya kurang akurat. Mengapa? Kisah 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 ada dalam Injil sinoptik, tetapi kisahnya berbeda. Apa perbedaannya? Coba cari .... Xi .... Xi, Yang menarik dalam kisah ini iblis pun hafal ayat Alkitab.


PEMAHAMAN
Matius 4:1–11 menggambarkan Yesus sebagai Anak Allah yang taat, yang memasuki “padang gurun” Israel, menghadapi tiga pencobaan yang bersifat mesianis–politikal, dan menang melalui ketaatan penuh pada kehendak Bapa, bukan melalui jalan pintas kuasa, popularitas, dan kemakmuran.
Kerangka umum dan konteks, Secara sastra naratif, perikop ini menghubungkan baptisan Yesus (pengakuan ilahi: “Inilah Anak-Ku”) dengan awal pelayanan publik; “Roh” yang turun di baptisan sekarang yang menuntun Yesus ke padang gurun. Simbol “empat puluh hari” dan “padang gurun” menggemakan Israel 40 tahun di padang gurun; Yesus tampil sebagai Israel sejati yang taat, yang di mana Israel gagal, Yesus menang. Struktur tiga pencobaan berpusat pada identitas “Anak Allah”, yang diuji: apakah Ia akan mengartikan keputraan itu sebagai lisensi memuaskan diri, memanipulasi Allah, atau mengejar kuasa duniawi. Tiga pencobaan: analisa kritis singkat 1) Mengubah batu jadi roti (ay. 3–4). Secara tekstual, Iblis memulai dengan “Jika Engkau Anak Allah…”, menyasar kelaparan Yesus setelah puasa; godaan ini tampak “wajar” (memenuhi kebutuhan dasar) tetapi secara teologis menempatkan kebutuhan di atas ketaatan pada firman. Kutipan dari Ul 8:3 (“Manusia hidup dari setiap firman…”) menempatkan ketaatan pada firman sebagai sumber hidup yang lebih mendasar daripada roti; Yesus menolak menjadi Mesias yang mengutamakan pemuasan kebutuhan material sebagai jalan utama keselamatan (sebuah kritik awal terhadap “budak kesejahteraan”). 2) Puncak Bait Allah (ay. 5–7). Pencobaan kedua memakai simbol religius–publik: Bait Allah sebagai pusat identitas Israel; Iblis memanfaatkan Mazmur 91 secara selektif untuk mendorong Yesus “menguji” Allah melalui spektakel religius dramatis. Jawaban Yesus dari Ul 6:16 (“Jangan mencobai Tuhan”) menolak pola iman yang memaksa Allah membuktikan diri lewat tanda spektakuler; ini kritik terhadap religiositas yang mencari perlindungan dan legitimasi melalui show kekuasaan, bukan melalui ketaatan diam pada firman. 3) Semua kerajaan dunia (ay. 8–10). Pencobaan ketiga menyingkap inti politis: “semua kerajaan dunia dan kemegahannya” ditawarkan dengan satu syarat: penyembahan pada Iblis; di sini ketaatan eksklusif kepada Allah dihadapkan dengan jalan pintas kuasa. Kutipan Ul 6:13 (“Sembahlah Tuhan Allahmu…”) menegaskan monoteisme radikal dan etika kerajaan Allah: misi Mesias tidak berjalan melalui kompromi dengan kuasa jahat demi hasil politis cepat, tetapi melalui jalan salib, ketaatan, dan penderitaan. Pendekatan historis-kritis menekankan bahwa pencobaan ini bukan “uji moral individu” biasa, tetapi konflik program mesianis: apakah Yesus akan menyelesaikan krisis Israel dengan jalan pemenuhan kebutuhan, spektakel religius, dan dominasi politik, atau dengan jalan ketaatan yang tampak lemah namun menyelamatkan. Dalam kacamata teodisi, beberapa studi Indonesia menegaskan bahwa Allah “mengizinkan” pencobaan ini sebagai bagian dari rencana keselamatan, dan menempatkan kebebasan dan ketaatan Anak di atas kenyamanan dan kesejahteraan-Nya sendiri; ini dikaitkan dengan kritik terhadap teologi kemakmuran. Pembacaan lintas agama, cross  text hermeneutika, tafsir lintas iman (mis. komparasi dengan kisah Siddharta menghadapi Mara) menyoroti kesamaan pola godaan: keinginan (kebutuhan fisik), manipulasi simbol religius, dan ambisi kuasa, tetapi sekaligus menunjukkan kekhasan kristologis: Yesus menang bukan dengan teknik meditasi, melainkan dengan ketaatan anak kepada Bapa dan berpaut pada Kitab Suci. Dalam tradisi eksegesis gerejawi (juga terlihat dalam bahan-bahan liturgis Prapaskah dan kateketis), perikop ini dibaca sebagai:  Prototipe ujian panggilan: sebelum pelayanan publik, identitas dan orientasi kuasa Mesias harus dimurnikan.  Pola bagi gereja: setiap pelayanan yang sungguh-sungguh akan berhadapan dengan godaan memprioritaskan kesejahteraan, spektakel religius, dan kompromi politis.
- Bahan-bahan pastoral dan liturgi, biasanya menekankan bahwa tiga pencobaan ini adalah “pencobaan mesianis”: godaan untuk menjadi Mesias yang “efektif” menurut logika dunia (mengenyangkan, memukau, berkuasa), tetapi tidak setia pada jalan salib. Dalam arus teologi kontekstual Indonesia, Matius 4:1–11 kerap dibaca sebagai kritik terhadap gereja yang menjadi “budak kesejahteraan” (mengukur keberhasilan pada kemakmuran dan kenyamanan) dan undangan pada “iman kebebasan” yang rela kehilangan demi ketaatan kepada kehendak Allah di tengah penderitaan dan ketidakadilan, tidak bersuara atas ketidak Adilan dan anti kritik serta tuli diri. Identitas: Yesus sebagai Anak Allah yang sejati adalah Dia yang tetap taat ketika identitas itu diprovokasi dan dimanipulasi; identitas Anak tidak diekspresikan lewat demonstrasi kuasa, tetapi lewat ketaatan pada firman. Ini menantang cara gereja memahami statusnya sebagai umat Allah di tengah godaan status, nama besar, dan pengaruh. Firman sebagai “roti”: tiga jawaban Yesus semuanya dari Ulangan, menunjukkan bahwa Kitab Suci bukan sekadar bahan kotbah tetapi “roti” yang mengarahkan kehendak dan membingkai respons terhadap krisis; kehidupan rohani yang mengejar “mujizat” tanpa pembentukan dalam firman rentan pada pencobaan mesianis. Teodisi dan kemakmuran: pencobaan di padang gurun memperlihatkan bahwa Allah mengasihi Anak namun tetap “mengizinkan” Ia kelaparan, dicobai, dan berkonflik dengan Iblis; ini melawan teologi yang mengidentikkan kasih Allah dengan bebas derita dan sukses lahiriah. Politik kerajaan: penolakan Yesus terhadap “semua kerajaan dunia” sebagai komoditas yang bisa dibeli dengan kompromi ibadah mengkritik pencarian kuasa politik yang mengorbankan kesetiaan kepada Allah; kuasa Mesias hadir sebagai kerajaan yang datang melalui salib, bukan melalui aliansi dengan kekuatan destruktif.
(21022026)(TUS)




  

 






 



SANG GEMBALA 
BERKULIT DOMBA, BERNAFAS SERIGALA

Gereja masa kini tidak hanya menghadapi tekanan dari luar. Bahaya yang lebih sunyi dan lebih mematikan justru lahir dari dalam—dari mereka yang berdiri di mimbar, yang disebut gembala, yang dipercaya memimpin kawanan.
Tidak semua yang disebut gembala memiliki hati seorang gembala.

Ada yang berkulit domba—tampil lembut, retorikanya halus, doanya panjang, teologinya terstruktur. Tetapi ketika ditelusuri lebih dalam, nafasnya berbau serigala: ambisi, manipulasi, haus pengaruh, cinta uang, dan ketakutan kehilangan posisi.

Yesus Kristus telah memperingatkan dengan tegas: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” (Matius 7:15) Peringatan ini tidak pernah kedaluwarsa.

Kulit Domba: Simbol yang Mudah Dipakai
Kulit domba adalah simbol kesalehan yang terlihat. Jabatan gerejawi. Gelar teologi. Bahasa rohani yang tertata. Sikap yang tampak rendah hati. Semua itu bisa dipelajari. Semua itu bisa dilatih tetapi karakter tidak bisa direkayasa dalam jangka panjang.

Seorang gembala sejati mencium bau domba—ia hidup bersama mereka, menangis bersama mereka, terluka bersama mereka. Ia memimpin dengan pengorbanan. Gembala sejati bukan penguasa rohani, melainkan pelayan yang rela berkorban.

Namun gembala palsu hanya memakai simbol. Ia dekat secara struktural, tetapi jauh secara hati. Ia hadir di altar, tetapi tidak hadir dalam pergumulan jemaat.

Nafas Serigala: Motif yang Tidak Disalibkan! 
Serigala tidak selalu mengaum. Kadang ia berbisik. “Nafas serigala” berbicara tentang natur yang belum mati: ambisi yang dibungkus visi, pengendalian yang dibungkus kepemimpinan, eksploitasi yang dibungkus pelayanan.

Ada mimbar yang tidak lagi menjadi tempat kebenaran dinyatakan, melainkan panggung pencitraan dipertahankan. Ada pengajaran yang terdengar manis, tetapi tidak pernah menyentuh dosa pemimpinnya sendiri. Ketika seorang gembala lebih takut kehilangan jemaat daripada kehilangan hadirat Tuhan, saat itulah nafas serigala mulai terasa.

Serigala di luar kawanan berbahaya.
Tetapi serigala yang berdiri di tengah kawanan jauh lebih mematikan. Ia tidak menyerang secara frontal. Ia menggerogoti perlahan. Ia menciptakan budaya diam. Ia membungkam kritik dengan ayat. Ia menyamakan loyalitas kepada dirinya dengan loyalitas kepada Tuhan.
Dan jemaat yang tidak peka akan perlahan kehilangan kemampuan membedakan kasih yang sejati dari manipulasi rohani.

Gereja bisa tetap penuh. Program tetap berjalan. Persembahan tetap mengalir. Tetapi Roh Kudus telah berduka.

Gembala sejati: Takut akan Tuhan lebih dari takut pada opini publik. Menegur dirinya sebelum menegur orang lain. Lebih mencintai kekudusan daripada popularitas. Lebih siap kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas.

Gembala berkulit domba dan bernafas serigala:
Menjaga citra lebih dari menjaga hati.
Menggunakan firman untuk mempertahankan posisi. Menggembalakan demi pengaruh, bukan demi jiwa.

Perbedaan keduanya tidak selalu terlihat di panggung, tetapi selalu terlihat dalam buah atau prilaku mereka.

Tulisan ini bukan untuk mencurigai setiap pemimpin, tetapi untuk membangunkan setiap pemimpin. Jika engkau berdiri di altar, periksalah hatimu. Jika engkau memegang mikrofon, periksalah motivasimu. Jika engkau disebut gembala, tanyakan: apakah engkau benar-benar mengasihi domba, atau hanya menikmati otoritas atas mereka? Gereja tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Gereja membutuhkan pemimpin yang takut akan Tuhan.

Sebab pada akhirnya, bukan jabatan yang akan diuji—melainkan hati.
Dan Tuhan tidak pernah tertipu oleh kulit.

Apakah sang gembala berkulit domba dan bernafas serigala itu aku, engkau, atau mereka?

Jangan cepat menunjuk ke luar sebelum berani bercermin ke dalam. Jika itu ternyata kita, maka yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, melainkan pertobatan.


Kamis, 19 Februari 2026

Sudut Pandang Liturgi : 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 dan Hening

Sudut Pandang Liturgi : 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 dan Hening

PENGANTAR
Perjumpaan dramatik simbolik antara Allah dan umat. Dlm perjumpaan ada rasa yg tak terungkap lewat kata dan simbol,  ada dialog. Dialog ada kata ada simbol, yg pasti saling atau timbal balik dua arah. Ada protokol bakunya ada unsur bakunya. (walaupun bisa diubah tetapi tidak boleh sembarangan). Siapa yg tidak membolehkan ? Nah... 🤭 .... tetapi bukan itu pertanyaan bakunya, apakah penyusunan liturgi menggunakan ilmu liturgi.Reformasi liturgi dalam Gereja Katolik terinspirasi dari Gereja Protestan. Pembaruan pertama dan utama liturgi dalam Gereja Katolik adalah partisipasi umat. Ironisnya Gereja Protestan, baik arus-utama maupun evangelikal dan kharismatik, malah berjalan mundur, membungkam partisipasi umat. 

PEMAHAMAN 
Tempo hari saya pernah menulis takrif liturgi. Saya ulangi saja. Liturgi bukan ritual, melainkan lebih luas daripada itu. Dalam teologi Kristen liturgi ditakrifkan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilakukan oleh Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi mencakup komunikasi dua arah, Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia (𝘬𝘢𝘵𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴) dan sekaligus manusia yang menanggapi pengudusan Allah itu dengan memuliakan-Nya (𝘢𝘯𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴). Kedua gerakan itu adalah dua anasir yang tidak dapat dipisahkan, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴-𝘢𝘯𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴. Liturgi selalu bermatra 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹. Subjek liturgi adalah Kristus dan Gereja. Liturgi merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja. Pengertian di atas tentu dari titik pandang teologis yang abstrak. Dari titik pandang praktis bagaimana kita dapat melihat liturgi dalam suatu kebaktian atau misa Gereja sebagai suatu bangunan liturgi? Sekarang kita membayangkan suatu rangkaian ibadah secara lengkap, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kita buat pembabakannya sbb.:

𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 – 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

Ritus dalam makna liturgis ditakrifkan sebagai tata cara atau pola tindakan simbolik yang terstruktur yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh Gereja. Dalam satu ritus terdapat beberapa bagian. Misal, ritus pembuka ada bagian atau sesi perarakan Injil, votum, dan salam. Jadi, perarakan Injil yang sering diiringi dengan nyanyian jemaat belum disebut liturgi.
Apa perbedaan ritual dan ritus? Ritual merupakan rangkaian beberapa ritus. 
Dalam Liturgi Sabda ada beberapa ritus yang berjalan membentuk satu ritual. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Dalam Liturgi Ekaristi jumlah ritus lebih banyak, yang tentu saja ada ritus persembahan. Persembahan selalu berpautan dengan Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Dalam Liturgi Ekaristi kolekte dapat dimasukkan sebagai bahan lain persembahan. Bahan utama persembahan adalah roti dan anggur, yang kemudian sesudah 𝘋𝘰𝘢 𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 dan 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘵𝘶𝘴𝘪 menjadi (simbol) kurban tubuh dan darah Kristus. Bahan-bahan lainnya adalah minyak, lilin, dan dapat disertakan kolekte. Apabila hanya Liturgi Sabda, maka kolekte menjadi bagian dalam 𝘳𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱.
Dalam Gereja Protestan tidak setiap Minggu merayakan Liturgi Ekaristi. Dengan demikian pada umumnya kebaktian Minggu dalam Gereja Protestan pembabakannya dibuat sbb.:

𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 – 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

Apabila bangunan liturgi seperti itu, maka tidak ada ritus persembahan, karena tidak ada perayaan Ekaristi. 𝘓𝘩𝘢 kolekte? Kolekte bukanlah persembahan sehingga ia adalah bagian atau sesi dalam ritus penutup. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Bacaan-bacaan Alkitab dan nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dalam Liturgi Sabda. Homili, Syahadat, dan Doa memerdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sungguh keliru menempatkan Mazmur dalam ritus pembuka seperti yang terjadi di beberapa Gereja Protestan. Bacaan-bacaan Alkitab dihidangkan kepada umat sehingga harta Gereja dibuka selebar-lebarnya bagi mereka. Diperlukan penataan bacaan yang bersistem dan berstruktur agar tampak jelas kesatuan Perjanjian Lama-Perjanjian Baru dengan sejarah keselamatan. Untuk itulah kepentingan penerapan bacaan ekumenis RCL (𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺) agar bacaan seturut tahun liturgi dan tidak mengikuti selera dan ideologi pendeta.
Gereja berwatak injili dalam arti selalu mewartakan Injil (injili di sini bukan maksudnya aliran Evangelikal). Pembacaan Injil adalah puncak Liturgi Sabda, perarakan sabda pun dimaknai perakan injil. Pembacaan Injil merupakan simbol kehadiran Kristus di tengah-tengah umat beriman dan pada gilirannya mereka memberitakan Injil Kristus, kenapa itu khotbah harus berpuncak pada bacaan injil.Ritus penutup pada umumnya terdiri atas bagian atau sesi kolekte, pengutusan, dan berkat.

𝗛𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴
Dalam liturgi ada satu anasir sangat penting yang merupakan bagian integral, tetapi tidak atau kurang diperhitungkan sebagai suatu unit ritus dalam struktur ibadah. Apa itu? Keheningan atau saat diam. Hening dalam perayaan liturgi dapat beraneka arti dan makna. Di bawah atmosfer dunia profan yang gaduh dan riuh serta serba tergesa-gesa, kejap, dan dangkal, umat merindu saat hening. Liturgi dapat menyediakannya, meskipun tidak perlu berlama-lama. Liturgi menyediakan momen bagi umat untuk sekadar mereguk kelembutan nafas ilahi. Di Gereja Protestan pada umumnya ada ritus 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘥𝘶𝘩 bagi umat sesudah mendengarkan khotbah  untuk merenung sejenak. 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘥𝘶𝘩 disediakan hendaklah bukan untuk basa-basi. Sebagai contoh, sesudah pendeta mengatakan “Amin” ketika menutup khotbahnya, dalam hitungan kurang daripada 5 detik penatua minta umat berdiri untuk mengucapkan 𝘚𝘺𝘢𝘩𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘪. Berapa lama durasi ideal untuk saat teduh? Idealnya ½ - 1 menit.

(20022026)(TUS)


PENDETA ?

Oleh : Agoes Ibrahim 

♧ Pendeta mantan muslim, khotbahnya membahas Islam mulu.
♧ Pendeta mantan dukun, khotbahnya membahas ilmu perdukunan mulu.
♧ Pendeta mantan tukang santet, khotbahnya tentang santet mulu.
♧ Pendeta mantan tukang kuamia, khotbahnya tentang kuamia mulu.
♧ Pendeta mantan pelawak, khotbahnya cuman ngelawak mulu.
♧ Pendeta mantan penjahat, khotbahnya tentang dunia hitam mulu.
♧ Pendeta halu, khotbahnya selalu  mengaku "Tuhan bicara pada saya.."
♧ Ada juga pdt yang mengaku mimpi bercumbu dengan Roh Kudus cewek di depan istrinya.
♧ Ada lagi pdt yang mengaku kerap naik turun sorga.
♧ Ada pula pdt yang ngaku mimpi ke neraka dan hobinya melempar-lempar Roh Kudus ke jemaat.

Parahnya, orang Kristen sangat menyukai khotbah yang seperti itu.

Sejujurnya saya sedih banget tatkala pendeta mantan dukun, Daud Tony khotbah, "orang yang rajin membayar perpuluhan tak bisa disantet.."
Saya bingung, bagaimana orang yang ga paham firman Tuhan bisa diangkat jadi pendeta/evangelis ? 
Tapi pendeta seperti ini malah jadi pujaan hati kebanyakan umat Kristen..

Pendeta sejati hanya mengkhotbahkan tentang pertobatan, karya keselamatan Kristus dan pembentukan karakter Kristus dengan mengeksposisi / mengeksegesis isi Alkitab.
Isi Alkitab diuraikan, dideskripsikan, dieksplanasi, dieksplikasi, dielaborasi , dieksplorasi agar jemaat paham maksud, tujuan dan kehendak Tuhan pada jemaatNya..
Itu..!!
Bukan membangga-banggakan  pengalamanku, kehebatanku, keahlianku, ketenaranku  SEBELUM  ikut Kristus.
Bukan pula menyombongkan keintimannya dengan Tuhan.
Orang yang dekat dengan Tuhan, malah tak mau koar-koar menceritakan keintimannya dengan Tuhan. 🙏🙏

Sadarlah, wahai umat Tuhan...

Sudut Pandang Gereja Dalam perubahan Besar

Sudut Pandang Gereja Dalam perubahan Besar

PENGANTAR
Gereja atau dunia sedang dalam perubahan besar  dan mendasar (disrupsi), maka gereja harus bertiwikrama (bertransformasi), tapi berubah yang seperti apa?

Sudut Pandang Implikasi teologis kutipan Ulangan dalam kisah Matius 4:1-11 untuk umat sekarang

Sudut Pandang Implikasi teologis kutipan Ulangan dalam kisah Matius 4:1-11  untuk umat sekarang 

PENGANTAR
Kutipan Ulangan dalam Matius 4 menegaskan bahwa identitas umat Allah sekarang dibentuk oleh pola “Israel-baru” dalam Kristus: hidup dari firman, percaya tanpa memanipulasi Allah, dan menyembah hanya Dia di tengah godaan ekonomi, topeng religius, dan politis zaman ini.


PEMAHAMAN
Ulangan 8:3 – Hidup dari firman, bukan roti  

Yesus mengutip Ul 8:3 untuk menolak menjadikan batu sebagai roti, yaitu menolak menjadikan pemenuhan kebutuhan materi sebagai dasar utama ketaatan.
- Secara teologis, ini menempatkan firman Allah sebagai sumber hidup yang menentukan arah keputusan, bukan sekadar sarana legitimasi berkat materi atau kemakmuran serta kekayaan.
- Bagi umat kini, implikasinya: ekonomi, kebutuhan sehari-hari, bahkan pelayanan sosial harus tunduk pada kehendak Allah; iman tidak boleh direduksi menjadi “teologi kesejahteraan” atau teologi kemakmuran yang mengukur Allah dari kenyang-laparnya tubuh, demikian halnya kinerja pemerintah tetap harus dikritisi diwaspadai walaupun rakyat sudah kenyang.
Contoh praktis: keputusan etis dalam dunia kerja—korupsi, manipulasi, eksploitasi—tidak boleh dibenarkan demi “roti”, demi makmur, demi sejahtera, dlsb karena hidup umat ditentukan oleh ketaatan pada firman, bukan oleh keamanan finansial.  

Ulangan 6:16 – Percaya tanpa memaksa Allah  

Yesus mengutip Ul 6:16 (“jangan mencobai Tuhan”) untuk menolak lompat dari bubungan Bait Allah sebagai demonstrasi spektakuler.
- Ini menegaskan bahwa iman yang benar bukan iman yang mensyaratkan tanda dramatis sebagai prasyarat percaya; memperalat janji Allah (Mazmur 91) adalah bentuk ketidakpercayaan, bukan bukti iman.
- Bagi gereja kini, implikasinya: menolak spiritualitas yang menjadikan mujizat, sensasi liturgis, atau “keamanan supranatural” sebagai alat uji kebenaran Allah, dan kembali ke kepercayaan yang bertahan dalam ketiadaan spektakuler.

Ini sangat relevan bagi konteks pencarian “tanda-tanda” di berbagai gerakan karismatik maupun tradisi lain: doa, sakramen, dan liturgi tidak boleh diubah menjadi mekanisme memaksa Allah membuktikan diri lewat mukjizat spektakuler.  

Ulangan 6:13 – Eksklusivitas penyembahan di tengah kuasa  

Dalam pencobaan ketiga, Yesus mengutip Ul 6:13 untuk menolak tawaran semua kerajaan dunia sebagai imbalan penyembahan kepada Iblis.

- Teologisnya, ini menegaskan monoteisme praktis: bukan hanya mengakui satu Allah, tetapi mengarahkan seluruh loyalitas politik, ekonomi, dan religius kepada-Nya; penyembahan adalah kategori total, bukan hanya ibadah Minggu atau karya bergereja saja, tapi bagaimana hidup di tengah masyarakat menjadi tolok ukur keteladanan Kristus.
- Bagi umat sekarang, ini mengkritik keras segala bentuk sinkretisme politis dan ekonomis: ketika kekuasaan, nasionalisme, ideologi, atau kenyamanan struktural menuntut ketaatan yang merelatifkan kehendak Allah, itu adalah bentuk “penyembahan lain”.

Implikasinya, gereja dipanggil untuk berhati-hati terhadap aliansi politik, kultus pemimpin, antikritik, menuliskan diri, atau “agama bangsa” yang de facto menuntut loyalitas di atas Kabar Baik.  

Kristologi: Kristus sebagai Israel-baru 

Dengan memilih tiga teks dari Ul 6–8, Yesus berdiri sebagai Israel yang baru—di padang gurun, diuji, tetapi kali ini taat—dan sebagai penafsir baru Taurat, taurat dipandang secara lain oleh Yesus dan itulah penggenapan.

- Teologisnya, itu berarti gereja membaca Ulangan (dan seluruh PL) melalui ketaatan Yesus: hukum bukan lagi beban yang mengutuk, tetapi medan di mana ketaatan Kristus membuka jalan hidup baru.
- Implikasi hermeneutis: umat sekarang menafsirkan Ulangan secara kristosentris—menerima koreksi Yesus terhadap penyalahgunaan Kitab Suci (seperti cara Iblis mengutip Mazmur 91) dan belajar memakai teks bukan untuk membenarkan agenda, tetapi untuk mengikuti pola ketaatan Sang Anak.

Dengan demikian, kutipan-kutipan Ulangan di Matius 4 mengajar gereja untuk menjadi komunitas yang: tetap mengutamakan firman di atas roti, percaya tanpa memaksa Allah, dan memelihara penyembahan eksklusif kepada-Nya di tengah godaan struktur kuasa kontemporer, antikritik, menulikan diri,  godaan untuk jadi sama dengan dunia.

(19022026)(TUS)




Rabu, 18 Februari 2026

Sudut Pandang Matius 4 :1-11, Minggu 1 Prapaskah Paskah Tahun A, Mahkluk Jelmaan Iblis

Sudut Pandang Matius 4 :1-11, Minggu 1 Prapaskah Paskah Tahun A, Mahkluk Jelmaan Iblis

PENGANTAR
Saya sering bergurau dengan teman pengajar, Kata Yesus, “𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘢𝘧𝘪𝘬. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘢 𝘥𝘪 𝙄𝙣𝙨𝙩𝙖𝙜𝙧𝙖𝙢, 𝙁𝙖𝙘𝙚𝙗𝙤𝙤𝙠, 𝙏𝙞𝙠𝙏𝙤𝙠, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.” Injil 𝗠𝗗𝗦 (Mbah Dukun Sesat) 6:5 .... Wk .... Wk. Bacaan Injil untuk Minggu I Pra-Paska diambil dari Matius 4:1-11. Di perikop ini ada adegan dialog Yesus dan iblis.
• Iblis percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.
• Iblis hafal ayat-ayat Alkitab.

Kalau begitu apa bedanya iblis dan orang Kristen?

Ada lagu menarik tentang kritisi yang isi syairnya "teman laknat, apa Elo gak punya WC? Tongkrongan elo belain, apa Elo gak punya ati? Jabatan elo jagain", kasar memang, tapi cubitan yang baik, sebetulnya secara sastra Ibrani maupun yunani, dalam satu papirus sejak dari menjala ikan, ucapan bahagia, khotbah di gunung, garam bumi dan terang dunia, tak seiotapun, dan sekarang cobaan iblis atas Yesus adalah dalam bahasa zamannya merupakan kritisi keras dan kasar bahasanya dari penulis Injil atas zamannya dengan bersumber pada ajaran-ajaran Yesus yang kurang lebih mengkritisi hal yang mirip dengan situasi jemaat Matius, salah satu kelemahan penerjemahan adalah perbedaan khasanah bahasa demikian halnya tradisi dan budaya bahasa, membuat jurang makna, itulah kenapa saya selalu ngomong, dengan hanya membaca saja, kita sudah menafsir karena tidak mungkin kita membaca dengan pikiran kosong, apalagi menerjemahkan itu sudah lebih-lebih dalam menafsirkan, itu kasus sastra dan bahasa yang sama untuk surat Paulus ketika marah dan menegur jemaat tertentu, ada bahasa kasarnya, demikian halnya ungkapan Paulus ketika bersengketa dengan Petrus, itu kasar sekali kalau dilihat dari sastra bahasa Ibrani atau Yunani tapi rasa atau gigitan penulis itu hilang ketika masuk dalam penerjemahan, tidak selalu tapi pasti terjadi, karena sebetulnya semua itu berangkat dari kemuakan penulis Injil Matius atas sikap pemuka agama (Yahudi) atau pejabat korup saat itu dan patah semangat dan melo nya masyarakat golongan yg dipinggirkan, sebetulnya tidak beda jauh dengan zaman kini, bahkan di gereja kekinian. Seruan semangat pantang menyerah pada kaum papa, kaum lemah dan tersingkirkan didalam puncak kelelahan ditindas dan dijajah oleh pemuka agama yang bangsanya sendiri maupun Romawi sang penjajah, serta seruan pada pemuka agama dan pejabat yang bangsanya sendiri serta punya kuasa juga wewenang, untuk mengayomi dan melindungi serta merengkuh saudara bangsanya yang lemah posisinya bukannya malah antikritik, tidak mengedepankan diskusi, tidak mau mengakui kelemahan dengan rendah hati, serta ikut menindas dan menjajah bangsanya sendiri, terlebih parah membully rekan sendiri, haus kuasa, tutup mata terhadap aturan atau perundangan yang berlaku malah cenderung mau ngakali. Kita saat membaca Matius 4:1-11, diajak menengok diri kita sendiri di zaman ini, apakah kita melihat sabda itu dan berproses meneladan Kristus dan menghikmati ajaranNya atau malah kita berproses menjadi mahkluk jelmaan iblis, sebab bebal dan menulikan diri.


PEMAHAMAN 
Dalam pemahaman sastra pada zamannya, Matius 4:1-11 dapat dibaca sebagai teks yang sangat keras secara retoris dan kasar terhadap situasi zaman itu, tetapi “kekerasan” itu bukan berupa makian, melainkan strategi polemis yang tajam, apokaliptik, dan penuh kritik sosial-politik dan religius. Teks ini ditempatkan Matius langsung setelah deklarasi ilahi “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” (3:17), lalu sebelum pelayanan publik dan “khutbah di gunung”. Itu membuat pencobaan di padang gurun berfungsi sebagai “setting plot” seluruh Injil: kontras antara Kerajaan Allah dan kerajaan dunia/Satan, konsep kelompok esseni (disinyalir kelompok Yesus dan Yohanes Pembaptis), JANGAN JADI SAMA DENGAN DUNIA. Dalam bacaan ini, konflik Yesus–Iblis adalah permukaan dari konflik yang akan terus berlanjut dengan para pemimpin Yahudi  atau pemuka agama korup dan kekuasaan duniawi, penjajahan Romawi; mereka direpresentasikan sebagai perpanjangan kuasa “kerajaan lain” (Mat 12:26), atau kerajaan dunia. Bahasa “menjauh, Iblis!” (hypage satana) adalah bentuk penolakan tajam: Yesus memakzulkan klaim otoritas Iblis dan sekaligus seluruh sistem kuasa yang iblis wakili, pemerintahan penindas, menjajah serta korup dan pemuka agama yang antikritik, antidiskusi, antidengar atau menuliskan diri. Dengan demikian, “kekerasan” ada pada struktur naratif: ini bukan percakapan lembut, melainkan deklarasi perang ideologis dan teologis.  Pendekatan kritik historis menunjukkan bahwa tiga pencobaan berkait langsung dengan krisis konkret umat Yahudi di bawah Roma dan elit keagamaan yang korup. Ekonomi, Pajak berlapis (kepada Roma, raja wilayah, dan kultus Bait Allah) bisa mencapai 30–70% penghasilan, mendorong luasnya kemiskinan dan lahirnya perampok/penyamun.
Agama,  Bait Allah menjadi pusat kultus sekaligus pusat ekonomi dan kekuasaan imam; kaum Farisi dan Saduki menambah beban legalistik dan finansial atas umat.
Politik, Mesianisme nasionalis mengharapkan figur pembebas politik yang merestorasi dinasti Daud, mengusir penjajah, dan “mensucikan” Yerusalem.
Dalam konteks itu, seluruh dialog Yesus–Iblis dapat dibaca sebagai kritik keras terhadap cara berpikir religius dan politis yang dominan di zaman itu: solusi total lewat menentang cara duniawi, topeng religius di Bait Allah tapi korup serta antikritik, dan perebutan kuasa politik secara kekerasan.  
Tiga pencobaan sebagai kritik tajam, Batu jadi roti: kritik terhadap “mesias kesejahteraan”  Iblis memanfaatkan kelaparan Yesus dan krisis ekonomi Israel dengan tawaran mengubah batu menjadi roti. Secara historis, ini bisa dibaca sebagai:  Tawaran “program ekonomi” radikal: jika Yesus mengubah batu menjadi roti, Ia bisa menyelesaikan kelaparan umat dan merangkul kaum miskin serta kelompok perampok yang lahir dari tekanan ekonomi. Namun para penafsir mencatat bahwa jika roti menjadi solusi utama, seluruh siklus tabur-tuai akan runtuh, dan umat berubah menjadi “budak roti” yang hanya mengejar Yesus sebagai sumber pangan, bukan relasi dengan Allah, kayak MBG yah? ..... rakyat dikenyangkan untuk bungkam, rakyat dikenyangkan untuk bodoh dan tidak kritis.
Jawaban Yesus, kutipan Ul 8:3, adalah kritik keras terhadap religiositas yang direduksi menjadi jaminan kesejahteraan: manusia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari firman Allah. Ini menohok teologi yang mem‑absolut‑kan pemenuhan kebutuhan material sebagai tanda utama kehadiran Allah.  Bubungan Bait Allah: kritik institusi kultus dan topeng religius. Pencobaan kedua berlangsung di puncak Bait Allah, simbol pusat keagamaan, ekonomi, dan identitas Israel. Iblis mengutip Mazmur 91 untuk menuntut Yesus “menguji” Allah dengan lompat dari bubungan, sehingga secara spektakuler diselamatkan malaikat; ini akan langsung mensahkan-Nya sebagai Mesias di mata massa dan elit. Ini secara tajam mengkritik model agama yang mencari legitimasi melalui keajaiban yang mencolok, simbol-simbol sakral, dan pengakuan institusional.  Yesus menanggapi dengan Ul 6:16: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu,” merujuk pada Israel di Masa (Kel 17), ketika umat menuntut pembuktian kehadiran Allah. Di sini, Matius menampilkan Yesus sebagai Israel baru yang menolak memainkan permainan religius itu: relasi Allah–umat tak boleh digantungkan pada teatrikalitas kultis. Ini adalah kritik keras, meski  kasar, secara bahasa dan sastra, terhadap spiritualitas Bait Allah yang korupt dan antikritik serta bertopeng.  Gunung tinggi dan semua kerajaan: kritik nasionalisme-mesianis. Di pencobaan ketiga, Iblis memperlihatkan semua kerajaan dunia dari “gunung yang tinggi”, lalu menjanjikan kekuasaan total jika Yesus menyembahnya. Dalam konteks Palestina di bawah Roma, tawaran ini bisa dibaca sebagai: ajakan bergabung dengan agenda revolusi politik yang menggunakan kekerasan, mengembalikan “kedaulatan” Israel, dan mengesahkan kekerasan sebagai sarana pemerintahan. Penafsir menunjuk bahwa motif ini sejalan dengan harapan Mesias politik yang sangat kuat pada masa intertestamental dan zaman Yesus. Jawaban Yesus—“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Ul 6:13)—adalah penolakan tajam terhadap semua bentuk nasionalisme religius dan politik religius yang mengorbankan eksklusivitas penyembahan kepada Allah demi kekuasaan. Di sini Matius memukul habis ide Mesias-pemberontak yang banyak diharapkan kelompok Yahudi.  
Jika yang dimaksud “kasar” adalah kata-kata makian vulgar, teks Matius 4:1-11 tidak menunjukkannya, tetapi dalam bentuk sastra dan bahasa pada zamannya itu bahasa keras dan kasar. Bahasa Yesus formal, berakar pada Taurat, dan seluruh dialog disusun sangat literer. Namun  “kasar” dipahami sebagai:  
mengungkapkan penolakan radikal;  mendeligitimasi cara berpikir religius-politik dominan;   dan memposisikan “Israel” (baik umat maupun pemimpinnya, baik yang di bawah dan di atas, baik garam bumi maupun terang dunia) di sisi yang keliru;  maka teks ini memang sangat tajam dan konfrontatif. Yesus:  
- menolak menjadi Mesias yang mengentaskan krisis ekonomi lewat solusi spektakuler;  
- menolak legitimasi lewat pusat keagamaan dan scripturalism yang manipulatif;  
- menolak pembebasan politik yang menggadaikan penyembahan kepada Allah.  
Beberapa penafsir Indonesia dan internasional menunjukkan bahwa di sini Yesus sama sekali tidak “menyelesaikan” penderitaan sosial-politik Israel—kemiskinan, ketidakadilan keagamaan, dan penjajahan tetap berlangsung setelah adegan ini, Itu dapat terbaca sebagai “keras”: Allah dalam Yesus menolak jalur penyelesaian cepat yang populis, dan justru memilih jalan ketaatan, penderitaan, dan salib.   Implikasi teodisi: keras terhadap “budak kesejahteraan”  Satu studi historis Indonesia membaca Matius 4:1-11 dalam kerangka teodisi dan menyimpulkan bahwa Yesus sengaja menolak “program-program” penyelesaian krisis yang ditawarkan Iblis demi memelihara kebebasan manusia dan kemurnian relasi iman.
- Jika Allah menjawab krisis dengan selalu mematahkan hukum alam dan struktur sosial lewat mukjizat massal, manusia akan menjadi “budak kesejahteraan” yang hanya beriman karena manfaat, bukan karena pilihan bebas.
- Dengan menolak tiga tawaran itu, Yesus mengkritik tajam model iman yang mengabsolutkan keamanan ekonomi, perlindungan spektakuler, dan kemenangan politik sebagai syarat percaya. Itu gaya bahasa dan strategi yang keras terhadap pola keberagamaan zamannya, meski disampaikan dengan kutipan Kitab Suci, bukan caci-maki.  Dalam perspektif itu, Matius 4:1-11 adalah teks yang retoriknya keras: ia membongkar cara berpikir religius-politik masyarakat dan pemimpin zaman itu sampai ke akar, dengan menampilkan Yesus yang tidak mau “dipakai” untuk melegitimasi agenda mereka, melainkan mendefinisikan ulang apa artinya menjadi Anak Allah dan apa artinya beriman dalam dunia penuh penderitaan. 

(19022026)(TUS)


Selasa, 17 Februari 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 6:1-6,16-21 [𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 6:1-6,16-21 [𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮

PENGANTAR 
Rabu, 18 Februari 2026, umat Kristen memula masa Pra-Paska. Hari pertama Pra-Paska disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂. Apa itu Rabu Abu?
Hari raya liturgi dimula dari dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada penyusunan sistematis dan terencana. Gereja dengan spontan menanggapi atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja kemudian merapikan ketidakteraturan itu. Mereka membentuk, menyusun, dan merekayasa (𝘵𝘰 𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳) kisah teologinya sehingga bermakna, bertema, dan bercerita sehingga mengajar umat. Dasar penyusunan tahun liturgi ialah pemahaman soal waktu yang dipahami sebagai momen Allah berkarya. Gereja merayakan kehadiran Allah di dalam waktu dalam ibadah. Waktu gereja merujuk kesaksian Alkitab yang dibaur dengan kalender masyarakat 𝘪𝘯 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴.
Pada awal kekristenan masa Pra-Paska dimula pada Minggu 𝘤𝘢𝘱𝘶𝘵 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢. Namun jumlah hari tidak genap 40 hari seperti masa puasa Yesus. Pada abad VI masa Pra-Paska ditambah empat hari sehingga jatuh pada Rabu, yang kemudian disebut Rabu Abu, dan jumlah hari menjadi 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Jadi, kalau Gereja menulis Minggu I , Minggu II, dst. sampai Minggu VI Pra-Paska itu merujuk hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺), bukan pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). Minggu VI Pra-Paska biasanya disebut sebagai Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯).
Masa Pra-Paska dimula dari Rabu Abu dan berakhir pada Kamis Putih. Istilah Pra-Paska adalah khas Indonesia. Bahasa Inggris menggunakan 𝘭𝘦𝘯𝘵 atau 𝘭𝘦𝘯𝘵𝘦𝘯, yang berasal dari 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘵𝘦𝘯 (Anglo-Saxon) atau 𝘭𝘦𝘯𝘻 (Jerman). Kata itu bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) erat dengan 𝘭𝘢𝘯𝘨 atau 𝘭𝘰𝘯𝘨 karena siang menjadi lebih panjang. Orang Italia menyebut Pra-Paska dengan 𝘲𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢, sedang Spanyol menyebut 𝘤𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘮𝘢, yang berakar dari kata Latin 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢 (empat puluh). Disebut dengan Rabu Abu di sini Gereja hendak mengajar umat mengenai pertobatan, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah. Dalam tradisi Israel Kuno abu menyimbolkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat. Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan diberikan dengan formula 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 (Kej. 3:19) atau 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘭 𝘳𝘦𝘵𝘶𝘳𝘯. Meskipun demikian adalah keliru jika masa Pra-Paska dicerap sebagai masa-masa sengsara Yesus. Memang ada yang disebut dengan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) yang beririsan dengan Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮) pada Minggu VI Pra-Paska, tetapi secara keseluruhan adalah keliru mencerap Pra-Paska sebagai masa-masa sengsara Yesus. Pra-Paska merupakan kesukaan dan pengharapan. Dalam masa Pra-Paska Gereja menyediakan waktu secara khusus untuk menghayati karya Yesus dan peristiwa salib Kristus. Pada Rabu Abu kita diingatkan bahwa keadaan manusia adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘯𝘦𝘴𝘴. Kematian merupakan identitas manusia saban hari, sekaligus bersama dengan kehidupan yang juga saban hari kita nikmati. Kematian bukan soal setelah raga ini mengembuskan nafas terakhir. 
Banyak penjaja agama entah lewat rumah ibadah, entah lewat media televisi meneriakkan kematian-pasca-kematian agar ditakuti. Padahal kehidupan itu menyapa kita dalam kenyataan bahwa kita adalah abu kini dan di sini, setiap saat. Ini bukan soal hidup nyaman kelak di surga, yang jika ditolak berakibat hidup pedih dan penuh kesakitan di neraka. 
Neraka itu adalah kemanusiaan kita, sekaligus karena Kristus sudah memasukinya dan membuatnya menjadi perayaan hidup, tanpa lupa pada kenyataan bahwa kita adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 bukan soal takut pada hukuman, namun pada ingatan arkais, bahwa kita boleh hidup.


PEMAHAMAN 
Bacaan ekumenis untuk Rabu Abu Tahun A diambil dari Injil Matius 6:1-6, 16-21 yang didahului dengan Yoel 2:1-2, 12-17, Mazmur 51:1-17, dan 2Korintus 5:20b-6:10.
Bacaan Injil Matius 6:1-6, 16-18 tampaknya dihimpun di bawah satu tema: bagaimana para murid seharusnya mengamalkan ajaran agama mereka. Ayat 1 tampaknya menjadi ucapan utama karena berisi tema yang akan dirinci di bagian selanjutnya: " 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘦𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘶𝘮 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” (TB II 2023). Matius tampaknya sangat menekankan nasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) antara umat dan Allah. Kualitas pernasabahan (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱) itu tidak boleh dicemarkan oleh motivasi lain, termasuk motivasi pamer kesalehan, misal: supaya dilihat orang. Ketika seseorang memertunjukkan kesalehannya di depan publik, mereka sudah mendapatkan “upah”-nya dari manusia sehingga mereka tidak lagi mendapatkan “upah”-nya dari Allah. Jadi, hal yang dipertentangkan di sini adalah upah/pahala dari manusia atau upah/pahala dari Allah Bapa. Ibadah itu 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 atau 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩? Padahal sebelumnya disebut oleh Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪.” (Mat. 5:14-16). 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 sekarang dilarang menampilkan kesalehan di depan umum? 𝘒𝘦𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 di Matius 6 (bacaan Minggu ini) sebaiknya dipahami sebagai lawan dari motivasi pamer kesalehan (supaya dilihat orang), sedang 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 di Matius 5 dipahami dalam tujuan 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. Laksanakan ibadah dan perilaku kesalehanmu bukan untuk dipuji orang (pamer), melainkan agar orang memuliakan Bapa di surga (kesaksian). Begitulah kura-kura.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗸𝗮𝗵 (Mat. 6:2-4)
Ketika seseorang memberi sedekah supaya dipuji orang, ia sudah mendapatkan “pahalanya” dari manusia, yaitu pujian itu. Bapa di surga akan memberi pahala kepada anak-Nya yang memberi sedekah dengan tulus.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮 (Mat. 6:5-6)
Ketika seseorang berdoa supaya dilihat orang, ia sudah mendapatkan “pahalanya” dari manusia, yaitu dilihat orang. Tersirat dalam frase 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 adalah dipuji orang seperti halnya ketika memberi sedekah. Bapa di surga hanya akan mendengarkan doa yang memang ditujukan kepada-Nya.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 (Mat. 6:16-18)
“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘮 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘢𝘧𝘪𝘬. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢.” (ay. 16a, TB II 2023). Ketika seseorang berpuasa supaya dilihat orang, ia sudah mendapatkan “pahalanya” dari manusia, yaitu dilihat orang; dipuji orang. “…𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢, 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢 …” (ay. 17-18, TB II 2023). Bapa di surga hanya akan memberi pahala kepada orang yang benar-benar berpuasa.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗴𝘂𝗺𝗽𝘂𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝘁𝗮
Berbeda dari bagian sebelumnya, Matius 6:19-21 berbicara tentang mengumpulkan harta. Hal yang dipertentangkan di sini adalah harta di bumi dan harta di surga.
6:19 " 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪; 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘯𝘨𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. (TB II 1997)
6:20 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘯𝘨𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.” (TB II 2023)
Bagaimana cara mengumpulkan harta di surga? Bagian sebelumnya menjelaskan “cara” mengumpulkan harta di surga: dengan memberi sedekah diam-diam, dengan berdoa di tempat tersembunyi, dan dengan berpuasa tanpa terlihat berpuasa. Terhadap pengamalan ketiga kewajiban agama itu Allah akan memberi pahala. Pahala itulah yang menjadi harta di surga. Semua itu tentunya adalah bahasa metaforis. Ibadah bukanlah transaksi dagang, apalagi kontrak karya! Allah akan mengganjar pahala semua perilaku kita yang benar dan baik, yang kita lakukan dalam bernasabah intim dengan-Nya sebagai Bapa kita. Bersedekah, berdoa, dan berpuasa akan menjadi 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮, jika dilakukan hanya 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗽𝗮𝗺𝗲𝗿 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗲𝗵𝗮𝗻 untuk dipuji orang. Puasa, pantang dan doa yang dijalani secara pribadi dilakukan dengan membangun relasi dengan sesama, mengendalikan pikiran negatif, mengembangkan kerukunan, penuh syukur dan apresiatif. Selanjutnya puasa, pantang, amal
saleh dan doa dilakukan secara ekologis dengan tidak mengeksploitasi bumi, namun mendoakannya supaya lestari. Bagi orang Kristen, puasa digemakan mulai ibadah Rabu Abu. Puasa dijalankan pada masa Prapaskah. Di tengah situasi krisis yang kompleks pada saat ini, puasa masa Prapaskah perlu 
dilakukan dengan mengingat krisis ekologis. Bumi kita merana kesakitan karena segala kerusakan yang ditimpakan kepadanya. Melalui Masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu 
Abu, umat diundang untuk bersedekah, berdoa, berpuasa dengan berpusat pada Allah. Dari egosentris menjadi gerak ekologis adalah seruan Allah yang ditanggapi dengan 
mengoyakkan hati. 

(22022023)(TUS)

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup PENGANTAR Pencobaan/Godaan yang Yesus alami bukanlah pencobaan untuk memperoleh sesuatu. Yesus suda...