Sudut Pandang ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฅ๐ฒ๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ถ: ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ผ๐น๐ถ๐ธ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ถ, ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฟ๐ถ?
PENGANTAR
Setiap 31 Oktober Gereja-gereja Protestan memeringati Hari Reformasi. Tanggal ini mengingatkan kita kepada Martin Luther dan 95 dalilnya pada 1517. Lima abad lebih telah berlalu. Kita masih memeringatinya, mengadakan ibadah khusus, dan mengulang lima ๐ด๐ฐ๐ญ๐ข yang menjadi penanda penting warisan teologis Reformasi. Terus apa?
Menariknya Reformasi Protestan juga mendorong Gereja Katolik melakukan pembaruan internal. Konsili Trente (1545–1563) menanggapi persoalan-persoalan doktrinal yang diperdebatkan kaum Reformator sekaligus membenahi berbagai persoalan dalam kehidupan bergereja. Serikat Jesuit, yang mendapat pengakuan resmi dari Paus Paulus III pada 1540, kemudian memainkan peran penting dalam pembaruan Katolik, pendidikan, dan misi. Meskipun gerakan ini tidak semata-mata sebagai reaksi terhadap Protestan, tetapi perkembangannya menjadi bagian penting dari dinamika pembaruan Katolik pada masa itu.
Pembaruan berlanjut. Konsili Vatikan II (1962–1965), misalnya, menghasilkan perubahan penting dalam kehidupan Gereja Katolik, termasuk pembaruan liturgi. Penggunaan bahasa lokal dalam liturgi dan penataan bacaan Kitab Suci melalui leksionari yang lebih kaya menampilkan kesediaan gereja untuk meninjau kembali praktiknya. Bahkan ahli liturgi Katolik, Rm. E. Martasudjita, Pr., mengatakan pembaruan liturgi Gereja Katolik terinspirasi dari Protestan. Gereja Katolik tidak mengadopsi lima ๐ด๐ฐ๐ญ๐ข sebagai rumusan pengakuan imannya, tetapi sejarahnya menunjukkan bahwa Gereja dengan struktur hierarkis yang kuat pun dapat melakukan pembaruan.
Ironisnya, Gereja Katolik meninggalkan ibadah klerus dengan memberi tempat partisipasi umat, sedang banyak Gereja Protestan kembali ke ibadah klerus yang sebelumnya dikecam para reformator. Fakta ini layak direnungkan oleh Gereja-gereja Protestan. Kita mewarisi semangat Reformasi, tetapi apakah warisan tersebut dengan sendirinya menjamin bahwa kehidupan bergereja terus mengalami pembaruan?
Jangan-jangan kita begitu sibuk mengenang keberanian para Reformator abad ke-16 sampai lupa memeriksa keberanian kalian sendiri untuk mengoreksi kehidupan gereja abad ke-21.
๐๐ค๐ก๐ ๐๐๐ง๐๐ฅ๐ฉ๐ช๐ง๐: ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ค๐ก๐ ๐๐๐ก๐๐ง๐
Saya mula dari ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ค๐ณ๐ช๐ฑ๐ต๐ถ๐ณ๐ข. Prinsip ini mendudukkan Kitab Suci sebagai otoritas tertinggi dalam perkara iman dan kehidupan bergereja. Namun, bagaimana pengakuan tersebut tampak dalam praktik ibadah? Apakah Gereja Protestan sungguh memberikan ruang yang memadai bagi jemaat untuk mendengar dan memahami kesaksian Kitab Suci?
Kita dapat melihat persoalan ini melalui cara Gereja menentukan bacaan Alkitab dalam ibadah Minggu. Gereja Katolik menggunakan leksionari (๐๐ณ๐ฅ๐ฐ ๐๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ถ๐ฎ ๐๐ช๐ด๐ด๐ข๐ฆ atau ๐๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ข๐ณ๐ช๐ถ๐ฎ ๐๐ช๐ด๐ด๐ข๐ฆ), yaitu susunan bacaan Kitab Suci yang mengikuti siklus tertentu dalam kalender liturgi. Pembaruan liturgi pasca-Konsili Vatikan II menghasilkan susunan bacaan yang memampukan umat mendengar bagian-bagian Kitab Suci secara lebih luas dan serbacakup. Leksionari menjadi ๐ธ๐๐ฟ๐ถ๐ธ๐๐น๐๐บ yang menuntun Gereja membaca dan mendengarkan Kitab Suci secara teratur.
Sebagian Gereja Protestan menggunakan leksionari dari ๐๐ฆ๐ท๐ช๐ด๐ฆ๐ฅ ๐๐ฐ๐ฎ๐ฎ๐ฐ๐ฏ ๐๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ข๐ณ๐บ (RCL), sedang sebagian lainnya membiarkan pendeta menentukan sendiri teks khotbah setiap Minggu. Akibatnya pemilihan bacaan dapat bergantung pada selera pengkhotbah atau pemimpin gereja, ๐๐ค๐ก๐ ๐๐๐ก๐๐ง๐. Teks-teks tertentu terus diulang, sedang bagian-bagian lain dari Kitab Suci jarang disentuh. Jemaat akhirnya menerima sajian Alkitab yang sangat bergantung pada selera pribadi pendeta atau pemimpin gereja, tanpa kurikulum bersama yang menuntun mereka mendengar kesaksian Kitab Suci secara lebih luas dan serbacakup.
Gereja mengagungkan ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ค๐ณ๐ช๐ฑ๐ต๐ถ๐ณ๐ข, tetapi dalam praktik tertentu pemilihan teks justru tunduk pada ๐๐ค๐ก๐ ๐๐๐ก๐๐ง๐. Bagi gereja protestan persoalan ini patut diperiksa secara serius. Apabila Gereja telah mengenal RCL tetapi penggunaannya tidak sungguh-sungguh menjadi disiplin bersama, apa arti pengakuan terhadap otoritas Kitab Suci dalam kehidupan liturgisnya? ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ค๐ณ๐ช๐ฑ๐ต๐ถ๐ณ๐ข seharusnya mendorong Gereja mendengarkan kesaksian Kitab Suci secara serbacakup, termasuk bagian-bagian yang menantang kebiasaan dan kepentingannya sendiri.
Memang beberapa teks dalam RCL sulit ditafsir dan dikhotbahkan. Di sinilah ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐ฟ๐ท๐ฎ๐ป๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐๐ท๐ถ: menggali teks, memahami konteks historis dan teologisnya, serta menyusun khotbah yang dapat dipertanggungjawabkan. Dua perikop yang relatif mudah dipahami pun kadang tidak memiliki hubungan yang jelas. Pendeta dituntut tidak memaksakan hubungan tematis yang tidak didukung teks. Lagi-lagi kesarjanaan pendeta diuji.
๐๐ค๐ก๐ ๐๐๐๐: ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐๐ธ๐๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ฎ๐ป?
๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ช๐ฅ๐ฆ, pembenaran oleh iman, merupakan satu pokok penting dalam Reformasi. Namun, dalam kehidupan bergereja masa kini bagaimana iman dipahami? Apakah iman tetap diberitakan dalam hubungannya dengan Allah yang membenarkan manusia, atau diukur melalui keberhasilan hidup yang dapat dilihat orang lain?
Dalam sebagian khotbah Kristen iman kerap dipautkan dengan keberhasilan usaha, kenaikan jabatan, kesembuhan, pemulihan keluarga, dan keluar dari kemelut persoalan hidup. Persoalan muncul ketika keberhasilan menjadi ukuran utama kualitas iman. Orang yang berhasil dianggap beriman kuat, sedang orang yang terus bergumul dengan penyakit, kemiskinan, atau persoalan keluarga dapat merasa bahwa imannya kurang.
Kesaksian Alkitab sendiri menyajikan orang-orang beriman yang mengalami penderitaan, kehilangan, dan ketidakpastian. Iman tidak menjadikan manusia kebal terhadap kesulitan. ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ช๐ฅ๐ฆ terutama berbicara tentang pembenaran manusia di hadapan Allah, bukan rumus untuk memastikan keberhasilan hidup.
Gereja Protestan pun perlu memeriksa isi pemberitaan firman dan pembinaan imannya. Apakah jemaat dibimbing menuju kedewasaan iman, kecermatan memahami Kitab Suci, dan kesediaan hidup dalam kesetiaan kepada Allah? Ataukah iman kadang-kadang disederhanakan menjadi kesalehan yang mudah diukur melalui keberhasilan dan kesaksian yang mengesankan? Identitas Reformed semestinya menolong Gereja menghadapi pertanyaan ini secara teologis, bukan sekadar ceramah moral yang acap dipertontonkan oleh banyak pendeta di atas mimbar.
๐๐ค๐ก๐ ๐๐ง๐๐ฉ๐๐: ๐๐ป๐๐ด๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐๐ถ?
Jika ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ช๐ฅ๐ฆ menegaskan pembenaran oleh iman, ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ข menegaskan bahwa keselamatan merupakan anugerah Allah. Keselamatan bukan sesuatu yang dapat dibeli, ditukar, atau diperoleh melalui prestasi keagamaan. Namun, dalam praktik gereja kadang muncul bahasa yang memberi kesan sebaliknya. Pemberian uang/materi disebut sebagai benih yang akan menghasilkan berkat berlipat ganda. Jumlah pemberian tertentu dikaitkan dengan terobosan finansial. Jemaat didorong memberi dengan harapan mendapat balasan yang jauh lebih besar.
Memberi uang/materi tentu merupakan bagian penting dari kehidupan iman. Gereja membutuhkan dukungan finansial, dan kemurahhatian merupakan wujud syukur. Persoalannya muncul ketika pemberian ditempatkan sebagai mekanisme untuk mengendalikan atau memastikan tindakan Allah.
Gereja protestan juga perlu menguji cara mengajarkan pemberian, pelayanan, dan kehidupan Kristen. Apakah jemaat dibimbing memberi sebagai ungkapan syukur atas anugerah, atau diberi kesan bahwa pemberian tertentu akan menghasilkan balasan ilahi? Persoalan ini tidak hanya terdapat dalam satu denominasi. Setiap tradisi gereja perlu memeriksa apakah anugerah sungguh diberitakan sebagai anugerah.
Mengakui ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ข seharusnya memengaruhi cara Gereja berkhotbah dan mendampingi jemaat, termasuk mereka yang sedang mengalami kesulitan hidup, bukan mendampingi jemaat berhura-hura dan membentuk komunitas dalam umat yg mengakibatkan kesenjangan. Dalam liturgi nasihat dan petunjuk hidup di dalam Kristus sudah tuntas dan termaktub dalam homili. Ironisnya di banyak jemaat Gereja Protestan ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฟ๐ถ๐๐๐ ๐ธ๐ผ๐น๐ฒ๐ธ๐๐ฒ masih saja penatua membaca ayat. Ini namanya ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ umat ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ๐ฌ ayat!
๐๐ค๐ก๐ช๐จ ๐พ๐๐ง๐๐จ๐ฉ๐ช๐จ: ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ณ๐ถ๐ด๐๐ฟ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป?
๐๐ฐ๐ญ๐ถ๐ด ๐๐ฉ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ถ๐ด menegaskan bahwa Kristus adalah satu-satunya pengantara keselamatan dan Pemimpin Gereja. Dalam Matius 23:8-11 Yesus mengingatkan para murid bahwa mereka semua adalah saudara, hanya satu Guru dan satu Pemimpin, serta siapa yang terbesar hendaklah menjadi pelayan. Prinsip ini menegaskan bahwa pusat iman Kristen adalah Kristus, bukan manusia yang berkhotbah, memimpin ibadah, atau mendirikan organisasi gerejawi, pusatnya Kristus bukan pemimpin gereja, jadi jangan pernah mendewakan selama itu masih manusia.
Namun, ada Gereja yang semakin lekat dengan figur pendetanya. Popularitas pengkhotbah menjadi daya tarik utama dan perkataannya hampir tidak boleh dipertanyakan. Pendeta tentu layak dihormati atas jabatan, pengetahuan, dan pelayanannya. Namun, penghormatan itu memiliki batas: jabatan gerejawi tidak menjadikan perkataannya kebal kritik, pendapatnya otomatis benar, atau dirinya lebih tinggi daripada warga jemaat lainnya di hadapan Kristus. Pendeta tetap harus bersedia dikritik dan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanannya.
Bagi Gereja Protestan persoalan ini bertalian dengan tata gerejanya. Kepemimpinan jemaat berada pada Majelis Jemaat yang bersifat kolektif-kolegial, terdiri atas pendeta dan penatua. Susunan ini sejalan dengan tradisi Reformed yang tidak menggantungkan kehidupan Gereja pada satu figur saja. Namun, struktur kolektif-kolegial tidak otomatis menjamin kepemimpinan yang teologis dan bertanggung jawab. Majelis Jemaat membutuhkan pemahaman yang baik tentang identitas gereja, kecakapan menimbang persoalan, serta keberanian menguji keputusan. Keputusan jemaat ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐ป๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐๐ผ๐ป๐ด ๐ธ๐ผ๐๐ผ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฎ๐น๐ถ๐ป๐ด ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ป๐ด ๐ฏ๐๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ฎ, keinginan pribadi, atau kecenderungan mengikuti tokoh tertentu. Tidaklah heran muncul ungkapan: ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ผ๐ป๐ฎ๐๐๐ฟ ๐ฑ๐ถ๐น๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ป๐ด๐ฎ๐๐๐ฟ!
Setiap pemimpin dipanggil untuk melayani seperti Yesus, yang peduli dan berbelarasa kepada masyarakat pinggiran. ๐๐ฐ๐ญ๐ถ๐ด ๐๐ฉ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ถ๐ด menuntut Gereja memeriksa bagaimana kepemimpinan dijalankan dan atas dasar apa keputusan diambil.
๐๐ค๐ก๐ ๐ฟ๐๐ค ๐๐ก๐ค๐ง๐๐: ๐๐ฒ๐บ๐๐น๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ?
Prinsip terakhir ๐๐ฐ๐ญ๐ช ๐๐ฆ๐ฐ ๐๐ญ๐ฐ๐ณ๐ช๐ข menegaskan bahwa segala kemuliaan hanya bagi Allah. Prinsip ini seharusnya memengaruhi cara Gereja memahami ibadah, pelayanan, dan keberhasilannya sendiri. Ibadah bukan pertunjukan yang keberhasilannya semata-mata diukur dari kemeriahan acara, banyak orang yang hadir, atau kepiawaian pengkhotbah memukau pendengar.
Musik yang baik, tata ibadah yang tertata, dan pelayanan yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dapat menolong jemaat beribadah. Persoalannya muncul ketika unsur-unsur tersebut menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Kemegahan panggung, suasana emosional, atau penampilan penyanyi dan pengkhotbah begitu menonjol sampai jemaat lebih mengingat pengalaman menghadiri acara daripada memahami apa yang dirayakan dan diberitakan.
Tradisi liturgis Reformed menawarkan cara pandang yang patut diperhatikan. Ibadah ditata melalui pembacaan Kitab Suci, pemberitaan firman, doa, nyanyian, dan sakramen. Setiap unsur berfungsi dalam keseluruhan tindakan ibadah. Tata ibadah bukan ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ธ๐ฏ yang dapat diubah sesuka hati, karena di dalamnya terdapat pemahaman teologis tentang bagaimana jemaat berhimpun di hadapan Allah.
Di sinilah Gereja Protestan perlu bercermin. Identitas Reformed tidak cukup dicantumkan dalam dokumen gereja apabila tidak membentuk praktik ibadah. Pemilihan bacaan, pemberitaan firman, penggunaan simbol, pelaksanaan sakramen, dan liturgi perlu dipahami dalam hubungan dengan teologi gereja secara presisi. Perubahan tentu dimungkinkan, tetapi perubahan membutuhkan pertimbangan teologis. Sesuatu yang baru belum tentu lebih baik, sebagaimana ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ผ๐ฝ๐๐น๐ฒ๐ฟ ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐๐ฒ๐ป๐๐ ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ.
๐ ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฅ๐ฒ๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐ผ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ?
Kelima ๐จ๐ค๐ก๐ bukan sekadar rumusan yang benar di atas kertas. Kelimanya perlu membentuk cara Gereja membaca Alkitab, memberitakan keselamatan, mendampingi jemaat, menjalankan kepemimpinan, dan menyelenggarakan ibadah. Gereja Katolik tidak mengadopsi lima ๐ด๐ฐ๐ญ๐ข sebagai rumusan pengakuannya, tetapi sejarahnya menunjukkan bahwa Gereja dapat meninjau kembali praktiknya dan melakukan pembaruan. Gereja-gereja Protestan mewarisi nama dan semangat Reformasi. Pertanyaannya, apakah kita juga mewarisi keberanian untuk mengoreksi diri?
Bagi Gereja Protestan pertanyaan itu menyentuh persoalan identitas. Gereja Protestan dapat tetap menyebut dirinya Gereja Reformed, memiliki tata gereja yang berakar pada tradisi tersebut, dan menyelenggarakan ibadah setiap Minggu. Namun, semua itu belum cukup apabila pemahaman teologis yang seharusnya membentuk kehidupan bergereja tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan. Identitas gereja tidak hidup hanya melalui nama dan dokumen, tetapi melalui cara gereja memahami firman, mengatur ibadah, menjalankan kepemimpinan, dan membina jemaat.
Sudah jelas ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ereja Protestan ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ณ๐๐ป๐ฑ๐ฎ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐น๐ถ๐, ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ธ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ธ. Kita tegaslah dalam memberantas ajaran fundamentalistik yang bergentayangan di mimbar dan pembinaan pemuda. Liturgi Gereja Protestan adalah Calvinis-Reformed, bukan gaya panggung kharismatik.
Reformasi bukan alasan untuk menganggap diri sudah benar sejak awal. Semangat Reformasi mengundang Gereja untuk terus menguji diri di hadapan firman Allah. Untuk itulah saban 31 Oktober kita perlu bertanya: apakah yang kita rayakan hanya peristiwa pada abad ke-16 atau kesediaan untuk terus memeriksa kehidupan bergereja pada masa kini?
Jangan-jangan yang perlu direformasi justru cara kita merayakan Reformasi? Semboyan ๐๐ค๐ค๐ญ๐ฆ๐ด๐ช๐ข ๐ณ๐ฆ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ ๐ณ๐ฆ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข dari Jodocus van Lodenstein tidak akan pernah terjadi, jika para pejabat gerejawi tak mau menggawaikan daun telinga.
(30102026)(TUS)