Selasa, 24 Maret 2026

Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka

Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka

PENGANTAR
Untuk lebih memahami Minggu Palma dan Minggu sengsara tentang ketidak teguhkan manusia, suka tidak konsisten dan berbalik arah, coba kita lihat beberapa peristiwa politik negeri ini, dahulu kala untuk bisa lebih paham, Rizal Ramli (RR) diangkat menjadi Menko Kemaritiman oleh Jokowi pada 12 Agustus 2015. RR langsung menggebrak setelah dilantik yang menimbulkan kegaduhan. Ia juga memuja-muji Jokowi. Ia mengatakan bahwa bosnya adalah Jokowi dan ia hanya tunduk kepada Jokowi. Pada 27 Juli 2016 RR dicopot dari kursi menteri. Komentarnya berbalik arah. Apa pun yang dilakukan oleh pemerintah selalu dicelanya sejak hari pemecatannya sampai sekarang. Sudirman Said (SS) dilantik menjadi Menteri ESDM oleh Jokowi pada 27 Oktober 2014. Setelah pelantikan SS mengatakan bahwa ia akan mengembalikan kepercayaan publik pada Kementerian ESDM dengan mengelola kementerian secara profesional dan transparan. Ia memuji Jokowi sebagai pemimpin yang mengedepankan kemaslahatan dan keadilan bagi masyarakat. Dalam masa jabatannya ia membongkar kasus “Papa minta saham”. Pada 27 Juli 2016 SS dicopot dari kursi menteri. Ia langsung berbalik arah. Celaan SS kepada pemerintah secara terang-terangan disampaikannya ketika ia bertarung dalam Pilgub Jawa Tengah 2018. Celaan SS berlanjut pada musim Pilpres 2019, yang ia diangkat menjadi anggota tim penasihat Capres Prabowo Subianto.
Dari gambaran di atas orang begitu mudah berbalik mencela dan melawan pihak yang tidak sesuai dengan keinginan dan seleranya, meski sebelumnya ia memuja-muji.

PEMAHAMAN 
Minggu ini 29 Maret 2026, menampung dua peristiwa yang berkesinambungan: Minggu Palma (Liturgy of the Palms) dan Minggu Sengsara (Liturgy of the Passion). Untuk itu bacaan Injil secara ekumenis cukup panjang yang diambil dari Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 sehingga total 139 ayat.
Bacaan diawali kisah penyambutan luar biasa kepada Yesus oleh orang-orang di Yerusalem. Saat itu banyak orang berdatangan ke Yerusalem untuk merayakan Paska Yahudi, suatu peringatan kebebasan nenek moyang mereka atas cengkeraman Mesir. Menurut sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, bisa ada sampai tiga juta orang terhimpun di Yerusalem pada perayaan Paska (Jewish War, 6.420-427; 2.280). Sejumlah pakar meragukan angka yang diajukan oleh Yosefus. Dugaan mereka sekitar 300 ribu sampai 400 ribu orang. Dengan ratusan ribu orang Yahudi berhimpun di Yerusalem sudah membuat pasukan Romawi kelabakan dalam mengatur ketertiban. Mengapa tentara Romawi perlu berjaga? Yosefus melaporkan sedikitnya sudah pernah terjadi dua kerusuhan massal yang besar pada masa perayaan Paska Yahudi: pada  4 SZB (Jewish War 2.10-13; Jewish Antiquities 17.204) dan pada masa Ventidius Cumanus memerintah wilayah Palestina (48-52 ZB) (Jewish War 2.224; Jewish Antiquities 20.106-112).
Yesus datang ke Yerusalem dengan naik keledai betina. Disebut dalam teks ‘orang  yang sangat besar jumlahnya’ menyambut kedatangan-Nya dengan menghamparkan pakaian mereka di jalan yang dilalui Yesus. Ada juga yang memotong ranting-ranting dari pohon dan menyebarkan di jalan.  Perayaan ini jelas selalu membangkitkan nasionalisme dan patriotisme mereka, suatu perayaan yang berbahaya bagi keamanan, ketertiban, dan stabilitas masyarakat yang harus dijaga dan dipertahankan oleh Roma. Pada masa kini umat membawa setangkai daun palem sebagai simbol penyambutan dalam Minggu Palma ini. Sastra pembalikan di Alkitab mulai dimainkannpenulis injil. Bacaan selanjutnya terjadi pembalikan. Yudas mengkhianati Yesus. Petrus yang dikenal sebagai murid garis keras justru menyangkal Yesus di hadapan para perempuan. Yesus ditangkap dan diadili oleh Walinegeri Pontius Pilatus. Pilatus tak menemukan kesalahan, tetapi ia tak mau membangkitkan kegaduhan. Diajukanlah Barabas. Pilatus mengajukan siapa yang dipilih untuk dibebaskan dalam hari raya Paska: Yesus atau Barabas. Khalayak berteriak: Barabas! Yesus dihukum mati di tiang salib.
Di atas tiang salib di Golgota Yesus dihujat dan diolok-olok oleh orang-orang yang lewat. Yesus dihukum mati dengan tuduhan subversif. Untuk itulah di kepala salib ditulis: Yesus dari Nasaret raja orang Yahudi (INRI - Iēsus Nazarēnus, Rēx Iūdaeōrum). Dalam teks tidak ada murid Yesus. Mereka kocar-kacir ketakutan. Mereka tercatat di dalam teks saat Yesus disalib adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Para murid laki-laki yang sangat berharap Yesus menjadi Raja Yahudi seperti yang mereka saksikan dalam euforia sambutan ribuan orang ternyata tak berdaya dan dihukum mati. Mereka bersembunyi dan takut ditangkap dengan tuduhan subversif seperti yang didakwakan kepada Yesus. Surat rasuli yang mengawali bacaan Injil Matius Minggu ini diambil dari Filipi 2:5-11. Dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa gereja hendaknya dalam hidup bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga di dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (ay. 5-7). Di sini rupanya gereja tidak boleh mengedepankan ego, tidak menyadari bahwa gereja adalah hamba Kerajaan Allah. Gereja merasa diri superior yang tidak mau tunduk dengan kehidupan yg pro Allah, norma kemanusiaan, aturan dan etika masyarakat, serta kepentingan hidup kemanusiaan, seperti sorak sorai para pemimpin gereja yang memberkati Donald Thrump yang menyatakan perang dan ngebom Iran, yang seharusnya gereja menempatkan keselamatan manusia di atas segalanya, malah berbalik melakukan sebaliknya. Gereja yang hakikatnya menjalankan misi Kerajaan Allah malah menjadi gereja penyebar kematian bagi manusia. Gereja harus kontra kematian dan pro kehidupan, gereja harusnya menentang segala tindakan merusak alam menyebabkan alam menjadi pembunuh masal manusia, gereja harusnya mendukung segala tindakan melindungi alam yang membuat alam melindungi manusia. Allah setia pada janji-Nya dan memberikan sesuai dengan waktu-Nya. Kesetiaan Allah kepada kita seharusnya mendorong kita juga setia kepada-Nya. Dalam memenuhi janji-Nya, alam semesta turut terlibat. Kegelapan yang menutupi bumi dan juga gempa adalah contohnya. Catatan ini menunjukkan bahwa karya keselamatan
tidak hanya ditujukan bagi manusia tetapi juga bagi alam semesta. Keterlibatan kita sebagai wujud iman kepada Yesus membuat alam tak lagi berduka. 
(24032026)(TUS)


Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Injil Matius 21:1-11 Minggu Palem dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺/Sengsara, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗚𝗲𝗺𝗽𝗮𝗿𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗶𝘁𝘂

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Injil Matius 21:1-11 Minggu Palem dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺/Sengsara, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗚𝗲𝗺𝗽𝗮𝗿𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗶𝘁𝘂

PENGANTAR 
Minggu 29 Maret 2026, Minggu ini adalah Minggu VI masa Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯). Secara tradisi ibadah gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat dengan merujuk Yohanes 12:13.


PEMAHAMAN
Bacaan Alkitab secara ekumenis untuk Minggu Palem diambil dari Injil Matius 21:1-11 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29, sedang bacaan untuk Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66, secara RCL tapi di buku masa prapaskah paskah 2026 GKJ GKI sw Jateng mengirisnya menjadi Matus 27:11-54, yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.
Bacaan Injil untuk Minggu Palem (Mat. 21:1-11) diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. Adegan ini menjadi episode peralihan penting. Perjalanan panjang Yesus dan murid-murid-Nya menuju Yerusalem (lih. Mat. 16:21, 19:1) berakhir di sini kemudian beralih ke puncak konflik dengan para pembenci-Nya di Yerusalem. Paruh pertama cerita mengenai Yesus dan murid-murid-Nya mendekati Yerusalem (ay. 1-7) berlangsung lancar berpindah ke paruh kedua tentang Yesus yang disambut banyak orang di Yerusalem (ay. 8-11).

Konteks terdekat dari Matius 21:1-11 sebagai berikut:
➡️ Permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes; Bukan memerintah melainkan melayani (Mat. 20:20-28).
➡️ Yesus menyembuhkan dua orang buta (20:29-34).
➡️ Yesus dielu-elukan di Yerusalem (21:1-11).
➡️ Yesus menyucikan Bait Allah (21:12-17).
➡️ Yesus mengutuk pohon ara (21:18-22).
➡️ Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (21:23-27).

Dalam enam perikop itu ada tema dasar atau benang merah, yaitu tentang bagaimana Yesus sebagai 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 atau 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘪𝘬 memerintah dan akan memerintah (eskatologis).

𝗣𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (Mat. 21:1-7)

Adegan diawali Yesus berada di Betfage, Bukit Zaitun. Letak Kampung Betfage sampai sekarang tidak diketahui. Betfage berarti 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢. Yesus menyuruh dua orang murid-Nya, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘵𝘪𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”

Hal itu dikatakan Yesus agar digenapi firman yang disampaikan oleh nabi. Nabi siapa? Nabi Zakharia. Matius memang suka mengutip kitab-kitab Yahudi atau Perjanjian Lama (PL). Hanya di dalam teks Injil Matius disebut dua ekor keledai (induk dan anaknya). Padahal Injil Markus yang lebih tua menyebut satu ekor dan kitab Zakharia 9:9 yang melatarbelakangi ayat itu disebut seekor saja.

𝘉𝘦𝘳𝘴𝘰𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘚𝘪𝘰𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘰𝘳𝘢𝘬-𝘴𝘰𝘳𝘢𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘩𝘢𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮! 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘫𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪, 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘵𝘪𝘯𝘢. (Zak. 9:9, TB II 2023)

Putri Sion di atas adalah metafor untuk penduduk Yerusalem. Mengapa Matius sengaja mengubah jumlah keledai dari satu menjadi dua? Mengapa Matius tidak mengikuti jumlah keledai dari sumber ceritanya (Markus: satu ekor) dan bahkan tidak mengikuti nubuatan Zakharia 9:9 (satu ekor)? Apakah Matius salah baca Zakharia 9:9?

Ada ahli yang berpendapat bahwa Matius salah baca kitab Zakharia 9:9 karena ia kurang mengenal pola puitis kesejajaran sinonim, yaitu apa yang sudah dikatakan di bagian pertama akan diulangi di bagian kedua dengan kata-kata yang berbeda untuk memerkaya makna yang sudah dikatakan di bagian pertama.

Tampaknya bukan itu. Demi menyampaikan gagasan Matius tidak segan-segan untuk memodifikasi bahan-bahannya, baik bahan dari tradisi lisan maupun bahan dari tradisi tulisan. Untuk memerkuat argumen ini kita dapat melihat pengarang Injil Matius mengubah teks PL Mikha 5:1 dalam Matius 2:6.

𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮 𝘌𝘧𝘳𝘢𝘵𝘢, 𝙝𝙖𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶𝘮-𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶, 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶. (Mik. 5:1, TB II 2023)

Bandingkan.

𝘋𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮, 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞-𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘢𝘵-𝘒𝘶 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭. (Mat. 2:6, TB II 2023)

Pertanyaan selanjutnya, jika Matius sengaja mengubah satu keledai menjadi dua keledai, apa maksud atau pesannya?

Pertama, hal yang barangkali perlu dipertimbangkan adalah kesukaan Matius pada angka atau nilai 𝗱𝘂𝗮. Contoh-contohnya:
➡️ Anak-anak yang dibunuh Herodes adalah mereka yang berumur 𝗱𝘂𝗮 tahun ke bawah (2:16).
➡️ Murid-murid pertama Yesus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (4:18).
➡️ Nelayan yang dipanggil Yesus untuk menjadi murid-Nya adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara juga (4:21).
➡️ Ajaran Yesus: jika ada yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh 𝗱𝘂𝗮 mil! (5:41)
➡️ Di Gadara bukan hanya satu orang yang dirasuk setan, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang (8:28).
➡️Di perjalanan-Nya Yesus menyembuhkan mata 𝗱𝘂𝗮 orang buta (9:27).
➡️ Jika ada suatu perkara, jumlah saksi minimum adalah 𝗱𝘂𝗮 orang (18:16).
➡️ Yesus berjanji akan hadir jika ada minimum 𝗱𝘂𝗮 orang berkumpul dalam nama-Nya (18:20).
➡️ Murid-murid Yesus yang meminta tempat khusus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (20:20).
➡️ Ketika keluar dari Yerikho, bukan hanya satu, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang buta yang disembuhkan Yesus (20:34).
➡️ Ada 𝗱𝘂𝗮 murid yang disuruh menemukan 𝗱𝘂𝗮 keledai (21:1).
➡️ Mahkamah Agama bahkan membutuhkan kesaksian palsu yang konsisten minimum dari 𝗱𝘂𝗮 orang saksi (26:60).
➡️ Yesus disalibkan bersama dengan 𝗱𝘂𝗮 orang penyamun (27:38).

Kedua, alasan Matius yang lebih spesifik justru tampak pada Zakharia 9:9 dan modifikasinya. Sesudah membaca Zakharia 9:9, tampaknya Matius mendapat gagasan tentang 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, lalu ia memodifikasi keledainya agar lebih sesuai dengan gagasannya mengenai raja mesianik yang lemah lembut. Simbol kelemahlembutan Sang Raja itu bukan hanya keledai (versus kuda), tetapi lebih daripada itu: keledai perempuan (ibu) dan anak keledai jantan yang tidak dipisahkan dari ibunya. Jadi, simbol dua keledai itu tampaknya dianggap lebih bermakna daripada simbol satu keledai saja.

Dua murid itu pergi ke kampung di depannya dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya.

𝗠𝗲𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸𝗶 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (Mat. 21:8-11)

Perjalanan menuju Yerusalem dimula. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan untuk menghormati Yesus sebagai 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘪𝘬. Hal serupa dilakukan terhadap Yehu pada hari ia diurapi menjadi raja (2Raj. 9:13).

Ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Hal semacam ini biasa dilakukan pada hari ketujuh pesta Pondok Daun, tetapi juga dalam beberapa kesempatan lain (lih. Mzm. 118:27; 1Mak. 13:51; 2Mak. 10:7). Hanya dalam Injil Yohanes disebut khalayak menyongsong Yesus dengan daun palem (Yoh. 12:13).

Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, "𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥, 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘩𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪!" 

Siapakah orang banyak yang berjalan di depan dan di belakang Yesus? Besar kemungkinan mereka adalah para peziarah yang mengikuti rombongan Yesus. Mereka bukan penduduk Yerusalem. Hosana merupakan sorak Ibrani hosyiana yang berarti 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 (Mzm. 118:25). Di masa gereja perdana hosana digunakan sebagai sorak pujian dalam liturgi. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 adalah gelar mesianik (lih. Mat. 1:1; 9:27; 15:22). Matius menegaskan lagi Yesus adalah Juruselamat yang pernah dijanjikan kepada Raja Daud.

Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata, "𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪?" Orang banyak itu menyahut, "𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘕𝘢𝘻𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘪 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢." (ay. 10-11)

Matius menggunakan kata 𝘨𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳 (𝘦𝘴𝘦𝘪𝘴𝘵𝘩𝘦̄) yang biasanya untuk topan atau gempa bumi (Mat. 8: 24; 27:51; 28:4). Di sini tampaknya penginjil Matius hendak memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) keriuhan kota yang amat sangat menyambut kedatangan Yesus, Raja Mesianik.

Mengapa Matius memunculkan istilah nabi? Padahal sejak awal Injil Matius dikatakan bahwa Yesus adalah raja, anak Daud, anak Abraham. Mengenakan gelar nabi kepada Yesus malah merendahkan-Nya, tetapi Matius perlu memunculkannya dengan keluar dari mulut 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 (𝘰𝘤𝘩𝘭𝘰𝘪).

Matius memunculkannya di sini tampaknya berpautan dengan penolakan dan pembunuhan terhadap Yesus yang akan segera terjadi di Yerusalem. Ada tertulis "𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮, 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘯𝘢𝘣𝘪-𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢! 𝘉𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬 𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶.” (Mat. 23:37, TB II 2023). Jadi, Yesus bukan hanya nabi yang ditolak di kota asalnya, Nazaret (Mat. 13:57), melainkan juga nabi yang ditolak di kota yang menjadi tujuan pengutusan-Nya, Yerusalem (23:37).

Apabila kita meneruskan bacaan untuk Minggu Sengsara Injil Matius 26:14-27:66 kita akan menemui lagi perkataan dari 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 (𝘰𝘤𝘩𝘭𝘰𝘪) yang dihasut oleh imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi (Mat. 27:20-26). Orang banyak itu berteriak “𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯” (Mat.27:23). Ketika Pilatus mengatakan, “𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 (maksudnya Yesus)”, orang banyak itu tanpa berpikir panjang mengatakan bahwa darah Yesus biarlah ditanggungkan kepada mereka dan keturunan mereka (Mat. 27:25-26). Maksudnya, meskipun membunuh itu kejahatan besar, mereka mau menanggungnya. Gila 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?

Orang banyak saat ini ibarat kasus zaman dahulu kala, PDIP yang mengusung Jokowi, “𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘥𝘦𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪!” Jokowi kemudian membuat projek tuan rumah Piala Dunia U20. Presiden FIFA Gianni Infantino pun bersuka atas antusias Jokowi. Belakangan PDIP menolak kehadiran Tim Israel U20. Menolak tim peserta berarti menolak FIFA. FIFA akhirnya membatalkan hak Indonesia menjadi tuan rumah dan segera akan menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Media luar negeri menyoroti alasan keputusan FIFA itu karena Indonesia negara rasis. Risiko kerusakan itu jelas PDIP tidak ambil pusing karena yang penting, “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘑𝘰𝘬𝘰𝘸𝘪!”
Gemparlah seluruh masyarakat sepakbola Indonesia (bergurau yah ..... Xi ... Xi)

(02042023)(TUS)

Sudut Pandang 3 hari 3 malam

Sudut Pandang 3 hari 3 malam

PENGANTAR 
Geli melihat beberapa apologet picisan yg mengubah Jumat Agung menjadi Rabu Agung oleh karena tidak percaya diri dengan pemahaman 3 hari 3 malam seharusnya 72 Jam, bearti Yesus meninggalnya Rabu bukan Jumat. Bahkan ada denominasi yg menetapkan Yesus meninggal di hari Rabu bukan Jumat. Koplaxz

PEMAHAMAN 
Kebangkitan Kristus selama "3 hari 3 malam" dalam Matius 12:40 sering memicu perdebatan karena tidak secara harfiah mencapai 72 jam, melainkan mencakup periode inklusif dari Jumat sore hingga Minggu pagi menurut tradisi Yahudi.[1][2]

## Analisis Bahasa

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, frasa *treis hēmeras kai treis nyktas* (tiga hari dan tiga malam) di Matius 12:40 mengadaptasi idiom Ibrani dari Yunus 1:17, di mana *yom* (Ibrani untuk "hari") fleksibel: bisa literal 24 jam atau inklusif sebagian hari dihitung penuh.[3][4]
Perhitungan Yahudi abad pertama menggunakan "reckoning inklusif" (bagian hari = hari penuh), seperti dalam 1 Samuel 30:12-13, sehingga Jumat (bagian), Sabtu (penuh), Minggu (bagian) = 3 hari 3 malam tanpa memerlukan 72 jam tepat.[5][2][1]
Ini bukan kontradiksi, melainkan konvensi sastra Semitik yang menekankan urutan kalender daripada kronometer modern.[6]

## Kaitan dengan Kejadian 1

Penciptaan di Kejadian 1 mendefinisikan hari sebagai *erev wəboqer* (gelap/erev lalu terang/boqer), seperti "ada petang lalu ada pagi, hari ketiga" (Kej. 1:13), menandai siklus lengkap dengan 3 gelap-terang pertama (hari 1-3).[7][3][8]
Frasa "3 kali gelap 3 kali terang" paralel dengan "3 hari 3 malam" kebangkitan, di mana malam (gelap) dan hari (terang) membentuk unit inklusif, mencerminkan ritme kosmik Tuhan yang menekankan transformasi (kematian-gelap ke kebangkitan-terang).[9][10]
Secara sastra, ini menghubungkan tipologi: Yunus di "perut bumi" (gelap) seperti Adam di ciptaan awal, tapi Kristus membalikkan kutuk dengan kebangkitan pada "hari pertama minggu" (Yoh. 20:1), mirip "hari pertama" ciptaan.[11]

## Dimensi Budaya Yahudi

Dalam budaya Yahudi, "tiga hari" idiom kematian-lengkap-kehidupan baru (Hoshea 6:2), terkait Pesakh (14-17 Nisan): salib Preparation Day (Jumat, 15 Nisan), Sabat, bangkit 17 Nisan sebagai Bikkurim (tuaian sulung).[12][13]
Perhitungan non-literal ini umum di Talmud dan literatur rabinik, di mana Passover menekankan penebusan simbolis daripada jam tepat, menghindari tuduhan palsu nabi (Mat. 27:63).[14][1]
Konteks Indonesia-Protestan dapat lihat ini sebagai apologetik: bukan inkonsistensi, tapi kedalaman budaya yang memperkaya iman tanpa literalisme kaku.[5]

Kutipan:
[1] Jewish idiom for "three days and nights" https://pastors.ai/bible/verse/jewish-idiom-for-three-days-and-nights/
[2] If Jesus parallels his time in the tomb to Jonah's “three days ... https://biblehub.com/q/how_is_friday-sunday_72_hours_like_jonah.htm
[3] Does Genesis chapter 1 mean literal 24-hour days? - Got Questions https://www.gotquestions.org/Genesis-days.html
[4] BIANGLALA HAYYOM: Beberapa Catatan &Penjelasan tentang Hēmera dalam ... https://bianglalahayyom.blogspot.com/2024/06/beberapa-catatan-tentang-hemera-dalam.html
[5] Apakah Yesus Wafat Rabu, Bangkit Sabtu? Bagian 2 https://www.pastordepan.com/wafat-rabu-bangkit-sabtu-bagian-2/
[6] 3 hari 3 malam - Hakadosh - WordPress.com https://hakadosh.wordpress.com/2010/01/27/3-hari-3-malam/
[7] Genesis 1:13 - The Third Day - Bible Hub https://biblehub.com/genesis/1-13.htm
[8] Genesis creation narrative - Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Genesis_creation_narrative
[9] Kontradiksi Alkitab: Masalah 3 hari dan 3 malam - Vigi-Sectes https://vigi-sectes.org/kontradiksi-alkitab-masalah-3-hari-dan-3-malam/
[10] What Can You Tell Me About the Hebrew Word for Day (Yom) Used ... https://www.epm.org/resources/2010/Feb/22/what-can-you-tell-me-about-hebrew-word-day-yom-use/
[11] The Hebrew Idiom Behind The Resurrection Day https://www.torahtimes.org/articles/hebrew_idiom.html
[12] Yom HaBikkurim – Kebangkitan YESUS sebagai Tuaian Pertama https://harituhan.wordpress.com/2020/04/10/yom-habikkurim-kebangkitan-yesus-sebagai-tuaian-pertama/
[13] Paskah Yahudi dan Kristen https://id.scribd.com/document/926124046/Paskah-Yahudi-dan-Kristen
[14] Matius 12:40 - Tafsiran/Catatan - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=40&chapter=12&verse=40
[15] Matius 12:40 (BIMK) - Yunus tinggal tiga hari tiga malam - Bible.com https://www.bible.com/id/bible/27/MAT.12.40.BIMK
[16] Yom Ha'atzma'ut – Hari Kemerdekaan - Hari TUHAN https://harituhan.wordpress.com/2022/05/03/yom-haatzmaut-hari-kemerdekaan/
[17] Matthew 12:40 - For as Jonah was three days and three nights in th... https://www.biblestudytools.com/matthew/12-40.html
[18] After Three Days https://translation.bible/wp-content/uploads/2024/06/clark-1979-after-three-days.pdf
[19] "3 Days & 3 Nights" or "On the 3rd Day"?? https://www.youtube.com/watch?v=qjbiKsCo3Vo
tolong kaitkan dg bahasa asli Alkitab tentang hari dan terang

Dalam bahasa asli Alkitab, konsep "hari" dan "terang" saling terkait erat, terutama melalui pola *erev-boqer* (petang-pagi) di Kejadian 1 yang menjadi dasar pemahaman inklusif untuk "3 hari 3 malam" kebangkitan Kristus.[1][4]

## Bahasa Ibrani di Kejadian 1

Kata Ibrani *yôm* (יום) untuk "hari" didefinisikan oleh siklus *wayəhî-‘ereḇ wayəhî-ḇōqer* ("jadilah petang, jadilah pagi"), di mana *‘ereḇ* (gelap/malam) mendahului *ḇōqer* (terang/pagi), membentuk unit hari pertama hingga ketiga sebelum matahari diciptakan (Kej. 1:5, 8, 13).[4][5][8]
Terang (*’ôr*) dipisahkan dari gelap (*ḥōšeḵ*) pada ayat 4-5, dengan Allah menamai terang "siang" (*yôm*) dan gelap "malam" (*laylâ*), menciptakan ritme 3 gelap-3 terang sebagai fondasi kosmik yang tidak bergantung pada jam literal 12+12.[1][2][11]
Struktur ini paralel dengan idiom Semitik di Yunus 1:17 (*šəlōšâ yāmîm wəšəlōšâ lāylôṯ*, tiga hari tiga malam), yang diadopsi Matius 12:40 sebagai *treis hēmeras kai treis nyktas* dalam Yunani Koine.[6]

## Kaitan dengan Kebangkitan Kristus

Dalam Perjanjian Baru, *hēmera* (Yunani untuk *yôm*) mewarisi fleksibilitas Ibrani: inklusif sebagian hari penuh (Jumat sore-gelap, Sabtu penuh-gelap-terang, Minggu pagi-terang), memenuhi "3 hari 3 malam" tanpa 72 jam kronologis.[9][6][12]
Tipologi sastra menghubungkan penciptaan (terang mengalahkan gelap di hari 1-3) dengan kebangkitan (Kristus sebagai "terang dunia" Yoh. 8:12, bangkit hari pertama minggu, membalik kutuk maut-gelap Adam).[13][14]
Budaya Yahudi menegaskan ini sebagai idiom kualitatif (transformasi kematian-kehidupan, Hos. 6:2), bukan kuantitatif, memperkaya eksegesis Protestan Indonesia dengan kedalaman linguistik Alkitabiah.[15][16]

Kutipan:
[1] Enam Hari Penciptaan dalam Kejadian | PDF | Sains & Matematika https://id.scribd.com/doc/136422803/Doc1-gggggggggggg
[2] Kejadian 1:1-16 Bagikan https://www.bible.com/id/bible/compare/GEN.1.1-16
[3] Arti Hari dalam Kitab Kejadian Halaman 1 https://www.kompasiana.com/stephenwalangare/5706856960afbd4f09225bca/arti-hari-dalam-kitab-kejadian
[4] Kejadian 1:4-5 - Tafsiran/Catatan https://www.alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Kejadian+1%3A4-5
[5] "TERANG" DALAM KEJADIAN 1:3 https://sabdaspace.org/terang_dalam_kejadian_1_3
[6] Hari https://www.jw.org/id/perpustakaan/buku/Pemahaman-Alkitab/Hari/
[7] Kejadian 1:5 - Tafsiran/Catatan https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=1&chapter=1&verse=5
[8] Bagaimana sudah ada terang cahaya pada hari pertama ... https://www.gotquestions.org/Indonesia/adterang-di-hari-pertama.html
[9] Kontradiksi Alkitab: Masalah 3 hari dan 3 malam https://vigi-sectes.org/kontradiksi-alkitab-masalah-3-hari-dan-3-malam/
[10] Kejadian 1 - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Kejadian_1
[11] Genesis 1:13 - The Third Day - Bible Hub https://biblehub.com/genesis/1-13.htm
[12] BIANGLALA HAYYOM: Beberapa Catatan &Penjelasan tentang Hēmera dalam ... https://bianglalahayyom.blogspot.com/2024/06/beberapa-catatan-tentang-hemera-dalam.html
[13] The Hebrew Idiom Behind The Resurrection Day https://www.torahtimes.org/articles/hebrew_idiom.html
[14] What Can You Tell Me About the Hebrew Word for Day (Yom) Used ... https://www.epm.org/resources/2010/Feb/22/what-can-you-tell-me-about-hebrew-word-day-yom-use/
[15] Jewish idiom for "three days and nights" https://pastors.ai/bible/verse/jewish-idiom-for-three-days-and-nights/
[16] Matius 12:40 - Tafsiran/Catatan - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=40&chapter=12&verse=40
Apa arti yom dalam konteks Kejadian 1 secara teologi

Dalam konteks Kejadian 1, kata Ibrani *yôm* (יום) secara teologis merujuk pada periode waktu yang terstruktur sebagai unit fungsional ciptaan Tuhan, ditandai oleh siklus *erev-boqer* (petang-pagi), yang menekankan kedaulatan Allah atas waktu dan kosmos.[1][2]

## Makna Linguistik *Yôm*

*Yôm* memiliki fleksibilitas semantik: bisa berarti 24 jam literal (dengan "petang dan pagi"), periode tak tentu, atau kerangka sastra, tapi di Kejadian 1:5-2:2, konteksnya jelas menunjuk unit paralel dengan ritme hari Yahudi, di mana hari 1-3 (sebelum matahari, Kej. 1:14-19) mendefinisikan waktu ilahi independen dari astronomi.[1][4][6]
Penggunaan *yôm* dengan angka ordinal (yôm eḥāḏ, "hari pertama") 410 kali di PL selalu literal, memperkuat interpretasi teologis sebagai hari normal yang menormalisasi ciptaan.[1][8]
Secara sastra, refren "jadilah petang, jadilah pagi, yôm..." membingkai teologi: Tuhan memerintah gelap-terang sebagai satu kesatuan, bukan kronometer modern.[2][7]

## Implikasi Teologis

Teologis, *yôm* di Kejadian 1 menyatakan pola prototipe: Allah memisahkan terang (*’ôr*) dari gelap (*ḥōšeḵ*, Kej. 1:4-5), menamai siang *yôm* dan malam *laylâ*, mencerminkan pemisahan kudus (suci/profane) yang eschatologis—ciptaan menuju Shabbat (hari ke-7).[9][10]
Hubungan dengan kebangkitan Kristus (3 *yômîm* inklusif, Matius 12:40): *yôm* bukan 72 jam kaku, tapi transformasi ritmis (kematian-gelap ke kehidupan-terang), menggemakan 3 hari ciptaan awal sebagai tipologi baru penciptaan.[1][11]
Bagi perspektif Protestan Indonesia, ini apologetik: literalisme kontekstual menjaga integritas Alkitab tanpa kontradiksi sains, menyoroti Tuhan sebagai Pengatur waktu.[2][6]

Kutipan:
[1] Apakah Kejadian pasal 1 merupakan 24 jam sehari secara harafiah? https://www.gotquestions.org/Indonesia/hari-24-jam.html
[2] Arti Hari dalam Kitab Kejadian Halaman 1 https://www.kompasiana.com/stephenwalangare/5706856960afbd4f09225bca/arti-hari-dalam-kitab-kejadian
[3] Analisis Arti Kata Yom -YEHWAH (Zefanya 1:14) - FRANKY BAGANU http://frankybaganu.blogspot.com/2011/07/analisis-arti-kata-yom-yehwah-zefanya.html
[4] HARI PENCIPTAAN - ROTI HIDUP https://rotihidup.org/hari-penciptaan/
[5] [PDF] Makna Kata Hari (Yom) Dalam Ayub 3:1-10 - STT Sriwijaya https://sttsriwijaya.ac.id/e-journal/index.php/mitra_sriwijaya/article/download/67/98
[6] Apa arti hari di dalam kisah penciptaan? | REC https://rec.or.id/apa-arti-hari-di-dalam-kisah-penciptaan/
[7] “YOM” - Free Bible Commentary http://www.freebiblecommentary.org/special_topics/ind/First%20draft%20samples/YOM.htm
[8] Kej 1:1-23 - Tafsiran/Catatan - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Kej+1%3A1-23
[9] Kejadian 1:4-5 - Tafsiran/Catatan https://www.alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Kejadian+1%3A4-5
[10] "TERANG" DALAM KEJADIAN 1:3 https://sabdaspace.org/terang_dalam_kejadian_1_3
[11] Kontradiksi Alkitab: Masalah 3 hari dan 3 malam https://vigi-sectes.org/kontradiksi-alkitab-masalah-3-hari-dan-3-malam/

Singkatnya, secara sastra simbolik Alkitab, 3 hari 3 malam dimaknai sebagai 3 gelap dan 3 Terang secara bergantian, sebuah sastra sarat makna bahwa terang ilahi itu yg mengubah kematian atau kegelapan menjadi kehidupan atau terang,vdan jalan hidup akan penuh pergumulan akan gelap terang, Kristus setia dalam pergumulan itu, gelap pertama muncul ketiga gempa dan gerhana muncul, terang pertama terjadi setelah gempa dan gerhana lewat, gelap kedua terjadi saat petang setelah kematian Yesus, terang kedua pada jam 06.00 pagi hari berikutnya/sabtu, gelap ketiga terjadi pada Sabtu petang/18.00 Sabtu, dan terang ketiga saat Yesus bangkit, subuh di hari Minggu, harus diketahui pada zaman itu pergantian hari bukan pada jam 00.00 wib, tetapi pada jam 05.00-06.00 sampai 17.00-18.00 ukuran waktu sekarang, lebih dilihat pada terjadinya perubahan gelap terang pada satu hari.

Senin, 23 Maret 2026

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿𝗸𝗮𝗵 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗵𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗿𝗼𝘁𝗲𝘀𝘁𝗮𝗻?

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿𝗸𝗮𝗵 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗵𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗿𝗼𝘁𝗲𝘀𝘁𝗮𝗻?

PENGANTAR 
Kita mungkin harus mengerti lebih banyak tentang liturgi ketika menganggap khotbah sebagai mahkota liturgi


PEMAHAMAN 
Ada banyak pendapat di kalangan Protestan bahwa khotbah adalah mahkota liturgi. Pendapat ini sering diulang, bahkan oleh para pendeta. Ini sungguh menggelikan, mereka justru tidak membuatnya menjadi mahkota, tidak menghadirkan kebaruan pemberitaan, melainkan sekadar memindahkan bahan katekisasi ke mimbar.

Kembali ke pertanyaan: benarkah khotbah adalah mahkota liturgi?

Dalam tata ibadah Gereja di Geneva yang disusun oleh John Calvin, khotbah memang penting, tetapi 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗶𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶𝗮𝗻. Ibadah selalu bergerak dalam satu rangkaian:
▶️ Doa pembukaan 
▶️ Pengakuan dosa 
▶️ Nyanyian Mazmur 
▶️ Pembacaan Kitab Suci 
▶️ Khotbah 
▶️ Doa syafaat 
▶️ Pengakuan iman 
▶️ Berkat 

Struktur ini menunjukkan sesuatu yang sangat jelas: 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶. Bahkan Calvin sangat menekankan pembacaan Kitab Suci secara berurutan (𝘭𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘢). Artinya umat mendengar Sabda 𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗦𝘂𝗰𝗶, bukan hanya dari penjelasan pengkhotbah.

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮: 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻!

Gereja sejati menurut Calvin dikenali dari dua hal:
1️⃣ Firman diberitakan dengan benar 
2️⃣ Sakramen dilayankan dengan benar 

Ini berarti 𝗙𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝗽𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻. Dalam praktik di Geneva Perjamuan Kudus (PK) sebenarnya dimaksudkan dirayakan lebih sering, bahkan idealnya saban Minggu. Namun, karena keputusan Dewan Kota, frekuensinya dibatasi menjadi empat kali setahun. Artinya, secara teologis Calvin tidak pernah membayangkan ibadah yang hanya berpusat pada khotbah.
[Contoh untuk di GKI menurut Tager PK dilakukan sekurang-kurangnya empat kali setahun. Dalam praktik frekuensi ini menjadi batas tetap.]

Lantas dari mana muncul pakem “khotbah adalah mahkota liturgi”?

Fenomena ini berkembang jauh kemudian, terutama dipengaruhi oleh:
▶️ gerakan kebangunan rohani abad ke-18 
▶️ budaya ceramah publik abad ke-19 
▶️ 𝘳𝘦𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 

Dalam konteks itu mimbar menjadi pusat dan ibadah perlahan berubah menyerupai ceramah rohani. Reformasi tidak pernah mengganti liturgi dengan ceramah. Reformasi menempatkan khotbah 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶.

Di Geneva pada zaman Calvin jemaat justru 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗮𝗻𝘆𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘇𝗺𝘂𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵. Bersama rekan-rekannya Calvin menyusun Mazmur Jenewa (𝘎𝘦𝘯𝘦𝘷𝘢𝘯 𝘗𝘴𝘢𝘭𝘵𝘦𝘳), yang seluruh kitab Mazmur diterjemahkan ke dalam puisi berirama agar dapat dinyanyikan oleh jemaat. Bagi Calvin Mazmur bukan sekadar musik pengisi ibadah. Mazmur adalah 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗱𝗼𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.

Dengan demikian Sabda tidak hanya didengar melalui khotbah, tetapi juga:
▶️ diucapkan, 
▶️ didoakan, dan
▶️ dinyanyikan oleh jemaat. 

Ini menegaskan bahwa liturgi adalah 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁, bukan panggung tunggal bagi pengkhotbah.

Tradisi Reformasi tidak pernah membayangkan ibadah yang seluruh perhatiannya tersedot kepada mimbar. Jika ibadah berubah menjadi hampir seluruhnya khotbah, itu bukan Reformasi. Itu adalah budaya mimbar yang muncul jauh setelah Reformasi.

Reformasi memang memandang penting pemberitaan Firman, tetapi selalu dalam kesatuan dengan seluruh tindakan liturgi.

(24032026)(TUS)

Sudut Pandang tentang minggu-minggu Prapaskah sampai Pentakosta

Sudut Pandang tentang minggu-minggu Prapaskah sampai Pentakosta

PENGANTAR 
Bapa-Bapa Gereja telah menata pemaknaan liturgi untuk menjadi cara kita mengenang Kristus dalam peribadatan, pengenangan akan Kristus kemudian harus menjadi perwujudan dalam hidup keseharian, oleh karena itu ibadah diakhiri dengan pengutusan dan berkat, konsep "pergilah ......". Minggu-minggu Prapaskah sampai Pentakosta memiliki beberapa nama untuk kita dapat lebih menghormati kenangan akan Kristus (ini juga dapat membantu saat berkhotbah)


PEMAHAMAN
 Minggu Prapaskah memiliki beberapa nama khusus, berikut urutannya:
- Minggu Prapaskah I: Invocavit 
- Minggu Prapaskah II: Reminiscere
- Minggu Prapaskah III: Oculi
- Minggu Prapaskah IV: Laetare 
- Minggu Prapaskah V: Judica
- Minggu Prapaskah VI: Minggu Palma (Palm Sunday)

 1. Invocavit adalah kata Latin yang berarti "Ia memanggil". Kata ini diambil dari Mazmur 91:15, yang berbunyi "Invocavit me, et ego exaudiam eum" (Ia memanggil Aku, dan Aku akan menjawabnya).
Dalam konteks Minggu Prapaskah I, nama "Invocavit" merujuk pada panggilan Allah kepada umat-Nya untuk kembali kepada-Nya dan mengalami keselamatan. Ini adalah tema utama dari Minggu Prapaskah I, yaitu panggilan untuk kembali kepada Allah dan mengalami kasih-Nya yang besar.

2. Reminiscere adalah kata Latin yang berarti "Ingatlah". Kata ini diambil dari Mazmur 25:6, yang berbunyi "Reminiscere miserationum tuarum, Domine" (Ingatlah kasih setia-Mu, Tuhan).
Dalam konteks Minggu Prapaskah II, nama "Reminiscere" merujuk pada panggilan untuk mengingat kasih setia Allah dan kebaikan-Nya kepada umat-Nya. Ini adalah tema utama dari Minggu Prapaskah II, yaitu mengingat kasih Allah dan kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.

3.  Oculi adalah kata Latin yang berarti "Mata". Kata ini diambil dari Mazmur 25:15, yang berbunyi "Oculi mei semper ad Dominum" (Mata saya selalu tertuju pada Tuhan).
Dalam konteks Minggu Prapaskah III, nama "Oculi" merujuk pada tema memandang kepada Tuhan dan mengarahkan mata hati kita kepada-Nya. Ini adalah panggilan untuk memfokuskan perhatian kita pada Tuhan dan mengandalkan-Nya dalam segala hal.

4. Laetare adalah kata Latin yang berarti "Bersukacitalah". Kata ini diambil dari Yesaya 66:10, yang berbunyi "Laetare, Jerusalem, et conventum facite omnes qui diligitis eam" (Bersukacitalah, hai Yerusalem, dan berkumpullah, hai kamu semua yang mencintainya).
Dalam konteks Minggu Prapaskah IV, nama "Laetare" merujuk pada tema sukacita dan kegembiraan di tengah-tengah masa Prapaskah yang serius. Ini adalah panggilan untuk bersukacita dalam Tuhan dan mengalami kegembiraan yang datang dari-Nya, meskipun kita sedang berada dalam masa puasa dan pertobatan.

5. Judica adalah kata Latin yang berarti "Hakimilah" atau "Putuskanlah". Kata ini diambil dari Yesaya 43:26, yang berbunyi "Judica me, Domine, et discerne causam meam" (Hakimilah/adililah aku, ya Tuhan, dan putuskanlah perkara aku).
Dalam konteks Minggu Prapaskah V, nama "Judica" merujuk pada tema penghakiman dan pertobatan, pengadilan/pengadilan Allah. Ini adalah panggilan untuk memeriksa diri sendiri, mengakui dosa, dan bertobat, sehingga kita dapat mengalami pengampunan dan pembersihan dari Tuhan. Apa itu keadilan Allah menjadi point' of view (sudut pandang). Sekedar contoh, untuk membantu dalam khotbah, saya di Minggu 22 Maret, saya menggunakan pemahaman minggu Judika untuk mengkaitkan pada kata pembuka liturgi Minggu prapaskah V, bahwa keadilan Allah yg nampak dalam kehidupan adalah perubahan dari kematian menjadi kehidupan (judul dalam khotbah jangkep), pesimis menjadi optimis, terluka menjadi pulih, sedih menjadi bahagia, dlsb, juga mengkaitkatkan  sudut pandang keadilan Allah versi PL dan versi PB.

6. Palma adalah kata Latin yang berarti "Daun Palem". Dalam konteks Minggu Palma, nama "Palma" merujuk pada daun palem yang digunakan untuk menyambut Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem (Yohanes 12:13, Markus 11:8-10).
Minggu Palma adalah hari Minggu sebelum Paskah, yang memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem dan awal dari peristiwa Pasion-Nya. Daun palem adalah simbol kemenangan dan kemuliaan, dan digunakan untuk menyambut Yesus sebagai Raja Damai.

Demikian halnya, Minggu-minggu Paskah memiliki nama-nama khusus, berikut urutannya:

- Minggu Paskah (Paskah I): Minggu Kebangkitan (atau Pascha). Minggu Pascha adalah istilah lain untuk Minggu Paskah, yaitu hari Minggu pertama setelah Sabtu Paskah, yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Pascha adalah kata Yunani yang berarti "Paskah" atau "Kebangkitan". Minggu Paskah/Resurrectionis (Hari Raya Paskah): Minggu Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian.

- Minggu Paskah II: Minggu Divina (atau Minggu Thomas). Dalam tradisi, Minggu Thomas, karena pada hari ini, Yesus menampakkan diri kepada Thomas yang tidak percaya, dan Thomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah (Yohanes 20:26-29). Divina* artinya "Tuhan" atau "Ilahi". Dalam konteks Minggu Paskah II, Minggu Divina artinya "Minggu Tuhan" atau "Minggu Ilahi", merujuk pada penampakan Yesus kepada Thomas dan pengakuan Thomas bahwa Yesus adalah "Tuhanku dan Allahku" (Yohanes 20:28). Ada juga yg menyebut sebagai Minggu Quasimodogeniti (Minggu Paskah II/Oktaf Paskah): Berasal dari 1 Petrus 2:2, artinya "Seperti bayi yang baru lahir", menekankan kehidupan baru dalam Kristus.
Minggu Misericordias (Minggu Paskah II): Berasal dari Mazmur 23, sering disebut Minggu Gembala yang Baik, yang menuntun umat.

- Minggu Paskah III: Minggu Misericordias Domini (atau Minggu Belas Kasih). Minggu Misericordias Domini adalah istilah Latin yang berarti Minggu Belas Kasih Tuhan. Ini adalah hari Minggu ketiga setelah Paskah, yang memperingati kasih dan belas kasih Tuhan. Dalam bahasa Inggris, hari ini juga disebut Minggu Kasih Tuhan (Sunday of Divine Mercy). Misericordias Domini artinya "Belas Kasih Tuhan" atau "Kasih Tuhan". Ini adalah nama untuk Minggu Paskah III, yang memperingati kasih dan belas kasih Tuhan. Ada juga yang menyebutnya sebagai Minggu Jubilate (Minggu Paskah III): Berasal dari Mazmur 66:1, artinya "Bersorak-soraklah bagi Allah", mengajak umat bersukacita atas perbuatan Tuhan.

- Minggu Paskah IV: Minggu Cantate (atau Minggu Gembala). Minggu Cantate adalah nama untuk Minggu Paskah IV, yang diambil dari kata Latin "Cantate", yang berarti "Nyanyikanlah". Ini merujuk pada bacaan Injil yang biasa dibacakan pada hari itu, yaitu Yohanes 10:1-10, yang diawali dengan kata-kata "Nyanyikanlah nyanyian baru" (Cantate Domino canticum novum). Dalam konteks ini, "Cantate" mengajak kita untuk menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan, seperti yang dilakukan oleh Gembala Baik (Yesus) yang memanggil dan menjaga domba-dombanya (Yohanes 10:1-10). Minggu Kantate (Minggu Paskah IV): Berasal dari Mazmur 98:1, artinya "Bernyanyilah bagi Tuhan", ungkapan sukacita kebangkitan melalui pujian.

- Minggu Paskah V: Minggu Vocatio (atau Minggu Pemanggil). Minggu Vocatio adalah nama untuk Minggu Paskah V, yang diambil dari kata Latin "Vocatio", yang berarti "Panggilan". Ini merujuk pada tema panggilan dan misi, yaitu panggilan kita untuk mengikuti Yesus dan menjadi saksi-Nya di dunia (Yohanes 15:1-8). Ada juga yang menyebut Minggu Rogate (Minggu Paskah V): Berasal dari tema doa, artinya "Berdoalah/Mintalah", mendorong umat untuk berdoa dalam nama Yesus.

- Minggu Paskah VI: Minggu Exaudi (atau Minggu Doa). Minggu Exaudi adalah nama untuk Minggu Paskah VI, yang diambil dari kata Latin "Exaudi", yang berarti "Dengarkanlah". Ini merujuk pada doa "Exaudi, Domine, preces nostra" (Dengarkanlah, ya Tuhan, doa kami), yang biasa dibacakan pada hari itu, dan tema panggilan untuk mendengarkan suara Tuhan. Minggu Exaudi (Minggu Paskah VI): Berasal dari Mazmur 27:7, artinya "Dengarlah seruanku", minggu penantian Roh Kudus.

- Minggu Paskah VII: Minggu Ascensionis (atau Minggu Kenaikan Tuhan). Minggu Ascensionis adalah nama untuk Minggu Paskah VII, yang memperingati Kenaikan Tuhan Yesus ke surga (Ascension Day). Ini adalah hari ke-40 setelah Paskah, dan merupakan peringatan akan kenaikan Yesus ke surga, 40 hari setelah kebangkitan-Nya. Minggu Pentakosta (Hari Raya Pencurahan Roh Kudus) hari ke 50 setelah kebangkitan : Puncak masa Paskah, memperingati turunnya Roh Kudus. Nantinya diakhiri pada Minggu trinitas atau Minggu Tritunggal maha Kudus, seminggu setelah Minggu Pentakosta.


Namun, beberapa tradisi Kristen memiliki nama-nama yang sedikit berbeda untuk minggu-minggu Paskah. Tapi secara umum, urutan di atas adalah yang paling umum digunakan.

Untuk doa sepuluh hari jelang turunnya Roh Kudus. Hari-hari tersebut disebut Novena Roh Kudus atau Hari-Hari Paskah (antara Paskah dan Pentakosta). Namun, secara spesifik, sepuluh hari antara Kenaikan Tuhan (Ascension) dan Pentakosta disebut Hari-Hari Menunggu Roh Kudus.
Dalam tradisi, sepuluh hari ini juga disebut Novena Pentakosta, yaitu masa doa dan persiapan untuk perayaan Pentakosta. Masalah 10 hari tak genap dalam doa sepuluh hari menunggu turunnya Roh Kudus karena terpotong ibadah hari Minggu gimana? Ketentuannya, Doa Novena Roh Kudus biasanya dilakukan selama 9 hari, bukan 10 hari, dan dimulai dari hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus ke surga hingga hari Sabtu menjelang Pentakosta. Jika ada hari Minggu di antaranya, itu tidak dianggap sebagai pengurangan hari, karena hari Minggu adalah hari ibadah yang sah dan tidak mengganggu hitungan hari novena.
Ketentuannya adalah:
- Novena Roh Kudus dilakukan selama 9 hari
- Dimulai dari hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus ke surga
- Berakhir pada hari Sabtu menjelang Pentakosta
- Hari Minggu di antaranya tidak dianggap sebagai pengurangan hari. Jadi, tidak perlu khawatir jika ada hari Minggu di antaranya. Yang penting adalah niat dan kesungguhan dalam berdoa. 
  • Minggu Pentakosta: Hari raya ke-50 setelah Paskah, memperingati turunnya Roh Kudus atas para rasul. Ini menandai lahirnya Gereja dan berakhirnya masa Paskah.
Doa 10 hari menjelang turunnya Roh Kudus (Pentakosta) adalah tradisi gerejawi yang didasarkan pada jeda waktu antara kenaikan Yesus ke surga (hari ke-40 setelah Paskah) dan hari Pentakosta (hari ke-50 setelah Paskah). Selama 10 hari ini, umat Kristen diajak untuk menantikan, berdoa, dan berpuasa memohon pencurahan Roh Kudus, meneladani para murid yang berdoa di kamar atas sebelum Pentakosta.
Penghitungan 10 Hari Doa
  • Awal: Dimulai tepat setelah Hari Kenaikan Yesus (Kamis), yang dihitung sebagai Hari Pertama.
  • Durasi: Berlangsung selama 10 hari berturut-turut.
  • Akhir: Berakhir pada hari kesepuluh, yaitu hari Sabtu malam atau Minggu pagi (hari Pentakosta).
  • Contoh: Jika Kenaikan pada Kamis, 14 Mei, maka 10 hari doa berlangsung dari Kamis, 14 Mei hingga Sabtu, 23 Mei (10 hari), dengan Minggu, 24 Mei sebagai perayaan Pentakosta.
  • Nama Hari dan Arti (Tema Doa). Secara umum, fokus 10 hari ini adalah kebangunan rohani, pertobatan, dan kesatuan hati. Hari-hari Awal (1-3): Fokus pada pertobatan, kesucian hidup, dan kerinduan akan kehadiran Allah. Hari Tengah (4-7): Fokus pada kesatuan tubuh Kristus (doa bersama/komunal) dan melepaskan pengampunan. Hari Akhir (8-10): Fokus pada pengurapan Roh Kudus, kuasa untuk menjadi saksi, dan kesiapan menerima janji Bapa (Roh Kudus).
  • Bagaimana Jika Terpotong Hari Minggu? Tetap Dilanjutkan: Hari Minggu adalah hari Tuhan, yang sangat baik untuk ibadah dan doa. 10 hari doa tidak harus berhenti atau terpotong jikaFleksibilitas: Fokusnya adalah kesinambungan dalam doa selama 10 hari. Jika ada kendala, penekanan utamanya adalah kesungguhan hati dalam menantikan Roh Kudus (10 days of prayer), bukan pada legalisme harinya. 
  • Inti dari masa ini adalah meneladani para rasul yang "bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama" (Kisah Para Rasul 1:14) setelah kenaikan Yesus hingga turunnya Roh Kudus.  melewati hari Minggu.
  • Integrasi Ibadah: Ibadah minggu pada masa 10 hari ini sering kali disesuaikan temanya untuk mendukung doa penantian Roh Kudus.

Nama-nama ini menandai perjalanan iman dari kebangkitan, kehidupan baru, hingga pengutusan.

(24032026)(TUS)

Sudut Pandang 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝗴𝗮𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻?

Sudut Pandang 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝗴𝗮𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻?

PENGANTAR 
Beberapa tahun terakhir kita makin sering melihat umat menengadahkan tangan saat menerima berkat pada akhir ibadah. Bagi sebagian orang ini terasa wajar, bahkan dianggap sebagai tanda keterbukaan untuk menerima berkat Tuhan. Pertanyaannya: apakah itu memang sikap yang tepat secara liturgis, atau tanpa sadar kita sedang menggeser makna berkat itu sendiri?

PEMAHAMAN
Dalam pemahaman liturgi Gereja Protestan berkat bukanlah doa. Berkat bukan permohonan umat kepada Allah, melainkan deklarasi berkat Allah kepada umat melalui Gereja.
Dalam berkat bukan umat yang berbicara kepada Allah,
tetapi Allah yang, melalui pelayan-Nya, menyatakan pemeliharaan-Nya atas umat yang diutus kembali ke dalam dunia.
Nah, di sini perlu dibedakan dengan jernih: 𝗱𝗼𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝘂𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮.
▶️ Dalam doa umat memohon.
▶️ Dalam berkat Gereja menyatakan. Oleh karena itu berkat tidak berada dalam arah permohonan, melainkan dalam arah pemberian.
Menariknya, jika kita melihat kesaksian Alkitab, tata gerak 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝗴𝗮𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗺𝘂𝗻𝗰𝘂𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗱𝗼𝗮, bukan dalam konteks menerima berkat.
Contoh, 1 Timotius 2:8 dan Mazmur 141:2 dengan jelas mengaitkan tangan yang terangkat dengan tindakan berdoa, yakni gerak manusia yang terarah kepada Allah.
Sebaliknya, dalam teks-teks berkat seperti Bilangan 6:24–26, tidak ada petunjuk bahwa umat menengadahkan tangan untuk menerimanya. Yang ditonjolkan justru tindakan Allah yang memberkati melalui pelayan-Nya.

Artinya, secara biblis, 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝗴𝗮𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝘁𝘂𝗯𝘂𝗵 𝗱𝗼𝗮, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗼𝗹𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁.

Lalu bagaimana dengan sikap tubuh umat?
Menengadahkan tangan tentu bukan sesuatu yang salah. Ia dapat dipahami sebagai simbol keterbukaan. Ia dapat juga dimaknai sebagai tanda menerima. Itu pun tidak salah. Namun, persoalannya bukan pertama-tama boleh atau tidak boleh, melainkan apakah gestur atau tata gerak itu membantu memerjelas atau justru mengaburkan makna tindakan liturgis yang sedang berlangsung.
Apabila berkat dipahami sebagai sesuatu yang perlu “ditangkap”, maka gerakan menengadahkan tangan dengan mudah bergeser makna: seolah-olah berkat adalah sesuatu yang harus diambil, atau bahkan diusahakan secara personal. Di sinilah persoalan muncul. Dalam berkat liturgis umat tidak “mengambil”, tetapi menerima.
Sebuah analogi sederhana dapat membantu. Ketika seseorang berkata kepada kita, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶,” bahkan sambil menumpangkan tangan, kita tidak secara refleks menengadahkan tangan untuk “menerima”. Kita cukup berdiri atau diam dalam sikap hormat. Kita mendengarkan, lalu menerimanya dalam hati. Di situlah makna deklaratif bekerja.
Hal yang sama berlaku dalam liturgi. Yang dituntut bukan tata gerak tertentu, melainkan sikap iman. Umat berdiri sebagai jemaat yang diutus, lalu menerima berkat sebagai peneguhan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Di sisi lain perlu diingat bahwa liturgi tidak dibangun di atas ekspresi individual. Liturgi bermatra komunal. Ia adalah tindakan bersama seluruh umat di hadapan Allah. Oleh karena itu tata gerak dalam liturgi tidak pertama-tama dimaksudkan sebagai ekspresi personal, melainkan sebagai bagian dari tindakan bersama yang membentuk kesadaran iman Gereja.
Jika setiap orang menafsirkan dan mengekspresikan sendiri-sendiri, liturgi lambat laun kehilangan bentuk komunalnya dan berubah menjadi kumpulan pengalaman individual yang berdiri sendiri-sendiri.
Pada akhirnya pertanyaan tentang menengadahkan tangan bukan soal benar atau salah secara mutlak. Namun, ia menyingkap sesuatu yang lebih dalam: bagaimana kita memahami berkat itu sendiri? Apakah berkat adalah sesuatu yang kita kejar dan kita ambil, atau berkat adalah sesuatu yang Allah nyatakan dan kita terima dalam iman?
Dalam tradisi liturgi Gereja Protestan Reformir jawabannya jelas: berkat tidak perlu ditangkap dengan tangan, karena ia dinyatakan oleh Allah dan diterima dalam iman.
(24032026)(TUS)

Sudut Pandang Keluarga sebagai gereja

Sudut Pandang Keluarga sebagai gereja

PENGANTAR
Iman yang hidup di gereja harus lebih dulu nyata di rumah (ekklesia domestica); sebab keluarga adalah mimbar pertama tempat Injil diberitakan melalui hidup, bukan sekadar kata.” 
KELUARGA dalam perspektif Alkitab bukan sekadar unit sosial, tetapi ruang perjanjian yang dibentuk Allah sendiri. Kejadian 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kata “bersatu” berasal dari bahasa Ibrani dabaq yang berarti melekat erat, seperti ikatan yang tidak mudah dipisahkan. Ini menunjukkan bahwa keluarga bukan relasi sementara, melainkan komitmen yang bersifat mendalam dan permanen. Di tengah dunia yang cair dan mudah berubah, konsep dabaq menegur kita: keluarga dipanggil untuk setia, bukan sekadar nyaman. Dan, cukup aneh dalam zaman patriarki dari penulis kitab, dikatakan seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, seharusnya bila sesuai zamannya, metode patriake, itu wanita yang meninggalkan ayah ibunya ikut suami, tidak bisa disangkal ini adalah sastra simbolik yg menggambarkan hubungan Allah dan umatnya, bahkan ini simbolisasi kesetiaan Allah pada umatNya, ini cermin dari ekklesia domestica (gereja keluarga).

PEMAHAMAN
KASIH menjadi fondasi utama keluarga. Perjanjian Baru memakai kata Yunani agapē dalam Efesus 5:25: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Agapē adalah kasih yang rela berkorban, bukan emosional semata. Maka, keluarga Kristen bukan dibangun di atas perasaan yang naik turun, tetapi pada keputusan untuk terus memberi diri, bahkan keputusan untuk mengorbankan diri, membanting harga diri bila perlu. Di sinilah keluarga menjadi tempat pembentukan karakter, bukan hanya tempat mencari penerimaan, tidak ada tempat untuk ego.
Peran dalam keluarga juga memiliki dimensi teologis. Efesus 5:23: “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Kata “kepala” berasal dari Yunani kephalē, yang bukan sekadar menunjuk otoritas, tetapi sumber dan tanggung jawab, bukan perkara materi tetapi perkara keteladanan dan hikmat pengajaran. Kepemimpinan dalam keluarga bukan dominasi, melainkan pengorbanan seperti Kristus terhadap jemaat. Ini menantang pola patriarki yang salah arah, bahwa menjadi pemimpin berarti melayani (Iyah ..... Makna pelayanan itu dalam Alkitab selalu seiring sejalan dengan pengorbanan, bahkan mengkorbankan diri, makanya saya tidak pernah sreg bahwa karya dalam gereja, berkhotbah, menyanyi, dlsb terus disebut sebagai pelayanan) bukan menguasai.
Akhirnya, keluarga adalah ruang PEMURIDAN. Ulangan 6:6–7: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Kata Ibrani shanān berarti “menajamkan” atau “mengasah terus-menerus”. Iman tidak diwariskan secara otomatis, tetapi dibentuk melalui disiplin rohani yang konsisten di dalam keluarga. 
Maka, keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi tempat iman diasah, diuji, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Iman yang hidup di gereja harus lebih dulu nyata di rumah; sebab keluarga adalah mimbar pertama tempat Injil diberitakan melalui hidup, bukan sekadar kata.” 

Sabtu, 21 Maret 2026

SUDUT PANDANG 1 PETRUS 2:17, HARGAILAH SESAMAMU

SUDUT PANDANG 1 PETRUS 2:17, HARGAILAH SESAMAMU

PENGANTAR
Menghargai bisa berarti memandang penting, bermanfaat dan berguna. Ketika seseorang tidak merasa dihargai, ia akan merasa luka batin, direndahkan atau dilecehkan. Secara alami, manusia membutuhkan penghargaan atau rasa berharga. Banyak  orang ingin dihormati. Banyak orang berharap tumbuh budaya saling menghormati di lingkungannya atau dimana pun ia berada. Banyak orang ingin yang muda menghormati yang tua dan sebaliknya, atau misalnya ada pula yang berharap yang kaya menghormati yang  miskin. Namun faktanya banyak di antara kita yang belum dapat menunjukkan sikap menghargai orang lain. Bahkan ada yang merasa mentang-mentang.  Mentang-menantang   kaya, mentang-mentang donatur,  mentang-mentang circle nya, mentang-mentang wajahnya tampan/cantik atau pun mentang-mentang di dalam kelas lebih berprestasi dari siswa lainnya, dlsb. Sikap mentang-mentang inilah yang membuat kita menjadi kurang hormat kepada orang lain.

PEMAHAMAN
 Saya sendiri walaupun seorang pengajar, masih  sangat-sangat kurang dalam hal mempraktekkan sikap menghargai ini, karena saya terpancing selalu mengkritisi apa yg saya anggap tidak adil, seringkali kritisi saya melukai. Cara paling efektif  untuk menumbuhkan rasa hormat adalah dengan menunjukkan sikap hormat itu sendiri didalam kritisi tsb, bukan orangnya yg diserang atau dikritisi tetapi tindakannya atau keputusannya atau sikapnya, bukan membenci manusianya, shg jangan menyerang personal tapi kritisilah tindakan dan keputusannya. 1  Petrus 2 : 17 "Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan  Allah   dan hormatilah raja!" Seorang murid  sedang membersihkan  aquarium  gurunya,  ia  memandang  ikan  arwana  dengan  takjub.  Tak  sadar gurunya sudah berada di belakangnya.
"Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang guru. "Tidak tahu". Jawab si murid.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!!". Perintah sang guru.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap sang guru. "Ditawar berapa nak?" tanya sang guru.
"50.000 Rupiah guru". Jawab si murid mantap.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang guru lagi.
"Baiklah guru". Jawab si murid. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias. "Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang guru.
"800.000 Rupiah guru". Jawab si murid dengan gembira, ia mengira sang guru akan melepas ikan itu.
"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang guru lagi.
"Baik guru". Jawab si murid. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
"Berapa ia menawar ikannya?". "15 juta Rupiah guru".
Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda.
"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat".
"Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu" Beradalah di tempat dimana kamu dihargai, jangan ditempat dimana kamu dibutuhkan, sebab  ketika  kamu  tidak  dibutuhkan,  kamu  tdk    dihargai. Kritisi juga simbolisasi dari rasa sayang bagi yang dewasa mentalnya dan tidak childish, kritisi boleh setajam pedang tapi harus tidak melukai, karena tidak ada kebencian hanya kedewasaan. Selamat menghargai orang laen Tuhan memberkati.
(25032026)(TUS)

Jumat, 20 Maret 2026

SUDUT PANDANG 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?

SUDUT PANDANG 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?

PENGANTAR
Sebelum menjawab pertanyaan judul di atas, mengapa umat Kristen merayakan Jumat Agung? Cukup banyak gereja menentang penggunaan istilah 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘰𝘬 merayakan kematian Yesus? Kata mereka istilah yang tepat adalah 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘪 bukan 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯. Benarkah? Tampaknya gereja ini perlu belajar ilmu liturgi lebih rajin lagi.


PEMAHAMAN 
Dalam liturgi ada dua macam ibadah: 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘣𝘳𝘢𝘴𝘪 dan 𝘢𝘬𝘴𝘪. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari kesatu (hari Minggu). 𝗠𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Mengapa memuliakan salib?
Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan petulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” 
Petulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗮𝗻 “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh petulis Injil Yohanes, “𝘚𝑢𝘥𝑎𝘩 𝘴𝑒𝘭𝑒𝘴𝑎𝘪!” 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢-𝘕𝘺𝘢 (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. 𝗣𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗷𝘂𝗸 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀: memuliakan atau mengagungkan salib. Bacaan ekumenis selalu diambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

Kembali ke pertanyaan, 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?

Keempat Injil kanonik (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes) yang ditulis sepanjang kuartal keempat abad kesatu memberitakan kematian Yesus yang dijatuhi hukuman mati lewat kayu salib. Bukti keempat Injil ini barangkali diragukan oleh sejumlah kalangan, karena ini dianggap propaganda. 
Jika propaganda, pertanyaannya 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘳𝘰𝘩𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯? Tidak ada alasan bagi jemaat Kristen perdana untuk menutup-nutupi, karena hukuman mati terhadap Yesus merupakan fakta sejarah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Fakta sejarah bahwa Yesus dihukum mati oleh Pemerintah Roma dengan dakwaan tindak pidana subversif. Sumber-sumber di luar kitab-kitab kanonik membuktikan bahwa Yesus mati di kayu salib. 

Kesatu, Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad mula-mula, menulis tentang seorang Yahudi yang bijaksana bernama Yesus melakukan banyak hal besar, tetapi kemudian dihukum mati di kayu salib oleh Pemerintah (Romawi). 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘳𝘪𝘬𝘢. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘥𝘶𝘩 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘢-𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱.

Kedua, sumber-sumber Rabinik Yahudi yang menolak kehadiran Yesus karena para pengikut Yesus melakukan provokasi-provokasi terhadap Yudaisme. Dalam Talmud Babilonia mereka membalas provokasi pengikut Yesus  dengan menulis bahwa menjelang Sabat Paska Yesus orang Nasaret mati digantung. 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘚𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘩𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘦𝘬𝘴𝘦𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: '𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘶𝘳𝘵𝘢𝘥. 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢.' 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢.

Ketiga, Mara bar Sarpion, filsuf stoik berkebangsaan Suriah, menulis surat kepada anaknya 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘭𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘪𝘧 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢? Seperti diketahui kepala salib Yesus ditulis oleh otoritas Romawi di Yudea (yang sebenarnya bahan olok-olok) dengan INRI (𝘐e𝘴𝘶𝘴 𝘕𝘢𝘻𝘢𝘳e𝘯𝘶𝘴 𝘙e𝘹 𝘐u𝘥𝘢𝘦o𝘳𝘶𝘮), Yesus (orang) Nasaret Raja (orang) Yahudi. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘭𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘪𝘧, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 [merujuk Perang Yahudi I pada 66-73/74 ZB]? 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘵𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯; 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘚𝘢𝘮𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘫𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵; 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵-𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘰𝘬𝘳𝘢𝘵𝘦𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘗𝘭𝘢𝘵𝘰; 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘗𝘩𝘺𝘵𝘢𝘨𝘰𝘳𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘏𝘦𝘳𝘢. 𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯.

Keempat, Cornelius Tacitus, seorang senator dan sejarawan Romawi yang termasyur karena dua karya sejarahnya 𝘏𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘦𝘴 dan 𝘈𝘯𝘯𝘢𝘭𝘴, antara abad kesatu dan kedua menulis 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 [Tacitus menggunakan nama Krsitus – lihat cara menulisnya] 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘵𝘪 (𝘴𝘶𝘱𝘱𝘭𝘪𝘤𝘪𝘰 𝘢𝘥𝘧𝘦𝘤𝘵𝘶𝘴) 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘛𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 [14-37 𝘡𝘉] 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘰𝘬𝘶𝘳𝘢𝘵𝘰𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 [26-36 𝘡𝘉], 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘺𝘶𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘙𝘰𝘮𝘢 … . 

Namun demikian mengapa kalangan penganut ideologi tertentu dari abad mula-mula sampai sekarang meragukan kematian Yesus lewat kayu salib? 
Secara historis ideologi mengenai Yesus tidak mati di kayu salib dibuat dan dikembangkan oleh Sekte Gnostik pada abad kesatu dan kedua. Dalam satu seksi dokumen Nag Hammadi menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedang yang satunya lagi berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung.
Dalam pada itu tradisi 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 Yesus yang mengganti korban salib juga muncul di daerah Edessa, Suriah, yang jemaat Kristen di sana keliru menafsirkan Tomas sebagai 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 (Didimus). Padahal Didimus itu adalah nama lain dari Rasul Tomas. Komunitas di Edessa ini kemudian banyak berkiprah di Tanah Arab.
Secara ringkas pandangan Gnostik terhadap Yesus yang sejati adalah Yesus rohani, Yesus surgawi, sehingga Yesus tidak dapat disalib. Sialnya bagi kaum Gnostik kematian Yesus di kayu salib itu nyata, maka Sekte Gnostik harus menyimpulkan bahwa yang sudah disalibkan itu pastilah orang lain. Orang yang wajahnya serupa dengan rupa atau wajah Yesus, bukan Yesus surgawi, bukan Yesus yang dijunjung mereka. 
Pandangan Sekte Gnostik ini sebenarnya bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus tidak mati disalib. Justru Yesus benar-benar mati disalib, kaum Gnostik  perlu mencari seorang 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 demi menyelamatkan ideologi mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus surgawi, yang tidak dapat mati disalib. Sungguh mengenaskan jika dongeng yang dikembangkan oleh Sekte Gnostik yang sejak awal ditolak oleh jemaat Kristen mula-mula, masih dijadikan ideologi sampai masa kini (tentunya oleh tetangga sebelah).
Bagi umat kristiani kematian Yesus bukan sekadar fakta sejarah objektif, namun melampaui itu yang dihayati sebagai Allah yang berbelarasa. Penghayatan ini diragakan melalui Jumat Agung. Ketika umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, umat menghayati kehidupan suci Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini.

Apabila kematian Yesus adalah fakta sejarah objektif, apakah kebangkitan Yesus juga fakta sejarah objektif? Sila baca Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi yang lain, membahas kebangkitan Yesus.

(18042025)(TUS)

Kamis, 19 Maret 2026

SUDUT PANDANG PASKAH, YESUS DI TENGAH POLITIK YERUSALEM

SUDUT PANDANG PASKAH, YESUS DI TENGAH POLITIK YERUSALEM

PENGANTAR
Tidak bisa lagi disangkal bahwa dari kejadian sampai Wahyu, kental kisah politik, tidak bisa tidak latar belakang nya saja hidup suatu bangsa dari jaya-jayanya sampai hidup porak poranda hidup tertindas terjajah. Kental suara kenabian. Nah .... mengherankan kalau terus hidup orang kristiani tanpa kritisi thp ketidak Adilan sekitar. Jelang Paskah, ada baiknya kita juga melihat sisi-sisi lain dari sebuah cerita Paskah, Paskah sebenarnya memiliki banyak sisi untuk diungkap lebih dari cerita yang biasanya kita dengar saat Paskah. Cukup banyak buku tentang Yesus dan politik, apalagi dalam bahasa asing.Cukup representatif dalam bahasa asing, seperti bahasa Jerman ialah Christlicher Glaube und politische Vernunft, karya Herwig Buechele (Wien-Zurich-Duesseeledorf, 1987) atau bahasa Inggris karya Jim Wallis berjudul  The Great Awakening: Reviving Faith & Politics in A Post-Religious Right America (New York: HarperCollins, 2008).
YESUS TIDAK BERPOLITIK PRAKTIS 
Umumnya memang ada benang merah yang memunculkan kesamaan dari berbagai buku tentang Yesus dan politik. Rata-rata semua punya pemahaman senada bahwa Yesus itu bukan politikus. Meski demikian, Yesus harus hidup dalam sikon yang kental dengan nuansa politis.      Bahkan, Yesus pernah diharapkan masyarakat Yahudi 2000 tahun silam sebagai tokoh politik yang akan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi. Itu terjadi pada Minggu Palma, lima hari sebelum penyaliban-Nya pada Jumat, ketika Yesus dielu-elukan orang banyak saat dia memasuki kota Jerusalem.


PEMAHAMAN
Orang-orang Yahudi memang sudah sejak lama punya harapan akan datangnya Mesias sang Pembebas. Orang-orang yang mengelu-elukan Yesus itu punya harapan mesianik bahwa Yesuslah sang Mesias itu.Namun, betapa kecewanya orang-orang itu karena Yesus menolak untuk dijadikan raja atau tokoh yang sesuai dengan harapan mereka. Yesus ternyata tidak mau berpolitik praktis Dengan demikian, Yesus jelas bukan sosok politikus atau bermain dalam tataran politik praktis. Ketika dibawa kepada Gubernur Pontius Pilatus, saat ditanya wakil pemerintah Romawi, “Apakah Engkau seorang raja?”, Yesus menjawab bahwa kerajaan-Nya tidak berasal dari dunia ini.Meski demikian, dunia tempat Yesus hidup ketika itu sudah menyeret-Nya ke dalam permasalahan politik. Bahkan oleh para ahli agama Yahudi yang tidak suka dengan sepak terjang Yesus yang selalu memihak orang kecil, disebarkan tuduhan atau fitnah bernada politis bahwa Yesus punya agenda memberontak melawan pemerintah Romawi.Ajaran-ajarannya yang memuji orang miskin dan teraniaya, Yesus dituduh sebagai provokator. Tuduhan itu membawa konsekuensi berat. Sampai akhirnya Yesus dihukum mati lewat digantung disalib, sebuah hukuman ala Romawi yang biasanya dilakukan untuk para kriminal.Ketika Yesus mati disalib, sebagian pengikut Yesus yang sejak semula mengelus-elus-Nya sebagai Mesias atau tokoh politik yang membebaskan langsung terpuruk dalam rasa putus asa yang besar. Yesus dianggap telah gagal dan keok oleh hukuman salib, sebagaimana ditulis sejarawan sekuler, Tacitus.

POLITIK ETIS
Meski tidak mendirikan partai politik atau menjadi politikus dari aliran tertentu, Yesus sebenarnya berpolitik juga, yakni politik etis. Dengan kata lain, lewat ajaran-ajaran-Nya seperti bisa kita baca dalam Injil, Yesus ialah inspirator bagi gerakan moral untuk memperjuangkan kaum lemah yang kala itu amat menderita.Politik Yesus ialah politik memihak kaum lemah. Dalam buku A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus: The Roots of the Problem and the Person oleh John P Meier, kita bisa melihat betapa selama hidupnya, Yesus terlibat dan menyatu dengan kaum miskin.Dari kandang Betlehem hingga puncak Kalvari ialah saksinya. Orang buta, pelacur, pengemis, hingga penyamun ialah sosok-sosok miskin yang akrab dengan Yesus. Yesus bukan politikus yang suka menjual isu orang miskin, melainkan benar-benar solider dengan kaum miskin. Bahkan di awal karya-Nya, kata pujian pertama yang keluar dari mulut-Nya ialah ‘berbahagialah orang-orang miskin’ (Matius 5:2). Tidak sekadar memuji kaum miskin, Yesus juga lantang mengecam kolusi antara pejabat agama dan penguasa yang berpusat di Bait Allah di Jerusalem.Bait Allah pada waktu itu menjadi tempat atau kantor Imam Besar (eksekutif), kantor Sanhedrin (legislatif), pusat peradilan (yudikatif) sekaligus tempat bagi Bank Sentral.Yesus marah Bait Allah telah dijadikan ‘sarang para maling atau penyamun’. Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dari halaman Bait Allah. Dia berani menyerang jantung kekuasaan yang ada waktu itu.Dengan demikian, Yesus ialah pejuang bagi tegaknya politik etis atau politik moral yang berani mengkritik persekongkolan antara pejabat agama dan birokrat pemerintah yang menyalahgunakan kekuasaan di atas penderitaan orang-orang lemah. Semua itu akhirnya membawa konsekuensi, Yesus dihukum mati lewat tiang salib.Sayangnya, dalam perjalanan sejarah kekristenan selama 2000 tahun, kolusi antara pejabat agama dan penguasa yang dulu dikecam Yesus, justru sering dilakukan sendiri oleh mereka yang mengklaim mengikuti ajaran Yesus. Malah ironis, kadang nama Yesus diperalat sebagai tunggangan politik untuk meneror, bahkan membunuh, seperti ditulis dalam buku Jesus Before Chritianity, buah karya pastor Albert Nolan OP dari Afrika Selatan.Kezaliman kapitalisme yang justru marak dipraktikkan di negara-negara maju dan notabene mayoritas warganya Kristen, bahkan di negara-negara maju masih ada parpol berlabel Kristen hingga sekarang, justru sering terjadi praktik tak terpuji, martabat luhur manusia dijadikan komoditas belaka.Karena itu, bagi para politikus Kristiani yang menang pemilu legislatif dan lolos ke Senayan, perjuangkan kaum lemah seperti sudah dilakukan Yesus. Jadikan sejarah sebagai pelajaran, ketika agamawan atau politisi berbendera agama mengambil alih kekuasaan negara dalam pemerintahan teokrasi, justru banyak bencana kemanusiaan sebagaimana terjadi di era Yesus.Gereja di Eropa pernah terjebak dalam hal ini sehingga perang dan penindasan atas orang-orang yang tak sealiran (seagama) pernah menjadi noda hitam dalam sejarah gereja. Bayangkan perang agama antara katolik melawan protestan pascareformasi Martin Luther menyebabkan jutaan orang mati sia-sia.Maka dari itu, mari berjuang bersama Yesus memperjuangkan politik moral, berupa politik kenabian. Kita harus menjauhi politik partisan yang tidak lain ialah politisasi agama yang menjadikan agama sebagai kendaraan politik untuk merebut kekuasaan politik, meski hal demikian baru saja terjadi dalam pemilu di negeri ini.Jadi, bagi politisi kristiani yang sungguh berhasil mendapatkan kursi kekuasaan, berusahalah agar dalam 5 tahun mendatang jangan sampai menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya lewat praksis politik tak terpuji.

POLITIK YERUSALEM
Sebetulnya sejak masuk Yerusalem, Yesus memasuki kancah poliktik Yerusalem dalam hal ini dalam peristiwa minggu palmarum, 3 injil sinoptik seakan menggambarkan Yesus masuk Yerusalem sebagai puncak dari galilea, yudea, kemudian yerusalem, tapi injil Yohanes mengkisahkan beberapa kali Yesus masuk ke Yerusalem. Penggambaran Yesus dengan daun palem yang dilambaikan dan hamparan palem dan jubah, itu sebetulnya mirip dengan ketika Alexander Agung setiap masuk kota dan menang, atau saat makabe memenangkan Yerusalem dan membangun bait suci, yang membedakan hanyalah Yesus naik keledai, dan ini dianggap sebagai lambang perdamaian, kalau Yesus masuk dengan kuda, pesannya jelas perang dan kekerasan. Ini tentunya, sudah merupakan semacam pertunjukan politik, karena menampakan Yesus sebagai pemenang, apalagi ditambah orang saat itu menganggap Yesus sebagai Mesias, tentunya hal ini menampar para tokoh agama saat itu. Menimbulkan kebencian di mata para tokoh agama, para pemimpin kaum Yahudi. Menjadi menakutkan bagi para tokoh agama saat itu, Yesus disambut oleh massa dan bergerak bersama massa memasuki Yerusalem Di sisi yang lain, para tokoh agama saat itu, tentunya cemburu thp Yesus Doa dan pernyataan-pernyataan yang tercatat dalam alkitab dari massa tsb yang menganggap Yesus adalah raja, tentunya mengkhawatirkan para tokoh agama yang berkuasa saat itu Lukas 19 ayat 37, memperlihatkan bagaimana mukjizat Yesus membuat orang banyak mengikutinya, tentunya para imam atau tokoh agama saat itu mengikuti perkembangan Yesus yang tentunya membuat mereka ketakutan, takut kehilangan kedudukannya. Sebetulnya, bukan hanya masalah mukjizat tapi terlebih ajaran-ajaran Yesus yang mendobrak tradisi-tradisi saat itu yg membelenggu masyarakat pada waktu itu, ajaran Yesus menjungkir balikan apa yang dibuat oleh para tokoh agama saat itu untuk kepentingan mereka, kalau Lukas menulis bahwa kerumunan massa tsb adalah para murid, tetapi Markus, Matius, dan Yohanes menulis bahwa massa tsb orang banyak. Dengan massa mengelukan Yesus sebagai raja, tentunya ini sudah seharusnya memancing reaksi dari penjajah Roma, kenapa Yesus tak langsung ditangkap? dihukum? Yah.. sangat dimungkinkan karena mendekati hari raya besar bangsa Yahudi, paskah, tentunya penangkapan bisa menimbulkan kericuhan dan perlawanan massa. Sejarah mencatat, bahwa banyak pemberontakan kaum Yahudi sebelum masa itu, terjadi pada saat hari-hari raya seperti saat itu. Disadari terjadi ekshalasi politik di Yerusalem saat itu, suhu politiknya meningkat. Sebetulnya memanasnya suhu politik, dimulai dari ajaran Yesus sejak dari galilea meluas ke Yudea kemudian memuncak secara simbolik ke Yerusalem, karena visi inklusif dari ajaran Yesus yang akan memperbarui umat perjanjian bertabrakan langsung dengan visi ekslusif kaum agamawan saat itu. Kalau kita membaca kitab-kitab makabe akan tampak jelas bagaimana reaksi kaum agaman terhadap orang asing dalam hal ini penjajah Roma, ketakutan akan tercemarnya kekudusan umat perjanjian membuat kaum agamawan membuat batasan-batasan keras yang itu malah membelenggu umat, dan batasan-batasan keras tersebut dijaga dengan taruhan nyawa oleh kaum agamawan. Sehingga, batasan - batasan tsb sudah tidak memanusiakan manusia lagi. Pelanggaran terhadap batasan-batasan kekudusan tsb dianggap pelanggaran terhadap perjanjian umat dengan Allah.  Celakanya, Yesus mendobrak batasan-batasan tsb, Yesus lebih memanusiakan manusia, shg ketika masuk ke Yerusalem dan massa  mendukung Yesus bahkan menyebut Yesus adalah raja, ini menyodok ketakutan terbesar kaum agamawan, tapi sebutan raja itu juga merupakan alat dari kaum agamawan untuk menarik penjajah Roma juga berseberangan dengan Yesus. Puncak dari batasan yang dianggap mengarah kekudusan adalah Bait Suci. Batasan-batasan yang membelenggu umat itu, menjadi semacam obsesi bagi kaum agamawan.Dobrakan Yesus akan batasan-batasan tsb, membuat kemarahan dan ketakutan kaum agamawan. Bagi kaum agamawan utamanya Farisi, kekudusan harus anti kenajisan dan anti dosa, kekudusan harus berjauhan atau membelakangi kenajisan dan dosa, kekudusan harus tidak bersentuhan dengan kenajisan dan dosa, kenajisan dan keberdosaan itu menular bahkan bisa mencemari kekudusan tapi bagi Yesus, kekudusan adalah penyembuhan dari kenajisan dan dosa, kekudusan harus bersentuhan dengan kenajisan dan dosa, agar kenajisan dan dosa itu sembuh bahkan menjadi kudus. Kekudusan adalah obat atau pentahiran bagi kenajisan dan dosa shg kekudusan harus berinteraksi dengan kenajisan dan dosa, bukan kekudusannya yang tercemari oleh kenajisan dan dosa, tapi kekudusan yang mencemari kenajisan dan dosa sehingga kenajisan dan dosa menjadi sembuh/tahir atau kudus. Inilah yang sering disebut Yesus sebagai agenda kerajaan Allah. Hal, inilah yang menohok para kaum agamawan, utamanya kaum Farisi. Telah terjadi benturan paradigma di sini antara pemahaman Yesus dan kaum agamawan utamanya Farisi.Konflik puncaknya terjadi di Bait Suci, ketiga injil sinopsis menulis peristiwa penyucian bait suci oleh Yesus terjadi stlh Yesus masuk ke Yerusalem, terkecuali injil Yohanes malah mencatatnya lebih awal. Kaum agamawan yang beranggapan Bait Suci hanya untuk kekudusan bukan untuk orang najis atau berdosa, pengertian orang najis dan berdosa juga ditujukan untuk bangsa lain selain Yahudi (goyim) tapi Yesus malah bicara Bait Suci untuk segala bangsa, wa......ini seperti menabuh genderang perang, maka suhu politik memanas.Jadi bisa dipahami kenapa injil Yohanes menuliskan ini di awal berbeda dengan 3 injil sinoptik yang menuliskan stlh Yesus masuk Yerusalem, karena konteks injil Yohanes adalah komunitas yang sedang berlainan dengan kaum Yahudi pada masanya, shg penulis injil Yohanes sejak dari awal ingin mengungkapkan bahwa Yesus pun sejak dari awal berseberangan dengan kaum Yahudi, yang pada akhirnya mengakibatkan Yesus di salib. Ini semua sebetulnya berkaitan dengan politik Bait Suci, karena pada masa itu secara politis Bait Suci bukan hanya tempat beribadah. "Politik" Bait Suci, Kajian sosial terhadap fenomena Bait Suci dalam relasi dengan penguasa memberi pencerahan mengenai situasi sosio-politis di balik institusi religius yang dipandang sakral: Sejak era imperium Persia, Bait Alah telah menjad tempat pengumpulan upeti bagi penjajah dan menjadi sumber penghasilan bagipara kolaboratornya, jadi Israel dibolehkan kembali ke tanah asal dan membangun Bait Suci tapi dengan aturan main tetap kirim upeti melalui pengumpulan persembahan di Bait Suci. Dalam era PB, 10 tahun setelah kematian Herodes Agung, gubernur Romawi memilh empat keluarga dan menyimpan persembahan  imam: Imam Agung adalah perpanjangan tangan Romawi, jelas sudah apa yang dilakukan oleh Yesus dalam menyucikan Bait Suci tsb pastilah menyentuh kemarahan pula penjajah Roma tidak hanya kaum agamawan pemimpin Yahudi. Sehingga, ajaran-ajaran Yesus tentunya tidak hanya bertabrakan dengan kepentingan kaum agamawan pemimpin Yahudi tapi juga terlebih bertabrakan dengan kaum penjajah Roma,, ketakutan meningkat, suhu politik memanas ketika ternyata masuk Yerusalem, Yesus bisa menarik sedemikiannya massa. Yesus sudah mengganggu politk Bait Suci, sehingga Yesus harus disingkirkan. Jadi kita bisa melihat di sini peristiwa sejak minggu palmarum sampai paskah, sangat dipengaruhi oleh perpektif sosial politik pada jamannya.

Lapangan Pancasila, 07.04.2023 (TUS)

Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka

Sudut Pandang Matius 21:1-11 dan Matius 26:14-27:66 (Minggu Palma dan Minggu Sengsara, Tahun A) Gereja Neraka PENGANTAR Untuk le...