Rabu, 01 April 2026

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

PENGANTAR
Bolehkah kita lelah? Mungkinkah ada jeda saat kita berkarya? Tidur adalah mekanisme tubuh yang menunjukan tubuh kita harus istirahat, tubuh kita lelah, oleh karena itu istirahat atau jeda adalah keniscayaan, kemanusiawian. Mengakui kelelahan adalah pengungkapan bahwa kita masih tergantung pada Allah, ada batas pada manusia yang tidak bisa ditembus tetapi Allah tidak terbatas, mengakui kelelahan adalah bagaimana kita tidak hanya sampai pada percaya pada Allah tetapi mempercayakan diri pada Allah. Para murid kelelahan dalam berkarya dan itu diakui Yesus dengan mengajak beristirahat serta menepi dalam kesunyian, tetapi di saat kelelahan itu ada orang banyak yang butuh makan, para murid tak berdaya, di saat ketak berdayaan para murid oleh karena kelelahan tsb, Yesus, Allah, tetap berdaya, secara sastra ini menunjukan dalam kelelahan dan ketidak berdayaan serta keterbatasan manusia (para murid), yang diakui oleh Yesus tsb, manusia (para murid) seharusnyalah mempercayakan diri pada keberdayaan Yesus, Allah.Markus 6:31 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Dalam Markus 6:31 (TB), frasa "beristirahatlah seketika" diterjemahkan dari teks Yunani Koine, bukan Ibrani, karena Injil Markus ditulis dalam bahasa Yunani. Frasa tersebut berasal dari καὶ ἀναπαύεσθε ὀλίγον (kai anapaústhe ólgon), di mana bentuk imperatif anapaústhe dari kata anapaúō (ἀναπαύω) berarti "beristirahatlah" atau "pulihkan diri", dan ólgon (ὀλίγον) berarti "sedikit", "sebentar", atau "seketika". Anapaúō menyiratkan penghentian sementara dari pekerjaan atau pergerakan untuk memulihkan kekuatan fisik dan mental, sering digunakan secara refleksif untuk "istirahat diri sendiri" setelah kelelahan, seperti setelah perjalanan panjang atau tugas berat. Óligon menekankan durasi singkat, menciptakan nuansa praktis dan mendesak untuk pemulihan cepat, bukan istirahat permanen. Secara sastra, imperatif anapaústhe menunjukkan perintah langsung dari Yesus yang penuh kasih, kontras dengan kerumunan yang tak henti (hoi erchómenoi kaì hoi hypágointes polloí, banyak datang-pergi), membangun ketegangan naratif antara pelayanan intens dan kebutuhan manusiawi. Ayat ini juga menghubungkan ke mukjizat memberi makan 5000, di mana istirahat terganggu tapi Yesus tetap peduli, menekankan tema keseimbangan. Konteks Budaya dan Teologi. Dalam budaya Yahudi-Helenistik, istirahat menggemakan Sabat (Keluaran 20:8-11), di mana Tuhan memerintahkan pemulihan dari tenaga kerja melelahkan, mengakui kelelahan sebagai bagian manusiawi pasca-kutuk dosa (Kejadian 3:17-19). Yesus mendukung hal ini dengan menginisiasi istirahat bagi murid-murid yang lelah setelah misi (Markus 6:30), menunjukkan Ia menghargai batas manusiawi dan memerintahkan istirahat sebagai bagian dari kehidupan pelayanan. Apa makna rohani dari ajakan Yesus beristirahat. Ajakan Yesus untuk beristirahat dalam Markus 6:31 memiliki makna rohani mendalam sebagai undangan untuk pemulihan fisik dan spiritual di tengah pelayanan atau karya para murid yang melelahkan. Dalam makna itu, memang dapat dipahami ajakan Yesus untuk beristirahat para muridnya, sebagai jeda spiritual dan fisik. Pemulihan Kekuatan Rohani, Istirahat ini mengajarkan keseimbangan antara pelayanan atau karya dan persekutuan pribadi dengan Tuhan, menggemakan prinsip Sabat di mana manusia memulihkan diri untuk melayani atau berkarya lebih efektif. Yesus menunjukkan bahwa mengakui kelelahan bukan kelemahan, melainkan bagian dari ketergantungan pada kuasa Allah. Dengan mengajak murid ke tempat sunyi, Yesus mengundang waktu doa dan refleksi, di mana istirahat fisik menjadi pintu masuk untuk istirahat rohani sejati seperti dalam Matius 11:28-29. Ini menekankan bahwa pelayanan tanpa istirahat dapat menyebabkan kelelahan rohani, sehingga istirahat memperbarui panggilan ilahi. Secara rohani, ajakan ini menjadi disiplin kerohanian: berhenti sejenak untuk mendengar Tuhan, menghindari kelelahan berlebih, dan mempersiapkan diri bagi mukjizat berikutnya, seperti pemulihan 5000 orang.


PEMAHAMAN 
Dalam melakukan berbagai aktivitas, manusia sering kali mengalami kelelahan. Baik lelah karena pikiran, pekerjaan, pelayanan, maupun berbagai dinamika relasi yang ada di dalam keseharian hidup. Karenanya, kelelahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Kelelahan itu manusiawi. Teologi Kristen dalam perkembangannya tidak mengajak umat untuk lari dari kenyataan itu, melainkan untuk mengakui dan menyadari bahwa kelelahan adalah bagian dari kerapuhan diri. Dalam ilmu medis, orang tidur itu menunjukan tubuh manusia mengalami kelelahan, jadi lelah adalah keniscayaan manusia, lelah melekatkan pada kemanusiaan. Selama manusia masih tidur maka tidak mungkin manusia itu tidak lelah. Demikian halnya gereja, gereja harus mengakui kelelahan umat, itu pastoral bagi umat. Bayangkan saja, ada umat lelah dengan pernikahan, terus datang ke gereja, gereja terus mengatakan "tak lelah", "tidak boleh lelah", "jangan lelah", itu namanya gerejanya tidak melakukan pastoral yang baik, itu gerejanya tidak memanusiakan manusia. Oleh karenanya, kita sampai pada pemahaman bahwa ketika Allah turut merengkuh kerapuhan umat, maka Ia tentu turut merengkuh kelelahan kita, Allah tentunya memanusiakan manusia. Bila demikian, mampukah kita memaknai undangan untuk  meragakan kemurahan hati Allah di tengah kelelahan kita? 
 Markus 6:30-44 menolong kita untuk melihat kembali ajaran Tuhan Yesus yang terus relevan dengan konteks zaman sampai dengan hari ini. Ada tiga bagian yang ingin ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus membuka diri untuk kelelahan para murid. Bagian pertama ini tampak melalui tindakan Tuhan yang meminta para murid untuk menyendiri ke tempat terpencil dan beristirahat sejenak (ay. 30-32). Hal ini disampaikan karena Ia sangat mengerti akan apa yang dilakukan oleh para murid sebelum bertemu dengan-Nya. Membaca bagian ini jelas tidak boleh melupakan kisah bahwa Yesus mengutus kedua belas murid (berdua-dua) untuk menyuarakan berita pertobatan, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Tugas pengutusan yang demikian sungguh melelahkan, bahkan untuk makan pun mereka belum sempat. Karenanya Tuhan Yesus mengajak para murid untuk beristirahat sejenak, menyingkir dari keramaian orang banyak pada waktu itu, dan memulihkan energi. Jadi, Tuhan Yesus membuka diri terhadap kelelahan sebagai bagian dari kehidupan manusia setelah melakukan berbagai hal dan mengerti bahwa mereka yang lelah membutuhkan waktu beristirahat, meski ada dalam kelelahan, Tuhan Yesus mengundang para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama. Bagian kedua ini tampak ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya seperti domba yang tidak memiliki gembala dan yang tidak memiliki makanan (ay. 33-38). Mereka membutuhkan sentuhan belas kasih agar tetap bertahan hidup. Namun, respons para murid sungguh mencerminkan sisi manusiawi dan ketidakmampuan memahami ajaran Yesus. Para murid kebingungan dan merasa tidak mampu untuk memberi makan orang banyak, sehingga ingin menyuruh mereka pergi. Berbeda dari respons para murid, Yesus justru memberi pengajaran dan mengajak para murid untuk menyiapkan makanan bagi mereka semua. Jadi di tengah kelelahan dan waktu istirahat yang belum tercapai, Yesus memberi teladan kepada para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Ini bagian dari ketidakmenyerahan diri. Tuhan Yesus memberi kekuatan kepada para murid yang sudah lelah, tetapi yang tidak menyerah untuk berbelas kasih. Bagian ketiga ini tampak ketika Tuhan Yesus memampukan para murid untuk memeriksa ketersediaan makanan, mengatur orang banyak untuk duduk berkelompok, membagikan makanan, bahkan mengumpulkan kembali makanan yang berlebih (ay. 39-44). Mereka yang tadinya kelelahan, tetap memilih untuk melakukan apa yang diminta Yesus sebagai tanda ketidakmenyerahan diri. Karena itu, dari lima roti dan dua ikan, semua orang dapat makan hingga kenyang dan para murid dimampukan untuk menyatakan belas kasih kepada sesama melalui apa yang dilakukan bersama Tuhan. Jadi, ketika para murid mengakui kelelahan tetapi memilih untuk tetap berbelas kasih, maka Tuhanlah yang memampukan mereka.  Perjalanan Tuhan Yesus dan para murid yang demikianlah menjadi perenungan kita bersama, menjadi penting untuk dibaca dalam sudut pandang bahasa sastra, Markus 6:30-44. Tema penghayatan ini mengarahkan kita pada istilah yang berarti tetap, terus-menerus, atau tidak menyerah, tetap memiliki hati berbelas kasih seperti Allah yang diwujudkan dalam karya nyata kepada sesama di tengah pengajuan bahwa sangat dimungkinkan kita sedang atau akan kelelahan. Oleh karenanya, mari memaknai bahwa tidak menyerah untuk menyatakan belas kasih kepada sesama, meski diri kita sebagai manusia ada dalam kelelahan. Sama seperti para murid yang meski lelah, mereka dimampukan Tuhan untuk tidak menyerah berbelas kasih, maka demikianlah kita sebagai umat di masa kini, dan nampak bahwa pengakuan kelelahan itu bukan kelemahan tetapi membuka akan ketergantungan pada Allah, bukan usaha manusia sendirian.  Jadi sekarang, bagaimana mewujudkan belas kasih dalam karya nyata kita di tengah kehidupan kita bersama? Undangan bagi setiap kita yang sudah lelah adalah tak menyerah menyatakan belas kasih di tengah kehidupan keluarga, di tengah kehidupan persekutuan yang adalah gereja Tuhan, serta di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam perjuangan demikian, Kristus yang akan merengkuh kelelahan manusia senantiasa memampukan kita untuk tetap berbelas kasih kepada sesama. Ia tetap mengerti dan membuka diri bagi kelelahan setiap umat, tetapi yang juga tiada henti untuk memampukan umat memenuhi tugas pengutusannya. Meski lelah, mari tidak menyerah untuk berbelas kasih kepada sesama. Semangat berjuang. Roh Kudus menolong kita. 
(01042024)(TUS)

Sudut Pandang Dalam Perjamuan Makan Terakhir

Sudut Pandang Dalam Perjamuan Makan Terakhir 

PENGANTAR
 "Makan” merupakan suatu kebutuhan dasar manusia. Namun lebih dari itu, makan adalah momen berharga untuk merayakan, berbagi cerita,bahkan mengucapkan perpisahan. Sepanjang pelayanan-Nya di tengah manusia, Yesus sering hadir di meja makan. Bersama Marta dan Mariadi Betania,bersama Matius si pemungut cukai. Dan satu momen yang dikenal, ketika Yesus berkumpul di meja makan bersama murid-murid-Nya sebelum Ia disalib. Apa makna meja makan? Yesus memakai sarana meja makan untuk menunjukkan kesetaraan-Nya dengan umat manusia. Di meja makan, semua orang memakan hal yang sama.Semua orang melayani serta dilayani. Meja makan merupakan salah satu bukti bahwa Allah merendahkan dirinya, menganggap kita keluarga dan berjumpa dengan manusia secara langsung. Dalam Yohanes 13, Yesus berada di meja makan bersama murid-murid-Nya. Dia makan bersama orangyang akan mengkhianati-Nya, orang yang akan menyangkal-Nya, orang yang meragukan-Nya. Tidak hanya itu, Yesus juga membasuh kaki mereka.Yesus menunjukkan kerendahan hati-Nya kepada mereka yang menimbulkan luka. Dan inilah juga ajakan kepada kita. Di tengah kehidupan bersama orang lain dengan beragam latar belakang,
dengan mereka yang membutuhkan pertolongan, dengan mereka yang tersingkirkan, dan mereka yang mungkin saja menyakiti kita.
Mengasihi seperti Yesus memang sulit. Namun ingatlah bahwa Yesus juga terus mengasihi kita walau kita meragukan-Nya, melupakan-Nya, dan meninggalkan-Nya. Bisakah kita tetap mengasihi di tengah kerapuhan? dan bisakah kita tetap membasuh di tengah luka yang masih membiru? Manusia rapuh, kembali bertanya, Apa makna meja makan? Yesus memakai
Sarana meja makan untuk menunjukkan kesetaraan-Nya dengan umat manusia, tak ada yang disingkirkan, semua dirangkul, baik yang mengkhianati, yang meninggalkan dan menyangkal diri Yesus. Dimeja makan, semua orang memakan hal yang sama. Semua orang melayani serta dilayani. Meja makan merupakan salah satu bukti bahwa Allah mau merendahkan dirinya, dan berjumpa dengan manusia secara langsung.


PEMAHAMAN
Tiga Pendosa yang Membuat Yesus, Membayar Harganya, bukan sekadar perjamuan makanan, melainkan momen dimana hati manusia terungkap di hadapan sebuah pengorbanan, kita melihat kelicikan Kayafas, kekecewaan Yudas, dan kerapuhan Petrus. Dan di antara ketiga wajah itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam ditujukan kepada kita semua, Topeng siapa yang paling sering kita gunakan? Kayafas Pemimpin
di Bait Allah. Tetapi Kehilangan Hati. Awalnya, Kayafas mungkin sungguh ingin
melayani. Namun perlahan, panggilan itu bergeser menjadi ambisi. Iman tidak lagi
tentang kesetiaan kepada Allah, melainkan alat untuk menjaga kenyamanan pribadi.
Seseorang bisa fasih menguasai hukum Tuhan, namun lupa akan kasih. Sehingga ketika Yesus mengusir para pedagang dari
Bait Allah, Kayafas tidak melihatnya sebagai teguran. la melihatnya sebagai ancaman.
Tanpa kekerasan la menggunakan berbagai
cara untuk menangkap Yesus untuk menjaga martabatnya.
Apakah kamu ketika ditegur Tuhan, justru merasa diperlakukan tidak adil? Yudas Iskariot, Terlihat Saleh Tapi Tidak Menjamin Kesetiaan
Pernahkah kamu kecewa
karena Tuhan tidak bertindak sesuai harapanmu? Itulah yang dialami Yudas. la bukan murid sembarangan. Cerdas, dipercaya menjadi bendahara, namun ia kalah oleh ketamakannya. Yudas ingin Yesus menjadi raja bangsa, tapi Yesus memilih jalan yang berbeda. la tidak berniat membunuh. la mungkin hanya ingin memaksa, berharap Yesus akan menunjukkan kuasa-Nya saat terdesak. Tetapi ketika Tuhan tidak mengikuti skenarionya, Yudas memilih
kecewa. Dan celah itulah yang dimanfaatkan Kayafas.
Bagaimana kamu saat diberikan jalan yang
berbeda? Apakah kamu kecewa? Petrus yang Setia
Namun Meragukan Imannya. Pernahkah kita merasa paling setia, sampai situasi menguji segalanya? Itulah Petrus.
Murid yang paling vokal menjanjikan nyawa bagiYesus, namun buta akan kerapuhan yang ia bawa. Yesus justru menyingkapkan sisi gelap yang belum Petrus sadari: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali"
(Yohanes 13:38). Kita sering bersikap seperti Petrus. Berani menyatakan iman saatsituasi aman, namun memilih diam seribu bahasa saat tekanan datang, seringkali kita diem padahal ada hal salah dan tak benar dihadapan kita. Kritisi Yesus atas Petrus yang antikritik, membutakan diri dan menulikan diri ketika Petrus tidak mau Yesus bicara tentang kematianNya adalah "Entahlah iblis ..... ". Saat ayam berkokok, Petrus sadar. la menangis dan momen itu menjadi awal pertobatannya.
Adakah jarak antara iman yang kita ucapkan dan iman yang kamu hidupi saat tidak ada yang melihat? Adakah kita tidak melakukan kejahatan di mata Tuhan saat tidak ada manusia melihat? Sebuah Meja Perjamuan Yang, Belum Sempurna. Namun, Yesus justru memberikan respons yang tak terduga. Meski tahu akan dikhianati dan disangkal, serta ditinggalkan Yesus tidak
membatalkan rencana-Nya untuk makan bersama mereka.
la berlutut, mengambil kain, dan membasuh kaki para murid-Nya
termasuk kaki Yudas yang akan mengkhianati-Nya, dan kaki
Petrus yang akan menyangkal-Nya. Meja Perjamuan ini membuktikan bahwa Yesus tidak mencari orang yang sempurna, tapi mereka yang mau dibentuk. Sering kali saat jatuh pada kesalahan yang sama, kita merasa terlalu tidak pantas untuk kembali. Kita memilih "menghilang" karena merasa pintu sudah tertutup rapat. Namun kasih-Nya tidak pernah menuntut kesempurnaan, la selalu lebih jauh menjangkau untuk membawa kita pulang.
Sama seperti la senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang la mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya,
Yohanes 13:1. Dalam setiap ibadah kamis putih, mungkin kita perlu melihat diri manakah kita? Kayafas kah? Yudas kah? Petrus kah?
(02042026)(TUS)

Selasa, 31 Maret 2026

IMAN ADALAH 
ALAT MEMAKSA MUJIZAT? 

Ada ajaran yang terdengar membangkitkan semangat, tetapi diam-diam merusak dasar iman: “Iman yang kuat adalah tidak berhenti percaya sampai mujizat terjadi. Tuhan pasti menjawab”. Kalimat ini disukai banyak orang, karena memberi harapan instan. Tetapi Injil tidak pernah dibangun di atas kepastian hasil—Injil dibangun di atas kedaulatan Tuhan.

Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan iman sebagai alat untuk memaksa kehendak kita terjadi. Di taman Getsemani, Ia berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” (Lukas 22:42). Jika Yesus sendiri menundukkan kehendak-Nya, bagaimana mungkin manusia menjadikan iman sebagai alat untuk menentukan hasil?

Masalah ajaran ini bukan pada kata “percaya”, tetapi pada arah “percaya”. Iman dipindahkan dari percaya kepada Tuhan menjadi percaya pada hasil yang diinginkan. Mujizat dijadikan tujuan, bukan Tuhan. Dan ketika mujizat tidak terjadi, iman pun goyah—bahkan runtuh. 

Alkitab justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Paulus berdoa tiga kali agar “duri dalam daging” diangkat. Namun jawabannya bukan kesembuhan, melainkan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Korintus 12:9). Doanya tidak dijawab seperti yang ia harapkan, tetapi imannya tidak runtuh—justru semakin dalam.

Dalam Ibrani 11 tidak hanya menampilkan mereka yang menerima mujizat, tetapi juga mereka yang disiksa, dipenjarakan, dan mati mengenaskan. Namun keduanya ditempatkan dalam satu daftar yang sama: orang-orang beriman. Ini menampar pemahaman iman yang dangkal. Sebab Alkitab sendiri menegaskan bahwa iman tidak diukur dari hasil yang terlihat. Mereka yang dibebaskan dan mereka yang dibunuh—keduanya sama-sama beriman, karena ukuran iman bukan hasil akhir, melainkan kesetiaan yang tidak tawar terhadap Tuhan.

Jika iman hanya dianggap sah saat mujizat terjadi, maka setengah dari Ibrani pasal 11 harus dibuang. Tetapi Alkitab tidak melakukannya. Justru di sanalah pesan kerasnya: iman sejati tetap setia, bahkan ketika Tuhan tidak bertindak sesuai harapan manusia. Iman bukan alat untuk memaksa Tuhan bertindak, tetapi keberanian untuk tetap tunduk ketika Tuhan memilih jalan yang tidak kita mengerti.

Ketika iman dipersempit menjadi “percaya sampai mujizat terjadi,” maka yang lahir bukan iman—melainkan ilusi rohani. Jemaat diajar mencintai hasil, bukan Tuhan; menghormati jawaban doa, bukan Pribadi yang berdaulat. Akibatnya fatal: saat hasil tidak sesuai harapan, Tuhan dianggap gagal, kasih-Nya diragukan, dan iman runtuh tanpa sisa. Itu bukan iman Alkitabiah—itu iman yang dimanjakan keadaan.

Iman sejati justru berdiri saat mujizat tidak terjadi. Ia tidak menuntut bukti, tidak mengatur Tuhan, dan tidak bergantung pada hasil. Ia tetap setia—karena yang dipegang bukan apa yang Tuhan lakukan, tetapi siapa Tuhan itu.

Yohanes 16:33, Kristus tidak pernah menjanjikan hidup tanpa luka—Ia menjanjikan kemenangan di tengah luka. Maka kemenangan sejati bukan saat masalah lenyap, tetapi saat iman tetap tegak di dalamnya. Jika iman hanya hidup saat keadaan baik, itu bukan kemenangan—itu kenyamanan. Kemenangan yang sejati adalah tetap percaya, tetap setia, dan tetap tunduk kepada Tuhan, bahkan ketika dunia menekan dan jawaban tidak datang.

Iman sejati tidak berkata, “Tuhan pasti lakukan ini bagiku.” Iman sejati berkata, “Tuhan tetap baik, sekalipun yang terjadi tidak seperti yang kuinginkan dan aku tetap percaya. 

Gereja harus berhenti memproduksi iman yang bergantung pada mujizat! 

Gereja yang terus menjual iman berbasis mujizat sedang menyiapkan jemaat yang rapuh—keras saat diberkati, tetapi runtuh saat diuji. Iman sejati tidak lahir dari mimbar yang menyenangkan telinga, melainkan dari kebenaran yang menguatkan jiwa. Tuhan tidak berjanji selalu mengubah keadaan, tetapi Ia tidak pernah gagal menyertai. Jadi pilihannya tegas: membangun iman yang manja dan mudah hancur, atau iman yang tahan api—yang tetap berdiri, bahkan ketika tidak ada mujizat sama sekali.


Sudut Pandang Ikut berdosa (dosa kolektif/omission)

Sudut Pandang Ikut berdosa (dosa kolektif/omission)

PENGANTAR
Dalam Alkitab dosa itu  ada beberapa kategori bila dilihat dari struktur bahasa dan sastra asli dari Alkitab, saya pernah menuliskan di sudut Pandang yang lain tentang hal itu. Kali ini saya menyoroti apa yang diungkap di alkitab tentang keterikutan dosa atau masuk dalam dosa kolektif. Pemahaman populer seringkali membatasi dosa pada tindakan aktif melanggar perintah Allah (dosa komisi), seperti membunuh, mencuri, berzinah, menghancurkan alam  atau korupsi, dlsb. Namun, Alkitab dengan tegas memperluas definisi dosa hingga mencakup kelalaian atau pengabaian terhadap kebaikan atau teguran yang seharusnya dilakukan (dosa omission). Alkitab Menyuarakan, suara kebenaran/kenabian akan teguran  tindakan dosa melindungi orang tsb, maksudnya orang yang menyuarakan kebenaran tsb dari dosa kolektif, demikian pula dapat menyelamatkan si pendosa. Shg pada intinya Alkitab menyuarakan bagaimana kita bersikap atau mempunyai sikap atas dosa, bukan sekedar penolakan atas dosa saja, tetapi juga pembiaran atau pendiaman atas dosa yang terjadi, maka kita ikut dalam dosa kolektif, kental sekali nuansa pemahaman ini dalam PL dan PB, dilatar belakangi pemahaman bagaimana umat Tuhan itu dikhususkan/dipilih (dikuduskan).

PEMAHAMAN 
Rasul Yakobus memberikan pernyataan yang gamblang:

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17)

Yakobus 5:19-20 (TB)
19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

Dalam Injil pun disinggung, bagaimana bersuara atau kritik akan dosa jangan dibawa seperti penghakiman akan dosa, dg latar belakang penulisan akan pekabaran injil dan pertobatan, pertobatan bukanlah pemaksaan tetapi panggilan untuk sadar diri, jadi  tidak boleh dipaksakan, bersuara atau kritik dilakukan tetapi lebih dari itu malah akan membuat dosa baru yaitu kebencian dan luka batin, akan hal tsb :

Matius 18:17 (TB) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Matius 10:14 (TB) Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.

Kecuekan, ketidakpedulian, dan pengabaian terhadap panggilan untuk mengasihi dan berbuat benar adalah dosa yang serius. Para penafsir seperti Matthew Henry dalam Commentary on the Whole Bible menekankan bahwa kelalaian (omission) seringkali merupakan akar dari pelanggaran aktif (commission).
Seseorang mungkin tidak merampok, tidak mencuri, hidup saleh dan bersedekah tetapi ia berdosa jika ia tidak menolong mereka yang kekurangan ketika ia mampu, tetapi ia berdosa ketika membiarkan korupsi terjadi di depan mata, tetapi ia ikut berdosa ketika membiarkan terjadinya tidak transparan laporan keuangan, tetapi ia ikut berdosa ketika tidak bersuara kalau chruch berubah menjadi club, dlsb, itu sudut pandang Alkitab dari segi bahasa dan sastra serta budaya zaman Alkitab, tentunya orang boleh saja menafsir dengan sudut pandang apapun tentang hal dosa ini, tinggal argumentasi yang digunakan kuat lemah atau bernalar tidak, jembatan nalarnya bgmn?. Dosa bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang gagal kita lakukan sebagai makhluk yang diciptakan untuk memuliakan Allah dan mengasihi sesama.
(01042026)(TUS)


Sudut Pandang 𝙉𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙜 𝘼𝙢𝙖𝙩!𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗗𝗶𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗗𝘂𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶

Sudut Pandang 𝙉𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙜 𝘼𝙢𝙖𝙩!𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗗𝗶𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗗𝘂𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶

PENGANTAR
Fundamentalisme itu jamak (𝘧𝘶𝘯𝘥𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴𝘮𝘴). Ada banyak ragamnya. Namun, prinsipnya sama: 𝘀𝗲𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶 𝗮𝘆𝗮𝘁. Mereka memilih ayat-ayat yang sesuai dengan ideologi mereka masing-masing. Jika mendukung, maka teks itu historis. Jika tidak, maka mereka berdalih kiasan atau bahkan sama sekali tak dilirik.

PEMAHAMAN
Saya ambil contoh hari penyaliban Yesus.

Fundamentalis 1: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Rabu sebelum hari Paska Yahudi (14 Nisan). Setelah tiga hari tiga malam Yesus bangkit pada hari Minggu. Rujukan mereka adalah Injil Yohanes.

Fundamentalis 2: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Paska Yahudi (15 Nisan) atau Jumat. Perbedaan latar waktu di Injil sinoptik dan Injil Yohanes diakur-akurkan.

𝗔𝗽𝗮 𝗸𝗮𝘁𝗮 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯? 

Menurut Injil sinoptik Yesus disalib pada hari Paska Yahudi atau 15 Nisan  (lih. Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Menurut Injil Yohanes Yesus disalib pada hari persiapan Paska atau sehari sebelum Paska Yahudi atau 14 Nisan (lih. Yoh. 13:1).

Ya harus diakui bahwa ada perbedaan hari penyaliban Yesus di Alkitab. Tidak perlu ditutup-tutupi. Tidak perlu membela dengan 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan diri sendiri. Justru yang terpenting adalah mengakui dan menerima ada perbedaan, lalu mengajukan pertanyaan mengapa berbeda dan 𝗮𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮?

𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀

▶️ Latar waktu episode 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘦𝘬𝘶𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 adalah 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 (Yoh. 13:1), bukan 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. Episode 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 dalam Injil Yohanes adalah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 (Yoh. 6:1-15), yang dilanjutkan penjelasan tentang Ekaristi (Yoh. 6:25-59).
▶️ Ketika Yesus ditangkap, petulis Injil Yohanes membuat latar waktu 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (Yoh. 18:28).
▶️ Ketika Yesus dihukum mati, petulis Yohanes menyajikan latar waktu 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (Yoh. 19:14).

Jadi, Yesus mati pada hari penyembelihan domba kurban Paska (sehari sebelum Paska Yahudi). Yesus adalah 𝘼𝙣𝙖𝙠 𝘿𝙤𝙢𝙗𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Petulis Injil Yohanes memertegas teologi 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 itu dengan mengatakan 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘵𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 (Yoh. 19:36). Ini sesuai dengan peraturan Paska tulang anak domba kurban tidak boleh dipatahkan (Kel. 12:46). 

𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝘀𝗶𝗻𝗼𝗽𝘁𝗶𝗸

Latar waktu Injil sinoptik: Yesus menghelat perjamuan Paska ketika Ia melakukan 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 atau dikenal juga dengan 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 (Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Teologi yang mereka usung tidak sama dengan teologi Injil Yohanes. Mereka 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 mengusung teologi Yesus 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Injil Markus, sebagai misal, mengusung teologi Yesus adalah 𝘏𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘦𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢.

Perbedaan teologi itu justru berkat bagi umat Kristen. Ini adalah kekayaan iman dari banyak kisah teologis.

Namun, perbedaan kronologi cerita Injil selalu 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗺𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 bagi kaum fundamentalis yang ingin membela ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦: laporan petulis Injil tidak memiliki kesalahan dalam hal apa pun. Demi membela ideologi itu kerap solusi yang ditawarkan menjadi aneh dan dibuat-buat demi memuaskan diri sendiri. Lewat ilmu gadungan alias 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 mereka melakukan “cocoklogi” yang menggelikan.

Jika kaum fundamentalis terdesak tidak dapat menjelaskan perbedaan latar waktu penyaliban Yesus di kitab-kitab Injil, mereka akan berujar: itu bukan perbedaan, itu saling melengkapi. 

𝘓𝘢𝘩, kalau saling melengkapi berarti 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗱𝘂𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝙙𝙤𝙣𝙜! Yesus disalib, mati, dan bangkit (kronologi versi Injil Yohanes), lalu ditangkap lagi, disalib lagi, mati lagi, dan bangkit lagi (kronologi versi Injil sinoptik). Menjadi fundamentalis 𝘬𝘰𝘬 𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘵!

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada Misteri Paska. Apa itu Misteri dalam Misteri Paska? Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Misteri Paska merupakan serapan dari ungkapan Latin 𝘔𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮, kita akan mendiskusikan kata 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮 selalu saling berpautan.

Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. 𝗥𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗸 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 itulah yang dimaksud pada kata misteri dalam Misteri Paska.

Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi Gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak Gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologisnya dan memasukkannya ke dalam kalender kita sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu produk iman Gereja untuk memastori dan membina umat agar kita dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

Andaikata, sekali lagi andaikata, Yesus tidak mati pada hari Jumat tidak sekonyong-konyong membuat Jumat Agung kehilangan kredibiltas. Iman Kristen tidak bergantung pada ketepatan hari kematian Yesus, melainkan pada peristiwa iman kebangkitan Yesus. Kata Rasul Paulus: Jika Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kamu.
(01042026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20 : 1-18 (𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20 : 1-18 (𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮)

𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗹𝘆𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗿𝗼𝗲

Sesudah melewati tiga hari secara berendeng secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi, umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “𝘈𝘭𝘪𝘵𝘩𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪 . 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘭𝘶𝘪𝘢!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menantikan dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharapkan pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst.

Penjelasan tentang Yesus yang bangkit atau Yesus-Paska sila baca di https://www.facebook.com/100030986591668/posts/475928250116724/. 

Bacaan ekumenis Minggu Paska diambil dari Injil Yohanes 20:1-18 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan 1Korintus 15:19-26. Untuk praktis penulisan dalam edisi Paska ini saya menyebut Yesus yang bangkit atau tubuh kebangkitan Yesus sebagai 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮.

Dikisahkan dalam Injil Yohanes 20:1-18 pada Minggu buta Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur Yesus dan ia melihat batu penutup kubur Yesus sudah tidak ada. MM kemudian berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka bahwa jenazah Yesus sudah tidak ada. Simon Petrus dan murid yang lain itu bergegas ke kubur Yesus. Petrus masuk ke kubur Yesus dan hanya melihat kain kafan sudah tergeletak di tanah, sedang kain peluh agak di samping di tempat lain sudah tergulung. Murid yang lain menyusul masuk, melihat, dan percaya. Sesudah itu keduanya pulang.

MM tetap berada di dalam kubur dan menangis. Dua malaikat berpakaian putih menyapa MM, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab MM kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian MM menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada MM, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" MM menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" MM berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepada MM, "Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." MM pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan MM menceritakan hal-hal yang disampaikan oleh Yesus. [Bacaan berakhir di sini]

Siapakah MM? Keempat Injil menyebut nama MM. Pakar PB menduga keras tokoh cerita MM ada di dunia nyata. Bukan sekadar sosok yang ada di dunia nyata, tetapi juga tokoh yang diperhitungkan. Dia bukan sekadar “Maria” pada umumnya, tetapi “Maria Magdalena”  dengan nama belakang merujuk daerah asalnya, Magdala atau Migdal. Ada kekhususan nama MM di keempat Injil. Bandingkan dengan tokoh cerita Zakheus yang khas Injil Lukas. Meskipun disebut oleh keempat Injil, tokoh MM, selain ada persamaan, ada perbedaan pemerian. 

Persamaan. Injil Markus dan Yohanes menampilkan MM pada akhir cerita Injil, menjadi saksi penyaliban Yesus. Injil Matius dan Yohanes menyebut MM memegang/menyentuh Yesus-Paska.

Perbedaan. Injil Lukas menyebut MM perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat, sedang Injil Yohanes MM perempuan baik-baik. Injil Yohanes menyebut MM sendirian ke kubur Yesus, sedang Injil Markus menyebut MM bersama dengan Maria, ibu Yakobus, dan Salome. Injil Matius menyebut Yesus-Paska berjumpa dengan MM dan Maria yang lain, sedang Injil Yohanes menyebut MM sendirian berjumpa dengan Yesus-Paska.

Sekarang kita membahas MM menurut versi Injil Yohanes karena bacaan kita pada Minggu Paska Ini dari Injil Yohanes. Berdasarkan sapaan MM kepada Yesus  dengan “Rabuni” (Guru), MM adalah murid Yesus (Yoh. 20:16). Yesus menyapa dengan “Maria” (Yoh. 20:16). Sebagai Gembala yang Baik, Yesus mengenal semua nama domba-Nya, termasuk domba-Nya yang bernama “Maria” (Yoh. 10:3). Sebagai domba-Nya, Maria juga mengenal suara Gembalanya (Yoh. 10:3-4). Bagi MM Yesus bukan lagi sekadar “Rabuni”, melainkan “Tuhan” (Yoh. 20:18). Apabila iman Kristen diawali oleh kebangkitan Yesus dan kesaksian atas penampakan-Nya, maka MM dapat dianggap sebagai pendiri kekristenan. Setidaknya satu di antaranya.

Penulis Injil penulis Yohanes tampaknya hendak menyampaikan paradoks. Tubuh Yesus sebelum kebangkitan dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Yesus-Paska seakan-akan sama seperti tubuh biasa yang bisa disentuh atau dipegang (Yoh. 20:17), bahkan tubuh yang masih berbekas luka (Yoh. 20:20, 27). Akan tetapi tubuh Yesus-Paska juga tampaknya berbeda dari tubuh biasa sehingga MM tidak langsung mengenali Yesus dan Yesus bisa muncul tiba-tiba di dalam ruangan yang tertutup (Yoh. 20:14,19,26). 

Pengarang Injil Yohanes sepertinya menolak kepemimpinan Petrus di jemaat awal. Sila baca dengan cermat bahwa Injil Yohanes pada mulanya berakhir pada pasal 20 ayat 30-31. Bersama dengan murid “misterius” yang disebut sebagai “murid yg dikasihi Yesus” Petrus memang ikut masuk ke dalam kubur Yesus (Yoh. 20:6). Namun hanya “murid yang dikasihi Yesus” yang disebut “percaya” (Yoh. 20:8). Apa dan bagaimana reaksi Petrus? Tidak ada kisahnya (Yoh. 20:6-7). Saksi pertama dari penampakan Yesus bukan Petrus, melainkan MM. Murid Yesus yang terakhir disebutkan namanya adalah Tomas, bukan Petrus (Yoh. 20:24-29).

Dalam kisah kebangkitan Yesus ini dikatakan bahwa MM memegang terus Yesus-Paska. Ada penafsir yang mengartikannya sebagai sikap egois MM yang memiliki hubungan dekat dengan Yesus sehingga MM sangat kehilangan ketika Yesus mati. Ketika bertemu dengan Yesus-Paska, MM tidak mau melepaskan Yesus lagi. Begitukah?

Saya memilih metode tafsir kritik naratif. Kisah teologis pada dasarnya adalah refleksi iman si penulis terhadap Yesus, tokoh utama kisahnya. Hanya Yesus tokoh cerita yang penting. Tokoh-tokoh lain tidaklah begitu penting sehingga dapat dihadirkan dan dilenyapkan begitu saja dari dunia cerita. Karakter tokoh-tokoh di Injil datar atau 𝘧𝘭𝘢𝘵. Tidak kompleks. Kalau marah ya marah. Kalau malu ya malu. Tidak ada malu-malu kucing.

Kekhasan Injil Yohanes adalah ucapan-ucapan Yesus yang panjang seperti renungan. Pertanyaan atau tanggapan lawan bicara hanya untuk membuka jalan bagi penulis Injil untuk menulis Yesus menyampaikan ucapan-ucapannya. Contoh, perjumpaan Nikodemus dan Yesus dalam Injil Yohanes 3:1-21. Sesudah Nikodemus bertanya pada ayat 9, ia dihilangkan begitu saja. Contoh lainnya perikop “Roti Hidup” (Yoh. 6:25-59). Lawan bicara Yesus hanya berbicara di ayat 25, 28, 30-31, 34, 42, 52, sedang Yesus berbicara panjang-lebar menanggapi lawan bicaranya.

Demikian halnya dengan MM. Dalam teks sebenarnya tidak ada adegan MM memegang Yesus-Paska. MM memegang Yesus-Paska hanyalah imajinasi pembaca karena ada di ucapan Yesus. Cara itu merupakan teknik bercerita agar tokoh utama mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang kenaikan Yesus-Paska, tentang Yesus yang akan pergi kepada Bapa, dan perintah kepada MM untuk disampaikan kepada saudara-saudara Yesus. Kata Yesus kepada MM, "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴, 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙗 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙣𝙖𝙞𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙥𝙖, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙥𝙖-𝙆𝙪 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶." (Yoh. 20:17, TB2 LAI, 1997).

𝘘𝘶𝘰𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘢𝘺: "𝘈 𝘵𝘳𝘶𝘦 𝘧𝘳𝘪𝘦𝘯𝘥 𝘪𝘴 𝘴𝘰𝘮𝘦𝘰𝘯𝘦 𝘸𝘩𝘰 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘬𝘴 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘢 𝘨𝘰𝘰𝘥 𝘦𝘨𝘨 𝘦𝘷𝘦𝘯 𝘵𝘩𝘰𝘶𝘨𝘩 𝘩𝘦 𝘬𝘯𝘰𝘸𝘴 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘴𝘭𝘪𝘨𝘩𝘵𝘭𝘺 𝘤𝘳𝘢𝘤𝘬𝘦𝘥." Bernard Meltzer

Wassalam,
MDS (17042022)
📸 MM sekadar sampiran.

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 28:1-10 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 28:1-10 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

𝙆𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙆𝙪

Sesudah melewati tiga hari berendeng 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶 secara khidmat oleh umat Kristen dalam 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴, dan 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “𝘈𝘭𝘪𝘵𝘩𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪 . 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘭𝘶𝘪𝘢!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹 (21 Maret). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 9 April dan Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 16 April, Paska 2024 pada 5 Mei, dst.

Bacaan ekumenis untuk Minggu Paska Tahun A disesuaikan waktu ibadah.
▶️ Ibadah pagi: Yohanes 20:1-18 atau Matius 28:1-10 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kolose 3:1-4.
▶️ Ibadah malam: Lukas 24:13-49 yang didahului dengan Yesaya 25:6-9, Mazmur 114, dan 1Korintus 5:6b-8.

Saya mengambil Injil Matius 28:1-10 sebagai bahan pengulasan. Untuk Yohanes 20:1-18 sudah pernah saya tulis di sini https://www.facebook.com/100030986591668/posts/696019838107563/ 

Dalam membahas dan menafsir kisah di dalam Injil kita harus berpumpun atau berfokus pada Injil yang kita baca. Kita tidak boleh mencampuradukkan kisah Injil yang kita baca dengan ketiga Injil lainnya. Perbedaan kisah Injil satu tidak boleh kita harmoniskan dengan kisah ketiga Injil lainnya. Mengapa? Ini adalah kisah teologis, bukan kisah historis jurnalistis. Setiap pengarang Injil memiliki atau mengusung teologi mereka masing-masing. Mencampuradukkan kisah teologis keempat kitab Injil mengaburkan pesan teologis penulis Injil. Menyebut ayat atau teks Injil lain hanya untuk membandingkan.

[Untuk selanjutnya saya akan menyebut Yesus yang bangkit dengan 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮]

Sebelum memula pembacaan, mari kita balik sekilas apa yang terjadi sesudah Yesus dihukum mati di kayu salib. Saat penyaliban Yesus ada banyak perempuan di sana. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena (MM), Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat. 27:55-56). Langsung sesudah Yesus mati terjadi gempa bumi. Kepala pasukan di sekitar salib bersaksi, “𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩, 𝘐𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” (Mat. 27:54). Yusuf Arimatea lalu mengubur mayat Yesus sesudah meminta izin Pontius Pilatus, Gubernur Yudea (Mat. 27:57-61). 

Dalam pada itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi ingat perkataan Yesus yang akan bangkit pada hari ketiga. Mereka mencurigai murid-murid Yesus akan mencuri mayat Yesus kemudian membuat 𝘩𝘰𝘢𝘹 Yesus telah bangkit. Untuk itu sehari sesudah Yesus dikubur, mereka menghadap Pilatus dan memintanya mengirim pasukan menjaga kubur Yesus. Pilatus mengirim pasukan dan para serdadu itu menyegel batu besar penutup kubur Yesus.

Bacaan Injil Minggu ini (Mat. 28:1-10) dibuka dengan pergantian hari. Setelah hari Sabat lewat, menjelang fajar menyingsing pada hari pertama pekan itu, pergilah MM dan Maria yang lain menengok kubur Yesus (ay. 1). 

Hari pertama pekan itu sama dengan hari Minggu saat ini. Siapakah Maria yang lain? Kalau kita melihat adegan sebelumnya di Golgota dalam Matius 27:55-56, maka Maria yang lain adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf. 

MM dan Maria yang lain datang untuk menengok kubur Yesus, bukan untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Markus dan Lukas kedatangan perempuan-perempuan ke kubur Yesus untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Matius tidak mungkin itu terjadi karena kisah di Injil Matius menyebut kubur Yesus dijaga dan disegel oleh serdadu Romawi.

Tiba-tiba terjadilah gempa yang hebat sebab ada satu malaikat Tuhan turun dari langit menggulingkan batu penutup kubur. Wujudnya laksana kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Penjaga-penjaga itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati (ay. 2-4).

Di dalam Perjanjian Lama (PL) gempa bumi merupakan satu tanda kehadiran Yahweh (lih. Kel. 19:18; 1Raj. 19:11) dan bumi bergetar di hadapan wajah Yahweh (Mzm. 114:7). Penginjil Matius juga menulis terjadi gempa bumi saat Yesus mati di kayu salib (Mat. 27:51). Matius menggunakan kata 𝘴𝘦𝘪𝘴𝘮𝘰𝘴 untuk gempa bumi yang juga dipakainya dalam kisah topan diredakan (Ma7. 8:24).

Frase 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 ini hendak menyampaikan bahwa kebangkitan Yesus sudah menjadi urusan surgawi. Malaikat tu menggulingkan batu penutup kubur dan duduk di atasnya sebagai tanda kemenangan atas segala usaha manusiawi untuk membungkam Yesus. Para penjaga menjadi seperti orang mati merupakan bahasa ironi Matius. Mereka diberi perintah menjaga orang mati justru menjadi seperti orang mati, sedang Yesus yang mati bangkit.

Hanya di dalam Injil Matius yang menyebut para perempuan mengalami gempa dahsyat dan penggulingan batu kubur. Untuk itulah malaikat itu berkata kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘐𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢; 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (ay. 5-7).

Dua perempuan itu segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (ay. 8). Ada perbedaan teks Matius dan Markus. Dalam Injil Markus kedua perempuan itu hanya disebut takut tanpa sukacita yang besar. Hanya rasa takut yang menguasai kedua perempuan itu sehingga tidak mengatakan apa-apa. Dalam versi Injil Matius mereka takut dan sukacita yang besar karena mereka mendapat kepastian dari malaikat. Hal yang mirip terjadi pada orang Majus bersukacita ketika melihat bintang itu (Mat. 2:10).

Tiba-tiba Yesus-Paska menjumpai mereka dan berkata, “𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Kata Yesus kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙆𝙪 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 9-10).

Dalam Injil Matius ini kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska dan Yesus-Paska tidak melarang. Namun, dalam Injil Yohanes Yesus-Paska melarang MM memegang Yesus dengan alasan Yesus belum kembali kepada Bapa. Bagaimana menjelaskan perbedaan ini?

Dalam Injil Yohanes ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada MM. MM hendak memegang Yesus, tetapi Yesus-Paska menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus-Paska memerintahkan MM agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Ia pada saat itu (𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 dalam teks Yohanes) akan pergi kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17).
 
Pada babak kedua (Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal: (1) Yesus-Paska sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22) dan (2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (Yoh. 20:27). Bandingkan dengan Yohanes 1:33 “…𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴” dan Yohanes 7:39 “…𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘙𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯”. Yesus-Paska juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (20:23).

Dalam Injil Matius tidak membahas apakah Yesus-Paska sudah pergi atau belum kepada Bapa-Nya. Injil Matius tidak berurusan dengan Injil Yohanes. Kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska bukan untuk menahan atau membuktikan Yesus sudah bangkit, melainkan menyatakan sukacita dengan sembah sujud kepada Yesus-Paska. Kedua Injil ditulis dengan latar belakang pergumulan yang berbeda sehingga mengusung teologi yang berbeda pula. 

Perintah Yesus-Paska kepada kedua perempuan itu, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 …” Perintah ini sama dengan perintah Yesus-Paska kepada MM dalam Injil Yohanes. Apakah penggunaan sebutan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 bermakna sama dalam kedua Injil?

𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 dalam Injil Yohanes merujuk Yesus-Paska dan para murid sudah masuk ke dalam keluarga baru, anak-anak Allah (Yoh. 1:12) seperti dikatakan dalam perintah Yesus-Paska kepada MM, “… 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶  … 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶.” (Yoh. 20:17).

Dalam Injil Matius tampaknya perubahan sebutan dari murid-murid menjadi 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 adalah bentuk pengampunan. Para murid merasa gagal dan takut mendampingi Yesus dalam masa sengsara-Nya. Untuk membangkitkan percaya diri para murid dan untuk menunjukkan bahwa Yesus-Paska tidak marah atas kegagalan mereka, Yesus-Paska mengubah sebutan lebih akrab dengan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. Tafsir ini didukung dengan dua perikop sesudahnya. 
▶️ Pertama, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menyuap serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus untuk menyebarkan 𝘩𝘰𝘢𝘹 mayat Yesus dicuri oleh murid-murid Yesus (Mat. 28:11-15). Di sini para murid akan menghadapi masalah lebih berat lagi karena mereka akan menjadi tersangka pembuat 𝘩𝘰𝘢𝘹 Yesus bangkit yang mengganggu ketertiban dan ketenteraman Yudea, wilayah jajahan Romawi. 
▶️ Kedua, menjelang episode terakhir Injil Matius beberapa murid Yesus-Paska masih ragu-ragu (Mat. 28:17).

Saya hampir saban hari mengecewakan Yesus. Yesus tak marah, malah menyebut saya saudara-Nya. Untuk itulah dalam setiap Paska saya lebih bersukacita ketimbang Natal.

𝘘𝘶𝘰𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘢𝘺: “𝘐𝘧 𝘑𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘥 𝘧𝘰𝘳 𝘰𝘶𝘳 𝘴𝘪𝘯𝘴, 𝘵𝘩𝘦𝘯 𝘸𝘩𝘰 𝘥𝘪𝘦𝘥 𝘧𝘰𝘳 𝘰𝘶𝘳 𝘤𝘰𝘴 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘢𝘯?” Habemus Papulam

Wassalam,
MDS (09042023)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴, 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶

PENGANTAR
Sesudah melewati Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) umat Kristen memasuki Pekan Suci (𝘏𝘦𝘣𝘥𝘰𝘮𝘢𝘴 𝘔𝘢𝘪𝘰𝘳 atau 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬). Ada tiga hari secara berendeng yang dirayakan secara khidmat oleh umat Kristen, yaitu 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮. Secara populer 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 diindonesiakan sebagai 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶. Sangat dipahami penamaan Trihari Suci agar sejalan dengan penamaan Pekan Suci.
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari “utama“ di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴, dan 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶.


PEMAHAMAN
𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺)
Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 diindonesiakan menjadi putih? 
𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗿𝘂, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34). Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan Pemindahan Peralatan Sakramen. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗶𝗻 𝗽𝘂𝘁𝗶𝗵 𝗶𝘁𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.
Yang menjadi dagelan ada gereja ikut-ikutan merayakan Kamis Putih, tetapi pada Jumat Agung melayankan Perjamuan Kudus. Merayakan Kamis Putih, tetapi mereka tidak mengetahui makna dan pesan pastoral Kamis Putih.

𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 (𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘍𝘳𝘪𝘥𝘢𝘺)
Pengindonesiaan Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. Lha kok dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama. Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja merayakan berarti memuliakan, mengagungkan. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?
Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?”
Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “…𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞!” Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.
𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 (Yesus) 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗜𝗮 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit. Umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 (𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺)
Seperti pengindonesiaannya dari 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺 menjadi Sabtu Sunyi sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. Tidak ada ibadah pada Sabtu Sunyi. Mengapa? Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung. Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.
Sangat boleh-jadi akan tersembul pertanyaan, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.” Pertanyaan tersebut di atas sangat logis. Berhubung sangat logis, maka konsekuensi logisnya orang itu tidak memerlukan lagi hari-hari raya liturgi dan kebaktian Minggu. Ia bisa kapan saja melakukan kebaktian. Ia bisa kapan saja merayakan Hari Natal (tak perlu 25 Desember), merayakan Jumat Agung (tak perlu Jumat), merayakan Paska (tak perlu Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹 Maret), merayakan Pentakosta (tak perlu menanti 50 hari sesudah Paska), dlsb. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (𝘵𝘰 𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

(03042023)(TUS)

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).
 
PENGANTAR
Ini hanya keisengan imajinasi penulis, melihat cerita sastra Injil. Sebuah drama imaginasi flash back dari individu yang dikagumi.

PEMAHAMAN
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk Galilea, tapi pemuda itu sudah menyeka peluh di dahinya.
Sementara teman-teman masa kecilnya yang cerdas sedang mengepak perkamen untuk berangkat ke Yerusalem, mengejar posisi bergengsi di Bet Midrash (universitas elite para calon rabi), pemuda ini justru memanggul martil dan beliung. 
Langkahnya mantap menyusuri jalan tanah berdebu sejauh enam kilometer dari desa kecilnya, Nazaret. Tujuannya? Sepphoris.
Di sinilah, di tengah bisingnya denting logam yang beradu dengan batu kapur, misteri 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang dari Alkitab itu terukir.

Bagi anak laki-laki Yahudi abad pertama, pendidikan adalah segalanya. Lulus dari Bet Sefer (sekolah dasar) di usia belia, hanya mereka yang paling jenius yang akan ditarik oleh rabi besar untuk dididik menjadi ahli Taurat. 

Namun Yesus, yang di usia 12 tahun sempat membuat para cendekiawan Bait Allah melongo, secara mengejutkan justru menempuh jalur vokasi. 

Ia pulang ke rumah, melepas jubah akademis yang belum sempat dipakainya, dan mengenakan celemek kulit seorang Tekton.

Jangan bayangkan Tekton di masa itu seperti tukang kayu modern yang duduk manis meraut meja. Di Israel abad pertama, kayu sangat langka. Menjadi Tekton berarti menjadi kuli bangunan kelas berat merangkap arsitek dan pemahat batu.

Di Sepphoris, mega proyek kota metropolitan bergaya Yunani-Romawi ambisius milik Herodes Antipas, Yesus muda menghabiskan belasan tahun hidupnya. 

Di bawah terik matahari, Ia belajar mengukur presisi fondasi, membelah batu karang, dan merakit rangka atap. Sang guru utamanya bukanlah seorang rabi berjubah mewah, melainkan ayah-Nya sendiri: Yosef.

Tahun demi tahun berlalu. Pundak Yesus semakin bidang, otot-ototnya terbentuk oleh kerasnya batu kapur, dan telapak tangan-Nya penuh dengan kapalan. 

Namun, di saat yang sama, punggung pria tua yang selalu bekerja di samping-Nya mulai membungkuk. Napas Yosef semakin berat. Ayunan martilnya tak lagi sekuat dulu.

Hingga pada suatu hari, ketika Yesus berada di usia akhir dua puluhan (27-29 tahun), alat pahat itu akhirnya diletakkan untuk selamanya. 

Di sebuah ranjang sederhana di Nazaret, dengan didampingi Maria dan Yesus yang memegang erat tangannya yang kasar, Yosef menghembuskan napas terakhirnya. Pria yang setia menjaga rahasia surga itu telah purna tugas.

Kini, beban itu sepenuhnya berpindah ke pundak sang pemuda.

Sebagai anak laki-laki tertua (dan satu-satunya), Yesus secara otomatis menjadi kepala keluarga. Ia harus banting tulang menggantikan posisi ayah-Nya di proyek konstruksi demi menafkahi ibunda-Nya yang kini menjadi seorang janda. 

Penduduk Nazaret mungkin hanya memandang-Nya dengan sebelah mata: "Ah, Dia kan cuma kuli bangunan, anak janda Maria itu."

Namun, di balik baju kerjanya yang berdebu, ada sebuah ruang rahasia yang tak tersentuh oleh kelelahan fisik.

Lukas 4:16 mencatat sebuah detail yang menggetarkan: "seperti biasa Ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat". Frasa seperti biasa ini adalah saksi bisu. 

Selama 18 tahun, di tengah kerasnya menjadi tulang punggung keluarga, Yesus tak pernah absen dari Sinagoge. 

Di sanalah, dalam keheningan doa dan gulungan Kitab Yesaya, relasi batin-Nya dengan Sang Bapa terus menyala. Ia tidak butuh ijazah dari Bet Midrash, karena Ia berdialog langsung dengan Sang Pemilik Sabda.

Maka, tak heran jika kelak di Yohanes 7:15, para elite agama Yerusalem dibuat kelabakan saat berdebat dengan-Nya. Mereka saling berbisik heran, "Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan sedemikian, padahal Ia tidak pernah belajar?"

Mereka tidak tahu, bahwa universitas Yesus adalah debu jalanan Sepphoris dan tanggung jawab mengurus keluarga. Perhatikan saja bagaimana Ia kelak berkhotbah. 

Analogi-Nya begitu membumi dan menusuk relung hati.

Ia berbicara tentang orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir, dan orang bijak di atas batu karang (sebuah hukum mutlak arsitektur Tekton). 

Ia tahu betul rasanya memahat kuk (pasangan kayu pembajak) yang harus sangat presisi di leher lembu agar tidak menyakiti hewan itu, persis seperti janji-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." 

Semua perumpamaan brilian-Nya lahir dari keringat, air mata, dan pecahan batu kapur masa muda-Nya.

Namun, universitas jalanan ini tidak hanya menempa kedalaman teologi-Nya, melainkan juga memahat ketahanan fisik-Nya untuk satu misi terakhir yang paling brutal. 

Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana seorang tahanan yang punggungnya sudah dikoyak cambuk Romawi, yang ujungnya dipenuhi kaitan tulang dan timah, masih sanggup bangkit dan memanggul palang salib seberat puluhan kilogram mendaki bukit Golgota? 

Jawabannya ada pada otot-otot lengan dan pundak yang selama 18 tahun terbiasa memanggul balok kayu dan batu kapur melintasi perbukitan Galilea. 

Fisik-Nya tidak akan sekuat itu di sepanjang Jalan Salib, jika Ia tak pernah menahan pedihnya menjadi pekerja kasar di bawah terik matahari Sepphoris.

Lain kali, jika rutinitas pekerjaan harian kita terasa begitu melelahkan, membosankan, atau terasa kurang rohani, ingatlah kisah pemuda dari Nazaret ini. 

Ingatlah rute berdebu sejauh enam kilometer yang Ia tempuh setiap hari demi menafkahi ibu-Nya.

Sebab kadang, hal-hal yang paling ilahi justru sedang Tuhan pahat dalam rutinitas kita yang paling membumi.


Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

PENGANTAR
Dari diskusi di FBG Bengkel Liturgi, ada teman yg berseloroh menggoda, tetapi tetap menjadi jawab dari kami dan pemahaman serta meramaikan khazanah diskusi, masih perkara Minggu Palem, dan selorohnya begini :
Bacaan Injil Minggu Palma di gereja saya diambil dari Matius. Menurut catatan Matius: "Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan." 
Kalau mau reka ulang sesuai Matius maka sebaiknya:
1. Hamparkan pakaian. 
2. Sebarkan ranting di jalan (bukan dilambaikan).

Prosesi memakai daun palem itu menurut Injil Yohanes. Jadi kemarin itu mengkhotbahkan dari Matius, tapi meminjam prosesi menurut Injil Yohanes.
Itu sudah blunder lageee. 
Monggo. Siap menerima bully......sambil tertawa ngakak nih dia ..... sohib satu ini.


PEMAHAMAN
Dari mana tradisi daun palem yang setiap tahun dipegang dalam Minggu?

Jawabannya ada dalam Injil Yohanes. Di sana disebutkan bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyambut Yesus. Satu Injil. Satu detil. Satu praktik yang kemudian menjadi tradisi yang hampir tidak tergoyahkan. Dari satu detil itu lahir perayaan universal.
Dalam kerangka Tahun Liturgi, khususnya yang mengikuti RCL memang ada kemungkinan Injil Yohanes dibacakan pada Minggu Palem, misalnya dalam Tahun B sebagai alternatif dari Injil Markus. Akan tetapi itu tetap alternatif, bukan pola utama. Dalam banyak perayaan tahun lainnya yang dibacakan adalah Injil yang tidak menyebut daun palem sama sekali. 
Namun menariknya praktiknya tidak berubah. Kadang kita membaca Yohanes, tetapi lebih sering tidak. Daun palem tetap selalu ada. Kita melakukan sesuatu yang tidak selalu kita dengar, dan kita jarang menyadarinya.
Tentu saja ini bukan kesalahan. Tradisi gereja memang tidak dibangun dari satu teks saja. Liturgi merupakan hasil dari perjumpaan panjang berbagai kesaksian Injil, yang dirajut menjadi satu praktik bersama. Justru karena itulah diperlukan kesadaran.

Mengapa hanya Yohanes yang menyebut daun palem?

Perbedaan ini bukan kebetulan redaksional yang kecil. Ia mencerminkan cara masing-masing Injil memahami peristiwa itu.
Dalam Injil Sinoptik penekanan utamanya bukan pada jenis daun, tetapi pada tindakan menyambut: orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja yang datang dengan rendah hati. Fokusnya ada pada gestur penyerahan diri, bukan simbol politik tertentu.
Sebaliknya Injil Yohanes menafsirkan maknanya secara lebih simbolik dan teologis. Dengan menyebut “daun palem” Yohanes sedang memerjelas sesuatu yang implisit
bahwa penyambutan Yesus itu sarat harapan mesianik yang politis, harapan akan pembebasan, kemenangan, dan pemulihan Israel.
Pada aras ini maknanya menjadi lebih dalam sekaligus lebih problematis, karena yang mereka sambut belum tentu sama dengan siapa Yesus itu sebenarnya. Daun palem bisa menjadi simbol iman, tetapi juga bisa menjadi simbol harapan yang keliru.
Itu sebabnya Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Minggu Palem dan Minggu Sengsara beririsan. 
(31032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Senin, 30 Maret 2026

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗗𝗶𝗿𝗶 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗠𝗮𝘂 𝗗𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗗𝗶𝗿𝗶 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗠𝗮𝘂 𝗗𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶

PENGANTAR
Kamis Putih selalu punya suasana yang khas. Gereja ditata lebih rapi. Lilin dinyalakan. Liturgi berjalan dengan penuh kesungguhan. Ada prosesi, ada simbol, ada gerak yang terasa sakral. Semuanya tampak tertata, bahkan indah. Di situlah persoalannya.


PEMAHAMAN
Sering yang tertata hanyalah yang terlihat. Yang bergerak adalah tubuh, bukan hati. Yang sibuk adalah liturgi, bukan batin. Kamis Putih kemudian berubah menjadi perayaan yang rapi, tetapi tidak selalu menyentuh kedalaman. Umat mengikuti setiap bagian dengan tertib, tetapi tidak selalu masuk ke dalam ketegangan yang sedang dihadirkan.
Padahal malam itu bukan malam yang tenang. Dalam tradisi Injil Sinoptik malam itu adalah saat Yesus duduk bersama murid-murid-Nya, mengambil roti, lalu berkata bahwa itu adalah tubuh-Nya. Ia mengambil cawan, lalu berkata bahwa itu adalah darah-Nya. Sebuah tindakan yang kemudian dikenal sebagai Perjamuan Tuhan.
Namun peristiwa itu tidak berdiri sendiri. Di meja yang sama ada pengkhianatan. Ada murid yang akan menyangkal. Ada kegelisahan yang tidak terucapkan. Ada perpisahan yang tidak sepenuhnya dimengerti.
Dalam Injil Yohanes suasananya bahkan lebih sunyi dan lebih mengguncang. Tidak ada kata-kata penetapan roti dan cawan. Yang ada justru tindakan yang tidak terduga. Yesus bangkit dari meja, mengikatkan kain pada pinggang-Nya, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya.
Sebuah tindakan yang meruntuhkan jarak. Yang membalik hierarki. Yang memerlihatkan bahwa yang disebut Tuhan justru mengambil posisi hamba. [Sebutan Tuhan di sini adalah restrospektif]. Di GKJ, sering sulit mempraktekan hanya karena budaya dan tradisi RIKUH PEKEWUH, padahal jauh api dari panggangan dengan hal itu, karena ini simbolik liturgi yang harus dimaknai.
Namun di tengah semua itu kita acap lebih sibuk dengan apa yang tampak. Kita memerhatikan lilin, tetapi tidak masuk ke dalam gelapnya malam itu. Kita mengikuti prosesi, tetapi tidak ikut merasakan kegelisahan yang menyertainya. Kita bernyanyi, tetapi tidak mendengarkan ketegangan yang diam-diam mengalir di baliknya. Liturgi menjadi terang, tetapi batin tetap datar.
Padahal Kamis Putih bukan sekadar peringatan sebuah peristiwa. Ia adalah undangan untuk masuk ke dalam suasana yang tidak nyaman. Suasana ketika kasih dan pengkhianatan berdiri berdekatan. Suasana saat pelayanan atau karya bergereja tidak lagi menjadi simbol, tetapi menjadi tindakan yang merendahkan diri. Di sinilah kita mula melihat sesuatu.
Masalahnya bukan pada liturginya. Bukan pada lilinnya. Bukan pada prosesi atau tata ibadahnya. Semua itu penting. Semua itu membantu. Persoalannya ada pada apakah kita sungguh masuk ke dalam apa yang sedang dirayakan. Sangat mungkin kita menjalani Kamis Putih dengan penuh kesungguhan, tetapi tanpa keterlibatan batin. Kita hadir, tetapi tidak benar-benar ikut. Kita melihat, tetapi tidak benar-benar memahami. Kita bahkan bisa menerima roti dan cawan, tetapi tetap menolak jalan yang sedang ditunjukkannya.
Di situlah ironi itu muncul. Apa yang dirayakan adalah kasih yang merendahkan diri, tetapi yang terjadi adalah kenyamanan yang dipertahankan. Apa yang dihadirkan adalah pelayanan atau karya bergereja, tetapi yang dijalani adalah kebiasaan, rutinitas, biasanya memang begini kok, mental rutinitas dalam bergereja, menolak tidak nyaman, meski ketidak nyamanan itu teladan dan hikmat pengajaran Yesus.
Kamis Putih lalu menjadi terang di luar, tetapi belum tentu terang di dalam. Mungkin yang dibutuhkan bukan liturgi yang lebih megah. Bukan juga simbol yang lebih banyak. Yang dibutuhkan keberanian untuk tinggal sejenak dalam ketegangan itu. Tidak buru-buru selesai. Tidak segera beranjak, karena justru di situlah Kamis Putih mula berbicara.
Sangat mungkin yang disampaikannya bukan tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang selama ini kita hindari. Namun, justru pada aras itu Kamis Putih menjadi cermin yang jujur.
Ia tidak hanya menampilkan siapa Yesus itu, tetapi juga membuka siapa kita sebenarnya. Kita yang datang berpakaian rapi, liturgi yang tertib, nyanyian yang indah, tetapi tidak selalu siap untuk merendahkan diri. Tidak selalu siap untuk melayani dan berkarya. Tidak selalu siap untuk tinggal dalam ketegangan itu. Tidak siap ada dalam ketegangan itu mewujud pada anti kritik, membutakan diri, dan menulikan diri yang digumuli pada bacaan masa prapaskah tentang orang buta, wanita samaria, dlsb.
Kita ingin bagian terang dari malam itu. Kita ingin roti dan cawan. Kita ingin suasana yang hangat dan sakral. Akan tetapi kita tidak selalu ingin bagian yang lain. Bagian ketika harus membasuh kaki. Bagian ketika harus merendahkan diri. Bagian ketika kasih tidak lagi menjadi kata, tetapi menjadi tindakan yang tidak nyaman.
Kamis Putih bukan kekurangan simbol. Ia kekurangan keterlibatan. Bukan karena liturginya tidak lengkap, tetapi karena hati kita tidak ikut masuk ke dalamnya. Mungkin kita menyalakan banyak lilin, tetapi tetap menolak terang yang sesungguhnya. Kita mengikuti seluruh rangkaian ibadah, tetapi tetap menjaga jarak dari apa yang sedang dihadirkan, kita lari dari ketidak nyamanan teladan dan hikmat pengajaran Yesus, kita ingin nyaman.
Ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah bentuk. Liturgi berjalan. Lagu dinyanyikan. Doa dinaikkan. Namun, semuanya berhenti di permukaan. Kamis Putih pun selesai, tanpa pernah benar-benar terjadi.
Barangkali pada aras ini kita perlu bertanya ulang, apakah kita sungguh merayakan, atau hanya menjalankan? Apakah kita ikut masuk ke dalam malam itu, atau hanya menyaksikannya dari jauh?
Kamis Putih tidak membutuhkan penonton. Ia menuntut keterlibatan. Memang tak mudah.
Kita bersedia datang. Kita bersedia mengikuti. Kita bahkan bersedia mengulanginya setiap tahun, tetapi tidak selalu bersedia diubah olehnya, karena perubahan itu dapat berarti dilucuti.

(30032026)(TUS)
Baca juga:
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/seri-dibuat-dalam-dua-bagian.html
KALAU BERTAHAN MEMBUATMU HANCUR ATAU TERBUNUH, ITU BUKAN PANGGILAN TUHAN, ITU BUKAN KESETIAAN

Ada orang yang setiap malam berdoa sambil menangis, bukan karena rindu Tuhan…
tapi karena takut pulang ke rumahnya sendiri.

Tempat yang seharusnya jadi ruang aman,
justru berubah jadi ruang penuh ancaman.
Kata-kata jadi pisau. Tangan jadi alat melukai. Dan hati… pelan-pelan mati.

Lalu kamu diajarkan,
“Bertahanlah. Tuhan benci perceraian.”

Tapi tidak ada yang bilang, Tuhan juga benci air mata yang dipaksa jatuh setiap hari. Tuhan juga benci ketika martabatmu diinjak tanpa ampun.

Yesaya 41:10 berkata,
“Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Bukan: “Bertahanlah dalam kekerasan, Aku sedang mengujimu.”

Tidak.
Tuhan hadir untuk menguatkanmu keluar,
bukan mengikatmu untuk tetap disakiti.

Kadang kita salah mengartikan kesetiaan. Kita pikir diam itu sabar. Kita pikir bertahan itu kudus.

Padahal…
diam dalam kekerasan adalah luka yang dipelihara.
bertahan tanpa batas adalah jiwa yang disiksa.

Tuhan tidak pernah meminta kamu mengorbankan dirimu untuk menutupi dosa orang lain.

Kasih itu memang sabar. Tapi kasih juga tidak membiarkan kejahatan terus terjadi.

Kalau hari ini kamu hidup dalam ketakutan…
kalau setiap langkahmu penuh waspada…
kalau anak-anakmu tumbuh dalam trauma…

Itu bukan rumah.
Itu tempat yang harus kamu berani tinggalkan.

Keluar bukan berarti kamu gagal.
Keluar berarti kamu memilih hidup.
Memilih waras.
Memilih masa depan.

Dan Tuhan tidak akan meninggalkanmu di keputusan itu. Dia berjalan bersamamu…
di setiap langkah menuju pemulihan.

Kalau kamu sedang ada di posisi ini, jangan diam sendiri. Cari pertolongan. Ceritakan pada orang yang bisa dipercaya. Hidupmu terlalu berharga untuk terus disakiti. 

Minggu, 29 Maret 2026

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗔𝗹𝘁𝗮𝗿 𝗗𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗗𝗶𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶



Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗔𝗹𝘁𝗮𝗿 𝗗𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗗𝗶𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶

PENGANTAR
Sudut Pandang 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 dibuat dalam dua bagian. Bagian kesatu berpumpun pada gatra liturgis. Bagian kedua berpumpun pada gatra reflektif.
Menurut kalender gerejawi Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) Gereja adalah pembuka 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬, yang diindonesiakan menjadi Pekan Suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶. Tiga hari suci khusus itu adalah Kamis Putih-Jumat Agung-Sabtu Sunyi 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗼𝗱𝗲 𝗣𝗲𝗸𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗰𝗶 sehingga penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.


PEMAHAMAN 
Sering pula 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju Minggu Paska; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, Hari Kebangkitan Kristus. 
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Ketiganya bukan perayaan yang berdiri sendiri; ia adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.
Sabtu Malam selepas matahari terbenam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, bukan Sabtu Sunyi lagi. Tradisi ini diterapkan sampai sekarang. Sebagai contoh Malam Paska tahun ini oleh 𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 (RCL) dimasukkan ke tanggal 5 April 2026. Ibadah Malam Paska disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). 
Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. Minggu Paska tidak masuk ke dalam Trihari Suci. Dengan kata lain secara 𝘵𝘪𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 Trihari Suci dan Minggu Paska berbeda masa atau periode.

▶️ Berawal dari Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir pada Sabtu Sunyi
▶️ Malam Paska-Minggu Paska
▶️ Minggu kedua Paska
▶️ Dst.
▶️ Hari Pentakosta

Kamis Putih (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺) adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Kalau akhir masa Pra-Paska berarti tidak 40 hari 𝘥𝘰𝘯𝘨? Begini, kita mesti membedakan terlebih dahulu 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 dan 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘗𝘳𝘢-𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢. Jumlah 40 hari itu adalah 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 yang dihitung dari Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi tanpa menghitung (hari) Minggu.
Mengapa 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 
𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗿𝘂, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34). 
[Dalam Injil Yohanes tidak ditemukan perumusan Hukum Kasih seperti dalam Injil Sinoptik. Yang muncul justru 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗿𝘂 untuk saling mengasihi di dalam komunitas murid. Dalam konteks jemaat yang mengalami penolakan dan penganiayaan kasih tidak lagi tampil sebagai hukum umum, melainkan daya yang memerkokoh persekutuan.]
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Pada aras ini perintah itu bukan lagi ajaran, tetapi tindakan yang membalik seluruh cara pandang.
Kembali lagi ke pertanyaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Namun, putih di sini bukan sekadar warna yang tampak, melainkan simbol yang mengandung makna. Bahkan makna itu tidak segera terlihat pada pandangan pertama.
Pada Kamis Putih secara khusus Gereja mengosongkan peralatan sakramen dari altar (𝘴𝘵𝘳𝘪𝘱𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘢𝘭𝘵𝘢𝘳) sesudah 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱. Altar yang sebelumnya penuh kini menjadi kosong. Yang sebelumnya tertata kini telanjang. Dilucuti. Polos! Yang sebelumnya hidup oleh pelayanan kini tiba-tiba berhenti.
Di titik inilah maknanya menjadi lebih dalam. Altar yang tampak polos itu bukan sekadar “kosong”, tetapi sebuah tanda. Bukan kepolosan dalam arti belum tersentuh, melainkan kepolosan sebagai keadaan yang ditinggalkan, dilepaskan, bahkan dirampas. Kepolosan di sini bukan awal, tetapi akibat. Ia menunjuk pada Yesus yang segera ditinggalkan, 𝗱𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶, dan memasuki jalan penderitaan.
Pengosongan altar adalah simbol Gereja yang tidak lagi berbicara. Gereja berdiam diri. Gereja memasuki keheningan. Tidak ada perayaan sakramen. Tidak ada kelanjutan liturgi yang biasa. Segala sesuatu seakan ditahan termasuk 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴. Mengapa?
Perjamuan Kudus merupakan perayaan iman Gereja untuk mengenang (𝘢𝘯𝘢𝘮𝘯e𝘴𝘪𝘯) karya, kematian, kebangkitan, dan penantian kedatangan Kristus kembali. Pada Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, bukan perayaan syukur atau sukacita (𝘌𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵 = Ekaristi). Melakukan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung merupakan kekeliruan yang serius baik dari gatra teologis mapun liturgis.
Keheningan itu berlangsung sampai 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Baru pada Malam Paska liturgi kembali dilayankan. Dengan demikian putih dalam Kamis Putih tidak hanya berbicara tentang kemurnian, kepolosan, atau sukacita, tetapi juga tentang kekosongan yang harus dilalui. Sebuah terang yang justru hadir melalui pelucutan. Terang yang tidak muncul dari kepenuhan, melainkan dari pengosongan.

(29032026)(TUS)
Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01344344737.html

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah

Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah PENGANTAR Bolehkah kita le...