Sudut Pandang ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐๐ถ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น: ๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฆ๐ถ๐บ๐ฏ๐ผ๐น ๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐๐ถ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐ง๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐ป๐๐ฎ
PENGANTAR
Ironi Liturgi, Saya sering mendengar pengkhotbah dengan suara lantang berujar, “๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐๐๐๐ … “
Ujaran itu terdengar intelek, tetapi menyimpan ilusi akademis, seolah-olah makna sebuah kata dapat diputuskan hanya dengan membuka kamus. Di sini saya tidak sedang melayangkan kritik terhadap KBBI, melainkan terhadap metodologi atau pada cara KBBI dipakai.
Saya juga rada kesal kepada LAI yang masih menggunakan lema minggu (๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฌ) dalam TB II 2023. Sudah pasti argumen LAI bahwa lema minggu (๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฌ) ada di KBBI sehingga sah.
Coba simak:
๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ฅ๐ท๐ฆ๐ฏ.
Secara tertulis masih bisa ditebak karena ada huruf kapital pada ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ kedua.
Bagaimana dalam khotbah?
๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ฅ๐ท๐ฆ๐ฏ.
Pendengar tidak melihat huruf kapital. Yang terdengar hanya:
minggu terakhir bulan ini adalah minggu pertama Adven.
Otak pendengar harus bekerja ekstra untuk memutuskan:
▶️ minggu pertama = ๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฌ pertama?
▶️ Minggu pertama = ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ pertama?
▶️ atau keduanya?
Lebih rumit lagi:
๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ.
Secara gramatikal benar jika ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ = ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ dan ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ = ๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฌ, tetapi secara lisan hampir mustahil dibedakan.
Bandingkan:
๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ. Langsung jernih.
Makin rumit lagi:
๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข.
Tidak dapat kita memastikan kata ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ pada awal kalimat adalah ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ, karena huruf awal kalimat harus huruf besar atau kapital.
Ini sebenarnya menyentuh prinsip dasar komunikasi: Bahasa yang baik bukanlah bahasa yang dapat dijelaskan sesudah terjadi kebingungan, melainkan bahasa yang meminimisasi kemungkinan kebingungan sejak awal. ๐๐ฐ๐ฏ๐จ media abal-abal saja sangat biasa menggunakan pekan untuk ๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฌ. ๐๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ himpunan penerjemah profesional LAI masih menggunakan minggu untuk ๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฌ. Liturgi bekerja lewat bahasa simbol dan berulang-ulang dalam mengajar umat sehingga pemilihan istilah harus presisi. Pembedaan Minggu dan pekan dalam liturgi amat penting.
Sekali lagi saya tidak sedang menyoal atau tidak sedang menyalahkan KBBI. Kamus pada dasarnya diperuntukkan bagi mereka yang referensinya terbatas. Kembali ke ๐๐ฟ๐ผ๐ป๐ถ ๐๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ, Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa reformasi liturgi Gereja Katolik modern diinspirasi oleh Gereja Protestan. Perubahan terbesar dan paling menonjol adalah partisipasi umat.
▶️ Gereja Katolik bergerak dari ibadah klerus (๐ค๐ญ๐ฆ๐ณ๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ญ๐ช๐ต๐ถ๐ณ๐จ๐บ) menuju ibadah umat (๐ฑ๐ข๐ณ๐ต๐ช๐ค๐ช๐ฑ๐ข๐ต๐ฐ๐ณ๐บ ๐ญ๐ช๐ต๐ถ๐ณ๐จ๐บ).
▶️ Sebaliknya, sejalan dengan waktu, sebagian Gereja Protestan justru bergerak dari semangat imamat am orang percaya (๐ฑ๐ณ๐ช๐ฆ๐ด๐ต๐ฉ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ฐ๐ง ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฆ๐ท๐ฆ๐ณ๐ด) menuju kultus pimpinan gereja (๐ค๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ณ๐ช๐ต๐บ ๐ค๐ญ๐ฆ๐ณ๐จ๐บ ๐ค๐ถ๐ญ๐ต๐ถ๐ณ๐ฆ).
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ณ๐ถ ๐๐ช๐ต๐ถ๐ณ๐จ๐ช mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. Ada yang menjapri saya, "Kamu kok berani ngritik gereja soal liturgi?"
Liturgi itu ilmu yang tak populer di lingkungan Protestan modern di Indonesia. Kasarnya, gak laku. Di dunia teologi akademik saja jumlah dosen spesialis liturgi tak lebih daripada jumlah jari satu tangan. Itu pun baru muncul awal 2000-an. Jadi, kalo debat (atau diskusi) liturgi saya berani saja, berani lari maksudnya .... Wk .... Wk ..... Wk ..... Bukankah ilmu beladiri yang paling sakti itu langkah seribu .... Wk ..... Wk. Ibaratnya lawan diskusi saya udah ketaker, karena memang sumber ilmunya jarang.
Sungguh ironis, reformasi liturgi Gereja Katolik terinspirasi dari Protestan, tetapi ilmu liturgi Protestan jauh ketinggalan. Mengapa?
Komisi Liturgi Katolik didukung sepenuhnya oleh Vatikan dan seluruh umat Katolik.
Komisi Liturgi Protestan dicemooh oleh pemimpin gereja dan umatnya sendiri. Sungguh menggelikan kalau masih ada yang mengejek: “๐๐ข๐๐ฃ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐ป๐๐ฎ ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ?” di laman saya sering itu muncul .... Wk .... Wk. Padahal dalam buku setebal 303 halaman terlampir di bawah empu liturgi Gereja Katolik Indonesia Rm. Prof. Emanuel Martasudjita, Pr. mencatat bahwa istilah ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ untuk ibadah ๐บ๐๐น๐ฎ-๐บ๐๐น๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ด๐๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ป pada abad ke-17 (lih. hlm. 19). Dalam buku itu juga rama [baca: romo] menyebut reformasi liturgi Gereja Katolik diinsipirasi oleh Gereja Protestan.
Kerja sama ekumenis dalam bidang liturgi antara Katolik dan Protestan sebenarnya sudah berlangsung lama. Bahkan sesudah KV II umat Katolik mengalami perubahan besar dalam tata ibadah: keterlibatan jemaat, penggunaan bahasa umat, pembacaan Alkitab yang lebih luas, memerkuat liturgi sabda, dan hal lain yang bersifat detil. Tidak sedikit orang Katolik generasi lama merasa: “๐๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐๐ณ๐ฐ๐ต๐ฆ๐ด๐ต๐ข๐ฏ?” Sebaliknya dalam banyak Gereja Protestan modern muncul pula praktik-praktik yang dahulu dianggap sangat “Katolik”. Tidak heran kalau ada warga Protestan berkata: “๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ต๐ฐ๐ญ๐ช๐ฌ?”
Saya sendiri punya pengalaman menarik pada akhir 2024, saya mengikuti ๐๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐๐ฌ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ช dengan pembicara/pengajar tunggal Rm. Martasudjita, Pr. Karena saya diundang khusus, oleh pembicaranya atas seizin seksi Kategese tentunya. Acara yang diikuti sekitar 112 peserta itu diselenggarakan oleh Seksi Kategese, Saya satu-satunya peserta Protestan, dan undangan datang dari nara sumber.
Nah, pada pembukaan acara kami bernyanyi bersama. Di situlah saya tersenyum sendiri. Lagu yang dipakai ternyata:
▶️ ๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ข๐ต 337 ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ช๐ต๐ข ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐๐ฆ๐ณ๐ด๐บ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ, dan
▶️ ๐๐บ๐ข๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ณ๐ถ 111 ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ซ๐ข ๐๐ข๐จ๐ข๐ช ๐๐ข๐ฉ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข.
Kadang problem terbesar dalam debat gereja bukan kurangnya iman, melainkan kurangnya membaca buku sampai lupa bahwa umat di lapangan sudah lama saling bernyanyi bersama.
Saya mau tiru-tiru Pdt. Daniel Taruliasi Harahap. Ini adalah ๐ต๐ช๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ ๐ข.๐ฌ.๐ข. ๐ธ๐ข๐ญ๐ญ saya. Saya hanya melayani diskusi untuk meningkatkan pengetahuan liturgi dan teologi. Komentar yang menjurus kepada ejekan akan saya hapus......wk ......wk.....wk......wk.....wk.... Lari ..... Kabuuuurrr ah.
Dewasa ini semakin banyak Gereja Protestan memerkenalkan praktik prosesi Alkitab pada awal ibadah. Alkitab diarak masuk dengan iringan nyanyian atau musik, jemaat berdiri, suasana menjadi khidmat, lalu kitab itu diletakkan di altar sebelum ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข. Bagi sebagian orang pemandangan ini terasa sangat liturgis. Namun, apakah Gereja sungguh memahami makna liturgis dari tindakan tersebut, atau sekadar meniru bentuknya saja?
Dalam tradisi liturgi Gereja kuno prosesi kitab pada awal ibadah bukanlah prosesi “Alkitab secara umum”. Yang diarak secara khusus adalah Injil (๐ฆ๐ท๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ช๐ถ๐ฎ). Prosesi Injil menyimbolkan bahwa Kristus datang kepada umat-Nya melalui pewartaan Injil yang akan didengar oleh jemaat. Dengan kata lain simbol itu merujuk sebuah keyakinan teologis: ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐ ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ-๐ก๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐น๐๐ถ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป, memang sentralnya Injil, kenapa tulisan saya, sudut pandang bertumpu pada Injil, secara liturgi memang sentralnya Injil, kita mengenang teladan Kristus dan hikmat pengajaranNya dalam liturgi untuk diwujudkan dalam hidup keseharian setelah dalam ibadah kita diberkati dan diutus, makna itu dilakukan bersama-sama secara ekuminis seluruh dunia kristiani (tentunya bagi gereja-greja yg menyepakati gerakan ekuminis liturgi LIMA, seperti sinode GKJ). Oleh karena itu, puncak bacaan sabda adalah bacaan injil, maka diterima atau didengar dengan berdiri. Kalau begitu maknanya, lucu ketika khotbahnya tidak nyenggol sedikit pun bacaan Injil, gak ngerti liturgi. Repot lagi kalau kalender liturgi RCL dibolak balik digesar geser seenak udelnya tanpa pemahaman. Di sinilah sering terjadi kekeliruan ketika praktik ini diadopsi oleh banyak Gereja Protestan. Kesatu, yang diarak memang Alkitab, tetapi secara teologis yang dicerap haruslah Injil [Semoga LAI mau mencetak kitab Injil ukuran besar lebih banyak lagi]. Gereja berwatak injili (bukan dalam arti aliran Evangelikal), karena ia dipanggil untuk mewartakan Injil. Injil adalah inti dari seluruh Kitab Suci, berita keselamatan tentang Yesus Kristus, teladan Yesus Kristus, hikmat pengajaran Kristus. Oleh karena itu dalam tradisi liturgi klasik, prosesi Injil merupakan pengakuan bahwa Injil adalah pusat pewartaan Gereja. Persoalan kedua terletak pada sikap umat. Dalam banyak Gereja yang mengadopsi prosesi ini jemaat diminta berdiri ketika Alkitab diarak masuk. Namun, jemaat jarang diajar apa arti dari sikap berdiri tersebut. Akibatnya berdiri menjadi sekadar gerakan spontan yang dilakukan karena orang lain juga berdiri. Padahal dalam tradisi Gereja yang lebih tua sikap umat terhadap Injil dibentuk melalui pendidikan liturgis yang jelas. Berdiri adalah tanda kesiapsediaan menerima firman Kristus. Umat memerhatikan arah pergerakan prosesi sebagai ungkapan penghormatan terhadap Injil yang akan diberitakan. Bahkan dalam beberapa tradisi Injil disambut dengan aklamasi khusus sebagai tanda sukacita Gereja atas kabar keselamatan yang akan didengar. Satu hal lain yang sangat penting dan kerap terlewatkan adalah hubungan antara prosesi Injil dan pembacaan Injil dalam ibadah itu sendiri. Dalam tradisi liturgi klasik Injil yang dibacakan kepada jemaat adalah Injil yang sama yang sebelumnya diarak dan diletakkan di altar. Dengan demikian prosesi Injil tidak berhenti sebagai simbol visual pada awal ibadah. Ia mencapai klimaks ketika Injil itu sendiri dibacakan di tengah jemaat. Akan tetapi dalam praktik banyak Gereja Protestan hal ini justru tidak terjadi. Pengkhotbah membaca bagian Injil dari Alkitabnya sendiri yang sejak awal sudah diletakkan di mimbar sebelum ibadah dimula, untunglah gereja kita tidak melakukan hal tsb, untung gereja kita lebih ngerti, semoga. Akibatnya prosesi kitab pada awal ibadah terputus dari tindakan liturgis yang seharusnya menjadi tujuannya, yakni pembacaan Injil kepada jemaat. ๐ฆ๐ถ๐บ๐ฏ๐ผ๐น๐ป๐๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฟ, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐ธ๐ป๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐๐๐๐. Lebih mengenaskan lagi Injil menjadi sekadar pajangan jimat di altar. Tanpa pembinaan liturgis seperti itu prosesi Injil mudah berubah menjadi sekadar drama religius. Simbolnya ada, gerakannya ada, bahkan suasana sakralnya juga ada, tetapi maknanya tidak sungguh-sungguh dipahami oleh umat. Di sinilah kita melihat sebuah gejala yang semakin sering muncul dalam kehidupan Gereja Protestan masa kini: ๐ฏ๐ฒ๐ป๐๐๐ธ ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฎ๐บ๐ฏ๐ถ๐น, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ถ๐ธ๐๐ ๐ฑ๐ถ-๐ท๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฎ๐-๐ธ๐ฎ๐ป. Tidak ada penjemaatan liturgi ke umat, Nah .... yang begini ini bikin blunder, gak ada penjemaatan liturgi di umat. Gereja ingin terlihat liturgis, tetapi tidak mau menjalani disiplin teologi liturgi yang melahirkan bentuk-bentuk tersebut. Akibatnya simbol yang semula kaya makna berubah menjadi dekorasi ibadah. Apabila Gereja Protestan hendak memertahankan praktik prosesi kitab pada awal ibadah, ada dua hal perlu dijernihkan. Kesatu, Gereja harus menyadari bahwa simbol tersebut merujuk Injil sebagai pusat pewartaan Gereja. Kedua, umat perlu dididik mengenai makna sikap mereka ketika menyambut prosesi tersebut sehingga tindakan liturgis itu tidak berhenti pada gerakan seremonial, tetapi menjadi pengakuan iman yang hidup. Jika tidak, prosesi Injil hanya akan menjadi satu contoh dari sejumlah fenomena yang semakin lazim dalam kehidupan Gereja: ๐น๐ถ๐๐๐ฟ๐ด๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฝ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐๐ถ๐ธ๐ธ๐ฎ๐ป, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ฟ๐๐ถ, itulah kenapa saya berani berdiskusi untuk hal ini ..... Wk ..... Wk ..... Wk ..... Ketika liturgi tidak lagi dimengerti, yang tersisa hanyalah ritual yang tampak sakral, tetapi kehilangan kedalaman teologinya.
Contoh lainnya :
Umat rajin datang ke Gereja setiap hari Minggu. Namun, saya yakin tidak semua dari mereka membaca Alkitab setiap hari. Ada yang sibuk bekerja, ada yang lelah, ada yang memang tidak memiliki kebiasaan membaca Alkitab secara teratur. Oleh karena itu bagi banyak warga jemaat Kebaktian Minggu menjadi ruang utama mendengar firman secara teratur. Di sinilah kepentingan penerapan ๐ฅ๐ฒ๐๐ถ๐๐ฒ๐ฑ ๐๐ผ๐บ๐บ๐ผ๐ป ๐๐ฒ๐ฐ๐๐ถ๐ผ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ (RCL). Melalui RCL Gereja membuka harta warisan iman secara lebih luas kepada umat. Jemaat tidak hanya mendengar satu potong ayat yang dipilih secara sporadis, tetapi dibimbing memasuki keseluruhan bentang kesaksian Alkitab: Taurat, Nabi-nabi, Mazmur, Surat-surat Rasul, dan Injil. Dengan demikian umat perlahan dibentuk memiliki cakrawala biblis yang lebih utuh. RCL juga melindungi Gereja dari kecenderungan khotbah yang berputar-putar pada tema atau ayat favorit pengkhotbah, pertanyaan besar pada pengkhotbah yang ngemohi khotbah jangkep atau kalender liturgi atau RCL, ngemohi bacaan sabda. Tanpa disiplin leksionari tidak jarang khotbah berubah menjadi:
▶️ renungan motivasional,
▶️ opini pribadi, atau
▶️ komentar sosial yang hanya ditempeli ayat Alkitab.
Padahal tugas utama pengkhotbah membuka kekayaan firman Tuhan kepada jemaat. Di sinilah pengkhotbah sebenarnya memiliki kesempatan emas. Dalam waktu sekitar 15–20 menit setiap pekan, seorang pengkhotbah dapat:
▶️ mencerdaskan iman jemaat,
▶️ memerkenalkan konteks Alkitab,
▶️ melatih jemaat berpikir teologis, dan
▶️ membangun kedewasaan rohani umat.
Bayangkan selama bertahun-tahun jemaat duduk mendengar khotbah Minggu demi Minggu. Sedikit demi sedikit cara berpikir mereka dibentuk oleh kualitas khotbah yang mereka dengar. Oleh sebab itu mutu khotbah bukan perkara kecil, makanya pelatihan bagi pengkhotbah pemula rasanya sangat baku dalam progam gereja, termasuk regenerasi pengkhotbah, siapa saja boleh berkhotbah tetapi dilatih dan didampingi oleh komisi terkait serta mau belajar. Khotbah yang dangkal dan tak bermutu akan menghasilkan jemaat yang dangkal. Sebaliknya, khotbah yang kaya, jernih, dan bertanggung jawab akan membentuk jemaat yang matang dalam iman.
Sayang sekali apabila kesempatan mingguan yang begitu berharga itu dihabiskan hanya untuk:
▶️ cerita-cerita banal,
▶️ humor kosong,
▶️ moralitas umum, atau
▶️ repetisi kalimat saleh tanpa kedalaman.
Liturgi bekerja melalui pengulangan. Demikian pula khotbah. Mutu khotbah yang terus-menerus didengar jemaat pada akhirnya membentuk isi iman mereka. Contoh ya, Bacaaan diambil dari Yohanes 17:1-11, Masalah utamanya: bbrp khotbah ini gagal menangkap pusat teologis Yohanes 17:1–11. Teks sebenarnya sangat padat dan tinggi kristologinya. Di sini Yesus berbicara tentang kemuliaan, relasi Bapa-Anak, otoritas memberi hidup kekal, penyataan nama Allah, dan penyelesaian karya-Nya. Bahkan ayat ๐๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ, ๐บ๐ข๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ … merupakan satu sorotan teologi Injil Yohanes. Namun, renungan ini malah bergerak ke doa memberi kekuatan, tantangan hidup, kesetiaan, dan pergumulan sehari-hari. Tidak keliru sih secara pastoral, tetapi terasa generik dan tidak lahir dari kekhususan teks. Padahal inti teksnya jauh lebih besar: Yesus sedang menyingkap identitas dan karya-Nya menjelang pemuliaan melalui salib.
Ada beberapa hal yang hilang:
1️⃣ Tema ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ช๐ข๐ข๐ฏ. Padahal kata itu merajai teks.
2️⃣ Hidup kekal sebagai relasi mengenal Allah. Ini khas Yohanes, tetapi hampir tidak digali.
3️⃣ Murid sebagai pemberian Bapa kepada Anak. Ini tema penting banget dalam Yohanes.
4️⃣ Yesus telah menyelesaikan pekerjaan-Nya. Padahal ini mengarah langsung ke salib.
Akibatnya renungan terasa aman, saleh, tetapi datar dan hambar. Saya kira ini penyakit umum banyak renungan gerejawi:
▶️ teks Alkitab dipakai sebagai titik berangkat,
▶️ tetapi isi renungan bergerak ke tema-tema religius umum yang bisa ditempel ke ayat apa saja, hanya hiburan bagi umat, bukan ajaran, bukan mengingatkan, bahkan bukan menegur.
Pembaca yang akrab dengan Injil Yohanes akan merasa: “๐๐ฉ๐ฐ, ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ต๐ช ๐ต๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ด?”
(03062025)(TUS)