Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2025

Sudut Pandang Lukas 12:49-56, 𝗧𝗶𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗸𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸



Sudut Pandang Lukas 12:49-56, 𝗧𝗶𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗸𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸

Bacaan ekumenis (𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 – RCL) saat ini digunakan oleh hampir semua Gereja arus-utama di Indonesia. Saya sebut 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 karena ada jemaat yang menolak. RCL memang menyebalkan, karena tidak jarang menyodorkan teks-teks yang sulit untuk dikhotbahkan. Tidaklah mengherankan apabila ada jemaat (baca: pendeta) menolak menggunakan RCL.
Hari ini adalah Minggu kesepuluh setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 12:49-56 yang didahului dengan Yesaya 5:1-7, Mazmur  80:2-3, 9-20, dan Ibrani 11:29-12:2.
Bacaan Injil hari ini terdiri atas dua perikop yang benar-benar menyulitkan pengkhotbah, karena:
▶️ Pengkhotbah harus menyatukan kedua perikop itu.
▶️ Perikop kesatu 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 sangat bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri yang mengajarkan kasih.

Sebelum kedua perikop itu dipautkan, mari kita lihat dahulu satu per satu perikop. 

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗮𝗻 (ay. 49-53)
"𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢! (ay. 49) 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘒𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢! (ay. 50) 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘮𝘪? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪, 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘒𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. (ay. 51) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩, 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘨𝘢. (ay. 52) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢." (ay. 53)

Perikop ini memang sulit dikhotbahkan. Perikop ini berisi ucapan Yesus yang keras dan kontroversial. Ucapan keras di sini seolah-olah menafikan citra Yesus sebagai pembawa damai yang sudah dibangun oleh pengarang Injil Lukas sejak kelahiran Yesus (Luk. 1:79; 2:14), pada masa awal karya Yesus (Luk. 4:18-19), dan ketika Yesus berkarya (Luk. 7:50; 8:48). Belum lama juga bacaan kita tentang 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 (Luk. 10:1-20) yang di dalamnya Yesus berpesan, “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶: 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪” (ay. 15). 
 
Mengapa dalam perikop Lukas 12:49-53 Yesus mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk membawa damai, melainkan untuk membawa konflik, bahkan di dalam satu keluarga? Padahal dalam Lukas 4:38-39 dikatakan bahwa Petrus tinggal di rumah mertuanya. Mereka baik-baik saja. Tidak ada kisah konflik antara Petrus dan mertuanya.

Mungkin, barangkali, yang dimaksud oleh petulis Injil Lukas bukanlah damai tanpa konflik. Damai Kristus bukanlah damai yang menafikan konflik. 𝘛𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘰𝘯𝘧𝘭𝘪𝘬 dan 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘰𝘯𝘧𝘭𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶.

𝗠𝗲𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻 (ay. 54-56)
𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, "𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵, 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢: 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. (ay. 54) 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘶𝘱, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢: 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. (ay. 55) 𝘏𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘢𝘧𝘪𝘬, 𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯i?” (ay. 56)

Karya Yesus, baik ajaran maupun tindakan-Nya, sebagai awal penggenapan Kerajaan Allah yang sempurna pada akhir zaman adalah 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯. Orang yang mengenali 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 itu seharusnya tidak bersikap munafik atau 𝘮𝘭𝘦̀𝘯𝘨𝘰𝘴. 

Mereka seharusnya:
▶️ Jika awan naik di sebelah barat, hari akan hujan, maka siapkanlah payung!
▶️ Jika angin selatan bertiup, hari akan panas terik, maka sediakanlah air minum! 
▶️ Jika kamu akan dihakimi sesuai dengan perbuatanmu, maka bertobatlah dan taatilah ajaran-Ku!  

𝗠𝗲𝗺𝗮𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻

Terus terang memang sulit. Apabila kita membaca dari Lukas 12:1, Yesus memberi pengajaran panjang sampai Lukas 13:9. Tema dasar dalam pengajaran Yesus adalah bagaimana hidup agar siap atau layak dalam menghadapi penghakiman Allah pada akhir zaman (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢).

LAI membagi pengajaran Yesus itu menjadi delapan perikop:
▶️ Perikop 𝘒𝘦𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 (Luk. 12:35-48) adalah perikop ke-4 yang berisi tiga satuan ucapan Yesus tentang kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman (lih. 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi 10 Agustus 2025).
▶️ Perikop 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 (Luk. 12:49-53) adalah perikop ke-5.
▶️ Perikop 𝘔𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 (Luk. 12:54-59) adalah perikop ke-6.

Dengan begitu kedua perikop tersebut berpautan dengan akhir zaman. Akhir zaman itu bukan hanya soal nanti, melainkan pada suatu waktu yang jauh pada masa depan. Akan tetapi akhir zaman juga soal kini, karena apa yang akan terjadi pada masa depan dimula dari sekarang. Sikap orang terhadap Yesus pada masa kini akan menentukan nasib orang itu pada saat penghakiman pada akhir zaman ketika Yesus datang kembali. 

𝘈𝘱𝘪 dalam ayat 49 merujuk penghakiman atau penghukuman pada akhir zaman (Luk. 3:9, 16; 17:29; dan tradisi apokaliptik). Ayat 54 diawali dengan pengantar: 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. Pengantar itu sebenarnya menunjukkan bahwa perikop yang dimula dengan keterangan itu adalah bagian yang baru sehingga memang sulit mengakomodasi perikop sebelumnya (𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯).

Kalau pun hendak digabung kira-kira pemahamannya bahwa konflik di dalam satu keluarga mungkin saja terjadi. Sebagian anggota keluarga memilih menaati ajaran Yesus dan sebagian anggota lainnya memilih menolak ajaran Yesus. Api pertentangan itu laksana 𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵 dan 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘶𝘱.

Api pertentangan yang disulut Yesus itu pada gilirannya menjadi 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 bahwa penggenapan Kerajaan Allah akan terjadi kelak. Tampaknya terjadi konflik di Jemaat Lukas. Penginjil Lukas kemudian memberi pastoral bahwa konflik tidak mengeliminasi penggenapan Kerajaan Allah yang sempurna, yang di dalamnya ada damai sejahtera.

(17082025)(TUS)

Rabu, 13 Agustus 2025

SUDUT PANDANG AMSAL-AMSAL DAN NEGARA KITA

SUDUT PANDANG AMSAL-AMSAL DAN NEGARA KITA

Amsal menurut KBBI memiliki arti misal, umpama, atau perumpamaan. Secara praktis, kata amsal berarti peribahasa. Dalam Alkitab, Amsal adalah salah-satu kitab dalam PL. Kata ini digunakan untuk menerjemahkan nama Ibrani kitab ini 'misyle', artinya 'amsal dari', singkatan dari misyle syelomoh (amsal-amsal Salomo) walaupun tidak semua amsal dalam kitab ini berasal dari Salomo. Penyusunan kitab Amsal berlangsung berabad-abad sejak masa Salomo dan sebagian besar pada masa Hizkia, lalu, beberapa amsal ditambahkan di masa pembuangan. W. F Albright, pakar PL mengemukakan bahwa isi Kitab Amsal atas dasar kesusastraan, harus dipandang sebagai karya sastra yang berasal dari zaman sebelum ucapan-ucapan Ahiqar yang berbahasa Aram (abad ke-7 SM). Artinya, walau baru rampung penyusunannya secara keseluruhan pada masa pembuangan tetapi penulisan amsal-amsal ini berasal dari masa yang jauh sebelumnya.

Kumpulan amsal dalam kitab ini boleh dibilang selalu relevan dari jaman ke jaman, dan untuk semua golongan, dan banyak konteks termasuk konteks kebangsaan.

Bagaimana negara akan maju menurut amsal?

Penguasa harus menjauhi kejahatan sebab "Melakukan kefasikan adalah kekejian bagi raja, karena takhta menjadi kokoh oleh kebenaran." (16:12) Jadi, para pelanggar harus dijauhi pemimpin kita agar mereka amanah (25:5). Setiap orang di negeri ini harus taat aturan, karena "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum." (29:18) 'Hukum' dalam ayat ini menggunakan kata Ibrani 'Torah' yang selain berarti 'Taurat' juga berarti 'wejangan' dari para nabi, artinya, setiap warga-negara harus menghormati hukum dan belajar dari pengalaman dan nasehat para pendahulu.
Mengapa suatu negara bisa mundur?

Ini karena ada orang-orang jahat yang "Seperti singa yang meraung atau beruang yang menyerbu, demikianlah orang fasik yang memerintah rakyat yang lemah." (28:15) diperparah oleh "pemimpin yang tidak mempunyai pengertian keras penindasannya," (28:16). Ini terjadi karena "pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik." (29:12). Padahal "Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa." (14:34). Selain itu, "Banyak orang mencari muka pada pemerintah," (29:26). Seharusnya, "Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya." (29:4). Pemerintah sering lupa bahwa "Dalam besarnya jumlah rakyat terletak kemegahan raja, tetapi tanpa rakyat runtuhlah pemerintah." (14:28).
Nasehat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kejujuran dan kebenaran, karena "Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat." (29:2). Pemerintah, utamanya para penguasa harus mau hadir secara nyata bagi rakyat, juga mau mengkoreksi diri sebab "Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada." (11:14).

Bagaimana dengan negeri kita?
Di negeri kita, Kemerdekaan yang Belum Selesai

Kita sering mengibarkan bendera setinggi-tingginya, seolah warna merahnya telah benar-benar mewakili keberanian, dan putihnya sepenuhnya mencerminkan kesucian hati bangsa. Tapi di balik kibaran itu, masih ada ruang abu-abu yang tak pernah benar-benar dibicarakan.

Kemerdekaan, kata para pendiri bangsa, adalah hak segala bangsa. Tapi di jalan-jalan kota, masih ada anak-anak yang menjadikan aspal sebagai rumah dan lampu merah sebagai panggungnya meminta belas kasihan. Di desa-desa yang sunyi, sawah menguning bukan hanya tanda panen, tapi juga tanda bahwa tangan-tangan petani terus memanggul beban yang tak sebanding dengan hasilnya.

Kita bebas berbicara, tapi kadang tak bebas didengar. Kita bebas memilih, tapi sering disuguhi pilihan yang sama dengan wajah berbeda. Kita merdeka dari penjajah asing, namun belum sepenuhnya merdeka dari keserakahan dan ketidakadilan yang lahir dari saudara sendiri.

Mungkin kemerdekaan sejati bukan hanya soal berdiri di atas tanah sendiri, tapi juga soal bagaimana kita berdiri untuk satu sama lain. Bukan hanya soal mengusir penjajah dari luar, tapi juga mengusir penjajah dari dalam hati: tamak, iri, dan apatis.
Selama ruang abu-abu itu masih ada, tugas kita belum selesai. Kemerdekaan bukan hadiah yang selesai dibuka pada 17 Agustus 1945—ia adalah janji yang harus ditepati setiap hari, di setiap langkah, di setiap keputusan yang kita ambil sebagai bangsa.
Lukas 12:49-56 -- Yesus datang bukan untuk "berdamai" (sama) dengan kejahatan dan kemunafikan, tetapi untuk menentang: berani beda, berani berkonflik untuk menunjukkan kebenaran.
Yeremia 23:23-29 -- nabi itu juga menentang yang jahat, sesuai dengan pesan Allah. Mereka menentang nabi-nabi Baal yang hidup damai dengan kejahatan. 
Ibrani 11:29 - 12:2 -- beriman = berserah dan berani menentang kejahatan dengan meneladani Kristus (mata yang tertuju pada Kristus).
perdagangan lagi tidak baik-baik saja di semua sektor, malah pajak dinaikin, pajak kendaraan naik 18% pdhl kendaraan makin lama makin tua makin turun harga, kok malah pajaknya naek🙈🙊
Nah, kondisi negeri itu menjadi masalah kontekstual baginorang kristen Indonesia, Yeremia mendengungkan suara kenabian melawan kuasa zaman pada saat itu Baal, sama orang Kristen Indonesia juga harus menyuarakan swara kenabian melawan sistim yg tidak pro rakyat tidak pro orang lemah dan miskin, ıtulah bgmn orang kristen Indonesia memaknai anugerah kemerdekaan, melawan ketidakadilan dan penindasan dari yg kuat ke yg lemah, ada penindasan pajak, ada penindasan perkusi minoritas, ada penindasan kekuasaan seperti aturan hal cipta lagu, pemindahan kewenangan tanah yg nganggur 2 tahun, pemindahan kepemilikan rekening yg tidak aktif 3 Bulan, penambangan, dlsb. orang kristen harus menyuarakan kenabian dg mengkritisi sistim, bukan dg kekerasan, kebencian, dan dendam terhadap sesama manusia, baal saat itu adalah sistim yg tidak adil pada zamannya, dg adanya cara peribadatan dan penyembahan yg tidak manusiawi, itu penindasan, apa patokan kita dalam menyuarakan kenabian, ya teladan Kristus yg bisa dilihat pada Alkitab, sepertil halnya surat Ibrani, dimana saat umat pada saat itu ditindas,  kekuatannya mereka pada iman, meneladan Kristus yg mendatangkan harapan, kelak hidup bersama Kristus, kekuatan dalam menyuarakan kenabian adalah itu. Lukas 12:49-56, Yesus tidak mendatangkan perdamaian, oh ..... karena Yesus tidak mau berkompromi dengan dosa yang dilawanNya,   penindasan dan ketidak Adilan adalah lawan dari KASIH maka itu adalah dosa yg harus ditentang serta tidak boleh diajak kompromi, saat suara kenabian orang kristen Indonesia suarakan, maka dosa termasuk didalamnya penindasan dan ketidak Adilan akan mengadakan perlawanan maka itu yg dimaksud Yesus dg tidak membawa perdamaian,  bangsa kita, bangsa yg merdeka tapi kenyataan yg kita lihat banyak ketidak merdekasn terjadi di bangsa ini, contoh gamblang adalah perkusi thp minoritas, SKB 2 menteri, yg berlawanan dg UUD 45, belum lagi penerapan bbrp aturan pemerintah yg tidak pro rakyat,  bgmn gereja bersikap pd situasi ini? apakah gereja akan sibuk dg dirinya sendiri? ataukah akan peduli pada sekitar, bagaimana gereja berperan untuk mendidik umat nya menjadi bangsa yg bermartabat? umat yg selalu berpikir untuk membebaskan dan memulihkan? Menurutku,  tentang kemerdekaan anggota keluarga juga menarik sebagai langkah awal, hihi. Malah bisa bahas: kemerdekaan untuk anak" yang akan memilih jurusan, jodoh, pekerjaan; kebebasan untuk pasangan dari segala kekerasan dalam rumah tangga, bagus, tinggal dikaitkan hal-hal tsb dg swara kenabian di Yeremia, apa yg terkait dg landasan iman di surat Ibrani tental hal-hal tsb, swara kenabian yg didengungkan Yeremia tidak selalu konteksnya kritis thp penguasa tapi swara kenabian bisa juga berwujud kritisi thp tindakan-tindakan non kasih dalam kehidupan keluarga, penindasan dan ketidak adilan dalam kehidupan keluarga itu bukan kemerdekaan dalam kehidupan berkeluarga, landasan perjuangan dalam kehidupan keluarga apa? ya surat Ibrani, apa? iman meneladan Kristus, Lukas 12:49-56 mengungkap bgmn Yesus datang tidak membawa perdamaian, yah ...... Krn Yesus pasti tidak akan berkompromi dg dosa, artinya Yesus juga akan berdiri tegak menentang penindasan dan ketidak Adilan dalam keluarga, ketidak merdekaan dalam keluarga, kita udah memperdalam dua sudut pandang, sudut pandang orang Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan orang kristen dalam kehidupan keluarga pada suatu bangsa, tindakan-tindakan yg diambil dari dua sudut pandang tsb, itu tindakan yg mengarahkan umat untuk menjadi manusia yg bermartabat dalam berbangsa dan bernegara, umat yang membebaskan dan memperdulikan.

Selamat menyongsong Hari Kemerdekaan RI.

(14082025)(TUS)

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus