💫SABDA NYUNAR💫KEKANAK-KANAKAN, “Everybody knows how to raise children, except the people who have them.” P. J. O'Rouke. strategi gereja dalam membina warganya memumpunkan orang dewasa, karena seperti kata Lawrence O. Richard, ”The bible really is an adult book, written by adult and for adult.”. Gereja mencerap secara umum bahwa orang dewasa adalah orangtua dalam keluarga. Mendidik orang dewasa dengan sendirinya mendidik anak-anak, karena orangtua menjadi pendidik anak-anak di keluarga. Injil Markus 10:1-16, Bacaan Injil Markus pada Minggu ini mengisahkan Yesus berangkat dari Kapernaum ke daerah Yudea dan daerah seberang Sungai Yordan. Pada saat Yesus mengajar orang-orang di sana, datanglah orang-orang Farisi untuk kembali menjajal Yesus. Kata mereka, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Yesus menjawab mereka dengan pertanyaan, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya.” Tanggap Yesus, “Justru karena kengèyèlanmu, maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu…” Setiba di rumah rupanya para murid belum mengerti apa yang disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi itu. Yesus kemudian menjelaskan kepada para murid. Setelah Yesus menjelaskan, datanglah anak-anak kecil yang dibawa orang-orang kepada Yesus. Para murid dengan sigap menghalangi dan memarahi orang-orang itu, tetapi Yesus justru memarahi para murid. Kata Yesus, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil , ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka. Kita tidak hendak mengulas apakah perceraian diperbolehkan di kalangan Kristen. Dari bacaan di atas Yesus hendak mengajar perbedaan menaati hukum-hukum tertulis sehingga orang menjadi pelaku legalistik dengan pengetahuan hakikat perkawinan. Orang Farisi menonjolkan Hukum Musa yang berat sebelah karena dilihat dari sisi laki-laki, sedang Yesus menyoroti kedua sisi; laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut Yesus hendak menyampaikan hal yang jauh lebih penting, yakni menyambut Kerajaan Allah. Seperti yang sudah sering saya sampaikan kehadiran Kerajaan Allah itu berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah.Yesus kembali menyajikan metafor anak-anak kecil dalam menyambut Kerajaan Allah. Yesus menegaskan untuk menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil. Ayat ini (Mrk. 10:15) sering dijadikan “ayat emas” oleh orang dewasa untuk mengelak belajar. Pokoknya apa yang dikatakan oleh pendeta di KKR ikuti saja, kata mereka. Ular yang berbicara dengan Hawa adalah iblis, kata mereka lagi. Itu namanya kekanak-kanakan atau childish, bukan seperti anak-anak atau childlike dalam ayat itu. Sikap kekanak-kanakan itu justru jauh dari maksud ayat itu. Seperti anak kecil itu apa berarti tidak perlu berpikir? Bukan, itu (sekali lagi) namanya kekanak-kanakan. Childlike berarti showing the good qualities that children have. Anak-anak selalu menaruh kepercayaan secara penuh kepada orangtuanya. Apa pun yang diberi oleh orangtuanya ia menerima dengan penuh antusias. Seorang anak kecil digendong orangtuanya menyeberang jembatan sempit. Ia tidak panik, karena ia percaya kepada orangtuanya. Itu yang dimaksud dengan seperti anak-anak atau childlike. Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah yang berarti menghadirkan keadilan sosial dan berbelarasa serta memberdayakan pihak yang lemah. Nah, ajaran Kerajaan Allah inilah yang harus disambut seperti anak-anak menyambut. Dalam kenyataan mengemban misi Kerajaan Allah itu penuh risiko dan memang seperti itulah menjadi pengikut Kristus; seperti anak percaya penuh kepada orangtuanya ketika diajak berjalan di antara semak belukar; seperti anak antusias menerima hadiah dari orangtuanya. Dalam kenyataan gereja menghadapi banyak tantangan. Cukup banyak warga dewasa tidak berkehendak menjadi dewasa. Mereka menghindari benturan iman. Mereka abai pada isu-isu etis. Mereka lebih suka makanan bayi dengan mendengar khotbah berwatak fundamentalistik. Tak jarang kita menjumpai orang-orang dengan tubuh dewasa, tetapi cara beragama mereka kekanak-kanakan.Jika menyambut Kerajaan Allah seperti anak-anak dimaknai tidak makek mikir, maka ajaran Yesus “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalbudimu” menjadi tak berguna. Ayub sudah mengingatkan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Saban akhir September selalu ada orang yang membangkitkan isu komunis seperti yang dilakukan oleh Gatot Nurmantyo (GN). Saya yakin seyakin-yakinnya mantan Panglima TNI ini tahu bahwa komunis sudah tidak ada di Indonesia, baik di kalangan sipil maupun militer. Sekarang ia sudah menjadi politikus haus kekuasaan. Ia tahu bahwa banyak rakyat Indonesia masih childish dalam berpikir. Ia menggunakan pikiran kekanak-kanakan rakyat Indonesia untuk menelan isu itu tanpa mengunyahnya demi mencari pengikut. Sama halnya dengan para fundamentalisme. Mereka tahu bahwa masih banyak warga gereja yang kekanak-kanakan; warga yang masih membutuhkan endorsement kepastian atau jaminan keselamatan seperti kanak-kanak butuh permen atau mainan. Belum lagi serbuan lewat medsos yang mengatakan bahwa Alkitab itu palsu. Makin kencanglah “kanak-kanak” itu menangis. Para fundamentalis memenuhi kebutuhan permen itu. Amin! Haleluya! Sejenak mereka mengisap candu dan kesurupan dalam ibadah. Usai ibadah mereka kembali memeras para pekerja, mencuri uang negara, memburu rente, tidak peduli pada golongan rapuh masa pandemi, dlsb. Halelupa! 🙏🙏🙏Selamat mendewasa🙌🙌🙌Tuhan memberkati
Sudut Pandang Ucapan Bahagia
Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...
-
SUDUT PANDANG TENTANG ESENI Di zaman Yesus, ada beberapa golongan atau kelompok politik dan keagamaan Yahudi yang signifikan, an...
-
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Petaha PENGANTAR Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh juru...