PENGANTAR
Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, termasuk perihal penjala manusia, ucapan bahagia, garam terang, pintu, dlsb . Ucapan bahagia yang dalam bahasa aslinya bisa dimaknai sebagai TERHORMATLAH dan TERHINALAH/TERINJAKLAH serta bisa pula dimaknai TERBERKATILAH dan TERKUTUKLAH dalam banyak terjemahan Alkitab ditulis BAHAGIA dan CELAKA. Sehingga, latar belakang bahwa penulis Injil menuliskan itu dalam tradisi rabinik atau tradisi para nabi, dimana itu sebetulnya kritikan keras pada penindasan, pemuka agama korup dan penjajahan para pejabat pemerintahan tentunya juga memberikan pengharapan dan sikap hidup pada yang tertindas dan terjajah, sering menjadi kabur, oleh karena dipakai berkhotbah menjadi dasar dari pembelajaran motivasi atau pidato/ presentasi para motivator mimbar, sadarilah ..... ini suara ke nabi an yang didengungkan oleh penulis Injil dalam zaman penindasan dan penjajahan dengan mengutip kisah suara ke nabi an Yesus dari bbrp sumber. Serta tidak bisa dipungkiri, itu merujuk pada tradisi para nabi dan suara ke nabi an pada zamannya. Tolok ukur Yesus dan petulis injil berbeda dengan tolok ukur dunia tentang bahagia.
PEMAHAMAN
Jangan Lupa Bahagia? Akhir-akhir ini yang sering saya dengar dari para motivator mimbar, saya selalu memegang prinsip TIDAK ADA TAFSIR YANG SALAH TERLEBIH BENAR, YANG ADA HANYA TAFSIR YANG DAPAT DIPERTANGGUNG JAWAB KAN ATAU TIDAK. DIPERTANGGUNG JAWAB KAN DENGAN APA? DENGAN ARGUMENTASI YANG NALAR (DAPAT DITERIMA JEMBATAN - JEMBATAN NALARNYA). Menurut saya, apa yang disampaikan para motivator mimbar lemah argumentasi tafsir nya, bukan salah atau keliru. Karena, tidak melihat lebih dalam nuansa zaman latar belakang ucapan bahagia tersebut. Ucapan bahagia, adalah penguatan harapan pada bagian masyarakat yang tertindas, terjajah, tersingkirkan bahkan teraniaya pada zaman itu tetapi juga kritikan keras pada pejabat atau pemuka agama korup yang menindas, menjajah, menyingkirkan bahkan menganiaya masyarakat kecil dan lemah, kaum terpinggirkan. Standard bahagia akan Yesus itu lain, di saat lapar, disaat miskin, di saat menderita itulah orang seharusnya berbahagia, karena apa orang yang bisa mensyukuri penderitaan adalah orang dengan mindset menjadi berkat bagi sesamanya, itulah yang petulis injil kritisi, mindset atau pola pikir dan sikap hidup / attitude bagi orang-orang atau masyarakat saat itu yang hidupnya tertindas, terjajah dan tersingkirkan. Dalam kondisi derita harus tetap bersyukur dan berpengharapan karena Kristus menyelamatkan jiwa setelah kematian, makanya konsep pemikiran esseni dalam tradisi para nabi (disinyalir kelompok yg diikuti Yohanes Pembaptis dan Yesus) salah satunya adalah penjajah/penindas dunia hanya dapat membunuh tubuh/raga tetapi jiwa milik Tuhan, TERHORMATLAH/TERBERKATILAH ketika jiwamu masih milik Tuhan walau raga hancur, tetapi TERKUTUKLAH/TERHINALAH orang yang menjajah dan menindas di dunia (tawaran dunia), menang senang di dunia tetapi jiwanya bukan milik Tuhan, terkutuklah/Terhinalah jiwa yang bukan Tuhan pemiliknya, pada konsep pemikiran intinya jangan jadi sama dengan dunia, ini tradisi nabi-nabi sejak PL, tercatat pula dalam Talmud dan Midras Yahudi. Saya mencoba menggambarkan kritisi Yesus yg dikutip oleh penulis Injil Matius dengan pengenaan kini pada konteks ucapan bahagia, agar dapat lebih dipahami, sbb :
"Gallup Poll, dan Harvard University menemukan melalui sebuah survei penelitian di ratusan negara bahwa Indonesia, masyarakat Indonesia merupakan yang paling bahagia, negara dengan tingkat 'flourishing' tertinggi di dunia, serta masyarakat yang paling optimistis." Demikian klaim Presiden Prabowo Subianto ketika ia menyampaikan pidato sebagai pembicara di World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss. Terlepas dari betapa pun bisa dipertanyakan— karena merepresentasikan secara keliru hasil survei tersebut—klaim itu mencerminkan kecenderungan banyak orang untuk menjadikan kebahagiaan sebagai summum bonum (tujuan akhir) dalam kehidupannya. Senyampang dengan itu, dalam masyarakat yang sibuk mengejar kebahagiaan, optimisme pun menjelma salah satu kebajikan utama. Kecenderungan tersebut merupa, antara lain, dalam bagaimana penerjemah Indonesia memaknai prolog khotbah Yesus di gunung. Tajuk yang diberikan bagi perikop Matius 5:1-12 dalam TBI dan TB2 tetap dan sama: Ucapan Bahagia. Dan, kata Gerika makarios pun terus dialihbahasakan menjadi "berbahagialah".
Padahal,jamak penerjemah berbahasa Inggris mengalihbahasakannya menjadi blessed, yang berarti "terberkatilah". Senada dengan kata yang digunakan dalam Vulgata, yakni beatus. Itupun bisa dimaknai TERHORMATLAH. Demikian pula, dalam terjemahan bahasa Jawa, kata yang dipilih adalah rahayu, yang berarti "selamatlah", "damailah", atau "tenteramlah". Lebih lanjut, di tengah kecenderungan untuk terobsesi dengan kebahagiaan, kita juga perlu mencermati serta mempertimbangkan pendapat K. C. Hanson. Pakar biblika Perjanjian Baru yang kerap menggunakan pendekatan antropologis tersebut mencatat:
"Penerjemahan makarisma-makarisma menjadi 'berbahagialah' tidaklah tepat, sebab mereka sesungguhnya tidak merujuk kepada emosi manusia . . . Mereka seharusnya diterjemahkan seturut dengan peneguhan atas nilai-nilai: 'betapa terhormatnya' atau 'betapa mulianya' . . . (Karena mereka) hanya dapat dipahami secara memadai dalam kerangka nilai-nilai kehormatan dan rasa malu (honor/shame) dunia Mediterania" (Hanson, 1994: 104).
Nah, ini perkara pengharapan dan sikap hidup dalam penjajahan, penindasan, serta derita, betapa terhormatnya, orang lapar, orang miskin, orang menderita, dlsb ketika tetap memiliki sikap hidup bersyukur, berpengharapan, semangat, pantang menyerah walau lelah, tetap menjadi berkat bagi sesama, demikian hal nya betapa terkutuknya orang yg menindas, menjajah, menyingkirkan orang, korup dalam kuasa.
Yesus maupun petulis injil ingin mengungkap suatu aura, HIDUP ITU TIDAK SELAMANYA BAIK-BAIK SAJA, KETIKA HIDUP TIDAK BAIK-BAIK SAJA PENGIKUT KRISTUS TETAP TERBERKATI DAN TERHORMAT, KETIKA MASIH PUNYA SEMANGAT DAN HARAPAN SERTA MENJADI BERKAT UNTUK SESAMA, KETIKA HIDUP BAIK-BAIK SAJA JANGAN MENJADI TERKUTUK DAN TERHINA DENGAN MENINDAS, MENJAJAH, DAN MENYINGKIRKAN SESAMA, SEMUANYA ITU DALAM KONDISI BAIK-BAIK SAJA MAUPUN KONDISI TIDAK BAIK-BAIK SAJA, TOLOK UKUR NYA SJARAN DAN TELADAN KRISTUS (oleh karenanya, secara sastra Ibrani, setelah kritisi Yesus memakai metafora dan perbandingan terberkati dan terkutuk, Yesus mempertegas kritisi nya dengan metafora dan perbandingan garam bumi dan terang dunia, kemudian ditutup dg tolok ukur pengikut Kristus, oleh hukum taurat yg tidak diubah se iota pun, tapi digenapi Yesus dg 2 hukum kasih, itulah amanat agung 2 hukum kasih sebagai penggenapan dan menjadi tolok ukur hidup bagi pengikut Kristus, harus dipahami metafora dan perbandingan sangat umum dipakai dalam sastra Ibrani zaman karna tidak bisa bicara vulgar di masa penjajahan Romawi)
(11022026)