Pemilu 2024, Umat Kristen melawan gembalanya, Serial Sudut Pandang
Menarik melihat data Exit Poll Litbang Kompas ini. Mayoritas umat Kristen memilih PraGib 02. Kristen di sini umum ya, mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dll. Padahal para pemimpin gereja-gereja mainstream sudah menyampaikan pesan pastoral Pilpres kepada umat agar benar-benar melihat rekam jejak masa lalu. Sangat jelas pesan pastoral ini mengarahkan umat memilih Paslon 03. Data lapangan menunjukkan realitas berbeda. Mayoritas umat melawan gembalanya.
Seorang teman pengamat kehidupan Gereja berpendapat, jika umat Kristen pilih 02, itu berarti gembala jemaatnya gagal mengajarkan Etika Kristen. Kalau gembalanya gagal mengajarkan Etika Kristen, itu berarti sekolah teologinya gagal mengajarkan Ilmu Etika dan Ilmu Etika Kristen pada khususnya. Jika sekolah teologi gagal mengajarkan Ilmu Etika, itu berarti agama Kristen mungkin memang sudah tidak relevan.
Tentu saja pendapat teman saya ini doyong (biased) karena ia adalah suporter 03. Saya melihat dari titik pandang lain, yang sudah barang tentu sedikit-banyak saya dipengaruhi prapaham sebagai suporter 02.
Saya berpendapat bahwa pejabat-pejabat gereja itu reaktif. Dulu ketika teologi sukses/kemakmuran melanda Gereja mainstream, mereka reaktif dan menyerang teologi kemakmuran. Mereka tidak mau melihat secara out of the box untuk mengalihrupa paham yang sudah menghantam sebagian umat. Umat merasa bosan menjadi miskin dan saban Minggu dinasihati untuk setia pada Kristus meskipun miskin. Akibatnya cukup banyak warga bermigrasi ke gereja lain yang fulfillment mereka terpenuhi.
Padahal Injil Lukas dipandang sebagai Injil untuk orang kaya. Injil Lukas menjadi standar untuk orang Kristen kaya. Injil tak melarang orang menjadi kaya, tetapi tidak boleh serakah dan selalu berbagi. Pendeta seharusnya mengalihrupa pesan Injil ini kepada orang-orang kaya untuk menjadi orang Kristen kaya yang ideal sehingga umat yang merasa kosong menjadi terpenuhi. Bukan dengan menyerang teologi kemakmuran!
Hal yang sama pada Pilpres 2024. Para pemimpin umat itu reaktif. Apabila mereka memang peduli pada penegakan HAM, pada Pilpres 2009 ketika Megawati mengajak Prabowo menjadi cawapresnya, mereka harusnya berteriak menentang Megawati. Jika 2009 mereka diam, maka diamlah untuk selamanya.
Seharusnya mereka belajar sejarah bahwa Gereja dibangun bukan oleh orang-orang suci saja. Para penjahat, bandit, juga berperan besar dalam pembangunan jemaat. Mereka sehati, sepemikiran, membangun jemaat yang beralaskan Kristus.
Surat pastoral untuk Pilpres 2024 seharusnya memandang jauh ke depan, jangan suka memutar kaset rusak. Pilihlah pemimpin yang berkomitmen membangun negeri berdasarkan Pancasila. Jangan memilih pemimpin yang menghancurkan kebinekaan.
Kalau ada pemimpin jemaat yang tak bersepakat dengan saya, ya bebas-bebas saja, asalkan panggah, konsisten. Lantangkanlah selalu dari mimbar kepada warga jemaat yang melanggar HAM dengan memeras para karyawannya agar jangan memberi kolekte ke gereja, jangan ikut ekaristi. Orang-orang kaya yang mendapat uang dari korupsi, jangan membawa uang haram itu ke gereja. Ini baru top!
Lap Pancasila, 17022024 (T)