Jumat, 13 September 2024

15 September 2024 SUDUT PANDANG MARKUS 8 : 27 - 38, 𝗦𝗶𝗮𝗽 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼


15 September 2024
SUDUT PANDANG MARKUS 8 : 27 - 38, 𝗦𝗶𝗮𝗽 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼

Kitab Injil ditulis untuk menjawab pergulatan umat Kristen perdana mengapa Mesias mati. Dalam paruh pertama Injil Markus petulis memerikan Yesus sebagai pribadi yang misterius sekaligus luar biasa dalam berkarya. Masyarakat terpukau, sedang 12 murid Yesus tidak memahami-Nya. Untuk itulah dalam awal paruh kedua Injil Markus timbul pertanyaan: Siapakah Yesus?

Hari ini adalah Minggu ketujuh belas setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari injil Markus 8:27-38 yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 116:1-9, dan Yakobus 3:1-12.

Bacaan Injil Minggu ini merupakan awal paruh kedua kitab Injil Markus. Dapat juga disebut tulang sendi Injil Markus, karena bacaan Minggu ini menjadi titik balik. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 dapat dipandang sebagai konklusi paruh pertama. Paruh kedua akan mengenalkan Yesus, Anak Manusia yang harus menderita. Arah pergerakan Yesus ke Yerusalem.

Konteks bacaan harus dihubungkan dengan dua bagian besar yang mendahuluinya, yaitu Markus 6:30 – 7:37 and Markus 8:1-26. Dalam dua kisah penggandaan roti murid-murid masih belum memahami. Mereka tetap tidak peka baik akal maupun hati. Bahkan ada dua kisah Yesus memulihkan orang tuli-gagap dan mencelikkan orang buta, para murid tetap tidak mampu mendengar dan melihat. Lewat kisah-kisah pengantar ini Markus menyiapkan para pembaca menyaksikan 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴.

Ulasan bacaan dibagi ke dalam tiga kelompok:
🛑 Pengakuan Petrus (ay. 27-30)
🛑 Jatidiri Yesus (ay. 31-33)
🛑 Implikasi menjadi murid Yesus (ay. 34-38)

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (ay. 27-30)

Sesudah Yesus memulihkan pelihatan (bukan penglihatan seperti tertulis di Alkitab LAI) orang buta di Betsaida, Yesus mengajak murid-murid-Nya ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?” (ay. 27) 

Menurut sejarah Herodes Agung membangun kuil Dewa Pan di Kaisarea untuk menghormati Kaisar Agustus di Roma. Raja Filipus kemudian mengembangkannya menjadi kota sehingga diberi nama Kaisarea Filipi. Tampaknya Markus sengaja menempatkan kisah penyataan jatidiri Yesus untuk kali pertama di wilayah berbudaya asing, daerah yang memuja kaisar Roma sebagai dewa.

Di mata orang banyak Yesus tetaplah tidak lebih daripada seorang nabi besar, Yohanes Pembaptis, Elia, atau seorang dari para nabi (ay. 28, bdk. Mrk. 6:14-16). Meskipun demikian pendapat masyarakat itu masih positif apabila dibandingkan dengan tuduhan ahli-ahli Taurat bahwa Yesus kerasukan setan (lih. Mrk. 3:22).

Yesus tidak mendebat opini masyarakat. Yesus ingin mendengar opini para murid. Markus hendak menaikkan ketegangan. Situasi ini mirip di satu kelompok atau kelas, orang dengan ringan mengutarakan pendapat-pendapat orang. Begitu ditanya pendapat sendiri, ia gelagapan. Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?” Petrus menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴!” (ay. 29)

Jawaban Petrus singkat. Mesias (𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴), Sang Kristus, Yang Diurapi Allah. Bagi orang Israel 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘪𝘢𝘩 adalah sebutan untuk seorang raja keturunan Daud, yang mereka nantikan sebagai pemimpin bangsa untuk membebaskan mereka dari penindasan musuh. Apakah dengan 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 itu murid-murid sudah memahami sosok Yesus yang sesungguhnya? Tampaknya belum. Hal itu tampak dalam ayat selanjutnya (ay. 30) Yesus menegur keras mereka untuk tidak memberitahukan jatidiri Yesus kepada siapa pun juga.

𝗝𝗮𝘁𝗶𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (ay. 31-33)

Sesudah Pengakuan Petrus, Yesus mengajar para murid bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (ay. 31). 

Yesus mengajarkan tentang Mesias, karena murid-murid mencerap bahwa Yesus adalah Mesias politik. Markus mengusung teologi (bisa juga disebut kristologi) Hamba Yahweh yang menderita, yang dibunuh oleh bangsanya sendiri demi menyelamatkan manusia (bdk. Yes. 53). Dalam menjelaskan kepada para murid Yesus menggunakan sebutan atau gelar Anak Manusia. Sebutan ini sering ditujukan kepada Nabi Yehezkiel yang mengalami banyak penderitaan dalam masa pembuangan di Babel (Yeh. 4:9, 5:1, dll.). Sebutan itu juga merujuk kemuliaan dan kekuasaan (Dan. 7:13-14). Jadi, penderitaan dan kemuliaan mewarnai gelar Anak Manusia bagi Yesus.

Markus menyebut Yesus bangkit sesudah tiga hari, sedang di kitab-kitab lainnya Yesus disebut bangkit pada hari ketiga. Bagaimana memahami ini?

Dalam masa eksodus Musa dan bangsa Israel mengembara di gurun selama 40 tahun. Yesus diceritakan menyendiri di gurun selama 40 hari. Sesudah kebangkitan Yesus tinggal bersama dengan murid-murid selama 40 hari. Bilangan 40 tampaknya merujuk waktu tercukupkan.

Allah menciptakan siklus hari ibadah sepanjang tujuh hari (Kej. 1). Tiga hari kurang daripada setengah siklus itu. Kitab-kitab Injil ditulis bertahun-tahun sesudah kebangkitan Yesus yang ditulis secara retrospektif. Dapat saja Markus keliru mengutip sumber, tetapi tiga hari dipahami sebagai waktu yang singkat. Kurang daripada setengah siklus tujuh hari.

Di atas sudah saya sebut bahwa 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 belumlah menunjukkan para murid memahami jatidiri Yesus sesungguhnya. Hal ini dibuktikan dengan reaksi Petrus atas penjelasan Yesus mengenai jatidiri Mesias. Petrus tidak berterima bahwa Yesus akan dianiaya dan dibunuh oleh para pemuka agama Yahudi. Ia menarik Yesus ke samping dan Petrus menegur-Nya dengan keras (ay. 32). Isi teguran Petrus tidak dijelaskan secara eksplisit. Namun, kita dapat menerka bahwa Petrus (dan para murid) 𝘴𝘺𝘰𝘬, karena sepanjang paruh pertama kisah Injil Markus menunjukkan Yesus begitu digdaya atas para pemuka Yahudi, atas roh jahat, atas penyakit, dan bahkan atas alam. Yesus bakal menjadi pemimpin mereka mengusir penjajah Roma. Mendengar keterusterangan penjelasan Yesus mereka belum siap menghadapi kenyataan.

Atas reaksi Petrus itu dan sambil memandang murid-murid yang lain Yesus menegur keras Petrus, “𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢.” (ay. 33) Bukan guru yang mengikuti murid, melainkan murid harus mengikuti guru.

Tampaknya ini yang terjadi di dalam jemaat Markus. Mereka luluh lantak ditekan oleh penguasa. Mereka depresi karena Mesias yang dinanti ternyata mati. Petulis Injil Markus hendak menggembala jemaatnya dengan menjernihkan pengertian Mesias. Yesus memang harus mati dan bangkit sesudah tiga hari. Untuk itulah Yesus menegur keras murid-murid-Nya agar tidak memberitahukan jatidiri-Nya sebelum Anak Manusia mati dan bangkit.

𝗜𝗺𝗽𝗹𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (ay. 34-38)

Yesus lalu memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘶𝘭 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 34) Yesus memanggil orang banyak menyuratkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh para pengikut-Nya. Berlaku kepada siapa saja yang mau mengikut Yesus.

Menyangkal diri mencakup dua pengertian. Kesatu, hidupnya bukan lagi dirinya, melainkan Kristus di dalamnya. Kedua, implikasinya segala hal yang diperbuatnya bukan lagi dirinya, melainkan mencerminkan perbuatan Kristus. 

Memikul salib bukanlah metafora Yahudi. Pada saat Injil Markus ditulis, penyaliban adalah realitas yang kejam. Banyak penganut Kristen perdana dihukum mati dengan cara disalib oleh Pemerintah Romawi. Itu berarti mengikut Yesus harus siap dikucilkan, harus siap dianiaya, bahkan harus siap mati!

Implikasi lebih jauh lagi mengikut Yesus berarti tidak dapat mundur. Yesus menjelaskan, “𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (ay. 35)

Kata 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 di sini dari kata 𝘱𝘴𝘺𝘤𝘩𝘦̄𝘯 yang merujuk 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 atau 𝘥𝘪𝘳𝘪. Orang yang mau menyelamatkan dan mengamankan dirinya dengan menyangkal Kristus, ia akan kehilangan hidupnya yang sejati, kehilangan jatidirinya. Ayat 36-38 merupakan konklusi mengenai mereka yang menolak dan malu mengakui Yesus, Yesus pun malu ketika Ia datang dalam kemuliaan Bapa.

Dulu banyak orang mengikut Yesus karena pengajaran-Nya, memberitakan Injil (atau disebut Injil saja). Di sini Markus menekankan mengikut Yesus bukan saja karena pengajaran-Nya atau Injil, tetapi juga demi Yesus sendiri. Kesamabangunan antara Yesus dan Injil adalah khas Markus. Barangkali pada zamannya banyak orang berseru “𝘋𝘦𝘮𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭” sebelum mati. Secara paradoksal Markus merumuskan bahwa orang yang mati karena Yesus dan Injil justru akan diselamatkan, mendapat kehidupan sejati.

(15092024)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...