Berbicara tentang liturgi kontekstual sudah barang tentu tak lepas dari wacana teologi kontekstual. Meskipun demikian perbincangan liturgi yang dikontekstualkan memerlukan percakapan yang serius, karena kerumitannya sama dengan pengonteksan teologi. Untuk itu wacana kali ini membatasi nasabah liturgi dan budaya.
Nasabah liturgi dan budaya sudah setua usia Gereja sendiri. Yesus sendiri menghidupi dan menghayati tradisi iman orang Yahudi dan budayanya. Gereja mula-mula juga menghayati iman kepada Kristus dalam konteks budaya Yahudi dan tradisi religius Perjanjian Lama. Persoalan nasabah iman dan budaya sudah ada sejak saat itu dan bergolak juga ketika berkembang di negeri orang bukan-Yahudi, ke Eropa, lalu ke Nusantara.
Persoalan akibat perjumpaan iman dan budaya tidak selalu sama di setiap tempat dan waktu. Ada proses perjumpaan itu berjalan dengan baik dan ada yang sulit berkembang bahkan mendapat penentangan keras dari masyarakat lokal.
Proses kontekstualisasi liturgi bukanlah sekadar penggunaan simbol-simbol nyata seperti penggunaan busana dan musik lokal untuk perayaan liturgi. Persoalannya lebih rumit daripada itu, karena kontekstualisasi liturgi mencakup beraneka gatra baik pengungkapan, penghayatan, maupun perwujudan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah petugas liturgi mengenakan busana tradisional plus stola (yang merupakan simbol bangsawan dan pejabat Romawi) dapat membuat umat yang pulang dari kebaktian mengalami perubahan?
Untuk menolong memahami kontekstualisasi liturgi kita dapat meminjam pengertian kontekstualisasi teologi. Kontekstualisasi bukanlah pempribumian Injil, tetapi bergerak melampaui itu. Pada hakikatnya kontekstualisasi mau menolong orang Kristen menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia. Kontekstual berarti juga melibatkan orang Kristen dalam bersaling tindak dengan sosio-budaya. Hal ini bukan dalam rangka asketisme dan sinkretisme, melainkan pengakaran. Akan tetapi jika pegakaran ini tidak mengakibatkan pengangkatan jatidiri dan martabat manusia juga tidak boleh disebut kontekstualisasi.
Sebagai contoh kuda lumping. Barangkali kesenian ini menarik perhatian wisatawan asing. Pertanyaannya apakah kesenian seperti itu dapat mendorong rakyat memerjuangkan hak-haknya? Demikian juga penerapan busana lokal dan gamelan dalam perayaan liturgi. Apakah penerapan tersebut dapat mengakar, dapat mengangkat jatidiri dan martabat orang Kristen dalam rangka menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh Kristen sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia?
Dasar kontekstualisasi liturgi mengalir dari perutusan trinitaris, perutusan Kristus oleh Bapa dalam Roh Kudus sekaligus misteri perutusan Roh Kudus oleh Bapa dan Kristus. Kedua perutusan ini tidak boleh dipisahkan. Dengan misteri perutusan itu Allah menerima, memakai, dan mengangkat seluruh segi kehidupan manusia dengan segenap kebudayaannya sebagai ajang perjumpaan dengan Allah.
Dengan ajang perjumpaan di atas budaya lokal dapat dijadikan titik berangkat dalam rangka kontekstualisasi liturgi. Sebagai contoh 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘗𝘦𝘯𝘵𝘢𝘬𝘰𝘴𝘵𝘢 merupakan pesta panen Yahudi. Gereja kemudian memaknai secara baru menjadi hari perayaan pencurahan Roh Kudus. Demikian juga halnya perayaan kafir 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 yang dimaknai secara baru menjadi 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴. Alihrupa perayaan itu sudah terbukti mengakar kuat serta mengangkat jatidiri dan martabat orang Kristen.
Menurut keragaannya budaya lokal ajeg dan tak berubah. Namun, isi atau kandungan budaya itu kini diterangi dengan iman kristiani. Busana, tarian, alat musik lokal pada dirinya ajeg dan tak berubah, tetapi makna dan jiwanya diubah oleh Gereja untuk mengungkapkan misteri iman Kristen. Proses ini tidak mudah.
Saban hari Pentakosta GKJ menjadikan itu sebagai Ibadah Riyaya Unduh-Unduh, Liturgi terasa berbeda karena dibumbui dengan anasir seni dan budaya Nusantara. Tradisi Gerejawi di GKJ untuk Riyaya Unduh-Unduh sudah berlangsung bertahun-tahun dan mungkin sudah dua tiga generasi.
Apakah penerapan tradisi di GKJ itu sudah mengangkat jatidiri dan martabat warga GKJ? Belum ada penelitiannya. Namun, menurut pengamatan saya, umat GKJ yang patut menjawab. Jadi, apakah Riyaya Unduh-Unduh masih pada aras pertunjukan, 𝘦𝘯𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪𝘯𝘮𝘦𝘯𝘵, bukan dalam rangka kontekstualisasi liturgi? kiranya umat GKJ yang merasakan, yang dapat menjawab.
(26112025)(TUS)
Tulisan terkait: