Senin, 23 Februari 2026

Sudut Pandang Matius 26 :17-25 tentang Yudas, mengagumi atau mengakui Yesus

Sudut Pandang Matius 26 :17-25, tentang Yudas, mengagumi atau mengakui Yesus

Pengantar
Sering kali, kita membaca kisah perjamuan terakhir terlalu cepat, atau mungkin inilah salah satu kasus terjemahan yang makna aslinya menjadi agak terkikis, kita menganggap semua murid memberikan reaksi yang sama ketika Yesus berkata bahwa salah satu dari mereka akan berkhianat. 


Pemahaman
Namun, jika kita memperhatikan teks aslinya di Matius 26:17-25, ada sebuah perbedaan kata yang sangat kontras—sebuah detail kecil yang sebenarnya menyingkap kondisi hati Yudas yang sesungguhnya. 

1. Pengakuan Sebelas Murid (Ayat 22)
Ketika kesebelas murid lainnya merasa sedih, mereka masing-masing bertanya:

"Meti ego eimi, Kyrie?" (Apakah itu aku, Tuhan?)

Dalam bahasa Yunani, Kyrios bukan sekadar sapaan sopan. Kata ini berarti Pemilik, Penguasa, dan Otoritas Tertinggi. Dengan menyebut "Kyrie," mereka mengakui bahwa Yesus adalah pemegang kendali atas hidup mereka. Mereka menyerahkan kedaulatan kepada-Nya.

2. Jawaban Yudas (Ayat 25)
Namun, perhatikan saat giliran Yudas berbicara. Alkitab mencatat ia menggunakan kata yang berbeda:

"Meti ego eimi, Rhabbi?" (Apakah itu aku, Rabi?)

Mengapa Yudas Hanya Menyebut "Rabi"?

Inilah poin yang sangat krusial. Dalam seluruh Injil Matius, tidak pernah sekalipun tercatat Yudas memanggil Yesus dengan sebutan "Tuhan" (Kyrios). Ia selalu menggunakan sebutan "Rabi" (Guru).

Dan di Matius 26:49 (Momen Pengkhianatan) Yudas konsisten menyebut Yesus "Rabi". Ketika Yudas datang ke Taman Getsemani untuk menyerahkan Yesus kepada rombongan yang bersenjata, ia mendekati Yesus dan berkata, "Salam Rabi," lalu mencium Dia.

Rabi adalah gelar kehormatan untuk seorang pengajar yang cerdas, hebat, dan dihormati secara intelektual, tapi tidak disembah, tidak diakui sebagai Tuhan.

Bagi Yudas, Yesus hanyalah seorang tokoh inspiratif, seorang revolusioner, atau sumber ilmu. Ia mengagumi kharisma Yesus, tetapi ia tidak pernah tunduk pada otoritas-Nya sebagai Tuhan.

Yudas menganggap Yesus sebagai sarana untuk mencapai tujuannya (mungkin secara politis atau finansial), bukan sebagai tujuan hidupnya itu sendiri.

----------

Ada perbedaan fatal antara mengagumi Yesus dan mengakui Yesus. Yudas adalah contoh nyata bahwa seseorang bisa sangat dekat dengan kebenaran tanpa pernah dikuasai oleh kebenaran itu, rajin bergereja bahkan berkarya dalam gereja tapi tidak berTuhan.

Kekaguman (Rabi): Bersifat transaksional. Kita mengikuti Yesus karena ajaran-Nya masuk akal, prinsip-Nya mendatangkan sukses, atau kepribadian-Nya inspiratif. Di sini, kita tetap menjadi tuan yang menentukan kapan harus mengikuti atau berhenti.

Iman (Kyrios): Bersifat penyerahan total. Kita mengikuti Yesus karena Ia adalah Pemilik hidup kita. Di sini, Dia adalah Tuan yang menentukan arah hidup kita, bahkan saat perintah-Nya tidak sejalan dengan keinginan kita. Sepanjang hidup kita hanya berproses jatuh bangun kelelahan tapi tidak menyerah, mengakui ada puncak lelah (bukan tidak lelah) tetapi berjuang untuk tidak menyerah dalam meneladan dan menghikmati pengajaran Kristus.

Sebelas murid meletakkan hidup mereka di bawah kaki sang Tuan, sementara Yudas hanya menaruh perhatiannya pada instruksi sang Guru.

Kesimpulannya: Menjadi pengagum Kristus itu mudah, namun menjadi milik Kristus menuntut segalanya. Jangan sampai kita berada di "ruang perjamuan" yang sama, namun memiliki tuan yang berbeda.

(24022026)(TUS)

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 4

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 4  𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮: 𝗣𝘂𝗻𝗰𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗵...