PENGANTAR
FAVORITISME dalam Perjanjian Baru diterjemahkan dari ungkapan Yunani “prosōpolēmpsia”. Kata ini gabungan dari prosōpon (wajah/muka) dan lambanō (menerima/mengambil). Secara harfiah artinya “menerima berdasarkan wajah” — menilai orang dari tampilan luar, status, atau posisi juga karena kedekatan atau circle. Di Yakobus 2:1 dipakai frasa “mē en prosōpolēmpsiais” — jangan memegang iman dengan sikap memandang muka. Jadi Yakobus tidak sedang menegur etika sosial semata pada zaman itu, tetapi cara beriman yang rusak, iman yang dicampuri nuansa komunitas bukan persekutuan. Iman yang sejati tidak bisa berjalan bersama diskriminasi terselubung, berjalan hanya karena kedekatan, berjalan dg mana saya diuntungkan, makanya saya selalu mengkritisi mau jadi CLUB atau CHRUCH.
PEMAHAMAN
Ketika kita lebih hangat pada yang “bernilai tinggi” secara sosial, kita sedang menggeser pusat iman dari Kristus kepada kepentingan.
Akar konsep ini sebenarnya sudah ada dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama. Dalam Ulangan 10:17 tertulis bahwa Tuhan “tidak memandang bulu/muka”. Frasa Ibraninya “lo yissa panim” — secara literal “tidak mengangkat wajah”. Dalam budaya kuno, “mengangkat wajah” berarti memberi perlakuan istimewa kepada seseorang karena kedudukannya atau karena kedekatan, zaman sekarang mungkin disebut circle. Jadi ketika Alkitab berkata Allah tidak “mengangkat wajah”, itu berarti Ia tidak memberi keadilan khusus pada orang kuat. Ia adil, lurus, tidak bisa disuap, Ia bersikap sama dengan siapa saja. Ini menampar keras budaya zaman itu yang terbiasa menghormati orang karena simbol kuasa, karena kedekatan, lebih buruk karena kepentingan atau uang.
Di Perjanjian Baru, Roma 2:11 menegaskan, "Sebab Allah tidak memandang bulu/muka.“ (ouk estin prosōpolēmpsia para tō Theō), tidak ada favoritisme pada Allah, tidak ada yg lebih favorit, semua sama (hal ini sebetulnya yg didengungkan Karl Marxc, dan komunis, tapi disalah artikan oleh orang sekarang). Kata kerjanya dalam bentuk yang menunjukkan fakta tetap: ini bukan situasional, tapi sifat Allah sendiri. Artinya, favoritisme bukan sekadar kelemahan karakter manusia; itu bertentangan langsung dengan natur Allah, artinya bila ada sistim favorit itu tidak meneladan dan menghikmati pengajaran Kristus. Kalau gereja mau mencerminkan Dia, kita harus berhenti menilai dari “wajah”, entah itu wajah kaya, wajah berkuasa, atau wajah yang bisa menguntungkan karya bergereja, tidak tebang pilih, tidak bergerak atas kedekatan. Iman yang dewasa tidak lagi bertanya, “Apa manfaat orang ini bagiku?” melainkan, “Bagaimana aku bisa mengasihi orang ini seperti Tuhan mengasihinya?” Oleh karenanya kenapa pertanggungan jawab iman kita dihadapan Allah nantinya, yg diajarkan ke kita itu individual, perseorangan ..... Tidak ada istilah pertanggungan jawab iman di hadapan Allah ditanggung kelompok, atau istilah kapal besar atau kapal kecil, sepeydi keyakinan lain. Itulah kenapa sebagai manusia, Kristus menghadapi jalan deritanya, jalan salib, sendirian, ditinggalkan sahabat-sahabatnya, dalam kesendirianNya, "Allahku, Allahku kenapa Engkau meninggalkan aku"
(24022026)(TUS)