Selasa, 31 Maret 2026

IMAN ADALAH 
ALAT MEMAKSA MUJIZAT? 

Ada ajaran yang terdengar membangkitkan semangat, tetapi diam-diam merusak dasar iman: “Iman yang kuat adalah tidak berhenti percaya sampai mujizat terjadi. Tuhan pasti menjawab”. Kalimat ini disukai banyak orang, karena memberi harapan instan. Tetapi Injil tidak pernah dibangun di atas kepastian hasil—Injil dibangun di atas kedaulatan Tuhan.

Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan iman sebagai alat untuk memaksa kehendak kita terjadi. Di taman Getsemani, Ia berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” (Lukas 22:42). Jika Yesus sendiri menundukkan kehendak-Nya, bagaimana mungkin manusia menjadikan iman sebagai alat untuk menentukan hasil?

Masalah ajaran ini bukan pada kata “percaya”, tetapi pada arah “percaya”. Iman dipindahkan dari percaya kepada Tuhan menjadi percaya pada hasil yang diinginkan. Mujizat dijadikan tujuan, bukan Tuhan. Dan ketika mujizat tidak terjadi, iman pun goyah—bahkan runtuh. 

Alkitab justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Paulus berdoa tiga kali agar “duri dalam daging” diangkat. Namun jawabannya bukan kesembuhan, melainkan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Korintus 12:9). Doanya tidak dijawab seperti yang ia harapkan, tetapi imannya tidak runtuh—justru semakin dalam.

Dalam Ibrani 11 tidak hanya menampilkan mereka yang menerima mujizat, tetapi juga mereka yang disiksa, dipenjarakan, dan mati mengenaskan. Namun keduanya ditempatkan dalam satu daftar yang sama: orang-orang beriman. Ini menampar pemahaman iman yang dangkal. Sebab Alkitab sendiri menegaskan bahwa iman tidak diukur dari hasil yang terlihat. Mereka yang dibebaskan dan mereka yang dibunuh—keduanya sama-sama beriman, karena ukuran iman bukan hasil akhir, melainkan kesetiaan yang tidak tawar terhadap Tuhan.

Jika iman hanya dianggap sah saat mujizat terjadi, maka setengah dari Ibrani pasal 11 harus dibuang. Tetapi Alkitab tidak melakukannya. Justru di sanalah pesan kerasnya: iman sejati tetap setia, bahkan ketika Tuhan tidak bertindak sesuai harapan manusia. Iman bukan alat untuk memaksa Tuhan bertindak, tetapi keberanian untuk tetap tunduk ketika Tuhan memilih jalan yang tidak kita mengerti.

Ketika iman dipersempit menjadi “percaya sampai mujizat terjadi,” maka yang lahir bukan iman—melainkan ilusi rohani. Jemaat diajar mencintai hasil, bukan Tuhan; menghormati jawaban doa, bukan Pribadi yang berdaulat. Akibatnya fatal: saat hasil tidak sesuai harapan, Tuhan dianggap gagal, kasih-Nya diragukan, dan iman runtuh tanpa sisa. Itu bukan iman Alkitabiah—itu iman yang dimanjakan keadaan.

Iman sejati justru berdiri saat mujizat tidak terjadi. Ia tidak menuntut bukti, tidak mengatur Tuhan, dan tidak bergantung pada hasil. Ia tetap setia—karena yang dipegang bukan apa yang Tuhan lakukan, tetapi siapa Tuhan itu.

Yohanes 16:33, Kristus tidak pernah menjanjikan hidup tanpa luka—Ia menjanjikan kemenangan di tengah luka. Maka kemenangan sejati bukan saat masalah lenyap, tetapi saat iman tetap tegak di dalamnya. Jika iman hanya hidup saat keadaan baik, itu bukan kemenangan—itu kenyamanan. Kemenangan yang sejati adalah tetap percaya, tetap setia, dan tetap tunduk kepada Tuhan, bahkan ketika dunia menekan dan jawaban tidak datang.

Iman sejati tidak berkata, “Tuhan pasti lakukan ini bagiku.” Iman sejati berkata, “Tuhan tetap baik, sekalipun yang terjadi tidak seperti yang kuinginkan dan aku tetap percaya. 

Gereja harus berhenti memproduksi iman yang bergantung pada mujizat! 

Gereja yang terus menjual iman berbasis mujizat sedang menyiapkan jemaat yang rapuh—keras saat diberkati, tetapi runtuh saat diuji. Iman sejati tidak lahir dari mimbar yang menyenangkan telinga, melainkan dari kebenaran yang menguatkan jiwa. Tuhan tidak berjanji selalu mengubah keadaan, tetapi Ia tidak pernah gagal menyertai. Jadi pilihannya tegas: membangun iman yang manja dan mudah hancur, atau iman yang tahan api—yang tetap berdiri, bahkan ketika tidak ada mujizat sama sekali.


Sudut Pandang Ikut berdosa (dosa kolektif/omission)

Sudut Pandang Ikut berdosa (dosa kolektif/omission)

PENGANTAR
Dalam Alkitab dosa itu  ada beberapa kategori bila dilihat dari struktur bahasa dan sastra asli dari Alkitab, saya pernah menuliskan di sudut Pandang yang lain tentang hal itu. Kali ini saya menyoroti apa yang diungkap di alkitab tentang keterikutan dosa atau masuk dalam dosa kolektif. Pemahaman populer seringkali membatasi dosa pada tindakan aktif melanggar perintah Allah (dosa komisi), seperti membunuh, mencuri, berzinah, menghancurkan alam  atau korupsi, dlsb. Namun, Alkitab dengan tegas memperluas definisi dosa hingga mencakup kelalaian atau pengabaian terhadap kebaikan atau teguran yang seharusnya dilakukan (dosa omission). Alkitab Menyuarakan, suara kebenaran/kenabian akan teguran  tindakan dosa melindungi orang tsb, maksudnya orang yang menyuarakan kebenaran tsb dari dosa kolektif, demikian pula dapat menyelamatkan si pendosa. Shg pada intinya Alkitab menyuarakan bagaimana kita bersikap atau mempunyai sikap atas dosa, bukan sekedar penolakan atas dosa saja, tetapi juga pembiaran atau pendiaman atas dosa yang terjadi, maka kita ikut dalam dosa kolektif, kental sekali nuansa pemahaman ini dalam PL dan PB, dilatar belakangi pemahaman bagaimana umat Tuhan itu dikhususkan/dipilih (dikuduskan).

PEMAHAMAN 
Rasul Yakobus memberikan pernyataan yang gamblang:

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17)

Yakobus 5:19-20 (TB)
19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

Dalam Injil pun disinggung, bagaimana bersuara atau kritik akan dosa jangan dibawa seperti penghakiman akan dosa, dg latar belakang penulisan akan pekabaran injil dan pertobatan, pertobatan bukanlah pemaksaan tetapi panggilan untuk sadar diri, jadi  tidak boleh dipaksakan, bersuara atau kritik dilakukan tetapi lebih dari itu malah akan membuat dosa baru yaitu kebencian dan luka batin, akan hal tsb :

Matius 18:17 (TB) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Matius 10:14 (TB) Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.

Kecuekan, ketidakpedulian, dan pengabaian terhadap panggilan untuk mengasihi dan berbuat benar adalah dosa yang serius. Para penafsir seperti Matthew Henry dalam Commentary on the Whole Bible menekankan bahwa kelalaian (omission) seringkali merupakan akar dari pelanggaran aktif (commission).
Seseorang mungkin tidak merampok, tidak mencuri, hidup saleh dan bersedekah tetapi ia berdosa jika ia tidak menolong mereka yang kekurangan ketika ia mampu, tetapi ia berdosa ketika membiarkan korupsi terjadi di depan mata, tetapi ia ikut berdosa ketika membiarkan terjadinya tidak transparan laporan keuangan, tetapi ia ikut berdosa ketika tidak bersuara kalau chruch berubah menjadi club, dlsb, itu sudut pandang Alkitab dari segi bahasa dan sastra serta budaya zaman Alkitab, tentunya orang boleh saja menafsir dengan sudut pandang apapun tentang hal dosa ini, tinggal argumentasi yang digunakan kuat lemah atau bernalar tidak, jembatan nalarnya bgmn?. Dosa bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang gagal kita lakukan sebagai makhluk yang diciptakan untuk memuliakan Allah dan mengasihi sesama.
(01042026)(TUS)


Sudut Pandang ๐™‰๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฉ!๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐——๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐——๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ

Sudut Pandang ๐™‰๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฉ!๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐——๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐——๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ

PENGANTAR
Fundamentalisme itu jamak (๐˜ง๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ด). Ada banyak ragamnya. Namun, prinsipnya sama: ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐˜. Mereka memilih ayat-ayat yang sesuai dengan ideologi mereka masing-masing. Jika mendukung, maka teks itu historis. Jika tidak, maka mereka berdalih kiasan atau bahkan sama sekali tak dilirik.

PEMAHAMAN
Saya ambil contoh hari penyaliban Yesus.

Fundamentalis 1: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Rabu sebelum hari Paska Yahudi (14 Nisan). Setelah tiga hari tiga malam Yesus bangkit pada hari Minggu. Rujukan mereka adalah Injil Yohanes.

Fundamentalis 2: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Paska Yahudi (15 Nisan) atau Jumat. Perbedaan latar waktu di Injil sinoptik dan Injil Yohanes diakur-akurkan.

๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—”๐—น๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฏ? 

Menurut Injil sinoptik Yesus disalib pada hari Paska Yahudi atau 15 Nisan  (lih. Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Menurut Injil Yohanes Yesus disalib pada hari persiapan Paska atau sehari sebelum Paska Yahudi atau 14 Nisan (lih. Yoh. 13:1).

Ya harus diakui bahwa ada perbedaan hari penyaliban Yesus di Alkitab. Tidak perlu ditutup-tutupi. Tidak perlu membela dengan ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan diri sendiri. Justru yang terpenting adalah mengakui dan menerima ada perbedaan, lalu mengajukan pertanyaan mengapa berbeda dan ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ?

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—ฌ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜€

▶️ Latar waktu episode ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด adalah ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข (Yoh. 13:1), bukan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. Episode ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ dalam Injil Yohanes adalah ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ (Yoh. 6:1-15), yang dilanjutkan penjelasan tentang Ekaristi (Yoh. 6:25-59).
▶️ Ketika Yesus ditangkap, petulis Injil Yohanes membuat latar waktu ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข (Yoh. 18:28).
▶️ Ketika Yesus dihukum mati, petulis Yohanes menyajikan latar waktu ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข (Yoh. 19:14).

Jadi, Yesus mati pada hari penyembelihan domba kurban Paska (sehari sebelum Paska Yahudi). Yesus adalah ๐˜ผ๐™ฃ๐™–๐™  ๐˜ฟ๐™ค๐™ข๐™—๐™– ๐˜ผ๐™ก๐™ก๐™–๐™ yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Petulis Injil Yohanes memertegas teologi ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ itu dengan mengatakan ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ (Yoh. 19:36). Ini sesuai dengan peraturan Paska tulang anak domba kurban tidak boleh dipatahkan (Kel. 12:46). 

๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐˜€๐—ถ๐—ป๐—ผ๐—ฝ๐˜๐—ถ๐—ธ

Latar waktu Injil sinoptik: Yesus menghelat perjamuan Paska ketika Ia melakukan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ atau dikenal juga dengan ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Teologi yang mereka usung tidak sama dengan teologi Injil Yohanes. Mereka ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ mengusung teologi Yesus ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Injil Markus, sebagai misal, mengusung teologi Yesus adalah ๐˜๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.

Perbedaan teologi itu justru berkat bagi umat Kristen. Ini adalah kekayaan iman dari banyak kisah teologis.

Namun, perbedaan kronologi cerita Injil selalu ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ bagi kaum fundamentalis yang ingin membela ideologi ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ: laporan petulis Injil tidak memiliki kesalahan dalam hal apa pun. Demi membela ideologi itu kerap solusi yang ditawarkan menjadi aneh dan dibuat-buat demi memuaskan diri sendiri. Lewat ilmu gadungan alias ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ mereka melakukan “cocoklogi” yang menggelikan.

Jika kaum fundamentalis terdesak tidak dapat menjelaskan perbedaan latar waktu penyaliban Yesus di kitab-kitab Injil, mereka akan berujar: itu bukan perbedaan, itu saling melengkapi. 

๐˜“๐˜ข๐˜ฉ, kalau saling melengkapi berarti ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐™™๐™ค๐™ฃ๐™œ! Yesus disalib, mati, dan bangkit (kronologi versi Injil Yohanes), lalu ditangkap lagi, disalib lagi, mati lagi, dan bangkit lagi (kronologi versi Injil sinoptik). Menjadi fundamentalis ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต!

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada Misteri Paska. Apa itu Misteri dalam Misteri Paska? Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Misteri Paska merupakan serapan dari ungkapan Latin ๐˜”๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ, kita akan mendiskusikan kata ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata ๐˜ฎ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ dan ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ selalu saling berpautan.

Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. ๐—ฅ๐—ฒ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป itulah yang dimaksud pada kata misteri dalam Misteri Paska.

Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi Gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak Gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologisnya dan memasukkannya ke dalam kalender kita sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu produk iman Gereja untuk memastori dan membina umat agar kita dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

Andaikata, sekali lagi andaikata, Yesus tidak mati pada hari Jumat tidak sekonyong-konyong membuat Jumat Agung kehilangan kredibiltas. Iman Kristen tidak bergantung pada ketepatan hari kematian Yesus, melainkan pada peristiwa iman kebangkitan Yesus. Kata Rasul Paulus: Jika Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kamu.
(01042026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Yohanes 20 : 1-18 (๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Yohanes 20 : 1-18 (๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ)

๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—น๐˜†๐—ป ๐— ๐—ผ๐—ป๐—ฟ๐—ผ๐—ฒ

Sesudah melewati tiga hari secara berendeng secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi, umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช . ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ข!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menantikan dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharapkan pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst.

Bacaan ekumenis Minggu Paska diambil dari Injil Yohanes 20:1-18 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan 1Korintus 15:19-26. Untuk praktis penulisan dalam edisi Paska ini saya menyebut Yesus yang bangkit atau tubuh kebangkitan Yesus sebagai ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ.

Dikisahkan dalam Injil Yohanes 20:1-18 pada Minggu buta Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur Yesus dan ia melihat batu penutup kubur Yesus sudah tidak ada. MM kemudian berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka bahwa jenazah Yesus sudah tidak ada. Simon Petrus dan murid yang lain itu bergegas ke kubur Yesus. Petrus masuk ke kubur Yesus dan hanya melihat kain kafan sudah tergeletak di tanah, sedang kain peluh agak di samping di tempat lain sudah tergulung. Murid yang lain menyusul masuk, melihat, dan percaya. Sesudah itu keduanya pulang.

MM tetap berada di dalam kubur dan menangis. Dua malaikat berpakaian putih menyapa MM, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab MM kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian MM menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada MM, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" MM menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" MM berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepada MM, "Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." MM pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan MM menceritakan hal-hal yang disampaikan oleh Yesus. [Bacaan berakhir di sini]

Siapakah MM? Keempat Injil menyebut nama MM. Pakar PB menduga keras tokoh cerita MM ada di dunia nyata. Bukan sekadar sosok yang ada di dunia nyata, tetapi juga tokoh yang diperhitungkan. Dia bukan sekadar “Maria” pada umumnya, tetapi “Maria Magdalena”  dengan nama belakang merujuk daerah asalnya, Magdala atau Migdal. Ada kekhususan nama MM di keempat Injil. Bandingkan dengan tokoh cerita Zakheus yang khas Injil Lukas. Meskipun disebut oleh keempat Injil, tokoh MM, selain ada persamaan, ada perbedaan pemerian. 

Persamaan. Injil Markus dan Yohanes menampilkan MM pada akhir cerita Injil, menjadi saksi penyaliban Yesus. Injil Matius dan Yohanes menyebut MM memegang/menyentuh Yesus-Paska.

Perbedaan. Injil Lukas menyebut MM perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat, sedang Injil Yohanes MM perempuan baik-baik. Injil Yohanes menyebut MM sendirian ke kubur Yesus, sedang Injil Markus menyebut MM bersama dengan Maria, ibu Yakobus, dan Salome. Injil Matius menyebut Yesus-Paska berjumpa dengan MM dan Maria yang lain, sedang Injil Yohanes menyebut MM sendirian berjumpa dengan Yesus-Paska.

Sekarang kita membahas MM menurut versi Injil Yohanes karena bacaan kita pada Minggu Paska Ini dari Injil Yohanes. Berdasarkan sapaan MM kepada Yesus  dengan “Rabuni” (Guru), MM adalah murid Yesus (Yoh. 20:16). Yesus menyapa dengan “Maria” (Yoh. 20:16). Sebagai Gembala yang Baik, Yesus mengenal semua nama domba-Nya, termasuk domba-Nya yang bernama “Maria” (Yoh. 10:3). Sebagai domba-Nya, Maria juga mengenal suara Gembalanya (Yoh. 10:3-4). Bagi MM Yesus bukan lagi sekadar “Rabuni”, melainkan “Tuhan” (Yoh. 20:18). Apabila iman Kristen diawali oleh kebangkitan Yesus dan kesaksian atas penampakan-Nya, maka MM dapat dianggap sebagai pendiri kekristenan. Setidaknya satu di antaranya.

Penulis Injil penulis Yohanes tampaknya hendak menyampaikan paradoks. Tubuh Yesus sebelum kebangkitan dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Yesus-Paska seakan-akan sama seperti tubuh biasa yang bisa disentuh atau dipegang (Yoh. 20:17), bahkan tubuh yang masih berbekas luka (Yoh. 20:20, 27). Akan tetapi tubuh Yesus-Paska juga tampaknya berbeda dari tubuh biasa sehingga MM tidak langsung mengenali Yesus dan Yesus bisa muncul tiba-tiba di dalam ruangan yang tertutup (Yoh. 20:14,19,26). 

Pengarang Injil Yohanes sepertinya menolak kepemimpinan Petrus di jemaat awal. Sila baca dengan cermat bahwa Injil Yohanes pada mulanya berakhir pada pasal 20 ayat 30-31. Bersama dengan murid “misterius” yang disebut sebagai “murid yg dikasihi Yesus” Petrus memang ikut masuk ke dalam kubur Yesus (Yoh. 20:6). Namun hanya “murid yang dikasihi Yesus” yang disebut “percaya” (Yoh. 20:8). Apa dan bagaimana reaksi Petrus? Tidak ada kisahnya (Yoh. 20:6-7). Saksi pertama dari penampakan Yesus bukan Petrus, melainkan MM. Murid Yesus yang terakhir disebutkan namanya adalah Tomas, bukan Petrus (Yoh. 20:24-29).

Dalam kisah kebangkitan Yesus ini dikatakan bahwa MM memegang terus Yesus-Paska. Ada penafsir yang mengartikannya sebagai sikap egois MM yang memiliki hubungan dekat dengan Yesus sehingga MM sangat kehilangan ketika Yesus mati. Ketika bertemu dengan Yesus-Paska, MM tidak mau melepaskan Yesus lagi. Begitukah?

Saya memilih metode tafsir kritik naratif. Kisah teologis pada dasarnya adalah refleksi iman si penulis terhadap Yesus, tokoh utama kisahnya. Hanya Yesus tokoh cerita yang penting. Tokoh-tokoh lain tidaklah begitu penting sehingga dapat dihadirkan dan dilenyapkan begitu saja dari dunia cerita. Karakter tokoh-tokoh di Injil datar atau ๐˜ง๐˜ญ๐˜ข๐˜ต. Tidak kompleks. Kalau marah ya marah. Kalau malu ya malu. Tidak ada malu-malu kucing.

Kekhasan Injil Yohanes adalah ucapan-ucapan Yesus yang panjang seperti renungan. Pertanyaan atau tanggapan lawan bicara hanya untuk membuka jalan bagi penulis Injil untuk menulis Yesus menyampaikan ucapan-ucapannya. Contoh, perjumpaan Nikodemus dan Yesus dalam Injil Yohanes 3:1-21. Sesudah Nikodemus bertanya pada ayat 9, ia dihilangkan begitu saja. Contoh lainnya perikop “Roti Hidup” (Yoh. 6:25-59). Lawan bicara Yesus hanya berbicara di ayat 25, 28, 30-31, 34, 42, 52, sedang Yesus berbicara panjang-lebar menanggapi lawan bicaranya.

Demikian halnya dengan MM. Dalam teks sebenarnya tidak ada adegan MM memegang Yesus-Paska. MM memegang Yesus-Paska hanyalah imajinasi pembaca karena ada di ucapan Yesus. Cara itu merupakan teknik bercerita agar tokoh utama mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang kenaikan Yesus-Paska, tentang Yesus yang akan pergi kepada Bapa, dan perintah kepada MM untuk disampaikan kepada saudara-saudara Yesus. Kata Yesus kepada MM, "๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด, ๐™จ๐™š๐™—๐™–๐™— ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™—๐™š๐™ก๐™ช๐™ข ๐™ฃ๐™–๐™ž๐™  ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ฅ๐™–, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™œ๐™ž ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ฅ๐™–-๐™†๐™ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ." (Yoh. 20:17, TB2 LAI, 1997).

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: "๐˜ˆ ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ง๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ข ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ฆ๐˜จ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜จ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต๐˜ญ๐˜บ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ." Bernard Meltzer

Wassalam,
MDS (17042022)
๐Ÿ“ธ MM sekadar sampiran.

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 28:1-10 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 28:1-10 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐™†๐™–๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ก๐™–๐™ ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™†๐™ช

PENGANTAR
Sesudah melewati tiga hari berendeng ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ secara khidmat oleh umat Kristen dalam ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด, dan ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “๐˜Š๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช . ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ข!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.
Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi. Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 
Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah ๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น (21 Maret). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 9 April dan Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 16 April, Paska 2024 pada 5 Mei, dst.

PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis untuk Minggu Paska Tahun A disesuaikan waktu ibadah.
▶️ Ibadah pagi: Yohanes 20:1-18 atau Matius 28:1-10 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kolose 3:1-4.
▶️ Ibadah malam: Lukas 24:13-49 yang didahului dengan Yesaya 25:6-9, Mazmur 114, dan 1Korintus 5:6b-8.

Saya mengambil Injil Matius 28:1-10 sebagai bahan pengulasan. Untuk Yohanes 20:1-18 sudah pernah saya tulis di sudut pandang yg lain. Dalam membahas dan menafsir kisah di dalam Injil kita harus berpumpun atau berfokus pada Injil yang kita baca. Kita tidak boleh mencampuradukkan kisah Injil yang kita baca dengan ketiga Injil lainnya. Perbedaan kisah Injil satu tidak boleh kita harmoniskan dengan kisah ketiga Injil lainnya. Mengapa? Ini adalah kisah teologis, bukan kisah historis jurnalistis. Setiap pengarang Injil memiliki atau mengusung teologi mereka masing-masing. Mencampuradukkan kisah teologis keempat kitab Injil mengaburkan pesan teologis penulis Injil. Menyebut ayat atau teks Injil lain hanya untuk membandingkan.

[Untuk selanjutnya saya akan menyebut Yesus yang bangkit dengan ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ]

Sebelum memula pembacaan, mari kita balik sekilas apa yang terjadi sesudah Yesus dihukum mati di kayu salib. Saat penyaliban Yesus ada banyak perempuan di sana. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena (MM), Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat. 27:55-56). Langsung sesudah Yesus mati terjadi gempa bumi. Kepala pasukan di sekitar salib bersaksi, “๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.” (Mat. 27:54). Yusuf Arimatea lalu mengubur mayat Yesus sesudah meminta izin Pontius Pilatus, Gubernur Yudea (Mat. 27:57-61). Dalam pada itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi ingat perkataan Yesus yang akan bangkit pada hari ketiga. Mereka mencurigai murid-murid Yesus akan mencuri mayat Yesus kemudian membuat ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น Yesus telah bangkit. Untuk itu sehari sesudah Yesus dikubur, mereka menghadap Pilatus dan memintanya mengirim pasukan menjaga kubur Yesus. Pilatus mengirim pasukan dan para serdadu itu menyegel batu besar penutup kubur Yesus. Bacaan Injil Minggu ini (Mat. 28:1-10) dibuka dengan pergantian hari. Setelah hari Sabat lewat, menjelang fajar menyingsing pada hari pertama pekan itu, pergilah MM dan Maria yang lain menengok kubur Yesus (ay. 1). 
Hari pertama pekan itu sama dengan hari Minggu saat ini. Siapakah Maria yang lain? Kalau kita melihat adegan sebelumnya di Golgota dalam Matius 27:55-56, maka Maria yang lain adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf. 
MM dan Maria yang lain datang untuk menengok kubur Yesus, bukan untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Markus dan Lukas kedatangan perempuan-perempuan ke kubur Yesus untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Matius tidak mungkin itu terjadi karena kisah di Injil Matius menyebut kubur Yesus dijaga dan disegel oleh serdadu Romawi. Tiba-tiba terjadilah gempa yang hebat sebab ada satu malaikat Tuhan turun dari langit menggulingkan batu penutup kubur. Wujudnya laksana kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Penjaga-penjaga itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati (ay. 2-4). Di dalam Perjanjian Lama (PL) gempa bumi merupakan satu tanda kehadiran Yahweh (lih. Kel. 19:18; 1Raj. 19:11) dan bumi bergetar di hadapan wajah Yahweh (Mzm. 114:7). Penginjil Matius juga menulis terjadi gempa bumi saat Yesus mati di kayu salib (Mat. 27:51). Matius menggunakan kata ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด untuk gempa bumi yang juga dipakainya dalam kisah topan diredakan (Ma7. 8:24).
Frase ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต ini hendak menyampaikan bahwa kebangkitan Yesus sudah menjadi urusan surgawi. Malaikat tu menggulingkan batu penutup kubur dan duduk di atasnya sebagai tanda kemenangan atas segala usaha manusiawi untuk membungkam Yesus. Para penjaga menjadi seperti orang mati merupakan bahasa ironi Matius. Mereka diberi perintah menjaga orang mati justru menjadi seperti orang mati, sedang Yesus yang mati bangkit.
Hanya di dalam Injil Matius yang menyebut para perempuan mengalami gempa dahsyat dan penggulingan batu kubur. Untuk itulah malaikat itu berkata kepada mereka, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜Ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข; ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜‹๐˜ช๐˜ข.” (ay. 5-7).
Dua perempuan itu segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (ay. 8). Ada perbedaan teks Matius dan Markus. Dalam Injil Markus kedua perempuan itu hanya disebut takut tanpa sukacita yang besar. Hanya rasa takut yang menguasai kedua perempuan itu sehingga tidak mengatakan apa-apa. Dalam versi Injil Matius mereka takut dan sukacita yang besar karena mereka mendapat kepastian dari malaikat. Hal yang mirip terjadi pada orang Majus bersukacita ketika melihat bintang itu (Mat. 2:10).
Tiba-tiba Yesus-Paska menjumpai mereka dan berkata, “๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ!” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™จ๐™–๐™ช๐™™๐™–๐™ง๐™–-๐™†๐™ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜Ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ.” (ay. 9-10).
Dalam Injil Matius ini kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska dan Yesus-Paska tidak melarang. Namun, dalam Injil Yohanes Yesus-Paska melarang MM memegang Yesus dengan alasan Yesus belum kembali kepada Bapa. Bagaimana menjelaskan perbedaan ini?
Dalam Injil Yohanes ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada MM. MM hendak memegang Yesus, tetapi Yesus-Paska menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus-Paska memerintahkan MM agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Ia pada saat itu (๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ dalam teks Yohanes) akan pergi kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17).
 Pada babak kedua (Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal: (1) Yesus-Paska sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22) dan (2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (Yoh. 20:27). Bandingkan dengan Yohanes 1:33 “…๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด” dan Yohanes 7:39 “…๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ”. Yesus-Paska juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (20:23).
Dalam Injil Matius tidak membahas apakah Yesus-Paska sudah pergi atau belum kepada Bapa-Nya. Injil Matius tidak berurusan dengan Injil Yohanes. Kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska bukan untuk menahan atau membuktikan Yesus sudah bangkit, melainkan menyatakan sukacita dengan sembah sujud kepada Yesus-Paska. Kedua Injil ditulis dengan latar belakang pergumulan yang berbeda sehingga mengusung teologi yang berbeda pula. 
Perintah Yesus-Paska kepada kedua perempuan itu, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ …” Perintah ini sama dengan perintah Yesus-Paska kepada MM dalam Injil Yohanes. Apakah penggunaan sebutan ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ bermakna sama dalam kedua Injil?
๐˜š๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ dalam Injil Yohanes merujuk Yesus-Paska dan para murid sudah masuk ke dalam keluarga baru, anak-anak Allah (Yoh. 1:12) seperti dikatakan dalam perintah Yesus-Paska kepada MM, “… ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ  … ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ.” (Yoh. 20:17).
Dalam Injil Matius tampaknya perubahan sebutan dari murid-murid menjadi ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ adalah bentuk pengampunan. Para murid merasa gagal dan takut mendampingi Yesus dalam masa sengsara-Nya. Untuk membangkitkan percaya diri para murid dan untuk menunjukkan bahwa Yesus-Paska tidak marah atas kegagalan mereka, Yesus-Paska mengubah sebutan lebih akrab dengan ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ. Tafsir ini didukung dengan dua perikop sesudahnya. 

▶️ Pertama, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menyuap serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus untuk menyebarkan ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น mayat Yesus dicuri oleh murid-murid Yesus (Mat. 28:11-15). Di sini para murid akan menghadapi masalah lebih berat lagi karena mereka akan menjadi tersangka pembuat ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น Yesus bangkit yang mengganggu ketertiban dan ketenteraman Yudea, wilayah jajahan Romawi. 
▶️ Kedua, menjelang episode terakhir Injil Matius beberapa murid Yesus-Paska masih ragu-ragu (Mat. 28:17).

Saya hampir saban hari mengecewakan Yesus. Yesus tak marah, malah menyebut saya saudara-Nya. Untuk itulah dalam setiap Paska saya lebih bersukacita ketimbang Natal.

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: “๐˜๐˜ง ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด, ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ?” Habemus Papulam

(09042023)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด [๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด [๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]

๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ

PENGANTAR
Sesudah melewati Minggu Palem (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan Minggu Sengsara (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) umat Kristen memasuki Pekan Suci (๐˜๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜”๐˜ข๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ atau ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ). Ada tiga hari secara berendeng yang dirayakan secara khidmat oleh umat Kristen, yaitu ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ. Secara populer ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ diindonesiakan sebagai ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ. Sangat dipahami penamaan Trihari Suci agar sejalan dengan penamaan Pekan Suci.
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari “utama“ di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด, dan ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ.


PEMAHAMAN
๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต (๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ diindonesiakan menjadi putih? 
๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34). Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Masalahnya, bukan budaya Jawa dan kita belum biasa, masih ada yang rikuh pekewuh, banyak yang masih belum paham dan masih bertanya serta belum berani maju. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Itu kan simbolis ritual, pengenangan kita akan teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus. Teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus memang sempurna, kita gak mungkin mencapainya, tapi lewat ritual simbolis pembasuhan kaki di kamis putih, kita diingatkan, kita mengenang akan keteladanan Kristus dan hikmat pengajaran Kristus, untuk berproses ke arah sana dalam ziarah kehidupan kita walaupun tidak mungkin sempurna. Ini menunjukan bahwa teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus bersumber dari Allah sejati, dimana kita manusia rapuh hanya bisa berproses tanpa bisa sempurna seperti Yesus, karena kesempurnaan itu milik Allah. Tapi kita bersyukur, kita memiliki acuan atau keteladanan yang memanusiakan manusia dimana itu menjadi arah atau patokan hidup kita, istilah di Alkitab adalah batu penjuru, menjadi arah kehidupan. Jadi, dalam pembasuhan kaki, ego yang dibasuh dan ego yang membasuh sama-sama dilucuti, tak ada lagi ego, yang ada saling melayani, saling mengasihi. Gampangnya, bayangkan saja dua orang yang saling membenci, tapi pada satu sisi kehidupan ada saat nya kita tidak bisa mengelak untuk membasuh kaki orang yang kita benci, ada saat nya dalam kehidupan kita harus menolong orang yang memerlukan pertolongan, dan yang memerlukan pertolongan itu adalah orang yang kita benci, dalam Injil itu ada frasa menaruh bara di atas kepala musuhmu, shg tak ada lagi ego seharusnya serta di pihak yang lain dalam kehidupan ini terkadang kaki kita harus di basuh oleh orang yang kita benci, terkadang kita tidak bisa menghindar kita butuh ditolong oleh orang yang kita benci. Kita belajar, siapapun bisa dipakai Allah untuk menolong kita, bahkan musuh kita, bahkan orang yang kita benci. Lewat pembasuhan kaki, kita belajar untuk melepaskan ego kita, tidak perlu lagi ada kebencian, yang ada hanya mandat baru saling melayani, saling mengasihi. Sehingga pertanyaan balik ke kita pribadi, kenapa kita tidak berani melakukan ritual simbolis pembasuhan kaki? Mungkin ego kita masih terlampau besar untuk melihat kenyataan bahwa mandat Kristus adalah saling melayani, saling mengasihi, itu melepaskan ego kita, mungkin kita masih enggan melucuti ego kita. Bayangkan lagi dg jembatan nalar seperti itu, bagaimana kalau perumpamaan tentang dua orang yang saling membenci itu adalah suami istri, orang tua dan anak, majelis dan umat, kita dan tetangga kita yang riwil, kita dan teman kerja kita yang toxic, dlsb. Makanya di berbagai gereja variasi pembasuhan kaki banyak, ada yg jemaat menyediakan diri membasuh kaki majelis, ada pembasuhan antar keluarga, dlsb, tidak selalu antar majelis dan majelis ke umat, pemahaman liturgi ini masih berkembang. Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan Pemindahan Peralatan Sakramen. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.Yang menjadi dagelan ada gereja ikut-ikutan merayakan Kamis Putih, tetapi pada Jumat Agung melayankan Perjamuan Kudus. Merayakan Kamis Putih, tetapi mereka tidak mengetahui makna dan pesan pastoral Kamis Putih.

๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด (๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Pengindonesiaan Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. Lha kok dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama. Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, … “
Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja merayakan berarti memuliakan, mengagungkan. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib? Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ?” Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “…๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “๐™Ž๐™ช๐™™๐™–๐™ ๐™จ๐™š๐™ก๐™š๐™จ๐™–๐™ž!” Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป atau ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฏ. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19. ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ข yang berarti pengucapan syukur. “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข). Kata Rasul Paulus, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ค๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ (Yesus) ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—œ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit. Umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. ๐˜๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ (๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ)
Seperti pengindonesiaannya dari ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ menjadi Sabtu Sunyi sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. Tidak ada ibadah pada Sabtu Sunyi. Mengapa? Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung. Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42. Sangat boleh-jadi akan tersembul pertanyaan, “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.” Pertanyaan tersebut di atas sangat logis. Berhubung sangat logis, maka konsekuensi logisnya orang itu tidak memerlukan lagi hari-hari raya liturgi dan kebaktian Minggu. Ia bisa kapan saja melakukan kebaktian. Ia bisa kapan saja merayakan Hari Natal (tak perlu 25 Desember), merayakan Jumat Agung (tak perlu Jumat), merayakan Paska (tak perlu Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah ๐˜ฆ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜น Maret), merayakan Pentakosta (tak perlu menanti 50 hari sesudah Paska), dlsb. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ณ) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

(03042023)(TUS)

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).

Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).
 
PENGANTAR
Ini hanya keisengan imajinasi penulis, melihat cerita sastra Injil. Sebuah drama imaginasi flash back dari individu yang dikagumi.

PEMAHAMAN
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk Galilea, tapi pemuda itu sudah menyeka peluh di dahinya.
Sementara teman-teman masa kecilnya yang cerdas sedang mengepak perkamen untuk berangkat ke Yerusalem, mengejar posisi bergengsi di Bet Midrash (universitas elite para calon rabi), pemuda ini justru memanggul martil dan beliung. 
Langkahnya mantap menyusuri jalan tanah berdebu sejauh enam kilometer dari desa kecilnya, Nazaret. Tujuannya? Sepphoris.
Di sinilah, di tengah bisingnya denting logam yang beradu dengan batu kapur, misteri 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang dari Alkitab itu terukir.

Bagi anak laki-laki Yahudi abad pertama, pendidikan adalah segalanya. Lulus dari Bet Sefer (sekolah dasar) di usia belia, hanya mereka yang paling jenius yang akan ditarik oleh rabi besar untuk dididik menjadi ahli Taurat. 

Namun Yesus, yang di usia 12 tahun sempat membuat para cendekiawan Bait Allah melongo, secara mengejutkan justru menempuh jalur vokasi. 

Ia pulang ke rumah, melepas jubah akademis yang belum sempat dipakainya, dan mengenakan celemek kulit seorang Tekton.

Jangan bayangkan Tekton di masa itu seperti tukang kayu modern yang duduk manis meraut meja. Di Israel abad pertama, kayu sangat langka. Menjadi Tekton berarti menjadi kuli bangunan kelas berat merangkap arsitek dan pemahat batu.

Di Sepphoris, mega proyek kota metropolitan bergaya Yunani-Romawi ambisius milik Herodes Antipas, Yesus muda menghabiskan belasan tahun hidupnya. 

Di bawah terik matahari, Ia belajar mengukur presisi fondasi, membelah batu karang, dan merakit rangka atap. Sang guru utamanya bukanlah seorang rabi berjubah mewah, melainkan ayah-Nya sendiri: Yosef.

Tahun demi tahun berlalu. Pundak Yesus semakin bidang, otot-ototnya terbentuk oleh kerasnya batu kapur, dan telapak tangan-Nya penuh dengan kapalan. 

Namun, di saat yang sama, punggung pria tua yang selalu bekerja di samping-Nya mulai membungkuk. Napas Yosef semakin berat. Ayunan martilnya tak lagi sekuat dulu.

Hingga pada suatu hari, ketika Yesus berada di usia akhir dua puluhan (27-29 tahun), alat pahat itu akhirnya diletakkan untuk selamanya. 

Di sebuah ranjang sederhana di Nazaret, dengan didampingi Maria dan Yesus yang memegang erat tangannya yang kasar, Yosef menghembuskan napas terakhirnya. Pria yang setia menjaga rahasia surga itu telah purna tugas.

Kini, beban itu sepenuhnya berpindah ke pundak sang pemuda.

Sebagai anak laki-laki tertua (dan satu-satunya), Yesus secara otomatis menjadi kepala keluarga. Ia harus banting tulang menggantikan posisi ayah-Nya di proyek konstruksi demi menafkahi ibunda-Nya yang kini menjadi seorang janda. 

Penduduk Nazaret mungkin hanya memandang-Nya dengan sebelah mata: "Ah, Dia kan cuma kuli bangunan, anak janda Maria itu."

Namun, di balik baju kerjanya yang berdebu, ada sebuah ruang rahasia yang tak tersentuh oleh kelelahan fisik.

Lukas 4:16 mencatat sebuah detail yang menggetarkan: "seperti biasa Ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat". Frasa seperti biasa ini adalah saksi bisu. 

Selama 18 tahun, di tengah kerasnya menjadi tulang punggung keluarga, Yesus tak pernah absen dari Sinagoge. 

Di sanalah, dalam keheningan doa dan gulungan Kitab Yesaya, relasi batin-Nya dengan Sang Bapa terus menyala. Ia tidak butuh ijazah dari Bet Midrash, karena Ia berdialog langsung dengan Sang Pemilik Sabda.

Maka, tak heran jika kelak di Yohanes 7:15, para elite agama Yerusalem dibuat kelabakan saat berdebat dengan-Nya. Mereka saling berbisik heran, "Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan sedemikian, padahal Ia tidak pernah belajar?"

Mereka tidak tahu, bahwa universitas Yesus adalah debu jalanan Sepphoris dan tanggung jawab mengurus keluarga. Perhatikan saja bagaimana Ia kelak berkhotbah. 

Analogi-Nya begitu membumi dan menusuk relung hati.

Ia berbicara tentang orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir, dan orang bijak di atas batu karang (sebuah hukum mutlak arsitektur Tekton). 

Ia tahu betul rasanya memahat kuk (pasangan kayu pembajak) yang harus sangat presisi di leher lembu agar tidak menyakiti hewan itu, persis seperti janji-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." 

Semua perumpamaan brilian-Nya lahir dari keringat, air mata, dan pecahan batu kapur masa muda-Nya.

Namun, universitas jalanan ini tidak hanya menempa kedalaman teologi-Nya, melainkan juga memahat ketahanan fisik-Nya untuk satu misi terakhir yang paling brutal. 

Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana seorang tahanan yang punggungnya sudah dikoyak cambuk Romawi, yang ujungnya dipenuhi kaitan tulang dan timah, masih sanggup bangkit dan memanggul palang salib seberat puluhan kilogram mendaki bukit Golgota? 

Jawabannya ada pada otot-otot lengan dan pundak yang selama 18 tahun terbiasa memanggul balok kayu dan batu kapur melintasi perbukitan Galilea. 

Fisik-Nya tidak akan sekuat itu di sepanjang Jalan Salib, jika Ia tak pernah menahan pedihnya menjadi pekerja kasar di bawah terik matahari Sepphoris.

Lain kali, jika rutinitas pekerjaan harian kita terasa begitu melelahkan, membosankan, atau terasa kurang rohani, ingatlah kisah pemuda dari Nazaret ini. 

Ingatlah rute berdebu sejauh enam kilometer yang Ia tempuh setiap hari demi menafkahi ibu-Nya.

Sebab kadang, hal-hal yang paling ilahi justru sedang Tuhan pahat dalam rutinitas kita yang paling membumi.


Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

Sudut Pandang sekali lagi tentang Minggu Palem

PENGANTAR
Dari diskusi di FBG Bengkel Liturgi, ada teman yg berseloroh menggoda, tetapi tetap menjadi jawab dari kami dan pemahaman serta meramaikan khazanah diskusi, masih perkara Minggu Palem, dan selorohnya begini :
Bacaan Injil Minggu Palma di gereja saya diambil dari Matius. Menurut catatan Matius: "Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan." 
Kalau mau reka ulang sesuai Matius maka sebaiknya:
1. Hamparkan pakaian. 
2. Sebarkan ranting di jalan (bukan dilambaikan).

Prosesi memakai daun palem itu menurut Injil Yohanes. Jadi kemarin itu mengkhotbahkan dari Matius, tapi meminjam prosesi menurut Injil Yohanes.
Itu sudah blunder lageee. 
Monggo. Siap menerima bully......sambil tertawa ngakak nih dia ..... sohib satu ini.


PEMAHAMAN
Dari mana tradisi daun palem yang setiap tahun dipegang dalam Minggu?

Jawabannya ada dalam Injil Yohanes. Di sana disebutkan bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyambut Yesus. Satu Injil. Satu detil. Satu praktik yang kemudian menjadi tradisi yang hampir tidak tergoyahkan. Dari satu detil itu lahir perayaan universal.
Dalam kerangka Tahun Liturgi, khususnya yang mengikuti RCL memang ada kemungkinan Injil Yohanes dibacakan pada Minggu Palem, misalnya dalam Tahun B sebagai alternatif dari Injil Markus. Akan tetapi itu tetap alternatif, bukan pola utama. Dalam banyak perayaan tahun lainnya yang dibacakan adalah Injil yang tidak menyebut daun palem sama sekali. 
Namun menariknya praktiknya tidak berubah. Kadang kita membaca Yohanes, tetapi lebih sering tidak. Daun palem tetap selalu ada. Kita melakukan sesuatu yang tidak selalu kita dengar, dan kita jarang menyadarinya.
Tentu saja ini bukan kesalahan. Tradisi gereja memang tidak dibangun dari satu teks saja. Liturgi merupakan hasil dari perjumpaan panjang berbagai kesaksian Injil, yang dirajut menjadi satu praktik bersama. Justru karena itulah diperlukan kesadaran.

Mengapa hanya Yohanes yang menyebut daun palem?

Perbedaan ini bukan kebetulan redaksional yang kecil. Ia mencerminkan cara masing-masing Injil memahami peristiwa itu.
Dalam Injil Sinoptik penekanan utamanya bukan pada jenis daun, tetapi pada tindakan menyambut: orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja yang datang dengan rendah hati. Fokusnya ada pada gestur penyerahan diri, bukan simbol politik tertentu.
Sebaliknya Injil Yohanes menafsirkan maknanya secara lebih simbolik dan teologis. Dengan menyebut “daun palem” Yohanes sedang memerjelas sesuatu yang implisit
bahwa penyambutan Yesus itu sarat harapan mesianik yang politis, harapan akan pembebasan, kemenangan, dan pemulihan Israel.
Pada aras ini maknanya menjadi lebih dalam sekaligus lebih problematis, karena yang mereka sambut belum tentu sama dengan siapa Yesus itu sebenarnya. Daun palem bisa menjadi simbol iman, tetapi juga bisa menjadi simbol harapan yang keliru.
Itu sebabnya Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Minggu Palem dan Minggu Sengsara beririsan. 
(31032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Senin, 30 Maret 2026

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐— ๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐— ๐—ฎ๐˜‚ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ

PENGANTAR
Kamis Putih selalu punya suasana yang khas. Gereja ditata lebih rapi. Lilin dinyalakan. Liturgi berjalan dengan penuh kesungguhan. Ada prosesi, ada simbol, ada gerak yang terasa sakral. Semuanya tampak tertata, bahkan indah. Di situlah persoalannya.


PEMAHAMAN
Sering yang tertata hanyalah yang terlihat. Yang bergerak adalah tubuh, bukan hati. Yang sibuk adalah liturgi, bukan batin. Kamis Putih kemudian berubah menjadi perayaan yang rapi, tetapi tidak selalu menyentuh kedalaman. Umat mengikuti setiap bagian dengan tertib, tetapi tidak selalu masuk ke dalam ketegangan yang sedang dihadirkan.
Padahal malam itu bukan malam yang tenang. Dalam tradisi Injil Sinoptik malam itu adalah saat Yesus duduk bersama murid-murid-Nya, mengambil roti, lalu berkata bahwa itu adalah tubuh-Nya. Ia mengambil cawan, lalu berkata bahwa itu adalah darah-Nya. Sebuah tindakan yang kemudian dikenal sebagai Perjamuan Tuhan.
Namun peristiwa itu tidak berdiri sendiri. Di meja yang sama ada pengkhianatan. Ada murid yang akan menyangkal. Ada kegelisahan yang tidak terucapkan. Ada perpisahan yang tidak sepenuhnya dimengerti.
Dalam Injil Yohanes suasananya bahkan lebih sunyi dan lebih mengguncang. Tidak ada kata-kata penetapan roti dan cawan. Yang ada justru tindakan yang tidak terduga. Yesus bangkit dari meja, mengikatkan kain pada pinggang-Nya, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya.
Sebuah tindakan yang meruntuhkan jarak. Yang membalik hierarki. Yang memerlihatkan bahwa yang disebut Tuhan justru mengambil posisi hamba. [Sebutan Tuhan di sini adalah restrospektif]. Di GKJ, sering sulit mempraktekan hanya karena budaya dan tradisi RIKUH PEKEWUH, padahal jauh api dari panggangan dengan hal itu, karena ini simbolik liturgi yang harus dimaknai.
Namun di tengah semua itu kita acap lebih sibuk dengan apa yang tampak. Kita memerhatikan lilin, tetapi tidak masuk ke dalam gelapnya malam itu. Kita mengikuti prosesi, tetapi tidak ikut merasakan kegelisahan yang menyertainya. Kita bernyanyi, tetapi tidak mendengarkan ketegangan yang diam-diam mengalir di baliknya. Liturgi menjadi terang, tetapi batin tetap datar.
Padahal Kamis Putih bukan sekadar peringatan sebuah peristiwa. Ia adalah undangan untuk masuk ke dalam suasana yang tidak nyaman. Suasana ketika kasih dan pengkhianatan berdiri berdekatan. Suasana saat pelayanan atau karya bergereja tidak lagi menjadi simbol, tetapi menjadi tindakan yang merendahkan diri. Di sinilah kita mula melihat sesuatu.
Masalahnya bukan pada liturginya. Bukan pada lilinnya. Bukan pada prosesi atau tata ibadahnya. Semua itu penting. Semua itu membantu. Persoalannya ada pada apakah kita sungguh masuk ke dalam apa yang sedang dirayakan. Sangat mungkin kita menjalani Kamis Putih dengan penuh kesungguhan, tetapi tanpa keterlibatan batin. Kita hadir, tetapi tidak benar-benar ikut. Kita melihat, tetapi tidak benar-benar memahami. Kita bahkan bisa menerima roti dan cawan, tetapi tetap menolak jalan yang sedang ditunjukkannya.
Di situlah ironi itu muncul. Apa yang dirayakan adalah kasih yang merendahkan diri, tetapi yang terjadi adalah kenyamanan yang dipertahankan. Apa yang dihadirkan adalah pelayanan atau karya bergereja, tetapi yang dijalani adalah kebiasaan, rutinitas, biasanya memang begini kok, mental rutinitas dalam bergereja, menolak tidak nyaman, meski ketidak nyamanan itu teladan dan hikmat pengajaran Yesus.
Kamis Putih lalu menjadi terang di luar, tetapi belum tentu terang di dalam. Mungkin yang dibutuhkan bukan liturgi yang lebih megah. Bukan juga simbol yang lebih banyak. Yang dibutuhkan keberanian untuk tinggal sejenak dalam ketegangan itu. Tidak buru-buru selesai. Tidak segera beranjak, karena justru di situlah Kamis Putih mula berbicara.
Sangat mungkin yang disampaikannya bukan tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang selama ini kita hindari. Namun, justru pada aras itu Kamis Putih menjadi cermin yang jujur.
Ia tidak hanya menampilkan siapa Yesus itu, tetapi juga membuka siapa kita sebenarnya. Kita yang datang berpakaian rapi, liturgi yang tertib, nyanyian yang indah, tetapi tidak selalu siap untuk merendahkan diri. Tidak selalu siap untuk melayani dan berkarya. Tidak selalu siap untuk tinggal dalam ketegangan itu. Tidak siap ada dalam ketegangan itu mewujud pada anti kritik, membutakan diri, dan menulikan diri yang digumuli pada bacaan masa prapaskah tentang orang buta, wanita samaria, dlsb.
Kita ingin bagian terang dari malam itu. Kita ingin roti dan cawan. Kita ingin suasana yang hangat dan sakral. Akan tetapi kita tidak selalu ingin bagian yang lain. Bagian ketika harus membasuh kaki. Bagian ketika harus merendahkan diri. Bagian ketika kasih tidak lagi menjadi kata, tetapi menjadi tindakan yang tidak nyaman.
Kamis Putih bukan kekurangan simbol. Ia kekurangan keterlibatan. Bukan karena liturginya tidak lengkap, tetapi karena hati kita tidak ikut masuk ke dalamnya. Mungkin kita menyalakan banyak lilin, tetapi tetap menolak terang yang sesungguhnya. Kita mengikuti seluruh rangkaian ibadah, tetapi tetap menjaga jarak dari apa yang sedang dihadirkan, kita lari dari ketidak nyamanan teladan dan hikmat pengajaran Yesus, kita ingin nyaman.
Ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah bentuk. Liturgi berjalan. Lagu dinyanyikan. Doa dinaikkan. Namun, semuanya berhenti di permukaan. Kamis Putih pun selesai, tanpa pernah benar-benar terjadi.
Barangkali pada aras ini kita perlu bertanya ulang, apakah kita sungguh merayakan, atau hanya menjalankan? Apakah kita ikut masuk ke dalam malam itu, atau hanya menyaksikannya dari jauh?
Kamis Putih tidak membutuhkan penonton. Ia menuntut keterlibatan. Memang tak mudah.
Kita bersedia datang. Kita bersedia mengikuti. Kita bahkan bersedia mengulanginya setiap tahun, tetapi tidak selalu bersedia diubah olehnya, karena perubahan itu dapat berarti dilucuti.

(30032026)(TUS)
Baca juga:
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/seri-dibuat-dalam-dua-bagian.html
KALAU BERTAHAN MEMBUATMU HANCUR ATAU TERBUNUH, ITU BUKAN PANGGILAN TUHAN, ITU BUKAN KESETIAAN

Ada orang yang setiap malam berdoa sambil menangis, bukan karena rindu Tuhan…
tapi karena takut pulang ke rumahnya sendiri.

Tempat yang seharusnya jadi ruang aman,
justru berubah jadi ruang penuh ancaman.
Kata-kata jadi pisau. Tangan jadi alat melukai. Dan hati… pelan-pelan mati.

Lalu kamu diajarkan,
“Bertahanlah. Tuhan benci perceraian.”

Tapi tidak ada yang bilang, Tuhan juga benci air mata yang dipaksa jatuh setiap hari. Tuhan juga benci ketika martabatmu diinjak tanpa ampun.

Yesaya 41:10 berkata,
“Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Bukan: “Bertahanlah dalam kekerasan, Aku sedang mengujimu.”

Tidak.
Tuhan hadir untuk menguatkanmu keluar,
bukan mengikatmu untuk tetap disakiti.

Kadang kita salah mengartikan kesetiaan. Kita pikir diam itu sabar. Kita pikir bertahan itu kudus.

Padahal…
diam dalam kekerasan adalah luka yang dipelihara.
bertahan tanpa batas adalah jiwa yang disiksa.

Tuhan tidak pernah meminta kamu mengorbankan dirimu untuk menutupi dosa orang lain.

Kasih itu memang sabar. Tapi kasih juga tidak membiarkan kejahatan terus terjadi.

Kalau hari ini kamu hidup dalam ketakutan…
kalau setiap langkahmu penuh waspada…
kalau anak-anakmu tumbuh dalam trauma…

Itu bukan rumah.
Itu tempat yang harus kamu berani tinggalkan.

Keluar bukan berarti kamu gagal.
Keluar berarti kamu memilih hidup.
Memilih waras.
Memilih masa depan.

Dan Tuhan tidak akan meninggalkanmu di keputusan itu. Dia berjalan bersamamu…
di setiap langkah menuju pemulihan.

Kalau kamu sedang ada di posisi ini, jangan diam sendiri. Cari pertolongan. Ceritakan pada orang yang bisa dipercaya. Hidupmu terlalu berharga untuk terus disakiti. 

Minggu, 29 Maret 2026

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—”๐—น๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ



Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜€ ๐—ฃ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—”๐—น๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐——๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ

PENGANTAR
Sudut Pandang ๐˜’๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ dibuat dalam dua bagian. Bagian kesatu berpumpun pada gatra liturgis. Bagian kedua berpumpun pada gatra reflektif.
Menurut kalender gerejawi Minggu Palem (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด) dan Minggu Sengsara (๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ) Gereja adalah pembuka ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ๐˜บ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ, yang diindonesiakan menjadi Pekan Suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜š๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ, yang diindonesiakan menjadi ๐—ง๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ. Tiga hari suci khusus itu adalah Kamis Putih-Jumat Agung-Sabtu Sunyi ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฐ๐—ถ sehingga penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.


PEMAHAMAN 
Sering pula ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜š๐˜ข๐˜ค๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ disebut dengan ๐˜›๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju Minggu Paska; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, Hari Kebangkitan Kristus. 
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Ketiganya bukan perayaan yang berdiri sendiri; ia adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.
Sabtu Malam selepas matahari terbenam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, bukan Sabtu Sunyi lagi. Tradisi ini diterapkan sampai sekarang. Sebagai contoh Malam Paska tahun ini oleh ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ (RCL) dimasukkan ke tanggal 5 April 2026. Ibadah Malam Paska disebut Vigili Paska (๐˜Œ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ atau ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ญ). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). 
Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. Minggu Paska tidak masuk ke dalam Trihari Suci. Dengan kata lain secara ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ Trihari Suci dan Minggu Paska berbeda masa atau periode.

▶️ Berawal dari Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir pada Sabtu Sunyi
▶️ Malam Paska-Minggu Paska
▶️ Minggu kedua Paska
▶️ Dst.
▶️ Hari Pentakosta

Kamis Putih (๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ) adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Kalau akhir masa Pra-Paska berarti tidak 40 hari ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ? Begini, kita mesti membedakan terlebih dahulu ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข dan ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜—๐˜ณ๐˜ข-๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข. Jumlah 40 hari itu adalah ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข yang dihitung dari Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi tanpa menghitung (hari) Minggu.
Mengapa ๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 
๐˜”๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜บ berakar kata Latin ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ถ๐˜ฎ atau ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช; ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช.” (Yoh. 13:34). 
[Dalam Injil Yohanes tidak ditemukan perumusan Hukum Kasih seperti dalam Injil Sinoptik. Yang muncul justru ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ untuk saling mengasihi di dalam komunitas murid. Dalam konteks jemaat yang mengalami penolakan dan penganiayaan kasih tidak lagi tampil sebagai hukum umum, melainkan daya yang memerkokoh persekutuan.]
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Pada aras ini perintah itu bukan lagi ajaran, tetapi tindakan yang membalik seluruh cara pandang.
Kembali lagi ke pertanyaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—ธ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฒ๐—ป. Warna liturgi putih. Namun, putih di sini bukan sekadar warna yang tampak, melainkan simbol yang mengandung makna. Bahkan makna itu tidak segera terlihat pada pandangan pertama.
Pada Kamis Putih secara khusus Gereja mengosongkan peralatan sakramen dari altar (๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ) sesudah ๐˜™๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ. Altar yang sebelumnya penuh kini menjadi kosong. Yang sebelumnya tertata kini telanjang. Dilucuti. Polos! Yang sebelumnya hidup oleh pelayanan kini tiba-tiba berhenti.
Di titik inilah maknanya menjadi lebih dalam. Altar yang tampak polos itu bukan sekadar “kosong”, tetapi sebuah tanda. Bukan kepolosan dalam arti belum tersentuh, melainkan kepolosan sebagai keadaan yang ditinggalkan, dilepaskan, bahkan dirampas. Kepolosan di sini bukan awal, tetapi akibat. Ia menunjuk pada Yesus yang segera ditinggalkan, ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐˜‚๐—ฐ๐˜‚๐˜๐—ถ, dan memasuki jalan penderitaan.
Pengosongan altar adalah simbol Gereja yang tidak lagi berbicara. Gereja berdiam diri. Gereja memasuki keheningan. Tidak ada perayaan sakramen. Tidak ada kelanjutan liturgi yang biasa. Segala sesuatu seakan ditahan termasuk ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐˜€ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด. Mengapa?
Perjamuan Kudus merupakan perayaan iman Gereja untuk mengenang (๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฏe๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ) karya, kematian, kebangkitan, dan penantian kedatangan Kristus kembali. Pada Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, bukan perayaan syukur atau sukacita (๐˜Œ๐˜ถ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต = Ekaristi). Melakukan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung merupakan kekeliruan yang serius baik dari gatra teologis mapun liturgis.
Keheningan itu berlangsung sampai ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ. Baru pada Malam Paska liturgi kembali dilayankan. Dengan demikian putih dalam Kamis Putih tidak hanya berbicara tentang kemurnian, kepolosan, atau sukacita, tetapi juga tentang kekosongan yang harus dilalui. Sebuah terang yang justru hadir melalui pelucutan. Terang yang tidak muncul dari kepenuhan, melainkan dari pengosongan.

(29032026)(TUS)
Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01344344737.html

Sabtu, 28 Maret 2026

Sudut Pandang ๐——๐—ฎ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป “๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€”: ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐——๐—ถrenungkan

Sudut Pandang ๐——๐—ฎ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป “๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€”: ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐——๐—ถrenungkan

PENGANTAR
Di FBG Bengkel Liturgi, seiring Minggu palem ada diskusi menarik, selain diskusi tentang permen no 39  tahun 2026. Kita memang terbiasa berdiskusi untuk saling mengkritisi argumen tanpa baper an, atau ke bawa perasaan, tidak sampai debat kusir atau malah saling menjadi tidak suka, itu tidak dewasa, itu anti kritik, tetap perdebatan diatur mengalir tanpa melarikan diri dengan pembatasan waktu (ini makin tidak dewasa), tapi tetap ada agihan waktu, tapi bukan membatasi waktu saat memberikan argumentasi karena itu tidak fair/adil .... sama saja kita menulikan diri dan membutakan mata kalau seperti itu karena tak ada ruang untuk mendengar dan didengar. Kebetulan saya bersama pakdhe Purnama Kristianto serta bbrp temen ada di kubu yg berpendapat kritisi atas tema pertobatan ekologis, gereja harus pro alam, kok cabuti daun palem di minggu palem? sedangkan sohib saya, pakdhe Efron Dipoyono, pakdhe oh ie yuk, pakdhe Rochid dan Mbah Wir Kasut serta bbrp teman ada di kubu yg berpendapat bahwa memakai daun palem bukan bearti tidak cinta alam atau tidak bertobat secara ekologis. Saya merasa perlu meng-upload inti dari argumentasi kubu sebelah, yang berpendapat tidak apa memakai daun palem saat Minggu palem bukan bearti tidak tobat ekologis, agar bisa jadi renungan bagi pembaca, tentunya menambah khazanah pengetahuan pembaca.


PEMAHAMAN
Menjelang Minggu Palem muncul kritik: Gereja berbicara tentang ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€, tetapi justru memotong daun palem untuk perayaan. Sekilas tampak seperti kontradiksi. Namun, jika ditelaah dengan lebih jernih, kritik ini sesungguhnya tidak tepat sasaran, bahkan berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih mendesak.

Kesatu, perlu dibedakan secara tegas antara penggunaan simbolik yang terbatas dan praktik eksploitasi yang merusak. Daun palem yang digunakan dalam liturgi diambil dalam jumlah kecil dari tanaman yang umumnya dibudidayakan, lebih dikenal sebagai tanaman hias atau tanaman pekarangan. Memotong tangkai atau daun tidak sama dengan menebang pohon, apalagi menghancurkan ekosistem. Dalam banyak kasus pemangkasan justru merupakan bagian dari perawatan tanaman itu sendiri. Menyamakannya dengan kerusakan ekologis bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kegagalan membedakan skala persoalan.

Kedua, mengaitkan penggunaan daun palem dalam liturgi dengan krisis lingkungan tanpa membedakan konteks justru mengaburkan masalah. Ironisnya pada saat yang sama ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit, yang juga termasuk keluarga palem, telah lama berkontribusi pada deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan berbagai konflik ekologis. Namun, kritik terhadap persoalan yang jelas berskala struktural ini kerap melemah. Kita menjadi keras terhadap yang remeh-temeh tak murad, tetapi ragu terhadap yang besar.

Ketiga, liturgi bukan sekadar tindakan praktis, melainkan bahasa simbolik iman. Daun palem dalam perayaan Minggu Palem adalah tanda pengakuan akan Kristus yang datang sebagai Raja damai. Menghapus atau mencurigai simbol ini tanpa pembedaan yang memadai justru mereduksi iman menjadi sekadar persoalan teknis remeh-temeh. Padahal ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€ yang sejati tidak berhenti pada penghindaran tindakan-tindakan kecil, melainkan menyentuh cara pandang dan cara hidup secara menyeluruh, terutama dalam menghadapi sistem yang sungguh-sungguh merusak ciptaan.

Oleh karena itu sebelum menilai Gereja tidak panggah, kita perlu terlebih dahulu menempatkan persoalan pada proporsinya. Kepedulian ekologis yang matang tidak cukup hanya peka terhadap apa yang tampak, tetapi juga berani menilai apa yang menentukan. Tanpa pembedaan ini, kritik mudah berubah menjadi sekadar sikap reaktif, nyaring di permukaan, tetapi tumpul pada kedalaman.

Pertobatan ekologis menuntut kejernihan, bukan sekadar kepekaan.

(30032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang-sekali-lagi-tentang.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Apakah Kita Benar-Benar Berjalan di Jalan yang Sama dengan Yesus?

Kata Yunani "akoloutheล" sering diterjemahkan sederhana sebagai “mengikuti.” Namun dalam konteks Injil, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar berjalan di belakang. Secara etimologis, kata ini terdiri dari a- (bersama) dan keleuthos (jalan, rute, cara hidup). 

Jadi akoloutheล bukan hanya soal arah kaki, tetapi kesatuan jalan hidup, berjalan di rute yang sama, menuju tujuan yang sama, dengan pola hidup yang sama. Inilah yang Yesus maksud ketika Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Itu bukan ajakan simbolis, melainkan tuntutan eksistensial.

Dalam tradisi Yahudi abad pertama, konsep “mengikuti” seorang rabi memiliki bobot yang sangat serius. Seorang murid (talmid) tidak hanya belajar ajaran, tetapi meniru seluruh kehidupan gurunya, cara berpikir, cara menafsir Taurat, bahkan cara makan dan berdoa. Ada ungkapan terkenal dalam tradisi rabinik: “Kiranya engkau tertutup debu kaki rabimu,” yang berarti seorang murid berjalan begitu dekat dengan gurunya sampai debu langkah sang rabi menempel padanya. Mengikuti berarti melekat, bukan sekadar mengagumi dari jauh.

Namun di sinilah letak keunikan sekaligus radikalitas Yesus. Dalam budaya Yahudi, biasanya murid memilih rabi yang dianggap layak. Tetapi Yesus justru membalik pola itu: Ia yang memilih murid-murid-Nya. Lebih mengejutkan lagi, Ia memilih orang-orang yang secara sosial dan religius tidak memenuhi standar rabinik, nelayan, pemungut cukai, orang-orang biasa tanpa pendidikan teologis formal. Ini menunjukkan bahwa panggilan akoloutheล bukan tentang kelayakan manusia, tetapi tentang otoritas dan anugerah Allah.

Mengapa Yesus meminta mereka mengikuti Dia? Karena Ia bukan sekadar rabi yang mengajarkan Taurat, Ia adalah jalan itu sendiri. Pernyataan-Nya dalam Yohanes 14:6 menegaskan: “Akulah jalan…” Dalam kerangka ini, akoloutheล bukan hanya mengikuti pengajar, tetapi masuk ke dalam realitas hidup yang Ia hidupi. Mengikuti Yesus berarti meninggalkan jalan lama, identitas lama, ambisi lama, bahkan definisi diri yang lama, dan masuk ke dalam jalan salib.

Di sinilah renungan ini menjadi kritis bagi gereja masa kini. Banyak orang “mengikuti Yesus” secara verbal, tetapi berjalan di jalan yang berbeda secara praktis. Kita ingin berkat-Nya, tetapi tidak mau memikul salib-Nya. Kita mengadopsi bahasa rohani, tetapi tetap hidup dalam pola dunia. Kita menyebut diri murid, tetapi tidak hidup sebagai talmid. Pertanyaannya bukan: “Apakah kita percaya kepada Yesus?” melainkan: “Apakah hidup kita bergerak di jalur yang sama dengan-Nya?”

Yesus tidak pernah menyembunyikan biaya/ harga dari akoloutheล. Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari…” Ini bukan metafora ringan. Dalam konteks budaya Romawi, salib adalah simbol kematian yang memalukan. Jadi mengikuti Yesus berarti kesediaan untuk mati, mati terhadap ego, mati terhadap kenyamanan, mati terhadap keinginan untuk mengontrol hidup sendiri.

Maka, akoloutheล adalah panggilan menuju keserupaan, bukan sekadar kedekatan. Banyak orang dekat dengan aktivitas gereja, tetapi jauh dari jalan Kristus. Banyak yang mengenal ajaran Yesus, tetapi tidak mengenal ritme hidup-Nya, kerendahan hati, ketaatan total kepada Bapa, kasih yang berkorban, dan keberanian menghadapi penolakan.

Mari kita jujur, jika seseorang mengamati hidup kita dari dekat, apakah mereka akan melihat jejak Yesus di sana? Apakah “debu kaki-Nya” melekat dalam cara kita berpikir, berbicara, dan mengambil keputusan?

Mengikuti Yesus bukan sekadar hadir dalam ibadah, tetapi hidup dalam jejak langkah-Nya setiap hari. Akoloutheล bukan sekadar kata, melainkan jalan hidup yang sempit, yang justru membuka pintu kepada kehidupan yang sejati.

Klemens dari Aleksandria menulis: “Firman menjadi nyata ketika kehidupan seorang percaya mencerminkan Sang Guru.”

Jumat, 27 Maret 2026

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ, ๐—œ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ

Sudut Pandang ๐—ž๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ, ๐—œ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ

PENGANTAR 
Banyak pertanyaan dari tulisan Hosana, memang menjelaskan standard ganda atau makna ganda itu sulit, munculah tulisan buntut tulisan kemaren. Saban Minggu Palem umat merayakan dengan suasana yang khas. Ada prosesi, ada daun palem, ada nyanyian yang penuh sukacita. Yesus disambut sebagai Raja. Liturgi terasa meriah, bahkan cenderung penuh kemenangan. Di situlah persoalannya bermula. 


PEMAHAMAN 
Minggu Palem kerap diperlakukan seolah-olah berdiri sendiri. Seolah-olah ini adalah perayaan tentang kemenangan Yesus yang terpisah dari apa yang segera menyusul sesudahnya. Padahal dalam tradisi gereja yang lebih luas Minggu ke-6 Pra-Paska, Minggu Palem, tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu beririsan dengan apa yang disebut sebagai “Sengsara”. Dalam kerangka ๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ (RCL) Minggu ini bahkan memiliki nama ganda: ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ด (Minggu Palem)/ ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜—๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ (Minggu Sengsara). Dua penekanan dalam satu hari. Dua nada dalam satu liturgi. Di satu sisi Gereja mengenang Yesus yang memasuki Yerusalem dengan sorak-sorai. Di sisi lain Gereja juga sudah mula membaca kisah penderitaan-Nya. Bukan hari sesudahnya, tetapi pada hari yang sama. Artinya jelas. Sejak awal Gereja tidak pernah memberi ruang bagi umat untuk berhenti pada suasana kemenangan semata. Sorak-sorai itu sejak awal sudah dibayangi oleh salib. Namun dalam praktik yang sering terjadi justru sebaliknya. Minggu Palem dirayakan sebagai puncak sukacita, lalu kisah sengsara “ditunda” sampai Jumat Agung. Seolah-olah ada jarak emosional yang sengaja dibuat antara masuknya Yesus ke Yerusalem dan penderitaan-Nya. Di sinilah kita mula melihat sesuatu yang lebih dalam. Bukan sekadar soal liturgi, tetapi soal kecenderungan. Gereja, termasuk umat di dalamnya, cenderung lebih nyaman dengan perayaan daripada dengan penderitaan. ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—บ. Lebih mudah melambaikan daun palem daripada berjalan bersama Yesus menuju salib. Minggu Palem memberi ruang untuk ekspresi. Untuk gerak. Untuk suara. Untuk suasana yang hidup. Dalam pada itu kisah sengsara menuntut hal yang lain. Ia menuntut keheningan. Ia menuntut keberanian untuk menghadapi penderitaan. Ia menuntut kesediaan untuk tidak segera beranjak dari ketidaknyamanan. Tidak semua orang siap untuk itu. Tidak mengherankan secara tidak sadar kita memisahkan keduanya. Kita merayakan yang satu, kita menunda yang lain. Kita menikmati sorak-sorai, lalu berharap penderitaan bisa kita hadapi nanti saja. Akibatnya Minggu Palem kehilangan ketegangannya. Ia menjadi perayaan yang nyaman. Tidak lagi mengganggu. Padahal justru di situlah letak kekuatannya. Minggu Palem bukan hanya tentang sambutan, tetapi tentang ironi. Tentang bagaimana sorak-sorai dan jalan menuju salib berdiri sangat dekat. Tentang bagaimana harapan manusia bertemu dengan jalan Allah yang sama sekali berbeda. Di sisi lain ada juga kekeliruan yang tidak kalah umum. Banyak Gereja menyebut seluruh Minggu dalam masa Pra-Paska sebagai “Minggu-Minggu Sengsara”. Seolah-olah sejak awal masa Pra-Paska Gereja sudah sepenuhnya berada dalam suasana penderitaan.
Padahal secara liturgis yang disebut ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข itu merujuk secara khusus Minggu terakhir sebelum Paska, yaitu Minggu ke-6 dalam masa Pra-Paska. Bukan seluruh rangkaian (hari) Minggu sebelumnya, menyebut masa prapaskah sebagai masa sengsara juga kurang tepat. Masa Pra-Paska memang mengandung suasana pertobatan dan perenungan. Meskipun demikian belum semuanya berpumpun pada kisah sengsara. Ada proses. Ada perjalanan. Ada pendalaman iman yang bertahap. Puncaknya baru tiba ketika Gereja memasuki Minggu Sengsara itu sendiri.
Ketika semua Minggu dalam masa Pra-Paska disebut “Minggu Sengsara”, maka yang terjadi justru sebaliknya. Sengsara kehilangan bobotnya. Ia menjadi datar. Tidak lagi memiliki intensitas yang seharusnya memuncak pada Minggu terakhir. Di sini kita melihat pola yang sama. Baik dalam memahami Minggu Palem maupun dalam menyebut Minggu-Minggu Pra-Paska ada kecenderungan untuk meratakan apa yang seharusnya memiliki ketegangan dan puncak. Liturgi menjadi kehilangan dramanya.
Ketika drama itu hilang (jangan meremehkan konsep teaterikal liturgi), iman pun perlahan menjadi tumpul. Tidak lagi mengejutkan. Tidak lagi mengguncang. Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Ia beririsan dengan sengsara. Minggu Sengsara bukan seluruh masa Pra-Paska. Ia adalah puncak dari perjalanan itu. Jika kita memisahkan keduanya, atau meratakan semuanya, kita bukan hanya keliru memahami liturgi. Kita sedang menghindari bagian iman yang paling sulit, tetapi juga yang paling menentukan. Sangat bolehjadi di situlah letak masalahnya. Kita ingin mengikuti Yesus, tetapi tidak selalu ingin mengikuti-Nya sejauh itu.
(28032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang-sekali-lagi-tentang.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html

Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah fenomena Cut Zahara Fona.

Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah  fenomena Cut Zahara Fona.   PENGANTAR Membaca sebuah buku tentang k...