Kamis, 12 Februari 2026

Sudut Pandang Rabu Abu

Sudut Pandang Rabu Abu

PENGANTAR
Dalam liturgi dikenal ungkapan atau istilah 𝘔𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢. Hari raya umat Kristen bermula dari dan berpusat pada Misteri Paska. Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Pertanyaannya, mengapa ada kata 𝗺𝗶𝘀𝘁𝗲𝗿𝗶? Misteri Paska adalah serapan dari ungkapan Latin 𝘔𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮, kita akan mendiskusikan kata 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮 selalu saling berpautan. Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, dlsb adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. Realitas keselamatan yang tak kelihatan itulah yang dimaksud dalam kata misteri dalam Misteri Paska. 
𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 menurut 𝗥𝗲𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶
Martin 𝗟𝘂𝘁𝗵𝗲𝗿:
Sakramen adalah janji Allah yang kelihatan, tetapi janji itu diterima oleh iman. Sakramen tanpa iman tidaklah bermaslahat. Sakramen memberi anugerah, sedang iman adalah tangan yang menerima.

Jhon 𝗖𝗮𝗹𝘃𝗶𝗻: 
Sakramen adalah tanda dan meterai anugerah. Roh Kudus bekerja melalui sakramen, tetapi partisipasi efektifnya terjadi dalam iman. Sakramen bukan simbol kosong, tetapi juga bukan otomatis bekerja tanpa iman.

Huldrych 𝗭𝘄𝗶𝗻𝗴𝗹𝗶:
Sakramen adalah tanda peringatan dan pengakuan iman. Iman mendahului, sakramen meneguhkan iman.

Luther dan Calvin mirip, tetapi Zwingli berkebalikan.

Bagaimana pandangan Gereja protestan reformir yang adalah keturunan Gereja Reformasi? Pertanyaan tepatnya adalah bagaimana pandangan saya sebagai warga Gereja Protestan Reformir? Sebagai warga Gereja Protestan Reformasi saya menganut semboyan tradisi Gereja Protestan Reformasi, 𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. Sakramen meneguhkan iman sekaligus anugerah tanpa pertumbuhan iman adalah sia-sia. Ada perbedaan tipis masa Pra-Paska dan masa SEBELUM hari Paska. Masa Pra-Paska berakhir pada Kamis Putih. Jumlah hari SEBELUM hari Paska adalah 40 hari tanpa menghitung Minggu. Minggu ini (15/2) disebut 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗳𝗶𝗴𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶 sebagai penutup Minggu-Minggu Epifani. Selanjutnya akan disebut Minggu-Minggu dalam Pra-Paska. Masa Pra-Paska Tahun A akan dimula pada Rabu, 18 Februari 2026. Rabu itu disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂.
Ada tradisi berpuasa dan berpantang selama 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Tradisi berpuasa dan berpantang ini dikanonkan oleh Gereja Khatolik Roma. Sejalan dengan semangat ekumenis tradisi ini juga diterima oleh Gereja Protestan Reformir. Namun, dalam praktik di Indonesia terjadi 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗽𝗿𝗮𝗵 pada puasa dan pantang. Kewajiban berpantang dilakukan oleh warga berusia 14 tahun ke atas (Kanon 1983), sedang kewajiban berpuasa dilakukan oleh warga dewasa sampai usia awal 60-an (Kanon 1252). Di Indonesia usia dipandang sudah dewasa pada umur 18 tahun. Dalam pada itu hari-hari yang diterapkan untuk kewajiban berpuasa dan berpantang selama masa SEBELUM hari Paska:
𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮: hanya pada Rabu Abu dan Jumat Agung.
𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴: hanya pada Rabu Abu dan setiap Jumat selama masa SEBELUM hari Paska.
Di luar hari-hari itu adalah keputusan pribadi dan 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢. Jangan seperti yang sering memfitnah Yesus memberi perintah “Jadilah garam dan terang dunia.” Yesus tidak pernah memberi perintah itu. Yang Yesus katakan, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩... “.
Saya tidak akan pernah membantah bahwa berpuasa itu wajib hukumnya. Anda menjalani berpuasa karena alasan kewajiban adalah sah-sah saja dan tidak keliru. Anda berhenti di persimpangan lampu lalin yang sedang menyala merah adalah benar, karena sudah peraturannya lampu merah tanda berhenti. Namun jika dilihat dari skala keputusan etis menurut Lawrence Kohlberg, keputusan anda berhenti karena perintah/kewajiban masih pada tataran prakonvensional atau primitif. Tindakan etis anda untuk berhenti akan meningkat apabila anda berhenti karena memertimbangkan keselamatan bersama. Jika anda melanggar, anda bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Jadi keputusan anda berhenti di lampu merah secara etis atau moral sudah meningkat.
Demikian halnya anda berpuasa karena semata-mata kewajiban secara etis masuk dalam tataran prakonvensional. Tidak salah, tetapi secara etis masih primitif. Bapa Gereja Koptik Mesir Antonius dari Pispir atau yang juga dikenal dengan Anthony The Great (hidup sekitar abad 3 – 4) terkenal dengan ajaran berpuasanya. Ia mengenalkan berpuasa setiap Rabu dan Jumat selain berpuasa menurut kalender atau tahun liturgi gereja. Ia melakukan ritual berpuasa Rabu dan Jumat bukanlah tanpa alasan. Suatu hari Antonius didatangi pengemis yang sudah tak makan beberapa hari meminta makanan dan uang. Antonius hanya memiliki makanan. Ia kemudian memutuskan tidak makan siang agar jatah makan siangnya bisa dimakan oleh pengemis. Selanjutnya Antonius secara rutin berpuasa pada Rabu dan Jumat dengan maksud agar jatah makan siangnya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia berpuasa agar orang bisa makan.
Dari teladan (Santo) Antonius ini kita bisa meningkatkan keputusan etis berpuasa tidak sekadar menjalani kewajiban. Kita berpuasa agar orang lain bisa makan. Berikan jatah makan siang kita kepada orang yang membutuhkan makan, bukan untuk dipindahkan dan menambah porsi buka puasa. Dengan begitu tindakan etis kita untuk berpuasa menjadi meningkat. Bukan sekadar menjalani kewajiban. Pada Rabu ini umat Kristen memula 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Hari kesatu Pra-Paska disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂. Rabu Abu 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘄𝗮𝗹 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 karena belum Paska. Kristus belum bangkit. Apa itu Rabu Abu?


PEMAHAMAN 
Hari raya liturgi dimula dari dan berpusat pada misteri Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Pada mulanya tidak ada penyusunan sistematis dan terencana. Gereja dengan spontan menanggapi atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja kemudian merapikan ketidakteraturan itu. Mereka membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga bermakna, bertema, dan bercerita sehingga mengajar umat. Dasar penyusunan tahun liturgi ialah pemahaman soal waktu yang dipahami sebagai momen Allah berkarya. Gereja merayakan kehadiran Allah di dalam waktu dalam ibadah. Waktu gereja merujuk kesaksian Alkitab yang dibaur dengan kalender masyarakat 𝘪𝘯 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴. Pada awal kekristenan masa Pra-Paska dimula pada Minggu 𝘤𝘢𝘱𝘶𝘵 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢. Namun jumlah hari tidak genap 40 hari seperti masa puasa Yesus. Pada abad VI masa Pra-Paska ditambah empat hari sehingga jatuh pada Rabu, yang kemudian disebut Rabu Abu, dan jumlah hari menjadi 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Jadi, kalau Gereja menulis Minggu I , Minggu II, dst. sampai Minggu VI Pra-Paska itu merujuk hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺), bukan pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). 
Masa Pra-Paska dimula dari Rabu Abu dan berakhir pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵. Istilah Pra-Paska adalah khas Indonesia. Bahasa Inggris menggunakan 𝘭𝘦𝘯𝘵 atau 𝘭𝘦𝘯𝘵𝘦𝘯, yang berasal dari 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘵𝘦𝘯 (Anglo-Saxon) atau 𝘭𝘦𝘯𝘻 (Jerman). Kata itu bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) erat dengan 𝘭𝘢𝘯𝘨 atau 𝘭𝘰𝘯𝘨 karena siang menjadi lebih panjang menjelang musim semi. Orang Italia menyebut Pra-Paska dengan 𝘲𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢, sedang Spanyol menyebut 𝘤𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘮𝘢, yang berakar dari kata Latin 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢 (empat puluh).
Disebut dengan Rabu Abu di sini Gereja hendak mengajar umat mengenai pertobatan, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah. Dalam tradisi Israel Kuno abu menyimbolkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat. Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan diberikan dengan formula 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 (Kej. 3:19) atau 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘭 𝘳𝘦𝘵𝘶𝘳𝘯. Beberapa Gereja menghayati masa Pra-Paska dengan berpuasa; Ada yang penuh 40 hari, ada yang memilih pada hari-hari tertentu. Agustinus dari Hippo berpuasa dengan pertimbangan etis sangat tinggi. Ia melakukannya bertujuan untuk memberikan jatah makan siangnya kepada orang kelaparan. Meskipun demikian adalah keliru jika masa Pra-Paska dicerap sebagai masa-masa sengsara Yesus, bahkan ada Gereja yang menyebut Minggu-Minggu sengsara. Memang ada yang disebut dengan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) yang beririsan dengan Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮) pada Minggu VI Pra-Paska, tetapi secara keseluruhan adalah keliru mencerap Pra-Paska sebagai masa-masa sengsara Yesus. Pra-Paska merupakan kesukaan dan pengharapan. Dalam masa Pra-Paska Gereja menyediakan waktu secara khusus untuk menghayati karya Yesus dan peristiwa salib Kristus. Pada Rabu Abu kita diingatkan bahwa keadaan manusia adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘯𝘦𝘴𝘴. Kematian merupakan identitas manusia saban hari, sekaligus bersama dengan kehidupan yang juga saban hari kita nikmati. Kematian bukan soal setelah raga ini mengembuskan nafas terakhir. 
Banyak penjaja agama entah lewat rumah ibadah, entah lewat media televisi atau daring meneriakkan kematian-pasca-kematian agar ditakuti. Padahal kehidupan itu menyapa kita dalam kenyataan bahwa kita adalah abu kini dan di sini, setiap saat. Ini bukan soal hidup nyaman kelak di surga, yang jika ditolak berakibat hidup pedih dan penuh kesakitan di neraka. Neraka itu adalah kemanusiaan kita, sekaligus karena Kristus sudah memasukinya dan membuatnya menjadi perayaan hidup, tanpa lupa pada kenyataan bahwa kita adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 bukan soal takut pada hukuman, namun pada ingatan arkais bahwa kita boleh hidup.

 (05032025)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20 : 1-18 (𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20 : 1-18 (𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮) 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗹𝘆𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗿𝗼𝗲 Sesudah melewati tiga hari secara beren...