Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶: 𝗕𝗲𝗻𝗴𝗸𝗲𝗹 𝗜𝗺𝗮𝗻
Sakramen adalah simbol realitas yang tidak kelihatan. Sakramen merupakan simbol kuat yang membentuk komunitas iman. Sehubungan dengan 𝘚𝘰𝘭𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘳𝘢 tempo hari, apakah mungkin Gereja membentuk iman yang keliru melalui praktik sakramental yang keliru? Tentang 𝘚𝘰𝘭𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘳𝘢, ingat tulisan saya waktu lalu?
Cara kita berdoa membentuk apa yang kita percayai (𝘭𝘦𝘹 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘭𝘦𝘹 𝘤𝘳𝘦𝘥𝘦𝘯𝘥𝘪), maka praktik sakramental yang keliru sangat mungkin membentuk iman yang keliru pula. Sakramen bukan sekadar ekspresi iman, melainkan membentuk iman. Liturgi merupakan pedagogi yang berulang seperti cara roti dibagikan, warga yang boleh menerima, bahasa doa, gestur imam, kedudukan umat, yang semua ini mengajar secara diam-diam. Apabila praktik ini berubah, teologi umat berubah, sadar tidak sadar.
Saya berikan contoh dari Gereja Katolik dan Gereja Protestan agar seimbang. Ketika ritus elevasi muncul pada abad pertengahan, pusat perhatian bergeser dari perjamuan (komuni) menjadi melihat hosti. Ekaristi semakin dipahami sebagai objek adorasi, sehingga dalam praktik tertentu partisipasi umat cenderung menjadi lebih pasif. Tak salah sepenuhnya, tetapi langgam teologi berubah. Dalam pada itu Gereja Protestan jarang merayakan Ekaristi. Mimbar menjadi pusat. Ceramah pengkhotbah membentuk iman. Sakramen menjadi sekadar pelengkap penderita. Padahal dalam Gereja perdana Sabda dan Ekaristi dalam satu gerak.
Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah Gereja bisa sesat hanya karena bentuk liturginya, melainkan: apakah setiap perubahan liturgi memiliki konsekuensi teologis? Jawabannya: Ya! Itu sebabnya ada pembaruan liturgi menurut ilmu liturgi. Sebagai contoh Konsili Vatikan II merupakan pengakuan bahwa liturgi perlu dibaharui agar selaras dengan teologi Gereja perdana dan partisipasi aktif umat. Juga lewat kerjasama ekumenis Protestan dan Katolik lahirlah bacaan ekumenis RCL.
Liturgi itu ibarat bengkel iman. Iman dibentuk, dirawat, dikoreksi, dan dimurnikan melalui praktik liturgis yang berulang. Iman bukan sekadar isi kepala, melainkan kebiasaan atau habitus yang dilatih. Liturgi bekerja bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat gerakan berdiri, duduk, berlutut, menjawab, menyanyi, menerima roti dan anggur. Tubuh dilibatkan dengan gerakan berulang-ulang yang akan membentuk disposisi batin. Kita tidak hanya percaya dengan otak, kita juga belajar percaya dengan tubuh. Semboyan 𝘭𝘦𝘹 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘭𝘦𝘹 𝘤𝘳𝘦𝘥𝘦𝘯𝘥𝘪 bukanlah slogan romantis, melainkan kenyataan antropologis.
Struktur liturgi juga merupakan kurikulum. Apabila dalam satu Gereja Injil jarang dibacakan, Mazmur dihilangkan, Ekaristi sekadar pelengkap penderita, khotbah menjadi pusat tunggal, maka iman yang terbentuk adalah iman selera pengkhotbah. Sebaliknya apabila struktur liturgi acap dilakukan secara penuh atau setidaknya dalam Liturgi Sabda diterapkan RCL secara penuh, maka iman yang dibentuk adalah iman partisipasi dalam drama keselamatan.
Bengkel dapat saja keliru dalam melakukan perbaikan sehingga menghasilkan produk yang cacat. Demikian juga liturgi yang keliru, liturgi yang dibuat seturut selera pendeta, maka liturgi itu dapat membentuk iman yang magis, iman yang individualistis, dan iman yang konsumtif.
Liturgi bukan milik pendeta. Ia merupakan 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗴𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Apabila liturgi adalah bengkel iman, maka bengkel itu milik komunitas, bukan pemilik tunggal. Ketika liturgi direduksi menjadi panggung klerus, bengkel berubah menjadi teater.
Bengkel bukan hanya memerbaiki kekeliruan tindakan masa lalu, tetapi juga menyiapkan kendaraan kokoh untuk pekerjaan jangka panjang di depan. Di sini liturgi melatih pengharapan (Adven), pertobatan (Pra-Paska), sukacita kebangkitan (Paska), dan kesetiaan harian (Masa Biasa). Iman dibentuk secara berirama seturut tahun gerejawi. Tanpa irama iman menjadi sporadis dan reaktif.
Liturgi bukanlah panggung ekspresi iman yang sudah matang. Liturgi adalah bengkel tempat iman ditempa, dibentuk oleh doa, oleh struktur bacaan, oleh sakramen, oleh irama tahun gerejawi. Jika bengkelnya salah setel, iman pun terbentuk doyong. Jika bengkelnya sehat, iman bertumbuh dewasa.
Sadar tidak sadar Gereja sedang membentuk manusia pada setiap kebaktian Minggu dan hari raya. Apabila montir bengkel korup, maka pelanggan mendapat celaka dalam berkendara. Jika pengkhotbah munafik dan tak bermoral, ia tidak hanya merusak dirinya, tetapi juga melukai iman umat. Hukuman bagi pengajar seperti itu tak main-main, yakni ditenggelamkan di laut dengan lehernya dikalungi batu kilangan, kata Yesus.
(17022026)