PENGANTAR
Teknologi bukanlah musuh gereja. QRIS dan transfer bank bukan dosa dan bukan pelanggaran iman. Namun, teologi tidak pernah berhenti pada satu pertanyaan. Bolehkah penerapan QRIS dalam liturgi? Jika boleh, apa maknanya? Teologi bergerak melingkar/sirkular, bukan garis lurus/linear. Liturgi bekerja melalui simbol yang membentuk kesadaran iman. Roti dan anggur bukan sekadar makanan dan minuman. Air baptisan bukan sekadar cairan. Gerak berdiri, duduk, menunduk, 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶, bernyanyi bukan sekadar perubahan posisi tubuh dan bersuara. Semua itu membentuk 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘵𝘶𝘴 iman.
[𝘛𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝙥𝙧𝙚𝙢𝙞𝙨 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘵𝘶𝘳 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱: 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 – 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 – 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘌𝘬𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪 – 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱]
Ketika 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 ditempatkan dalam ritus, ia memiliki bobot kultis sakramental. Ia adalah tanda penyerahan diri. Namun, ketika pada saat yang sama Gereja menampilkan QRIS sebagai saluran transfer yang tak terpisahkan dari tindakan itu, maka yang terjadi bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan pergeseran simbolik.
Dalam makna liturgis persembahan adalah tindakan kultis sakramental. Dalam logika QRIS persembahan adalah mekanisme pembayaran. Liturgi berubah menjadi ruang yang mengintegrasikan sistem transaksi. Hal itu bukan perkara remeh temeh. Tidak ada urgensi teologis untuk menyatukan QRIS dengan tindakan ibadah. QRIS dan transfer konvensional dapat dilakukan di luar liturgi: sebelum kebaktian atau sesudah kebaktian melalui pengumuman administratif.
Ketika QRIS ditempatkan di dalam ritus, seolah-olah ia adalah bagian esensial dari tanggapan iman. Konsekuensi tindakan ini Gereja sedang melakukan sesuatu yang serius: menyakralkan mekanisme administratif dan sekaligus secara ironis mereduksi makna persembahan menjadi pelunasan finansial. Di sini kita menyaksikan pergeseran senyap:
▶️ yang teknis naik menjadi simbolik, sedang
▶️ yang simbolik turun menjadi teknis.
Liturgi adalah pedagogi. Ia membentuk cara umat memandang Allah. Jika tanggapan iman diritualkan terutama dalam bentuk transfer dana, maka umat belajar secara tersirat:
▶️ Relasi dengan Allah berstruktur transaksi.
▶️ Memberi → diberkati.
▶️ Tidak memberi → merasa bersalah.
Tanpa sadar Gereja melahirkan spiritualitas pasar. Iman diukur, dicatat, dan dioptimalkan. Padahal liturgi bukanlah transaksi, melainkan partisipasi dalam misteri. Apabila sesuatu yang dapat dilakukan di luar liturgi tetap dimasukkan ke dalam ritus, itu bukan kebutuhan teknis, melainkan pilihan teologis. Setiap pilihan teologis membentuk iman.
Nah, pertanyaannya bukan lagi apakah QRIS boleh digunakan, melainkan logika apa yang sedang kita latih di dalam ruang kudus dengan penerapan QRIS?
Mungkin kita juga perlu bertanya, apakah setiap hal yang praktis memang perlu ditempatkan di dalam ritus?
PEMAHAMAN
Sakramen adalah simbol realitas yang tidak kelihatan. Sakramen merupakan simbol kuat yang membentuk komunitas iman. Sehubungan dengan 𝘚𝘰𝘭𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘳𝘢 tempo hari, apakah mungkin Gereja membentuk iman yang keliru melalui praktik sakramental yang keliru? Tentang 𝘚𝘰𝘭𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘳𝘢, ingat tulisan saya waktu lalu?
Cara kita berdoa membentuk apa yang kita percayai (𝘭𝘦𝘹 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘭𝘦𝘹 𝘤𝘳𝘦𝘥𝘦𝘯𝘥𝘪), maka praktik sakramental yang keliru sangat mungkin membentuk iman yang keliru pula. Sakramen bukan sekadar ekspresi iman, melainkan membentuk iman. Liturgi merupakan pedagogi yang berulang seperti cara roti dibagikan, warga yang boleh menerima, bahasa doa, gestur imam, kedudukan umat, yang semua ini mengajar secara diam-diam. Apabila praktik ini berubah, teologi umat berubah, sadar tidak sadar.
Saya berikan contoh dari Gereja Katolik dan Gereja Protestan agar seimbang. Ketika ritus elevasi muncul pada abad pertengahan, pusat perhatian bergeser dari perjamuan (komuni) menjadi melihat hosti. Ekaristi semakin dipahami sebagai objek adorasi, sehingga dalam praktik tertentu partisipasi umat cenderung menjadi lebih pasif. Tak salah sepenuhnya, tetapi langgam teologi berubah. Dalam pada itu Gereja Protestan jarang merayakan Ekaristi. Mimbar menjadi pusat. Ceramah pengkhotbah membentuk iman. Sakramen menjadi sekadar pelengkap penderita. Padahal dalam Gereja perdana Sabda dan Ekaristi dalam satu gerak.
Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah Gereja bisa sesat hanya karena bentuk liturginya, melainkan: apakah setiap perubahan liturgi memiliki konsekuensi teologis? Jawabannya: Ya! Itu sebabnya ada pembaruan liturgi menurut ilmu liturgi. Sebagai contoh Konsili Vatikan II merupakan pengakuan bahwa liturgi perlu dibaharui agar selaras dengan teologi Gereja perdana dan partisipasi aktif umat. Juga lewat kerjasama ekumenis Protestan dan Katolik lahirlah bacaan ekumenis RCL.
Liturgi itu ibarat bengkel iman. Iman dibentuk, dirawat, dikoreksi, dan dimurnikan melalui praktik liturgis yang berulang. Iman bukan sekadar isi kepala, melainkan kebiasaan atau habitus yang dilatih. Liturgi bekerja bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat gerakan berdiri, duduk, berlutut, menjawab, menyanyi, menerima roti dan anggur. Tubuh dilibatkan dengan gerakan berulang-ulang yang akan membentuk disposisi batin. Kita tidak hanya percaya dengan otak, kita juga belajar percaya dengan tubuh. Semboyan 𝘭𝘦𝘹 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘭𝘦𝘹 𝘤𝘳𝘦𝘥𝘦𝘯𝘥𝘪 bukanlah slogan romantis, melainkan kenyataan antropologis.
Struktur liturgi juga merupakan kurikulum. Apabila dalam satu Gereja Injil jarang dibacakan, Mazmur dihilangkan, Ekaristi sekadar pelengkap penderita, khotbah menjadi pusat tunggal, maka iman yang terbentuk adalah iman selera pengkhotbah. Sebaliknya apabila struktur liturgi acap dilakukan secara penuh atau setidaknya dalam Liturgi Sabda diterapkan RCL secara penuh, maka iman yang dibentuk adalah iman partisipasi dalam drama keselamatan.
Bengkel dapat saja keliru dalam melakukan perbaikan sehingga menghasilkan produk yang cacat. Demikian juga liturgi yang keliru, liturgi yang dibuat seturut selera pendeta, maka liturgi itu dapat membentuk iman yang magis, iman yang individualistis, dan iman yang konsumtif.
Liturgi bukan milik pendeta. Ia merupakan 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶𝗴𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Apabila liturgi adalah bengkel iman, maka bengkel itu milik komunitas, bukan pemilik tunggal. Ketika liturgi direduksi menjadi panggung klerus, bengkel berubah menjadi teater.
Bengkel bukan hanya memerbaiki kekeliruan tindakan masa lalu, tetapi juga menyiapkan kendaraan kokoh untuk pekerjaan jangka panjang di depan. Di sini liturgi melatih pengharapan (Adven), pertobatan (Pra-Paska), sukacita kebangkitan (Paska), dan kesetiaan harian (Masa Biasa). Iman dibentuk secara berirama seturut tahun gerejawi. Tanpa irama iman menjadi sporadis dan reaktif.
Liturgi bukanlah panggung ekspresi iman yang sudah matang. Liturgi adalah bengkel tempat iman ditempa, dibentuk oleh doa, oleh struktur bacaan, oleh sakramen, oleh irama tahun gerejawi. Jika bengkelnya salah setel, iman pun terbentuk doyong. Jika bengkelnya sehat, iman bertumbuh dewasa.
Sadar tidak sadar Gereja sedang membentuk manusia pada setiap kebaktian Minggu dan hari raya. Apabila montir bengkel korup, maka pelanggan mendapat celaka dalam berkendara. Jika pengkhotbah munafik dan tak bermoral, ia tidak hanya merusak dirinya, tetapi juga melukai iman umat. Hukuman bagi pengajar seperti itu tak main-main, yakni ditenggelamkan di laut dengan lehernya dikalungi batu kilangan, kata Yesus.
(17022026)