Selasa, 17 Februari 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 6:1-6,16-21 [𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 6:1-6,16-21 [𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮

PENGANTAR 
Rabu, 18 Februari 2026, umat Kristen memula masa Pra-Paska. Hari pertama Pra-Paska disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂. Apa itu Rabu Abu?
Hari raya liturgi dimula dari dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada penyusunan sistematis dan terencana. Gereja dengan spontan menanggapi atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja kemudian merapikan ketidakteraturan itu. Mereka membentuk, menyusun, dan merekayasa (𝘵𝘰 𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳) kisah teologinya sehingga bermakna, bertema, dan bercerita sehingga mengajar umat. Dasar penyusunan tahun liturgi ialah pemahaman soal waktu yang dipahami sebagai momen Allah berkarya. Gereja merayakan kehadiran Allah di dalam waktu dalam ibadah. Waktu gereja merujuk kesaksian Alkitab yang dibaur dengan kalender masyarakat 𝘪𝘯 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴.
Pada awal kekristenan masa Pra-Paska dimula pada Minggu 𝘤𝘢𝘱𝘶𝘵 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢. Namun jumlah hari tidak genap 40 hari seperti masa puasa Yesus. Pada abad VI masa Pra-Paska ditambah empat hari sehingga jatuh pada Rabu, yang kemudian disebut Rabu Abu, dan jumlah hari menjadi 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Jadi, kalau Gereja menulis Minggu I , Minggu II, dst. sampai Minggu VI Pra-Paska itu merujuk hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺), bukan pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). Minggu VI Pra-Paska biasanya disebut sebagai Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯).
Masa Pra-Paska dimula dari Rabu Abu dan berakhir pada Kamis Putih. Istilah Pra-Paska adalah khas Indonesia. Bahasa Inggris menggunakan 𝘭𝘦𝘯𝘵 atau 𝘭𝘦𝘯𝘵𝘦𝘯, yang berasal dari 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘵𝘦𝘯 (Anglo-Saxon) atau 𝘭𝘦𝘯𝘻 (Jerman). Kata itu bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) erat dengan 𝘭𝘢𝘯𝘨 atau 𝘭𝘰𝘯𝘨 karena siang menjadi lebih panjang. Orang Italia menyebut Pra-Paska dengan 𝘲𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢, sedang Spanyol menyebut 𝘤𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘮𝘢, yang berakar dari kata Latin 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢 (empat puluh). Disebut dengan Rabu Abu di sini Gereja hendak mengajar umat mengenai pertobatan, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah. Dalam tradisi Israel Kuno abu menyimbolkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat. Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan diberikan dengan formula 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 (Kej. 3:19) atau 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘭 𝘳𝘦𝘵𝘶𝘳𝘯. Meskipun demikian adalah keliru jika masa Pra-Paska dicerap sebagai masa-masa sengsara Yesus. Memang ada yang disebut dengan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) yang beririsan dengan Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮) pada Minggu VI Pra-Paska, tetapi secara keseluruhan adalah keliru mencerap Pra-Paska sebagai masa-masa sengsara Yesus. Pra-Paska merupakan kesukaan dan pengharapan. Dalam masa Pra-Paska Gereja menyediakan waktu secara khusus untuk menghayati karya Yesus dan peristiwa salib Kristus. Pada Rabu Abu kita diingatkan bahwa keadaan manusia adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘯𝘦𝘴𝘴. Kematian merupakan identitas manusia saban hari, sekaligus bersama dengan kehidupan yang juga saban hari kita nikmati. Kematian bukan soal setelah raga ini mengembuskan nafas terakhir. 
Banyak penjaja agama entah lewat rumah ibadah, entah lewat media televisi meneriakkan kematian-pasca-kematian agar ditakuti. Padahal kehidupan itu menyapa kita dalam kenyataan bahwa kita adalah abu kini dan di sini, setiap saat. Ini bukan soal hidup nyaman kelak di surga, yang jika ditolak berakibat hidup pedih dan penuh kesakitan di neraka. 
Neraka itu adalah kemanusiaan kita, sekaligus karena Kristus sudah memasukinya dan membuatnya menjadi perayaan hidup, tanpa lupa pada kenyataan bahwa kita adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 bukan soal takut pada hukuman, namun pada ingatan arkais, bahwa kita boleh hidup.


PEMAHAMAN 
Bacaan ekumenis untuk Rabu Abu Tahun A diambil dari Injil Matius 6:1-6, 16-21 yang didahului dengan Yoel 2:1-2, 12-17, Mazmur 51:1-17, dan 2Korintus 5:20b-6:10.
Bacaan Injil Matius 6:1-6, 16-18 tampaknya dihimpun di bawah satu tema: bagaimana para murid seharusnya mengamalkan ajaran agama mereka. Ayat 1 tampaknya menjadi ucapan utama karena berisi tema yang akan dirinci di bagian selanjutnya: " 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘦𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘶𝘮 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” (TB II 2023). Matius tampaknya sangat menekankan nasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) antara umat dan Allah. Kualitas pernasabahan (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱) itu tidak boleh dicemarkan oleh motivasi lain, termasuk motivasi pamer kesalehan, misal: supaya dilihat orang. Ketika seseorang memertunjukkan kesalehannya di depan publik, mereka sudah mendapatkan “upah”-nya dari manusia sehingga mereka tidak lagi mendapatkan “upah”-nya dari Allah. Jadi, hal yang dipertentangkan di sini adalah upah/pahala dari manusia atau upah/pahala dari Allah Bapa. Ibadah itu 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 atau 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩? Padahal sebelumnya disebut oleh Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪.” (Mat. 5:14-16). 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 sekarang dilarang menampilkan kesalehan di depan umum? 𝘒𝘦𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 di Matius 6 (bacaan Minggu ini) sebaiknya dipahami sebagai lawan dari motivasi pamer kesalehan (supaya dilihat orang), sedang 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 di Matius 5 dipahami dalam tujuan 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. Laksanakan ibadah dan perilaku kesalehanmu bukan untuk dipuji orang (pamer), melainkan agar orang memuliakan Bapa di surga (kesaksian). Begitulah kura-kura.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗸𝗮𝗵 (Mat. 6:2-4)
Ketika seseorang memberi sedekah supaya dipuji orang, ia sudah mendapatkan “pahalanya” dari manusia, yaitu pujian itu. Bapa di surga akan memberi pahala kepada anak-Nya yang memberi sedekah dengan tulus.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮 (Mat. 6:5-6)
Ketika seseorang berdoa supaya dilihat orang, ia sudah mendapatkan “pahalanya” dari manusia, yaitu dilihat orang. Tersirat dalam frase 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 adalah dipuji orang seperti halnya ketika memberi sedekah. Bapa di surga hanya akan mendengarkan doa yang memang ditujukan kepada-Nya.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗮𝘀𝗮 (Mat. 6:16-18)
“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘮 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘢𝘧𝘪𝘬. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢.” (ay. 16a, TB II 2023). Ketika seseorang berpuasa supaya dilihat orang, ia sudah mendapatkan “pahalanya” dari manusia, yaitu dilihat orang; dipuji orang. “…𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢, 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢 …” (ay. 17-18, TB II 2023). Bapa di surga hanya akan memberi pahala kepada orang yang benar-benar berpuasa.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗴𝘂𝗺𝗽𝘂𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝘁𝗮
Berbeda dari bagian sebelumnya, Matius 6:19-21 berbicara tentang mengumpulkan harta. Hal yang dipertentangkan di sini adalah harta di bumi dan harta di surga.
6:19 " 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪; 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘯𝘨𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. (TB II 1997)
6:20 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘯𝘨𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.” (TB II 2023)
Bagaimana cara mengumpulkan harta di surga? Bagian sebelumnya menjelaskan “cara” mengumpulkan harta di surga: dengan memberi sedekah diam-diam, dengan berdoa di tempat tersembunyi, dan dengan berpuasa tanpa terlihat berpuasa. Terhadap pengamalan ketiga kewajiban agama itu Allah akan memberi pahala. Pahala itulah yang menjadi harta di surga. Semua itu tentunya adalah bahasa metaforis. Ibadah bukanlah transaksi dagang, apalagi kontrak karya! Allah akan mengganjar pahala semua perilaku kita yang benar dan baik, yang kita lakukan dalam bernasabah intim dengan-Nya sebagai Bapa kita. Bersedekah, berdoa, dan berpuasa akan menjadi 𝘀𝗶𝗮-𝘀𝗶𝗮, jika dilakukan hanya 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗽𝗮𝗺𝗲𝗿 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗲𝗵𝗮𝗻 untuk dipuji orang. Puasa, pantang dan doa yang dijalani secara pribadi dilakukan dengan membangun relasi dengan sesama, mengendalikan pikiran negatif, mengembangkan kerukunan, penuh syukur dan apresiatif. Selanjutnya puasa, pantang, amal
saleh dan doa dilakukan secara ekologis dengan tidak mengeksploitasi bumi, namun mendoakannya supaya lestari. Bagi orang Kristen, puasa digemakan mulai ibadah Rabu Abu. Puasa dijalankan pada masa Prapaskah. Di tengah situasi krisis yang kompleks pada saat ini, puasa masa Prapaskah perlu 
dilakukan dengan mengingat krisis ekologis. Bumi kita merana kesakitan karena segala kerusakan yang ditimpakan kepadanya. Melalui Masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu 
Abu, umat diundang untuk bersedekah, berdoa, berpuasa dengan berpusat pada Allah. Dari egosentris menjadi gerak ekologis adalah seruan Allah yang ditanggapi dengan 
mengoyakkan hati. 

(22022023)(TUS)

PENGANTAR Bacaan Injil untuk Minggu I Pra-Paska diambil dari Matius 4:1-11. Di perikop ini ada adegan dialog Yesus dan iblis. • Iblis percay...