Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Injil Matius 21:1-11 Minggu Palem dan Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺/Sengsara, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗚𝗲𝗺𝗽𝗮𝗿𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗶𝘁𝘂
PENGANTAR
Minggu 29 Maret 2026, Minggu ini adalah Minggu VI masa Pra-Paska. Ada dua peristiwa yang beririsan dalam Minggu ini, yaitu Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯). Secara tradisi ibadah gereja dimarakkan dengan setangkai daun palem di tangan umat dengan merujuk Yohanes 12:13.
PEMAHAMAN
Bacaan Alkitab secara ekumenis untuk Minggu Palem diambil dari Injil Matius 21:1-11 yang didahului dengan Mazmur 118:1-2, 19-29, sedang bacaan untuk Minggu Sengsara diambil dari Injil Matius 26:14-27:66, secara RCL tapi di buku masa prapaskah paskah 2026 GKJ GKI sw Jateng mengirisnya menjadi Matus 27:11-54, yang didahului dengan Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:9-16, dan Filipi 2:5-11.
Bacaan Injil untuk Minggu Palem (Mat. 21:1-11) diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘭𝘶-𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. Adegan ini menjadi episode peralihan penting. Perjalanan panjang Yesus dan murid-murid-Nya menuju Yerusalem (lih. Mat. 16:21, 19:1) berakhir di sini kemudian beralih ke puncak konflik dengan para pembenci-Nya di Yerusalem. Paruh pertama cerita mengenai Yesus dan murid-murid-Nya mendekati Yerusalem (ay. 1-7) berlangsung lancar berpindah ke paruh kedua tentang Yesus yang disambut banyak orang di Yerusalem (ay. 8-11).
Konteks terdekat dari Matius 21:1-11 sebagai berikut:
➡️ Permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes; Bukan memerintah melainkan melayani (Mat. 20:20-28).
➡️ Yesus menyembuhkan dua orang buta (20:29-34).
➡️ Yesus dielu-elukan di Yerusalem (21:1-11).
➡️ Yesus menyucikan Bait Allah (21:12-17).
➡️ Yesus mengutuk pohon ara (21:18-22).
➡️ Pertanyaan mengenai kuasa Yesus (21:23-27).
Dalam enam perikop itu ada tema dasar atau benang merah, yaitu tentang bagaimana Yesus sebagai 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 atau 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘪𝘬 memerintah dan akan memerintah (eskatologis).
𝗣𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (Mat. 21:1-7)
Adegan diawali Yesus berada di Betfage, Bukit Zaitun. Letak Kampung Betfage sampai sekarang tidak diketahui. Betfage berarti 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢. Yesus menyuruh dua orang murid-Nya, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘵𝘪𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”
Hal itu dikatakan Yesus agar digenapi firman yang disampaikan oleh nabi. Nabi siapa? Nabi Zakharia. Matius memang suka mengutip kitab-kitab Yahudi atau Perjanjian Lama (PL). Hanya di dalam teks Injil Matius disebut dua ekor keledai (induk dan anaknya). Padahal Injil Markus yang lebih tua menyebut satu ekor dan kitab Zakharia 9:9 yang melatarbelakangi ayat itu disebut seekor saja.
𝘉𝘦𝘳𝘴𝘰𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘚𝘪𝘰𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘰𝘳𝘢𝘬-𝘴𝘰𝘳𝘢𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘩𝘢𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮! 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘫𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪, 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘵𝘪𝘯𝘢. (Zak. 9:9, TB II 2023)
Putri Sion di atas adalah metafor untuk penduduk Yerusalem. Mengapa Matius sengaja mengubah jumlah keledai dari satu menjadi dua? Mengapa Matius tidak mengikuti jumlah keledai dari sumber ceritanya (Markus: satu ekor) dan bahkan tidak mengikuti nubuatan Zakharia 9:9 (satu ekor)? Apakah Matius salah baca Zakharia 9:9?
Ada ahli yang berpendapat bahwa Matius salah baca kitab Zakharia 9:9 karena ia kurang mengenal pola puitis kesejajaran sinonim, yaitu apa yang sudah dikatakan di bagian pertama akan diulangi di bagian kedua dengan kata-kata yang berbeda untuk memerkaya makna yang sudah dikatakan di bagian pertama.
Tampaknya bukan itu. Demi menyampaikan gagasan Matius tidak segan-segan untuk memodifikasi bahan-bahannya, baik bahan dari tradisi lisan maupun bahan dari tradisi tulisan. Untuk memerkuat argumen ini kita dapat melihat pengarang Injil Matius mengubah teks PL Mikha 5:1 dalam Matius 2:6.
𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮 𝘌𝘧𝘳𝘢𝘵𝘢, 𝙝𝙖𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶𝘮-𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶, 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶. (Mik. 5:1, TB II 2023)
Bandingkan.
𝘋𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮, 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞-𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘢𝘵-𝘒𝘶 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭. (Mat. 2:6, TB II 2023)
Pertanyaan selanjutnya, jika Matius sengaja mengubah satu keledai menjadi dua keledai, apa maksud atau pesannya?
Pertama, hal yang barangkali perlu dipertimbangkan adalah kesukaan Matius pada angka atau nilai 𝗱𝘂𝗮. Contoh-contohnya:
➡️ Anak-anak yang dibunuh Herodes adalah mereka yang berumur 𝗱𝘂𝗮 tahun ke bawah (2:16).
➡️ Murid-murid pertama Yesus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (4:18).
➡️ Nelayan yang dipanggil Yesus untuk menjadi murid-Nya adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara juga (4:21).
➡️ Ajaran Yesus: jika ada yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh 𝗱𝘂𝗮 mil! (5:41)
➡️ Di Gadara bukan hanya satu orang yang dirasuk setan, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang (8:28).
➡️Di perjalanan-Nya Yesus menyembuhkan mata 𝗱𝘂𝗮 orang buta (9:27).
➡️ Jika ada suatu perkara, jumlah saksi minimum adalah 𝗱𝘂𝗮 orang (18:16).
➡️ Yesus berjanji akan hadir jika ada minimum 𝗱𝘂𝗮 orang berkumpul dalam nama-Nya (18:20).
➡️ Murid-murid Yesus yang meminta tempat khusus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (20:20).
➡️ Ketika keluar dari Yerikho, bukan hanya satu, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang buta yang disembuhkan Yesus (20:34).
➡️ Ada 𝗱𝘂𝗮 murid yang disuruh menemukan 𝗱𝘂𝗮 keledai (21:1).
➡️ Mahkamah Agama bahkan membutuhkan kesaksian palsu yang konsisten minimum dari 𝗱𝘂𝗮 orang saksi (26:60).
➡️ Yesus disalibkan bersama dengan 𝗱𝘂𝗮 orang penyamun (27:38).
Kedua, alasan Matius yang lebih spesifik justru tampak pada Zakharia 9:9 dan modifikasinya. Sesudah membaca Zakharia 9:9, tampaknya Matius mendapat gagasan tentang 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, lalu ia memodifikasi keledainya agar lebih sesuai dengan gagasannya mengenai raja mesianik yang lemah lembut. Simbol kelemahlembutan Sang Raja itu bukan hanya keledai (versus kuda), tetapi lebih daripada itu: keledai perempuan (ibu) dan anak keledai jantan yang tidak dipisahkan dari ibunya. Jadi, simbol dua keledai itu tampaknya dianggap lebih bermakna daripada simbol satu keledai saja.
Dua murid itu pergi ke kampung di depannya dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya.
𝗠𝗲𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸𝗶 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 (Mat. 21:8-11)
Perjalanan menuju Yerusalem dimula. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan untuk menghormati Yesus sebagai 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘪𝘬. Hal serupa dilakukan terhadap Yehu pada hari ia diurapi menjadi raja (2Raj. 9:13).
Ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Hal semacam ini biasa dilakukan pada hari ketujuh pesta Pondok Daun, tetapi juga dalam beberapa kesempatan lain (lih. Mzm. 118:27; 1Mak. 13:51; 2Mak. 10:7). Hanya dalam Injil Yohanes disebut khalayak menyongsong Yesus dengan daun palem (Yoh. 12:13).
Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, "𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥, 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘩𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪!"
Siapakah orang banyak yang berjalan di depan dan di belakang Yesus? Besar kemungkinan mereka adalah para peziarah yang mengikuti rombongan Yesus. Mereka bukan penduduk Yerusalem. Hosana merupakan sorak Ibrani hosyiana yang berarti 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 (Mzm. 118:25). Di masa gereja perdana hosana digunakan sebagai sorak pujian dalam liturgi. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 adalah gelar mesianik (lih. Mat. 1:1; 9:27; 15:22). Matius menegaskan lagi Yesus adalah Juruselamat yang pernah dijanjikan kepada Raja Daud.
Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata, "𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪?" Orang banyak itu menyahut, "𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘕𝘢𝘻𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘪 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢." (ay. 10-11)
Matius menggunakan kata 𝘨𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳 (𝘦𝘴𝘦𝘪𝘴𝘵𝘩𝘦̄) yang biasanya untuk topan atau gempa bumi (Mat. 8: 24; 27:51; 28:4). Di sini tampaknya penginjil Matius hendak memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) keriuhan kota yang amat sangat menyambut kedatangan Yesus, Raja Mesianik.
Mengapa Matius memunculkan istilah nabi? Padahal sejak awal Injil Matius dikatakan bahwa Yesus adalah raja, anak Daud, anak Abraham. Mengenakan gelar nabi kepada Yesus malah merendahkan-Nya, tetapi Matius perlu memunculkannya dengan keluar dari mulut 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 (𝘰𝘤𝘩𝘭𝘰𝘪).
Matius memunculkannya di sini tampaknya berpautan dengan penolakan dan pembunuhan terhadap Yesus yang akan segera terjadi di Yerusalem. Ada tertulis "𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮, 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘯𝘢𝘣𝘪-𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢! 𝘉𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬 𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶.” (Mat. 23:37, TB II 2023). Jadi, Yesus bukan hanya nabi yang ditolak di kota asalnya, Nazaret (Mat. 13:57), melainkan juga nabi yang ditolak di kota yang menjadi tujuan pengutusan-Nya, Yerusalem (23:37).
Apabila kita meneruskan bacaan untuk Minggu Sengsara Injil Matius 26:14-27:66 kita akan menemui lagi perkataan dari 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 (𝘰𝘤𝘩𝘭𝘰𝘪) yang dihasut oleh imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi (Mat. 27:20-26). Orang banyak itu berteriak “𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯” (Mat.27:23). Ketika Pilatus mengatakan, “𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 (maksudnya Yesus)”, orang banyak itu tanpa berpikir panjang mengatakan bahwa darah Yesus biarlah ditanggungkan kepada mereka dan keturunan mereka (Mat. 27:25-26). Maksudnya, meskipun membunuh itu kejahatan besar, mereka mau menanggungnya. Gila 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?
Orang banyak saat ini ibarat kasus zaman dahulu kala, PDIP yang mengusung Jokowi, “𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘥𝘦𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪!” Jokowi kemudian membuat projek tuan rumah Piala Dunia U20. Presiden FIFA Gianni Infantino pun bersuka atas antusias Jokowi. Belakangan PDIP menolak kehadiran Tim Israel U20. Menolak tim peserta berarti menolak FIFA. FIFA akhirnya membatalkan hak Indonesia menjadi tuan rumah dan segera akan menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Media luar negeri menyoroti alasan keputusan FIFA itu karena Indonesia negara rasis. Risiko kerusakan itu jelas PDIP tidak ambil pusing karena yang penting, “𝘚𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘑𝘰𝘬𝘰𝘸𝘪!”
Gemparlah seluruh masyarakat sepakbola Indonesia (bergurau yah ..... Xi ... Xi)
(02042023)(TUS)