Selasa, 31 Maret 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 28:1-10 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 28:1-10 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

𝙆𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙆𝙪

Sesudah melewati tiga hari berendeng 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶 secara khidmat oleh umat Kristen dalam 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵, 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴, dan 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “𝘈𝘭𝘪𝘵𝘩𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪 . 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘭𝘶𝘪𝘢!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹 (21 Maret). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 9 April dan Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 16 April, Paska 2024 pada 5 Mei, dst.

Bacaan ekumenis untuk Minggu Paska Tahun A disesuaikan waktu ibadah.
▶️ Ibadah pagi: Yohanes 20:1-18 atau Matius 28:1-10 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kolose 3:1-4.
▶️ Ibadah malam: Lukas 24:13-49 yang didahului dengan Yesaya 25:6-9, Mazmur 114, dan 1Korintus 5:6b-8.

Saya mengambil Injil Matius 28:1-10 sebagai bahan pengulasan. Untuk Yohanes 20:1-18 sudah pernah saya tulis di sini https://www.facebook.com/100030986591668/posts/696019838107563/ 

Dalam membahas dan menafsir kisah di dalam Injil kita harus berpumpun atau berfokus pada Injil yang kita baca. Kita tidak boleh mencampuradukkan kisah Injil yang kita baca dengan ketiga Injil lainnya. Perbedaan kisah Injil satu tidak boleh kita harmoniskan dengan kisah ketiga Injil lainnya. Mengapa? Ini adalah kisah teologis, bukan kisah historis jurnalistis. Setiap pengarang Injil memiliki atau mengusung teologi mereka masing-masing. Mencampuradukkan kisah teologis keempat kitab Injil mengaburkan pesan teologis penulis Injil. Menyebut ayat atau teks Injil lain hanya untuk membandingkan.

[Untuk selanjutnya saya akan menyebut Yesus yang bangkit dengan 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮]

Sebelum memula pembacaan, mari kita balik sekilas apa yang terjadi sesudah Yesus dihukum mati di kayu salib. Saat penyaliban Yesus ada banyak perempuan di sana. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena (MM), Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat. 27:55-56). Langsung sesudah Yesus mati terjadi gempa bumi. Kepala pasukan di sekitar salib bersaksi, “𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩, 𝘐𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” (Mat. 27:54). Yusuf Arimatea lalu mengubur mayat Yesus sesudah meminta izin Pontius Pilatus, Gubernur Yudea (Mat. 27:57-61). 

Dalam pada itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi ingat perkataan Yesus yang akan bangkit pada hari ketiga. Mereka mencurigai murid-murid Yesus akan mencuri mayat Yesus kemudian membuat 𝘩𝘰𝘢𝘹 Yesus telah bangkit. Untuk itu sehari sesudah Yesus dikubur, mereka menghadap Pilatus dan memintanya mengirim pasukan menjaga kubur Yesus. Pilatus mengirim pasukan dan para serdadu itu menyegel batu besar penutup kubur Yesus.

Bacaan Injil Minggu ini (Mat. 28:1-10) dibuka dengan pergantian hari. Setelah hari Sabat lewat, menjelang fajar menyingsing pada hari pertama pekan itu, pergilah MM dan Maria yang lain menengok kubur Yesus (ay. 1). 

Hari pertama pekan itu sama dengan hari Minggu saat ini. Siapakah Maria yang lain? Kalau kita melihat adegan sebelumnya di Golgota dalam Matius 27:55-56, maka Maria yang lain adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf. 

MM dan Maria yang lain datang untuk menengok kubur Yesus, bukan untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Markus dan Lukas kedatangan perempuan-perempuan ke kubur Yesus untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Di Injil Matius tidak mungkin itu terjadi karena kisah di Injil Matius menyebut kubur Yesus dijaga dan disegel oleh serdadu Romawi.

Tiba-tiba terjadilah gempa yang hebat sebab ada satu malaikat Tuhan turun dari langit menggulingkan batu penutup kubur. Wujudnya laksana kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Penjaga-penjaga itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati (ay. 2-4).

Di dalam Perjanjian Lama (PL) gempa bumi merupakan satu tanda kehadiran Yahweh (lih. Kel. 19:18; 1Raj. 19:11) dan bumi bergetar di hadapan wajah Yahweh (Mzm. 114:7). Penginjil Matius juga menulis terjadi gempa bumi saat Yesus mati di kayu salib (Mat. 27:51). Matius menggunakan kata 𝘴𝘦𝘪𝘴𝘮𝘰𝘴 untuk gempa bumi yang juga dipakainya dalam kisah topan diredakan (Ma7. 8:24).

Frase 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 ini hendak menyampaikan bahwa kebangkitan Yesus sudah menjadi urusan surgawi. Malaikat tu menggulingkan batu penutup kubur dan duduk di atasnya sebagai tanda kemenangan atas segala usaha manusiawi untuk membungkam Yesus. Para penjaga menjadi seperti orang mati merupakan bahasa ironi Matius. Mereka diberi perintah menjaga orang mati justru menjadi seperti orang mati, sedang Yesus yang mati bangkit.

Hanya di dalam Injil Matius yang menyebut para perempuan mengalami gempa dahsyat dan penggulingan batu kubur. Untuk itulah malaikat itu berkata kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘐𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢; 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (ay. 5-7).

Dua perempuan itu segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (ay. 8). Ada perbedaan teks Matius dan Markus. Dalam Injil Markus kedua perempuan itu hanya disebut takut tanpa sukacita yang besar. Hanya rasa takut yang menguasai kedua perempuan itu sehingga tidak mengatakan apa-apa. Dalam versi Injil Matius mereka takut dan sukacita yang besar karena mereka mendapat kepastian dari malaikat. Hal yang mirip terjadi pada orang Majus bersukacita ketika melihat bintang itu (Mat. 2:10).

Tiba-tiba Yesus-Paska menjumpai mereka dan berkata, “𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Kata Yesus kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙆𝙪 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 9-10).

Dalam Injil Matius ini kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska dan Yesus-Paska tidak melarang. Namun, dalam Injil Yohanes Yesus-Paska melarang MM memegang Yesus dengan alasan Yesus belum kembali kepada Bapa. Bagaimana menjelaskan perbedaan ini?

Dalam Injil Yohanes ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada MM. MM hendak memegang Yesus, tetapi Yesus-Paska menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus-Paska memerintahkan MM agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Ia pada saat itu (𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 dalam teks Yohanes) akan pergi kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17).
 
Pada babak kedua (Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal: (1) Yesus-Paska sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22) dan (2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (Yoh. 20:27). Bandingkan dengan Yohanes 1:33 “…𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴” dan Yohanes 7:39 “…𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘙𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯”. Yesus-Paska juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (20:23).

Dalam Injil Matius tidak membahas apakah Yesus-Paska sudah pergi atau belum kepada Bapa-Nya. Injil Matius tidak berurusan dengan Injil Yohanes. Kedua perempuan itu memeluk kaki Yesus-Paska bukan untuk menahan atau membuktikan Yesus sudah bangkit, melainkan menyatakan sukacita dengan sembah sujud kepada Yesus-Paska. Kedua Injil ditulis dengan latar belakang pergumulan yang berbeda sehingga mengusung teologi yang berbeda pula. 

Perintah Yesus-Paska kepada kedua perempuan itu, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 …” Perintah ini sama dengan perintah Yesus-Paska kepada MM dalam Injil Yohanes. Apakah penggunaan sebutan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 bermakna sama dalam kedua Injil?

𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 dalam Injil Yohanes merujuk Yesus-Paska dan para murid sudah masuk ke dalam keluarga baru, anak-anak Allah (Yoh. 1:12) seperti dikatakan dalam perintah Yesus-Paska kepada MM, “… 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶  … 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶.” (Yoh. 20:17).

Dalam Injil Matius tampaknya perubahan sebutan dari murid-murid menjadi 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 adalah bentuk pengampunan. Para murid merasa gagal dan takut mendampingi Yesus dalam masa sengsara-Nya. Untuk membangkitkan percaya diri para murid dan untuk menunjukkan bahwa Yesus-Paska tidak marah atas kegagalan mereka, Yesus-Paska mengubah sebutan lebih akrab dengan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. Tafsir ini didukung dengan dua perikop sesudahnya. 
▶️ Pertama, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menyuap serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus untuk menyebarkan 𝘩𝘰𝘢𝘹 mayat Yesus dicuri oleh murid-murid Yesus (Mat. 28:11-15). Di sini para murid akan menghadapi masalah lebih berat lagi karena mereka akan menjadi tersangka pembuat 𝘩𝘰𝘢𝘹 Yesus bangkit yang mengganggu ketertiban dan ketenteraman Yudea, wilayah jajahan Romawi. 
▶️ Kedua, menjelang episode terakhir Injil Matius beberapa murid Yesus-Paska masih ragu-ragu (Mat. 28:17).

Saya hampir saban hari mengecewakan Yesus. Yesus tak marah, malah menyebut saya saudara-Nya. Untuk itulah dalam setiap Paska saya lebih bersukacita ketimbang Natal.

𝘘𝘶𝘰𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘢𝘺: “𝘐𝘧 𝘑𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘦𝘥 𝘧𝘰𝘳 𝘰𝘶𝘳 𝘴𝘪𝘯𝘴, 𝘵𝘩𝘦𝘯 𝘸𝘩𝘰 𝘥𝘪𝘦𝘥 𝘧𝘰𝘳 𝘰𝘶𝘳 𝘤𝘰𝘴 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘢𝘯?” Habemus Papulam

Wassalam,
MDS (09042023)

IMAN ADALAH  ALAT MEMAKSA MUJIZAT?  Ada ajaran yang terdengar membangkitkan semangat, tetapi diam-diam merusak dasar iman: “Iman yang kuat a...