Jumat, 03 April 2026

Sudut Pandang Yohanes 10:1-10 (Minggu IV Paska, Tahun A), Satu Pintu

Sudut Pandang Yohanes 10:1-10 (Minggu IV Paska, Tahun A), Satu Pintu

PENGANTAR
Minggu 26 April 2026, Jadi ingat dahulu .... Ehm ... lalu, pernah tjd saat zamannya covid, Presiden Joko Widodo berang pada pengurus IDI (Ikatan Dokter Indonesia) tentang kematian seribu orang akibat Covid19. Jokowi berang bukan lantaran data pemerintah pasti benar dan IDI hendak mengoreksi data pemerintah. Jokowi berang karena IDI mengumbar berita kematian seribu orang tanpa data sahih dan tidak lewat satu pintu. Jokowi terbuka atas koreksi data pemerintah asal IDI dapat memberikan bukti-bukti sahih kepada pemerintah dan pemerintah akan menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat lewat satu pintu.  Apabila kita tarik mundur lagi penerapan satu pintu oleh Jokowi bukanlah barang baru. Ketika Jokowi menjadi Gubernur DKI, ia membenahi administrasi yang morat-marit. Untuk meladeni masyarakat secara prima, Jokowi membuat Pelayanan Tepadu Satu Pintu (PTSP). Dalam penerapannya Jokowi sering berblusukan ke PTSP agar apa yang dimaksud dengan satu pintu bukan sekadar pintunya hanya satu. Satu pintu haruslah ditunjukkan dengan satu kali pencรจt semua persyaratan terlayankan dengan prima. Pelayanan satu pintu haruslah dicitrakan dengan kepuasan masyarakat yang mendapat pelayanan. Pada tingkat nasional Jokowi melihat keruwetan dalam perizinan usaha. Untuk mengurai keruwetan itu dan memudahkan masyarakat untuk berkegiatan usaha dibuatlah apa yang disebut dengan Online Single Submission. Pengurusan izin usaha satu pintu lewat daring. Masyarakat dimudahkan dalam menerima pelayanan prasyarat untuk melakukan usaha (izin terkait lokasi, lingkungan, dan bangunan), izin usaha, dan izin operasional.
PEMAHAMAN
Bacaan Injil secara ekumenis pada Minggu IV Paska diambil dari Yohanes 10:1-10. Adegan perikop ini menyusul adegan sebelumnya mengenai Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir. Yesus mengajar kepada orang-orang di sana dengan ilustrasi kehidupan sehari-hari masyarakat agraris. Diceritakan oleh Yesus bahwa domba-domba berada di kandang yang siap digembalakan ke padang rumput. Gembala akan masuk ke kandang melalui pintu dan menghitung domba-dombanya sebelum mereka digiring keluar. Yang tidak masuk melalui pintu pastilah pencuri. Pencuri masuk dengan memanjat tembok/pagar. Orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus belum juga mengerti. Yesus menegaskan Dialah pintu itu. Orang-orang yang tidak melalui pintu adalah perampok-perampok. Yesus menjadi pintu agar domba-domba tetap hidup dan makan rumput penuh kelimpahan. “Akulah pintu,” kata Yesus,” barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Yesus kemudian melanjutkan,” Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memilikinya dalam segala kelimpahan.“ 
Sejak pemberlakuan #JagaJarak dahulu saat pandemi Covid19 gereja seperti mati gaya, pada awalnya. Dibuatlah ibadah virtual sebagai penyulih ibadah konvensional. Itu tindakan bijak dan saya mendukungnya. Sayangnya (atau sialnya?) watak berebut domba tampaknya belum juga terbaiki. Di mana-mana dapat kita saksikan gereja beriklan ibadah virtual dengan kemasan atau gambar untuk menarik pembeli.
Meskipun demikian cukup banyak gereja yang menggunakan situasi krisis ini untuk berbagi. Dari berbagi cairan antiseptik, bahan-bahan kebutuhan pokok, alat pelindung diri, sampai nasi bungkus kepada masyarakat yang membutuhkan. Sayangnya kegiatan mulia ini masih sebatas charity. Mirip Sinterklas berbagi hadiah kepada anak-anak pada masa Natal. Bagi bantuan, ambil foto atau video, unggah ke media sosial, selesai, kami sudah berbuat.
Apabila kita melihat ajaran Yesus dalam bacaan Injil pada Minggu ini “Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” mengajarkan bahwa pelayanan gereja haruslah serbacakup yang menyentuh sendi-sendi kehidupan. Pelayanan gereja bukanlah sporadis seperti IDI yang menyebarkan informasi tanpa bukti-bukti yang sahih dan tidak dilakukan dengan satu pintu. Ini sama halnya udah ada kesepakatan Tata Gereja dan Tata Laksana tetapi tidak diikuti bahkan dipatuhi oleh gereja lokal dalam sinode tsb, bahkan pimpinan gereja, gak ngerti apa itu tata gereja dan tata laksana, apalagi satu pintu, ini kagak ada pintunya. Pada 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Pemerintahan Jokowi berhasil menekan angka persentase orang miskin di bawah dua digit untuk pertama kalinya dalam sejarah. Untuk memudahkan perhitungan anggap saja 10% dan jumlah penduduk Indonesia hari ini sebanyak 272 juta orang. Dengan demikian orang miskin masih ada sekitar 27 juta orang. Dalam situasi krisis Covid19 jumlah tersebut dapat dipastikan bertambah. Yesus datang memang bukan untuk orang miskin saja, tetapi justru ajaran-Nya hendak membuat orang peka dan mengarahkan perhatian mereka kepada orang-orang miskin dan tak berdaya dalam rangka memberdayakan mereka. “Akulah Pintu” bukanlah dogma eksklusif hanya lewat Yesus kamu selamat. “Akulah Pintu” merujuk agar domba-domba sebagai pihak yang tak berdaya tetap hidup dan terlindungi dari pencuri atau perampok.
Dengan metafor “Akulah Pintu” ini Yesus hendak menegur gereja untuk memberikan dan menawarkan pelayanan bagi mereka yang tak berdaya agar dapat tetap hidup sekaligus melindungi mereka dari ancaman para penindas dan perenggut kebebasan, jangan malah gereja yang jadi penindasnya dan perenggut kebebasan umat. Bukan sekadar bagi-bagi sembako (meski jumlahnya tak sampai sembilan). Itulah pelayanan serbacakup. Seperti kata Jokowi, pelayanan satu pintu itu adalah memberikan pelayanan yang prima bagi masyarakat dan sekaligus melindungi masyarakat dari calo-calo dan para pemburu rente. Seribu Pintu atau Lawang Sewu  tinggallah sejarah. URUSANNYA PINTU,Yohanes 10:1-10,Melalui ibadah Minggu paskah IV, kita diajak untuk mengalami kasih karunia Allah dan diubah oleh kasih karunia Allah. Perubahan itu bukan bagi diri sendiri, melainkan bagi hidup bersama ciptaan Allah yang lain. Bersama kawanan domba. milik Allah, kita yang beroleh kasih karunia-Nya siap menggumulkan hidup komunitas dan berbelarasa kepada sesama ciptaan yang lain. Hidup sebagai orang Kristen memiliki standar yang berbeda dari standar yang dimiliki dunia. Bukan semata untuk terlihat berbeda dan demi mendapatkan penghormatan, melainkan sebagai panggilan hidup mengikut Kristus dan menyatakan Injil bagi dunia.Dengan Kristus menggambarkan diri-Nya sebagai pintu, hal ini menunjukkan sebuah pembeda yang tegas antara diri-Nya dengan pihak-pihak yang mau merenggut kawanan domba ini. Kristus menjelaskan bahwa hanya melalui pintu dari kandang yang dibuat gembala, domba-domba itu akan merasakan pemeliharaan karena akan dibawa ke padang rumput yang hijau. Jadi, pintu sebagai gambaran bahwa hanya melalui Kristus saja keselamatan itu datang.Pembeda inilah yang ditegaskan oleh Kristus. Bahwa Ia sama sekali berbeda daripada pihak-pihak yang sebelumnya datang hanya demi mendapatkan keuntungan sesaat. Kristus datang untuk memberikan keselamatan dan hidup bagi
kawanan. Yesus datang memang bukan untuk orang miskin saja, tetapi justru ajaran-Nya hendak membuat orang peka dan mengarahkan perhatian mereka kepada orang-orang miskin dan tak berdaya dalam rangka memberdayakan mereka. “Akulah Pintu” bukanlah dogma eksklusif hanya lewat Yesus kamu selamat. “Akulah Pintu” merujuk agar domba-domba sebagai pihak yang tak berdaya tetap hidup dan terlindungi dari pencuri atau perampok.

(20042026)(TUS)

๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐——๐—ผ๐—ฎ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—ธ๐—ป๐—ถ๐—ธ ๐˜ก๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ฆ merupakan metode menggambar pola-pola sederhana, repetit...