Senin, 11 Mei 2026

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 (2/11)

𝗩𝗼𝘁𝘂𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

Kekeliruan liturgis berikutnya yang sering luput disadari dalam Gereja-gereja Protestan adalah perubahan fungsi 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 ibadah. Tanpa disadari 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 itu lambat laun berubah menjadi kata sambutan acara sosial.

Satu penyebabnya adalah kaburnya pembedaan antara 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮. Dalam banyak praktik ibadah kedua tindakan liturgis ini digabungkan begitu saja sehingga seolah-olah merupakan satu kalimat pembuka ibadah, bahkan acap dipahami sebagai doa pembuka.

Padahal dalam tradisi liturgi gereja 𝙫𝒐𝙩𝒖𝙢 𝗱𝗮𝗻 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙢 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝘂𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮. 𝘝𝘰𝘵𝘶𝘮 adalah pernyataan Gereja bahwa ibadah dimula 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵. Misal, “𝘗𝘦𝘳𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘮𝘪.” 𝘝𝘰𝘵𝘶𝘮 bukan doa dan bukan pula sapaan kepada jemaat. 𝘝𝘰𝘵𝘶𝘮 adalah pengakuan iman Gereja bahwa seluruh ibadah berlangsung di bawah kuasa dan pemeliharaan Allah.

Tanggapan umat atas 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 itu pada lazimnya adalah “𝘈𝘮𝘪𝘯”. Dengan kata itu umat meneguhkan pengakuan iman yang baru saja dinyatakan.

Sesudah 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 barulah diucapkan 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴. Salam ini bukan lagi pengakuan iman kepada Allah, melainkan deklarasi anugerah Allah kepada umat yang berkumpul. Misal, “𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯.”

Dalam salam seperti ini yang berbicara bukan sekadar pribadi pemimpin ibadah, melainkan Gereja yang menyatakan anugerah Allah atas umat yang berkumpul. Tanggapan umat pun berbeda dari tanggapan terhadap 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮. Terhadap 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 jemaat menjawab, “𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢.” Ini bukan basa-basi. Ini pengakuan bahwa anugerah Allah yang dinyatakan kepada umat juga menyertai pelayan yang memimpin ibadah.

Namun, seiring dengan waktu dalam banyak Gereja salam pembuka kerap berubah menjadi semacam sambutan. Pemimpin ibadah menyapa jemaat dengan kalimat-kalimat seperti, “𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬-𝘐𝘣𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪? 𝘚𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢.” Tidak jarang ditambahkan pula komentar ringan tentang cuaca, suasana hari itu, atau kegiatan gereja.

Secara sosial hal itu tentu tidak salah. Namun, secara liturgis fungsi salam pembuka berubah. Ibadah yang seharusnya dimula dengan 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 dan deklarasi anugerah Allah justru dimula dengan percakapan sosial antara pemimpin dan jemaat.

Perubahan ini bahkan sering diperkuat oleh bentuk sapaan yang digunakan dari mimbar. Dewasa ini cukup banyak pendeta menyapa umat dengan panggilan 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬-𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 dan 𝘐𝘣𝘶-𝘪𝘣𝘶. Sapaan ini lazim dalam pertemuan sosial, tetapi dalam konteks liturgi gereja tidak tepat. Dalam liturgi umat tidak hadir sebagai kelompok sosial yang dibedakan oleh usia, kedudukan, atau peran keluarga. Umat hadir sebagai satu tubuh dalam Kristus.

Tradisi Gereja lebih mengenal sapaan yang bersifat eklesial, yakni 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. Sapaan ini menegaskan bahwa seluruh umat berdiri dalam relasi yang sama sebagai saudara dalam Kristus. Meskipun pendeta yang memimpin ibadah berusia jauh lebih muda daripada sebagian warga jemaat, ia harus tetap menyapa umat sebagai 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢, bukan sebagai 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬-𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 dan 𝘐𝘣𝘶-𝘪𝘣𝘶`. Sapaan ini bukan soal kesopanan sosial, melainkan penegasan identitas Gereja sebagai persekutuan umat Allah.

Ketika sapaan Gereja diganti dengan sapaan sosial, ibadah perlahan-lahan dipahami sebagai pertemuan biasa yang dipimpin oleh seorang tuan rumah. Pemimpin ibadah tampil seperti pembawa acara yang menyambut hadirin, bukan sebagai pelayan gereja yang memula ibadah dalam nama Allah.

Padahal dalam logika liturgi yang lebih dahulu menyapa umat bukan manusia, melainkan Allah sendiri melalui Gereja-Nya. Untuk itu 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 selalu berbentuk pernyataan anugerah, bukan percakapan pembuka.

Salam pembuka ibadah sebenarnya sangat sederhana: Gereja menyatakan bahwa umat yang berkumpul berada dalam anugerah dan damai sejahtera Allah. Dengan salam itu ibadah dimula bukan sebagai pertemuan manusia semata, melainkan sebagai persekutuan umat di hadapan Tuhan.

Seperti pada banyak kekeliruan liturgis lainnya persoalan ini tampak kecil dan sering dianggap sepele. Namun justru dalam hal-hal kecil seperti inilah pendidikan liturgi berlangsung. Ketika bentuk-bentuk liturgi dipahami dengan tepat, umat belajar melihat tindakan Gereja di hadapan Allah.

Liturgi tidak membutuhkan sambutan agar terasa hangat. Liturgi justru membutuhkan kejelasan bahwa ibadah dimula dalam anugerah Allah.

Dalam ibadah yang pertama-tama berbicara bukan manusia kepada manusia, melainkan Allah kepada umat-Nya. Tugas Gereja hanyalah menjaga agar suara itu tidak tertutup oleh kata-kata kita sendiri. Liturgi itu tindakan teologis, bukan sekadar urutan acara.

Dalam praktik ibadah di Gereja anda apakah 𝘷𝘰𝘵𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪𝘴 dipahami sebagai dua tindakan liturgis yang berbeda, atau menyatu sebagai doa pembuka ibadah?

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 (2/11) 𝗩𝗼𝘁𝘂𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 Kekeliruan liturgis berikutnya yang sering luput...