PENGANTAR
Kisah Rasul 1:1–11; Efesus 1:15–23; Lukas 24:44–53, tiga bacaan untuk perayaan Kenaikan Yesus ke Surga, pada Kamis 14052026. Memberitakan nama Tuhan itu bukan Syiar, syiar itu menyebarkan agama, dan harapannya orang menjadi beragama yg disebarkan, memberitakan nama Tuhan, itu bentuk penginjilan, memberitakan nama Tuhan itu mengakui Dia, Allah .... Dia, Tuhan, artinya kalau Kristus meminta kita berjalan di belakangnya dan mengikut Dia, Serta meneladaninya, kita harus memaknai itu sebagai konskwensinhidup kita harus berproses mengarah ke Kristus sehingga orang yg belum mengenal Kristus melihat teladan Kristus lewat hidup kita. Makna pentingnya, mengakui Dia, memberitakan namanya, seluruh aspek hidup kita, mau itu ekonomi, hukum, politik, sosial, dlsb harus mengarah pada keteldanan Kristus. Demikian halnya, gereja ..... gereja harus mengajar umat bahwa semua keputusan gerejawi mau itu keputusan ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum dlsb harus berproses bergumul mengarah ke keteladanan Kristus, pengakuan akan Dia, Yesus Tuhan bedasarkan ajaran Alkitab dan keteladanan Kristus. Kalender liturgi, dibentuk dan disusun sedemikian rupa dalam penataan akan kenangan keteladanan Kristus, hikmat pengajarananya, dengan dasar Alkitab. Sehingga ketika gereja akan menggeser sesuatu pada kalender liturgi, pertanyaan pentingnya, maknanya menjadi apa? Jangan sampai pergeseran itu, malah didasarkan pada makna yg bertolak belakang akan pengakuan Dia, Yesus Tuhan, bertolak belakang dengan teladan dan hikmat pengajaran Kristus. Kalau ada yg beralasan buat saya bukan masalah mau geser sama atau sini, hanya menunjukan ketidak mengertian kenapa KTP nya bertuliskan Kristen, kenapa berangkat ke gereja, kenapa kita hidup, kenapa dasar hidup keberimanan kita Alkitab yg memuat teladan Kristus serta hikmat pengajaranNya. Sehingga menarik, pertanyaan saat PPA Jumat lalu, di kelompok Lukas, apakah Alkitab masih relevant bagi kita? Yang dilontarkan Bapa Eben.
### 1. **Kisah Rasul 1:1–11**
Teks ini ditulis oleh Lukas sekitar akhir abad pertama Masehi, dalam konteks budaya Helenistik-Romawi. Bahasa Yunani yang digunakan menunjukkan gaya historiografi klasik, dengan struktur naratif yang sistematis dan kronologis. Lukas menulis kepada Teofilus, seorang tokoh berpendidikan, untuk menegaskan kesinambungan antara karya Yesus dan karya Roh Kudus melalui para rasul.
Secara budaya, “kenaikan” (ἀναλαμβάνω – *analambanō*) dipahami bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi simbol pengangkatan kehormatan ilahi. Dalam dunia Yunani-Romawi, raja atau pahlawan yang “naik ke langit” dianggap menerima legitimasi dari para dewa. Lukas menggunakan idiom ini untuk menegaskan keilahian Yesus dan otoritas-Nya atas dunia.
**Kontekstual kini:**
Kenaikan Yesus menandai transisi dari kehadiran fisik menuju kehadiran rohani melalui Roh Kudus. Dalam konteks modern, ini mengajak umat percaya untuk menjadi saksi aktif di dunia—melanjutkan karya Kristus dengan memberitakan nama-Nya di tengah masyarakat global yang plural.
---
### 2. **Efesus 1:15–23**
Surat ini ditulis oleh Paulus (atau muridnya) kepada jemaat di Efesus, pusat budaya dan perdagangan di Asia Kecil. Bahasa Yunani yang digunakan penuh dengan istilah teologis dan retorika doa syukur. Paulus menekankan “kuasa kebangkitan” dan “peninggian Kristus di atas segala pemerintah dan penguasa” (ayat 20–21).
Dalam konteks budaya Romawi, kekuasaan kaisar dianggap mutlak. Namun, Paulus menegaskan bahwa Kristuslah yang sesungguhnya berkuasa atas segala struktur dunia. Secara sastra, ini adalah bentuk subversi teologis terhadap ideologi kekaisaran.
**Kontekstual kini:**
Pesan ini relevan bagi dunia modern yang masih dikuasai oleh sistem kekuasaan dan materialisme. Kenaikan Kristus mengingatkan bahwa otoritas sejati bukan berasal dari kekuatan duniawi, melainkan dari Allah yang menegakkan kasih dan kebenaran. Umat dipanggil untuk hidup dalam kuasa kebangkitan itu—menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia yang haus makna.
---
### 3. **Lukas 24:44–53**
Bagian ini merupakan penutup Injil Lukas dan pengantar bagi Kisah Para Rasul. Secara sastra, Lukas menampilkan Yesus sebagai penggenapan nubuat Taurat, Nabi, dan Mazmur. Dalam budaya Yahudi abad pertama, penggenapan nubuat adalah bukti keabsahan seorang Mesias.
Kata “diangkat ke surga” (ἀνεφέρετο – *anephereto*) menggambarkan tindakan liturgis, seolah Yesus dipersembahkan kepada Allah. Ini memperlihatkan hubungan erat antara ibadah dan misi. Setelah Yesus naik, para murid “pulang ke Yerusalem dengan sukacita besar” (ayat 52), menandakan bahwa kenaikan bukan akhir, melainkan awal dari pengutusan.
**Kontekstual kini:**
Kenaikan Yesus memberi dasar bagi misi gereja: memberitakan nama-Nya kepada segala bangsa. Dalam dunia digital dan global saat ini, “memberitakan nama-Nya” berarti menghadirkan kasih, pengampunan, dan harapan Kristus melalui tindakan nyata dan kesaksian hidup.
---
### **Kesimpulan Umum**
Ketiga teks ini membentuk satu kesatuan naratif dan teologis:
- **Kisah Rasul 1:1–11** menegaskan peralihan misi dari Yesus kepada para murid.
- **Efesus 1:15–23** menekankan kuasa Kristus yang memerintah atas segala sesuatu.
- **Lukas 24:44–53** menutup kisah Yesus dengan pengutusan yang penuh sukacita.
**Nilai moral dan refleksi:**
Kenaikan Yesus bukan perpisahan, melainkan peneguhan panggilan. Umat percaya dipanggil untuk menjadi saksi kasih dan kebenaran Kristus di dunia. “Namanya kita beritakan” berarti hidup dalam terang kasih, keadilan, dan pengharapan yang bersumber dari Kristus yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.