seorang jemaat keluar dari gereja lama karena kecewa dengan kepemimpinan yang keras, manipulatif, dan penuh tekanan rohani. Ia merasa “diselamatkan” ketika menemukan komunitas baru yang terlihat lebih hangat, lebih modern, dan lebih terbuka. Namun beberapa waktu kemudian, ia baru sadar kalau komunitas barunya justru lebih berbahaya. Pengajaran mulai menyimpang, pemimpin anti kritik, jemaat dipaksa loyal kepada figur manusia, dan semua kritik dianggap pemberontakan terhadap “urapan.”
Ia keluar dari mulut harimau, tapi masuk ke mulut buaya.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi dalam gereja. Dalam komunitas, organisasi, bahkan relasi pribadi, manusia sering berpindah dari satu luka menuju luka lain karena keputusan dibuat hanya berdasarkan rasa sakit sesaat, bukan berdasarkan kebenaran dan hikmat Tuhan.
Alkitab mengenal pola ini.
Dalam kitab Amos, Tuhan berkata:
“Seperti seseorang yang lari terhadap singa, lalu bertemu dengan beruang; masuk ke rumah, menopang tangannya ke dinding, lalu dipagut ular.” Amos 5:19
Ayat ini adalah gambaran yang ironis. Orang merasa lolos dari satu bahaya, tetapi karena tidak sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan, ia jatuh ke bahaya lain.
Kata “lari” dalam bahasa Ibrani memakai kata nus yang artinya melarikan diri karena takut atau terdesak. Tapi masalah Israel saat itu bukan sekedar mereka takut; mereka melarikan diri tanpa pertobatan. Mereka ingin aman tanpa berubah.
Inilah akar dari banyak tragedi rohani.
Ada orang meninggalkan gereja / komunitas yang toxic, tetapi tidak belajar discernment (pembedaan roh).
Ada orang keluar dari legalisme, lalu jatuh ke kompromi dosa.
Ada yang muak terhadap pemimpin otoriter, lalu mengikuti guru palsu yang membungkus kesesatan dengan kasih palsu.
Ada yang meninggalkan kemunafikan agama, tetapi akhirnya hidup tanpa kekudusan sama sekali.
Karena manusia sering lebih fokus MENCARI TEMPAT YANG NYAMAN DARIPADA MENCARI KEBENARAN.
Yesus sendiri memperingatkan:
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7:15
Kata “waspadalah” berasal dari bahasa Yunani prosechÅ, yang berarti memberi perhatian terus-menerus, berjaga dengan serius. Ini bukan kewaspadaan sesaat, tetapi disiplin rohani untuk menguji segala sesuatu.
Masalahnya, banyak orang Kristen mengambil keputusan rohani hanya berdasarkan:
- siapa yang paling ramah,
- siapa yang paling karismatik,
- siapa yang paling membuat nyaman,
- atau siapa yang paling membenarkan luka mereka.
Padahal Iblis tidak selalu menyerang lewat ancaman. Kadang ia menawarkan pelarian yang tampaknya aman, tapi sebenarnya jebakan baru.
Itulah sebabnya luka tidak otomatis membuat seseorang bijaksana.
Kadang luka justru membuat seseorang mudah dimanipulasi.
Jika seseorang terluka oleh kekerasan rohani, ia bisa tergoda menerima pengajaran tanpa disiplin.
Jika seseorang muak dengan aturan, ia bisa jatuh ke kebebasan palsu.
Jika seseorang kecewa terhadap manusia, ia bisa mulai meninggalkan gereja sepenuhnya dan hidup tanpa tubuh Kristus (bahkan ada yang beralih menjadi ateis).
Alkitab tidak mengajarkan kita sekedar “keluar” dari tempat yang salah.
Alkitab mengajarkan kita berjalan menuju kebenaran.
Yesus berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Yohanes 14:6
Perhatikan, Kristus bukan hanya jalan keluar dari masalah.
Ia adalah TUJUAN perjalanan itu sendiri.
Tanpa Kristus sebagai pusat, seseorang bisa terus berpindah dari satu “harimau” ke “buaya” berikutnya:
- dari kultus tradisional ke kultus modern,
- dari penindasan rohani ke liberalisme tanpa pertobatan,
- dari manipulasi manusia ke pemberontakan terhadap otoritas ilahi.
Renungan ini bukan panggilan untuk suudzon kepada semua orang/ gereja, tetapi panggilan untuk memiliki akar yang dalam di dalam pengenalan akan Tuhan dan Firman-Nya.
Roh Kudus tidak memimpin kita hanya keluar dari sesuatu, tetapi masuk ke dalam kebenaran.
Karena kebebasan sejati bukan sekadar lolos dari predator lama,
melainkan hidup di bawah pemerintahan Kristus yang benar.