Jumat, 08 Mei 2026

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐——๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด, ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐™’๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐™…๐™š๐™ข๐™–๐™–๐™ฉ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐——๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด, ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐™’๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐™…๐™š๐™ข๐™–๐™–๐™ฉ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€

PENGANTAR
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri ๐˜’๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ณ๐˜ถ ๐˜“๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. Seperti apakah gereja masa depan? Mampukah gereja beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan panggilan-Nya? Akankah gereja bergairah menyambut Generasi Baru yang lahir pada era AI? Apakah liturgi Leksionari dapat mewakili generasi baru?apakah kebutuhan keuangan gereja untuk hidup organisasinya akan mengalahkan pemahaman akan pengajaran iman? Kenapa gerakan kebersamaan sepakat penggunaan liturgi Leksionari di Indonesia masih banyak gereja yg menolaknya?menjadi pembicara webinar tentang penggunaan Leksionari di gereja pada FBG bengkel liturgi, bbrp hal membuat saya senyam senyum karena gurauan mereka, sohib, ada yang bilang begini :Kalau saya, mas pernah usulkan, ibadah yang penting kolektenya dan berilah dalam jumlah yang banyak. Jadi ibadah bukan berpusat pada Sakramen, bukan juga pada pemberitaan firman, apalagi berpusat pada liturgi sebagai simbol ritual akan pengkenangan akan Kristus, apalagi bacaan sabda, tetapi pada jumlah uang masuk sebab makin banyak jemaat memberi makin diberkati para pejabat gerejawi nya .......wk .... Wk, 
ada lagi yang bergurau: saya tidak mau memangku jabatan gerejawi, lah ...... kenapa? Tanya saya, jawabnya, karena itu kan panggilan Tuhan mas, aku gak mau mati sekarang mas ...... Wk ..... Wk. 
Di luar itu semua kami berembuk serius tentang alasan - alasan, kenapa gereja tidak mau menggunakan Leksionari, karena itu sebenarnya gerakan kebersamaan, gerakan ekuminis, memang tidak harus digunakan, boleh tidak itu keputusan masing-masing gereja, sekali lagi kalau buat saya adalah argumentasi atau alasan penolakan harus nalar serta berdasar, ini gerakan bersama, gerakan ekuminis dimana memahami gereja yang esa bukan lagi hanya satu gereja, tetapi sangat dimungkinkan banyak gereja tetapi satu misi dan visi terlebih satu pergumulan. Alkitab bahkan Yesus mendengungkan tentang ke esa an gereja tsb. Bagaimana di hari Minggu yang sama dan masa raya, gereja-gereja menggumuli ayat sabda yang sama dg sudut pandang yang berbeda. Bacaan sabda berpusat pada bacaan Injil sebagai puncak atau mahkotanya (bukan khotbah), sebagai kebersamaan gereja-gereja memusatkan diri pada hidup Kristus, teladan Kristus, demikian halnya gereja-gereja bersama-sama mengajar umat berlandaskan bacaan sabda untuk memusatkan kan diri pada hidup Kristus, lewat pengenangan akan hidup Kristus yg secara ritual simbolis ada pada liturgi. Penggunaan kalender gerejawi, merujuk pada kebersamaan gereja-gereja menapak tilas, mengenang hidup Kristus, dalam satu tahun, daur liturgis. Jadi, penataan dalam kalender Leksionari atau kalender liturgi itu terkait dengan pemahaman dan pengajaran iman yang ada di Alkitab, kenangan atas peristiwa kitab suci utamanya peristiwa Kristus, kalau kita menggesernya sebetulnya itu menandakan kita belum paham.
PEMAHAMAN
Saya heran pada beberapa gereja, yang terdata  menolak penggunaan leksionari. Alasannya sangat remeh: ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฏ ๐™ ๐™š๐™ก๐™–๐™ข๐™–๐™–๐™ฃ. Dan, perwakilan bbrp gereja menganggap itu alasan yg kuat, maka kami sudah mengamati lewat YouTube, liturgi yg digunakan oleh gereja-gereja tsb. Diskusi menjadi menarik.
Padahal kalau dihitung, leksionari mungkin hanya menambah sekitar lima menit. Itu sudah paling lama. Tidak lucunya pada saat yang sama gereja-gereja tsb bisa sangat longgar terhadap hal-hal lain yang justru benar-benar meng๐˜จ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช waktu. Contohnya pembacaan ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ต sudah menjadi ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ tersendiri. Padahal Warta Jemaat sudah dicetak begitu rinci oleh gereja-gereja tsb baik via WA, print kertas, Web atau situs milik gereja, barkot warta gereja, dlsb. ๐˜š๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ khusyuknya ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐™’๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐™…๐™š๐™ข๐™–๐™–๐™ฉ, jauh lebih lebih lama daripada ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข liturgi. Ibadah selalu dimula melewati waktu yang ditetapkan secara reguler, bbrp tayangan YouTube saya hitung waktunya dari bbrp gereja-gereja tsb. Misal, ibadah pukul 8. Tidak pernah dimula pukul 8. Selalu lewat. Keterlambatan seperti itu dianggap biasa saja. Tidak ada kegelisahan liturgis. Tidak ada rasa bersalah gerejawi.
Namun, ketika leksionari dibicarakan, tiba-tiba para pejabat gereja-gereja ini, menjadi sangat sensitif terhadap waktu. Pada aras itu persoalannya bukan lagi soal durasi, melainkan soal prioritas rohani. Gereja tanpa sadar sedang mengatakan: pembacaan Kitab Suci boleh dipersingkat, tetapi pengumuman gereja jangan diganggu. Padahal dalam tradisi gereja sepanjang sejarah (apalagi GKI, GKJ, itu Calvinis!) pembacaan Alkitab adalah puncak liturgi (sebetulnya salah kaprah ketika mengatakan liturgi Calvinist puncaknya adalah khotbah/homilitika, karena yg membuat pusat liturgi Calvinist berpusat pada khotbah/homilitika adalah jauh setelah Calvin tidak ada lagi). ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ต penting, tetapi ia tetap pelayan liturgi, bukan tuan atas liturgi.
Kadang saya berpikir: jangan-jangan para pejabat gereja-gereja ini  takut bukan karena leksionari terlalu panjang, melainkan karena leksionari memaksa mereka mendengar lebih banyak Alkitab daripada yang nyaman didengar.
Tidaklah begitu keliru “penelitian” saya yang mengatakan: banyak orang kalau sudah menjadi pejabat gereja mengalami gangguan pendengaran. Maunya ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, tak sudi mendengar. Ada lagi pengamatan saya saat lihat youtube bbrp gereja arus utama yg membuang saat teduh. Setiap kegiatan mahasiswa di kampus, saya selalu katakan, jangan mengganggu saat teduh teman-teman kita. Itu satu-satunya momen dalam liturgi ketika jemaat berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa dijembatani oleh pelayan firman dan liturgos. Ada lagi saya memperhatikan, di bbrp gereja, menggeser hari raya panen pada kalender liturgi tidak pada hari Pantekosta/Minggu Trinitas sebagai puncak masa raya prapaskah paskah. Seharusnya bila alkitabiah Ya perayaan panen ya pas Pantekosta. Digeser karena ya agar uang masuk gereja diharapkan tinggi karena jatuh pas tgl muda, pas umat gajian, kok kadang pahamnya jadi lucu, seperti kita tidak percaya bahwa Tuhan kita itu maha kuasa untuk mencukupkan kita ...... Jadi liturgi kenangan Kristus/peristiwa kitab suci yg alkitabiah berfungsi untuk mengajar pemahaman iman Umat, digeser tgl nya hanya karena uang masuk gereja diharapkan tinggi, jatuh pas tgl muda, umat sudah gajian, berikutnya adalah kalau begitu gereja tidak mempercayai umat mengerti arti persembahan karena menduga-duga kalau tgl tua/akhir bulan persembahan umat ke gereja akan lebih sedikit dibandingkan kalau tgl muda ..... Wk ...... Wk ...... Wk .... Wk .... Pengajaran Pemahaman keimanan kalah dengan uang masuk gereja, serta pandangan ini memukul sama rata semua umat. Bukankah kita diajar untuk paham uang masuk ke gereja adalah anugerah Tuhan wujud syukur umat atas pemeliharaan Tuhan pada hidup mereka, seberapa besarpun itu bahkan seberapa kecilpun itu, adalah anugerah pada gereja untuk dikelola. Yang diajarkan adalah sikap hati saat mempersembahkan, tetapi dg menggeser tanggal hari raya panen bukan sebagai puncak masa raya prapaskah paskah hanya karena perkara besaran uang masuk ke gereja artinya gereja sudah mengajarkan yang sebaliknya, uang masuk ke gereja harus besar, bukan perkara hati yang mempersembahkan seperti perumpamaan janda miskin.
(08052026)(TUS)

Sudut Pandang Ketika Bola tidak Dioper

Ketika Bola Tidak Dioper: Pelajaran Sepak Bola untuk Pelayanan Gereja Saat menonton pertandingan sepak bola, terkadang kita melihat seorang ...