Senin, 18 Mei 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20:19-23 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗯𝘂𝗸 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴  Yohanes 20:19-23 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗯𝘂𝗸 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀

PENGANTAR
Minggu 24 Mei 2026, Hari Pentakosta adalah mahkota perayaan Paska. Dua hari raya terbesar umat Kristen adalah Paska dan Pentakosta. Hari Raya Pentakosta dihelat 50 hari sesudah Hari Raya Paska. Meskipun keduanya hari raya terbesar, tetapi keduanya kalah jauh meriah daripada Natal. Pertama, memang pemimpin gereja tampaknya tidak berniat mengajarkan hal ini kepada umat. Kedua, Paska dan Pentakosta selalu jatuh pada (hari) Minggu sehingga dianggap biasa-biasa saja, sedang Natal berdekatan dengan libur akhir tahun kalender umum. Tentang hari Pentakosta ada yang perlu dijernihkan. Cukup banyak orang Kristen mencerap bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus disebut Pentakosta. Cerapan ini dapat dipahami sebagai pengaruh prapaham kalender gerejawi sejak remaja. Pentakosta berarti lima puluh. Pada hari ke-50 sesudah kebangkitan Yesus (atau Hari Raya Paska) tercurahlah Roh Kudus kepada orang-orang yang sedang berkumpul di satu tempat di Yerusalem. Padahal kalau kita membaca Kisah Para Rasul 2:1 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙤𝙨𝙩𝙖, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵. 
Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa hari Pentakosta itu sudah ada dan telah dirayakan selama ratusan tahun oleh masyarakat Yahudi sebelum kitab Kisah Para Rasul ditulis. Jadi, bukan karena peristiwa pencurahan Roh Kudus, maka hari itu disebut Pentakosta, melainkan pencurahan Roh Kudus terjadi pada hari Pentakosta, festival atau pesta syukur panen masyarakat Yahudi. Dalam pesta syukur itu orang-orang Yahudi datang berbondong-bondong ke Yerusalem dari segala penjuru.
PEMAHAMAN 
Perayaan Pentakosta Gereja diberi muatan peristiwa pencurahan Roh Kudus di dalam Kisah Para Rasul, namun tetap berakar pada tradisi pesta panen. Itu sebabnya pada hari Pentakosta beberapa gereja di Indonesia dihiasi dengan hasil bumi. Di GKJW Mojowarno, Jawa Timur, dan beberapa Jemaat lainnya perayaan Pentakosta berhasil dialihrupa (𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘰𝘳𝘮𝘦𝘥) menjadi 𝘙𝘪𝘳𝘢𝘺𝘢 𝘜𝘯𝘥𝘶𝘩-𝘜𝘯𝘥𝘶𝘩, termasuk GKJ. 
Selain menjadi mahkota masa raya Paska, Pentakosta disebut juga Minggu Putih dan karena itulah pemimpin ibadah mengenakan pakaian liturgis berwarna putih.Seharusnya, Ibadah dihelat sejak Sabtu dengan ibadah yang khidmat dan meriah mirip Malam Natal. Hanya saja tradisi ibadah Sabtu Malam ini jarang dijumpai di Gereja-Gereja Protestan Reformir atau gereja arus utama (mainstream).

Bacaan ekumenis pada hari Pentakosta diambil dari Injil Yohanes 20:19-23 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 2:1-21, Mazmur 104:24-34, 35b, dan 1Korintus 12:3b-13.

Pada hari Pentakosta ini saya mengulas dua bacaan: Kisah Para Rasul 2:1-21 dan Injil Yohanes 20:19-23. Pada gilirannya kita akan mengetahui perbedaan teologis pada dua kisah teologis pencurahan Roh Kudus dari dua penulis kitab yang berbeda. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (selanjutnya disingkat 𝘒𝘪𝘴.) pada dasarnya satu buku yang kemudian oleh editor dipenggal menjadi dua buku/kitab. Oleh karena itu pesan teologis yang hendak disampaikan oleh penulisnya sama dan berkesinambungan. 𝘒𝘪𝘴. pada dasarnya hendak menegaskan bahwa karya Yesus dilanjutkan oleh para rasul-Nya. Pelayanan Yesus berakhir di Yerusalem dan pelayanan murid-murid-Nya dimula dari Yerusalem (Kis. 1:8). 

🔸 Sama seperti Yesus ketika dibaptis (Luk. 3:22; 4:18) para rasul juga diberi kuasa Roh Kudus untuk melaksanakan misi Allah (Luk. 24:49; Kis. 1:8; 2:1-13). 
🔸 Seperti halnya Yesus disiapkan Allah selama 40 hari di padang gurun (Luk. 4:1-13), demikian juga para rasul Yesus disiapkan Yesus selama 40 hari sebelum Kenaikan-Nya ke Surga (Kis. 1:3). 
🔸 Pekerjaan yang dilakukan Yesus di Injil juga dilakukan para rasul di 𝘒𝘪𝘴.: mengurus orang miskin, menyembuhkan orang sakit dan kerasukan setan, dan membangkitkan orang mati (Kis. 5:16; 6:1; 8:7; 9:40; 19:12; 20:10; 28:8). 
🔸 Sama seperti Yesus (Luk. 4:43; 8:1), para rasul juga memberitakan Injil Kerajaan Allah (Kis. 8:12; 19:8; 20:25; 28:31).

Perikop Kisah Para Rasul 2:1-21 dapat dikelompokkan ke dalam bab 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭. Roh Kudus yang turun pada murid-murid Yesus pada hari Pentakosta diperikan sebagai 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩 api (Kis. 2:3). Bandingkan dengan Roh Kudus yang turun pada Yesus saat pembaptisan diperikan sebagai burung merpati (Luk. 3:22). Pemerian 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩 itu berkaitan dengan kemampuan berbahasa (asing) yang kemudian dimiliki oleh para murid Yesus. Dengan begitu akibat langsung pencurahan Roh Kudus adalah kemampuan berbahasa semua bahasa di dunia (Kis. 2:4; 2:5-11). Sebagai 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 para murid dapat berbahasa asing adalah orang-orang Yahudi dari seluruh dunia dapat mendengar para murid itu berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing (Kis. 2:8). Orang-orang Yahudi dari segala penjuru itu, yang datang dalam rangka perayaan Pentakosta, menjadi 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 dari mukjizat yang terjadi pada diri murid-murid Yesus itu. Di sini tampak Lukas berusaha merinci semua bahasa di dunia sejauh yang diketahuinya “…𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘪𝘵𝘢: 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘢𝘳𝘵𝘪𝘢, 𝘔𝘦𝘥𝘪𝘢, 𝘌𝘭𝘢𝘮, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘔𝘦𝘴𝘰𝘱𝘰𝘵𝘢𝘮𝘪𝘢, 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘥𝘰𝘬𝘪𝘢, 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘴𝘪𝘢, 𝘍𝘳𝘪𝘨𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘮𝘧𝘪𝘭𝘪𝘢, 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩-𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘓𝘪𝘣𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘒𝘪𝘳𝘦𝘯𝘦, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨-𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘰𝘮𝘢, 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘶𝘵 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘳𝘦𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘢𝘣, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." (Kis. 2:8-11).

Pencurahan Roh Kudus itu adalah awal penugasan pemberitaan Injil atau 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Kis. 2:11). Peristiwa yang terjadi pada para murid Yesus di awal 𝘒𝘪𝘴. ini sebenarnya sejajar dengan apa yang terjadi pada Yesus sendiri di awal Injil Lukas. Yesus juga mendapat Roh Kudus ketika Ia dibaptis (Luk. 3:22) dan hal itu menjadi ucapan pertama dalam masa pelayanan-Nya. "𝘙𝘰𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶, 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 ….” (Luk. 4:18). 

🔸 Sesudah mendapat Roh Kudus, Yesus langsung memberitakan Injil di Nazaret (Luk. 4:18-21).
🔸 Sesudah mendapat Roh Kudus, Petrus langsung memberitakan Injil di Yerusalem (Kis. 2:14-40).
🔸 Akibat pemberitaan Injil Petrus itu, jumlah orang percaya bertambah sekitar 3.000 orang (Kis. 2:41).

Sesudah kita mengetahui akibat langsung 𝘭𝘪𝘥𝘢𝘩 api itu turun dan hinggap pada para murid sehingga mereka penuh dengan Roh Kudus dan mula berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Kis. 2:4), lalu siapakah para murid itu? Apakah hanya kelompok 12 murid Yesus (khusus) ataukah semua murid Yesus (umum)? 
Lukas tidak menyebutkan secara khusus kelompok 12 murid Yesus itu, kecuali ketika mereka berdiri sesudah ejekan orang Yahudi (Kis. 2:14). Tokoh cerita yang berkumpul itu adalah 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 atau semua murid Yesus secara umum (Kis. 2:1) dan Roh Kudus 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 (Kis. 2:3). 
Dalam khotbah Petrus di 𝘒𝘪𝘴. 2:17-18 ia merujuk Yoel 2:28-32 yang secara tak langsung mendukung kesimpulan bahwa pencurahan Roh Kudus terjadi pada banyak orang termasuk pada 𝗸𝗮𝘂𝗺 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻. Pada konteksnya rujukan ke Yoel itu merupakan pembelaan Petrus atas ejekan bahwa para murid Yesus itu (termasuk murid-murid perempuan!) “sedang mabuk oleh anggur manis” (Kis. 2:13). Penyebutan 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 secara eksplisit (Kis. 2:18) membuktikan pencurahan Roh Kudus terjadi pada semua murid Yesus secara umum, bukan kelompok 12 murid Yesus (khusus).
Bagaimana peristiwa pencurahan Roh Kudus menurut Injil Yohanes 20:19-23?

Perikop Yohanes 20:19-23 diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢. Adegan dalam perikop ini adalah penampakan kedua sesudah kebangkitan Yesus. Penampakan pertama Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:11-19). Ada perbedaan penampakan pertama Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:11-19) dan penampakan kedua Yesus kepada murid-murid-Nya tanpa Tomas (Yoh. 20:19-23).
Penampakan pertama Yesus belum terangkat ke surga. Hal ini dapat ditelisik dari ucapan Yesus kepada Maria Magdalena yang menyiratkan kenaikan-Nya ke surga pada hari yang sama dengan hari kebangkitan. Kata Yesus, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢  𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶." (Yoh. 20:17, TB II 2023). Pada hari kebangkitan-Nya Yesus memerintahkan Maria Magdalena bukan untuk memberitakan kebangkitan-Nya, melainkan untuk memberitakan kenaikan-Nya.
Sesudah pergi atau naik kepada Bapa-Nya (Yoh. 20:17), Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua alasan:

🔸 Yesus sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (Yoh. 20:22).
🔸 Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini … dan taruhlah ke lambung-Ku” (Yoh. 20:27).

Dalam bacaan Injil Minggu ini (Yoh. 20:19-23) penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya tanpa Tomas. Delapan hari kemudian baru dengan Tomas. 
Dalam pertemuan itu (tanpa Tomas) Yesus mengatakan, “…𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙩𝙪𝙨 𝘬𝘢𝘮𝘶.” Sesudah mengatakan demikian, Yesus mengembusi mereka dan berkata, “𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢, 𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢.” (Yoh. 20:21-23). Ucapan ini ditulis karena tampaknya ada konflik di jemaat Yohanes. Mereka diingatkan untuk mengampuni dan menyucikan orang lain.
Dari dua bacaan 𝘒𝘪𝘴. 2:1-21 dan Yohanes 20:19-23 kita dapat melihat perbedaan sekaligus persamaan dari dua kisah teologis tersebut.

Perbedaan:
🔸 Dalam 𝘒𝘪𝘴. pencurahan Roh Kudus terjadi sesudah Yesus terangkat ke surga dan pencurahan itu tanpa kehadiran Yesus secara fisikal. Dalam Injil Yohanes pencurahan Roh Kudus terjadi sesudah Yesus naik ke surga dan pencurahan Roh Kudus dilakukan oleh Yesus sendiri secara fisikal.
🔸 Dalam 𝘒𝘪𝘴. pencurahan Roh Kudus membuat para murid dapat berbahasa asing dan orang asing pendengar mereka mengerti bahasa yang diucapkan oleh para murid. Dalam Injil Yohanes tidak ada hal itu.
🔸 Dalam 𝘒𝘪𝘴. penerima Roh Kudus mendapat kuasa menjadi saksi. Dalam Injil Yohanes penerima Roh Kudus mendapat kuasa mengampuni.

Persamaan: Pencurahan Roh Kudus adalah awal pengutusan atau penugasan pemberitaan Injil.

Perhatikanlah, tidak ada cerita orang-orang kesurupan sesudah menerima Roh Kudus, apalagi ngompyang bahasa gak jelas.

Hari Pentakosta juga diperingati sebagai hari lahir Gereja. Dirgahayulah Gereja!

(18052026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 20:19-23 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗯𝘂𝗸 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴  Yohanes 20:19-23 [ 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗯𝘂𝗸 𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗿 𝗺𝗮...