Jumat, 24 Desember 2021

BETH TALMUD, SERIAL SUDUT PANDANG

BETH TALMUD, SERIAL SUDUT PANDANG

“In school they told me practice makes perfect, and then they told me nobody’s perfect, so then I stopped practicing.” Steven Wright.  Bacaan Injil Minggu ini secara ekumenis diambil dari Lukas 2:41-52 yang didahului dengan 1Samuel 2:18-20, 26, Mazmur 148, dan Kolose 3:12-17. [Minggu I sesudah Natal, Tahun C]. Injil Lukas merupakan satu-satunya dari keempat Injil di dalam Alkitab yang mengisahkan masa remaja Yesus. Dikisahkan setiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paska. Ketika Yesus berusia 12 tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Saat perayaan berakhir pulanglah mereka, tetapi Yesus tertinggal di Yerusalem tanpa mereka ketahui. Setelah sehari perjalanan barulah mereka menyadari. Mereka kembali ke Yerusalem mencari Yesus. Setelah tiga hari mereka menemukan Yesus di Bait Allah. Yesus didapati sedang duduk di tengah-tengah alim ulama (TB II: guru agama) dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengar Yesus sangat heran akan kecerdasan Yesus dan jawaban-jawaban yang diberikan. Melihat itu orangtua-Nya tercengang, “Nak, mengapa Kamu berbuat demikian terhadap kami? Kamu lihat bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari-Mu.” kata Maria. “Mengapa kamu mencari Aku?” jawab Yesus, “Bukankah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Mereka tidak mengerti apa maksud perkataan-Nya, lalu mereka membawa Yesus pulang ke Nazaret,dan Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka.  Bacaan ditutup dengan Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (ay.52). Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil kita hanya membaca tiga klasifikasi usia saja yang dimuat: bayi (yeled), usia disapih (gemul)  ketika Ia diserahkan di Bait Allah di hadapan Simeon dan Hana, dan remaja (bahar, 12 tahun) ketika Ia diajak Yusuf dan Maria ke Yerusalem. Usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting, karena seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut Bar Mitzvah (anak Hukum). Menurut tradisi Yahudi pada usia 12 Nabi Musa meninggalkan rumah anak perempuan Firaun (yang Musa menjadi anak angkatnya), Samuel menerima suara yang berisi visi ilahi, Salomo menerima Hikmat Allah, dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem. Dalam rangkaian ritus Yahudi itu Yesus harus melakukan ‘aliyah (naik) dan Bemah (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat). Upacara ini dilakukan pada Sabat sehingga disebut juga thepilin Shabat. Menurut  Sepher Gilgulim semua anak Yahudi sejak usia 12 siap menerima ruah (roh hikmat) dan pada usia 20 ditambahkan baginya nishama (reasonable soul, “jiwa penalaran”). Pada usia 20 tersebut seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (Beth Midrash). Tahapan pengajaran Yahudi: Mikra (membaca Taurat) dari usia 5, pada usia 10 - 12 anak masuk ke Beth Talmud, Midrash pada usia 20 tahun, dan pada usia 30 baru boleh mengajar di depan umum. Menurut teolog dan pakar pendidikan Robert R. Boehlke di dalam Beth Talmud anak-anak diajari Misyna, yaitu tafsir Taurat. Di sini anak-anak diajari juga ilmu hitung, ilmu bintang, ilmu bumi, dan ilmu hayat. Dalam proses itu mereka belajar berpikir logis. Mereka diajari bagaimana memertahankan pendapat tentang penafsiran oleh rabi atau guru tertentu dan sebaliknya mereka diajari bagaimana menyampaikan kecaman atau kritik terhadap tafsiran tertentu. Dalam bacaan hari ini Yesus (umur 12 tahun) dengan cerdas sedang berdebat dengan alim ulama di Bait Allah (atau tepatnya rumah ibadah yang berada di dalam kompleks Bait Allah). Menurut Boehlke kisah Yesus itu merupakan gambaran nyata pengajaran khas dalam Beth Talmud. Meskipun Yesus dari keluarga miskin, Ia memeroleh kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak orang kaya menurut sistem pendidikan Yahudi sesudah pembuangan di Babel.Yang menarik ketika Maria melihat Yesus yang dengan cerdas berdebat dengan alim ulama, menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya (ay. 51). Tidak ada kisah Maria seperti ibu-ibu zaman sekarang yang memamerkan “kecerdasan” anak-anak mereka di medsos. Yusuf dan Maria merawat dan mengasuh Yesus menurut tradisi dan sistem pendidikan Yahudi di atas sehingga Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. Model pendidikan Yahudi tersebut sampai sekarang digunakan oleh negara-negara maju termasuk pembinaan olahraga. Negara maju sepakbola selalu melindungi para pemain muda dari publikasi media dan eksploitasi. Media dilarang mengabarkan liga remaja. Para pemain belum menjadi pribadi dewasa mandiri. Eksploitasi berlebihan mengakibatkan pemain belia akan layu sebelum berkembang. Dapat anda bayangkan jika anak remaja anda menjadi seorang kiper, kemudian diberitakan bahwa timnya kalah 10-0. Apa dampak psikologisnya? Anak anda akan mengalami depresi menanggung malu karena ia merasa manusia di seluruh dunia mengolok-oloknya. Akibat selanjutnya ia berhenti berlatih dan bermain sepakbola. Sebaliknya, jika anak remaja anda memenangi pertandingan,kemudian diberitakan besar-besaran termasuk anda tak ketinggalan memberitakannya di medsos. Anak akan besar kepala, yang akibat selanjutnya ia meremehkan kewajiban seorang calon pemain profesional yaitu menghormati sepakbola itu sendiri. Tidaklah mengherankan banyak pemain Indonesia yang kala remaja atau junior sangat berprestasi, hancur lebur pada jenjang senior. Mereka sudah menjelma menjadi hedonis.Beberapa tahun lalu ada seorang remaja mendadak menjadi selebritis karena menulis di medsos. Meskipun ia banyak membaca buku, ia belum memiliki struktur dan sistem dalam menyampaikan pikiran seperti yang diakuinya sendiri. Ia seperti pesepakbola bintang remaja yang dipaksa oleh banyak orang untuk menjadi pemain profesional yang mampu membuat sebuah klub juara. Tidak tanggung-tanggung orang-orang yang memaksanya: dari orang dewasa biasa, menteri, sampai Presiden Jokowi. Anak ini ibarat besi panas yang sedang ditempa oleh pandai besi, mudah diliak-liukkan sesuai kehendak si pandai besi. Saat si pandai besi khilaf, tangannya terkena pukulan palunya sendiri, besi panas itu terlempar ke dalam air yang kemudian mendadak dingin dan kaku. Anak ini gagal menjadi sebuah pisau yang tajam, karena ulah orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya.Pendidikan bukan sekali jadi. Pendidikan merupakan pengindonesiaan dari kata Latin ex ducare yang berarti membawa seseorang keluar dari kebodohan, ketidaktahuan, dan ketidakdewasaan menjadi tahu dan dewasa. Tujuan pendidikan ialah membuat naradidik menjadi pribadi dewasa-mandiri. Ia butuh proses panjang dan berjenjang sampai ia dinyatakan “boleh mengajar di depan umum”.Gereja menyusun tahun liturgi yang dimula dari Minggu pertama Adven yang diisi dengan leksionari bukanlah tanpa alasan. Hal itu merupakan metode gereja dalam mendidik warga gereja secara berstruktur dan bersistem dengan tahun liturgi sebagai kalender akademik dan leksionari sebagai kurikulum sehingga warga menjadi pribadi dewasa-mandiri, bukan warga warga bertubuh dewasa tetapi kekanak-kanakan. Dalam bacaan Malam Natal kemarin kita bisa melihat Yesus dilahirkan dalam kesederhanaan. Yesus anak orang miskin menurut penginjil Lukas. Dalam Injil Lukas 2:24 (hanya beberapa ayat dari bacaan kemarin) dikisahkan bahwa orangtua Yesus adalah orang miskin karena pada hari penahiran orangtua Yesus memersembahkan sepasang burung tekukur atau dua anak merpati. Persembahan seperti itu merupakan pengganti domba tanpa cela yang tidak mampu dibeli oleh orang miskin. Secara telak penginjil Lukas memerikan Yesus adalah anak orang miskin. Sungguh ironis apabila Natal dirayakan dengan pesta mewah dan bahkan kalangan Protestan tertentu menghabiskan dana untuk merayakan Natal di masa Adven. Perilaku itu kontradiksi dengan pesan Injil Lukas. STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, TITUS ROIDANTO,2021

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...