Jelang Paskah, ada baiknya kita juga melihat sisi-sisi lain dari sebuah cerita Paskah, Paskah sebenarnya memiliki banyak sisi untuk diungkap lebih dari cerita yang biasanya kita dengar saat Paskah. Cukup banyak buku tentang Yesus dan politik, apalagi dalam bahasa asing.Cukup representatif dalam bahasa asing, seperti bahasa Jerman ialah Christlicher Glaube und politische Vernunft, karya Herwig Buechele (Wien-Zurich-Duesseeledorf, 1987) atau bahasa Inggris karya Jim Wallis berjudul The Great Awakening: Reviving Faith & Politics in A Post-Religious Right America (New York: HarperCollins, 2008).
YESUS TIDAK BERPOLITIK PRAKTIS
Umumnya memang ada benang merah yang memunculkan kesamaan dari berbagai buku tentang Yesus dan politik. Rata-rata semua punya pemahaman senada bahwa Yesus itu bukan politikus. Meski demikian, Yesus harus hidup dalam sikon yang kental dengan nuansa politis. Bahkan, Yesus pernah diharapkan masyarakat Yahudi 2000 tahun silam sebagai tokoh politik yang akan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi. Itu terjadi pada Minggu Palma, lima hari sebelum penyaliban-Nya pada Jumat, ketika Yesus dielu-elukan orang banyak saat dia memasuki kota Jerusalem.Orang-orang Yahudi memang sudah sejak lama punya harapan akan datangnya Mesias sang Pembebas. Orang-orang yang mengelu-elukan Yesus itu punya harapan mesianik bahwa Yesuslah sang Mesias itu.Namun, betapa kecewanya orang-orang itu karena Yesus menolak untuk dijadikan raja atau tokoh yang sesuai dengan harapan mereka. Yesus ternyata tidak mau berpolitik praktis Dengan demikian, Yesus jelas bukan sosok politikus atau bermain dalam tataran politik praktis. Ketika dibawa kepada Gubernur Pontius Pilatus, saat ditanya wakil pemerintah Romawi, “Apakah Engkau seorang raja?”, Yesus menjawab bahwa kerajaan-Nya tidak berasal dari dunia ini.Meski demikian, dunia tempat Yesus hidup ketika itu sudah menyeret-Nya ke dalam permasalahan politik. Bahkan oleh para ahli agama Yahudi yang tidak suka dengan sepak terjang Yesus yang selalu memihak orang kecil, disebarkan tuduhan atau fitnah bernada politis bahwa Yesus punya agenda memberontak melawan pemerintah Romawi.Ajaran-ajarannya yang memuji orang miskin dan teraniaya, Yesus dituduh sebagai provokator. Tuduhan itu membawa konsekuensi berat. Sampai akhirnya Yesus dihukum mati lewat digantung disalib, sebuah hukuman ala Romawi yang biasanya dilakukan untuk para kriminal.Ketika Yesus mati disalib, sebagian pengikut Yesus yang sejak semula mengelus-elus-Nya sebagai Mesias atau tokoh politik yang membebaskan langsung terpuruk dalam rasa putus asa yang besar. Yesus dianggap telah gagal dan keok oleh hukuman salib, sebagaimana ditulis sejarawan sekuler, Tacitus.
POLITIK ETIS
Meski tidak mendirikan partai politik atau menjadi politikus dari aliran tertentu, Yesus sebenarnya berpolitik juga, yakni politik etis. Dengan kata lain, lewat ajaran-ajaran-Nya seperti bisa kita baca dalam Injil, Yesus ialah inspirator bagi gerakan moral untuk memperjuangkan kaum lemah yang kala itu amat menderita.Politik Yesus ialah politik memihak kaum lemah. Dalam buku A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus: The Roots of the Problem and the Person oleh John P Meier, kita bisa melihat betapa selama hidupnya, Yesus terlibat dan menyatu dengan kaum miskin.Dari kandang Betlehem hingga puncak Kalvari ialah saksinya. Orang buta, pelacur, pengemis, hingga penyamun ialah sosok-sosok miskin yang akrab dengan Yesus. Yesus bukan politikus yang suka menjual isu orang miskin, melainkan benar-benar solider dengan kaum miskin. Bahkan di awal karya-Nya, kata pujian pertama yang keluar dari mulut-Nya ialah ‘berbahagialah orang-orang miskin’ (Matius 5:2). Tidak sekadar memuji kaum miskin, Yesus juga lantang mengecam kolusi antara pejabat agama dan penguasa yang berpusat di Bait Allah di Jerusalem.Bait Allah pada waktu itu menjadi tempat atau kantor Imam Besar (eksekutif), kantor Sanhedrin (legislatif), pusat peradilan (yudikatif) sekaligus tempat bagi Bank Sentral.Yesus marah Bait Allah telah dijadikan ‘sarang para maling atau penyamun’. Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dari halaman Bait Allah. Dia berani menyerang jantung kekuasaan yang ada waktu itu.Dengan demikian, Yesus ialah pejuang bagi tegaknya politik etis atau politik moral yang berani mengkritik persekongkolan antara pejabat agama dan birokrat pemerintah yang menyalahgunakan kekuasaan di atas penderitaan orang-orang lemah. Semua itu akhirnya membawa konsekuensi, Yesus dihukum mati lewat tiang salib.Sayangnya, dalam perjalanan sejarah kekristenan selama 2000 tahun, kolusi antara pejabat agama dan penguasa yang dulu dikecam Yesus, justru sering dilakukan sendiri oleh mereka yang mengklaim mengikuti ajaran Yesus. Malah ironis, kadang nama Yesus diperalat sebagai tunggangan politik untuk meneror, bahkan membunuh, seperti ditulis dalam buku Jesus Before Chritianity, buah karya pastor Albert Nolan OP dari Afrika Selatan.Kezaliman kapitalisme yang justru marak dipraktikkan di negara-negara maju dan notabene mayoritas warganya Kristen, bahkan di negara-negara maju masih ada parpol berlabel Kristen hingga sekarang, justru sering terjadi praktik tak terpuji, martabat luhur manusia dijadikan komoditas belaka.Karena itu, bagi para politikus Kristiani yang menang pemilu legislatif dan lolos ke Senayan, perjuangkan kaum lemah seperti sudah dilakukan Yesus. Jadikan sejarah sebagai pelajaran, ketika agamawan atau politisi berbendera agama mengambil alih kekuasaan negara dalam pemerintahan teokrasi, justru banyak bencana kemanusiaan sebagaimana terjadi di era Yesus.Gereja di Eropa pernah terjebak dalam hal ini sehingga perang dan penindasan atas orang-orang yang tak sealiran (seagama) pernah menjadi noda hitam dalam sejarah gereja. Bayangkan perang agama antara katolik melawan protestan pascareformasi Martin Luther menyebabkan jutaan orang mati sia-sia.Maka dari itu, mari berjuang bersama Yesus memperjuangkan politik moral, berupa politik kenabian. Kita harus menjauhi politik partisan yang tidak lain ialah politisasi agama yang menjadikan agama sebagai kendaraan politik untuk merebut kekuasaan politik, meski hal demikian baru saja terjadi dalam pemilu di negeri ini.Jadi, bagi politisi kristiani yang sungguh berhasil mendapatkan kursi kekuasaan, berusahalah agar dalam 5 tahun mendatang jangan sampai menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya lewat praksis politik tak terpuji.
POLITIK YERUSALEM
Sebetulnya sejak masuk Yerusalem, Yesus memasuki kancah poliktik Yerusalem dalam hal ini dalam peristiwa minggu palmarum, 3 injil sinoptik seakan menggambarkan Yesus masuk Yerusalem sebagai puncak dari galilea, yudea, kemudian yerusalem, tapi injil Yohanes mengkisahkan beberapa kali Yesus masuk ke Yerusalem. Penggambaran Yesus dengan daun palem yang dilambaikan dan hamparan palem dan jubah, itu sebetulnya mirip dengan ketika Alexander Agung setiap masuk kota dan menang, atau saat makabe memenangkan Yerusalem dan membangun bait suci, yang membedakan hanyalah Yesus naik keledai, dan ini dianggap sebagai lambang perdamaian, kalau Yesus masuk dengan kuda, pesannya jelas perang dan kekerasan. Ini tentunya, sudah merupakan semacam pertunjukan politik, karena menampakan Yesus sebagai pemenang, apalagi ditambah orang saat itu menganggap Yesus sebagai Mesias, tentunya hal ini menampar para tokoh agama saat itu. Menimbulkan kebencian di mata para tokoh agama, para pemimpin kaum Yahudi. Menjadi menakutkan bagi para tokoh agama saat itu, Yesus disambut oleh massa dan bergerak bersama massa memasuki Yerusalem Di sisi yang lain, para tokoh agama saat itu, tentunya cemburu thp Yesus Doa dan pernyataan-pernyataan yang tercatat dalam alkitab dari massa tsb yang menganggap Yesus adalah raja, tentunya mengkhawatirkan para tokoh agama yang berkuasa saat itu Lukas 19 ayat 37, memperlihatkan bagaimana mukjizat Yesus membuat orang banyak mengikutinya, tentunya para imam atau tokoh agama saat itu mengikuti perkembangan Yesus yang tentunya membuat mereka ketakutan, takut kehilangan kedudukannya. Sebetulnya, bukan hanya masalah mukjizat tapi terlebih ajaran-ajaran Yesus yang mendobrak tradisi-tradisi saat itu yg membelenggu masyarakat pada waktu itu, ajaran Yesus menjungkir balikan apa yang dibuat oleh para tokoh agama saat itu untuk kepentingan mereka, kalau Lukas menulis bahwa kerumunan massa tsb adalah para murid, tetapi Markus, Matius, dan Yohanes menulis bahwa massa tsb orang banyak. Dengan massa mengelukan Yesus sebagai raja, tentunya ini sudah seharusnya memancing reaksi dari penjajah Roma, kenapa Yesus tak langsung ditangkap? dihukum? Yah.. sangat dimungkinkan karena mendekati hari raya besar bangsa Yahudi, paskah, tentunya penangkapan bisa menimbulkan kericuhan dan perlawanan massa. Sejarah mencatat, bahwa banyak pemberontakan kaum Yahudi sebelum masa itu, terjadi pada saat hari-hari raya seperti saat itu. Disadari terjadi ekshalasi politik di Yerusalem saat itu, suhu politiknya meningkat. Sebetulnya memanasnya suhu politik, dimulai dari ajaran Yesus sejak dari galilea meluas ke Yudea kemudian memuncak secara simbolik ke Yerusalem, karena visi inklusif dari ajaran Yesus yang akan memperbarui umat perjanjian bertabrakan langsung dengan visi ekslusif kaum agamawan saat itu. Kalau kita membaca kitab-kitab makabe akan tampak jelas bagaimana reaksi kaum agaman terhadap orang asing dalam hal ini penjajah Roma, ketakutan akan tercemarnya kekudusan umat perjanjian membuat kaum agamawan membuat batasan-batasan keras yang itu malah membelenggu umat, dan batasan-batasan keras tersebut dijaga dengan taruhan nyawa oleh kaum agamawan. Sehingga, batasan - batasan tsb sudah tidak memanusiakan manusia lagi. Pelanggaran terhadap batasan-batasan kekudusan tsb dianggap pelanggaran terhadap perjanjian umat dengan Allah. Celakanya, Yesus mendobrak batasan-batasan tsb, Yesus lebih memanusiakan manusia, shg ketika masuk ke Yerusalem dan massa mendukung Yesus bahkan menyebut Yesus adalah raja, ini menyodok ketakutan terbesar kaum agamawan, tapi sebutan raja itu juga merupakan alat dari kaum agamawan untuk menarik penjajah Roma juga berseberangan dengan Yesus. Puncak dari batasan yang dianggap mengarah kekudusan adalah Bait Suci. Batasan-batasan yang membelenggu umat itu, menjadi semacam obsesi bagi kaum agamawan.Dobrakan Yesus akan batasan-batasan tsb, membuat kemarahan dan ketakutan kaum agamawan. Bagi kaum agamawan utamanya Farisi, kekudusan harus anti kenajisan dan anti dosa, kekudusan harus berjauhan atau membelakangi kenajisan dan dosa, kekudusan harus tidak bersentuhan dengan kenajisan dan dosa, kenajisan dan keberdosaan itu menular bahkan bisa mencemari kekudusan tapi bagi Yesus, kekudusan adalah penyembuhan dari kenajisan dan dosa, kekudusan harus bersentuhan dengan kenajisan dan dosa, agar kenajisan dan dosa itu sembuh bahkan menjadi kudus. Kekudusan adalah obat atau pentahiran bagi kenajisan dan dosa shg kekudusan harus berinteraksi dengan kenajisan dan dosa, bukan kekudusannya yang tercemari oleh kenajisan dan dosa, tapi kekudusan yang mencemari kenajisan dan dosa sehingga kenajisan dan dosa menjadi sembuh/tahir atau kudus. Inilah yang sering disebut Yesus sebagai agenda kerajaan Allah. Hal, inilah yang menohok para kaum agamawan, utamanya kaum Farisi. Telah terjadi benturan paradigma di sini antara pemahaman Yesus dan kaum agamawan utamanya Farisi.Konflik puncaknya terjadi di Bait Suci, ketiga injil sinopsis menulis peristiwa penyucian bait suci oleh Yesus terjadi stlh Yesus masuk ke Yerusalem, terkecuali injil Yohanes malah mencatatnya lebih awal. Kaum agamawan yang beranggapan Bait Suci hanya untuk kekudusan bukan untuk orang najis atau berdosa, pengertian orang najis dan berdosa juga ditujukan untuk bangsa lain selain Yahudi (goyim) tapi Yesus malah bicara Bait Suci untuk segala bangsa, wa......ini seperti menabuh genderang perang, maka suhu politik memanas.Jadi bisa dipahami kenapa injil Yohanes menuliskan ini di awal berbeda dengan 3 injil sinoptik yang menuliskan stlh Yesus masuk Yerusalem, karena konteks injil Yohanes adalah komunitas yang sedang berlainan dengan kaum Yahudi pada masanya, shg penulis injil Yohanes sejak dari awal ingin mengungkapkan bahwa Yesus pun sejak dari awal berseberangan dengan kaum Yahudi, yang pada akhirnya mengakibatkan Yesus di salib. Ini semua sebetulnya berkaitan dengan politik Bait Suci, karena pada masa itu secara politis Bait Suci bukan hanya tempat beribadah. "Politik" Bait Suci, Kajian sosial terhadap fenomena Bait Suci dalam relasi dengan penguasa memberi pencerahan mengenai situasi sosio-politis di balik institusi religius yang dipandang sakral: Sejak era imperium Persia, Bait Alah telah menjad tempat pengumpulan upeti bagi penjajah dan menjadi sumber penghasilan bagipara kolaboratornya, jadi Israel dibolehkan kembali ke tanah asal dan membangun Bait Suci tapi dengan aturan main tetap kirim upeti melalui pengumpulan persembahan di Bait Suci. Dalam era PB, 10 tahun setelah kematian Herodes Agung, gubernur Romawi memilh empat keluarga dan menyimpan persembahan imam: Imam Agung adalah perpanjangan tangan Romawi, jelas sudah apa yang dilakukan oleh Yesus dalam menyucikan Bait Suci tsb pastilah menyentuh kemarahan pula penjajah Roma tidak hanya kaum agamawan pemimpin Yahudi. Sehingga, ajaran-ajaran Yesus tentunya tidak hanya bertabrakan dengan kepentingan kaum agamawan pemimpin Yahudi tapi juga terlebih bertabrakan dengan kaum penjajah Roma,, ketakutan meningkat, suhu politik memanas ketika ternyata masuk Yerusalem, Yesus bisa menarik sedemikiannya massa. Yesus sudah mengganggu politk Bait Suci, sehingga Yesus harus disingkirkan. Jadi kita bisa melihat di sini peristiwa sejak minggu palmarum sampai paskah, sangat dipengaruhi oleh perpektif sosial politik pada jamannya.
Lapangan Pancasila, 07.04.2023 (T)
Baca juga
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/hari-rabu-pengkhianatan-sebelum-tri.html