PENGAJARAN JALAN EMAUS, SERIAL SUDUT PANDANG
Keempat kitab Injil yang merupakan bagian dari Alkitab, kitab suci umat Kristen, menceritakan penampakan Yesus sesudah kebangkitan. Dari sejumlah cerita di sana kisah penampakan Yesus menyertai dua orang murid dalam perjalanan menuju Emaus di Injil Lukas adalah yang paling kerรจn secara sastrawi dan teologis.
Hari ini adalah Minggu ketiga dalam masa raya Paska. Bacaan diambil dari Injil Lukas 24:13-35 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41, Mazmur 116:1-4, 12-19, dan 1Petrus 1:17-23.
LAI memberi judul perikop (๐ฑ๐ข๐ด๐ด๐ข๐จ๐ฆ) bacaan Injil Minggu ini (Lukas 24:13-35) ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ ๐๐ฎ๐ข๐ถ๐ด. Konteks terdekat bacaan adalah keseluruhan ayat dalam pasal 24 atau pasal terakhir Injil Lukas. Mengapa kisah ini saya sebut paling kerรจn?
▶️ Kisah ini merupakan penghubung atau jembatan antara cerita tentang kubur kosong (Luk. 24:1-12) dan penampakan Yesus kepada para rasul (Luk. 24:36-53).
▶️ Kisah ini merupakan “ringkasan” aneka cerita yang disatukan oleh pengarang Injil Lukas ke dalam “satu cerpen”.
▶️ Dalam kisah ini Lukas mengulang tema teologi yang diusungnya bahwa Mesias harus menderita untuk dapat masuk ke dalam kemuliaan. Teologi kenaikan. Bandingkan dengan Injil Matius yang pengarangnya sejak awal menyatakan bahwa Yesus adalah Raja Mesianik sejak lahir.
Kisah ini dalam suasana teduh di awal musim semi. Bacaan diawali dengan ๐๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข … yang berarti hari kebangkitan Yesus, hari pertama pekan itu yang sama dengan hari Minggu saat ini. Dua orang murid Yesus, tetapi bukan dari 11 rasul, pergi (atau pulang) ke sebuah kampung yang bernama Emaus. Jaraknya lebih kurang 11 km dari Yerusalem. Mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
Dalam perjalanan mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran. Itu berarti mereka bukan sedang bercakap-cakap biasa saja, melainkan berbincang tentang Yesus yang baru dihukum mati lewat salib, dikubur, dan mereka tampaknya mencoba memaknainya. Datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu Ia berjalan bersama-sama dengan mereka. Frase ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช (ฮฑแฝฯแฝธฯ dibaca ๐ข๐ถ๐ต๐ฐ๐ด) ditekankan oleh Lukas. Lukas menggunakan nama pribadi Yesus untuk menegaskan bahwa yang mendekati kedua murid itu adalah Yesus, bukan orang lain. Bandingkan dengan Markus 16:12.
Namun, ada sesuatu yang menghalangi pandangan kedua murid ini sehingga mereka tidak mengenal “Orang itu” Yesus. Apa yang menghalangi mereka? Untuk menjawab ini, mari kita berangkat dari “titik nol”. Sila buka Kejadian 2:25 ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข (Adam dan Hawa) ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ. Kita sudah tahu kisah selanjutnya, mereka akhirnya malu karena telanjang. Mengapa? Ada pemicunya. Demikian juga halnya dengan kedua murid itu. Dalam terang Injil Lukas kedua murid itu tidak mengenal Yesus karena Yesus memang tidak dipahami oleh para pengikut-Nya (lih. Luk. 9:45; 18:34).
Selain itu para penulis Injil, termasuk Lukas, menampilkan paradoks. Tubuh Yesus sebelum mati dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Sama karena ciri fisikal persis seperti sebelumnya. Ada luka di lambung dan di tangan (serta makan-minum bersama dengan murid-murid-Nya). Berbeda karena Yesus-Paska tidak langsung dikenali oleh para murid dan dapat tiba-tiba hadir dan menghilang dari ruangan terkunci.
Yesus membuka percakapan, “๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ฌ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ?”. Bayangkanlah anda sedang mengalami kecelakaan mobil parah, lalu ada orang datang ke TKP dan bertanya, “๐๐ฅ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข?”. Kesal ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ? Tentu. Hal yang sama terjadi pada kedua murid itu. Atas pertanyaan Yesus itu ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐๐ธ๐ฎ ๐บ๐๐ฟ๐ฎ๐บ. Seorang dari mereka bernama Kleopas. Namun, Kleopas di sini jangan dicampuradukkan dengan Klopas dalam Yohanes 19:25.
Mengapa murid satunya tidak disebutkan namanya? Entahlah. Barangkali ini cara Lukas hendak mengajak pembaca kitab Injilnya turut serta di dalam kisah ini dengan memerankan si murid tanpa nama itu?
Kleopas balik bertanya kepada “Orang itu” dengan nada sarkastik, “๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ต๐ถ-๐ด๐ข๐ต๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ญ๐ฆ๐ฎ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช-๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช?” Dengan bahasa masa kini Kleopas hendak mengatakan, “๐๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฐ๐ฆ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ซ๐ฆ́?”
Kekesalan Kleopas wajar-wajar saja. Mereka belum lama berjalan dari Yerusalem dan “Orang itu” bergabung dengan mereka tidak lama dari itu. Mereka berasumsi bahwa “Orang itu” juga dari Yerusalem. ๐๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ tidak tahu apa yang terjadi di Yerusalem beberapa hari belakangan ini? Tampaknya Yesus senang sedang ๐ฏ๐จ๐ฆ-๐ฑ๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ mereka. Tanya Yesus lagi, “๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ?”
Akhirnya mereka menjelaskan kepada “Orang itu”. Kata mereka, “๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ป๐ข๐ณ๐ฆ๐ต. ๐๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข๐ฃ๐ช, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐๐ข๐๐ข-๐๐ข๐๐ข ๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ ๐๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ฃ-๐ฅ๐๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ฃ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ช๐ฃ๐ฌ๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ข ๐๐ด๐ณ๐ข๐ฆ๐ญ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช: ๐๐ข๐จ๐ช-๐ฑ๐ข๐จ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ณ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐บ๐ข๐ต-๐๐บ๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ต-๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ด ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ-๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต." (ay. 19-24)
Di sini Lukas mengulangi lagi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kematian Yesus (lih. Luk. 23:13). Lukas sama sekali tidak menyebut Pontius Pilatus. Kedua murid itu masih mencerap bahwa Yesus datang sebagai Mesias politik sehingga mereka mengharap Yesus membebaskan mereka dari penjajah Romawi. Perempuan-perempuan yang dimaksud di atas adalah Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan perempuan lain bersama dengan tiga perempuan itu (lih. Luk. 24:10). Beberapa teman yang dimaksud tampaknya adalah sebelas rasul dan saudara-saudara lain, tetapi yang pergi ke kubur hanya Petrus (lih. Luk. 24:9, 12).
“Orang itu” menanggapi mereka, “๐๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ, ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฃ๐ช. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ด ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ช๐ข๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข?” “Orang itu” lalu menjelaskan kepada mereka tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mula dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. (ay. 25-27)
Ada yang mengatakan pengarang Injil Lukas adalah seorang tabib, tetapi banyak ahli menolak itu. Namun, para ahli bersepakat pengarang Injil Lukas adalah seorang terpelajar dan warga dunia Grika. Kitab Injil Lukas ditujukan kepada Teofilus sehingga sasaran utama kitabnya itu tampaknya untuk orang Kristen berbudaya Grika.
Ujaran ๐๐ข๐ช, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ di atas merupakan ungkapan kekecewaan yang biasa diucapkan oleh para filsuf Grika terhadap pendengar yang tidak mampu menangkap penjelasan mereka. Dari sini kita dapat mengira-ngira di dalam narasi kedua orang itu tidak marah ketika disebut orang bodoh. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ mestilah dipahami dalam pemikiran Yahudi bahwa hati (kiasan dari jantung) adalah pusat kecerdasan dan kehendak manusia (bdk. Luk. 1:17, 51, 66; 2:19; 21:14, 34).
Lukas mengusung teologi kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi, dari penderitaan menuju kemuliaan. Dalam Injil Lukas Yesus berulang-ulang mengatakan bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu seperti dalam Lukas 9:22; 17:25; 24:7.
Dalam ayat 27 dikatakan bahwa “Orang itu” menjelaskan kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi merujuk Dia. Di sini Lukas hendak mengatakan kepada jemaatnya untuk menafsir secara baru kitab-kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama (PL). Bangsa Yahudi tidak mengenal Mesias yang menderita, tetapi umat Kristen menafsir secara baru terutama Yesaya 52-53 dari pengalaman para murid akan Yesus yang disalibkan dan dibangkitkan.
Kedua murid dan “Orang itu” mendekati kampung yang mereka tuju. “Orang itu” seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Namun, mereka sangat mendesak-Nya, “๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ.” (ay. 29).
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di Tanah Palestina mendesak tamu untuk mampir ke rumah mereka. Ini dapat kita baca juga dalam perumpamaan Yesus tentang orang yang mengadakan perjamuan besar dalam Lukas 14:15-24. Ayat 23 “…๐ฑ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ, ๐ด๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ.”
Ayat 29 ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช... sangat fenomenal dan menginspirasi. Banyak biarawan pada malam hari berdoa mengambil kata-kata dua murid dari Emaus itu: ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช, ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ต.
Ayat itu juga menjadi inspirasi nyanyian gerejawi. Saya berikan dua versinya.
๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ข๐ต ๐๐ฐ. 329
Tinggal sertaku; hari t’lah senja.
G’lap makin turun, Tuhan tinggallah!
Lain pertolongan tiada kutemu:
Maha Penolong,tinggal sertaku!
๐๐๐2 ๐๐ฐ. 111
Tinggal sertaku, Kawanku kudus;
T'lah hampir malam, jangan jalan t'rus.
Tiada tolongan, hanya pada-Mu.
Silakan Tuhan, tinggal sertaku.
“Orang itu” akhirnya mau tinggal bersama-sama dengan kedua murid itu untuk bermalam. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. (ay. 30)
Kata duduk di sini sebenarnya terjemahan dari ฮบฮฑฯฮฑฮบฮปฮนฮธแฟฮฝฮฑฮน (baca: ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ญ๐ช๐ต๐ฉe๐ฏ๐ข๐ช) yang berarti sedikit rebahan (๐ณ๐ฆ๐ค๐ญ๐ช๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ). Pada zaman itu hanya meja makan tanpa bangku atau kursi. Orang makan secara ๐ญe๐ดe๐ฉ๐ข๐ฏ atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan.
Pada saat makan “Orang itu” langsung mengambil alih posisi kepala keluarga. Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka seperti yang biasa dilakukan oleh Yesus dalam Lukas 9:16 dan 22:19. Namun, tindakan ini bukanlah mengadakan ekaristi atau perjamuan kudus. Penginjil Lukas hanya hendak menegaskan kebiasaan Yesus sebelum makan.
Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka mengenal Dia, tetapi Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka (ay. 31). Kata mereka seorang kepada yang lain, “๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ-๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ต๐ข๐ฃ ๐๐ถ๐ค๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข?” (ay. 31-32).
๐๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข mengingatkan kita pada Kejadian 3:7 ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข (Adam dan Hawa) ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ. Menurut kaum Gnosis mereka mendapat pencerahan sesudah memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kedua murid itu baru ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฉ, mendapat pencerahan bahwa “Orang itu” adalah Yesus ketika mereka dipicu oleh kebiasaan atau gerakan Yesus sebelum makan.
Bagaimana bisa gerakan Yesus itu mencerahkan mereka? Ada dua teori. Pertama, kebiasaan makan seperti itu sudah lazim di komunitas pengikut Kristus. Kedua, dari sudut pedagogis jika Yesus mengajar lewat kata-kata belum dapat mencerahkan para pendengar-Nya, maka Ia mencoba dengan cara lain seperti dengan gerakan simbolis. Robert Boehlke mencatat ada delapan cara Yesus mengajar: ceramah, bimbingan, menghafalkan, pewujudan, dialog, studi kasus, perjumpaan, dan perbuatan simbolis.
Dalam frase ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ-๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ณ harus dipahami di sini bahwa bahasa Indonesia menggunakan kata kiasan hati untuk jantung atau ฮบฮฑฯฮดฮฏฮฑ (baca: ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฅ๐ช๐ข). Pada zaman itu hati dipahami sebagai pusat kecerdasan dan kehendak manusia (bdk. Luk. 1:17, 51, 66; 2:19; 21:14, 34).
Hati berkobar-kobar atau ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ฆ๐ข๐ณ๐ต seperti semangat membara untuk melakukan tugas sangat penting. Pemerian (๐ฅ๐ฆ๐ด๐ค๐ณ๐ช๐ฑ๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ) hati berkobar-kobar dapat dilihat hasrat Rocky Balboa mengalahkan Ivan Drago dalam ๐๐ฐ๐ค๐ฌ๐บ ๐๐ yang diiringi lagu apik ๐๐ถ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ข๐ณ๐ต dari ๐๐ถ๐ณ๐ท๐ช๐ท๐ฐ๐ณ.
Mengapa hati kedua murid itu berkobar-kobar ketika di tengah perjalanan? Kalau kita melihat kata ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ (ay. 31) dan ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ (ay. 32) menggunakan kata turunan yang sama ๐ฅ๐ชe๐ฏ๐ฐ๐ช๐ค๐ฉ๐ต๐ฉe๐ด๐ข๐ฏ dan ๐ฅ๐ชe๐ฏ๐ฐ๐ช๐จ๐ฆ๐ฏ yang berarti ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ dan ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ. Ketika Yesus membukakan (menerangkan) Kitab Suci di tengah perjalanan, hati mereka berkobar-kobar. Dalam konteks kedua murid ini, ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐๐ฟ๐ฎ๐บ, ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐น๐ถ๐ต ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐ฎ untuk mengabarkan tentang Yesus yang bangkit sesuai dengan Kitab Suci. Namun, saat itu mereka belum menyadari bahwa “Orang itu” adalah Yesus. Mereka baru ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฉ “Orang itu” adalah Yesus ketika mereka dipicu oleh kebiasaan atau gerakan Yesus sebelum makan.
Tidak ๐ฑ๐ข๐ฌe lama kedua orang murid itu bergegas kembali ke Yerusalem. Di sana mereka mendapati kesebelas rasul itu dan orang-orang yang ada bersama dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka percaya pada kebangkitan Yesus karena Ia menampakkan diri kepada Simon (Petrus). Kedua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah perjalanan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu memecah-mecahkan roti. (ay. 33-35)
Kapan Yesus menampakkan diri kepada Petrus? Lukas tidak menceritakan tentang waktu dan tempatnya. Namun, kalau membaca kisah di Injil Lukas ini penampakan Yesus kepada Petrus terjadi di Yerusalem. Penting bagi Lukas untuk menyampaikan penampakan Yesus kepada Petrus. Ini untuk menambah wibawa rasul, yang pada gilirannya Petrus menjadi pemimpin kelompok para rasul (lih. bacaan pendahuluan Kis. 2:14a, 36-41).
Libur Lebaran, Lapangan Pancasila, 22.04.2023 (T)