𝗔𝗸𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻, Serial Sudut Pandang (Minggu kelima masa raya Paska. Bacaan diambil dari Injil Yohanes 14:1-14)
Pengarang Injil Yohanes berasal dari Komunitas Yohanes yang berada di tengah-tengah konflik dengan kelompok-kelompok lain, terutama kelompok orang Yahudi. Mereka diusir dari sinagog dan didera oleh kelompok Yahudi. Di tengah-tengah suasana konflik itu kelompok penulis Injil Yohanes memiliki misi ganda. Mereka harus menakrifkan (𝘥𝘦𝘧𝘪𝘯𝘦) dan menegaskan jatidiri mereka sendiri, sekaligus menakrifkan dan menegaskan jatidiri lawan/musuh mereka.
Minggu kelima masa raya Paska. Bacaan diambil dari Injil Yohanes 14:1-14
Konteks terdekat bacaan Injil Minggu ini adalah Yohanes 13-14, sedang konteks besarnya adalah pasal 13-20. Pakar biblika menyebut pasal 13-20 adalah bagian kedua Injil Yohanes yang disebut juga kitab kemuliaan, sedang bagian pertama (pasal 1-12) disebut kitab tanda-tanda. Tidak lagi diceritakan tanda-tanda di bagian kedua, melainkan memuliakan (𝘥𝘰𝘹𝘢𝘻e) dan kemuliaan (𝘥𝘰𝘹𝘢). Apabila bagian kedua ini dikelompokkan lagi, maka menjadi:
▶️ Wasiat untuk murid-murid Yesus (Yoh. 13-17)
▶️ Pengadilan dan kematian Yesus (Yoh. 18-19)
▶️ Penampakan Yesus sesudah kebangkitan (Yoh. 20)
Bagian kedua dibuka dengan pelayanan Yesus yang sangat menggugah (pasal 13). Yesus membasuh kaki para murid. Tindakan simbolik ini adalah teladan yang mudah dimengerti. Ia menggugah para pembaca dan pendengar Injil melayani dengan kasih. Melayani orang kecil tidaklah mudah dan untuk itulah Yesus memberi teladan.
Dalam pasal 13 Yesus juga memberi 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶. Mengapa disebut 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶? Perintah untuk mengasihi sesama bangsa dan pendatang asing sudah ada dalam Imamat 19. Perintah mengasihi sesama manusia, bahkan musuh, ada di Injil Matius 5:42-47 dan Lukas 10:29-37. Meskipun Komunitas Yohanes tidak membaca, bahkan mungkin tidak tahu keberadaan Injil Matius dan Lukas, ajaran Yesus tentang Hukum Kasih sudah beredar luas di jemaat Kristen. Dalam Injil Yohanes Yesus memberi perintah lain, yaitu kasih persaudaraan di dalam jemaat. Kasih yang bersumber dari kasih Yesus untuk mereka 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶.
Pasal 13 menyiapkan pembaca dan pendengar Injil untuk dapat menerima ketika Yesus akan dikhianati dan dihukum mati sebagai saat-Nya yang mulia.
Kita sekarang mengulas bacaan Injil Minggu ini (Yoh. 14:1-14). Sesudah Yesus menyampaikan kepergian-Nya (Yoh. 13:33, 36) terbitlah kecemasan dalam diri murid-murid. “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘭𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶. 𝘋𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 … 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 … 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵-𝘒𝘶 … 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢.” kata Yesus (ay. 1-3).
𝘚𝘦𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 atau latar aslinya kepergian Yesus dalam ayat di atas adalah penyaliban-Nya. Namun, latar Injil ditulis adalah perasaan ketidakhadiran Yesus dalam Komunitas Yohanes dan keterlambatan kedatangan-Nya kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Lebih menyayat hati lagi adalah perasaan jemaat Kristen (d.h.i. Komunitas Yohanes) berpisah atau diusir dari sinagog. Meski mereka terusir, terbuang, Yesus menjamin mereka akan mendapat 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 baru.
𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 dalam ayat 2 dari kata 𝘮𝘰𝘯𝘢𝘪 yang berarti tempat berteduh (Inggris: 𝘮𝘢𝘯𝘴𝘪𝘰𝘯). Kata monai sendiri pembendaan dari kata kerja 𝘮𝘦𝘯o𝘯 yang berarti tinggal di suatu tempat khusus (Inggris: 𝘥𝘸𝘦𝘭𝘭). Dalam ayat selanjutnya (ay. 10, 17) kita akan bertemu yang dimaksud 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 itu lebih berpumpun pada keadaan keakraban dengan Allah yang menanti kaum beriman.
Yesus melanjutkan, “𝘒𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (ay. 4). Ciri khas penulis Injil Yohanes adalah mengumpan pertanyaan kepada lawan bicara Yesus. Ayat 4 itu jelas untuk batu loncatan pertanyaan yang akan diajukan oleh Tomas untuk kemudian Yesus menjelaskannya. Kata Tomas kepada Yesus, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?” (ay. 5).
Pertanyaan Tomas itu dijawab oleh Yesus, “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘈𝘬𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘈𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (ay. 6-7).
Yohanes 14:6 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 (𝘌𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪) 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 … akhirnya menjadi ayat istimewa oleh banyak orang Kristen. Eksklusif. Injil Yohanes isinya hanya ayat itu. Percaya Yesus, maka selamat karena mendapat akses kepada Bapa. Titik! Ayat itu juga sering dipakai untuk menyerang kepercayaan atau agama lain.
Padahal bacaan Minggu lalu dari Yohanes 10:1-10 dengan topik 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶. Orang yang masuk-keluar tidak melalui pintu adalah pencuri dan perampok. Kalau kita mencuri uang negara, mencuri uang kolekte, meskipun kita gandrung pada Yohanes 14:6, kita tetap tidak selamat, karena kita tidak masuk-keluar lewat pintu. Kita akan dipotong atau dipangkas dan dipisahkan dari 𝘗𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 oleh Bapa si Tukang Kebun (Yoh. 15:1-8).
Pernyataan 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘈𝘬𝘶 sebaiknya jangan dilihat sebagai pernyataan universal karena ukuran iman Kristen tidak merujuk ayat ini saja. Ada banyak ukuran di Injil Yohanes yang setara dengan itu (𝘌𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪) seperti 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 (Yoh. 6:35, 51), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 (Yoh. 8:12; 9:5), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 (Yoh. 10:7), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 (Yoh. 10:11), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 (Yoh. 11:25), 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 (Yoh. 15:1, 5). Belum lagi ukuran iman Kristen di dalam Injil sinoptis dan kitab-kitab di Alkitab.
𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 … merupakan suatu pengakuan iman Komunitas Yohanes di tengah situasi yang dikucilkan, diusir dari sinagog, didera oleh pemuka dan pemimpin agama Yahudi. Mereka butuh pastoral yang kuat untuk teguh memegang iman. Apabila kita saat ini hidup merdeka, berkecukupan bahkan kaya, dapat beribadah rutin setiap hari Minggu, maka ayat ini tidak relevan bagi kita jika dipahami sama dengan Komunitas Yohanes memahami. Tidak operatif. Lalu bagaimana?
Penulis Injil Yohanes mengandaikan pembaca atau pendengar Injilnya sudah mengenal Kitab Suci Yahudi atau dalam Kristen disebut Perjanjian Lama (PL). Tampaknya 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 itu merujuk Yosua 22:5 “𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘔𝘶𝘴𝘢, 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕 𝘪𝘵𝘶: 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘕𝘺𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘬𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶.” Jadi, “jalan” haruslah dipahami sebagai norma seperti yang Yesus katakan 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 … (𝘌𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪) dalam ayat-ayat di Injil Yohanes di atas.
Misi Yesus adalah menyatakan kebenaran dan pekerjaan Allah sehingga setiap kehidupan, pengajaran, dan karya Yesus merupakan kebenaran. Sebagai kebenaran Yesus berkata dan mengajarkan apa yang benar serta melakukan dan menegakkan kebenaran.
Dengan demikian Yohanes 14:6 apabila dipahami secara sempit percaya saja kepada Yesus, maka akan selamat, tidaklah cukup, karena barangsiapa percaya kepada Yesus, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan (lih. ay. 12). Makna jalan, kebenaran, dan hidup mestilah dipahami dan diamalkan secara serbacakup agar kita dapat datang kepada Bapa.
Bagaimana dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus? 𝘌𝘮𝘣𝘶𝘩. Bukan urusan kitalah. Kata Yesus kepada perempuan berzina itu, “𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. “ (Yoh. 8:11).
Sesudah Tomas bertanya tentang jalan dan dijawab oleh Yesus, kemudian giliran Filipus bertanya kepada Yesus. Kata Filipus, ” 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪.” (ay. 8 ). Ini jelas pertanyaan iseng yang diumpankan oleh pengarang Injil Yohanes agar Yesus melanjutkan diskusi. Mengapa saya sebut iseng? Filipus memainkan peran cukup besar selama mengikuti Yesus sejak awal (lih. Yoh. 1:43-46 dan 12:21-22). 𝘔𝘰𝘴𝘰𝘬 Filipus tidak mengenal Bapa?
Atas pertanyaan Filipus itu pengarang Injil Yohanes berkesempatan menyajikan kristologinya. Dalam prolog Injil Yohanes disebutkan bahwa Yesus adalah Firman Allah yang sehakikat dengan Bapa atau Zat, Firman yang nuzul menjadi Manusia. Dalam jawaban Yesus kepada Filipus itu (ay. 9-11) pengarang Injil Yohanes menjelaskan kristologi sebagai satu kesatuan fungsional “ … 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘉𝘢𝘱𝘢 … 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘈𝘬𝘶 … “
Di akhir bacaan (ay. 12-14) Yesus menegaskan bahwa percaya kepada-Nya tidaklah cukup, tetapi ia harus juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar daripada itu. Apa yang dimaksud lebih besar daripada yang dilakukan Yesus? Di sini Yesus memberi amanat agar jemaat atau gereja mengerjakan pekerjaan Yesus lebih luas lagi. Pekerjaan Yesus yang mana? Pekerjaan di dalam kitab tanda-tanda (pasal 1-12) seperti yang saya tulis di atas. Apakah bisa? Bisa. Yesus berpesan, jika kita meminta sesuatu kepada Yesus dalam nama-Nya, Ia akan melakukannya. Di sini penulis Injil sekaligus menegaskan kristologinya.
Salatiga, Lapangan Pancasila, 06.05.2023 (T)