Kamis, 31 Agustus 2023

𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪? Bukan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, SERIAL SUDUT PANDANG (Injil Matius 16:13-20)



𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪? Bukan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, SERIAL SUDUT PANDANG (Injil Matius 16:13-20)

Setelah Yesus tiba di Danau Toba, Ia bertanya kepada Soekarno, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?” Soekarno menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘷𝘰𝘭𝘶𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪.” Yesus berkata, “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬.” Soekarno menanggapi, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬.”

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 16:13-20, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴. Kisah paralel tentang 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 ini ada di Injil Markus 8:27-30 dan Lukas 9:18-22. Namun, kesejajaran kisah itu dalam konteks yang berbeda. Tidak sama. Pengarang Injil Matius mengambil bahan dari sumber Markus, kemudian ia mengembangkan kisah itu menurut teologi dan situasi jemaatnya saat itu.

Untuk pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 16:13-14 Kata orang
▶️ Matius 16:15-16 Kata Petrus
▶️ Matius 16:17-19 Janji Yesus kepada Petrus
▶️ Matius 16:20 Perintah Yesus kepada para murid
                              
𝗞𝗮𝘁𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 (Mat. 16:13-14)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶?” Jawab mereka, “𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘌𝘭𝘪𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘠𝘦𝘳𝘦𝘮𝘪𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪.” (Mat. 16:13-14, TB II 2023)

Kota Kaisarea Filipi terletak sekitar 40 km sebelah utara Danau Galilea. Kota ini dibangun oleh Herodes Filipus pada tahun 2 atau 3 SZB. Kini kota itu bernama Banias. Kaisarea Filipi berbeda dari Kaisarea Maritima dekat Laut Tengah. Versi Injil Lukas Yesus bukan berada di Kota Kaisarea Filipi, melainkan Betsaida (lih. Luk. 9:10).

Pengajaran radikal Yesus tentu saja berdampak besar dan menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat. Untuk itulah Yesus bertanya kepada para murid mengenai pandangan orang-orang terhadap Yesus. Injil Matius menggunakan istilah Anak Manusia (𝘵𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘰𝘶 𝘢𝘯𝘵𝘩𝘳𝘰̄𝘱𝘰𝘶) untuk Yesus, sedang Injil Markus dan Lukas menggunakan Aku (με dibaca 𝘮𝘦). Matius tampaknya mengambil istilah ini dari Daniel 7:13 dan mungkin kitab 1Henokh 37-71, suatu gelar yang dikembangkan dari pemikiran apokaliptik saat itu oleh Gereja perdana.

Mengapa kata orang Yesus adalah Yohanes Pembaptis? Apabila kita membaca Matius 14:12, Raja Herodes Antipas berkeyakinan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang hidup kembali setelah dibunuh olehnya. Orang juga meyakini Yesus adalah Nabi Elia, nabi besar umat Israel. Mereka meyakini Elia akan tampil lagi di bumi menjelang penghakiman terakhir menurut Maleakhi 4:5. Yeremia juga nabi besar. Ia sangat terkenal di kalangan Yahudi dua abad menjelang Zaman Bersama (ZB) atau Tarikh Umum (TU), karena ia ditolak dan sangat menderita (lih. 2Mak. 2:1-12; 15:14).

Dari jawaban-jawaban di atas dapat dipahami bahwa ajaran-ajaran Yesus tidak ditangkap sepenuhnya oleh banyak orang Yahudi. Meskipun demikian kehadiran Yesus sangat berdampak sehingga mereka sampai memandang Yesus adalah nabi besar dan menjadi ancaman bagi kalangan elit agama.

𝗞𝗮𝘁𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (Mat. 16:15-16)

Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “𝙈𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪, 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞?” Jawab Simon Petrus, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” (Mat. 16:15-16, TB II 2023)

Di sini Yesus hendak menampilkan kontras: apa kata orang, apa kata kamu? Sesudah mengumpulkan informasi pendapat umum mengenai Yesus, Ia mengajukan pertanyaan pribadi kepada pengikut Kristus. Pertanyaan Yesus kepada para murid dijawab oleh Petrus seakan-akan ia adalah jurubicara. Injil Matius menampilkan sosok Petrus sebagai murid nomor 1. Injil Yohanes berbeda; Petrus bukanlah murid nomor 1. Bahkan dalam episode kebangkitan Injil Yohanes menempatkan Maria Magdalena lebih menonjol. 

Petrus menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴”. Mesias diterjemahkan dari 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴. Sampai di sini jawaban Petrus sama dengan jawaban versi Injil Markus (Mrk. 8:29) dan sejajar dengan Lukas 9:20b, “𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” Jawaban ini berbobot historis. Gelar Mesias searti dengan 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 (𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩), yang diterapkan kepada tokoh yang oleh orang Yahudi dimaknai sebagai Raja-Penyelamat mereka. Dalam dunia Injil gelar Mesias dimaknai secara spiritual.

Pembeda Injil Matius dari Injil Markus dan Lukas adalah penambahan jawaban Petrus, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” Istilah 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sudah lazim digunakan dalam Perjanjian Lama (PL) yang merujuk orang yang dipilih oleh Allah (2Sam. 7:14; Mzm. 2:7; 89:27). Sebutan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sudah muncul setelah Yesus dibaptis dan setelah berjalan di atas air (Mat. 3:7; 14:33). Namun, ungkapan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 hanya di perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 ini. Frase 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 tampaknya Matius menekankan bahwa Yesus bukan saja dipilih oleh Allah, tetapi juga sumber dan pemberi kehidupan. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 sudah dimaknai sebagai Mesias non-politik. Pengakuan Petrus ini amat penting untuk menggembala Jemaat Matius yang sedang patah semangat, karena Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus pada 70 ZB. Jemaat Matius berasal dari kalangan Yahudi. Jadi, mereka berpegang pada kata Petrus, bukan kata orang lain.

𝗝𝗮𝗻𝗷𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (Mat. 16:17-19)

Kata Yesus kepadanya, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘚𝘪𝘮𝘰𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘠𝘶𝘯𝘶𝘴, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” (Mat. 16:17-19, TB II 2023)

Ayat 17-19 di atas tidak ada di Injil Markus dan Lukas. Ini khas Matius. Di sini disebut Simon anak Yunus yang diterjemahkan dari 𝘚𝘪𝘮o𝘯 𝘉𝘢𝘳𝘪o𝘯𝘢. Di Injil Yohanes disebut Simon anak Yohanes yang diterjemahkan dari 𝘚𝘪𝘮o𝘯 𝘩𝘰 𝘩𝘶𝘪𝘰𝘴 𝘐o𝘢𝘯𝘯𝘰𝘶 (Yoh. 1:42). Tampaknya ada permainan kata nama ayah Simon. Yesus memuji jawaban Simon alias Petrus (ay. 17). Yesus mengatakan “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 … “, karena Simon menerima penyataan (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) yang diberikan Allah bukan kepada orang bijak, melainkan kepada orang kecil (lih. Mat. 11:25-27).

Bukan saja memuji, Yesus menambah nama Simon dengan Petrus (𝘗𝘦𝘵𝘳𝘰𝘴), yang berarti literal batu karang atau cadas. Dalam bahasa Aram Petrus disebut Kefas (כֵּיפָא dibaca 𝘒𝘦𝘱𝘩𝘢). Rasul Paulus lebih suka menyebut Kefas daripada Petrus.

Kata Yesus, “… 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢-𝘒𝘶 …” Kata gereja diterjemahkan dari 𝘦𝘬𝘬𝘭e𝘴𝘪𝘢𝘯. TB 1974 dan TB II 1997 menerjemahkannya menjadi jemaat. TB II 2023 berubah menjadi gereja. Ucapan Yesus ini menimbulkan polemik tafsir. 

Tradisi Gereja Katolik merujuk teks di atas sebagai dasar ajaran bahwa semua pengganti Petrus menjadi ahli waris kuasanya sebagai 𝘱𝘳𝘪𝘮𝘢𝘴 ( = yang pertama). Petrus diyakini sebagai Uskup Roma yang pertama. Namun, cukup banyak teolog Katolik menolak tafsir ini, karena teks tidak menyebut pengganti. Kalangan Protestan menafsir cadas adalah iman Petrus atau iman jemaat berdasarkan iman Petrus. Namun, kelemahan tafsir ini adalah iman Petrus tidak stabil. Lihat ayat 23 di pasal yang sama dengan bacaan Minggu ini, Yesus mendamprat Petrus, “𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴. 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢.” Bahkan di Matius 26:69-75 Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali berturut-turut. 𝘏𝘢𝘵𝘵𝘳𝘪𝘤𝘬! Jadi?

Yang dimaksud gereja di ayat 18 itu tak lain dan tak bukan adalah Jemaat Matius. Petrus merupakan simbol rasul yang pro-Yudaisme. Jemaat Matius dibangun dengan dasar Yudaisme. Sangat kental di sini ada pertarungan teologi antara Jemaat Matius dan jemaat bentukan Rasul Paulus. Paulus mengingatkan jemaat Kristen dari kalangan Yahudi yang masih hidup di bawah kuk hukum Taurat. Bahkan Paulus mengecam Petrus sebagai orang munafik (lih. Gal. 2:11-14).

Frase 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 diterjemahkan dari 𝘒𝘢𝘪 𝘱𝘺𝘭𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘰𝘶 𝘰𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘪𝘴𝘤𝘩𝘺𝘴𝘰𝘶𝘴𝘪𝘯 𝘢𝘶𝘵𝘦̄𝘴, yang berarti literal 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘥𝘦𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Gerbang-gerbang hades tampaknya metafora penguasa agama dan politik pada masa itu. Jemaat perdana (dhi Jemaat Matius) sudah beberapa kali mengalami penganiayaan dan pengusiran dari sinagog, tetapi Gereja tetap tegar berdiri. Penguasa tidak dapat mengalahkan Gereja.

Ucapan Yesus “𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢” tentu saja tidak dipahami bahwa Petrus pemegang kunci surga seperti yang kita dapati di banyak lelucon atau 𝘫𝘰𝘬𝘦. Kerajaan Surga merupakan idiom Yahudi untuk Kerajaan Allah yang diprakarsai oleh Yesus di bumi ini. Pengertian tentang Kerajaan Allah sudah dijelaskan Yesus lewat perumpamaan-perumpamaan. Selain itu ciri-ciri Kerajaan Allah adalah orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, penderita penyakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat. 11:5). 

Pemberian kunci kepada Petrus ini sejajar dengan Eliyakim mendapat kuasa dari Wangsa Daud “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘋𝘢𝘶𝘥 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢: 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱; 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢.” (Yes. 22:22). Petrus diberi kuasa membuka pintu dan menunjukkan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah yang seharusnya dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tetapi mereka justru menutup pintu Kerajaan Allah (Mat. 23:13). Kuasa itu diambilalih oleh Yesus dan didelegasikan kepada Petrus.

Frase 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 (𝘥i𝘴o𝘴) dan 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 (𝘭𝘺𝘴o𝘴) tampaknya sejajar dengan yang lazim dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dalam menafsir Taurat and penyataan kehendak Allah. Dengan kata lain otoritas menentukan hal yang diizinkan dan dilarang seperti Yesus menafsir Kitab Suci dalam episode panjang 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mat. 5-7).

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 (Mat. 16:20)

Lalu Yesus memerintahkan murid-murid-Nya supaya tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. (Mat. 16:20, TB II 2023)

Di Injil Matius dan Markus tidak disebut alasan langsung Yesus melarang murid-murid-Nya memberitahukan kepada siapa pun. Memang pada ayat berikutnya disebutkan alasan Yesus, tetapi ada jeda dengan keterangan waktu 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 dan 𝘭𝘢𝘭𝘶 serta alasan itu diucapkan oleh narator. Namun, di Injil Lukas alasan Yesus disebut dengan kalimat langsung. Ia berkata,  “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢-𝘵𝘶𝘢, 𝘪𝘮𝘢𝘮-𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.” (Luk. 9:20). Mengapa ada perbedaan?

Perbedaan itu terjadi karena perbedaan teologi para penulis Injil. Injil Matius mengusung teologi bahwa Yesus adalah Mesias sejak lahir. Dalam pembuka Injil Matius langsung disebut bahwa Yesus 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, anak Daud, anak Abraham (Mat. 1:1). Juga penulis Markus membuka Injilnya dengan pernyataan: Inilah permulaan Injil tentang Yesus 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, Anak Allah (Mrk. 1:1). Jadi, narator sudah menyatakan sejak awal bahwa Yesus adalah Kristus ( = Mesias). Dalam pada itu Injil Lukas mengusung teologi kenaikan, yakni Yesus diangkat menjadi Mesias ( = Kristus) sesudah kebangkitan (Luk. 24:46; Kis. 2:36).

Pengakuan atau deklarasi Petrus tentang Yesus sudah menjadi dogma dan pilar utama Gereja. Orang yang mengakui diri beragama Kristen sudah pasti mengakui Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Namun, pertanyaan Yesus itu dinamis, bukan sekadar membutuhkan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, bukan jawaban contekan dari pengakuan Petrus. Apabila Yesus bertanya kepada anda secara pribadi, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, bagaimana jawaban anda?

CEPOGO, 260823 (T)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...