Jumat, 11 Agustus 2023

SUDUT PANDANG MATIUS 14 : 22-33, KEBERANIAN ADALAH BUAH KEBERIMANAN, SERIAL SUDUT PANDANG, YESUS BERJALAN DI ATAS AIR, Matius 14:22-33,

SUDUT PANDANG MATIUS 14:22-33, KEBERANIAN ADALAH BUAH KEBERIMANAN, SERIAL SUDUT PANDANG, YESUS BERJALAN DI ATAS AIR, Matius 14:22-33,

Banyak orang Kristen dewasa memahami kisah di Alkitab sama dengan pemahaman mereka saat masih kanak-kanak. Contoh kisah Natal. Mereka mencerap kisah Natal itu hanya satu versi: Yesus lahir di kandang dan didatangi gembala-gembala dan orang-orang Majus dalam satu latar. Padahal kisah itu pemerkosaan penggabungan dua kisah Natal yang berbeda dari Injil Lukas dan Matius. Kalau mereka cermat membaca Alkitab, menurut Injil Lukas rumah Yusuf di Nasaret dan Yesus lahir di “kandang” (apa pun sebutannya) di Betlehem, sedang menurut Injil Matius rumah Yusuf di Betlehem dan Yesus lahir di rumah. Suasana kelahiran Yesus damai menurut Injil Lukas, sedang menurut Injil Matius penuh teror sehingga Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir. Kisah Natal kedua Injil itu tidak dapat dan tidak boleh digabungkan, karena keduanya mengusung teologi yang berbeda. Penggabungan malah menghilangkan pesan teologinya, bahkan menurunkan harkat kisah itu menjadi dongeng biasa. 
Cukup banyak lulusan perguruan tinggi teologi  cara membaca Alkitab mereka sama dengan saat mereka masih kanak-kanak dan remaja. Buktinya khotbah atau tafsir mereka terdengar sama saja, itu-itu saja, meskipun dari kitab yang berbeda-beda.

Bacaan Injil Matius 14:22-33, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳. Bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian ulasan:
🛑 Matius 14:22-23 Yesus di gunung
🛑 Matius 14:24-27 Yesus berjalan di atas air
🛑 Matius 14:28-32 Petrus berjalan di atas air
🛑 Matius 14:33 Pengakuan

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗶 𝗴𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 (Mat. 14:22-23)

Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. (Mat. 14:22, TB II 2023) 

Bacaan Injil Minggu ini merupakan episode berikutnya dari episode bacaan Injil Minggu lalu tentang 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Hal itu ditunjukkan dengan frase pembuka ayat 22 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶.

Kata 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘴𝘢𝘬 diterjemahkan dari e𝘯𝘢𝘯𝘬𝘢𝘴𝘦𝘯, yang berarti literal memaksa (bdk. Luk. 14:23 “ … 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 orang-orang yang ada di situ, …”). Yesus memaksa para murid ke mana? Naik ke perahu untuk pergi lebih dahulu ke seberang. Mungkin maksudnya ke sebelah timur Danau Galilea (bdk. Mat. 8:18). Dalam pada itu Yesus juga membubarkan (𝘢𝘱𝘰𝘭𝘺𝘴o) orang banyak.

Yesus memaksa para murid meninggalkan-Nya dan membubarkan khalayak ditafsir bahwa khalayak begitu antusias untuk segera mengangkat Yesus menjadi raja mereka. Tafsir ini spekulatif karena teks sama sekali tidak meninggalkan jejak untuk menafsir seperti itu. Ayat selanjutnya justru menjelaskan bukan itu alasan Yesus.

Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. (Mat. 14:23, TB II 2023)

Jadi, alasan Yesus memaksa para murid pergi dan membubarkan khalayak adalah hendak menyingkir, menyendiri. Tujuan sejak semula Yesus pergi ke tempat terpencil karena peristiwa pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes (lih. Mat. 14:1-13a).

LAI menerjemahkan 𝘰𝘳𝘰𝘴 menjadi 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 dalam frase 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 sebenarnya mengaburkan atau mengacaukan teologi yang diusung oleh pengarang Injil Matius. Kata 𝘰𝘳𝘰𝘴 seharusnya diterjemahkan menjadi 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Sebagai pembanding NRSV, KJV, NAS, NIV menerjemahkan oros menjadi 𝘮𝘰𝘶𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯. 

Istilah 𝘰𝘳𝘰𝘴 atau gunung amat penting bagi penulis Injil Matius untuk menyampaikan teologinya yang khas. Pendapat ini diperkuat dengan 𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 versi Injil Lukas yang disampaikan oleh Yesus bukan di gunung, melainkan di tempat datar (lih. Luk. 6:17), karena teologi Lukas berbeda dari Matius. Matius mengusung teologinya bahwa Yesus adalah Musa yang baru. Musa menerima firman Allah (10 Perintah Allah) di gunung, sedang Yesus memberi perintah atau pengajaran atau firman di gunung dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (lih. Mat. 5 – 7). Musa berdoa pergi ke gunung, Yesus juga berdoa pergi ke gunung seperti dalam ayat 23 di atas. Gunung merupakan tempat manifestasi Allah, tempat perjumpaan dengan Allah (Kel. 19:20; 1Raj. 19). 

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗶𝗿 (Mat. 14:24-27)

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “𝘐𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Yesus segera berkata kepada mereka, “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩! 𝘐𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!” (Mat. 14:24-27, TB II 2023)

𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘭 diterjemahkan dari 𝘴𝘵𝘢𝘥𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘱𝘰𝘭𝘭𝘰𝘶𝘴 yang berarti literal banyak stadia; 1 stadia setara lebih kurang 185 m. Tampaknya LAI berkesulitan mencari padanan stadia sehingga mengambil satuan mil yang biasa untuk mengukur jarak tempuh di laut. Data geografis masa kini lebar Danau Galilea mencapai 13 km. Saking lebarnya Danau Galilea disebut juga Laut Tiberias.

Ada perbedaan antara Matius dan Markus mengenai perjalanan para murid. Matius menulis 𝙋𝙚𝙧𝙖𝙝𝙪 … 𝘥𝘪𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘭 … , sedang Markus menulis ... 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘺𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢𝘭 … (lih. Mrk. 6:48). Subjek dalam Injil Matius adalah perahu, sedang dalam Injil Markus subjeknya adalah mereka (para murid). Tampaknya Matius memetaforkan Gereja atau jemaat Matius yang sedang gonjang-ganjing karena ditekan oleh lawan dengan perahu yang diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal.

𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 diterjemahkan dari 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘳𝘵o 𝘥𝘦 𝘱𝘩𝘺𝘭𝘢𝘬o 𝘵o𝘴 𝘯𝘺𝘬𝘵𝘰𝘴 yang berarti literal 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. Pada zaman itu ada pembagian empat jam jaga malam. Jam keempat sekitar pukul 3 – 6 pada waktu masa kini. 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 … 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 dalam teks sumber penerjemahan tidak menyebut air, melainkan laut (𝘵𝘩𝘢𝘭𝘢𝘴𝘴𝘢𝘯). Yesus tidak melayang-layang di atas permukaan laut, tetapi memang berjalan. Bangsa Israel memandang laut sebagai kekuatan yang selalu mengancam manusia. Di sini Matius tampaknya hendak menampilkan bahwa Allah saja yang dapat menguasai atau mengalahkannya. Kekuatan itu di bawah kaki Yesus.

Para murid melihat Yesus berjalan di atas air menjadi ketakutan dan mengira itu hantu. Hanya di ayat 26 ini dan Markus 6:49 yang menggunakan kata hantu (𝘗𝘩𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴𝘮𝘢). Yesus menentramkan mereka, “𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!”, yang diterjemahkan dari 𝘛𝘩𝘢𝘳𝘴𝘦𝘪𝘵𝘦, kata yang sama diucapkan Yesus kepada orang lumpuh (Mat. 9:2) dan perempuan yang menderita sakit pendarahan (Mat. 9:22). 

Sesudah itu Yesus mengenalkan diri, “𝘐𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶.” Bahasa aslinya adalah 𝘦𝘨𝘰̄ 𝘦𝘪𝘮𝘪 yang berarti literal 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢. Rumusan ini mengingatkan kita pada jatidiri Yesus di Injil Yohanes. Sekadar informasi Injil Yohanes ditulis jauh sesudah penulisan Injil Matius. Selain itu rumusan 𝘦𝘨𝘰̄ 𝘦𝘪𝘮𝘪 merupakan perkenalan diri Allah kepada Musa dalam kitab Keluaran 3:14 (juga Ul. 32:39) versi Septuaginta. Ini menguatkan bahwa Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru, bahkan lebih besar daripada Musa.

𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗶𝗿 (Mat. 14:28-32)

Petrus berkata kepada-Nya, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳.” Kata Yesus, “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air dan mendatangi Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mula tenggelam, lalu berteriak, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “𝘏𝘢𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨?” Lalu keduanya naik ke perahu dan angin pun reda. (Mat. 14:28-33)

Kisah Petrus berjalan di atas air ini adalah satu dari tiga cerita khas Injil Matius tentang Petrus. Tidak ada di kitab Injil lainnya. Dua cerita khas lainnya adalah 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 (Mat. 16:16-19) dan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Mat. 17:24-27). 

Dalam bacaan ini untuk pertama kali Matius menampilkan Petrus sebagai jurubicara para murid. Sapaan Yesus dengan 𝘦𝘨o 𝘦𝘪𝘮𝘪 ditanggapi Petrus dengan 𝘦𝘪 𝘴𝘶 𝘦𝘪, yang berarti literal 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢. Untuk memastikan jatidiri-Nya Petrus meminta Yesus menyuruhnya berjalan di atas air.

Petrus percaya pada perintah Yesus “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” dan ia berjalan di atas air sampai (ke tempat) Yesus (sesuai dengan bahasa aslinya 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘰𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘦𝘱𝘢𝘵e𝘴𝘦𝘯 𝘦𝘱𝘪 𝘩𝘺𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘪 e𝘭𝘵𝘩𝘦𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴 𝘵𝘰𝘯 𝘐e𝘴𝘰𝘶𝘯). Petrus tidak berjalan beberapa langkah seperti yang kerap kita dengar di khotbah, tetapi ia memang berhasil sampai ke tempat Yesus. Merasa tiupan angin kencang, kambuhlah rasa takut Petrus akan kuasa alam maut dan mula tenggelam. Petrus berteriak, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶!” Teriakan ini merupakan model doa yang diambil dari Mazmur 69:2, 14-15.

Yesus segera menolong Petrus. Sesudah itu Yesus mendamprat Petrus, karena ia ternyata kurang mengandalkan Yesus. Dampratan Yesus berulang kali digunakan dalam Injil Matius (lih. Mat. 6:30; 8:26; 16:8; 17:20). Iman ada, namun tidak memadai, seperti benih yang jatuh di tanah berbatu. Perbuatan Yesus di sini adalah 𝘴𝘢𝘧𝘦𝘵𝘺 𝘧𝘪𝘳𝘴𝘵, mengutamakan keselamatan orang tak berdaya. Sesudah menolong, baru kemudian Yesus menegur dan naik ke perahu. Angin pun reda. Bandingkan dengan kehidupan masa kini. Orang senang melihat orang susah. Bukan menolong, malah menggunjing.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 (Mat. 14:33)

Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” (Mat. 14:33, TB II 2023)

Ada perbedaan ayat penutup kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 di Injil Markus. Mari kita bandingkan.

Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti tentang roti itu, dan hati mereka tetap degil. (Mrk. 6:51b-52, TB II 2023)

Dalam Injil Markus mereka (para murid) sangat tercengang, karena pada siang sebelumnya Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan. Hati mereka tetap degil, meskipun mereka juga melihat Yesus berjalan di atas air dan angin sakal reda.

Penginjil Matius membalikkan cerita Markus dengan pengakuan semua murid terhadap Yesus, yang mendahului 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 di Matius 16:16 dan kepala pasukan Romawi di Matius 27:55. Menyembah penerjemahan dari 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯e𝘴𝘢𝘯, kata yang dipilih oleh Matius sebagai ungkapan menghormati Allah. Kata ini digunakan 13 kali oleh Matius (lih. Mat. 2:2; 2:11; 4:10; dll.)

Bacaan Minggu ini mengajar kita bahwa memiliki iman saja tidak cukup. Iman menuntut keberanian. Berani menghadapi tantangan besar, termasuk berani mengubah pemahaman iman kekanak-kanakan menjadi iman dewasa.

Cepogo, 12.08.23 (T)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...