Sejumlah Gereja Prostestan di Indonesia pada Jumat Agung melayankan sakramen Ekaristi atau Perjamuan Kudus (PK). Bagaimana jika ditinjau secara liturgis dan teologis?
𝗦𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀
Jumat Agung adalah satu anasir Trihari Suci: 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩-𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨-𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪. Tepat atau tidaknya melayankan PK pada Jumat Agung dapat kita lihat dari makna 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩.
𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 atau 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 diindonesiakan menjadi putih?
𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.
Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩? Pada 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, PK atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu adalah 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.
PK adalah sakramen. Dengan merujuk makna Kamis Putih, maka secara liturgis melayankan PK pada Jumat Agung tidak tepat.
𝗦𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀
PK merupakan perayaan iman gereja atas karya, kematian, dan kebangkitan Kristus sampai Ia datang kembali (bdk. 1Kor. 11:23-26). Itu berarti PK juga mengandung gatra (𝘢𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵) ekskatologis.
Memang benar PK memiliki hubungan historis dengan Perjamuan Malam Terakhir (PMT) seperti yang tertulis dalam teks keempat Kitab Injil kanonik. Akan tetapi keempat Kitab Injil menyampaikan hal yang sama yaitu perjamuan perpisahan antara Yesus dan para murid, karena Yesus akan mati di kayu salib tidak lama setelah itu. Kemudian teks Injil sinoptik dengan jelas menyatakan bahwa PMT merupakan perjamuan Paska Yahudi (Mrk. 14:12-17; Luk. 22:15). Injil Yohanes sedikit berbeda dengan menyatakan bahwa PMT diadakan menjelang Paska Yahudi (Yoh. 13:1; 18:28; 19:14). Meskipun demikian keempat Injil menyatakan hal senada yang berpautan dengan Paska Yahudi.
PK dan PMT ada kesinambungan (kontinuitas) sekaligus ketidaksinambungan (diskontinuitas). Kontinuitas PK dan PMT terletak pada kenyataan bahwa PK dilaksanakan oleh gereja berdasarkan atas perintah Yesus pada PMT “𝘗𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶!" (Luk. 22:19). Disebut diskontinuitas karena memang PMT dan PK berbeda dalam isi dan fungsi. Pada saat PMT Yesus belum mati. Padahal PK merupakan perayaan iman gereja atas karya, kematian, dan kebangkitan sampai Ia datang kembali.
Jumat Agung adalah Hari Kematian Yesus. Pada Jumat Agung Gereja tidak melayankan sakramen seperti amanat Kamis Putih. Tidak ada Ekaristi atau PK. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau PK adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 (𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴) 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.
Jadi, melayankan PK pada Jumat Agung secara teologis tidak tepat.
Kesimpulan: Baik secara liturgis maupun teologis melayankan PK pada Jumat Agung tidak tepat. Tetapi itu semua karena kesepakatan dalam sidang pleno majelis bagi gereja-gereja presbyterian, emang keputusan sidang pleno majelis memang terkadang jauh dari konsep liturgis dan teologis, walopun dalam sidang pleno majelis ada pakar-pakar teologi
Cepogo, 28022024 (T)