Sabtu, 29 Juni 2024

SUDUT PANDANG MARKUS 5:21-43, 𝗩𝗲𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸𝗮


SUDUT PANDANG MARKUS 5:21-43, 𝗩𝗲𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸𝗮

Kitab-kitab Injil hendaklah tidak dibaca sebagai laporan jurnalistik historis. Kitab Injil dikarang dengan genre sastra yang kerap ada bagian terlihat sulit dan tidak jelas. Kitab Injil juga tidak boleh dihampiri dengan cara psikologis agar dirasakan mudah dicerna. Kita perlu  melihat teks secara saksama dengan menimbang konteksnya, kemudian bertanya-tanya untuk apa cerita ini dikarang dan peranannya bagi jemaat Kristen perdana. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu memang sukar, tetapi perlu ada upaya.

Hari ini adalah Minggu keenam setelah Pentakosta. Bacaan dari Injil Markus 5:21-43 

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘠𝘢𝘪𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯. Konteks bacaan adalah Markus 4-5. Pasal 4 merupakan kumpulan perumpamaan, pasal 5 kumpulan cerita mukjizat. Kedua pasal tersebut dirangkai oleh Markus seolah-olah sehari. Bacaan Minggu ini merupakan cerita mukjizat ketiga dan keempat.

Dalam Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 Minggu lalu dikisahkan Yesus pergi ke seberang sesudah mengajar orang banyak lewat perumpamaan-perumpamaan. Dari Galilea ke wilayah Dekapolis yang dihuni oleh bangsa bukan-Yahudi. Di sana Yesus mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang Gerasa. Yesus dan para murid kemudian menyeberang kembali ke Galilea. 

Bacaan Minggu ini merupakan dua cerita yang berbeda disatukan oleh Markus. Cara merangkainya juga kreatif. Yairus, kepala sinagoge (rumah ibadat Yahudi), memohon Yesus datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sekarat. Dalam perjalanan ke rumahnya Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan menahun. Adegan selanjutnya Yesus di rumah Yairus.

Pengulasan bacaan diurai ke dalam tiga bagian:
🛑 Yesus dan Yairus (ay. 21-24)
🛑 Yesus dan perempuan sakit pendarahan (ay. 25-34)
🛑 Yesus dan anak perempuan Yairus (ay. 35-43)

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗬𝗮𝗶𝗿𝘂𝘀 (ay. 21-24)

𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘩𝘶 … (ay. 21) menunjukkan perpindahan lokasi adegan, dari Dekapolis kembali ke Galilea. Orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala sinagoge yang bernama Yairus (ay. 22). 

Dalam Gereja modern kepala sinagoge sejajar dengan koster. Dalam 𝘊𝘢𝘵𝘩𝘰𝘭𝘪𝘤 𝘌𝘯𝘤𝘺𝘤𝘭𝘰𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 (Vol. 13) Paus Gregorius IX mengatakan bahwa koster adalah jabatan terhormat. Dalam buku 𝘊æ𝘳𝘦𝘮𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘦 𝘦𝘱𝘪𝘴𝘤𝘰𝘱𝘳𝘶𝘮 terdapat aturan bahwa koster dalam gereja-gereja katedral dan perguruan tinggi adalah seorang imam. Tugas-tugasnya berpautan dengan sakristi, hosti kudus, bejana baptis, minyak suci, relikui suci, dekorasi gereja untuk setiap perayaan dan masa yang berbeda, persiapan kebutuhan beragam upacara, membunyikan lonceng gereja, memelihara keteraturan dalam gereja, dan mengatur jadwal ibadah, serta menentukan pembaca kitab suci dan pengajar/pengkhotbah. Di Gereja-Gereja Protestan di Indonesia koster turun dahsyat menjadi pesuruh atau 𝘰𝘧𝘧𝘪𝘤𝘦 𝘣𝘰𝘺 Gereja. Mengenaskan!

Nama Yairus (Ibr. 𝘺𝘢 ‘𝘪𝘳, berarti 𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯) laksana hendak mengantisipasi akhir cerita. Ia sujud di depan kaki Yesus dan memohon dengan sangat agar Yesus mau meletakkan tangan-Nya atas anak perempuannya yang sedang sekarat di rumahnya (ay. 22-23). Tidak ada jawaban eksplisit Yesus, kecuali Ia langsung bergerak berangkat ke rumah Yairus. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakkan di dekat-Nya (ay. 24). Kali ini 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 bukan sekadar pelengkap cerita, tetapi menjadi bagian sangat penting. Penekanan pada 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 membuat cerita selanjutnya lebih tegang dan dramatis.

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗿𝗮𝗵𝗮𝗻 (ay. 25-34)

Dalam perjalanan Yesus menuju rumah Yairus di situ ada perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Ia sudah menghabiskan semua harta bendanya untuk berobat kepada berbagai tabib, tetapi tidak juga sembuh, malah memburuk (ay. 25-26). Markus memandang penting mengangkat kisah ini bukan lantaran penyakit perempuan itu dari sisi medis, melainkan melampaui itu. Pendarahan (haid) dipandang najis oleh hukum Yahudi (lih. Im. 15:25). Ia tersingkirkan secara sosial dan agama. Dalam kisah ini kita akan melihat iman perempuan ini yang dikontraskan dengan iman para murid dalam episode 𝘈𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 (lih. Mrk. 4:35-41).

Perempuan itu sudah mendengar berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Ia percaya dengan menyentuh jubah-Nya saja, ia akan sembuh. Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa badannya sudah sembuh dari penyakit (ay. 27-29). Bandingkan dengan iman para murid Yesus. Yesus menegur mereka, "𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵? 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢?" (Mrk. 4:40). Mengikut Yesus membutuhkan iman yang aktif. Kalau percaya, tidak perlu takut. Hal itu tak dilakukan oleh para murid. Perempuan itu percaya dan tidak takut bergerak aktif menyentuh jubah Yesus.

Dalam kerumunan orang banyak Yesus mengetahui ada tenaga yang keluar dari-Nya. Murid-murid Yesus tak mengetahuinya. Yesus memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang melakukan hal itu (ay. 30-32). Perempuan itu takjub sekaligus gentar ketika mengetahui yang telah terjadi pada dirinya. Ia pun sujud di depan Yesus dan menyampaikan semua yang sudah terjadi (ay. 33).

Jawaban Yesus mencengangkan, “𝘏𝘢𝘪, 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶, 𝘪𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘮𝘶!” (ay. 34) Perempuan itu bukan saja sembuh, tetapi juga pergi dengan sembuh dan selamat, dengan 𝘴𝘺𝘢𝘭𝘰𝘮. Yesus memulihkan harga diri perempuan itu, mengembalikan kemanusiaannya secara utuh. Ia sekarang boleh kembali di tengah umat. Dalam tradisi gerejawi perempuan itu diberi nama 𝘉𝘦𝘳𝘦𝘯𝘪𝘬𝘦, yang dalam tradisi Latin menjadi 𝘝𝘦𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬𝘢.

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗬𝗮𝗶𝗿𝘂𝘀 (ay. 35-43)

Ketika Yesus masih berbicara (dengan perempuan itu) datanglah orang dari keluarga kepala sinagoge itu dan berkata kepadanya, “𝘈𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘎𝘶𝘳𝘶?” (ay. 35) Di sini Markus panggah menyebut jabatan Yairus untuk menekankan bahwa jabatan kepala sinagoge itu terhormat. Pada sisi lain orang itu percaya pada kuasa Yesus, tetapi kuasa-Nya terbatas. Sudah terlambat. Tidak dapat disembuhkan lagi karena anak itu sudah meninggal. 

Yesus tidak menghiraukan informasi itu dan tanggapan Yesus jauh berbeda ketika Ia menegur para murid dalam episode sebelumnya, "𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵? 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢?" (Mrk. 4:40). Dalam episode sekarang Yesus berkata kepada kepala sinagoge, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢!” (ay. 36). Di sini Yesus secara eksplisit mementingkan iman secara radikal. Iman yang aktif. Orang-orang terkagum-kagum pada mukjizat yang dibuat Yesus, tetapi tidak mengantarkan mereka untuk beriman. Hal ini ditunjukkan lewat adegan selanjutnya. Yesus membatasi orang-orang yang ikut serta dengan-Nya, yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes (saudara Yakobus) (ay. 37). Yesus tak membutuhkan orang banyak bersorak-sorai atas mukjizat yang dibuat-Nya.

Tindakan Yesus membatasi orang terbukti saat Ia tiba di rumah kepala sinagoge itu. Orang-orang menertawai Yesus ketika Ia mengatakan bahwa anak perempuan Yairus itu tidur, tidak mati. Yesus menyuruh mereka keluar. Yesus hanya mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes, serta Yairus dan istrinya ke kamar anak itu (ay. 38-40).

Di kamar Yesus memegang tangan anak itu dan berkata, “𝘛𝘢𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘶𝘮,” yang berarti, “𝘏𝘢𝘪, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯, 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘭𝘢𝘩!” Seketika itu juga anak itu bangun dan berjalan, karena usianya sudah 12 tahun. Mereka semua sangat takjub. (ay. 41-42)

𝘛𝘢𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘶𝘮 (atau 𝘵𝘢𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘲𝘶𝘮) adalah bahasa Aram yang dipercaya digunakan oleh Yesus-historis sebagai bahasa pengantar. Bukan hanya kata atau frase itu yang ditulis oleh Markus. Kita dapat menemukan kata atau frase yang lain di Injil Markus seperti 𝘉𝘰𝘢𝘯𝘦𝘳𝘨𝘦𝘴 (3:17), 𝘲𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 (7:11), 𝘌𝘧𝘧𝘢𝘵𝘢 (7:34), 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 (11:9), 𝘎𝘰𝘭𝘨𝘰𝘵𝘢 (15:22), dan 𝘌𝘭𝘰𝘪, 𝘌𝘭𝘰𝘪, 𝘭𝘦𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘬𝘩𝘵𝘢𝘯𝘪 (15:34). Hanya 𝘩𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 yang tidak diterjemahkan oleh Markus. Di sini Markus hendak menunjukkan tradisi gerejawi memelihara sejumlah ucapan asli Yesus-historis, bukan memandang 𝘵𝘢𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘲𝘶𝘮 sebagai mantra.

Pesan teologis lain dari ayat di atas adalah kebangkitan orang mati menjadi satu dari sejumlah harapan mesianik. Meskipun kebangkitan itu belum diyakini oleh seluruh bangsa Yahudi, tetapi Yesus menjadikannya unsur sentral dalam pewartaan-Nya. Pembangkitan anak Yairus merupakan pratanda kebangkitan Yesus yang adalah kemenangan atas kematian.

Kisah pembangkitan anak perempuan Yairus ditutup dengan pesan Yesus dengan sangat agar jangan seorang pun mengetahui hal itu. Ia pun menyuruh mereka memberi makan anak itu. (ay. 43) Kuasa Yesus atas kematian itu sebagai kuasa Mesias belum boleh diberitakan. Mengapa? Alasannya dapat kita jumpai dalam episode-episode selanjutnya, yaitu Yesus belum bangkit dari antara orang mati (lih. Mrk. 8:31; 9:9).

Di atas kita sudah melihat pengarang Injil Markus bercerita mengenai mukjizat terjadi bukan agar orang percaya kepada Yesus. Justru sebaliknya Markus menunjukkan bahwa orang-orang meragukan Yesus membuat mukjizat begitu melihat anak Yairus meninggal. Sudah terlambat untuk membuat mukjizat penyembuhan. Lewat cerita mukjizat ini Markus hendak menggembala jemaat atau pembaca kitab Injilnya bagaimana beriman dengan benar, beriman secara aktif. Beriman bukan karena mukjizat. Dalam Markus 6 secara eksplisit mukjizat tidak terjadi bukan karena Yesus tidak berkuasa, melainkan penduduk Nazaret menolak untuk beriman kepada Yesus. Apabila kita bandingkan dengan Injil Yohanes, percaya kepada Yesus lantaran mukjizat adalah iman yang tak autentik (mis. Yoh. 4:41-42).
 (30062024)(T)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...