Jumat, 20 September 2024

SUDUT PANDANG MARKUS 9 :30 - 37, 𝗕𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁?


SUDUT PANDANG MARKUS 9 :30 - 37, 𝗕𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁?

Cukup banyak orang menjadi pendeta bukan lagi untuk menjadi gembala yang melindungi domba-domba dari ancaman binatang buas, yang merawat domba-domba di kandang yang berbau tak sedap. Mereka menjadi pendeta untuk status sosial. Dari bukan siapa-siapa lalu menjadi priyayi, yang minta dihormati, minta didengarkan, tetapi tidak mau menggawaikan telinganya untuk mendengarkan.

Hari ini adalah Minggu kedelapan belas sesudah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Markus 9:30-37 yang didahului dengan Yeremia 11:18-20, Mazmur 54, dan Yakobus 3:13 – 4:3, 7-8a.

Cara bernarasi Markus 8:22 sampai akhir pasal 10 segala hal yang berpautan dengan Yesus dan murid-murid-Nya dibuat dalam latar perjalanan. Dari Betsaida ke Kaisarea Filipi, lalu dari sana melewati wilayah Galilea secara rahasia menuju Yerusalem. Hal apa yang disampaikan oleh Yesus? Yesus menyampaikan “nasib” Mesias yang akan dibunuh oleh pemuka agama Yahudi dan bangkit sesudah tiga hari. Dalam bacaan Injil Minggu Yesus menyampaikan untuk kali kedua mengenai jalan penderitaan yang akan dilalui-Nya, sedang para murid sibuk berebut kuasa. Pemberitahuan kesatu di Markus 8:31 (bacaan Minggu lalu), pemberitahuan ketiga di Markus 10:33-34.

Ulasan bacaan dikelompokkan ke dalam tiga bagian:
🛑 Pemberitahuan kedua (ay. 30-32)
🛑 Murid-murid berebut kuasa (ay. 33-34)
🛑 Jadilah pelayan (ay. 35-37)

𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗵𝘂𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 (ay. 30-32)

Bacaan dibuka dengan adegan Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari Kaisarea Filipi dan melewati Galilea, sedang Yesus tidak mau hal itu diketahui oleh orang (ay. 30), sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya (ay. 31a). Perjalanan “rahasia” ini sebelumnya sudah disampaikan di Markus 7:24 ketika mereka pergi ke Tirus (lih. Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi 8 September 2024). Alasannya karena Yesus hendak mengajar murid-murid-Nya secara khusus.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘋𝘪𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘐𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵.” (ay. 31b) Sebutan atau gelar Anak Manusia sering ditujukan kepada Nabi Yehezkiel yang mengalami banyak penderitaan dalam masa pembuangan di Babel (Yeh. 4:9, 5:1, dll.). Sebutan itu juga merujuk kemuliaan dan kekuasaan (Dan. 7:13-14). Jadi, penderitaan sekaligus kemuliaan mewarnai gelar Anak Manusia bagi Yesus.

Kata kerja pasif tanpa objek pelaku dalam Alkitab pada umumnya merujuk Allah sebagai objek pelaku. Dengan demikian objek pelaku untuk kata 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 (𝘱𝘢𝘳𝘢𝘥𝘪𝘥𝘰𝘵𝘢𝘪) adalah Allah (dhi. sesuai dengan kehendak Allah). Kata 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 yang acap muncul dipautkan dengan nasib orang-orang benar atau para nabi.

Narator kemudian menjelaskan bahwa para murid tidak mengerti perkataan Yesus di ayat 31b, tetapi mereka takut bertanya kepada-Nya (ay. 32). Kronologi kisah ini belumlah lama sesudah episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Pada saat mereka turun dari gunung, mereka tidak mengerti ungkapan Yesus 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, tetapi mereka tidak bertanya. Sekarang pun mereka tidak mengerti dan tidak bertanya kepada Yesus. Mengapa?

𝗠𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗯𝗲𝗿𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗸𝘂𝗮𝘀𝗮 (ay. 33-34)

Para murid tidak mengerti dan tidak bertanya kepada Yesus terungkap dalam bagian ini. Mereka tiba di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯?” (ay. 33) 

Rumah milik siapa di Kapernaum? Tidak jelas. Di Injil Markus beberapa kali Yesus mengajar murid-murid-Nya secara khusus di rumah atau saat mereka sendirian tidak bersama dengan orang banyak (lih. Mrk. 7:17; 9:28; 10:10). Barangkali kisah di Injil Markus merupakan cermin situasi Gereja pada masa Injil ditulis yang para warga diberi pengajaran khusus oleh pemimpin di rumah pada saat mereka bersekutu, misal dalam rangka perayaan ekaristi.

Yesus biasanya mengajukan pertanyaan kepada murid-murid-Nya untuk membuka ruang pengajaran baru (bdk. Mrk. 7:27). Demikian juga di bagian ini Yesus mengajukan pertanyaan kepada mereka, “𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯?” Mereka diam, karena di tengah perjalanan tadi mereka bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka (ay. 34). Padahal persis sebelumnya Yesus menyampaikan jalan penderitaan yang akan dilalui-Nya. Yesus akan menuju ke Yerusalem untuk dibunuh oleh para pemuka Yahudi. Mereka menutup mata dan telinga. Mereka mati rasa. Mereka berambisi menjadi orang terdekat Yesus, jika kelak Ia menjadi Raja Israel.

Pertengkaran para murid itu tampaknya juga cermin situasi Gereja perdana. Masyarakat Yahudi sangat memerhatikan status sosial. Ada persaingan di antara para pemimpin jemaat Kristen. Mereka cenderung mencari hormat lewat kedudukan dan fasilitas yang didapatkan. Orang yang berpakaian indah dan mewah akan lebih dihormati.

Kelakuan mereka mirip dengan banyak pemimpin Gereja masa kini yang sudah mati rasa. Pada saat banyak warga jemaat yang berkekurangan, menderita, para pemimpin Gereja berebut jabatan. Bahkan ada dari mereka bertindak korup mengelabuhi umat agar kroninya, yang sebenarnya tidak memenuhi syarat menjadi pendeta, dapat menjadi pejabat gerejawi lewat program kerjasama ekumenis gadungan. Apakah Yesus melarang para pengikut-Nya menjadi petinggi, pebesar, pejabat?

𝗝𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻 (ay. 35-37)

Yesus lalu duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata Yesus kepada mereka, “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.” (ay. 35)

Guru Yahudi biasanya duduk saat mengajar (lih. Mrk. 4:1; bdk. Mat. 5:1, Luk. 4:20-21). Kedua belas murid diterjemahkan dari 𝘵𝘰𝘶𝘴 𝘥e𝘥𝘦𝘬𝘢 yang berarti literal 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 (tanpa kata murid) atau 𝘵𝘩𝘦 𝘵𝘸𝘦𝘭𝘷𝘦 (NRSV). Jadi, kedua belas bukan sekadar angka, melainkan gelar atau sebutan atau julukan bagi 12 murid Yesus.

Yesus menjernihkan cerapan kedua belas murid itu mengenai hakikat pemimpin. Yesus sama sekali tidak melarang orang untuk menjadi pejabat, petinggi. Namun, untuk menjadi pejabat, petinggi, ia harus menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya. Itu berarti pejabat, petinggi, bukan berpikir untuk diri sendiri, melainkan berwawasan pada kesejahteraan orang lain. Siapakah orang lain itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang dalam keadaan tak berdaya.

Yesus lalu mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk nak itu dan berkata kepada mereka, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘒𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 36-37)

Dalam mengajar kedua belas murid Yesus memberi ilustrasi dengan mengambil seorang anak (𝘱𝘢𝘪𝘥𝘪𝘰𝘯). Kata paidion juga dapat berarti budak. Anak atau budak adalah orang-orang yang tak berdaya. Mereka adalah orang-orang marginal, yang status sosial mereka sangat rendah di mata masyarakat. Menyambut (𝘥𝘦𝘹e𝘵𝘢𝘪) berarti menerima mereka secara terhormat. 

Orang-orang besar menurut standar Yesus adalah mereka yang berwawasan pada kesejahteraan orang-orang yang tak berdaya. Pejabat, petinggi, pebesar, pendeta, yang tidak sesuai dengan standar Yesus adalah penipu.

 (22092024)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...