SUDUT PANDANG MARKUS 9 : 38 - 50, 𝗦𝗸𝗮𝗻𝗱𝗮𝗹 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁
Cukup banyak orang Kristen yang memahami imannya secara infantil. Bukan sepenuhnya kesalahan mereka, karena memang kurang pengajaran orang dewasa dari pemimpin jemaat. Kekurangan itu dapat karena kekurangcakapan pemimpin umat. Namun, dapat juga memang disengaja agar umat tetap beriman balita sehingga mudah untuk disetir oleh pemimpin jemaat. Injil Markus menyamakan pemimpin jemaat seperti itu dengan penjahat besar.
Hari ini adalah Minggu kesembilan belas setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Markus 9:38-50 yang didahului dengan Bilangan 11:4-6, 10-16, 24-29, Mazmur 19:7-14, dan Yakobus 5:13-20.
Bacaan Injil Minggu ini adalah sambungan langsung dari bacaan Minggu lalu mengenai pengajaran Yesus tentang ukuran atau syarat menjadi terbesar. Bacaan mencakup dua perikop yang diberi judul oleh LAI 𝘚𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 (ay. 38-41) dan 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 (ay. 42-50). Perikop kesatu mengenai sabda-sabda pengajaran, sedang perikop kedua tentang perbandingan.
Ulasan bacaan dibagi ke dalam dua bagian:
🛑 Siapa pihak kita? (ay. 38-41)
🛑 Konsekuensi skandal (ay. 9:42-50)
𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗽𝗶𝗵𝗮𝗸 𝗸𝗶𝘁𝗮? (ay. 38-41)
Pada bacaan Minggu lalu Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan diserahkan kepada pemuka agama Yahudi, dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari. Mereka tidak mengerti (atau tidak peduli?), tetapi tidak mau bertanya. Mereka malah sibuk bertengkar saling mendaku siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus mengajar mereka untuk menjadi terbesar haruslah menjadi pelayan bagi mereka. Yesus kemudian memberi ilustrasi dengan menghadirkan dan memeluk anak kecil sebagai simbol orang tak berdaya. Siapa saja yang menyambut anak kecil itu, ia menyambut Yesus, bahkan menyambut Allah yang mengutus-Nya.
Sesudah adegan itu Yohanes berkata kepada Yesus, “𝘎𝘶𝘳𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘔𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘤𝘦𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘪𝘵𝘢.” (ay. 38)
Teks ayat 38 tampaknya merujuk situsi Gereja mula-mula sesudah kebangkitan Yesus. Petunjuknya adalah frase 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘪𝘵𝘢 (disebut dua kali). Ada orang bukan warga Gereja melakukan mukjizat menggunakan nama Yesus. Di dunia kuno para pelaku mukjizat lazim menyerukan nama tokoh sakti (atau nama-nama dewa), termasuk nama Yesus. Tampaknya banyak warga jemaat perdana menganggap karya dalam nama Yesus itu sebagai monopoli mereka. Hal ini mirip ketika Yosua meminta Musa untuk mencegah dua orang, Eldad dan Medad, yang kepenuhan Roh seperti nabi (lih. Bil 11:26-30).
Sama seperti Musa, Yesus menolak sikap picik para pengikut-Nya. Kata Yesus, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢! 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘬𝘫𝘪𝘻𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢.” (ay. 39-40)
• Alasan kesatu sangat sederhana dan jelas, siapa saja yang melakukan kebajikan dalam nama Yesus sudah jelas tidak menjelekkan nama-Nya.
• Alasan kedua adalah pemikiran inklusif. Setiap orang yang tidak melawan jemaat Kristen sepatutnya dihisab sebagai simpatisan atau bahkan keluarga (bdk. Mat. 12:30).
Jawaban Yesus itu menunjukkan kepicikan murid-murid Yesus (dhi. Gereja perdana). Mereka hendak memonopoli Yesus, untuk diri mereka sendiri. Mereka mau menjadi yang 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳. Padahal baru saja Yesus mengajar mereka untuk menjadi terbesar hendaklah menjadi yang terakhir dan pelayan bagi sesama (lih. Mrk. 9:35). Mereka harus mengubah mentalitas kemaruk kuasa.
Yesus menambah alasan ketiga. Kata Yesus, “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘪𝘳 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴, 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.” (ay. 41)
Ayat 41 menjadi ilustrasi dua alasan sebelumnya di ayat 39-40. Ayat 41 merupakan hasil perenungan petulis Injil Markus untuk disampaikan kepada jemaatnya. Jika itu ucapan Yesus-historis, ucapan itu akan berbunyi 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵-𝘒𝘶, bukan 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴. Markus mengajar jemaatnya untuk tidak berlaku eksklusif. Siapa saja yang berbuat baik kepada Gereja, ia adalah keluarga Yesus, meskipun ia secara organisasi bukan orang Kristen. Orang berbuat baik kepada pengikut Kristus pastilah diganjar oleh Allah.
𝗞𝗼𝗻𝘀𝗲𝗸𝘂𝗲𝗻𝘀𝗶 𝘀𝗸𝗮𝗻𝗱𝗮𝗹 (ay. 9:42-50)
Bagian ini berisi sabda-sabda perbandingan bernada keras dan radikal. Ayat-ayat di sini bernasabah dengan pengajaran Yesus mengenai tema orang kecil di ayat 37.
Kata Yesus, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘨𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘪𝘬𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘦𝘩𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘶𝘵.” (ay. 42)
Di ayat 37 kata yang digunakan adalah 𝘱𝘢𝘪𝘥𝘪o𝘯 yang berarti 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 atau 𝘣𝘶𝘥𝘢𝘬. Di ayat 42 Markus menajamkan lagi dengan menggunakan 𝘮𝘪𝘬𝘳o𝘯 yang berarti 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. Siapa 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 itu? Mereka adalah warga jemaat sederhana, yang kurang pengetahuan, yang mudah terombang-ambing oleh tutur kata dan tindak-tanduk para pemimpin jemaat atau warga jemaat kaya.
Tutur kata dan tindak-tanduk para pemimpin jemaat atau warga kaya tersebut menggiring umat dari kalangan kecil berbuat dosa (𝘴𝘬𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘴e). Misal, mengajak umat mendukung pemimpin yang zalim, mengajak umat turut mendoakan pemimpin jemaat yang baru, padahal ia kroninya, dll. Dari kata 𝘴𝘬𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘴e muncul kata skandal yang selalu berhubungan dengan perbuatan jahat. Pada zaman dulu, di luar masyarakat Yahudi, para penjahat besar dihukum mati dengan ditenggelamkan ke dalam laut. Untuk memastikan ia tidak dapat mengapung lehernya dipasangi beban batu giling. Para pemimpin jemaat atau warga kaya yang menggiring umat dari kalangan masyarakat kecil berbuat dosa adalah penjahat besar. Untuk itulah para pemimpin jemaat itu lebih baik ditenggelamkan, kata Yesus.
Yesus memandang sangat serius penyesatan itu. Ia memberi perintah kepada para murid-Nya untuk mencabut kecondongan berbuat jahat lewat simbol anggota-anggota tubuh dengan bahasa kiasan yang keras dan radikal.
Kesatu. “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩! 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢, 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯.” (ay. 43)
Kedua. “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩! 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢.” (ay. 45)
Ketiga. “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘤𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩! 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘭𝘢𝘵-𝘶𝘭𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯.” (ay. 47-48)
Di ayat 43 tertulis kata 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 dan frase 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯. Kata dan frase ini muncul juga di ayat 45 dan 47-48. Kata 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 diterjemahkan dari kata Grika 𝘨𝘦𝘦𝘯𝘯𝘢𝘯 yang meniru bunyi Ibrani 𝘨𝘦-𝘩𝘪𝘯𝘯𝘰𝘮, lembah Hinom di sebelah barat daya Yerusalem. Di sana terdapat sampah Yerusalem, tempat ulat-ulat belatung, asap, dan api yang tak pernah padam. Pada zaman Perjanjian Lama di situ juga tempat anak-anak dikurbankan dalam nyala api kepada dewa Molokh (2Raj. 23:10; Yer. 7:32-ff).
Dengan tangan orang mencuri uang kolekte jemaat, menerima uang suap dari warga kaya agar didahulukan dilayani, dll. Dengan kaki orang dapat pergi bersenang-senang daripada melayani warga jemaat kecil, menginjak-injak hak-hak warga kecil, dll. Dengan mata orang dapat menjadi sombong, tidak pernah puas, dan membangkitkan hawa nafsu, dll. Ketimbang perbuatan-perbuatan itu menjadi skandal atau batu sandungan yang menyebabkan warga kecil berbuat dosa karena meniru atau digiring berbuat dosa, lebih baik hidup dengan tangan buntung, kaki timpang, dan bermata satu. Perbandingan yang begitu berat sebelah atau 𝘯𝘫𝘰𝘮𝘱𝘭𝘢𝘯𝘨 ini menunjukkan betapa serius Yesus melindungi warga kecil dari para pemimpin jemaat yang culas dan korup. Daripada menjadi skandal, lebih baik pemimpin jemaat yang tak bermoral itu dikeluarkan saja.
Perikop di atas seolah-olah membawa pembaca kepada pemikiran penghakiman terakhir. Namun, sebenarnya bukan tentang itu, melainkan mengenai hidup nyata. Markus tampaknya mengembalikan cerapan pembaca mengenai hidup di bumi seperti tertulis pada dua ayat terakhir.
Kata Yesus, “𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪. 𝘎𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? 𝘏𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘮𝘢.” (ay. 49-50)
Barangkali petulis Markus mengambil tradisi tentang kurban persembahan di Bait Allah disertai dengan garam (lih. Im. 2:13; Yeh. 43:24). Penggabungan metafora garam dan api menjadi 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘳𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪 yang hendak memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) hidup para murid Kristus benar-benar sepenuhnya menjadi persembahan bagi Allah terjadi dalam derita dan aniaya termasuk mau menjadi yang terakhir dan pelayan bagi sesama. Meskipun berat, garam di dalam diri mereka tidak boleh menjadi tawar sehingga sanggup berdamai dengan sesama. Dengan demikian ia akan mampu mengikuti Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem.
(29092024)(TUS)