Senin, 24 Maret 2025

SUDUT PANDANG Matius 21 : 1 – 11, MINGGU PALMARUM, SERIAL PASKA

SUDUT PANDANG Matius 21 : 1 – 11, MINGGU PALMARUM, SERIAL PASKA

PENGANTAR
Kebiasaan orang Yahudi menyambut raja adalah dengan mengelu-elukan memakai daun palem. Demikian pula yang terjadi saat Tuhan Yesus disambut oleh orang Israel. Mereka memperlakukan Yesus sebagai Raja Israel, karena mereka melihat Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Yesus penuh kuasa dan Dialah yang diharapkan membebaskan umat Israel dari penjajahan Romawi waktu itu sebagaimana dinantikan oleh mereka, yakni raja yang secara lahiriah berkuasa dengan kekuatan luar biasa. Sedangkan kata Hosanna berasal dari kata Ibrani : Hosyi’ah Na. Ungkapan itu terdiri dari 2 kata Yasha (menyelamatkan) dan Na (doa/permohonan). Dalam konteks ini bermakna Aku berdoa dan selamatkan aku saat ini Tuhan. Dalam makna utuh ungkapan Hosana Raja Damai bisa diartikan bahwa orang Israel memohon Yesus membawa keselamatan besar yang menyelamatkan mereka dari penindasan Romawi sang penjajah saat itu. Mereka yakin akan kuasa dan wibawa Yesus, sehingga mereka mengelu-elukan-Nya layaknya raja pembebas dengan melambai-lambaikan daun Palem. Dalam situasi dan pengharapan besar inilah suasana penyambutan Yesus terjadi Menariknya saat memasuki Yerusalem , Yesus tidak menggunakan kuda atau kereta kencana yang ditarik kuda, namun hanya menunggang keledai tanpa kereta. Keledai sebenarnya dipakai juga oleh pemimpin saat itu bahkan raja, namun digunakan dalam keadaan damai. Kehadiran Yesus adalah kehadiran yang membawa damai dan bukan seperti raja yang menaklukkan wilayah pada umumnya. Mari bersama-sama menghayati Minggu Palmarum ini sebagai kesempatan untuk mencintai lebih sungguh Tuhan Yesus yang merebut kembali kita dari keberdosaan ini. Sambutlah masa raya ini dengan ungkapan daun Palem yang adalah cinta sejati kita. Setiap lambaian itu sebuah komitmen untuk tetap setia dan menempatkan Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Karena Dialah sumber semangat, pengharapan, dan juga keselamatan kita yang tak akan tergantikan oleh apapun. Dialah Raja untuk hidup bahkan mati kita.

ILUSTRASI
Saat seorang artis terkenal datang mengunjungi suatu tempat, banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai penataan jalan oleh polisi lalu lintas, pengamanan dari siapa saja yang boleh bertemu, bahkan sekedar melihat dan apa saja yang diperlukan untuk kegiatan ini. Biasanya saat pawai datang, banyak sekali orang yang berduyun-duyun datang untuk melihat artis kesayangannya ini, bila perlu naik pohon atau tangga supaya dia bisa melihat dengan jelas, dan pasti banyak kamera handphone yang mengabadikannya. Sorakan, teriakan, atau bahkan pujian sudah pasti membahana di jalan di mana artis tersebut melintas. Kegembiraan dan sukacita akan terasa bahkan setelah rombongan itu pergi meninggalkan mereka. Daun palma atau ranting zaitun sendiri kaya akan makna dalam budaya Timur Tengah, Yunani dan Romawi, serta dalam Kekristenan. Sebagai lambang damai, ranting zaitun biasanya dipakai untuk menampilkan dewi Eirene (Yun.) atau dewi Pax (Rom.), yaitu dewi Damai. Ranting zaitun biasanya dibawa oleh utusan kekaisaran romawi untuk mewartakan damai. Dalam budaya Yunani, Romawi, dan Timur Tengah, daun palma dan ranting zaitun adalah lambang kemenangan dan damai. Seorang pemenang – termasuk pemenang lomba Olimpiade- mendapatkan mahkota dari ranting zaitun. Dalam Kekristenan, misalnya dalam Why. 7:9, daun palma adalah daun yang dibawa oleh orang-orang yang telah melewati dan mengalahkan segala cobaan dan kesulitan hidup, serta tampil sebagai pemenang. Dalam Kekristenan, ranting zaitun dan daun palma biasanya ditampilkan bersama dengan burung merpati. Burung merpati melambangkan Roh Kudus. Kadangkala burung merpati ditampilkan sedang membawa dengan paruhnya ranting zaitun atau daun palma. Inilah lambang Roh Kudus yang membawa damai


PEMAKNAAN

Yesus sendiri adalah “Raja Damai” dan “damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya” (Yes. 9:5-6). Yesus yang adalah Raja Damai ditunjukkan pula dengan keledai yang ditunggangiNya. Za. 9:9-10 memaklumkan bahwa Mesias akan datang dengan menunggang keledai beban yang muda. Keledai adalah lambang damai. Seorang raja yang menunggang keledai berarti seorang raja yang memaklumkan damai. Seperti para murid Yesus dan orang banyak berarak memasuki Yerusalem dengan penuh damai dan sukacita, kita pula mau berarak sambil berseru: “Hosanna!”, yang artinya “Selamatkanlah kami, ya Tuhan!”. Kita berseru memohon semoga Sang Raja Damai menyelamatkan kita dari dengki dan iri, curiga dan dendam. Kita mohon semoga damai dan sukacita merajai hati kita, masyarakat kita, dunia kita.Kehadiran Tuhan Yesus disambut dengan luar biasa oleh orang Israel dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, seperti kedatangan artis terkenal yang diharapkan bisa memuaskan dahaga kerinduan dan harapan para pengikutnya. Mungkin kalau kita berada di antara kerumunan orang Israel juga akan menyambut-Nya demikian. Jika artis papan atas yang datang, tentu harapannya kita bisa berfoto selfie dan menikmati sajian entertain yang menghibur kita sepanjang kehadirannya. Dengan Tuhan Yesus semua orang Israel menyambut laksana raja, karena memiliki harapan yang luar biasa, yakni sang pembebas dari tirani penjajahan Romawi yang menindas mereka. Harapan ini ditumpahkan dalam bentuk sambutan melambaikan daun Palem, juga hamparan baju serta ranting di sepanjang jalan Tuhan Yesus melintas. Harapan orang Israel sangat tinggi kepada Tuhan Yesus, yakni membebaskan mereka dari kungkungan penjajahan Romawi. Menjadi bebas dan merdeka dipimpin oleh Tuhan Yesus sebagai raja. Ya raja seperti yang ada dalam pemerintahan dunia. Itu karena mereka melihat kuasa Tuhan Yesus yang sudah mereka kenal sebagai orang yang penuh kuasa, menghidupkan Lazarus (Yoh. 11:14 dan 11:43), Dia disebut anak Daud (Mat. 21:9), Sang Mesias yang diyakini orang Israel sebagai Sang Pembebas yang telah lama dinantikan. Ungkapan Hosanna yang berarti Tuhan selamatkan aku ya Tuhan , serta pengakuan Yesus adalah anak Daud memperlihatkan keyakinan penuh umat Israel akan kuasa Yesus sebagai Mesias Sang Pembebas yang akan mengalahkan penindas Romawi kala itu. Tidak heran jika orang Israel mengelu-elukan Yesus dengan penghargaan tertinggi seperti menyambut raja. Lambaian daun palem ini seperti sebuah penahbisan Yesus sebagai raja sebagaimana dipahami orang Yahudi yang berhadapan langsung dengan penguasa penjajah saat itu. Pasti semua orang bersuka jika benar seperti itu, namun Tuhan Yesus tidak hadir sebagaimana dibayangkan, karena Tuhan Yesus bukan datang sebagai Raja seperti halnya kaisar Romawi. Tidak heran kalau akhirnya orang Israel kecewa. Kekecewaan itu terjadi saat kehadiran Tuhan Yesus tidak seperti yang diharapkan bisa kita ketahui pada peristiwa selanjutnya. (Lihat Mat. 27:22-25, Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!” Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!” Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”).  Orang Israel tidak hanya menuntut agar Yesus disalibkan, mereka bahkan bersedia menanggung resiko atau dosa sampai anak-anak mereka. Rasa hormat, cinta bahkan berharap luar biasa pada Tuhan Yesus di waktu Minggu Palmarum bisa berubah sebaliknya tidak sampai hitungan bulan. Sebuah ironi bahwa hari Palmarum ini yang sebenarnya juga bisa terjadi pada diri kita pula. Kita mengingkari Tuhan, karena kecewa dan Tuhan tidak seperti yang kita harapkan dalam hidup ini. Hari ini kita merayakan Minggu Palmarum, mengenang arak-arakan Tuhan Yesus menuju Yerusalem dengan sorak sorai. Sudahkah kita menyambut Tuhan Yesus masuk di dalam hati kita dengan seluruh cinta dan pengharapan kita? Tentu kita tidak akan bersikap seperti halnya orang Israel yang dengan mudah berubah hati dan berbalik mengingkari kesetiaan dan cinta itu. Bagi orang percaya dan pengikut Tuhan Yesus, kesetiaan itu sampai akhir, tidak dipengaruhi oleh apapun bahkan oleh keindahan dunia yang ditawarkannya. Kasih Tuhan Yesus, pengharapan yang dibawa-Nya adalah kekal untuk mereka yang setia. Dalam doa itulah kita berkata Hosanna, Tuhan Yesus hadirlah membawaku dalam keselamatan-Mu. Bawalah aku dalam kedamaian sejati itu untuk menghadirkannya di dunia di tempat di mana aku berada. Kehadiran Tuhan Yesus disambut dengan luar biasa oleh orang Israel dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, seperti kedatangan artis terkenal yang diharapkan bisa memuaskan dahaga kerinduan dan harapan para pengikutnya. Mungkin kalau kita berada di antara kerumunan orang Israel juga akan menyambut-Nya demikian. Jika artis papan atas yang datang, tentu harapannya kita bisa berfoto selfie dan menikmati sajian entertain yang menghibur kita sepanjang kehadirannya. Dengan Tuhan Yesus semua orang Israel menyambut laksana raja, karena memiliki harapan yang luar biasa, yakni sang pembebas dari tirani penjajahan Romawi yang menindas mereka. Harapan ini ditumpahkan dalam bentuk sambutan melambaikan daun Palem, juga hamparan baju serta ranting di sepanjang jalan Tuhan Yesus melintas. Harapan orang Israel sangat tinggi kepada Tuhan Yesus, yakni membebaskan mereka dari kungkungan penjajahan Romawi. Menjadi bebas dan merdeka dipimpin oleh Tuhan Yesus sebagai raja. Ya raja seperti yang ada dalam pemerintahan dunia. Itu karena mereka melihat kuasa Tuhan Yesus yang sudah mereka kenal sebagai orang yang penuh kuasa, menghidupkan Lazarus (Yoh. 11:14 dan 11:43), Dia disebut anak Daud (Mat. 21:9), Sang Mesias yang diyakini orang Israel sebagai Sang Pembebas yang telah lama dinantikan. Ungkapan Hosanna yang berarti Tuhan selamatkan aku ya Tuhan , serta pengakuan Yesus adalah anak Daud memperlihatkan keyakinan penuh umat Israel akan kuasa Yesus sebagai Mesias Sang Pembebas yang akan mengalahkan penindas Romawi kala itu. Tidak heran jika orang Israel mengelu-elukan Yesus dengan penghargaan tertinggi seperti menyambut raja. Lambaian daun palem ini seperti sebuah penahbisan Yesus sebagai raja sebagaimana dipahami orang Yahudi yang berhadapan langsung dengan penguasa penjajah saat itu. Pasti semua orang bersuka jika benar seperti itu, namun Tuhan Yesus tidak hadir sebagaimana dibayangkan, karena Tuhan Yesus bukan datang sebagai Raja seperti halnya kaisar Romawi. Tidak heran kalau akhirnya orang Israel kecewa. Kekecewaan itu terjadi saat kehadiran Tuhan Yesus tidak seperti yang diharapkan bisa kita ketahui pada peristiwa. Orang Israel tidak hanya menuntut agar Yesus disalibkan, mereka bahkan bersedia menanggung resiko atau dosa sampai anak-anak mereka. Rasa hormat, cinta bahkan berharap luar biasa pada Tuhan Yesus di waktu Minggu Palmarum bisa berubah sebaliknya tidak sampai hitungan bulan. Sebuah ironi bahwa hari Palmarum ini yang sebenarnya juga bisa terjadi pada diri kita pula. Kita mengingkari Tuhan, karena kecewa dan Tuhan tidak seperti yang kita harapkan dalam hidup ini. Hari ini kita merayakan Minggu Palmarum, mengenang arak-arakan Tuhan Yesus menuju Yerusalem dengan sorak sorai. Sudahkah kita menyambut Tuhan Yesus masuk di dalam hati kita dengan seluruh cinta dan pengharapan kita? Tentu kita tidak akan bersikap seperti halnya orang Israel yang dengan mudah berubah hati dan berbalik mengingkari kesetiaan dan cinta itu. Bagi orang percaya dan pengikut Tuhan Yesus, kesetiaan itu sampai akhir, tidak dipengaruhi oleh apapun bahkan oleh keindahan dunia yang ditawarkannya. Kasih Tuhan Yesus, pengharapan yang dibawa-Nya adalah kekal untuk mereka yang setia. Dalam doa itulah kita berkata Hosanna, Tuhan Yesus hadirlah membawaku dalam keselamatan-Mu. Bawalah aku dalam kedamaian sejati itu untuk menghadirkannya di dunia di tempat di mana aku berada. Palmarum bukan tentang euforia karena kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan harapkan. Palmarum adalah ujian iman kita semua, tetapkah aku setia kepada Tuhan Yesus penebusku di saat apapun yang terjadi di hidup ini? Tuhan memerlukan keledai yang sederhana, bahkan tidak terlihat ke mana setelah tujuan sudah dicapai. Mari kita belajar untuk siap dilupakan, namun tetap setia saat Tuhan memerlukannya. Talenta dan karunia yang diberikan kepada kita berupa kepandaian, harta, juga kesempatan setiap saat diperlukan-Nya. Mari kita tanpa takut dan enggan memberikannya dengan sukacita di hari mengenang-Nya. Bukan teriakan membahana yang diperlukan, namun jalan sederhana nan tetap ketika mengikut, setia sampai kapanpun Tuhan mengajak kita pulang kelak. Palmarum adalah sisi lain jalan salib dan ujian kita adalah setia dan mempertahankannya saat berada dalam dua keadaan itu, suka dan duka sampai kesudahan hidup ini. Dan inilah perjuangan iman yang sebenarnya. Mari bersama-sama menghayati Minggu Palmarum ini sebagai kesempatan untuk mencintai lebih sungguh Tuhan Yesus yang merebut kembali kita dari keberdosaan ini. Sambutlah masa raya ini dengan ungkapan daun Palem yang adalah cinta sejati kita. Setiap lambaian itu sebuah komitmen untuk tetap setia dan menempatkan Tuhan Yesus hadir dalam hati kita. Karena Dialah sumber semangat, pengharapan, dan juga keselamatan kita yang tak akan tergantikan oleh apapun. Dialah Raja untuk hidup bahkan mati kita.

(25032025)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...