SUDUT PANDANG LUKAS 15 : 1-3, 11b-32, đ đ˛đēđđŊđđ đēđ˛đģđđŽđš đ¯đđąđŽđ¸, Serial Paska
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal ungkapan đ´đĻđ¯đĸđ¯đ¨ đŽđĻđđĒđŠđĸđĩ đ°đŗđĸđ¯đ¨ đ´đļđ´đĸđŠ, đ´đļđ´đĸđŠ đŽđĻđđĒđŠđĸđĩ đ°đŗđĸđ¯đ¨ đ´đĻđ¯đĸđ¯đ¨. Itu terjadi akibat pelaku bermental budak.
Hari ini adalah Minggu keempat Pra-Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 15:1-3, 11b-32 yang didahului dengan Yosua 5:9-12, Mazmur 32, dan 2Korintus 5:16-21.
LAI memberi judul đđĻđŗđļđŽđąđĸđŽđĸđĸđ¯ đĩđĻđ¯đĩđĸđ¯đ¨ đĸđ¯đĸđŦ đŠđĒđđĸđ¯đ¨. Judul ini kurang tepat. Justru tekanan pengajaran Lukas terdapat pada kata-kata si ayah kepada anak sulung dalam penutup perumpamaan. Ini adalah đđĻđŗđļđŽđąđĸđŽđĸđĸđ¯ đĩđĻđ¯đĩđĸđ¯đ¨ đĨđļđĸ đĸđ¯đĸđŦ. Semua orang Kristen dewasa dapat dikatakan mengenal perumpamaan ini, tetapi tidak semua orang Kristen memahami perumpamaan ini.
Perumpamaan ini sangat menarik yang dikemas dalam citarasa sastra yang tinggi. Bacaan diawali dengan ayat 1-3 sebagai pengantar, lalu langsung bersambung ke ayat 11b, melompati dua perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang. Dua ayat pembuka berperan sangat penting, karena berpautan erat dengan bagian penutup.
đđĸđŗđĸ đąđĻđŽđļđ¯đ¨đļđĩ đ¤đļđŦđĸđĒ đĨđĸđ¯ đ°đŗđĸđ¯đ¨-đ°đŗđĸđ¯đ¨ đŖđĻđŗđĨđ°đ´đĸ đ´đĻđŽđļđĸđ¯đēđĸ đĨđĸđĩđĸđ¯đ¨ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đ đĻđ´đļđ´ đļđ¯đĩđļđŦ đŽđĻđ¯đĨđĻđ¯đ¨đĸđŗđŦđĸđ¯ đđĒđĸ. (ay. 1) đđĸđđļ đŖđĻđŗđ´đļđ¯đ¨đļđĩ-đ´đļđ¯đ¨đļđĩđđĸđŠ đ°đŗđĸđ¯đ¨-đ°đŗđĸđ¯đ¨ đđĸđŗđĒđ´đĒ đĨđĸđ¯ đĸđŠđđĒ-đĸđŠđđĒ đđĸđļđŗđĸđĩ, đŦđĸđĩđĸ đŽđĻđŗđĻđŦđĸ, “đđŗđĸđ¯đ¨ đĒđ¯đĒ đŽđĻđ¯đĻđŗđĒđŽđĸ đ°đŗđĸđ¯đ¨-đ°đŗđĸđ¯đ¨ đŖđĻđŗđĨđ°đ´đĸ đĨđĸđ¯ đŽđĸđŦđĸđ¯ đŖđĻđŗđ´đĸđŽđĸ-đ´đĸđŽđĸ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đŽđĻđŗđĻđŦđĸ.” (ay. 2)
Ungkapan đ´đĻđŽđļđĸđ¯đēđĸ (ay. 1) tentulah yang dimaksud adalah para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang mau mendengarkan Yesus. Lukas menyajikan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa sebagai satu kelompok yang dianggap tak bermoral dan diperlakukan najis oleh para pemuka Yahudi.
Di Injil Markus dan Matius orang-orang Farisi ditampilkan sebagai kelompok lawan Yesus atau bukan orang baik. Petulis Injil Lukas menyajikan kelompok Farisi sebagai lawan Yesus, tetapi ada juga kelompok yang ditampilkan secara positif (lih. Luk. 11:37; 13:31; 14:1). Dalam konteks bacaan Minggu ini kaum Farisi adalah lawan Yesus yang tidak suka terhadap sikap Yesus yang bergaul dengan para pendosa. Ucapan mereka sinis (lih. ay. 2).
Atas penilaian sinis itu Yesus menyampaikan tiga perumpamaan. Petulis Injil Lukas menyatukan tiga perumpamaan yang senada bersuasana polemik ini bukanlah tanpa alasan. Pada masa awal kekristenan sejumlah warga Kristen ada yang tidak suka kepada anggota-anggota baru yang berasal dari bukan-Yahudi. Ketidaksukaan itu ditunjukkan dalam makan bersama sesudah Ekaristi (Kis. 11:3). Dalam pada itu semakin luas pekabaran Injil bagi bangsa-bangsa lain umat Kristen justru menyalahkan umat Yahudi yang tak mau menerima Injil (Kis. 28:25-28), lalu menolak mereka.
đđĸđđļ đ đĻđ´đļđ´ đŽđĻđ¯đēđĸđŽđąđĸđĒđŦđĸđ¯ đąđĻđŗđļđŽđąđĸđŽđĸđĸđ¯ đĒđ¯đĒ (ay. 3). Pengulasan dibagi ke dalam dua bagian:
▶ Perumpamaan tentang anak bungsu (ay. 11b-24)
▶ Perumpamaan tentang anak sulung (ay. 25-32)
đŖđ˛đŋđđēđŊđŽđēđŽđŽđģ đđ˛đģđđŽđģđ´ đŽđģđŽđ¸ đ¯đđģđ´đđ (ay. 11b-24)
đđĨđĸ đ´đĻđ°đŗđĸđ¯đ¨ đŽđĻđŽđąđļđ¯đēđĸđĒ đĨđļđĸ đĸđ¯đĸđŦ đđĸđŦđĒ-đđĸđŦđĒ. đđ¯đĸđŦ đŖđļđ¯đ¨đ´đļ đŽđĻđŽđĒđ¯đĩđĸ đŖđĸđ¨đĒđĸđ¯ đŠđĸđŗđĩđĸ đŽđĒđđĒđŦ đēđĸđ¯đ¨ đŽđĻđ¯đĢđĸđĨđĒ đŖđĸđ¨đĒđĸđ¯đ¯đēđĸ. đđĸđđļ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŽđĻđŽđŖđĸđ¨đĒ-đŖđĸđ¨đĒđŦđĸđ¯ đŠđĸđŗđĩđĸ đŦđĻđŦđĸđēđĸđĸđ¯đ¯đēđĸ đĒđĩđļ đĨđĒ đĸđ¯đĩđĸđŗđĸ đŽđĻđŗđĻđŦđĸ. đđĻđŖđĻđŗđĸđąđĸ đŠđĸđŗđĒ đŦđĻđŽđļđĨđĒđĸđ¯ đĸđ¯đĸđŦ đŖđļđ¯đ¨đ´đļ đŽđĻđ¯đĢđļđĸđ đ´đĻđđļđŗđļđŠ đŖđĸđ¨đĒđĸđ¯đ¯đēđĸ, đđĸđđļ đąđĻđŗđ¨đĒ đŦđĻ đ¯đĻđ¨đĻđŗđĒ đēđĸđ¯đ¨ đĢđĸđļđŠ đļđ¯đĩđļđŦ đŖđĻđŗđ§đ°đēđĸ-đ§đ°đēđĸ. (ay. 11b-13)
Banyak pendeta menafsir anak bungsu ini kurang ajar, karena meminta bagian atau warisan sebelum ayahnya meninggal. Padahal dalam adat Yahudi praktik membagi warisan saat pewaris masih hidup sudah lazim, meskipun diperingatkan dalam kitab Sirakh (Sir. 33:19-23).
Bacalah secara cermat ayat 12c đđĸđđļ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŽđĻđŽđŖđĸđ¨đĒ-đŖđĸđ¨đĒđŦđĸđ¯ đŠđĸđŗđĩđĸ đŦđĻđŦđĸđēđĸđĸđ¯đ¯đēđĸ đĒđĩđļ đĨđĒ đĸđ¯đĩđĸđŗđĸ đŽđĻđŗđĻđŦđĸ. Bukan hanya si bungsu, si sulung juga menerima warisan. Dalam kitab Ulangan 21:17 anak sulung mendapat lebih besar (2/3), sedang anak bungsu sisanya (1/3). Perbedaannya, tak lama dari itu si bungsu menjual harta bagiannya, lalu pergi ke negeri yang jauh. Meskipun anak bungsu menjual, harta itu tetap dalam penguasaan pewaris. Maksudnya, pembeli baru boleh menguasai aset itu sesudah pewaris meninggal dunia. [Pewaris = pemberi; ahli waris = penerima]
đđĻđ´đļđĨđĸđŠ đļđĸđ¯đ¨ đ´đĒ đŖđļđ¯đ¨đ´đļ đŠđĸđŖđĒđ´, đĩđĒđŽđŖđļđđđĸđŠ đŖđĻđ¯đ¤đĸđ¯đĸ đŦđĻđđĸđąđĸđŗđĸđ¯ đĨđĒ đ¯đĻđ¨đĻđŗđĒ đĒđĩđļ. đđĸ đđĸđđļ đŖđĻđŦđĻđŗđĢđĸ đĨđĒ đđĸđĨđĸđ¯đ¨ đŽđĻđ¯đĢđĸđ¨đĸ đŖđĸđŖđĒ. đđĻđŗđļđĩđ¯đēđĸ đđĸđąđĸđŗ đ´đĸđŽđąđĸđĒ đĒđĸ đŠđĻđ¯đĨđĸđŦ đŽđĸđŦđĸđ¯ đĸđŽđąđĸđ´ đēđĸđ¯đ¨ đŽđĻđ¯đĢđĸđĨđĒ đŽđĸđŦđĸđ¯đĸđ¯ đŖđĸđŖđĒ, đĩđĻđĩđĸđąđĒ đĩđĸđŦ đ´đĻđ°đŗđĸđ¯đ¨ đąđļđ¯ đŽđĻđŽđŖđĻđŗđĒđ¯đēđĸ. đđĻđ¯đēđĸđĨđĸđŗđĒ đŦđĻđĸđĨđĸđĸđ¯đ¯đēđĸ, đĒđĸ đŽđĻđŽđŖđĸđēđĸđ¯đ¨đŦđĸđ¯ đ°đŗđĸđ¯đ¨-đ°đŗđĸđ¯đ¨ đļđąđĸđŠđĸđ¯ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŠđĒđĨđļđą đŖđĻđŗđđĒđŽđąđĸđŠ-đđĒđŽđąđĸđŠ đŽđĸđŦđĸđ¯đĸđ¯. đđĸđĩđĸđ¯đēđĸ, “đđŦđļ đĸđŦđĸđ¯ đŖđĸđ¯đ¨đŦđĒđĩ đĨđĸđ¯ đąđĻđŗđ¨đĒ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đŖđĸđąđĸđŦđļ đĨđĸđ¯ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđ¯đēđĸ: đđĸđąđĸ, đĸđŦđļ đĩđĻđđĸđŠ đŖđĻđŗđĨđ°đ´đĸ đĩđĻđŗđŠđĸđĨđĸđą đ´đļđŗđ¨đĸ đĨđĸđ¯ đĩđĻđŗđŠđĸđĨđĸđą đŖđĸđąđĸ, đĸđŦđļ đĩđĒđĨđĸđŦ đđĸđēđĸđŦ đđĸđ¨đĒ đĨđĒđ´đĻđŖđļđĩ đĸđ¯đĸđŦ đŖđĸđąđĸ. đđĸđĨđĒđŦđĸđ¯đđĸđŠ đĸđŦđļ đ´đĻđŖđĸđ¨đĸđĒ đ´đĻđ°đŗđĸđ¯đ¨ đļđąđĸđŠđĸđ¯ đŖđĸđąđĸ.” (ay. 14-19)
Yang dimaksud dengan đĸđŽđąđĸđ´ adalah kulit kacang-kacangan, sangat murah, biasa untuk makanan ternak. Orang Yahudi jika sampai makan ampas itu, ia akan bertobat, kata Rabi Acha pada abad IV SZB untuk memerikan betapa tak layak ampas dimakan oleh manusia. Lukas di sini hendak mengontraskan keadaan si bungsu dengan orang-orang upahan ayahnya.
Si bungsu memutuskan kembali ke rumah ayahnya. Apakah si bungsu ini bertobat? Tidak. Ia kembali, karena kehabisan uang dan pekerjaannya tidak mampu menghidupinya. Ia memang sadar dengan menghabiskan uangnya ia tidak dapat merawat ayahnya pada masa tuanya. Dalam arti inilah ia telah berdosa terhadap surga (kata surga searti dengan Allah – lih. Dan. 4:26) dan ayahnya dalam hal perintah đđ°đŗđŽđĸđĩđĒđđĸđŠ đĸđēđĸđŠđŽđļ đĨđĸđ¯ đĒđŖđļđŽđļ. Ia kembali ke rumah untuk menjadi orang upahan, bukan meminta diakui anak, bukan diakui keluarga.
đđĸđ¯đ¨đŦđĒđĩđđĸđŠ đĒđĸ đĨđĸđ¯ đąđĻđŗđ¨đĒ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ. đđĻđĩđĒđŦđĸ đĒđĸ đŽđĸđ´đĒđŠ đĢđĸđļđŠ, đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĻđđĒđŠđĸđĩđ¯đēđĸ, đđĸđđļ đĩđĻđŗđ¨đĻđŗđĸđŦđđĸđŠ đŠđĸđĩđĒđ¯đēđĸ đ°đđĻđŠ đŖđĻđđĸđ´ đŦđĸđ´đĒđŠđĸđ¯. đđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŖđĻđŗđđĸđŗđĒ đŽđĻđ¯đĻđŽđļđĒđ¯đēđĸ, đđĸđđļ đŽđĻđŗđĸđ¯đ¨đŦđļđ, đĨđĸđ¯ đŽđĻđ¯đ¤đĒđļđŽđ¯đēđĸ. đđĒ đŖđļđ¯đ¨đ´đļ đŖđĻđŗđļđ¤đĸđą, “đđĸđąđĸ, đĸđŦđļ đĩđĻđđĸđŠ đŖđĻđŗđĨđ°đ´đĸ đĩđĻđŗđŠđĸđĨđĸđą đ´đļđŗđ¨đĸ đĨđĸđ¯ đĩđĻđŗđŠđĸđĨđĸđą đŖđĸđąđĸ, đĸđŦđļ đĩđĒđĨđĸđŦ đđĸđēđĸđŦ đđĸđ¨đĒ đĨđĒđ´đĻđŖđļđĩ đĸđ¯đĸđŦ đŖđĸđąđĸ.” đđŦđĸđ¯ đĩđĻđĩđĸđąđĒ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đŠđĸđŽđŖđĸ-đŠđĸđŽđŖđĸđ¯đēđĸ, “đđĻđŦđĸđ´đđĸđŠ đŖđĸđ¸đĸ đŦđĻđŽđĸđŗđĒ đĢđļđŖđĸđŠ đēđĸđ¯đ¨ đĩđĻđŗđŖđĸđĒđŦ, đąđĸđŦđĸđĒđŦđĸđ¯đđĸđŠ đŦđĻđąđĸđĨđĸđ¯đēđĸ, đĨđĸđ¯ đŦđĻđ¯đĸđŦđĸđ¯đđĸđŠ đ¤đĒđ¯đ¤đĒđ¯ đąđĸđĨđĸ đĢđĸđŗđĒđ¯đēđĸ, đĨđĸđ¯ đ´đĻđąđĸđĩđļ đąđĸđĨđĸ đŦđĸđŦđĒđ¯đēđĸ. đđŽđŖđĒđđđĸđŠ đĸđ¯đĸđŦ đđĻđŽđŖđļ đēđĸđ¯đ¨ đ¨đĻđŽđļđŦ đĒđĩđļ, đ´đĻđŽđŖđĻđđĒđŠđđĸđŠ, đĨđĸđ¯ đŽđĸđŗđĒđđĸđŠ đŦđĒđĩđĸ đŽđĸđŦđĸđ¯ đĨđĸđ¯ đŖđĻđŗđ´đļđŦđĸđ¤đĒđĩđĸ, đ´đĻđŖđĸđŖ đĸđ¯đĸđŦđŦđļ đĒđ¯đĒ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĸđĩđĒ đĨđĸđ¯ đŽđĻđ¯đĢđĸđĨđĒ đŠđĒđĨđļđą đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ, đĒđĸ đĩđĻđđĸđŠ đŠđĒđđĸđ¯đ¨ đĨđĸđ¯ đĨđĒđĨđĸđąđĸđĩ đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ.” đđĸđđļ đŽđĻđŗđĻđŦđĸ đŖđĻđŗđ´đļđŦđĸ đŗđĒđĸ. (ay. 20-24)
Frase đĩđĻđŗđ¨đĻđŗđĸđŦđđĸđŠ đŠđĸđĩđĒđ¯đēđĸ đ°đđĻđŠ đŖđĻđđĸđ´ đŦđĸđ´đĒđŠđĸđ¯ sering digunakan oleh petulis Injil sinoptik yang merujuk Yesus segera memberi pertolongan. Di Injil Lukas 7:13 frase itu diterapkan kepada Yesus yang langsung menolong janda dari Nain dengan membangkitkan anaknya yang mati. Ungkapan đĩđĻđŗđ¨đĻđŗđĸđŦđđĸđŠ đŠđĸđĩđĒđ¯đēđĸ đ°đđĻđŠ đŖđĻđđĸđ´ đŦđĸđ´đĒđŠđĸđ¯ diterjemahkan dari hanya satu kata đĻđ´đąđđĸđ¯đ¤đŠđ¯đĒđ´đĩđŠe. Akar katanya adalah đ´đąđđĸđ¯đ¤đŠđ¯đĸ yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Apabila perut sebagai pusat emosi, maka orang dengan perut kosong segera ditolong diberi makan, bukan diceramahi agama.
Adegan si ayah merangkul dan mencium si bungsu seperti yang terjadi antara Esau dan Yakub (Kej. 33:4) dan antara Yusuf dan Benyamin (IKej. 45:14). Mencium bukan sekadar ungkapan “selamat datang”, melainkan ungkapan kasih (bdk. 2Sam. 14:33).
Ucapan si bungsu persis yang direncanakannya, tetapi ia belum sempat memohon ayahnya agar ia dijadikan orang upahan, karena ayahnya langsung memotong ucapan si bungsu dengan memberi perintah para hambanya untuk menyiapkan pesta guna menyambut anaknya. Tanggapan si ayah melampaui ekspektasi si bungsu. Pemberian busana dan kelengkapannya membuat si bungsu menjadi orang terhormat, tepercaya, berwibawa, dan tentu saja ia tetaplah anak, bukan orang upahan. Perintah si ayah kepada para hamba itu sekaligus membuktikan bahwa pewaris masih berkuasa atas harta yang sudah diwariskan sampai si pewaris mati.
Penting untuk dipahami pada bagian ini bahwa si ayah tidak ambil pusing atas motivasi si bungsu pulang. Si ayah juga tidak mengucap pengampunan satu patah kata pun. “đ đĸđ¯đ¨ đąđĻđ¯đĩđĒđ¯đ¨ đĸđ¯đĸđŦđŦđļ đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đ´đĻđđĸđŽđĸđĩ.” Begitu kira-kira.
Yesus juga tidak mengenalkan si bungsu sebagai teladan pertobatan. Mengapa dan bagaimana mengetahuinya? Jika si bungsu adalah teladan pertobatan, maka perumpamaan berakhir di sini. Ternyata perumpamaan ini belum selesai, masih bersambung.
đŖđ˛đŋđđēđŊđŽđēđŽđŽđģ đđ˛đģđđŽđģđ´ đŽđģđŽđ¸ đđđšđđģđ´ (ay. 25-32)
đđĻđĩđĒđŦđĸ đ´đĒ đ´đļđđļđ¯đ¨ đąđļđđĸđ¯đ¨ đĨđĸđŗđĒ đŖđĻđŦđĻđŗđĢđĸ đĨđĒ đđĸđĨđĸđ¯đ¨ đĨđĸđ¯ đŽđĻđ¯đĨđĻđŦđĸđĩ đŗđļđŽđĸđŠ, đĒđĸ đŽđĻđ¯đĨđĻđ¯đ¨đĸđŗ đ´đļđĸđŗđĸ đŽđļđ´đĒđŦ đĨđĸđ¯ đ¯đēđĸđ¯đēđĒđĸđ¯ đĩđĸđŗđĒ-đĩđĸđŗđĒđĸđ¯. đđĸ đŽđĻđŽđĸđ¯đ¨đ¨đĒđ đ´đĻđ°đŗđĸđ¯đ¨ đŠđĸđŽđŖđĸ đĨđĸđ¯ đŖđĻđŗđĩđĸđ¯đēđĸ đĸđąđĸ đĸđŗđĩđĒ đ´đĻđŽđļđĸđ¯đēđĸ đĒđĩđļ. đđĸđ¸đĸđŖ đŠđĸđŽđŖđĸ đĒđĩđļ, “đđĨđĒđŦđŽđļ đĩđĻđđĸđŠ đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ đĨđĸđ¯ đĸđēđĸđŠđŽđļ đŽđĻđ¯đēđĻđŽđŖđĻđđĒđŠ đĸđ¯đĸđŦ đđĻđŽđŖđļ đēđĸđ¯đ¨ đ¨đĻđŽđļđŦ, đŦđĸđŗđĻđ¯đĸ đĒđĸ đŽđĻđ¯đĨđĸđąđĸđĩđ¯đēđĸ đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ đĨđĸđđĸđŽ đŦđĻđĸđĨđĸđĸđ¯ đ´đĻđŠđĸđĩ.” đđĒ đ´đļđđļđ¯đ¨ đŽđĸđŗđĸđŠ đĨđĸđ¯ đĩđĸđŦ đŽđĸđļ đŽđĸđ´đļđŦ. (ay. 25-28a)
Jawaban hamba itu yang menonjolkan đĸđēđĸđŠđŽđļ đŽđĻđ¯đēđĻđŽđŖđĻđđĒđŠ đĸđ¯đĸđŦ đđĻđŽđŖđļ đēđĸđ¯đ¨ đ¨đĻđŽđļđŦ menyulut kemarahan si sulung. Mengapa? Anak lembu lazimnya disembelih pada hari raya. Si sulung tampaknya tak mau menerima sambutan atas adiknya dengan berpesta layaknya hari raya. Begitu berharganya simbol anak lembu sampai-sampai si sulung hendak memutuskan relasi (CUT OFF) dengan tak mau masuk ke rumah.
đđĸđđļ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŦđĻđđļđĸđŗ đĨđĸđ¯ đŽđĻđŽđŖđļđĢđļđŦđ¯đēđĸ. đđĸ đŽđĻđ¯đĢđĸđ¸đĸđŖ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ, “đđĒđŠđĸđĩđđĸđŠ, đĸđŦđļ đĩđĻđđĸđŠ đŖđĻđŗđĩđĸđŠđļđ¯-đĩđĸđŠđļđ¯ đŽđĻđđĸđēđĸđ¯đĒ đŖđĸđąđĸ đĨđĸđ¯ đŖđĻđđļđŽ đąđĻđŗđ¯đĸđŠ đĸđŦđļ đŽđĻđđĸđ¯đ¨đ¨đĸđŗ đąđĻđŗđĒđ¯đĩđĸđŠ đŖđĸđąđĸ, đĩđĻđĩđĸđąđĒ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŦđļ đŖđĻđđļđŽ đąđĻđŗđ¯đĸđŠ đŖđĸđąđĸ đŽđĻđŽđŖđĻđŗđĒđŦđĸđ¯ đ´đĻđĻđŦđ°đŗ đĸđ¯đĸđŦ đŦđĸđŽđŖđĒđ¯đ¨ đļđ¯đĩđļđŦ đŖđĻđŗđ´đļđŦđĸđ¤đĒđĩđĸ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đ´đĸđŠđĸđŖđĸđĩ-đ´đĸđŠđĸđŖđĸđĩđŦđļ. đđĻđĩđĸđąđĒ đŖđĸđŗđļ đ´đĸđĢđĸ đĸđ¯đĸđŦ đŖđĸđąđĸ đēđĸđ¯đ¨ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĻđŽđŖđ°đŗđ°đ´đŦđĸđ¯ đŠđĸđŗđĩđĸ đŖđĸđąđĸ đŖđĻđŗđ´đĸđŽđĸ-đ´đĸđŽđĸ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đąđĻđđĸđ¤đļđŗ-đąđĻđđĸđ¤đļđŗ, đŽđĸđŦđĸ đŖđĸđąđĸ đŽđĻđ¯đēđĻđŽđŖđĻđđĒđŠ đĸđ¯đĸđŦ đđĻđŽđŖđļ đ¨đĻđŽđļđŦ đļđ¯đĩđļđŦ đĨđĒđĸ.” (ay. 28b-30)
Kata đŽđĻđđĸđēđĸđ¯đĒ (ay. 29) diterjemahkan dari đĨđ°đļđđĻđļo yang berarti literal menghamba. Si sulung memandang dirinya hamba yang selalu siap melakukan segala perintah majikan (bapanya). Si sulung menonjolkan keteladanannya dan sangat percaya diri bahwa ia harus lebih diutamakan. Namun, si sulung merasa tak dihargai oleh ayahnya, bahkan menghadiahi seekor anak kambing yang jauh lebih murah daripada anak lembu pun tidak. Di sini si sulung sekaligus mengukuhkan dirinya bermental budak yang harga dirinya senilai seekor anak kambing.
Puncak amarah si sulung yang hendak memutus relasi diungkapkan dengan đĸđ¯đĸđŦ đŖđĸđąđĸ (đŠđ° đŠđļđĒđ°đ´ đ´đ°đļ = đĸđ¯đĸđŦđŽđļ). Ia tidak menyebut đĸđĨđĒđŦđŦđļ (ay. 30). Ia sudah menghina ayahnya sendiri. Ia sudah terperangkap dalam jiwa hamba/budak yang menyembah hukum atau legalitas.
đđĸđĩđĸ đĸđēđĸđŠđ¯đēđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđ¯đēđĸ, “đđ¯đĸđŦđŦđļ, đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đ´đĻđđĸđđļ đŖđĻđŗđ´đĸđŽđĸ-đ´đĸđŽđĸ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đĸđŦđļ, đĨđĸđ¯ đ´đĻđ¨đĸđđĸ đŽđĒđđĒđŦđŦđļ đĸđĨđĸđđĸđŠ đŽđĒđđĒđŦđŽđļ. đđĒđĩđĸ đąđĸđĩđļđĩ đŖđĻđŗđ´đļđŦđĸđ¤đĒđĩđĸ đĨđĸđ¯ đŖđĻđŗđ¨đĻđŽđŖđĒđŗđĸ, đŦđĸđŗđĻđ¯đĸ đĸđĨđĒđŦđŽđļ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĸđĩđĒ đĨđĸđ¯ đŽđĻđ¯đĢđĸđĨđĒ đŠđĒđĨđļđą đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ, đĒđĸ đĩđĻđđĸđŠ đŠđĒđđĸđ¯đ¨ đĨđĸđ¯ đĨđĒđĨđĸđąđĸđĩ đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ.” (ay. 31-32)
Tokoh sentral dalam perumpamaan ini adalah si ayah. Ia tidak mencela si sulung dan tidak membela si bungsu. Si ayah tidak meragukan pengabdian si sulung. Si ayah malah menjelaskan bahwa relasi ia dan si sulung tidak pernah mati. Bahkan si sulung sudah mendapat kepastian hak warisan, bahkan lebih besar daripada adiknya. Namun, karena si sulung bermental budak, ia tidak mampu melihat itu dan menikmati segala kelimpahannya.
Dalam penutup perumpamaan tidak dijelaskan apakah bujukan si ayah berhasil meluluhkan si sulung untuk mengakui adiknya kembali dan turut bersukacita dalam pesta. Ucapan si ayah dalam penutup adalah inti pengajaran kepada para pendengar untuk ambil bagian dalam sukacita Allah ketika para pendosa đąđļđđĸđ¯đ¨. Mampukah “orang-orang benar” mengasihi para pendosa seperti Allah mengasihi manusia sebagai anak-anak-Nya? Kesalehan manusia tidak hanya diukur dengan melakukan dan memelihara perintah-perintah Allah saja, melainkan juga menerima para pendosa yang kembali ke jemaat. Dengan begitu manusia memupus mental budak.
(30032025)(TUS)