Misteri Paska (Mysterium Paschale) adalah puncak dan pusat perayaan liturgi. Dalam Perjamuan Kudus atau Ekaristi secara aklamasi umat menyatakan iman: kematian Kristus kita wartakan, kebangkitan Kristus kita rayakan, kedatangan Kristus kita nantikan. Dengan demikian gatra Ekaristi mencakup eskatologis bukan saja berpautan dengan kematian dan kebangkitan Yesus. Pada Jumat Agung Yesus baru masuk ke gatra sengsara atau kematian. Belum bangkit, apalagi parousia. Melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung adalah tidak tepat baik secara teologis maupun liturgis!
Sehari sebelum Jumat Agung adalah Kamis Putih, yang diindonesiakan dari Maundy Thursday. Mengapa tidak diindonesiakan menjadi Kamis Mandat? Mengapa Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan Pemindahan Peralatan Sakramen. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu adalah simbol bahwa gereja tidak lagi melayankan sakramen sampai Sabtu Sunyi. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Itu sebabnya disebut Kamis Putih.
Ada pendeta berkhotbah dengan lantang: ibadah sesungguhnya adalah ketika kalian keluar dari gereja dan melakukan perbuatan-perbuatan sehari-hari, bukan tampak baik saat beribadah di dalam gereja. Ucapan pendeta ini tampaknya baik dan bijak, tetapi sebenarnya ia tidak tahu apa-apa mengenai liturgi.
Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ibadah aksi adalah cerminan ibadah selebrasi. Jika ibadah selebrasinya amburadul, liturginya tidak mengajar, ya otomatis ibadah aksi turut kusut. Mau membawa misi apa dari ibadah selebrasi yang tidak mendidik?
Banyak Gereja (Protestan) merayakan Kamis Putih karena latah, ikut-ikutan. Pemimpin umatnya tidak memahami makna teologis dan liturgis Kamis Putih. Buktinya mereka melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung. Namanya juga ibadah selebrasi, pendeta-pendeta itu tak ubahnya para seleb yang sedang manggung disaksikan ratusan bahkan ribuan pasang mata umat yang seolah-olah para pemuja mereka. Mungkin para pendeta itu bisa belasan kali orgasme di mimbar dan di altar karena dipuja-puja oleh umat. Dibayar pulak! Nikmat apa lagi yang kau dustakan?
(24042025)(TUS)