Sesudah melewati masa Pra-Paska yang cukup panjang, lalu Trihari Suci, Minggu lalu umat Kristen menyambut Kebangkitan Kristus dengan penuh sukacita. Gereja menampung kegembiraan ini dalam masa raya Paska yang cukup panjang hingga puncaknya pada hari ke-50 yang disebut dengan Hari Pentakosta.
Dalam memberitakan kebangkitan Yesus keempat Kitab Injil menampilkan paradoks. Tubuh Yesus sebelum mati dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Sama karena ciri fisikal persis seperti sebelumnya. Ada luka di lambung dan di tangan (serta makan-minum bersama dengan murid-murid-Nya). Berbeda karena Yesus-Paska tidak langsung dikenali oleh para murid dan dapat tiba-tiba hadir serta menghilang dari ruangan terkunci.
Meskipun sama-sama menampilkan paradoks, keempat Injil menyampaikan pesan yang berbeda. Setiap Injil ditulis diperuntukkan menjawab kegalauan jemaat masing-masing petulis Injil. Kita, umat Kristen saat ini, beruntung dapat membaca keempat Kitab Injil sekaligus sehingga dapat membandingkan pelbagai pergumulan di dalam jemaat mula-mula.
Injil Yohanes menjadi bacaan favorit orang Kristen karena memuat ayat “eksklusif” Yohanes 14:6. Padahal Injil Yohanes paling sukar ditafsir di antara keempat kitab Injil, karena corak sastranya berbeda dan pengarang Injil Yohanes lebih daripada satu orang. Injil Yohanes justru mau mengatakan bahwa iman otentik adalah hasil belajar mendalam, bukan percaya lantaran melihat mukjizat. Injil Yohanes mengecam orang-orang Kristen bermental 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩.
Hari ini adalah Minggu kedua Paska. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Yohanes 20:19-31 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 5:27-32, Mazmur 118:14-29, dan Wahyu 1:4-8.
Kisah penampakan Yesus-Paska pada pasal 20 dikelompokkan ke dalam dua babak:
▶ Babak kesatu (Yoh. 20:1-18): Yesus-Paska menampakkan diri kepada Maria Magdalena (MM).
▶ Babak kedua (Yoh. 20:19-31): Yesus-Paska menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.
Bacaan Injil untuk Minggu ini adalah babak kedua penampakan Yesus-Paska menurut Injil Yohanes. Babak kedua mengisahkan Yesus yang sudah bangkit (selanjutnya saya sebut 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴-𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢) menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sebelum Yesus menampakkan diri, para murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci rapat. Mengapa dikunci rapat? Para murid dikatakan takut pada orang-orang Yahudi. Takut pada teror yang dilancarkan oleh pasukan Roma. Tentu ini sangat dipahami, karena beberapa hari sebelumnya Yesus, Pemimpin mereka, dihukum mati secara sadis. Suasana horor ini membuat para murid ketakutan jangan-jangan orang-orang Yahudi dan pasukan Roma segera menangkap para pengikut dekat Yesus.
Tiba-tiba Yesus-Paska menampakkan diri di hadapan mereka dalam tempat yang terkunci rapat itu dan berkata, “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” (ay. 19-20). Yesus kemudian menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Para murid sangat bersukacita ketika mereka melihat-Nya. Yesus berkata lagi, “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶. 𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘴𝘢-𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪.” Saat itu Thomas tidak ada. (ay. 21-24)
Tomas yang juga disebut Didimus diperikan sebagai seorang melankolis oleh penafsir Perjanjian Baru. Ia menyendiri murung terpisah dari para koleganya. Ketika para koleganya ditemui oleh Yesus-Paska, mereka menyampaikan berita ini kepada Tomas. Akan tetapi Tomas tidak percaya sebelum ia melihat bekas luka paku di tangan Yesus dan mencucukkan jarinya ke lambung Yesus bekas tusukan tombak tentara Romawi. Delapan hari kemudian Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan Ia menantang Tomas menyentuh luka-luka di tangan dan mencucukkan jari ke lambung bekas luka Yesus. Tomas bukannya menyentuh, melainkan berseru, “𝘖𝘩, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶!”. Kata Yesus kepada Tomas, “𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. 𝘽𝙚𝙧𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩, 𝙣𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖.” (ay. 24-29)
Sebelum kita menyoal bacaan Minggu ini, kita melihat dulu latar belakang penulisan Injil Yohanes. Tidaklah jelas siapa petulis Injil Yohanes. Para ahli menduga kuat petulisnya dari Komunitas Yohanes pengikut Kristus. Pada mulanya Komunitas Yohanes mewartakan kepada orang-orang Yahudi di sinagog bahwa Yesus adalah Sang Mesias Yahudi yang dinantikan. Mesias yang lebih besar daripada Nabi Musa dan Elia. Kampanye mereka mereka semula berhasil sehingga banyak orang Yahudi beralih menjadi anggota Komunitas Yohanes. Akan tetapi para pemuka agama Yahudi tidak suka melihat keberhasilan kampanye Komunitas Yohanes.
Para elit Yahudi kemudian mengaji Kitab Suci atau 𝘮𝘪𝘥𝘳𝘢𝘴𝘩 guna membuktikan bahwa Yesus tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi Mesias Yahudi. Dalam pada itu mereka mengucilkan orang-orang Yahudi-Kristen Komunitas Yohanes dari sinagog. Komunitas Yohanes bereaksi dengan mengajukan pendakuan kristologis radikal yang menghancurkan seluruh bangunan Yudaisme. Akibatnya para pemuka Yahudi makin mengucilkan dan bahkan melakukan penganiayaan terhadap anggota Komunitas Yohanes.
Penderitaan yang amat berat ini membuat mereka memandang orang-orang Yahudi yang menganiaya mereka sebagai keturunan iblis. Mereka mencari penguatan teologis untuk menolong dan menguatkan mereka bahwa Yesus itu ilahi, kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Saat Sang Firman 𝘯𝘶𝘻𝘶𝘭 menjadi Manusia, Ia ditolak oleh bangsa-Nya sendiri dan oleh dunia yang membenci-Nya. Para pengikut Yesus pun demikian. Mereka ditolak oleh dunia dan Yesus menjanjikan kepada mereka untuk sampai kepada Allah, Bapa-Nya, harus lewat diri-Nya (lih. Yoh. 14:6).
Kembali ke bacaan Minggu ini kita melihat lokasi penampakan Yesus di babak kesatu dan babak kedua berbeda. Ketika Yesus-Paska menampakkan diri untuk kali pertama, Ia menampakkan diri di kubur kepada MM. MM hendak memegang Yesus, tetapi Yesus menolak karena Ia belum pergi kepada Bapa-Nya. Yesus memerintahkan MM agar pergi kepada para murid dan memberitahukan bahwa Ia pada saat itu (𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 dalam bacaan) akan pergi kepada Bapa-nya (Yoh. 20:17).
Pada babak kedua (bacaan Minggu ini, Yoh. 20:19-31) mengandaikan Yesus sudah pergi kepada Bapa-Nya. Penafsiran ini didukung oleh dua hal:
(1) Yesus sudah dapat memberikan Roh Kudus kepada para murid (ay. 22) dan
(2) Yesus sudah boleh disentuh seperti yang dikatakan-Nya kepada Tomas (ay. 27).
Bandingkan dengan Yohanes 1:33 … 𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 dan Yohanes 7:39 … 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘙𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯. Yesus juga memberi kuasa Roh Kudus kepada para murid agar mereka berkuasa untuk mengampuni dosa atau menyucikan orang (ay. 23).
[𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘭𝘰𝘬 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘓𝘶𝘬𝘢𝘴/𝘒𝘪𝘴. 𝘝𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴: 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘝𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘓𝘶𝘬𝘢𝘴/𝘒𝘪𝘴.: 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴, 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘗𝘦𝘯𝘵𝘢𝘬𝘰𝘴𝘵𝘢.]
Ada dua ucapan penting Yesus dalam babak akhir ini:
▶ Dalam pertemuan kesatu (tanpa Tomas) Yesus berkata, “𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘴𝘢-𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪.” (ay. 22-23).
▶ Dalam pertemuan kedua (Tomas hadir) Yesus berkata, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢.” (ay. 20:29)
Kedua ucapan penting itu sebenarnya ditujukan kepada jemaat petulis Injil Yohanes. Ucapan kesatu (ay. 23) dituliskan karena diduga ada konflik di dalam jemaat Yohanes. Mereka diingatkan untuk mengampuni atau menyucikan sesama warga komunitas. 𝘚𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 di sana (ay. 23) adalah anggota kelompok yang bertobat dan mau kembali ke dalam Komunitas Yohanes. Mereka yang tidak mau bertobat dan tidak bergabung lagi dianggap 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢. Tampaknya ada anggota Komunitas Yohanes yang menyempal karena dipengaruhi oleh paham Gnostik yang menolak Yesus-Ragawi. Hal itu tampak dalam Surat Kedua Yohanes ayat 7 “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢. 𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴.“
Secara tekstual tema kasih di Injil Yohanes memang "terbatas". Yohanes 15:17 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. Tidak ada perintah untuk mengasihi musuh. Hanya ada perintah untuk mengasihi sesama murid. Tidaklah berlebihan apabila diduga kuat di dalam Komunitas Yohanes itu ada konflik sehingga mungkin ada warga yang keluar. Jadi, orang yang perlu diampuni dosanya hanyalah mereka yang mau bergabung kembali. Komunitas Yohanes merupakan kelompok militan yang eksklusif dan banyak musuhnya.
Ucapan penting kedua (ay. 29) ditulis karena tampaknya ada anggota jemaat atau komunitas yang tidak berbahagia karena belum (pernah) melihat Yesus-Paska. Kemungkinan umat yang sudah melihat Yesus-Paska merasa lebih unggul daripada mereka yang belum pernah melihat. Petulis Injil Yohanes mengingatkan bahwa dasar kehidupan jemaat adalah percaya tanpa melihat bukti historis dan empiris. Dasar untuk memeroleh hidup adalah percaya. Hal itu ditegaskan lagi dalam penutup Injil Yohanes (ay. 30-31): 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘯𝘪, 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙩𝙪𝙢 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙘𝙖𝙩𝙖𝙩, 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖, 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙔𝙚𝙨𝙪𝙨𝙡𝙖𝙝 𝙈𝙚𝙨𝙞𝙖𝙨, 𝘼𝙣𝙖𝙠 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙞𝙢𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙧𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙣𝙖𝙢𝙖-𝙉𝙮𝙖.
(2702025)(TUS)