Senin, 23 Juni 2025

SUDUT PANDANG Matius 5:29-30 dan Markus 9:47 DIMULAI DARI DIRI SENDIRI, KENDALIKAN DIRI DAN KENDALIKAN OTAK, CEGAH TINDAKAN JAHAT DARI DIRI

SUDUT PANDANG Matius 5:29-30 dan Markus 9:47 DIMULAI DARI DIRI SENDIRI, KENDALIKAN DIRI DAN KENDALIKAN OTAK, CEGAH TINDAKAN JAHAT DARI DIRI

PENGANTAR
 
yg lagi viral, ibu-ibu berhijab sampai mukul anak remaja perempuan yg pakai baju ketat, menggantung, gegara suaminya ngliat sampai dlenger dan melotot, bukan suaminya yg di pukul atau digethok tapi malah anak perempuannya yg dipukul


MENGELOLA PIKIR SERTA MENGENDALIKAN DIRI

Matius 5:29-30 dan Markus 9:47
"Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu dari padamu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada seluruh tubuhmu dicampakkan ke dalam neraka." (Matius 5:29)

"Dan jika matamu menKyesatkan engkau, cungkillah itu; 6 baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu, dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka." (Markus 9:47)

Ayat-ayat ini menekankan pentingnya menghindari dosa dan memiliki komitmen untuk hidup dalam kebenaran, bahkan jika itu berarti melakukan pengorbanan besar. Yesus menggunakan contoh mata sebagai simbol untuk menunjukkan bahwa jika sesuatu yang sangat berharga bagi kita menyebabkan kita berbuat dosa, maka kita harus meninggalkannya demi keselamatan jiwa kita. Ini menekankan prioritas spiritual dan konsekuensi dari dosa.
kalau ajaran kita jelas buanget, kontrolah otak atau pikiran kita, jangan salahkan orang lain, dimulai dari diri sendiri :
Ayat-ayat tersebut dapat dikaitkan dengan pemahaman bahwa pikiran atau otak yang jahat dapat menjadi sumber dosa sebelum tindakan jahat dilakukan.

Dalam konteks ini, "mata yang kanan menyesatkan" dapat diartikan sebagai simbol untuk pikiran atau keinginan yang jahat yang dapat membawa kita kepada dosa. Yesus menekankan pentingnya menghindari pikiran atau keinginan yang jahat tersebut, bahkan jika itu berarti melakukan pengorbanan besar, demi keselamatan jiwa kita.

Dengan demikian, ayat-ayat tersebut dapat diartikan sebagai panggilan untuk memiliki kontrol atas pikiran dan keinginan kita, serta untuk menghindari pikiran atau keinginan yang dapat membawa kita kepada dosa, kendali diri.

Dalam psikologi dan neurosains, telah diketahui bahwa pikiran dan keinginan dapat mempengaruhi perilaku kita. Oleh karena itu, memiliki kontrol atas pikiran dan keinginan kita dapat membantu kita untuk menghindari perilaku yang jahat dan membuat pilihan yang lebih baik.

Dalam konteks spiritual, ayat-ayat tersebut menekankan pentingnya memiliki komitmen untuk hidup dalam kebenaran dan menghindari dosa, serta untuk memprioritaskan keselamatan jiwa kita di atas segala-galanya dg kontrol pikiran dan kendali diri.


A. Peran Otak dalam Mengendalikan Tindakan Jahat atau Baik

Otak manusia memainkan peran penting dalam mengendalikan tindakan jahat atau baik. Penelitian neurosains dan psikologi telah menunjukkan bahwa otak memiliki struktur dan fungsi yang kompleks yang mempengaruhi perilaku manusia.


B. Struktur Otak yang Terkait dengan Perilaku

Beberapa struktur otak yang terkait dengan perilaku jahat atau baik antara lain:

1. Korteks Prefrontal: Korteks prefrontal bertanggung jawab untuk mengatur perilaku, membuat keputusan, dan mengontrol impuls. Kerusakan pada korteks prefrontal dapat menyebabkan perilaku impulsif dan agresif.
2. Amigdala: Amigdala bertanggung jawab untuk mengatur emosi, seperti rasa takut dan marah. Aktivitas amigdala yang berlebihan dapat menyebabkan perilaku agresif.
3. Sistem Dopamin: Sistem dopamin terkait dengan penghargaan dan motivasi. Aktivitas sistem dopamin yang berlebihan dapat menyebabkan perilaku adiktif.


C.Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Jahat atau Baik

Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku jahat atau baik antara lain:

1. Genetik: Faktor genetik dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak, yang dapat mempengaruhi perilaku.
2. Lingkungan: Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku melalui proses pembelajaran dan pengalaman.
3. Pendidikan: Pendidikan dapat mempengaruhi perilaku dengan mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma sosial.


D. Upaya untuk Mengendalikan Perilaku Jahat

Beberapa upaya untuk mengendalikan perilaku jahat antara lain:

1. Pendidikan: Pendidikan dapat membantu mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang positif.
2. Terapi: Terapi dapat membantu mengatasi masalah perilaku dengan mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang negatif.
3. Pengawasan: Pengawasan dapat membantu mencegah perilaku jahat dengan memantau dan mengontrol perilaku individu.

Dalam kesimpulan, otak memainkan peran penting dalam mengendalikan tindakan jahat atau baik. Faktor genetik, lingkungan, dan pendidikan dapat mempengaruhi perilaku, dan upaya untuk mengendalikan perilaku jahat dapat dilakukan melalui pendidikan, terapi, dan pengawasan.

Terkait dg busana dalam peribadatan di gereja, sebetulnya semua adalah tanggung jawab pribadi, tergantung hubungannya batin pribadinya dg Sang khalik terkait busana yang akan digunakan. Peribadatan adalah relasi kita dg Allah, pertinyiinnya kenapa kita masih ngurusi busana orang lain? biarlah busana yg dipakai adalah pertanggungan jawabannya secara pribadi. Kita juga tidak pernah tifpunya hak untuk menghakimi busana orang lain terkait peribadatan di gereja. Dalam waras, tetep waras. 

YANG TERDIDIK,  YANG HILANG LOGIKA - Fenomena

Fenomena tidak mengendalikan diri dan tidak menggunakan nalar logika walaupun terdidik mengkhawatirkan yang ramai di media teve swasta dan media sosial hari hari ini adalah munculnya individu-individu terdidik dan bergelar, memimpin lembaga bergengsi, pakar di bidangnya - tapi justru menunjukkan penyimpangan logika karena banyak mengirim pernyataan bernada sentimen negatif dan kebencian.

Amin Rais, Ikrar Nusa Bakti, Hamid Awaludin,  masing masingnya bergelar profesor, doktor. Demikian juga Refly Harun, Said Didu dan Ray Rangkuti. Lalu, Rocky Gerung, meski bukan profesor pernah menjadi dosen pembimbing skripsi filsafat bagi aktris Dian Sastro di Universitas Indonesia. 

Mereka orang pintar yang masing masingnya banyak membaca buku, menelaah dan menyusun analisa. Pendidikan formalnya setara S2 dan S3. Namun ucapan dan pernyataan mereka -  dalam sentimen politik di media -  tak beda dengan lulusan sekolah menengah.  Bahkan setara dengan anggota ormas penunggu tanah sangketa. 

Meski memiliki kecerdasan kognitif tinggi, banyak intelektual yang fotonya terpampang di atas memiliki kecerdasan emosional rendah dalam mengelola konflik.  Dalam ungkapan sederhana Pak De saya di kampung: "wong pinter sing keblinger". Orang pintar yang tersesat. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan formal saja tidak cukup untuk melindungi individu dari jerat kebencian politik. 

SAYA mencoba mencari  referensi yang relevan; kajian dan analisis mendalam,  khususnya dari perspektif psikologi dan politik kekuasaan terkait fenomena ini. Saya menemukan, teori kognitif yang menjelaskan bagaimana bias psikologis telah memengaruhi penalaran kelompok terdidik.

Menurut filsus Prancis, Michel Foucault, pengetahuan dan kekuasaan saling terkait erat. Dominasi modern termanifestasi melalui wacana yang menggunakan bahasa sebagai instrumennya . 

Kaum terdidik memiliki akses terhadap alat-alat wacana ini, sehingga kebencian mereka bisa lebih tersistematisir.  “Kebencian sering berakar pada rasa tidak aman yang mendalam, ” katanya. 

Kaum intelektual yang merasa status atau pencapaiannya terancam mungkin memproyeksikan ketidakamanan dirinya itu melalui serangan terhadap "kelompok lain" .

Pada kaum terdidik, identifikasi kelompok ini bisa lebih kuat karena didukung oleh "pengetahuan" yang mereka miliki. 

Dalam konteks kebencian, kaum terdidik cenderung mencari informasi yang menguatkan prasangka mereka sambil mengabaikan bukti yang bertentangan.

Kita sama sama tahu, manusia secara alami cenderung membentuk kelompok berdasarkan kesamaan ideologi, agama, atau politik. Sisi gelapnya adalah kecenderungan meremehkan kelompok luar (‘out-group’) sambil mengagungkan kelompok sendiri (‘in-group’) . 

Di sisi lain, kekuasaan politik memiliki peran sentral dalam memanfaatkan kebencian kaum terdidik untuk kepentingannya.

Pemimpin politik dan intelektual sering terjebak dalam situasi kompleks yang memerlukan pemrosesan informasi cepat, namun keputusan mereka justru dipengaruhi bias kognitif seperti bias konfirmasi . 

Kaum terdidik sering menjadi alat penyebar stereotip ini karena kapasitas intelektual mereka. Sebagiannya menyediakan diri sebagai alat penyalur kebencian atas nama dendam pribadi dan beda paham. Juga pelampiasan dari kehidupan diri yang menyakitkan. 

Mereka dimanfaatkan oleh kelompok kecewa yang tersisih dari kekuasaan, diberhentikan jabatannya sebagai komisaris, tender perusahaannya ditolak, sehingga menumpang kepada pihak  yang menguntungkan mereka, termasuk dengan menciptakan stereotip negatif terhadap kelompok lawan.

DI INDONESIA, politik kebencian sering dibungkus dengan agama dan budaya untuk memantik sentimen kelompok tertentu.  Hampir dalam setip era pemerintahan ada tuduhan kepada “presiden anti Islam” : "Sukarno anti Islam" - "Suharto Anti Islam", "Mega anti Islam" - "SBY Anti Islam" - "Jokowi Anti Islam". Tudingan memamah biak. Asal gobleg. Dan para “jemaah IQ-78,45” menelan mentah mentah. 

Kaum intelektual juga kerap terjebak dalam narasi ini -  karena kemampuan mereka dalam memberikan "pembenaran akademis" terhadap kebencian tersebut. 

"Saya ini ahli... saya pakar ...latar belakang pendidikan akademis saya di bidang ini....." begitulah cara mereka meminta pengakuan.

Dalam situasi frustrasi sosial, kelompok terdidik mencari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya. Kaum terdidik mungkin ikut menyebarkan narasi politisi yang sedang mencari jabatan.

Menarik ucapan artis cantik muda belia yang menampar telak para penyinyir. Menurut Cinta Laura Kiehl, para penyinyir adalah orang yang tak bahagia hidupnya dia melampiaskan frustasi dirinya, dengan menyinyiri orang lain..

Cinta Laura bukan artis kaleng kaleng.  Dia peraih dua gelar "cum laude" dari Universitas Columbia, New York; lulus dari jurusan Psikologi dan Sastra Jerman dengan IP 3,9. Masuk kategori 20 persen dari 1.000 lebih mahasiswa Columbia yang mampu menuntaskan kuliahnya hanya dalam tiga tahun.

Hubungan simbiosis antara pengetahuan yang dimiliki para akademisi dan kekuasaan politisi oposan menciptakan distorsi logika. Begitulah kajian Falcout.

Pemimpin politik sering menggunakan legitimasi akademik untuk memperkuat posisi mereka . Ketika kaum intelektual mendukung kebencian tertentu, mereka memberikan legitimasi "ilmiah" terhadap narasi yang sebenarnya irasional.

Era digital memperparah fenomena ini melalui beberapa mekanisme: media sosial menciptakan ruang di mana kaum terdidik hanya berinteraksi dengan mereka yang sepaham, memperkuat bias dan kebencian .

Dalam fenomena "pascakebenaran", emosi dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh daripada fakta objektif . Kaum terdidik pun bisa terjebak dalam logika ini - ketika kebencian menguasai rasionalitas.

HARI HARI INI para politisi kalah, yang tersingkir,  hilang jabatan dan kecewa - memobilisasi dukungan melalui media sosial dengan memanfaatkan kapasitas retorika kaum terdidik . Mereka memanfaatkan kebencian kaum terdidik untuk agenda politik tertentu mereka .

Kepada para jemaah Fesbukiyah Yang Mulia, mari kita sama sama 'eling lan waspada' - jangan mudah percaya pada narasi kelompok yang menyebut “kritis” - “independen” - “pakar” - “akademisi” dan “intelektual”. Sebab, boleh jadi mereka kaum penyaru. Penyelundup narasi. Pembawa agenda menyesatkan.

Gunakan prosedur kewartawanan:  cek - ricek - croschek dan verifikasi fakta secara sistematis terhadap pernyataan tendensius “kaum intelektual” di media massa dan media sosial.

Di era “post truth” kebenaran bukan berdasar fakta tapi persepsi. Perlu  kesadaran kritis terhadap bagaimana kelompok pembenci bekerja dengan wacana dan mekanisme psikologis untuk memanipulasi pikiran kita - bahkan pikiran kita yang paling terdidik sekalipun. ***

(26062025)(TUS)



SUDUT PANDANG 1 PETRUS 2:17, HARGAILAH SESAMAMU

SUDUT PANDANG 1 PETRUS 2:17, HARGAILAH SESAMAMU PENGANTAR Menghargai bisa berarti memandang penting, bermanfaat dan berguna. Ketika seseoran...