Kitab Injil Markus, Matius, dan Lukas disebut Injil sinoptik karena ada kemiripan. Injil Markus adalah kitab Injil tertua. Secara sederhana apabila ada kemiripan dalam ketiga Injil, diduga pengarang Injil Matius dan Lukas merujuk Injil Markus sebagai sumber.
Apabila ada kemiripan teks di Injil Matius dan Lukas, tetapi tidak ada di Injil Markus, kemungkinan petulis Injil Matius dan Lukas mengambil Sumber Q (dari kata bahasa Jerman 𝘘𝘶𝘦𝘭𝘭𝘦 yang berarti sumber). Sumber Q merupakan ucapan-ucapan lepas Yesus tanpa konteks, lalu petulis Matius dan Lukas memberi konteks. Apabila ada teks unik di Injil Matius dan Lukas itu berarti pengarang Injil memiliki sumber sendiri atau hasil kreasi sendiri.
Contoh kemiripan teks yang ada di Injil Matius dan Lukas, tetapi tidak ada di Injil Markus, adalah 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪. Dalam Injil Matius 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 diberi konteks rangkaian pengajaran Yesus dalam pasal 5 sampai 7 yang kita kenal dengan 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Bagaimana dengan versi Injil Lukas?
Hari ini adalah Minggu ketujuh setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 11:1-13 yang didahului dengan Kejadian 18:20-32, Mazmur 138, dan Kolose 2:6-15, (16-19).
Perikop Injil Lukas 11:1-13 yang menjadi bacaan Minggu ini diberi judul oleh LAI 𝘉𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢. Lukas membuka narasinya dengan pengantar sebagai ciri khasnya.
𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢, ”𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘢𝘫𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥𝘯𝘺𝘢.” (ay. 1)
Lukas suka memerikan Yesus sebagai pendoa untuk keperluan katekese jemaat (bdk. Luk 3.:21; 9:18). Yesus menjalin keakraban dengan Allah (lih. Luk. 10:21; 22:42; 23:34, 36).
Permintaan murid Yesus itu tak terduga, karena semua murid Yesus adalah orang Yahudi, yang sejak kecil sudah tahu berdoa dan mengenal aneka doa.
Tidaklah jelas isi doa Yohanes Pembaptis yang diajarkan kepada murid-muridnya. Apabila kita melongok Lukas 5:33, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengolok-olok murid-murid Yesus tidak seperti murid-murid Yohanes yang rajin berpuasa dan berdoa. Murid-murid Yesus lebih suka makan dan minum dengan orang-orang berdosa. Sangat bolehjadi murid Yesus terkesan pada doa Yesus sehingga meminta Yesus mengajar mereka.
𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, ”𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩: 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘥𝘪𝘬𝘶𝘥𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘔𝘶; 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯-𝘔𝘶. (ay. 2) 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢 (ay. 3) 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢-𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪; 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯.” (ay. 4)
▶️ 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 di Injil Lukas lebih ringkas daripada versi Injil Matius (Mat. 6:9-13).
▶️ 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 di Injil Lukas diajarkan sesudah Yesus berkunjung ke rumah Marta dan sesudah Maria 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 (Luk. 10:39).
▶️ 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 di Injil Lukas diajarkan Yesus sesudah Yesus selesai berdoa (Luk. 11:1).
▶️ 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 di Injil Lukas diajarkan Yesus sesudah para murid meminta diajarkan berdoa (Luk. 11:1).
▶️ 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 di Injil Lukas adalah jawaban dari permintaan para murid (Luk. 11:1).
Perbedaan konteks 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 versi Matius dan versi Lukas itu membuktikan bahwa pada mulanya 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 merupakan ucapan-ucapan Yesus yang beredar tanpa konteks atau ucapan-ucapan lepas atau Sumber Q. Baru kemudian pada saat Injil ditulis ucapan-ucapan lepas itu diberi konteks oleh pengarang Injil. Konteks itu pada gilirannya memberi makna pada ucapan-ucapan lepas itu.
𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯-𝘔𝘶. Kerajaan Allah belum datang. Masih perlu didoakan agar datang. Tampaknya Kerajaan Allah yang dimaksud dalam doa itu adalah Kerajaan Allah pada akhir zaman atau Kerajaan Allah 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢. Dalam iman Kristen Kerajaan Allah 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨, dan 𝘢𝘬𝘢𝘯 datang.
𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪. Dalam versi Matius permintaan makanan secukupnya pada hari ini (saja). Menurut Lukas itu tidak cukup. Yang cukup adalah makanan 𝘀𝗲𝗰𝘂𝗸𝘂𝗽𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗵𝗮𝗿𝗶.
𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪 versi Lukas dilanjutkan dengan perumpamaan tentang seorang sahabat yang tidak malu meminta.
𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, ”𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘚𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘬𝘶, 𝘱𝘪𝘯𝘫𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪, (ay. 5) 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢; (ay. 6) 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘬𝘶, 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳; 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 7) 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘭𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 8) 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘔𝘪𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶; 𝘤𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵; 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘬𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘬𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪, 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘶𝘬, 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘬𝘢𝘬𝘢𝘯. (ay. 9)
Tidak malu di sini bukan berarti memalukan. Orang itu tidak malu mengakui kekurangannya, tidak malu mengakui tidak punya apa-apa.
Dalam kehidupan modern perumpamaan di atas jauh lebih sulit untuk dipraktikkan. Orang mungkin tidak malu mengakui kekurangan dan tidak malu mengakui tak punya apa-apa kepada teman-temannya. Alih-alih teman membantunya, mereka mengolok-olok dan merundungnya di medsos sampai berjilid-jilid.
Rangkaian ajaran tentang berdoa ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah pasti akan menjawab doa permintaan umat-Nya karena Allah adalah Bapa yang baik.
“𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘪𝘬𝘢𝘯? (ay. 11) 𝘈𝘵𝘢𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘶𝘳, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘨? (ay. 12) 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢! 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢. (ay. 13)”
Ayat 13 terasa rada aneh. Pada ayat 11 dan 12 hal yang dibicarakan adalah makanan: ikan dan telur. 𝘒𝘰𝘬 tiba-tiba ada Roh Kudus? Tidak mudah untuk dijawab.
Seperti sudah saya jelaskan di atas bahwa Lukas diduga menggunakan Sumber Q. Matius juga menggunakan Sumber Q.
Versi Matius
“𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢! 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 " (Mat. 7:11)
Tidak ada yang aneh di versi Matius. Matius tampaknya sekadar mengikuti “kesimpulan logis” yang diberikan Sumber Q bahwa Allah akan memberikan 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬.
Pengarang Injil Lukas tampaknya “merenungkan” lebih lanjut kesimpulan itu: apa ya kira-kira 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 itu? Nah, menurut Lukas, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 itu adalah Roh Kudus. Allah akan memberikan 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus di sini hendaknya jangan dipahami seperti dogma Trinitas. Lukas memang gemar berwacana tentang doa dan Roh Kudus; Roh Kudus yang bertindak dan mengubah.
Dari sini semoga kita makin memahami bahwa Kitab Injil (dan kitab-kitab lainya di dalam Alkitab) tidak jatuh utuh dari langit. Setiap pengarang memiliki narasi masing-masing dalam menyampaikan teologi mereka yang berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan narasi tidak perlu membuat kita berpusing kepala mendamaikan atau mengharmoniskan. Keberanekaan itu justru membawa maslahat bagi kita bahwa kesaksian tentang Yesus tidaklah tunggal. Orang Kristen tidak boleh mengurung Yesus dalam ajaran tunggal dan mendaku penafsiran mereka satu-satunya yang benar.
(27072025)(TUS)