Rabu, 16 Juli 2025

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗺𝗶𝘁 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗺𝗶𝘁 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶

Dalam tulisan sebelumnya saya menyebut bahwa Gereja Protestan adalah yang pertama menggunakan istilah liturgi dalam makna ibadah gerejawi pada abad 17. Saya juga menyebut bahwa GKR banyak belajar dari Gereja Reformasi untuk membenahi liturgi GKR. Dalam perjalanannya justru GKR meninggalkan jauh Gereja Protestan dalam hal ilmu liturgi. Ironisnya lagi komisi liturgi Gereja Protestan dicemooh oleh pendeta dan umatnya sendiri, “𝘐𝘬𝘶𝘵-𝘪𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘵𝘰𝘭𝘪𝘬!”


Apa 𝘴𝘪𝘩 yang melatari GKR belajar dari Gereja Reformasi? Ada banyak gatra dan matra. Di sini saya mengambil satu contoh.

Tiga abad awal merupakan masa penganiayaan umat Kristen terutama di wilayah jajahan Romawi. Umat Kristen hanya dapat beribadah di rumah-rumah dan katakombe (pekuburan). Mati syahid atau martir menjadi jalan kekudusan.

Kaisar Konstantinus memaklumkan kemerdekaan bagi orang Kristen untuk beragama. Pemakluman ini dibuat di Milan pada 313 yang disebut Edik Milan. Pada 321 Konstantinus menetapkan Minggu menjadi hari libur bagi hakim, warga kekaisaran, dan pengusaha. Sejak itu pemimpin umat berubah radikal menjadi setara dengan pejabat negara. Rakyat “terpaksa” menjadi Kristen. Jika tidak, hidup mereka akan dipersulit. Iman Kristen menjadi murah. Muncullah biara-biara. Hidup membiara menjadi jalan kekudusan.

Efek negatif pemunculan biara-biara adalah banyak rahib ditahbis menjadi imam sehingga menjadi rahib-imam. Dengan penghuni biara adalah rahib-imam terjadilah misa pribadi. Misa komunal semakin jarang.

[𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘗𝘳𝘰𝘵𝘦𝘴𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘦𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘗𝘪𝘦𝘵𝘪𝘴𝘮𝘦. 𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣, 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘦𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘤𝘦𝘮𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘥𝘦𝘢𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘳𝘰𝘩𝘢𝘯𝘪. 𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘫𝘪𝘭𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘠𝘰𝘩. 17).]

Pada Abad Pertengahan semakin berkembang apa yang disebut dengan 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘭𝘦𝘳𝘶𝘴. Rm. E. Martosudjito menyebut abad ini sangat menyedihkan bagi liturgi yang harusnya bermatra komunal. Umat semakin terasing dari liturgi karena struktur liturgi tidak melibatkan partisipasi umat. 

Gerakan reformasi Gereja yang berlangsung sejak abad ke-16 membuat GKR menyadari bahwa Gereja Protestan tidak lagi dipandang sebagai musuh, melainkan saudara seiman. Pelibatan umat dalam liturgi Protestan menjadi inspirasi GKR. Pada abad 18 GKR mengikuti Gereja Protestan menghidupkan lagi kata liturgi dalam makna ibadah gerejawi, meskipun belum sepenuhnya berlaku di GKR, karena belum mendapat dukungan dari Vatikan. Meskipun demikian Kelompok Benedektian terus menggencarkan upaya pembaruan liturgi. Barulah pada awal abad ke-20 pembaruan liturgi menggelinding kencang. Puncaknya Konsili Vatikan II menetapkan liturgi sebagai istilah resmi untuk ibadah gerejawi (Konstitusi Liturgi 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘰𝘴𝘢𝘯𝘤𝘵𝘶𝘮 𝘊𝘰𝘯𝘴𝘪𝘭𝘪𝘶𝘮).


Sementara GKR mula meninggalkan 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘭𝘦𝘳𝘶𝘴, cukup banyak Gereja Protestan justru membuat 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘭𝘦𝘳𝘶𝘴 dalam ujud lain. Partisipasi umat sekadar datang, mendengar, dan memberi kolekte.

(17072025)(TUS)

Tautan sebelumnya:
1.https://titusroidanto.blogspot.com/2025/06/sudut-pandang.html
2.https://titusroidanto.blogspot.com/2025/06/sudut-pandang_30.html
3.https://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang.html
4.http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang_13.html
5. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang_23.html

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...