Rabu, 23 Juli 2025

SUDUT PANDANG KEJADIAN 18:20-32, KHUTSPAH: KHALILAH LEKHA!

SUDUT PANDANG KEJADIAN 18:20-32,  KHUTSPAH: KHALILAH LEKHA!

PENGANTAR
Ada seorang yang memposisikan dirinya sebagai pengacara/advokat , dan dia adalah pengacara yang pertama dicatat dalam Alkitab, dia adalah Abraham . Dan pada bagian ini kita akan mendalami karakter Abraham yang luar biasa ini.

Kisah posisi Abraham sebagai pengacara ini, ketika Abraham mengantarkan tamu ketiga sorgawi-nya untuk pergi dari kemahnya. Penafsiran kalangan Kristen melihat bahwa satu dari tamu ketiga Abraham itu adalah Malakh YHVH yang merupakan theofani Kristus atau theofani Allah sendiri.



PEMAHAMAN
Apa yang menyebabkan Abraham tidak mau pergi dari hadapan Allah? Ia memiliki pergumulan luar biasa yang hendak ia kemukakan kepada Allah. Dan tindakan ini merupakan tindakan yang sungguh-sungguh luar biasa. Pada Kejadian 18:23-33 ini biasa kita kenal sebagai " Syafaat Abraham untuk keselamatan Sodom & Gomorah ." Namun Yahudi Rabinik memandang hal tersebut lebih dari sekedar doa kalangan syafaat . Kalau sebagai juru syafaat , kalangan Yahudi lebih melihat Musa sebagai panutannya (Reff: Keluaran 32:11-32).

Lalu, kalau itu bukan suatu doa syafaat/ doa syafaat juga istilah apa yang lebih tepat untuk tindakan Abraham di Kejadian 18 ini?

    Tindakan yang dilakukan Abraham ini adalah sebuah tindakan yang merugikan nyali terhadap YHVH Hakim semesta alam. Dalam istilah Yudaisme dikenal dengan istilah חֻוצְפָּה - KHUTS'PAH , istilah ini berasal dari bahasa Yiddish, artinya adalah: ungkapan ketidak-setujuan yang kuat, komplen, marah, protes, melawan yang merupakan akibat dari tindakan seseorang yang telah melampaui batas-batas perilaku yang dapat diterima . Istilah "KHUTS'PAH" ini dipakai, karena di peristiwa ini Abraham menantang kekuasaan Tuhan dalam kasus Sodom .

Dan Abraham melanjutkan dengan mencoba menyanggah rencana Allah menghancurkan Sodom dan Gomora itu dengan suatu hitung-hitungan negosiasi. Abraham dimulai dari angka 50 (Ibrani: חֲמִשִּים - KHAMISHIM Noun Masculine Plural ) dari orang-orang yang benar: ( צַדִּיקִם - TSADIQIM, Noun Maskulin Plural ) Abraham mencoba melakukan tawar-menawar/ negosiasi/ tawar-menawar (Ibrani: מַשָּׂא וּמַתָּן - MASA UMATAN, secara harfiah " mengambil & memberi " MASA = menerima , MATAN = memberi ) . Kita tahu dalam suatu negosiasi masing-masing pihak tidak akan memperoleh seluruh keinginannya dengan sempurna; tidak ada yang benar-benar senang, tapi masing-masing pihak setuju. Dan, perhatikan ayat ini, Abraham semakin lancang dalam mengungkapkan maksudnya dalam berkomunikasi dengan Allah dengan suatu intimidatif "KHALILAH LEKHA". Istilah: חָלִלָה לְּךָ - KHALILAH LEKHA , adalah suatu frase yang sangat terkenal bagi orang Yahudi. Bisa bermakna: " jauhlah Engkau (jangan melakukan ini) ", " amit-amit deh Engkau jangan melakukan itu ", " Sekali-kali tidak! Jangan Engkau lakukan! " Bahkan istilah חָלִלָה - KHALILAH diulang sampai 2 kali oleh Abraham . Dalam gaya sastra Ibrani (tautologia) , ini menjadi seperti suatu hardikan: " Sungguh memalukan melakukan hal ini! Bagaimana mungkin membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik ?" Belum selesai di situ, bahkan Abraham masih bernyali mengajukan pernyataan retoris kepada Allah: "Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" . Ketika ungkapan חָלִלָה לְּךָ - KHALILAH LEKHA ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani: μηδαμῶς σὺ - MÊDAMÔS SU, tidak akan itu yang kamu lakukan , nilai emosional dari "KHUTS'PAH" ini terkikis, demikian juga terjemahan bahasa Indonesia, bahasa Indonesia maupun Inggrisnya.

Anda bisa membayangkan, ungkapan "KHUTS'PAH" kala itu seperti Abraham menggebrak meja, berteriak dengan mata melotot, seperti Al Pacino di film Scent of a Woman itu, atau membayangkan Abraham mengacungkan kursor kepada Allah sambil berteriak "KHALILAH LEKHA!"

Wow! Keras sekali, bukan?
Abraham sungguh bernyali, bukan?

Anda lihat di sini betapa besarnya Abraham di hadapan Sang Hakim alam semesta mengajukan komplen-nya dengan keras: "Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" ; " Adilkah kamu berbuat demikian? Hai Bapak Hakim dapatkah kamu mengadili dengan adil? Dimana keadilanmu? ." Coba Anda bayangkan jika ada seorang pengacara yang berkata begitu keras di suatu sidang di hadapan Hakim, mungkin tindakannya akan dianggap sebagai " penghinaan terhadap pengadilan " yang menghina peradilan.

Maka, istilah חָלִלָה - KHALILAH yang dimulai dari peristiwa ini menjadi begitu populer di kalangan Yahudi. Dan sering pula diterjemahkan dalam bahasa Inggris " Tuhan melarang !" atau dalam LAI: " sekali-kali tidak !" dan variasi kata tsb bisa juga: חָלִילָה לִּי - KHALILAH LI,amit-amit itu tidak terjadi padaku/ aku tidak akan begitu/ sekali-kali tidak aku berbuat itu (1 Samuel 2:30). חָלִילָה לָּנוּ - KHALILAH LANU, amit-amit itu tidak terjadi pada kita/ sekali-kali tidak kami akan begitu (Roma 6:2, Ha-Berit ).
Rasul Paulus sering menggunakan istilah ini dalam tulisannya yang bergaya diatribe itu. Dan nampaknya sekali bahwa Rasul Paulus adalah seorang yang handal dalam berdebat. Ya, meskipun PB itu ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi kita harus mengingat bahwa penulisnya adalah orang-orang Yahudi (kecuali mungkin Lukas yang dianggap sebagian orang bahwa dia seorang Goyim. Di dalam Alkitab kita, apa yang diterjemahkan " Tuhan melarang !" atau " sekali-kali tidak !" dalam tulisan-tulisan Rasul Paulus itu sebenarnya חָלִלָה - KHALILAH ini. 

Allah tidak bersandar dengan kelancangan yang dilontarkan Abraham "KHALILAH LEKHA" itu. Dia kemudian mengundang Abraham duduk bersama pada "meja perundingan." Ini seperti istilah yang sering kita lihat dalam film-film (yang tentu diambil dari peristiwa nyata di suatu konferensi). Hakim di suatu konferensi kadang-kadang memberi semacam hak istimewa dengan memberi undangan kepada seorang pengacara untuk " approach the bench ." Atau kadang-kadang si pengacara itu mengajukan permohonan kepada Hakim: " Yang Mulia, bolehkah saya menghadap hakim ?"

Dan di dalam peristiwa ini Allah-lah yang mengundang Abraham untuk " mendekati bangku cadangan . Dasar Abraham ini memang seorang pengacara yang ulet dan keras kepala pula, dia tidak mudah-gampang menanggapi perjanjian yang diberikan Allah dengan begitu mudah. Abraham terus berusaha menekan agar Allah memberikan kelonggaran lebih lanjut, memohon belas-kasihan-Nya kepada kota yang akan dihukum-Nya itu. Abraham masih menawar lagi. Dan kali ini Abraham mengajukan permohonannya dengan lebih sopan. Allah tentu sangat mengenal bahwa Abraham adalah seorang yang sopan, hangat kepada orang lain, itu telah dibuktikannya dengan bagaimana dia menjamu ketiga tamunya itu. Kemarahannya dengan kata "KHALILAH LEKHA!" adalah didasari dari sikap empati-nya yang mendalam terhadap orang-orang benar yang selayaknya tidak termasuk dihukum bersama-sama dengan orang-orang fasik itu di Sodom & Gomorah itu. Dan Abraham sudah terbukti bahwa ia juga orang yang punya jiwa suka menolong, bahkan rela berkorban, tidak mempedulikan keselamatan dirinya demi orang lain yang ingin dia selamatkan. Bukti ini dapat dilihat ketika Abraham maju melawan Kedorlaomer dan sekutunya untuk menyelamatkan Lot .

Maka “KHUTS’PAH” yang dilakukan Ibrahim , hal tsb di mata Allah bukanlah suatu “ penghinaan terhadap pengadilan .” Tetapi suatu perjuangan dari seorang yang memiliki watak terpuji, dan yang gemar untuk menolong, dan bahkan berani menerima segala resikonya akibat aksinya itu. Dan memang Abraham adalah seorang yang sangat mengetahui posisi dirinya yang jauh lebih rendah dari Sang Hakim alam semesta itu, dia berkata: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu” (18:27). Di sini Abraham menyamakan dirinya dengan hakikat Adam , bahwa dia adalahmakhluk ciptaan seperti Adam. Dan TUHAN Allah membentuk manusia dari [i]debu tanah ( עָפָר - 'AFAR ). Kedua sosok Abraham, dan Nuh, mereka dihubungkan dalam arti tipologis pada sosok Adam . Mereka menjadi Adam yang baru, untuk rencana Allah memenuhi bumi, menjadi ayah bagi bangsa-bangsa.

Abraham melanjutkan negosiasinya: “Sekiranya kurang lima orang dari lima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan melaporkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Dan Allah segera menjawabnya, “Aku tidak akan lama lagi, jika Kudapati empat puluh lima di sana” (18:28).

Kembali Abraham tidak mau berhenti untuk menjadi negosiator yang ulet, dia masih terus menekan Allah, dia masih menawar lagi dengan penurunan jumlah kesepakatan, dari 50 ke 45, turun lagi ke 40, turun ke 30, turun ke 20 dan terus menawar lagi sampai angka 10 ( עֲשָׂרָה - 'ASARAH)  Dan, proses bargaining/ negosiasi/ tawar-menawar (Ibrani: MASA UMATAN) itu berakhir pada angka 10 (sepuluh). Dan jumlah ini dalam tradisi Yahudi menjadi jumlah kuorum dalam doa komunal mereka. Dan kourum 10 orang ini menjadi syarat bagi מִנְיָן ‎ - MIN'YAN, sing. מִניָנִים - MIN'YANIM, jamak (persekutuan doa/ kelompok sel Yahudi Rabinik). Bagi kita umat Kristen, kuorum tidak ditentukan 10, sebab Tuhan Yesus berfirman: "dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:20). Allah yang Mahatahu itu, tentu Dia sudah tahu, bahwa Sodom dan Gomora hanya memiliki kurang dari 10 orang yang benar. Dan Penghukuman kepada kota-kota itu tidak terelakkan.

Tapi ada hal yang patut kita pelajari di sini, bahwa Allah Yang Mahatinggi itu berkenan menegaskan diri-Nya untuk "duduk bersama di dalam meja perundingan" bersama manusia ciptaan-Nya. Allah memperkenankan umat untuk mengajukan permintaan-permintaan/ persetujuan-keberatannya kepada Allah, bahkan kepada hal-hal yang bersifat “ Challenging God ” yang lancang dan penuh nyali seperti yang dilakukan Abraham itu. Allah kita bisa sangat demokratis, kebijakan-Nya boleh di kritisi, bukan untuk mengubah keputusan-Nya, tetapi kadang-kadang Allah membiarkan hal itu berlangsung, agar umat-Nya dapat menelaah untuk memahami apa yang Allah izinkan.

Masih ada contoh yang lainnya, ayat yang cukup terkenal dimana Allah mengajak manusia untuk "berdebat dengan-Nya" לְכוּ־נָא וְנִוָּכְחָה - LEKHU-NA VENIVAKHEKHAH. " Dan marilah kita perperkara ", Kata Ibrani: וְנִוָּכְחָה - VENIVAKH'KHAH dari kata dasar: יכח - YAKAKH , Leksikon Ibrani : membuktikan, memutuskan, menghakimi, menegur, menegur, mengoreksi, menjadi benar, berargumentasi

    "Marilah, baiklah kita beperkara!" , sebuah istilah lain dalam pengadilan "marilah kita saling menuntut" sebagai penggugat dan tergugat.
Dan Challenge seperti hal-hal yang dikemukakan di atas ini juga dapat kita temukan di PB. Tuhan Yesus pernah berfirman: "Mintalah, Carilah, Ketoklah..." (Matius 7:7-11) . Masih ada banyak hal yang menarik dari Abraham ini, kita tahu dia pernah menjadi penyelamat bagi penyanderaan Lot oleh Kedorlaomer dan sekutunya , dia juga menjadi juru syafaat bagi Ismael anaknya , kemudian ia menjadi pengacara bagi penduduk Sodom dan Gomora dan melakukan negosiasi yang keras dengan Allah sini yang telah kita bahas. Tapi nanti coba lihat pada pasal 22. Ketika Allah Kejadian meminta kembali Ishak untuk dipersembahkan bagi-Nya. Dan di sini Abraham menurut saja tanpa komplain!

PARODI
Semalam saya bermimpi bercakap-cakap dengan Yesus. Kata Yesus, “Aku hendak menenggelamkan semua pejabat gerejamu ke laut, karena mereka menjadi batu sandungan bagi umat-Ku.”

“Ya, Tuhan, mosok semuanya?” tanya saya.

“Ya.”

“Bagaimana jika aku menemukan lima orang bermoral? Apakah Engkau tetap menghukum mereka semua?” tanya saya lagi mencoba bernegosiasi.

“Sekarang sebutkan nama lima orang bermoral itu. Meskipun moral lima orang itu hanya sebesar biji sesawi, Aku tidak jadi menghukum mereka semua.” tantang Yesus.

Saya mula mencari lima nama, tetapi aku menjadi ragu. “Bagaimana jika ternyata hanya satu? Apakah Engkau tetap menghukum mereka semua?” tanya saya lagi.

“Sekarang sebutkan nama satu orang bermoral itu. Meskipun moral orang itu hanya sebesar biji sesawi, Aku tidak jadi menghukum mereka semua.” tantang Yesus.

Ketika saya akan mengucapkan satu nama itu, bunyi alarm pagi membangunkan saya.

(22072025)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...