[𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜𝗜 𝗔𝗱𝘃𝗲𝗻, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]
PENGANTAR
Minggu lalu kita membahas kiprah awal Yohanes Pembaptis. Dalam cerita itu Yohanes berpendapat tentang Yesus. Kata Yohanes, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘐𝘢 (𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴) 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘵-𝘕𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘪. 𝘈𝘭𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘮-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘶𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘫𝘦𝘳𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯." (Mat. 3:11-12).
Yohanes membaptis (hanya) dengan air, sedang Yesus membaptis dengan Roh Allah dan dengan api. Baptisan dengan Roh Allah bermakna positif, baptisan dengan api bermakna negatif: api neraka, hukuman kekal seperti dalam frase ayat 12 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘫𝘦𝘳𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯.
Benarkah apa kata Yohanes itu?
PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis Minggu ketiga masa Adven diambil dari Matius 11:2-11 yang didahului dengan Yesaya 35:1-10, Mazmur 146:5-10, dan Yakobus 5:7-10.
Bacaan Injil Minggu ini giliran Yesus berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Pengarang Injil Matius mengumpulkan bahan dari Injil Markus dan Sumber Q.
Antara bacaan Minggu lalu tentang Yohanes (Mat. 3:1-12) dan bacaan Minggu ini berjarak tujuh pasal, yang ketujuh pasal itu berbicara tentang kiprah Yesus. Ayat 2 yang mengawali bacaan Minggu ini tiba-tiba menyampaikan bahwa Yohanes di dalam penjara mendengar tentang pekerjaan Kristus. Kapan Yohanes dipenjara?
Dalam Matius 4:12 dikatakan oleh pencerita bahwa Yohanes ditangkap. Yesus menyingkir ke Galilea. Yesus meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum. Informasi dari narator tersebut sekaligus menandakan akhir pekerjaan Yohanes, sedang Yesus memula berkarya memberitakan Kerajaan Allah (Mat. 4:17).
Karya Yesus yang begitu banyak dan padat seolah-olah dipotong atau diganggu oleh tokoh cerita Yohanes yang tiba-tiba naik ke panggung cerita. Diam-diam Yohanes memantau pekerjaan Yesus dari dalam penjara. Barangkali Yohanes ragu. Jangan-jangan Yesus bukanlah Mesias yang dinantikannya karena ia mengharapkan Kerajaan Allah segera datang sepenuhnya (Mat. 3:2). Yohanes tidak mendengar Yesus menebang pohon yang tidak berbuah, membaptis dengan api, dan membakar debu jerami ke dalam api yang tak terpadamkan (Mat. 3:10-12). Apa yang dilakukan Yesus tampaknya tidak memenuhi pengharapan Yohanes. Yohanes kemudian mengutus murid-muridnya menjumpai Yesus.
Yesus menjawab murid-murid Yohanes, "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵: 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙪𝙢𝙥𝙪𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙪𝙨𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙗𝙪𝙝, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙡𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩𝙠𝙖𝙣, 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙖𝙞𝙠.” (Mat. 11:4-5)
Apa yang disampaikan oleh Yesus dalam frase “apa yang kamu dengar” kepada murid-murid Yohanes itu adalah 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 dalam Matius pasal 5 – 7 yang sudah didengar oleh para murid Yohanes. Dalam pada itu perkataan Yesus “apa yang kamu lihat” adalah karya dan mukjizat Yesus dalam Matius pasal 8 – 9 yang sudah dilihat oleh para murid Yohanes. Yesus meringkasnya:
• Orang buta melihat. Di mana? Matius 9:29 (bdk. Yes. 29:18; 35:5).
• Orang lumpuh berjalan. Di mana? Matius 8:13; 9:6 (bdk. Yes. 35:6).
• Orang kusta menjadi tahir atau sembuh. Di mana? Matius 8:1-4 (bdk. Yes. 53:4).
• Orang tuli mendengar. Di mana? Tidak ada di Injil Matius. (bdk. Yes. 29:18; 35:5).
• Orang mati dibangkitkan. Di mana? Matius 9:25 (bdk. Yes. 26:19).
• Kepada org miskin diberitakan kabar baik. Di mana? Matius 5:3 (bdk. Yes. 61:1)
Butir-butir di atas sebenarnya bersumber dari Kitab Yesaya, meskipun tak disebut eksplisit. Rujukan kitab PL itu sepertinya mengungkapkan keyakinan jemaat Matius bahwa Allah menggenapi janji-Nya mengenai Sang Mesias pada diri dan karya Yesus.
𝘔𝘰𝘯𝘨-𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 mengapa cerita orang tuli mendengar di atas tidak ada di dalam Injil Matius seperti cerita-cerita yang lain? Apakah pengarang Injil Matius lupa menulis? Tampaknya Matius tidak lupa, bahkan ia “menghapus” cerita yang ada di Markus 7:31-37 dan ucapan di Markus 9:25. Mengapa? 𝘌𝘮𝘣𝘶𝘩. 𝘛𝘩𝘦 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘥𝘪𝘥𝘯’𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘭 𝘪𝘵.
Sesudah Yesus mengatakan hal-hal di atas kepada murid-murid Yohanes, Ia mengatakan, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘈𝘬𝘶.” (Mat. 11:6). Tampaknya Yohanes sulit menerima kenyataan. Ternyata Yesus bukan Mesias seperti yang diharapkan oleh Yohanes (Mat. 3:10-12). Yesus tidak menebang pohon yang tidak berbuah, tidak membaptis dengan api, tidak menghukum dengan api yang tak terpadamkan. 𝘉𝘰𝘳𝘰-𝘣𝘰𝘳𝘰 menghukum, Yesus malah menyembuhkan, memulihkan, menyelamatkan (Mat. 11:5), serta berbelarasa (Mat. 9:36; 14:14; 15:32; 20:34) dan mengajari orang berbelarasa juga (Mat. 9:13; 12:7; 18:27; 23:23).
Kata “Berbahagialah” dalam ayat 6 tampaknya di dunia nyata ada pertarungan pengaruh antara para pengikut Yohanes dan pengikut Yesus. Siapa yang terbesar: Yohanes atau Yesus? Sebagian murid Yohanes menjadi murid Yesus, sebagian lagi bertahan. Kisruh di dunia nyata itu panggah (𝘤𝘰𝘯𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯𝘵) terbaca di dalam empat Injil. Meskipun demikian peran Yohanes tetap dianggap penting oleh para pengarang Injil sehingga nama Yohanes tidak dipinggirkan begitu saja dari dunia cerita Injil.
Yesus tidak mau menjatuhkan Yohanes. Yesus 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘴𝘰𝘳𝘢𝘬𝘦́. Kata Yesus, “𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪 … 𝘥𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘌𝘭𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶.” (Mat. 11:9 - 14). Namun pujian Yesus kepada Yohanes ada yang sulit ditafsir “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘋𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘢” (Mat. 11:11). Dari frase “yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia“ apakah Yohanes tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah?
Cukup terang di sini tampak ada kisruh di luar dunia cerita. Ada konflik siapa yang terbesar: Yohanes atau Yesus? Di sini Yesus bukan mau mengatakan bahwa Yohanes tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah, melainkan meskipun namamu besar di dunia (atau mungkin terbesar) tetaplah kecil dibandingkan dengan Kerajaan Allah.
Kekecewaan Yohanes barangkali mirip kekecewaan saya terhadap Jokowi. Saya berharap Jokowi menghantam musuh-musuhnya, membisukan para pembencinya, tetapi justru sebaliknya. Jokowi merangkul mereka, bahkan menjadikan sebagian dari mereka masuk ke dalam Pemerintahan Jokowi.
Masa Adven mengajari saya untuk mengoreksi diri. Apa yang saya inginkan belum tentu apa yang saya butuhkan.
(11122022)(TUS)