Minggu, 23 November 2025

Sudut Pandang Matius 24 : 36 - 44, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗶𝗮𝗺 𝗱𝗶𝗿𝗶 apalagi dalam ketakutan

Sudut Pandang Matius 24 : 36 - 44, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗶𝗮𝗺 𝗱𝗶𝗿𝗶 apalagi dalam ketakutan

PENGANTAR
Minggu ini adalah Minggu Pertama Adven (𝘍𝘪𝘳𝘴𝘵 𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺 𝘰𝘧 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵), bukan Minggu Adven Pertama. Sila lihat cara penulisannya. Ada empat (hari) Minggu dalam satu musim Adven. Panjang musim Adven bukan empat pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬), melainkan ada empat Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺) sebelum Natal.

Minggu Pertama Adven ini adalah awal kalender gerejawi atau tahun liturgi. Ada tiga banjaran tahun liturgi: Tahun A, Tahun B, dan Tahun C. Minggu lalu adalah akhir Tahun C, maka Minggu ini siklus kembali ke Tahun A.

Masa Adven mengandung dua gatra (𝘢𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵𝘴): historis dan eskatologis. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar 2026 tahun yang lalu. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). 

Kata kunci masa Adven adalah bersiap diri; bersiap diri untuk mengenang, bersiap diri untuk menuju perayaan, dan bersiap diri menantikan kedatangan kembali Kristus. Jadi, masa Adven bukanlah waktu untuk merayakan Natal. Merayakan Natal di masa Adven ibarat 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭𝘣𝘪𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭 di bulan Ramadan. Umat diberi waktu merayakan Natal cukup panjang, dari 24 Desember 2025 selepas matahari terbenam sampai 11 Januari 2026 (Minggu Pembaptisan Yesus), masih bisa diperpanjang pada Minggu biasa sampai 15 February 2026 lah, sebelum Rabu abu, cukup fleksibel. Berbeda dengan denominasi khatolik atau orthodoks (orthodoks tidak merayakan Natal pada 25 Desember tapi di kisaran 6 - 7 Januari karena menggunakan penanggalan Julian) yang mengenal apa yg disebut oktaf Natal, Oktaf Natal adalah perayaan delapan hari kelahiran Yesus Kristus yang dimulai pada hari Natal dan berakhir pada Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, 1 Januari. Berikut adalah rincian tentang Oktaf Natal, Tujuan: Oktaf Natal merupakan waktu untuk memperpanjang sukacita Natal dan merayakan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus. Perayaan:
    - Hari ke-1: Hari Raya Natal (25 Desember)
    - Hari ke-2: Pesta Santo Stefanus, martir pertama (26 Desember)
    - Hari ke-3: Pesta Santo Yohanes Penginjil (27 Desember)
    - Hari ke-4: Pesta Kanak-Kanak Suci (28 Desember)
    - Hari ke-5: Pesta Keluarga Kudus (29 Desember)
    - Hari ke-6: Hari Biasa dalam Oktaf Natal (30 Desember)
    - Hari ke-7: Hari Biasa dalam Oktaf Natal (31 Desember)
    - Hari ke-8: Hari Raya Santa Maria Bunda Allah (1 Januari)
Selama Oktaf Natal, umat Katolik dianjurkan untuk menghadiri Misa harian dan merenungkan bacaan Misa dengan penuh doa .

Apakah menghias rumah dan membunyikan lagu-lagu Natal boleh di masa Adven? Ya, boleh saja. Berhias dan membunyikan lagu-lagu Natal dapat membantu suasana penantian kita pada dua gatra Natal di atas.


PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis untuk Minggu ini diambil dari Injil Matius 24:36-44 yang didahului dengan Yesaya 2:1-5, Mazmur 122, dan Roma 13:11-14.
Bacaan Matius 24:36-44 merupakan bagian dari Matius pasal 24-25, dua pasal yang secara khusus berisi pengajaran tentang akhir zaman, yang membicarakan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢, kedatangan kembali Kristus pada akhir zaman. Jadi penyusun bacaan ekumenis (RCL) memang hendak mengingatkan jemaat bahwa Adven bukan hanya persiapan merayakan Natal, tetapi juga persiapan menyambut kedatangan kembali Kristus. Ada gatra eskatologis. Merayakan Natal bukan sekadar mengagungkan apa yang Allah sudah lakukan di masa lalu (Natal), tetapi juga menghayati apa yang Allah akan lakukan di masa depan.

Ucapan-ucapan tentang akhir zaman dalam Matius 24:36-44 dapat kita pilah menjadi tiga bagian:
• Ucapan pertama tentang air bah pada zaman Nuh (ay. 37-39).
• Ucapan kedua tentang dua orang yang dipisahkan (ay. 40-42).
• Ucapan ketiga tentang tuan rumah dan pencuri (ay. 43-44).

Ayat yang paling sulit ditafsir adalah ucapan kedua. Saya kutipkan dari LAI TB II, 1997:
24:40 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯;
24:41 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘨𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯.

Bacaan Minggu ini berawal dari ayat 36 dan berakhir pada ayat 44. Struktur narasi adalah pengapitan (inklusio) yang diawali ayat 36 dan ditutup dengan ayat 44. Di awal perikop pengarang Injil Matius mengatakan bahwa tidak seorang pun yang tahu hari dan saat Yesus datang kembali, bahkan Yesus pun tidak tahu. Dari struktur itu kita dapat mencerap bagian yang diapit adalah tiga ucapan tentang akhir zaman di atas (ay. 37-43).

𝗨𝗰𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 tentang air bah pada zaman Nuh (ay. 37-39) tampaknya berbicara mengenai ketidaktahuan orang akan kedatangan air bah. Ketidaktahuan itu sangat dinyatakan oleh penulis Matius di ayat 39 “…𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘪𝘳 𝘣𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢.”

𝗨𝗰𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 tentang dua orang yang dipisahkan (ay. 40-41) diakhiri dengan nasihat “𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢-𝘫𝘢𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” Ucapan kedua berbicara mengenai ketidaktahuan, tetapi sekarang ada penambahan gatra lain: berjaga-jaga. Ketidaktahuan mengenai hari kedatangan Tuhan merupakan alasan untuk berjaga-jaga. Tuhan dapat saja datang sekonyong-konyong ketika orang sedang bekerja di ladang (laki-laki) atau di penggilingan (perempuan).

Ketika Tuhan datang mendadak, akan terjadi pemisahan. Ada orang yang “dibawa” dan ada orang yang “ditinggalkan.” Manakah yang selamat? Yang “dibawa” atau yang “ditinggalkan”?

Sangat bolehjadi penafsiran “diselamatkan atau dihukum” sangat dipengaruhi oleh prapaham tertentu pada kisah air bah Nuh. Padahal pengarang Injil Matius mengumpulkan bahan-bahan ini dari Sumber Q yang kemudian disatukan menjadi narasi. Sulit untuk mengatakan bahwa hal “diselamatkan atau dihukum” itu merupakan pesan utama perikop ini. Dalam konteks ini Matius hanya hendak menyampaikan hal “ketidaktahuan” dan “berjaga-jaga”. Hal ini dapat kita baca lagi di Matius 24:42. “𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢-𝘫𝘢𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.”

Kedua laki-laki di ladang dan kedua perempuan di penggilingan itu tidak tahu apa yang akan terjadi karena saat itu mereka sedang bekerja. Pada titik itu memang ada gatra baru yang diperkenalkan: gatra pemisahan, tetapi belum sampai dikembangkan. Pengembangan baru muncul dalam ayat-ayat dan pasal sesudah perikop bacaan Minggu ini. Dalam hal siapa yang selamat dan siapa yang dihukum tidak dibicarakan dalam perikop Minggu ini.

𝗨𝗰𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮 tentang tuan rumah dan pencuri (ay. 43-44) juga ditambah dengan gatra “berjaga-jaga” selain tentang “tidak kamu duga.” Jadi ketidaktahuan akan hari dan saat kedatangan Yesus adalah alasan untuk selalu berjaga-jaga. Penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan “berjaga-jaga” ditulis di bagian selanjutnya (Mat. 24:45—25:46).

Pengarang Injil Matius menyampaikan bahwa Yesus saja tidak tahu tentang kapan terjadinya akhir zaman dan kedatangan kembali Yesus (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Dalam konteks jemaat Matius pernyataan di Matius 24:36 itu dapat secara jitu menghentikan perdebatan atau spekulasi mengenai akhir zaman dan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢.

“𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘨𝘰𝘴𝘢𝘩 𝘤𝘦𝘮-𝘮𝘢𝘤𝘦𝘮,” begitu kira-kira kata Matius,”𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯! 𝘍𝘰𝘬𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵.”

Manusia terlepas dari ketakutan (lihat situasi kondisi negara kita, dapat menimbulkan ketakutan) yang mematikan karena perjumpaannya dengan Allah. Lawatan Allah menjadikan relasi manusia dengan Dia berlangsung secara akrab dan hormat. Johan Powell dengan mengutip buku tulisan Juan Arias meringkas ungkapan-ungkapan tentang relasi manusia dengan Allah yang akrab. Di dalam relasi tersebut manusia dapat 
“menawar” hendak memercayai Allah seperti apa. Powell mengutip tulisan Juan Arius The God I Don’t Believe In (John 
Powell, 1997). Untaian pernyataan Juan Arias sebagaimana diringkas oleh John Powell tersebut mengingatkan kita tentang lawatan
Allah yang ramah. Ia menawarkan anugerah agar manusia mengalami kehadiran-Nya
Menanti kedatangan kembali Yesus dalam masa Adven bukan berarti berdiam diri. Tetap berkarya. Menanti kedatangan kembali tidak bisa dalam ketakutan, dalam takut kita tidak bisa berkarya. Masa Adven Natal  yang dilangsungkan sejak Minggu Adven Pertama hingga Minggu Pembaptisan Yesus mengajak 
kita untuk mengalami lawatan-Nya. Berkat lawatan-Nya kita merasakan penyertaan kebaikan Allah. Penyertaannya mendatangkan rasa tenang, damai dan sukacita. Adven Natal 
yang dihayati ini semoga menggerakkan orang percaya untuk bersikap dan berbuat baik dalam kebebasan dan kegembiraan, 
sebagai respons atas kehadiran Allah yang penuh anugerah dalam Yesus Kristus. Melalui Masa Adven Natal ini, kita dipanggil untuk menyambut keselamatan dan menjadi saksi 
kabar sukacita Natal. Selamat mengarungi masa Adven.

𝘘𝘶𝘰𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘢𝘺: “𝘔𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘭𝘺 𝘐 𝘢𝘮 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘺 𝘧𝘰𝘳 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘮𝘢𝘴, 𝘧𝘪𝘯𝘢𝘯𝘤𝘪𝘢𝘭𝘭𝘺 𝘐 𝘢𝘮 𝘯𝘰𝘵 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘺 𝘧𝘰𝘳 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘮𝘢𝘴.” Anon.

(27112022)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...