Sudut Pandang Matus 1 : 18-25, ๐ ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฐ๐ฒ๐บ๐ฎ๐, takut, dan lelah tapi Kristus membuat tidak menyerah dan tidak henti juang dalam lawatanNya
PENGANTAR
Di dalam Alkitab ada dua versi kisah kelahiran Yesus, yang kemudian kita sebut dengan kisah Natal, yaitu versi Injil Matius dan Injil Lukas. Kisah kelahiran Yesus ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป laporan historis jurnalistik, melainkan cara pengarang Injil Matius dan Lukas berteologi mengenai Yesus. Kedua cerita Natal itu berbeda karena teologi mereka memang berbeda.
Oleh karena kisah kelahiran Yesus di Injil bukan laporan historis jurnalistik, maka kedua cerita itu tidak boleh digabungkan, tidak boleh diharmoniskan. Penggabungan itu kerap kita lihat pada dekorasi gereja atau panggung Natal atau drama Natal: Yesus diletakkan di palungan dan kehadiran gembala (versi Injil Lukas) yang disatukan dengan orang-orang majus (versi Matius).
Menurut versi Injil Matius Yesus lahir di rumah. Rumah siapa? Rumah Yusuf dan Maria. Mereka punya rumah di Betlehem. Mereka tidak punya rumah di Nazaret. Alih-alih punya rumah di Nazaret, ke Nazaret saja mereka belum pernah. Suasana kelahiran Yesus penuh teror dari Raja Herodes.
Menurut versi Injil Lukas Yesus lahir di kandang (apa pun istilahnya) karena Yusuf dan Maria tidak punya rumah di Betlehem. Mereka tinggal di Nazaret. Suasana kelahiran penuh damai. Tidak ada teror dari Raja Herodes. Bahkan Yesus disunat di Betlehem dan kemudian dibawa ke Yerusalem untuk prosesi sesuai dengan hukum Musa. Bukan hanya itu, Yesus sewaktu masih anak-anak dibawa ke Yerusalem untuk perayaan Paska. Tidak ada ancaman pembunuhan terhadap Yesus.
Kalau berbeda cerita karena persoalan teologi yang diusung oleh masing-masing pengarang Injil, apa dong perbedaannya?
Sebagai petunjuk awal Injil Matius dibuka dengan silsilah Yesus karena pengarang Injil Matius hendak mengatakan bahwa Yesus sejak lahir adalah Raja Mesianik. Raja Herodes mewakili pemimpin Yahudi yang menolak Yesus ๐๐ข๐ซ๐ข ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ฏ๐ช๐ฌ, ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ถ๐ฅ, sedang orang-orang majus adalah gambaran orang bukan-Yahudi yang menerima Yesus ๐๐ข๐ซ๐ข ๐ ๐ข๐ฉ๐ถ๐ฅ๐ช, ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ฃ๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ.
Pengarang Injil Lukas yang mengusung teologi kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi, mau menyampaikan bahwa Yesus menjadi Raja Mesianik sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya. Sebelum menjadi Raja Mesianik, Ia harus menderita. Kalau ada dekorasi Natal yang menampilkan orang-orang majus mendatangi Yesus di kandang, maka itu jelas keliru dan ๐ฏ๐จ๐ข๐ธ๐ถ๐ณ, tidak masuk ke dalam teologi Lukas karena Yesus belum menjadi Raja Mesianik pada saat dilahirkan. Yesus menjadi Raja Mesianik sesudah menderita, mati, bangkit, dan naik ke surga.
Pengarang Injil Yohanes tak mau kalah. Pada mulanya Yesus itu sudah ada sebelum dunia dijadikan karena Yesus adalah Firman Allah. Menurut pengarang Injil Yohanes Yesus adalah ฯ
แผฑแฝธฯ (baca: uios) Allah pada mulanya. Sang Firman itu bersama-sama dengan Allah (Yoh. 1:1). Sang Firman itu adalah Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa (Yoh. 1:14, 18). Sang Firman yang nuzul menjadi manusia itu adalah Anak Allah (Yoh. 1:14, 34, 49). Oleh karena itu Injil Yohanes tidak membutuhkan cerita Natal ala Matius dan Lukas serta cerita pembaptisan ala Injil-injil Sinoptis. Penulis Injil Yohanes sengaja menolak cerita pembaptisan Yesus. Meskipun Yohanes Pembaptis ditampilkan, ia tidak diceritakan membaptis Yesus.
PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis Minggu keempat masa Adven hari ini diambil dari Injil Matius 1:18-25 yang didahului dengan Yesaya 7:10-16, Mazmur 80:1-7, 17-19, dan Roma 1:1-7.
Keterbatasan manusia itu mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang rapuh, sudah pasti kita bisa lelah ataupun bisa takut, itu kodrat manusia. Kalau tidak bisa lelah dan tidak bisa takut itu bukan lagi manusia, iblis mungkin. Namun, di tengah segala kerapuhan itu, Allah yang melampaui kita kini hadir bersama kita, Allah memampukan kita untuk tidak menyerah dan terus berjuang di tengah kelelahan dan ketakutan kita. Ia menyertai kita bukan dengan memberikan solusi instan atas persoalan hidup, atau dengan membalikkan penderitaan menjadi kemudahan. Ia beserta kita dengan cara yang paling mendalam:
menjadi manusia sejati seperti kita. Maka, dalam segala keterbatasan, seharusnya kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Di dalam krisis terdapat perjumpaan dengan Kristus,
bahwa bersama Kristus, selalu ada kekuatan, betapa pun berat jalan yang kita tempuh, betapapun kita lelah, betapapun kita takut.
Injil kanonik tertua adalah Injil Markus. Pengarang Injil Markus mengawali bukunya dengan “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu ....”.
Penginjil Matius tampaknya kurang ๐ด๐ณ๐ฆ๐จ dengan pembukaan Injil Markus. “๐๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ diawali dengan Yohanes Pembaptis?” begitu kira-kira kritik Matius. Matius secara kreatif menambah dua pasal khusus untuk membuka Injilnya. Secara mantap Matius mengawali Injilnya ๐๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช๐ญ๐ด๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ถ๐ด, ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ถ๐ฅ, ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ฃ๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ. Matius langsung mengungkapkan jatidiri Yesus yang dianggapnya sangat penting: ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐, ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐๐ฑ, ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐ฏ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ.
Kisah menjelang kelahiran Yesus versi Injil Matius tak serumit versi Injil Lukas. Di versi Injil Lukas ada episode pemberitahuan kelahiran Yohanes Pembaptis (Luk. 1:5-25), pemberitahuan kelahiran Yesus (Luk. 1:26-38), Maria bertemu dengan Elisabet (Luk. 1:39-45), Maria memuliakan Tuhan (Luk. 1:46-56), kelahiran Yohanes Pembaptis (Luk. 1:57-66), lalu ayah Yohanes bernubuat (Luk. 1:67-80), dan akhirnya Yesus dilahirkan (Luk. 2:1-7). Bukan itu saja, dalam episode Kelahiran Yesus Yusuf-Maria masih harus pergi dulu ke Betlehem dari Nazaret, Galilea, atas perintah sensus dari Kaisar Agustus.
Meskipun kisah menjelang kelahiran Yesus versi Injil Matius diceritakan dengan narasi sederhana, tetapi sebenarnya sarat makna.
๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐๐ฑ
Keturunan Daud terakhir sebelum Yesus adalah Yusuf, maka kisah kelahiran Yesus versi Matius menekankan tokoh Yusuf. Yusuf ini bukanlah sembarang Yusuf, melainkan Yusuf keturunan Daud. Malaikat menyapa Yusuf sebagai anak Daud (Mat. 1:20). Yusuf menjadi suami Maria yang mengandung Yesus sehingga Yusuf menjadi “ayah” Yesus. Oleh karena Yusuf anak Daud menjadi “ayah” Yesus, maka Yesus menjadi “Yesus anak Daud”.
๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ป๐ฎ๐ธ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต
Kalimat pertama (ay. 18) dalam episode kelahiran Yesus sudah menekankan bahwa anak yang dikandung Maria adalah anak dari Roh Kudus, bukan anak dari Yusuf. Dalam arti ketat atau biologis Yesus bukan keturunan Daud. Namun karena Yusuf menjadi suami Maria sesuai hukum Yahudi, Yusuf adalah ayah Yesus secara hukum. Dalam ayat 20 juga Matius menekankan lagi bahwa Yesus adalah Anak Allah. Yesus Anak Allah, maka hanya Allah yang berhak memberi nama (ay. 21).
Versi Injil Markus Yesus menjadi Anak Allah sesudah dibaptis (Mrk. 1:11). Matius menolak pendapat Markus. Yesus adalah Anak Allah sejak dari kandungan, kata Matius.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฎ๐ป๐ท๐ถ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต
Ayat 22-23: Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan melalui nabi: "๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ข ๐๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ฆ๐ญ." -- yang berarti: Allah menyertai kita.
Matius mengutip Yesaya 7:14 untuk ayat di atas, meskipun ia tidak secara eksplisit mengatakannya. “๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข: ๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ข ๐๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ฆ๐ญ.” (Yes. 7:14).
Perempuan muda di Yesaya 7:14 diterjemahkan dari kata Ibrani ๐ข๐ญ๐ฎ๐ข๐ฉ yang secara literal berarti perempuan belum bersuami, tetapi tidak bermakna perawan.
Perempuan muda itu adalah perempuan yang masih muda, meskipun mungkin ia sudah tidak perawan atau sudah bersuami. Kehamilan perempuan muda di Yesaya 7:14 bukanlah kehamilan karena Roh Kudus, melainkan kehamilan normal. Siapa perempuan muda dan anak laki-lakinya yang dimaksud di Yesaya 7:14? Menurut para ahli PL anak laki-laki itu adalah anak Ahas sendiri karena Yahweh dan Nabi Yesaya sedang berbicara kepada Ahas di Yesaya 7:10-25. Anak Ahas yang menggantikan Ahas menjadi raja Yehuda adalah Hizkia (2Raj. 18-20). Jadi, perempuan muda di Yesaya 7:14 adalah ibu Hizkia: Abi (2Raj. 18:2).
Sejalan dengan waktu kitab Yesaya dan kitab-kitab lainnya diterjemahkan ke bahasa Grika, yang kita kenal dengan Septuaginta. Kata ๐ข๐ญ๐ฎ๐ข๐ฉ diterjemahkan menjadi ฯฮฑฯฮธฮญฮฝฮฟฯ (baca: ๐ฑ๐ข๐ณ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ด). Seperti lazimnya penulis kitab Perjanjian Baru yang menggunakan Septuaginta Matius pun menggunakannya sehingga ๐ฑ๐ข๐ณ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ด diartikan sebagai anak dara atau perawan (๐ท๐ช๐ณ๐จ๐ช๐ฏ). Kutipan dari Yesaya 7:14 di Matius 1:23 sudah berubah maknanya menjadi ๐๐ข๐ณ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ.
Sesuai dengan kutipan dari kitab Yesaya itu Yesus (Mat. 1:21) juga akan dinamakan ๐๐ข๐๐ฃ๐ช๐๐ก yang berarti: Allah menyertai kita (Mat. 1:23). Dalam konklusi Matius menekankan lagi bahwa Yesus menyertai kita sampai akhir zaman (Mat. 28:20). Melalui diri Sang Imanuel Allah menggenapi janji-janji-Nya, terutama janji bahwa Ia akan menyertai umat-Nya sampai selama-lamanya.
Seperti yang sudah saya sampaikan bahwa masa Adven mengandung dua gatra (๐ข๐ด๐ฑ๐ฆ๐ค๐ต๐ด): historis dan eskatologis. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar 2026 tahun yang lalu. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (๐ฑ๐ข๐ณ๐ฐ๐ถ๐ด๐ช๐ข). Hari ini penginjil Matius berpesan kepada kita, meskipun masa penantian sarat teror (bom) dan kecemasan, Allah menyertai umat-Nya, bahkan sampai akhir zaman di tengah kelelahan kita, di tengah ketakutan kita. Injil Matius dengan tegas menghubungkan peristiwa ini dengan nubuat Yesaya: “Sesungguhnya, anak dara itu akan
mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel,” yang berarti: Allah beserta kita.
(Mat.1:23). Imanuel bukan hanya nama. Ia adalah realitas. Ia adalah janji yang digenapi bahwa di tengah semua pergumulan,
kebingungan, dan ketakutan manusia, Allah tidak tinggal diam. Ia tidak menjauh. Ia justru datang mendekat - bahkan tinggal
bersama kita. Minggu Adven keempat mengingatkan kita, hidup tak terhindarkan dari krisis, dan mudah membuat kita takut serta lelah. Namun kita tidak pernah sendiri, Allah beserta kita. Janji Imanuel digenapi dalam kelahiran Yesus Kristus, yang membawa pengharapan, kekuatan, dan damai sejahtera di
tengah ketidakpastian.
(18122022)(TUS)