Senin, 01 Desember 2025

Sudut Pandang Bahas asal kata dan terminologi untuk puasa dan saum/shaum

Sudut Pandang Bahas asal kata dan terminologi untuk puasa dan saum/shaum

1. Asal Kata (Etimologi)
Puasa 󰏙
Kata puasa diperkirakan berasal dari bahasa Sansekerta melalui bahasa Jawa Kuno/Kawi.
● Akar Bahasa: Sansekerta, yaitu kata upawasa (sering juga disebut upavasa).
● Makna Asli:
○ Upa berarti mendekat atau dekat.
○ Vasa berarti Tuhan atau kediaman.
● Kesimpulan: Secara harfiah, upawasa dapat diartikan sebagai upaya
mendekatkan diri kepada Tuhan atau 'berdiam diri dekat Tuhan'. Istilah ini
kemudian diserap menjadi pasa dalam bahasa Jawa Kuno, lalu berkembang menjadi
puasa dalam Bahasa Indonesia.
Saum/Shaum (Shiyam) 󰐰
Kata saum (atau shaum / shiyam) berasal dari bahasa Arab.
● Akar Bahasa: Arab, dari kata kerja ṣāma – yaṣūmu – ṣawman (atau ṣiyāman).
● Makna Asli (Linguistik/Bahasa): Menahan diri (al-imsāk), mencegah, diam
(al-shamt), atau berhenti.
○ Contoh penggunaan dalam Al-Qur'an (QS. Maryam: 26) merujuk pada
"menahan diri dari berbicara".
2. Terminologi (Menurut Syariat Islam)
Dalam terminologi syariat Islam (fikih), baik puasa, saum, maupun shiyam merujuk pada
definisi yang sama:
● Definisi Terminologi (Syariat): Menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya
(seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri), mulai dari terbit fajar (Subuh)
hingga terbenam matahari (Maghrib), dengan niat khusus karena Allah.
Perbedaan Shaum dan Shiyam
Dalam konteks Al-Qur'an dan Hadis, terkadang ada penekanan makna yang membedakan
sedikit antara Shaum dan Shiyam:
● Shaum (مْوَص): Disebutkan sekali dalam Al-Qur'an (QS. Maryam: 26). Cenderung
memiliki makna yang lebih umum, yaitu menahan diri dari sesuatu (termasuk
menahan diri dari berbicara, seperti yang dilakukan oleh Maryam).
● Shiyam (امَيِص): Disebutkan tujuh kali dalam Al-Qur'an (contohnya QS. Al-Baqarah:
183 yang mewajibkan puasa Ramadan). Lebih merujuk pada makna spesifik menahan diri (dari makan, minum, dll.) dalam tata cara ibadah yang telah
ditentukan.
Namun, secara praktis dalam penggunaannya sehari-hari di Indonesia dan banyak referensi
fikih, ketiga istilah (puasa, saum, dan shiyam) umumnya digunakan secara sinonim untuk
merujuk pada ibadah menahan diri di bulan Ramadan atau puasa sunnah lainnya.
Puasa memiliki akar yang dalam dalam sejarah Suku Bangsa Israel (Yahudi).
Jika dikaitkan dengan etimologi dan praktik Suku Bangsa Israel (terutama dalam tradisi
Yahudi), istilah utama untuk puasa adalah:
1. Terminologi dalam Bahasa Ibrani (Bangsa Israel)
Istilah utama untuk puasa dalam Bahasa Ibrani (bahasa asli Bangsa Israel) adalah Tsom
(צום) atau Tsum.
A
. Tsom / Tsum (צום)
● Akar Bahasa: Ibrani.
● Makna Harfiah: Puasa, atau menahan diri (dari makan dan minum). Ini merujuk
langsung pada tindakan berpantang makanan dan minuman.
B. Inna Nafshō (נפשו ענה)
Meskipun bukan kata benda yang berarti puasa, ada frasa yang secara terminologi sangat
penting dalam mendefinisikan puasa dalam Perjanjian Lama/Taurat: Inna Nafshō.
● A
kar Bahasa: Ibrani.
● Makna Harfiah: Merendahkan Jiwa atau Merendahkan Diri Sendiri (secara
harafiah: "menindas jiwanya").
● Konteks Keagamaan: Frasa ini digunakan untuk menjelaskan tujuan dari puasa
wajib utama Israel, yaitu pada Hari Pendamaian (Yom Kippur).
○ Contoh: Imamat 16:29 menyebutkan, "Pada hari yang kesepuluh bulan yang
ketujuh kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa (Inna Nafshō)..."
● Terminologi: Ini menunjukkan bahwa bagi Bangsa Israel/Yahudi, puasa bukan
hanya masalah menahan lapar secara fisik (makna Tsom), tetapi juga merupakan
tindakan rohani untuk merendahkan diri, bertobat, dan mencari pendamaian
dengan Tuhan.
2. Kaitan Etimologi "Puasa" dan "Saum"
Meskipun Puasa (dari Sansekerta upawasa) dan Saum (dari Arab ṣawm) memiliki akar
bahasa yang berbeda, mereka semua berakar pada praktik keagamaan yang sama, yaitu
praktik menahan diri yang sudah ada sejak masa Suku Bangsa Israel kuno.
Akar Abrahamik: Baik tradisi puasa Yahudi (Israel) maupun puasa Islam (Saum/Shiyam)
berasal dari akar tradisi yang sama, yaitu tradisi keagamaan leluhur mereka, Nabi
Ibrahim/Abraham.
Fokus Terminologi: Jika Saum (Arab) menekankan pada "menahan diri" (al-imsāk), maka
puasa Ibrani (Tsom digabungkan dengan Inna Nafshō) menekankan pada "merendahkan
diri" di hadapan Tuhan, yang merupakan tujuan spiritual yang mendalam dari tindakan
menahan diri tersebut.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai praktik puasa utama dalam Yudaisme
(seperti Yom Kippur)?

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...