Kamis, 04 Desember 2025

SUDUT PANDANG MATIUS 1:18-25, Kejiwaan Yusuf

SUDUT PANDANG MATIUS 1:18-25, Kejiwaan Yusuf

PENGANTAR
Melihat peristiwa Yusuf ini unik, ada beberapa penafsir yang melihat asal muasal kemungkinan kegalauan Yusuf, Sangat dimungkinkan, Yusuf mengetahui sendiri kalau Maria hamil kalau dilihat dari susunan dan bentuk sastra bahasa aslinya, diperkirakan dari para ahli tafsir bahwa usia kehamilan Maria di Matius 1 antara 3-4 bulan, sehingga bahasa asli yg digunakan menampakan Yusuf mengerti Maria hamil dari tanda-tanda yang terlihat, artinya kehamilan Maria udah terlihat oleh Yusuf,  9 bulan Maria tidak di sentuh Yusuf oleh karena tradisi Yahudi kalau wanita hamil itu tidak boleh berhubungan, takut menggugurkan kandungan, setelah melahirkan 40 hari tidak boleh berhubungan agar tidak tercemar (dianggap masih ada darah di kemaluan wanita, 40 hari dianggap sudah bersih), Perkiraan kehamilan Maria di Matius 1 adalah 3-4 bulan, karena dari susunan bahasa aslinya, Yusuf mengetahui sendiri kehamilan Maria, artinya tanda-tanda kehamilan  itu sudah terlihat. Diluar sudut pandang sastra dan bahasa, penginjil Matius ingin menyampaikan kemesiasan Yesus atas bangsa Yahudi, oleh karena itu sastra perumpamaan itu dibuat bahwa Maria yang tidak sempurna perlambang bangsa Israel yang udah banyak salah thp Allah, tetap diterima Yusuf perlambang Allah yang menerima ketidak sempurnaan Maria (manusia). Karena, pada kebiasaan zaman itu peristiwa Maria itu pasti menyebabkan hukuman rajam, dan hukuman moral dari masyarakat bagi keluarga besar Maria, dalam sistem patriarki, Yusuf yang selamat Maria tidak. Tentang tradisi pertunangan Matius 1 : 18-25. Tradisi pertunangan pada masa Matius 1:18-25 adalah sebuah ikatan formal dan kuat dalam budaya Yahudi, yang sudah mengikat pria dan wanita secara hukum meskipun mereka belum tinggal bersama atau hidup sebagai suami istri. Pertunangan ini hampir setara dengan pernikahan dalam hal ikatan, dan hanya bisa dibatalkan melalui perceraian resmi. Maria dan Yusuf sudah bertunangan saat Maria mengandung Yesus dari Roh Kudus, tetapi mereka belum hidup bersama sampai setelah Yesus lahir. Dalam budaya Yahudi saat itu, pasangan yang bertunangan sudah disebut sebagai suami dan istri secara hukum. Jika salah satu pihak selama masa pertunangan berbuat tidak setia, perempuan bisa dihukum berat. Namun, mereka belum tinggal serumah dan belum melangsungkan pernikahan penuh, yang meliputi membawa wanita itu ke rumah suaminya untuk mulai hidup bersama. Pertunangan ini biasanya berlangsung sekitar tiga bulan sampai satu tahun sebelum pernikahan berlangsung. Yusuf digambarkan sebagai seorang pria yang benar dan penuh belas kasihan, yang awalnya mempertimbangkan untuk membatalkan pertunangannya secara diam-diam ketika mengetahui Maria mengandung, agar tidak mempermalukan Maria. Namun, malaikat Tuhan menegaskan bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus sehingga Yusuf menerimanya sebagai istrinya setelah Yesus lahir, tidak bersetubuh dengan Maria adalah tanda hormat Yusuf pada Tuhan, untuk menjaga kekudusan Maria di luar ayran tradisi zaman itu. Bagaimana sistem pertunangan Yahudi abad pertama bekerja, Sistem pertunangan Yahudi abad pertama terdiri dari dua tahap utama: kidushin (atau erusin/pertunangan) dan nisu'in (pernikahan penuh), di mana tahap pertama sudah mengikat secara hukum seperti pernikahan, meskipun pasangan belum tinggal bersama. Pertunangan dimulai dengan shiddukhin (persetujuan awal untuk menikah) dan tenaim (syarat kontrak), sering disertai ketubah (kontrak pernikahan) yang ditandatangani saksi, serta pemberian mahar atau cincin oleh mempelai pria kepada wanita. Ikatan ini sangat kuat; pembatalannya memerlukan prosedur perceraian (get), dan pelanggaran seperti perselingkuhan bisa dihukum berat.
Tahap Pertunangan (Kidushin)
- Keluarga mempelai pria memilih calon, sering melalui perantara, dan ayah pria membayar mahar kepada keluarga wanita sebagai tanda komitmen.
- Mempelai pria memberikan objek berharga (seperti cincin polos atau uang) sambil mengucapkan formula pengudusan, dihadiri dua saksi, membuat wanita secara hukum menjadi miliknya meski belum bersuami secara fisik.
- Masa tunggu biasanya 3-12 bulan untuk persiapan, selama itu pasangan dilarang berhubungan intim atau tinggal bersama.
Tahap Pernikahan Penuh (Nisu'in)
Pada hari pernikahan, mempelai pria "mengambil" wanita ke rumahnya di bawah chuppah (kanopi simbolis), di mana mereka mulai hidup bersama dan mengonsumasi pernikahan. Upacara mencakup berkat anggur, pemecahan gelas untuk mengingatkan kesedihan di tengah sukacita, dan tujuh berkat (sheva brachot). Dalam konteks Matius 1:18-25, Maria dan Yusuf berada di tahap kidushin saat Maria hamil, sehingga Yusuf mempertimbangkan perceraian diam-diam sebelum wahyu malaikat. Frasa "tidak bersetubuh dengan dia" dalam Matius 1:25 (dalam bahasa Yunani ou k ginōsken autēn, yang secara harfiah berarti "tidak mengenal dia") merujuk pada tidak melakukan hubungan seksual atau tidak memiliki pengetahuan intim secara fisik dengan Maria hingga Yesus lahir. Ini menekankan bahwa Yusuf menjaga kemurnian Maria selama masa kehamilan supernatural oleh Roh Kudus, sesuai dengan konteks pertunangan Yahudi abad pertama di mana pasangan belum hidup bersama secara penuh. Konteks dan Arti Kata "Sampai" (Heōs)Kata "sampai" (heōs dalam Yunani) menunjukkan batas waktu hingga kelahiran Yesus, tetapi tidak secara eksplisit menyatakan apa yang terjadi setelahnya; interpretasi bervariasi antar denominasi Kristen . Beberapa tafsiran Protestan melihatnya sebagai indikasi hubungan suami-istri normal setelahnya, didukung ayat lain tentang saudara Yesus (misalnya Mat 12:46), sementara pandangan Katolik mempertahankan keperawanan abadi Maria tanpa kontradiksi. Frasa ini paralel dengan penggunaan idiom Ibrani untuk hubungan intim, memastikan Yesus lahir dari perawan. Dalam terjemahan Alkitab Indonesia seperti TB, BIS, dan TSI, ungkapan ini secara konsisten diterjemahkan sebagai "tidak bersetubuh" atau "tidak bercampur" untuk menyampaikan makna yang sama. Apa yang terjadi pada Yusuf, adalah manusiawi, orang yang mengalami dilematis seperti Yusuf pasti akan ketakutan, kemudian karena perang batinnya maka Yusuf pasti akan kelelahan. Takut dan lelah adalah kodrat manusia, Alkitab mengangkat issue ini, Allah beristirahat setelah mencipta di hari ke 7, nabi-nabi dan rasul-rasul mengalami ketakutan dan kelelahan, Yesus sendiri beristirahat, Yesus pun mengalami ketakutan layaknya manusia biasa, dlsb banyak dijabarkan. Tidur atau beristirahat itu menandakan tubuh lelah, tidak ada di dunia ini manusia yang tak pernah mengalami kelelahan dan ketakutan, karena itu kodrat manusia. Minum sejerigen atau se tong kopi tiada guna ketika tubuh memasang alarm tubuh ini kelelahan maka akan ngantuk terus tertidur (istirahat). Takut dan lelah itu wajar, yang tidak wajar adalah kemelekatkan pada takut dan lelah, Yusuf takut ..... Iya, Yusuf lelah ..... Iya, tapi Yusuf tetap berjuang dan tidak menyerah pada ketakutannya dan kelelahannya, itu digambarkan secara sastra dengan peristiwa tidur dan bermimpi serta perubahan keputusannya, lawatan surgawi mengubah ketakutan dan kelelahannya Yusuf menjadi ketidak menyerahkan dan ketidak hentikan juang pada kenyataan peristiwa yang di depan matanya. Maka, saya selalu mengatakan respon yang bermartabat orang beriman adalah respon atas peristiwa yang ada di depan matanya, nyata, bukan respon pada masa lalu, apalagi masa depan, Alkitab menjabarkan hal itu, maka Advent itu respon masa depan dengan berjaga-jaga serta waspada, dan isilah dengan karya, sedangkan Advent sebagai respon masa lalu dengan menghargai karya Allah yg terjadi dulu sebagai pengenangan dg karya masa kini.
Dari sudut pandang kejiwaan atau psikologi, Matius 1:18-25 menggambarkan kondisi kejiwaan Yusuf yang kompleks akibat situasi yang penuh tekanan dan krisis. Yusuf mengalami rasa kecewa, takut, kelelahan dengan perang batinnya dan sakit hati karena Maria, tunangannya, diketahui hamil sebelum mereka hidup bersama, yang memicu perasaan dikhianati, marah, dan kemungkinan malu sosial. Kejiwaan manusia tentu mengalami konflik batin dalam situasi semacam ini, di mana harapan yang telah dibangun hancur oleh realitas yang tak terduga, menyebabkan stres emosional yang berat pada Yusuf. Selain rasa sakit hati, takut, lelah, dilematis ada juga stigma sosial yang mungkin dialami Yusuf dari lingkungan sekitarnya karena hubungan Maria dianggap tidak sesuai norma sosial dan hukum pada masa itu. Namun, Yusuf menunjukkan karakter kejiwaan yang dewasa dengan tidak ingin mempermalukan Maria secara terbuka dan berencana menceraikannya secara diam-diam, yang menunjukkan adanya empati dan pengendalian diri di tengah tekanan emosional yang hebat. Kemudian datanglah pengalaman mistik berupa mimpi yang memberikan Yusuf penafsiran baru atas kejadian tersebut, mengubah rasa takut, kelelahan dan kebingungannya menjadi keberanian untuk menerima dan melaksanakan peran yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Dari perspektif kejiwaan, dalam karya sastra ini, mimpi ini berfungsi sebagai mekanisme kognitif dan emosional untuk mengatasi krisis, memberikan makna dan harapan baru, serta memperkuat tekad Yusuf dalam menghadapi stigma dan risiko sosial demi tujuan yang lebih besar. Mimpi ini atau lawatan surgawi (Allah), menjadi titik balik yang menunjukkan bagaimana seseorang dapat bertransformasi secara kejiwaan dalam menghadapi konflik dengan bimbingan kepercayaan dan nilai spiritual yang sudah didapatnya semasa hidup, sedari kecil. Yusuf mengalami konflik emosi: sakit hati, takut, lelah, marah, dan malu. Terdapat tekanan sosial akibat stigma masyarakat. Yusuf menunjukkan empati dan pengendalian diri. Mimpi sebagai mekanisme psikologis mengatasi krisis dan membangun makna baru. Transformasi psikologis Yusuf mengarah pada keberanian dan penerimaan peran spiritual.
Kalau ditelisik, ada dua tinjauan kejiwaan dalam peristiwa Yusuf ini, pertama Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan kembali ke kondisi semula setelah mengalami tekanan, kesulitan, atau perubahan yang signifikan dalam hidup. Ini bukan sekadar bertahan, tetapi juga berkembang dan menjadi lebih kuat setelah melewati masa sulit. Individu yang memiliki resiliensi mampu mengelola stres dengan cara yang sehat dan produktif, serta menunjukkan kapasitas untuk merespons secara positif terhadap masalah hidup yang dihadapi. Faktor-faktor yang membentuk resiliensi meliputi optimisme, regulasi emosi, keterampilan sosial, dukungan sosial, kemandirian, dan makna hidup. Resiliensi juga didukung oleh kesehatan fisik dan mental yang baik. Kedua, Reframing Kognitif merupakan teknik psikologis yang mengubah cara seseorang memandang atau membingkai suatu situasi, pengalaman, atau peristiwa dari perspektif negatif menjadi lebih positif, rasional, dan konstruktif tanpa mengubah fakta itu sendiri atau kenyataan di depan mata. Teknik ini berbasis premis bahwa interpretasi subjektif terhadap kejadian memengaruhi respons emosional dan perilaku, sehingga pergeseran kerangka berpikir dapat mengurangi stres, kecemasan, atau depresi. Reframing efektif menurunkan gejala kecemasan-depresi, meningkatkan regulasi emosi via aktivitas prefrontal cortex, dan mendukung perubahan perilaku jangka panjang dalam konseling. Studi neuroimaging menunjukkan penurunan aktivitas amygdala saat reframing, membuktikan dampak neurologis pada pengendalian emosi. Teknik ini relevan untuk resiliensi remaja menghadapi stigma sosial, seperti reframing cyberbullying menjadi kesempatan pertumbuhan.


PEMAHAMAN 
Reaksi Emosional Yusuf terhadap Aib dan Stigma, Yusuf menghadapi krisis emosional mendalam ketika mengetahui Maria hamil sebelum pernikahan mereka, memicu rasa dikhianati, sakit hati, dan kemarahan yang wajar dalam psikologi manusia terhadap pengkhianatan relasional. Reaksi awalnya mencerminkan konflik kognitif-disonansi, di mana keyakinan pribadi tentang kesetiaan pasangan bertabrakan dengan realitas, menyebabkan tekanan psikologis tinggi. Pengendalian Diri dan Empati, Meski menghadapi aib sosial yang berpotensi merusak reputasi di masyarakat Yahudi kuno, Yusuf memilih menceraikan Maria secara diam-diam untuk menghindari pemaluan publik, menunjukkan pengendalian impuls (self-regulation) dan empati tinggi yang melindungi martabat orang lain. Sikap ini mencerminkan kematangan emosional, di mana ia memprioritaskan belas kasih daripada balas dendam atau ekspresi marah terbuka, menghindari eskalasi stres menjadi agresi. Dampak Stigma Sosial, Stigma sosial terhadap kehamilan di luar nikah pada era itu menciptakan tekanan eksternal berupa malu komunal dan isolasi potensial bagi Yusuf, mirip dengan efek psikologis stigma modern yang memperburuk kecemasan dan depresi. Namun, respons Yusuf menghindari internalisasi stigma sepenuhnya, menjaga integritas diri melalui keputusan rahasia yang meminimalkan kerusakan sosial. Transformasi via Pengalaman Mistik, Mimpi dari malaikat menjadi katalisator reframing kognitif, mengubah persepsi aib menjadi panggilan ilahi, yang meningkatkan resiliensi psikologis Yusuf dan mengurangi beban emosional. Proses ini mirip terapi naratif dalam psikologi, di mana makna baru diberikan pada trauma, memungkinkan penerimaan dan keberanian menghadapi stigma demi tujuan lebih tinggi. Kaitan Ketakutan, Kelelahan, dan Mimpi Yusuf, Dalam Matius 1:18-25, ketakutan Yusuf muncul dari krisis relasional saat mengetahui Maria hamil, memicu pergulatan batin antara cinta, rasa dikhianati, dan norma sosial Yahudi yang ketat, sehingga ia berencana menceraikan secara diam-diam. Kelelahan jiwa Yusuf tercipta dari konflik berkepanjangan ini—semakin ia bergumul dengan keputusan, semakin lelah emosinya, mencapai puncak saat ia merasa "sudah beres" dan tertidur. Saat itulah mimpi malaikat datang, menghubungkan ketakutan dan kelelahan sebagai prasyarat psikologis untuk wahyu, di mana kelelahan memungkinkan alam bawah sadar terbuka terhadap reframing kognitif. Analisis Psikologis Kritis, Secara kejiwaan, ketakutan Yusuf mencerminkan anxiety response terhadap ancaman ego dan stigma sosial, sementara kelelahan adalah gejala emotional exhaustion dari cognitive dissonance—konflik antara harapan ideal dan realitas traumatis. Mimpi berfungsi sebagai mekanisme coping adaptif, mirip hypnagogic state di mana stres akut memicu insight restoratif, mengubah ketakutan menjadi keberanian melalui validasi ilahi dan pemberian makna baru. Kritiknya, narasi ini mengidealkan pengendalian diri Yusuf sebagai model saleh, padahal secara klinis, kelelahan semacam itu berisiko burnout jika tak diimbangi dukungan sosial, menunjukkan resiliensi spiritual Yusuf sebagai faktor protektif unik. Relevansi untuk Remaja Kekinian, Remaja modern menghadapi paralel ketakutan dan kelelahan dari cyberbullying, body shaming, atau stigma seksualitas di media sosial, di mana tekanan peer dan FOMO (fear of missing out) menciptakan exhaustion serupa, sering berujung insomnia atau mimpi buruk sebagai pelepasan stres. Analisis kritisnya: Kisah Yusuf relevan sebagai narrative therapy untuk remaja, mengajarkan reframing stigma menjadi panggilan pribadi, tapi kekinian menuntut integrasi dengan konseling digital untuk cegah isolasi, karena tanpa intervensi cepat, kelelahan bisa eskalasi ke depresi atau self-harm. Strategi adaptif: Dorong remaja "bermimpi" via journaling atau meditasi untuk insight, mirip Yusuf, sambil bangun support network guna hindari romantisme berlebih pada penderitaan soliter. Dampingi dan dukung remaja untuk tidak melekat pada ketakutan dan kelelahan, dengan memiliki daya juang dannketidak menyerahkan, menerima ketakutan dan kelelahan dalam hidup sebagai sesuatu yang wajar dalam hidup, tidak melekat tapi betjuang terus tanpa menyerah.

(04122025)(TUS) 

Daftar Pustaka:
[1] Finding God's Purpose in Pain | Matthew 1:18-25 Sermon https://cityharvestag.com/sermons/finding-gods-purpose-in-pain
[2] Do Not be Afraid: A Meditation on Matthew 1:18–25 https://theotherjournal.com/2011/12/do-not-be-afraid-a-meditation-on-matthew-118-25/
[3] Commentary on Matthew 1:18-25 https://www.workingpreacher.org/commentaries/revised-common-lectionary/fourth-sunday-of-advent/commentary-on-matthew-118-25-6
[4] Jangan Takut: Sebuah Renungan tentang Matius 1:18–25 https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Ftheotherjournal.com%2F2011%2F12%2Fdo-not-be-afraid-a-meditation-on-matthew-118-25%2F&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp
[5] Matthew's Nativity Story, Critically Examined https://isthatinthebible.wordpress.com/2015/01/02/matthews-nativity-story-critically-examined/
[6] Matius 1:18-25 "Orang Tua Yesus" https://golgothaministry.org/matius/matius-1_18-25.htm
[7] 2. The Birth Of Jesus (Matthew 1:18-25) https://bible.org/seriespage/2-birth-jesus-matthew-118-25
[8] Matthew 1:18-25 https://studyscriptureonline.com/sermons/matthew-118-25%EF%BF%BC/
[9] Matius 1:18-25 | Tuhan Beserta Kita — Hal-hal Sejenis https://translate.google.com/translate?u=https%3A%2F%2Fwww.thingsofthesort.com%2Fsermons-2%2F2021%2F12%2F12%2Fmatthew-118-25-god-with-us&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp
[10] Pondering the Problems Surrounding Matthew and Luke's ... https://www.joeledmundanderson.com/historically-speaking-pondering-the-problems-surrounding-matthew-and-lukes-infancy-narratives-and-the-date-of-jesus-birth/
[11] Pengertian Resiliensi: Kemampuan Bangkit Hadapi Tekanan https://www.halodoc.com/artikel/pengertian-resiliensi-kemampuan-bangkit-hadapi-tekanan
[12] Mengenal Resiliensi dalam Ilmu Psikologi - BINUS Psychology https://psychology.binus.ac.id/2020/03/31/mengenal-resiliensi-dalam-ilmu-psikologi/
[13] Resiliensi: Pengertian, Aspek, Cara Meningkatkan https://kampuspsikologi.com/resiliensi/
[14] Resiliensi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Resiliensi
[15] 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Resiliensi 1. Pengertian ... https://repository.uin-suska.ac.id/21320/7/7.%20BAB%20II.pdf
[16] [PDF] BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Resiliensi ( Resilience ... - etheses UIN http://etheses.uin-malang.ac.id/2643/6/09410018_Bab_2.pdf
[17] [PDF] 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Resiliensi a ... http://repository.iainkudus.ac.id/12752/5/05.BAB%20II.pdf
[18] BAB II LANDASAN TEORI A. Teori Dan Konsep Resiliensi ... http://repository.uinfasbengkulu.ac.id/2151/3/BAB%20II.pdf
[19] BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Resiliensi 1. ... http://etheses.uin-malang.ac.id/647/7/10410012%20Bab%202.pdf
[20] RESILIENSI DAN KEBAHAGIAAN DALAM PERSPEKTIF ... https://media.neliti.com/media/publications/294805-resiliensi-dan-kebahagiaan-dalam-perspek-4ece8a76.pdf
[21] Reframing Adalah: Teknik Mengubah Perspektif untuk ... https://www.liputan6.com/feeds/read/5779684/reframing-adalah-teknik-mengubah-perspektif-untuk-hidup-lebih-positif
[22] TEKNIK REFRAMING DALAM PENDEKATAN KONSELING KOGNITIF-PERILAKU: STUDI LITERATUR https://www.academia.edu/124918124/TEKNIK_REFRAMING_DALAM_PENDEKATAN_KONSELING_KOGNITIF_PERILAKU_STUDI_LITERATUR
[23] Efektivitas Konseling Individual Dengan Teknik Reframing ... https://journal.unimar-amni.ac.id/index.php/sidu/article/download/1812/1450/4934
[24] Teknik Konseling Reframing | PDF - Scribd https://id.scribd.com/document/672750350/TEKNIK-KONSELING-REFRAMING
[25] Kajian Teori Reframing https://id.scribd.com/document/683258892/Kajian-Teori-Reframing
[26] [PDF] BAB II KAJIAN PUSTAKA - IAIN Kudus Repository http://repository.iainkudus.ac.id/4214/5/5.%20BAB%20II.pdf
[27] [PDF] Penerapan Teknik Reframing Untuk Mereduksi Perilaku Rendah ... https://eprints.unm.ac.id/25300/1/Adilla%20Fajriani_Artikel%20Ilmiah%20Skripsi_1744042022_Bimbingan%20dan%20Konseling.pdf
[28] Konseling Kognitif Dengan Teknik Reframing Pikiran Untuk Meningkatkan Self-Intraception https://scispace.com/pdf/konseling-kognitif-dengan-teknik-reframing-pikiran-untuk-1xi8chcic9.pdf
[29] BAB II - Digilib UINSA http://digilib.uinsa.ac.id/15155/5/Bab%202.pdf
[30] skripsi penerapan teknik reframing untuk meningkatkan ... https://eprints.unm.ac.id/25180/1/SKRIPSI.pdf

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...