PENGANTAR
Agama pada hakikatnya hadir sebagai penuntun, bukan sebagai alat pembenaran. Ia mengajarkan manusia untuk menahan diri, mengendalikan nafsu, dan menjaga hati agar tidak melukai sesama. Nilai-nilai spiritual seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan merasa paling benar dan suci.
Namun dalam perjalanan hidup, ajaran sering kali berubah menjadi simbol kekuasaan. Atas nama keyakinan, kata-kata bisa menjadi senjata, dan tindakan kejam dibungkus dengan dalih kebenaran. Di titik ini, agama tidak lagi menjadi cahaya, melainkan bayangan yang menutupi nurani. Bukan ajarannya yang keliru, tetapi cara manusia memakainya.
Maka yang perlu direnungkan bukan seberapa keras seseorang membela agama, melainkan seberapa dalam ia menghayatinya. Jika keyakinan membuat hati semakin lembut dan sikap semakin adil, itulah agama yang hidup. Tetapi jika ia melahirkan kebencian dan luka, barangkali yang disembah bukan lagi Tuhan, melainkan ego manusia sendiri.
PEMAHAMAN
Di zaman ketika pengalaman rohani sering dijadikan ukuran kedewasaan iman seperti penglihatan, mimpi, suara batin, nubuat pribadi, dan sensasi emosional maka gereja perlu kembali memberikan peringatan Alkitab yang sangat mendasar yaitu tidak semua yang tampak rohani berasal dari Allah.
Tulisan ini bukan penolakan terhadap karya Roh Kudus dan bukan pula ajakan untuk mematikan kehidupan rohani. Sebaliknya, tulisan ini adalah peringatan pastoral agar iman Kristen tidak dibangun di atas pengalaman subjektif, melainkan di atas firman Allah yang objektif dan dapat diuji.
Kitab Suci dengan jujur mengungkapkan bahwa manusia dapat tertipu bukan hanya oleh dosa yang terlihat jelas, tetapi juga oleh kesalehan yang salah arah.
“Hati itu licik, lebih licik dari pada segala sesuatu, dan sudah membatu; siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer. 17:9)
1. AKAR DELUSI ROHANI: KERUSAKAN BATIN MANUSIA
Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak hanya merusak perilaku moral, tetapi juga cara manusia mengenali Allah dan menafsirkan pengalaman rohaninya sendiri. Akibatnya, manusia bisa merasa sangat dekat dengan Tuhan, padahal sesungguhnya sedang mengikuti dorongan batin yang tidak disaring oleh kebenaran firman.
Alkitab berulang kali memperingatkan bahwa manusia dapat menyebut terang sebagai gelap dan gelap sebagai terang, dapat menyangka suara hatinya sebagai suara Tuhan, dapat menganggap keharuan emosional sebagai karya Roh Allah.
Karena itu, iman Kristen tidak pernah diarahkan untuk bertumpu pada pengalaman pribadi, betapapun tulusnya, melainkan pada firman Allah yang teguh dan tidak berubah.
2. PENGALAMAN ROHANI: DIAKUI, TETAPI HARUS DIUJI
Alkitab tidak meniadakan pengalaman rohani. Banyak tokoh iman mengalami perjumpaan yang nyata dengan Allah. Namun Alkitab tidak pernah menjadikan pengalaman sebagai standar kebenaran. Sebaliknya, pengalaman selalu ditempatkan di bawah pengujian firman.
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tes. 5:21)
Tidak semua yang menggerakkan perasaan berasal dari Roh Allah. Bahkan Kitab Suci dengan tegas menyatakan bahwa “Iblis menyamar sebagai malaikat terang.” (2 Kor. 11:14)
Karena itu, keharuan batin bukan jaminan kebenaran, intensitas emosi bukan bukti kehadiran Allah, klaim “Tuhan berkata padaku” harus tunduk pada firman tertulis, bukan sebaliknya.
Pengalaman rohani yang sejati tidak menggeser otoritas firman, tetapi diterangi dan dikoreksi olehnya.
3. DUA BENTUK DELUSI ROHANI
Pertama; Delusi yang mudah dikenali
Delusi ini biasanya tampak dalam bentuk klaim wahyu baru yang tidak dapat diuji, otoritas rohani pribadi yang kebal koreksi, pengabaian gereja dan pengajaran Alkitab, pengultusan figur rohani tertentu.
Delusi seperti ini berbahaya, tetapi sering kali cepat terungkap karena sifatnya yang ekstrem.
Kedua; Delusi yang halus dan paling berbahaya
Inilah bentuk yang lebih sulit dikenali, tampak rendah hati, rajin berdoa dan melayani, penuh bahasa rohani, tetapi menolak koreksi firman dan mengukur iman terutama dari perasaan pribadi.
Yesus sendiri memperingatkan dengan sangat serius bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 7:21)
Ini artinya kesalehan lahiriah tidak selalu menandakan kebenaran batin.
4. DOA, IMAJINASI, DAN EMOSI
Doa Kristen yang sehat tidak dibangun di atas imajinasi bebas atau pencarian sensasi rohani. Kitab Suci mengarahkan doa kepada ketaatan kepada kehendak Allah, penyerahan diri, pembentukan karakter yang serupa dengan Kristus.
Banyak doa yang paling sejati justru lahir dari kesunyian, kesederhanaan, tanpa gejolak emosi, tetapi secara perlahan membentuk ketaatan dan ketekunan.
Allah sering bekerja bukan melalui pengalaman yang spektakuler, melainkan melalui kesetiaan sehari-hari yang tidak terlihat, namun setia.
5. SPIRITUALITAS TANPA SALIB
Salah satu ciri delusi rohani zaman ini adalah keinginan akan kuasa tanpa pertobatan, kemenangan tanpa penderitaan, berkat tanpa penyangkalan diri.
Namun Yesus berkata dengan jelas “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23)
Roh Allah bekerja bukan untuk meninggikan ego rohani, melainkan untuk merendahkan hati, membuka dan menyingkap dosa, membentuk ketaatan dan menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupan.
6. PERAN GEREJA DALAM MENJAGA IMAN
Iman Kristen tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani secara individualistis. Allah memelihara umat-Nya melalui pemberitaan firman, persekutuan orang percaya, pengajaran yang sehat, kehidupan yang saling menegur dalam kasih.
Menolak komunitas iman dengan alasan “hubungan pribadi dengan Tuhan” sering kali bukan tanda kedewasaan rohani, melainkan kerentanan terhadap penyesatan.
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.” (Ibr. 10:25)
7. JALAN PEMULIHAN: KERENDAHAN HATI DAN PERT0BATAN
Delusi rohani tidak disembuhkan dengan pengalaman baru yang lebih intens, melainkan dengan pengakuan dosa yang jujur, pertobatan yang terus-menerus, kerendahan hati untuk diajar dan dikoreksi, kesetiaan hidup di bawah firman Allah.
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yak. 4:6)
Secara praktis, ini berarti membiasakan diri menilai pengalaman melalui Alkitab, membuka hidup untuk nasihat dan koreksi, setia dalam ibadah dan pembelajaran firman dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa setiap dorongan batin berasal dari Tuhan.
PENUTUP: PERINGATAN DALAM KASIH
Bahaya terbesar dalam kehidupan rohani bukanlah jatuh dalam dosa yang terlihat, tetapi merasa diri sudah rohani dan tidak lagi perlu diuji.
Allah tidak memanggil umat-Nya untuk mengejar sensasi, melainkan kebenaran. Bukan pengalaman yang meninggikan diri, tetapi iman yang taat. Bukan perasaan yang berubah-ubah, tetapi hidup yang terus dibentuk oleh firman Allah.
Kiranya kita senantiasa berjaga, merendahkan diri, dan berjalan dalam terang kebenaran-Nya.
Soli Deo Gloria