PENGANTAR
Jembatan nalar saya lebih bisa menerima teori inkulturisasi dan teori tradisi suci untuk perkara sekian buanyak teori tentang 25 Desember sebagai hari lahir Yesus Kristus dibandingkan teori yang bertumpu pada Injil, oleh karena Injil itu kisah teologis penulis yang berbeda satu dengan yang lainnya, bagaimana jembatan nalarnya kalau teori 25 Desember diambil dari kisah injil, wong beda satu dengan yang lain. Kitab-kitab Injil ditulis bukan untuk orang Indonesia. Kitab-kitab Injil ditulis untuk menjawab pergumulan umat Kristen perdana mengapa Mesias mati. Setiap jemaat memiliki pergulatan sendiri dan berbeda dari jemaat lain, karena latar belakang budaya yang berbeda. Itulah sebabnya ada perbedaan teologi dalam empat kitab Injil kanonik, karena petulis Injil hendak menjawab dan menggembala jemaat mereka masing-masing.
Dalam studi biblika untuk memudahkan identifikasi pembaca Injil dibuatlah nama jemaat sama dengan nama kitab Injil. Pembaca kitab Injil Matius disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀, pembaca kitab Injil Markus disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗠𝗮𝗿𝗸𝘂𝘀, pembaca kitab Injil Lukas disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀, dan pembaca kitab Injil Yohanes disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 atau 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀.
Kisah Natal versi Injil Matius dan Injil Lukas berbeda. Tidak perlu dibela. Mau menggunakan jurus apa pun dua kisah teologis itu tidak dapat disinkronkan. Memang berbeda, karena kedua kitab Injil mengusung teologi yang berbeda.
PEMAHAMAN
Apabila disarikan perbedaan itu:
𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀
▶️ Yusuf dan Maria tinggal di Betlehem, tidak pernah ke Nazaret sebelum kelahiran Yesus.
▶️ Kelahiran Yesus dikunjungi oleh orang-orang Majus, mereka menyembah.
▶️ Kronologi: Betlehem, lalu mengungsi ke Mesir, lalu ke Nazaret.
𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀
▶️ Yusuf dan Maria tinggal di Nazaret, tidak pernah ke Betlehem sebelum kelahiran Yesus.
▶️ Kelahiran Yesus disaksikan oleh kawanan gembala, mereka tidak menyembah.
▶️ Kronologi: Nazaret, lalu ke Betlehem, lalu ke Yerusalem, lalu kembali ke Nazaret.
𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀
Petulis Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah 𝗠𝘂𝘀𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂 yang akan menggembala umat Allah yang baru. Dari permulaan Injil petulis Matius langsung menggebrak menyatakan imannya bahwa Yesus adalah Mesias dan Raja. 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝙆𝙧𝙞𝙨𝙩𝙪𝙨, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘿𝙖𝙪𝙙, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮. Mesias ditunjukkan dengan gelar Kristus. Raja ditunjukkan dengan anak Daud. Yesus bukan sekadar raja, melainkan Raja Mesianik.
𝘐𝘯𝘵𝘦𝘳𝘮𝘦𝘴𝘰 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬. Jemaat Matius pada mulanya dari kalangan Yahudi. Ketika Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh Titus ada tahun 70 ZB, para pemimpin Yahudi menimpakan kesalahan kepada Jemaat Matius. Jemaat Matius adalah biang-sial. Mereka lalu mengusir mereka dari sinagoge-sinagoge. Jejaknya terlihat dalam Matius 4:23 ... 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖... Petulis Injil Matius sudah membedakan 𝘬𝘪𝘵𝘢 (Jemaat Matius) dan 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (orang Yahudi).
Dalam kemelut itu pemimpin Jemaat Matius banting stir. Keselamatan pada awalnya ditawarkan kepada orang Israel, tetapi mereka menolak, lalu keselamatan diberikan kepada bangsa lain dan mereka menerimanya. Penolakan orang Israel diperikan dengan cantik oleh Matius dengan penolakan Raja Herodes. Orang-orang Majus yang mewakili bangsa lain menerima dan datang menyembah Raja Mesianik yang baru dilahirkan.
Kisah Natal versi Injil Matius dalam keadaan mencekam dan dibuat persis dengan situasi kelahiran Musa. Untuk menyelamatkan Yesus maka Yusuf membawa bayi Yesus (dan Maria) mengungsi ke Mesir. Dari Mesir mereka tidak kembali ke Betlehem, melainkan ke Nazaret agar Yesus dikenal sebagai Yesus Orang Nazaret.
Teologi Yesus Musa Baru akan makin terjelaskan dalam episode 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Di gunung Musa menerima firman. Di gunung (𝘰𝘳𝘰𝘴) Yesus memberi firman.
𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀
Pada masa jemaat awal Yesus dikenal sebagai Orang Nazaret yang bagian terbesar kiprah pelayanan-Nya di Galilea. Diduga kuat permulaan Injil Lukas adalah pasal 3. Ayat 1 dan 2 adalah bukti kuat. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳 𝘛𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘣𝘦𝘳𝘯𝘶𝘳 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘏𝘦𝘳𝘰𝘥𝘦𝘴 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, 𝘍𝘪𝘭𝘪𝘱𝘶𝘴, 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘐𝘵𝘶𝘳𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘛𝘳𝘢𝘬𝘩𝘰𝘯𝘪𝘵𝘪𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘓𝘪𝘴𝘢𝘯𝘪𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘈𝘣𝘪𝘭𝘦𝘯𝘦, 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘏𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘧𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘡𝘢𝘬𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯. (ay. 1-2) Sesudah itu Injil menampilkan kiprah Yohanes Pembaptis.
Pembukaan pasal 3 di atas dibuat tampak kronologis dengan menampilkan nama-nama tokoh pada masa itu bukan untuk menyatakan kitabnya adalah buku sejarah. Tokoh-tokoh berikut wilayah kekuasaan mereka dan tahun disebut oleh Lukas untuk menyampaikan bahwa panggung dunia yang mereka kuasai itu akan menghadapi tantangan baru, yang dimula dengan 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘡𝘢𝘬𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯. Frase 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 (Yohanes) merupakan rumusan kitab-kitab Perjanjian Lama untuk mengenalkan nabi (bdk. Yer. 1:2; Yeh. 1:3).
Sesuai dengan kebiasaan para pencerita pada zaman itu kisah Yesus selalu dimula dari penampilan Yohanes Pembaptis. Untuk menguatkan identitas Yesus petulis Injil Lukas membuat silsilah pada ayat 23 – 38 (pasal 3). Namun, Jemaat Lukas tampaknya tidak puas terhadap asal usul Yesus. Lukas kemudian menambah lagi dua pasal menjadi pembuka Injil dengan memertahankan teologinya bahwa keselamatan sejak awal bagi seluruh dunia (tidak seperti Injil Matius).
Oleh karena sudah telanjur Yesus dikenal sebagai Orang Nazaret, sekarang bagaimana Lukas menceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (bdk. versi Injil Matius yang sejak semula Yusuf dan Maria tinggal di Betlehem). Untuk itu dibuatlah kisah Kaisar Agustus membuat perintah sensus agar Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem. Juga tak lupa Lukas menekankan keselamatan universal. 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳 𝘈𝘨𝘶𝘴𝘵𝘶𝘴 .... 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖. (Luk. 2:1). 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 ... 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝙙𝙞 𝙗𝙪𝙢𝙞 ... (Luk. 2:14).
Berbeda dari Matius yang memberitakan kelahiran Raja Mesianik yang disembah oleh orang-orang Majus, Lukas hendak menciptakan paradoks bahwa Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi, lahir di tempat bukan tempat seharusnya dengan saksi kawanan gembala, yang secara legal tidak sah menjadi saksi, karena orang-orang buangan. Sila simak kawanan gembala itu datang ke palungan Yesus bukan untuk menyembah, melainkan untuk saksi. 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 (Luk. 2:15). Lukas memang memberi tempat istimewa bagi orang-orang pinggiran.
Berbeda juga dari Matius yang Yesus sejak lahir sudah Mesias (Kristus) dan Raja, Lukas mengusung teologi bahwa Yesus menjadi Mesias (Kristus) dan Tuhan (Penguasa) sesudah mati, bangkit, dan naik ke surga, lalu akan datang kembali sebagai Raja dalam kemuliaan-Nya.
Sebenarnya Gereja mengajarkan perbedaan teologi kedua Injil ini. Sebagai bukti dalam bacaan ekumenis (RCL) kisah Natal versi Injil Lukas dibacakan pada Kebaktian Malam Natal dan Natal Pagi, sedang kisah Natal versi Injil Matius dibacakan pada hari raya Epifani. Hanya saja pengkhotbah yang berkhotbah sering tak setia pada teks. Injil Lukas ditafsir dengan Injil Matius dan sebaliknya.
𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗧𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮 𝗗𝗶𝗿𝗶
Banyak orang Kristen merasa malu dan tak percaya diri melihat kenyataan bahwa Perayaan Natal 25 Desember merupakan adopsi perayaan kafir 𝘋𝘪𝘦𝘴 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘚𝘰𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪. Mereka lalu mencari pil ekstasi untuk menyenangkan diri sendiri, meskipun itu kesenangan semu, gadungan. Mengapa sih kalian orang Kristen mau-maunya menerima penjelasan apologetik tentang 25 Desember adalah tanggal kelahiran Yesus yang benar-benar alkitabiah? Mengapa sih kalian mau menerima penjelasan sejarah-gadungan itu? Mengapa kalian mau membohongi diri sendiri? Tak percaya dirikah kalian?
Sudah saya sampaikan berkali-kali bahwa kitab-kitab Injil itu bukan memuat kisah historis-objektif. Itu semua kisah teologis. Tidak bisa kita menarik kesimpulan tanggal kelahiran Yesus dari kisah teologis ini. Mengapa tidak bisa? Ada dua versi kisah Natal: Matius dan Lukas. Keduanya sama sekali berbeda. Belum lagi Gereja Timur merayakan Natal pada 6 Januari, yang lebih tua daripada perayaan 25 Desember. Para penganut Gnostik pada pengujung (bukan penghujung) abad kesatu tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yesus mati di kayu salib. Bagi mereka Yesus tidak bisa mati. Maka diciptakanlah ideologi delusional bahwa mereka menyembah Yesus-Surgawi, Yesus yang sejati. Yang mati adalah Yesus-ragawi. Varian lain menyebut yang mati bukan Yesus, melainkan serupa dengan Yesus.Gnotisme tak berumur panjang. Ia mati alamiah. Saya menyebut alamiah karena ia mati sebelum Kristen menjadi agama negara pada abad keempat.
Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Gereja lalu memandang perlu ada perayaan tahunan Hari Paska. Hari Paska tak lepas dari tradisi festival musim semi. Gereja menetapkan Hari Paska jatuh pada hari Minggu kesatu sesudah bulan purnama sesudah equinox. Equinox Maret atau September? Oleh karena Paska bertalian dengan festival musim semi, maka yang menjadi patokan adalah equinox Maret. 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗥𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻. 𝘕𝘢𝘩 𝘭𝘩𝘰!
Pentakosta adalah tradisi festival panen Yahudi. 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗬𝗮𝗵𝘂𝗱𝗶 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Gereja lalu mengalihrupa perayaan Pentakosta. Pentakosta diberi muatan teologis hari pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus dicurahkan kepada Gereja pada hari Pentakosta. Bukan lantaran ada peristiwa pencurahan Roh Kudus lalu hari itu disebut hari Pentakosta.
Natal 25 Desember adalah perayaan Natal versi Gereja Barat pada abad keempat, yang mengadopsi perayaan 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴. Bumi itu datar dan paham geosentris berlaku. Pada musim dingin matahari tampak bergeming di titik terendah di horison Eropa sejak 21 Desember. Pada 25 Desember matahari mula sedikit mumbul dari horison dan sedikit demi sedikit bergerak naik. Seolah-olah Dewa Sol terlahir kembali. Peristiwa alam (yang sebenarnya biasa-biasa saja) ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol berhasil bangkit dari kematian atau 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 (Matahari Tak Terkalahkan). Pada 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan atau 𝘋𝘪𝘦𝘴 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘚𝘰𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪. Gereja meng-Kristen-kan 𝘋𝘪𝘦𝘴 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘚𝘰𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪 sebagai hari kelahiran Yesus, 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗦𝘂𝗿𝘆𝗮 𝗦𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶.
NKB 72
𝘙𝘦𝘧.
𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, ‘𝙆𝙖𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙎𝙪𝙧𝙮𝙖 𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘵, ‘𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶.
𝘉𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴’𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘫𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘔𝘶!
Gereja Timur lain lagi yang merayakan Natal pada 6 Januari dan lebih tua daripada perayaan Natal oleh Gereja Barat. Perayaan Natal pada 6 Januari merupakan adopsi perayaan kelahiran Dewa Aion di Aleksandria, Mesir, di pinggiran Sungai Nil. Gereja meng-Kristen-kan perayaan kafir itu dengan memberi muatan teologis sebagai hari kelahiran Yesus.
Perbedaan tanggal Natal Barat dan Timur karena perbedaan narasi. Pada 6 Januari umat Kristen (Gereja Barat) merayakan Hari Epifani, Hari Penampakan Tuhan (𝘌𝘱𝘪𝘱𝘩𝘢𝘯𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥), sedang Umat Kristen Mesir atau Gereja Timur merayakan Hari Natal.
▶️ Menurut tradisi Gereja Barat Epifani dipahami sebagai saat-saat kunjungan orang-orang majus menjumpai Yesus atau penampakan Tuhan kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi (𝘨𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭𝘦𝘴).
▶️ Menurut tradisi Gereja Timur Epifani dipahami saat Pembaptisan Yesus (𝘉𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴𝘮 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥) yang dimaknai sebagai penampakan Tuhan kepada publik atau penyataan (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) Allah kepada dunia.
▶️ Gereja Barat menetapkan Hari Minggu Pertama sesudah Epifani atau Natal Gereja Timur sebagai Minggu Pembaptisan Yesus.
Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan memuat kisah teologisnya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa (𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨) gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.
Nah, kisaran 189 Masehi sudah ada arkeologi tradisi suci didaskalia apolostorum yg menyebutkan tanggal lahir Yesus 25 Desember, tapi tidak ada perayaan, kisaran tahun 274 Masehi sudah ada arkeologi yang mengungkap tentang kelahiran dewa Matahari pada 25 Desember diterapkan kekaisaran Roma,Kekaisaran Romawi menetapkan 25 Desember sebagai hari kelahiran dewa Matahari (Sol Invictus) pada tahun 274 Masehi oleh Kaisar Aurelianus, terjadi inkulturisasi, Uang logam Aurelianus menyebut dirinya sebagai Imam Agung Matahari, dan Kronograf 354 M mencatat perayaan "Natalis Invicti" pada 25 Desember. kisaran di 354 Masehi penerapan 25 Desember menjadi hari raya kelahiran Kristus dalam kekaisaran Romawi oleh karena agama Kristen sudah menjadi agama negara, tetapi sebelum itu ada bukti arkeologi Kekaisaran Romawi secara resmi mengakui perayaan 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus Yesus pada tahun 336 Masehi, di bawah Kaisar Konstantinus Agung tetapi belum ditetapkan sebagai hari raya kekaisaran.
Paus Julius I sekitar tahun 350 M juga dikaitkan dengan pengukuhan tanggal ini untuk menyatukan tradisi Kristen dengan festival pagan seperti Sol Invictus. Konteks Historis, Sebelumnya, tanggal kelahiran Yesus tidak tetap dan lebih difokuskan pada Paskah; pemilihan 25 Desember bertujuan mengadaptasi perayaan musim dingin Romawi untuk memudahkan konversi penanggalan. Dokumen seperti Didascalia Apostolorum (abad ke-3) dan tulisan Hippolitus (225 M) sudah menyebut tanggal serupa, tapi penetapan kekaisaran baru pada era Konstantinus.
(13122025)(TUS)