PENGANTAR
Kita terjebak dalam penantian panjang. Ada yang menunggu hasil medis dengan cemas, menunggu investasi berbuah, atau menunggu kabar baik yang tak kunjung tiba. Pada saat seperti itu, suara Tuhan dalam Yesaya 40 terdengar seperti oase: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku.” Itu tanda kepedulian Tuhan kepada orang yang merasa hidupnya “macet.” Israel pernah berada di titik itu: terjebak dalam pembuangan selama satu generasi. Namun suara penghiburan Tuhan menegaskan bahwa Ia belum pergi. Janji-Nya justru semakin mendekat. Selanjutnya Tuhan juga mengingatkan bahwa masa penantian adalah kesempatan untuk menata hati atau “menyiapkan jalan.” Dengan “meratakan gunung”: merendahkan kesombongan yang ingin mengatur waktu Tuhan. Dengan “menutup lembah”: membiarkan Tuhan menutup lembah keputusasaan agar harapan kembali bersemi. Dengan “meluruskan yang berlekak-leku”: menata ulang langkah, sebab dalam penantian kita mudah kehilangan arah. Saat hati direnovasi, penantian berubah menjadi proses pembentukan. Kita tidak lagi merasa terjebak, tetapi sedang dibawa maju selangkah demi selangkah. Adven mengingatkan bahwa penantian bukan ruang hampa. Penantian adalah ruang di mana Tuhan menata langkah kita. Sering kali justru di tengah kemacetan hidup, ada pembaruan. Ada hembusan angin segar! Sekarang, Bolehkah kita merayakan Natal saat Advent? Boleh .... sangat boleh, tidak ada juga larangan, cuman merayakan Natal saat Advent adalah memperlihatkan kebodohan kita, memperlihatkan bagaimana kita tidak mengerti pengajaran iman kita, kita tidak mengerti kenapa beribadah dalam lingkaran kalender liturgi, kenapa kita beribadah di hari Minggu pun kita tidak mengerti, kenapa kita beribadah dan berkarya di gereja pun, kita gak ngerti. Sebetulnya mudah dinalar, kenapa warna liturgi masa Advent dan masa prapaskah sama? Yaitu Ungu, karena itu masa kedukaan, karena dalam tradisi Yahudi menanti atau menunggu itu kedukaan, karena merupakan ketidak pastian. Bahkan beberapa denominasi, pada masa Advent dan masa prapaskah melakukan puasa dan pantang. Jadi, pantaskah merayakan Natal saat Advent, bernalarlah dan tanyalah diri sendiri . Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan siapkan infrastruktur, siapkan jalan, jangan ragu, ...... Kristus bakal kembali. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya Kata adven dari bahasa Latin 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴, kata kerjanya 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘪𝘳𝘦, yang berarti datang, tiba. Pada masa lampau kedatangan seorang penguasa di kota atau provinsi dalam suatu wilayah ekumenisnya juga menggunakan istilah 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴. Misal, kedatangan Kaisar Agustus diabadikan dalam bentuk monumen atau uang dengan tulisan 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘶𝘨𝘶𝘴𝘵𝘪 (Kedatangan Agustus). Istilah ini juga digunakan untuk kunjungan tahunan dewa ke kuil. Kata adven masuk ke khasanah Kristen ketika Kitab Suci Perjanjian Baru diterjemahkan ke bahasa Latin (𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢) dari bahasa Grika. 𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢 menerjemahkan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 (kedatangan) dengan 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴 dalam kitab Injil. Namun, dalam beberapa Surat Rasuli 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 dimaknai 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢 (kehadiran) (1Kor. 16:17; 2Ptr. 1:16). Perayaan-perayaan liturgis dalam Lingkaran Natal tidaklah sebanyak dan serumit yang terjadi dalam Lingkaran Paska. Panjang masa Adven (𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴) bukan empat pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). Masa Adven ditetapkan ada empat hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺) dihitung mundur dari hari Natal (25 Desember) dengan hari Minggu terjauh disebut Minggu kesatu yang adalah awal masa Adven. Panjang masa Adven dapat saja hanya 22 hari jika hari Natal jatuh pada Senin.
Masa Adven mengandung dua gatra (𝘢𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵𝘴): eskatologis dan historis. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Gatra eskatologis mengisi tema Minggu kesatu dan kedua Adven. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar dua ribu tahun yang lalu. Gatra historis mengisi tema Minggu ketiga dan keempat Adven.
Saya sering mendengar alasan orang Kristen merayakan Natal di masa Adven. Kata mereka, Natal dihadirkan setiap hari di hati umat Kristen karena Yesus tidak lahir pada 25 Desember. Natal bisa dirayakan kapan saja, kata banyak banyak orang Kristen bilang begitu. Pendapat itu omong kosong. Saya belum pernah melihat orang kristen yang berpendapat seperti itu merayakan Natal pada Mei, Juni, Juli, Jupri, Jupronz.
PEMAHAMAN
Alasan di atas tampaknya rasional, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Mengapa? Iman Kristen tidak berpusat pada Natal. Tidak merayakan Natal tidak membatalkan iman Kristen. Jantung iman Kristen adalah Paska, Kebangkitan Kristus. Orang Kristen pergi beribadah setiap Minggu pada dasarnya merayakan Hari Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Mengapa pada-pada akhirnya umat Kristen merayakan Natal? Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Peradaban berkembang, demikian juga kekristenan. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Kata kunci masa Adven adalah bersiap diri; bersiap diri untuk mengenang, bersiap diri untuk menuju perayaan, dan bersiap diri menantikan kedatangan kembali Kristus. Jadi, masa Adven bukanlah waktu untuk merayakan Natal. Merayakan Natal di masa Adven ibarat 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭𝘣𝘪𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭 di bulan Ramadan. Umat diberi waktu merayakan Natal cukup panjang, dari 24 Desember 2025 selepas matahari terbenam sampai 11 Januari 2026 (Minggu Pembaptisan Yesus), masih bisa diperpanjang pada Minggu biasa sampai 15 February 2026 lah, sebelum Rabu abu, cukup fleksibel. Di sinilah kepentingan pemimpin umat dan umat harus mengerti ilmu liturgi (liturgika atau liturgiologi). Kalau pemimpin umat dan umat tidak paham ilmu liturgi, maka mereka akan melakukan rasionalisasi jawaban seperti dalam pengantar di atas.
(09122025)(TUS)